Anda di halaman 1dari 7

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

TERMS OF REFERENCE (TOR)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1. Setiap fasilitas (sarana/prasarana) milik pemerintahan yang akan dibangun harus
direncanakan dan dirancang dengan sebaik-baiknya sehingga dapat memenuhi kriteria
bangunan yang layak dari segi umum, biaya, dan kriteria administrasi bagi bangunan
negara.

2. Setiap pekerjaan untuk fasilitas (sarana/prasarana) milik pemerintah perlu untuk


disiapkan/direncanakan secara matang sehingga mampu mendorong perwujudan karya
perencanaan yang sesuai dengan kepentingan dalam pekerjaan perencanaan itu sendiri.

3. Bahwa untuk terlaksananya kegiatan perencanaan sesuai dengan tata kelola yang baik
maka perlu diarahkan melalui Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini sehingga tugas
perencanaan teknis dapat terlaksanan secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk
mencapai sasaran, kelancaran dan ketepatan tercapainya hasil kerja (kinerja) yang dapat
dipertanggung jawabkan, transparan dan akuntabel.

B. Maksud dan Tujuan


1. Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini merupakan petunjuk bagi Konsultan Perencana yang
memuat masukan, asas, kriteria, keluaran dan proses yang harus dipenuhi dan
diperhatikan serta diinterpretasikan ke dalam pelaksanaan tugas perencanaan.

2. Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini juga menjadi acuan bagi Konsultan Perencana sehingga
mampu mewujudkan hasil pekerjaan (produk perencanaan) yang memenuhi standar
kriteria/spesifikasi teknis yang layak dari segi mutu, biaya, dan kriteria administrasi
lainnya serta layak diterima menurut kaidah, norma serta tata laku profesional.

C. Sasaran
Sasaran Kegiatan ini adalah Belanja Jasa Konsultansi Perencanaan

II. LINGKUP PEKERJAAN


A. Nama Kegiatan dan Pekerjaan
Nama Kegiatan adalah Rehabilitasi Sedang/ Berat Gedung Kantor. Pekerjaan yang
dilaksanakan adalah Belanja Jasa Konsultansi Perencanaan

B. Biaya dan Sumber Pendanaan


Pagu biaya untuk pekerjaan perencanaan ini ditetapkan sebesar Rp. 13.000.000,- (Tiga Belas
Juta Rupiah), sudah termasuk pajak. Adapun sumber dana kegiatan ini berasal dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (DAU Kota Palangka Raya) Kota Palangka Raya Tahun
Anggaran 2017 sebagaimana tertuang dalam DPA - SKPD DPM-PTSP Kota Palangka Raya
Nomor 188.45/679/2016 Tanggal 30 Desember 2016 .

Biaya pekerjaan Konsultan Perencana dan tata cara pembayaran akan diatur secara
kontraktual setelah melalui tahapan proses Pengadaan Jasa Konsultan Perencana sesuai
dengan peraturan yang berlaku, dan didasarkan pada prestasi kemajuan kegiatan
perencanaan.

C. PEMBERI TUGAS
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Palangka Raya

D. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan untuk pekerjaan ini adalah 30 (Tiga Puluh) hari kalender terhitung sejak
dikeluarkannya Surat Perintah Kerja (SPK) oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna
Anggaran kepada Konsultan Perencana.

E. Tahap Pekerjaan
Tahapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh Konsultan Perencana di dalam pekerjaan
ini antara lain adalah sebagai berikut :

a. Identifikasi Awal Lokasi Perencanaan


Pada tahapan ini Konsultan Perencana harus mengumpulkan data pendukung
perencanaan baik data sekunder atau laporan-laporan lainnya yang berkaitan dengan
lokasi kegiatan. Konsultan Perencana melaksanakan koordinasi dan konfirmasi dengan
instansi/unsur-unsur terkait di daerah, yang bertujuan untuk memperoleh data awal
sebagai bagian penting bahan kajian kelayakan teknis untuk bahan pekerjaan selanjutnya.

b. Survey Pendahuluan
Survey Pendahuluan adalah survey yang dilakukan pada awal pekerjaan dilokasi
pekerjaan, yang bertujuan untuk memperoleh data awal. Pada survey ini diharapkan
mampu memberikan saran dan bahan pertimbangan terhadap survey detail lanjutan.
Pada tahapan ini Konsultan Perencana melaksanakan koordinasi dan konfirmasi dengan
instansi/unsur-unsur terkait di daerah sehubungan dengan dilaksanakannya survey
pendahuluan.
Konsultan Perencana bersama-sama dengan Pemilik Pekerjaan melaksanakan survey dan
mendiskusikannya serta membuat usulan perencanaan dilapangan, bagian demi bagian
sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing serta membuat sketsa dilengkapi
catatan-catatan dan kalau perlu membuat tanda dilapangan berupa patok serta
dilengkapi foto-foto penting dan identitasnya masing-masing yang akan dioptimalkan di
kantor sebagai bahan penyusunan laporan setelah kembali. Adapun survey pendahuluan
untuk masing – masing bagian adalah sebagai berikut :

1. Survei Pendahuluan
a. Identifikasi permasalahan bangunan yang telah ada menjadi multifungsi
b. Membuat foto dokumentasi lapangan pada lokasi lokasi yang penting

2. Pengumpulan Data Sekunder


a. Pengumpulan peta dasar berupa data pendukung lainnya yang akan dipakai untuk
plotting kegiatan perencanaan dan eksisting bangunan
b. Mempelajari lokasi rencana dan tata letak bangunan dan esttika daerah

c. Perencanaan Teknis
1. Analisa Data Lapangan
Data–data yang diperoleh dari peninjauan lapangan maupun survey detail di
lapangan harus di analisa untuk mendapatkan data yang dapat digunakan guna
menunjang kegiatan perencanaan.

2. Penggambaran Data Lapangan/Data Survey Detail


Hasil survey pengukuran yang dilakukan harus dituangkan dalam bentuk gambar
peta, termasuk kontur tanah dan potongan–potongan yang diperlukan dalam
perencanaan.

3. Kegiatan Perencanaan detail.


Setelah melakukan pengukuran dan melakukan analisa data lapangan, maka
Konsultan Perencana segera membuat konsep dan pengembangan desain dalam
bentuk perencanaan detail termasuk gambar–gambar yang akan digunakan dalam
pekerjaan pelaksanaan.

d. Pembuatan Spesifikasi Teknis


Untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan kualitas yang baik, maka Konsultan
Perencana harus membuat Spesifikasi Teknis yang memuat tentang syarat–syarat
pelaksanaan dan kualitas material yang harus digunakan.

e. Pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB)


Setelah dilakukan perencanaan detail, maka Konsultan Perencana membuat Rencana
Anggaran Biaya (RAB) konstruksi fisik dari pekerjaan yang direncanakan. Adapun
dalam membuat Rencana Anggaran biaya tersebut, Konsultan Pengawas harus
melakukan beberapa hal sebagai berikut :
1) Konsultan harus mengumpulkan harga satuan dasar upah bahan dan peralatan yang
akan digunakan di lokasi pekerjaan.
2) Konsultan harus menyiapkan laporan analisa harga satuan pekerjaan untuk semua
mata pembayaran yang mengacu pada Daftar Standarisasi Penyusunan Rencana
Anggaran Biaya untuk Jasa Konstruksi yang berlaku.

g. Keluaran/Pelaporan
Keluaran yang dihasilkan oleh konsultan perencana berdasarkan kerangka acuan kerja
ini adalah lebih lanjut akan diatur dalam Surat Perjanjian/Surat Perintah Kerja, yang
minimal meliputi :
1. Gambar Perencanaan 5 (Lima) buku.
2. Rencana Anggaran Biaya (RAB) 5 (Lima) buku.
3. Spesifikasi Teknis 5 (Lima) buku.
4. Data Digital 3 (tiga) CD.

III. TENAGA
Untuk melaksanakan pekerjaan ini konsultan Perencana harus menyediakan tenaga yang
memenuhi persyaratan ketentuan kegiatan, baik ditinjau dari segi tujuan akhir kegiatan
maupun tingkat kompleksitas pekerjaan.
Tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam kegiatan perencanaan ini minimal terdiri dari :
1. Perencana Sipil / Ahli Teknik Sipil;
− Jumlah 1 orang Sarjana Teknik Sipil dengan pengalaman minimal 3 tahun dalam bidang
pekerjaan Teknik Sipil.
− Mempunyai sertifikat keahlian ( sesuai UU Jasa konstruksi ) dan mempunyai pengalaman
sebagai ketua tim.

Tugas utama ketua tim adalah bertanggung jawab pada hal-hal berikut:
− Merencanakan, mengkoordinasi dan mengendalikan semua kegiatan dan personil yang terlibat
dalam pekerjaan ini sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik serta mencapai hasil
yang diharapkan.
− Mempersiapkan petunjuk pelaksanaan kegiatan, baik dalam tahap pengumpulan data,
pengolahan, desain dan penyajian akhir dari hasil keseluruhan pekerjaan.
− Memberikan masukan kepada Tenaga Ahli lainnya yang terkait.

b. Tenaga Pendukung
1. Drafter : 1 (Satu) orang Sarjana Teknik Sipil dengan pengalaman minimal 2 tahun dalam
bidang pekerjaan Drafter.
IV. KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB KONSULTAN PERENCANA
1. Untuk melaksanakan tugasnya kosultan perencana harus mencari informasi yang
dibutuhkan selain informasi yang diberikan oleh Pemberi Kerja termasuk melalui Kerangka
Acuan Kerja (KAK) ini.

2. Kesalahan/kelalaian pekerjaan perencanaan sebagai akibat dari kesalahan informasi


menjadi tanggung jawab konsultan perencana.

3. Dalam proses perencanaan untuk menghasilkan keluaran-keluaran yang diminta,


Konsultan Perencana harus menyusun jadwal pertemuan berkala dengan pengelola proyek.
Dalam pertemuan berkala tersebut ditentukan produk awal, antara pokok yang harus
dihasilkan konsultan sesuai dengan rencana keluaran yang ditetapkan dalam Kerangka
Acuan Kerja ini.

4. Dalam pelaksanaan tugas, Konsultan Perencana harus selalu memperhitungkan bahwa


pelaksanaan pekerjaan adalah mengikat.

5. Perencana wajib berperan aktif di dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi nantinya. Hal
ini dimaksudkan agar terdapat kesamaan interpretasi dan persepsi antara Pemberi Kerja,
Konsultan Perencana, Kontraktor Pelaksana, serta Konsultan Pengawas.

6. Apabila Konsultan Perencana gagal dan tidak mampu melaksanakan hal-hal tersebut diatas,
maka akan diberikan sanksi yang nantinya akan diatur dalam Kontrak.

V. PENUTUP
1. Setelah Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini diterima maka Konsultan Perencana hendaknya
memeriksa semua bahan masukan yang diterima dan mencari bahan masukan lainnya yang
dibutuhkan.

2. Berdasarkan bahan-bahan tersebut konsultan agar segera menyusun Dokumen Usulan


Rencana Teknis dan Dokumen Usulan Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk dibahas dan
dievaluasi dalam proses Pengadaan Jasa Konsultan.

Adapun Dokumen Usulan Rencana Teknis minimal meliputi :


a. Pemahaman terhadap Kerangka Acuan Kerja
b. Jadwal kegiatan secara detail
c. Alokasi tenaga yang lengkap (disiplin dan keahliannya)
d. Konsep penanganan pekerjaan perencanaan

Sedangkan Dokumen Usulan Rencana Anggaran Biaya minimal meliputi :


a. Honorarium tenaga ahli dan tenaga penunjang
b. Material dan penggandaan laporan
c. Pembelian dan atau sewa peralatan
d. Sewa kendaraan
e. Biaya rapat–rapat
f. Perjalanan (Iokal maupun luar kota)
g. Jasa overhead perencanaan
h. Pajak dan iuran daerah lainnya

3. Kedua dokumen tersebut merupakan satu kesatuan yang keseluruhan memenuhi syarat
dalam proses Pengadaan Jasa Konsultan. Selain itu juga harus mendapat persetujuan dari
Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan Rehabilitasi sedang/berat gedung kantor setelah
sebelumnya dipresentasikan oleh Konsultan Perencana.
TANGGAPAN TERHADAP KAK

Secara umum, apa yang telah diuraikan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) telah
dimengerti dan dipahami oleh pihak konsultan dan dianggap telah menggambarkan secara
rinci mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan. Namun demikian, ada beberapa hal
dalam KAK tersebut yang perlu ditanggapi oleh Konsultan atau masih memerlukan
penjelasan, diantaranya adalah untuk mendapatkan manajemen pelaksanaan kegiatan
yang baik, diperlukan suatu pengorganisasian yang mantap dan terarah. Oleh karena itu
konsultan telah membuat struktur organisasi dari pelaksanaan pekerjaan berdasarkan
arahan dari kerangka acuan kerja, sehingga masing-masing personil yang terlibat dapat
bekerja dengan baik serta memahami tugas dan tanggung jawabnya.

TanggapanTerhadap Kerangka Acuan Kerja

Dengan mempelajari dan memahami persoalan ruang dan lingkup pekerjaan,


ketelitian yang diminta serta produk akhir yang diharapkan, maka konsultan akan dapat
memperoleh titik referensi sebagai pedoman guna membuat analisa teknis dalam usulan
teknis yang utuh dan memadai.

Personil yang diperlukan akan dipersiapkan dan memenuhi kualifikasi yang telah
disyaratkan serta kerjasama antara personil yang baik dan lancar.

Melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan pentahapan pekerjaan sebagaimana yang


dimaksudkan dalam Kerangka Acuan Kerja, mulai dari tahap pekerjaan awal sebelum
pelaksanaan konstruksi dimulai, tahapan pada saat konstruksi berlangsung dan pada
tahapan akhir pelaksanaan konstruksi.

Membuat dan memberikan kesimpulan secara obyektif berdasarkan teori yang ada
terhadap data-data observasi lapangan serta analisa yang cermat terhadap permasalahan
yang terjadi.

Untuk menjamin kuantitas dan kualitas produk yang diharapkan maka diupayakan
rencana operasi dan sistem pengendalian kualitas yang memadai.

Dalam menghadapi terjadinya permasalahan, Kerangka Acuan Kerja (KAK) akan tetap
menjadi pedoman dan setiap pembahasan yang mungkin terjadi pada sub kegiatan
pekerjaan, keputusan berada dipihak Pemberi Tugas.