Anda di halaman 1dari 9

ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala

E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

“Mempertahankan Tradisi, Melestarikan Budaya”


(Kajian Historis dan Nilai Budaya Lokal Kesenian Terebang Gede
di Kota Serang)

Rikza Fauzan, M.Pd dan Nashar, M.Pd1


1
Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jl. Raya Ciwaru No.25
Serang Banten
Email: rikza.fauzan@untirta.ac.id; nashar@untirta.ac.id

Abstrak : Penelitian ini membahas Perkembangan Kesenian Terebang Gede Di Kota


Serang Banten 1980-2008 (Kajian Historis Nilai-Nilai Budaya Lokal). Permasalahan
yang dibahas adalah mengenai keberadaan kesenian tradisional Terebang Gede di Kota
Serang yang ditinjau dari sisi historis mulai dari kemunculan kesenian ini,
perkembangannya, dinamika dan pergeseran yang terjadi, peran seniman dalam
melesetarikan dan mengembangkan kesenian ini, serta dampak yang ditimbulkan akibat
modenisasi dan globalisasi. Manfaat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah untuk
mengangkat Kesenian Terebang Gede sebagai kesenian tradisional atau kesenian daerah
khas Serang Banten yang kurang dikenal agar menjadi kesenian yang dikenal secara luas.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis yang tahapannya
terdiri dari Heuristik atau pengumpulan sumber, kritik, Aufassung/Interpretasi, dan
Darstellung/Historiografi. Kesenian Terebang Gede yang berasal dari Kota Serang
Banten ini merupakan kesenian tradisional dengan nilai budaya lokal yang diwariskan
secara turun temurun. Kesenian Terebang Gede dalam perkembangannya mengalami
pergeseran fungsi sesuai dengan perkembangan zaman. Pada awal kemunculannya,
kesenian Terebang Gede berfungsi sebagai media penyebaran Islam. Setelah
dikolaborasikan dengan seni marawis, terjadi perubahan dari bentuk pertunjukan, lagu,
dan penambahan waditra. Seiring berjalannya waktu, dengan perubahan-perubahan yang
terjadi di masyarakat, saat ini seni Terebang Gede kemudian berkembang sebagai seni
pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan dengan lagu-lagu yang bernafaskan Islam.
Walaupun demikian, di tengah-tengah arus globalisasi dan semakin maraknya seni
budaya modern kesenian Terebang Gede masih dapat eksis dan bertahan sebagai salah
satu warisan budaya leluhur yang mengandung nilai-nilai budaya lokal yang harus terus
dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari sebuah seni
pertunjukan.

Kata kunci: Terebang Gede, Kearifan lokal, Globalisasi

PENDAHULUAN sebagai seni tradisional yaitu seni yang


lahir dan berkembang secara alami di
Kesenian dapat diartikan sebagai
masyarakat tertentu dan kadangkala
hasil karya manusia yang mengandung
masih tunduk pada aturan-aturan yang
keindahan dan dapat diekspresikan
baku, namun ada juga yang sudah tidak
melalui suara, gerak ataupun ekspresi
terikat aturan, kesenian ini merupakan
lainnya. Kesenian memiliki banyak jenis
bagian dari kesenian rakyat yang bisa di
dilihat dari cara/media penyampaiannya
nikmati secara massal.
antara lain seni suara (vokal), lukis, tari,
Dalam proses pertumbuhannya,
drama dan patung (Koentjaraningrat,
kesenian tradisional yang merupakan
1990 : 45). Bila dilihat dari
bagian dari kesenian rakyat diwariskan
perkembangannya ada yang dikenal
1
ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala
E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

secara turun temurun dari satu generasi pada waktu itu, maka perkembangan
ke generasi berikutnya. Hal ini sesuai kebudayaannya pun cukup kuat. Kuatnya
dengan apa yang di ungkapkan Yoety pengaruh budaya Banten, dalam hal ini
(1983 : 13) “Kesenian tradisional adalah menyangkut karya seni tidak terlepas dari
kesenian yang sejak lama turun temurun peranan kerajaan Banten yang turut
hidup dan berkembang pada suatu mempertahankan dan mengembangkan
daerah, masyarakat etnik tertentu yang budaya seni khususnya seni tari dengan
perwujudannya mempunyai peranan perkembangan kerajaan Banten tidak
tertentu dalam masyarakat dapat dilepaskan.
pendukungnya”. Menurut catatan survei pada Dinas
Kesenian tradisional yang tumbuh Kebudayaan dan Pariwisata Kota Serang
dan berkembang di suatu lokalitas tahun 1985, bahwa terdapat kurang lebih
didukung oleh masyarakat yang terikat 70 kesenian yang tumbuh dan
pada aturan adat yang disepakati, telah berkembang di Kota Serang Banten.
berlangsung secara turun temurun dari Berbicara mengenai beberapa kesenian
generasi ke generasi. Berbeda dengan rakyat yang banyak berkembang di
kesenian modern yang cenderung lebih Serang Banten, maka kita tidak akan
mudah berubah mengadopsi unsur-unsur pernah terlepas dari cerita fenomena
luar, kesenian tradisional lebih cenderung sejarah tentang proses masuknya agama
lambat mengalami perubahan. Hal ini Islam yang dibawa Syarif Hidayatullah
menurut Khayam (1981 : 57) dan Sultan Maulana Hasanuddin ke
dikarenakan, secara umum kesenian Banten.
tradisional ini memiliki ciri sebagai
berikut : Pertama, ia memiliki jangkauan METODE PENELITIAN
terbatas pada lingkungan kultur yang
menunjangnya. Kedua, ia merupakan Metodologi yang digunakan
pencerminan dari suatu kultur yang penulis dalam penelitian ini adalah
berkembang secara perlahan, karena metode historis dengan menggunakan
dinamika masyarakat yang menujangnya
pendekatan multidisipliner. Metode
memang demikian. Ketiga, ia tidak
terbagi-bagi pada pengkotakkan historis adalah suatu proses menguji,
spesialisasi. Keempat, ia bukan menjelaskan, dan menganalisis
merupakan hasil kretivitas individu- (Gosttchlak, 1985 : 32). Pernyataan
individu tapi tercipta secara anonym tersebut sama dengan pendapat Garragan
bersama dengan sifat kolektivitas bahwa metode sejarah merupakan
masyarakat yang menunjangnya. seperangkat aturan yang sistematis dalam
Ciri-ciri tersebut memperkuat
mengumpulkan sumber sejarah secara
pernyataan bahwa seni tradisi merupakan
identitas budaya dari suatu masyarakat efektif, melakukan penilaian secara kritis
tertentu, sebab seni tradisi sangat dan mengajukan sintesis dari hasil-hasil
dipengaruhi oleh kultur masyarakat di yang dicapai dalam bentuk tulisan
suatu lingkungan dan bukan merupakan (Abdurahman, 1999: 43). Selain itu
seni yang menonjolkan seniman atas metode sejarah yakni suatu proses
nama diri sendiri, tapi lebih merupakan pengkajian, penjelasan dan penganalisaan
perwakilan dari sistem sosial atau sikap
secara kritis terhadap rekaman serta
kelompok masyarakat.
Banten dalam masa perkembangan peninggalan masa lampau (Sjamsuddin,
awalnya merupakan kota yang berfungsi 2007: 17-19).
sebagai pusat kerajaan yang bercorak Metode sejarah menurut Ernest
maritim. Sejarah mencatat kerajaan Bernsheim yang terdapat dalam buku
Banten merupakan salah satu kerajaan Ismaun (2005 : 32) mengungkapkan
Islam yang cukup kuat di wilayah Jawa.
bahwa ada beberapa langkah yang
Mengingat kuatnya kekuasaan kerajaan
2
ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala
E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

dilakukan dalam mengembangkan HASIL DAN PEMBAHASAN


metode historis. Langkah yang harus
ditempuh dalam melakukan penelitian Kesenian-kesenian tradisional
yang sangat beragam dan banyak di
historis tersebut yakni :
Banten sebagian besar bernafaskan Islam.
Heuristik, yakni mencari, menemukan, Dalam setiap pertunjukan, kesenian
dan mengumpulkan sumber-sumber tradisional ini tidak dapat dilepaskan dari
sejarah. Heuristik merupakan salah satu kebudayaan Islam dan pengaruh kuat dari
tahap awal dalam penulisan sejarah kesultanan Banten pada zaman
seperti mencari, menemukan dan dahulunya. Kesenian tradisional ini
mengumpulkan fakta-fakta atau sumber- dijadikan media atau cara yang efektif
para penyebar agama Islam saat itu yaitu
sumber yang berhubungan dengan
dengan memadukan cara penyampaian
perkembangan kesenian Terebang Gede lewat adat atau kebudayaan masyarakat
di Kabupaten Serang tahun 1980-2008. setempat. Hal ini dapat dilihat dari cara-
Dalam tahap ini penulis memperoleh cara beberapa wali penyebar agama
data-data yang berhubungan dengan Islam yang memadukan konsep-konsep
permasalahan penulisan baik berupa Islam yang disampaikan melalui media
sumber tertulis maupun sumber lisan. seni, misalnya lewat wayang kulit,
gamelan atau atraksi seni lainnya
Kritik, yakni menganalisis secara kritis
termasuk Terebang Gede (Wawancara
sumber-sumber sejarah. Tujuan yang dengan Beni, Maret 2010). Menurut
hendak dicapai dalam tahap ini adalah tradisi lisan yang disampaikan Nasuha
untuk dapat menilai sumber-sumber yang bahwa: “Penyebaran agama Islam pada
relevan dengan masalah yang dikaji dan zaman dahulu kan bukan hanya dari
membandingkan data-data yang dakwah yang dilakukan para waliyullah
saja, tapi bisa melalui seni dan budaya.
diperoleh dari sumber-sumber primer
Tentu saja itu dengan melihat adat
maupun sekunder dan disesuaikan istiadat masyarakat setempat (wawancara
dengan tema atau judul penulisan skripsi dengan Nasuha, 26 Juni 2010)”.
ini. Penilaian terhadap sumber-sumber Mengenai asal-usul Terebang
sejarah itu meliputi dua segi yakni kritik Gede ini sendiri balum diketahui secara
intern dan kritik ekstern. pasti. Dalam penelitian ini penulis sama
Aufassung, yakni Penanggapan terhadap sekali tidak menemukan sumber literatur
baik naskah atau manuskrip dan
fakta-fakta sejarah yang dipunguti dari
sebagainya yang menunjukan secara pasti
dalam sumber sejarah. Fakta sejarah yang kapan Kesenian Terebang Gede ini
ditemukan tersebut kemudian muncul. Beberapa literatur yang ada
dihubungkan dengan konsep yang sama sekali tidak menjelaskan kapan dan
berhubungan dengan permasalahan yang darimana asal muasal kesenian Terebang
dikaji yaitu mengenai perkembangan Gede. Mengenai maksud dari para
kesenian Terebang Gede di Kabupaten penyebar Islam tersebut dijelaskan oleh
Hakim (2006 : 210) bahwa: Para
Serang.
mubaligh Islam rupanya sengaja
Dahrstellung, yakni penyajian cerita memasukan nafas agama Islam ke dalam
yang memberikan gambaran sejarah yang kesenian dengan maksud untuk
terjadi pada masa lampau yang penulis memupuk rasa cinta terhadap Allah
wujudkan dalam bentuk Skripsi dengan SWT. Agama Islam menurut beberapa
judul “Perkembangan Kesenian tokoh ulama tidak melarang umatnya
menyatakan rasa keindahan dan
Terebang Gede Di Kabupaten Serang
keterharuan terhadap alam, baik yang
Banten 1980-2008 (Kajian Historis dinyatakan dalam bentuk tulisan maupun
Nilai-Nilai Budaya Lokal)”. lisan. Bahkan Islam memupuk rasa cinta
3
ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala
E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

terhadap kesenian agar umatnya lebih terebang, namun setiap versi memiliki
dekat kepada Sang Pencipta Alam maksud yang sama. Versi tersebut
Semesta. diantaranya menyatakan “Terebang
Munculnya kesenian Terebang merupakan waditra dengan media kulit
Gede Menurut Shova dan Ridwan dalam dan kayu berbentuk silinder berdiameter
tabloid DP HKTI provinsi Banten 40-60 cm, tonggi badan antara 10-15 cm,
bersamaan dengan penyebaran agama sejenis rebana (Atik Sopanti, 1985-
Islam yang dilakukan oleh Sultan Agung 1999)”. Pengertian lain menjelaskan
Tirtayasa. Kemudian mengenai asal-usul bahwa “Terebang berati ngapung”,
kesenian Terebang Gede, berdasarkan karena masyarakat zaman dahulu
hasil wawancara penulis memperoleh beranggapan bahwa Allah berada di
sejumlah informasi yang berkaitan langit ke tujuh, untuk mengadakan
dengan sejarah munculnya Terebang hubungan batin dengannya harus dengan
Gede. Mengingat kesenian Terebang cara terebang (Dinas Pendidikan Prov.
Gede merupakan warisan budaya yang Banten, 2003: 61-62)
diwariskan secara turun temurun, maka Istilah Terebang Gede sendiri
dikatakan dalam dongeng atau tradisi berasal dari dua suku kata yaitu Terebang
lisan yang berkembang di masyarakat dan Gede. Kata Terebang dimaksudkan
bahwa: “Terebang Gede sendiri belum ialah perjalanan Rasulullah SAW pada
tahu kapan mulai adanya tapi menurut peristiwa Isra Mi’raj ketika berangkat
cerita orang tua, kakek, dan buyut saya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa
sudah mulai ada pada zaman Sultan lalu menuju Sidrathul Muntaha. Kata
Agung Tirtayasa. Pada awalnya kesenian Gede dalam bahasa setempat ialah
Terebang Gede ini terdiri dari 5 alat yang ukuran besar bagi waditra alat pada
ukurannya berbeda mulai dari yang kecil kesenian Tradisional ini. Terebang Gede
hingga yang besar. 5 alat ini dijadikan penamaan bagi kesenian
diumpamakan sebagai rukun Islam tradisional ini sejak mulai ada dan
(wawancara dengan Mistar, 26 Februari digunakannya kesenian ini (wawancara
2010)”. dengan Asmudi, 25 Ferbruari 2010).
Selanjutnya, terdapat juga tradisi Kesenian Terebang Gede
lisan yang mengatakan bahwa : “Asal- merupakan jenis kesenian yang termasuk
usul Terebang Gede ketika saya tanya dalam waditra dan seni vokal. Terebang
pada kakek saya itu memang sudah ada Gede merupakan jenis rebana besar yang
sejak zaman kerajaan Banten. Mungkin penamaannya dimaksudkan bagi seluruh
sekitar abad 15-16an lah. . . dan asli instrumen kesenian ini. Dalam Terebang
berasal dari Panggung Jati.(wawancara Gede terdapat lagu-lagu yang
dengan Nasuha, 26 Juni 2010)”. dinyanyikan yang sebagian besar lagu
Jadi, apabila diartikan kesenian tersebut berisi dengan syair-syair pujian
Terebang Gede ini mungkin pada saat terhadap Allah SWT dan Nabi
dahulu digunakan sebagai media dakwah Muhammad SAW.
melalui seni dan budaya oleh kerajaan Salah satu daerah di Provinsi
Banten melalui rajanya yang pada waktu Banten yang masih mempertahankan
itu yaitu Sultan Agung Tirtayasa sekitar tradisi dan kesenian Terebang Gede
abad 15-16 M. Hal ini menunjukkan adalah Desa Panggung Jati Taktakan.
seperti yang telah dijelaskan bahwa pada Kesenian ini tumbuh pertama kali di
masa kejayaan Kesultanan Banten, segala Desa Panggung Jati Kecamatan Taktakan
bentuk kesenian termasuk Terebang Kota Serang. Menurut tradisi lisan yang
Gede turut terangkat keberadaannya, disampaikan Asmudi bahwa : “Daerah ini
terlebih seni tradisional pada saat itu (Panggung Jati) pada zaman dahulu
dijadikan sarana para ulama untuk dijadikan tempat persitirahatan bagi para
menyebarkan agama Islam. para prajurit kerajaan Banten yang telah
Terdapat beberapa versi yang berperang. Di namakan Panggung Jati
menjelaskan pengertian kesenian karena pada dahulunya di sini terdapat
4
ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala
E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

rumah panggung yang terbuat dari kayu Kesenian yang tumbuh dan
jati. Pada saat itu kesenian Terebang berkembang dalam masyarakat, baik itu
Gede ini dipertunjukan untuk menghibur merupakan kesenian tradisional maupun
para prajurit yang telah beres berperang kesenian modern, pada hakikatnya
menuju ke selatan (Kanekes) (wawancara mempunyai fungsi dan peranan yang
dengan Asmudi, 25 februari 2010)” cukup penting bagi masyarakat
Selanjutnya, terdapat juga tradisi pendukungnya. Lahirnya suatu jenis
lisan yang mengatakan bahwa : “Pada kesenian pada dasarnya tidak satupun
zaman dahulu, ada seorang anak buah terlepas dari fungsinya pada masyarakat,
kerajaan melarikan diri ke daerah ini dan artinya bahwa setiap jenis kesenian
berkata Panglima Agung Jaya Sakti memiliki fungsi masing-masing bagi
(Panggung Jati) dan disini terdapat kehidupan masyarakatnya, termasuk
makam yang dikeramatkan. Yang kesenian Terebang Gede. Terebang gede
pertama benama Ki Buyut Sepuh dari merupakn musik etnik yang berkembang
Panggung Jati Barat dan yang kedua di di masyarakat, maka Merriam dalam
Panggung Jati timur bernama Ki Buyut buku Soedarsono (1999 : 56)
Kanjeng Dalem. Kedua orang ini yang mengungkapkan bahwa : Ada 10 fungsi
memperjuangkan daerah ini (Panggung dari musik etnik yaitu (1) sebagai
Jati) hingga jadi seperti ini. Ki Buyut ekspresi emosional; (2) kenikmatan
Sepuh merupakan Jelmaan dari 4 Orang estetis; (3) hiburan; (4) komunikasi; (5)
yaitu Ki Tol Yahya, Ki Tol Mu’min, Ki representasi simbolis; (6) respon fisik; (7)
Tol Leman, dan Ki Tol Latif (wawancara memperkuat komforitas; (8) pengesahan
dengan Nasuha, 26 Juni 2010)”. institusi sosial dan ritual; (9) sumbangan
Berdasarkan tradisi lisan yang pada pelestarian serta stabilitas
berkembang di masyarakat, Terebang kebudayaan; (10) membangun pula
Gede yang sekarang berkembang di Kota integritas masyarakat.
Serang saat ini memang berasal dari satu Menurut tradisi lisan yang
induk yaitu dari Desa Panggung Jati berkembang di masyarakat, Terebang
Kecamatan Taktakan Kota Serang. Hal Gede pada awalnya dipertunjukan pada
tersebut juga diutarakan oleh Zemain saat upacara-upacara keagaamaan pada
bahwa : “Terebang Gede menurut orang zaman dahulunya semasa Sultan Agung
tua zaman dahulu yang diceritakan ke Tirtayasa. Pada umumnya berdasarkan
saya itu asalnya dari Panggung Jati Barat latar belakang historis, kesenian
dan tahun 1973 saya membuat Terebang tradisional yang bernafaskan Islam
Gede yang sama bentuknya (wawancara cenderung memiliki fungsi sebagai media
dengan Zemain, 5 Maret 2010)” untuk menyebarkan Islam itu sendiri dan
Namun seiring dengan sebagai media upacara bagi masyarakat
perkembangannya kesenian ini mulai pendukungnya.
menyebar ke daerah lain di luar Seperti kesenian tradisional
Panggung Jati salah satunya Pontang. lainnya, kesenian Terebang Gede yang
Penyebaran kesenian ini berlangsung merupakan kesenian dengan bernafaskan
ketika dilakukannya pertunjukan pada nilai-nilai Islam memiliki fungsi
kesenian ini di beberapa daerah. sebagai media untuk menyebarkan ajaran
Sebagian masyarakat yang tertarik Islam, sebagai media dakwah. Hal ini
dengan kesenian ini akhirnya juga diungkapkan oleh Arifin (1987 : 15)
menciptakan alat yang hampir sama bahwa: “Sarana dakwah Islamiah yang
dengan yang berada di Panggung Jati. mula-mula hanya kebijaksanaan dalam
Kesenian Terebang Gede yang sikap pribadi para da’i kemudian
berkembang di sana juga berasal dari berkembang antara lain melalui peralatan
Panggung Jati karena memiliki bentuk, seni budaya (gamelan), rebana, pencak
musik, dan pertunjukannya sama dengan silat, wayang kulit yang sederhana,
yang ada di Panggung Jati (wawancara akhirnya melalui sarana yang modern”.
dengan Beni Kusnandar, 4 Maret 2010).
5
ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala
E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

Perlahan seiring dengan mengajak masyarakat penikmat untuk


perkembangan zaman yang terjadi, berbuat sesuatu atau bersifat tertentu
perkembangan alat musik Terebang Gede dapat memanfaatkan media seni, dan seni
sedikit bertambah dengan masuknya dapat dimanfaatkan sebagai alat
sener drum, bass drum, jimbe, simbal, komunikasi.
dan penambahan bahasa dalam lagu buah Berdasarkan pada pengamatan dan
kawung atau shalawat nabi. Kesenian ini kenyataan di lapangan, Kehadiran
pada akhirnya juga digabungkan dengan kesenian Terebang Gede di masyarakat
seni marawis yang lagu-lagunya sudah Kota Serang Banten merupakan bagian
dipopulerkan saat ini oleh Ustad Jefri. dari kearifan lokal yang selain
(wawancara dengan Mistar, 26 Februari mempunyai fungsi sebagai media
2010). dakwah juga mempunyai fungsi lain
Terebang Gede di Desa Panggung dalam memenuhi unsur-unsur sosial
Jati ini merupakan warisan yang budaya masyarakat, antara lain
diturunkan secara terus menerus dari Keagamaan, Media silaturahmi dan
orang tua. Hal ini menyebabkan kesenian komunikasi bagi masyarakat, Mata
ini sudah dianggap sebagai pusaka dan pencaharian tambahan dan amal jariyah
akan terus diwariskan pada generasi dan Media Hiburan dan Pariwisata.
selanjutnya. Ketika pada awalnya Mendekati tahun 2000, masuknya
munculnya kesenian ini memang unsur budaya dan seni melalui media
digunakan sebagai pada acara-acara ritual televisi mengharuskan kesenian Terebang
dan tradisi di masyarakat seperti gede untuk menyesuaikan minat
muludan, panen, pesta rakyat, khitan masyarakat saat itu. Munculnya seni
(sunatan), dan mengarak pengantin bagi Marawis yang populer di Jakarta saat itu
masyarakat di Desa Panggung Jati. memunculkan ide untuk
Namun dalam perkembangannya saat ini, mengkolaborasikan seni Terebang Gede.
kesenian ini sudah mulai ditampilkan Hal ini juga diutarakan Zemain bahwa :
bagi masyarakat luar dari Desa Panggung “Saya mengkolaborasikan Terebang
Jati. Gede dengan Marawis pada tahun 2000
Pergeseran nilai dan fungsi dan perkumpulan Terebang Gede
pertunjukan pada kesenian Terebang menjadi Marawis/Terebag Gede Al-
Gede akibat muncul dan masuknya seni Karomah (wawancara dengan Zemain, 14
modern karena tantangan zaman juga. Juli 2010)”
Kesenian ini akhirnya dikembangkan Setelah dikolaborasikannya seni
dengan melakukan penambahan- Terebang Gede dengan seni Marawis,
penambahan mulai dari alat-alat band dan fungsi-fungsi ritual pada kesenian ini
pukulan koplo saat ini. Namun mulai ditinggalkan. Saat ini, kesenian
penambahan ini bukan tujuan untuk Terebang gede lebih difungsikan sebagai
merubah bentuk dan dan nilai kesenian seni pertunjukan dan hiburan bagi
ini melainkan agar kesenian ini dapat masyarakat. Pergeseran fungsi ini
diterima di masayarakat (wawancara merubah kebiasaan dan tradisi lama
dengan Mistar, 26 Februari 2010). untuk menyesuaikan dengan kebutuhan
Mengenai fungsi seni pertunjukan dan permintaan. Hal ini diutarakan
Suparli (1983 : 48) menjelaskan bahwa : Mistar bahwa : “Dulu kesenian ini
Seni pertunjukan sebagai alat komunikasi digunakan untuk mengarak penganten
yang harus membawa pesan. Jika atau jawadah pada malam hari, biasanya
dipandang dari segi seniman, maka seni dimainkan setelah habis shalat isya
berfungsi sebagai alat ekspresi, dan hingga menjelang subuh. Sekarang sudah
sumber mata pencaharian, dipandang dari tidak dan dimainkan siang hari
segi masyarakat penikmat seni berfungsi (wawancara dengan Mistar, 15 Juli
sebagai media pendidikan dan ajang 2010)”
berolah seni, misalnya bagi pemerintah Dalam rangka mengupayakan
tertentu dalam menyampaikan da’wah, pelestarian kesenian Terebang Gede yang
6
ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala
E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

merupakan kesenian khas Kabupaten dan alat tambahan untuk memberikan


Serang memang tidaklah mudah, seniman nuansa lain agar dalam pertunjukan
Terebang Gede dalam hal ini dituntut terlihat lebih menarik, hal tersebut
untuk lebih bekerja keras dengan ide-ide dilakukan dalam rangka mempertahankan
atau tingkat kreativitas yang dimilikinya keberadaan kesenian Terebang Gede dari
sebelum kesenian tradisi ini tergusur oleh ancaman-ancaman budaya modern.
kesenian-kesenian modern yang dinilai
lebih atraktif dan lebih bersifat PENUTUP
mengibur. Para seniman harus bisa
mengangkat nama kesenian Terebang Kesenian tradisional yang
Gede sebagai kesenian khas daerah berkembang di wilayah pronvinsi Banten
Kabupaten Serang yang memiliki nilai- memang sangat beragam. Berdasarkan
nilai luhur sebagai bentuk warisan nenek
hasil temuan di lapangan mengenai
moyang yang tidak kalah dengan
kesenian-kesenian modern. Perkembangan Kesenian Terebang Gede
Upaya dasar yang dilakukan para Di Kabupaten Serang Banten tahun 1980-
seniman untuk melestarikan nilai-nilai 2008, maka terdapat empat hal yang
dalam kesenian Terebang Gede adalah ingin penulis sampaikan, yaitu
dengan melakukan sistem pewarisan dini Kabupaten Serang yang merupakan
yang utuh dan berkesinambungan yaitu bagian dari Banten merupakan salah satu
dengan cara mengajarkan kesenian
daerah yang cukup terkenal dengan dasar
Terebang Gede pada anak-anaknya atau
generasi muda dilingkungannya. Hal ini budaya Islam yang cukup kuat. Kelahiran
senada dengan apa yang di ungkapkan kesenian Terebang Gede yang terdapat di
yang diungkapkan Mistar bahwa : “Anak Kabupaten Serang tidak terlepas dari
saya pun saya ajarkan Terebang Gede upaya atau proses Islamisasi yang
dari umur sembilan tahun. Sekarang dilakukan pada masa Kesultanan Banten.
sudah berani mentas dengan memainkan Terebang Gede sebagai salah satu
koneng (wawancara dengan Mistar, 26
kesenian tradisional meskipun
Februari 2010)”
Melalui proses tersebut kesenian keberadaannya telah berlangsung selama
tradisional ini tidak terputus berabad-abad, namun ternyata kesenian
regenerasinya. Pendidikan dan amanah ini masih terlihat eksis di masyarakat,
untuk selalu mengembangkan kesenian meskipun wilayah penyebaran dan
ini ditanamkan para orang tua dengan penggemarnya masih terbatas. Kesenian
tidak membatasi kreativitas anak-
Terebang Gede telah melakukan
anaknya untuk mengembangkan seni ini.
Hal ini juga dikemukakan oleh Zemain pergeseran dengan di kolaborasikan
bahwa : “Saat ini, saya sudah tidak dengan seni Marawis saat ini. Hal
menjadi pimpinan disini. Marawis dan tersebut ternyata dilakukan dalam usaha
Terebang Gede Al-Karomah sudah saya untuk menyesuaikan perkembangan
serahkan kepada Sobri anak saya sebagai zaman dan minat masyarakat
pemimpin (wawancara dengan Zemain, pendukungnya.
14 Juli 2010)”.
Perkembangan budaya modern dan
Upaya lainnya adalah dengan
memodifikasi dan mengemas kesenian globalisasi yang dikemas dalam berbagai
Terebang gede dengan cara bentuk media komunikasi dan informasi
menyesuaikan dengan perkembangan turut mempengaruhi turunnya apresiasi
zaman dan selera masyarakat masyarakat terhadap keberadaan
pendukungnya dengan tidak kesenian yang bersifat tradisional seperti
mengesampingkan nilai budaya yang Terebang Gede. Adanya proses
mendasar dari kesenian ini. Oleh karena
urbanisasi dengan hadirnya masyarakat
itu, dilakukanlah penembahan instrumen
7
ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala
E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

pendatang juga mengakibatkan hilangnya Agama Islam di Indonesia. Jakarta


rasa kepemilikan terhadap nilai-nilai : PT Golden Terayen Press.
budaya yang dimiliki daerah tersebut,
Gottschlak, Louis (1985). Mengerti
para pendatang tersebut lebih bangga
Sejarah, Terjemahan Nugroho
terhadap nilai-nilai budaya darimana Notosusanto. Jakarta: Yayasan
mereka berasal dan berupaya untuk Penerbit UI.
mengembangkan budayanya pada tempat
yang didatanginya sehingga lambat laun Hakim, Lukman. (2006). Banten Dalam
kebudayaan pendatang tersebut Perjalanan Jurnalistik. Serang :
kemungkinan bisa dapat lebih Banten Heritage.
berkembang dibandingkan kebudayaan
Ismaun. (1992). Pengantar Ilmu Sejarah.
asli daerah setempat. Selain itu, peranan Bandung: FPIPS IKIP Bandung.
instansi terkait yang seharusnya
mewadahi berbagai aspirasi dari tiap-tiap Khayam. (1981). Seni, Tradisi,
kelompok kesenian Terebang Gede yang Masyarakat. Jakarta : Sinar
ada di Kabupaten Serang dinilai oleh Harapan.Tim Penyusun Subdin
sebagian besar pengurus kelompok atau Kebudayaan. (2003). Profil Seni
Budaya Banten. Serang : Dinas
grup kesenian Terebang Gede belum
Pendidikan Provinsi Banten.
dapat secara maksimal memainkan
peranannya sehingga keberadaan Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu
kesenian Terebang Gede itu sendiri Antropologi. Jakarta : Rineka
belum dapat dijadikan sebagai barometer Cipta.
yang dapat dibanggakan daerah setempat.
Sjamsuddin, H. (2007). Metodologi
Pemerintah juga berperan dalam
Sejarah. Yogyakarta : Ombak.
pendokumentasian atau pendataan
terhadap kesenian Terebang Gede di
Soedarsono. (1999). Seni Pertunjukan
Kabupaten Serang secara periodik dan
Indonesia di Era Globalisasi.
teliti agar kesenian Terebang Gede tidak
Yogyakarta : Depdikbud
punah. Hasil pendokumentasian dapat
dibaca dan dipelajari oleh generasi
Suparli. (1983). Tinjauan Seni. Jakarta :
berikutnya. Kemudian, pemerintah
Direktorat Jenderal Pendidikan
diharapkan membentuk lembaga atau
Dasar dan Menengah.
paguyuban bagi seniman tradisional yang
bertujuan mengembangkan kreativitas
Tim Studi Pengembangan Seni
dan memperluas jaringan agar
Tradisional Kabupaten Serang.
mempermudah akses untuk pertunjukan
(1992). Kesenian Tradisional
di luar daerah Serang.
Kabupaten Serang. Serang :
Depdikbud.

DAFTAR PUSTAKA Tim Studi Pengembangan Seni


Tradisional Kabupaten Serang.
Buku (2000). Kesenian Tradisional
Kabupaten Serang. Serang :
Abdurahman, Dudung. (1999). Metode Depdikbud.
Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos
Wacana Ilmu. Yoety,Oka A. (1983). Pengantar Ilmu
Pariwisata. Bandung : Angkasa.
Arifin, H.S. (1987). Menyingkap
Metode-metode Penyebaran
8
ISSN: 2477-2771 Jurnal Candrasangkala
E-ISSN: 2477-8214 Vol 3 No.1 Tahun 2017

Wawancara

No Nama Usia Pekerjaan Alamat Waktu


(Tahun) Wawancara
1 Beni, K, S.Sn, 42 Kepala Kasi Taktakan 04 Maret 2010
M.Si Kebudayaan dan
Kesenian Disbudpar
Kabupaten Serang
2 H. Mistar 55 Ketua Terebang Taktakan, Desa 26 Februari
Gede/Marawis Al Panggung Jati 2010, 15 Juli
Barokah Panggung Jati 2010
Barat
3 Zemain 55 Ketua Terebang Taktakan, Desa 05 Maret
Gede/Marawis Al Panggung Jati 2010, 15 Juli
Karomah Panggung 2010
Jati Timur
4 Tb. Nasuha S.H 42 Mantan Kepala Desa Taktakan, Desa 26 Juni 2010
Panggung Jati 2000- Panggung Jati
2008, Advokat