Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

PNEUMOTHORAX SINISTRA

I. KONSEP MEDIS

A. PENGERTIAN
 Pneumothorax adalah Keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura (IPD Jilid
II,939). Laserasi paru-paru, atau keluarnya udara dari paru yang cedera ke dalam rongga
pleural (KMB Brunner & Suddart, 464).
 Pneumothorax adalah adanya udara dalam rongga pleura. Pneumothorax dapat terjadi
secara spontan atau karena trauma (British Thoracic Society 2003). Tension pneumothorax
disebabkan karena tekanan positif pada saat udara masuk ke pleura pada saat inspirasi.
Pneumothorax dapat menyebabkan cardiorespiratory distress dan cardiac arrest.

B. ETIOLOGI
Pnemutoraks dapat terjadi karena :
a. Traumatik → disebabkan jejas yang mengenai dada.
b. Spontan → seringkali di dapat penyakit dasar berupa : TBC paru, Bronkitis kronis,
Emfisema, Asma Bronkiale, Kanker paru.
c. Atifisial : pneumotoraks yang disengaja untuk tujuan tertentu.

C. GEJALA KLINIS
Gejala kilinis yang sering terjadi adalah :
a. Sesak nafas → sering mendadak & makin lama makin berat
b. Nyeri dada → pada sisi yang sakit, terasa lelah nyeri saat nafas.
c. Takikardi → frekuensi jantung yang melebihi 100/menit pada orang dewasa.

D. KLASIFIKASI
Ada beberapa jenis pneumothorax yaitu :
1. Pneumothorax tertutup
 Tanda dan gejala :
Nyeri tajam saat ekspirasi
Peningkatan frekuensi pernapasan
Kecemasan meningkat
Penurunan tekanan darah
Takikardi
1|PNEUMOTHORAX SINISTRA
Penurunan sampai hilangnya suara napas pada daerah yang sakit.
2. Pneumothorax spontan
 Tanda dan gejala :
Napas pendek dan timbul secara tiba-tiba tanpa ada trauma dari luar paru
3. Pneumothorax tension
 Inspeksi : sesak napas berat dan penueunan sampai hilangnya pergerakan dada
pada sisi yang sakit.
 Palpasi : pendorongan trachea dari garis tengah menjauhi sisi yang sakit dan
distensi vena jugularis.
 Perkusi : hiperresonan pada sisi yang sakit
 Auskultasi : penurunan sampai hilangnya suar napas pada sisi yang sakit.
4. Pneumothorax terbuka.
 Inspeksi : sesak napas berat, terlihat adanya luka terbuka
 Palpasi : pendorongan trachea dari garis tengah menjauhi sisi yang sakit.
 Perkusi : hiperresonan pada sisi yang sakit.
 Auskultasi : penurunan sampai hilangnya suar napas pada sisi yang sakit.

E. PATOFISIOLOGI

Factor predisposisi: trauma tembus ke pleura, trauma


tumpul pada dada, TB Paru, emfisema, kanker paru.

Kebocoran pada paru yang diisi dengan adanya udara


melalui robekan

Tekanan positif intra pleura

 Perubahan nutrisi
Gangguan ventilasi : pengembangan paru tidak dari kebutuhan
optimaldan gangguan difusi, distribusi, dan  Kecemasan
transportasi oksigen  Gangguan
2|PNEUMOTHORAX SINISTRA pemenuhan ADL
Respon nyeri,
adanya luka pasca Ketidakefektifan
Sekret &  Keluhan
Ketidaktahuan /
sistemik,
Resiko tinggi Terpasang
Ketdakefektifan pemasangan bullow penurunanjalan
bersihan batuk pemenuhan
Nyeri, kerusakan mual, muntah,
trauma WSD nafas
pola napas drainase integritas jar, resti infeksiefektif informasi
cemas, lelah
F, PENATALAKSANAAN
Sasaran penatalaksanaan adalah untuk mengeluarkan udara / darah dari ruang pleura sambil
mempertahankan keseimbangan cairan. Bisa dilakuakan dengan cara :
a. Tindakan medis
Mengukur tekanan intrapleura, menghisap udara & mengembangkan paru. Tindakan ini
terutama pada penderita pneumotoraks tertutup & terbuka.
b. Tindakan dekompresi
WSD (Water Scaled Drainage)
Penghisapan dilakukan terus menerus apabila tekanan intrapleura tetap positif.
Pencabutan drain apabila paru telah mengembang maksimal & tekanan intrapleura sudah
negativ kembali, drain dapat dicabut.
c. Tindakan bedah
Pembukaan dinding toraks melalui operasi, dicari lubang yang menyebabkan
pneumotoraks & dijahit.
Jika ada penebalan pleura yang menyebabkan paru tidak dapat mengembang maka
dilakukan dekortikasi atau pengelupasan.
Reseksi, bila ada bagian paru yang mengalami robekan & tidak dapat dipertahankan lagi.

3|PNEUMOTHORAX SINISTRA
II. ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1) Biodata
 Umur : dapat terjadi pada orang yang berumur antara 20-40 tahun.
 Pekerjaan : Orang yang bekerja di pabrik lebih beresiko terjadi kecelakaan.
 Jenis Kelamin : Pria lebih beresiko terkena pneumotoraks daripada wanita.
2) Keluhan Utama.
Nyeri pleuritik hebat, Dispnea (jika luas), sesak napas.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Adanya nyeri dada yang disertai sesak nafas mendadak dan makin lama makin berat.
4) Riwayat Penyakit Dahulu.
Klien yang mempunyai riwayat TBC paru, Bronkitis kronis, emfisema, Asma
Bronkiale, kanker paru lebih beresiko terkena pneumotoraks.
5) Riwayat Injuri
Adanya kecelakaan kerja kemungkinan adanya pneumotoraks.
6) Pemeriksaan fisik
 B1 (Breathing)
Penggunaan otot bantu dada pernapasan, gerakan pernapasan yang asimetris,
batuk produktif. Traktil fremitus menurun pada sisi yang sakit, suara ketok
pada sisi yang sakit, tekanan intra pleuratinggi, suara napas menurun.
 B2 (Blood)
Perawat perlu memonitor dampak pneumothorax pada kardiovaskuler yang
meliputi keadaan hemodinamik (nadi, tekanan darah, CRT)
 B3 (Brain)
Pada inspeksi, tingkat kesadran perlu dikaji. Selain itu, diprlukan juga
pemeriksaan GCS. Apakah compos mentis, somnolen atau koma.
 B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan. Oleh
karena itu perawat perlu memonitori adanya oliguria yang nerupakan tanda
awal syok.
 B5 (Bowel)
Klien biasanya mengalami mual, muntah, penurunan nafsu makan dan
penurunan BB.
 B6 (Bone)
Pada trauma di rusuk dada, sering adanya kerusakan otot sehingga
menyebabkan infeksi.

4|PNEUMOTHORAX SINISTRA
7) Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan diagnostic bisa dilakukan dengan cara :
a. Pemeriksaan radiologi
Dari hasil pemeriksaan akan tampak hitam, rata dan paru yang kolaps akan tampak
garis yang merupakan tepi paru, kadang-kadang berbentuk loluber yang sesuai
dengan lobus paru, adanya dorongan pada paru yang sehat.
b. Pemeriksaan darah

B. DIAGNOSA
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah :
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan tak adekuat ventilasi ditandai dengan
takikardi akibat pneumotoraks.
b. Perubahan pola kenyamanan berhubungan dengan nyeri dada akibat pneumotoraks.
c. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan pemasukan oksigen
ditandai dengan dispnea akibat pneumotoraks.
d. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya akumulasi secret jalan
nafas.
e. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan peningkatan metabolism tubuh, penurunan nafsu makan.
f. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum, keletihan
sekunder adanya sesak napas.
g. Gangguan pola tidur dan istirahat yang bergubungan dengan batuk yang menetap dan
sesak napas serta perubahan suasana lingkungan.
h. Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan.
i. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat
mengenai proses penyakit dan pengobatan.
j. Resti infeksi yang berhubungan dengan tidak optimalnya drainase selang sekunder
akibat pipa WSD yabg terjept.

C. INTERVENSI
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan tak adekuat ventilasi ditandai dengan
takikardi akibat pneumotoraks.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pola pernapasan klien
menjadi efektif.
KH :
- Frekuensi dan kedalaman pernapasan normal.

5|PNEUMOTHORAX SINISTRA
- Kecepatan nadi dalam batas normal
Intervensi :
- Observasi kualitas, frekuensi, dan kedalaman pernapasan.
R / dengan mengkaji mualitas, frekuensi, dan kedalaman pernapasan, kita dapat
mengetahui sejauh mana perubahan kondisi klien.
- Berikan posisi fowler
R / penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa
maksimal.
- Observasi TTV
R / peningkatan RR dan takikardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi
paru.

ASUHAN KEPERAWATAN

Pada Tn. N dengan diagnose Pneumothorax Sinistra

di ruang paru RSUD Dr. Soetomo

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
I. BIODATA
Nama : Tn. N
Umur : 42 tahun
Alamat : Jl. Kara Menjangan V / 7 Surabaya
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : STM
Diagnosa : Pneumothorax Sinistra
No.Reg : 459147
Tgl MRS : 16 Oktober 2012 jam : 13.00 WIB
Tgl Pengkajian: 16 Oktober 2012 jam : 13.15 WIB

II. RIWAYAT KESEHATAN


a. KELUHAN UTAMA
Pasien mengatakan sesak nafas. badan terasa panas, dan batuk yang disertai dahak
warna putih kental dan bercak darah.
b. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Terasa nyeri dada sebelah kiri, makin lama tambah berat.
c. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pernah sakit batuk tidak sembuh-sembuh kurang lebih selama 6 bulan.
6|PNEUMOTHORAX SINISTRA
d. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Pasien mengatakan keluarganya ada yang mengalami penyakit paru yaitu kakeknya.

e. GENOGRAM

Keterangan :

Perempuan

Laki-laki

Pasien

Tinggal serumah

f. RIWAYAT ALERGI
Tidak ada alergi pada obat atau makanan

III. RIWAYAT KEPERAWATAN


a. Pola Nutrisi
- Di rumah : nafsu makan baik, makan 3x sehari (nasi, sayuran, ikan), habis
satu porsi, minum 1000 cc
- Di RS : nafsu makan menurun, makan 3x sehari (nasi, sayuran, ikan) ± 3
sendok, minum 750 cc
b. Pola Eliminasi Alvi
- Di rumah : setiap pagi (konsistensi lunak, berbau khas, warna kuning
kecoklatan)
- Di RS : selama 2 hari tidak BAB
c. Pola Eliminasi Urin
7|PNEUMOTHORAX SINISTRA
- Di rumah : ± 1000 cc (berbau khas, warna kekuning-kuningan)
- Di RS : ± 700 cc (berbau khas, warna kekuning-kuningan)
d. Pola istirahat
- Di rumah : istirahat ± 8 jam / hari, nyenyak
- Di RS : istirahat ± 3-4 jam / hari, tidak nyenyak
e. Pola aktivitas
- Di rumah : melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal
- Di RS : hanya berbaring di tempat tidur

IV. PEMERIKSAAN FISIK


a. Tanda-Tanda Vital
TD : 120/70 mmHg
S : 38 C
N : 80x / menit
RR : 29x / menit
b. B1(Breathing)
 Inspeksi
Penggunaan otot bantu pernapasan, gerakan ekspansi dada yang asimetris
(pergerakan dada tertinggal pada iga yang sakit).
 Palpasi
Taktil fremitus menurun pada sisi yang sakit.
 Perkusi
Dada bagian kiri yang sakit terdengar redup
 Auskultasi
Terdengar bunyi wheezing
c. B2 (Bleading)
CRT (-), TD : 120/70 mmHg, N : 80 x / menit
d. B3 (Brain)
GCS 4 : 5 : 6

e. B4 (Bladder)
Input : 500 cc , output : 300 cc
f. B5 (Bowel)
Mual, muntah, penurunan nafsu makan, penurunan BB
g. B6 (Bone)
Pemenuhan kebutuhan aktivitas dibantu oleh keluarga.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Ph 7,44 7,35-7,45

pCO2 49,3 35-45 mmHg

8|PNEUMOTHORAX SINISTRA
pO3 66,3 80-410 mmHg

Pemeriksaan Diagnostik
Radiologi : terdapat adanya udara dalam rongga pleura

VI. TERAPI
- Infus RL : 20 tetes / menit
- Mefinamid Acid 3 x 500 mg
- Diit TKTP
- Pakai WSD
- Oxygen 2 liter / menit

ANALISA DATA
1. Data : Ds : px mengatakan sesak napas
Do : - menggunakan otot bantu pernapasan
- Terdengar bunyi weezhing
- TTV :
TD : 120/70 mmHg
S : 38 C
N : 80x / menit
RR : 29 x / menit
Etiologi : Menurunnya ekspansi paru
Mx kep : Ketidakefektifan pola pernapasan
2. Data : Ds : px mengatakan badannya terasa panas
Do : akral hangat, k/u lemah, wajah pucat
Etiologi : proses infeksi
Mx kep : peningkatan suhu tubuh
3. Data : Ds : px mengatakan batuk disertai dahak warna putih kental dan bercak darah.
Do : - nyeri dada
Batuk keluar dahak
Etiologi : produksi secret menumpuk
Mx kep : ketidakefektifan bersihan jalan nafas.
4. Data : Ds : px mengatakan nafsu makannya mulai menurun
Do : I porsi habis 3 sendok TTV : TD : 120/70 mmHg
Penurunan BB S : 38 C
Pipi kempong N : 80x / menit
Mata cowong RR : 29 x / menit
k/u lemah
Etiologi : intake nutrisi tidak adekuat
Mx kep : pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan.
5. Data : Ds : px mengatakan tidak bisa tidur dengan nyenyak
Do : tidur 3-4 jam / hari

9|PNEUMOTHORAX SINISTRA
Mata merah, sembab
k/u lemah
Etiologi : nyeri
Mx kep : gangguan pola tidur
6. Data : Ds : keluarga px mengatakan semua aktivitas dibantu oleh keluarga
Do : minum diambilkan
Ke kamar mandi diantar
Makan disuapin
k/u lemah
Hanya berbaring ditempat tidur
Etiologi : kelemahan fisik
Mx kep : gangguan ADL
7. Data : Ds : px selalu berkata yang tidak-tidak (ngelantur)
Do : wajah nampak bingung
Pandangan kosong
Etiologi : ancaman kematian
Mx kep : cemas
8. Data : Ds : px mengatakan nyeri pada bagian dada sebelah kiri.
Do : wajah nampak menyeringai
Memegangi bagian dada yang sakit
k/u lemah
berdesis
Sesak napas
Batuk berat
skala nyeri = 7
Etiologi : kelemahan fisik
Mx kep : gangguan rasa nyaman (nyeri)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Ketidakefektifan pola pernapasan b/d menurunnya ekspansi paru d/d px mengatakan sesak
napas, menggunakan otot bantu pernapasan, terdengar bunyi whezzing, TD = 120/70
mmHg, S = 38 C, N = 80 x / menit, RR = 29 x / menit.
 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d produksi secret yang berlebih d/d px mengatakan
batuk disertai dahak warna putih kental dan bercak darah, nyeri dada, batuk keluar dahak,
TD = 120/70 mmHg, S = 38 C, N = 80 x / menit, RR = 29 x / menit.
 Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d batuk yang terasa berat d/d px mengatakan nyeri pada
bagian dada sebelah kiri, wajah nampak menyeringai, memegangi bagian dada yang sakit,
k/u lemah, berdesis, sesak napas, skala nyeri = 7
 Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d intake nutrisi tidak adekuat d/d px
mengatakan nafsu makannya mulai menurun, makan I porsi habis 3 sendok, penurunan BB,

10 | P N E U M O T H O R A X S I N I S T R A
pipi kampong, mata cowong, k/u lemah, TD : 120/70 mmHg, S : 38 C, N : 80x / menit,
RR : 29 x / menit.
 Peningkatan suhu tubuh b/d terjadinya proses infeksi d/d px mengatakan bdannya terasa
panas, akral hangat, k/u lemah, wajah pucat. TD : 120/70 mmHg, S : 38 C, N : 80x / menit,
RR : 29 x / menit.
 Cemas b/d ancaman kematian d/d px selalu berkata yang tidak-tidak (ngelantur), wajah
nampak bingung, pandangan kosong. TD : 120/70 mmHg, S : 38 C, N : 80x / menit, RR :
29 x / menit.
 Gangguan pola tidur b/d nyeri yang dirasakan d/d px mengatakan tidak bisa tidur dengan
nyenyak, tidur 3-4 jam / hari, mata merah, sembab, k/u lemah. TD : 120/70 mmHg, S : 38
C, N : 80x / menit, RR : 29 x / menit.
 Gangguan ADL b/d kelemahan fisik d/d keluarga px mengatakan semua aktivitas dibantu
oleh keluarga, minum diambilkan, ke kamar mandi diantar, makan disuapin, k/u lemah,
hanya berbaring ditempat tidur. TD : 120/70 mmHg, S : 38 C, N : 80x / menit, RR : 29 x /
menit.

C. INTERVENSI
a. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d menurunnya ekspansi paru d/d px
mengatakan sesak napas, menggunakan otot bantu pernapasan, terdengar bunyi
whezzing, penumpukan udara dalam rongga pleura, RR = 29 x / menit.
Tujuan :
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah yang dirasakan klien
bisa teratasi.
KH :
- Pola pernapasan normal
- Tidak menggunakan otot bantu pernapasan
- Bunyi Wheezing (-)
- RR dalam batas normal (16-20 x / menit)
Intervensi
- Berikan posisi fowler
R / posisi fowler dapat meningkatkan ekspansi paru dan memberikan rasa nyaman.
- Observasi TTV terutama RR
R / TTV bisa mengetahui keadaan klien terutama RR yang dapat mengindikasikan
pola pernapasan.
- Berikan HE pada klien dan keluarga dalam menangani sesak napas seperti
memberikan posisi fowler
R / HE bisa membantu keluarga jika klien timbul sesak secara mendadak.
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemasangan WSD
R / Pemasangan WSD dapat membantu pengeluran udara secara optimal.
11 | P N E U M O T H O R A X S I N I S T R A
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d produksi secret yang berlebih d/d px
mengatakan batuk disertai dahak warna putih kental dan bercak darah, nyeri
dada, batuk keluar dahak
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah klien bisa teratasi
KH :
- Secret berkurang
- Nyeri dada berkurang
Intervensi :
- Berikan minum yang banyak
R / minum banyak dapat mengencerkan dahak, sehingga dahak mudah keluar.
- Berikan fisioterapi dada (latihan nafas dalam batuk efektif, claping-vibrasi)
R / fisioterapi dada dapat membantu dalam megoptimalkan pengeluaran secret
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian oksigenasi seperti suction
R / suction dapat membantu pengeluaran secret yang menumpuk.

c. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d batuk yang terasa berat d/d px mengatakan
nyeri pada bagian dada sebelah kiri, wajah nampak menyeringai, memegangi
bagian dada yang sakit, k/u lemah, berdesis, sesak napas, skala nyeri = 7
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah klien bisa teratasi
KH :
- Nyeri berkurang
- Skala nyei = 3
- k/u cukup
- sesak napas hilang
Intervensi :
- Kaji keluhan nyeri, area, intensitas, skala nyeri
R / dengan mengkaji keluhantersebut dapat menentukan intervensi sesuai keluhan.
- Observasi TTV terutama peningkatan nadi
R / peningkatan nadi dapat mengindikasikan nyeri semakin meningkat
- Beri HE pada klien beserta keluarga dalam mengalihkan perhatian klien dengan teknik
distraksi
R / distraksi kemungkinan bisa menurunkan konsentrasi terhadap nyeri yang berlebih
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic
R / analgesic mengandung bahan pereda nyeri yang bekerja lewat system syaraf pusat

d. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d intake nutrisi tidak adekuat d/d px
mengatakan nafsu makannya mulai menurun, makan I porsi habis 3 sendok,
penurunan BB, pipi kampong, mata cowong, k/u lemah
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah klien teratasi
KH :
12 | P N E U M O T H O R A X S I N I S T R A
k/u baik
BB normal
Makan habis I porsi
Pipi tidak kampong
Mata tidak cowong
Intervensi :
- Observasi kebersihan mulut, gigi
R / dapat mempermudah dalam menentukan intervensi seperti pemenuhan personal
hygine
- Menganjurkan makan sedikit tapi sering
R / kenuruhan nutrisinya terpenuhi
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam memodivikasi makanan sesuai diit
R / dapat mencukupi kebutuhan nutrisi yang belum terpenuhi
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian vitamin nafsu makan
R / vitamin dapat meningkatkan nafsu makan sehingga BB menjadi normal

e. Peningkatan suhu tubuh b/d terjadinya proses infeksi d/d px mengatakan bdannya
terasa panas, akral hangat, k/u lemah, wajah pucat. TD : 120/70 mmHg, S : 38 C,
N : 80x / menit, RR : 29 x / menit.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam masalah klien teratasi
KH :
Suhu dalam batas normal (36-37)
k/u cukup
wajah segar
intervensi :
- Observasi TTV terutama suhu
R / TTV terutama suhu dapat mengindikasikan terjadinya peningkatan suhu diatas
normal.
- Berikan kompres hangat pada axilla, tengkuk, dibelakang kepala
R / kompres hangat dapat menurukan panas dengan cara evaporasi
- Anjurkan memakai baju yang tipis
R / baju tipis dapat menyerap keringat
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian anti piretik.
R / anti piretik mengandung bahan yang dapat menurunkan panas

13 | P N E U M O T H O R A X S I N I S T R A
DAFTAR PUSTAKA

Asih Niluh Gde Yasmin. 2004. Keperawatan Medikal Bedah (Klien dengan Gangguan
Pernafasan). EGC: Jakarta.

Brunner and Suddarths. 1996. Textbook of Medical Surgical Nursing, Eight Edition,
Philadelphia: JB. Lippincott Company

Boughman Diana C. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.

Boyer Mary Ja. 2002. Pedoman Penggunaan Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC:
Jakarta.

Enggram Barbara. 1998. rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta.

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar- Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.

Soemantri Irman. 2008. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Sistem Pernafasan. Salemba Medika: Jakarta.

14 | P N E U M O T H O R A X S I N I S T R A
Syaifulloh Noor. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI

http : // kasendaadhd.blogspot.com/2008/10/asuhan-keperawatan-klien-pneumothorax.html
http : // nazwa-cyber.blogspot_com/2011/09/asuhan-keperawatan-pneumothorax.html

15 | P N E U M O T H O R A X S I N I S T R A

Anda mungkin juga menyukai