Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat, taufik dan
hidayah-Nya serta nikmat sehat sehingga penyusunan makalah guna memenuhi
tugas mata kuliah ilmu gizi dasar ini dapat selesai sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam penyusunan makalah ini tentunya hambatan selalu mengiringi namun atas
bantuan, dorongan dan bimbingan dari orang tua, dosen pembimbing dan teman-
teman yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu akhirnya semua hambatan
dalam penyusunan makalah ini dapat teratasi.
Makalah ini kami susun dengan tujuan sebagai informasi serta untuk menambah
wawasan khususnya mengenai kelebihan dan kekurangan protein bagi tubuh
manusia.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan sebagai sumbangsih
pemikiran khususnya untuk para pembaca dan tidak lupa kami mohon maaf
apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan baik dalam kosa kata
ataupun isi dari keseluruhan makalah ini. Kami sebagai penulis sadar bahwa
makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan untuk itu kritik dan saran sangat
kami harapkan demi kebaikan kami untuk kedepannya.

Ende, Desember 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................ 1
C. Tujuan.............................................................................................................. 1
1. Tujuan Umum........................................................................................1
2. Tujuan Khusus.......................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
1. Definisi Masalah Gizi.......................................................................................2
2. Masalah Gizi di Indonesia................................................................................2
a. Kurang Energi Protein..........................................................................2
b. GAKI....................................................................................................4
c. Anemia Gizi Besi..................................................................................5
d. KVA.....................................................................................................6
e. Obesitas.................................................................................................7
3. Cara Mengatasi Masalah Gizi Pada Masyarakat..............................................8
a. Perbaiki asupan nutrisi..........................................................................8
b. Lakukan Pengobatan............................................................................9
c. Minimalisir kebiasaan buruk................................................................9
d. Pemaksimalan keseimbangan ekonomi................................................9
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN...........................................................10
BAB IV DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 11
DAFTAR GAMBAR

1 2

3 4

5
Keterangan :
Gambar 1 Penyakit Kurang Energi Protein
Gambar 2 GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium)
Gambar 3 Anemia Gizi Besi
Gambar 4 KVA
Gambar 5 Obesitas
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai negara yang sedang berkembang dan sedang membangun, bangsa
Indonesia masih memiliki beberapa ketertinggalan dan kekurangan jika
dibandingkan negara lain yang sudah lebih maju. Di bidang kesehatan, bangsa
Indonesia masih harus berjuang memerangi berbagai macam penyakit infeksi
dan kurang gizi yang saling berinteraksi satu sama lain menjadikan tingkat
kesehatan masyarakat Indonesia tidak kunjung meningkat secara signifikan.
Tingginya angka kesakitan dan kematian Ibu dan Anak Balita di
Indonesia sangat berkaitan dengan buruknya status gizi. Ironisnya, dibeberapa
daerah lain atau pada sekelompok masyarakat Indonesia yang lain terutama di
kota-kota besar, masalah kesehatan masyarakat utama justru dipicu dengan
adanya kelebihan gizi; meledaknya kejadian obesitas di beberapa daerah di
Indonesia akan mendatangkan masalah baru yang mempunyai konsekuensi-
konsekuensi serius bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya di bidang
kesehatan. Jika ini dibiarkan terus menerus, makin banyak penduduk yang
mengalami penyakit bahkan meninggal akibat masalah gizi ini. Untuk itu ,
disini penulis membahas mengenai  isu-isu mengenai masalah gizi yang ada di
Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah Apa saja isu-isu
mengenai masalah-masalah gizi yang terdapat di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah Pengantar Dasar Ilmu Gizi yang diberikan dosen yang
bersangkutan serta memberitahukan dan menjelaskan apa-apa saja isu-isu
mengenai masalah gizi utama di Indonesia. .
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan definisi masalah gizi.
b. Mendeskripsikan masalah gizi di Indonesia.
c. Mendeskripsikan cara mengatasi masalah gizi pada masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi masalah gizi


Masalah gizi adalah gangguan kesehatan dan kesejahtraan seseorang,
kelompok orang atau masyarakat sebagai akibat adanya ketidakseimbangan
antara asupan (intake) dengan kebutuhan tubuh akan makanan dan pengaruh
interaksi pennyakit (infeksi). Ketidakseimbangan ini bisa mengakibatkan gizi
kurang maupun gizi lebih.
Saat ini, kondisi gizi dunia menunjukan dua kondisi yang ekstrim. Mulai
dari kelaparan sampai pola makan yang mengikuti gaya hidup yaitu rendah
serat dan tinggi kalori, serta kondisi kurus dan pendek sampai pada
kegemukan. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Saat sebagian besar
bangsa Indonesia masih menderita kekurangan gizi terutama pada ibu, bayi
dan anak secara bersamaan timbul masalah gizi lain yaitu gizi leih yang
berdampak pada obesitas. Hal ini akan mengahmbat laju pembangunan,
karena status gizi suatu masyarakat berpern penting terhadap kualitas sumber
daya manusia, dan daya saing bangsa. Kemiskinan menjadi faktor utama
penyebab kekuarangan gizi.
Konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman dapat
memenuhi kecukupan gizi individu-individu untuk tumbuh dan
berkembang.Gizi pada ibu hamil sangat berpengaruh pada perkembangan otak
janin, sejak dari menggu ke empat pembuahan sampai lahir dan anak berusia 3
tahun (golden age).

2. Masalah gizi pada masyarakat


a. Kurang Energi Protein (KEP)
Kekurangan energi protein adalah keadan kurang gizi yang
disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari
sehingga tidak memenuhi angaka kecukupan gizi. faktor-faktor penyebab
kurang energi protein dibagi menjadi dua, yaitu :
1) Primer
a) Susunan makanan yang salah
b) Penyedia makanan yang kurang baik
c) Kemiskinan
d) Ketidaktahuan tentang nutrisi dan kebiasan makan yang salah

2) Penyebab Sekunder :
a) Gangguan pencernaan (seperti malabsorbsi, gizi tidak baik, kelainan
struktur
saluran).
b) Gangguan psikologis.
            
Kekurangan Energi Protein merupakan masalah gizi utama di
Indonesia. Keadaan ini banyak diderita oleh balita. Anak balita dengan
KEP tingkat berat akan menunjukan tanda klinis kwaskiokhor dan
marasmus. Masalah KEP sebenarnya hampir selalu berhubungan dengan
masalah pangan. Berdasarkan data Susenas, dari 5 juta anak  (27%), 3,6
juta anak (19,2 %) mengalami KEP. KEP disebabkan oleh multifaktor
yang saling terkait sinergis secara klinis maupun lingkungannya.
Pencegahan hendaknya meliputi faktor secara konsisten.

Tindakan yang diperlukan untuk mengatasi KEP :


I. Mengendalikan penyakit-penyakit infeksi, khususnya diare, melalui :
a) Perbaikan sanitasi, personal, lingkungan, terutama makanan dan
peralatan.
b) Pendidikan : dasar, kesehatan, gizi
c) Program imunisasi pencegahan penyakit erat kaitannya dengan
lingkungan seperti TBC, Malaria, DHF, parasit (cacing).
II. Memperkecil dampak penyakit infeksi terutama diare diwilayah yang
sanitasi lingkungannya belum baik.
III. Deteksi dini dan menejemen awal / ringan
a) Memonitor tumbang dan status gizi balita secara kontinu
b) Perhatikan khusus faktor resiko tinggi yang akan berpengaruh
terhadap  kelangsungan status gizi (kemiskinan, ketidaktahuan
penyakit infeksi)
IV. Memelihara status gizi
a) Dimulai sejak dalam kandungan, ibu hamil dengan gizi yang baik,
diharapkan melahirkan  bayi dengan status gizi yang baik pula.
b) Setelah lahir segera diberi ASI ekslusif sampai 4 bulan
c) Pemberian makanan tambahan (pendamping) ASI mulai usia 4 bulan
secara bertahap 
d) Memperpanjang masa menyusui selama mungkin selama bayi
menghendaki (maksimal 2 tahun).

b. GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium)


Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan salah
satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu ditanggulangi secara
sungguh-sungguh. Penduduk yang tinggal di daerah kekurangan iodium
akan mengalami GAKI kronis yang menyebabkan pertumbuhan fisik
terganggu dan keterbelakangan mental yang tidak dapat disembuhkan
sehingga menjadi beban masyarakat. GAKI mengakibatkan penurunan
kecerdasan dan produktivitas penduduk sehingga menghambat
pengembangan sumber daya manusia.
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (Iodine Deficiency Disorder)
adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga
tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Definisi lain, GAKY
merupakan suatu masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan
Yodium, akibat kekurangan Yodium ini dapat menimbulkan penyakit
salah satu yang sering kita kenal dan ditemui dimasyarakat adalah
Gondok. Dimana akibat defisiensi iodium ini merupakan suatu spektrum
yang luas dan mengenai semua segmen usia, dari fetus hingga dewasa.
Dengan demikian jelaslah bahwa gondok tidak identik dengan GAKI.
Faktor – Faktor yang berhubungan dengan masalah GAKI antara lain :
a. Faktor Defisiensi Iodium dan Iodium Excess
Defisiensi iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah
GAKI. Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid melakukan proses
adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam makanan
dan minuman yang dikonsumsinya
b. Faktor Geografis dan Non Geografis
GAKI sangat erat hubungannya dengan letak geografis suatu
daerah, karena pada umumnya masalah ini sering dijumpai di daerah
pegunungan seperti pegunungan Himalaya, Alpen, Andres dan di
Indonesia gondok sering dijumpai di pegunungan seperti Bukit Barisan
Di Sumatera dan pegunungan Kapur Selatan.
c. Faktor Bahan Pangan Goiterogenik
Kekurangan iodium merupakan penyebab utama terjadinya
gondok, namun tidak dapat dipungkiri bahwa faktor lain juga ikut
berperan. Salah satunya adalah bahan pangan yang bersifat
goiterogenik.

Dalam waktu tertentu GAKY dapat menyebabkan berbagai dampak


terhadap pertumbuhan, dan kelangsungan hidup penderitanya diantaranya :
1) Terhadap Pertumbuhan
a. Pertumbuhan yang tidak normal.
b. Pada keadaan yang parah terjadi kretinisme
c. Keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdasan
d. Tingkat kecerdasan yang rendah
2) Kelangsungan Hidup
Wanita hamil didaerah Endemik GAKY akan mengalami
berbagai  gangguan kehamilan antara lain :
a. Abortus
b. Bayi Lahir mati
c. Hipothryroid pada Neonatal
Penyebab tingginya kasus GAKY adalah disebabkan karena
beberapa hal diantaranya :
a) Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menggunkan garam
beryodium
b) Masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan mamfaat garam
beryodium
c) Garam Non Yodium masih banyak beredar ditengah masyarakat.
d) Adanya perbedaan harga yang relatif besar antara garam yang
beryodium dengan garam non yodium.
e) Pengawasan mutu garam yodium belum dilaksanakan secara
menyeluruh dan terus menerus serta belum adanya sangsi tegas bagi
produksi garam non yodium.
f) Pendistribusian garam beryidium masih belum merata terutama untuk
daerah- daerah terpencil.

c. Anemia Gizi Besi (AGB)


Anemia gizi besi ini timbul akibat kosongnya cadangan zat besi
tubuh sehingga cadangan zat besi untuk eritropoesis berkurang yang
menyebabkan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal.
Prevalensi anemia gizi besi di Indonesia cukup tinggi. Menurut data yang
dikeluarkan Depkes RI, pada kelompok usia balita prevalensi anemia gizi
besi pada tahun 2001 adalah 47,0%, kelompok wanita usia subur 26,4%,
sedangkan pada ibu hamil 40,1%.
Mengingat, 1 dari 2 orang di Indonesia beresiko anemia. Lebih
memprihatinkan lagi, prevalensi anemia terjadi bukan hanya pada orang
dewasa, namun juga sudah menyerang anak-anak.Penyebab anemia atau
yang biasa disebut kalangan awam dengan penyakit kurang darah, selain
kekurangan gizi juga adanya penyakit yang merusak sel darah
merah. Selain itu, Prevalensi ibu hamil yang terkena anemia sekitar 40-50
persen, hal ini berarti 5 dari 10 ibu hamil mengalami anemia.    
Anemia gizi besi biasanya ditandai dengan menurunnya kadar Hb
total di bawah nilai normal (hipokromia) dan ukuran sel darah merah lebih
kecil dari normal (mikrositosis). Tanda-tanda ini biasanya akan
menggangu metabolisme energi yang dapat menurunkan produktivitas.
Penyebab anemia gizi besi bisa disebabkan oleh beberapa hal. Seperti
kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, menderita
penyakit ganguan pencernaan sehingga menggangu penyerapan zat besi.
Terjadi luka yang menyebabkan pendarahan besar, persalinan, menstruasi,
atau cacingan serta penyakit kronis seperti kanker, ginjal dan penyakit. 

Adapun dampak dari Anemia Gizi Besi (AGB) adalah :     


a. Pada Anak-anak berdampak:
1) Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
2) Menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan
otak.
3) Meningkatkan risiko menderita penyakit infeksi karena daya
tahan tubuh menurun.
b. Dampak pada Wanita :
1) Anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah
sakit.
2) Menurunkan produktivitas kerja.
3) Menurunkan kebugaran.
c. Dampak pada Remaja putri :
1) Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
2) Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai
optimal.
3) Menurunkan kemampuan fisik olahragawati.
4) Mengakibatkan muka pucat.
d. Dampak pada Ibu hamil :
1) Menimbulkan perdarahan sebelum atau saat persalinan.
2) Meningkatkan risiko melahirkan Bayi dengan Berat Lahir Rendah
atau BBLR (<2,5 kg).
3) Pada anemia berat, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu
dan/atau bayinya.

AGB bisa diderita siapa saja, namun ada masa rentan AGB.
Diantaranya pada masa kehamilan, balita, remaja, masa dewasa muda dan
lansia.. Ibu hamil rentan terhadap AGB disebabkan kandungan zat besi
yang tersimpan tidak sebanding dengan peningkatan volume darah yang
terjadi saat hamil, ditambah dengan penambahan volume darah yang
berasal dari janin. Wanita secara kodrat harus kehilangan darah setiap
bulan akibat menstruasi, karenanya wanita lebih tinggi risikonya terkena
AGB dibandingkan pria. Anak-anak dan remaja juga usia rawan AGB
karena kebutuhan zat besi cukup tinggi diperlukan semasa pertumbuhan.
Jika asupan zat besinya kurang maka risiko AGB menjadi sangat besar.

d. KVA ( Kurang Vitamin A)


Vitamin A merupakan nutriention essensial, yang hanya dapat
dipenuhi dari luar tubuh, dimana jika asupannya berlebihan bisa
menyebabkan keracunan karena tidak larut dalam air. Keurangan asupan
vitamin A bisa menyebabkan diare yang bisa be3rujung pada kematian dan
pneumonia.
Prevalensi tertinggi terjadi pada balita. Hal ini disebabkan oleh
intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah,
rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada ibu hamil sampai
melahirkan sehingga mempengaruhi kadar vitamin A yang terkandung
dalam ASI. Selain itu dapat disebabkan oleh MP-ASI  yang kurang
kandungan vitamin A, gangguan absorbs vitamin A dan pro vitamin A
( penyakit pancreas, diare kronik, KEP ), gangguan konversi pro vitamin A
menjadi vitamin A.
Akibat kekurangan vitamin A :
1. Menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang infeksi
( misalnya sakit batuk, diare dan campak ).
2. Rabun senja ( anak dapat melihat suatu benda , jika ia tiba-tiba
berjalan dari tempat yang terang ke tempat yang gelap ). Rabun senja
dapat berakhir pada kebutaan.

Cara mencegah dan mengatasi kekurangan vitamin A :


1. Setiap hari anak diberi makanan yang mengandung vitamin A,
seperti hati ayam.
2. Setiap hari anak dianjurkan makan sayuran hijau dan buah-buahan
berwarna.
3. Sebaiknya sayuran ditumis menggunakan minyak atau dimasak
dengan santan, sebab vitamin A larut dalam minyak santan
4. Kapsul vitamin A dosis tinggi diberikan pada anak setiap 6 bulan di
Posyandu
5. Kapsul vitamin  A dosis tinggi diberikan pada ibu segera setelah
melahirkan.

Pemerintah terus berupaya menanggulangi penyakit gizi ini hingga


sejak tahun 2006 telah dapat ditangani, namun karena kekurangan vitamin
A ( KVA ) pada balita dapat menurunkan daya tahan tubuh. Maka,
suplementasi vitamin A tetap harus diberika pada balita. Berikut upayah
yang telah dilakukan pemerintah
1) Penyuluhan agar meningkatakan konsumsi vitamin A dan pro vitamin
A
2) Fortifikasi vitamin A ( susu, MSG, tepung terigu, mie instan ).
3) Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi pada balita 1-5 tahun ( 200.000
IU pada bulan februari dan agustus ), ibu nifas ( 200.000 IU ), anak usia
6-12 bulan ( 100.000 IU ).
e. Obesitas   
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari
penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.Setiap orang memerlukan
sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas,
penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Perbandingan yang normal antara
lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan
18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria
dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami osbesitas.
Seseorang yang memiliki berat badan 20% Perhatian tidak hanya
ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada lokasi
penimbunan lemak tubuh. Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat
mengonsumsikalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh.
Obesitas meningkatkan risiko terjadinya sejumlah penyakit menahun
seperti Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa),tekanan darah
tinggi (hipertensi), stroke, serangan jantung (infark miokardium), gagal
jantung, kanker kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus
besar),batu kandung empedu dan batu kandung kemih, Gout dan artritis
gout, serta osteoartritis.lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat
badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.Obesitas
digolongkan menjadi 3 kelompok:
a. Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
b. Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
c. Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat
ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk).

Anak-anak yang mengalami obesitas dapat berisiko lebih besar


mengidap penyakit jantung, diabetes dan gangguan akibat kelebihan berat
badan lainnya dari yang terpikirkan. Fakta ini diketahui berdasarkan studi
baru tentang dampak obesitas selama masa kanak-kanak dan
perkembangan kesehatan di masa dewasa.Dibanding anak-anak dan remaja
yang berbobot ideal, anak dengan obesitas lebih berisiko menderita
gangguan kesehatan yang memicu penyakit jantung dan diabetes. Seperti,
tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan gula darah tinggi.  
Di Indonesia terdapat 19,1 persen kasus obesitas pada penduduk
berusia di atas 15 tahun. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) Indonesia pada 2010, menunjukkan 27,7 juta jiwa penduduk
Indonesia berusia di atas 18 tahun, mengalamiobesitas. Jumlah ini sama
dengan 11,7 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia.

3. Cara Mengatasi Masalah Gizi pada Masyarakat


1) Perbaiki asupan nutrisi
Penanganan bagi para penderita kurang gizi yang paling utama yakni
dengan pemberian nutrisi secara layak dan mencukupi, mulai dari menu
karbohidrat layaknya dalam bentuk nasi dan roti, protein dalam segala
jenis lauk pauk baik dari nabati seperti tahu ataupun dari hewani layaknya
menu olahan telur dan seterusnya, perhatikan pula kandungan asupan
vitamin yang bisa diperoleh dari ragam jenis sayuran atau juga pada buah-
buahan segar, pemberian susu yang kaya akan nutrisi mencukupi juga
layak dijadikan pilihan, yang pasti pemberian asupan nutrisi mencukupi
haruslah dilakukan secara berkala dan kontinyu, hal ini demi
memaksimalkan adaptasi tubuh dalam penyerapan nutrisi secara maksimal.
Perhatikan pula untuk pencegahan maka asupan nutrisi pada
kalangan tertentu semisal ibu hamil dan menyusui haruslah ditingkatkan
sesuai dengan kebutuhan yang mencukupi demi terhindar dari hal yang tak
diinginkan selanjutnya, karena bagaimanapun dua kondisi ini pada
umumnya membuat para wanita utamanya memiliki beban yang memebihi
dari waktu biasanya jadi perlu untuk diberikan perhatian khusus lebih
lanjut.
2) Lakukan pengobatan
Prosedur yang satu ini harus dilakukan secara spesifik apabila
memang ditemukan gejala penyakit yang memang melatarbelakangi
munculnya kekurangan gizi tersebut, semisal pengobatan secara intensif
pada diare lantaran infeksi maupun permasalahan pencernakan lain yang
berhubungan langsung dengan sistem serap nutrisi pada tubuh yang
umumnya terletak pada saluran usus, fokus terapi untuk penyakit pemicu
ini akan semakin dapat memaksimalkan pula penanganan pada gejala
kekurangan gizi secara sekaligus.
3) Minimalisir kebiasaan buruk
Beberapa kebiasaan kurang sehat layaknya salah diet ketat ataupun
merokok harus diminimalisir secara ketat, lantaran kegiatan seperti ini
sama sekali tidak membawa manfaat baik bagi tubuh dan justru sangat
membahayakan, baiknya lakukan kegiatan yang lebih positif dampaknya
bagi tubuh karena jika dibiarkan terus berlanjut tak ayal maka ragam
masalah kesehatan pun akan mengintai di kemudian harinya jadi cobalah
untuk senantiasa bijak dalam memilah gaya hidup anda demi kesehatan
anda sampai hari mendatang.
4) Pemaksimalan keseimbangan ekonomi
Hendaklah untuk yang satu ini pemerintah sebagai pemegang
kekuasaan yang utama dan luas juga ikut andil secara nyata demi menjaga
keseimbangan supaya perbaikan ekonomi juga dapat dirasakan oleh
masyarakat kelas bawah, dan juga kebiasaan untuk menggalakkan empati
pada sesama layak juga untuk dijadikan alternatif demi memperhatikan
sesama kita yang berada pada ujung kemiskinan, bantuan sembako dan
bahan pangan secara tepat sasaran semoga dapat menjadi langkah nyata
yang dapat mengurangi merebaknya wabah kekurangan gizi di kalangan
bawah.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa masalah gizi
merupakan hal yang komplek di Indonesia. Sampai saat ini ada lima
masalah gizi utama di Indonesia, yaitu Kurang Energi Protein (KEP),
Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat
Kekurangan Iodium (GAKI) dan Obesitas. Energi dan protein merupakan
zat gizi makro, sedangkan zat besi, vitamin A dan Iodium merupakan zat
gizi mikro. Banyak faktor yang mempengaruhi asupan gizi masyarakat
tersebut. Dari hari ke hari angka dari masalah-masalah di atas terus
meningkat, yang secara otomatis juga meningkatkan angka kematian
penduduk. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kekurangan
pangan, penyakit infeksi seperti cacingan, lingkungan yang kurang bersih
serta penyebab tidak langsung lainnya seperti pola asuh orang tua.
 
B. Saran
Sebaiknya, untuk mengurangi angka kematian akibat masalah-
masalah gizi di atas pemerintah mengadakan program yang lebih efektif dan
berkesinambungan seperti, meningkatkan upaya kesehatan ibu untuk
mengurangi bayi dengan berat lahir rendah, meningkatkan program
perbaikan zat gizi mikro, meningkatkan program gizi berbasis
masyarakat,  dan memperbaiki sektor lain yang treakit erat dengan gizi
(pertanian, air dan sanitasi, perlindungan, pemberdayaan masyarakat dan isu
gender), sehingga sedikit demi sedikit angka-angka akibat masalah gizi di
atas dapat dikurangi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. “Masalah-Masalah Gizi di Indonesia” dalam


http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/24/masalah-masalah-gizi-di-indonesia-2/ 
diakses pada 27 November 2012 pukul 21.00
Anonim. 2012.”Gangguan Akibat Kekurangan Yodium” dalam
http://vhychocolatenurse.blogspot.com/2012/05/gangguan-akibat-kekurangan-yodium-
gaky.html diakses pada 27 November 2012 pukul 21.08
Anonim. 2012. “Anemia Gizi Besi” dalam
http://keperawatankomunitas.blogspot.com/2012/01/anemia-gizi-besi.html diakses
pada 27 November 2012 pukul 21.10
Anonim.2010. “Obesitas Kini Semakin Mewabah” dalam
http://health.kompas.com/read/2010/11/02/09285713/Obesitas.Kini.Semakin.Mewaba
hdiakses pada 27 November 2012 pukul 21.10
Anonim. 2011. Gizi Buruk Ancam 4 Juta Anak Indonesia” dalam 
http://liputankita.com/berita-liputankita/gizi-buruk-ancam-4-juta-anak-indonesia-
liputankita.html diakses pada 27 November 2012 pukul 21.18