Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PENGANTAR BIOTEKNOLOGI

“DNA SEBAGAI MATERI GENETIK”

Oleh kelompok 4 :
Pebrian Dwi Rachmanto 175080101111001
Dila Muna Firdaus 175080101111005
Citra Anjani Hardiyanti 1750801100111019

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
tentang struktur DNA sebagai materi genetk ini sesuai dengan batas waktu yang
telah ditentukan. Penulisan makalah ini adalah salah satu tugas dan upaya untuk
mencapai standar nilai mata kuliah Pengantar Bioteknologi di Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata
kuliah pengantar bioteknologi, rekan-rekan semua di kelas M01 program studi
Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya, Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu,
yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini.
Mungkin dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan
yang tidak saya sadari. Untuk itu, penulis memohon maaf atas segala kekurangan
yang ada dan mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak
sebagai penyempurnaan untuk kedepannya.
Demikian makalah ini kami susun, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi
para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca makalah ini.

Malang, Maret 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... 2


DAFTAR ISI ...................................................................................................................... 3
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................... 5
1.3 Tujuan ............................................................................................................................. 5
BAB 2 PEMBAHASAN ....................................................................................................... 6
2.1 DNA ................................................................................................................................. 6
2.1.1 Pengertian DNA ....................................................................................................... 6
2.1.2 Struktur DNA ............................................................................................................ 7
2.1.3 Pembuktian DNA sebagai Materi Genetik ............................................................... 9
2.2 Transkripsi ..................................................................................................................... 10
2.2.1 Pengertian Transkripsi ........................................................................................... 10
2.2.2 Proses transkripsi ................................................................................................... 11
2.2.3 Produk Transkripsi ................................................................................................. 12
2.3 Perbedaan Transkripsi prokariota dan eukariota ......................................................... 13
2.3.1 Transkripsi dalam Prokariota ................................................................................. 13
2.3.2 Transkripsi pada Eukariota ..................................................................................... 13
2.3.3 Perbedaan Transkripsi Pada Prokariot Dan Transkripsi Pada Eukariot .................. 14
2.3 Replikasi ........................................................................................................................ 15
2.3.1 Pengertian Replikasi ............................................................................................... 15
2.3.2 Tahapan Replikasi .................................................................................................. 16
2.3.3 Macam-macam Replikasi ....................................................................................... 17
BAB 3 PENUTUP ............................................................................................................ 18
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................... 18
3.2 Saran ............................................................................................................................. 18
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Para ahli pada tahun 1930-an telah melakukan studi dan mempelajari
susunan kimia gen melalui pendekatan biofisik dan biokimia. Hal ini yang
kemudian berkembang melahirkan cabang ilmu baru yang disebut Biologi
Molekular (Henuhili, 2000) Biologi molekuler merupakan ilmu pengetahuan
merupakan multi disiplin ilmu dari biokimia, biologisel, dan genetika yang
mempelajari aktivitas biologi pada level molekular, termasuk interaksi antara
perbedaan tipe DNA, RNA, protein, dan biosintesisnya (Wahyudi, 2011).
Istilah biologi molekular pertama kali diperkenalkan oleh William Astbury
pada tahun 1945. Biologi molekular pada saat ini diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari fungsi dan organisasi jasad hidup (organisme) ditinjau dari struktur
dan regulasi molekular unsur atau komponen penyusunnya.
Biologi molekular atau biologi molekul merupakan salah satu cabang biologi
yang merujuk kepada pengkajian mengenai kehidupan pada skala molekul. Hal
ini menyangkut tentang interaksi molekul dalam benda hidup dan kesannya,
terutama tentang interaksi berbagai sistem dalam sel, termasuk interaksi DNA,
RNA, dan sintesis protein, dan bagaimana interaksi tersebut diatur. Bidang ini
juga berhubungan dengan bidang biologi (dan kimia) lainnya, terutama genetika
dan biokimia.
Perkembangan ilmu dan pengetahuan dalam biologi molekuler, khususnya
pada pengkajian karakter bahan genetik telah menghasilkan kemajuan yang
sangat pesat bagi perkembangan penelaahan suatu organisme dan
pemanfaatannya bagi kesejahteraan manusia (Suryanto, 2003). Keterkaitan
antara Genetika dan Biologi Molekular ini memunculkan istilah Genetika
Molekular, yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk gen (Henuhili, 2000).
Area penting dalam genetika molekuler adalah penggunaan informasi molekuler
untuk menentukan pola penurunan atau hereditas, dan juga dalam
pengklassifikasian (molecular systematics) melalui penggunaan metode-metode
genetika dan biologi molekuler (Sutarno, 2012).
Para ahli menyadari bahwa pola dari hereditas bisa dijelaskan dari segregasi
yang dicapai kromosom pada meiosis. Hal ini bisa menjawab pertanyaan yang
muncul dari ahli biologi selama lebih dari 50 tahun (Johnson, G dan Raven,
2002) Berdasarkan uraian di atas, maka makalah ini disusun untuk memahami
pembuktian DNA sebagai materi genetic

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud DNA?
2. Apa yang dimaksud proses transkripsi?
3. Apakah terdapat perbedaan transkripsi prokariota dengan eukariota?
4. Apa yang dimaksud dengan replikasi

1.3 Tujuan
1. Mengetahui tentang DNA
2. Memahami proses transkripsi
3. Mengetahui perbedaan transkripsi prokriota dan eukariota
4. Memahami proses replikasi
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 DNA

2.1.1 Pengertian DNA


DNA pertama kali ditemukan oleh F. Miescher (1869) dari sel spermatozoa
dan sel eritrosit burung, selanjutnya dinamakan sebagai nuklein. Penemuan lain
dilakukan oleh Fischer (1880), yaitu tentang adanya zat pirimidin (yang berupa
Sitosin dan Timin) dan dua purin (Adenin dan guanin). Setelah penemuan tersebut,
dilengkapi pula dengan penemuan Levine (1910) tentang gula 5 karbon ribosa, gula
deoksiribosa, dan asam fosfat dalam inti. Keberadaan DNA tersebut sebagian besar
di dalam nukleus (inti sel). Tetapi ada juga yang terdapat pada mitokondria.
DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) merupakan asam nukleat dengan gula
deoxyribosa, disebut sebagai materi genetik yang menyusun pembawa sifat
(kromosom) pada makhluk hidup, membentuk untaian double helix yang membawa
sifat-sifat tertentu. Dalam sintesis protein, DNA berperan untuk menentukan struktur
seluruh molekul protein, terutama enzim.
DNA merupakan suatu senyawa kimia yang penting pada makhluk hidup.
Tugas utamanya membawa materi genetik dari suatu generasi ke generasi
berikutnya. DNA juga merupakan senyawa polinukleotida yang membawa sifat-sifat
keturunan yang khas pada kromosom.
Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi
genetik. Artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku
umum bagi setiap organisme. Di antara perkecualian yang menonjol adalah
beberapa jenis virus (dan virus tidak termasuk organisme) seperti HIV (Human
Immunodeficiency Virus).
DNA adalah sebuah molekul raksasa yang tersembunyi di dalam inti setiap sel
hidup. Semua ciri fisik makhluk hidup dikodekan dalam molekulberbentuk rantai
heliks ini. Semua informasi tentang tubuh kita, dari warna mata hingga struktur
organ- organ dalam, juga bentuk serta fungsi sel-sel kita, terkodekan dalam bagian
yang disebut gen dalam DNA.
Kode DNA tersusun atas urutan empat basa yang berbeda. Jika kita anggap
setiap basa ini sebagai satu huruf, maka DNA dapat disamakan dengan sebuah
bank data yang tersusun atas abjad berang- gotakan empat huruf. Semua informasi
tentang makhluk hidup tersimpan dalam bank data ini. Jika kita meletakkan satu sel
bakteri dalam lingkungan yang sesuai, dalam beberapa jam kita akan mengetahui
bahwa ia telah menghasilkan ratusan salinan bakteri yang sama. Setiap sel hidup
memiliki kemampuan untuk “menggandakan dirinya sendiri.”

2.1.2 Struktur DNA


Molekul DNA memiliki susunan kimia yang sangat kompleks dan rantai
nukleotida yang panjang. DNA merupakan rangkaian nukleotida dan setiap
nukleotida tersusun dari substansi dasar seperti berikut.
1. Senyawa Fosfat Senyawa fosfat berfungsi untuk mengikat molekul gula satu
dengan gula yang lain.
2. Gula Pentosa (deoksiribosa) Gula pentosa membentuk rangkaian gula fosfat yang
merupakan tulang punggung atau kekuatan dari struktur double helix DNA.
3. Basa nitrogen Basa nitrogen ini terikat pada setiap molekul gula. Basa nitrogen
dibedakan menjadi dua.
a) Basa Purin Basa purin dengan struktur cincin gkamu yaitu Adenin (A) dan Guanin
(G)
b) Basa pirimidin Basa pirimidin dengan struktur cincin tunggal yaitu Timin (T) dan
Sitosin (S)
Struktur DNA ditemukan oleh dua ilmuwan bernama Francis Crick dan
James Watson. Meskipun seorang evolusionis, Crick mengatakan bahwa DNA tidak
mungkin pernah muncul secera kebetulan.
Pada tahun 1953 Watson dan Crick mengemukakan model fisis dan
kemis struktur DNA yang didasarkan pada 3 data sbb.:
a. Molekul DNA tersusun atas tiga komponen utama yakni, basa nitrogen, gula
ribosa, dan fosfat yang terangkaidalam suatu rantai polinukleotida. Sebuah
nukleotida selalu memiliki ujung 3’ – OH dan 5’P, sehingga dalam “double helix”
menurut model Watson-Crick terdapat satu buah pita dengan arah 3’→ 5’,
sedangkan pita pasangannya 5’→ 3’. Watson dan Crick berpendapat bahwa
struktur DNA “double helix” hanya dapat stabil, apabila basa adenin dari satu pita
berpasangan dengan basa timin dari pita pasangannya, dan basa sitosin
berpasangan dengan basa guanin. Pasangan adenin dan timin dihubungkan
oleh 2 atom H, sedangkan basa sitosin dan guanin dihubungkan dengan 3 atom
H.
b. Dan percobaan Chargaff yang melakukan hidrolisis DNA diketahui bahwa
perbandingan basa purin dan pirimidin dari DNA sebesar 50% : 50%. Lebih
jauh lagi dikemukakan bahwa jumlah adenin sebanding dengan timin, guanine
sebanding dengan sitosin. Ekuivalensi ini kemudian dikenal dengan hokum
Chargaff. Secara sederhana hukum Chargaff yang berlaku untuk berbagai
jenisorganisme dinyatakan sbb: rasio A/T=1, rasio G/S =1, tetapi rasio
(A+T)/(G+S) yang biasa dikenal dengan istilah persentase GS (%GS) bervariasi
antar organisme. Oleh karena persentase basa purin = basa pirimidin, maka
(A+G)/(S+T) =1.
c. Dari percobaan Rosalind Franklin dan Maurice H.F. Wilkins yang melakukan
teknik penyinaran sinar-X dari bahan serat DNA diketahui bahwa difraksi
molekul merupakan fungsi bobot dan susunan jarak molekul. Dari percobaan ini
diketahui bahwa DNA memiliki strukturdouble-helix (pita ganda berpilin) dengan dua
tipe pilinan berulang masing-masing berukuran 0,34 nm dan 34 nm. (1 nm = 10-9 m
=10 Angstrom). Menurut Yuwono (2005) DNA terdiri atas tipe A, B, dan Z. Molekul
DNA tipe B mempunyai lekukan besar dan lekukan kecil. Dibandingkan dengan tipe
A, lekukan besar pada tipe B lebih mudah mengikat protein tertentu karena lekukan
besar pada tipe A lebih dalam. Bentuk A lebih menyerupai konfromasi bagian untai-
ganda molekul RNA (misalnya pada tRNA). Molekul hibrid DNA-RNA juga
cenderung mempunyai bentuk tipe A. DNA tipe Z adalah satu-satunya DNA yang
untaiannya mempunyai orientasi putar-kiri (left-handed). Molekul DNA tipe semacam
ini mempunyai kerangka gula-fosfat yang berbentuk zigzag sehingga disebut Z. DNA
Z hanya mempunyai satu lekukan yang mempunyai kepekatan muatan negatif lebih
besar dibandingkan dengan yang ada pada lekukan- lekukan DNA tipe B.
Dari materi yang sudah disampaikan dapat diketahui bahwa DNA merupakan
struktur yang sangat kompleks yang tersusun dari polinukleotida. Fungsi atau
peranan DNA ini sebenarnya tidak sekadar sebagai pembawa materi genetik,
melainkan juga menjalankan fungsi yang sangat kompleks pula, antara lain:
1. Sebagai pembawa materi genetika dari generasi ke generasi berikutnya.
2. Mengontrol aktivitas hidup secara langsung maupun tidak langsung.
3. Melakukan sintesis protein.
4. Sebagai autokatalis, yaitu kemampuan DNA untuk menggkamukan diri (replikasi).
5. Sebagai heterokatalis, yaitu kemampuan DNA untuk dapat mensintesis senyawa
lain.

2.1.3 Pembuktian DNA sebagai Materi Genetik


Kromosom terdapat di dalam gen. Komponen kimiawi kromosom, DNA dan
protein, perlu pembuktian yang mana yang merupakan materi genetik. Seorang ahli
kesehatan dari Inggris, Frederick Griffith, mempelajari penyebab penyakit
pneumonia pada mamalia, yaitu bakteri Streptococcus pneumoniae. Ia mempunyai 2
strain bakteri, yaitu yang dapat menyebabkan penyakit dan lainnya tidak. Bakteri
penyebab penyakit mempunyai ciri spesifik, yaitu adanya kapsul yang menyelubungi
seluruh sel. Selubung kapsul menyebabkan permukaan bakteri tersebut halus
(smooth), bakteri yang memiliki selubung ini disebut juga bakteri tipe S (singkatan
dari smooth). Bakteri yang tidak berbahaya, mempunyai permukaan sel yang kasar,
karena tidak diselubungi oleh kapsul. Bakteri ini disebut bakteri tipe R (singkatan dari
rough).
Percobaan Griffith memberikan penjelasan awal tentang adanya sesuatu
yang dapat berpindah dan menyebabkan terjadinya perubahan pada sel tersebut.
Pada percobaan ini Griffith belum mengetahui substansi yang menyebabkan
perubahan yang diwariskan. Fenomena ini disebut transformasi, yaitu perubahan
genotip dan fenotip yang disebabkan oleh asimilasi DNA eksternal.
Percobaan ini dimana terjadi transformasi pada bakteri membuktikan bahwa
DNA merupakan materi genetik. Dalam hal ini ditemukan bahwa DNA merupakan
materi genetik pada bakteri (Lewin, 2004).
Bukti lain bahwa DNA merupakan materi genetik dibuktikan dari bakteriofag.
Komponen virus terdiri dari DNA (atau RNA pada virus tertentu) dan protein yang
menyelubunginya. Untuk memperbanyak diri, virus harus menginfeksi sel dan
mengambil alih perangkat metabolisme sel tersebut. Bakteriofag artinya pemakan
bakteri. Materi genetik dari bakteriofag yang dikenal sebagai T2 itu adalah DNA.
Alfred Hershey dan Martha Chase menyebutkan T2 merupakan salah satu dari faga
yang menginfeksi bakteri Escherichia coli (E. coli) yang hidup di usus mamalia.
Seperti virus lainnya T2, terdiri dari DNA dan protein. Melalui E.coli, T2 bisa
memperbanyak diri, sehingga disebutkan bahwa E.coli sebagai pabrik penghasil T2
yang dilepas ketika sel itu pecah. T2 dapat memprogram sel inang (E.coli) untuk
memproduksi virus, tetapi belum diketahui bagian mana dari virus tersebut yang
berperan program tersebut, protein atau DNA. Hershey dan Chase melakukan
percobaan untuk membuktikan bagian mana dari dua komponen penyusun T2 yang
masuk ke dalam sel bakteri. Dalam percobaan ini mereka menggunakan isotop radio
aktif yang berbeda untuk menandai DNA dan protein. Pada bakteri yang terinfeksi
faga T2 yang DNA-nya ditandai dengan fosfor radioaktif, hasil peletnya yang
merupakan materi bakteri, sebagian besar mengandung unsur radioaktif tersebut.
Ketika bakteri tersebut dikembalikan ke dalam kultur, infeksi terus berjalan, dan
melepaskan faga-faga yang mengandung fosfor radioaktif. Hershey dan Chase
menyimpulkan bahwa DNA virus masuk ke dalam sel inang, sementara sebagian
besar protein tetap berada di luar. Masuknya molekul DNA ini menyebabkan sel-sel
memproduksi DNA dan protein virus baru. Peristiwa ini membuktikan bahwa asam
nukleat merupakan materi genetik.
Pada umumnya organisme memiliki DNA sebagai materi genetiknya, tetapi
sebagian virus yang menginfeksi bakteri memiliki RNA sebagai pembawa informasi
genetik. TMV (Tobacco Mosaic Virus) adalah virus penyebab penyakit pada
tanaman tembakau yang memiliki RNA, bukan DNA, sebagai materi genetiknya. A
Gierer dan G. Schramm pada tahun 1956 melakukan percobaan menginokulasi RNA
murni dari TMV pada tanaman tembakau. Percobaan ini dilanjutkan oleh H.
Fraenkel-Conrat dan B. Singer pada tahun 1957. Mereka memisahkan RNA dan
protein dari strain TMV yang berbeda. RNA dan protein tersebut kemudian di
rekonstruksi dengan pasangan yang RNA dan protein dari strain yang berlainan.
Kedua hasil hibrida virus ini kemudian diinfeksikan pada daun tanaman tembakau.
Isolasi virus dari daun yang terinfeksi menunjukkan bahwa gejala penyakit yang
disebabkan hibrida virus tersebut sangat spesifik dengan RNA dari strain TMVnya,
bukan proteinnya. Dari percobaan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pada TMV,
RNA adalah materi genetik.

2.2 Transkripsi
2.2.1 Pengertian Transkripsi
Transkripsi adalah proses di mana sel membuat protein yang disebut sintesis
protein. Ini sebenarnya terdiri dari dua proses: transkripsi dan translasi. Transkripsi
terjadi pada nukleus. Menggunakan DNA sebagai template untuk membuat molekul
RNA. RNA kemudian meninggalkan inti dan pergi ke ribosom dalam sitoplasma, di
mana proses translasi terjadi. Didalam transkripsi terdapat bagian-bagian gen, yaitu
upstream, transcribed, dan downstream yang memiliki fungsi masing-masing.
(Perumus: Mawaqit Makani/10613052) (Provider : Putri Kusuma
Wardani/10613259).

1. Upstream yaitu awal terjadinya transkripsi (stimulus dimulainya proses


transkripsi). Pada proses ini enzimRNApolimerase (RNAP) akan mengkatalisis
polimerase ribonukleotida menjadi rangkaianRNAyang bersifat komplementer
terhadap untai cetakan gen. Enzim ini akan berikatan dengan promoter pada
untai cetakan, kemudian akan diikuti oleh proses inisiasi sintesisRNApada titik
mula,elongasi rantaiRNA, hingga tercapai rangkaian terminasi.
2. Transcribed yaitu proses dimana terjadi kompleks RNAP pada transkripsi.
Dengan adanya ATP+XTP akan terbentuk inisiasi rantai RNA yang kemudian
terjadi pelepasan faktor sigma yang selajutnya akan terbentuk elongasi rantai
RNA.
3. Downstream adalah proses terjadinya terminasi dan pelepasan rantai. Saat
rantai RNA telah lengkap maka RNAP akan dilepas dari cetakan.

2.2.2 Proses transkripsi


Proses transkripsi dapat dibagi ke dalam beberapa tahapan: (1) Tahapan
pengakuan cetakan (template recognition), (2) Tahapan pengawalan (initiation), (3)
Tahapan pemanjangan (elongation), dan (4) Tahapan pengakhiran (termination).

a. Tahapan pengakuan cetakan, RNA polimerase membentuk kompleks dengan


rantai ganda DNA, ikatan hidrogen dilelehkan, dan menciptakan gelembung
transkripsi. Daerah yang dibutuhkan oleh RNA polimerase membentuk kompleks
dengan rantai ganda DNA disebut promotor.

b. Tahapan pengawalan mendeskripsikan pembentukan ikatan nukleotida pertama


dalam RNA. Enzim RNA polimerase tetap berada di daerah promotor sambil
mensintesis ~9 nukleotida pertama. Namun demikian, pembentukan nukleotida
pendek ini terkadang mengalami keguguran (abortion), yaitu: enzim mensintesis
transkrip kurang dari 9 basa, melepaskannya kembali, dan memulai kembali
mensintesis RNA baru. Tahapan pengawalan berakhir apabila enzim mampu
mensintesis rantai RNA baru melewati batas panjang ini.

c. Tahapan pemanjangan adalah selang selama enzim bergerak sepanjang DNA


cetakan dan memperpanjang rantai RNA. Sambil ia bergerak, ia membuka rantai
ganda DNA dan menyingkapkan sandi rantai tunggal DNA dengan nukleotida-
nukleotida yang datang menyerang ujung 3′ dari rantai RNA yang sedang
mengalami pemanjangan, membentuk molekul hibrida RNA-DNA di daerah yang
dibuka gulungannya. Persis dibelakang gulungan DNA yang terbuka ini, rantai
tunggal DNA berpasangan kembali membentuk rantai ganda dengan pasangan
aslinya. RNA kemudian muncul sebagai rantai tunggal yang bebas, yang ujung
pemanjangannya masih terkait dengan kompleks DNA-RNA-enzim.

d.Tahapan pengakhiran melibatkan pengakuan titik dimana tidak ada lagi basa
yang ditambahkan ke dalam rantai. Untuk mengakhiri transkripsi, pembentukan
ikatan fosfodiester harus dihentikan, dan kompleks transkripsi harus dibubarkan.
Sewaktu nukleotida terakhir ditambahkan akan diikuti oleh runtuhnya gelembung
transkripsi, dan dilepaskannya hibrida RNA-DNA. DNA kembali ke keadaan rantai
ganda, RNA dan enzim dibebaskan. Urutan basa nukleotida dalam DNA yang
digunakan agar terjadinya pengakhiran transkripsi disebut terminator. (Perumus:
BestoroQoyyuman/10613251) (Provider: Dewi Shinta Mandela/09613024).

2.2.3 Produk Transkripsi


mRNA (messenger RNA) : salinan kode genetik pada DNA’ yang pada
proses translasi akan diterjemahkan menjadi urutan asam amino yang menyusun
suatu polipeptida atau protein tertentu. tRNA (transfer RNA) : berperanan membawa
asam amino spesifik yang akan digabung pada proses translasi (sintesis protein).
rRNA (ribosomal RNA) : digunakan untuk menyusun ribosom sebagai tempat
sintesis protein .
2.3 Perbedaan Transkripsi prokariota dan eukariota

2.3.1 Transkripsi dalam Prokariota

Transkripsi pada bakteri juga dikenal sebagai transkripsi prokariotik, itu


adalah proses di mana messenger RNA mentranskrip materi genetik pada
prokariota.

1. Inisiasi – Dalam prokariota, proses transkripsi dimulai dengan pengikatan RNA


polimerase ke DNA promotor. RNA polimerase mengikat promotor spesifik
dalam DNA prokariotik. DNA ini dibuka dan dikenal sebagai kompleks terbuka.
RNA polimerase mentranskripsi DNA dan menghasilkan transkrip yang tidak
dapat meninggalkan enzim sampai p-faktor memisahkan dari enzim inti.
2. Elongasi – promotor berbeda dalam kekuatan dan ini adalah bagaimana mereka
mendorong transkripsi urutan DNA mereka yang berdekatan. Enzim RNA
polimerase menambahkan nukleotida ke ujung 3′ dan membangun rantai
polinukleotida dan ini melibatkan pengembangan hamparan DNA yang beruntai
tunggal.

3. Terminasi – Pada prokariota, pemutusan dapat dilakukan dengan dua cara yang
berbeda – terminasi intrinsik dan terminasi Rho-dependent. Terminasi intrinsik
adalah di mana transkripsi dihentikan ketika RNA yang baru disintesis
membentuk gC kaya jepit rambut lingkaran. Jenis Rho tergantung dari terminasi,
faktor protein yang dikenal sebagai Rho mendestabilkan interaksi antara
template dan kemudian mRNA melepaskan mRNA yang baru disintesis.

2.3.2 Transkripsi pada Eukariota

Transkripsi DNA pada Eukariota dilakukan langkah-langkah berikut:

1. Inisiasi – Dalam inisiasi, transkripsi eukariota membutuhkan kehadiran urutan


promoter inti dalam DNA. Daerah Promotor pada eukariota ditemukan bagian
hulu (upstream) dari situs transkripsi. RNA polimerase berikatan dengan
promotor inti untuk memulai transkripsi. Proses transkripsi lebih kompleks pada
eukariota. Sekelompok protein yang disebut faktor transkripsi memediasi
pengikatan RNA polimerase dan memulai transkripsi.
2. Elongasi- RNA polimerase melintasi untai cetakan dan menambahkan basa
untuk melengkapi template DNA dan membuat salinan RNA. Elegonasi pada
eukariota juga melibatkan mekanisme proofreading yang menggantikan basa
yang salah ditempatkan.

3. Terminasi – Pemutusan proses transkripsi pada eukariota kurang dipahami. Ini


melibatkan pemecahan transkrip RNA yang baru disintesis yang diikuti oleh
penambahan Seperti yang independen dari template dengan ungng baru 3 ‘;
Proses ini disebut poliadenilasi.

2.3.3 Perbedaan Transkripsi Pada Prokariot Dan Transkripsi Pada Eukariot


Transkripsi prokariotik terjadi dalam sitoplasma sel. Transkripsi eukariotik terjadi
di dalam inti sel.
Dalam transkripsi prokariotik, transkripsi dan translasi terjadi secara simultan.
Dalam transkripsi eukariotik, transkripsi dan translasi berbeda dalam ruang dan
waktu (transkripsi terjadi di inti, translasi terjadi di sitoplasma)
Dalam transkripsi prokariotik, mRNA ditranskripsi langsung dari template molekul
DNA. Dalam transkripsi eukariotik, awalnya molekul pra-mRNA (transkrip primer)
terbentuk dan kemudian diproses untuk menghasilkan mRNA matang.
Dalam transkripsi prokariotik, jenis RNA polimerase tidak berbeda dengan jenis
bakteri. Pada eukariota transkripsi, jenis RNA bervariasi. Misalnya RNA polimerase
I, II, III hadir di semua eukariota, tetapi RNA polimerase IV dan V hanya hadir pada
tumbuhan
Satu jenis RNA polimerase, yang memiliki enzim inti dan subunit lainnya, yang
terlibat dalam transkripsi prokariotik. Jenis RNA polimerase bervariasi sesuai
dengan jenis RNA yang ditranskripsi dalam sel eukariotik. (Mis Mereka
mengidentifikasi berbagai jenis promotor)
Dalam Prokariotik, RNA polimerase terdiri dari lima subunit (α, β, β ‘, ω). Dalam
Eukariotik, RNA polimerase terdiri dari 10-17 subunit.
Pada prokariota, holoenzyme (RNA polimerase + faktor sigma) mengakui dan
mengikat langsung ke promotor. Pada eukariota, pengakuan promotor tidak dapat
dilakukan oleh RNA polimerase saja, tetapi protein aksesori di sel harus mengenali
promotor, sehingga merekrut RNA polimerase spesifik untuk promotor.
Pada eukariotik, sebuah kompleks protein histon dan DNA harus dapat diakses,
sebelum transkripsi. Pada prokariotik, DNA tidak terikat pada protein histon. Oleh
karena itu, transkripsi terjadi secara langsung.
DNA eukariotik diidentifikasi oleh RNA polimerase II memiliki dua bagian dari
promotor yang dikenal sebagai promotor inti dan promotor peraturan. Dalam
promotor prokariotik, tidak ada pembedaan yang dapat dilihat.
Sel prokariotik memiliki dua jenis terminator transkripsi; terminator Rho-
dependent dan terminator Rho-independen. Pada eukariotik transkripsi, tiga
polimerase RNA menggunakan mekanisme yang berbeda untuk terminasi. Misalnya
RNA polimerase I – faktor kebutuhan terminasi yang mengikat hilir situs DNA
terminasi. RNA polimerase II – ditranskrip urutan terminasi dan kemudian
menghasilkan serangkaian uracil.

2.3 Replikasi
2.3.1 Pengertian Replikasi
Replikasi adalah peristiwa sintesis DNA. Saat suatu sel membelah secara
mitosis, tiap-tiap sel hasil pembelahan mengandung DNA penuh dan identik seperti
induknya. Dengan demikian, DNA harus secara tepat direplikasi (diperbanyak atau
dicetak ulang) sebelum pembelahan terjadi. Replikasi DNA dapat terjadi dengan
adanya sintesis rantai nukleotida baru dari rantai nukleotida lama. Prosesnya
dengan menggunakan komplementer pasangan basa untuk menghasilkan suatu
molekul DNA baru yang sama dengan molekul DNA lama. Replikasi DNA. Suatu
material genetik harus mampu menggandakan dirinya sendiri secara sempuma
sehingga setiap sel anak memiliki materi yang identik dengan materi genetik
tetuanya, termasuk didalamnya kemampuan untuk mengalami mutasi karena di
dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu organisme hal ini sering terjadi.
Watson dan Crick dalam papernya telah menjelaskan akan kemampuan ini
yang dimiliki oleh DNA, dimana proses ini berlangsung secara luar biasa akurat.
Didalam papemyakedua ahli tersebut menunjukkan bahwa kesalahan yang
terjadi didalam suatu proses replikasi DNA hanya sebesar satu per satu milliar.
Proses-proses yang terjadi saat terjadinya replikasi adalah sebagai berikut. 1. Ikatan
hidrogen membuka sehingga kedua pita akan memisah. 2. Pita saling memisah.
Basa nitrogen pada masing- masing pita berfungsi sebagai cetakan yang mengatur
pengikatan basa komplementer (basa pelengkap) pada pita baru yang dibentuk. 3.
Masing-masing pita lama membentuk pita baru, sehingga menghasilkan dua pita
double helix.

2.3.2 Tahapan Replikasi


Replikasi DNA dapat terjadi di beberapa lokasi sepanjang untai ganda DNA
pada waktu bersamaan. Berikut ini beberapa tahap replikasi yang dilakukan dengan
mekanisme semi-konservatif.
a. Enzim helicase meluruskan dan membuat untai ganda DNA menjadi tidak terpilin.
b. Enzim ini kemudian memecah ikatan hidrogen antaruntai DNA (antar pasangan
basa) sehingga memisahkan kedua untai DNA tersebut (replication fork). Salah
satu untai DNA memiliki polaritas 3’ 5’, sedang yang lainnya 5’ 3’.
c. Di dalam nukleus, telah tersedia basa-basa nitrogen bebas, 1 gula deoksiribo
dan 3 gugus fosfat (deoksiribonukleosida trifosfat), dalam jumlah banyak.
Biasanya dikenal dengan dATP, dCTP, dGTP dan dTTP.
d. Dalam mensintesis DNA baru, diperlukan DNA polimerase III dan primer RNA
sebagai sekuen dimulainya proses replikasi. Primer RNA terdiri dari beberapa
nukleotida RNA yang mengikat pada untai DNA lama (induk), dan membentuk
ikatan hidrogen. Selanjutnya enzim RNA primase akan mengikat seluruh
nukleotida RNA tadi, dengan ikatan kovalen.
e. Dengan tanda start dari primer RNA tadi maka proses replikasi dimulai.
Selanjutnya, deoksiribonukleosida trifosfat akan berpasangan dengan basa
nitrogen komplementernya pada untai DNA lama yang terpapar (exposed) dan
membentuk ikatan hidrogen. Basa nitrogen A berpasangan dengan T,
sedangkan basa nitrogen C berpasangan dengan G.
f. Karena untai DNA yang membentuk heliks ganda berjajar secara antiparalel
maka ada dua untai DNA baru yang terbentuk secara serentak dengan arah
berlawanan. Untai DNA baru selalu terbentuk dengan arah 5’ 3’ sehingga satu
untai baru dapat disintesis secara berkesinambungan (leading strand),
sedangkan yang lainnya karena tumbuh dengan arah 3’ 5’, proses sintesisnya
melalui untai-untai pendek (lagging strand) yang akhirnya disambungkan oleh
enzim DNA ligase. Untai-untai DNA pendek ini, 100 hingga 200 basa
panjangnya, dikenal dengan fragmen Okazaki.
g. Di akhir replikasi, DNA polimerase I melepas primer RNA dari untai DNA,
kemudian mengganti nukleotida RNA dengan nukleotida DNA.
h. Proses replikasi selesai, dan dihasilkan 2 untai ganda DNA yang masingmasing
mengandung satu untai cetakan molekul DNA lama (induk) dan satu untai DNA
baru hasil sintesis.

2.3.3 Macam-macam Replikasi


Replikasi DNA dapat terjadi melalui tiga kemungkinan:
1. Konservatif Replikasi konservatif ini melalui cara, yaitu pita double heliks
DNA induk tetap tidak berubah, kemudian digunakan untuk mencetak dua pita
double heliks DNA yang baru.
2. Semikonservatif Replikasi semikonservatif ini melalui cara, yaitu pita
double heliks DNA induk terpisah, kemudian mensintesis pita DNA yang baru
dengan cara melengkapi (komplementasi) pada masing-masing pita DNA induk
tersebut.
3. Dispersif Dispersif ini melalui cara, yaitu kedua pita double heliks induk
terputusmembentuk segmen-segmen pita DNA yang baru, kemudian segmen pita
DNA induk akan disambung dengan segmen pita DNA baru. Sehingga pada
peristiwa ini hasil akhirnya adalah segmen pita DNA induk dengan segmen pita DNA
yang baru yang tersebar pada pita double heliks DNA yang terbentuk.
Replikasi dilakukan untuk memperbanyak molekul DNA, tujuannya agar DNA
tidak termutasi, karena DNA merupakan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Jika
DNA bermasalah, maka seluruh aktivitas sel dalam tubuh juga akan mengalami
gangguan fungsi. Replikasi diawali dari proses pemutusan ikatan hidrogen yang
menghubungkan dua basa nitrogen, dimulai dari tempat atau lokasi yang bisa
dikenali (inisiator DnaA). Pemutusan ikatan ini dilakukan oleh enzim helikase.
Setelah ikatan terlepas, terdapat protein SSB di rantai tersebut yang berfungsi untuk
mencegah basa nitrogen berikatan kembali.
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
DNA merupakan suatu senyawa kimia yang penting pada makhluk hidup.
Tugas utamanya membawa materi genetik dari suatu generasi ke generasi
berikutnya. DNA juga merupakan senyawa polinukleotida yang membawa sifat-sifat
keturunan yang khas pada kromosom. Transkripsi adalah proses di mana sel
membuat protein yang disebut sintesis protein. Ini sebenarnya terdiri dari dua
proses: transkripsi dan translasi. Replikasi adalah peristiwa sintesis DNA. Saat suatu
sel membelah secara mitosis, tiap-tiap sel hasil pembelahan mengandung DNA
penuh dan identik seperti induknya.

3.2 Saran
Diperlukan pembaharuan pengetahuan dengan mengikuti perkembangan
zaman terkait materi dna supaya ilmu yang digunakan dapat dimanfaatkan di bidang
kesehatan khususnya bioteknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, T. 2002. Genomes 2nd ed. Wiley-Liss. Oxford
Goodenough. 1988. Genetika Edisi ketiga Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Henuhili, V. 2000. Genetika Molekuler. UNY. Yogyakarta.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Ir.%20Victoria%20
Hen uhili,%20%20M.Si./Genetika%20Molekular_diktat%20kuliah.pdf
Johnson, G dan Raven. 2002. Biology 6th edition. McGraw-Hill Publishing
Company, Dubuque, Iowa.
Lewin, B. 2004. Genes. Pearson Prentice Hall. Pearson Education, Inc.
P,P.Wahyu.2009.Apakah DNA?. PT. PURI DELCO.Bandung
Suryanto. 2003. Melihat Keanekaragaman Organisme Mealui Beberapa
Teknik Genetika Molekuler. USU. Medan.
Sutarno. 2012. Kimia dari Gen. UNS. Semarang
http://sutarno.staff.uns.ac.id/files/2012/10/Genetika-5-kimia-materi-
genetik.pdf
Wahyudi, Ivan Arie. 2011. Biologi Molekuler-Prinsip Dasar Analisis. Erlangga.
Jakarta
Yuwono, T. 2005. Biologi Molekuler. Erlangga. Jakarta.
Yz, Sarifatul.Maulidia.2017. Pembuktian dna sebagai materi genetik. Jurusan
biologi fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam.Universitas
Andalas.

Anda mungkin juga menyukai