Anda di halaman 1dari 8

Makalah Hukum Bisnis

Asuransi

Disusun Oleh

Dinda Zanubaloka

Putri Lestari (C1C018166)

Erma Masruroh

HUKUM BISNIS

KELAS D

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BENGKULU

TAHUN AJARAN 2019 / SEMESTER 3


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah
ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas
bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Bengkulu, 10 November 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i


DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1. A. Latar belakang ................................................................................................... 1
1. B. Rumusan masalah .............................................................................................. 1
1. C. Tujuan penulisan ............................................................................................... 1
1. D.Manfaat .............................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAAN ...................................................................................... 5
2. A. Pengertian dari asuransi ..................................................................................... 5
2. B. Pengaturan asuransi ........................................................................................... 6
2. C. Prinsip – Prinsip dalam Asuransi atau Pertanggungan ..................................... 6
2. D. Bentuk dan Isi Asuransi atau Pertanggungan .................................................... 6
2. E. Resiko dalam Asuransi atau Pertanggungan .................................................... 7
BAB III PENUTUP .................................................................................................
3. A. Kesimplan .........................................................................................................
3. B. Saran ..................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKAAN .........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN

1. A. LATAR BELAKANG

Resiko dimasa datang dapat terjadi terhadap kehidupan sesorang misalnya kematian, sakit atau
resiko dipecat dari pekerjaannya. Dalam dunia bisnis resiko yang dihadapi dapat berupa resiko
kerugian akibat kebakaran, kerusakan atau kehilangan atau resiko lainnya. Oleh karena itu setiap
resiko yang akan dihadapi harus ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih
besar lagi.

Untuk mengurasngi resiko yang tidak diinginkan dimasa yang akan datnag, seperti resiko
kehilangan, resiko kebakaran, resiko macetnya pinjaman kredit bank atau resiko laiinnya, maka
diprlukan perusahaan yang mau menanggung rediko tersebut. Adalah perusahaan asuransi yang
mau menanggung resiko yang bakal dihadapi nasabahnya baik perorangan maupun badan usaha.
Hal ini disebabkan perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang melakukan usaha
pertanggung jawaban terhadap resiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya.

1. B. RUMUSAN MASALAH

1.Apa Pengertian dari asuransi?

2.Pengaturan asuransi?

3.Apa Saja Prinsip – Prinsip dalam Asuransi atau Pertanggungan ?

4.Apa Saja Bentuk dan Isi Asuransi atau Pertanggungan?

5.Bagaimana Bentuk dan Isi Perjanjian Asuransi atau Pertanggungan ?


6.Apa Resiko dalam Asuransi atau Pertanggungan?

1. C. TUJUAN

1.Mengetahui Pengertian dari asuransi

2..Mengetahui Pengaturan asuransi

3. Mengetahui Prinsip – Prinsip dalam Asuransi atau Pertanggungan

4. Mengetahui Bentuk dan Isi Asuransi atau Pertanggungan

5. Mengetahui Bentuk dan Isi Perjanjian Asuransi atau Pertanggungan


6. Mengetahui Resiko dalam Asuransi atau Pertanggungan

1. D. MANFAAT

Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada para pembaca berupa :
Pengetahuan mengenai seluk beluk asuransi.
BAB II : ISI

2. A . Pengertian Asuransi

Pengertian asuransi jika dilihat dari asal katanya, yakni dari Bahasa Inggris insurance, maka
pengertian asuransi adalah pertanggungan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian
asuransi adalah pertanggungan atau perjanjian antara dua pihak. Pihak pertama berkewajiban
untuk membayar iuran, sementara pihak kedua berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya
kepada pembayar iuran apabila terjadi sesuatu yang menimpa diri atau barang milik pihak
pertama sesuai dengan perjanjian yang dibuat.

Berdasarkan pengertian asuransi tersebut, terdapat banyak hal yang dapat diasuransikan. Mulai
dari benda dan jasa, kesehatan manusia, tanggung jawab hukum, jiwa, serta kepentingan-
kepentingan lainnya yang dapat hilang, rusak, rugi, atau berkurang nilainya.

Pengertian asuransi menurut Undang-Undang No.2 Tahun 1992 pun tidak jauh berbeda. Menurut
undang-undang ini, pengertian asuransi dijabarkan lebih pada sisi pengertian asuransi sebagai
sebuah bentuk badan usaha. Pengertian asuransi menurut Undang-Undang No.2 Tahun 1992
tentang usaha perasuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak
penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk
memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan
keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pihak ke tiga yang mungkin akan
diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu
pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Menurut pengertian asuransi ini, pihak yang menyalurkan premi disebut sebagai tertanggung,
sementara pihak yang menerima premi disebut penanggung. Menurut pengertian asuransi, premi
adalah biaya yang dibayar oleh tertanggung kepada penanggung untuk resiko yang ditanggung.
Perjanjian kedua pihak ini, masih menurut pengertian asuransi, disebut kebijakan. Kebijakan
dalam pengertian asuransi dipahami sebagai sebuah kontrak legal yang menjelaskan setiap istilah
dan kondisi yang dilindungi.

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) pun memiliki pengertian asuransi tersendiri.
Menurut pasal 246 KUHD, pengertian asuransi adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang
penanggung mengikatkan diri pada tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk
memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan
keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak
tertentu.

Dasar dan Unsur Asuransi

Dasar dari suatu perjanjian asuransi adalah mengelakkan suatu resiko dengan
menyerahkannya/membebankanya kepada orang lain. Unsur-unsur yuridis dari suatu asuransi
adalah:
1. Adanya pihak tertanggung (pihak yang kepentingannya diasuransikan)
2. Adanya pihak penanggung (pihak perusahaan asuransi yang menjamin akan membayar ganti
rugi)
3. Adanya perjanjian asuransi (antara penanggung dan tertanggung)
4. Adanya pembayaran premi (oleh tertanggung kepada penanggung)
5. Adanya kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan (yang diderita oleh tertanggung).
6. Adanya suatu peristiwa yang tidak pasti terjadinya

2. B . Pengaturan

Asuransi atau pertanggungan di Indonesia daiatur dalam KUH Dagang dan undang – undang
NO.2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian yang berlaku efektif mulai tanggal 11 februari
1992

2.C . Prinsip – Prinsip Dalam Asuransi dan Penanggungan

Menurut KUH Dagang yang merupakan prinsip dasar asuransi atau pertanggungan adalah
sebagaiberikut:

1. Prinsip Kepentingan yang Dapat Diasuransi (Insurable Interest)


Prinsip Kepentingan yang bisa diasuransikan atau dipertanggungkan ini terkandung dalam
ketentuan Pasal 250 KUHD yang pada intinya menentukan bahwa agar suatu perjanjian dapat
dilaksanakan, maka objek yang asuransikan haruslah merupakan suatu kepentingan yang dapat
diasuransikan (insurable interest), yakni kepentingan yang dapat dinilai dengan uang. Dengan
perkataan lain, menurut asas ini seseorang boleh mengasuransikan barang-barang apabila yang
bersangkutan mempunyai kepentingan atas barang yang dipertanggungkan.

2. Prinsip keterbukaaan (Utmost Good Faith)


Prinsip keterbukaan (utmost good faith) ini terkandung dalam ketentuan Pasal 251 KUHD yang
pada intinya menyatakan bahwa penutupan asuransi baru sah apabila penutupannya didasari
itikad baik.
3. Prinsip Indemnitas (Indemnity)
Prinsip Indemnitas terkandung dalam ketentuan Pasal 252 dan Pasal 253 KUHd. Menurut prinsip
indemnitas bahwa yang menjadi dasar penggantian kerugian dari penanggung kepada
tertanggung adalah sebesar kerugian yang sesungguhnya diderita oleh tertanggung adalah
sebesar kerugian yang sesungguhnya diderita oleh tertanggung dalam arti tidak dibenarkan
mencari keuntungan dari ganti rugi asuransi. Dengan kata lain, inti dari prinsip idemnitas adalah
seimbang, yakni seimbang antara kerugian yang betul-betul diderita oleh tertanggung dengan
jumlah ganti kerugiannya. Sehubungan dengan hal tersebut, prinsip ganti kerugian hanya berlaku
bagi asuransi yang kepentingannya dapat dinilai dengan uang, yakitu asuransi kerugian.
Dalam KUHD diperkenankan terjadinya asuransi berganda, sepanjang asuransi dilakukan dalam
itikad baik. Tetapi mengenai itikad baik ini tidak dijelaskan lebih lanjut dalam KUHD.
4. Prinsip Subrogasi
Subrogasi adalah penggantian kedudukan tertanggung oleh penanggung yang telah membayar
ganti kerugian, dalam melaksanakan hak-hak tertanggung kepada pihak ketiga yang mungkin
menyebabkan terjadinya kerugian. Prinsip subrogasi ini terkandung dalam ketentuan pasal 284
KUHD yang pada intinya menentukan bahwa apabila tertanggung sudah mendapatkan
penggantian atas dasar prinsip lain, walaupun jelas ada pihak lain yang bertanggung jawab pula
atas kerugian yang dideritanya. Penggantian dari pihak lain harus diserahkan pada penanggung
yang telah memberikan ganti rugi yang dimaksud.
Akan tetapi ada kemungkinan terjadi kerugian yang diderita oleh tertanggung tidak diganti
sepenuhnya oleh penanggung. Apabila pasal 284 KUHD dilaksanakan secara ketat maka
menimbulkan ketidakadilan bagi tertanggung sebab kehilangan haknya untuk menuntut ganti
kerugian kepada pihak ketiga. Untuk menyelesaikan masalah itu, maka menurut Emmy
Simanjuntak sebaiknya diterapkan subrogasi terbatas.

2.D. Bentuk dan Isi Perjanjian Asuransi Atau Pertanggungan

Asuransi atau pertanggungan merupakan perjanjian timbal balik, dalam arti suatu perjanjian,
dalam mana kedua belah pihak masing-masing mempunyai kewajiban yang senilai, dimana
pihak bertanggung jawab mempunyai kewajiban untuk membayar premi, yang jumlah ditentukan
oleh penanggung, sedangkan pihak penanggung memiliki kewajiban untuk mengganti kerugian
yang diderita tertanggung.

Menurut ketentuan pasal 255 KUHD ditentukan bahwa semua asuransi atau pertanggungan harus
dibentuk secara tertulis dengan suatu fakta yang dinamakan polis. Polis asuransi merupakan isi
dari perjanjian asuransi. Dalam pasal 256 KUHD ditentukan bahwa isi polis untuk asuransi atau
pertanggungan pada umumnya kecuali asuransi jiwa harus memuat:

1. Hari pembentukan asuransi


2. Nama pihal yang selaku tertanggung menyetujui terbentuknya asuransi, yaitu atas
tanggungannya sendiri atau atas tanggungan orang lain.
3. Penyebutan yang cukup terang dari hal atau objek yang dijamin.
4. Jumlah uang, untuk mana diadakan jaminan (uang asuransi)
5. Bahaya-bahaya yang ditanggung oleh si penanggung.
6. Mulai dan akhir tenggang waktu dimana diadakan jaminan oleh penanggung.
7. Uang Premi yang harus dibayar oleh tertanggung
8. Pada umumnya semua hal-hal yang perlu diketahui oleh pihak penanggung, serta semua janji-
janji tertentu yang diadakan antara kedua belah pihak.

Pasal 258 KUHD menyatakan untuk membuktikan hal ditutupnya perjanjian tersebut, diperlukan
pembutiktian dengan tulisan, namun demikian bolehlah isia-isian alat pembuktian digunakan
juga, bila sudah ada permulaan pembuktian dengan tulisan. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa polis bukan merupakan hal yang mutlah dalam suatu asuransi, tetapi hanya merupakan
alat pembuktian adanya asuransi tersebut.
2.E. Resiko Dalam Asuransi Atau Pertanggungan