Anda di halaman 1dari 12

BAB III

PEMILIHAN KEPALA DAERAH DALAM PRAKTEK

Kasus berikut berhubungan satu sama lain.

SENGKETA PILKADA JATIM: Pemungutan Suara di Tiga Kabupaten Harus


Diulang

Rabu, 03 Desember 2008 08:28


JAKARTA (Suara Karya): Mahkamah Konstitusi (MK) memerintahkan Komisi Pemilihan
Umum Daerah (KPUD) Jawa Timur (Jatim) melakukan pemungutan suara ulang di Kabupaten
Bangkalan dan Kabupaten Sampang serta perhitungan suara ulang di Kabupaten Pamekasan
terkait sengketa hasil Pilkada Jatim.

Dalam amar putusan majelis hakim MK yang dibacakan di Gedung MK,


Jakarta, Selasa, disebutkan, MK membatalkan rekapitulasi suara milik KPUD
Jatim di Kabupaten Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan karena telah
terjadi pelanggaran peraturan pilkada di tiga wilayah itu. Pelanggaran
terberat terjadi di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang.
Di Bangkalan, menurut Ketua Majelis Hakim Mahfud MD, telah terbukti
terjadi pelanggaran sistematis, terstruktur, dan masif. Begitu juga di
Sampang.
Kesimpulan majelis hakim itu didasarkan keterangan anggota dan Ketua
Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang secara tertulis
dibuat di hadapan Notaris Indriani Yasmin di Sidoarjo. Petugas KPPS itu
mengaku telah melakukan penggelembungan suara dengan mencoblos
sendiri surat suara untuk pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa).
Sedangkan di Pamekasan, pelanggaran pilkada dianggap sedikit lebih ringan.
Pelanggarannya berupa penggunaan formulir-formulir yang tidak standar
(baku) untuk rekapitulasi penghitungan suara tanpa merinci perolehan suara
per tempat pemungutan suara (TPS). Penghitungan suara pun tidak
dilakukan per TPS, melainkan per desa.
"Penyimpangan-penyimpangan demikian telah melanggar prosedur dan tata
cara pilkada sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan,
sehingga hasil pilkada di seluruh kabupaten ini tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya," tutur Mahfud.
Menanggapi putusan MK tersebut, calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa
Timur Saifullah Yusuf, menyatakan menerima keputusan MK. "Meski
sebenarnya berat, kami harus menerima keputusan yang mengharuskan
pemilihan ulang dan penghitungan suara ulang itu," kata Gus Ipul, sapaan
akrab mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini, di Jakarta,
Selasa.
Calon Gubernur Jatim Soekarwo, juga menyatakan siap menghadapi
pelaksanaan pemungutan suara ulang di Kabupaten Bangkalan dan
Kabupaten Sampang sesuai dengan putusan MK. "Saya siap-siap saja
dengan pemungutan suara lagi," kata Soekarwo usai mendengarkan putusan
MK.
Ia mengatakan, putusan majelis hakim konstitusi yang mengabulkan
sebagian permohonan yang diajukan pasangan Khofifah Indar
Parawansa/Mudjiono (Kaji) merupakan suatu terobosan.
Penasihat hukum Karsa, Todung Mulya Lubis, menyatakan dirinya terkejut
dengan putusan MK, namun putusan itu bersifat final. "Saya jujur terkejut
dengan putusan ini. Kalau boleh banding saya akan banding. Namun,
putusan MK bersifat final, kita hormati," ujarnya. Sedangkan calon Gubernur
Jatim Khofifah Indar Parawangsa sangat antusias menyambut keputusan MK
tersebut. "Kita sangat mengapresiasi keputusan MK ini," katanya.
Khofifah berharap, KPUD dapat bekerja profesional dan proporsional dalam
pelaksanaan pemilihan ulang dan penghitungan suara ulang nanti. "Semoga
penyelenggaraan pemilihan ulang nanti dapat dijalankan dengan baik agar
tidak memunculkan persoalan lagi," katanya.
Di tempat terpisah, Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary mengharapkan
pemungutan dan penghitungan suara ulang di sejumlah kabupaten terkait
Pilkada Jatim dapat diselesaikan paling lambat akhir Desember 2008.
Dari Surabaya dilaporkan, putusan MK tersebut disambut beragam oleh dua
massa pendukung calon gubernur (cagub) di Jawa Timur. Massa pendukung
Kaji menyambut gembira putusan tersebut, sebaliknya massa pendukung
Karsa justru sangat kecewa.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kawasan di sekitar
kantor KPU Jatim, Jl Tanggulangin, Surabaya, sejak pagi sudah dijaga ketat
oleh aparat kepolisian.
Ketegangan justru terjadi di Pondok Karsa yang menggelar acara nonton
bareng siaran langsung persidangan MK oleh sebuah televisi swasta.
Sejumlah pendukung Karsa --yang sejak awal telanjur meyakini bakal
menang--terkejut dan langsung menggelar rapat di salah satu ruangan.
Sebaliknya, suasana ceria justru terjadi di Posko Kaji di perumahan Delta
Sari, Waru, Sidoarjo. Salah seorang pendukung Kaji, Hj Laila Badriyah
menilai persidangan di MK itu telah menjunjung tinggi nilai keadilan. "Kami
sangat mensyukuri putusan ini," ujarnya. (Wilmar P/Andira)

Sumber Suara Karya


SBY Komentari Putusan MK Soal Pilkada Jatim
Anwar Khumaini - detikNews

Jakarta - Selama ini Presiden SBY jarang sekali berkomentar soal hasil pilkada di berbagai daerah. Namun, untuk
pilkada di Jawa Timur, SBY menyempatkan diri untuk berkomentar.

"Selama ini saya tidak pernah memberi tanggapan soal pilkada, karena yang paling berkepentingan adalah
masyarakat di daerah itu sendiri. Namun karena ini situasinya khas," ujar SBY saat memberikan press briefing di
Kantor Kepresidenan, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (3/12/2008).

SBY meminta, agar semua pihak menghormati putusan Mahkamah Konstitusi yang meminta kepada KPUD Jatim
untuk melaksanakan pilkada ulang di dua daerah serta penghitungan ulang di satu kabupaten.

"Dalam dunia demokrasi silang pendapat wajar, yang penting saya mengajak kepada masyarakat Indonesia,
pasangan cagub-cawagub Jatim, KPU, KPUD untuk menghormati putusan MK ini," pinta SBY yang kelahiran
Pacitan, Jatim, ini.

SBY meminta kepada KPUD setempat untuk segera menyiapkan pilkada ulang di Sampang dan Bangkalan, serta
penghitungan suara ulang di Pamekasan, Madura. "Saya harap saudara-saudara yang ada di Sampang, yang telah
memilih, tapi demi kepentingan yang lebih luas, saya harap datang memberikan hak suaranya," kata SBY.

SBY menambahkan, pada awal 2009 nanti, suhu politik makin memanas, sehingga masyarakat diminta untuk
menahan diri. (anw/nrl)
VIDEO TERKAIT

Doorprize untuk Pencoblos

FOTO TERKAIT

Coblosan Ulang Pilgub Jatim

Bangkalan - Tim pemenangan pasangan cagub Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) mengklaim berhasil
memenangan coblosan ulang Pilgub Jatim di Sampang dan Bangkalan.

Meski begitu, mereka meminta agar warga Jawa Timur bersabar dan tetap menunggu hasil resmi yang dikeluarkan
oleh KPUD Jatim.

"Penghitungan yang dilakukan oleh tim KarSa sudah final. Dan mari kita bersabar menunggu hasil resmi KPU Jatim,"
ujar Wakil Sekretaris DPD Partai Demokrat Jatim, Junianto kepada detiksurabaya.com, Rabu (21/1/2009).

Dari hasil penghitungan suara yang dihimpun tim KarSa, di Kabupaten Sampang Kaji memperoleh suara sebanyak
147.513, sedangkan KarSa 211.285 dengan selisih suara sebanyak 63.772.

Untuk penghitungan di Kabupaten Bangkalan, KaJi memperoleh suara 144.441, KarSa meraup 254.366 suara,
selisih kemenangan bagi KarSa sebanyak 109.925.

"Sekali lagi kita mengucapkan terima kasih kepada warga yang tetap memberikan kepercayaan kepada KarSa untuk
membangun Jatim lebih baik lagi," katanya.

Di Posko KarSa, Soekarwo terlihat sumringah dengan hasil yang coblosan ulang di dua kabupate itu. Meski begitu,
dia tak mau takabur. Pakde Karwo juga masih menunggu hasil perhitungan atau rekapitulasi dari KPU Jatim.

"Saya telah menerima hasil tersebut yang tentu saja membuat kami senang," katanya saat ditemui di poskonya,
Jalan Letnan Abdullah, Bangkalan.

Soekarwo menjelaskan data yang dikumpulkan timnya itu didapatkan dari seluruh Tempat Pemungutan Suara (TPS)
di Bangkalan dan Sampang.

"Data itu telah sudah mencapai 95 persen," katanya. (bdh/gik)


BAB 4

ANALISIS KASUS

A. ANALISIS

Pertama-tama penulis menganalisis kasus pemilihan Kepala Daerah di Jawa Timur sejak
terbukti adanya kecurangan yang skala besar hingga kecil pada pemungutan suara di beberapa
kabupaten. Salah satu dari tugas KPUD dalam pemilihan Kepala Daerah adalah menetapkan
hasil rekapitulasi suara dan pada kasus ini, KPUD Jatim memutuskan untuk memenangkan
pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) dalam Pilkada Jatim lalu. Berdasarkan hasil
rekapitulasi penghitungan suara Pilgub Jatim putaran II yang dilakukan KPU Jatim pasangan
Kaji memperoleh 7.669.721 suara (49,80 persen), sementara Karsa (Soekarwo-Saifullah Yusuf)
7.729.944 suara (50,20 persen). Dari suara sah sebanyak 15.399.665, terdapat 506.343 suara
tidak sah. Dengan hasil itu, maka pasangan Karsa unggul tipis 60.223 suara atau 0,40 persen
dibanding pasangan Kaji. Setelah diselidiki oleh Mahkamah Konstitusi bahwa memang terjadi
pelanggaran yang cukup fatal dalam Pilkada di Jawa Timur ini. Dari pernyataan tertulis yang
dibuat di hadapan Notaris Indriani Yasmin di Sidoarjo. Petugas KPPS itu mengaku telah
melakukan kecurangan berupa penggelembungan suara dengan mencoblos sendiri surat suara
untuk pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa). Sedangkan di Pamekasan, pelanggaran
dianggap sedikit lebih ringan. Pelanggarannya berupa penggunaan formulir-formulir yang tidak
standar (baku) untuk rekapitulasi penghitungan suara tanpa merinci perolehan suara per tempat
pemungutan suara (TPS). Penghitungan suara pun tidak dilakukan per TPS, melainkan per desa.
.Apakah dari kecurangan-kecurangan tersebut Negara kita masih dapat disebut sebagai
Negara yang Demokrasi? Demokrasi seperti inilah yang diinginkan oleh kita dengan
menggunakan uang untuk mendapat kekuasaan dimana sesungguhnya kita sendiri sebagai warga
Negara belum mampu untuk menjadikan Negara ini sebagai Negara demokrasi yang seutuhnya.
Jika kasus ini dipandang dari hanya satu sisi saja, pasti kita mengganggap bahwa pelanggaran
tersebut adalah kesalahan fatal yang dibuat oleh KPUD Jawa Timur. Penulis pun beranggapan
demikian, KPUD yang semestinya bertugas untuk mengkoordinasikan, menyelenggarakan, dan
mengendalikan semua tahapan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah,
namun dalam Pilkada Jawa Timur ini KPUD tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya.
Dalam kasus ini pelanggaran berupa penggelembungan suara dan penggunaan formulir-formulir
yang tidak baku dapat pula karena dikarenakan adanya manipulas DPT ( Daftar Pemilih Tetap).
Kedua pelanggaran tersebut hanya dapat terjadi apabila tidak terdapat pengawasan dan
perhitungan yang pasti dalam DPT. Manipulasi DPT ini dapat dikarenakan karena lemahnya
administrasi kependudukan. Dalam artikel kasus-kasus diatas memang tidak dijelaskan secara
rinci mengapa petugas KPPS dapat melakukan pelanggaran tersebut. Apakah KPUD Jawa timur
sendiri lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai pelaksana Pilkada ataukan memang ada
manipulasi yang dibuat dengan sengaja oleh KPUD untung menguntungkan satu pihak. Kita pun
sebagai warga Negara tidak tahu pasti akan transparansi dari KPUD Jatim. Namun untungnya
kecurangan ini dilaporkan oleh Pasangan pasangan KaJi yang melakukan langkah hukum dengan
mangajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Langkah hukum memang harus dikedepankan
bagi pihak-pihak yang merasa keberatan dengan hasil Pilkada.
Selanjutnya kita analisis dari putusan Mahkamah Konstitusi dalam sengketa Pilkada Jawa
Timur tahun 2008. Mahkamah Konstitusi (MK) sendiri telah menanggapi pengajuan keberatan
terhadap hasil penghitungan suara pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Timur tahap
pertama dengan dilakukan pemilihan ulang di Kabupaten Bangkalan dan Sampang, serta
penghitungan ulang di Kabupaten Pamekasan. Wewenang MK mengadili hasil pilkada berlaku
efektif sejak tanggal 1 November 2008 setelah Mahkamah Agung menyerahkan wewenang
tersebut secara resmi ke MK tanggal 29 Oktober 2008. Atas wewenang tersebut, MK
menerbitkan Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 15 Tahun 2008 tentang pedoman
beracara dalam perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah. Mahkamah Konstitusi
menyiapkan tiga Hakim Panel yang berasal dari luar Pulau Jawa untuk menangani kasus
sengketa Pilkada Jawa Timur. Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan penugasan
hakim panel dari luar Pulau Jawa untuk menjaga independesi institusi MK. Selain itu, untuk
memastikan hakim tidak mempunyai ikatan emosional dengan pasangan KAJI. Ketiga hakim
yang rencananya akan menangani pengaduan pasangan KAJI antar lain Muarar Siahaan SH,
Muhammad Alim SH, dan Arsyad Sanusi SH. Salah satu persoalan dalam berbagai sengketa
pilkada adalah tudingan bahwa pencoblosan di TPS-TPS itu curang, penuh tekanan, dan
beraroma politik uang. Dalam pemeriksaan di MK, hal-hal tersebut menjadi isu sentral yang
kemudian diutarakan saksi-saksi yang kebanyakan bukanlah saksi-saksi yang hadir dalam proses
pemilihan dan penghitungan di TPS-TPS. Dari berbagai sidang yang dilakukan oleh MK,
akhirnya MK memutuskan hasil sengeketa Pilkada Jawa Timur. Mahkamah Konstitusi (MK)
secara bulat akhirnya mengabulkan sebagian permohonan pasangan Kaji atas keberatan terhadap
rekapitulasi hasil penghitungan suara Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2008 Putaran II
yang ditetapkan KPU. MK memerintahkan pemungutan suara ulang di Bangkalan dan Sampang,
serta penghitungan ulang di Kabupaten Pamekasan, Madura. Ternyata, dalam perkara ini, MK
melangkah lebih jauh dengan mempertimbangkan bukti-bukti materiil, bukan sekadar bukti
formil. MK, berdasar alat bukti dan keyakinan hakim, menilai bahwa telah terjadi pelanggaran
sistematis, terstruktur, dan masif di daerah pemilihan Sampang, Bangkalan, Kabupaten
Pamekasan yang bertentangan dengan konstitusi, khususnya pelaksanaan Pilkada secara
demokratis.
Menurut penulis, Putusan MK yang sangat mengejutkan dan amat berani ini menerobos norma
yang telah digariskan oleh undang-undang. Sebab, seyogyanya MK cukup memutus secara tegas
terhadap hasil sengketa perselisihan suara Pilkada saja. Namun ironisnya, justru dengan
kewenangan yang limitatif tersebut MK seringkali dianalogikan sebagai “pengadilan kalkulator”,
karena fungsinya hanya berkutat seputar angka-angka hasil penghitungan suara. Sedangkan, jika
MK hanya terpaut dengan angka-angka saja, bukankah itu terlalu dianggap remeh untuk
kemudian kewenangan mulia tersebut dilimpahkan dari MA kepada MK. Padahal MK sengaja
dibentuk untuk turut menjaga rasa demokrasi dengan berlandaskan nilai-nilai Konstitusi
sebagaimana tercantum jelas dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945. Putusan sengketa Pilkada
Jatim menjadi bukti bahwa MK bukan lagi sekedar menjadi pengadilan kalkulator semata.
Sebab, kebenaran materil yang dicarinya turut disandingkan pula dengan prinsip-prinsip
pelaksanaan demokrasi yang sehat sesuai dengan asas-asas Pemilu yang langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur dan adil. Namun demikian, hal tersebut dapat disalah pahamkan pula apabila di
kemudian hari, pelanggaran pemilu baik itu yang bersifat administratif maupun pidana,
kesemuanya langsung diserahkan bulat-bulat di atas meja merah MK. Tentunya, kita harus pula
tetap mengikuti koridor penyelesaian pelanggaran pemilu berdasarkan ketentuan hukum yang
ada, yaitu melalui Bawaslu, Panwaslu, dan Pengawas Pemilu Lapangan, dengan Penyidik
Kepolisian dan Pengadilan Umum sebagai sarana awal dalam memperjuangkan hak-hak
demokratik setiap peserta pemilu. Selain itu, Berdasarkan pernyataan MK, Pemilihan Gubernur
ulangan harus dilaksanakan dalam waktu 60 hari sejak Putusan MK dikeluarkan. Pertanyaannya,
apakah waktu 60 hari cukup memadai karena pasca putusan MK tersebut telah menciptakan
kondisi baru yang berbeda dengan sebelumnya? Harus ada pemutakhiran data pemilih. Sebab,
pada pilkada sebelumnya, terlihat bahwa angka golput lebih banyak. Menurut beberapa lembaga
survei, golput di Jawa Timur mencapai 50 persen. Lalu, pada pemilihan ulang apakah mereka
(para golput) akan memilih? Apakah mereka terdaftar sebagai pemilih? Juga, apakah akan
dibuka pendaftaran pemilih lagi? Jika tidak, akan ada suara yang hilang. Padahal, hak memilih
adalah hak setiap warga Negara. Keteledoran MK ini adalah tidak memahami susunan acara dan
peraturan pemilu nasional yang sudah terjadwal . Keteledoran MK ialah bahwa mereka
menganggap teknis pelaksanaan pilkada itu mudah dan sederhana sehingga KPUD Jawa Timur
pasti bisa dan harus bisa melaksanakan penghitungan ulang serta pemilihan ulang tersebut.
Padahal, betapa sulitnya apabila kita melihat realitas di lapangan dari meja majelis MK di Jakarta
dengan kondisi psikologis politis dan teknis di Pamekasan, Bangkalan, dan Sampang. Kita tahu
sendiri, keadaan di Ibukota sangat berbeda dengan kondisi di daerah. Tapi, putusan MK adalah
putusan MK yang mesti dilaksanakan, puas atau tidak puas. Bantuan dari dua pasangan calon
gubernur-wakil gubernur, Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono dan Soekarwo-Saifullah Yusuf
menjadi sangat instrumental. Karena itu, pertarungan mereka harus dilakukan dengan kepala
dingin dalam budaya politik yang beradab. Kalau massa dua pasangan itu berjiwa panas, apalagi
brutal, pilkada putaran ketiga ini akan jadi bencana demokrasi yang mencederai pencapaian kita
sebagai negara keempat terbesar yang dianggap sukses melaksanakan demokrasi. Kegagalan di
Jawa Timur akan menjadi langkah mundur yang membuat wajah demokrasi sebagai bangsa
Indonesia cukup tercoreng. Setelah diadakan pemilihan ulang di Sampang dan Bangkalan,
pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf berhasil memenangkan kembali Pemilihan Gubernur di
Jawa Timur. Dari hasil penghitungan suara yang dihimpun tim KarSa, di Kabupaten Sampang
Kaji memperoleh suara sebanyak 147.513, sedangkan KarSa 211.285 dengan selisih suara
sebanyak 63.772. Untuk penghitungan di Kabupaten Bangkalan, KaJi memperoleh suara
144.441, KarSa meraup 254.366 suara, selisih kemenangan bagi KarSa sebanyak 109.925.
Kewenangan Mahkamah Konsitusi dalam Penyelesaian Sengketa Pemilihan
Kepala Daerah

Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Penyelesaian Sengketa Pilkada Perubahan


Ketiga UUD 1945 telah melahirkan lembaga baru yang menjadi bagian dari kekuasaan
kehakiman, yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan dalam rangka
menjaga konstitusi agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat
dan cita-cita demokrasi. Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 Perubahan menegaskan bahwa
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya
bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar,
memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
Melalui UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum terminologi
pemilihan kepala daerah dirubah menjadi pemilihan umum kepala daerah. Bab I Pasal 1 UU No.
22 tahun 2007 mempunyai maksud bahwa Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
adalah pemilu untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah secara langsung dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian, apabila pemilihan kepala daerah masuk rezim pemilu
maka penanganan sengketa hasil pemilihan kepala daerah menjadi kewenangan Mahkamah
Konstitusi sesuai dengan Pasal 24C ayat (1) Perubahan UUD 1945. Persoalannya, UU No 32
tahun 2004 masih mengatur perselisihan hasil pilkada menjadi kewenangan Mahkamah Agung
sehingga perlu adanya regulasi lebih lanjut untuk mempertegas pengaturan mengenai sengketa
hasil pemilihan kepala daerah. Melalui UU No. 12 tahun 2008 tentang Perubahan Atas UU No.
32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sengketa pilkada telah dialihkan dari MA ke MK.
Peralihan locus penyelesaian sengketa tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 236C yang
menyatakan bahwa Penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan
wakil kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan kepada Mahkamah Konstitusi paling lama
18 (delapan belas) bulan sejak Undang-Undang ini diundangkan. Bunyi Pasal 236C UU No. 12
Tahun 2008 tersebut dari sudut legal drafting menimbulkan persoalan. Pertama, menurut Jimly
Asshiddiqie,11 Pasal 236C mempunyai penafsiran ganda. munculnya Pasal itu semata-mata
hanya ingin memberi waktu persiapan kepada MK. Misalnya, apabila dalam jangka waktu satu
bulan sejak disahkan UU No. 12 tahun 2008 MK sudah siap, maka perselisihan hasil pilkada
dapat langsung ditangani oleh MK. Penafsiran kedua, maksud paling lama adalah sebelum 18
bulan. Artinya, meskipun MK sudah mempunyai persiapan yang matang, sengketa tersebut tidak
serta merta atau belum dapat dialihkan. Untuk memastikan mana yang benar, maka penafsiran
ganda tersebut dapat dibawa ke MK untuk judicial review. Namun demikian, hal ini
kemungkinannya kecil karena sulit mencari alasan konstitusionalnya. Untuk itu, Jimly
mengembalikan persoalan ini kepada pembentuk undang-undang yaitu Presiden dan DPR.
Menurut Bagir Manan, sebuah undang-undang akan memberikan kepastian dan konsisten.
sebuah pasal dalam undang-undang akan tetap dinyatakan berlaku apabila dalam undang-undang
perubahannya tidak secara tegas dinyatakan telah dihapus atau diubah dengan rumusan pasal
yang baru. UU No 12 Tahun 2008 tidak mengubah Pasal 106 UU No. 32 Tahun 2004 yang
merupakan dasar kewenangan MA untuk memutus sengketa pilkada.
Pasal 106 ayat (1) UU No 32 Tahun 2004 berbunyi: Keberatan terhadap penetapan hasil
pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh pasangan calon
kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari setelah penetapan hasil
pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Untuk mempertegas atau memberikan
kapastian hukum tentang kewenangan penyelesaian sengketa pilkada masuk dalam wewenang
MK dapat dilakukan pertama, diatur kembali dalam UU pilkada secara tersendiri dan
menyatakan Pasal 106 ayat (1) UU No 32 Tahun 2004 tidak berlaku atau; kedua, dapat
dimasukkan ke dalam UU MK yang sekarang sedang direvisi. Beralihnya penyelesaian sengketa
pilkada ke MK akan membawa harapan baru karena penyelesaian oleh MK relatif tidak
menimbulkan konflik yang berarti. Hal ini dibuktikan dari pengalaman MK dalam menangani
sengketa pemilu
Di samping itu, beberapa pasal yang terdapat dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi No.
04/PMK/2004 tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan Pemilihan Umum perlu dilakukan
perubahan misalnya, Bab I Pasal 1 dapat ditambah dengan norma yang berbunyi ;Kepala daerah
dan Wakil Kepala Daerah adalah Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan
Walikota/Wakil Walikota;. Bab III tentang Tata Cara Mengajukan Permohonan, Pasal 5 ayat (2)
seharusnya ditambah huruf (d) yang berbunyi ;calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Bab
II Pasal 3 ditambah dengan huruf (d) ;Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah;. Pasal 4
ditambah dengan huruf (d) yang berbunyi ;terpilihnya calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah;. UU No. 12 tahun 2008 tentang Perubahan Atas UU No. 32 tahun 2004 telah membawa
perubahan besar terhadap penyelenggaraan pilkada di Indonesia. Perubahan itu antara lain
dialihkannya penanganan sengketa hasil pilkada dari MA ke MK. Hal ini merupakan penegasan
tentang masuknya pilkada dalam rezim pemilu. Adanya perubahan tersebut telah menimbulkan
banyak persoalan sehingga terdapat beberapa hal yang menjadi pekerjaan rumah. Beberapa
pekerjaan rumah tersebut antara lain: pertama, Pasal 22E UUD 1945 yang menjadi sandaran
hukum penyelenggaraan pemilu sebaiknya perubahan sehingga berbunyi ;Pemilihan Umum
diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan PerwakilanRakyat, Dewan Perwakilan Daerah,
Presiden dan Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Kepala daerah dan Wakil
Kerpala Daerah;. Kedua, tentang peran regulasi pemerintah dalam pilkada. Empat Pasal dalam
UU No. 32 Tahun 2004 yang meminta Peraturan Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksana
tidak dilakukan perubahan.Padahal, apabila pilkada sudah beralih ke rezim pemilu, PP tersebut
mutlak tidak diperlukan lagi. Ketiga, tentang pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala
daerah. Menurut UU No. 32 Tahun 2004, mekanisme pemberhentian kepala daerah dan wakil
kepala daerah dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu, pertama dengan usul DPRD dan kedua tanpa
usul DPRD. Persoalan akan muncul pada pemberhetian kepala daerah dan wakil kepala daerah
melalui cara yang pertama. UU No. 32 tahun 2004 Pasal 29 jo Pasal 123 Peraturan Pemerintah
No. 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah menegaskan bahwa pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah
diusulkan kepada Presiden dan berdasarkan putusan Mahkamah Agung atas pendapat DPRD,
bahwa Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah melanggar sumpah/janji jabatan dan tidak
melaksanakan kewajibannya. Banyaknya persoalan yang ditimbulkan akibat adanya perubahan
Kedua UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah itu, adalah sebuah keniscayaan
untuk segera diterbitkannya UU Mahkamah Konstitusi yang baru dan UU Pilkada yang nantinya
akan menjadi rujukan komprehensif penyelenggaraan pilkada di seluruh Indonesia.
Pengaturan lebih lanjut dalam kedua UU tersebut diharapkan dapat mengantipasi
berbagai kendala yang mungkin muncul. Penutup Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa dengan berubahnya rezim pemilihan kepala daerah menjadi rezim pemilihan umum, maka
penyelesaian sengketa pilkada yang semula menjadi kewenangan Mahkamah Agung beralih ke
Mahkamah Konstitusi sesuai dengan UU No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas UU No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Peralihan tersebut tentunya mengakibatkan
banyaknya persoalan yang semestinya perlu ada pengaturan lebih lanjut baik dalam UU
Mahkamah Konstitusi maupun UU Pemerintahan Daerah.

Beri Nilai