Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH KGD

Gigitan Hewan Berbisa (Ular)

Dosen Pengampu :Bu Ratna Puji P, S.Kep.Ns, M.SN

Kelompok 11 :

1. Dodik Prayogo (161101011)


2. Laily Nur Jamilah (161101022)
3. Restanti Indi (161101033)
4. Tri AstutinWahyu M (161101045)

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pemkab Jombang

Tahun AJaran 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Makalah gigitan ular berbisa
(ular)”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
kegawatdaruratan (KGD).

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah


Keperawatan Kegawatdaruratan, Bu Ratna Puji P, S.Kep.Ns, M.SN, yang telah
membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, maka kami menerima kritik
dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.

Jombang, 26 April2019

KELOMPOK 11

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................................
i

KATA PENGANTAR...................................................................................................
ii

DAFTAR ISI .................................................................................................................


iii

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................
1

1.1 LATAR BELAKANG.......................................................................................


1

1.2 RUMUSAN MASALAH...................................................................................


2

1.2 TUJUAN MASALAH......................................................................................


2

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................................
3

2.1Definisi, tanda dan gejala gigitan ular................................................................


3
2.2Etiologi gigitan ular............................................................................................
4
2.3 Patofisiologi gigitan ular Dan Derajat gigitan ular............................................
5

iii
2.4Manifestasi klinis................................................................................................
6
2.5Pemeriksaan penunjang......................................................................................
8
2.6 Penatalaksanaan.................................................................................................
8
2.7 Komplikasi Gigitan Ular Berbisa......................................................................
15
2.8 Asuhan Keperawatan Gigitan Ular Berbisa.......................................................
16

BAB III PENUTUP.......................................................................................................

3.1 KESIMPULAN..................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Racun ular adalah racun hewani yang terdapat pada ular berbisa.Racun
binatang adalah merupakan campuran dari berbagai macam zat yang berbeda yang
dapat menimbulkan beberapa reaksi toksik yang berbeda pada manusia.Sebagian kecil
racun bersifat spesifik terhadap suatu organ, beberapa mempunyai efek pada hampir
setiap organ.Kadang-kadang pasien dapat membebaskan beberapa zat farmakologis
yang dapat meningkatkan keparahan racun yang bersangkutan.
Insiden kira – kira 8000 orang terkena gigitan ular berbisa setiap tahun di
Amerika Serikat, dengan lebih 98% dari gigitan mengenai ekstremitas. Sejak tahun
1960,  rata- rata 14 korban setiap tahun meninggal di Amerika Serikat karena gigitan
ular, dengan 70% kebanyakan di lima daerah serikat termasuk Texas, Georgia,
Florida, Alabama, dan California Selatan.
Bisa dari ular berbisa mengandung hialuronidase, yang menyebabkan bisa
dapat menyebar dengan cepat melalui jaringan limfatik superfisisal. Toksin lain yang
terkandung dalam bisa ular, antara lain neurotoksin, toksin hemoragik dan
trombogenik, toksin hemolitik, sitotoksin, dan antikoagulan.
Ular berbisa dibandingkan ular tak berbisa pit viper dinamakan demikian
karena memiliki ciri lekukan yang sensitif terhadap panas terletak antara mata dan
lubang hidung pada tiap sisi kepala.Pit viper juga memiliki pupil berbentuik elips,
berlainan dengan pupil bulatyang memiliki ular jenis tak bebahaya.Sebaliknya, ular
karang memiliki pupil bulat dan sedikit lekukan pada muka.Pit viper memiliki gigi
taring panjang dan sederet gigi subkaudal. Ular tak berbisa banyak memiliki gigi
dibanding dengan taring dan mempunyai dua deret gigi subkaudal. Untuk
membedakan ular karang berbisa dengan ular lain yang mirip warnanya, harus diingat
bahwa ular karang memiliki hidung berwarna hitam dan memiliki juga guratan cincin
warna merah yang berdampingan dengan warna kuning.
Prinsip Pertolongan Pertama pada korban gigitan ular adalah, meringankan
sakit, menenangkan pasien dan berusaha agar bisa ular tidak terlalu cepat menyebar
1
ke seluruh tubuh sebelum dibawa ke rumah sakit. Pada beberapa tahun yang lalu
penggunaan torniket dianjurkan. Seiring berkembangannya ilmu pengetahuan kini
dikembangkan metode penanganan yang lebih baik yakni metode pembalut dengan
penyangga. Idealnya digunakan pembalut dari kain tebal, akan tetapi jika tidak ada
dapat juga digunakan sobekan pakaian atau baju yang disobek menyerupai pembalut.
Metode ini dikembangkan setelah dipahami bahwa bisa menyebar melalui pembuluh
limfa dari korban. Diharapkan dengan membalut bagian yang tergigit maka produksi
getah bening dapat berkurang sehingga menghambat penyebaran bisa sebelum korban
mendapat ditangani secara lebih baik di rumah sakit

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah definisi, tanda dan gejala gigitan ular ?
2. Bagaimana etiologi gigitan ular ?
3. Bagaimana Patofisiologi gigitan ular Dan Derajat gigitan ular ?
4. Bagaimana Manifestasi klinis gigitan ular berbisa ?
5. Bagaimana Pemeriksaan penunjang ?
6. Bagaimana Penatalaksanaan ?
7. Apa saja Komplikasi Gigitan Ular Berbisa ?
8. Bagaimana Asuhan Keperawatan Gigitan Ular Berbisa ?

1.3 TUJUAN MASALAH


1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang definisi, tanda dan gejalagigitan ular
2. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang etiologi gigitan ular
3. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang patofisiologi gigitan ular Dan Derajar
gigitan ular.
4. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang manifestasi klinis gigitan ular berbisa
5. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang pemeriksaan penunjang gigitan ular berbisa.
6. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang penatalaksanaan gigitan ular berbisa.
7. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Komplikasi gigitan ular berbisa .
8. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Asuhan keperawatan gigitan ular berbisa.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Gigitan ular adalah suatu keadan yang disebabkan oleh gigitan ular
berbisa.Racun ular adalah racun hewani yang terdapat pada ular berbisa.Racun
binatang adalah merupakan campuran dari berbagai macam zat yang berbeda yang
dapat menimbulkan beberapa reaksi toksik yang berbeda pada manusia.Sebagian kecil
racun bersifat spesifik terhadap suatu organ, beberapa mempunyai efek pada hampir
setiap organ.Kadang-kadang pasien dapat membebaskan beberapa zat farmakologis
yang dapat meningkatkan keparahan racun yang bersangkutan.Komposisi racun
tergantung dari bagaimana binatang menggunakan toksinnya.Racun mulut bersifat
ofensif yang bertujuan melumpuhkan mangsanya, sering kali mengandung faktor
letal. Racun ekor bersifat defensive dan bertujuan mengusir predator, racun bersifat
kurang toksik dan merusak lebih sedikit jaringan
Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan
mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri.Bisa tersebut
merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus.Kelenjar
yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah parotid yang
terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata.Bisa ular tidak hanya
terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran kompleks, terutama
protein, yang memiliki aktivitas enzimatik.
Gejala dan tanda gigitan ular berbisa dapat dibagi ke dalam beberapa kategori
mayor :
1. Efek lokal
Digigit oleh beberapa ular viper atau beberapa kobra (Naja spp) menimbulkan rasa
sakit dan perlunakan di daerah gigitan.Luka dapat membengkak hebat dan dapat
berdarah dan melepuh.Beberapa bisa ular kobra juga dapat mematikan jaringan
sekitar sisi gigitan luka.
2. Perdarahan

3
Gigitan oleh famili viperidae atau beberapa elapid Australia dapat menyebabkan
perdarahan organ internal seperti otak atau organ-organ abdomen.Korban dapat
berdarah dari luka gigitan atau berdarah spontan dari mulut atau luka yang
lama.Perdarahan yang tak terkontrol dapat menyebabkan syok atau bahkan
kematian.
3. Efek sistem saraf
Bisa ular elapid dan ular laut dapat berefek langsung pada sistem saraf.Bisa ular
kobra dan mamba dapat beraksi terutama secara cepat menghentikan otot-otot
pernafasan, berakibat kematian sebelum mendapat perawatan.Awalnya, korban
dapat menderita masalah visual, kesulitan bicara dan bernafas, dan kesemutan.
4. Kematian otot
Bisa dari Russell’s viper (Daboia russelli), ular laut, dan beberapa elapid Australia
dapat secara langsung menyebabkan kematian otot di beberapa area tubuh.Debris
dari sel otot yang mati dapat menyumbat ginjal, yang mencoba menyaring
protein.Hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal.
5. Mata
Semburan bisa ular kobra dan ringhal dapat secara tepat mengenai mata korban,
menghasilkan sakit dan kerusakan, bahkan kebutaan sementara pada mata.

2.2 Etiologi
Terdapat 3 famili ular yang berbisa, yaitu Elapidae, Hidrophidae, dan
Viperidae.Bisa ular dapat menyebabkan perubahan lokal, seperti edema dan
pendarahan.Banyak bisa yang menimbulkan perubahan lokal, tetapi tetap dilokasi
pada anggota badan yang tergigit.Sedangkan beberapa bisa Elapidae tidak terdapat
lagi dilokasi gigitan dalam waktu 8 jam.

Daya toksik bisa ular yang telah diketahui ada beberapa macam :
a. Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah (hematoxic)
Bisa ular yang bersifat racun terhadap darah, yaitu bisa ular yang menyerang dan
merusak (menghancurkan) sel-sel darah merah dengan jalan menghancurkan stroma
lecethine (dinding sel darah merah), sehingga sel darah menjadi hancur dan larut
(hemolysin) dan keluar menembus pembuluh-pembuluh darah, mengakibatkan

4
timbulnya perdarahan pada selaput tipis (lender) pada mulut, hidung, tenggorokan,
dan lain-lain.
b. Bisa ular yang bersifat saraf (Neurotoxic)
Yaitu bisa ular yang merusak dan melumpuhkan jaringan-jaringan sel saraf sekitar
luka gigitan yang menyebabkan jaringan-jaringan sel saraf tersebut mati dengan
tanda-tanda kulit sekitar luka gigitan tampak kebiru-biruan dan hitam
(nekrotis).Penyebaran dan peracunan selanjutnya mempengaruhi susunan saraf pusat
dengan jalan melumpuhkan susunan saraf pusat, seperti saraf pernafasan dan
jantung.Penyebaran bisa ular keseluruh tubuh, ialah melalui pembuluh limfe.
c. Bisa ular yang bersifat Myotoksin
Mengakibatkan rabdomiolisis yang sering berhubungan dengan
maemotoksin.Myoglobulinuria yang menyebabkan kerusakan ginjal dan hiperkalemia
akibat kerusakan sel-sel otot.
d. Bisa ular yang bersifat kardiotoksin
Merusak serat-serat otot jantung yang menimbulkan kerusakan otot jantung.
e. Bisa ular yang bersifat cytotoksin
Dengan melepaskan histamin dan zat vasoaktifamin lainnya berakibat
terganggunya kardiovaskuler.
f. Bisa ular yang bersifat cytolitik
Zat ini yang aktif menyebabkan peradangan dan nekrose di jaringan pada tempat
gigitan.
g. Enzim-enzim
Termasuk hyaluronidase sebagai zat aktif pada penyebaran bias

2.3 Patofisiologi Dan derajat gigitan ular


1. Patofisiologi
Bisa ular yang masuk ke dalam tubuh, menimbulkan daya toksin.Toksik
tersebut menyebar melalui peredaran darah yang dapat mengganggu berbagai
system.Seperti, sistem neurogist, sistem kardiovaskuler, sistem pernapasan.
Pada gangguan sistem neurologis, toksik tersebut dapat mengenai saraf yang
berhubungan dengan sistem pernapasan yang dapat mengakibatkan oedem pada
saluran pernapasan, sehingga menimbulkan kesulitan untuk bernapas.
Pada sistem kardiovaskuler, toksik mengganggu kerja pembuluh darah yang
dapat mengakibatkan hipotensi.Sedangkan pada sistem pernapasan dapat
5
mengakibatkan syok hipovolemik dan terjadi koagulopati hebat yang dapat
mengakibatkan gagal napas.

2. Derajat gigitan ular


a. Derajat 0
- Tidak ada gejala sistemik setelah 12 jam
- Pembengkakan minimal, diameter 1 cm
b. Derajat I
- Bekas gigitan 2 taring
- Bengkak dengan diameter 1 – 5 cm
- Tidak ada tanda-tanda sistemik sampai 12 jam
c. Derajat II
- Sama dengan derajat I
- Petechie, echimosis
- Nyeri hebat dalam 12 jam
d. Derajat III
- Sama dengan derajat I dan II
- Syok dan distres nafas / petechie, echimosis seluruh tubuh
e. Derajat IV
- Sangat cepat memburuk

2.4 Manifestasi klinis


Secara umum, akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua gigitan
ular. Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis (kulit kegelapan
karena darah yang terperangkap di jaringan bawah kulit).
Sindrom kompartemen merupakan salah satu gejala khusus gigitan ular
berbisa, yaitu terjadi oedem (pembengkakan) pada tungkai ditandai dengan
5P: pain (nyeri), pallor (muka pucat), paresthesia (mati rasa), paralysis (kelumpuhan
otot), pulselesness (denyutan).
Tanda dan gejala khusus pada gigitan family ular :

a. Gigitan Elapidae
Misal: ular kobra, ular weling, ular welang, ular sendok, ular anang, ular cabai,
coral snakes, mambas, kraits), cirinya:

6
1) Semburan kobra pada mata dapat menimbulkan rasa sakit yang berdenyut,
kaku pada kelopak mata, bengkak di sekitar mulut.
2) Gambaran sakit yang berat, melepuh, dan kulit yang rusak.
3) 15 menit setelah digigit ular  muncul gejala sistemik. 10 jam muncul paralisis
urat-urat di wajah, bibir, lidah, tenggorokan, sehingga sukar bicara, susah
menelan, otot lemas, kelopak mata menurun, sakit kepala, kulit dingin,
muntah, pandangan kabur, mati rasa di sekitar mulut dan kematian dapat
terjadi dalam 24 jam.
b. Gigitan Viperidae/Crotalidae
Misal pada ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
1) Gejala lokal timbul dalam 15 menit, atau setelah beberapa jam berupa bengkak
di dekat gigitan yang menyebar ke seluruh anggota badan.
2) Gejala sistemik muncul setelah 50 menit atau setelah beberapa jam.
3) Keracunan berat ditandai dengan pembengkakan di atas siku dan lutut dalam
waktu 2 jam atau ditandai dengan perdarahan hebat.
c. Gigitan Hydropiidae
Misalnya, ular laut, cirinya:
1) Segera timbul sakit kepala, lidah terasa tebal, berkeringat, dan muntah.
2) Setelah 30 menit sampai beberapa jam biasanya timbul kaku dan nyeri
menyeluruh, dilatasi pupil, spasme otot rahang, paralisis otot, mioglobulinuria
yang ditandai dengan urin warna coklat gelap (ini penting untuk diagnosis),
ginjal rusak, henti jantung.
d. Gigitan Crotalidae
Misalnya ular tanah, ular hijau, ular bandotan puspo, cirinya:
1) Gejala lokal ditemukan tanda gigitan taring, pembengkakan, ekimosis, nyeri di
daerah gigitan, semua ini indikasi perlunya pemberian polivalen crotalidae
antivenin.
2) Anemia, hipotensi, trombositopeni.

Tanda dan gejala lain gigitan ular berbisa dapat dibagi ke dalam beberapa kategori:

a. Efek lokal, digigit oleh beberapa ular viper atau beberapa kobra menimbulkan rasa
sakit dan perlunakan di daerah gigitan. Luka dapat membengkak hebat dan dapat
berdarah dan melepuh. Beberapa bisa ular kobra juga dapat mematikan jaringan
sekitar sisi gigitan luka.

7
b. Perdarahan, gigitan oleh famili viperidae atau beberapa elapid Australia dapat
menyebabkan perdarahan organ internal, seperti otak atau organ-organ abdomen.
Korban dapat berdarah dari luka gigitan atau berdarah spontan dari mulut atau
luka yang lama. Perdarahan yang tak terkontrol dapat menyebabkan syok atau
bahkan kematian.
c. Efek sistem saraf, bisa ular elapid dan ular laut dapat berefek langsung pada
sistem saraf. Bisa ular kobra dan mamba dapat beraksi terutama secara cepat
menghentikan otot-otot pernafasan, berakibat kematian sebelum mendapat
perawatan. Awalnya, korban dapat menderita masalah visual, kesulitan bicara dan
bernafas, dan kesemutan.
d. Kematian otot, bisa dari russell’s viper (Daboia russelli), ular laut, dan beberapa
elapid Australia dapat secara langsung menyebabkan kematian otot di beberapa
area tubuh. Debris dari sel otot yang mati dapat menyumbat ginjal, yang mencoba
menyaring protein. Hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal.
e. Mata, semburan bisa ular kobra dan ringhal dapat secara tepat mengenai mata
korban, menghasilkan sakit dan kerusakan, bahkan kebutaan sementara pada mata.

2.5 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium dasar, pemeriksaaan kimia darah, hitung sel darah


lengkap, penentuan golongan darah dan uji silang, waktu protrombin, waktu
tromboplastin parsial, hitung trombosit, urinalisis, penentuan kadar gula darah, BUN
dan elektrolit. Untuk gigitan yang hebat, lakukan pemeriksaan fibrinogen, fragilitas
sel darah merah, waktu pembekuan dan waktu retraksi bekuan.

2.6 Penatalaksanaan

a. Prinsip penanganan pada pasien gigitan ular:


1) Menghalangi penyerapan dan penyebaran bisa ular.
2) Menetralkan bisa.
3) Mengobati komplikasi.
b. Pertolongan pertama :
Pertolongan pertama, pastikan daerah sekitar aman dan ular telah pergi segera
cari pertolongan medis jangan tinggalkan korban. Selanjutnya lakukan prinsip
RIGT, yaitu:
8
R: Reassure: Yakinkan kondisi korban, tenangkan dan istirahatkan korban,
kepanikan akan menaikan tekanan darah dan nadi sehingga racun akan lebih cepat
menyebar ke tubuh. Terkadang pasien pingsan/panik karena kaget.
I:  Immobilisation: Jangan menggerakan korban, perintahkan korban untuk tidak
berjalan atau lari. Jika dalam waktu 30 menit pertolongan medis tidak datang,
lakukan tehnik balut tekan (pressure-immoblisation) pada daerah sekitar gigitan
(tangan atau kaki) lihat prosedur pressure immobilization (balut tekan).
G: Get: Bawa korban ke rumah sakit sesegera dan seaman mungkin.
T:  Tell the Doctor: Informasikan ke dokter tanda dan gejala yang muncul  ada
korban.
c. Prosedur Pressure Immobilization (balut tekan):
Balut tekan pada kaki:
1) Istirahatkan (immobilisasikan) Korban.
2) Keringkan sekitar luka gigitan.
3) Gunakan pembalut elastis.
4) Jaga luka lebih rendah dari jantung.
5) Sesegera mungkin, lakukan pembalutan dari bawah pangkal jari kaki naik ke
atas.
6) Biarkan jari kaki jangan dibalut.
7) Jangan melepas celana atau baju korban.
8) Balut dengan cara melingkar cukup kencang namun jangan sampai
menghambat aliran darah (dapat dilihat dengan warna jari kaki yang tetap
pink).
9) Beri papan/pengalas keras sepanjang kaki.
Balut tekan pada tangan:
1) Balut dari telapak tangan naik keatas. ( jari tangan tidak dibalut).
2) Balut siku & lengan dengan posisi ditekuk 90 derajat.
3) Lanjutkan balutan ke lengan sampai pangkal lengan.
4) Pasang papan sebagai fiksasi.
5) Gunakan mitela untuk menggendong tangan.

Penatalaksanaan tergantung derajat keparahan envenomasi; dibagi menjadi


perawatan di lapangan dan manajemen di rumah sakit.
a. Penatalaksanaan di Lapangan
9
Seperti kasus-kasus emergensi lainnya, tujuan utama adalah untuk
mempertahankan pasien sampai mereka tiba di instalasi gawat darurat.Sering
penatalaksanaan dengan autentisitas yang kurang lebih memperburuk daripada
memperbaiki keadaan, termasuk membuat insisi pada luka gigitan, menghisap
dengan mulut, pemasangan turniket, kompres dengan es, atau kejutan
listrik.Perawatan di lapangan yang tepat harus sesuai dengan prinsip dasar
emergency life support.Tenangkan pasien untuk menghindari hysteria selama
implementasi ABC (Airway, Breathing, Circulation).
Pertolongan Pertama :
1. Cegah gigitan sekunder atau adanya korban kedua. Ular dapat terus mengigit
dan menginjeksikan bisa melalui gigitan berturut-turut sampai bisa mereka
habis.
2. Buat korban tetap tenang, yakinkan mereka bahwa gigitan ular dapat ditangani
secara efektif di instalasi gawat darurat. Batasi aktivitas dan imobilisasi area
yang terkena (umumnya satu ekstrimitas), dan tetap posisikan daerah yang
tergigit berada di bawah tinggi jantung untuk mengurangi aliran bisa.
3. Jika terdapat alat penghisap, (seperti Sawyer Extractor), ikuti petunjuk
penggunaan. Alat penghisap tekanan-negatif dapat memberi beberapa
keuntungan jika digunakan dalam beberapa menit setelah envenomasi. Alat ini
telah direkomendasikan oleh banyak ahli di masa lalu, namun alat ini semakin
tidak dipercaya untuk dapat menghisap bisa secara signifikan, dan mungkin alat
penghisap dapat meningkatkan kerusakan jaringan lokal.
4. Buka semua cincin atau benda lain yang menjepit / ketat yang dapat
menghambat aliran darah jika daerah gigitan membengkak. Buat bidai longgar
untuk mengurangi pergerakan dari area yang tergigit.
5. Monitor tanda-tanda vital korban — temperatur, denyut nadi, frekuensi nafas,
dan tekanan darah – jika mungkin. Tetap perhatikan jalan nafas setiap waktu
jika sewaktu-waktu menjadi membutuhkan intubasi.
6. Jika daerah yang tergigit mulai membengkak dan berubah warna, ular yang
mengigit kemungkinan berbisa.
7. Segera dapatkan pertolongan medis. Transportasikan korban secara cepat dan
aman ke fasilitas medis darurat kecuali ular telah pasti diidentifikasi tidak
berbahaya (tidak berbisa). Identifikasi atau upayakan mendeskripsikan jenis
ular, tapi lakukan jika tanpa resiko yang signifikan terhadap adanya gigitan
10
sekunder atau jatuhnya korban lain. Jika aman, bawa serta ular yang sudah
mati. Hati-hati pada kepalanya saat membawa ular – ular masih dapat mengigit
hingga satu jam setelah mati (dari reflek). Ingat, identifikasi yang salah bisa
fatal. Sebuah gigitan tanpa gejala inisial dapat tetap berbahaya atau bahkan
fatal.
8. Jika berada di wilayah yang terpencil dimana transportasi ke instalasi gawat
darurat akan lama, pasang bidai pada ekstremitas yang tergigit. Jika memasang
bidai, ingat untuk memastikan luka tidak cukup bengkak sehingga
menyebabkan bidai menghambat aliran darah. Periksa untuk memastikan jari
atau ujung jari tetap pink dan hangat, yang berarti ekstrimitas tidak menjadi
kesemutan, dan tidak memperburuk rasa sakit.
9. Jika dipastikan digigit oleh elapid yang berbahaya dan tidak terdapat efek
mayor dari luka lokal, dapat dipasang pembalut dengan teknik imobilisasi
dengan tekanan. Teknik ini terutama digunakan untuk gigitan oleh elapid
Australia atau ular laut. Balutkan perban pada luka gigitan dan terus sampai ke
bagian atas ekstremitas dengan tekanan seperti akan membalut pergelangan
kaki yang terpeleset. Kemudian imobilisasi ekstremitas dengan bidai, dengan
tetap memperhatikan mencegah terhambatnya aliran darah. Teknik ini
membantu mencegah efek sistemik yang mengancam nyawa dari bisa, tapi juga
bisa memperburuk kerusakan lokal pada sisi gigitan jika gejala yang signifikan
terdapat di sana.

b. Penatalaksanaan di Rumah Sakit


Bisa ular terdiri dari terutama protein yang mempunyai effek fisiolgik yang
luas atau bervariasi. Sistem multiorgan, terutama neurologik, kardiovaskuler , sistem
pernapasan mungkin terpengaruh.

Bantuan awal pertama pada daerah gigitan ular meliputi :


1. Mengistirahatkan korban
2. Melepskan benda yang mengikat seperti cincin
3. Memberikan kehangatan
4. Membersihkan luka
5. Menutup luka dengan balutan steril
6. Imobilisasi bagian tubuh di bawah tinggi jantung
11
Evaluasi awal departemen kedaruratan dilakukan dengan cepat meliputi :
1. Menentukan apakah ular berbisa atau tidak
2. Menentukan dimana dan kapan gigitan ular terjadi dan sekitar gigitan
3. Menetapkan urutan kejadian, tanda dan gejala ( bekas gigi, nyeri, edema, dan
eritem jaringan yang digigit dan di dekatnya)
4. Menentukan keparahan dampak keracunan
5. Memantau tanda vital
6. Mengukur dan mencatat lingkar ekstremitas sekitar gigitan atau ares pada
beberapa titik.
7. Dapatkan data laboratorium yang tepat ( misalnya, HDL , urinalisis, dan
pemeriksaan pembekuan
Proses dan prognosis gigitan ular bergantung pada jenis dan jumlah bisa dimana
terjadi gigitan, dan kesehatan umum, serta usia korban. Tidak ada protokol khusus
penatalaksanaan gigitana ular. Pedoman umum meliputi :
1. Dapatkan data dasar laboratorium
2. Jangan gunakan es, tornikuet, heparin, kortikosteroid selama tahap akut.
Kortikosteroid dikontraindikasikan pada jam 6-8 jam pertama setelah gigitan
karena agens ini mendepresi produksi antibodi dan menyembunyikan kerja
antivenin ( antitoksin untuk bisa ular)
3. Cairan parenteral dapat digunakan untuk penatalksanaan hipotensi. Jika
vasopresin digunakan untuk penanganan hipotensi penggunaan harus dalam
jangka pendek
4. Bedah eksplorasi terhadap gigitan jarang di indikasikan
5. Observasi pasien dengan telitiselama 6 jam : pasien tidak pernah dibiarkan
tanpa peratian.

Pemberian antivenin ( antitoksin ). Antivenin paling efektif diberikan selama 12


jam dan gigitan ular. Dosis bergantung pada tipe ular dan perkiraan keparahan
gigitan.Anak membutuhkan lebih banyka antinenin daripada orang dewasa karena
tubuhnya lebih kecil dan lebih rentan terhadap efek toksik bisa. Uji kuliit atau mata
harus dilakukan sebelumnya untuk dosis awal untuk mendeteksi alergi terhadap
antivenin.
Sebelum meberikan antivenin dan setiap 15 menit setelahnya, sekitar bagian yang
trekena diperiksa. Antivenin diberikan diberikan dengan tetesan IV kapanpun mungkin,

12
meskipun pemberian ini dapat dilakukan. Bergantung pada keparahan gigitan ativenin
dicairkan 500-1000ml salin normal: volume cairan mungkin diturunkan untuk anak.
Infus dimulai perlahan dan kecepatan meningkata setelah 10 menit jika tidak ada reaksi.
Dosis total harus di infus selama 4-5 jam pertama setelah keracunan. Dosis awal di
ulang sampai dengan gejala menurun. Setelah gejala menurun, sekitar daerah yang
terkena harus di ukur 30-60 menit setelah 48 jam kemudian.
Penyebab paling umum dari reaksi serum adalah infus antivenin yang paling
sering terlalu cepat, meskipun sekitar 3% reaksi tidak berhubungan dengan kecepatan
infus. Reaksi yang dari perasaan penuh di wajah, urtikaria, pruritus, keletihan dan
khawatir.Gejala ini mungkin diikuti dengan situasi ini, infus harus dihentikan segera
dan diberikan defenhidramin IV.Vasopresor digunakan jika terdapat syok.Resusitasi
kedarurtan harus siap pada saat antivenin diberikan.
Perawatan definitif meliputi pengecekan kembali ABC dan mengevaluasi pasien
atas tanda-tanda syok (seperti takipneu, takikardi, kulit kering dan pucat, perubahan
status mental, hipotensi).Rawat dahulu keadaan yang mengancam nyawa.Korban
dengan kesulitan bernafas mungkin membutuhkan endotracheal tube dan sebuah mesin
ventilator untuk menolong korban bernafas.Korban dengan syok membutuhkan cairan
intravena dan mungkin obat-obatan lain untuk mempertahankan aliran darah ke organ-
organ vital.

Semburan bisa ular sendok, apabila mengenai mata, dapat mengakibatkan iritasi
menengah dan menimbulkan rasa pedih yang hebat.Mencucinya bersih-bersih dengan
air yang mengalir sesegera mungkin dapat membilas dan menghanyutkan bisa itu,
mengurangi iritasi dan mencegah kerusakan yang lebih lanjut pada mata. Penderajatan
envenomasi membedakan kebutuhan akan antivenin pada korban gigitan ular-ular
viper. Derajat dibagi dalam ringan, sedang, atau berat.

 Envenomasi ringan ditandai dengan rasa sakit lokal, edema, tidak ada tanda-tanda
toksisitas sistemik, dan hasil laboratorium yang normal.
 Envenomasi sedang ditandai dengan rasa sakit lokal yang hebat; edema lebih dari 12
inci di sekitar luka; dan toksisitas sistemik termasuk nausea, vomitus dan
penyimpangan pada hasil laboratorium (misalnya penurunan jumlah hematokrit atau
trombosit).
 Envenomasi berat ditandai dengan ptekie, ekimosis, sputum bercampur darah,
hipotensi, hipoperfusi, disfungsi renal, perubahan pada protrombin time dan

13
tromboplastin time parsial teraktivasi, dan hasil-hasil abnormal dari tes-tes lain yang
menunjukkan koagulopati konsumtif. Penderajatan envenomasi merupakan proses
yang dinamis. Dalam beberapa jam, sindrom ringan awal dapat berkembang menjadi
sedang bahkan reaksi yang berat. Beri antivenin pada korban gigitan ular koral
sebagai standar perawatan jika korban datang dalam 12 jam setelah gigitan, tanpa
melihat adanya tanda-tanda lokal atau sistemik. Neurotoksisitas dapat muncul tanpa
tanda-tanda sebelumnya dan berkembang menjadi gagal nafas. Bersihkan luka dan
cari pecahan taring ular atau kotoran lain. Suntikan tetanus diperlukan jika korban
belum pernah mendapatkannya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Beberapa luka
memerlukan antibiotik untuk mencegah infeksi.

Pembedahan

Efek lokal dari keracunan seperti nekrosis lokal, sindrom kompartemen dan
trombosis dari pembuluh darah utama biasanya terjadi pada pasien yang tidak diterapi
dengan anti bisa.Intervensi pembedahan mungkin dapat dilakukan.

Tetapi intervensi ini menjadi bahaya apabila pasien dengan komplikasi


consumption coagulopathy, trombositopenia, fibrinolisis.Pada pasien dengan keadaan
tersebut harus dilakukan penanganan yang lebih komperhensif untuk menangani
komplikasi dari efek lokal racun tersebut.

1. Fasciotomy
Jika perawatan dengan elevasi tungkai dan obat-obatan gagal, ahli bedah
mungkin perlu melakukan pembedahan pada kulit sampai kompartemen yang
terkena, disebut fasciotomy.Prosedur ini dapat memperbaiki pembengkakan dan
penekanan tungkai, berpotensi menyelamatkan lengan atau tungkai.Fasciotomi
tidak diindikasikan pada setiap gigitan ular, tapi dilakukan pada pasien dengan
bukti objektif adanya peningkatan tekanan kompartemen.Cedera jaringan setelah
sindrom kompartemen bersifat reversible tapi dapat dicegah.
2. Nekrotomi
Dikerjakan bila telah nampak jelas batas kematian jaringan, kemudian
dilanjutkan dengan cangkok kulit. Dalam penanganan yang menyeluruh, maka
perlu dilakukan pengambilan darah untu pemeriksaan waktu protrombin, APTT, D-
Dimer, fibrinogen, dan Hb, leukosit, trombosit, kreatinin, urea N, elektrolit, CK.

14
Periksa waktu pembekua, jika dalam 10 menit menunjukkan adanya koagulopati.
Juga dapat dilakukan apus tempat gigitan dengan venom detection.

2.7 Komplikasi

Sindrom kompartemen adalah komplikasi tersering dari gigitan ular pit


viper.Komplikasi luka lokal dapat meliputi infeksi dan hilangnya kulit.Komplikasi
kardiovaskuler, komplikasi hematologis, dan kolaps paru dapat terjadi.Jarang
terjadi kematian.Anak-anak mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadinya
kematian atau komplikasi serius karena ukuran tubuh mereka yang lebih
kecil.Perpanjangan blokade neuromuskuler timbul dari envenomasi ular koral.
Komplikasi yang terkait dengan antivenin termasuk reaksi hipersensitivitas tipe
cepat (anafilaksis, tipe I) dan tipe lambat (serum sickness, tipe III).Anafilaksis
terjadi dimediasi oleh immunoglobulin E (IgE), berkaitan dengan degranulasi sel
mast yang dapat berakibat laryngospasme, vasodilatasi, dan kebocoran
kapiler.Kematian umumnya pada korban tanpa intervensi farmakologis.Serum
sickness dengan gejala demam, sakit kepala, bersin, pembengkakan kelenjar
lymph, dan penurunan daya tahan, muncul 1 – 2 minggu setelah pemberian
antivenin.
a. Syok hipovolemik
b. Edema paru
c. Kematian
d. Gagal napas

15
2.8 Asuhan Keperawatan Gigitan ular Berbisa ( Resume )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


STIKES PEMKAB JOMBANG
Jalandr. Sutomo No. 75-77 Telp / Fax (0321) 870214, 850028 - JOMBANG
PROGRAM STUDI : S-1 KEPERAWATAN, D-III KEPERAWATAN, D-III KEBIDANAN,
PENDIDIKAN PROFESI NERS

FORMAT RESUME

1. IDENTITAS PASIEN
NAMA : Tn A
UMUR : 37 Tahun
JENIS KELAMIN : Laki – Laki
ALAMAT : Kebumen
AGAMA : Islam
PEKERJAAN : Tani
DX. MEDIS :(-)
PENANGGUNGJAWAB: keluarga pasien

PRIMARY SURVEY:
TRIAGE: 1
Keluhan utama/keadaan umum : Klien mengatakan sesak nafas.
Kesadaran (A/V/P/U): - A ( klien sadar )
- V ( Klien merespon saat ditanya)
- P ( Klien merasa kesakitan )

A. Airway :Tidak ada sumbatan jalan nafas, tidak ada sputum, tidak ada darah.
B. Breathing :Suara nafas vesikuler, sesak nafas.
C. Circulating :Akral dingin, CRT >3 detik, Sianosis.

16
D. Disability :Kesadaran somnolent (E3V3M5), pupil isokor (2mm).
E. Exposure :Perdarahan pada luka gigitan ular, adanya edema padatungkai sinistra,
memar.

SECONDARY SURVEY:
Riwayat Penyakit Dahulu : Klien sebelumnya tidak menderita sakit apapun
Riwayat Penyakit Sekarang : Klien datang ke IGD pada tanggal 13 April 2015 jam 13.00 WIB,
dengan di bawa oleh tetangganya, klien mengatakan tungkai sinistra digigit ular, setelah itu
klien merasakan sesak nafas,  terasa panas, nyeri, badan kaku semua dan kaki bengkak,
tampak kebiruan. dan tiba-tiba terjatuh. Di rumah kaki klien sudah diikat dengan
menggunakan kain diatas luka gigitan ular tersebut.Lalu klien langsung dibawa ke RS. Hasil
pemeriksaan TTV : TD : 90/60 mmHg, N : 78 x/menit, RR : 34 x/menit, S : 36,90 C. GCS :
E3V3M5, di IGD terpasang infus NaCl 0,9 % 30 Tpm.

S,A,M,P,L,E
S :klien merasakan sesak nafas,  terasa panas, nyeri, badan kaku semua dan kaki bengkak,
tampak kebiruan. dan tiba-tiba terjatuh.
A : klien tidak memiliki riwayat alergi
M : tidak terkaji
P : Klien sebelumnya tidak menderita sakit apapun
L : Tidak terkaji
E : Klien masuk UGD karena tungkai sinistra digigit ular

Tanda-tanda vital : TD: 90/60 mm/Hg RR : 34 x/mnt


Nadi: 78 x/mnt Suhu: 36,9 °C
Nyeri: Skala nyeri 8
GCS (Eye, Verbal, Motorik): E3V3M5
PEMERIKSAAAN FISIK:
Head to toe
Kepala:
1. Inspeksi : Rambut bersih,  tidak beruban
2. Palpasi : Tidak ada benjolan, kepala simetris
Leher:
1. Inspeksi : Penggunaan otot bantu pernafasan (sternokleidomastoidius),

17
2. Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
Dada:
1. Inspeksi : Pengembangan dada simetris, tidak ada jejas
2. Palpasi : vocal fremitus teraba kanan kiri.
3. Auskultasi : Vesikuler, bronchovesikuler, bronchial.
4. Perkusi : sonor
Abdomen:
1. Inspeksi: Simetris, tidak ada luka
2. Palpasi : Tidak ada pembesaran hepar, tidak ada massa
3. Auskultasi : Peristaltic usus 6x/menit
4. Perkusi : Thympani
Lower back/Punggung bawah:
1. Inspeksi: Tidak terkaji
2. Palpasi : Tidak terkaji
Pelvis:
1. Inspeksi: Tidak terkaji
2. Palpasi : Tidak terkaji
Genitalia:
1. Inspeksi: Tidak terkaji
Ekstremitas atas dan bawah, kulit:
1. Inspeksi: Terpasang infus NaCl 0,9 % di tangan dextra ,
2. Palpasi : Tidak ada edema, akral dingin
3. kekuatan otot : 2
Persyarafan (if necessasry) : Tidak terkaji

Masalah Keperawatan:
1. Gangguan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan reaksi endotoksin.
2. Nyeri akut berhubungan dengan proses infeksi.

18
Intervensi dan Implementasi Diurutkan permasalahan A,B,C,D
No Intervensi Rasional Jam/Wak Implementasi
. tu
1. a. Pertahankan a. Meningkatkan a. Mempertahankan
jalan napas klien ekspansi paru- jalan napas klien
b. Pantau frekuensi paru. b. Memantau frekuensi
dan kedalaman b. Pernapasan dan kedalaman
pernapasan. cepat/dangkal pernapasan.
c. Auskultasi bunyi terjadi karena c. Mengauskultasi
napas. hipoksemia, bunyi napas.
d. Sering ubah stres, dan d. Sering mengubah
posisi. sirkulasi posisi.
e. Berikan endotoksin. e. Memberikan
O2 melalui cara c. Pernapasan dan O2 melalui cara yang
yang tepat, misal munculnya bunyi tepat, misal masker
masker wajah. adventisius wajah.
merupakan
indikator dari
kongesti
pulmonal/edema
interstisial,
atelektasis.
d. Bersihan
pulmonal yang
baik sangat
diperlukan untuk
mengurangi
ketidakseimbang
an
ventelasi/perfusi.

19
e. O2 memperbaiki
hipoksemia/asido
sis. Pelembaban
menurunkan
pengeringan
saluran
pernapasan dan
menurunkan
viskositas sputum

2. a. Kaji tanda- a. Mengetahui a. Mengkaji


tanda vital. keadaan umum tanda-tanda
b. Ajarkan klien, untuk vital.
tehnik menentukan b. Mengajarkan
distraksi intervensi tehnik distraksi
dan selanjutnya. dan relaksasi.
relaksasi. b. Membuat klien c. Mempertahanka
c. Pertahankan merasa nyaman dan n tirah baring
tirah baring tenang. selama
selama c. Menurunkan terjadinya
terjadinya spasme otot. nyeri.
nyeri. d. Memblok lintasan d. Mengkolaborasi
d. Kolaborasi nyeri sehingga dengan tim
dengan tim berkurang dan medis dalam
medis untuk membantu pemberian
dalam penyembuhan luka. analgetik
pemberian
analgetik

Evaluasi & Hands off”


Evaluasi Komunikasi
SUBJEKTIF: Sitution:

20
klien mengatakan merasa sesak nafas,  Klien datang ke IGD pada tanggal 13 April
terasa panas, nyeri, badan kaku semua dan 2015 jam 13.00 WIB, dengan di bawa oleh
kaki bengkak, tampak kebiruan. dan tiba- tetangganya. Di rumah kaki klien sudah
tiba terjatuh diikat dengan menggunakan kain diatas
luka gigitan ular tersebut.Lalu klien
langsung dibawa ke RS
OBJEKTIF: Background:
Klien terlihat kesakitan di daerah tungkai Klien sebelumnya tidak menderita sakit
sinistra dan merasa sesak nafas, TTV : apapun, dan klien tidak mempunyai riwayat
TD : 90/60 mmHg, N : 78 x/menit, RR : 34 alergi sebelumnya
x/menit, S : 36,90 C. GCS : E3V3M5
ASSESMENT: Assessment:
Masalah belum teratasi Klien terlihat sesak nafas, panas didaerah
gigitan ular, nyeri, badan kaku semua dan
kaki bengkak, tampak kebiruan
Hasil pemeriksaan TTV : TD : 90/60
mmHg, N : 78 x/menit, RR : 34 x/menit, S :
36,90 C. GCS : E3V3M5, di IGD terpasang
infus NaCl 0,9 % 30 Tpm.

PLANNING: Recommendation:
Intervensi dilanjutkan 1. Pantau frekuensi dan kedalaman
1. pertahankan jalan nafas pernapasan, auskultasi bunyi napas, sering
2. Kontrol nyeri ubah posisi, berikan O2 melalui cara yang
tepat, misal masker wajah.
2. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi,
pertahankan tirah baring selama terjadinya
nyeri, kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian analgetik

BAB III
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

21
Prinsip Pertolongan Pertama pada korban gigitan ular adalah, meringankan
sakit, menenangkan pasien dan berusaha agar bisa ular tidak terlalu cepat menyebar
ke seluruh tubuh sebelum dibawa ke rumah sakit. Pada beberapa tahun yang lalu
penggunaan torniket dianjurkan. Seiring berkembangannya ilmu pengetahuan kini
dikembangkan metode penanganan yang lebih baik yakni metode pembalut dengan
penyangga. Idealnya digunakan pembalut dari kain tebal, akan tetapi jika tidak ada
dapat juga digunakan sobekan pakaian atau baju yang disobek menyerupai pembalut.
Metode ini dikembangkan setelah dipahami bahwa bisa menyebar melalui pembuluh
limfa dari korban. Diharapkan dengan membalut bagian yang tergigit maka produksi
getah bening dapat berkurang sehingga menghambat penyebaran bisa sebelum korban
mendapat ditangani secara lebih baik di rumah sakit
4.2 Saran
Segera bawa ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Informasikan kepada
dokter mengenai penyakit yang diderita pasien seperti asma dan alergi pada obat –
obatan tertentu, atau pemberian antivenom sebelumnya. Ini penting agar dokter dapat
memperkirakan kemungkinan adanya reaksi dari pemberian antivenom selanjutnya.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

22
Djoni Djunaedi. Penatalaksanaan Gigitan Ular Berbisa. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B,
Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S, editor. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jilid
2.Edisi ke-5. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam,2009.h.280-3.
Doenges, M.E,dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien.Edisi 3. Jakarta: EGC.

23
1