Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

“ MAQOMAT DAN AHWAL”

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akhlak dan Tasawuf

Dosen Pengampu Muh. Mahbub Maulana, S.PSI.I., M.Pd.

Anggota kelompok 4 :

1. Wahyu Saputra 185211087


2. Ita Indriyani 185211093
3. Alviyan Anggi Falantana 185211117

MANAJEMEN BISNIS ISLAM


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
IAIN SURAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu‟alaikum Wr.Wb

Alhamdulillahhirobbil „Alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa ta‟ala yang


senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Maqamat dan Ahwal Dalam
Tasawuf”
Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda besar Nabi
Muhammad ‫ﷺ‬, para sahabat dan keluarganya yang telah membawa peradaban
islam dari zaman kegelapan ke zaman terang benderang seperti saat ini, Seperti
keberhasilan dalam hal mengajarkan hal nilai kebenaran dan peradaban manusia.
Terima kasih kepada teman-teman semua yang ikut andil dalam memberi
suport dan motivasi dalam rangka menyusun makalah ini. Dan kami memohon
maaf apabila penyusunan makalah ini banyak kesalahan dan kekurangan. Mudah-
mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamu‟alaikum Wr.Wb

Sukoharjo, 15 Februari 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
C. Tujuan ..................................................................................................................... 2
BAB II................................................................................................................................. 3
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 3
A. Pengertian Maqamat ............................................................................................... 3
B. Macam-Macam Maqamat ....................................................................................... 4
1. Al-Taubah ........................................................................................................... 5
2. Wara‟ .................................................................................................................. 7
3. Al – Zuhd ............................................................................................................. 8
4. Al-Faqr................................................................................................................ 9
5. Ash- Sabr .......................................................................................................... 10
6. Tawakal ............................................................................................................. 12
7. Ridha ................................................................................................................. 13
C. Pengertian Ahwal .................................................................................................. 14
D. Macam-Macam Ahwal ......................................................................................... 16
1. Muraqabah........................................................................................................ 16
2. Qurb .................................................................................................................. 17
3. Mahabbah ......................................................................................................... 18
4. Khauf ................................................................................................................. 20
5. Raja‟.................................................................................................................. 21
6. Thuma‟ninah ..................................................................................................... 22
7. Yaqin ................................................................................................................. 23
E. Perbedaan dan Persamaan Antara Maqamat dan Ahwal ..................................... 24
BAB III ............................................................................................................................. 26
PENUTUP ........................................................................................................................ 26
A. Kesimpulan .............................................................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 27

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tasawuf merupakan salah satu fenomena dalam islam yang memusatkan
perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia, yang selanjutnya
menimbulkan akhlak mulia. Melalui tasawuf ini seseorang dapat mengetahui
tentang cara- cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkannya secara
benar.1

Wacana maqamat dan ahwal merupakan salah satu konsep yang sangat
penting dalam tasawuf. Hampir sebagian maestro sufi menggulirkan wacana
tentang maqamat dan ahwal sebagai tahapan-tahapan sekaligus keadaan-keadaan
spiritual yang mesti dijalani dan dipahmi oleh siapa pun yang akan menempuh
jalan sufistik.2

Tinjauan analisis terhadap tasawuf menunjukkan bahwa para sufi dengan


berbagai aliran yang dianutnya memiliki suatu konsepsi tentang jalan (Toriqot)
menuju Allah. Jalan ini dimulai dengan latihan rohaniah (Riyadoh), lalu secara
bertahap menempuh berbagai fase , yang dikenal dengan maqam (tingkatan), dan
hal (keadaan), dan berakhir dengan mengenal ma‟rifah (kepada Allah). Tingkat
pengenalan (ma‟rifah) menjadi tujuan yang umumnya banyak dikejar oleh para
sufi. Kerangka sifat dan prilaku sufi diwujudkan melalui amalan dan metode
tertentu yang disebut Toriqot, atau jalan untuk menemukan pengenalan (Ma‟rifah
kepada Allah).3

1
Miswar. (2017). MAQAMAT (TAHAPAN YANG HARUS DITEMPUH DALAM PROSES
BERTASAWUF) . Jurnal ANSIRU PAI, 8.
2
Zaprulkhan. (2016). Ilmu Tasawuf sebuah Kajian Tematik. Jakarta: Rajawali Pers.
3
Miswar, Loc.Cit.

1
Maka dalam pembahasan makalah kali ini, kita akan menjelaskan tentang
maqamat dan ahwal dalam tasawuf, yang mencakup tentang pengertian maqamat
dan ahwal, perbedaan keduanya, unsur-unsur mengenai maqamat dan ahwal, serta
diakhiri dengan sebuah kesimpulan mengenai signifikansi maqam dan ahwal bagi
kehidupan kita dewasa ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan maqamat ?
2. Apa yang dimaksud dengan ahwal ?
3. Apa saja unsur-unsur atau nilai-nilai dari maqamat dan ahwal ?
4. Apa perbedaan dari maqamat dan ahwal ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari maqamat
2. Untuk mengetahui pengertian dari ahwal
3. Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam maqamat dan
ahwal
4. Untuk mengetahui perbedaan antara maqamat dan ahwal

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Maqamat
Maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang secara bahasa
berarti pangkat atau derajat. Dalam bahasa Inggris, maqamat disebut dengan
istilah stations atau stages. Sementara menurut istilah ilmu tasawuf, maqamat
adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh dengan
melalui peribadatan, mujahadat dan lain-lain, latihan spritual serta (berhubungan)
yang tidak putus-putusnya dengan Allah swt. atau secara teknis maqamat juga
berarti aktivitas dan usaha maksimal seorang sufi untuk meningkatkan kualitas
spiritual dan kedudukannya (maqam) di hadapan Allah swt. dengan amalan-
amalan tertentu sampai adanya petunjuk untuk mengubah pada konsentrasi
terhadap amalan tertentu lainnya, yang diyaini sebagai amalan yang lebih tinggi
nilai spirituanya di hadapan Allah swt.4
Menurut al-Qusyairi yang dimaksud dengan maqam adalah hasil usaha
manusia dengan kerja keras dan keluhuran budi pekerti yang dimiliki hamba
Tuhan yang dapat membawanya kepada usaha dan tuntunan dari segala
kewajiban. Sedangkan al-Thusi memberikan pengertian yang berbeda sebagai
berikut:
‫ هللا‬ٚ‫بضبث ٗاىْقطبع إى‬ٝ‫٘ ٍِ اىؼببداث ٗاىَجبىذاث ٗاىش‬ٞ‫قبً ف‬ٝ ‫َب‬ٞ‫ هللا ف‬ٙ‫ذ‬ٝ ‫ٍقبً اىؼبذ‬.
“Kedudukan hamba di hadapan Allah yang diperoleh melalui kerja keras dalam
ibadah, kesungguhan melawan hawa nafsu, latihan-latihan kerohanian serta
menyerahkan seluruh jiwa dan raga semata-mata untuk berbakti kepada-Nya”.5
Menurut guru sufi kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, maqam bagaikan
berbagai dataran tinggi yang dapat dicapai seseorang dalam pendakian gunung,
tempat orang beristirahat dalam perjalanan ke puncak, tetapi tentu saja ia harus
terus berjuang untuk mencapai pucak.6

4
Ibid. hlm. 9
5
Asnawiyah. (2014). MAQAM DAN AHWAL: MAKNA DAN HAKIKATNYA DALAM
PENDAKIAN MENUJU TUHAN . Substantia, 81.
6
Zaprulkhan, Op. Cit. Hlm. 43.

3
Dalam rangka meraih derajat kesempurnaan, seorang sufi dituntut untuk
melampaui tahapan-tahapan spiritual, memiliki suatu konsepsi tentang jalan
(tharikat) menuju Allah swt., jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniah
(riyadhah) lalu secara bertahap menempuh berbagai fase yang dalam tradisi
tasawuf dikenal dengan maqam (tingkatan).Perjalanan menuju Allah swt.
merupakan metode pengenalan (makrifat) secara rasa (rohaniah) yang benar
terhadap Allah swt. Manusia tidak akan mengetahui penciptanya selama belum
melakukan perjalanan menuju Allah swt. Walaupun ia adalah orang yang beriman
secara aqliyah. Sebab, ada perbedaan yang dalam antara iman secara aqliyah atau
logis-teoritis (al-iman al-aqli an-nazhari) dan iman secara rasa (al-iman asy-
syu‟ri adz-dzauqi).7
Tingakatan (maqam) adalah tingkatan seorang hamba di hadapan Allah tidak
lain merupakan kualitas kejiwaan yang bersifat tetap, inilah yang membedakan
dengan keaadaan spiritual (hal) yang bersifat sementara. Berdasarkan pengertian
di atas dapat dikatakan bahwa maqam dijalani seorang salik melalui usaha yang
sungguh-sungguh, sejumlah kewajiban yang harus ditempuh untuk jangka waktu
tertentu.8

B. Macam-Macam Maqamat
Maqamat dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion, tempat seorang calon
sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat
melanjutkan perjalan ke stasion berikutnya.9
Tentang berapa jumlah stasion atau maqamat yang harus ditempuh oleh
seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, di kalangan para sufi tidak sama
pendapatnya. Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-Ta‟arruf li Mazhab ahl
al-Tasawwuf, sebagai dikutip Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa
maqamat itu jumlahnya ada sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-shabr, al-faqr,
al-tawadlu‟, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah dan al-ma‟rifah.10

7
Miswar., Loc. Cit.
8
Ibid. Hlm. 10.
9
Ibid.
10
Ibid.

4
Sementara Al-Ghazali menyebutkan ada delapan, yaitu at-taubat, ash-shabr, al-
faqr, az-zuhud, at-tawakkal, al-mahhabah, al-ma‟rifah, dan ar-ridha.11
Adapun tingkatan maqam menurut Abu Nashr As-Sarraj, dapat disebutkan
sebagai berikut:
1. Tingkatan Taubat (At-Taubah);
2. Tingkatan pemeliharaan diri dari perbuatan yang haram dan makruh,
serta yang syubhat (Al-Wara‟);
3. Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (As-Zuhdu).
4. Tingkatan memfakirkan diri (Al-Faqru).
5. Tingkatan Sabar (Ash-Shabru).
6. Tingkatan Tawakkal (At-Tawakkul).
7. Tingkatan kerelaaan (Ar-Ridhaa).12
Adapun tingkatan maqamat secara umum, adalah sebagai berikut;

1. Al-Taubah
Dalam bahasa Indonesia, tobat bermakna “sadar dan menyesal
akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan beniat akan memperbaiki
tingkah laku dan perbuatan”. Maqam tobat (al-taubah) merupakan maqam
pertama yang harus dilewati setiap salik dan diraih dengan menjalankan
ibadah, mujahadah, dan riyadhah. Hampir semua sufi sepakat bahwa tobat
adalah maqam pertama yang harus dilalui setiap salik. Istilah tobat berasal
dari bahasa Arab, taba, yatubu, tobatan, yang berarti kembali, dan disebut
Al-Qur‟an sebanyak 87 kali dalam berbagai bentuk.13
Muhammad fu‟ad „abd al-Baqi menyebutkan bahwa istilah tobat
disebut Al-Qur‟an berulang kali dengan beragam bentuk kata, seperti taba,
tabu, tubtu, tubtum, atubu, tatuba, yabtu, yatûbu, yatûbû, yatûbûn, tub,
tûbû, al-taubi, taubah, taubatuhum, ta‟ibat, al-ta‟ibûn, tawwab, tawwaba,
al-tawwabin, matab, dan matâbâ. Istilah tobat diartikan sebagai berbalik

11
Ni'am, S. (2014). TASAWUF STUDIES: PENGANTAR BELAJAR TASAWUF. Yogyakarta: Ar-
Ruzz Media. Hlm. 144.
12
Zulkifli, & Jamaluddin. (2018). AKHLAK TASAWUF Jalan Lurus Mensucikan Diri. Yogyakarta
: Kalimedia. Hlm. 111.
13
Miswar, Op. Cit. Hlm. 11.

5
dan kembali kepada Allah dari dosa seseorang untuk mencari
pengampunannya.14
Al-Junaid berpandangan bahwa taubat memiliki tiga makna:
pertama, menyesali kesalahan, kedua, ketetapan hati untuk tidak kembali
pada apa yang telah dilarang Allah, dan ketiga, adalah menyelesaikan atau
membela orang yang teraniaya. Seperti halnya al-Junaid, Abu Ali al-
Daqqaq (w. 406 H/1015 M), membagi taubat menjadi tiga tahap. Tahap
awal adalah tawbat, tahap tengah adalah kembali (inabah) dan ketiga
adalah awbah. Al-Daqqaq menempatkan tawbah di awal awbah di akhir
dan inabah di antara keduanya. Menurut al-Daqqaq, siapa yang bertaubat
takut akan siksa, maka ia tergolong orang yang bertaubat. Siapapun yang
bertaubat karena mengharapkan pahala ilahi, ia berada dalam keadaan
inabah. Dan siapa yang bertaubat semat-mata memenuhi printah ilahi,
bukan karena ingin mendapat pahala maupun takut akan hukuman, ia
berada dalam keadaan awbah.15
Firman Allah ‫ ﷻ‬tentang taubat:
ۖ ‫ظ َٖ َش ٍِ ْْ َٖب‬َ ‫َْخَ ُٖ َِّ ِإ ََّل ٍَب‬ٝ‫َِ ِص‬ِٝ‫ُ ْبذ‬ٝ ‫ظَِ فُ ُشٗ َج ُٖ َِّ َٗ ََل‬ ْ َ‫حْ ف‬َٝ َٗ َِِّ ٕ‫بس‬
ِ ‫ص‬ َ ‫ضضَِْ ٍِ ِْ أ َ ْب‬ ُ ‫ ْغ‬َٝ ‫ث‬ ِ ‫َٗقُ ْو ِى ْي َُؤْ ٍَِْب‬
ْٗ َ ‫بء بُؼُ٘ َى ِخ ِٖ َِّ أ‬ِ ‫َْخَ ُٖ َِّ ِإ ََّل ِى ُبؼُ٘ىَ ِخ ِٖ َِّ أ َ ْٗ آ َبب ِئ ِٖ َِّ أ َ ْٗ آ َب‬ٝ‫َِ ِص‬ِٝ‫ ْبذ‬ُٝ ‫ُ٘ ِب ِٖ َِّ ۖ َٗ ََل‬ٞ‫ ُج‬ٰٚ َ‫ض ِْشبَِْ ِب ُخ َُ ِشٕ َِِّ َػي‬َٞ ‫َٗ ْى‬
ْ ‫غب ِئ ِٖ َِّ أ َ ْٗ ٍَب ٍَيَن‬
‫َج‬ َ ِّ ْٗ َ‫ أَخ ََ٘احِ ِٖ َِّ أ‬َِْٜ‫ إِ ْخ َ٘اِّ ِٖ َِّ أ َ ْٗ ب‬َِْٜ‫َبء بُؼُ٘ىَخِ ِٖ َِّ أَ ْٗ إِ ْخ َ٘اِّ ِٖ َِّ أ َ ْٗ ب‬ ِ ْ‫أ َ ْبَْبئِ ِٖ َِّ أ َ ْٗ أ َ ْب‬
ۖ ‫بء‬ َ ِّْ‫ث اى‬
ِ ‫غ‬ ِ ‫ َػ ْ٘ َسا‬ٰٚ َ‫ظ َٖ ُشٗا َػي‬ ْ َٝ ٌْ َ‫َِ ى‬ِٝ‫ط ْف ِو اىَّز‬
ّ ِ ‫اىش َجب ِه أ َ ِٗ اى‬ ِ ْ ٜ‫ ِْش أُٗ ِى‬ٞ‫َِ َغ‬ِٞ‫ ََبُّ ُٖ َِّ أ َ ِٗ اىخَّب ِبؼ‬ْٝ َ ‫أ‬
ّ ِ ٍَِِ ‫اْل ْسبَ ِت‬
َُُ٘‫َُّٔ ْاى َُؤْ ٍَُُِْ٘ َىؼَيَّ ُن ٌْ ح ُ ْف ِيح‬َٝ‫ؼًب أ‬َِٞ ‫اَّللِ َج‬
َّ َٚ‫َْ ِخ ِٖ َِّ ۚ َٗحُ٘بُ٘ا إِى‬ٝ‫َِ ٍِ ِْ ِص‬ِٞ‫ ُْخف‬ٝ ‫ُ ْؼيَ ٌَ ٍَب‬ٞ‫َض ِْشبَِْ بِأ َ ْس ُج ِي ِٖ َِّ ِى‬ٝ ‫َٗ ََل‬
Artinya: “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman,
agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa)
terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,
dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada
suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-
putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-
laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra
saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam)

14
Ibid.
15
Sodirman,MENHADIRKAN NILAI-NILAI SPIRITUAL TASAWYF DALAM PROSES
MENDIDIK: Jurnal At- Ta‟dib Vol. 7 No. 2 Julli- Desember 2014. Hlm. 44.

6
mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-
laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah
mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-
orang yang beriman, agar kamu beruntung.”(Q.S An-Nur ayat 31).

2. Wara‟
Kata wara‟ berasal dari bahasa Arab, wara‟a, yari‟u, wara‟an yang
bermakna berhati-hati, tetapi dalam kamus bahasa Indonesia warak
bermakna “patuh dan taat kepada Allah.”.16

Dalam perspektif tasawuf, wara‟ bermakna menahan diri dari hal-


hal yang tidak pantas, sia-sia dan menjauhkan diri dari hal-hal haram
(terlarang), meragukan (syubhat). Abu Ali Daqaq menjelaskan wara‟
adalah meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang
tidak berarti.17

Jadi, wara‟ berarti meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat:


berupa ucapan, penglihatan, pendengaran, perbuatan, ide atau aktivitas lain
yang dilakukan seorang muslim. Semua itu jika tidak bermanfaat, tidak
dilakukannya. Karena itu, orang yang birsifat wara‟ adalah yang terus
berusaha agar setiap ucapannya memberi manfaat bagi diri sendiri atau
orang lain. Jika tidak, ia memilih diam.demikian juga penglihatan,
pendengaran, perbuatan atau ide, sekiranya memberi manfaat akan
dilakukannya.18

Menurut para sufi wara‟ itu ada dua macam yaitu:

a. Wara‟ lahiriah, yaitu tidak mempergunakan anggota tubuhnya untuk


hal yang tidak diridai Allah swt.
b. Wara‟ batin, yaitu tidak mengisi hatinya kecuali hanya Allah swt.19

16
Miswar, Op. Cit. Hlm. 13.
17
Sodiman, Op. Cit. Hlm. 45.
18
Ibid.
19
Miswar, Loc. Cit.

7
3. Al – Zuhd
Secara etimologis, zuhud berarti ragaba „ansyai‟in wa tarakahu,
artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zuhada fi al-
dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.20

Kata Zuhud berasal dari bahasa Arab, zahada, yazhudu, zuhdan


yang artinya menjauhkan diri, tidak menjadi berkeinginan, dan tidak
tertarik. Dalam bahasa Indonesia, zuhud berarti “perihal meninggalkan
keduniawian; pertapaan”.21 Sebagian ulama sufi juga memaknai zuhud
sebagai meninggalkan kesenangan fana duniawi demi kebahagiaan abadi
ukhrawi.22

Menurut dari pengertiannya Zuhud dapat dipahami bahwa


tingkatan zuhud pada dasar nya ada tiga yaitu:

a. Orang yang zuhud terhadap dunia, padahal ia suka padanya,


hatinya condong padanya dan nafsunya selalu menoleh kepadanya;
kendati demikian, dilawannya hawa nafsu dan keinginan terhadap
kenikmatan duniawi itu. Orang ini disebut mutazzahid (yang
berusaha untuk hidup zuhud).
b. Orang yang zuhud terhadap dunia dengan mudah, karena ia
menganggap terhadap perkara keduniaan itu sepele (sedikit sekali
manfaat dan gunanya), meskipun demikian ia menginginkannya.
Tetapi ia melihat kezuhudannya dan berpaling padanya.
c. Orang yang zuhud terhadap dunia,tetapi zuhud terhadap ke-zuhud-
annya itu, sehingga tidak terasa bahwa dirinya telah meninggalkan
jubah keduniannya.23
Abu nasr- as-Sarraj menguraikan tiga level zuhud. Pertama, para
pemula. Mereka adalah orang-orang yang tangannya kosong dari
kepemilikan, sebagaimana hatinya juga kosong dari apa yang kosong
ditangannya. Ini sesuai dengan jawaban al-Junaid rahimahullah tatkala

20
Ibid. Hlm. 14.
21
Ibid.
22
Zaprulkhan, Op. Cit. Hlm. 49.
23
Miswar, Loc. Cit.

8
ditanya tentang zuhud, “zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan,
dan kosongnya hati dari ketamakan.24

Kedua, adalah orang-orang yang sanggup mengaktualisasikan


kebenaran secara hakiki dalam berzuhud. Kelompok kedua ini adalah
sebagaimana yang diungkapkan oleh Ruwaim bin Ahmad tatkala ditanya
tentang zuhud, “zuhud adalah meninggalkan kepentingan-kepentingan
nafsu dari seluruh bagian yang ada di dunia.”25

Ketiga, adalah mereka yang tahu dan yakin, bahwa andaikan


seluruh duni ini menjadi milikya sebagai sesuatu yang halal dan tidak
bakal dihisab di akhirat nanti serta tidak mengurangi sedikit pun
kedudukan mereka di sisi Allah, lalu mereka berzuhud dari semua itu
hanya karena Allah ‫ﷻ‬. Tentu zuhud mereka adalah dari sesuatu (dunia)
yang sejak Allah menciptakannya Dia tidak pernah melihatnya.26

Firman Allah tentang zuhud ;

َّ ٍَِِ ِٔ ِٞ‫َٗش ََش ُْٗٓ بِثَ ََ ٍِ بَ ْخ ٍظ دَ َسإ ٌَِ ٍَ ْؼذ ُٗدَ ٍة َٗمَبُّ٘ا ف‬
َِِٝ‫اىضا ِٕذ‬

Artinya: “Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah,


yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.”(Q.S.
Yusuf ayat 20).

“Dan mereka tidak tertarik (min al-Zahidin).” Yang dimaksud


dengan al-Zahidin dalam ayat tersebut mengandung makna, “tidak tertarik
hatinya‟ kepada harga jual Yusuf.27

4. Al-Faqr
Secara harfiah fakir biasanya diartikan sebagai orang yang
berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi fakir
adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita.28

24
Zaprulkhan, Loc. Cit.
25
Ibid.
26
Ibid.
27
Sodiman, Op. Cit. Hlm. 46.
28
Miswar, Op. Cit. Hlm. 15

9
Dalam tasawuf, faqr berarti senantiasa merasa butuh kepada Allah.
Seorang hamba menyatakan diri tidak memiliki sesuatu, bebas dari segala
jenis keterikatan kepada hal-hal duniawi, merasakan kebutuhan dan
ketidakberdayaan di hadapan Allah.29

Jadi, faqir bukan orang yang tidak punya bekal hidup, tetapi orang
yang bersih atau kosong hatinya dari keinginan duniawi. Ini juga
bermakna bahwa faqir itu adalah orang yang hanya memperkaya rohani
atau batinnya dengan Allah.30

Firman Allah yang menjelaskan tentang faqr:

ُ ‫ذ‬َِٞ ‫ ْاى َح‬ٜ


ُّ َِْ‫اَّللُ ٕ َُ٘ ْاىغ‬ َّ َٚ‫بط أ َ ّْخ ُ ٌُ ْاىفُقَ َشا ُء إِى‬
َّ َٗ ۖ ِ‫اَّلل‬ ُ َّْ‫ُّ َٖب اى‬َٝ‫َب أ‬ٝ

Artinya: “Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan


Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha
Terpuji.”(Q.S. Fathir ayat 15).

5. Ash- Sabr
Kata sabar berasal dari bahas Arab, shabara, yashbiru, shabran,
maknanya adalah mengikat, bersabar, menahan dari larangan hukum, dan
menhana diri dari kesendirian. Kata ini disebutkan di Al-Qur‟an sebanyak
103 kali.31
Dalam bahasa indonesia, sabar bermakna “ tahan menghadapi
cobaan ( tidak lekas marah, tidak lekas putus asah, tidak lekas patah hati)
dan tabah, tenang, tidak tergesah- gesah dan tidak terburu nafsu.32
Sabar menurut Al-Ghazali, jika dipandang sebagai pengekang
tuntuntan nafsu dan amarah, dinamakan sebagai kesabaran jiwa ( ash-
shabr an-nafs). Sedangkan menahan terhadap penyakit fisisk, disebut
sebagai sabar badani (ash-shabr al-badani. Kesabaran jiwa sangat

29
Sodiman, Op. Cit. Hlm. 48.
30
Ibid.
31
Miswar, Op.Cit. Hlm. 16.
32
Ibid.

10
dibutuhkan dalam berbagai aspek. Misalnya, untuk menahan nafsu makan
dan seks yang berlebihan.33
Dalam pandangan kaum sufi, musuh terberat bagi orang-orang
beriman ialah dorongan hawa nafsunya sendiri, yang setiap saat dapat
menggoyahkan iman. Kesabaran merupakan kunci keberhasilan dalam
meraih karunia Allah yang lebih besar, mendekatkan diri kepadaNya,
mendapatkan cintaNya, mengenalNya secara mendalam melalui hati
sanubari, bahkan merasa bersatu denganNya, karena tanpa kesabaran
keberhasilan tidak mungkin dicapai.34
Cobaan Allah yang mesti dihadapi dengan kesabaran tidak selalu
berbentuk kepahitan dan kepedihan, tetapi sering pula muncul dalam
bentuk kenikmatan. Cobaan yang pahit bisa dalam bentuk perasaan takut,
kelaparan, kekurangan sandang, pangan dan papan, penderitaan fisik
(penyakit), kurang hasil tanaman, serta sulitnya kebutuhan bahan pokok
yang menjadi hajat manusia, merupakan cobaan Tuhan yang dirasakan
pahit oleh jiwa. Di samping cobaan yang pahit itu, Tuhan juga
memberikan cobaan-cobaan yang sepintas terasa menyenangkan seperti,
kekayaan yang melimpah dan pangkat serta jabatan keduniaan yang
mengagumkan.35
Menurut al-Sarraj, sabar itu terbagi atas tiga macam: orang yang
berjuang untuk sabar (mutashabir), orang yang sabar (shabir), dan orang
yang sangat sabar (shabbar). Mutashabir adalah orang yang sabar terhadap
Allah (fi Allah), kadang ia sabar, kadang tidak. Jenis kesabaran ini adalah
mewajibkan diri untuk menjauhi hal-hal yang terlarang, senantiasa
menjalankan apa-apa yang diperintahkan. Sementara shabir adalah yang
sabar terhadap Allah, untuk Allah, tidak merasa cemas, tidak dihinggapi
rasa cemas, dan tidak mengeluh. Adapun orang yang sangat sabar
(shabbar), menurut al-Sarraj, adalah orang yang menunjukkan
kesabarannya terhadap Allah, untuk Allah, bersama Allah. Orang dalam
goongan ini jika ditimpa seluruh penderitaan tidak akan lemah, tidak

33
Ibid.
34
Sodiman, Op. Cit. Hlm. 49.
35
Ibid.

11
berubah hakekat, jga tidak (berubah) bentuk dan ciptaannya. Maksudnya,
orang yang sangat sabar berarti sangat kuat. Kesabarannya tidak
menggoyahkan eksistensinya, baik secara formal-ideal maupun secara
wujud fisikal.36
Firman Allah yang menjelaskan tentang sabar:
َُٗ‫ َْ ُن ُش‬َٝ ‫ق ٍِ ََّب‬
ٍ ْٞ ‫ض‬ َّ ‫صب ُْشكَ ِإ ََّل ِب‬
َ ٜ‫ ِٖ ٌْ َٗ ََل ح َلُ ِف‬ْٞ َ‫بَّللِ ۚ َٗ ََل حَحْ ضَ ُْ َػي‬ َ ‫ص ِب ْش َٗ ٍَب‬
ْ ‫َٗا‬
Artinya : “Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu
semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih
hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada
terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”(Q.S An-Nahl ayat 127)

6. Tawakal
Berasal dari bahasa Arab, wakala, yakilu, wakilan yang berarti “
mempercayakan, memeberi, membuang urusan, bersandar, dan
bergantung” istilah tawakal disebut dalam Al- Quran dalam berbagai
bentuk sebanyak 70 kali. Dalam bahasa indonesia tawakal adalah “ pasrah
diri kepada kehendak Allah” percaya sepenuh hati kepada Allah (dalam
penderitaan dan sebagainya), atau sudah berikhtiar baru berserah kepada
Allah.37
Tawakal berarti penyandaran hati kepada Allah dengan
mempercayai Nya sepenuhnya, serta kesadaran hati untuk melarikan diri
dari pengawasan kekuatana dan sumber manapun. Jika penyadaran diri
dan kepercayaan penuh seperti ini belum tercapai, maka seorang hamba
tidak dapat disebut sudah bertawakal. Selain itu, seorang hamba juga tidak
pernah dapat mencapai tawakal sejati, selama pintu-pintu hatinya masih
terbuka bagi yang selain Alllah Swt. Dengan kata lain, tawakal adalah
seorang manusia bersandar kepada Allah dan segala yang dimiliki Nya
serta menutup semua pintu hati dari yang selain Dia.38
Al- Ghazali mengemukakan gambaran orang bertawakal itu
sebagai berikut :

36
Ibid.
37
Miswar, Op. Cit. Hlm. 16.
38
Zaprulkhan, Op. Cit. Hlm. 51-52.

12
a. Berusaha untuk memperoleh sesuatu yang dapat memeberikan
manfaat kepadanya.
b. Berusaha memelihara sesuatu yang dimilikinya dari hal- hal yang
tidak bermanfaat.
c. Berusaha menolak dan menghindari dari hal- hal yang
menimbulkan mmudharat.
d. Berusaha menghilangkan yang mudharat.39

Bertawakal termasuk perbuatan yang dieperintahkan oleh Allah.


Dalam firman-Nya. yang menyatakan :

َ ‫َف ّْللٱَف لْ َيتْو ْ ْك ِلَ ٱ‬


‫َف ْمؤ َْم ٱنوْكن‬ ‫عيْى ِلَف‬
ْ ‫ْو‬
Artinya : “....dan hanya kepada Allah oarang- orang yang beriman
Tawakal. (Q.S. Al-taubah [9]: 51)

7. Ridha
Kata ridha berasal dari kata radhiyah, yardha, ridhwanan yang
artinya “ senang, puas, memilih persetujuan, meyenangkan, menerima”
dalam kamus bahasa indonesia, ridha adalah “rela, suka, senang hati,
perkenan, dan rahmat”.40
Ridha dalam perspektif tasawuf berarti sebuah sikap menerima
dengan lapang dada dan senang terhadap apapun keputusan dan perlakuan
Allah kepada seorang hamba, entah itu menyenangkan atau tidak. Ridha
kepada Allah muncul dari keyakinan bahwa ketetapan Allah terhadap sang
hamba lebih baik daripada keputusan hamba itu bagi dirinya sendiri.41
Secara umum, paling tidak ada dua tingkatan ridha. Pertama, ridha
kepada Allah sebagai Tuhan. Yakni ridha dengan maqam rububiyah-Nya,
dan akan terwujud bila seorang salik menjadikan dirinya berada di bawah
rububiyah (pemeliharaan) Allah Swt. Kedua, ridha dengan qadha dan
takdir Allah. Yakni senang dengan semua kejadian yang dihadapi, baik
yang manis maupun pahit, dan gembira dengan semua yang diberikan

39
Miswar, Op. Cit. Hlm. 17.
40
Ibid.
41
Sodiman, Op. Cit. Hlm. 50.

13
Allah Swt., baik berupa cobaan, sakit, dan kehilangan yang dicintai,
maupun sebaliknya (kebahagiaan).42
Dalam perspekti Abu Nasr as-Sarraj, ridah merupakan akhir dari
beberapa tingkatan dan kedudukan spiritual (maqamat). Kemudian setelah
itu mengharuskan pada beberapa kondisi spiritual (ahwal) orang-orang
yang mampu mengendalikan hati nuraninya, melihat hal-hal yang gaib dan
pelatihan hati nurani, karena jernihnya dzikir dan hakikat berbagai kondisi
spiritual.43
Adapun firman Allah yang menjelaskan tentang Ridha:
ُ َٖ ّْ َ ‫ ٍِ ِْ حَحْ ِخ َٖب ْاْل‬ٛ‫صذْقُ ُٖ ٌْ ۚ ىَ ُٖ ٌْ َجَّْبثٌ حَجْ ِش‬
‫ َٖب‬ِٞ‫َِ ف‬ِٝ‫بس خَب ِىذ‬ َّ ‫َ ْْفَ ُغ اى‬ٝ ًُ ْ٘ َٝ ‫اَّللُ ٰ َٕزَا‬
ِ َِِٞ‫صب ِدق‬ َّ ‫قَب َه‬
ٌُ ٞ‫اَّللُ َػ ْْ ُٖ ٌْ َٗ َسضُ٘ا َػ ُْْٔ ۚ ٰرَىِلَ ْاىفَ ْ٘ ُص ْاى َؼ ِظ‬
َّ ٜ َ ‫ض‬ ِ ‫أ َ َبذًا ۚ َس‬
Artinya: “Allah berfirman, "Inilah saat orang yang benar
memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-
lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.
Itulah kemenangan yang agung."(Q.S Al-Maidah ayat 119)

C. Pengertian Ahwal
Ahwal merupakan jamak dari kata hal yang artinya keadaan atau
situasi kejiwaan. Menurut istilah dala ilmu tasawuf ahwal berarti perasaan
yang menggerakkan dan memengaruhi hati yang disebabkan karena
bersihnya dzikir.44

Al- Qusyairi menjelaskan merumuskan bahwa ahwal adalah suatu


anugerah Allah SWT atau keadaan yang datang tanpa wujud kerja atau
usaha. Sedangkan menurut pandangan Al-Thusi, yaitu Ahwal adalah
keadaan hati yang selalu berzikir, dan bukanlah hal itu dilihat dari
metodologi mujahadah dan latihan-latihan seperti yang telah disebutkan
sebagaimana terdahulu. Ahwal tersebu seperti: merasa diawasi Allah SWT,

42
Zaprulkhan, Op.Cit. Hlm. 58
43
Ibid. Hlm. 59.
44
Ni‟am, Op. Cit. Hlm. 137.

14
perasaan dekat dengan Allah SWT, rasa cinta, takut, harap, rindu. tenang,
yakin dan lainnya.45
Ahwal sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari tuhan.
Contoh ahwal yang sering disebut adalah : takut, bersyukur, rendah hati,
ikhlas, takwa gembira. Walaupun difinisi yang diberikan secara
berlawanan makna, namun kebanyakan mereka mengatakan bahwa ahwal
dialami secara sepontan dan berlangsung sebentar dan diperoleh bukan
atas dasar usaha sadar dan perjuangan kasar, seperti halnya pada maqamat,
melainkan sebagai hadiah dari kilatan Ilahiah (divine flashes), yang biasa
disebut “ lama‟at”.46
Kembali kepada masalah Al- Maqamat dan Al- ahwal, yang dapat
dibedakan dari dua segi :
 Tingkat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh
dengan cara pengamalan ajaran tasawuf yang sunggguh- sungguh.
Sedangkan ahwal, disamping dapat diperoleh manusia hanya
karena anugrah semata- mata dari tuhan, meskipun ia tidak pernah
mengamalkan ajaran tasawuf secara sungguh- sungguh.
 Tingkat kerohanian yang disebut maqam sifatnya langgeng atau
bertahan lama, sedangkan ahwal sifatnya semantara sering ada
pada diri manusia, dan sering pula hilang. Meskipun ada pendapat
para ulama tasawuf yang mengatakan bahwa maqam dan ahwal
sama pengertianya, namun penulis mengikuti pendapat yang
membedakan beserta alasan- alasanya. 47

Tentang jumlah tingkatan maqam dan ahwal, tidak disepakati oleh


Ulama Tasawuf. Abu Nashr As-Sarraaj mengatakan bahwa tingkatan maqam
ada tujuh, sedangkan tingkatan ahwal ada sepuluh. Sedangkan mengenai
tingkatan hal (al-ahwaal) menurut Abu Nash As Sarraj, dapat dikemukakan
sebagai berikut;

a. Tingkatan Pengawasan diri (Al-Muraaqabah)

45
Zulkifli dan jamaluddin, Op. Cit. Hlm. 111-112
46
Ibid. Hlm. 113.
47
Ibid. Hlm. 114.

15
b. Tingkatan kedekatan diri (Al-Qurbu)
c. Tingkatan cinta (Al-Mahabbah)
d. Tingkatan takut (Al-Khauf)
e. Tingkatan harapan (Ar-Rajaa)
f. Tingkatan kerinduan (Asy-Syauuq)
g. Tingkatan kejinakan atau senang mendekat kepada perintah
Allah SWT (Al-Unsu).
h. Tingkatan ketengan jiwa (Al-Itmi‟naan)
i. Tingkatan Perenungan (Al-Musyaahaah)
j. Tingkatan kepastian (Al-Yaqiin)48

D. Macam-Macam Ahwal

1. Muraqabah
Secara etimologi Muraqabah berarti menjaga atau mengamati
tujuan. Adapun secara termonolgi Muraqabah adalah salah satu sikap
mental yang mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia
selalu berhadapan dengan Allah dan merasa diri diawasi oleh
penciptanya.49
Menurut Al- Qusyairi, Muraqabah adalah keadaan mawas diri
kepada Allah dan mawas diri juga berarti adanya kesadaran sang hamba
bahwa Allah senantiasa melihat dirinya. Sang hamba lanjut Al- Qusyairi
hanya akan sampai pada Muraqabah ini setelah sepenuhnya melakukan
perhitungan dengan dirinya sendiri megenai apa yang telah terjjadi di masa
lampau, memperbaiki keadaan di masa kini, tetap teguh di jalan yang
benar, memperbaiki hubungan dengan Allah sepenuh hati, menjaga diri
agar setiap saat senantiasa memperbaiki hubungannya dengan Allah
sepenuh hati, menjaga diri agar setiap saat senantiasa ingat kepada Allah,
taat kepada-Nya dalam segala kondisi. Baru setelah ini semua dilakukan
Allah melihat perbuatannya dan mendengar perkataannya. 50

48
Ibid. Hlm. 114-115.
49
Sodiman, Op.Cit. Hlm. 51.
50
Ibid.

16
Sebagaimana dalam khalwat yang tujuannya adalah untuk selalu
hati hadir dengan Allah SWT maka dalam muroqobah merasa selalu
dalam pengawasan Allah SWT. Dalam kaitan ini, orang yang tidak ber-
muroqobah dengan Allah, tidaklah ia mempunyai pengawal pada
kebenaran, dan pengawal yang ada pada dirinya hanyalah syaithan yang
menjerumuskannya pada perbuatan maksiat dan perbuatan dosa.
Tingkatan Muroqobah:
a. Muroqobatul Qalbi,kalbunya selalu waspada dan selalu
diperingatkan agar tidak keluar dari kebersamaannya dengan
Allah.
b. Muroqobatul Ruhi, kewaspadaan dan peringatan terhadap Ruh,
agar selalu dalam pengawasan dan pengintaian Allah.
c. Muroqobatus Sirri, kewaspadaan dan peringatan terhadap sirr
agar selalu meningkatkan amal ibadahnya dan memperbaiki
perilakunya.51

2. Qurb
Secara bahasa Qurb berarti dekat darinya dan kepadanya. Menurut
Al- Sarrj Qurb adalah penyaksian sang hamba dengan hatinya akan
kedekatan Allah dengan ketaatanya, dan mengerahakan segenap keinginan
kepada Allahsemata dengan cara mengingatnya secara kontinau baik pada
keramaian maupun dikala sendirian.52
Menurut Al- Sarraj ada tingkatan orang- orang yang mendekatkan
diri kepada Allah: pertama, orang-orang yang berjuang mendekati Allah
dengan berbagai macam ketaatan, karena mereka memili pengetahuan
yang diberikan oleh Allah, mengetahui kedekatan dan kekuasaan Allah
kepada mereka. Kedua, orang yang sudah sempurna dengan keadaan
tingkat pertama. Artinya, dengan ketaatan dan ilmunya tentang Allah ia
yakin merasa melihat dan dekat dengan Allah. Ketiga, kelompok kaum
agung dan kaum akhir.53

51
Badrudin. (2015). AKHLAK TASAWUF. Banten: IAIB PRESS. Hlm. 122-123.
52
Sodiman, Op. Cit. Hlm. 51.
53
Ibid. Hlm. 51-52

17
Menurut al-Sarraj, qurb membutuhkan dua kondisi: pertama,
dalam hati sang hamba, yang dominan adalah rasa takutnya (Khauf)
karena ia memandang keekatan Allah kepadanya, maka qurb itu berbentuk
Khauf. Kedua, dalam hati sang hamba, yang dominan adalah rasa cintanya,
maka qurb berbentuk mahabbah.54

3. Mahabbah
Mahabbah (cinta) adalah pijakan atau dasar dan prinsip dalam
perjalanan seorang hamba pada Tuhannya. Al-Junaid menyebut mahabbah
sebagai suatu kecenderungan hati. Artinya, hati seseorang cenderung
kepada Allah dan kepada segala sesuatu yang datang dariNya tanpa
usaha.55

Mahabbah juga didefinisikan sebagai hubunga hati yang sejati


dengan sang kekasih; kerindua yang sangat kepada kekasih yang tidak
dapat dilawan; tunduk sepenuh hati kepada sang kekasih disetiap masalah,
baik yang tersembunyi maupun yang tampak; atau, memerhatikan
keinginan yang dicintai (al-mahbub) dan hilangnya pecinta (al-muhibb)
dari dirinya sendiri termasuk ketika sedang memadu kasih. Kita dapat
mengembalikan semuanya yang disebut disini ke satu titik, yaitu:
kepatuhan disaat mengalami al-hudhur al-ilahy serta meninggalkan semua
keresahan dan berbagai bentuk hubungan yang fana seraya mengulang-
ulang lafal, “Ya Haqq!”.56

Mahabbah yang sejati sebenarnya terwujud ketika seorang


manusia ber-tawajuh dengan segenap dirinya kepada Allah yang dicintai
(al-mahbub) lalu mengalami baqa‟ dengan-Nya, disertai dengan
pengetahuan tentang-Nya dan keterlepasan dari segala keinginan dan
tuntutan lain. Itulah sebabnya, seseorang yang mendapatkan anugerah

54
Ibid. Hlm. 52
55
Ibid.
56
Zaprulkhan, Op. Cit. Hlm. 55.

18
yang satu ini akan melewatkan setiap waktunya dengan perhatian baru
terhadap sang Kekasih.57

Tokoh utama paham mahabbah adalah Rabi‟ah al-Adawiyah (95


H-185 H). Menurutnya, cinta kepada Allah merupakan cetusan dari
perasaan cinta dan rindu yang mendalam kepada Allah. Menurut al-Sarraj,
orang yang mencintai (ahl-mahabbah) terbagi dalam tiga tingkatan: 58

pertama, adalah cinta umum, yang lahir karena kebaikan dan


kelembutan Allah kepada mereka. Pecinta tingkat pertama ini,
menjelaskan bahwa mahabbah adalah beningnya kasih secara terus
menerus menyebut, karena orang yang menyukai sesuatu, maka ia akan
terus menerus menyebutnya. mahabbah adalah kebersamaan kalbu sang
hamba bersama Allah, dan kebersamaan itu senantiasa tetap demikian
adanya, terus menerus menyebut Allah dan merasakan manisnya munajat
kepada Allah, yang disertai dengan mengikuti perilaku Nabi. Mahabbah
yang dirasakan dan dihayati oleh sufi pada tingkat pertama ini pada intinya
mengandung tiga hal:

a. Mengerahkan ketaatan dan membenci sikap melawan kepada-Nya


b. Menyerahkan diri kepada Sang Kekasih secara total, dan
c. Mengosongkan hati dari segala sesuatu kesuali Yang Dikasihi.59

Tingkat kedua, mahabbah orang-orang yang jujur kepada Allah


dan orang yang telah menemukan kebenaran dan pengetahuan sejati
tentaang Tuhan. Orang yang berada dalam tingkatan ini, pandangan
hatinya kepada kekayaan Allah, keagungan, pengetahuan dan kekuasaan-
Nya.60

Tingkat ketiga, mahabbahnya orang-orang yang bersikap benar


kepada Allah (shiddiqun) dan orang yang mengenal Allah dengan mata
hatinya („arifin). Cinta pada peringkat ini muncul dalam kalbu setelah sang

57
Ibid. Hal. 56.
58
Sodiman, Loc.Cit.
59
Ibid.
60
Ibid. Hlm. 52-53.

19
pecinta memandang dan meyakini adanya cinta Ilahi terhadap hamba-
hambaNya yang telah lebih dahulu ada daripada cinta sang hamba
kepadaNya, dan cintaNya itu adalah cinta murni, tanpa pamrih. Bila cinta
Ilahiah ini telah dirasakan oleh seseorang, maka akan tumbuh pula rasa
cinta murni dalam dirinya.61

4. Khauf
Khauf secara bahasa adalah rasa takut, takut kepada Allah.
Menurut Ibn Qayyim, Khauf adalah perasaan bersalah dalam setiap tarikan
nafas. Perasaan bersalah dan adanya ketakutan dalam hati inilah yang
menyebabkan orang lari menuju Allah.

Allah berfirman dalam kaitannya dengan Khauf:

ِ ُ‫َب َءُٓ فَ ََل حَخَبفُ٘ ُٕ ٌْ َٗخَبف‬ٞ‫ف أ َ ْٗ ِى‬


ٍَِِِْٞ ْ‫ُ٘ إِ ُْ ُم ْْخ ُ ٌْ ٍُؤ‬ َّ ‫إَِّّ ََب ٰرَ ِى ُن ٌُ اى‬
َ ْٞ ‫ش‬
ُ َِ٘ ّ ‫ُخ‬ٝ ُُ‫طب‬

Artinya : “Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-


nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu
takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang
beriman” (QS. Al-Imran: 175).

Untuk memunculkan rasa bersalah, menurut Ibn Qayyim,


seseorang harus mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan, sambil
merasa khawatir kalau-kalau Allah tidak mengampuninya, khawatir kalau-
kalau Allah tidak mengampuninya, kalau-kalau masih tergoda setan dalam
setiap desahan nafasnya, dan khawatir kalau-kalau Allah tidak menerima
kehadirannya. Dengan perasaan seperti ini, sang sufi akan selalu berusaha
agar sikap dan laku perbuatannya tidak menyimpang dari yang
dikehendaki Allah. Menurut al-Sarraj, Khauf terbaagi dalam tiga
tingkatan.62

Pertama, takutnya orang awam. Mereka takut kepada Allah semata


karena mrka dan siksa-Nya. Kondisi mereka sesuai dengan firman Allah,

61
Ibid. Hlm. 53.
62
Ibid.

20
Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan
menjadi goncang. (An-Nur: 37).63

Kedua, takutnya orang-orang pertengahan (awasith). Mereka takut


diputuskan dari beningnya ma‟rifat kepada Allah. Mereka takut jika Allah
memutuskan dari mereka, manisnya mengetahui Allah (ma‟rifah). Khauf
pada tingkat ini lebih pada sebuah ketakutan jauhnya Allah dari diri
mereka dan putusnya ma‟rifat serta kasih sayang Allah terhadap mereka,
tidak karena murka dan azabNya.64

Ketiga, kaum khusus yang rasa takut mereka bisa juga disebut
dengan rasa takut pada hal yang masih jauh terjadi (Khauf al-ajilah).65

5. Raja‟
Raja‟ secara bahasa berarti berharap atau harapan. Raja‟ juga
berarti sikap optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Allah SWT
yang disediakan bagi hambaNya yang shaleh dan dalam dirinya timbul
rasa optimis yang besar untuk melakukan berbagai amal terpuji dan
menjauhi perbuatan yang buruk dan keji.66 Para sufi memberi definisi
raja‟ dengan pernyataan, ”keterkaitan hati dengan sesuatu yang disukai
yang akan dicapai di masa mendatang”.67

Secara garis besar, Raja‟ berarti suatu sikap mental optimisme


dalam memperoleh karunia dan nikmat Ilahi yang disediakan bagi hamba-
hambaNya yang shaleh. Oleh karena Allah Maha Pengampun, Pengasih
dan Penyayang, maka seorang hamba yang taat merasa optimis akan
memperoleh limpahan karunia Ilahi. Jiwanya penuh pengharapan akan
mendapat ampunan, merasa lapang dada, penuh gairah menanti rahmat
dan kasih sayang Allah, karena ia merasa hal itu akan terjadi.68

63
Ibid.
64
Ibid.
65
Ibid.
66
Ibid. Hlm. 54.
67
Zaprulkhan, Op. Cit. Hlm. 64.
68
Sodiman, Loc.Cit

21
Menurut Al-Qusyairi, Raja‟ adalah keterpautan hati kepada sesuatu
yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang. Hati menjadi hidup
oleh harapan-harapan akan lenyap beban di hati. Harapan adalah melihat
kegemilangan Ilahi dengan mata keindahan. Harapan adalah kedekatan
hati kepada kemrahan Tuhan. Harapan berarti melihat pada kasih sayang
Allah yang Maha Meliputi.69

Dalam firman Allah yang membahas tentang Raja‟:

َ َ‫َخَبفَُُ٘ َػزَابَُٔ ۚ إِ َُّ َػز‬َٝٗ َُٔ‫َ ْشجَُُ٘ َسحْ ََخ‬َٝٗ ُ‫ُّ ُٖ ٌْ أ َ ْق َشة‬َٝ‫يَتَ أ‬ٞ‫ َسبِّ ِٖ ٌُ ْاى َ٘ ِع‬ٰٚ َ‫َ ْبخَغَُُ٘ إِى‬ٝ َُُ٘‫َذْػ‬ٝ َِِٝ‫أُٗ ٰىَئِلَ اىَّز‬
َ‫اة َسبِّل‬
ً ُ ‫َمبَُ ٍَحْ ز‬
‫ٗسا‬

Artinya: ““orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri


mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih
dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan
azabNya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus)
ditakuti.” (QS. Al-Israa‟: 57)

6. Thuma‟ninah
Thuma‟ninah secara bahasa berarti tenang dan tentram. Tidak ada
rasa was-was atau khawatir, tak ada yang dapat mengganggu perasaan dan
pikiran karena ia telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling
tinggi.70

Menurut Sahl ibn Abdullah, jika hati sang hamba bersemayam di


dalam Tuhannya dan merasa tenang bersamaNya, maka akan menguat
kondisi rohaninya, jika sudah menguat ia akan merasa intim terhadap
apapun.71

Menurut pendapat as-Sarraj, ada tiga level thuma‟ninah, pertama,


ketenangan bagi kaum awam. Sebab disaat mereka berdzikir kepada Allah,
mereka merasa tenang dengan berdzikir kepada Nya. Kedua, adalah
ketenangan bagi orang-orang khusus. Karena mereka rela dan senang atas

69
Ibid.
70
Ibid.
71
Ibid.

22
keputusan (takdir) –Nya, sabar ata cobaan-Nya, ikhlas, takwa, tenang dan
merasa cukup mantap. Ketiga, golonganyang paling khusus. Mereka tahu
bahwa rahasia-rahasia hati mereka tidak sanggup merasa tentram kepada-
Nya dan tidak tenang kepada-Nya, karena kewibawaan dan keanggungan-
Nya. Sebab Dia tidak memiliki ambang batas tertentu yang bisa
dijangkau.72

Allah berfirman tentang thuma‟ninah:

ُ‫اَّللِ ح َْط ََئِ ُِّ ْاىقُيُ٘ة‬ َّ ‫َِ آ ٍَُْ٘ا َٗح َْط ََئِ ُِّ قُيُ٘بُ ُٖ ٌْ بِ ِز ْم ِش‬ِٝ‫اىَّز‬
َّ ‫اَّللِ ۗ أ َ ََل بِ ِز ْم ِش‬

Artinya: ““(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka


manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Rad: 28)

7. Yaqin
Yaqin berarti perpaduan antara pengetahuan yang luas, mendalam,
rasa cinta dan rindu yang mendalam pula sehingga tertanamlah dalam
jiwanya perjumpaan secara langsung dengan Tuhannya. Dalam pandangan
al-Junaid yaqin adalah tetapnya ilmu di dalam hati, ia tidak berbalik, tidak
berpindah dan tidak berubah. Menurut al-Sarraj, yaqin adalah fondasi dan
sekaligus bagian akhir dari seluruh ahwal. Dapat juga dikatakan bahwa
yaqin merupakan esensi seluruh ahwal.73

Secara umum, kaum sufi juga membagi tiga level keyakinan.


Pertama, ilm al-yakin yaitu pencapaian iman dan ketundukan terkuat yang
berhubungan dengan hal-hal yang ingin dicapai dengan memperhatikan
detail-detail dan petunjuk yang jelas. Kedua, „ain al-yaqin yaitu
pencapaian makrifat melampaui batasan definisi yang dilakukan oleh roh
melalui penyingkapan, musyahadah, persepsi dan kesadaran. Ketiga,
haqq-al yaqin yaitu anugerah berupa kebersamaan yang mengandung

72
Zaprulkhan, Op. Cit. Hlm. 67-68.
73
Sodiman, Loc. Cit.

23
banyak rahasia, tanpa tirai dan penghalang yang melampaui imajinasi
manusia serta tanpa kammiyah atau kaiffiyah.74

Allah berfirman tentang yaqin:

َِِِْٞ‫َبثٌ ِى ْي َُ٘ق‬ٝ‫ض آ‬
ِ ‫ ْاْل َ ْس‬ِٜ‫َٗف‬

Artinya : “dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)


bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Adz. Dzariyat: 20)

E. Perbedaan dan Persamaan Antara Maqamat dan Ahwal

Kajian Bentuk-bentuk Perbedaan persamaan


Maqamat Al-taubah, az- Pelaksanaan Merupakan inti
zuhud, al-wara‟, senantiasa kajian dan ajara
al-faqr, ash-shabr, berurutan, tasawuf, yang
at-tawakkal, ar- dirumuskan oleh dapat dialami oleh
ridha, al- seorang sufi itu setiap sufi.
mahhabah, da al- sendiri, jumlah
ma‟rifah. maqamat antara
sufi satu dengan
yang lainnya
berbeda, dapat
dipelajari oleh
setiap salik
(pelaku tasawuf),
harus dilaksanakan
secara sungguh-
sungguh.
Ahwal Pemusatan diri Hidayah dan
(muraqabah), anugerah dari
kehampiran (qurb), Allah SWT, sesuai
cinta (mahhabah), dengan kehendak-

74
Zaprulkhan, Op.Cit. Hlm. 70.

24
takut (Khauf), NYA, sifatnya
harapan (Raja‟), kontemporer,
rindu keruhanian mudah datang dan
(syauq), pergi atau tidak
karib/intim („uns), selamanya ada.
ketenangan
(ithmi‟nan),
perenungan
(musyahadah), dan
kepastian (yaqin).

25
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, ilmu tasawuf


adalah ilmu yang mempelajari dan memfokuskan diri untuk selalu
membersihkan diri dengan tujuan untuk mencapai kedekatan dan keridaan
Allah SWT. Untuk mencapai tujuan tersebut harus melalui proses
perjalanan yang panjang. Proses yang dimaksud adalah maqam dan ahwal.

Maqam sendiri adalah usaha dilakukan seorang hamba secara


sungguh-sunguh dalam melakukan peribadatan kepada Allah dalam
rangka untuk mencapai tingkatan spiritual dan kedudukannya di hadapan
Allah Swt. Sedangkan ahwal adalah suatu anugerah yang didapatkan tanpa
adanya usaha yang bersifat sesaat atau terkadang mengalami perubahan.

Maqam dan ahwal sendiri memiliki beberapa nilai-nilai yang


terkadung didalamnya. Banyak dari kalangan ulama sufi yang berbeda
pendapat mengenai tingkatan atau nilai yang terkandung maqam dan
ahwal. Namun dalam penjelasan kali ini kami hanya menjelaskan bahwa
nilai maqam ada 7 tahapan/nilai, sedangkan ahwal juga ada 7
tahapan/nilai.

Adapun perbedaan dan persamaan dari keduanya adalah sama-


sama ajaran ilmu tasawuf yang dimana dapat dialami atau dilakukan oleh
setiap sufi. Sedangkan perbedaan dari keduannya, dimana maqam
pelaksanaannya berututan, dilakukan secara sungguh-sungguh dan setiap
sufi memiliki pendapat yang berbeda-beda serta sifatnya yang permanen,
lalu untuk ahwal lebih kepada anugerah yang diberikan oleh Allah kepada
seorang sufi, dan memilki sifat yang kontemporer.

26
DAFTAR PUSTAKA

Asnawiyah. (2014). MAQAM DAN AHWAL: MAKNA DAN HAKIKATNYA


DALAM PENDAKIAN MENUJU TUHAN . Substantia, 81.

Badrudin. (2015). AKHLAK TASAWUF. Banten: IAIB PRESS.

Miswar. (2017). MAQAMAT (TAHAPAN YANG HARUS DITEMPUH DALAM


PROSES BERTASAWUF) . Jurnal ANSIRU PAI, 8.

Ni'am, S. (2014). TASAWUF STUDIES: PENGANTAR BELAJAR TASAWUF.


Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Sodiman. (2014). MENGHADIRKAN NILAI-NILAI SPIRITUAL TASAWUF


DALAM PROSES MENDIDIK . Jurnal Al-Ta‟dib , 52.

Zaprulkhan. (2016). Ilmu Tasawuf sebuah Kajian Tematik. Jakarta: Rajawali Pers.

Zulkifli, & Jamaluddin. (2018). AKHLAK TASAWUF Jalan Lurus Mensucikan


Diri. Yogyakarta : Kalimedia.

27