Anda di halaman 1dari 32

Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.

Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Suatu perusahaan mempunyai peranan yang penting dalam
perekonomian suatu negara. Sedangkan perusahaan mempunyai
kegiatan yang beragam, mulai perencanaan, proses produksi, personalia,
pembelanjaan dan pendistribusian. Kegiatan-kegiatan tersebut berguna
dalam pencapaian tujuan dari suatu perusahaan.
Pada dasarnya tujuan dari suatu perusahaan adalah keuntungan
berupa uang, apapun bentuk jenis usaha yang dilakukan. Untuk dapat
mencapai tujuan tersebut, maka perusahaan harus melaksanakan
aktivitasnya dengan lancar cepat dan hemat biaya, sehingga dapat
memenuhi selera konsumen dan mendapat kepercayaan yang tinggi
sebagai salah satu modal yang sangat vital. Dengan adanya kepercayaan
dari konsumen maka dapat dipastikan bahwa produk yang dibuat akan
dimanfaatkan oleh mereka. Untuk menjamin kebutuhan-kebutuhan
konsumen akan produk yang diproduksi oleh perusahaan maka
perusahaan perlu mengontrol persediaan yang ada agar siap menjawab
kebutuhan konsumen setiap saat tepat pada waktunya, oleh karena itu
perusahaan hendaklah menerapkan suatu sistem atau metode yang
efektif guna merespon masalah-masalah yang ada.
Salah satu cara untuk mengendalikan persediaan adalah dengan
metode Material Requierment Planning (MRP). MRP merupakan teknik
pendekatan yang bertujuan meningkatkan produktivitas perusahaan
dengan cara menjadwalkan kebutuhan akan material dan komponen
untuk membantu perusahaan dalam mengatasi kebutuhan minimum dari
komponen-komponen yang kebutuhannya dependen dan menjamin
tercapainya produksi akhir. Material Requirement Planning muncul pada
tahun 60an oleh Oliver Weight yang berasosiasi dengan Joseph Oirlicky,
yang pertama kali diterapkan di Toyota Company Jepang.

1
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Banyaknya metode dalam manajemen material yang dapat digunakan


untuk menentukan waktu dan volume pengadaan material, mengharuskan
para pengambil keputusan harus menguasai setiap metode pengadaan
material dalam manajemen material, mengetahui kelebihan dan
kekurangan setiap metode serta dapat menggunakan metode yang tepat
sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Salah satu metode didalam
manajemen material adalah Material Requirement Planning (MRP) yang
pada mulanya adalah suatu metode pemesanan material, maka pada saat
ini metode tersebut telah digunakan sebagai alat perencanaan dan
pengawasan terhadap fungsi manajemen. Material requirement planning
juga merupakan konsep dari suatu mekanisme untuk menghitung material
yang dibutuhkan, kapan diperlukan dan berapa banyak.
Pada perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan yang
menghasilkan barang jadi, proses produksi merupakan kegiatan inti dari
perusahaan tersebut. Produksi bisa berjalan dengan lancar apabila bahan
baku yang merupakan input dari proses produksi tersedia sesuai dengan
kebutuhan. Tersedianya bahan baku tidak lepas dari perencanaan
(planning) dan pengendalian (controlling). Perencanaan bahan baku
bermanfaat untuk menjaga kelangsungan proses produksi yang
berdampak pada kelangsungan hidup perusahaan dan untuk
mengantisipasi pada setiap permintaan konsumen yang datang secara
tidak terduga. Dengan adanya persediaan bahan baku maka perusahaan
dapat memenuhi permintaan konsumen. Sistem yang dapat digunakan
untuk pengadaan bahan baku adalah MRP (Material Requirement
Planning) atau sistem kebutuhan bahan baku. Sistem MRP dapat
digunakan untuk mengetahui jumlah bahan baku yang akan dipesan
sesuai dengan kebutuhan untuk produksi dengan memperhitungkan juga
biaya-biaya yang akan timbul akibat dari persediaan, seperti biaya
pemesanan dan biaya penyimpanan.
Proses bisnis dalam perusahaan harus berjalan dengan efektif, untuk
menunjang kebutuhan perusahaan akan persaingan yang semakin ketat.
Implementasi IT dapat mendukung hal ini. Namun, implementasi IT yang

2
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

tidak tepat akan menambah beban perusahaan. Oleh karena itu,


implementasi IT sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan
sistem yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan dapat
meningkatkan efektifitas proses bisnis yang berjalan. Salah satu
implementasi IT yang banyak digunakan dan terbukti dapat meningkatkan
efektivitas perusahaan adalah ERP. Berikut ini akan dibahas pengertian
ERP, keuntungan dan kerugian ERP, serta implementasi ERP di
perusahaan di Indonesia.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari Material Requirement Planning.
2. Mampu menjelaskan tujuan dari Material Requirement Planning
3. Mampu menjelaskan Kelebihan dan Kekurangan Material
Requirement Planning
4. Mengetahui Input, Proses, dan Output dari Material Requirement
Planning
5. Mengetahui pengertian dari Enterprise Resource Planning.
6. Menjelaskan komponen yang mempengaruhi Entreprise
Resource Planning
7. Menjelaskan keuntungan dan kerugian Entreprise Resource
Planning
8. Mengetahui implementasi Entreprise Resource Planning di
Indonesia

3
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian MRP


Perencanaan kebutuhan bahan (MRP) adalah suatu konsep dalam
manajemen produksi yang membahas cara yang tepat dalam
perencanaan kebutuhan produk dalam proses produksi, sehingga barang
yang dibutuhkan dapat tersedia sesuai dengan kebutuhan (Yudha Astana,
2007).
Heizer dan Render (2010), MRP adalah model permintaan terkait
yang menggunakan daftar kebutuhan bahan, status persediaan,
penerimaan yang diperkirakan dan jadwal produksi induk, yang dipakai
untuk menentukan kebutuhan material yang akan digunakan.
Schroeder (1994), MRP adalah suatu sistem informasi yang
digunakan untuk merencanakan dan mengendalikan persediaan dan
kapasitas.
Tampubolon (2004), MRP merupakan komputerisasi sistem
persediaan seluruh bahan yang dibutuhkan dalam proses konversi suatu
perusahaan, baik usaha manufaktur maupun usaha jasa.
Orlicky et al (1994), MRP merupakan teknik atau prosedur logis untuk
menterjemahkan Jadwal Produksi Induk (JIP) dari barang jadi menjadi
kebutuhan bersih untuk bebe-rapa komponen yang dibutuhkan untuk
mengimplementasikan JIP.
Oden et al, (1998) merupakan sistem berbasis komputer yang
mendesain untuk memesan dan menjadwalkan permintaan (raw material,
komponen, sub assemblies).
White et al (1987), MRP merupakan aktivitas perencanaan material
untuk seluruh komponen dan raw material (bahan baku) yang dibutuhkan

4
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

sesuai dengan JIP yang sama dengan permintaan per komponen.

Fungsi MRP
1. Pengendalian persediaan material (bahan baku).
2. Sistem perencanaan dan pengendalian produksi.

2.2 Tujuan Mrp


1. Meminimalkan persediaan. MRP menentukan seberapa banyak dan
kapan suatu komponen diperlukan disesuaikan dengan JIP.
2. Mengurangi resiko karena keterlambatan produksi dan pengiriman.
MRP mengidentifikasikan banyaknya bahan dan komponen yang
diperlukan baik dari segi jumlahnya dan waktunya dengan
memperhatikan waktu tenggang produksi maupun pengadaan komponen.
3. Komitmen yang realistis. Dengan MRP, jadwal produksi diharapkan
dapat terpenuhi sesuai dengan rencana, sehingga komitmen pengiriman
barang dilakukan secara lebih realistis.
4. Meningkatkan efisiensi. MRP juga mendorong peningkatan efisiensi
karena jumlah persediaan, waktu produksi dan waktu pengiriman barang
dapat direncanakan lebih baik sesuai dengan JIP.

Manfaat Mrp
1. Peningkatan pelayanan dan kepuasan
2. Peningkatan pemanfaatan fasilitas dan tenaga kerja
3. Perencanaan dan penjadwalan persediaan yang lebih baik
4. Tanggapan yang lebih cepat terhadap perubahan dan pergeseran
pasar
5. Tingkat persediaan menurun tanpa mengurangi pelayanan kepada
konsumen

2.3 Kelebihan Dan Kelemahan Material Requirement Planning


1. Kelebihan MRP
a. Kemampuan memberi harga lebih kompetitif

5
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

b. Mengurangi harga penjualan


c. Mengurangi Inventori
d. Pelayanan pelanggan yang lebih baik
e. Respon terhadap permintaan pasar lebih baik
f. Kemampuan mengubah jadwal induk
g. Mengurangi biaya setup
h. Mengurangi waktu menganggur
i. Memberi catatan kemajuan sehingga manager dapat merencanakan order
sebelum pesanan aktual dirilis
j. Memberitahu kapan memperlambat akan sebaik mempercepat
k. Menunda atau membatalkan pesanan
l. Mengubah kuantitas pesanan
m. Memajukan atau menunda batas waktu pesanaN
n. Membantu perencanaan kapasitas

2. Kelemahan MRP
Problem utama penggunaan sistem MRP adalah integritas data. Jika
terdapat data salah pada data persediaan, bill material data/master
schedule kemudian juga akan menghasilkan data salah. Problem utama
lainnya adalah MRP systems membutuhkan data spesifik berapa lama
perusahaan menggunakan berbagai komponen dalam memproduksi
produk tertentu (asumsi semua variable). Desain sistem ini juga
mengasumsikan bahwa "lead time" dalam proses in manufacturing sama
untuk setiap item produk yang dibuat.
Proses manufaktur yang dimiliki perusahaan mungkin berbeda
diberbagai tempat. Hal ini berakibat terjadinya daftar pesanan yang
berbeda karena perbedaaan jarak yang jauh. The overall ERP sistem
dapat digunakan untuk mengorganisaisi sediaan dan kebutuhan menurut
individu perusaaannya dan memungkinkan terjadinya komunikasi antar
perusahaan sehingga dapat mendistribuskan setiap komponen pada
kebutuan perusahaan.

6
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Hal ini mengindikasikan bahwa sebuah sistem enterprise perlu


diterapkan sebelum menerapkan sistem MRP. Sistem ERP sistem
dibutuhkan untuk menghitung secara reguler dengan benar bagaimana
kebutuhan item sebenarnya yang harus disediakan untuk proses produksi.
MRP tidak mengitung jumlah kapasitas produksi. Meskipun demikian,
dalam jumlah yang besar perlu diterapkan suatu sistem dalam tingkatan
lebih lanjut, yaitu MRP II. MRP II adalah sistem yang mengintegrasikan
aspek keuangan. Sistem ini mencakup perencanaan kapasitas
Kegagalan dalam mengaplikasikan sistem MRP biasanya disebabkan
oleh kurangnya komitmen top manajemen, kesalahan memandang MRP
hanyalah software yang hanya butuh digunakan secara tepat, integrasi
MRP JIT yang tidak tepat, Membutuhkan pengoperasian yang akurat, dan
Terlalu kaku.

2.4 Permintaan Dependen


Permintaan dependen (Dependent Demand) adalah permintaan untuk
sebuah jenis barang yang berkaitan dengan permintaan jenis barang lain.
Contoh : permintaan untuk truk F-150 diikuti dengan ban dan radiator.
Permintaan untuk jenis barang dikatakan dependen ketika hubungan antar
barangnya dapat ditentukan.
Oleh karena itu, ketika manajemen menerima pesanan atau membuat
perkiraan untuk permintaan untuk produk akhir, jumlah yang diperlukan
untuk semua komponen dapat dihitung karena semua komponen
merupakan barang dependen.
MRP telah berkembang menjadi dasar bagi Perencanaan
Sumberdaya Perusahaan (Enterprise Resource Planning = ERP)
karena menyediakan struktur bersih untuk permintaan dependen.
ERP adalah sebuah sistem informasi untuk mengidentifikasi dan
merencanaan sumberdaya pada skala perusahaan yang diperlukan untuk
mengambil, membuat, mengirim, dan menghitung pesanan pelanggan.

7
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Persyaratan Model Persediaan Dependen


A. Jadwal induk produksi (apa yang akan dibuat dan kapan).
B. Spesifikasi atau daftar kebutuhan bahan ( bahan dan komponen yang
diperlukan untuk membuat produk)
C. Ketersediaan persediaan (apa yang ada di persediaan)
D. Pesanan pembelian yang belum dipenuhi ( apa yang berada dalam
pemesanan juga disebut tagihan yang dipekirakan)
E. Waktu tunggu (berapa waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan
berbagai komponen).

Jadwal Induk Produksi (JIP)


JIP (Master production schedule = MPS) adalah suatu jadwal yang
akan menunjukkan jumlah produk yang akan dibuat dalam tiap-tiap
periode dengan tujuan untuk mengetahui kapasitas perusahaan dalam
merencanakan produksi serta untuk menyusun budget.
Jadwal produksi induk adalah sebuah pernyataan tentang apa yang
akan diproduksi dan bukan perkiraan permintaan.
Jadwal produksi induk dapat dinyatakan dalam salah satu istilah
sebagai berikut :
1. Membuat berdasarkan pesanan = make to order (contoh percetakan,
bengkel, restoran mewah)
2. Merakit berdasarkan pesanan atau perkiraan = assembler to order
atau forecast (contoh : motor, mobil, restoran siap saji).
3. Membuat simpanan berdasarkan perkiraan = stock to forecast (contoh :

8
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

baja, bir, roti, lampu, surat kabar).

Daftar Kebutuhan Bahan (Bill Of Material=BOM)


BOM merupakan suatu daftar barang atau material yang diperlukan
bagi perakitan, pencampuran, atau pembuatan produk akhir tersebut dan
menunjukkan berapa banyak setiap komponen dari bagian produk yang
akan diperlukan serta merinci semua nama komponen, nomor identifikasi,
dan sumber bahan.
Informasi yang dilengkapi untuk setiap komponen ini meliputi sebagai
berikut
1. Jenis komponen
2. Jumlah yang dibutuhkan
3. Tingkat penyusunannya
Struktur produk ini dapat digambarkan sebagai sebuah pohon dengan
cabang- cabangnya sebagai berikut :
• Gambar struktur produk :

C(4)

Produk A merupakan produk akhir (level 0) terbentuk dari 2 sub-


rakitan B dan 4 sub rakitan C (level 1). Setiap sub-rakitan B terdiri dari 1
bagian D, 3 bagian E (level 2). Angka dalam kurung menunjukkan jumlah
unit komponen yang bersangkutan.
Contoh : Mengembangkan suatu struktur produk dan kebutuhan bruto
Speaker Kits, Int. mengemas komponen stereo berkualitas tinggi

9
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

untuk pesanan melalui pos. Komponen untuk kit pengeras suara yang
terbaik “Awesome” (A), mencakup 2 kit pengeras suara 12 inci standar (B)
dengan 3 kit pengeras suara dengan amp-booster (C). Setiap B terdiri dari
2 pengeras suara (D) dan 2 kotak pengiriman yang masing-masing
dilengkapi dengan kit instalasi (E). Setiap 3 kit stereo 300 watt (C) memiliki
2 pengeras suara booster (F) dan 2 kit instalasi (E). Setiap pengeras
suara booster (F) terdiri atas 2 pengeras suara (D) dan 1 amp-booster (G).
Total untuk setiap “Awesome” adalah 4 pengeras suara 12 inci
standar dan 12 pengeras suara 12 inci dengan ampbooster (sebagian
besar pembeli akan memerlukan alat bantu dengar dalam waktu 3 tahun
penggunaan “Awesome”).

Setelah struktur produk telah dikembangkan, kita dapat menentukan


jumlah unit dari setiap jenis barang yang diperlukan untuk memenuhi
permintaan pesanan baru sejumlah 50 kit suara “Awesome” yang
diuraikan sebagai berikut :
Komponen B : 2 x jumlah A = 2(50)= 100
Komponen C : 3 x jumlah A = 3(50)= 150
Komponen D : 2 x jumlah B + 2 x jumlah F = 2(100) + (2)(300) = 800
Komponen E : 2 x jumlah B + 2 x jumlah C = 2(100) + (2)(150) = 500
Komponen F : 2 x jumlah C = 2(150) = 300
Komponen G :1 x jumlah F = 1(300) = 300

10
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Catatan Daftar Persediaan (Inventory Record)


Inventory Record terdiri dari data setiap jenis barang persediaan,
dimana setiap jenis barang persediaan tersebut nantinya akan di-
butuhkan untuk menentukan jumlah kebutuhan bersih. Disamping itu
juga berisikan tentang faktor perencanaan yang dilakukan untuk mene-
tapkan jumlah waktu untuk merencanakan pemesanan.

Daftar Perencanaan Dan Daftar Sementara


Daftar perencanaan (planning bill) dibuat untuk memasukkan
sebuah induk tiruan ke dalam daftar kebutuhan bahan. Daftar
perencanaan ini digunakan :
1. Ketika ingin mengelompokkan subrakitan sehingga banyaknya jenis
barang yang akan dijadwalkan berkurang.
2. Ketika ingin mengeluarkan “kit” ke departemen produksi.

Daftar bahan sementara (phantom bill of material) adalah daftar


kebutuhan bahan untuk komponen (pada umumnya sub-rakitan) yang
ada untuk sementara. Komponen-komponen ini langsung menuju ke
perakitan lain dan tidak pernah disimpan. Oleh karena itu komponen
daftar kebutuhan bahan sementara diberi kode untuk mendapatkan
perlakuan khusus, waktu tunggunya nol dan ditangani sebagai sebuah
bagian terpadu dari barang induk.

11
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Catatan Persediaan Yang Akurat


Informasi mengenai apa yang berada dalam persediaan adalah hasil
dari manajemen persediaan yang baik. Manajemen persediaan yang
baik adalah kebutuhan mutlak bagi sebuah MRP untuk dapat bekerja.
Jika perusahaan belum mencapai 99% ketelitian catatan, maka
perencanaan kebutuhan bahan tidak akan bekerja dengan baik.

Pesanan Pembelian Yang Belum Terpenuhi


Informasi mengenai pesanan yang belum dipenuhi perlu diketahui
sebagai hasil sampingan dari departemen pembelian dan pengendalian
persediaan yang dikelola dengan baik.
Ketika pesanan pembelian dipenuhi, catatan pesanan tersebut dan
tanggal pengiriman yang sudah dijadwalkan harus tersedia bagi karyawan
bagian produksi.

Waktu Tunggu Untuk Komponen


Ketika para manajer menentukan kapan produk dibutuhkan, mereka
menentukan kapan memperoleh produk tersebut. Waktu yang diperlukan
untuk mendapatkan (yaitu : membeli, memproduksi, atau merakit) jenis
barang dikenal sebagai waktu tunggu (lead time).
Waktu tunggu untuk sebuah barang yang diproduksi terdiri atas
pemindahan, penyetelanan (dimulainya sebuah produksi), dan perakitan
atau waktu pelaksanaan (run time) untuk setiap komponen. Untuk
sebuah barang yang dibeli, waktu tunggunya adalah waktu antara
diketahui adanya kebutuhan yang menghasilkan pesanan dan ketika
pesanan tersebut tersedia untuk diproduksi.

Tabel waktu tunggu untuk pengeras suara Awesome (A).


Komponen Utama Waktu (minggu)
A 1
B 2
C 1

12
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

D 1
E 2
F 3
G 2

13
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Rencana Kebutuhan Bahan Bruto (Gross Material Requirement Plan)


Rencana kebutuhan bahan bruto adalah jadwal yang menunjukkan
permintaan total untuk sebuah barang (setelah dikurangi persediaan di
tangan dan tagihan terjadwal) dan kapan harus dipesan dari pemasok,
atau ketika produksi harus dimulai untuk memenuhi permintaan pada
tanggal tertentu.

Rencana Kebutuhan Bahan Netto (Net Requirement Plan)


Rencana kebutuhan neto adalah hasil penyesuaian kebutuhan bruto
terhadap persediaan yang telah siap dan penerimaan yang terencana.
• Persediaan di tangan :

Barang Persediaan di tangan


A 10
B 15
C 20
D 10
E 10
F 5

14
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

G 0

• Contoh : Menentukan kebutuhan bahan neto

Komponen B : 2 x jumlah A = 2(50)= 100


Komponen C : 3 x jumlah A = 3(50)= 150
Komponen D : 2 x jumlah B + 2 x jumlah F = 2(100) + (2)(300) = 800
Komponen E : 2 x jumlah B + 2 x jumlah C = 2(100) + (2)(150) = 500
Komponen F : 2 x jumlah C = 2(150) = 300
Komponen G :1 x jumlah F = 1(300) = 300

Teknik Penentuan Ukuran Lot

Menurut Heizer dan Render (2005), sebuah sistem MRP adalah cara
yang sangat baik untuk menentukan jadwal produksi dan kebutuhan
bersih. Bagaimanapun, ketika terdapat kebutuhan bersih, maka
keputusan berapa banyak yang perlu dipesan harus dibuat. Keputusan ini
disebut keputusan penentuan ukuran lot (lotsizing decision). Ada
beberapa jalan untuk menentukan ukuran lot dalam sebuah sistem MRP,
yaitu :
1. Lot for Lot
Menurut Purwati (2008), metode lot for lot (LFL), atau juga dikenal
sabagai metode persediaan minimal, berdasarkan pada ide menyediakan
persediaan (atau memproduksi) sesuai dengan yang diperlukan saja,
jumlah persediaan diusahakan seminimal mungkin. Jumlah pesanan
sesuai dengan jumlah sesungguhnya yang diperlukan (lot for lot) ini
menghasilkan tidak adanya persediaan yang disimpan. Sehingga, biaya
yang timbul hanya berupa biaya pemesanan saja. Asumsi yang ada di
balik metode ini adalah bahwa pemasok (dari luar atau dari lantai pabrik)
tidak mensyaratkan ukuran lot tertentu; artinya berapapun ukuran lot yang
dipilih akan dapat dipenuhi.
Metode ini mengandung risiko, yaitu jika terjadi keterlambatan dalam

15
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

pengiriman barang. Jika persediaan itu berupa bahan baku,


mengakibatkan terhentinya produksi. Jika persediaan itu berupa
barang jadi, menyebabkan tidak terpenuhinya permintaan pelanggan.

2. Metode Economic Order Quantity

Economic Order Quantity adalah salah satu teknik didalam metode


perhitungan yang digunakan untuk menentukan jumlah dan waktu order
suatu material sehingga biaya inventori perusahaan dapat diminimumkan.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai metode EOQ :
TC(Q) = purchase Cost + order cost + holding cost
TC(Q) = P*D + (C*D/Q) + (H*Q)/2
Keterangan :
Q = lot size atau jumlah pesanan (unit) D = kebutuhan bahan setiap kali
pesan
C = biaya order per order (atau biaya setup kalau diproduksi sendiri) P =
harga
H = biaya simpan per unit per pesan.
Dengan menggunakan derivative total cost terhadap Q, maka didapatkan :
TC(Q) = P*D + (C*D)/Q + (H*Q) / 2
dTC/dQ = -(C*D)/Q2 + H/2
Syarat optimal titik kritis did TC/dQ = 0, maka didapatkan :

2×C×D
Q=
3. Part Period Balancing H √
Menurut Purwati (2008), metode Penyeimbang Sebagian Periode
(PPB), merupakan salah satu pendekatan dalam menentukan ukuran lot
untuk suatu kebutuhan material yang tidak seragam, yang bertujuan
untuk memperkecil biaya total persediaan. Meskipun tidak menjamin
diperolehnya biaya total yang minimum, metode ini memberikan
pemecahan yang cukup baik.
Metode ini dapat menggunakan jumlah pesanan yang berbeda untuk
setiap pesanan, yang dikarenakan jumlah permintaan setiap periode tidak

16
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

sama.
Ukuran lot dicari dengan menggunakan pende katan sebagian
periode ekonomis (economic part period, EPP), yaitu dengan membagi
biaya pemesanan dengan biaya penyimpanan per unit per periode.

Biaya penyetelan/pemesanan
EPP=
Biaya penyimpanan

Pengembangan Dari Mrp


1. Perencanaan Kebutuhan Bahan II
(Material Requirement Planning II) adalah sistem Perencanaan
sumber daya material (MRP II) memadukan semua sistem informasi,
memberikan umpan balik kepada rencana kapasitas, jadwal produksi
utama dan akhirnya kepada rencana produksi. Dalam kasus ini MRP
menjadi Material Resource Planning (Material Sumber- daya Bahan)
Dalam MRP II data persediaan dapat diasumsikan berdasarkan kerja
biaya bahan baku (bukan jumlah bahan baku), biaya modal, atau variabel
sumber daya lain sehingga MRP biasa diterapkan bukan hanya dalam
perusahaan manufaktur saja akan tetapi perusahaan yang bergerak di
bidang lain, seperti restauran dan rumah sakit bisa menerapkan sistem ini
dalam mengelola pengendalian bahan bakunya.

2. MRP Loop-Tertutup :
MRP Loop-tertutup adalah sebuah sistem yang menyiadakan umpan
balik ke rencana kapasitas, jadwal produksi induk, dan rencana produksi
sehingga perencanaan dapat tetap berlaku sepanjang waktu.

3. Perencanaan Kapasitas
Perencanaan kapasitas suatu perencanaan sumber daya dalam
sebuah pusat kerja untuk semua pekerjaan yang saat ini dibebankan
pada suatu kerja tersebut, semua pekerjaan yang direncanakan, dan

17
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

pesanan yang diharapkan. Menurut Daft (2006:628) perencanaan


kapasitas adalah penentuan dan penyesuaian kemampuan organisasi
untuk menghasilkan produk dan jasa agar dapat memenuhi permintaan.
Ada beberapa hal untuk meningkatkan kapasitas, yaitu :

a. Menciptakan perubahan tambahan dan mempekerjakan orang-orang


untuk bekerja pada mereka
b. Meminta orang-orang yang ada untuk bekerja lembur untuk menambah
kapasitas.
c. Mengontrakkan keluar pekerjaan ekstra kepada perusahaan lain.
d. Memperluas pabrik dan menambahkan lebih banyak peralatan.

2.5 Pengertian ERP


ERP (Enterprise Resource Planning) atau dalam bahasa Indonesia
sering disebut dengan Perencanaan Sumberdaya Perusahaan adalah
struktur sistem informasi yang digunakan untuk mengintegrasikan proses
bisnis dalam perusahaan manufaktur/jasa yang meliputi operasional dan
distribusi produk yang dihasilkan. Tujuan dari implementasi ERP adalah
menyatukan semua divisi yang ada dalam perusahaan menjadi satu
sistem yang dapat dikendalikan secara terpusat. ERP lebih ditujukan pada
sistem back-office, dimana sistem ERP tidak bersentuhan secara
langsung dengan konsumen.

Gambaran ERP adalah sebagai berikut :


1. Sistem ERP adalah suatu paket perangkat lunak yang didesain untuk
lingkungan pelanggan pengguna server, apakah itu secara tradisional
atau berbasis jaringan.
2. Sistem ERP memadukan sebagian besar dari proses bisnis.
3. Sistem ERP memproses sebagian besar dari transaksi perusahaan.
4. Sistem ERP menggunakan database perusahaan yang secara tipikal
menyimpan setiap data sekali saja.
5. Sistem ERP memungkinkan mengakses data secara waktu nyata (real
time).

18
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

6. Dalam beberapa hal sistem ERP memungkinkan perpaduan proses


transaksi dan kegiatan perencanaan.
7. Sistem ERP menunjang sistem multi mata uang dan bahasa, yang sangat
diperlukan oleh perusahaan multinasional.
8. Sistem ERP memungkinkan penyesuaian untuk kebutuhan khusus
perusahaan tanpa melakukan pemrograman kembali.

Pada umumnya, ERP dibangun sebagai sistem berbasis modul yang


menangani proses manufaktur, logistik, distribusi, inventori, invoice,
akuntasi perusahaan dan lain sebagainya. Dari modul-modul tersebut,
maka aktivitas penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan,
manajemen kualitas dan sumber daya manusia dapat dikontrol dengan
baik dan informasi yang berhubungan dengan aktivitas tersebut dapat
diperoleh dengan cepat.

ERP dibagi menjadi tiga modul utama, yaitu modul operasi, modul
finansial dan akuntansi, dan modul sumber daya manusia. Ketiga modul
ini berjalan secara terpisah, sehingga perusahaan tidak harus
mengimplementasikan ketiganya secara langsung. Namun, ketiga modul
tersebut berhubungan langsung dengan satu database terpusat. Misalnya
ketika bagian penjualan menerima pesanan dari konsumen, bagian
gudang langsung mengetahui dan mempersiapkan pesanan tersebut.
Kemudian bagian akuntansi dapat melihat apakah barang pesanan sudah
dikirim atau belum, sehingga ia dapat mempersiapkan tagihan untuk
konsumen. Sistem yang seperti ini akan menghemat banyak resource
perusahaan, seperti waktu, biaya dan tenaga kerja. Semua orang dalam
sistem melihat data yang sama dan akan memperoleh informasi terbaru
dari semua divisi dalam perusahaan. Dalam meningkatkan daya saingnya,
lebih dari 60% perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat telah
memasang atau berencana untuk memasang sebuah paket sistem ERP.
Popularitas dari sistem ERP ini juga dibuktikan dari pencapaian
penjualannya yang melebihi US$30 biliun di tahun 2002, sebuah
peningkatan sebesar 300% dari tahun 1990an.

19
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Implementasi ERP membutuhkan persiapan yang matang, karena


kesalahan implementasi akan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit.
Tahap paling awal dari implementasi ERP adalah membangun bisnis
proses yang baik. Tanpa bisnis proses yang baik, semua sistem informasi
berbasis komputer dengan teknik apapun tidak akan mampu
meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan tersebut. Selain itu,
kesiapan karyawan akan perubahan sistem merupakan salah satu hal
yang harus diperhitungkan. Rancangan ERP yang sempurna tidak akan
membantu jika tidak dijalankan dengan baik. Yang harus diingat adalah
tidak semua perusahaan membutuhkan ERP dalam sistemnya. Karena
proses bisnis setiap perusahaan bersifat unik, sehingga ERP dalam satu
perusahaan belum tentu dapat digunakan pada sistem di perusahaan
yang lain, atau perbaikan proses bisnis dalam perusahaan cukup untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

Agar sebuah perusahaan dapat menerapkan konsep ERP dengan


baik, setiap aspek dari organisasi, manusia, informasi, dan teknologi harus
dipersiapkan dengan baik. Dengan demikian penerapan tata kelola
perusahaan yang baik dapat diimplementasikan pada industri sehingga
dapat meningkatkan daya saing di pasar.

2.6 Komponen Yang Mempengaruhi Implementasi ERP


Berikut akan dibahas beberapa komponen yang mempengaruhi
implementasi ERP :
1. Pihak Manajemen dan karyawan
Dukungan dari pihak manajemen merupakan faktor utama
kesuksesan implementasi IT dalam perusahaan. Para eksekutif
perusahaan harus memiliki pengertian bahwa IT adalah membutuhkan
strategi pengembangan yang dinamis dan berkesinambungan, IT harus
berjalan seiring dengan proses bisnis perusahaan, selain itu pihak
eksekutif harus membawa CIO ke jalan yang sama dengan jalannya

20
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

perusahaan. Selain itu, karyawan juga memegang peranan yang penting


dalam keberhasilan implementasi ERP. Sebaiknya, sebelum implementasi
dijalankan, karyawan dipersiapkan untuk perubahan ‘besar’ yang akan
terjadi, bila perlu karyawan diikut sertakan dalam tahap analisis proses
bisnis, sehingga terbangun rasa memiliki yang kuat terhadap sistem baru.
Dengan demikian, ketika implementasi benar-benar dijalankan, karyawan
telah siap dan memiliki kemauan untuk belajar dan mendukung
keberhasilan ERP tersebut. ERP tidak selalu identik dengan perampingan
karyawan. Pemikiran ini yang dapat menyebabkan karyawan antipasti
terhadap perubahan ke sistem ERP, karena merasa posisinya terancam
dengan kemudahan yang ditawarkan ERP.

2. Bisnis proses
Untuk membangun sistem ERP, bisnis proses harus disusun dengan
jelas dan tepat. Tanpa proses bisnis yang benar, sistem apapun yang
diterapkan tidak akan mampu memperbaiki keadaan perusahaan. Dalam
membangun sistem ERP, sebaiknya batasan sistem yang akan dibangun
jelas, sehingga implementasi ERP tidak berkembang ke hal-hal yang tidak
diperlukan.

3. Vendor
Vendor adalah perusahaan yang menyediakan paket sistem ERP
yang akan diimplementasikan di perusahaan. Selain menyediakan
software dan hardware, vendor juga harus memberikan pelatihan pada
karyawan perusahaan yang menggunakan jasanya, agar karyawan
terbiasa dengan sistem IT yang baru, dan memastikan sistem yang baru
ini berjalan sesuai dengan permintaan perusahaan dan sesuai dengan
proses bisnisnya. Vendor yang baik memiliki respon yang cepat terhadap
masalah yang dihadapi perusahaan maupun error yang terjadi pada
sistem. Sebelum menentukan vendor mana yang akan digunakan,
sebaiknya perusahaan benar-benar menyelidiki latar belakang dan profil
dari vendor tersebut. Hal ini perlu dilakukan karena kerja sama ini

21
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

biasanya dilakukan dalam jangka panjang, dan jika perusahaan salah


memilih vendor, akan merugikan bagi perusahaan itu sendiri.

2.7 Keuntungan Dan Kerugian ERP

Keuntungan dari implementasi ERP antara lain :


1. Integrasi data keuangan. Oleh karena semua data disimpan secara
terpusat, maka para eksekutif perusahaan memperoleh data yang up-to-
date dan dapat mengatur keuangan perusahaan dengan lebih baik.
2. Standarisasi Proses Operasi. ERP menerapkan sistem yang standar,
dimana semua divisi akan menggunakan sistem dengan cara yang sama.
Dengan demikian, operasional perusahaan akan berjalan dengan lebih
efisien dan efektif.
3. Standarisasi Data dan Informasi. Database terpusat yang diterapkan pada
ERP, membentuk data yang standar, sehingga informasi dapat diperoleh
dengan mudah dan fleksibel untuk semua divisi yang ada dalam
perusahaan.

Keuntungan diatas adalah keuntungan yang dapat dirasakan namun


tidak dapat diukur. Keberhasilan implementasi ERP dapat dilihat dengan
mengukur tingkat Return on Investment (ROI), dan komponen lainnya,
seperti:

1. Pengurangan lead-time
2. Peningkatan kontrol keuangan
3. Penurunan inventori
4. Penurunan tenaga kerja secara total
5. Peningkatan service level
6. Peningkatan sales
7. Peningkatan kepuasan dan loyalitas konsumen
8. Peningkatan market share perusahaan
9. Pengiriman tepat waktu
10. Kinerja pemasok yang lebih baik
11. Peningkatan fleksibilitas

22
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

12. Pengurangan biaya-biaya


13. Penggunaan sumber daya yang lebih baik
14. Peningkatan akurasi informasi dan kemampuan pembuatan keputusan.

Kerugian yang mungkin terjadi ketika salah menerapkan ERP antara lain
adalah:
1. Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan
pengembangannya
2. Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran
3. Karyawan tidak siap untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang
baru
4. Persiapan implementation tidak dilakukan dengan baik
5. Berkurangnya fleksibilitas sistem setelah menerapkan ERP

Kerugian diatas dapat terjadi ketika :


1. Kurangnya komitmen top management, sehingga tim IT kurang mendapat
dukungan pada rancangan sistemnya. Hal ini bisa muncul karena
ketakutan tertentu, seperti kawatir data bocor ke pihak luar. Selain itu,
anggapan bahwa implementasi ERP adalah milik orang IT juga dapat
membuat kurangnya rasa memiliki dari top management dan karyawan
divisi lain. Padahal, implementasi ERP sebenarnya adalah suatu proyek
bisnis, dimana IT hadir untuk membantunya.
2. Kurangnya pendefinisian kebutuhan perusahaan, sehingga hasil analisis
strategi bisnis perusahaan tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.
Perusahaan sebaiknya menentukan dari awal, apakah perusahaan akan
mengikuti standar ERP atau sebaliknya.
3. Kesalahan proses seleksi software, karena penyelidikan software yang
tidak lengkap atau terburu-buru memutuskan. Hal ini bisa berakibat pada
membengkaknya waktu dan biaya yang dibutuhkan.
4. Tidak cocoknya software dengan business process perusahaan.
5. Kurangnya sumber daya, seperti manusia, infrastruktur dan modal
perusahaan.

23
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

6. Terbentuknya budaya organisasi yang berada dalam zona nyaman dan


tidak mau berubah atau merasa terancam dengan keberadaan software
(takut tidak dipekerjakan lagi).
7. Kurangnya training dan pembelajaran untuk karyawan, sehingga
karyawan tidak benar-benar siap menghadapi perubahan sistem, dimana
semua karyawan harus siap untuk selalu menyediakan data yang up-to-
date.
8. Kurangnya komunikasi antar personel.
9. Cacatnya project design dan management.
10. Saran penghematan yang menyesatkan dari orang yang tidak tepat.
11. Keahlian vendor yang tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
12. Faktor teknis lainnya, seperti bahasa, kebiasaan dokumentasi cetak
menjadi file, dan lain sebagainya.

2.8 Implementasi ERP Di Indonesia


Sebagian besar perusahaan di Indonesia, masih dijalankan dengan
cara tradisional, dalam artian pelaksanaan proses bisnisnya berjalan
dengan cara konvensional. Pembukuan masih dilakukan secara tertulis,
dan kalaupun ada penggunaan komputer, sebatas menggunakan
perhitungan excela maupun modul yang berdiri per divisi. Popularitas ERP
di Indonesia ditandai dengan penggunaan SAP oleh Astra pada tahun
1990an. Trend penggunaan ERP di Indonesia banyak dipengaruhi oleh
banyaknya perusahaan asing yang mendirikan pabriknya di Indonesia.
Secara otomatis, sistem informasi yang digunakan di perusahaan induk,
juga digunakan di anak perusahaannya di Indonesia, dengan
pertimbangan kemudahan integrasi dengan pusat.

Pada awal trend ERP masuk di Indonesia, banyak perusahaan yang


berusaha untuk mengimplementasikan ERP secara built in, dimana
perusahaan berusaha membangun sistem terintegrasinya sendiri dan
kemudian untuk dijual ke perusahaan lain juga, dengan tujuan untuk
mengubah divisi IT dari cost centre menjadi profit centre. Kemudian pada

24
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

perkembangannya di tahun 2000an, mulailah bermunculan vendor IT,


yang menyediakan jasa implementasi ERP di perusahaan.

Produk ERP berkembang menjadi banyak model, dan mulai


bermunculan variasi modul seperti CRM, QM, SRM dan lain sebagainya,
pada tahun 2005an. Pada masa ini pula, perusahaan mulai merasakan
dampak IT, apakah IT benar-benar dapat membantu kinerja perusahaan
atau tidak.

Salah satu contoh kasus adalah salah satu produsen makanan cepat
saji, PT Belfoods, Bogor, Jawa Barat. Belfoods merupakan salah satu
anak perusahaan dari Group Cipta Kreasi Widya Usaha (CKWU) dan
mereka menerapkan ERP pada Belfoods dengan tujuan untuk
membangun sistem informasi yang terintegrasi pada semua anak
perusahaannya.

Sebelum diterapkan ERP, Belfoods membutuhkan waktu satu hingga


dua bulan untuk mempersiapkan laporan yang dibutuhkan oleh para
eksekutif perusahaan. Pada akhirnya data ini menjadi informasi yang
terlambat, karena tidak dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan pada proses produksi, selain itu keakuratan data juga tidak
terjamin.

Setelah memilih beberapa vendor dan menimbang keuntungan


kerugian dari masing-masing vendor, Belfoods memilih IBM yang bekerja
sama dengan SAP untuk penerapan ERP pada perusahaannya. Masalah
yang dihadapi Belfoods dalam proses implementasi ini antara lain adalah
kendala lokasi pabrik yang sering mendapatkan pemadaman bergilir,
sehingga ia harus menyediakan banyak UPS untuk menjaga kestabilan
sistem. Selain itu, perubahan yang dihadapi karyawan juga menjadi salah
satu masalah yang harus dihadapi. Dalam masa awal implementasi,
Belfoods masih menjalankan dua sistem, yaitu sistem lama dan ERP.
Lambat laun, sistem lama ditinggalkan dan murni menjalankan ERP saja.
Salah satu benefit yang dirasakan oleh perusahaan adalah proses

25
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

pembelian yang semakin terkendali. Namun, hal ini membutuhkan waktu


yang tidak sebentar.

Masalah utama yang banyak dihadapi oleh perusahaan dalam


pemilihan ERP adalah biaya. Harga ERP yang relative mahal menjadi
pertimbangan utama dalam pemilihan paket ERP yang akan digunakan.
Mekipun ada ERP yang open source, namun dalam kenyataannya relatif
sulit untuk diimplementasikan.

Paket ERP yang banyak digunakan di Indonesia adalah Oracle


Finance dan SAP R/3. Dimana masing-masing paket memiliki kekurangan
dan kelebihan. SAP R/3 dikenal dengan kelengkapan modul dan
integrasinya yang baik. Selain itu, SAP R/3 juga memiliki kontrol akses
yang baik. Sebaliknya, SAP R/3 relatif lebih mahal dibandingkan Oracle
Finance dan implemantasinya relative lebih rumit. SAP R/3 lebih banyak
digunakan di Indonesia, sehingga pelatihan dan pakar di bidang ini cukup
mudah ditemukan. Dalam kenyataannya, beberapa perusahaan
menggunakan gabungan dari keduanya untuk menjalankan proses bisnis
perusahaan. Selain dua paket ERP diatas, Microsoft Axapta juga cukup
banyak digunakan, karena selisih harga yang cukup banyak dari SAP R/3
maupun Oracle.

Pada beberapa kasus implementasi ERP yang ditemui di Indonesia,


meskipun perusahaan telah berhati-hati pada saat memilih vendor,
pelaksanaan implementasi ERP masih saja menemui banyak kendala.
Kendala tersebut terutama dikarenakan ketidaksesuaian modul ERP
dengan bisnis proses perusahaan. Terutama di setiap perusahaan
Indonesia yang memiliki kebutuhan sistem yang relative rumit dan sangat
unik. Misalnya kebutuhan perusahaan akan pencatatan transaksi dengan
valas, perhitungan pajak jual beli, promo penjualan yang beraneka ragam
dan lain sebagainya.

Kebutuhan akan customize pada paket ERP yang tidak benar-benar


dikuasai oleh vendor, menyebabkan hasil implementasi tidak sesuai

26
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

dengan kebutuhan perusahaan, baik karyawan maupun top management.


Oleh karena itu, dalam tahap perubahan sistem perusahaan ke ERP,
sebaiknya perusahaan mencari pendapat dari pihak ketiga, misalnya
praktisi atau konsultan IT yang bersifat independen, untuk menghindari
conflict of interest antara vendor dan perusahaan.

Masalah lain yang mungkin terjadi adalah kebiasaan orang Indonesia


yang malas mendokumentasikan apa saja yang sudah dilakukan. Hal ini
menyebabkan melekatnya informasi pada beberapa orang saja, dan
ketika orang itu pergi, informasi penting pergi bersama dia. Demikian juga
dengan kontrak, sebaiknya kontrak dengan vendor dibuat sedetail
mungkin, untuk menghindari masalah di kemudian hari. Hal-hal yang
harus dipersiapkan untuk perubahan sistem ke ERP juga harus dibahas,
misalnya bagaimana dengan pemindahaan data dari sistem lama ke ERP,
pengaturan data dari berbagai DBMS yang sebelumnya digunakan, waktu
pelaksanaan, penalty jika terjadi keterlambatan, baik dari perusahaan dan
vendor, dan lain sebagainya.

Vendor yang menyediakan paket ERP di Indonesia antara lain adalah


IFS, PT Krakatau Information Technology, PT Abas Information System,
PT Aksesa Sistimindo Pratama, PT Mincom Indoservices, Global Business
Solution, dan lain sebagainya. Sedangkan perusahaan yang telah
mengimplementasikan ERP antara lain adalah Olympic Group, PP London
Sumatra, Tbk, Jakarta International Container Terminal, Petrokimia
Gresik, SOHO Group, PT PAL, PT Pupuk Sriwidjaya, Bukit Muria Jaya,
Sumi Rubber Indonesia, dan perusahaan lainnya.

Pada akhirnya, tidak semua perusahaan membutuhkan ERP pada


pelaksanaan proses bisnisnya. Perusahaan bisa membeli paket ERP
secara lengkap, per modul atau membangun sistemnya sendiri, sesuai
dengan kebutuhannya, tergantung pada skala kompleksitas bisnis
perusahaan, disesuaikan dengan dana yang tersedia, personel yang siap

27
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

menghadapi perubahan yang akan terjadi dengan adanya sistem baru,


dan yang paling penting, dukungan dari semua pihak dalam perusahaan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Material Requirement Planning merupakan suatu sistem yang


mengatur bahan-bahan material yang dibutuhkan untuk proses produksi
karena dengan MRP perusahaan dapat mengefisiensikan gudang dan
sekaligus mencegah kemungkinan kehabisan bahan material atau suatu
sistem penjadwalan kebutuhan bahan baku berdasarkan tahap waktu
untuk operasi produksi.

28
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Secara umum, sistem MRP dimaksudkan untuk mencapai tujuan


sebagai berikut :
1.   Meminimalkan Persediaan
2.   Mengurangi resiko karena keterlambatan produksi atau
pengiriman
3.   Komitmen yang realistis
4.   Meningkatkan efisiensi

ERP (Enterprise Resource Planning) adalah struktur sistem informasi


yang digunakan untuk mengintegrasikan proses bisnis dalam perusahaan
manufaktur/jasa yang meliputi operasional dan distribusi produk yang
dihasilkan.

Agar sebuah perusahaan dapat menerapkan konsep ERP dengan


baik, setiap aspek dari organisasi, manusia, informasi, dan teknologi harus
dipersiapkan dengan baik. Dengan demikian penerapan tata kelola
perusahaan yang baik dapat diimplementasikan pada industri sehingga
dapat meningkatkan daya saing di pasar.

DAFTAR PUSTAKA

Andreas (2007) Dua Tahun Ribet Bersama Implementasi ERP Axapta


[Online]. Available at: http://agorsiloku.wordpress.com/2007/11/25/dua-
tahun-ribet-bersama-implementasi-erp-axapta-1/ [Accessed: 31 Mei 2009]

Eddy Herjanto, Manajemen Produksi dan Operasi, Penerbit PT. Gramedia


Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1999.

29
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

Ekonesia Kampus Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta.

Endonesia.com (2009) ERP dan SCM [Online]. Available at:


http://www.endonesia.com/mod.php?mod=katalog&op=viewlink&cid=85
[Accessed: 30 Mei 2009]

Herry P. Chandra cs,2001, Material Requirement Planning

Heryanto, D. (2009) ERP dan Penerapannya [Online] Available at:


http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_1092/title_erp-dan-
penerapannya/ [Accessed: 31 Mei 2009]

IBM (n.d) IBM Membantu Implementasi ERP di Belfoods [Online].


Available at: http://www-
07.ibm.com/shared_downloads/express/belfood.pdf [Accessed: 30 Mei
2009]

IFS (n.d) IFS Indonesia [Online]. Available at:


http://www.ifsworld.com/id/news_events/our_customers/default.asp#
[Accessed: 31 Mei 2009]

INTACS (2008) Faktor-Faktor Kesuksesan Implementasi ERP [Online]


Available at: http://intacsindo.com/art-2.html [Accessed: 31 Mei 2009]

Lutchen, Mark D. (2004) Managing IT as a Business. John Wiley & Sons,


Inc.

Mabert, VA., Soni A., Venkataramanan MA. (2000) Enterprise Resources


Planning Survey of US Manufacturing Firm. Productin and Inventory
Managment Journal 2000, Vol 41 No.2 pp 52-58.

Priandoyo, A. (2007) Kompetisi aplikasi ERP di Indonesia [Online].


Available at: http://priandoyo.wordpress.com/2007/03/06/kompetisi-
aplikasi-erp-di-indonesia-second-layer/ [Accessed: 31 Mei 2009]

30
Manajemen Operasional Dosen :Dr. Musran Munizu, Se., M.Si
Material Requirements Planning (Mrp) And
Enterprise Resource Planning (Erp)

[Riswanto & Sukriana, Y. (2008) Menimbang Urgensi Implementasi ERP


[Online]. Available at: http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?
judul=Menimbang%20Urgensi%20Implementasi
%20ERP&&nomorurut_artikel=108 [Accessed: 30 Mei 2009]

Wikipedia (2009) Perencanaan Sumber Daya Perusahaan [Online].


Available at:
http://id.wikipedia.org/wiki/Perencanaan_sumber_daya_perusahaan
[Accessed: 30 Mei 2009]

31
32