Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Rumusan Masalah

Secara sadar atau pun tidak, setiap harinya pada hakikatnya manusia
melakukan pengamatan terhadap segala hal yang terjadi di lingkungannya. Suara
angin yang semilir, rumput yang bergoyang, kesibukan orang di pasar dan lain-
lain. Segala hal yang tertangkap pancra indera kita sangatlah beragam. Stimulus
yang tertangkap indera itu kemudian diolah di otak dan kemudian dimaknakan.
Setelah dimaknakan, kita memberikan respon yang sesuai. Observasi memiliki
kedudukan yang penting karena dengan observasi kita dapat mempertahankan
hidup (Bentzen, 2000 dalam Kusdiyati & Fahmi, 2015). Dengan indera
penglihatan kita dapat melihat bahwajalan yang kita lewati menurun terjal
sehingga kita dapat berhati-hati agar tidak terjatuh. Dengan indera pendengaran
kita dapat mendengarkan suara klarkson kendaraan yang melaju sehingga kita
dapat berjalan semakin ke tepi agar tidak tertabrak. Dengan indera penciuman kita
dapat membaui asap sehingga kita dapat mendeteksi suatu kebakaran dan
kemudian memberi tahu pihak berwenang agar dapat segera mengambil tindakan
yang sesuai. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari observasi memiliki kedudukan
penting untuk mempertahankan hidup.

Dalam profesi psikolog, psikolog akan berlaku layaknya detektif atau seorang
ilmuan yang berusaha untuk mengorek informasi secara mendalam mengenai
masalah yang dihadapinya. Misalnya masalah pada anak, tentunya dia akan
membutuhkan data-data diagnostik, fakta mengenai masalah yang dihadapi anak,
riwayat pendidikan, riwayat klinis, beberapa tes untuk mengetahui potensi
kecerdasan/minat atau bakat, dan lain-lain. Upaya untuk menggali informasi
tersebut membutuhkan metode observasi.

Istilah observasi sering kita padankan sebagai pengamatan, yakni


memperhatikan apa yang dilakukan orang lain dan mendengarkan apa yang
dibicarakan orang lain. dengan demikian melakukan observasi hakikatnya

1
mempergunakan sebagai pancra indera kita terutama penglihatan dan pendengaran
untuk mengamati gejala yang kita amati di sekitar kita. Secara istilahnya,
observasi mengacu pada tindakan untuk melihat, memperhatikan atau mengamati
tindakan orang lain.

Observasi terbagi menjadi observasi alamiah dan observasi ilmiah. Observasi


alamiah merupakan observasi sederhana yang tanpa disadari sering dilakukan oleh
masyarakat umum, seperti memperhatikan orang makan atau pun mendengarkan
orang yang sedang presentasi. Oleh sebab itu, observasi dikatakan sebagai
kegiatan yang selalu dilakukan manusia. Observasi ilmiah merupakan observasi
yang lebih terstruktur dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan serta
hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, seperti penelitian mengenai
perilaku gemetar saat individu tampil di depan orang banyak atau penelitian
tentang masalah kesulitan anak untuk berkomunikasi dengan temannya.

Dalam proses pengambilan data observasi, dibutuhkan teknik pencatatan yang


tepat sesuai dengan perilaku yang ingin kita amati. Setiap teknik memiliki
spesifikasi dan persyaratan tertentu termasuk kelebihan dan kekurangannya.
Teknik pencatatan menyangkut cara dan alat termasuk kemahiran membuat dan
menggunakannya yang diperlukan untuk mencapai tujuan observasi.

Oleh karena itu, pada tulisan ini akan me-review acara TV Korea “The Return
of Superman” episode 60 untuk kemudian dilakukan observasi mengenai perilaku
anak-anak di acara tersebut menggunakan teknik behavior tallying and charting,
checklist, participation charts, dan rating scale dengan tujuan untuk menjelaskan
dan memberi contoh penempatan dan penggunaan teknik-teknik ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu teknik behavior tallying and charting dan bagaimana cara
penggunaannya?

2. Apa itu teknik checklist dan bagaimana penggunaannya?

3. Apa itu teknik participation charts dan bagaimana penggunaannya?

2
4. Apa itu teknik rating scale dan bagaimana penggunaannya?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Menjelaskan mengenai teknik behavior tallying and charting dan cara


penggunaannya.

2. Menjelaskan mengenai teknik checklist dan cara penggunaannya.

3. Menjelaskan mengenai teknik participation charts dan cara penggunaannya.

4. Menjelaskan mengenai teknik rating scale dan cara penggunaannya.

1.4 Manfaat Penulisan

1. Memberi pengetahuan mengenai teknik behavior tallying and charting dan


cara penggunaannya.

2. Memberi pengetahuan mengenai teknik checklist dan cara penggunaannya.

3. Memberi pengetahuan mengenai teknik participation charts dan cara


penggunaannya.

4. Memberi pengetahuan mengenai teknik rating scale dan cara penggunaannya.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Behavior Tallying and Charting
2.1.1 Behavior Tallying

Behavior tallying merupakan teknik pencatatan perilaku seseorang dengan


menggunakan perhitungan. Perilaku yang bisa diobservasi ialah yang bisa dilihat,
didengar, dihitung dan diukur. Behavior tallying juga merupakan teknik
pencatatan yang bersifat closed method, dimana tidak ada data mentah untuk data
yang telah diamati. Namun, sudah merupakan data yang sudah jadi hasil dari
pengamatan observer.

2.1.2 Tingkah Laku Target Behavior

1. Tingkah laku diskrit, yaitu tingkah laku yang dapat dihitung atau tingkah laku
yang dengan segera dapat dimulai dan selesainya. Dimana tingkah laku akan
dicatat dalam bentuk frekuens, berapa kali tingkah laku muncul, maka
kemudian di-tally.

2. Tingkah laku nondiskrit, tingkah laku yang sulit dimasukkan dalam unit yang
diskrit karena sulit ditentukan awal dan akhirnya dari perilaku tersebut untuk
diukur dalam satuan hitungan. Dimana tingkah laku dicatat dalam bentuk
durasi.

2.1.3 Keuntungan Pencatatan Behavior Tallying


a. Suatu pengukuran kuantitatif sebagai strategi dasar untuk mengetahui adanya
perubahan tingkah laku yang diobservasi.
b. Cara pengerjaannya cepat, observer tidak perlu secara terperinci melakukan
pencatatan, hanya men-tally saja perilaku yang muncul.
c. Mengukur frekuensi terjadinya tingkah laku secara objektif.

2.1.4 Kelemahan Pencatatan Behavior Tallying

4
a. Data mentah hilang, tidak ada pencatatan secara detail mengenai tingkah
laku yang terjadi.
b. Hanya dapat mengukur satu jenis tingkah laku saja, sehingga hasilnya sangat
spesifik.
c. Masih memungkinkan terjadinya bias dalam proses pencatatannya.

2.1.5 Charting atau Graphing

Pada dasarnya charting atau graphing merupakan perluasan dari bentuk teknik
behavior tallying yang model pencatatannya dalam bentuk diagram atau grafik.
Charting akan memudahkan observer dalam menginterpretasikan data yang
diperoleh menggunakan pencatatan behavior tallying.

2.1.6 Sistematika Laporan Behavior Tallying & Charting


1. Latar belakang

The Retrun Of Superman yang mulai aktif pada bulan September 2013 adalah
sebuah reality show yang memiliki konsep seorang Ayah yang mengasuh putra
dan putrinya sendirian tanpa sang Ibu, dalam waktu 48 jam. Mengasuh anak
sendirian bagi seorang Ayah menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika sebelum
mengikuti acara tersebut sang Ayah tidak terbiasa mengasuh anaknya sendirian
dan seketika harus mengasuh serta menghabiskan waktu selama kurang lebih 48
jam bersama anak pasti akan mengalami kesulitan. Dimulai dari mengerti apa
yang diinginkan oleh anak hingga meredam amarah jika anak membantah atau
membuat masalah bagi si Ayah.

Dimana dalam satu keluarga terdapat sepasang suami yang bernama Sung
Hoon dan istrinya yang bernama Shiho serta mereka memiliki seorang anak
perempuan yang cantik bernama Sarang. Di pagi itu, terlihat Sarang menggunakan
baju seperti seorang putri, dan Shiho pun meminta Sarang untuk menghampirinya
untuk menata rambut putrinya dengan gaya Rapunzel. Setelah menata rambut
Sarang, Shiho menuju kedapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk
putrinya. Selesai menghabiskan sarapan bersama, Shiho pun pergi namun putrinya

5
meminta dia untuk tidak pergi. Setelah memberikan pengertian kepada Sarang,
Sarang pun mengerti dan membiarkan Ibunya pergi.

Sarang merupakan seorang murid yang belajar bahasa korea, dimana setiap
pagi gurunya akan datang kerumah mereka untuk mengajarkan Sarang. Biasanya
Sarang belajar hanya bersama dengan gurunya, akan tetapi pagi ini Sarang akan
belajar bersama dengan temannya yaitu Yuto. Tidak lama, Yuto pun datang dan
Sarang bersama Ayahnya mengajak Yuto bermain dengan hewan peliharaan
mereka. Setelah beberapa menit bermain dan bersenang-senang dengan Yuto,
akhirnya guru bahasa Korea Sarang tiba dan menyapa mereka dalam bahasa
Korea.

Guru tersebut mencoba menarik perhatian mereka dengan memperlihatkan tas


yang berada di tangannya dan bertanya “apa yang ada dalam tas ini” ? Sarang dan
Yuto pun menatap tas tersebut dengan penuh keheranan dan berfikir apa yang
akan keluar dalam tas tersebut. Gurunya pun berkata, jika kalian tidak bernyanyi
tas ini tidak akan mengeluarkannya. Karna mereka penasaran dengan isi didalam
tas tersebut mereka pun ikut bernyanyi mengikuti gurunya. Dan Sarang ikut
menggoyang-goyangkan kedua tangannya ketika lagu mulai dinyanyikan dan
menghentikannya ketika lagu telah selesai dinyanyikan, terus berlanjut hingga
belajar secara bermain tersebut selesai.

2. Landasan Teori

a. Teori Belajar Skinner

Skinner berpendapat jika hubungan stimulus dan respon terjadi saat interaksi
dengan lingkungan yang kemudian menyebabkan perubahan tingkah laku tidak
sesederhana seperti yang sudah diungkapkan tokoh-tokoh sebelumnya. Skinner
berpendapat jika respon yang didapat seseorang tidaklah sederhana sebab stimulus
yang diberikan akan saling berinteraksi dan kemudian berpengaruh pada respon
yang dihasilkan. Respon yang diberikan tersebut juga memiliki konsekuensi yang
nantinya akan mempengaruhi timbulnya perilaku.

6
Dari hasil eksperimen, B.F Skinner menghasilkan beberapa hokum, yaitu:

1. Law of operant conditioning, apabila timbulnya perilaku diikuti dengan


stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku juga akan meningkat.
2. Law of operant extinction, apabila terjadinya perilaku operant yang sudah
diperkuat lewat proses conditioning dan tidak diikuti dengan stimulus penguat,
maka kekuatan perilaku akan menurun dan bahkan musnah.

3. Perancangan
a. Tujuan

Untuk mendapatkan suatu informasi yang detail dalam suatu penelitian yang
telah ditentukan.

b. Definisi Operasional

Variable Definisi Operasional


Meggoyangkan kedua tangan Respon yang diberikan oleh individu
ketika berinteraksi dalam keadaan
tertentu dengan lingkungan
sekitarnya.

c. Teknik Pengambilan Data


 Tingkah laku nondiskrit

Hari Waktu Jumlah (detik)


1 19:58-20:01 3
20:10-20:13 3
20:22-20:25 3
20:42-20:45 3

Rata-rata 3 detik/hari

7
Jadi kesimpulannya, Sarang menggoyangkan kedua tangannya ketika mereka
mulai bernyanyi bersama dalam durasi selama 3 detik dan akan menghentikan
gerakannya ketika lagu selesai dinyanyikan. Terus diulang hingga beberapa kali
dalam periode waktu yang sama.

2.2 Checklist

2.2.1 Pengertian Checklist

Checklist digunakan untuk mengklarifikasikan dan mengukur frekuensi


dan/atau durasi dari perilaku selama periode observasi dan dapat juga digunakan
untuk mengkorversikan meteri dari video-recorder menjadi data. Checklist
biasanya berisi jumlah unit perilaku kategori-kategori dengan deskripsi yang jelas
untuk setiap unitnya. Selanjutnya tergantung pada karakteristik dari unit perilaku
dan apa yang penelitian ketahui, obsevasi mencatat keberadaan atau ketiadaan dari
perilaku dengan cara checklist, dapat menghitung jumlah kejadian dari perilaku
(frekuensi)atau dapat mengambil berbagai pengukuran dengan melihat lamanya
kejadian (durasi) dalam hubungan perilaku yang ingin diteliti. Jika perilaku yang
dilihat adalah molar, pengukuran frekuensi dan durasi dapat dibuat langsung dari
observasi. Dengan unit molekuler, seperti pandangan sekilas atau perubahan
posisi tubuh, akan lebih mudah jika di observasi di rekam dengan videotope. Hal
ini juga memberi kode pada berbagai perilaku (Wilkison, 1995 dalam Minauli,
2008).

2.2.2 Reliabilitas dan Validitas Checklist

Dalam upaya mencapai realiabilitas yang relevan, perlu diperhatikan 2 hal


yakni sebagai berikut:

1. Intraobserver Reliability

Intraobservasi reliability adalah penggunaan teknik pencatatan checklist yang


sama oleh obsever yang sama dalam rentang waktu yang berbeda dan memberikan
hasil yang sama dan akurat. Contohnya melakukan checklist dengan agresi yang
dimaksud mencangkup apa saja sehingga ketika perilaku itu tampil, obsever

8
mengenalinya kemudian member tanda pada from checklist, pengambilan data ini
diambil dalam waktu yang berbeda, misalkan dihari seni dan hari sabtu. Format
checklist, yang digunakan sama dengan observer yang melakukan paengambilan
data adalah orang yang sama.

2. Interobserver Reliability

Maksud dari interobserver reliability adalah adanya kosistensi atau stabilitas


pencatatan. Pengambilan data observasi dilakukan oleh lebih dari satu observer
yang menggunakan checklist yang sama ketikamengamati observer yang sama.
Dengan kaya lain, ada beberapa observer mengamati seorang observer yang
format checklistnya sama persis.

3. Validitas Checklist

Validitas yang dimaksud adalah bagaimana format checklist mampu


mengukur perilaku-perlaku, keterampilan-keterampilan atau karakterisrtik-
karakteristik yang sesuai dange tujuan checklist tersebut dibuat. Dalam
pelaksanaanya sering kali sulit sekali mencapai validitas dari checklist.

2.2.3 Jenis - Jenis Checklist

Ada beberapa jenis checklist yang dapat di kembangkan sebagai format


pencatatan observasi, yakni sebagai berikut.

1. Checklist yang digunakan untuk mengukur ada atau tidak adanya perilaku
yang dimaksud tanpa dibatasi waktu dan konteks.
2. Checklist yang di buat untuk mengukur ada atau tidak adanya prilaku tertentu
dengan dasar norma usia.

2.2.4 Penggunaan Checklist

Beberapa penggunaan teknik pencatatan checklist dalam aplikasinya dibidang


psikologi adah sebagai berikut.

9
1. Digunakan untuk mencatat ada tidaknya suatu tingkah laku berdasarkan
criteria yanga akan dinilai.
2. Memperhatikan kemajuan dalam suatu rangkaian perkembangan.
3. Mengukur kemajuan/progresivitas. Misalanya kemajuan dalam terapi
tertentu.
4. Dapat digunakan sebagai suatu screening untuk melihat adanya
hambatan/keterlambatan dalam suatu perkembangan.
5. Dapat digunakan sebagai a curriculum planning tool menyusun krikulum
individu.

2.2.5 Kekurangan dan Kelebihan Checklist

1. Kelebihan
a. efisien dalam waktu dan pengerjaaannya .
b. komprehensif (dapat mencangkup beberapa are perkembangan dalam satu
checklist).
c. mendokumentansikan perkembangan.
d. merupakan dokumentasi individual untuk setiap anak.
e. merupakan suatu ilustrasi yang jelas mengenai kontinum perkembangan.

2. Kekurangan
a. tidak mencatat detail/perincian dari suatu kejadian .
b. mungkin dibiaskan oleh observer.
c. bergantung pada kriteria yang observable.
d. memiliki bnayak item sehingga mungkin menghabiskan banyak waktu.

2.2.6 Contoh Checklist

Checklist, observer menyusun struktur dengan memilih dan mendefinisikan


perilaku sebelum observasi dilaksanakan sehingga ketika observasi tinggal
memberikan tanda cek (√).

10
Observer mengobservasi reality show berjudul “The Retrun of Superman”
membagi 3 definasi perliaku observi (ayah, ibu, dan anak) penelitian dalam
tayangan tersebut. Obsever mengambil scene saat keluarga tersebut yang terdiri
dari ayah bernama Uhm Taewoong, Ibu bernama Yoon Hye-jin, dan anak
bernama Jion bekumpul di ruang makan sebagai bahan observasi.

1. Observasi Pertama: Ayah

No Indikator Gambaran subjek Memenuhi


Ya Tidak

1. Subjek berinteraksi Subjek melakukan


dengan keluarga percakapan/perbincangan dengan 
keluarga, anak maupun istri

2. Subjek berekspresi Ketika subjek berinteraksi dengan


tersenyum saat keluarga subjek sering tersenyum 
berinteraksi dengan dalam komunikasi nya
keluarga

3. Subjek berekspresi Subjek cemburut saat istrinya 


cemebrut dan geliash memberi daftar isi tugas yang
saat berinteraksi harus dilakukan
dengan keluarga

4. Subjek berekspresi Subjek tidak berekpresi marah 


marah dan menangis ataupun mengis
saat berinteraksi
dengan keluarga

11
5. Kerja sama Subjek membatu istri untuk 
menhibur anaknya agar mau
makan.

6. Gerakan berulang Subjek mengunyah dan 


kali menyuapkan makanan ke mulut
berulang kali

7. Gerakan berjalan Subjek berjalan saat hendak 


mengambil nasi

8. Meminun air Subjek tidak minum air 

2. Observasi Kedua: Ibu

No Indikator Gambaran subjek Memenuhi


Ya Tidak

1. Subjek berinteraksi Subjek melakukan


dengan keluarga percakapan/perbincangan dengan 
keluarga, anak maupun suami

2. Subjek berekspresi Ketika subjek berinteraksi dengan


tersenyum saat keluarga subjek sering tersenyum 
berinteraksi dengan dalam komunikasi nya
keluarga

3. Subjek berekspresi Subjek cemburut saat istrinya

12
cemebrut dan geliash memberi daftar isi tugas yang 
saat berinteraksi harus dilakukan
dengan keluarga

4. Subjek berekspresi Subjek tidak berekpresi marah 


marah dan menangis ataupun mengis
saat berinteraksi
dengan keluarga

5. Kerja sama Subjek menyuapkan makan untuk 


anaknya

6. Gerakan Subjek mengunyah dan 


berulangkali menyuapkan makanan ke mulut
berulang kali

7. Gerakan berjalan Subjek berjalan saat hendak 


mengambil nasi

8. Meminun air Subjek tidak minum air 

3. Observasi Ketiga: Anak

No Indikator Gambaran subjek Memenuhi


Ya Tidak

13
1. Subjek berinteraksi Subjek melakukan kontak mata
dengan keluarga sambil berbicara bahasa bayi 
dengan keluarga, ayah dan ibu

2. Subjek berekspresi Ketika subjek berinteraksi dengan


tersenyum saat keluarga subjek sering tersenyum 
berinteraksi dengan dalam komunikasi nya
keluarga

3. Subjek berekspresi Subjek hanya ketawa saja


cemebrut dan geliash 
saat berinteraksi
dengan keluarga

4. Subjek berekspresi Subjek tidak berekpresi marah 


marah dan menangis ataupun mengis
saat berinteraksi
dengan keluarga

5. Kerja sama Subjek hanya bisa memakan 


makanan yg di suap oleh ibu

6. Gerakan Subjek mengunyah makanan 


berulangkali berulang kali

7. Gerakan berjalan Subjek berjalan saat hendak 


mengambil nasi

14
8. Meminun air Subjek tidak minum air 

2.3 Participation Charts

2.3.1 Definisi Participation Charts

Berbeda dengan checklist yang hanya terbatas pada satu atau dua orang
subjek yang diobservasi maka participation charts dapat digunakan untuk
mengobservasi sejumlah individu secara simultan mengenai partisipasi mereka
pada suatu aktivitas tertentu. Teknik pencatatan ini biasanya digunakan untuk
memancing keterlibatan partisipasi antar individu sebagai bagian penting dari
tingkah laku yang harus diobservasi. Contoh yang paling tepat untuk penggunaan
teknik pencatatan ini adalah partisipasi individu dalam diskusi kelompok atau
kegiatan rapat. Dalam kegiatan kelompok, observer dapat memperoleh banyak
informasi mengenai partisipasi anggota diskusi dalam membahas tema tertentu
yang dijadikan bahan diskusi. Penggunaan participation charts dalam diskusi
berkaitan dengan sejauh mana keterlibatan anggota rapat yang mampu
memberikan dan menanggapi pendapat sepanjang diskusi; anggota yang berbicara
tanpa arah yang jelas ketika menyampaikan pendapat; kemampuan melakukan
negosiasi, dan sebagainya.

2.3.2 Cara Pembuatan Participation Charts

Ada beberapa tahap yang bisa diikuti untuk membuat teknik pencatatan
participation charts dari yang sederhana sampai format pencatatan yang
kompleks. Sebelum menentukan format yang akan digunakan perlu dikaji
mengenai tujuan observasi yang akan dilakukan karena pada dasarnya tujuan
observasi akan sangat menentukan model yang tepat digunakan.

Secara umum format participation charts dilengkapi dengan daftar sejumlah


nama orang yang akan terlibat dalam aktivitas dan ruang kosong untuk men-tally

15
partisipasi dan peserta. Umumnya nama-nama peserta diletakkan dalam beberapa
baris dan ruang kosong untuk tally diletakkan dalam beberapa kolom.

2.3.3 Observasi Menggunakan Teknik Participation Charts dalam Film The


Return of Superman

Pada acara reality show Korea, “The Return of Superman” episode 60 dapat
dilakukan pengamatan dan mencatatnya dengan menggunakan metode pencatatan
participation charts pada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh beberapa anak
dalam acara TV tersebut.

Seperti pada menit ke 19:35, Sarang dan Yuto menghadiri kelas bahasa Korea
didampingi oleh ayahnya, Choo Sung-hoon dan seorang guru. Dalam kegiatan ini
observer bertujuan untuk mengobservasi partisipasi mereka selama proses belajar,
seperti respon mereka terhadap perkataan dan menjawab pertanyaan dari guru
mereka.

Ada beberapa format pencatatan dalam partcipation charts yang dapat


digunakan. Dalam pengamatan perilaku yang pertama ini akan digunakan contoh
pencatatan format A, yaitu sebagai berikut:

Kegiatan : Belajar bahasa Korea

Tanggal : 21 September 2019

Observer : Milfa Arsyika Azzahra

No Nama Merespon Perkataan Menjawab


. Guru Pertanyaan Guru
1. Sarang IIII I IIII
2. Yuto IIII IIII IIII III III

Tabel di atas menunjukkan berapa kali Sarang dan Yuto merespon atau
menjawab guru mereka yang ditunjukkan selama 4 menit 47 detik dalam acara TV

16
ini. Sarang merespon sebanyak 6 kali dan menjawab sebanyak 4 kali, sedangkan
Yuto merespon sebanyak 18 kali dan menjawab sebanyak 3 kali.

Selanjutnya, pada menit ke 25:23, kembar dua bernama Seojun dan Seoeon
hendak diberikan yoghurt oleh ayah mereka, Hwijae. Dalam scene itu, Ayah
mereka meminta mereka untuk menirukan suara berbagai binatang. Berikut hasil
pengamatannya menggunakan participation charts format B:

Kegiatan: Menirukan suara binatang

Tanggal: 21 September 2019

Observer: Milfa Arsyika Azzahra

Seojun Seoeon

IIII IIII

Dari catatan di atas, dapat dilihat bahwa Seojun dapat menirukan suara
binatang sebanyak 5 kali dan Seoeon sebanyak 4 kali dalam waktu 1 menit 13
detik yang ditayangkan pada episode 60 acara TV ini.

Selanjutnya merupakan pengamatan terhadap kembar tiga bernama Minguk,


Manse dan Daehan yang muncul pada epsiode ini di menit ke 31:10 sampai menit
ke 46:35 dan jam ke 1:02:34 sampai jam ke 1:10:30, dengan total waktu muncul
yaitu 22 menit 29 detik. Pengamatan untuk melihat seberapa banyak mereka
menangis selama ditampilkan di episode tersebut, serta mendata atau
mengelompokkannya sesuai dengan penyebab tangisannya. Hasil dari pengamatan
itu di tuliskan menggunakan teknik participation charts ke dalam format C
sebagai berikut:

Kegiatan : Menangis

Tanggal : 21 September 2019

Observer : Milfa Arsyika Azzahra

17
Total Total Total
Nama
Menangis Menangis Menangis
Karena Takut Karena Karena
Dimarahi Meminta
Sesuatu

Minguk I X 1 0 1
Manse I 1 0 0
Daehan O 0 1 0

Keterangan:

I = menangis karena takut

O = menangis karena dimarahi

X = menangis karena meminta sesuatu

Dari tabel di atas dapat dilihat tak hanya jumlah tapi juga penyebab yang
membuat kembar tiga Minguk, Manse dan Daehan menangis.

2.4 Rating Scales

2.4.1 Pengertian Rating Scales

Rating scales merupakan suatu alat ukur observasi yang berisi daftar
pernyataan/tingkah laku dan alternatif jawaban dalam bentuk skala (kontinum).
Teknik pencatatan ini digunakan apabila tingkah laku yang akan diobservasi telah
diketahui dengan pasti dan dibutuhkan catatan mengenai frekuensi dan/atau
kualitas lain dari tingkah laku. Selain itu, teknik ini digunakan apabila tingkah
laku yang diamati memiliki aspek-aspek berbeda, dan setiap aspek akan dinilai
dalam suatu skala. Rating scales merupakan closed method (metode tertutup)
karena dalam rating scales tidak ada data mentah atau gambaran mengenai
perincian tingkah laku. Artinya disini perincian tinkah laku yang pasti tentang
bagaimana individu memenuhi kriteria tersebut tidak ada.

18
Daftar pernyataan yang dimaksud merupakan suatu kreteria tentang
keterampilan-keterampilan yang spesifik berkaitan dengan area tertentu dimana
kreteria tersebut harus didefinisikan secara jelas dan observable. Kualitas pilihan
jawaban disusun berkisar dari kurang berkembang atau keadaan yang paling
rendah disebelah kiri ke paling berkembang atau keadaan yang paling tinggi di
sebelah kanan. Jumlah sekala pilihan jawaban ini minimal 3 dan bentuknya bisa
bermacam-macam bergantung pada desain dari rating scales, pilihan tersebut bisa
berupa:
1. Tidak pernah, jarang, sering, selalu.
2. Belum ada, sedang dalam proses, sudah ada.
3. Tidak dijumpai, sebagian dijumpai, secara penuh dijumpai.

Sebagaimana teknik checklist, rating scales biasanya dipergunakan untuk


memantau perkembangan. Validitas rating scales akan meningkat apabila dua
orang atau lebih rater/observer untuk mengmati seorang anak.

Dalam proses pengambilan data observasi menggunakan teknik ranting


scales, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan observer atau pencatat rating
scales:

1. Yakin bahwa kriteria dalam ranting scales sesuai dengan tujuan dan sasaran
program atau sesuai dengan kisaran perkembangan anak.
2. Lebih dari satu observer sehingga dapat membandingkan hasilnya dan
realibilitas inter-rater meningkat guna membatasi bias dari observer.
3. Familiar dengan kriteria rating scales atau daftar pernyataan rating scales
sebelum menggunakannya dan yakin bahwa kriteria tersebut sudah observable
(coretan, membuat atau menulis huruf alphabet, menulis dengnan lancar
bukanya masih mencoret-coret, mengejanya buruk, menulisnya bagus).
4. Yakin bahwa pilihan jawaban menggambarkan perilaku buknya sikap
(meninggalkan ruangan ketika di bacakan cerita dari buku cerita baru saja
mulai; tetap tinggal diruangan, bermain dengan mainannya ketika dibacakan

19
cerita dari buku cerita; duduk melihat-lihat buku cerita selama cerita dibcakan
bukannya tidak berminat, setengah berminat, sangat berminat).

2.4.2 Penggunaan Rating Scales

Beberapa kegunaan teknik pencatatan rating scales adalah sebagai berikut:

1. Rating scales berguna untuk mengevaluasi aspek perilaku yang lebih global
dan untuk menguantisi kesan.
2. Rating scales berguna untuk meng-asses perilaku atau produk yang sulit
diukur secara langsung
3. Rating scales bernilai dalam beberapa situasi assesment karena pengambilan
datanya tidak memakan waktu dan personel.
4. Rating scales juga memungkinkan anda untuk :
a. Mempertimbangkan clues yang lebih unik;
b. Mengevaluasi suatu kualitas dan kesatuan perilaku.

2.4.3 Format Pencatatan Rating Scales


Dalam upaya melakukan pencatatan dengan menggunakan rating scales, ada
beberapa alternatif format yang bisa dipilih, perbedaan format pencatatan ini pada
dasarnya lebih memudahkan observer yang hendak menyusun format observasi
sesuai tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian, pilihan format sangat
bergantung pada tujuan observasi dan kemampuan observer dalam menyusun
pernyataan tingkah laku. Beberapa format tersebut, antara lain sebagai berikut.

1. Changing Alternatives Scales


Bagaimana kemandirian anak selama observasi? (lingkari nomor yang sesuai).
5 Sangat mandiri
4 biasanya mandiri
3 kadang mandiri
2 biasanya dependen
1 sangat dependen

20
Saat melakukan observasi dimenit 15:30 terlihat Sarang dan ayahnya hendak
ingin sarapan pagi, ayah Sarang membantu menyiapkan sarapan untuk sarang dan
hendak menyuapinya. Namun Sarang lebih memilih untuk makan sendiri,
sehingga Sarang:

Sangat mandiri
5
4 biasanya mandiri
3 kadang mandiri
2 biasanya dependen
1 sangat dependen

2. Constant Alternatives Scale


Seberapa sering anak memperlibatkan periaku yang positif? Lingkari salah
satu.
5 selalu
4 sering
3 kadang-kadang
2 jarang
1 tidak pernah

Ada beberapa prilaku positif yang ditunjukan Sarang dan Yuto. Seperti, Pada
menit ke 14:54 Sarang merasa bersalah kepada ibunya, dan ia mengucapkan kata
maaf sebanyak 2 x dan menanyakan keadaan ibunya sebanyak 3 x. Di menit ke
15:53 Sarang membantu mengikat rambut ibunya.
Pada menit 23:26 Sarang dan Yuto juga memberikan salam perpisahan
kepada guru mereka dengan membungkukan kepala dan mengcapkan “sampai
jumapa” “terimakasih, guru.”

5 selalu

21
sering
3 kadang-kadang
2 jarang
1 tidak pernah

3. Descriptives Alternatives Scale


Kesiagaan visual anak (lingkari nomor yang sesuai).
5 mata tertutup di seluruh waktu
4 mata terbuka di seperempat waktu
3 mata terbuka di setengah waktu
2 mata terbuka di tiga perempat waktu
1 mata terbuka di sepanjang waktu
Seoeon dan Seojun berlari ke ruang tamu. Mereka di arahkan untuk duduk
dibangku masing-masing oleh ayahnya, namun dimenit ke 24:48 sampai 24:57
Seojun tidak mau duduk sedangkan Seoenon langsung duduk dibangkunya.
Ketika akan memberikan yougert ayahnya memberikan arahan kepada mereka
lalu dengan sigap Seoeon dan Seojun mengikuti apa yang diperintahkan ayahnya.
Lagi-lagi Seojun merasa tidak sabar, sehingga ayahnya menahan yogert Seojun,
dimenit 25:18 akhirnya Seojun menurut untuk duduk dan ayahnya memerintahkan
Seojun untuk menirukan beberapa suara binatang seperti kucing dan harimau lalu
Seojun mengikutinya. Dan dimenit 25:22 sampai 25:40 Seojun mengedipkan mata
sebanyak 6 x saat menirukan perkataan ayahnya

5 mata tertutup di seluruh waktu


4 mata terbuka di seperempat waktu
33 mata terbuka di setengah waktu
2 mata terbuka di tiga perempat waktu
1 mata terbuka di sepanjang waktu

4. Graphic Rating Scales


(Beri tanda silang di atas garis yang sesuai)

22
Apakah anak memberikan ide-ide dalam rapat?

Tidak pernah sering selalu

5. Descriptive Graphic Rating Scale


Apakah anak memperlihatkan minat pada buku?

Membuka buku dengan membuka buku dengan membuka buku dengan


Sembrno; tidak pernah hati-hati; memiliki rasa hati-hati; mengetahui
Memilih buku di waktu ingin tahu akan isi buku isi dari judulnya;
Bebas; tidak pernah kadang memilih aktivitas terlibat dalam aktivitas
Bergabung dengan yang berkaitan dengan berkaitan dengan buku.
kelompok dongeng. buku.

6. Numerical Rating Scale


Seberapa baik anak merespon terhadap kata-kata dan tidakan orang lain
dalam aktivitas role playing.

1 2 3 4 5

2.4.4 Pembuatan Rating Scales


Dalam penyusunan pencatatan dengan rating scales,sebelum dilakukan
pencatatan kita harus melakukan hal-hal berikut:
1. Beberapa kali kita mengobsevasi individu
Dalam film The Return Of Superman saya mengobservasi individu sebanyak
5 kali
2. Berapa lama panjang priode observasi
3. Berapa lama waktu untuk melakukan observasi
4. Target behavior yang akan diamati
5. Metode pencatatan data yang digunakan

23
Seperti pada pencatatan yang lain, usia observe setting dan alasan kita
melakukan assesment akan memengaruhi beberapa kita perlu mengamati, berapa
lama periode observasi dilaksanaka, dan kapan kita sebaiknya melakukan
observasi. Sesi observasi biasanya berlangsung antara 10-30 menitan atau bahkan
lebih lama. Dengan waktu ini kita bisa mendapatkan sampel perilaku yang
representatif.
Dasar untuk menetapkan target behavior adalah informasi awal yang
diperoleh melalui pencatatan narative, wawancara,pertanyaan rujukan, dan
langkah-langkah pembuatan rating scales adalah sebagai berikut.
1. Mempersiapkan daftar gambaran perilaku yang akan dinilai, gambaran
perilaku ini mengacu pada komponen atau dimensi periaku yang diturunkan
dari konsep teori.
2. Pertimbangkan apakah kriteria yang dibuat sudah objektif.
3. Menentukan tipe skala yang akan dipakai dengan berdasar tujuan dari
observasi.
a. Skala mungkin perlu diterjemahkan dalam kontinum apabila dari observasi
ingin diketahui derajat kualitas dan atau frekuensi dari penampilan perilaku.
b. Kontinum dibagi kedalam beberapa bagian apabila rater harus menandai suatu
titik dalam kontinum.
c. Pada kasus lain setiap kategori yang ada dalam kontinum harus didefinisikan
dengan jelas dan spesifik sesuai dengan tujuan observasi.
4. Membuat item-item dari suatu dimensi harus mengukur dimensi yang sama
dan banyaknya item dalam satu dimensi sebaiknya sama.
5. Pertimbangan untuk meningkatkan objektivitas dan reliabilitas rating scales
sebaiknya:
a. Menyediakan ruang kosong dibawah rating scales untuk menuliskan
komentar-komentar atau perincian perilaku sehingga rater dapat mencatatkan
alasan untuk memilih pilihan jawaban tertentu. Perincian ditulis dengan
anecdotal record.
b. Ruang kosong yang disediakan juga dapat diisi dengan catatan seperti : rater
kurang/belum memiliki kesempaan yang cukup untuk mengamati perilaku

24
yang menunjukan dimensi tertentu. Ruang kosong untuk komentar-komentar
ekstra tersebut akan berguna ketika mengevaluasi rating scales.

2.4.5 Pengolahan Data Rating Scales


Setelah kita melakukan pengambilan data, kemudian data yang diperoleh
haruslah diolah sehingga dapat diinterprestasi dengan baik. Secara lengkap cara
pengolahannya akan dijelaskan. Dalam contoh berikut berikut adalah sebagai
berikut.
1. Lakukan skoring untuk setiap item
a. Alternatif jawaban yang menunjukan kemampuan yang buruk diberi skor 1.
b. Alternatif jawaban yang menunjukan kemampuan yang memandai/cukup beri
skor 2.
c. Alternatif jawaban yang menunjukkan kemampuan yang baik diberi skor 3.

2. Buat kriteria tentang kemampuan presentasi dari penyajian calon dosen yang
bersangkutan, apakah:
a. Kemampuan presentasi dan penyajin tidak memadai;
b. Kemampuan presentasi dan penyajian kurang memadai;
c. Kemampuan presentasi dan penyajian memadai;
d. Kemampuan presentasi dan penyajian baik.

3. Dengan cara interval (Jumlah item x skor terendah setiap item): 4


Misalkan jumlah item 30
Skor maksimal 30 x 3 = 90
Skor minimal 30 x 1 = 30
Range = 90 - 30 = 60
Interval = 60 : 4 = 15

4. Membuat kelas-kelas
30-45 → tidak memadai
46-60→ kurang memadai

25
61-75→ memadai
76-90→ baik
Tidak memadai kurang memadai memadai baik

30 45 60 75 90

5. Menyimpulkan apakah calon tersebut memiliki kemampuan memadai dalam


mengajar atau cukup memadai atau kurang memadai.
6. Lakukan anterpretasi (deskripsikan dengan menggunakan data hasil observasi
dan berdasarkan teori).
a. Kemampuan baik dalam mengajar : dapat disarankan untuk diangkat menjadi
dosen tetap dengan alasan.......(sebutkan)
b. Kemampuan memadai dalam mengajar: dapat dipertimbangkan untuk
diangkat menjadi dosen tetap dengan catatan (sebutkan)......
c. Kemampuan kurang memadai dengan mengajar: tidak disarankan untuk
diangkat menjadi dosen tetap, dengan alasan.........
d. Kemampuan tidak memadai dalam mengajar: tidak disarankan untuk diangkat
menjadi dosen tetap, dengan alasan........

2.4.6 Contoh Rating Scales

Rating Scale Perkembangan Motorik Kasar


Nama observee : Sarang nama observee : Yuto
Jenis kelamin : perempuan jenis kelamin : laki-laki
Usia observee : Usia observee :
AKTIVITAS JUNGKIR BALIK BERTUMPU PADA KEPALA

1. Bagaimana gerakan badan yang menjadikan kepala sebagai tumpuan, saat


jungkir balik?
a. Yuto mengangkat kedua kakinya dan menempelkan kepalanya pada
lantai
b. Yuto dan Sarang menggerak-gerakan kepalanya agar dapat posisi

26
seimbang
c. Mereka juga menggerakan badan agar berhasil jungkir balik

2. Bagaimana gerakan tangan anak ketika hendak melakukan jungkir balik?


a. Mereka meleakan tangan pada dekat kepala dan menempelkannya pada
lantai
b. Melebarkan tangan agar mampu menjadi tumpuan yang seimbang

3. Bagaimana pandangan mata anak ketika melakukan aktivitas jungkir balik?


a. Pandangan mata anak di arahkan ke depan
b. Pandangan anak tidak terlalu fokus
c. Dan beberapa kali anak memejamkan mata

4. Bagaimana penggunaan kepala yang menjadi tumpuan ketika melakukan


jungkir bali?
a. Tidak konsisten dalam menggunakan kepala sebagai tumpuan
b. Dapat menyebabkan mereka goyah karena tumpuan tidak seimbang
c. Dan hanya bertahan selama 2-3 detik saja

5. Bagaimana kesimbangan anak saat bertumpu pada kepala?


a. Hanya sekejap saja dapat seimbang
b. Dapat seimbang lebih lama dengan bantuan kedua tangan

2.4.7 Keuntungan Rating Scales

1. Efisien dalam pengambilan data karena cepat dan mudah dalam


mengerjakannya (rater/observer membaca, memutuskan, melingkari atau
menandai).
2. Efesien untuk mengukur sejumlah besar kriteria secara cepat.
3. Menginformasikan hal “yang sebaiknya” diharapkan
4. Berguna untuk memantau kemajuan atau hambatan dalam pekembangan
5. Suatu alat ukur yang dapat mengukur kondisi sebaliknya dari keadaan ideal
dan dapat digunakan sebagai perencanaan bagi peningkatan (akreditasi)
6. Dapat digunakan secara berulang untuk memantau kemajuan.

27
7. Menyediakan kerangka acuan untuk membandingkan individu dengan
individu lain
8. Sesuai untuk mencatat perilaku-perilaku yang berbeda
9. Dapat digunakan untuk memandai/menilai perilaku individu atau kelompok
secara menyeluruh/kesatuan
10. Mencatat aspek-aspek kuantitatif perilaku
11. Dapat menyediakan data dalam form yang sesuai untuk analisis statistik

2.4.8 Kelemahan Rating Scales

1. Tidak dilengkapi dengan gambaran terperinci dan mentah


2. Tidak bjektif (penilaian dibuat saat observasi berlangsung pada saat yang
singkat sehingga tidak ada waktu atau waktunya sempit untuk
mempertimbangkan kriteria tidak ada tempat dalam formulir untuk
menjelaskan keadaan yang dimaksud).
3. Tidak bebas dari bias observer/rater dan tidak ada jalan bagi pembaca untuk
mengetahui yang sesungguhnya terjadi.
4. Kurang berguna sebagai metode untuk mencatat tindakan-tindakan yang
spontan atau percakapan-percakapan yang terjadi secara spontan.
5. Kurang sensitif untuk melihat perbedaan individu.
6. Menggunakan nilai skala yang didasarkan pada asumsi yang tidak jelas.
7. Memiliki low interobsever realibility karena pengunaan istilah yang kompleks
atau ambigu, posisi skala yang diinterprestasikan berbeda oleh observer yang
berbeda, adanya central tendency error dan halo effect.
8. tidak sesuai untuk mencat informasi kuantitatif penting, seperti frekuensi,
durasi, atau latency behavior.
9. Tidak sesuai untuk mencatat antecependent events dan consequent events,
kecuali metode yang akan dipakai dibuat/disusun ke dalam rating.
10. Mungkin saja tidak akurat apabila ada waktu yang tertunda antara mengamati
perilaku dan memberi nilai/menandai perilaku yang dimaksud

28
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Behavior tallying merupakan teknik pencatatan perilaku seseorang dengan
menggunakan perhitungan. Perilaku yang bisa diobservasi ialah yang bisa dilihat,
didengar, dihitung dan diukur. Tingkah laku target dalam teknik ini adalah
tingkah laku diskrit dan non diskrit. Charting atau graphing merupakan perluasan dari
bentuk teknik behavior tallying yang model pencatatannya dalam bentuk diagram atau
grafik.
Checklist digunakan untuk mengklarifikasikan dan mengukur frekuensi
dan/atau durasi dari perilaku selama periode observasi dan dapat juga digunakan
untuk mengkorversikan meteri dari video-recorder menjadi data.

29
Participation charts dapat digunakan untuk mengobservasi sejumlah individu
secara simultan mengenai partisipasi mereka pada suatu aktivitas tertentu. Teknik
pencatatan ini biasanya digunakan untuk memancing keterlibatan partisipasi antar
individu sebagai bagian penting dari tingkah laku yang harus diobservasi.
Rating scales merupakan suatu alat ukur observasi yang berisi daftar
pernyataan/tingkah laku dan alternatif jawaban dalam bentuk skala (kontinum).

3.2 Saran

Setiap teknik yang akan digunakan harus sesuai dengan tujuan pengamatan
agar hasilnya sesuai target dan tidak membingungkan observer. Oleh karena itu,
setiap observer yang hendak melakukan observasi haruslah memahami bagaimana
penggunaan setiap teknik observasi.

Kami menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna,
kedepannya kami akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan makalah ini.
Saran dapat berisi kritik atau pun tanggapan mengenai topik-topik pembahasan di
dalam tulisan ini.

30