Anda di halaman 1dari 2

TUTORIAL 4 IMUNISASI

BLOK KEPERAWATAN ANAK

1. DEFINISI VAKSIN DAN IMUNISASI


 Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti
diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap
suatu penyakit tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain.
 Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat terpajan dengan
penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.
 Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin kedalam tubuh. Agar tubuh membuat zat anti untuk merangsang
pembentukan zat anti yang dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (misalnya
vaksin BCG, DPT dan campak) dan melalui mulut (misalnya vaksin polio). (Hidayat,
2008, p54)
 Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi
dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah, berupa toksin
mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein rekombinan yang apabila
diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap
penyakit infeksi tertentu.

2. JENIS-JENIS VAKSIN DAN IMUNISASI


Buku ajar imunisasi
3. JADWA PEMBERIAN IMUNISASI (UMUM)
A. Imunisasi pada bayi

Jenis imunisasi Usia pemberian Jumlah pemberian Interval


Hepatitis 0–7 hari 1 -
BCG 1 bulan 1 -
Polio / IPV 1, 2, 3,4 bulan 4 4 minggu
DPT-HB-Hib 2, 3, 4 bulan 3 4 minggu
Campak 9 bulan 1 -

B. Imunisasi pada balita

Jenis imunisasi Usia pemberian Jumlah pemberian


DPT-HB-Hib 18 bulan 1
Campak 24 bulan 1

4. MANFAAT VAKSIN DAN IMUNISASI


Buku ajar imunisasi
5. EFEK SAMPING VAKSIN DAN IMUNISASI
Buku ajar imunisasi
6. IRK
 Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, badanmu memiliki hak atas dirimu." (HR.
Muslim).Di antara hak badan adalah memberikan makanan pada saat lapar, memenuhi
minuman pada saat haus, memberikan istirahat pada saat lelah, membersihkan pada saat
kotor dan mengobati pada saat sakit.
 Hal tersebut juga hampir sama dengan fatwa  dari Syaikh Abdul Azizbin
Baz rahimahullah (Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi ketua Lajnah Daimah dan Mantan
Rektor Universitas Islam Madinah)  Ketika beliau ditanya ditanya tentang hal ini,
“Apakah hukum berobat dengan imunisasi sebelum tertimpa musibah?”
 
Beliau menjawab, “La ba’sa (tidak masalah) berobat dengan cara seperti itu jika
dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya. Dan
tidak masalah menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang
dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam
hadits shahih (yang artinya),“Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada
pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”

 Berikut kami kutipkan fatwa yang diterbitkan oleh lembaga fatwa Syabakah Islamiyah
di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih
- Jika dipastikan obat itu mengandung sesuatu yang najis, maka hukum asalnya tidak
boleh digunakan untuk vaksinasi, selama najis itu tidak
mengalami istihalah (perubahan unsur) secara sempurna, dimana sudah tidak lagi
tersisa unsur najisnya (karena sudah berubah menjadi unsur yang lain). Para ulama
telah menegaskan bahwa benda najis bisa menjadi suci karena mengalami istihalah
(perubahan unsur).
- Apabila tidak mengalami istihalah secara sempurna, jika dijumpai ada pengganti
yang mubah, maka tidak boleh menggunakan vaksin yang najis ini.
- Jika orang yang tidak diberi imunisasi berpeluang besar terkena wabah penyakit,
sementara wabah penyakit yang dikhawatirkan terjadi adalah wabah yang
membahayakan, dimana dikhawatirkan menimbulkan kematian atau cacat
permanen, yang lebih tepat, pada keadaan ini mendekati kondisi darurat yang mulji’
(tidak ada pilihan lain).
- Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS.al-An’am:119)