Anda di halaman 1dari 10

Reading Jurnal

THE EFFECT OF EXERCISE ON THE INTENSITY OF LOW


BACK PAIN IN PREGNANT WOMEN

Pembimbing:

dr. Jalalin Sp.KFR

Oleh:

Nia Githa Sarry, S.Ked 04084821921089


Rovania Yantinez Quardeztta, S.Ked 04084821921157
Kurniawan Onti, S.Ked 04084821921054
Nurul Izzah BTE Samsir, S.Ked 04084821921043
Muhammad Vary Pramadezta, S.Ked 04084821921175
M. Fakhri Kurniawan, S.Ked 04084821921176
Afkara Husna F., S.Ked 04054821820146

DEPARTEMEN REHABILITASI MEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2019
THE EFFECT OF EXERCISE ON THE INTENSITY OF LOW BACK

PAIN IN PREGNANT WOMEN

A. Garshasbi, S. Faghih Zadeh

Abstrak

Tujuan: Mengetahui pengaruh olahraga selama kehamilan terhadap intensitas nyeri punggung
bawah dan kinematika tulang belakang.

Metode: Sebuah studi prospektif acak dibuat. 107 wanita berpartisipasi dalam program
latihan tiga kali seminggu selama trimester kedua kehamilan selama 12 minggu dan 105
sebagai kelompok kontrol. Semua mengisi kuesioner antara 17-22 minggu kehamilan dan 12
minggu kemudian untuk penilaian intensitas nyeri punggung mereka. Lordosis dan
kelenturan tulang belakang diukur dengan Flexible ruler dan Side bending test, masing-
masing, pada waktu yang sama. Pertambahan berat badan selama kehamilan, panjang usia
kehamilan dan berat neonatal dicatat.

Hasil: Intensitas nyeri punggung bawah meningkat pada kelompok kontrol. Kelompok latihan
menunjukkan pengurangan yang signifikan dalam intensitas nyeri punggung setelah latihan
(p<0,0001). Fleksibilitas tulang belakang menurun lebih banyak pada kelompok latihan
(p<0.0001). Pertambahan berat badan selama kehamilan, panjang usia kehamilan dan berat
neonatal tidak berbeda antara kedua kelompok.

Kesimpulan: Latihan selama trimester kedua kehamilan secara signifikan mengurangi


intensitas nyeri punggung bawah, tidak memiliki efek terdeteksi pada Lordosis dan memiliki
efek signifikan pada fleksibilitas tulang belakang.
Pendahuluan
Nyeri punggung selama kehamilan adalah kondisi umum yang sering dianggap
sebagai kelemahan yang tidak dapat dihindari dari kehamilan normal. Beberapa penelitian
telah menunjukkan bahwa setidaknya 50% wanita mengalami beberapa jenis sakit punggung
selama beberapa periode kehamilan1-7.
Östgaard et al. menunjukkan bahwa tingkat komplikasi pada wanita atletik lebih
kurang dari wanita non-atletik7. Sementara itu belum jelas bahwa pada wanita hamil non-
atletik, olahraga dapat mengurangi intensitas nyeri punggung bawah.
Etiologi dan patogenesis nyeri punggung yang terkait dengan kehamilan belum jelas.
Sebagian besar hipotesis telah difokuskan pada perubahan beban akibat peningkatan berat
badan dan penurunan stabilitas panggul karena perubahan hormon 8,9. Beberapa penelitian
telah mengungkapkan korelasi antara tingkat sirkulasi hormon relaxin dan nyeri panggul pada
kehamilan, sementara yang lain belum menemukan korelasi seperti itu8,9.

Tabel 1. Karakteristik dari studi populasi


Kelompok Olahraga Kelompok Kontrol p-value
(N=107) (N=107)
Umur (tahun±S.D) 26.27± 4.87 26.48± 4.43 0.432
Berat badan 67.08± 12.8 55.42± 12.90 0.171
(kg±S.D)
Tinggi badan 160.75± 5.64 159.87± 6.55 0.646
(cm±S.D)
BMI(kg/m2) 25.98± 4.82 25.58± 5.12 0.603

Nyeri punggung memengaruhi aktivitas sehari-hari dan menyebabkan sebagian besar


di antara wanita hamil mengambil libur kerja di negara-negara Skandinavia 10. Pencegahan
dan pengobatan nyeri punggung yang berkaitan dengan kehamilan akan memiliki dampak
yang cukup besar bagi wanita itu sendiri dan untuk masyarakat dalam hal kualitas hidup,
biaya kesehatan masyarakat dan produktivitas11,12.
Olahraga menjadi semakin populer selama kehamilan. Salah satu tujuan olahraga
selama kehamilan adalah untuk mengembalikan biomekanik yang optimal13. Stabilisasi
lumbopelvis dapat dicapai dengan olahraga yang bertujuan untuk postur yang tepat dan
peningkatan fungsi otot. Belum ada penelitian menunjukkan efek yang signifikan dari
olahraga terhadap nyeri punggung selama kehamilan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas latihan khusus
selama kehamilan dalam mencegah atau mengurangi nyeri punggung bawah.

2. Bahan dan Metode


2.1. Studi Populasi dan Desain
Sebuah studi prospektif acak dilakukan pada bulan April 2003 hingga Januari
2004 di Departemen Obstetri dan Ginekologi, Hazrat Zaynb Hospital, Teheran, Iran.
Studi ini sudah mendapat persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran
Universitas Shahed. Wanita yang primigravida, berusia antara 20 dan 28 tahun, usia
kehamilan 17-22 minggu, ibu rumah tangga dan lulusan sekolah menengah diberi
kesempatan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Wanita dengan kontraindikasi
absolut dan relatif terhadap latihan aerobik selama kehamilan menurut pedoman baru
ACOG pada tahun 2002; riwayat olahraga sebelum kehamilan dan riwayat penyakit
ortopedi atau operasi di eksklusikan. Dengan menggunakan amplop tertutup, para
wanita yang menerima tawaran itu diacak menjadi dua kelompok; satu kelompok
diminta berolahraga tiga kali seminggu selama 12 minggu, sedangkan kelompok yang
lain tidak. Jumlah total wanita dalam kelompok latihan dan kelompok kontrol masing-
masing adalah 107 dan 105,. Semua wanita dalam kelompok latihan diberitahu
tentang tanda-tanda peringatan sesuai dengan pedoman ACOG, untuk menghentikan
latihan dan dikeluarkan dari penelitian. Semua wanita memberikan persetujuan
mereka.

2.2. Kuisioner
Para wanita dalam kelompok latihan dan kontrol diminta untuk mengisi
kuesioner. Kuisioner ini berfokus pada nyeri punggung bawah menurut kuesioner
KEBK, yang diubah sesuai dengan budaya dan perilaku Iran. Kuisioner KEBK
memiliki 25 pertanyaan dan setiap pertanyaan diberi skor antara 0 (tanpa rasa sakit), 1
(sakit ringan), 2 (sakit sedang), 3 (sakit parah), 4 (sakit sangat parah). Skor total
wanita dianggap sama dengan intensitas nyeri punggung bawah mereka. Data tentang
usia, tinggi, berat prahamil dan BMI juga diberikan. Kuisioner KEBEK kedua
diselesaikan setelah mengakhiri latihan pada kelompok latihan dan setelah 12 minggu
pada kelompok kontrol.
Fleksibilitas tulang belakang di sebelah kiri dan kanan diukur dengan Side
Bending Test. Sudut Lordosis tulang belakang lumbar diukur oleh penggaris fleksibel
(Fiskars, USA). Dua pengukuran diulangi dalam dua kelompok pada saat yang sama
ketika kuesioner kedua selesai.
Data tentang pertambahan berat badan selama kehamilan, usia kehamilan saat
persalinan dan berat neonatal dicatat.

2.3. Program olahraga


Program ini dilakukan untuk memperkuat otot perut, otot paha belakang dan untuk
meningkatkan traksi otot Iliopsoas dan Paravertebral.

Program olahraga yang dimaskudkan adalah 15 gerakan dalam 60 menit. Gerakan-


gerakan ini adalah: 5 menit berjalan lambat, 5 menit gerakan ekstensi, dan 10 menit
pemanasan umum, 15 menit olahraga anaerob, 20 menit olahraga spesifik dan 5 menit
kembali ke posisi pertama. Olahraga ini direkomendasikan oleh Fakultas Olahraga Tarbiat
Modares dan diuji pada wanita hamil oleh fisioterapis. Para wanita dianjurkan untuk
berolahraga tiga kali seminggu dengan pengawasan oleh bidan. Intensitas olahraga dikontrol
berdasarkan denyut nadi ibu. Bila denyut nadi melebihi 140 kali permenit maka olahraga
dihentikan Setiap wanita yang melewati tiga sesi dieksklusi dari penelitian.

2.4. Analisis statistik


Hasil dianalisis menggunakan SPSS untuk Windows. Perbandingan antara kelompok
olahraga dan kelompok kontrol dilakukan dengan menggunakan T-Test, Fisher’s Exact Test
and Chi-Square-Test. Untuk menganalisis intensitas nyeri punggung bawah sebelum dan
sesudah olahraga digunakan McNamara Test.Kemudian Wilcoxon digunakan untuk
menganalisis nyeri punggung bawah antara kedua kelompok. Nilai p yang lebih kecil dari
0,05 dianggap signifikan.

Hasil
Terdapat 2358 perempuan hamil primigavida yang terdaftar pada Hasrat Zaynab
Clinic selama masa penelitian. Sebanyak 280 perempuan diajak untuk berpartisipasi dalam
penelitian. 60 diantaranya tidak dapat mengikuti penelitan karena tidak dapat berpartisipasi
dalam grup latihan. 14 diantaranya tidak dapat berpartisipasi karena IMS yang berulang,
resiko aborsi, dan tidak memiliki waktu. Dari sisa 266 perempuan yang berpartisipasi, 161
dirandomisasi menjadi grup latihan dan 105 menjadi grup kontrol. Semua grup menjawab
kuisioner. 54 perempuan dalam grup latihan diekslusi.

Mean usia pada kedua grup adalah 26. Tidak ada perbedaan diantara dua grup terkait
usia, berat badan, tinggi badan, dan IMT (Tabel 1).
Terdapat 73 perempuan pada grup latihan (68%) dan 78 perempuan pada grup kontrol
(70,5%) yang mengalami low back pain selama kehamilan.
Intensitas low back pain pada grup latihan sebelum dan setelah latihan berkurang
secara signifikan, tetapi pada grup kontrol meningkat (Tabel 2).
Lordosis secara signifkan meningkat pada kedua grup dengan tidak adanya perbedaan
diantara kedua grup (Tabel 3).
Fleksibilitas tulang belakang yang diukur pada kedua grup sebelum latihan tidak
mempunyai perbedaan signifikan. Setelah latihan, terdapat perbedaan signifikan fleksibilitas
tulang belakang pada kedua grup ( Tabel 4).

Tidak ada perbedaan signifikan pada kedua grup terkait maternal weight gain,
pregnancy length, dan neonatal weight (Tabel 5).
Korelasi antara usia, berat badan, tinggi badan, IMT, lordosis, dan fleksibilitas tulang
belakang dengan low back pain dianalisis. Terdapat korelasi lemah antara berat badan
(r=0,04, p<0,03), IMT (r=0,04, p<0,03), fleksibilitas tulang belakang (r=0,06, p<0,01) dan
lordosis (r=0,05, p<0,02) dengan low back pain.
Terdapat korelasi kuat antara lordosis (r=0,45, p>0,000) (Fig. 1) dan fleksibilitas
tulang belakang (r=0,44, p>0,000) (Fig. 2) dengan IMT.
Pada grup latihan, 90% perempuan mengatakan mereka mau melakukan latihan yang sama
pada kehamilan mereka selanjutnya dan akan mengajak perempuan hamil lain untuk latihan
juga.

Pembahasan
Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan efek olahraga pada
nyeri punggung bawah wanita hamil dengan menyampingkan variabel lainnya. Tidak ada
perbedaan yang ditunjukkan dalam intensitas nyeri antara perempuan dalam dua kelompok
pada awal penelitian. Setelah mengakhiri program olahraga, wanita dalam kelompok olahraga
menunjukkan intensitas nyeri punggung bawah yang lebih rendah dibandingkan dengan awal
penelitian. Pada kelompok kontrol, intensitas nyeri punggung bawah meningkat ketika
kehamilan berkembang. Seperti dijelaskan sebelumnya, subyek secara acak dibagi ke dalam
dua kelompok, ahli fisioterapi yang mengukur variabel tidak mengetahui pembagian
kelompok dan hasil intensitas nyeri punggung bawah tidak . Semua wanita adalah ibu rumah
tangga primigravida. Hasilnya olahraga dapat mengurangi intensitas nyeri punggung bawah.
Hasil penelitian ini mirip dengan hasil penelitian lain mengenai frekuensi nyeri
punggung bawah selama kehamilan: 70-74% wanita hamil mengalami beberapa jenis nyeri
punggung bawah selama beberapa periode kehamilan mereka. Faktor-faktor biomekanik yang
diukur dalam penelitian ini memberikan sedikit penjelasan tentang penyebab nyeri punggung
bawah selama kehamilan. Hasil yang sama diperoleh oleh Ostgaard dkk yang hanya
menemukan lordosis dan diameter perut terkait dengan nyeri punggung, namun korelasinya
lemah. Dalam penelitian ini, peningkatan lordosis memiliki korelasi yang lemah dengan nyeri
punggung bawah. Olahraga dalam penelitian ini tidak memiliki pengaruh pada lordosis.
Dumas dkk menemukan bahwa olahraga tidak memiliki efek yang signifikan pada lordosis
selama kehamilan
Sebuah korelasi positif antara peningkatan fleksibilitas dan nyeri punggung bawah
telah diamati, hal ini menunjukkan bahwa ketika berat badan meningkat, beberapa
ketidakstabilan dapat terjadi pada sendi sacroiliaka. Sebagai kesimpulan, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa olahraga selama trimester kedua dan awal kehamilan ketiga dapat
mengurangi intensitas nyeri punggung bawah dan meningkatkan fleksibilitas tulang belakang.
REFERENCES

1. Bjorklund K, Bergstrom S. Is pelvic pain in pregnancy welfare compliant? Acta


Obstet Gynecol Scand 2000; 79:24 – 30.
2. Ostgaard HC, Andersson GBJ, Karlsson K. Prevalence of back pain in pregnancy.
Spine 1991;16:549–52.
3. Svensson HO, Andersson GBJ, Hagstad A, Jansson PO. The relationship of low-back
pain to pregnancy and gynecologic factors. Spine 1990;15:371–5.
4. Noren L, Ostgaard S, Johansson G, Ostgaard HC. Lumbar back and posterior pelvic
pain during pregnancy: a 3-year follow-up. Eur J Spine 2002 (Jun.);11(3):267 – 71
[Electronic publication 2001 Dec 08].
5. Kristiansson P, Svardsudd K, Von Schoultz B. Back pain during pregnancy: a
prospective study. Spine 1996; 21:702 – 9.
6. Endressen EH. Pelvic pain and low back pain in pregnant women—an
epidemiological study. Scand J Rheumatol 1995;24:135 – 41.
7. Ostgaard HC, Andersson GBJ, Schultz AB, Miller JAA. Influence of some
biomechanical factors on low back pain in pregnancy. Spine 1993;18:61–5.
8. Kristiansson P, Svardsudd K, Von Scholtz B. Serum relaxin, symphyseal pain, and
back pain during pregnancy. Am J Obstet Gynecol 1996;175:1324 – 7.
9. Petersen LK, Hvidman L, Uldbjerg N. Normal serum relaxin in women with disabling
pelvic pain during pregnancy. Gynecol Obstet Invest 1994;38:21–3.
10. Noren L, Ostgaard S, Nielsen TF, O ̈stgaard HC. Reduction of sick leaves for lumbar
back and posterior pelvic pain in pregnancy. Spine 1997;22:2157–60.

11. Noren L, Ostgaard S, Nielsen TF, Ostgaard HC. Reduction of sick leaves for lumbar
back and posterior pelvic pain in pregnancy. Spine 1994;19(8):894–900.

12. Ostgaard HC, Zetherstro ̈m G, Roos-Hansson E, Svanberg B. Reduction of back and


posterior pelvic pain in pregnancy. Spine 1994;19:894–900.

13. ACOG Committee. Opinion no. 267: exercise during preg- nancy and the postpartum
period. Obstet Gynecol 2002; 99:171–3.
14. Dumas GA, Reid JG, Wolfe LA, Griffin MP, McGrath MJ. Exercise, posture and
back pain during pregnancy, part 2: exercise and back pain. Clin Biomech
1995;10:104–9.