Anda di halaman 1dari 21

MODAL DASAR DAN AKTOR PENGGERAK

EKONOMI KREATIF
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Kreatif
Dosen Pengampu Nur Budiarso, M.M.

Disusun Oleh :

Ela Nur Anjani (63040170109)

Muhammad Imaddudin (63040180106)

Miya Dwi Setiyanigsih (63040180093)

Alya Balqis Kharisma (63040180086)

MANAJEMEN BISNIS SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt yang melimpahkan rahmat dan
hidayah atas karunia, ridha, nikmat dan ijinnya, karena kami dapat menyelesaikan tugas
makalah ini tentang “ Modal Dasar dan Aktor Penggerak Ekonomi Kreatif”. Makalah ini
disusun agar pembaca dapat memperluas pengetahuan tentang Modal dasar dan Aktor
Penggerak Ekonomi Kreatif.

Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu menambah wawasan maupun
pengetahuan bagi para pembaca, kami penulis tak lupa juga berterimakasih kepada kedua
orang tua yang telah senantiasa mendukung, memberikan semangat dan doa-doa disetiap
sujudnya. Serta kepada Bapak Nur Budiarso, M.M. terimakasih yang telah senantiasa
membimbing kami dalam proses pembelajaran selama ini, dan terimakasih kepada teman-
teman yang telah membantu dalam kelancaran penyusunan makalah ini. Kami selaku penulis
makalah mohon maaf atas kekurangan materi atau penjelasan yang kami sampaikan
dimakalah ini, karena kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang dapat membangun semangat kami untuk
lebih baik lagi.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................4
A. Latar Belakang................................................................................................................4
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................4
C. Tujuan Masalah...............................................................................................................5
D. Manfaat...........................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................6
A. Modal Dasar Ekonomi Kreatif........................................................................................6
B. Komponen Inti dan Pendukung Ekonomi Kreatif.........................................................12
C. Aktor Penggerak Ekonomi kreatif................................................................................13
D. Peran Aktor Ekonoimi Kreatif......................................................................................15
E. Pemegang Kepentingan dan Faktor Pendorong Ekonomi Kreatif...............................16
F. Kreativitas Dalam Kinerja Bisnis..................................................................................17
BAB III PENUTUP.................................................................................................................19
A. Kesimpulan...................................................................................................................19
B. Saran..............................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................20
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Industri kreatif atau ekonomi kreatif kini semakin diminati seiring
perkembangan informasi dan teknologi. Ekonomi kreatif menjadi denyut nadi
perekonomian yang memiliki hubungan erat di bidang budaya kewirausahaan yang
diprediksi akan menjadi trend ekonomi dunia termasuk Indonesia yang akan ikut serta
berperan aktif dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pengertian dan defenisi
tentang ekonomi kreatif setidaknya memuat inti bahwa industri kreatif maupun
ekonomi kreatif memanfaatkan kemampuan kreativitas dari cipta, rasa dan karsa
sehingga bernilai ekonomi baik untuk pelaku ekonomi kreatif itu sendiri maupun
orang-orang disekitarnya. Ekonomi kreatif sangat tergantung kepada modal manusia
(human capital atau intelectual capital, ada juga yang menyebutnya creative capital).
Ekonomi kreatif membutuhkan sumberdaya manusia yang kreatif tentunya, mampu
melahirkan berbagai ide dan menterjemahkannya ke dalam bentuk barang dan jasa
yang bernilai ekonomi. Proses produksinya bisa saja mengikuti kaidah ekonomi
industri, tetapi proses ide awalnya adalah kreativitas.

Pengembangan ekonomi kreatif merupakan pilihan tepat untuk menjaga


ketahanan ekonomi dalam kondisi krisis global. Ekonomi Kreatif perlu dikembangkan
karena ekonomi kreatif berpotensi besar dalam memberikan kontribusi ekonomi yang
signifikan, menciptakan iklim bisnis yang positif membangun citra dan identitas
bangsa, berbasis pada sumberdaya yang terbarukan menciptakan inovasi dan
kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa; dan memberikan
dampak sosial yang positif.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah modal dasar ekonomi kreatif ?
2. Bagaimanakah aktor penggerak ekonomi kreatif?
3. Bagaimanakah pemegang kepentingan dan faktor penggerak ekonomi kreatif ?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui dan memahami modal dasar ekonomi kreatif
2. Untuk mengetahui dan memahami aktor penggerak ekonomi kreatif
3. Untuk mengetahui dan memahami pemegang kepentingan dan faktor pendorong
ekonomi kreatif.

D. Manfaat
1. Manfaat teoritis
Dapat memberikan sumbangan serta pengetahuan terhadap penulis dan pembaca
dalam materi perkuliahan Ekonomi Kreatif, khususnya masalah masalah Modal Dasar
dan Aktor Penggerak Ekonomi Kreatif
2. Manfaat Praktis
Makalah ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi kepada pembaca
mengenai modal dasar dan aktor penggerak ekonomi kreatif serta memberikan
tantangan untuk berpikir dan menemukan bakat yang lebih kreatif.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Modal Dasar Ekonomi Kreatif


Perkembangan ekonomi kreatif sangat bergantung pada berbagai faktor dan
komponen,seperti faktor modal, komponen inti, komponen pendukung, aktor
penggerak, dan faktor pendorong.Perusahaan-perusahaan kecil dan menengah pada
umumnya kekurangan modal, yang sangat diperlukan untuk pengembangan usaha.
Modal yang dimaksudkan oleh para pengusaha adalah modal finansial dan material
guna memperluas dan meningkatkan usahanya. Kebutuhan modal finansial terutama
untuk membeli bahan baku, peralatan, dan operasional perusahaan.

Kekurangan modal material dan modal intelektual dapat menyebabkan


perusahaan kecil dan menengah ketergantungan pada berbagai aspek, seperti bahan
baku, bahan penolong, teknologi, desain, dan pemasaran. Semua aspek yang
dibutuhkan oleh usaha kecil dan menengah tersebut dimiliki oleh pengusaha besar.
Modal yang diperlukan untuk membeli bahan baku dan teknologi biasanya dimiliki
oleh pengusaha besar yang memiliki akses modal, menguasai pasar, dan memiliki
teknologi. Pemilik modal rmenguasa informasi pasar sehingga pengusaha kecil dan
menengah ketergantungan kepada pemilik modal yang menguasai pasar. Harga bahan
baku dan harga produk hasil industri kecil dan menengah kedua-duanya sangat
bergantung dan ditentukan oleh pemilik modal.

Demikian juga, desain dan teknologi ditentukan oleh pemilik modal yang
menguasai pasar, sedangkan pengusaha kecil mengikuti kemauan pemilik modal, baik
bahan baku, teknologi, desain, pasar, harga jual produk, maupun harga beli bahan baku.
Akibatnya, pengusaha kecil dan menengah menjadi ketergantungan dan hanya
menerima manfaat ekonomi sesuai dengan selisih antara harga jual dan harga beli yang
kedua-duanya ditentukan oleh pemilik modal. Dengan pola seperti itu, maka pengusaha
kecil tidak akan berkembang, dan lama-kelamaan menjadi pekerja dan bekerja dengan
"sistem maklon". Maklon adalah mengerjakan barang milik orang lain, dengan
besarnya upah ditentukan oleh pengusaha dan bergantung pada banyaknya barang yang
dapat dikerjakan atau dihasilkan.
hampir semua pelaku usaha memerlukan materi peningkatan modal intelektual,
seperti pengetahuan dan keterampilan untuk menciptakan rantai nilai, menciptakan
nilai, meningkatkan keunggulan, dan untuk meningkatkan daya saing produk. Modal
nonril, seperti modal intelektual dan modal kreativitas ternyata sangat diperlukan oleh
para pengusaha serta industri kecil dan menengah untuk meningkatkan nilai tambah dan
daya saing yang selama ini masih relatif rendah. Untuk membangun usaha kecil modal
ril, seperti uang tentu saja penting, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah modal
kekayaan intelektual.

Seperti dikemukakan Howkins (2001),"modal kreativitas" bukan merupakan


modal material, tetapi merupakan modal intelektual, modal budaya, modal sosial, dan
modal struktural. Modal kreatif (creative capital) adalah modal intelektual berupa
kekayaan intelektual, seperti desain produk, merek dagang, hak cipta, paten, dan
royalti. 

Oleh sebab itu, agar kreativitas menghasilkan dan memberi dampak positif output
and outcome (keluaran dan hasil), menurut Home Affairs Bureau (2005: 41); UNDP-
UNCTAD (2008: 10) diperlukan empat modal, sebagai berikut.

1. Modal insani (human capital).


2. Modal sosial (social capital).
3. Modal budaya (cultural capital).
4. Modal struktur kelembagaan (structural institutional capital)

Keempat jenis modal tersebut merupakan faktor yang sangat menentukan


pertumbuhan kreativitas dan dipandang sebagai modal ekonomi kreatif. Manifestasi
dari kreativitas adalah output dan outcomes yang terbentuk dari interelasi antar modal
insani, modal budaya, modal sosial, dan modal kelembagaan.

A. Modal Insani (Human Capital)

Salah satu modal insani dalam ekonomi kreatif yang terpenting adalah modal
intelektual, yaitu berupa kecakapan, pengetahuan, keterampilan, dan motivasi untuk
menghasilkan kekayaan intelektual, seperti paten, merek dagang, royalti, dan desain.
Menurut David Parrish (2009: 77), "Kekayaan intelektual merupakan modal pokok
industri kreatif yang menciptakan aktivitas-aktivitas, keterampilan dan bakat
individual, yang berpotensi untuk menciptakan lapangan kerja dan kekayaan secara
turun-menurun melalui kekayaan intelektual.

Kekayaan intelektual merupakan aset yang tak terlihat dan merupakan tiang
penyangga perusahaan." Oleh sebab itu, menurut David Parrish (2009), bisnis kreatif
adalah seni untuk mengubah pengakuan menjadi penghasilan, dan ilmu tentang
bagaimana mengubah kekayaan intelektual menjadi sumber pendapatan. Untuk
meningkatkan modal insani diperlukan investasi dalam bidang pendidikan dan
pelatihan, serta memperbanyak penelitian ilmiah dan pengembangan. Dengan
pendidikan dan pelatihan akan meningkatkan pengetahuan,kecakapan, dan
keterampilan (sebagai modal intelektual) yang sangat diperlukan untuk meningkatkan
produktivitas nilai tambah, dan daya saing (David Parris, 2009: 84).

Modal intelektual merupakan perkalian antara kompetensi dengan


komitmen.Artinya, seseorang yang memiliki kompetensi saja tidak cukup, bila tidak
dibarengi dengan komitmennya. Seseorang yang memiliki kompetensi, tetapi kurang
komitmen maka ia memiliki modal intelektual yang rendah.

Sementara itu, kompetensi itu sendiri merupakan perkalian antara kapabilitas


(kemampuan) dengan tanggung jawab dan kewenangan (autority). Memiliki
kemampuan saja tidak cukup apabila tidak didukung oleh tanggungjawab dalam
menggunakan kemampuannya. Selanjutnya, kapabilitas merupakan perkalian antara
keterampilan dan pengetahuan. Seseorang yang cakap saja tidak cukup, tetapi harus
cakap dan cukup ilmu pengetahuan.

Pengertian modal intelektual tersebut, sedikit berbeda dengan pengertian yang


dikemukakan oleh Howkins (2001: 211), yang mengemukakan bahwa modal
intelektual merupakan gabungan antara modal sumber daya manusia dengan modal
infrastrultur. Modal sumber daya manusia tidak cukup, harus dilengkapi dengan
menciptakan infrastruktur yang tepat. Untuk membentuk modal insani dan modal
infrastruktur diperlukan investasi.

Untuk mengembangkan modal intelektual diperlukan investasi bidang


pendidikan dan pelatihan, sedangkan untuk menciptakan modal infrastruktur
diperlukan modal kemauan pemerintah untuk membangun struktur dan kelembagaan.
Dengan modal intelektual dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan
kecakapan maka pola pikir seseorang akan terbuka, dan melahirkan ide, gagasan,
inspirasi, dan khayalan-khayalan yang cemerlang sehingga menghasilkan kekayaan
intelektual, seperti paten, merek, desain, dan nilai-nilai tambah baru. Selain
menumbuhkan ide, gagasan, inspirasi, dan khayalan modal intelektual juga dapat
mendorong proses "Kaizen", yaitu suatu proses perbaikan yang terus-menerus untuk
meningkatkan nilai tambah dan kualitas.

Pengetahuan diperlukan untuk membentuk pola pikir yang memunculkan ide


ide, gagasan, khayalan, dan inspirasi. Sementara itu, keterampilan (skill) dan
kecakapan diperlukan untuk mengimplementasikan ide-ide, inspirasi-inspirasi,
gagasan-gagasan dan khayalan-khayalan guna menciptakan sesuatu yang baru dan
berbeda. Pengetahuan (pintar) saja tidak cukup, harus dilengkapi dengan kecakapan.

Ada lima macam keterampilan (skill) dan kecakapan yang membentuk ekonomi
kreatif, yaitu:

 keterampilan konseptual (conceptual skill), yaitu kemampuan untuk membangun


dan mengembangkan konsep, seperti membuat perencanaan usaha dan
perencanaan produk, membuat desain produk, menciptakan keunikan dan
keistimewaan, serta merancang kegunaan baru, dan merancang kemudahan baru.
 keterampilan mengorganisir (organizational skill), yaitu kemampuan untuk
mengorganisasikan sumber daya dalam bentuk perusahaan-perusahaan,
kemampuan untuk memimpin dan mengeiola perusahaan, bukan hanya sekadar
menjadi pekerja suatu perusahaan, tetapi menjadi bos yang mengendalikan,
mengatur, dan menggerakkan.
 keterampilan manajerial (managerial skil), yaitu kemampuan untuk mengolah atau
mengelola sumber daya manusia, finansial, material, dan informasi seefektif dan
seeisien mungkin.
 keterampilan kewirausahaan (entrepreneurial skill), yaitu keniampuan untuk
berkreasi dan berinovasi untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
 keterampilan personal dalam berelasi (personal relationship) dan berkomunikasi,
yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, berempati, bersimpati, bergaul, bermitra,
berkolaborasi, bernegoisasi, dan membangun jejaring baik di tingkat lokal,
nasional maupun internasional.
B. Modal Sosial (Social Capital)
Modal sosial adalah modal kepercayaan dan kejujuran serta etika dalam
menjalankan usaha. Modal sosial (social capital, merupakan modal yang paling
mendasar untuk setiap individu, organisasi, perusahaan bahkan suatu bangsa.
Individu, organisasi, dan bangsa yang maju dan dipercaya adalah individu, organisasi,
dan bangsa yang jujur, beretika, dan berbudaya. Kepercayaan, kejujuran, dan etika
dalam berusaha merupakan faktor kunci sukses. Ketidakjujuran, kurang komitmen,
korupsi, dan kolusi menyebabkan ketidakpercayaan terhadap masyarakat, bangsa, dan
negara, serta menyebabkan terhambatnya kreativitas ekonomi. Untuk membentuk
modal sosial diperlukan sistem pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai
kejujuran, etika, dan norma-norma ke dalam kurikulum, program, serta materi
pembelajaran.

C. Modal Budaya (Cultural Capital)

Modal budaya dimiliki oleh setiap bangsa bahkan perusahaan secara turun-
temurun.Modal ini terdiri dari nilai-nilai, orientasi, kebiasaan, adat-istiadat dan bentuk
lain dari budaya. Modal budaya juga bisa berupa kesenian, pertunjukan, film, drama,
lukisan, dan bisa dalam bentuk hasil karya atau dalam bentuk cagar budaya. Modal
budaya adalah modal dasar yang sudah dimiliki oleh industri terutama industri kecil
dan industri lokal yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Keanekaragaman-
kebinekaan, seperti etnis, suku, adat, nilai-nilai, warisan budaya, dan bahasa yang
tersebar di berbagai daerah merupakan modal dasar ekonomi kreatif. Semua modal
budaya dan kebinekaan ini masih perlu dikelola (manage) secara kreatif sehingga
dapat menciptakan kekayaan baru, seperti kesempatan kerja, pendapatan, dan
kesejahteraai masyarakatnya. Supaya bernilai ekonomi tinggi, modal dasar budaya
dan kebinekaan perlu dikolaborasikan, dikombinasikan dipelihara, dan
dikembangkan.

Untuk mengelola dan mengembangkannya, selain diperlukan pendidikan,


kecakapan, dan pengalaman, juga diperlukan pemahaman tentang pentingnya
kebinekaan sebagai modal dasar ekonomi kreatif yang bernilai ekonomi tinggi.
bernilai nasionalisme, dan bernilai kesejahteraan. Dilihat dari berbagai aspek, seperti
aspek budaya, kekayaan alami, dan kebinekaan yang dimiliki, Indonesia memiliki
modal ekonomi kreatif yang potensial sebagai berikut.

1. Modal seni, budaya, dan warisan budaya.


Keanekaragaman budaya, seperti seni tradisional sampai dengan seni modern
yang berkembang dari budaya Indonesia terdapat dalam berbagai kegiatan karya seni,
seperti kesenian, kerajinan, dan pertunjukan. Bahkan Indonesia memiliki sejarah
peradaban yang sangat panjang dan banyak peninggalan sejarah,seperti pakaian adat
peraiatan, keris, patung, candi, dan peninggalan sejarah lainnya. Warisan budaya lain
yang tidak kalah penting adalah seni tradisional, pakaian tradisional, makanan khas
daerah, minuman dan jamu-jamuan tradisional, dan rempah-rempah. Cina berhasil
mengembangkan ekonomi kreatif dari seni, budaya, dan warisan budayanya.
Misalnya, toko obat Cina ada dimana-mana dan dikelola secara komersial.

2. Modal sumber daya dan kekayaan alam.

Secara alamiah, Indonesia memiliki kekayaan alam sangat luar biasa dan hasil
kekayaan alam yang beraneka ragam. Dengan kondisi tanah yang sangat subur, apa
saja tumbuh dan dapat dikembangkan. Semua kekayaarn alam tersebut merupakan
modal dasar ekonomi kreatif dan dapat dikembangkan secara komersial. Banyak
ragam usaha yang dapat dilakukan untuk menciptakan kesempatan kerja dan
pendapatan dari sumber daya alam, seperti usaha kreatif hasil pertambangan dan
galian, usaha kreatif hasil pertanian, hasil perkebunan, hasil kehutanan, hasil
perikanan, hasil kelautan, hasil peternakan, dan bentuk kekayaan alam lainnya, seperti
objek-objek wisata alam. 

3. Modal kebinekaan suku bangsa, budaya, bahasa, dan agama.

Suku bangsa, budaya, dan bahasa merupakan modal ekonomi kreatif dikemas
dan dikembangkan menjadi kekayaan bangsa. Lagu-lagu daerah, bahasa daerah,
kesenian daerah, makanan daerah, rumah adat daerah, adalah potensi ekonomi kreatif
Indonesia yang dapat dikembangkan secara komersial. Ketiga modal dasar seni dan
budaya tersebut merupakan modal ekonomi kreatif yang dapat dikelola secara
komersial. Untuk menjadi kekayaan riil dalam ekonomi kreatifterlebih dulu perlu
dikembangkan modal insani, modal sosial, modal kelembagaan, dan struktural yang
dibangun secara simultan.

4. Modal Kelembagaan dan Struktural

Modal kelembagaan dan struktural merupakan modal yang diperlukan oleh


industri kreatif yang berasal dari pemerintah dalam bentuk kebijakan yang dapat
mengakomodasi dan melindungi industri kreatif. Oleh karena itu, diperlukan
departemen khusus yang membina industri kreatif di bawah kementerian yang
membina perindustrian dan/atau perdagangan, yang mendorong, mengadvokasi,
mematenkan, dan mempromosikan produk budaya.

Modal struktural atau kadang dikenal dengan modal infrastruktur oleh Howkins
(2001: 210) didefinisikan sebagai alat yang diperlukan dan dipandang sebagai modal
sumber daya manusia bagi organisasi. Modal infrastruktur ini meliputi kebijakan
rekrutmen organisasi, pelatihan dan remunerasi, sistem informasi manajemen dan
sistem manajemen ilmu pengetahuan, arahan kerja tim, sikap dalam pekerjaan,
manajemen hak kekayaan intelektual, nama, dan perlindungan merek dagang,
lisensi,hak paten, dan perlindungan hak cipta.

Untuk menciptakan modal infrastruktur diperlukan modal institusional


(kelembagaan) yang dapat melindungi, membina, mengarahkan, dan mengakomodasi
serta menciptakan iklim ekonomi kreatif. Kelembagaan ini merupakan domain
pemerintah yang harus proaktif menciptakan program dan iklim asaha kreatif melalui
kebijakan yang kondusif.

B. Komponen Inti dan Pendukung Ekonomi Kreatif


Komponen inti dan pendukung merupakan mesin pendorong perkembangan
(engine of growth) kegiatan ekonomi kreatif Komponen inti adalah komponen utama
pelaku ekonomi kreatif, yang meliputi individu, kelompok, dan perusahaan yang
menghasilkan produk.

Sementara itu, komponen pendukung adalah komponen yang mendukung


terciptanya iklim ekonomi kreatif, seperti lingkungan geografis
manyarakat,lingkungan industri, dan organisasi budaya. Salah satu model komponen
inti dan pendukung yang terkenal dalam ekonomi kreatif adalah model New England's
Creative Economy. Menurut Mt. Auburn yang dikutip oleh Departemen Perdagangan
(2008), terdapat tiga komponen inti dan tiga komponen pendukung dalam ekonomi
kreatif yang terdapat di suatu daerah, yang meliputi :

 The creative cluster (kelompok kreatif), yaitu perusahaan, kelompok, dan individu
yang secara langsung maupun tidak langsung menghasilkan produk kultural.
 The creative workforce (tenaga kerja kreatif), yaitu orang-orang pemikir dan
pelaksanan yang dilatih secara khusus dalam keterampilan budaya dan artistik
yang mendorong kepemimpinan industri yang tidak hanya terbatas pada budaya
dan seni.
 The creative commurity (komunitas kreatif), yaitu tempat konsentrasi area
geografis dari pekerjaan kreatif, bisnis kreatif, dan organisasi budaya. (Mt.
Auburn:5)

Setiap domain dari kegiatan ekonomi saling berhubungan di mana creative cluster
merujuk pada pengertian industri, baik komersial maupun nonkomersial. Creative
workforce merujuk pada pekerjaan, dan creative community merujuk pada wilayah
dimana creative cluster berada.

C. Aktor Penggerak Ekonomi kreatif


Aktor utama penggerak ekonomi kreatif terdiri atas:

1. cendekiawan (intellectuals),
2. bisnis (business), dan
3. pemerintah (government)

Ketiga aktor tersebut disebut sistem t-iple helix. Teori ini awalnya dipopulerkan
oleh Henry Etzkowitz dan Loet Leydesdorf (2000:29) dikutip juga oleh Departemen
Perdagangan (2008: 57), bahwa triple helix sebagai metode pembangunan kebijakan
berbasis inovasi. Teori ini mengungkapkan : akademisi, bisnis, dan pemerintah
tentang pentingnya penciptaan sinergitiga kutıb,yaitu akademisi, bisnis, dan
pemerintah. Interaksi triple helix akan menciptakan ruang (space), sebagai berikut :

a) Ruang ilmu pengetahuan


Di ruang ini, individu dalam berbagai disiplin ilmu berpartisipasi dalam
pertukaran informasi, ide-ide, dan gagasan-gagasan, wacana-wacana, dan
konsepsi-konsepsi baru.
b) Ruang konsensus
Di sini mulai terbentuk komitmen yang mengarah pada inisiatif.
c) Ruang inovasi
Disini inovasi tercipta menjadi modal pengetahuan (knowledge capital)berupa
munculnya realisasi bisnis, realisasi produk baru, dan partisipasi dari kelembagaan
keuangan. Dalam ruang tersebut, akan terjadi interaksi dan komunikasi yang
dinamis antara Intellectual, Business, dan Government (IBG) sebagai berikut :
a) Cendekiawan (intellectuals)
Intelektual atau cendekiawan berhubungan dengan penciptaan hal baru
yang memiliki daya tawar kepada pasar serta pembentukan insan
kreatif.Cendekiawan adalah orang-orang yang perhatian utamanya mencari
kepuasan dalam mengolah seni, ilmu pengetahuan atas renungan metafisika
dan hendak mencari tujuan praktis. Mereka adalah para ilmuwan, filsuf,
seniman, ahli metafisika yang menemukan kepuasan dalam penerapan ilmu-
bukan dalam penerapan hasil-hasilnya. (Departemen Perdagangan RI, 2008:
54).
b) Pembisnis (business)
Tugas pembisnis adalah berinterelasi dalam rangka perubahan ekonomi
serta transformasi kreativitas menjadi nilai ekonomi. Aktor bisnis merupakan
pelaku usaha, investor, dan pencipta teknologi-teknologi baru, serta
merupakan konsumen industri kreatif. Peran pembisnis dalam pengembangan
industri kreatif meliputi hal-hal berikut:
 Pencipta, yaitu sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dari
kreator produk dan jasa kreatif, pasar-pasar baru yang dapat menyerap
produk dan jasa yang dihasilkan, serta pencipta lapangan pekerjaan.
 Pembentuk komunitas dan entrepreneur kreatif, yaitu sebagai "motor"
yang membentuk ruang publik tempat terjadinya tukar pemikiran (sharing)
mentoring yang dapat mengasah kreativitas dalam melakukan industri
kreatif, pelatihan bisnis (business coaching) atau pelatihan manajemen
pengelolaan usaha di industri kreatif.
c) Pemerintah (government)
Tugas pemerintah adalah mengatur mekanisme program, seperti
pemberian insentif, pengendali iklim usaha, dan pemberi arahan kreatif untuk
mendukung pengembangan industri kreatif. Peran utama pemerintah dalam
pengembangan industri kreatif, yaitu sebagai berikut :
1) Katalisator
Peran pemerintah adalah sebagai fasilitator, dan advokasi, yang
memberi rangsangan, tantangan, dorongan agar ide-ide bisnis bergerak ke
tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Dukungan itu bisa berupa finansial,
insentif, proteksi, dan komitmen pemerintah untuk menggunakan kemauan
politiknya secara proporsional, dan memberikan pelayanan administrasi
publik dengan baik.
2) Regulator
Pemerintahlah yang menghasilkan kebijakan-kebijakan untuk
menciptakan iklim usaha yang kondusif yang berkaitan dengan orang,
industri,intermediasi, sumber daya, dan teknologi.
3) Konsumen, investor, dan entrepreneur
Pemerintah sebagai investor harus dapat memberdayakan aset
negara untuk lebih produktifdalam lingkup industri kreatif. Sebagai
konsumen pemerintah harus mengambil kebijakan untuk penggunaan
produk-produk industri kreatif. Sebagai entrepreneur, pemerintah berperan
serta secara tidak langung dan memiliki otoritas dalam pengelolaan Badan
Usaha Milik Pemerintah (BUMN).
4) Urban planner (perencana perkotaan)
Pemerintah harus merencanakan kota-kota kreatif. Kreativitas akan
tumbuh di kota-kota yang memiliki iklim kreatif.

D. Peran Aktor Ekonoimi Kreatif


Berdasarkan fokus utama pengembangan ekonomi kreatif, Kementerian
Perdagangan (2010-2014) telah memetakan masing-masing aktor pemegang peran
utama sebagai berikut :

1. Peran utama intelektual terdiri atas:


a) penyebar (disseminator) ilmu pengetahuan dan teknologi,
b) pelaksana (implerientor) ilmu pengetahuan dan teknologi,
c) pencipta nilai yang konstruktif dimasyarakat bagi pengembangan industri
kreatif. 
2. Peran utama pembisnis, terdiri atas:
a) pencipta (pasar, barang dan jasa kreatif, dan lapangan pekerjan).
b) pembentuk komunitas dan entrepreneur kreatif.
3. Peran utama pemerintah, terdiri atas:
a) katalisator dan advokasi,
b) regulator,
c) konsumen, investor, dan entrepreneur,
d) jangkauan publik (publick outreach).

Hasil dari kolaboarasi antaraktor tersebut diharapkan akan terjadi strategi


nasional, regional, dan sektoral, penciptaan jejaring atau komunitas,kebijakan,
kurikulum kreatif, produk dan jasa kreatif, lapangan pekerjaan kreatif, entrepreneur
kreatif, teknologi kreatif.

E. Pemegang Kepentingan dan Faktor Pendorong Ekonomi Kreatif


Terdapat tiga pemegang kepentingan, yaitu pemerintah, perusahaan, dan
masyarakat. Tugas masing-masing pemegang kepentingan ekonomi kreatif dapat
diuraikan sebagai berikut.

1. Pemerintah

Dalam ekonomi kreatıf, pemerintah berkepentingan untuk mengarahkan agar


mengutamakan kesejahteraan bersama, bukan sistem kapitalis yang individualis.
Selain itu, melalui ekononi kreatif, pemerintah juga berkepentingan untuk
memberdayakan masyarakat agar semakin kreatif dan produktif, serta melestarikan
warisan budaya dan lingkingan.

2. Perusahaan.

Dalam ekonomi kreatif perusahaan berkepentingan untuk keberlanjutan investasi


melalui keterlibatan masyarakat, pendekatan kemitraan, pola adaptasi terhadap
masyarakat lokal, serta mengembangkan kepemilikan dan kemandirian masyarakat.

3. Masyarakat

Dalam ekonomi kreatif, masyarakat berkepentingan untuk berpartisipasi,


pemberdayaan, dan kepemilikan usaha. Partisipasi masyarakat dalam industri kreatif
sangat penting. Masyarakat harus bisa bermitra, mengadaptasi, mengembangkan
usahanya sendiri, dengan cara mengubah pola pikir mereka, bahwa apa yang
dilakukannya harus ada nilai tambah dan berkualitas.

Ada tiga faktor pendorong ekonomi kreatif, yang meliputi:

1. teknologi (technology)
2. permintaan (demand)
3. turis (tourism)

Teknologi diperlukan untuk menciptakan pembaruan, percepatan, dan perluasan.


Industri kreatif harus segera beradaptasi dengan perubahan dan kemajuan teknologi.
Dengan menggunakan teknologi maka produk-produk baru dapat tercipta dengan
segera. Hasil pembaruan yang tercipta diperlukan untuk merespons permintaan.

Permintaan yang sernakin tinggi dapat mendorong ekonomi kreatif. Semakin


tinggi permintaan terhadap produk-produk ekonomi kreatif semakin tinggi rangsangen
untuk berkreasi dan berinovasi. Selain faktor teknologi dan faktor perinintaan,
perluasan ekonomi kreatif sangat ditentukan oleh faktor turis. Semakin banyak
turisme maka semakin tinggi permintaan terhadap produk ekonomi kreatif, dan
semakin tinggi permintaan terhadap produk-produk ekonomi kreatif maka semakin
cepat perluasan ekonomi kreatif. Semakin cepat perluasan ekonomi kreatif maka
semakin tinggi turisme yang datang.

F. Kreativitas Dalam Kinerja Bisnis


Untuk melihat seberapa jauh kreativitas daiam kinerja bisnis, bisa diamati dari
beberapa indikator, seperti volume usaha, skala usaha, cakupan usaha, daya saing,
pangsa pasar, jumlah pelanggan, banyaknya saluran distribusi, jumlah karyawan, rasio
modal, jumlah relasi-mitra usaha, banyaknya pesanan (order), permintan, dan
tingginya proftablitas.

Kinerja bisnis sangat bergatung pada tingkat produktivitas bisnis itu sendiri.
Produktivitas bisnis adalah kemampuan bisnis untuk menghasilkan barang dan jasa
yang memuaskan pelanggan (customer satisfaction) yang dicirikan oleh selalu
mengingat (retention), dan terus loyal berlangganan (loyality). Kepuasan pelanggan
itu sendiri terjadi apabila:

1. memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan/konsumen,


2. sesuai standar, dan
3. bernilai atau memiliki manfaat.

Kinerja bisnis ditentukan oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal.
Dalam ekonomi kreatif, kinerja bisnis ditentukan oleh produktivitas, iklim kreatif,
inovasi, riset, dan pengembangan dari kelas kreatif. Untuk meningkatkan
produktivitas bisnis, kelas kreatif berperan melakukan riset dan pengembangan,
berinovasi, dan mengembangkan desain-desain baru. Kelas kreatif juga
menumbuhkan iklim kreatif yaag mendorong bisnis berkinerja tinggi.

Pentingnya kreativitas dalam kinerja bisnis, Tether (2005) yang dikutip oleh
Departemen Perdagangan (2008: 58), mengemukakan hubungan antara kreativitas dan
desain ke dalam kinerja bisnis sebagai berikut :

1. Kreativitas, selain diperlukan untuk pengembangan desain dan kegiatan penelitian


dan pengembangan (research and development), kreativitas juga penting untuk
Pembentukan iklim kreatif. Dalam pengembangan desain diperlukan kreativitas
dari para kreator yang mampu menciptakan ide-ide, gagasan-gagasan, imajinasi-
imajinas untuk merancang desain. Demikian juga dalam riset dan pengembangan
diperlukar kreativitas dari para aktor untuk terus melakukan riset-riset dan
pengembangan untuk meningkatkan produkctivitas dan kinerja bisnis.
2. Inovasi, bergantung pada berapa banyak desain dikembangkan dan riset-riset
dilakukan oleh kelas kreatif.
3. Produktivitas bisnis, sangat bergantung pada seberapa banyak inovasi dilakukan
dan desain dikembangkan. Semakin tinggi tingkat inovasi yang dilakukan maka
semakin tinggi produktivitas perusahaan yang berarti semakin tinggi pula kinerja
bisnis.
4. Kinerja bisnis, sangat bergantung pada banyak faktor, seperti idim kreatif, kreatif
produktivitas, dan ragam desain yang dikembangkan secara terus-menerus. Untuk
menciptakan kinerja bisnis yang tinggi diperlukan tingkat produktivitas yang
tinggi dan iklim bisnis yang kondusif, serta pengembangan desain yang terus-
menerus oleh kelompok kelas kreatif.
5. Iklim bisnis, ini yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dalam
menciptakan kinerja bisnis. Semakin kondusif iklim bisnis maka semakin tinggi
kinerja bisnis.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perkembangan ekonomi kreatif sangat bergantung pada berbagai faktor dan
komponen,seperti faktor modal, komponen inti, komponen pendukung, aktor
penggerak, dan faktor pendorong. Kondisi ekonomi yang diharapkan oleh
Indonesia adalah ekonomi yang berkelanjutan.Keberlanjutan yang dimaksud
adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap kondisi geografis dan tantangan
ekonomi baru, yang pada akhirnya menghasilkan keberlanjutan pertumbuhan
(sustainable growth). Pertumbuhan yang tinggi tercermin dari kompetensi
individu dalam menciptakan inovasi.

Berdasarkan fokus utama pengembangan ekonomi kreatif, Kementerian


Perdagangan telah memetakan masing-masing aktor pemegang peran utama yaitu
peran untma intelektual, pebisnis dan pemerintah. Hasil dari kolaboarasi antar aktor
tersebut diharapkan akan terjadi strategi nasional, regional, dan sektoral, penciptaan
jejaring atau komunitas,kebijakan, kurikulum kreatif, produk dan jasa kreatif,
lapangan pekerjaan kreatif, entrepreneur kreatif, teknologi kreatif.

Subsektor industri kreatif nasional yang ada perlu dikelompokkan ke dalam


kategori-kategori yang memiliki kesamaan dari dua aspek utama: substansi yang
dominan dan tingkat keahlian SDM dalam industri tersebut. Pengelompokan
subsektor industri kreatif tersebut dilakukan dengan memperhatikan dua dimensi,
yaitu substansi yang dominan dalam subsektor industri kreatif tersebut, dan intensitas
sumber daya yang dibutuhkan pada subsektor industri kreatif tersebut.

B. Saran
Apabila ingin menciptakan ekonomi kreatif di era persaingan global dan
menciptakan peluang yang banyak dalam dunia industri kreatif haruslah berpikir
kreatif yaitu imajinasi, abstrak dan observasi, dan pemerintah maupun masyarakat
Indonesia harus berperan aktif dengan bertindak inovatif, yaitu melakukan sesuatu
yang  berbeda dan sesuatu yang baru.
DAFTAR PUSTAKA
Purnomo , Rochmat Aldy. 2016.Ekonomi kreatif: pilar Pembangunan Indonesia. Surakarta:
Ziyad Visi Media