Anda di halaman 1dari 2

Artikel: Plagiarisme dan Sitasi

Plagiarisme dan Sitasi

‘’Plagiat atau perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba
memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau
seluruh
karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber
secara
tepat dan memadai.’’ Begitulah pengertian plagiat atau plagiarisme yang tercantum dalam
Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010.
Sebagai bagian dari dunia akademis, para akademisi dituntut oleh kewajiban
mereka
untuk selalu mencari sumber referensi dan melakukan analisis terhadap berbagai karya
orang lain
berupa makalah, penelitian, ataupun karya tulis. Namun, tanpa disadari mereka sering
terjebak
dalam isu plagiarisme. Mulai dari pelajar hingga penyandang gelar akademis pun tidak
segan-segan
untuk melakukan plagiarisme. Hal ini patut disayangkan dan menjadi perhatian bersama.
Tindakan tersebut sangat mencoreng dan memburamkan dunia akademis karena dianggap
sebagai kejahatan intelektual. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapatkan
hukuman berat berupa dikeluarkan dari sekolah ataupun universitas.
Sastroasmoro (2007 dalam Mulyadin 2012) membagi plagiarisme menjadi beberapa
kategori berdasarkan aspek, proporsi, pola, dan unsur kesengajaan. Berbagai model
penyalinan
yang sengaja dilakukan akan ditindaklanjuti sesuai dengan hukum yang berlaku.
Penulis Doris Kearns Goodwin ketika mewawancarai penulis Lynne McTaggart
dalam
bukunya dari tahun 1987, The Fitzgeralds and The Kennedys, dan ia menggunakan
beberapa
kalimat dari buku McTaggart mengenai Kathleen Kennedy. Pada tahun 2002, ketika
kemiripan
ini ditemukan, Goodwin mengatakan bahwa ia mengira bahwa rujukan tidak perlu kutipan,
dan
bahwa ia telah memberikan catatan kaki. Banyak orang meragukannya dan ia dipaksa
mengundurkan diri dari Pulitzer Prize Board. Kasus tersebut menunjukkan bahwa hukuman
untuk seorang plagiator selain hukuman secara pidana, mereka juga akan mendapatkan
hukuman
berupa tekanan mental akibat menanggung rasa malu kepada orang lain yang mengetahui
tidakan
mereka. Mereka juga akan sulit untuk dipercayai oleh orang lain kembali.
Ketika seseorang akan mengutip karya orang lain, maka seseorang tersebut harus
melakukannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Etika kutipan merupakan
aspek
yang sangat penting dalam penulisan karya ilmiah, serta merupakan cermin dari integritas,
kejujuran, dan keterbukaan di kalangan akademisi atau masyarakat ilmiah perguruan tinggi.
Penggunaan sitasi cukup penting dalam menulis buku atau karya ilmiah. Sitasi
adalah
cara seorang penulis memberitahu pembaca bahwa bagian-bagian tertentu dari tulisan
berasal
dari sumber yang ditulis oleh penulis lain. Tujuan dilakukannya sitasi adalah untuk
menjunjung
kejujuran akademik/intelektual dan menghindari plagiarisme, serta merupakan penghargaan
atau penghormatan terhadap orang lain.
Dalam dunia perguruan tinggi, sitasi merupakan satu indikator penting dalam
penilaian sebuah perguruan tinggi. Semakin banyak karya ilmiah dari dosen dan peneliti
sebuah perguruan tinggi yang dirujuk oleh penulis lain dalam karyanya, maka semakin tinggi
indeks sitasi perguruan tinggi tersebut (Ketut dalam Peningkatan Sitasi Menuju ITS sebagai
World Class University).
Pada akhirnya, penulisan sitasi adalah hal yang paling penting untuk dilakukan ketika
kita memproduksi sebuah karya. Untuk menghindari kejahatan intelektual yang tidak
disadari, maka diperlukan penulisan sitasi yang benar dan lengkap.