Anda di halaman 1dari 4

Laporan Audit Sektor Swasta dan Pemerintah

Laporan audit merupakan laporan atau pernyataan resmi untuk memberi pendapat apakah
suatu laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu unit
organisasi dan apakah penyajian laporan keuangan tersebut sesuai dengan ketentuan-
ketentuan generally accepted accounting principles (GAAP). Laporan audit merupakan
sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya, atau apabila keadaan mengharuskan,
untuk menyatakan tidak memberikan pendapat. Baik dalam hal auditor menyatakan pendapat
maupun menyatakan tidak memberikan pendapat, ia harus menyatakan apakah auditnya telah
dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
Standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia mengharuskan auditor
menyatakan apakah, menurut pendapatnya, laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan jika ada, menunjukkan adanya
ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode
berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode
sebelumnya.
Laporan audit merupakan laporan resmi karena penyusunannya maupun siapa yang berhak
mengeluarkan harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Sebagai laporan resmi, format dan
kata-kata yang terkandunng di dalamnya juga sudah tertentu dan mengikuti standar
penyusunan laporan yang dikeluarkan oleh badan yang berwenang untuk itu. Apabila akuntan
publik telah melakukan audit dan syarat-syarat tertentu telah dipenuhi maka akuntan dapat
menerbitkan laporan audit standar.
Bentuk laporan audit yang paling umum adalah laporan audit standar dengan pendapat wajar
tanpa kualifikasi. Laporan audit tanpa kualifikasi digunakan bila kondisi berikkut dipenuhi:
1.Semua laporan telah terckup didalam laporan keuangan.
2.Ketiga standar umum telah diikuti sepenuhnya dalam penugasan.
3.Bukti yang cukup telah dikumpulkan dan auditor bersangkutan telah melaksanakan
penugasan dengan cara yang memungkinkan baginya untuk menyimpulkan bahwa ketiga
standar pekerjaan lapangan telah dipenuhi.
4.Laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku.
5.Tidak terdapat situasi yang memerlukan penambahan peragraf penjelasan atau perubahan
kata-kata dalam laporan.
Bagian-bagian laporan audit, yaitu:
1.Judul laporan. Standar auditing mengharuskan pemberian judul pada laporan dan judul itu
harus mengandung kata independen.
2.Alamat yang dituju laporan audit. Laporan ini biasanya ditujuakn pada perusahaan
bersangkutan, para pemegang sahamnya, atau dewan direksinya.
3.Paragraf pendahuluan. Paragraf ini berisi, pertama, pernyataan sederhana bahwa kantor
akuntan bresangkutan telah melaksanakan suatu audit. Kedua, mencantumkan laporan
keuangan yang diaudit, termasuk tanggalneraca, dan periode-periode akuntansi untuk
perhitungan rugi-laba dan laporan arus kas. Ketiga, menyatakan bahwa laporan keuangan
tersebut merupakan tanggung jawab manajemen dan bahwa tanggung jawab auditor adalah
untuk menyatakan suatu pendapat atas laporan itu berdasarkan audit.
4.Paragraf ruang lingkup. Paragraf ruang lingkup adalah pernyataan factual tentang apa yang
dilakukan auditor di dalam audit. Paragraph ini terlebih dahhulu menyatakan bahwa auditor
bersangkutan mengikuti norma pemeriksaan akuntan dan standar auditing yang berlaku lalu
secara singkat menerangkan aspek-aspek penting dari suatu audit.
5.Paragraf pendapat. Paragraph terakhir dalam laporan standar menyatakan kesimpulan
auditor berdasarkan hasil pemeriksaan.
6.Nama auditor. Paragraph terakhir dalam laporan standar menyatakan kesimpulan auditor
berdasarkan hasil pemeriksaan.
7.Nama auditor. Nama ini menunjukan kantor akuntan atau akuntan public yang melaksanakn
audit.
8.Tanggal laporan audit. Tanggal yang harus dipakai di dalam laporan ini adalah tanggal
dimana auditor telah menyelesaikan bagian yang terpenting dari prosedur auditing di
lapangan.
Kemudian ada laporan audit tanpa kualifikasi dengan paragraf penjelas atau modifikasi
perkataan. Laporan ini memenuhi kriteria suatu proses auditing yang lengkap dengan hasil
yang memuaskan atas laporan keuangan yang disajikan secara wajar, tetapi auditor merasa
perlu untuk memberikan sejumlah informasi tambahan. Laporan audit dengan pendapat yang
tidak wajar hanya diberikan apabila auditor mersa yakin bahwa keseluruhan laporan
keuangan disajikan dengan begitu banyak kesalahan yang menyesatkan sehingga tidak
berhasil menunjukan posisi keuangan atau hasil operasi perusahaan dengan wajar sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku.
Laporan audit dengan penolakan untuk memberikan pendapat diberiakan apabila auditor
tidak berhasil untuk meyakinkan diri sendiri bahwa keseluruhan laporan keuangan yang
diperiksanya tersaji dengan wajar, sangat terbatasnya ruang lingkup pemeriksaan auditor dan
hubungan yang tidak independen antara auditor dengan klien menurut kode etik jabatan.
Laporan audit dengan kualifikasi disebabkan oleh adanya keterbatasan ruang lingkup audit
atau tidak ditaatinya prinsip akuntansi yang berlaku.
Laporan audit merupakan laporan formal sehingga bahasa yang digunakan juga merupakan
bahasa yang formal dan lugas. Oleh karena itu, pendekatan penerjemahan secara sintaksis
dapat dilakukan kecuali untuk beberapa istilah yang mempunyai makna khusus dan bersifat
lingkungan.
Audit yang dilakukan pada sektor pemerintah berbeda dengan yang dilakukan pada sektor
swasta. Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan latar belakang institusional
dan hukum, dimana audit sektor publik pemerintah mempunyai prosedur dan tanggung jawab
yang berbeda serta peran yang lebih luas dibanding audit sektor swasta (Wilopo, 2001).
Audit sektor publik tidak hanya memeriksa serta menilai kewajaran laporan keuangan sektor
publik, tetapi juga menilai ketaatan aparatur pemerintahan terhadap undang-undang dan
peraturan yang berlaku. Disamping itu, auditor sektor publik juga memeriksa dan menilai
sifat-sifat hemat (ekonomis), efisien serta keefektifan dari semua pekerjaan, pelayanan atau
program yang dilakukan pemerintah. Dengan demikian, bila kualitas audit sektor publik
rendah, akan mengakibatkan risiko tuntutan hukum (legitimasi) terhadap pejabat pemerintah
dan akan muncul kecurangan, korupsi, kolusi serta berbagai ketidakberesan.
Jika laporan audit sektor swasta diterbitkan oleh akuntan publik (kantor akuntan publik) maka
dalam sektor pemerintah laporan audit di buat oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
berdasarkan pasal 23 ayat (5) UUD 1945. BPK diberi kewenangan untuk melakukan 3 (tiga)
jenis pemeriksaan, yakni: Pemeriksaan keuangan, adalah pemeriksaan atas laporan keuangan
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemeriksaan keuangan ini dilakukan oleh BPK
dalam rangka memberikan pernyataan opini tentang tingkat kewajaran informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan pemerintah. Pemeriksaan kinerja, adalah pemeriksaan atas
aspek ekonomi dan efisiensi, serta pemeriksaan atas aspek efektivitas yang lazim dilakukan
bagi kepentingan manajemen oleh aparat pengawasan intern pemerintah. Pasal 23 E Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan BPK untuk
melaksanakan pemeriksaan kinerja pengelolaan keuangan negara. Tujuan pemeriksaan ini
adalah untuk mengidentifikasikan hal-hal yang perlu menjadi perhatian lembaga perwakilan.
Adapun untuk pemerintah, pemeriksaan kinerja dimaksudkan agar kegiatan yang dibiayai
dengan keuangan negara/daerah diselenggarakan secara ekonomis dan efisien, serta
memenuhi sasarannya secara efektif. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu, adalah
pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan khusus, di luar pemeriksaan keuangan dan
pemeriksaan kinerja. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu meliputi antara lain pemeriksaan
atas hal-hal lain di bidang keuangan, pemeriksaan investigatif, dan pemeriksaan atas sistem
pengendalian intern pemerintah.
Pelaksanaan pemeriksaan sebagaimana dimaksudkan di atas didasarkan pada suatu standar
pemeriksaan. Standar dimaksud disusun oleh BPK dengan mempertimbangkan standar di
lingkungan profesi audit secara internasional. Sebelum standar dimaksud ditetapkan, BPK
perlu mengkonsultasikannya dengan pihak pemerintah serta dengan organisasi profesi di
bidang pemeriksaan. Standard pemeriksaan yang digunakan adalah Standar Audit
Pemerintahan (SAP) tahun 2005 sebagai standar audit keuangan negara.
Hasil dari audit yang dilakukan oleh BPK selain disampaikan kepada lembaga perwakilan,
laporan hasil pemeriksaan juga disampaikan oleh BPK kepada pemerintah. Dalam hal laporan
hasil pemeriksaan keuangan, hasil pemeriksaan BPK digunakan oleh pemerintah untuk
melakukan koreksi dan penyesuaian yang diperlukan, sehingga laporan keuangan yang telah
diperiksa (audited financial statements) memuat koreksi dimaksud sebelum disampaikan
kepada DPR/DPRD. Apabila pemeriksa menemukan unsur pidana, Undang-Undang 15
Tahun 2004 mewajibkan BPK melaporkannya kepada instansi yang berwenang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan Dalam rangka transparansi dan peningkatan partisipasi
publik, Undang-Undang 15 Tahun 2004 menetapkan bahwa setiap laporan hasil pemeriksaan
yang sudah disampaikan kepada lembaga perwakilan dinyatakan terbuka untuk umum (tidak
termasuk laporan yang memuat rahasia negara yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan).