Anda di halaman 1dari 16

RAHASIA SEKS DALAM

TEKS RESI SAMBINA


Oleh
Tim Penyusun KAMASADA
(Muliarta, Juliana, Sastrawan, Trisna, Sriartini)

I. PENDAHULUAN

Salah satu kenikmatan hidup yang paling kontroversial adalah seks. Seks

mampu secara komparatif bersaing dengan kenikmatan lainnya seperti harta dan

kekuasaan. Seks yang dulunya dibicarakan secara sembunyi-sembunyi, penuh mitos

dan kadang sakral kini mulai makin terkuak terbahas. Seks kini mulai masuk

kesumsum nadi kebutuhan manusia dan informasi tentangnya menjadi sorotan besar

untuk dinikmati.

Apabila dipandang dari sisi biologis, seks dan hasrat pencapaiannya adalah

sebuah fenomena yang wajar dan normal, tak ubahnya dengan fenomena perut lapar

yang minta makan, atau keinginan mata untuk melihat sesuatu yang indah, baik dan

cantik. Seks menjadikan banyak orang bahagia, seks juga menjadikan banyak orang

sakit, sengsara bahkan terhinakan. Seks yang ditabukan membuat banyak orang buta

mengartikannya, mereka hanya mengandalkan naluri saja, sementara nuraninya

tertinggal. Seks yang seharusnya hanya menjadi konsumsi orang yang telah resmi

berstatus suami istri, kini terjadi penyimpangan hingga bukan lagi menjadi suatu hal

yang suci dan sakral serta berlandaskan agama. Tidaklah meherankan fenomena seks

bebas kini mulai menghantui remaja generasi penerus bangsa. Kawula muda kini

tidak lagi mentabukan seks, justru banyak diantara mereka yang gila seks. Fenomena

ini justru menjadi semakin miris jika dibandingkan dengan seks jaman dulu. Akibat-

akibat yang ditimbulkan dari seks bebas begitu banyaknya mulai dari penyakit yang

ditimbulkan begitu banyak, aborsi, anak haram, AIDS, dll. Padahal seks bila dilihat
dari dimensi sastra dan ilmu pengetahuan dan penyaluran nafsu yang benar,

merupakan sebuah kebahagiaan di dunia yang begitu lengkap. Di dalamnya

terkandung kasih sayang, terapi psikologis, keseimbangan emosional dan kesehatan.

Untuk itu langkah pencegahan yang baik terhadap fenomena seks bebas adalah

memberikan pengetahuan seks pada generasi muda dengan cara yang benar yaitu

melalui pendekatan sastra maupun ilmu pengetahuan.

Di Bali ternyata dalam lontar-lontar kuna sudah diungkapkan berbagai dimensi

seks, dari filasafatnya (tattwa), etikanya (susila) dan bahkan tuntunan seks yang

praktis namun bisa menghantarkan pelakunya ke alam kepuasan tertinggi, tersaji luas

dalam teks-teks Kama Tattwanya.

Berikut kita akan coba untuk membahas seks bernuansa Bali dengan roh

kehinduan yang kuat. Sehingga kita bisa mengetahui pengetahuan seks secara dini

namun dengan cara penyampaian yang benar berdasarkan sastra dan ilmu

pengetahuan tujuan seks yang suci dapat kita capai.

II. SEKS ALA BALI

2.1 Teks-teks Lontar yang Mengulas Mengenai Seks (Kama Tattwa)

Kama Tattwa merupakan kelompok teks Hindu yang secara khusus berbicara

tentang seks dan berbagai permasalahannya. Jadi segala jenis teks Hindu yang terkait

dengan masalah-masalah seks dapat digolongkan ke dalam Kama Tattwa.

Kata Kama berarti : keinginan, cinta, kasih sayang, kesenangan dari indria, air

mani, dan nama Dewa Cinta, sedangkan kata Tattwa berarti kesejatian, yang membuat

sesuatu ada, hakekat, jadinya, nyatanya. Jadi ddalam pengertian ini Kama Tattwa
diartikan sebagai hakekat dari kesenangan indria yang berkait dengan cinta atau

sederhananya filsafat seks yang mencakup pendidikan seks.

Teks yang dimaksud diantaranya : Rsi Sambina, Yaning Stri Sanggama,

Rahasya Sanggama, Samarakridalaksana, Stri Sasana, Wadu Laksana, Rukmini

Tattwa, Indrani, Pamedasmara, Usada Samaratura, Usada Lara Kamatus, Prasi

Dampatilalangon, dll.

Teks Rsi Sambina, Yaning Stri Sanggama membahas berbagai cara senggama

yang bisa dilakukan oleh sepasang suami istri guna mencari kenikmatan seks.

Rahasya Sanggama membahas tentang daerah-daerah erotis wanita/istri yang harus

diketahui oleh suami, guna mempermudah wanita mencapai orgasme.

Samarakridalaksana merupakan teks yang memberi petunjuk kepada suami istri

bagaimana seks dilakukan dengan spirit yoga dan mantra. Wadulaksana membahas

ciri-ciri wanita yang dianggap utama dan ramalan tentang wanita yang akan

melahirkan putra/putri utama. Rukmini Tattwa dan Indrani adalah teks yang

menerangkan rahasia tentang keberhasilan Dewi Saci mempertahankan cinta Dewa

Indra, melalui ramuan-ramuan tradisional khas wanita. Pamedasmara merupakan

petunjuk tentang pilihan hari baik melakukan senggama. Usadha Samaratuta dan

Usada Larakamatus adalah teks yang memuat berbagai macam petunjuk ramuan obat

yang berguna untuk mengatasi berbagai keluhan seksual.

2.2 Pendidikan Seks

Pendidikan seks bagi orang Bali dalam usahanya mengharmoniskan hubungan

suami istri dalam sebuah keluarga, bukan lagi merupakan sesuatu yang tabu. Budaya

Bali beberapa abad lalu merupakan budaya yang memberi keseimbangan berdasarkan

tingkat kehidupan antara dharma, artha dan kama. Dikalangan masyarakat Hindu Bali
sesuai konsep Catur Purusa Artha, dharma merupakan batasan bagi gerak liar artha

dan kama. Konsep ini bila dijabarkan laksana sebuah lokomotif penggerak kereta.

Dharma adalah relnya, artha adalah bahan bakarnya, dan kama adalah tenaga

penggeraknya. Perjalanan lokomotif yang tetap pada relnya, dengan bahan bakar dan

tenaga penggerak yang baik secara pasti akan mengantarkan sampai tujuan, menuju

sebuah “pulau harapan” dimana ia berlabuh dan melebur dirinya dalam sebuah

eksistensi yang suci “moksa”.

Seks yang suci adalah seks yang telah memiliki mata, hati dan pikiran;

demikianlah kama yang suci adalah kama yang berada dalam pelukan dharma dan

artha. Tentu akan menjadi kepuasan yang maksimal ketika pengetahuan, perasaan dan

sensasi seksual bisa berjalan seiring, Tattwa/filsafatnya dipahami, susila/etikanya

dijalani, cinta dirasakan dan kepuasan seks itu dinikmati.

Wacana yang menyatakan bahwa pendidikan seks itu dilakukan sejak dini

masih berkembang hingga saat ini. Namun materi yang diberikan haruslah

disesuaikan dengan tingkatan usianya.

Pendidikan seks dalam tingkatan pemahaman gender perlu diberikan pada

anak kecil, terutama di daerah perkotaan, dimana harapan untuk mengetahui

perbedaan kelamin antara ayah dan ibu oleh seorang anak pupus dan sering

terabaikan.

Pendidikan seks terpenting bagi remaja adalah pemahaman terhadap alat-alat

reproduksi, hingga kecendrungan terjadinya hamil pranikah dan pengguguran

kandungan dapat diminimalisirnya bahkan tidak perlu terjadi, sebab merela paham

betul akan fungsi alat-alat reproduksi tersebut serta akibat yang dapat ditimbulkan bila

terjadi penyalahgunaan.
Barulah bagi mereka yang telah menikah pelajaran Kama Tattwa diberikan,

pelajaran yang mengulas tuntas fungsi dan titik erotis penyebab orgasme, daerah

sensasi erotis, warna kulit, gaya senggama, pengeruh bulan bagi libido seks wanita,

yoga seks, juga doa-doa senggama,dll. Semua itu merupakan kebutuhan seks yang

begitu diperlukan demi kepuasan seks itu sendiri.

2.3 Seks yang Dianjurkan

Seks adalah kebutuhan biologis yang tidak dapat dipungkiri oleh manusia

normal. Berbagai pandangan manusia tentang seks tumbuh subur dan akhirnya

perlahan membentuk budaya seks dengan perspektif masing-masing. Ada golongan

manusia yang memaknai seks sebagai sebuah ‘petualangan’, ada juga yang

memandang bahkan menekankan seks sebagai media kelahiran. Dualisme sudut

pandang seperti itu selanjutnya membawa pemikiran pada dua jalan, mengejar

kenikmatan seks atau keturunan; yang satu memberi peluang tumbuh suburnya seks

bebas, yang kedua cenderung menggiring seks menjelma ke dalam bentuk gelap

rahasia dan tabu untuk dibicarakan.

Bali dengan sosio budayanya, ketika dirujuk pada kenyataan akan tersedianya

teks bertema seks (kama) di perpustakaan lontar atau milik masyarakat,

mengindikasikan bahwa “jalan” tengah adalah pilihan budayanya; “jalan” diantara

sakral dan profan diantara “petualangan” dan “media kelahiran”; diantara ortodok dan

liberal, inilah jalan yang dianggap paling baik dan mendasar.

Budaya Bali menyadari bahwa seks adalah kebutuhan alamiah manusia, yang

mana dengan seks akan didapatkan dua hal yang terpenting yakni kenikmatan (kama)

dan keturunan (putra). Pencarian kenikmatan itu harus didasari atas dharma

(kebenaran) (solusi mengantisipasi seks bebas) dan melalui dharma akan lahir
keturunan yang su-putra/berkualitas. Disinilah titik lentur budaya Bali dalam

menginterpretasikan fungsi seks bagi manusia yakni sebagai media mencari

kenikmatan ataupun keturunan.

Wujud material dari dharma dalam kerangka kama adalah upacara pernikahan,

melalui upacara inilah manusia yang telah disahkan sebagai pasangan suami istri

diberi kebebasan seluas-luasnya untuk menikmati seks (kama) dan mendapatkan

keturunan (putra). Sehingga hubungan seks yang dianjurkan adalah hubungan seks

dalam status pernikahan.

Seks dipandang sebagai salah satu dari kegiatan paling suci manusia yang

mengharuskan doa-doa ikut andil memberi sentuhan suci pada desahan nafas dua

orang suami istri yang memohon pada Tuhannya akan kelahiran seorang anak suputra

(mulia) ataupun anugrah kenikmatan tanpa batas dalam ritus senggama mereka yang

suci. Sehingga seks yang dilakukan dalam suatu pernikahan Hindu tidak hanya

sebagai pelampiasan nafsu birahi melainkan sebagai suatu kegiatan suci yang

berlandaskan dharma.

Pasangan suami istri juga harus saling melengkapi dalam suatu hubungan

sehingga mampu menjaga kelanggengan hubungan suami istri. Kepuasan pasangan

dalam hubungan seks menjadi hal paling penting yang harus diingat. Hendaknya

suami dan istri sudah mengetahui cara memuaskan pasangannya masing-masing

dengan teknik-teknik maupun pengetahuan tentang tata cara melakukan hubungan

seks yang dianjurkan dalam teks-teks Kama Tattwa diatas. Dan hendaknya hubungan

tersebut dilakukan dengan pemilihan hari yang baik sehingga hasil yang diinginkan

dari hubungan seks tersebut yaitu anak yang suputra dapat terwujud.
III SENI SENGGAMA DALAM TEKS RESI SAMBINA

3.1 Pusat Erotis Wanita: Klitoris dan G-spot dalam Teks Resi Sambina

Berbicara tentang ilmu seks atau sanggama, dalam teks Resi Sambina

dinyatakan bahwa dasar dari pengetahuan seks dalam kaitannya dengan usaha

membuat istri orgasme (murca) adalah dua titik terpenting dari yang penting lainnya,

(1) dijelaskan dengan ’purna sasangka’ dan (2) ’nadi / windu’.

Purna Sasangka (1) arti harfiahnya adalah bulan purnama yang dalam istilah

kedokteran dikenal dengan nama klitoris, titik bulat yang letaknya di belahan bibir

atas vagina itu diibaratkan bagaikan bulan penuh yang memancarkan sinarnya dan

dengan tegas dinyatakan bahwa para suami harus memperhatikan ”titik” erektil

wanita ini bagi tercapainya orgasme si istri. Kutipannya berikut :

Iruhurning pundak ikang baga, ya ina separsanira, ina separsa


Ta ikang purna sasangka.

’di atas bahu vagina, disanalah sentuh dan raba, sentuh dan rabalah yang
bagaikan bulan purnama itu’.

Suami yang ingin membuat istrinya senang saat bersenggama, ketika dalam

masa pemanasan hndaknya memperhatikan ”titik” ini (purna sasangka / klitoris).

Daging yang bergelendut pada bibir bagian atas vagina itu hendaknya diraba dengan

sentuhan tangan, sementara bibir mencium daerah sensitif lainnya. Jika terasa istri

telah menikmatinya, sentuhan dan rabaan pada daerah klitoris bisa lebih ditekan

dengan tekanan yang dikeraskan sedikit.

Apabila istri telah terdengar mendesis-desis atau diam dan memejamkan

matanya (bagi yang malu), sentuhan dan rabaan pada daerah purna sasangka itu

hendaknya difokuskan. Dimana ujung jari tangan menekan sembari menguceknya

dengan tekanan yang cukup keras. Apabila teknik ini dilakukan dengan durasi waktu

cukup lama, orgasme akan terjadi pada si istri.


Ke (2) nadi/windu. Nadi adalah pusat saraf dan windu berarti titik bulat,

kedua istilah ini dalam istilah kedokteran dikenal dengan istilah klitoris dalam atau G-

Spot. Kalimat lengkapnya dalam Resi Sambina sebagai berikut:

Itengahning baga mandala, ana ta mangsa mangadeg,


ritengahning mangsa, yateka windu, ana ta liang mahet,
ngkana tong waning nari wisesa.

’ditengah liang vagina, ada daging seolah berdiri, di tengah daging, itulah windu
namanya, ada lubang kecil, disanalah pusat dari
kenikmatan/kekuatan wanita’.

Dibelahan dalam bagian atas vagina (dinding depan), ketika jari tangan

dimasukkan akan terasa ada daging yang bergelendut, besarnya kira-kira sebiji

kacang. Seiring dengan vase rangsangan wanita, apabila titikm ini disentuh

(nadi/windu) ia bisa membesar dan mengeras.

Saat melakukan senggama hendaknya titik inilah yang dituju oleh penis

suami. Jika titik ini kena tersentuh oleh penis, wanita akan mengalami ’orgasme

vagina’ yang mana kenikmatannya berbeda dengan ’orgasme klitoral’. Titik

nadi/windu ini susah tersentuh oleh ujung penis, jika demikian, tangan boleh dipakai.

Carilah titik nadi/windu ini dibelahan dalam bagian atas vagina atau dinding depan,

ketika si suami telah menemukannya, sentuh pusatnya dengan ujung jari dengan

tekanan sedang.

Jika si istri telah menikmati rangsangannya, nadi/windu ini akan mulai

membesar dan mengeras, apabila istri mulai mendesah, mendesis, mengaduh-aduh

karena nikmatnya sentuhan dari ujung jari boleh ditekan dengan tekanan cukup keras.

Teknik ini jika dilakukan dalam durasi waktu cukup lama mengantar istri untuk

merasakan kenikmatan lain dari orgasme klitoral di atas. Sensasi kenikmatan ini

diistilahkan dengan ’murca atau orgasme vaginal’.


3.3 Warna Kulit dan Seks: Lontar Resi Sambina

Yan akuning ikang stri ri ruhur unggwaning ragania ;


yan bang-bang ring tengenan unggwaning ragania; yan makiris ahijo, ring kiwa
unggwaning ragania, yan ahireng ring sor unggwaning ragania.

’ jika istri berkulit kuni, sensasi seksnya ada di tubuh bagian atas; jika berkulit merah,
sensasi seksnya ada di tubuh bagian kanan; jika istri agak kurus dan berkulit hijau,
sensasi seksnya ada di tubuh bagian kiri; jika kulit istri berwarna hitam atau gelap,
sensasi seksnya ada di tubuh bagian bawah.

Di sisni teks Resi Sambina, telah mengidentifikasi bahwa wanita dengan kulit

yang berbeda memiliki daerah sensasi seks yang berbeda pula. Teks Resi Sambina

mengklasifikasi wanita berdasarkan warna kulit dengan istilah berikut:

1. Singha Wikranta / Wanita Singa (berkulit kuning/putih) dengan daerah erotis di

tubuh bagian atas seperti : dada (payudara), tengkuk, leher, telinga, bibir, hidung,

pipi, dsb.

2. Padma Prasita / wanita lotus (berkulit merah) memiliki rangsangan seks di

tubuh bagian kanan, seperti; daerah telapak kaki kanan, betis belakang kanan,

daerah pangkal paha kanan, punggung kanan, tangan kanan, payudara kanan,

leher kanan, tengkuk kanan, telinga kanan, dsb.

3. Ratha Wahana / wanita kereta (berkulit hijau) daerah rangsangan seksnya di

tubuh bagian kiri, seperti; telapak kaki kiri, betis belakang kiri, daerah pangkal

paha kiri, punggung kiri, tangan kiri, oayudara kiri, leher kiri, tengkuk kiri,

telinga kiri, dsb.

4. Sarpa Nuya Pana / wanita ular (berkulit gelap atau hitam), memiliki daerah

rangsangan seks di tubuh bagian bawah seperti; daerah pinggang, perut, pusar,

dan bawah pusar, lekukan-lekukan pantat, daerah pangkal paha, betis, telapak

kaki, dsb.
3.4 Rangsangan Di ”Kawasan” Erotis Wanita

Nihan awak ning stri sparsan, lwirniya : Puwal-puwalan,


wulekan pupu, wetengniya, walakang, baga, susu, lambung, kanta, lepa-lepaning
tangan lawan jarijinia.

’Inilah bagian tubuh yang hendaknya disentuh/raba : pinggul, pangkal paha


bagian dalam, perut, punggung, vagina, payudara, lambung, leher, sela-sela jemari,
dan jeriji tangannya’.

Sang pengawi Resi Sambina telah meneliti dengan cermat daerah

rangsangan atau bagian tubuh sensitif seks wanita. Letak sensasi erotis bagi wanita ini

hendaknya diketahui dengan fasih oleh orang yang terikat dalam hubungan suami

istri. Pengetahuan ini jelas sangat berguna bagi para suami atau istri, sebab dengan ini,

mereka tidak lagi belajar dari awal tentang keberadaan dari daerah-daerah sensasional

itu. Suami dapat langsung menuju daerah tersebut, sedangkan bagi seorang istri,

pengetahuan ini merupakan suatu penuntun untuk memahami dengan lebih baik

bagian-bagian erotis dari tubuhnya.

Teks Resi Sambina pada dasarnya menyatakan ada sembilan daerah erotis di

tubuh wanita, yakni; (1) pinggul, seorang suami hendaknya meraba daerah pinggul

istrinya, titik sensasinya ada di belahan pantat belakang, yakni pada daerah pertemuan

antara lekukan pantat dan lekukan pinggang, letaknya ada di bawah pinggang di

antara kedua pinggul; (2) paha, pada daerah ini sensasi seksnya hampir merata namun

daerah paling sensitifnya ada di paha bagian dalam; (3) perut, daerah terpentingnya

ada di bawah pusar di atas vagina; (4) punggung, daerah sensasinya lebih peka pada

bagian tengah (belahan tulang punggung) dan dibagian atas dekat leher; (5) vagina,

sensasi yang paling penting dari vagina adalah daerah purna sasangka (klitoris) dan

windu (G-Spot); (6) payudara, yang paling utama dan sesnsasional dari payudara ini

adalah putingnya; (7) Lambung, bagian paling sensitifnya terletak pada bagian depan
(dekat perut); (8) leher, letak paling sensitifnya ada pada daerah tengkuk dan dekat

dagu; dan (9) tangan, sensasi paling sensitifnya ada pada sela-sela jemari.

Daerah larangan yang dinyatakan pantang bagi sebuah usaha ”pemanasan”

dalam pendakian senggama yang dinyatakan pada Resi Sambina ada empat daerah

yaitu: lutut kanan, lutut kiri, siku kanan, dan kiri. Jika daerah ini disentuh atau dipijat

oleh suami, akan menarik kembali istri yang telah berada pada posisi ”ON” (panas) ke

alam kesadarannya. Adapun kalimatnya sebagai berikut: ”nihan tawak nikanang stri

tan asparsan, pat kwehniya, lwirnya, tur karwa, siku karwa”. Artinya, inilah bagian

tubuh wanita yang hendaknya jangan disentuh, empat adanya: kedua lutut kaki, dan

kedua siku tangan.

3.5 Bulan dan Erotis Wanita

nihan ta luirnya tamba ya nikang surtawata


rikanang stri, yan ring pratipada.

”inilah bagian tubuh ywanita yang berfungsi sebagai pusat


erotis (pembangkit libido seks) apabila diasesuaikan dengan perhitungan hari
”paruh terang” (pananggal / bulan baru)

Dalam sistem wariga, diadakan pembulatan hingga ada bulan (sasih) tahun

candra (lunar sistem) yang berumur 30 hari atau 29 hari. Hitungan hari ini dibagi

menjadi 2 kategori yang disebut dengan pananggal – pangelong, masing-masing

berlangsung selama 14-15 hari. Dalam sistem pemilihan padewasan (pemilihan hari

baik) umumnya, hari-hari yang dihitung pangelong dianggap sebagai waktu buruk

(mala candra) hal ini diilustrasikan dengan semakin memudarnya cahaya bulan pada

masa pangelong tersebut.

Pada hari yang terhitung pananggal 1, letak rangsangan wanita pada ibu jari

kanan. Pananggal 2 letak rangsangan wanita terletak di ibu jari kiri. Pada hari

pananggal 3, letak rangsangan seks wanita ada di paha kanan. Pananggal 4, letak
rangsangan seks wanita ada di paha kiri. Pananggal 5, letak rangsangan seks wanita

ada di kemaluannya. Pananggal 6, letak rangsangan seks wanita ada di pusarnya.

Pananggal 7, letak rangsangan seks wanita ada di lubang pusar. Pananggal 8, letak

rangsangan seks wanita ada di payudara kanan. Pananggal 9, letak rangsangan seks

wanita ada di payudara kiri. Pananggal 10, letak rangsangan seks wanita ada di bahu.

Pananggal 11, letak rangsangan seks wanita ada di ujung hidung. Pananggal 12, letak

rangsangan seks wanita ada di dagu bagian kanan. Pananggal 13, letak rangsangan

seks wanita ada di dagu bagian kiri. Pananggal 14, letak rangsangan seks wanita ada

di dahi. Pananggal 15, letak rangsangan seks wanita ada di kepala.

Dalam ungkapannya yang halus namun pedas, pangawi atau pengarang Resi

Sambina berkata:

Ana nadi anung munggwa ngkana, mamuara arsa yan ka


Sparsa dening anguli

’Ada pusat-pusat saraf pada tubuh wanita yang bisa menyebabkan bangkitnya
nafsu seks jika ia diraba dengan cara anguli (digesek/dikucek)’.

Dadyanikang wang mapunggung, tan weruh ri kanang nadi,


winarah twi tan wuruh atah, apan ikang wang mapunggung,
pamulangan diun lunga paramartania.

”Orang-orang yang munafik, yang tidak mau tahu pusat-pusat saraf ini,
meskipun ia diberitahu, mereka tetap akan tidak tahu, sebab apa gunanya mengajari
mereka yang munafik, bagai menuangkan air pada tempayan yang pecah”.

3.6 Senggama ”Dalam Kama Tattwa Resi Sambina”

Pangasparsan nira irikang anguli, ilat kunang, lambe, purusa kunang,


yatna ta sira, isedang niang kasparsa, ikang nari mungguh ri
tengahning windu, magrah teka sandining awak nikang stri, wus nian
mangkana, atianta murca ta ya de nira sang maha widagda”.

Jilatan lidah, bibir, juga kemaluan. Hendaklah diperhatikan dengan


baik gerak-gerik istri saat diraba daerah-daerah sensitifnya itu, setelah
perempuan berada dalam lingkaran asmara dan hasrat seksnya sudah membara,
barulah Sang Maha Widagda melakukan tindakan seks yang akan mengantar
si istri pada puncak kenikmatannya (murca).
Kalimat dalam teks Kama tattwa Resi Sambina di atas, menjelaskan bahwa

dalam melakukan hubungan suami istri, suami hendaknya memperhatikan dengan

baik tahapan-tahapan seks itu. Seks dimulai dari pemanasan ringan, misalnya meraba-

raba daerah sensitif wanita, kemudian berikutnya pemanasan utama dengan cara

melakukan ciuman bibir, hisapan lidah, oral pada pasangan anda, dan mencumbu

daerah sensitif lainnya. Hingga tanda-tanda dari keberhasilan rangsangan puncak

terlihat, barulah senggama yang sebenarnya siap dilakukan.

Dalam ulasan berikutnya, sang pengarang Resi sambina menyatakan sebagai

berikut: (1) ketika istri sudah terlentang di ranjang, hendaknya suami meraba

payudara si istri dari bagian atas (siwastana) dan daerah sensitif lainnya. Pada saat

meraba payudara dan bagian sensitif lainnya, perhatikan agar jangan sampai paha

suami menindih tubuh istri; berikutnya (2) payudara dan daerah sensitif lainnya di

kulum atau pun dijilati dengan lidah, lakukan teknik yang sama pada vagina istri,

setelah sekian lama dalam teknik pemanasan lidah (jihwa) berikutnya; (3) tempel

dengan ketat vagina istri dengan pusar suami, lalu digoyangkan (usahakan tempelan

pusar menyentuh dengan ketat klitoris istri), perhatikan dahi si istri, setelah terlihat

ada ”cahaya” (lingga caya panikara); (4) pegang vaginanya dengan tangan kiri,

arahkan pada klitoris lalu kucek-kucek dengan telunjuk atau jari tengah dan tangan

kanan dipakai untuk meraba bagian-bagian sensitif lainnya, setelah sekian lama; (5)

penis digesekkan pada vagina (hana kadi sekarning udaya prana kucup) kepala

penis diarahkan menuju pundarika (klitoris), jangan langsung dimasukkan ke dalam,

lakukan beberapa lama, setelah itu; (6) barulah penis dimasukkan ke liang vagina,

setelah beberapa saat; (7) keluarkan penis, lalu kembali digesekkan kepada pundarika

(klitoris), lakukan beberapa saat setelah itu; (8) kembali masukkan penis, usahakan

ujung penis bisa menyentuh nari gangga (G-Spot), sedangkan batang kemaluan
usahakan mampu menggesek pundarika (klitoris). Jika dirasa batang kemaluan

kesulitan untuk menggesek klitoris, sembari senggama tetap dilakukan, klitoris ini

bisa dikucek-kucek dengan tangan.

Jika tubuh istri mulai bergetar (kumeter sarwa sandiniya) mendesis-desis

(ngesis), tersedu (sigsigan), mengaduh-aduh nikmat (mangaruh), memeluk dengan

ketat atau menggigit (menahut), inilah tanda dari kenikmatan puncak istri anda segera

akan terwujud (murcaning stri).

Demikianlah ulasan singkat mengenai teks Resi Sambina yang secara

mendasar teks Resi Sambina ini berisikan tentang tata cara seorang pria

membangkitkan gairah seorang istri. Dalam teks Resi Sambina sebenarnya juga

dibahas mengenai doa senggama dan pengobatan (usadha), namun dalam kesempatan

kali ini tidak dibahas.

I. PENUTUP

4.1 Simpulan

Seks ala Bali yang banyak dipaparkan dalam teks-teks Kama Tattwa salah

satunya yaitu Resi Sambina memberikan pengetahuan tentang tata cara dan teknik

dalam melakukan senggama yang dilandasi dengan dharma dan bukan sekedar

sebagai pelampiasan nafsu untuk mencari kenikmatan semata. Namun semua itu lebih

kepada bagaimana cara pelampiasan nafsu dengan cara yang benar dan pengetahuan

yang dilandasi dharma. Sehingga tujuan dari hubungan seks yang sesungguhnya yaitu

mendapatkan kenikmatan ataupun anak yang suputra (mulia) dapat tercapai.

4.2 Saran

Pendidikan seks bukanlah hal yang tabu lagi untuk dibicarakan karena sudah

menjadi rahasia umum. Setiap orang perlu mendapatkan pendidikan seks yang baik
dan benar berdasarkan ajaran susila dan agama agar tidak menyimpang dari norma-

norma yang ada. Pembahasan mengenai seks ala Bali yang didasari atas teks-teks

ataupun lontar-lontar yang berkaitan dengan seks telah dirangkum dalam 2 buah buku

yang berjudul ”Seks Ala Bali: Menyibak Tabir Rahasya Kama Tattwa” dan ”Seks

Ala Bali II Wadhu Tattwa: Sekelumit Catatan Tentang Hakekat Wanita Dalam

Wadhu Tattwa” oleh I B. Putra M. Aryana, SS, M.Si alumni jurusan Sastra Daerah

Fakultas Sastra Universitas Udayana tahun 2000.