Anda di halaman 1dari 46

Clinical Science Session

PEMERIKSAAN RADIOLOGI PADA SKOLIOSIS

Oleh:
Dhesty Mira Erviza 1840312636
Lissyantika Hidayatullah 1840312239
Syauqi Faidhun Niam 1840312236
Yudia Septi Yenny 1840312228

Preseptor:
dr.Sylvia Rachman, Sp. Rad (K)

BAGIAN ILMU RADIOLOGI


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2020

1
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikan referat yang berjudul “Skoliosis”.
Terima kasih kami ucapkan kepada dr. Sylvia Rachman, Sp. Rad (K) sebagai preseptor referat
ini serta kepada semua pihak yang telah mendukung dalam penulisan referat ini. Kami
menyadari bahwa dalam penulisan referat ini masih terdapat kekurangan, oleh sebab itu saran dan
kritik yang membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya referat ini.
Akhirnya kami berharap semoga referat ini dapat bermanfaat dalam memberikan tambahan
pengetahuan dan pengembangan wawasan kita semua.

Padang, Januari 2020

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Skoliosis adalah deviasi tulang belakang lebih dari 100 dari garis tengah pada bidang frontal.

Skoliosis umumnya disertai rotasi vertebrae dengan rotasi maksimal pada apeks kelengkungan.(1)

Pada populasi umum terdapat 4,5% pasien skoliosis. Prevalensi skoliosis pada masa kanak-kanak

dan remaja antara 0,5 sampai 3%. Skoliosis idiopatik pada remaja usia 10-16 tahun adalah 2-4%.

Prevalensi skoliosis dengan kelengkungan > 300 dilaporkan antara 0,04 sampai 0,29 %. Skoliosis

kanak-kanak pada kelompok infantil dilaporkan 0,5 %, kelompok juvenil dilaporkan 10,5% dan 89%

pada kelompok remaja.(1, 2)

Skoliosis dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, lokasi kelengkungan, usia, dan tipe

kelengkungan. Berdasarkan etiologi skoliosis dibagi menjadi skoliosis kongenital, neuromuskular,

degeneratif, trauma, idiopatik.(1)

Skoliosis mempunyai dampak yang cukup begitu besar bagi penderitanya. Keluhan utama

adalah nyeri. Pada skoliosis berat dapat menyebabkan masalah kardiopulmonal. Dampak emosional

dan keterbatasan aktivitas sosial juga menjadi masalah yang penting. Terdapat 49% pasien pasca

operasi skoliosis mengalami keterbatasan aktifitas sosial. Dari seluruh kasus bedah tulang belakang,

1/3 nya adalah skoliosis. Di Amerika Serikat, setiap tahunnya terpasang 20.000 batang Herrington

pada pasien-pasien skoliosis dan menghabiskan 120.000 per operasi.(2)

Radiologi memegang peranan yang sangat penting. Peranan radiologi pada skoliosis untuk

mendeteksi, menentukan karakteristik tipe kelengkungan dan derajat beratnya, mengidentifikasi

penyebab, mengikuti progresifitas, dan memonitor hasil terapi.1 Kebanyakan kasus-kasus skoliosis

adalah idiopatik dan imaging digunakan secara rutin untuk memonitor perubahan deformitas selama

pertumbuhan.

Skoliosis biasanya ditangani oleh spesialis bedah orthopedi yang telah mendapatkan

3
pelatihan khusus. Namun pasien-pasien skoliosis dapat juga datang ke dokter umum, dokter spesialis

anak, dokter spesialis neurologi, atau dokter spesialis bedah saraf. Para klinisi tersebut banyak yang

menganggap dokter spesialis radiologi sebagai ahli tulang belakang sehingga diharapkan mengetahui

dasar-dasar skoliosis, dapat mengerjakan pemeriksaan radiologi, dapat membaca foto dengan benar,

dan dapat membuat interpretasi yang koheren untuk membantu klinisi.(1)

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari referat ini membahas tentang pemeriksaan dan gambaran
radiografi pada skoliosis.
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan referat ini bertujuan untuk mengetahui pemeriksaan dan gambaran radiografi
pada skoliosis.
1.4 Manfaat referat
Adapun manfaat dari penulisan referat ini adalah :
1. Bagi tenaga kesehatan
Referat ini bermanfaat sebagai sumber informasi dalam pemeriksaan dan gambaran
radiografi pada skoliosis.
2. Bagi masyarakat
Referat ini dapat menjadi bahan referensi mengenai skoliosis
3. Bagi Penulis
Referat ini dibuat sebagai salah satu tugas dalam kepaniteraan Klinik di Departemen
Radiologi RSUP M. Djamil .

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Tulang belakang atau kolumna vertebra berlokasi di bagian sentral atau posterior dari
tubuh. Merupakan bagian yang penting dari tubuh dan memiliki banyak fungsi. Tulang
belakang sangat diperlukan sebagai pembentuk struktur tubuh, flexibilitas, menyokong dan
pergerakan dari tubuh. Pergerakan dengan melekat pada otot di bagian belakang, yang
berada di bagian posterior tulang iga.1Tulang belakang juga berfungsi untuk menutupi dan
melindungi sum-sum tulang.1
Skoliosis berasal dari kata Yunani yang berarti lengkungan, mengandung arti kondisi
patologi. Merupakan deformitas tulang belakang yang menggambarkan deviasi vertebra ke
arah lateral dan rotasional. Skoliosis didefinisikan sebagai kelengkungan tulang belakang ke
arah lateral yang memiliki sudut Cobb lebih dari 10o.2Kelengkungan yang abnormal tersebut
bisa terjadi karena kelainan kongenital, kelainan pembentukan tulang atau kelainan
neurologis, tapi pada sebagian kasus bersifat idiopatik.3
2.2 Anatomi dan Struktur Tulang Belakang

Susunan anatomi atau struktur tulang belakang terdiri dari :4

a. Tujuh vertebra servikal atau ruas tulang bagian leher yang membentuk daerah
tengkuk.

b. Dua belas vertebra torakalis atau ruas tulang punggung yang membentuk bagian
belakang torax atau dada.

c. Lima vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang yang membentuk daerah lumbal
atau pinggang.

d. Lima vertebra sakralis atau ruas tulang kelangkang yang membentuk sakrum atau
tulang kelangkang.

e. Empat vertebra kosigeus atau ruas tulang tungging atau ekor yang membentuk tulang
ekor.

5
Gambar 2.1. Struktur tulang belakang4

Lengkung ruas tulang bagian leher melengkung ke depan, lengkung ruas tulang dada
ke arah belakang, daerah pinggang melengkung ke depan dan pelvis atau kelangkang
lengkungannya kearah belakang.4

Gambar 2.2 Lengkung ruas tulang belakang4

6
Vertebra servikalis atau ruas tulang leher adalah yang paling kecil dibandingkan
dengan ruas tulang lainnya, ciri dari ruas tulang punggung adalah semakin ke bawah semakin
membesar dilihat dari segi ukurannya yang memuat persendian untuk tulang iga. Ruas tulang
pinggang adalah yang terbesar dibandingkan dengan badan vertebra lainnya. Sakrum atau
tulang kelangkang terletak di bagian bawah tulang belakang dengan bentuk segitiga, dan ruas
tulang ekor terdiri dari 4 atau 5 vertebra yang bergabung menjadi satu dan letaknya berada di
bagian paling bawah dari tulang belakang atau spine. Ruas-ruas tulang belakang diikat oleh
serabut yang dinamakan dengan ligament.4

Tulang belakang dapat patah akibat dari pukulan keras atau rusak karena faktor
kecelakaan atau faktor usia, selain itu tulang belakang juga dapat mengalami kelainan seperti
lengkungan tulang dada yang berlebihan mengakibatkan bongkok atau kifosis, lengkung
lumbal atau pinggang yang belebihan mengakibatkan lordosis, dan bengkoknya ruas tulang
punggung dan pinggang yang mengarah ke arah samping kiri atau kanan yang disebut dengan
Scoliosis.4

2.3 Epidemiologi

Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang sering terjadi. Angka kejadiannya
tergantung pada sudut kelengkungan yang terbentuk. Menurut Kane diperkirakan bahwa
skoliosis ≥ 10o terjadi pada 25 per 1.000 penduduk. Penyebab yang paling sering ditemukan
masih idiopatik. Dan skoliosis yang terjadi pada anak-anak lebih berat dibandingkan dengan
dewasa. Hal ini terjadi dikarenakan progresifitas pertumbuhan kelengkungan tulang belakang
pada anak-anak terjadi lebih cepat. Selain itu, insiden skoliosis juga meningkat pada orang-
orang yang memiliki kelainan neuromuskuler atau faktor predisposisi lainnya.3
Berdasarkan pada The National Scoliosis Foundation, di Amerika Serikat didapatkan
skoliosis pada 6.000 orang. Dan 2% hingga 4% adalah idiopatik skoliosis pada dewasa.
Idiopatik skoliosis pada dewasa atau Adolescent Idiopathic scoliosis (AIS) terhitung pada
80% dari kasus idiopatik skolisosis dan sering terjadi berumur antara 10 hingga16 tahun.
Terbanyak pasien idiopatik skoliosis pada dewasa adalah wanita, tapi insidensi bervariasi,
tergantung pada derajat kelengkungan dan tipe dari skoliosis. Ciri khas pada pasien skoliosis
adalah berpostur tubuh yang tinggi. Wanita dewasa yang skoliosis saat remaja dengan
kelengkungan thoraks ke arah kanan. AIS meliputi antara pria dan wanita, tapi tidak dengan
rasio yang sama. Kelengkungan tulang belakang sering terdapat pada daerah thorak atau
thorakolumbal dan pada banyak kasus seringnya melengkung ke arah kanan. Perbedaan

7
insiden antara pria dan wanita berhubungan dengan derajat kelengkungan. Bagaimanapun,
pada pasien dengan kelengkungan tulang belakang 25o atau lebih, sering terjadi pada wanita.1
Infantile idiopathic scoliosis atau idiopatik skoliosis pada bayi sering ditemukan pada
umur 6 bulan dan banyak terjadi pada laki-laki dan keturunan Eropa. Kelengkungannya
sering terjadi pada tulang belakang segmen thoraks dan melengkung ke arah kiri. Pada
banyak kasus, kelengkungan tersebut dapat diobati pada saat umur 3 tahun. Jumlah skoliosis
pada bayi berjumlah hanya 0,5% dari seluruh skoliosis yang idiopatik pada Amerika Serikat
dan 4% hingga 5% pada negara Eropa.1
Juvenile idiopathic soliosis atau Skoliosis pada anak-anak hampir sama dengan
dewasa. Perempuan lebih banyak terkena pada tipe ini. Kelengkungan skoliosis pada anak-
anak seringnya ke arah kanan. Karena tingginya rasio progresi kelengkungan dan perlunya
operasi maka skoliosis pada tipe ini disebut dengan malignansi subtipe dari adolescent
idiopatik skoliosis.1
2.4 Etiologi dan Klasifikasi

2.4..1 Etiologi4

1. Kelainan fisik

Ketidak seimbangan pertumbuhan tulang dan otot yang yang mengakibatkan


kecendrungan untuk terjadinya suatu Scoliosis. Ketidak seimbangan otot sekitar tulang
belakang yang mengakibatkan distrosi spinal atau perbedaan otot pada saat pertumbuhan.
Selain itu dapat disebabkan pula oleh gangguan pada tulang kaki, pinggul atau tulang
belakang. Tapi, beberapa orang yang bahunya miring belum tentu karena Scoliosis,
melainkan sekadar kebiasaan saja.

2. Gangguan pada kelenjar Endokrin

Ketidakseimbangan pada hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, seperti


pituitary dan adrenal sebagai pendorong pertumbuhan otot dan tulang.

3. Faktor Keturunan

Kelainan Scoliosis dapat ditimbulkan oleh gen, artinya bahwa seorang anak dari
penderita Scoliosis memiliki kemungkinan mengidap Scoliosis.

8
4. Masalah pada Saraf
Masalah pada saraf juga dapat menyebabkan timbulnya Scoliosis. Misalnya, karena
pembentukan urat saraf tulang belakang yang tidak normal dan terdapat benjolan di
sepanjang perjalanan saraf.

5. Faktor Bawaan

Bentuk tulang belakang yang tidak normal atau bisa juga merupakan bentuk yang
didapat, misalnya karena patah atau bergesernya tulang belakang.

6. Kebiasaan atau sikap tubuh yang buruk

Kesalahan dalam posisi duduk atau pun dalam posisi tidur secara terus menerus akan
menyebabkan deformasi pada tulang belakang, terutama pada periode pertumbuhan. Faktor
ini pula yang dapat menyebabkan bertambahnya ukuran kurva pada penderita Scoliosis.
Seseorang yang berjalan miring demi mencegah rasa sakit sebagai akibat kelumpuhan atau
luka karena kecelakaan, juga dapat menyebabkan Scoliosis. Faktor kebiasaan atau kesalahan
dalam suatu posisi, seperti posisi duduk maupun posisi tidur adalah faktor pembentukan
Scoliosis pada seorang anak, karena kebiasaan seperti itu seringkali tidak disadari.

2.4.2 Klasifikasi5

1. Nonstruktural

Adalah skoliosis yang bersifat reversibel (dapat dikembalikan ke bentuk semula), dan
tanpa perputaran (rotasi) dari tulang punggung. Terdiri dari :

a. Skoliosis postural : Disebabkan oleh kebiasaan postur tubuh yang buruk

b. Spasme otot dan rasa nyeri, yang dapat berupa :

 Nyeri pada spinal nerve roots : skoliosis skiatik

 Nyeri pada tulang punggung : dapat disebabkan oleh inflamasi atau


keganasan

 Nyeri pada abdomen : dapat disebabkan oleh apendisitis

c. Perbedaan panjang antara tungkai bawah

 Actual shortening

9
 Apparent shortening :
1. Kontraktur adduksi pada sisi tungkai yang lebih pendek

2. Kontraktur abduksi pada sisi tungkai yang lebih panjang

2. Sruktural

Adalah skoliosis yang bersifat irreversibel dan dengan rotasi dari tulang punggung

a. Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) : 80% dari seluruh skoliosis

 Bayi : dari lahir – 3 tahun

 Anak-anak : 4 – 9 tahun

 Remaja : 10 – 19 tahun (akhir masa pertumbuhan)

 (iV) Dewasa : > 19 tahun

b. Osteopatik

 Kongenital (didapat sejak lahir)

1. Terlokalisasi :

a. Kegagalan pembentukan tulang punggung (hemivertebrae)

b. Kegagalan segmentasi tulang punggung (unilateral bony bar)

2. General :

a. Osteogenesis imperfecta

b. Arachnodactily

 Didapat

1. Fraktur dislokasi dari tulang punggung, trauma

2. Rickets dan osteomalasia

3. Emfisema, thoracoplasty

10
c. Neuropatik
1. Kongenital

 Spina bifida

 Neurofibromatosis

2. Didapat

 Poliomielitis

 Paraplegia

 Cerebral palsy

 Friedreich’s ataxia

 Syringomielia

Tabel 2.1. Etiologi dan klasifikasi skoliosis2

2.5 Patofisiologi6

Kelainan bentuk tulang punggungyang disebut skoliosis ini berawal dari adanya
syaraf-syaraf yang lemah atau bahkan lumpuh yang menarik ruas-ruas tulang belakang.

11
Tarikan ini berfungsi untuk menjaga ruas tulang belakang berada pada garis yang normal.
Yang bentuknya seperti penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal diantaranya kebiasaan
duduk yang miring membuat syaraf yang bekerja menjadi lemah. Bila ini terus berulang
menjadi kebiasaan maka syaraf itu bahkan mati. Ini berakibat pada ketidakseimbangan
tarikan pad aruas tulang belakang. Oleh karena itu, tulang belakang yang menderita skoliosis
itu bengkok atau seperti huruf S atau huruf C.

2.6 Manifestasi Klinis7

Ketidaklurusan tulang belakang ini akhirnya akan menyebabkan nyeri persendian di


daerah tulang belakang pada usia dewasa dan kelainan bentuk dada, hal tersebut
mengakibatkan :

a. Penurunan kapasitas paru, pernafasan yang tertekan, penurunan level oksigen akibat
penekanan rongga tulang rusuk pada sisi yang cekung.

b. Pada skoliosis dengan kurva kelateral atau arah lengkungan ke kiri, jantung akan
bergeser kearah bawah dan ini akan dapat mengakibatkan obstruksi intrapulmonal

atau menimbulkan pembesaran jantung kanan, sehingga fungsi jantung akan


terganggu.

Di bawah ini adalah efek skoliosis terhadap paru dan jantung meliputi :

 Efek Mild skoliosis (kurang dari 20o tidak begitu serius, tidak memerlukan
tindakan dan hanya dilakukan monitoring)

 Efek Moderate skoliosis (antara 25 – 40o ), tidaklah begitu jelas , namun suatu
study terlihat tidak ada gangguan, namun baru ada keluhan kalau dilakukan
exercise.

 Efek Severe skoliosis (> 400 ) dapat menimbulkan penekanan pada paru,
pernafasan yang tertekan, dan penurunan level oksigen, dimana kapasitas paru
dapat berkurang sampai 80%. Pada keadaan ini juga dapat terjadi gangguan
terhadap fungsi jantung.

 Efek Very Severe skoliosis (Over 1000 ). Pada keadaan ini dapat terjadi
trauma pada pada paru dan jantung, osteopenia and osteoporosis .

2.7 Diagnosis

12
2.7.1 Diagnosis Skoliosis
a. Anamnesis

Pada Skoliosis dengan kelengkungan kurang dari 200, tidak akan menimbulkan
masalah. Namun, keluhan yang muncul adalah rasa pegal. Sedangkan pada kelengkungan 20
– 40 derajat, penderita akan mengalami penurunan daya tahan dalam posisi duduk atau
berdiri berlama-lama. Bila lengkungan ke samping terlalu parah, yaitu ukuran kurva di atas
400 akan menyebabkan kelainan bentuk tulang belakang yang cukup berat, keluhan akan
semakin berat seiring dengan berjalannya pertumbuhan tulang.7

b. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik didapatkan pada posisi berdiri atau membungkukkan badan ke
arah depan atau belakang, kemiringan atau asimeteris dari bahu dan pelvis, tidak sama
panjang antara ukuran kaki kiri dengan kaki kanan.8
Tabel 2.2 Pemeriksaan fisik pada skoliosis2

Terdapat ciri- ciri penting yaitu :9

1. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping.


2. Bahu kanan dan bahu kiri tidak simetris. Bahu kanan lebih tinggi daripada
bahu kiri.

3. Pinggang yang tidak simetris, salah satu pinggul lebih tinggi atau lebih
menonjol daripada yang lain.

4. Ketika membungkuk ke depan, terlihat dadanya tidak simetris.

5. Badan miring ke salah satu sisi, paha kirinya lebih tinggi daripada paha kanan.

13
6. Ketika memakai baju, perhatikan lipatan baju yang tak rata ,batas celana yang
tak sama panjang.

7. Untuk Skoliosis yg Idiopatik kemungkinan terdapat kelainan yang


mendasarinya, misalnya neurofibromatosis yang harus diperhatikan adalah
bercak “café au lait” atau Spina Bifida yang harus memperhatikan tanda hairy
patches (sekelompok rambut yg tumbuh di daerah pinggang).

8. Pasien berjalan dengan kedua kaki lebar.

9. Perut menonjol.

Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan
pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan
lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri. Selain
itu pada inspeksi dapat dilihat bila penderita disuruh membungkuk maka akan terlihat
perbedaan secara nyata ketinggian walaupun dalam keadaan tegap bisa dalam keadaan
normal.9

Salah satu pemeriksaan fisik adalah dengan cara “The Adam’s Forward Bending
test”. Pemeriksaan dilakukan dengan melihat pasien dari belakang yaitu dengan
menyuruhnya membungkuk 90° ke depan dengan lengan menjuntai ke bawah dan telapak
tangan berada pada lutut.. Temuan abnormal berupa asimetri ketinggian iga atau otot-otot
paravertebra pada satu sisi. Deformitas tulang iga dan asimetri garis pinggang tampak jelas
pada kelengkungan 30° atau lebih.9

Jika pasien dilihat dari depan asimetri payudara dan dinding dada mungkin terlihat.
Tes ini sangat sederhana, hanya dapat mendeteksi kebengkokannya saja tetapi tidak dapat
menentukan secara tepat kelainan bentuk tulang belakang. Pemeriksaan neurologis (saraf)
dilakukan untuk menilai kekuatan, sensasi atau reflex.9

14
Gambar 2.3. Posisi Bending untuk skrining skoliosis9

Secara umum tanda-tanda skoliosis yang bisa diperhatikan pada penderitanya yaitu:4

- Tulang bahu yang berbeda, dimana salah satu bahu akan kelihatan lebih tinggi
dari bahu yang satunya (Elevated Shoulder)

- Tulang belikat yang menonjol, sebagai akibat dari terdorongnya otot oleh kurva
primer Scoliosis (Prominent Scapula)

- Lengkungan tulang belakang yang nyata, yang dapat terlihat secara jelas dari
arah samping penderita (Spinal Curve)

- Tulang panggul yang terlihat miring, sebagai penyesuaian dari kuva Scoliosis
(Uneven Waist)

- Perbedaan ruang antara lengan dan tubuh (Asymmetrical Arm to Flank


Distances)

15
Gambar 2.4. Tanda-tanda umum skoliosis4

2.8 Pemeriksaan radiologi

2.8.1. RADIOGRAFI KONVENSIONAL


a. Indikasi untuk Radiografi
Radiografi dilakukan untuk mengkonfirmasi penegakkan diagnosis skoliosis yang dilakukan
berdasar temuan klinis. Hal ini terutama penting untuk membedakannnya dari kelainan segmen
tulang, untuk menilai keparahan kelengkungan, memonitor perkembangan kelengkungan, untuk
mengevaluasi anomali kardia dan pulmo, dan untuk menilai perkembangan dan mengevaluasi
komplikasi selama dan sesudah operasi.1
Indikasi radiografi untuk vertebra untuk scoliosis meliputi hal berikut, tetapi tidak terbatas
hanya itu, sebagai berikut : 1
1. perubahan keselarasan tulang belakang yang normal pada pemeriksaan fisik
2. perubahan keselarasan tulang belakang normal yang terdeteksi pada pencitraan
3. evaluasi perkembangan progresifitas kelengkungan
4. Follow up kelanjutan tatalaksana (orthotic atau surgical)
5. Evaluasi individu dengan riwayat scoliosis pada pada anggota keluarga
6. Evaluasi individu yang berisiko untuk scoliosis ( misalnya cerebral palsy, distrofi otot, dan
mendapat terapi radiasi.

b. Gambaran Radiologis

Analisis yang dapat dilakukan pada pencitraan dengan scoliosis : 2,3,4

1) Umum

16
a. Abnormalitas vertebra seperti fraktur, scalloping dan anomali kongenital (seperti
hemivertebta, anomali segmentasi).
b. Abnormalitas kelainan osseous lainnya.
c. Evaluasi struktur ekstraosseus juga dapat dinilai pada pemeriksaan (seperti abdomen dan
thoraks)
d. Catatan bahwa adanya brace atau orthosis lainnya harus dicantumkan apabila diketahui
oleh ahli radiologi.
e. Pelaporan juga harus menyertakan posisi pasien saat dilakukan pencitraan seperti berdiri,
duduk, atau supine.

2) Analisis kelengkungan meliputi

a. Keberadaan dan jumlah kelengkungan yang terlibat. Apabila terdapat lebih dari satu
kelenhkungan, dapat disebutkan dengan kelengkungan mayor dan minor berdasarkan
pengukuran metode Cobb’s Angle. Hindari penulisan “kelengkungan primer” dan
“kelengkungan sekunder” karena hal tersebut menggambarkan kronologi perkembangan
dari skoliosis.
b. Pola kelengkungan (servikal, thorakal, lumbal, servikothorakal atau thorakolumbal)
c. Lokasi apeks vertebra
d. Panjang kelengkungan
e. Pengukuran kelengkungan. Ujung kelengkungan harus diidentifikasi dan basis dari
Cobb’s Angle. Hal ini sesuai dengan ujung lempeng vertebra di apeks superior (cephalad)
dan apex inferior (caudal). Apabila ujung lempeng tidak dapat divisualisasikan maka
pedikel dapat digunakan sebagai penandanya.
f. Rotasi vertebra. Setelah identifikasi dari apeks, maka derajat rotasi aksial dapay di
estimasikan menggunakan beberapa teknik yang telah ditentukan, meliputi metode
teknik Nash and Moe dan Perdriolle.
g. Evaluasi lordosis dan kifosis. Ujung vertebra diidentifikasi dengan teknkk Cobb,
menggunakan penampang lateral. Apabila ujung vertebra teratas tidak tervisualisasikan
dengan baik, dapat digunakan lempeng superior dari vertebra T3 atau T4.
h. Garis tengah vertikal sakral (Central sacral vertical line; CSVL) dan garis lurus dari
corpus vertebra C7 dapat digunakan untuk menentukan keseimbangan sagittal (sagittal
balance) dan koronal (coronal balance) pada skoliosis.

3) Menentukan umur skeletal. Dapat dihitung dengan klasifikasi Risser, Greulich dan Pyle
17
atlas, skala Sanders, atau teknik pengukuran maturasi skeletal lainnya.
4) Radiografi lateral dari vertebra, meskipun tidak dilakukan secara rutin, beberapa institusi
ada yang menggunakan. Hal ini dapat membantu dalam evaluasi anomali yang tidak
terduga lainnya seperti kifosis atau spondilolistesis.

c. Sistem Klasifikasi Radiografik

Banyak sistem klasifikasi digunakan untuk menggambarkan tipe-tipe kelengkungan skolisis.


Klasifikasi ini membantu ahli bedah dalam menentukan tatalaksana yang tepat karena prognosis dan
tatalaksana berbeda dari perbedaan kelengkungannya.5
1) Klasifikasi Ponseti-Friedman
Klasifikasi yang paling umum digunakan berdasarkan deformitas vertebra pada penampang
frontal. Klasifikasi Ponseti-Friedman membedakan 5 jenis utama skoliosis berdasarkan
topografi yang terdiri dari :
 Tipe cervical dengan apex di diskus C6-C7
 Tipe cervicothoracic dengan apex dari C7 hingga T1
 Tipe Thoracic dengan apex di diskus T1-T2 hingga diskus T11-T12. Tipe ini terjadi pada
22% kasus.
 Tipe Thoracolumbal dengan apex di T12 hingga L1. Kombinasi torakal dan lumbal ini
adalah tipe yang paling sering terjadi (37%).
 Tipe Lumbar dengan apex di diskus L1-L2. Tipe ini adalah tipe benigna yang paling
banyak 23% dari seluruh pasien.

2) Klasifikasi King-Moe

Klasifikasi King-Moe memiliki 4 tipe:


 I, dominan pada lumbal dan berbentuk S (10%);
 II, dominan pada torakal dan berbentuk S (33%);
 III, lengkung torakal dimana torakal dan lumbal tidak melewati garis tengah. (33%)
 IV, torakal yang panjang atau double torakal dengan T1 miring ke arah kelengkungan
atas (10%).6

d. Nomenklatur7
Apeks adalah vertebra atau diskus dengan rotasi terbesar atau deviasi terjauh dari pusat
kolumna vertebra. End Vertebra adalah vertebra atau diskus dengan kemiringan maksimal ke arah
18
apeks, sehingga inilah yang digunakan untuk mengukur Cobb’s Angle. Vertebra netral adalah
vertebra atau diskus yang tidak menunjukkan rotasi pada posisi berdiri frontal (baik posteroanterior
atau anteroposterior), dimana pedikel berada dalam posisi simetris yang normal. Vertebra yang
stabil adalah vertebra yang lebih cephalad dan vertebra terjauh yang terbelah dua atau hampir
terbelah dua oleh garis vertikal sakral sentral (Central Sacral Vertical Line) (Gambar 4.1.). CSVL
adalah garis vertikal yang ditarik tegak lurus terhadap garis tangensial imajiner yang digambar di
bagian atas puncak iliaka pada radiografi. Ini membagi dua sakrum.7

Gambar 2.5. Diagram di atas adalah radiografi


posisi AP dari pasien dengan scoliosis yang
menunjukkan komponen kelengkungan
abnormal. Panah E menunjukkan end vertebra.
Apeks (A) adalah diskus atau vertebra yang
deviasi terjauh dari kolumna vertebra yang
berada di tengah. Vertebra netral (N) adalah
adalah vertebra atau diskus yang tidak
menunjukkan rotasi pada posisi berdiri frontal.
Vertebra stabil (S) adalah vertebra yang
terbelah atau hampir terbelah oleh CSVL yang
tegak lurus terhadap garis tangensial (garis
singgung) yang ditarik melalui krista iliaka.7

e. Teknik pengukuran

1) Teknik Cobb

Cobb’s Angle dari kurva skoliosis adalah sudut yang dibentuk dari perpotongan dua garis
yang sejajar dengan ujung vertebra superior dan paralel lainnya ke pelat ujung vertebra ujung
inferior (Gambar 4.2. dan 4.3.). Sudut dapat diplot secara manual ataupun digital. 7,8. Cobb’s Angle
minimal 10° menunjukkan adanya scoliosis.9 Ini adalah teknik yang paling banyak digunakan untuk
mengukur severitas skoliosis. Hasilnya digunakan untuk menentukan tatalaksana lebih jauh dan
membantu memprediksi prognosis. Cobb’s Angle juga dapat memonitor kemajuan koreksi dari

19
kelengkungan selama penggunaan bracing atau observasi perbaikan. Peranannya disini adalah jika
kita telah memilih vertebra tersebut, maka kita harus menggunakan vertebra yang sama dalam proses
follow up selanjutnya, agar hasil yang didapatkan lebih tepat dan pasti dalm menilai kemajuan atau
perbaikan yang ada.8

Gambar 2.6. Pengukuran dengan metode Cobb.9

Gambar 2.7. (a) Diagram diatas menunjukkan teknik pengukuran Cobb’s Angle. Pertama, garis singgung
(garis putus-putus) sepanjang lempeng superior dari end vertebra superior dan lempeng inferior dari end
vertebra inferior. Apabila lempeng terakhir tidak dapat divisualisasikan, batas pedikel digunakan sebagai
gantinya. Cobb’s Angle didefinisikan sebagai sudut antara garis singgung (sudut a) atau sudut antara dua garis
yang ditarik tegak lurus (solid line) ke garis singgung (sudut b). bila pengukuran dilakukan dengan benar,
maka kedua sudutnya identik. (b)Tangkapan layar dari pengarsipan gambar menunjukkan penggunaan
perangkat lunak untuk menghitung Cobb’s Angle dari dua garis singgung pada gambar radiografi spinal.7

20
Pengukuran Cobb’s Angle memiliki keterbatasan apabila dilakukan dengan menggunakan
gambar radiografi dua dimensi.7 Meskipun teknik Cobb hanya memberikan penilaian terbatas
terhadap kelainan bentuk, tetapi teknik ini adalah standar yang telah diterima untuk mengukur
skoliosis pada radiografi.Keterbatasan dari pengukuran Cobb-Webb Angle adalah sebagai berikut:10
 Pengukurannya hanya pada satu bidang
 Bervariasi pembacaannya pada tiap pengamat
 Variasi diurnal, dengan sudut 5° atau lebih pada siang hari lebih banyak daripada di pagi
 hari.
 Bervariasi pada posisi supine dan terlentang, rotasi, bentuk tubuh, dan teknik radiografik
 Pertumbuhan spinal mempengaruhi 1° tiap bulan selama periode pertumbuhan rapid
growth.
 Sudut kelengkungan ditentukan hanya dengan orientasi dari vertebra terakhir.
 Nilai yang didapatkan lebih besar dari yang didapatkan dengan teknik pengukuran lain.
2) Teknik Risser-Ferguson
Teknik lain yang digunakan dalam pengukuran skoliosis adalah teknik risser-ferguson. Satu
garis ditarik dari tengah vertebra apeks ke arah tengah ujung lengkung superior dan garis lainnya
ditarik dari tengah vertebra apeks ke arah ujung lengkung yang inferior.11 Sudut di antara garis-garis
ini digunakan untuk menilai keparahan deformitas.12

Gambar 2.8. Diagram garis menunjukkan teknik Risser-Ferguson.13

21
(a) (b)

Gambar 2.9. (a) Radiografi menunjukkan pengukuran dengan menggunakan teknik Ferguson. (b) Proyeksi
dengan posisi PA berdiri memperlihatkan 2 kelengkungan tulang belakang: kelengkungan lumbal primer 42o
dan lanjutan dari kelengkungan 16o berlokasi pada superior kelengkungan primer.12

Metode Ferguson merupakan metode lain dalam pencitraan yang bisa digunakan dalam
menentukan kelengkungan yang merupakan kelengkungan primer vertebra ataupun lanjutan dari
kelengkungan tersebut. Pasien harus bisa berdiri atau tidak bisa duduk. Posisi dapat ditentukan
melalui posisi yang pertama posisi PA berdiri tegap sehingga dapat terlihat seluruh tulang belakang
pada hasil foto (atau paling kurang regio thorak dan lumbal) dan pasien yang diberi bantuan untuk
posisi tersebut.
Keuntungan pada metode Ferguson adalah bisa mendeteksi adanya kelengkungan sekunder
pada pasien yang tidak bisa berdiri tegap tapi bisa duduk tegap. Pada pasien yang duduk, diberikan
bantalan 3 hingga 4 inchi yang diletakkan pada bokong pasien yang menghadap ke arah sisi
lengkung dari kelengkungan tulang belakang pasien. Ini akan cukup untuk mengelevasikan dan
dapat menunjukkan koreksi kelengkungan dengan posisi PA tersebut.12

3) Metode Greenspan
Teknik terbaru untuk mengukur derajat skoliosis diperkenalkan oleh Adam Greenspan
Andis pada tahun 1978 dimana lebih akurat dalam mengukur deviasi setiap vertebra. Teknik ini
disebut “scolioti index” mengukur setiap deviasi vertebra dari garis spinal, yang ditentukan melalui
titik pada pusat vertebre, diatas vertebre yang diatasnya,atau dipusat dari vertebre yang dibawahnya.

22
. Teknik ini
Vrtovec T, Pernus F, Likar B. A review of methods for quantitative evaluation of spinal curvature. Eur Spine J (2009) 18:593–607.

mendukung untuk pengukuran kelengkungan skoliotik yang lebih komprehensif daripada metode
lain. Titik tengah dari apeks vertebra dari ujung atas dan titik tengah dari apeks vertebra dari ujung
bawah dihubungkan untuk membuat garis spinal vertikal. Garis-garis ditarik dari tengah setiap
vertebra di lengkung skoliotik ke garis spinal vertikal ini. Nilai yang didapatkan dari masing-masing
garis ini dijumlahkan dan kemudian dibagi oleh panjang garis spinal vertikal. Faktor koreksi
kemudian ditambahkan untuk pembesaran.4, 6

Gambar 4.6. Indeks skoliotik menurut Greenspan. 6

23
Gambar 2.10. Radiografi menunjukkan pengukuran index Greenspan.8

Normal nilainya adalah nol. Metode ini lebih baik daipada teknik Cobb karena bisa
mengukur deviasi dari tiap level vertebra. Teknik ini juga bisa dilakukan pada pengukuran segmen-
pendek atau kelengkungan yang kecil.8

f. Keselarasan dan Keseimbangan Vertebral


CSVL yang digambarkan pada radiografi berfungsi sebagai referensi untuk mengidentifikasi
vertebra stabil, mengevaluasi keseimbangan secara koronal, dan tipe kelengkungan.14 Garis tegak
lurus (plumb line) adalah garis vertikal yang ditarik ke bawah dari pusat tubuh pada vertebra C7,
sejajar dengan tepi lateral radiografik. Ini digunakan untuk mengevaluasi keseimbangan dari
potongan koronal dan sagital. Keseimbangan koronal dievaluasi dengan mengukur jarak antara
CSVL dan garis tegak lurus, dan keseimbangan sagital (lateral) dievaluasi dengan mengukur jarak
antara aspek posterosuperior dari corpus vertebra S1 dan garis tegak lurus. Untuk kedua pengukuran
secara koronal dan sagital, keseimbangan dianggap abnormal jika jaraknya lebih dari 2 cm (Gambar
4.8.).7

Pengukuran keseimbangan koronal, garis tegak lurus yang berada di kanan CSVL dianggap
mencerminkan keseimbangan koronal yang positif, sedangkan garis tegak lurus yang terletak di kiri
CSVL dianggap mencerminkan keseimbangan koronal yang negatif. Untuk pengukuran
keseimbangan sagittal, garis tegak lurus yang berada di anterior corpus Vertebra S1 dianggap
24
mencerminkan keseimbangan sagital yang positif, sedangkan garis tegak lurus yang berada di
posterior corpus Vertebra S1 dianggap mewakili keseimbangan sagital yang negatif. 14

Gambar 2.11. Pengukuran keseimbangan koronal dan sagittal vertebra pada radiografi anak perempuan usia
11 tahun. (a) Radiografi AP menunjukkan jarak 1.8cm (panah) antara garis tegak lurus (garis putus-putus)
yang ditarik ke bawah dari pusat korpus C7(*), sejajar dengan tepi lateral radiografi dan CSVL (garis lurus).
Jarak ini lebih kecil dari definisi keseimbangan koronal (≥2 cm). (b) Radiografi lateral kiri menunjukkan jarak
terpendek (panah) antara garis tegak lurus (garis putus-putus) dan aspek posterosuperior dari corpus vertebra
S1 (panah) adalah 1.7cm, ukuran tersebut lebih kecil dari definisi keseimbangan sagittal. 7

25
Gambar 2.12. (a) Gambar ini menunjukkan keseimbangan sagital, diukur jarak antara garis tegak lurus dari
C7 dan aspek posterosuperior dari korpus vertebra S1. Keseimbangan sagital positif atau negatif dijelaskan
ketika garis tegak lurus anterior dan posterior sakral ini.(b) Gambar menunjukkan keseimbangan koronal,
diukur jarak antara garis tegak lurus C7 dan CSVL. Keseimbangan koronal positif dan negatif dijelaskan
ketika garis tegak lurus ke kanan atau kiri dari sakral ini.14

g. Rotasi Vertebra
Munculnya sistem instrumentasi modern dapat mengukur rotasi vertebra di tulang belakang
yang skoliotik. Kekurangan Cobb’s Angle untuk menggambarkan rotasi vertebra sebagian dapat
diatasi dengan metode Nash-Moe, dimana lokasi pedikel pada radiografi koronal dapat digunakan
sebagai indikator sejauh mana terjadinya rotasi vertebra. Dengan metode Nash-Moe, setengah
vertebra pada sisi cembung dari kelengkungan dibagi menjadi tiga segmen, dan rotasi dihitung
berdasarkan lokasi pedikel yang berhubungan dengan segmen tersebut.7

26
\

Gambar 2.13. Diagram diatas menggambarkan derajat rotasi vertebra berdasarkan metode Nash-Moe : A.
Posisi netral; B. Grade 1; C. Grade 2; D. Grade 3; dan E. Grade 4. Pada gambaran frontal menunjukkan
kelengkungan lateral vertebra, masing-masing vertebra yang terlibat dibagi dua oleh garis imaginer dan
setengah vertebra disisi konveks kemudian terbagi menjadi sepertiga luar, kedua, dan sepertiga dalam atau
garis tengah (garis vertikal pada A-E). Rotasi dihitung pada basis dari pedikel sisi konveks di salah satu
segmen dan visibilitas pedikel sisi cekung, yang secara berangsur-angsur menghilang seiring berlangsungnya
rotasi. Kedua pedikel biasanya terlihat pada sepertiga luar dari dua bagian vertebra (kecil, oval berorientasi
secara vertikal di A). 7,15

Poin lain yang tak kalah penting untuk dinilai dalam pemeriksaan radiologi adalah menentukan
kematangan rangka pasien secara fisiologis. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, jika
kematangan tulang seseorang telah sempurna, dengan derajat skoliosis kurang dari 30 derajat, tidak
dapat menunjukkan perbaikan yang bermakna. Untuk itu, sering pada kasus seperti ini disarankan
untuk memberhentikan follow-up ataupun terapinya. Oleh karna itu, skrining skoliosis sangat
dianjurkan pada saat anak-anak. 6

h. Maturasi skeletal

Joseph C. Risser pertama kali mengemukakan Risser Index pada tahun 1958. Risser
mengamati bahwa keadaan osifikasi apofisis iliaka dikaitkan dengan keadaan maturitas dari vertebra.
Temuan ini berkembang dari penelitian yang dilakukan dengan Ferguson pada tahun 1936,
27
menunjukkan bahwa pertumbuhan vertebra dan perkembangan skoliosis lebih cepat pada anak-anak
antara 10 dan 15 tahun daripada pada anak-anak antara 5 dan 10 tahun. Namun, kesulitan
mengevaluasi lempeng pertumbuhan vertebra mendorongnya untuk mencari pengganti yang dapat
menunjukkan potensi pertumbuhan vertebra. Risser menemukan perjalanan lengkap dan osifikasi
apofisis iliaka umumnya bersamaan dengan pelat pertumbuhan tulang belakang, dan ia
menyimpulkan, perlekatan apofisis iliaka telah terbukti menjadi tanda fisiologis yang sangat baik
untuk menunjukkan penyelesaian pertumbuhan vertebra. 11

Tergantung derajat dan jenis kelengkungan, tatalaksana dapat berupa observasi saja hingga
prosedur invasif termasuk operasi untuk koreksi kelainan bentuk tulang belakang dan fusi. Semakin
berat kelengkungan, semakin besar kemungkinan untuk pembedahan. Pada kelengkungan yang tidak
berat pada presentasi pencitraan, pembedahan dilakukan atau tidak bergantung kepada
perkembangan dan pertumbuhan pasien. Prediktor terbaik dari perkembangan kurva adalah potensi
pertumbuhan dan kecepatan pertumbuhan, yang keduanya dapat dilihat dari maturitas skeletal.
Parameter ini membantu tindak lanjut, durasi pemakaian brace, pertimbangan untuk beroperasi, dan
waktu operasi.11

Index Risser yang digunakan untuk mengukur osifikasi pada apofisis iliaka, di mana
tingkatannya sebagai berikut: 11
1) Grade I osifikasi pada 25% lateral dari apofisis iliaka.
2) Grade II osifikasi pada 50% lateral.
3) Grade III osifikasi pada 75% lateral.
4) Grade IV osifikasi pada keseluruhan apofisis.
5) Grade V adalah fusi dari epifisis ala iliaka yang terosifikasi.

28
Gambar 2.14. Diagram diatas menggambarkan tingkatan Index Risser 15

Risser membagi derajat osifikasi dan fusi apofisis iliaka ke dalam enam tahap (Risser Tahapan
0-5), dengan angka yang lebih tinggi menggambarkan kemajuan menuju maturitas skeletal. Derajat 0
pada gambaran x-ray di mana tidak ada pusat osifikasi terlihat dalam apofisis. Derajat 5 merupakan
osifikasi lengkap dan fusi apofisis iliaka. Keterbatasan index Risser adalah osifikasi bisa terjadi lebih
awal dari yang dipikirkan; jadi, index ini tidak bisa diandalkan dan index ini kurang dapat
diandalkan pada pasien laki-laki dibanding pasien wanita karena osifikasinya mulai lebih awal. Pada
pasien laki-laki, pertumbuhannya bisa dikatakan berakhir ketika index Risser 5 tercapai. 6,11
2.8.2. CT Scan dan MRI
Tujuan utama melakukan pencitraan CT atau MR pada pasien dengan skoliosis adalah untuk
mengidentifikasi penyebab yang mendasari. Selain itu, modalitas pencitraan Cross-sectional berguna
untuk guiding penatalaksanaan bedah dan evaluasi komplikasi postoperatif.16

29
A B
Gambar 2.15. A. Gambaran CT dengan perbesaran volume pada seorang anak berusia 16 tahun
dengan skoliosis idiopatik menunjukkan vertebrae yang terdesak yang disebabkan oleh perbedaan
kecepatan pertumbuhan antara sisi cembung dan cekung dari kelengkungan tulang belakang. Tinggi
vertebral lebih besar di sisi cembung (panah putih) daripada di sisi cekung (panah hitam). B.
Gambaran CT dengan volume yang diperbesar menunjukkan hilangnya visibilitas prosesus spinosus
sisi kiri di segmen skoliotik karena rotasi vertebrae.16

30
A B
Gambar 2.16. Skoliosis sekunder akibat hemangioma tulang pada anak laki-laki usia 7 tahun
dengan nyeri punggung ringan. A. Pemeriksaan radiograf AP menunjukkan adanya levoskoliosis
pada regio toraks, gambaran khas skoliosis idiopatik pada remaja. Karena nyeri punggung, pasien
dirujuk untuk evaluasi lebih lanjut dengan MRI. B. MRI menunjukkan adanya lesi infiltrasi lemak
yang terbukti menjadi hemangioma agresif di vertebrae T10 dan T11. Lesi osseous ini diyakini
sebagai penyebab skoliosis.17
Radiografi adalah metode pilihan untuk evaluasi pencitraan diagnostik awal yang cukup

31
untuk mengecualikan sebagian besar kelainan perkembangan osseous dan kongenital, yang
merupakan sebagian besar penyebab patologis yang mendasari terjadinya skoliosis. Hal ini perlu
diingat bahwa kelainan kongenital dan perkembangan osseus cenderung menghasilkan lengkungan
yang mempengaruhi segmen yang relatif pendek dari tulang belakang pada radiograf.
Neurofibromatosis dengan kelengkungan distrofi, meskipun jarang, juga dapat menghasilkan kurva
segmen pendek. (Gambar 3)1

A B
Gambar 2.17 Skoliosis segmen pendek pada perempuan usia 27 tahun dengan diagnosis
sebelumnya neurofibromatosis tipe 1. A. Radiograf AP dari vertebrae torakolumbosakral
menunjukkan kelengkungan yang parah yang mempengaruhi segmen tulang belakang, gambaran
radiografi yang khas pada distrofi neurofibromatosis tipe 1. B. MRI mengungkapkan adanya ektasia
dura pada level sakral (panah hitam) dan massa infiltrasi yang besar pada trunkus kiri dan paha
(panah putih).17

Pada kasus dengan deformitas osseus yang kompleks, radiografi saja tidak memadai dan
penggunaan CT wajib dilakukan, terutama ketika direncanakan tindakan operasi. MRI digunakan
dengan meningkatnya frekuensi untuk mengevaluasi pasien dengan pola kelengkungan yang tidak
biasa atau dengan manifestasi klinis yang mengkhawatirkan. (tabel 1,2)1

32
Tabel 2.3.

Tabel 2.4.

CT multidetektor dengan rekonstruksi gambar 3D memungkinkan visualisasi dari kelainan

33
osseus kompleks dari skoliosis kongenital (gambar 4). CT dapat sangat membantu ketika eksisi
bedah hemivertebrae karena dapat menggambarkan kelainan osseus yang tak terduga yang tidak
jelas digambarkan pada radiografi awal. CT angiografi preoperatif juga berguna untuk menentukan
apakah terdapat kelainan vaskular (gambar 5).1

A B
Gambar 2.18 Skoliosis segmen pendek akibat fusi kongenital dan kelainan segmen. Radiografi
sendiri tidak memadai dan CT bersifat wajib ketika mengevaluasi kelainan osseous kompleks,
terutama ketika direncanakan dilakukannya operasi. Radiografi PA (A) dan gambaran CT
multidetektor (B) pada anak usia 18 bulan menunjukkan hemivetebrae kiri (kepala panah) pada
torakolumbal junction dan hemivertebrae bilateral yang berdekatan (panah), gambaran terbaik
dengan CT.17

34
A B
Gambar 2.19 Skoliosis segmen pendek akibat fusi kongenital dan kelainan segmental. A. Radiograf
AP pada anak berusia tahun dengan sindroma Klippel-Feil menunjukkan malformasi tulang
belakang yang parah (panah) pada level cervicothoracic junction. B. CT angiografi menunjukkan
lokasi arteri vertebralis (kepala panah), struktur penting yang harus dihindari selama operasi.18
Perhatian khusus dilakukan ketika menempatkan sekrup pada pedikel pada level toraks atas,
terutama pada sisi kelengkungan konkaf, karena pedikel yang sangat sempit; spinal cord juga rentan
pada level ini karena ruang epidural yang sempit. CT pra operasi direkomendasikankarena tingginya
kemungkinan adanya pedikel yang sempit. CT post operatif dianjurkan pada pasien dengan defisit
neurologis baru setelah pemasangan sekrup pedikel. Sebagian besar penyebab skoliosis adalah
osseous atau neuropathic. Radiografi dan CT secara umum digunakan untuk mendeteksi penyebab
osseous, kadang bersamaan dengan MRI (gambar 6). MRI wajib dilakukan jika diduga disebabkan
oleh neuropati. Penggunaan MRI untuk evaluasi skoliosis diperlukan jika :
a) Skoliosis dengan penurunan neurologis menunjukkan kemungkinan penyebab yang
mendasarinya.
b) Lesi intramedular seperti syringomyelia atau tumor mungkin dapat berkaitan dengan
skoliosis tanpa menunjukkan tanda neurologis.
c) Skoliosis idiopatik yang tidak disertai dengan nyeri tulang belakang yang signifikan.

35
A B
Gambar 2.20 Skoliosis yang sangat nyeri karena osteoblastoma pada anak usia 13 tahun. A. Radiografi
AP menggambarkan levoskoliosis pada vertebrae torakolumbal dengan massaosseous (panah) di
sebelah kanan costovertebral junction pada level vertebrae T11-T12. B. MRI menunjukkan asal
massa (panah) dari elemenposterior vertebrae T11. Perhatikan edema sumsum tulang belakang
(kepala panah), merupakan ciri karakteristik osteoblastoma. Diagnosis dikonfirmasi saat operasi.19
Untuk mengidentifikasi penyebab utama dari tiga kondisi ini, terutama ketika penyebabnya
lesi intramedular occult, MRI merupakan satu-satunya modalitas yang memungkinkan untuk deteksi
dini dan tatalaksana yang tepat. Kondisi neurologis asimptomatik yang mengakibatkan skoliosis
dengan onset terlambat (gambar 7), tumor, dan hal lain yang menyebabkan syringomyelia.
Kesimpulannya, MRI preoperatif dilakukan pada pasien dengan skoliosis idiopatik dengan
penyebabnya berupa neurologis occult.1

36
Gambar 2.21 Skoliosis dan malformasi Arnold-Chiari pada wanita usia 26 tahun dengan defisit
neurologis. (a) Radiografi PA menunjukkan dextroskoliosis pada vertebrae torakolumbal dengan
Cobb angle 61o. Karena tipe kelengkungan ini dikaitkan dengan tingginya risiko perkembangan
maturitas skeletal, koreksi bedah dianggap perlu. (b) Preoperatif, MRI vertebrae cervical
menggambarkan adanya syringomyelia yang menonjol (panah). Gambaran beaklike pada tonsil
cerebellar, yang meluas hingga ke foramen magnum (kepala panah). Mengingat temuan ini,
dekompresi fosa kranial posterior diperlukan sebelum koreksi bedah. (c) Postoperatif, gambaran
MRI menunjukkan kumpulan cairan (kepala panah) dan penurunan syringomyelia (panah).20

37
Gambar 2.22 Skoliosis lumbal degeneratif adalah deviasi lateral dari tulang belakang yang biasanya
berkembang setelah usia 50 tahun. Hal ini dikenal sebagai tipe-1 atau skoliosis dewasa primer. Hal
ini biasanya berkaitan dengan hilangnya lordosis, aksial rotasi, listesis lateral, dan spondilolistesis
(a). Hal ini berhubungan dengan degeneratif diskus dan penyakit facet dan hipertrofi dari
ligamentum flava, biasanya mengarah ke neurogenik claudicasio, penyempitan foramen (b), dan
nyeri punggung.21,22

2.9 Diagnosis Banding

Diagnosis banding dari skoliosis antara lain:


1. Kelainan tulang belakang akibat infeksi
2. Kelainan tulang belakang akibat trauma

2.8 Tatalaksana9

Jenis terapi yang dibutuhkan untuk skoliosis tergantung pada banyak faktor. Sebelum
menentukan jenis terapi yang digunakan, dilakukan observasi terlebih dahulu. Terapi
disesuaikan dengan etiologi,umur skeletal, besarnya lengkungan, dan ada tidaknya
progresivitas dari deformitas. Keberhasilan terapi sebagian tergantung pada deteksi dini dari
skoliosis.

A. Obat

Tujuan pemberian obat adalah untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dan
kemungkinan infeksi baik dari alat ataupun pembedahan, bukan untuk mengobati skoliosis.
38
Obat yang digunakan antara lain :

A. Obat

1. Analgesik

2. NSAID (Non Steroid Anti Inflamation Drug)

B. Fisioterapi

1. Terapi panas, dengan cara mengompres


2. Alat penyangga, digunakan untuk skoliosis dengan kurva 25°-40° dengan skeletal
yang tidak matang (immature).

Alat penyangga tersebut antara lain :

 Penyangga Milwaukee

Alat ini tidak hanya mempertahankan tulang belakang dalam posisi lurus, tetapi alat
ini juga mendorong pasien agar menggunakan otot-ototnya sendiri untuk menyokong dan
mempertahankan proses perbaikan tersebut. Penyangga harus dipakai 23 jam sehari. Alat
penyangga ini harus terus digunakan terus sampai ada bukti objektif yang nyata akan adanya
kematangan rangka dan berhentinya pertumbuhan tulang belakang selanjutnya. tulang
belakang pada anak yang bertumbuh.

39
Gambar 2.23. Alat penyangga Milwaukee untuk meluruskan9

 Penyangga Boston

Suatu penyangga ketiak sempit yang memberikan sokongan lumbal atau torakolumbal
yang rendah. Penyangga ini digunakan selama 16-23 jam sehari sampai skeletalnya matur.
Terapi ini bertujuan untuk mencegah dan memperbaiki deformitas yang tidak dikehendaki
oleh pasien. bagian lumbal atau torakolumbal.

Gambar 2.24. Alat penyangga Boston dapat digunakan pada skoliosis9

40
3. Terapi Stimulasi Otot-Otot Skoliosis

Kunci dari terapi ini adalah rehabilitasi dari otot dan ligamen yang menyangga tulang
belakang. Rehabilitasi otot harus melalui sistem saraf pusat dengan tujuan agar pasien dapat
meningkatkan kekuatan otot sehingga otot dapat menyangga tulang belakang dengan posisi
yang benar tanpa bantuan alat penyangga.

Gambar 2.25. Terapi stimulasi otot

C. Tindakan Pembedahan

Umumnya, jika kelengkungan lebih dari 40 derajat dan pasien skeletalnya imatur,
operasi direkomendasikan. Lengkung dengan sudut besar tersebut, progresivitasnya
meningkat secara bertahap, bahkan pada masa dewasa. Tujuan terapi bedah dari skoliosis
adalah memperbaiki deformitas dan mempertahankan perbaikan tersebut sampai terjadi fusi
vertebra. Beberapa tindakan pembedahan untuk terapi skoliosis antara lain :

 Penanaman Harrington rods (batangan Harrington)

Batangan Harrington adalah bentuk peralatan spinal yang dipasang melalui


pembedahan yang terdiri dari satu atau sepasang batangan logam untuk meluruskan atau
menstabilkan tulang belakang dengan fiksasi internal. Peralatan yang kaku ini terdiri dari
pengait yang terpasang pada daerah mendatar pada kedua sisi tulang vertebrata yang letaknya
di atas dan di bawah lengkungan tulang belakang.

41
Keuntungan utama dari penggunaan batangan Harrington adalah dapat mengurangi
kelengkungan tulang belakang ke arah samping (lateral), pemasangannya relatif sederhana
dan komplikasinya rendah. Kerugian utamanya adalah setelah pembedahan memerlukan
pemasangan gips yang lama. Seperti pemasangan pada spinal lainnya , batangan Harrington
tidak dapat dipasang pada penderita osteoporosis yang signifikan.

Gambar 2.26. Penggunaan batangan Harrington

 Pemasangan peralatan Cotrell-Dubousset

Peralatan Cotrell-Dubousset meliputi pemasangan beberapa batangan dan pengait


untuk menarik, menekan, menderotasi tulang belakang. Alat yang dipasang melintang antara
kedua batangan untuk menjaga tulang belakang lebih stabil.

Pemasangan peralatan Cotrell-Dubousset spinal dikerjakan oleh dokter ahli bedah


yang berpengalaman dan asistennya

2.10 Prognosis

Prognosis tergantung kepada penyebab, lokasi dan beratnya kelengkungan. Semakin


besar kelengkungan skoliosis, semakin tinggi resiko terjadinya progresivitas sesudah masa
pertumbuhan anak berlalu. Skoliosis ringan yang hanya diatasi dengan brace memiliki
prognosis yang baik dan cenderung tidak menimbulkan masalah jangka panjang selain
kemungkinan timbulnya sakit punggung pada saat usia penderita semakin bertambah.
Penderita skoliosis idiopatik yang menjalani pembedahan juga memiliki prognosis
42
yang baik dan bisa hidup secara aktif dan sehat. Penderita skoliosis neuromuskuler selalu
memiliki penyakit lainnya yang serius (misalnya cerebral palsy atau distrofi otot). Karena itu
tujuan dari pembedahan biasanya adalah memungkinkan anak bisa duduk tegak pada kursi
roda.
Bayi yang menderita skoliosis kongenital memiliki sejumlah kelainan bentuk yang
mendasarinya, sehingga penanganannyapun tidak mudah dan perlu dilakukan beberapa kali
pembedahan.

43
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Karena banyaknya macam pola dari kurva skoliosis, pemahaman mengenai teknik
pengambilan gambar, pengukuran kurva dan klasifikasinya sangat penting diketahui
seorang radiologis.
Diagnosis radiologi pada skoliosis penting dalam menentukan tata laksana, tindak lanjut
setelah tata laksana, dan prognosis. Modalitas radiografi konvensional dapat dioptimalkan untuk
mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Pengukuran-pengukuran beserta indexnya sangat penting untuk evaluasi. Selain itu,
pelaporan yang baik akan berhubungan dengan pilihan tatalaksana yang sesuai dengan keadaan
pasien. Pemeriksaan radiologi memegang peranan penentuan penyebab, serta monitoring
perubahan deformitas.
Modalitas radiologi lain seperti CT Scan dan MRI berguna dalam kasus-kasus skoliosis
kompleks dan mengetahui faktor etiologinya.

44
Daftar Pustaka

1. .Interiano RB, Kaste SC, Li C. Associations between treatment, scoliosis, pulmonary


function, and physical performance in long-term survivors of sarcoma. J Cancer Surviv.
2017;11(5):553-561.

2. Scoliosis Research Society. SRS Terminology Committee and Working Group on Spinal
Classification Revised Glossary of Terms. United States. 2000.

3. Ryan PM, Puttler EG, Stotler WM, Ferguson RL. Role of the triradiate cartilage in predicting
curve progression in adolescent idiopathic scoliosis. J Pediatr Orthop. 2007;27(6):671-676.

4. Van Goethem J, Van Campenhout A, van den Hauwe L, Parizel PM. Scoliosis.
Neuroimaging Clin N Am. 2007;17(1):105-115.

5. Negrini S, Donzelli S, Aulisa AG, Czaprowski D, Schreiber S, Mauroy JC. 2016 SOSORT
guidelines: orthopaedic and rehabilitation treatment of idiopathic scoliosis during growth.
Scoliosis and Spinal Disorders. 2018;13(3) : 1-37.

6. Richards BS, Sucato DJ, Konigsberg DE, Ouellet JA. Comparison of reliability between the
Lenke and King classification systems for adolescent idiopathic scoliosis using radiographs
that were not premeasured. Spine. 2003;28(11):1148-56.

7. Kim H, Kim SH, Moon ES, Yoon CS, Chung TS, Song T, et al. Scoliosis Imaging: What
Radiologists Should Know. 2010; 30(7) : 1823-42.

8. Kouwenhoven JW, Castelein RM. The pathogenesis of adolescent idiopathic scoliosis:


review of the literature. Spine. 2008; 33(26): 2898-908.

9. Horng MH, Kuok CP, Fu MJ, Lin CJ, Sun YN. Cobb Angle Measurement of Spine from X-
Ray Images Using Convolutional Neural Network. Computational and Mathematical
Methods in Medicine. 2019.

10. Cassar-Pullicino VN, Eisenstein SM. Imaging in scoliosis: what, why and how?.Clin Radiol.
2002; 57(7):543-62.

11. Hacquebord JH, Leopold SS. In Brief:The Risser Classification: A Classic Tool for the
Clinician Treating Adolescent Idiopathic Scoliosis. Clinical Orthopedic Related Research.
2012; (470):2335–2338.

12. Vrtovec T, Pernus F, Likar B. A review of methods for quantitative evaluation of spinal
curvature. Eur Spine J (2009) 18:593–607.

13. Ford DM, Bagnall KM, McFadden KD, Greenhill BJ, Raso VJ: Paraspinal muscle imbalance
in adolescent idiopathic scoliosis. Spine, 9:373-376, 1984

14. Malfair D, Flemming AK, Dvorak MF, et al. Radiographic evaluation of scoliosis: review.

45
AJR Am J Roentgenol. 2010;194(3):8–22

15. O’Brien MF, Kuklo TR, Lenke L. Radiographic Measurement Manual. Spinal Deformity
Study Group. Medtronic Sofamor Danek. 2008
16. Van Goethem JWM VCA. Scoliosis. In:Spinal imaging diagnostic of the spineand spinal
cord. Springer-Verlag. 2007:95-108.
17. G K. Role of imaging in scoliosis. Pediatr Radiol 2009;39:S247-S51.
18. Kouwenhoven JW CR. The pathogenesis of adolescent idiopathic scoliosis: review of the
literature. Spine. 2008;33(26):2898-908.
19. Richards BS SD, Konigsberg DE, Ouellet JA. Comparison of reliability between the Lenke
and King classification systems for adolescent idiopathic scoliosis using radiographs that
were not premeasured. Spine. 2003;28(11):1148-
20. Hana K, Hak SK, Eun SM, Choon-Sik Y, Tae-Sub C, Ho-Taek S, et al. Scoliosis Imaging :
What Radiologists Should Know. Radiographics. 2010;30(7):1823-1842.
21. Goethem JV, Campenhout AV. Scoliosis. Medical Radiology Diagnostic Imaging. Germany.
2007;95-108.

46