Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia mengalami transisi epidemiologi penyakit dankematian yang
disebabkan oleh pola gaya hidup, meningkatnya sosial ekonomi dan
bertambahnya harapan hidup. Pola gaya hidup merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi meningkatnya kejadian penyakit di zaman modern ini.
Perubahan pola makan, asupan yang tidak sehat, kurangnya olahraga, dan
perilaku-perilaku tidak sehat merupakan perilaku gaya hidup yang tidak sehat.
Pada awalnya, penyakit didominasi oleh penyakit menular, namun saat ini
penyakit tidak menular (PTM) terus mengalami peningkatan dan melebihi
penyakit menular. Gastritis merupakan salah satu penyakit tidak
menular(Kemenkes RI, 2014: Mianoki, 2014).Gastritis adalah suatu peradangan
mukosa lambung paling sering diakibatkan oleh ketidakteraturan diet, misalnya
makan terlalu banyak dan cepat atau makan makanan yang terlalu asam, pedas,
berbumbu banyak atau terinfeksi oleh penyebab lain seperti alkohol, aspirin,
refluks empedu atau terapi radiasi (Priyoto, 2015).
Menurut Data Dinkes kota Palembang (2012), Penyakit gastritis termasuk
ke dalam sepuluh pnyakit terbesar di Kota Palembang, yaitu menempati posisi ke
empat dari sepuluh penyakit. Sedangkan angka kejadian di Kota Palembang
tahun 2013 gastritis menempati posisi ke-tiga dalam sepuluh penyakit terbesar
di Kota. Palembang dengan jumlah penderita yaitu 6402 orang penderita (Dinkes
Kota Palembang, 2013).
Salah satu jenis obat yang sering digunakan pada masyarakat yaitu
antasida. Antasida berfungsi untuk mengurangi gejala yang berhubungan denga
kelebihan asam lambung, tukak lambung, gastritis, tukak usus dua belas jari
dengan gejala seperti mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati dan perasaan penuh

1
pada lambung. Antasida juga digunakan untuk melindungi lambung dari obat-
obatan yang dapat mengiritasi lambung terutama pada jangka waktu panjang,
seperti aspirin, asetosal, meloxicam, diklofenak. Hal-hal yang harus diperhatikan
pada penggunaan antasida yaitu antasida dalam bentuk tablet harus dikunyah
terlebih dahulu sebelum ditelan, beri jarak minimal 1 jam untuk minum obat
yang lain, antasida diminum 1 jam sebelum makan, tidak dianjurkan pemakaian
lebih dari 2 minggu kecuali atas saran dokter, hanya digunakan apabila telah
diketahui bahwa gejala mual, nyeri lambung, rasa panas di ulu hati dan dada,
penggunaan terbaik adalah saat gejala timbul sewaktu lambung kosong dan
menjelang tidur malam, antasida mengganggu absorbsi obat-obat tertentu
(misal antibiotik), bila diminum bersama harus diberi waktu 1-2 jam, bila dosis
berlebihan dapat menimbulkan sembelit, wasir, perdarahan anus, feses padat,
mual, muntah, kekurangan fosfat dan osteomalasia (Departemen Kesehatan RI,
2007).
Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai hasil
jangka menengah (intermediate impact) dari pendidikan kesehatan. Selanjutnya
perilaku kesehatan akan berpengaruh kepada meningkatnya indikator kesehatan
masyarakat sebagai keluaran (outcome) pendidikan kesehatan (Notoatmodjo,
2003). Tingkat pengetahuan merupakan aspek bagaimana individu menerima,
mempelajari, menalar, mengingat dan berpikir tentang sesuatu. Dari
pengetahuan inilah menjadi salah satu indikator yang dapat mempengaruhi
derajat kesehatan masyarakat terutama dalam sistem pencernaan seperti
gastritis (Sriyono, 2015). Mayoritas responden pengguna antasida padat
meminum obat tersebut tanpa dikunyah (langsung ditelan) didapat jumlah
persentase yang langsung menelan tablet yaitu 56,52% (Hamid, R., dkk, 2014).
Hasil penelitian lain menyatakan bahwa, sebanyak (22%) mempunyai tingkat
pengetahuan tentang penggunaan antasida sudah baik, (44%) responden
mempunyai tingkat pengetahuan tentang penggunaan antasida cukup baik, dan
(34%) mempunyai tingkat pengetahuan tentang penggunaan antasida kurang

2
baik (Sumariani, 2014). Mengingat belum diketahuinya apakah ada hubungan
antara pengetahuan dan perilaku penggunaan antasida tablet, sehingga peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Hubungan Tingkat Pengetahuan
dan Perilaku Penggunaan Antasida Tablet Pada Pasien Di Puskesmas Kalidoni
Palembang”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengetahuan Pasien Terhadap Penggunaan Antasida Tablet Di
Puskesmas Kalidoni Palembang?
2. Bagaimana Perilaku Penggunaan Obat Antasida Pada Pasien Di Puskesmas
Kalidoni Palembang
3. Bagaimana Hubungan Tingkat PengetahuanDanPerilaku Penggunaan
Antasida Tablet Pada Pasien Di Puskesmas Kalidoni Palembang.
C. Tujuan Penelitian
1. Jutuan Umum
Menanalisa Hubunagn Tingkat Pengetahuan dan perilaku Pengunaan
Antasida Tablet pada Pasien di puskesmas Kalidoni Palembang.
2. Tujuan Khusus
a. Mengukur Pengetahuan Pasien Mengenai Penggunaan Antasida Tablet Di
Puskesmas Kalidoni Palembang.
b. Mengukur Perilaku Pasien Mengenai Penggunaan Antasida Tablet di
Puskesmas Kalidoni Palembang
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai berikut :
1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara penggunaan
antasida tablet yang tepat dan benar.
2. Sebagai bahan masukan dalam upaya untuk memperbaiki perilaku
penggunaan antasida tablet.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan ini
terjadi melalui pasca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2007).
2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu :
a. Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman baik dari pengalaman
pribadi maupun orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan.
b. Tingkat Pendidikan
Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang
secara umum. Seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan
mempunyai pengetahuanyang lebih luas dibandingkan dengan seseorang
yang tingkat pendidikannya rendah.
c. Usia
Semakin bertambah usia seseorang semakin bijaksana dan banyak
pengalaman atau hal yang telah dijumpai dan dikerjakan untuk memiliki
pengetahuan. Dengan pengetahuan tersebut dapat mengembangkan
kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari
keterpaduan manalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah
nyata.

4
d. Sumber Informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal
dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga menghasilkan
perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan
tersedia bermacam macam media massa yang dapat mempengaruhi
pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana
komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat
kabar, majalah, penyuluhan dan lain-lain mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.
3. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), ada enam tingkatan pengetahuan yang
dicakup dalam domain kognitif, yakni :
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya atau rangsangan yang telah diterima. Hal yang termasuk ke
dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu
yang spesifik dari keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima. Tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling
rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi,
menyatakan dan sebagainya.
2) Memahami
Memahami dapat diartikan sebagai suatu kemampuan dalam
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)

5
Aplikasi adalah suatu usaha untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur
organisasi, dan terdapat kaitan satu sama lain. Kemampuan analisis ini
dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan,
membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain, sintesis adalah kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dan formulasi-formulasi yang ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu
materi atau objek. Penilaian ini didasari pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
B. Perilaku
1. Pengertian perilaku
Dalam buku Notoadmojo (2007) menyatakan bahwa perilaku merupakan
semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung,
maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Sedangkan menurut
Skiner, perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus
(rangsangan dari luar). Maka teori Skiner ini disebut teori “S-O-R” atau
Stimulus Organisme Respons. Skiner membedakan adanya dua respons yaitu
Respondent respons atau reflexive dan Operant respons atau Instrumental
respons.

6
2. Bentuk perilaku
a. Perilaku tertutup (covert behavior).
Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau
tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih
terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/ kesadaran, dan sikap
yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut dan belum
dapat diamati dengan jelas oleh orang lain. Oleh sebab itu disebut covert
behavior atau unobservable behavior.
b. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau
dilihat oleh orang lain. Oleh sebab itu disebut overt behavior, tindakan
nyata atau praktik (practice).
3. Prosedur Pembentukan Perilaku
Menurut Notoadmodjo (2007), untuk membentuk jenis respon atau perilaku
perlu diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang disebut operant
conditioning. Prosedur pembentukan perilaku dalam operant conditioning ini
menurut Skiner adalah sebagai berikut :
a. Melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau
reinforcer berupa hadiah-hadiah atau rewards bagi perilaku yang akan
dibentuk.
b. Melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil
yang membentuk perilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen-
komponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju
kepada terbentuknya perilaku yang dimaksud.
c. Menggunakan secara benar turut komponen-komponen itu sebagai
tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-
masing komponen tersebut.
d. Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan
komponen yang telah tersusun. Apabila komponen pertama telah
dilakukan, maka hadiahnya diberikan. Hal ini dapat mengakibatkan
komponen atau perilaku tersebut cenderung akan sering dilakukan. Kalau

7
ini sudah terbentuk maka dilakukan komponen kedua yang kemudian
diberi hadiah (komponen pertama tidak memerlukan hadiah lagi).
Demikian berulang-ulang sampai komponen kedua terbentuk. Setelah itu
dilanjutkan dengan komponen ketiga, keempat, dan selanjutnya sampai
seluruh perilaku yang diharapkan terbentuk.
4. Domain Perilaku
Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau
rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respon
sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang
bersangkutan. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama bagi beberapa
orang, namun respon tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang
membedakan respon terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan
perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang yang
bersangkutan yang bersifat given atau bawaan, misalnya: tingkat
kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan lain-lain.
2. Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan fisik,
sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini
sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku
seseorang (Notoadmojo, 2007).
5. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2007), faktor yang mempengaruhi perilaku manusia
adalah :
a. Faktor personal perilaku
1) Faktor biologis
DNA seseorang menyimpan seluruh memori warisan biologi yang
diterima dari kedua orang tuanya. DNA tidak hanya membawa
warisan fisiologis dari generasi sebelumnya, tetapi juga membawa
warisan perilaku atau kegiatan dari manusia sebelumnya. Struktur
biologis manusia, genetika, sistem syaraf dan sistem hormonal sangat
mempengaruhi perilaku manusia. Beberapa perilaku manusia yang
berasal dari faktor biologis seperti “insting” yang merupakan

8
naluribawaan alami seseorang manusia, selain itu terdapat motif yang
didasari kebutuhan biologis manusia.
2) Faktor sosiopsikologis
Faktor psikologis merupakan faktor yang besar pengaruhnya dalam
perilaku manusia, faktor-faktornya antara lain:
a) Sikap
Sikap adalah konsep yang sangat penting dalam komponen
sosiopsikologis karena berupa kecenderungan manusia dalam
bertindak, dan berpersepsi sebelum memberikan tindakan
kongret.
b) Emosi
Emosi menunjukkan kegoncangan organisme yang disertai oleh
gejala kesadaran, serta proses sosiologis. Ada 4 fungsi emosi.
Pertama, emosi adalah pembangkit energi. Tanpa emosi kita tidak
sadar atau mati. Hidup berarti merasakan, mengalami, dan
bereaksi. Emosi membangkitkan mobilisasi manusia. Marah
mereaksikan kita untuk menyerang, takut menggerakkan kita
untuk berlari. Yang kedua, emosi adalah pembawa informasi,
yaitu bagaimana keadaan diri kita dapat diketahui dari emosi kita,
marah sedih serta senang dapat tergambar dari emosi kita. Ketiga
adalah ungkapan emosi dapat dipahami secara universal, yaitu
dalam retorika misalnya seorang pembicara yang dinamis dan
semangat lebih bisa menghidupkan suasana daripada sang
pembicara yang monoton. Dan yang terakhir, emosi juga
merupakan sumber infomasi tentang keberhasilan.
c) Kepercayaan
Kepercayaan adalah komponen kognitif dari faktor
sosiopsikologis, kepercayaan disini merupakan keyakinan bahwa
sesuatu itu dianggap benar atau salah. Kepercayaan dapat bersifat

9
rasional dan irasional, kepercayaan memberikan dasar bagi
pengambilan keputusan.
d) Kebiasaan
Kebiasaan adalah aspek yang terdiri dari kemauan serta kebiasaan
Kebiasaan aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung
secara otomatis dan tidak direncanakan. Kebiasaan merupakan
hasil pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau
sebagai reaksi khas yang diulangi seseorang berkali kali.
e) Kemauan
Kemauan merupakan hasil keinginan untuk mencapai tindakan
tertentu yang begitu kuat sehingga mendorong untuk
mengorbankan nilai-nilai yang lain.
Berdasarkan pengetahuan tentang tata cara yang diperlukan
untuk mencapai tujuan serta dipengaruhi oleh kecerdasan dan
energi yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan pengeluaran
energi yang sebenarnya untuk mencapai tujuan
b. Faktor Situasional Perilaku Manusia
1) Faktor Ekologis Kaum determinisme lingkungan sering menyatakan
bahwa keadaan alam mempengaruhi gaya hidup dan perilaku. Seperti
lingkungan pantai yang gemuruh oleh ombak berbeda pengaruhnya
dengan lingkungan hutan yang sunyi (factor geografis) dan negeri
dengan empat musim berbeda pengaruhya terhadap penduduk
dengan negeri yang hanya memiliki dua musim.
2) Faktor desain dan arsitektual Dewasa ini telah tumbuh perhatian di
kalangan para arsitek pada pengaruh lingkungan yang dibuat maunis
terhadap perilaku penghuninya. Seperti halnya desain sebuah
kendaraan mobil atau pesawat terbang dapat mempengaruhi perilaku
penumpangnya. Penumpang bus yang didesain mewah cenderung
tertib dibanding penumpang metromini yang pengap sehingga
mempengaruhi ketertiban di dalam bus.
3) Faktor temporal (waktu)
Para peneliti telah banyak mengungkap tentang pengaruh waktu
terhadap bioritma manusia. Misalnya perilaku mahasiswa di dalam

10
kelas pagi hari berbeda dengan di kelas siang hari, berbeda pula
dengan kelas malam hari, sehingga waktu mempengaruhi kualitas
pesan dan penterjemahan pesan dalam komunikasi. Dari tengah
malam sampai pukul empat subuh manusia berada pada tahap yang
paling rendah, tetapi pendenaran sangat tajam, pada pukul 10 bila
anda seorang introvet, konsentrasi dan daya ingat anda mencapai
puncaknya, pada pukul sore orang-orang ekstrovert mencapai
puncaknya dalam kemampuan analisis dan kreatif.
4) Suasana Perilaku
Lingkungan dibagi ke dalam beberapa satuan yang terpisah yang
disebut suasana perilaku. Pada setiap suasana perilaku terhadap pola-
pola hubungan yang mengatur orang-orang di dalamnya. Misalnya di
dalam suatu kampanye di lapangan terbuka, komunikator akan
menyusun dan menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda
daripada ketika berbicara di hadapan sekelompok kecil di ruang rapat
partai.
5) Faktor Teknologi
Perkembangan teknologi, terutama informatika akan berpengaruh
cukup besar pada pola perilaku manusia. Dapat dilihat dari perilaku
remaja yang dapat mengakses informasi secara bebas seperti di kota
dengan remaja di desa yang memiliki keterbatasan akses dalam
infomasi perilaku yang berbeda pula.
6. Perilaku kesehatan
Sesuai batasan perilaku menurut Skiner, maka perilaku kesehatan adalah
respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat,
sakit, penyakit, dan faktor yang mempengaruhi sehat sakit seperti lingkungan
masyarakat, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Baik yang dapat
diamati ataupun yang tidak dapat diamati yang berkaitan dengan
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan ini mencakup

11
mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain,
meningkatkan kesehatan, dan mencari penyembuhan apabila sakit atau
terkena masalah kesehatan. Becker membuat klasifikasi dalam perilaku
kesehatan, yaitu:
a. Perilaku sehat (health behavior)
Perilaku sehat adalah perilaku-perilaku atau kegiatan yang berkaitan
dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan.
b. Perilaku sakit (illness behavior)
Perilaku sakit adalah berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang
yang sakit dan atau terkena masalah kesehatan, untuk mencari
penyembuhan atau mengatasi masalah kesehatan. Pada saat orang sakit
atau orang sekitarnya sakit, maka ada beberapa tindakan atau perilaku
yang muncul, antara lain:
 Didiamkan saja (no action), artinya sakit tersebut diabaikan, tetap
menjalankan kegiatan sehari-hari.
 Mengambil tindakan dengan melakukan pengobatan sendiri (self
treatment atau self medication). Mencari penyembuhan atau
pengobatan ke luar, yakni ke fasilitas pelayanan kesehatan baik
tradisional maupun modern.
c. Perilaku peran orang sakit (the sick role behavior)
Dari segi sosiologi orang yang sakit memiliki peran yang mencakup hak
haknya serta kewajiban sebagai orang sakit. Hak dan kewajiban orang
yang sedang sakit merupakan perilaku peran orang sakit, antara lain:
a) Tindakan untuk mendapat kesembuhan
b) Tindakan untuk mengenal atau mengetahui fasilitas kesehatan yang
tepat
c) Melakukan kewajiban sebagai pasien, antara lain memenuhi nasehat
dokter atau perawat dalam proses penyembuhan.
d) Tidak melakukan sesuatu yang merugikan bagi proses penyembuhan.

12
C. Antasida
Antasida merupakan senyawa basa lemah yang digunakan untuk
menetralk asam lambung dan umumnya merupakan senyawa alumunium dan
atau magnesium yang secara kimiawi mengikat kelebihan HCl di dalam lambung.
Magnesium atau alumunium tidak larut dalam air dan dapat bekerja dalam
waktu lama di dalam lambung sehingga tujuan pengobatan sebagian besar dapat
tercapai. Sediaan yang mengandung magnesium dapat menyebabkan diare
(bersifat pencahar), sedangkan sediaan yang mengandung alumunium dapat
menyebabkan konstipasi (sembelit). Senyawa antasida lainnya adalah natrium
bikarbonat yang larut dalam air dan bekerja dengan cepat. Bikarbonat
menghasilkan CO2 yang dapat menyebabkan sendawa pada pasien.
a) Kegunaan :
Semua obat antasida digunakan untuk mengurangi gejala-gejala yang
ditimbulkan kelebihan asam lambung, tukak lambung, gastritis, tukak
usus dua belas jari, nyeri ulu hati, dan perasaan penuh atau kembung
pada lambung.
b) Mekanisme Kerja :
1. Antasida bekerja menaikkan pH (menurunkan keasaman) isi lambung
(umumnya peningkatan pH diatas 3-4), dengan cara:
 Netralisasi secara kimia, misalnya Na-bikarbonat, dan
 Mengabsorpsi ion H, misalnya Al-hidroksid gel dan zat-zat
koloidal.
2. Antasid menurunkan aktivitas pepsin, bergantung pada pH isi
lambung.
1) pH 1-2 → aktivitas pepsin optimal
2) pH 4-4,5 → aktivitas pepsin mulai menurun
3) pH 7-8 → pepsin inaktif total
a. Peningkatan pH menginduksi pelepasan gastrin → pH yang
sangat tinggi menyebabkan acid rebound.

13
b. Netralisasi asam juga akan meningkatkan tonus sfinkter
esophagus bagian bawah.
c. Antasid (khususnya produk-produk Al) dapat berikatan dengan
asam empedu (Katzung, 2004)
c) Penggunaan antasida yang benar :
1) Antasida dalam bentuk cairan kental (suspensi) kerjanya lebih cepat
dibandingkan bentuk tablet
2) Antasida dalam bentuk tablet dikunyah terlebih dahulu sebelum
ditelan
3) Berjarak 1 jam untuk minum obat yang lain
4) Antasida diminum 1 jam sebelum makan
5) Selama minum antasida sebaiknya banyak minum air putih, tujuannya
meminimalkan gangguan pada fungsi saluran pencernaan.
6) Efek antasida merupakan jumlah efek dari masing-masing obat
7) Spesifikasi obat
8) Efek yang tidak diinginkan dari obat
9) Konsultasikan pada dokter atau Apoteker bagi penderita gangguan
ginjal, tukak lambung,ibu hamil, menyusui dan anak-anak serta lanjut
usia
10) Tidak dianjurkan bagi penderita diet natrium
11) Tidak dianjurkan bagi perderita alergi terhadap alumunium,
kalsium,magnesium, simetikon, natrium bikarbonat dan bismuth
12) Tidak dianjurkan pemakaian lebih dari 2 minggu kecuali atas saran
dokter
13) Hanya digunakan apabila telah diketahui bahwa gejala mual, nyeri
lambung, rasa panas di ulu hati dan dada benar-benar sakit maag
bukan penyakit lain
14) Penggunaan terbaik adalah saat gejala timbul sewaktu lambung
kosong dan menjelang tidur malam

14
15) Antasida mengganggu absorbsi obat-obat tertentu (misal antibiotik),
bila diminum bersama harus diberi waktu 1-2 jam
16) Bila setelah 2-3 hari gejala tetap ada, hendaknya segera menghubungi
dokter.
17) Jangan digunakan lebih dari 4gram sehari, karena dapat
meningkatkan produksi asam lambung/efek yang tidak diinginkan
18) Bila dosis berlebihan dapat menimbulkan sembelit, wasir, perdarahan
anus, feses padat, mual, muntah, kekurangan fosfat dan osteomalasia
(Departemen Kesehatan RI, 2007).
1. Zat berkhasiat antasida:
a) Senyawa Aluminium (aluminium hidroksida)
Senyawa aluminium merupakan suatu zat koloid yang terdiri dari
aluminium hidroksida dan aluminium oksida yang terikat pada molekul
air.Aluminium hidroksida akan melapisi selaput lendir lambung sebagai
lapisan pelindung. Efek yang tidak diinginkan yakni sembelit. Aturan
pemakaian dalam bentuk gel 4 kali 0,5-1 g sehari
b) Kalsium karbonat
Kalsium karbonat adalah antasida yang pertama kali digunakan.Mula
kerjany cepat dan kapasitas penetralan asam lambungnya cukup tinggi
Namun obat ini tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka lama, karena
dapat menimbulkan acid rebound dan meningkatkan kadar gastrin dalam
serum.
Hal yang perlu diperhatikan:
Sebagian kecil obat ini dapat di absorpsi, akan meningkatkan kadar
kalsium dalam darah. Maka sebaiknya jangan diberikan lebih dari 20
gram sehari.Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal jangan lebih
dari 4 gram sehari.
c) Senyawa Magnesium
2. Magnesium oksida

15
Dalam dosis yang sama (1 g), MgO lebih efektif untuk mengikat asam daripada
natrium karbonat, tetapi memiliki sifat pencahar sebagai efek sampingnya (lebih
ringan dari Mg-sulfat). Untuk mengatasi hal ini, maka zat ini diberikan dalam
kombinasi dengan aluminium hidroksida atau kalsium karbonat yang memiliki
sifat sembelit.Magnesium oksida tidak diserap usus sehingga tidak menyebabkan
alkalosis. Dosis: 1-4 dd 0,5-1 g (Tjay & Rahardja, 2008).
3. Magnesium hidroksida
Memiliki daya netralisasi kuat, cepat, dan banyak digunakan dalam sediaan
terhadap gangguan lambung bersama Al-hidroksida, karbonat, simetikon, dan
alginat. Dosis: 1-4 dd 500-750 mg (Tjay & Rahardja, 2008).
4. Magnesium trisilikat
Bekerja lebih lambat dan lebih lama daripada natrium karbonat.Daya
netralisasinya cukup baik, juga berkhasiat adsorbens (menyerap zat-zat lain pada
permukaannya).Obat ini bereaksi dengan asam lambung dan membentuk
silisiumhidroksida yang menutupi tukak lambung dengan suatu lapisan senyawa
pelindung yang berbentuk gel.Efek samping penggunaan kronis dari zat ini dapat
menimbulkan pembentukan batu ginjal. Dosis: 1-4 dd 0,5-2 g (Tjay & Rahardja,
2008). Hal yang perlu diperhatikan adalah Magnesium trisilikat adalah suatu
penyerap yang baik. Penggunaannya bersama obat lain dapat mengganggu
penyerapan obat-obat lain.
5. Hidrotalsit
Mg-Alhidroksikarbonat dengan daya netralisasi pesat tetapi agak lemah: pH tidak
meningkat diatas 5. Zat ini juga bekerja sebagai antipepsin dan dapat mengikat
dan menginaktivasi empedu yang mengalir naik ke dalam lambung akibat
refluks.Setelah kembali di suasana basa dari usus, garam0garam empedu
dibebaskan lagi. Efek sampingnya sering kali berupa pencaharan (Mg), tetapi
adakalanya juga obstipasi (Al). Dosis: 2 dd 2 tablet dari 0,5 g dikunyah halus 1
jam p.c dan 2 tablet a.n. Juga dalam bentuk suspense (Tjay & Rahardja, 2008).
D. Penggunaan Obat Rasional
1. Pengertian

16
Seperti yang dikutip dalam modul penggunaan obat rasional yang diterbitkan
oleh Kemenkes RI tahun 2011 menurut World Health Organization (WHO)
tahun 1985, penggunaan obat rasional bila :
a. Pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya
b. Periode waktu yang adekuat
c. Harga yang terjangkau
2. Batasan penggunaan obat rasional
Kriteria penggunaan obat rasional adalah :
1) Tepat diagnosis
Obat diberikan sesuai dengan diagnosis. Apabila diagnosis tidak
ditegakkan dengan benar maka pemilihan obat akan salah.
2) Tepat indikasi penyakit
Obat yang diberikan harus yang tepat bagi suatu penyakit
3) Tepat pemilihan obat
Obat yang dipilih harus memiliki efek terapi sesuai dengan penyakit
4) Tepat dosis
Dosis, jumlah, cara, waktu dan lama pemberian obat harus tepat. Apabila
salah satu dari empat hal tersebut tidak dipenuhi menyebabkan efek
terapi tidak tercapai.
5) Tepat jumlah
Jumlah obat yang diberikan harus dalam jumlah yang cukup
6) Tepat cara pemberian
7) Cara pemberian obat yang tepat adalah obat antasida seharusnya
dikunyah dulu baru ditelan. Demikian pula antibiotik tidak boleh
dicampur dengan susu karena akan membentuk ikatan sehingga menjadi
tidak dapat diabsorpsi sehingga menurunkan efektifitasnya.

8) Tepat interval waktu pemberian

17
9) Cara pemberian obat hendaknya dibuat sederhana mungkin dan praktis
agar nudah ditaati oleh pasien. Makin sering frekuensi pemberian obat
per hari (misalnya 4 kali sehari) semakin rendah tingkat ketaatan minum
obat. Obat yang harus diminum 3 x sehari harus diartikan bahwa obat
tersebut diminum dengan interval setiap 8 jam.
10) Tepat lama pemberian
11) Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masing-masing.
Untuk Tuberkulosis lama pemberian paling singkat adalah 6 bulan,
sedangkan untuk kusta paling singkat 6 bulan. Lama pemberian
kloramfenikol pada demam tifoid adalah 10-14 hari.
12) Tepat penilaian kondisi pasien
Penggunaan obat disesuaikan dengan kondisi pasien, antara lain harus
memperhatikan: kontraindikasi obat, komplikasi, kehamilan, menyusui,
lanjut usia atau bayi.
13) Waspada terhadap efek samping
Obat dapat menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak dinginkan yang
timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi, seperti timbulnya mual,
muntah, gatal-gatal, dan lain sebagainya.
14) Efektif, aman, mutu terjamin, tersedia setiap saat, dan harga
terjangkau untuk mencapai kriteria ini obat dibeli melalui jalur resmi.
15) Tepat tindak lanjut (follow up)
Apabila pengobatan sendiri telah dilakukan, bila sakit berlanjut
konsultasikan ke dokter.
16) Tepat penyerahan obat (dispensing)
Penggunaan obat rasional melibatkan penyerah obat dan pasien sendiri
sebagai konsusmen. Resep yang dibawa ke apotek atau tempat
penyerahan obat di puskesmas akan dipersiapkan obatnya dan
diserahkan kepada pasien dengan informasi yang tepat.

18
17) Pasien patuh terhadap perintah pengobatan yang diberika Ketidak
patuhan minum obat terjadi pada keadaan berikut :
18) Jenis sediaan obat beragam
19) Jumlah obat terlalu banyak
20) Frekuensi pemberian obat per hari terlalu sering
21) Pemberian obat dalam jangka panjang tanpa informasi
22) Pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai cara
menggunakan obat
23) Timbulnya efek samping (Kemenkes, 2011).
E. Puskesmas
1. Pengertian Puskesmas
Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) adalah fasilitas pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan
upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Permenkes, 2014).
2. Pelayanan Kesehatan Puskesmas
Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas merupakan pelayanan
kesehatan yang menyeluruh yang meliputi pelayanan kuratif (pengobatan),
preventif (upaya pencegahan), promotif (peningkatan kesehatan) dan
rehabilitative (pemulihan kesehatan), pelayanan tersebut ditujukan kepada
semua penduduk, dengan tidak membedakan jenis kelamin dan golongan
umur, sejak pembuahan dalam kandungan sampai tutup usia (Kepmenkes,
2004).
3. Tujuan Puskesmas
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan
untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki perilaku sehat yang meliputi
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat, mampu menjangkau
pelayanan kesehatan bermutu, hidup dalam lingkungan sehat, dan memiliki

19
derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat
(Permenkes, 2014).
4. Fungsi Puskesmas
Berikut ini adalah fungsi-fungsi pokok puskesmas :
 Pusat pengerak pembangunan berwawasan kesehatan
 Pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan
kesehatan
 Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama.
5. Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas
a. Paradigma sehat
Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk
berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko kesehatan
yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
b. Pertanggungjawaban wilayah
Puskesmas menggerakkan dan bertanggungjawab terhadap
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
c. Kemandirian masyarakat
Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat.
d. Pemerataan
Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang dapat diakses
dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya secara adil
tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya dan
kepercayaan.
e. Teknologi tepat guna
Puskesmas menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan
memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan

20
pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak buruk bagi
lingkungan.
f. Keterpaduan dan kesinambungan
Puskesmas mengintegrasikan dan mengoordinasikan penyelanggaraan
UKM dan UKP lintas program dan lintas sektor serta melaksanakan sistem
rujukan yang didukung dengan manajemen puskesmas (Permenkes,
2014).
6. Peran Puskesmas
Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) juga mempunyai peran sebagai
lembaga kesehatan yang menjangkau masyarakat diwilayah terkecil dalam
hal ini
7. Fasilitas Penunjang
Dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan secara menyeluruh,
maka puskesmas memberikan fasilitas-fasilitas penunjang sebagai berikut:
1) Puskesmas Pembantu
Puskesmas pembantu yaitu unit pelayanan kesehatan yang sederhana
dan berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-
kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang
lebih kecil.
2) Puskesmas Keliling
Puskesmas keliling yaitu unit pelayanan kesehatan keliling yang
dilengkapi dengan kendaraan bermotor dan peralatan kesehatan,
peralatan komunikasi serta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas
dengan fungsi dan tugas yaitu memberi pelayanan kesehatan daerah
terpencil, melakukan penyidikan, KLB, transport rujukan pasien,
penyuluhan kesehatan dengan audiovisual.
3) Bidan desa
Bagi desa yang belum ada fasilitas pelayanan kesehatan ditempatkan
seorang bidan yang bertempat tinggal di desa tersebut dan

21
bertanggungjawab kepada kepala puskesmas. Wilayah kerjanya dengan
jumlah penduduk 3.000 orang. Adapun tugas utama bidan desa yaitu:
 Membina PSM
 Memberikan pelayanan
 Menerima rujukan dari masyarakat (Kepmenkes, 2004).
8. Tugas Puskesmas
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas (UPTD) kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatu wilayah. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan
strata
pertama menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat pertama
secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan, yang meliputi
pelayanan kesehatan perorang (private goods) dan pelayanan kesehatan
masyarakat (public goods).
Puskesmas melakukan kegiatan-kegiatan termasuk upaya kesehatan
masyarakat sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan. Puskesmas
adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang berlangsung memberikan
pelayanan secara menyeluruh kepada mayarakat dalam bentuk usaha-usaha
kesehatan pokok. Jenis pelayanan kesehatan disesuaikan dengan
kemampuan puskesmas, namun terdapat upaya kesehatan wajib yang harus
dilaksanakan oleh puskesmas ditambah dengan upaya kesehatan
pengembangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada serta
kemampuan puskesmas.
Upaya-upaya pokok tersebut adalah:
 Upaya promosi kesehatan
 Upaya kesehatan lingkungan
 Upaya kesehatan ibu dan anak, serta keluarga berencana
 Upaya kesehatan gizi masyarakat
 Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

22
 Upaya pengobatan (Kepmenkes, 2004).
9. Program Pokok Puskesmas
Program pokok puskesmas dilaksanakan sesuai dengan kemampuan tenaga
maupun fasilitasnya karena program pokok di setiap puskesmas dapat
berbeda- beda. Namun demikian, program pokok puskesmas yang lazim dan
seharusnya dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1) Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA)
2) Keluarga berencana (KB)
3) Usaha peningkatan gizi
4) Kesehatan lingkungan
5) Pemberantasan penyakit menular
6) Upaya pengobatan termasuk pelayanan darurat kecelakaan
7) Penyuluhan kesehatan masyarakat
8) Usaha kesehatan sekolah (UKS)
9) Kesehatan olahraga
10) Perawatan kesehatan masyarakat
11) Usaha kesehatan kerja
12) Usaha kesehatan gigi dan mulut
13) Usaha kesehatan jiwa
14) Kesehatan mata
15) Laboratorium
16) Pencatatan dan pelaporan sistem informasi kesehatan
17) Kesehatan usia lanjut
18) Pembinaan pengobatan tradisional

Pelaksanaan program pokok puskesmas diarahkan kepada keluarga


sebagai masyarakat terkecil. Karenanya, program pokok puskesmas ditujukan untuk
kepentingan kesehatan keluarga sebagai bagian-bagian dari masyarakat di wilayah
kerjanya. Setiap program pokok puskesmas dilaksanakan dengan Pendekatan
Kesehatan Masyarakat Daerah (PKMD) (Kepmenkes, 2004).

23
F. Kerangka teori

G. Hipotesis
Ho : Tidak ada Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Penggunaan
Antasida Tablet Pada Pasien Di Puskesmas Kalidoni Palembang.
Hi : Ada Hubungan TingkatPengetahuan danPerilaku Penggunaan
Antasida Tablet Pada Pasien Di Puskesmas Kalidoni Palembang.

24
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

25
Jenis penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan pendekatan
cross sectional (satu waktu). Penelitian survei analitik adalah survei atau
penelitian yang mencoba menggal bagaimana dan mengapa fenomena
kesehatan itu terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara
fenomena atau antara faktor risiko (faktor yang mempengaruhi) dengan faktor
efek (faktor yang dipengaruhi). Pendekatan cross sectional adalah suatu
penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko
dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data
sekaligus pada suatu saat (point time approach) (Notoadmojo, 2010)
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Mei 2017. Penelitian dilaksanakan
di Puskesmas Kalidoni Palembang.
C. Populasi dan Sampel
a) Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menggunakan obat
antasida tablet di Puskesmas Kalidoni yaitu sebesar 55 orang.
b) Sampel
Menurut Arikunto (2006), jika populasi kurang dari 100 maka untuk
dijadikan sampel diambil seluruhnya. Namun, jika populasi lebih besar dari
100 maka dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih. Sehingga, sampel
yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 55 orang. Dalam penelitian ini,
penulis akan mengambil sampel menggunakan Accidental Sampling.
c) Kriteria inklusi :
 Pengguna Antasida tablet (pasien gastritis dan pasien pengguna
obat-obatan yang dapat mengiritasi lambung terutama pada jangka
panjang)
 Bersedia mengisi kuisioner
D. Cara Pengumpulan Data
Adapun tahap yang dilakukan peneliti dalam pengumpulan data yaitu sebagai
berikut :
a. Membuat kuisioner penelitian
b. Peneliti datang ke puskesmas, mengambil responden yang kebetulan
ada dipuskesmas tersebut yang sesuai dengan kriteria responden.
c. Peneliti menanyakan kesediaan responden untuk mengisi kuisioner

26
d. Peneliti membagikan kuisioner dan berinteraksi langsung dengan
responden
e. Mengumpulkan kuisioner yang telah dijawab oleh responden dan
melakukan penelitian terhadap jawaban
f. Melakukan pengolahan data
E. Alat Pengumpulan Data
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini adalah
berupa kuisioner, alat tulis, dan kamera.
F. Variabel Penelitian
1. Variabel Independent : Pengetahuan
2. Variabel Dependent : Perilaku Penggunaan Antasida Tablet.
G. Definisi Operasional
1. Pengetahuan
a. Definisi : Pengetahuan pasien terhadap penggunaan antasida tablet
mengenai obat yang digunakan, cara menggunakan obat, waktu
pemakaian obat, efek samping obat dan penyimpanan obat.
b. Alat Ukur : kuisioner
c. Cara Ukur :self assesment dengan membandingkan jumlah jawaban
yang benar dengan total jumlah pertanyaan yang diajukan dikali 100.
d. Hasil Ukur :
1) Tinggi : Tingkat Pengetahuan dengan kategori tinggi jika nilainya ≥
70
2) Rendah : Tingkat pengetahuan dengan kategori rendah baik jika
nilainya < 70. (Modifikasi Budiman dan Riyanto, 2013)
2. Perilaku pengobata
a. Definisi : Tindakan-tindakan yang dilakukan pasien saat
mengkonsumsi obat antasida tablet, yang meliputi cara
meminum obat, waktu pengunaan, penanggulangan efek
samping, dan penyimpanan obat.
b. Alat Ukur : Kuisioner
c. Cara Ukur :self assesment dengan membandingkan jumlah
jawaban yang benar dengan total jumlah pertanyaan yang
diajukan dikali 100.
d. Hasil Ukur :
 aik : Perilaku dengan kategori baik jika nilainya ≥ 70
 Kurang Baik : Perilaku dengan kategori kurang baik jika
nilainya < 70. (Modifikasi Budiman dan Riyanto, 2013)

27
H. Kerangka Oprasional

I. Cara pengolahan dan analisa data


1. Pengolahan data
Data diolah dengan cara:
a. Penyuntingan (editing)
Dalam tahap ini dilakukan pemeriksaan antara lain kesesuaian jawaban
dan kelengkapan pengisian. Dalam proses penyuntingan tidak dilakukan
penggantian atau penafsiran jawaban.
b. Pengkodean (coding)
Kegiatan merubah data dan bentuk huruf menjadi bentuk angka atau
bilangan atau memberi kode untuk setiap jawaban.
Jawaban benar = 1
Jawaban salah = 0
c. Entry
Kegiatan memasukkan data kembali ke dalam komputer dengan
menggunakan program SPSS.
d. Cleaning
Pengecekan kembali data yang sudah lengkap, jelas, relevan, dan
konsisten, sehingga dapat diproses lebih lanjut.
2. Analisis Data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel, adapun cara
menentukan kategori pada variabel pengetahuan dan perilaku
penggunaan sebagai berikut:
a. Kuesioner yang telah diisi oleh responden kemudian dikumpulkan. Dan
diperiksa hasil jawaban kuisioner yang telah dijawab responden
dengan cara memberi nilai 1 untuk jawaban yang benar, dan nilai 0
untuk jawaban yang salah.
b. Apabila telah selesai diperiksa, data yang didapat dari kuisioner
dihitung persentase jawaban perkategori, kategori pengetahuan yaitu:
Tinggi = nilai ≥ 70

28
Rendah = nilai < 70
Kategori perilaku yaitu :
Baik = nilai ≥ 70
Kurang baik = nilai < 70

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis dengan
menggunakan SPSS versi 22.0 for windows dengan uji statistik yaitu crosstab chi-
square. Setelah selesai peneliti akan mengecek ada tidaknya hubungan antara
pengetahuan dan perilaku penggunaan antasida tablet.

Cara menguji hipotesis :

Ho : ditolak → sig < 0,05

Ho : diterima → sig > 0,05

Bila Ho ditolak, hal ini berarti ada hubungan antara pengetahuan dan perilaku
penggunaan antasida tablet.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

29
A. Hasil
Penelitian dilakukan pada tanggal 22 Maret hingga 28 Maret 2017 meliputi
pengambilan data pengguna antasida tablet di Puskesmas Kalidoni Palembang
seperti nama, umur, jenis kelamin, dan pendidikan terakhir. Data-data pasien ini
diambil langsung pada saat pasien sedang berkunjung atau berobat ke
Puskesmas Kalidoni Palembang. Sampel yang diambil adalah pasien yang berobat
atau berkunjung ke Puskesmas Kalidoni Palembang pada bulan maret 2017 dan
merupakan pasien lama atau pasien kontrol ulang. Kemudian didapatkan pasien
sebagai sampel berjumlah 55 orang pasien.

1. Karakteristik Responden

Tabel 1. Karakteristik Usia Responden

No Karakteristi Usia Frekuensi Persentase

1 < 25 tahun 7 12,7

2 26 - 35 18 32,7
3 36 – 45 20 36,4
4 46 – 55 4 7,3
5 56 - 65 4 7,3
6 >65 2 3,6
  Total 55 100
(Depkes 2009)

Dari tabel 1 diatas, diketahui bahwa yang paling banyak adalah responden
yang berusia 36 – 45 tahun yaitu sebanyak 20 responden (36,4%).

Tabel 2. Karakteristik Pendidikan Responden

No Pendidikan terakhir Frekuensi Persentase

30
1 Tidak Sekolah 0 0

2 SD 9 16,4
3 SMP 8 14,5
4 SMA 36 65,5
5 Perguruan Tinggi 2 3,6
  Total 55 100

Dari tabel 2 diketahui bahwa yang paling banyak adalah responden yang
pendidikan terakhirnya SMA yaitu sebanyak 36 responden (65,5%).
Tabel 3. Karakteristik Jenis Kelamin Responden
No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase
1 Laki-laki 11 20
2 Perempuan 44 80
  Total 55 100

Dari tabel 3 diketahui bahwa responden laki-laki sebanyak 11 orang (20%) dan
responden perempuan sebanyak 44 orang (80%).
2. Pengetahuan Responden Mengenai Penggunaan Antasida Tablet
Pengetahuan pengguna antasida tablet yang menjadi responden ditinjau dari
beberapa komponen pengetahuan yaitu obat yang digunakan, cara
menggunakan obat, waktu pemakaian obat, efek samping obat dan
penyimpanan obat.
Tabel 4. Persentase Komponen Pengetahuan Pengguna Antasida Tablet di
Puskesmas Kalidoni Palembang
Komponen Pengetahuan Frekuensi Persentase
Obat yang digunakan
Benar 54 98,2
Salah 1 1,8
Golongan Obat 54
Benar 1 98,2
Salah 1,8
Cara Penggunaan Obat
Benar 33 60
Salah 22 40
Waktu mengonsumsi obat
Benar 45 8,2
Salah 10 1,8

31
Waktu terbaik mengonsumsi obat
Benar 46 83,6
Salah 10 16,4
Alasan diberi jarak waktu
Benar 33 60
Salah 22 40
Lama jarak waktu mengonsumsi obat dengan
obat lain
Benar 48 87,3
Salah 7 12,7
Efek samping obat
Benar 56 98,2
Salah 1 1,8
Penyimpanan Obat
Benar 54 80
Salah 11 29
Lama Penyimpanan obat
Benar 26 47,3
Salah 29 52,7

Berdasarkan tabel 4, dapat dilihat bahwa dari 10 komponen pengetahuan


yang paling banyak dijawab dengan benar oleh responden mengenai
pengetahuan obat, golongan obat, dan efek samping obat. Sedangkan yang
paling banyak dijawab salah oleh responden yaitu pengetahuan mengenai lama
penyimpana obat.

Untuk mengetahui frekuensi responden yang pengetahuannya baik dan


kurang baik dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pengguna Antasida Tablet di


Puskesmas Kalidoni Palembang
NO Pengetahuan pengguna Frekuensi Persentase
Antasida tablet
1 Tinggi 45 81,8
2 Rendah 10 18,2
55 100

32
Berdasarkan tabel 5, diperoleh sebanyak 81,8% responden yang memiliki
pengetahuan tinggi, sebanyak 18,2% responden yang memiliki pengetahuan
rendah.

3. Perilaku Responden Tentang Penggunaan Antasida Tablet di Puskesmas


Kalidoni Palembang

Perilaku responden dalam penggunaan antasida tablet pada penelitian ini


meliputi cara meminum obat, waktu pengunaan, penanggulangan efek samping,
dan penyimpanan obat. Perilaku responden ditinjau dari beberapa komponen
diatas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 6. Perilaku Responden Mengenai Pengunaan Antasida Tablet di Puskesmas Kalidoni


Palembang

Komponen prilaku Frekuensi Persentase


Cara Penggunaan Obat
Benar 33 60
22 40
Salah
Waktu mengonsumsi obat
Benar 45 82
10 18
Salah
Yang dilakukan bila lupa konsumsi obat
Benar 54 98,2
Salah 1 11,8
Yang dilakukan bila gejala maag berkurang
Benar 53 96,4
2 3,6
Salah
Cara menanggulagi efek samping
Benar 51 93
Salah 4 7
Penyimpanan obat
Benar 45 82
Salah 10 18

Berdasarkan tabel 6, diketahui bahwa perilaku responden mengenai cara


yang dilakukan apabila lupa mengonsumsi antasida tablet secara umum sudah
baik. Dapat dilihat dari hasil pertanyaan untuk beberapa komponen perilaku
penggunaan seperti cara yang dilakukan apabila lupa mengonsumsi antasida
tablet didapatkan jumlah yaitu sebanyak 98,2 % yang berperilaku baik. Namun

33
pada cara penggunaan obat antasida, perilaku responden secara umum masih
kurang baik. Dapat dilihat dari tabel 6, bahwa didapatkan sebanyak 33
responden (60%) yang perilakunya kurang tepat mengenai cara penggunaan
obat antasida.

Untuk mengetahui frekuensi responden yang perilakunya baik dan kurang baik
dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Perilaku Pengguna Antasida Tablet di Puskesmas


Kalidoni Palembang
No Prilaku pengguna Antasida Tablet Frekuensi Persentase
1 Baik 44 80
2 Kurang Baik 11 20
Total 55 100

Berdasarkan tabel 7, dari 55 responden diperoleh sebanyak 44 responden


(80%) yang memiliki perilaku baik dan sebanyak 11 responden (20%) yang
memiliki perilaku kurang baik.

4. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Pasien terhadap Penggunaan


Antasida Tablet di Puskesmas Kalidoni Palembang

Tabel 8. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Pasien Pengguna Antasida Tablet di Puskesmas
Kalidoni Palembang

Prilaku Responden Odd


P-
Pengetahuan Baik Kurang Baik Total Ratio 95% CL
value
Responden (OR)
n % n % N %
Tinggi 41 93,2 3 27,3 44 80 6,204-
0,000 36,444
214,078

Berdasarkan tabel 8, jumlah responden yang paling banyak adalah


responden dengan pengetahuan tinggi dan perilaku baik yaitu sebanyak 41
responden. Dari hasil uji statistik exact fisher test didapatkan P-value = 0,000 ,
dimana hal ini berarti nilai P-value lebih kecil dari 0,05, sehingga Ho ditolak maka
dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan dan perilaku
penggunaan antasida tablet pada pasien di Puskesmas Kalidoni Palembang.

B. Pembahasan

34
Penelitian dilakukan di Puskesmas Kalidoni Palembang dengan jumlahresponden
55 orang. Hasil survey terhadap karakteristik responden, pengetahuan
responden mengenai penggunaan antasida, perilaku responden mengenai
penggunaan antasida, serta hubungan pengetahuan dengan perilaku
penggunaan antasida.
1. Karakteristik Responden
Pada tabel 1 diperoleh karakteristik usia responden yaitu responden yang
berumur kurang dari 25 tahun berjumlah 7 orang (12,7%), responden yang
berumur 26-35 tahun berjumlah 18 orang (32,7%), responden yang berumur 36-
45 tahun berjumlah 20 orang (36,4%), responden yang berumur 46-55 tahun
berjumlah 4 orang (7,3%), responden yang berumur 56-65 tahun berjumlah 4
orang (7,3%), responden yang berjumlah lebih dari 65 tahun berjumlah 2 orang
(3,6%). Usia 36-45 tahun ini termasuk kategori usia tua. Usia tua memiliki resiko
yang lebih tinggi untuk menderita gastritis dibandingkan usia muda. Hal ini
menunjukkan bahwa seiring dengan bertambahnya usia mukosa gaster
cenderung menjadi tipis sehingga lebih cenderung memiliki infeksi Helicopter
Pylory atau gangguan autoimun daripada orang yang lebih muda (Nuari, 2015).
Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa responden yang berpendidikan terakhir
SD berjumlah 9 orang (16,4%), responden yang berpendidikan terakhir SMP
berjumlah 8 orang (14,5%), responden yang berpendidikan terakhir SMA
berjumlah 36 orang (65,5%), responden yang berpendidikan terakhir Perguruan
Tinggi berjumlah 2 orang (3,6%). Pada tabel 3 jumlah responden yang berjenis
kelamin laki-laki sebanyak 11 orang (20%), dan perempuan sebanyak 44 orang
(80%). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa
jumlah penderita gastritis antara pria dan wanita, gastritis lebih banyak diderita
pada wanita (Riyanto, 2008).
2. Pengetahuan Responden Mengenai Penggunaan Antasida Tablet
Berdasarkan hasil kuisioner pengetahuan pasien mengenai cara
penggunaan obat antasida. Dari 55 responden terdapat 45 orang (81,8%) yang
mempunyai pengetahuan tinggi, Dan terdapat 10 orang (18,2%) yang
mempunyai pengetahuan rendah. Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan terakhir
responden. Menurut Notoatmodjo (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi
tingginya tingkat pengetahuan responden ialah faktor pendidikannya, semakin
tinggi pendidikan maka semakin mudah seseorang menerima pengetahuan.

3. Perilaku Responden Mengenai Penggunaan Antasida Tablet


Berdasarkan hasil kuisioner perilaku responden dalam menggunakan
antasida tablet sudah baik hal ini dilihat dari tabel 7. Pada tabel 7 terdapat 44

35
responden (80%) dan sebanyak 11 responden (20%) yang memiliki perilaku
kurang baik. Perilaku responden mengenai antasda tablet dipengaruhi oleh
beberapa faktor-faktor perilaku seseorang yaitu pengetahuan dan teknologi.
Dalam hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003), bahwa pengetahuan
merupakan salah satu dari komponen domain perilaku. Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang atau yang disebut juga perilaku terbuka (overt behavior). Dimana
pengetahuan tersebut juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Proses
pengubahan sikap dan tata cara seseorang atau kelompok dan juga usaha
mendewasakan seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan baik
disekolah ataupun diluar sekolah. Adapun upaya diluar sekolah tersebut dalam
ini dapat berupa informasi yang didapat dari tenaga kesehatan tentang cara
penggunaan obat yang benar.
4. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Penggunaan Antasida Tablet
Analisa bivariate bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variable
independent (Pengetahuan) terhadap variabel dependent (Perilaku penggunaan
antasida). Hasil analisis dilakukan dengan tabulasi silang dengan uji Fisher karena
pada uji Chi Square yang dilakukan sebelumnya terdapat nilai harapan dari sel
pada tabel ada yang kurang dari 5 yaitu 2,2. Oleh karena itu peneliti
menggunakan uji statistic exact fishertest dengan tingkat kepercayaan 95%
diperoleh dari nilai p-value = 0,000 <α= 0,05 dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa Ho ditolak sehingga ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan dan perilaku terhadap penggunaan antasida tablet, yang artinya
semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang antasida tablet, maka semakin
baik pula perilaku dalam penggunaan antasida tablet. Hal ini dapat dilihat dari
hasil Odd ratio yang didapatkan dari uji Fisher dimana tingkat pengetahuan dan
perilaku pasien dalam penggunaan antasida tablet berpengaruh sebesar 36,444
kali. Dari hasil uji crosstabs nilai spearman yang diperoleh yaitu 0,659, artinya
terdapat hubungan yang kuat antara pengetahuan dan perilaku penggunaan
antasida tablet. Hal ini sesuai dengan penelitian Sherly (2016) bahwa
pengetahuan pada pasien berhubungan dengan perilaku pasien dalam
menggunakan obat yang baik dan benar. Obat antasida tablet yang seharusnya
dikunyah terlebih dahulu sebelum ditelan, antasida paling baik dikonsumsi pada
saat perut kosong (menjelang tidur, 2 jam sebelum atau sesudah makan.
Pemakaian obat antasida tablet tidak hanya digunakan secara jangka
pendek(temporer)untuk mengobati maag atau gastritis yang dapat
menyebabkan efek samping seperti mual, muntah, sembelit diare. Tetapi juga
digunakan secara jangka panjang seperti mengkonsumsi obat hipertensi, anti

36
inflamasi non steroid (NSAID) yang dapat mengiritasi dinding lambung sehingga
perut terasa perih, oleh sebab itu pemakaian obatnya harus disertai dengan
antasida tablet agar tidak terjadi iritasi lambung. Pemakaian antasida tablet
dalam jangka panjang ini dapat meningkatkan produksi asam lambung atau
menyebabkan efek yang tidak diinginkan. Sehingga tidak dianjurkan pemakaian
lebih dari 2 minggu kecuali atas saran dokter.
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menyadari masih banyak
kekurangan dan keterbatasan dalam penelitian, yaitu penelitian ini
menggunakan rancangan cross sectional, dimana pengukuran variabel
dependent dan independent diukur secara bersamaan. Pada penelitian ini
menggunakan kuisioner terdapat responden yang tidak mengerti mengenai
pertanyaan kuisioner yang telah disediakan oleh peneliti sehingga responden
mendapatkan intervensi berupa penjelasan dari peneliti yang mengakibatkan
hasil penelitian ini menjadi bias.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

37
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti, didapatkan
beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Pengetahuan pasien terhadap penggunaan antasida tablet di Puskesmas
Kalidoni Palembang secara umum tinggi dengan nilai persentase yaitu
sebanyak 81,8%.
2. Perilaku pasien terhadap penggunaan antasida tablet di Puskesmas Kalidoni
Palembang secara umum baik dengan nilai persentase yaitu sebanyak 80%.
3. Terdapat hubungan pengetahuan dan perilaku terhadap penggunaan
antasida tablet di Puskesmas Kalidoni Palembang, yang artinya semakin
tinggi pengetahuan penggunaan antasida maka akan semakin baik pula
perilaku penggunaan antasida tablet.
B. Saran
1. Dari penelitian ini masih ada masyarakat yang dalam penggunaan antasida
tablet kurang tepat, maka dari itu perlu dilakukan penyuluhan ataupun
edukasi untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat
mengenai penggunaan antasida tablet yang tepat.
2. 2. Bagi penelitian selanjutnya yang ingin melakukan penelitian yang
berkaitan dengan antasida tablet diharapkandapat mengamati perilaku
penggunaan obat antasida dalam jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA

38
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta.

Jakarta, Indonesia. hal.134

Budiman, Riyanto, A. 2013. Kapita Selekta Kuisioner Pengetahuan dan Sikap Dalam
Penelitian Kesehatan. Salemba Medika. Jakarta, Indonesia. hal.11

Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Penggunan Obat Bebas Dan Bebas Terbatas.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Jakarta, Indonesia

Departemen Kesehatan RI. 2008. Modul Penggunaan Obat Rasional. Direktorat Bina
Penggunaan Obat Rasional.Jakarta, Indonesia.

Gustin, R.K., 2011. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gastritis pada
pasien yang berobat jalan di Puskesmas Gulai Bancah Kota Bukit tinggi Tahun 2011.
Artikel Penelitian. Bukit tinggi, Indonesia. (repository.unand.ac.id/17045/1/17-JURNAL
PENELITIAN.pdf diakses pada tanggal 16 Januari 2017)

Hamid, R., Noorrizka, G., Wijaya, N., Yuda, A. 2014. Profil Penggunaan Obat Antasida
Yang Diperoleh Secara Swamedikasi (studi Pada Pasien Apotik XSurabaya). Jurnal
Farmasi Komunitas Volume 1 No.2

Katzung, B.G., 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. PT. EGC. Jakarta, Indonesia. hal. 78-
97.

39
LAMPIRAN 1. Hasil Jawaban Responden
N Nama Pertanyaan pengetahuan T Pertanyaan prilaku T
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6
o
1 Andrian 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 6
2 Andi 1 1 1 1 1 0 0 1 0 0 6 1 1 1 1 1 0 5
3 Tito 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 1 1 1 1 1 1 6
4 Arman 1 1 1 0 0 0 1 1 1 2 6 1 0 1 1 0 1 4
5 Darwin 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 6 0 1 1 1 1 0 4
6 Darwani 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 6 0 1 1 1 1 0 4
7 Devia 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 1 1 1 1 1 1 6
8 Murnia 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 8 0 1 1 1 1 1 5
9 Dendi 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 7 1 0 1 1 1 1 5
10 Komala 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 8 1 1 1 1 1 1 6
11 Agusman 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
12 Msy.Asiah 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 8 1 1 1 0 1 1 5
13 Sonia 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 7 1 1 1 1 1 1 6
14 Antoni 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 1 1 1 1 1 1 6
15 Desy 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 8 1 1 1 1 1 1 5
16 Yulianti 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 1 1 1 1 1 1 6
17 Tartati 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 8 1 1 1 1 1 1 6
18 Effendi 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 5 0 0 1 1 1 1 4
19 Kartini 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 7 1 0 1 1 1 1 5
20 Ayuna 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 6 0 0 1 1 1 1 4
21 Nadia 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 6 0 1 1 1 1 1 5
22 Lisna ayu 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
23 Iswanto 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
24 Firdaus 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
25 Wilna 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 0 1 1 1 1 1 5
26 Yamani 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 8 1 1 1 1 1 1 6
27 Septiani 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 7 0 0 1 1 1 1 4
28 Ansyori 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 8 0 1 1 1 1 1 5
29 Susila 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 0 1 1 1 1 1 5
30 Imron 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
31 Maryono 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 0 1 1 0 1 1 4
32 Ningsih 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 7 1 1 1 1 1 0 5
33 Ayu 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 8 0 1 1 1 1 1 5
34 Dila 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 7 0 1 1 1 1 1 5
35 Rahmi 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 8 0 1 1 1 1 1 5
36 Jaria 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 8 0 1 1 1 0 1 4
37 Yunita 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 1 1 1 1 1 1 6
38 Idawati 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 8 1 1 1 1 1 1 6
39 Astuti 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 1 1 1 1 1 0 5
40 Rohayati 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 5 0 0 1 1 1 1 4
41 Farida 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 8 1 1 1 1 1 1 6
42 Salma 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 8 0 1 1 1 1 1 5
43 Sri suharti 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 7 0 1 1 1 1 1 5
44 Ramli 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 0 1 1 1 1 1 5
45 Wani 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 7 0 1 1 1 1 1 5
46 Windari 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 8 0 1 1 1 1 1 5

40
47 Linda 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
48 Partiwi 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
49 Reni 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
50 Yulina 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1 6
51 Saria 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 7 1 1 1 1 1 0 5
52 Sumina 1 1 0 0 0 1 1 1 0 1 6 0 0 1 1 1 0 3
53 Yunita 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 8 0 1 1 1 1 1 5
54 Sapran 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 8 0 1 1 1 1 1 5
55 Rohimah 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 4 0 0 1 0 0 0 1
Total Benar 54 54 33 45 36 33 48 54 44 26 33 45 54 53 51 45
Total Salah 11 22 10 9 22 71 11 29 22 29 22 10 1 2 4 10

Keterangan :
T = Total

LAMPIRAN 2. Hasil Kuisioner tentang pengetahuan responden


Total
Pendidikan
No Nama pertanyaan Kategori
terakhir
penetahuan
1 Andrian SMA 90 Tinggi
2 Andi SMA 60 Rendah
3 Tito SMA 90 Tinggi
4 Arman SMA 60 Rendah
5 Darwin SMP 60 Rendah
6 Darwani SD 60 Rendah
7 Devia SMA 90 Tinggi
8 Murnia SMA 80 Tinggi
9 Dendi SMA 70 Tinggi
10 Komala SMA 80 Tinggi
11 Agusman SMA 100 Tinggi
12 Msy.Asiah SMA 80 Tinggi
13 Sonia SMA 70 Tinggi
14 Antoni SMA 90 Tinggi
15 Desy SMA 80 Tinggi
16 Yulianti SMA 90 Tinggi
17 Tartati SMA 80 Tinggi
18 Effendi SMA 50 Rendah
19 Kartini SMA 70 Tinggi
20 Ayuna SMA 60 Rendah
21 Nadia SD 60 Rendah
22 Lisna ayu SMA 100 Tinggi
23 Iswanto SMA 100 Tinggi

41
24 Firdaus SMA 100 Tinggi
25 Wilna SMA 70 Tinggi
26 Yamani SMA 80 Tinggi
27 Septiani SMP 70 Tinggi
28 Ansyori SMA 80 Tinggi
29 Susila SMA 90 Tinggi
30 Imron SD 100 Tinggi
31 Maryono SMA 100 Tinggi
32 Ningsih SD 70 Tinggi
33 Ayu SMA 80 Tinggi
34 Dila SMA 70 Tinggi
35 Rahmi SMA 80 Tinggi
36 Jaria SMP 90 Tinggi
37 Yunita SD 80 Tinggi
38 Idawati SMA 90 Tinggi
39 Astuti SD 90 Tinggi
40 Rohayati SD 50 Rendah
41 Farida SMP 90 Tinggi
42 Salma SMA 80 Tinggi
43 Sri suharti SMA 70 Tinggi
44 Ramli SMA 100 Tinggi
45 Wani SMP 70 Tinggi
46 Windari SMA 80 Tinggi
47 Linda SMA 100 Tinggi
48 Partiwi P.T 100 Tinggi
49 Reni SMA 100 Tinggi
50 Yulina SMA 100 Tinggi
51 Saria SMP 70 Tinggi
52 Sumina SD 60 Rendah
53 Yunita P.T 80 Tinggi
54 Sapran SMP 80 Tinggi
55 Rohimah SD 40 Rendah

42