Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKRIBIOLOGI

PERHITUNGAN JUMLAH MIKROBA (ENUMERASI)

Oleh :

Nama : Shoimatul Jahra


Nim : 1708086041
Kelas : PB-5B
Kloter/Klp : 02/01
Dosen Pengampu : Sutrisno, S.Pd., M.Sc.
Asisten Laboratorium : 1. Faisal Anam
2. Khoiriyah Wihdatul U.
3. Saniatul Istiqomah

LABORATORIUM BIOLOGI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UIN WALISONGO SEMARANG

2019
PERHITUNGAN JUMLAH MIKROBA (ENUMERASI)

A. Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk menghitung jumlah mikroba aerob yang
terdapat dalam sampel.

B. Dasar Teori

Enumerasi bakteri adalah teknik perhitungan jumlah mikroba dalam suatu media
tanpa mengidentifikasi jenis mikroba (bakteri, jamur, yeast) yang bertujuan untuk
menentukan jumlah sel dari suatu kultur bakteri secara kuantitatif. Penetapan jumlah
bakteri dilakukan dengan menghitung jumlah sel bakteri yang mampu membentuk koloni
di dalam media biakan atau membentuk suspen sedalam larutan biak. Analisis kuantitatif
mikrobiologi pada bahan pangan ini penting dilakukan untuk mengetahui mutu bahan
pangan dan menghitung proses pengawetan yang akan diterapkan pada bahan pangan
tersebut (Rosalia, 2010).

Enumerasi mikroorganisme dapat dilakukan secara langsung maupun tidak


langsung. Metode yang digunakan untuk menghitung mikroba secara langsung
diantaranya adalah Counting chamber, cara pengecatan dan pengamatan mikroskopik
serta filter membrane. Penghitungan secara langsung dapat dilakukan secara
mikroskopis yaitu dengan menghitung jumlah bakteri dalam satuan isi yang
sangat kecil. Alat yang digunakan adalah Chamber atau Haemocytometer
(Brown, 2005).

Perhitungan secara langsung dilakukan secara mikroskopis, yaitu dengan


menghitung sel dibawah mikroskop. Setiap sel dalam suspensi contoh dengan volume
yang sangat sedikit dan telah diukur secara teliti, diukur dengan menggunakan slide
khusus yaitu kotak penghitung (counting chamber). Volume cairan yang terdapat pada
tiap kotak kecil pada kotak hitung dapat diketahui secara pasti sehingga jumlah sel dalam
tiap kotak dapat terlihat dan dihitung, jadi jumlah sel/ml larutan sel dapat diketahui
(Buckle dkk, 2007).
Sedangkan perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah
mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viable count). Dalam
pelaksanaannya, ada beberapa cara yaitu: perhitungan pada cawan petri (total plate count/
TPC), perhitungan melalui pengenceran, perhitungan jumlah terkecil atau terdekat (MPN
methode), dan calorimeter (cara kekeruhan atau turbidimetri). Metode yang digunakan
dalam perhitungan tidak langsung yaitu metode perhitungan cawan (plate count). Prinsip
perhitungan cawan ini adalah jika mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium
agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang
dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop (Gobel dkk, 2008).

Teknik plate count merupakan cara yang paling umum digunakan untuk
perhitungan jumlah mikroba. Dasarnya adalah membuat seri pengenceran bahan dengan
kelipatan 10. Dar masing-masing penngenceran diambil 1 ml dan dibuat taburan dalam
cawan petri (teknik pour plate) dengan medium agar yang sesuai. Setelah diinkubasi,
koloni yang tumbuh dihitung dar masing-masing pengenceran (Dwidjoseputro, 1990).

C. METODE
1. Alat
 Cawan petri  Korek
 Pipet volume & filler  Bunsen
 Tabung reaksi  Mikropipet
 Batang ose  Gelas beaker
 Batang bengkok
 Colony counter
 Hand counter
 Spidol / bolpen

2. Bahan
 Media Plate Count Agar (PCA)
 Alcohol
 Air kran
 Air selokan
 Tanah
 Air sungai
 Akuades
3. Cara Kerja
Disiapkan alat dan bahan praktikum

Di beri label pada masing masing tabung reaksi & cawan petri sesuai dengan
tingkat pengencerannya.

Diambil 1 ml air sampel / 1 gram tanah secara aseptic

Dimasukkan ke dalam akuades 9 ml, di homogenkan

Diambli secara aseptis 1 ml suspense dari pengenceran 10-1 ke 10-2 sampai ke


pengenceran 10-5

Di tuangkan media PCA ke cawan petri steril, lalu ditunggu hingga beku (meode
spread)

Diinolkuasikan secara aseptis pengenceran 10-4 dan 10-5 ke cawan petri steril
sebanyak 1 ml

Dituangkan media PCA leleh ke dalam cawan petri, dihomogenkan (pour plate),
lalu diitunggu hingga beku

Diinokulasikan pengenceran 10-4 dan 10-5 ke cawan petri berisi media PCA yang
sudah beku sebanyak 0,1 ml

Di sebar menggunakan batang bengkok

Semua cawan petri dibungkus plastic wrap dan kertas coklat

Di inkubasi selama 24 jam. Diamati dan dihitung dengan colony counter atau
hand counter
D. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan dan enumerasi mikroba

No. Sampel Jumlah koloni tiap pengenceran Keterangan


10-4 10-5
1. PSu-01 8 5 20 jam

2. SSu-01 29 5 20 jam

3. PT-01 Spreader 17 20 jam

4. ST-01 34 40 20 jam

5. PG-01 Spreader 30 20 jam

6. SG-01 11 Spreader 20 jam

7. SK-01 9 - 20 jam

8. PK-01 6 Spreader 20 jam

Keterangan :
1. PSu = Pour Air Sungai
2. SSu = Spread Air Sungai
3. PT = Pour Tanah
4. ST = Spread Tanah
5. PG = Pour Got
6. SG = Spread Got
7. PK = Pour Kran
8. SK = Spread Kran
E. Pembahasan
Perhitungan jumlah mikroba dapat dilakukan dengan perhitungan langsung
maupun tidak langsung. Perhitungan secara langsung dapat mengetahui beberapa jumlah
mikroorganisme pada suatu bahan pada saat tertentu tanpa memberikan perlakuan
terlebih dahulu, sedangkan jumlah orgnisme yang diketahui dari cara tidak langsung
terlebih dahulu harus memberikan perlakuan tertentu sebelum dilakukan perhitungan.
Keuntungan enumerasi secara lanngsung adalah cara perhitungannya cepat dan dapat
diperoleh informasi tambahan mengenai ukuran dan bentuk mikroba yang sedang
dihitung. Namun kelemahannya adalah sel yang mati tidak dapat dibedakan dengan sel
yang hidup. Koloni sel bergerombol terkadang dapat menyulitkan dalam
mengklasifikasikan jenis koloni (Hadioetomo, 1993).
Metode yang digunakan dalam perhitungan tidak langsung yaitu metode
perhitungan cawan. Prinsip perhitungan cawan ini adalah jika mikroba yang masih hidup
ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan
membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan
mikroskop. Metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitive untuk
menghitung jumlah mikroba karena adanya alasan yaitu hanya sel yang hidup dihitung,
beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus, dapat digunakan untuk isolasi atau
identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari satu sel. Metode
hitungan cawan dibagi menjadi dua yaitu metode tuang (Pour plate) dan metode
permukaan (Surface plate) (Fardiaz, 1993).
Praktikum kali ini digunakan perhitungan tidak langsung dengan metode plate
count (perhitungan cawan), adapun untuk isolasi mikroba digunakan metode pour plate
dan spread plate. Sampel yang digunakan adalah air sungai, air selokan (got), air kran
dan tanah. Perhitungan tidak langsung didasari dengan pengenceran sampel air kran, air
selokan, air sungai dan tanah. Pengenceran dilakukan sebagai pemecah koloni bakteri
sehingga bakteri terencerkan dan diambil untuk ditanam pada media tanam. Serta setelah
inkubasi, koloni yang terbentuk pada cawan petri jumlahnya dapat dihitung. Pada
praktikum kali ini dilakukan pengenceran dari 10-1 sampai 10-5 (Purwaningsih, 2005).
Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan didapatkan hasil pada sampel air
sungai pengenceran 10-4 dengan metode isolasi pour plate mikroba hannya ada 8,
sedangkan pengenceran 10-5 ada 8. Pada metode spread sampel air sungai, terdapat 29
koloni dan 5. Pada pengenceran 10-4 sampel tanah hasilnya spreader, sedangkan
pengenceran 10-5 terdapat 17 koloni. Sampel tanah metode spread didapatkan koloni 34
dan 40. Pada sampel air got pengenceran 10-4 dengan metode pour plate hasilnya
spreader, sedangkan pengenceran 10-5 terdapat 30 koloni. Pada metode spread plate
hasilnya pengenceran 10-4 11 koloni dan pengenceran 10-5 hasilnya spreader. Pada sampel
air kran metode spread plate pengenceran 10-4 terdapat 9 koloni dan pengenceran 10-5
tidak terlihat mikroba. Sedangkan dengan metode pour plate pengenceran 10-5 terdapat 6
koloni dan 10-5 spreader.
Berdasarkan hasil tersebut, koloni yang paling banyak adalah pada sampel tanah
pengenceran 10-5 dengan metode isolasi spread plate yaitu terdapat 40 koloni mikroba.
Adapun factor yang mempengaruhi perhitungan mikroba baik secara langsung maupun
tidak langsung adalah faktor pengenceran, semakin tinggi pengenceran suatu suspensi
maka jumlah bakteri yang dikandungnya akan semakin sedikit. Temperatur dan pH,
berkaitan dengan temperatur dan pH optimum dari suatu jenis bakteri. Komposisi
medium, medium yang digunakan untuk inokulasi harus sesuai dengan bakteri yang akan
dihitung. Keterampilan dan ketelitian dalam menggunakan alat (Waluyo, 2007).
Menurut Fardiaz (1993), beberapa syarat perhitungan tidak langsung dengan
menggunakan metode ini adalah :
1. Tidak ada spreader.
2. Jumlah koloni mulai dari 30-300.
3. Perbandingan jumlah bakteri antara pengenceran yang lebih besar dengan
pengenceran yang lebih kecil :
a. Jika ≤ 2, hasil perhitungan dirata-rata.
b. Jika ˃ 2, dipakai hasil pengenceran yang sebelumnya.
Rumus yang digunakan pada perhtitungan tidak langsung adalah sebagai berikut :

Hasil dari isolasi mikroba kloter 2 diketahui banyak yang spreader, yaitu jumlah
koloni terlalu banyak atau lebih dari 300. Tidak hanya spreader, tapi ada juga sampel
yang jumlah koloni nya kurang dari 30. Hal itu tidak memenuhi syarat perhitungan
mikroba secara tidak langsung. Adapun penyebabnya adalah kemungkinan terbesar ada
pada kurang telitinnya praktikan saat melakukan isolasi mikroba. Kemungkinan kedua
adalah media PCA yang digunakan pada beberapa kelompok seperti pada sampel air kran
terlalu sedikit dan tidak seluruhnya leleh. Media PCA (Plate Count Agar) digunakan
karena PCA merupakan sebuah media pertumbuhan mikroorganisme yang umumnya
untuk menghitung jumlah mikroba total (semua jenis mikroba) yang terdapat pada setiap
sampel seperti makanan, produk susu, air limbah dan sampel-sampel lainnya (Wikandari
dkk, 2012).
UNITY OF SCIENCES
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 26 :
Artinya:
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang
lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa
perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Dan adapun mereka yang kafir
mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." dengan
perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu
(pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah
kecuali orang-orang yang fasik.” (QS.Al-Baqarah : 26)
Ibnu Katsir menasirkan bahwa kata (yang lebih rendah dari itu), menunjukkan
bahwa Allah SWT kuasa untuk menciptakan apa saja, yaitu penciptaan apapun dengan
obyek apa saja, baik yang besar maupun yang lebih kecil. Allah SWT tidak pernah
menganggap remeh sesuatu pun yang Dia ciptakan meskipun hal itu kecil. Orang-orang
yang beriman meyakini bahwa dalam perumpamaan penciptaan yang dilakukan oleh
Allah SWT memiliki manfaat bagi kehidupan manusia. Begitu jugan dengan
diciptakannya bakteri, yang pastinya dapat bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya (Al-
Mubarok, 2006).
F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan
bahwa perhitungan mikroba secara tidak langsung dengan metode plate count didapatkan
hasil koloni mikroba aerob terbanyak terdapat pada sampel tanah pengenceran 10-5
dengan metode isolasi spread plate yaitu terdapat 40 koloni mikroba.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Mubarok, Ahmad Zaki. 2006. Pendekatan Strukturalisme Linguistik dalam Tafsir
Al-Qur’an Kontemporer “ala” M.Shahrur. Yogyakarta : eLSAQ
Brown, A. E. 2005. Benson’s Microbiological Appllications Complete Version: Laboratory
Manual in General Microbiology, Ninth Edition. USA: Mc Graw Hill.
Buckle dkk. 2007. Ilmu Pangan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Dwidjoseputro. 1990. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Fardiaz, S. 1992. Mikirobiologi Pangan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Gobel, Risco, B. dkk. 2008. Mikrobiologi Umum Dalam Praktek. Makassar: Universitas
Hasanuddin.
Hadioetomo, R. S. 1990. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Waluyo, L. 2007. Teknik dan Metode Dasar Dalam Mikrobiologi. UMM Press, Malang.
Purwaningsih, Sri. 2005. Isolasi, Enumerasi, dan Karakterisasi Bakteri Rhizobium dari Tanah
Kebun Biologi Wamena, Papua. Jurnal Biodiversitas, 6(2):82-84.
Rosalia, Fitri. 2010. Analisis Pendapatan Usahatani dan Pemasaran Jagung Varietas Hibrida
pada Lahan Sawah Irigasi di Kecamatan Palas Kabupaten Lampumh Selatan. Bandar
Lampung : Universitas Lampung.
Wikandari, Prima Retno, dkk. 2012. Potensi Bakteri Asam Laktat Yang Diisolasi Dari Bekasam
Sebagai Penghasil Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor Pada Fermentasi
“Bekasam-Like” Product. Jurnal Agritech, 32(2):258-264.
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai