Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal.

136-144

BIOREMEDIASI LIMBAH RUMAH TANGGA


DENGAN SISTEM SIMULASI TANAMAN AIR

oleh :
Guntur Yusuf
Fakultas MIPA – Uuversitas Islam Makassar, KOPERTIS WIL..IX
E.mail: gunturyusuf@yahoo.co.id

Abstract

This research was aimed to find out the influence of bioremediation with simulation on some
compositions to increase the quality of treated domestic wastewater, to describe the role of aquatic
plant compositions, and to measure the effectiveness of each aquatic plant in reducing levels of
pollutants. Laboratory tests were performed to recognize the waste quality, including physical,
chemical and microbiological qualities, after bioremediation processes. Bioremediation process
obviously had significant effects on the increase of treated domestic wastewater quality. Aquatic plant
compositions and dilution factors were obviously interacting in increasing the quality of treated
domestic wastewater. The composition of aquatic plants provided distinctive effects. Each kind of
aquatic plant provided a specific effect on the increase of the domestic wastewater quality in various
percentages.

Key words : bioremediation, domestic wastewater, aquatic plant, wastewater quality.

dan mengendalikan limbah rumah tangga


1. Pendahuluan sehingga dampaknya terhadap lingkungan
Meningkatnya aktivitas manusia di rumah dapat dikurangi. Salah satu pemikiran yang
tangga menyebabkan semakin besarnya dapat dikembangkan, adalah pemanfaatan
volume limbah yang dihasilkan dari waktu ke sumberdaya alam yang telah diketahui
waktu. Volume limbah rumah tangga memiliki kaitan erat dengan proses
meningkat 5 juta m3 pertahun, dengan penjernihan limbah rumah tangga, dalam hal
peningkatan kandungan rata-rata 50% ini berbagai jenis tanaman air yang tumbuh
(Haryoto, 1999). Konsekuensinya adalah pada kolam-kolam atau genangan air di sekitar
beban badan air yang selama ini dijadikan permukiman.
tempat pembuangan limbah rumah tangga Tanaman air merupakan bagian dari
menjadi semakin berat, termasuk terganggunya vegetasi penghuni bumi ini, yang media
komponen lain seperti saluran air, biota tumbuhnya adalah perairan. Penyebaranya
perairan dan sumber air penduduk. Keadaan meliputi perairan air tawar, payau sampai ke
tersebut menyebabkan terjadinya pencemaran lautan dengan beraneka ragam jenis, bentuk
yang banyak menimbulkan kerugian bagi dan sifatnya. Jika memperhatikan sifat dan
manusia dan lingkungan. posisi hidupnya di perairan, tanaman air dapat
Pada berbagai tempat di tanah air, limbah dibedakan dalam 4 jenis, yaitu ; tanaman air
cair rumah tangga belum terjangkau oleh yang hidup pada bagian tepian perairan,
teknologi pengolahan limbah. Selain biaya disebut marginal aquatic plant ; tanaman air
yang mahal dan penerapan yang sulit, masih yang hidup pada bagian permukaan perairan,
kuatnya pemikiran dan anggapan sebagian disebut floating aquatic plant ; tanaman air
besar masyarakat bahwa pembuangan limbah yang hidup melayang di dalam perairan,
rumah tangga secara langsung ke lingkungan disebut submerge aquatic plant ; dan tanaman
tidak akan menimbulkan dampak yang serius. air yang tumbuh pada dasar perairan, disebut
Dalam kondisi demikian, diperlukan suatu the deep aquatic plant.
sistem pengolahan limbah rumah tangga yang Kemampuan tanaman air
selain murah dan mudah diterapkan, juga dapat menjernihkan limbah cair akhir-akhir ini
memberi hasil yang optimal dalam mengolah banyak mendapat perhatian. Berbagai

136
Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 136-144

penemuan tentang hal tersebut telah bioremediasi dengan baku mutu yang telah
dikemukakan oleh para peneliti, baik yang ditetapkan.
menyangkut proses terjadinya penjernihan
limbah, maupun tingkat kemampuan beberapa 2. Metode Penelitian
jenis tanaman air. Hal tersebut antara lain Penelitian ini dilakukan pada bulan
dikemukakan oleh Stowell (2000) yang Oktober 2007 sampai Pebruari 2008 di
menyatakan bahwa tanaman air memiliki Laboratorium Bioteknologi Growth Centre
kemampuan secara umum untuk menetralisir Kopertis Wilayah IX, Jl.Perintis Kemerdekaan
komponen-komponen Km.8 Makassar. Alat utama yang digunakan
tertentu di dalam perairan, dan hal tersebut adalah kolam-kolam buatan ukuran 1.5 m x
sangat bermanfaat dalam proses pengolahan 1.0 m x 0.5 m beserta kelengkapannya, alat-
limbah cair. Selanjutnya Suriawiria (2003) alat pengumpul dan penampung limbah cair
mengemukakan bahwa penataan tanaman air di rumah tangga, serta peralatan untuk uji
dalam suatu bedengan-bedengan kecil dalam laboratorium. Adapun bahan penelitian adalah
kolam pengolahan dapat berfungsi sebagai tanaman air dan limbah cair rumah tangga.
saringan hidup bagi limbah cair yang Tanaman air terdiri atas empat jenis, yaitu
dilewatkan pada bedengan. Hal tersebut Mendong (Iris sibirica), Teratai (Nymphaea
menunjukkan bahwa kemampuan tanaman air firecrest), Kiambang (Spirodella polyrrhiza)
untuk menyaring bahan-bahan yang larut di dan Hidrilla (Hydrilla verticillata).
dalam limbah cair potensial untuk dijadikan Tanaman air ditanam dan
bagian dari usaha pengolahan limbah cair. disimulasikan pada kolam-kolam buatan
Demikian pula yang dikemukakan oleh Reed dengan empat komposisi, yakni tanpa tanaman
(2005) bahwa proses pengolahan limbah cair air, 2 jenis tanaman air, 3 jenis tanaman air,
dalam kolam yang menggunakan tanaman air dan 4 jenis tanaman air. Tanaman tersebut
terjadi proses penyaringan dan penyerapan dipelihara hingga mencapai kondisi segar dan
oleh akar dan batang tanaman air, proses siap untuk diberi perlakuan.
pertukaran dan penyerapan ion, dan tanaman Limbah cair rumah tangga
air juga berperan dalam menstabilkan dikumpulkan dari beberapa sumber
pengaruh iklim, angin, cahaya matahari dan permukiman, yang kemudian dicampur secara
suhu. merata. Selanjutnya, limbah diencerkan dalam
Berdasarkan berbagai fakta dan 4 konsentrasi, yaitu 100%, 50%, 25% dan
penemuan tersebut, maka peluang untuk 12.5%. Pemberian limbah pada tanaman
memanfaatkan tanaman air pada proses percobaan dilakukan berdasakan rancangan
bioremediasi limbah rumah tangga sangat faktorial. Pengambilan contoh air limbah
memungkinkan, sehingga diperlukan suatu pada kolam percobaan dilakukan 48 jam
penelitian untuk memperoleh fakta-fakta setelah pemberian limbah. Contoh-contoh
ilmiah yang lebih detail. Untuk itu maka suatu tersebut, dianalisis di laboratorium untuk
penelitian dalam bentuk simulasi tanaman air mengetahui kualitas fisik, kimia dan
telah dilaksanakan dengan tujuan untuk mikrobiologisnya setelah melalui proses
mengetahui, sejauhmana pengaruh bioremediasi. Kualitas fisik yang diukur
bioremediasi yang menggunakan tanaman air, meliputi suhu, kekeruhan dan padatan
terhadap peningkatan kualitas limbah rumah tersuspensi. Kualitas kimia meliputi, pH, DO,
tangga, bagaimana peranan komposisi tanaman BOD dan COD, sedangkan kualitas
air dan pengenceran limbah terhadap mikrobiologis meliputi kandungan bakteri
efektivitas pengolahan limbah, bagaimana Coliform dan Escherichia coli.
kemampuan empat jenis tanaman air, yakni Untuk mengetahui efek bioremediasi
Mendong (Iris sibirica), Teratai (Nympahea terhadap kualitas limbah rumah tangga,
firecrest), Kiambang (Spirodella polyrrhiza) digunakan analisis sidik ragam dengan
dan Hidrilla (Hydrilla ferticillata), dalam rancangan faktorial. Untuk mengetahui efek
meningkatkan kualitas limbah, serta pengenceran dan komposisi tanaman air
mengetahui perbandingan kualitas limbah digunakan uji lanjutan dengan uji beda nyata
rumah tangga yang telah melalui proses terkecil (BNT). Pada uji tersebut, dapat pula
diketahu kemampuan setiap komposisi

137
Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 136-144

tanaman air dalam menurunkan atau tersuspensi yang paling besar juga terjadi
meningkatkan setiap peubah yang diuji. pada komposisi empat, yakni sebesar 66.95
%. Hasil tersebut lebih baik jika
3. Hasil dan Pembahasan dibandingkan dengan hasil pengolahan
3.1. Hasil Penelitian. limbah dengan kolam tanpa tanaman air,
Setela dilakukan uji laboratorium sebagaimana yang dilaporkan oleh Hyde
terhadap kualitas fisik, kimia dan dan Ross (2004) bahwa pada sistem
mikrobiologis limbah rumah tangga yang tersebut kekeruhan dan padatan tersuspensi
telah mengalami proses bioremediasi secara dapat diturunkan 40 – 60%. Kekeruhan
simulasi dengan beberapa komposisi, maka limbah setelah mengalami proses
diperoleh hasil sebagaimana yang dimuat bioremediasi adalah sebesar 27.99 NTU,
dalam Tabel Lampiran 1, Tabel Lampiran 2 sedang padatan tersuspensi sebesar 39.89
dan Tabel Lampiran 3. mg/l. Suatu perairan yang tingkat
kekeruhannya lebih dari 20 NTU, masih
3.2. Pembahasan berbahaya bagi kehidupan biota di
a. Efek Bioremediasi Terhadap Kualitas dalamnya, karena mengganggu aktivitas
Fisik Limbah serta metabolisme yang berlangsung di
Efek bioremediasi terhadap suhu daamnya. Sedangkan padatan teruspensi
limbah menunjukkan bahwa penurunan yang dibolehkan untuk suatu perairan adala
suhu terjadi mulai pada komposisi dua tidak lebih dari 100 mg/l. Dengan demikian
sampai komposisi empat. Besarnya maka limbah rumah tangga yang telah
penurunan yang terjadi, berbeda nyata mengalami bioremediasi masih memiliki
antara satu komposisi dengan komposisi tingkat kekeruhan yang berbahaya, sedang
lain. Efek bioremediasi yang optimal terjadi padatan tersuspensinya sudah memenuhi
pada komposisi empat dengan penurunan persyaratan yang telah ditetapkan.
suhu sebesar 10.7%. Hasil tersebut lebih
baik jika dibandingkan dengan sistem b. Efek Bioremediasi Terhadap Kualitas
pengolahan limbah dengan oksidasi dan Kimia Limbah
sistem simulasi pengenceran. Middlebrooks Kenaikan pH limbah terjadi pada
dan Al-Layla (2001) melaporkan bahwa komposisi dua, tiga dan empat. Besarnya
pada sistem pengolahan limbah rumah kenaikan pH berbeda nyata antara satu
tangga dengan kolam oksidasi tejadi dengan yang lain, dan kenaikan terbesar
penurunan suhu sebesar 5 – 10%, terjadi pada komposisi empat, yakni sebesar
sedangkan Wagini, at al (2000) melaporkan 0,5 atau 7,46% dari suhu limbah sebelum
bahwa penurunan limbah rumah makan mengalami bioremediasi.
dengan sistem simulasi pengenceran Peningkatan pH yang terjadi pada
sebesar 7.41%. Hasil yang diperoleh pada percobaan ini lebih tinggi jika
percobaan ini menunjukkan bahwa suhu dibandingkan dengan peningkatan pH yang
limbah rumah tangga setelah mengalami terjadi pada pengolaan limbah dengan
proses bioremediasi adala sebesar 25 0C. sistem kolam aerasi tanpa tanaman air,
Menurut Sugiharto (2003), suhu 22 – 25 0C sebagaimana yang dilaporkan oleh
adalah suhu normal perairan yang Middlebrooks (2001), bahwa sistem
memungkinkan berlangsungnya kehidupan pengolahan limbah dengan kolam aerasi
secara normal di dalamnya, baik kehidupan dapat meningkatkan pH limbah 2,5 – 5,5 %.
hewan maupun nabati. Hasil bioremediasi optimal pada
Penurunan kekeruhan dan percobaan ini menunjukkan bahwa pH
padatan tersuspensi terjadi mulai pada akhir limbah adalah 7.2. Sebagaimana
komposisi dua sampai komposisi empat. diketahui bahwa pada pH 6 – 9, kehidupan
Besarnya penurunan yang terjadi, berbeda biota dalam suatu perairan dapat
nyata antara sau komposisi dengan berlangsung secara normal, baik kehidupan
komposisi lain. Penurunan kekeruhan hewan maupun tumbuan air, karena dalam
paling besar terjadi pada komposisi empat, kondisi tersebut proses-proses kimia dan
sebesar 78.24%, dan penurunan padatan mikrobiologis yang menghasilkan senyawa

138
Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 136-144

yang berbahaya bagi kehidupan biota serta 68,63%, sehingga kandungan CO2 limbah
kelestarian lingkungan, tidak terjadi. turun dari 36.25 mg/l menjadi 11.59 mg/l.
Dengan demikian maka pH limbah rumah Dalam suatu perairan, CO2 dapat
tangga yang telah melalui proses menimbulakn efek toksik terhadap biota,
bioremediasi tela memenuhi syarat untuk terutama hewan air apabila kadar CO2
dilepas ke lingkungan. tersebut lebih dari 20 mg/l. Dengan
Efek bioremediasi terhadap oksigen demikian maka kadar CO2 limbah rumah
terlarut menunjukkan bahwa peningkatan tangga yang telah melalui proses
oksigen terlarut terjadi pada komposisi dua, bioremediasi, telah memenuhi syarat untuk
tiga dan empat dan berbeda nyata antara dilepas ke lingkungan.
ketiganya. Peningkatan terbesar terjadi
pada komposisi empat yakni mencapai c. Efek Bioremediasi Terhadap Kualitas
100.78% yakni dari 1,28 mg/l menjadi 3,03 Mikrobiologi Limbah
mg/l. Hasil tersebut lebih baik jika Kandungan Coliform pada limbah
dibandingkan dengan beberapa sistem rumah tangga mengalami penurunan pada
pengelolaan limbah sebelumnya, komposisi dua, tiga dan empat. Penurunan
sebagaimana yang dilaporkan oleh Thiesen terbesar terjadi pada komposisi empat yakni
dan Martin (2002), bahwa beberapa sebesar 86.46% atau turun dari 9.6 x 104
pengolahan limbah dengan kolam menjadi 1.3 x 104 sel/ml.
stabilisasi dan menggunakan tanaman air Penurunan kandungan Coliform pada
yang berbeda, menunjukkan bahwa proses bioremediasi tidak terjadi secara
peningkatan oksigen tertinggi mencapai langsung melalui proses penyerapan oleh
30%. tanaman air, melainkan melalui proses
Kandungan oksigen terlarut pada penguraian terlebih dahulu kenudian diikuti
lhimbah rumah tangga yang telah oleh proses penyerapan (Suriawiria, 2003).
mengalami proses bioremediasi dengan Sebagaimana diketahui bahwa Coliform
simulasi tanaman air mencapai 3.03 mg/l. merupakan salah satu mikroorganisme
Hal tersebut menunjukkan bahwa limbah fakultatif aerob yang memanfaatkan bahan-
tersebut telah memenuhi syarat untuk bahan organic di dalam perairan sebagai
dilepas ke lingkungan, sebagaimana media tempat hidup. Melalui proses
dikemukakan oleh Jenie dan Rahayu (1993) penyaringan, penguraian dan penyerapan
bahwa pada perairan dengan kadar oksigen bahan-bahan organic tersebut sebagian
terlarut 3.00 – 5.00 ml/g telah memenuhi diantaranya mengalami perubahan bentuk
syarat untuk dilepas ke lingkungan, karena menjadi lebih sederhana, dan yang lain
pada kondisi seperti itu proses anaerobik di diserap oleh tanaman air. Dalam keadaan
dalam perairan dapat dicegah, sehingga demikian Coliform tidak dapat lagi
kehidupan organisme didalamnya dapat memanfaatkan bahan-bahan organic
berlangsung. tersebut untuk kelangsungan hidupnya.
Efek bioremediasi terhadap penurunan Akibatnya Coliform mengalami kondisi
BOD dan COD terjadi pada komposisi dua, kritis dan kematian, sehingga jumlahnya
tiga dan empat. Penurunan terbesar terjadi jumlahnya menjadi berkurang.
pada komposisi empat yakni 39.75% untuk Dalam Baku Mutu untuk keperluan
BOD dan 43.36% untuk COD. Penurunan umum ditetapkan bahwa kandungan
tersebut lebih besar jika dibandingkan Coliform yang diperbolehkan adalah
dengan system pengolahan limbah rumah maksimal 20.000 sel/100 ml. Dengan
tangga dengan kolam stabilisasi permukaan demikian maka kandungan Coliform limbah
terbuka, dimana pada system tersebut rumah tangga yang telah melalui proses
penurunan yang terjadi sebesr 30% (Nolte, bioremediasi lebih rendah dari jumlah yang
2003) diperbolehkan sehingga telah memenuhi
Efek bioremediasi terhadap penurunan syarat untuk dilepas ke lingkungan.
CO2 terjadi pada komposisi dua, tiga dan Efek bioremediasi terhadap kandungan
empat, dan penurunan yang terbesar adalah E.coli terjadi pada komposisi satu, dua, tiga
pada komposisi empat yakni sebesar dan empat, dan penurunan terbesar terjadi

139
Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 136-144

pada komposis empat. Hasil bioremediasi yang optimal terjadi pada percobaan
yang optimal dapat menurunkan kandungan yang menggunakan empat jenis
E.coli limbah rumah tangga dari 0.6 x 104 tanaman air, yaitu Mendong (Iris
sel/100 ml menjadi 0.1 x 104 sel/100 ml. sibirica), Teratai (Nymphaea firecrest),
Kandungan tersebut masih lebih tinggi dari Kiambang (Spirodella polyrrhiza) dan
jumlah yang diperbolehkan pada Baku Mutu Hidrilla (Hydrilla verticillata);
air untuk kebutuhan umum . Dengan 3) Kualitas limbah rumah tangga yang
demikian maka kandungan E.coli limbah telah melalui proses bioremediasi
rumah tangga yang telah melalui proses dengan simulasi tanaman air, pada
bioremediasi, belum memenuhi syarat untuk umumnya telah memenuhi syarat untuk
dilepas ke lingkungan. Menurut dilepas ke lingkungan, baik ditinjau
Trihendrokesowo (1998), Fardiaz (1992) dan dari kualitas fisik dan kimia, maupun
Suriawiria (2003), suatu perairan yang kualitas mikrobiologis.
mengandung E.coli dalam jumlah yang tinggi
dapat menyebabkan terjadinya berbagai 4.2. S a r a n
gangguan bagi kesehatan manusia. Disarankan untuk melakukan
Sebagaimana diketahui bahwa kehadiran penataan terhadap tanaman air pada
E.coli merupakan indikasi hadirnya pula kolam-kolam yang ada di sekitar
mikroba pathogen lain yang berasal dari permukiman, baik komposisi dan
saluran pencernaan. jenisnya, maupun penempatannya
Belum terpenuhinya syarat Baku Mutu pada bagian-bagian perairan agar
utuk kandungan E.coli limbah rumah tangga pada kolam tersebut dapat
menunjukkan bahwa efektivitas bioremediasi berlangsung proses bioremediasi
pada percobaan ini perlu ditingkatkan, agar limbah dengan baik, sehingga pada
kandungan E.coli dapat diturunkan menjadi saatnya nanti diharapkan system
lebih kecil. Kemampuan tanaman ir untuk simulasi tanaman air dapat menjadi
menyaring, menguraikan dan menyerap suatu model pengolahan limbah
bahan organic di dalam limbah perlu rumah tangga yang digunakan oleh
diimbangi dengan penurunan kandungan masyarakat.
E.coli sebelum dilakukan proses
bioremediasi. Selain itu waktu pengolahan
perlu ditingkatkan dari 48 jam menjadi Daftar Pustaka
minimal 72 jam, karena menurut Sergeg
(1998), efek yang optimal pada penyaringan Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara.
bahan pencemar oleh tanaman air terjadi Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
setelah berlangsung selama tiga hari.
Jenie, B.S.L. dan Rahayu W.P. 1993.
Penanganan Limbah Industri Pangan,
4. Simpulan dan Saran
Penerbit Kanisisus, Yogyakarta
4.1. Simpulan
1) Bioremediasi dengan simulasi tanaman Haryoto, K. 1999. Kebijakan dan Strategi
air dapat meningkatkan kualitas limbah Pengolahan Limbah dalam Menghadapi
rumah tangga, yang meliputi kualitas Tantangan Global. Di dalam : Teknologi
fisik, kimia dan mikrobiologis. Pengolahan Limbah dan Pemulihan
Parameter limbah yang diuji Kerusakan Lingkungan. Prosiding
mengalami peningkatan kualitas dari Seminar Nasional, Jakarta 13 Juli 1999,
kondisi yang tidak memenuhi syarat BPPT, Jakarta.
menjadi memenuhi syarat sesuai baku Middlebrooks, E. J. and M.A. Al-Layla. 2001.
mutu yang telah ditetapkan; Handbook of Wastewater Collection and
2) Komposisi tanaman air dan Treatment, Garlan STMP Press, New
pengenceran limbah berinteraksi dalam York.
memberikan efek terhadap peningkatan
kualitas limbah rumah tangga pada Reed, S.C., E.J. Midlebrooks and R.W Crites.
proses bioremdiasi. Efek bioremediasi 2005. Natural System of Waste

140
Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 136-144

Management and Treatment McGraw Sumirat, S.J. 1996. Kesehatan Lingkungan,


Hill Book Company, New York Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Seregeg, I.G. 1998. Efektivitas Saringan Suriawiria, U. 2003. Mikrobiologi Air dan
Bioremediasi Tnaman Mendong Dasar-Dasar Pengolahan Buangan
(Scirpus littoralis Schard), Kangkung Secara Biologis, Penerbit Alumni,
(Ipomea acuatica Forsk) dan Tales- Bandung.
Talesan (Typhonium Miq) melalui Uji
Thiesen, A. and C.D. Martin. 2002. Municipal
Coba Lapang Skala Kecil dan Simulasi
Wastewater Purification in a Vegetatif
di Laboratorium [ Disertasi ], Bogor,
Filter Bed in Emmitsburg, Marylnd,
Institut Pertanian Bogor, Program
Magnolis Publishing, Orlando
Pascasarjana.
Trihendrokesowo. 1998. Mikrobiologi Bakteri
Stowel, R.R., J.C. Ludwig and G.
Khusu,. Bagian Mikrobiologi Fakultas
Thobanoglous. 2000. Towad the
Kedokteran Universitas Gajahmada,
Rational Design of Aquatic Treatments
Yogyakarta
of Wastewater, Departement of Civil
Engineering and Land, Air and Wagini., Karyoto, Q. Huda. 2000. Studi Fisis
Wastewater Resources, University of DaurUlang Limbah Cair Industri
California, California. Peternakan Sapi dengan Simulasi
Pengemceran. Jurnal Manusia dan
Sugiharto. 2003. Dasar-Dasar Pengolahan Air
Lingkung,. Pusat Penelitian Lingkungan
Limbah, Universitas Indonesia, Jakarta
Hidup Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta.

141
Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 136-144

Tabel Lampiran 1. Hasil Pengukuran Kualitas Fisik Limbah Rumah Tangga Setelah Melalui Proses
Bioremediasi

P e u b a h
Perlakuan Suhu ( OC ) Kekeruhan ( Pdtn. Terssp. ( mg/l )
NTU )
AOBO 28.00 126.62 120.56
AOB1 28.00 127.83 120.00
AOB2 28.00 127.00 118.20
AOB3 28.00 126.20 114.70
A1BO 27.00 64.15 73.88
A1B1 27.00 63.20 70.00
A1B2 27.00 62.50 58.86
A1B3 27.00 61.80 45.00
A2BO 26.25 58.54 53.10
A2B1 26.25 48.03 50.10
A2B2 26.25 39.88 45.00
A2B3 25.25 37.24 40.00
A3BO 25.25 34,54 41.14
A3B1 25.25 28.06 40.05
A3B2 25.25 25.85 39.16
A3B3 24.25 23.52 38.00
Keterangan :
AO = Tanpa tanaman air BO = Tanpa pengenceran
A1 = 2 jenis tanaman air B1 = Pengenceran 50 %
A2 = 3 jenis tanaman air B2 = Pengenceran 25 %
A3 = 4 jenis tanaman air B3 = Pengenceran 12.5

142
Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 136-144

Tabel Lampiran 2. Hasil Pengukuran Kualitas Kimia Limbah Rumah Tangga Setelah Melalui Proses
Bioremediasi

Perlakuan P e u b a h
pH DO (mg/l) BOD (mg/l) COD (mg/l) CO2 (mg/l )
AOBO 6.70 1.28 163.00 368.05 36.25
AOB1 6.70 1.31 162.00 367.60 36.18
AOB2 6.70 1.35 160.05 367.50 36.12
AOB3 6.70 1.39 158.62 367.00 35.00
A1BO 6.90 1.50 140.85 309.90 24.50
A1B1 6.90 1.67 139.60 309.80 24.20
A1B2 6.90 1.70 138.50 309.70 24.14
A1B3 6.90 1.74 138.20 309.30 24.00
A2BO 7.00 1.87 112.65 265.60 22.80
A2B1 7.00 1.92 111.95 264.85 20.86
A2B2 7.00 1.96 111.50 263.58 16.92
A2B3 7.00 2.05 110.65 263.33 14.64
A3BO 7.20 2.16 100.12 224.01 12.53
A3B1 7.20 2.20 99.12 205.34 12.37
A3B2 7.20 2.88 98.30 202.55 10.72
A3B3 7.20 3.03 98.30 202.00 10.72
Keterangan :
AO = Tanpa tanaman air BO = Tanpa pengenceran
A1 = 2 jenis tanaman air B1 = Pengenceran 50 %
A2 = 3 jenis tanaman air B2 = Pengenceran 25 %
A3 = 4 jenis tanaman air B3 = Pengenceran 12.5

143
Jurnal Bumi Lestari, Vol. 8 No. 2, Agustus 2008. hal. 136-144

Tabel Lampiran 3. Hasil Pengukuran Kualitas Mikrobiologis Limbah Rumah Tangga Setelah Melalui
Proses Bioremediasi

P e u b a h
Perlakuan E. coli ( sel/100 ml ) Coliform ( sel/100 ml )
AOBO 9.6 x 104 0.6 x 104
AOB1 9.6 x 104 0.5 x 104
AOB2 9.4 x 104 0.5 x 104
AOB3 8.9 x 104 0.5 x 104
A1BO 5.9 x 104 0.4 x 104
A1B1 5.5 x 104 0.3 x 104
A1B2 4.8 x 104 0.3 x 104
A1B3 4.3 x 104 0.3 x 104
A2BO 3.6 x 104 0.1 x 104
A2B1 3.2 x 104 0.1 x 104
A2B2 2.9 x 104 0.1 x 104
A2B3 2.7 x 104 0.1 x 104
A3BO 1.4 x 104 0.1 x 104
A3B1 1.4 x 104 0.1 x 104
A3B2 1.3 x 104 0.1 x 104
A3B3 1.2 x 104 0.1 x 104

Keterangan :
AO = Tanpa tanaman air BO = Tanpa pengenceran
A1 = 2 jenis tanaman air B1 = Pengenceran 50 %
A2 = 3 jenis tanaman air B2 = Pengenceran 25 %
A3 = 4 jenis tanaman air B3 = Pengenceran 12.5

144