Anda di halaman 1dari 40

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................................................i
Daftar isi........................................................................................................................ii
BAB I: PENDAHULUAN............................................................................................2
BAB II: HIDUNG DAN SINUS PARANASAL..........................................................3
II. 1. Anatomi Hidung Luar.............................................................................3
II. 2. Anatomi Hidung Dalam..........................................................................3
II. 3. Kompleks Osteo-Meatal.........................................................................7
II. 4. Pendarahan Hidung.................................................................................7
II. 5. Persyarafan Hidung................................................................................8
II. 6. Fisiologi Hidung.....................................................................................8
II. 7. Sistem Mukosiliar Hidung......................................................................9
SINUS PARANASAL.....................................................................................11
III. 1. Anatomi Sinus Paranasal.......................................................................11
III. 2. Fisiologi Sinus Paranasal.......................................................................15
TUMOR SINONASAL
IV.1 Tumor Sinonasal Benigna.......................................................................18
IV.2 Tumor Sinonasal Maligna.......................................................................27
Kesimpulan....................................................................................................................38
Daftar Pustaka................................................................................................................39

1
BAB I
PENDAHULUAN

Hidung dan sinus paranasal adalah organ yang berperanan penting sebagai garis
terdepan pertahanan tubuh pada saluran nafas terhadap mikroorganisme dan bahan-bahan
berbahaya lainnya yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, organ ini juga berfungsi sebagai alat respirasi, pengatur humidifikasi,
penghidu, dan penyeimbang tekanan lokal. Fungsi-fungsi ini tidak lepas dari struktur anatomi
kedua organ tersebut, yang juga akan dibahas dalam referat ini.

Dalam Referat ini tim penulis membahas dua hal pokok yaitu anatomi dan fisiologi hidung
serta anatomi dan fisiologi sinus paranasal.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Anatomi hidung luar


Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung bagian luar
menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas; struktur hidung luar dibedakan atas
tiga bagian : yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan; di bawahnya terdapat
kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan ; dan yang paling bawah adalah lobulus hidung
yang mudah digerakkan. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari
atas ke bawah :
1) pangkal hidung (bridge),
2) batang hidung (dorsum nasi),
3) puncak hidung (hip),
4) ala nasi,
5) kolumela,
6) lubang hidung (nares anterior).

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari:
1) tulang hidung (os nasal)
2) prosesus frontalis os maksila
3) prosesus nasalis os frontal;
Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di
bagian bawah hidung, yaitu
1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (ala mayor)
3) tepi anterior kartilago septum. (1)

II.2 Anatomi hidung dalam


Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os. internum di
sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring.
Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konka media, dan
3
konka inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior,
berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas
konka media disebut meatus superior.(2)

Gambar 1. Anatomi Hidung Dalam

II.2.1 Septum nasi


Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri. Bagian posterior
dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid, bagian anterior oleh kartilago septum
(kuadrilateral) , premaksila dan kolumela membranosa; bagian posterior dan inferior
oleh os vomer, krista maksila , Krista palatine serta krista sfenoid. (2)

II.2.2 Kavum nasi (3)


Kavum nasi terdiri dari:
1. Dasar hidung
Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus
horizontal os palatum.

4
2. Atap hidung
Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal,
prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid, dan korpus os sphenoid.
Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui oleh
filament-filamen n.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus
olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial
konka superior.

3. Dinding Lateral
Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila,
os lakrimalis, konka superior dan konka media yang merupakan bagian dari os
etmoid, konka inferior, lamina perpendikularis os platinum dan lamina
pterigoideus medial.

4. Konka
Fosa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka. Celah antara
konka inferior dengan dasar hidung disebut meatus inferior, celah antara
konka media dan inferior disebut meatus media, dan di sebelah atas konka
media disebut meatus superior. Kadang-kadang didapatkan konka keempat
(konka suprema) yang teratas. Konka suprema, konka superior, dan konka
media berasal dari massa lateralis os etmoid, sedangkan konka inferior
merupakan tulang tersendiri yang melekat pada maksila bagian superior dan
palatum.

II.2.3 Meatus superior


Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang sempit antara septum
dan massa lateral os etmoid di atas konka media. Kelompok sel-sel etmoid posterior
bermuara di sentral meatus superior melalui satu atau beberapa ostium yang besarnya
bervariasi. Di atas belakang konka superior dan di depan korpus os sfenoid terdapat
resesus sfeno-etmoidal, tempat bermuaranya sinus sfenoid.

II.2.4 Meatus media


Merupakan salah satu celah yang penting yang merupakan celah yang lebih luas
dibandingkan dengan meatus superior. Di sini terdapat muara sinus maksila, sinus

5
frontal dan bagian anterior sinus etmoid. Di balik bagian anterior konka media yang
letaknya menggantung, pada dinding lateral terdapat celah yang berbentuk bulan sabit
yang dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau fisura yang berbentuk
bulan sabit yang menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yang
dinamakan hiatus semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk
tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Di atas
infundibulum ada penonjolan hemisfer yaitu bula etmoid yang dibentuk oleh salah
satu sel etmoid. Ostium sinus frontal, antrum maksila, dan sel-sel etmoid anterior
biasanya bermuara di infundibulum. Sinus frontal dan sel-sel etmoid anterior biasanya
bermuara di bagian anterior atas, dan sinus maksila bermuara di posterior muara sinus
frontal. Adakalanya sel-sel etmoid dan kadang-kadang duktus nasofrontal mempunyai
ostium tersendiri di depan infundibulum.

II.2.5 Meatus Inferior


Meatus inferior adalah yang terbesar di antara ketiga meatus, mempunyai muara
duktus nasolakrimalis yang terdapat kira-kira antara 3 sampai 3,5 cm di belakang
batas posterior nostril.

II.2.6 Nares
Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan nasofaring,
berbentuk oval dan terdapat di sebelah kanan dan kiri septum. Tiap nares posterior
bagian bawahnya dibentuk oleh lamina horisontalis palatum, bagian dalam oleh os
vomer, bagian atas oleh prosesus vaginalis os sfenoid dan bagian luar oleh lamina
pterigoideus.

II.2.7. Sinus Paranasal


Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinus
maksila, etmoid, frontalis dan sphenoid. Sinus maksilaris merupakan sinus paranasal
terbesar di antara lainnya, yang berbentuk piramid yang irregular dengan dasarnya
menghadap ke fossa nasalis dan puncaknya menghadap ke arah apeks prosesus
zygomatikus os maksilla.(2)

6
II.3 Kompleks ostiomeatal (KOM)
Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang berupa
celah pada dinding lateral hidung. Pada potongan koronal sinus paranasal gambaran KOM
terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi
penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus
semilunaris, bula etmoid, agger nasi dan ressus frontal.
Serambi depan dari sinus maksila dibentuk oleh infundibulum karena sekret yang
keluar dari ostium sinus maksila akan dialirkan dulu ke celah sempit infundibulum sebelum
masuk ke rongga hidung. Sedangkan pada sinus frontal sekret akan keluar melalui celah
sempit resesus frontal yang disebut sebagai serambi depan sinus frontal. Dari resesus frontal
drainase sekret dapat langsung menuju ke infundibulum etmoid atau ke dalam celah di antara
prosesus unsinatus dan konka media(4).

Gambar 2. Kompleks Ostio Meatal

II.4 Perdarahan hidung


Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika dari a.karotis interna. Bagian bawah
rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya adalah
ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama
n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media.
Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang – cabang a.fasialis. (5)

7
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina,
a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan a.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach
(Little’s area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma,
sehingga sering menjadi sumber epistaksis (perdarahan hidung) terutama pada anak.(2,5)

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan
arterinya .Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang
berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga
merupakanfaktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intracranial(2,5).

II.5 Persarafan hidung


Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis
anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus (N.V-1).
Rongga hidung lannya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui
ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain memberikan persarafan sensoris
juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini
menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila (N.V-2), serabut parasimpatis dari
n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus.
Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka
media.
Nervus olfaktorius : saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus
olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di
daerah sepertiga atas hidung.(5)

II.6 Fisiologi hidung


Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi
fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah :
1) Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara,
humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik
lokal;
2) Fungsi Penghidu. Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dan pengecap
dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior, dan
sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara
difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.

8
3) Fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara
dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang;
4) Fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap
trauma dan pelindung panas;
5) Refleks nasal. Iritasi mukosa hidung akan menyebabkan refleks bersin dan nafas
terhenti. Rangsang bau tertentu akan menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung, dan
pankreas (2)

II.6.1 Sistem Mukosiliar Hidung

Gambar 3. Sistim Mukosiliar / Mucociliary Clearance

Transportasi mukosiliar atau TMS adalah suatu mekanisme mukosa hidung untuk
membersihkan dirinya dengan cara mengangkut partikel-partikel asing yang terperangkap
pada palut lender ke arah nasofaring. Merupakan fungsi pertahanan local pada mukosa
hidung. Transpor mukosiliar disebut juga clearance mucosiliar atau sistem pembersih
mukosiliar sesungguhnya.(6)

Transportasi mukosiliar terdiri dari dua sistem yang bekerja simultan, yaitu gerakan
silia dan palut lendir. Ujung silia sepenuhnya masuk menembus gumpalan mukus dan
bergerak ke arah posterior bersama dengan materi asing yang terperangkap di dalamnya ke
arah nasofaring. Aliran cairan pada sinus mengikuti pola tertentu. Transportasi mukosiliar
pada sinus maksila berawal dari dasar yang kemudian menyebar ke seluruh dinding dan

9
keluar ke ostium sinus alami. Kecepatan kerja pembersihan oleh mukosiliar dapat diukur
dengan menggunakan suatu partikel yang tidak larut dalam permukaan mukosa. Lapisan
mukosa mengandung enzim lisozim (muramidase), dimana enzim ini dapat merusak bakteri.
Enzim tersebut sangat mirip dengan immunoglobulin A (Ig A), dengan ditambah beberapa
zat imunologik yang berasal dari sekresi sel. Imunoglobulin G (IgG) dan Interferon dapat
juga ditemukan pada sekret hidung sewaktu serangan akut infeksi virus. Ujung silia tersebut
dalam keadaan tegak dan masuk menembus gumpalan mukus kemudian menggerakkannya ke
arah posterior bersama materi asing yang terperangkap ke arah faring. Cairan perisiliar yang
di bawahnya akan di alirkan kearah posterior oleh aktivitas silia, tetapi mekanismenya belum
diketahui secara pasti. Transportasi mukosiliar yang bergerak secara aktif ini sangat penting
untuk kesehatan tubuh. Bila sistem ini tidak bekerja secara sempurna maka materi yang
terperangkap oleh palut lender akan menembus mukosa dan menimbulkan penyakit.
Kecepatan dari TMS sangatlah bervariasi, pada orang yang sehat adalah antara 1 sampai 20
mm / menit.(6)

Karena pergerakan silia lebih aktif pada meatus inferior dan media maka gerakan mukus
dalam hidung umumnya ke belakang, silia cenderung akan menarik lapisan mukus dari
meatus komunis ke dalam celah-celah ini. Sedangkan arah gerakan silia pada sinus seperti
spiral, dimulai dari tempat yang jauh dari ostium. Kecepatan gerakan silia bertambah secara
progresif saat mencapai ostium, dan pada daerah ostium silia tersebut berputar dengan
kecepatan 15 hingga 20 mm/menit(6)

Pada dinding lateral rongga hidung sekret dari sinus maksila akan bergabung dengan sekret
yang berasal dari sinus frontal dan etmoid anterior di dekat infundibulum etmoid, kemudian
melalui anteroinferior orifisium tuba eustachius akan dialirkan ke arah nasofaring. Sekret
yang berasal dari sinus etmoid posterior dan sfenoid akan bergabung di resesus sfenoetmoid,
kemudian melalui posteroinferior orifisium tuba eustachius menuju nasofaring. Dari rongga
nasofaring mukus turun kebawah oleh gerakan menelan(5)

Kecepatan gerakan mukus oleh kerja silia berbeda pada setiap bagian hidung. Pada segmen
hidung anterior kecepatan gerakan silianya mungkin hanya 1/6 segmen posterior, sekitar 1
hingga 20 mm / menit(6)

10
III.1 Anatomi Sinus Paranasal
Sinus paranasal merupakan salah salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Sinus paranasal
merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam
tulang. Ada empat pasang (delapan) sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi
hidung ; sinus frontalis kanan dan kiri, sinus etmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior),
sinus maksila, yang terbesar, kanan dan kiri disebut Antrum Highmore dan sinus sfenoidalis
kanan dan kiri. Semua rongga sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan
mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-
masing. (1)

Gambar 4. Sinus Paranasal

Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok yaitu bagian anterior dan
posterior. Kelompok anterior bermuara di bawah konka media, atau di dekat infundibulum,
terdiri dari sinus frontal, sinus maksila, dan sel-sel anterior sinus etmoid. Kelompok posterior
bermuara di berbagai tempat di atas konka media terdiri dari sel-sel posterior sinus etmoid
dan sinus sphenoid. Garis perlekatan konka media pada dinding lateral hidung merupakan
batas antara kedua kelompok. Proctor berpendapat bahwa salah satu fungsi penting sinus
paranasal adalah sebagai sumber lendir yang segar dan tak terkontaminasi yang dialirkan ke
mukosa hidung. (4)

11
Sinus paranasal adalah rongga-rongga di dalam tulang kepala yang berisi udara yang
berkembang dari dasar tengkorak hingga bagian prosesus alveolaris dan bagian lateralnya
berasal dari rongga hidung hingga bagian inferomedial dari orbita dan zygomatikus. Sinus-
sinus tersebut terbentuk oleh pseudostratified columnar epithelium yang berhubungan
melalui ostium dengan lapisan epitel dari rongga hidung. Sel-sel epitelnya berisi sejumlah
mukus yang menghasilkan sel-sel goblet(4)

III.1.1 Sinus maksila


Sinus maksila atau Antrum Highmore, merupakan sinus paranasal yang terbesar.
Merupakan sinus pertama yang terbentuk, diperkirakan pembentukan sinus tersebut terjadi
pada hari ke 70 masa kehamilan. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml, yang kemudian
berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml pada saat
dewasa.(6)
Pada waktu lahir sinus maksila ini mulanya tampak sebagai cekungan ektodermal
yang terletak di bawah penonjolan konka inferior, yang terlihat berupa celah kecil di sebelah
medial orbita. Celah ini kemudian akan berkembang menjadi tempat ostium sinus maksila
yaitu di meatus media. Dalam perkembangannya, celah ini akan lebih kea rah lateral
sehingga terbentuk rongga yang berukuran 7 x 4 x 4 mm, yang merupakan rongga sinus
maksila. Perluasan rongga tersebut akan berlanjut setelah lahir, dan berkembang sebesar 2
mm vertical, dan 3 mm anteroposterior tiap tahun. Mula-mula dasarnya lebih tinggi dari pada
dasar rongga hidung dan pada usia 12 tahun, lantai sinus maksila ini akan turun, dan akan
setinggi dasar hidung dan kemudian berlanjut meluas ke bawah bersamaan dengan perluasan
rongga. Perkembangan sinus ini akan berhenti saat erupsi gigi permanen. Perkembangan
maksimum tercapai antara usia 15 dan 18 tahun.(2)

Sinus maksila berbentuk piramid ireguler dengan dasarnya menghadap ke fosa nasalis
dan puncaknya ke arah apeks prosesus zigomatikus os maksila. Dinding anterior sinus ialah
permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina,dinding posteriornya adalah
permukaan infra-temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung.
Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh lamina vertikalis os palatum, prosesus
unsinatus os etmoid, prosesus maksilaris konka inferior, dan sebagaian kecil os lakrimalis.
Dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan
palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara

12
ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Menurut Morris, pada buku anatomi
tubuh manusia, ukuran rata-rata sinus maksila pada bayi baru lahir 7-8 x 4-6 mm dan untuk
usia 15 tahun 31-32 x 18-20 x 19-20 mm. Antrum mempunyai hubungan dengan
infundibulum di meatus medius melalui lubang kecil, yaitu ostium maksila yang terdapat di
bagian anterior atas dinding medial sinus. Ostium ini biasanya terbentuk dari membran. Jadi
ostium tulangnya berukuran lebih besar daripada lubang yang sebenarnya. Hal ini
mempermudah untuk keperluan tindakan irigasi sinus. (2)

Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah :
1) Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas , yaitu
premolar (P1 dan P2) , molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi taring (C) dan
gigi molar (M3) , bahkan akar-akar gigi tersebut tumbuh ke dalam rongga sinus,
hanya tertutup oleh mukosa saja. Gigi premolar kedua dan gigi molar kesatu dan dua
tumbuhnya dekat dengan dasar sinus. Bahkan kadang-kadang tumbuh ke dalam
rongga sinus, hanya tertutup oleh mukosa saja. Proses supuratif yang terjadi di sekitar
gigi-gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe,
sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan rongga sinus
yang akan mengakibatkan sinusitis.
2) Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.
3) Os sinus maksila lebih tinggi letaknya dari dasar sinus, sehingga drainase hanya
tergantung dari gerak silia, dan drainase harus melalui infundibulum yang sempit.
Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat
radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan
selanjutnya menyebabkan sinusitis.(2)

III.1.2 Sinus frontal


Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke emapat fetus,
berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus
frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum
usia 20 tahun.(2)

Bentuk dan ukuran sinus frontal sangat bervariasi , dan seringkali juga sangat berbeda
bentuk dan ukurannya dari sinus dan pasangannya, kadang-kadang juga ada sinus yang
rudimenter. Bentuk sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari

13
pada lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang
dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak
berkembang. Ukuran rata-rata sinus frontal : tinggi 3 cm, lebar 2-2,5 cm, dalam 1,5-2 cm,
dan isi rata-rata 6-7 ml. Tidak adanya gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding
sinus pada foto rontgen menunjukkan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh
tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus
frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang
terletak di ressus frontal yang berhubungan dengan infundibulum etmoid(2)

III.1.3 Sinus etmoid


Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini
dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya.(2)

Sel-sel etmoid, mula-mula terbentuk pada janin berusia 4 bulan, berasal dari meatus
superior dan suprema yang membentuk kelompok sel-sel etmoid anterior dan posterior. Sinus
etmoid sudah ada pada waktu bayi lahir kemudian berkembang sesuai dengan bertambahnya
usia sampai mencapai masa pubertas. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramid
dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4
cm, dan lebarnya 0,5 cm di bagian anterior dan 1,5 cm di bagian posterior, volume sinus kira-
kira 14 ml.(2)

Sinus etmoid berongga – rongga terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon,
yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara konka media
dan dinding medial orbita. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid
anterior yang bermuara di meatus medius, dan sinus etmoid posterior yang bermuara di
meatus superior. Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut
resesus frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula
etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan infundibulum, tempat
bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat
menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan
sinusitis maksila(2)
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa.
Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid

14
dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus
sphenoid.(2)

III.1.4 Sinus sfenoid


Sinus sfenoid terbentuk pada janin berumur 3 bulan sebagai pasangan evaginasi
mukosa di bagian posterior superior kavum nasi. Perkembangannya berjalan lambat, sampai
pada waktu lahir evaginasi mukosa ini belum tampak berhubungan dengan kartilago nasalis
posterior maupun os sfenoid. Sebelum anak berusia 3 tahun sinus sfenoid masih kecil, namun
telah berkembang sempurna pada usia 12 sampai 15 tahun. Letaknya di dalam korpus os
etmoid dan ukuran serta bentuknya bervariasi. Sepasang sinus ini dipisahkan satu sama lain
oleh septum tulang yang tipis, yang letakya jarang tepat di tengah, sehingga salah satu sinus
akan lebih besar daripada sisi lainnya.(6)

Letak os sfenoid adalah di dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus
sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah tinggi 2
cm, dalamnya 2,3 cm, dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya berkisar dari 5 sampai 7,5 ml. Saat
sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus sfenoid.
Batas-batasnya adalah : sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa,
sebelah inferiornya adalah atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus
kavernosus dan a.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah
posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons. (2)

III.2 Fisiologi sinus paranasal


Sinus paranasal secara fisiologi memiliki fungsi yang bermacam-macam. Bartholini
adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa ronga-rongga ini adalah organ yang
penting sebagai resonansi, dan Howell mencatat bahwa suku Maori dari Selandia Baru
memiliki suara yang sangat khas oleh karena mereka tidak memiliki rongga sinus paranasal
yang luas dan lebar. Teori ini dipatahkan oleh Proetz , bahwa binatang yang memiliki suara
yang kuat, contohnya singa, tidak memiliki rongga sinus yang besar. Beradasarkan teori dari
Proetz, bahwa kerja dari sinus paranasal adalah sebagai barier pada organ vital terhadap suhu
dan bunyi yang masuk. Jadi sampai saat ini belum ada persesuaian pendapat mengenai
fisiologi sinus paranasal . Ada yang berpendapat bahwa sinus paranasal tidak mempunyai
fungsi apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat pertumbuhan tulang muka.(2,7)

15
Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain adalah(2):
(1) Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban
udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah ternyata tidak didapati pertukaran udara
yangdefinitif antara sinus dan rongga hidung. Volume pertukaran udara dalam ventilasi
sinus kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan
beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak
mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.

(2) Sebagai penahan suhu (thermal insulators)


Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas , melindungi orbita dan fosa
serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya, sinus-sinus
yang besar tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang dilindungi.

(3) Membantu keseimbangan kepala


Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi
bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya akan memberikan pertambahan berat
sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.

(4) Membantu resonansi suara


Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi
kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat , posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Tidak ada korelasi antara
resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.

(5) Sebagai peredam perubahan tekanan udara


Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada
waktu bersin atau membuang ingus.

(6) Membantu produksi mukus.


Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan

16
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut
masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang
paling strategis(2).

IV. Tumor Sinonasal


A. Definisi
Tumor sinonasal adalah pertumbuhan sel abnormal didalam cavum nasal dan atau
rongga sinus paranasal. Tumor ini biasanya tumbuh secara perlahan dan tidak
menyebar ke bagian lain dari tubuh, tumor jinak ini dapat timbul dari salah satu
daerah di dalam sinonasal, termasuk pembuluh darah, saraf, tulang, tulang rawan.
B. Epidemiologi dan Etiologi

Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan sinus ditemukan di Jepang yaitu 2 per
10.000 penduduk pertahun. Di bagian THT FKUI- RSCM, keganasan ini
ditemukan pada 10,1% dari seluruh tumor ganas THT. Rasio penderita laki-laki
banding wanita sebesar 2:15. Etiologi tumor ganas hidung belum diketahui, tetapi
diduga beberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel, debu
kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropyl dan lain- lain. Pekerja di
bidang ini mendapat kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus jauh lebih
besar5. Banyak laporan mengenai kasus adeno-karsinoma sinus etmoid pada
pekerja-pekerja industri penggergajian kayu dan pembuatan mebel. Alkohol, asap
rokok, makanan yang diasin atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan
terjadi keganasan, sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi kemungkinan
terjadi keganasan5. Di Amerika Serikat, insidensi tumor hidung tiap tahun kurang
dari 1:100.000 penduduk, yang menyumbang sekitar 3% kanker dari saluran
pernapasan atas. Di Jepang dan Uganda, frekuensi tumor ini dua kali lebih tinggi
dibandingkan dengan Amerika Serikat6. Kecuali untuk tumor non-epitel, tumor
hidung ganas hampir tidak ditemukan pada anak-anak. Prevalensi tumor hidung
ganas meningkat sesuai umur yaitu 7:100.000 pada pasien dalam delapan dekade6.

17
Rousch (1999) memperkirakan bahwa di atas 80% dari semua tumor ganas pada
manusia dihubungkan dengan lingkungan. Bagaimanapun perkiraan ini
kemungkinan tinggi, bukti adanya penyebab lingkungan dari tumor hidung
terutama pada pasien-pasien yang terpapar nikel, chromium, hydrocarbon dan
isopropyl oils6.
Risiko kanker meningkat pada tukang kayu, tukang sepatu dan boot, dan pembuat
furniture. Karena kompleksnya paparan faktor lingkungan pada kelompok ini,
agen yang berperan sulit diidentifikasi. Paparan hidrokarbon juga meningkatkan
juga meningkatkan kanker hidung6.
Sekitar 55% tumor hidung dan sinus berasal dari sinus maxillary, 35% dari kavum nasi, 9%
sinus ethmoid, dan 1% sinus frontal dan sphenoid dan septum. Untuk tumor yang besar, asal
tumor sulit untuk diidentifikasi6
C. Klasifikasi
1. Tumor Sinonasal Benigna
1.1. Schneiderian Papilloma (SP)
Tumor ini berasal dari epitel mukosa saluran pernafasan bersilia yang merupakan derivat
dari ektoderm yang melapisi rongga hidung dan sinus paranasal disebut dengan membran
Schneiderian. secara keseluruhan, Schneiderian papilloma menghasilkan tiga tipe
morfologi papilloma yang berbeda, diantaranya inverted papilloma, oncocytic papilloma,
dan exophytic papilloma.

1.1.1 Epidemiologi

SP adalah tumor jinak sinonasal yang relatif jarang terjadi, sekitar 0,5-4% dari semua
tumor hidung primer adalah Schneiderian papilloma. Inverted papilloma menyumbang
sekitar 70% dari semua kasus SP dan memiliki insiden 0,74-1,5 kasus per 100.000 kasus
per tahun. Pria lebih rentan terkena daripada wanita, yaitu 4 kali lebih sering. Orang
dengan kulit putih lebih rentan atau lebih berisiko dibandingkan ras lainnya.

Schneiderian papilloma jarang terjadi pada anak-anak, dengan rentang usia kejadian
Fungiform Papilloma lebih sering terjadi pada orang berusia 20-50 tahun, Inverted
Pappilloma lebih umum terjadi pada orang dengan usia 40-70 tahun dan Silindrical
Papilloma dengan rata-rata usia pasien lebih dari 50 tahun.

18
1.1.2 Etiologi

Etiologi dari Schneiderian papilloma masih belum diketahui. Diduga sinusitis kronik,
polusi udara dan infeksi virus merupakan salah satu penyebabnya.

Sinusistis paranasal merupakan hal yang sering ditemukan pada pasien dengan SP
dan dianggap oleh banyak peneliti sebagai hal yang terjadi akibat tumor yang
menghalangi sinus daripada hal yang mencetuskan tumor tersebut. Virus telah lama
diduga menjadi penyebab lesi neoplastik karena memilki kecenderungan untuk
membentuk papilloma di daerah lain di tubuh. Virus yang diduga kuat sebagai salah satu
penyebabnya adalah HPV (Human Papillom Virus).

1.1.3 Manifestasi Klinik

Sinonasal Schneiderian papilloma hampir selalu terjadi unilateral. Tiga karekteristik


klinis utama dari tumor SP adalah; kecenderungan untuk kambuh, perusakkan struktur
disekitarnya dan kecenderungan untuk berubah menjadi ganas. Beberapa gejala klinis yang
muncul adalah;

 Epistaksis
 Nasal discharge
 Epifora
 Nyeri pada wajah
 Obstruksi unilateral

1.1.4 Tipe-tipe Schneiderian Papilloma


a) Fungiform Papilloma (Eksofitik)

Dari ketiga subtipe SP, hanya fungiform yang belum dilaporkan memiliki
potensi untuk berkembang menjadi karsinoma. Eksofitik secara khas timbul pada
septum cavum nasal, biasanya pada bagian anterior, pada pemeriksaan fisik berwarna
abu-abu, merah muda atau coklat, tidak transparan, melekat pada septum hidung
dengan dasar relatif luas, konsistensi kenyal sampai keras padat, tampak massa
bertangkai melekat pada mukosa, hanya 4-21% yang berasal atau melibatkan lateral

19
hidung. Adanya bukti yang semakin meningkat yang menunjukkan bahwa etiologi
FP terkait dengan HPV terutama tipe 6 dan 11. Epistaksis, obstruksi hidung unilateral
atau adanya massa asimtomatik adalah gejala yang muncul secara khas.

b) Inverted Papilloma (Endofitik)

Bersifat invasif dan dapat merusak jaringan sekitanya. Tumor jenis ini
cenderung residif dan dapat berubah menjadi ganas (pada 5%-10% kasus) apabila
tidak di reseksi. Inverted Papilloma (IP) ini khas muncul dari dinding lateral hidung
dan sinus maxillary, akan tetapi sinus paranasal lainnya dapat saja terlibat. Pada
pemeriksaan fisik berupa massa berwarna merah atau abu-abu, tidak transparan,
konsistensi padat sampai lunak dan rapuh, berbentuk polipoid dengan permukaan
berbelit atau berkerut.

Hanya 8% dari angka kejadian yang menunjukkan bahwa yang berasal dari
septum nasal. Diketahui bahwa kejadian IP berhubungan HPV tipe 6, 11, 16, 18 dan
57. Gejala yang paling khas dan umum adalah obstruksi unilateral, epistaksis,
anosmia, sakit kepala, epifora, proptosis dan diplopia.

CT-scan kepala tanpa kontras potongan coronal dan axial : Inverted Papilloma. Gambar
kanan : tampak massa isodens pada seluruh rongga sinus maxillaris sinistra sebagian
ronggan sinus maxillary dextra. Gambar kiri : tampak massa isodens pada seluruh rongga
sinus maxillary sinistra

20
CT-Scan kepala dengan kontras:
Inverted Papilloma,
Tampak massa hiperdens pada
kavum nasal dengan
perselubungan pada sinus
maksilaris (sinusitis sekunder)

c) Silindrical Papilloma (onkotik)


Onkotik papilloma memilki potensi paling besar untuk berubah menjadi
karsinoma (14%-19%), akan tetapi, onkotik papilloma merupakan jenis SP yang
paling jarang ditemukan. Angka kejadiannya antara pria dan wanita sama banyak.
Onkotik papilloma hanya terjadi pada dinding lateral cavum nasal atau rongga sinus,
yaitu biasanya sinus maksilaris dan etmoidalis. Pada pemeriksaan fisik berupa massa
fleshy berwarna merah kehitaman sampai coklat, atau abu-abu, berbentuk papilari
atau polipoid, berhubungan dengan obstruksi hidung dan epistaksis yang intermitten.

1.1.5 Tatalakasana

Kebanyakan dokter setuju bahwa operasi pembedahan adalah pengobatan


pilihan untuk SP, namun belum ada konsensus yang telah dicapai pada jenis atau
tingkat intervensi bedah.

1.2. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma (JNAs)

21
JNA adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologis terdiri dari komponen
pembuluh darah dan jaringan ikat. Meskipun secara histologis jinak, tumor ini berkembang
secara perlahan, menginvasi secara lokal dan tidak bermetastasis, akan tetapi tumor ini
mempunyai daya ekspansif yang amat merusak dan mendorong jaringan sekitarnya.

1.2.1. Epidemiologi
Tumor ini jarang ditemukan, merupakan 0.05% dari tumor kepala dan leher paling
sering ditemukan pada pria usia remaja.

1.2.2. Etiologi
Penyebab yang pasti dari angiofribroma belum diketahui. Terdapat beberapa teori
yang mengatakan bahwa terjadinya angiofibroma adalah akibat gangguan hormonal atau
karena pertumbuhan abnormal jaringan fibrokartilago embrional di daerah oksipitalis os
sfenoidalis.

1.2.3. Manifestasi Klinik


 Epistaksis masif berulang
 Obstruksi hidung
 Massa di nasofaring

1.2.4. Gambaran Radiologi


Pemeriksaan radiologi memegang peranan penting dalam diagnosis, penentuan stadium
dan penatalaksanaan. Pemeriksaan radiologi berperan dalam menunjukkan perluasan tumor
primer. Pemeriksaan radiologi juvenile angiofibroma nasofaring dapat dilakukan dengan foto
polos, CT-scan, MRI dan arteriografi. CT-scan berperan dalam follow-up setelah
pembedahan untuk mendeteksi sisa tumor, menilai ukuran setelah radioterapi atau menilai
pengecilan tumor. CT-scan merupakan pemeriksaan sebelum operasi yang paling penting
karena dapat menunjukkan destruksi struktur tulang dan pelebaran foramen dan fisura pada
basis kranii akibat penyebaran tumor.

22
CT-Scan kepala
dengan kontras:
Tampak massa
hiperdens pada
cavum nasal
posterior sinistra

1.2.5. Tatalaksana
 Pembedahan (ekstirpasi tumor)
 Radioterapi dilakukan bila tumor tidak dapat dioperasi

1.3. Polip Nasal


Polip nasal adalah lesi abnormal yang bisa berasal dari setiap bagian dari mukosa hidung atau sinus
paranasal. Patogenesis dari polip hidung sendiri masih belum diketahui.

1.3.1. Epidemiologi
Polip nasal lebih sering dialami oleh pria daripada wanita dengan perbandingan 4:1,
biasanya pada pasien berumur lebih dari 20 tahun, dan lebih sering pada orang-orang
umur 40 tahun.
1.3.2. Etiologi
Pembentukkan polip sendiri dikaitkan dengan peradangan kronis, disfungsi sistem saraf
otonom dan predisposisi genetik. Kebanyakan teori menganggap polip menjadi
manifestasi utama dari peradangan kronik. Oleh karena itu, kondisi yang
menyebabkan peradangan kronis di rongga hidung dapat menyebabkan polip hidung,
seperti misalnya; bronchial asthma, rhinitis alergi.

1.3.3. Manifestasi Klinis


 Obstruksi nasal
 Kongesti nasal
 Postnasal drip

23
 Nyeri pada wajah
 Hiposmia atau Anosmia
 Bersin

1.3.4. Gambaran Radiologi


Foto polos sinus paranasal, seperti waters dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan
adanya batas udara dan cairan di dalam sinus, tetapi pemeriksaan ini kurang
bermanfaat pada pada kasus polip. Pemeriksaan CT scan sangat bermanfaat untuk
melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada kelainan
anatomi, polip, atau sumbatan pada komplek osteomeatal. CT scan terutama
diindikasikan pada kasus polip yang gagal diterapi dengan medikamentosa.

CT-Scan kepala tanpa


kontras :
Tampak massa isodens
pada cavum nasal
dextra

24
CT-Scan kepala tanpa
kontras:
Tampak massa isodens
di seluruh sinus
maxillary kiri dengan
massa isoden pada
setengah dari bagian
inferior cavum nasal

1.3.5. Tatalaksana
 Topical : Fluticasone, Beclomethasone
 Oral : Predinosone (1 mg/kg/hari, 4-7 hari)

1.4. Osteoma
Osteoma adalah lesi tulang jinak yang sering muncul di sinus frontalis dan ethmoid. Osteoma
multipel dapat dikaitkan dengan Sindrom Gardner. Osteoma biasanya ditemukan secara kebetulan
pada CT-Scan.

1.4.1. Epidemiologi
Osteoma lebih sering terjadi pada orang usia 20-30 tahun dan pada umur 60 tahun.
Ratio antara pria dan wanita adalah 2:1. Daerah sinus paranasal yang paling sering
mengalami osteoma adalah sinus frontalis (80%).

1.4.2. Etiologi
Etiologi dari osteoma sendiri belum diketahui. Terdapat bebarapa teori yang mengatakan
bahwa osteoma mungkin terjadi akibat mekanisme reaktif yang dipicu oleh trauma
atau infeksi.

1.4.3. Manifestasi Klinis

25
 Nyeri pada bagian frontal
 Sinusitis akut atau kronis akibat blokade tumor pada bagian ostium sinus
 Daerah orbita : proptosis, epifora, nyeri pada daerah orbita

1.4.4. Gambaran Radiologi

Foto Caldwell PA: Foto Caldwell PA:


Tampak opasitas di Tampak opasitas di
bagian superior sinus dalam sinus frontalis
frontalis dextra. sinistra dan dextra
berbatas tegas

26
CT-Scan, Bone Window:
Tampak gambaran hiperdens pada sinus frontalis sinistra bagian supero-lateral pada
potongan axial dan coronal

1.4.5. Tatalaksana
Pengobatan atau terapi yang digunakan untuk osteoma adalah pembedahan berupa eksisi
untuk lesi simtomatik

II. Tumor Sinonasal Maligna


2.1. Epidemiologi
Keganasan pada sinonasal sendiri lebih sering terdiagnosis pada orang-orang berusia
50-60 tahun. Jenis keganasan sinonasal yang umum terjadi di sinus maxillaris, yaitu
mencakup 60-70% angka kejadian keganasan sinonasal, sedangkan 20-30% terjadi di dalam
cavum nasal dan 10-15% berada di sinus ethmoid. Kanker sinus sphenoid dan sinus frontalis
sangatlah jarang terjadi, dan hanya terjadi 5% dari angka kejadian tumor sinonasal.
Di Indonesia maupun di luar negeri, jenis tumor yang ganas hanya mencakup kurang
dari 1% dari semua jenis keganasan seluruh tubuh dan 3% dari seluruh keganasan di bagian
kepala dan leher.2,3 Gejala-gajala dan tanda klinis yang ditimbulkan semua tumor hidung
maupun sinus paranasal hampir mirip, sehingga seringkali hanya pemeriksaan histopatologi
yang dapat menentukan jenisnya.

27
Tumor sinonasal lebih sering terjadi pada pria daripada wanita dengan perbandingan
1,5 : 1 dan sekitar 80% penderita tumor sinonasal berusia 45-85 tahun.

2.2. Etiologi
Tumor sinonasal sendiri dapat dipicu oleh berbagai hal, beberapa faktor resiko yang
dapat mengakibatkan timbulnya tumor sinonasal antara lain; virus (HPV, virus Epstein-barr),
sinar ionisasi, inhalasi gas dan debu di pabrik, seperti; debu kulit, tepung, debu tekstil, debu
kayu atau serbuk gergaji debu kromium dan nikel, dan pada perokok serta alkoholik berat
akan memiliki risiko yang lebih besar dalam mengalami malignansi sinonasal.

2.3. Manifestasi Klinis


Gambaran klinis masing-masing pasien tergantung pada letak atau lokasi primer dan
arah perluasan penyebaran berikut beberapa gejala yang mungkin muncul pada penderita
yaitu berupa ;
o Hidung : obstruksi unilateral, epistaksis, rhinorrhea, adanya massa pada kavum nasi
yang dapat mendesak tulang hidung hingga mengakibatkan deformitas pada hidung.
o Wajah : nyeri, pembengkakan pada hidung, pipi atau palatum, parastesia, deformitas
pada wajah.
o Mata : proptosis, diplopia, lakrimasi, epifora
o Telinga : otalgia, pendengeran menurun
o Luka yang tidak kunjung sembuh atau ulkus

2.4. Tipe-tipe tumor Sinonasal Maligna


2.4.1. Karsinoma Sel Squamosa Sinonasal
Karsinoma sel squamosal (SCC) merupakan tumor ganas pada sinonasal, yang berasal
dari sel epitelial cavum nasal ataupun sinus paranasal yang terdiri dari tipe non-
keratinizing dan keratinizing. Dimana keratinizing sel squamosa karsinoma adalah
karsinoma sel squamosal sendiri sementara non-keratinizing adalah schneiderian
carcinoma, cylindrical cell carcinoma, transitional cell carcinoma, Ringertz
carcinoma atau respiratory epithelian carcinoma.

2.4.1.1 Epidemiologi
Jenis tumor ganas sinonsal yang paling sering ditemukan dan terjadi, mencapai
80% angka kejadian dari seluruh keganasan yang ada di sinonasal, ataupun
melibatkan rongga sinus maxillaris walaupun terdapat kemungkinan bahwa

28
tumor ganas ini berasal dari hidung maupun rongga sinus paranasal lainya.
Angka kelangsungan hidup selama 5 tahun adalah 60-64%.

2.4.1.2 Etiologi
Beberapa faktor resiko yang dapat menyebabakan SCC adalah paparan terhadap
nikel, debu tekstil, rokok dan riwayat atau adanya rekurensi Schneiderian
Papilloma.

2.4.1.3 Manifestasi Klinis


 Epistaksis
 Rinorea
 Obstruksi pada kavum nasal
 Bengkak pada daerah hidung atau pipi
 Proptosis
 Lakrimasi

2.4.1.4 Gambaran Radiologi

Foto Waters :
Tampak perselubungan pada seluruh rongga sinus maksilaris dextra
dengan destruksi pada dinding lateral sinus maksilaris

CT-Scan kepala : 29
Tampak massa isodens
dengan tepi ireguler didalam
2.4.2. Sinonasal Undifferentiated Carcioma (SNUC)
Merupakan tumor yang jarang, sangat agresif dan patologi klinik karsinoma yang khas
dan tidak jelas. SNUC menggambarkan tumor yang berkembang dengan cepat,
timbul dari saluran sinonasal dengan gejala awal yang tidak jelas dalam waktu yang
relatif singkat dan dengan prognosisi yang buruk.

2.4.2.1. Epidemiologi
SNUC lebih sering terjadi pada pria dengan jangkauan usia yang luas. Kavum
nasal, sinus maksilaris dan etmoidalis biasanya terlibat, baik sendiri ataupun
kombinasi.

2.4.2.2. Etiologi
SNUC adalah jenis kenker yang berasal dari sel epithelial di kavum nasal
ataupun sinus paranasal. Etiologi terjadinya sinonasal undifferentiated
carcinoma sendiri masih belom diketahui. Akan tetapi terdapat teori yang
menyebutkan bahwa adanya pengaruh gen, dapat tumbuh dari memebran
schneiderian dan tidak memiliki kaitan dengan EBV.

30
2.4.2.3. Manifestasi Klinik
 Epistaksis
 Rinorea
 Proptosis/ Eksopthalmus
 Diplopia
 Obstruksi nasal
 Bengkak pada orbita
 Nyeri pada wajah

2.4.2.4. Gambaran Radiologi

CT-Scan kepala:
SNUC
Terdapat massa
isodens dengan
batas ireguler pada
sinus maxillary
dan sinus ethmoid
dextra

31
2.4.3. Adenokarsinoma
Adenocarcinoma berasal dari epitel saluran pernafasan atau kelenjar mukoserous. Tipe ini
dibagi menjadi tipe intestinal dan non-intestinal. Intestinal Type Adenocarcinoma
merupakan tumor ganas primer yang berasal dari epitel kelenjar pada traktus sinonasal
yang secara histopatologi mirip dengan adenokarsinoma dan adenoma pada intestinal.

2.4.3.1. Epidemiologi
Lokasi yang paling sering yaitu sinus etmoidalis (40%), diikuti oleh kavum nasi
(27%) dan sinus maksilaris (20%).

2.4.3.2. Etiologi
Adenocarcinoma sangatlah penting karena berhubungan dengan faktor risiko
tertentu seperti paparan debu kayu dan senyawa organik lainnya.

2.4.3.3. Manifestasi Klinik


Gejala awal cenderung tidak spesifik dan bervariasi mulai dari;
 Obstruksi hidung unilateral
 Rinorhea yang jernih atau purulent
 Epistaksis

32
CT- Scan kepala:
Adenocarcinoma
Tampak gambaran isodens
pada sisi sinsistra sinus
maxillaris dan cavum nasal

2.4.4. Adenoid Cystic Carcinoma (ACC)


Tumor ini dikenal sebagai tumor glandular maligna dan tidak menunjukkan gambaran
spesifik. Tumor yang berasal dari kelenjar saliva minor ini menyebar dengan menginvasi
dan merusak jaringan lunak dan tulang di sekitarnya dan jarang bermetastasis. Prognosis
jangka panjang pada ACC buruk dengan tingkat kelangsungan hidup 10 tahun hanya 7%.
Kebanyakan pasien menginggal akibat penyebaran local daripada metastasis.

2.4.4.1. Epidemiologi
Adenoid cystic carcinoma merupakan keganasan sinonasal kedua yang paling
sering ditemukan, mencapai 10% dari total kasus. Paling sering dijumpai
pada sinus maksila (60%) dan rongga hidung (25%).

2.4.4.2. Etiologi
Adenoid cystic carcinoma sering dikaitkan dengan paparan di area tempat kerja
dan peningkatan risiko dikalangan pekerja furnitur dan pekerja kayu lainnya.
peningkatan risiko juga telah diamati di kalangan pekerja nikel, industri
tekstil dan industri sepatu.

2.4.4.3. Manifestasi Klinik


Tumor ini sering membahayakan, gejala yang muncul termasuk;

33
 Obstruksi hidung
 Epistaksis
 Nyeri
 Pembengkkan pada wajah
 Gigi-geligi yang goyang

2.4.4.4. Gambaran Radiologi

CT Scan Kepala soft tissue


window: Adenoid Cystic
Carcinona, tampak lesi
heterogen yang ekspansif pada
sinus maksilaris dextra, terdapat
erosi pada dinding sinus
maksilaris

34
2.4.5. Lymphoma Sinonasal
Meskupun jarang, limfoma maligna sinonasal merupakan tumor ganas jenis non-
epithelial yang sering ditemukan pada keganasan hidung. Tumor ini merupakan lesi
sinonasal yang destruktif pada tulang dan jaringan lunak.

2.4.5.1. Epidemiologi
Limfoma sendiri lebih umum ditemukan di Negara-negara Asia. Telah
dilaporkan bahwa limfoma sel NK/T tampak relatif umum pada pasien
dengan limfoma non-Hodgkin.

2.4.5.2. Etiologi
Kebanyakan limfoma yang timbul di dalam cavum nasal berasal dari sel natural
killer (NK) dan diyakini sangat erat kaitannya dengan Epstein-barr virus.
Meskipun demikian, beberapa laporan kasus mengindikasikan bahwa
limfoma primer dapat juga bersal dari sel B dan T.

2.4.5.3. Manifestasi Klinik


 Obstruksi nasal
 Rinorea
 Epistaksis

35
 Post-nasal drip
 Massa pada leher
 Demam

2.4.5.4. Gambaran Radiologi

CT-Scan kepala :
Tampak massa isodens
pada sinus maxillaris
sinistra

2.4.6. Rhabdomyosarcoma Sinonasal


Rhabdomyosarcoma merupakan tumor sinonasal ganas jaringan mesenkim yang agresif
dan berasal dari otot rangka. Menyumbang 5%-10% dari semua keganasan yang
terjadi pada masa kanak-kanak. Rhabdomyosarcoa terdiri atas lima kategori besar
yaitu, embrional (70%), alveolar (20%, prognosis paling buruk), botyroid, spindle
cell, and anaplastik. Nama lain dari RMS adalah sarkoma jaringan lunak,
rhabdomyosarkoma alveolar, rhabdomyosarkoma embryonal, botryoides sarcoma

36
2.4.6.1. Epidemiologi
Merupakan keganasan yang dapat terjadi pada setiap bagian tubuh. Tempat yang
paling sering terkena adalah pada regio kepala dan leher, saluran urogenital,
lengan dan kaki. Paling umum dialami oleh anak-anak dan dewasa muda.

2.4.6.2. Etiologi
Penyebab Rhabdomyosarcoma secara pasti tidak diketahui tetapi diduga karena
adanya mutasi genetik yang meningkatkan resiko terjadinya
Rhabdomyosarcoma.

2.4.6.3. Manifestasi Klinik


Gejala yang timbul bervariasi tergantung pada lokasi tumor;
 Tumor di hidung menyebabkan hidung tersumbat
 Rinorea
 Proptosis

2.4.6.4. Gambaran Radiologi

CT Scan Kepala : tampak massa


homogen soft tissue tanpa kalsifikasi
pada sinus maksilaris dan etmoidalis
dextra.

37
BAB III
KESIMPULAN

Tumor hidung adalah pertumbuhan ke arah ganas yang mengenai hidung dan lesi yang
menyerupai tumor pada rongga hidung, termasuk kulit dari hidung luar dan vestibulum
nasi. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus
berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817
penderita rawat jalan di rumah sakit3. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan
Pendengaran 1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerja sama dengan PERHATI dan
Bagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi. Data dari Divisi
Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien
rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien Dari jumlah tersebut 30%
mempunyai indikasi operasi BSEF1. Tumor Sinonasal dibagi menjadi dua, Tumor
sinonasal jinak, dan tumor sinonasal ganas. Insiden tertinggi tumor ganas hidung dan
sinus ditemukan di Jepang yaitu 2 per 10.000 penduduk pertahun. Di bagian THT FKUI-
RSCM, keganasan ini ditemukan pada 10,1% dari seluruh tumor ganas THT. Rasio

38
penderita laki-laki banding wanita sebesar 2:15. Etiologi tumor ganas hidung belum
diketahui, tetapi diduga beberapa zat hasil industri merupakan penyebab antara lain nikel,
debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropyl dan lain- lain. Pekerja di
bidang ini mendapat kemungkinan terjadi keganasan hidung dan sinus jauh lebih besar 5.
Pengobatan untuk tumor sendiri, bisa berupa medikamentosa dan pembedahan.

39
40