Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH PRESENTASI KASUS PREKLINIK

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS LOW BACK PAIN (LBP)


ISCHIALGIA DI POLI FISIOTERAPI RSJ dr. RADJIMAN
WEDIODININGRAT LAWANG

Disusun Oleh:

Disusun Oleh:

PRIBAYU EKA ADITYA (201610490311015)


PRISKILA JUNELIN (201610490311067)

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2020

ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah presentasi kasus preklinik yang
berjudul “Penatalaksanaan Fisoterapi pada kasus Low back pain (LBP) Ischialgia
di Poli Fisioterapi RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang” tepat pada
waktunya. Penulisan tugas ini merupakan salah satu prasyarat dalam mengikuti
Preklinik di RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang.
Dalam penyusunan tugas ini, banyak pihak yang telah membantu dari awal
hingga akhir, baik moral maupun material. Oleh karena itu pada kesempatan ini,
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Padni Wiyarti, A. Md. Ft selaku Kepala Poli Fisioterapi RSJ Radjiman
Wediodiningrat Lawang.
2. Bapak A. Joko Saptono, SST. Ft dan Bapak Rifki Adi Laksana, S. Tr Ft
selaku pembimbing laporan ini, atas bimbingan, saran dan masukan
selama penyusunannya.
3. Seluruh pegawai Poli Fisioterapi yang bertugas di RSJ Radjiman
Wediodiningrat Lawang atas bimbingan selama praktik Preklinik.
4. Kakak Valinida selaku kakak tingkat Profesi UMM atas bantuan materi,
ilmu dan kebaikan hatinya selama satu bulan di RSJ Radjiman
Wediodiningrat Lawang.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
saran dan kritik membangun, sangat penulis harapkan demi perbaikan tugas serupa
di waktu berikutnya. Semoga tugas ini juga dapat memberi manfaat bagi pihak
yang berkepentingan.

Lawang, 28 Februari 2020

Penulis

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aktivitas sehari-hari dan manusia adalah satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Aktivitas tersebut berupa kemampuan manusia untuk
melakukan kebutuhan untuk dirinya seperti berdiri, berjalan, makan,
mandi, bekerja, bersosialisasi di lingkungan masyarakat dan sebagainya.
Banyaknya aktivitas tersebut, tak jarang membuat sebagian besar
masyarakat mengeluhkan nyeri pada tubuhnya. Kesalahan postur yang
buruk saat beraktivitas sangat berpengaruh terhadap munculnya nyeri pada
tubuh, misalnya posisi tubuh ketika duduk dikursi, posisi mengangkat
barang yang letaknya lebih rendah, dan posisi tidur yang baik dan benar.
Kurang tepatnya posisi postur saat melakukan aktivitas yang bersifat
berulang-ulang dan terus menerus, tentunya menimbulkan keluhan nyeri,
terutama low back pain. Enam dari sepuluh orang menderita low back
pain setiap tahunnya. Punggung bawah menyangga sebagian berat tubuh,
sehingga otot rangka dan ligament padaarea punggung bawah rentan
terhadap kerusakan (Davies, 2007).
Low back pain (LBP) atau yang biasa disebut low back pain adalah
salah satu keluhan umum di AS. Perkiraan sebesar 25% masyarakat
mengunjungi dokter dengan keluhan low back pain (Amir Qaseem, 2017).
Studi Global Penyakit mengatakan low back pain merupakan penyebab
utama keterbatasan dalam bekerja dan beraktivitas sehari-hari seperti
membawa barang berat, berjalan, duduk dan itu menyebabkan beban
ekonomi yang sangat besar pada individu, keluarga, komunitas, industri
dan pemerintah (Damian Hoy, 2014).
Fisioterapi adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang
menangani cedera, salah satunya yaitu low back pain (LBP) atau nyeri
pada punggung bagian bawah. Ada beberapa faktor mengapa terjadi LBP
atau nyeri pada punggung bawah, yaitu trauma, osteoporosis, rheumatoid
arthritis, degenerasi cakram antara vertebra atau herniasi tulang belakang,
vertebralis fraktur kompresi disertai spondilosis lumbales (Rafiq Ahmed,
2014).
Kasus LBP yang menekan saraf ischiadicus disebut ischialgia.
Kasus ischialgia akan menyebabkan pasien mengeluh nyeri menjalar dari
pinggang bawah sampai jari-jari kaki, sesuai dengan persyarafan saraf
ischiadicus. Dalam kasus ini ischialgia terjadi karena adanya spondilolis
lumbales dan posterolisthesis L5. Tanpa mengenal jenis umur dan jenis
kelamin low back pain bisa menyerang siapa saja. Di Indonesia sendiri
dilakukan penelitian oleh kelompok studi nyeri (Pokdi Nyeri) PORDOSSI
(Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia) pada bulan Mei 2002 di 14
rumah sakit pendidikan, dengan hasil menunjukan bahwa kejadian nyeri
pinggang bawah meliputi 18,37 % diseluruh kasus nyeri 3 yang ditangani.
Dari penjelasan di atas penulis penulis tertarik melakukan penatalaksanaan
fisioterapi dengan modalitas Ultrasound, TENS dan Exercise untuk
mengatasi gangguan yang dialami pasien.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana kasus low back pain ischialgia dalam penatalaksanaan
fisioterapi di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang ?
C. Tujuan Penulisan
Mengobservasi dan menganalisa proses penatalaksanaan fisioterapi serta
efek terapi pada kasus low back pain ischialgia di RSJ Dr. Radjiman
Wediodiningrat Lawang.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai pembelajaran, bahan pustaka untuk observasi
selanjutnya dan sebagai tambahan bahan pustaka untuk pengemban
ilmu.
2. Bagi Masyarakat
Dapat memberikan informasi dan pengetahuan baru tentang kasus low
back pain ischialgia.
3. Bagi Fisioterapi
Dapat dijadikan sebagai acuan dan tambahan ilmu pengetahuan dalam
menangani kasus low back pain ischialgia.

E. Keaslian Penelitian

Sampel
No Pengarang Judul Hasil
Penelitian
1 Mahardika Penatalaksanaan Pasien dengan Setelah
Indeswari Fisioterapi kasus keluhan low dilakukan 6
Putri, 2019 low back pain et back pain kali terapi di
causa ischialgia ischialgia dapatkan,
di RSUD yang sedang pengurangan
KAB.SUKOHA menjalani nyeri,
RJO pengobatan di peningkatan
RSUD KAB. LGS, dan
SUKOHARJ peningkatan
O kekuatan
otot.
2 Roudhotul Penatalaksanaan Pasien dengan Setelah di
Karimah, 2019 Fisioterapi pada keluhan low lakukan 6
kasus ischialgia back pain kali terapi di
sinistra et causa ischialgia dapatkan,
low back pain di yang sedang penurunan
RUMAH SAKIT menjalani nyeri, terjadi
JIWA PROF. pengobatan di peningkatan
DR. SOEHARJO rumah sakit MMT,
MAGELANG jiwa prof. Dr. peningkatan
SOEHARJO gerak trunk,
MAGELANG peningkatan
kekuatan otot
danLGS.
3 Hapsari Penatalaksanaan Pasien dengan Setelah
Santika, 2015 Fisioterapi pada keluhan low dilakukan 6
low back pain back pain kali terapi di
karena ischialgia ischialgia dapatkan,
dengan modalitas yang sedang penurunan
Short Wave menjalani nyeri,
Diathermy pengobatan di peningkatan
(SWD) dan RSUD LGS, dan
terapi latihan di PANDAN peningkatan
RSUD ARANG kekuatan
PANDAN BOYOLALI otot.
ARANG
BOYOLALI
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Ischialgia adalah kondisi dimana ada rasa sakit, rasa lemah, rasa
panas, dan kesemutan di sepanjang kaki bagian belakang (sepanjang
persyarafan Ischiadicus) yang disebabkan oleh kompresi atau kecelakaan.
Ischialgia memiliki banyak istilah seperti Lumbosacral Radiculer
Syndrome, nyeri pada akar syaraf, dan penjepitan akar syaraf. Ischialgia
biasanya terkait dengan faktor usia dan riwayat trauma. Pada kondisi ini
terdapat adanya keluhan nyeri, keterbatasan LGS, dan penurunan kekuatan
otot (Wibowo, 2013).
Ischialgia menyerang nervus Ischiadicus yang berasal dari radiks
posterior L4-S3. Ischialgia menimbulkan nyeri sepanjang distribusi
sensorik nervus Ischiadicus. Oleh karena itu, nyeri yang dialami sering
muncul pada bagian posterior paha dan lateral tungkai. Ischialgia dapat
disebabkan oleh prolapse discus intervertebralis dengan tekanan pada satu
atau dua akar nervus spinalis lumbalis bawah dan nervus sacralis, tekanan
pada plexus sacralis atau nervus ischiadicus oleh tumor intrapelvis,
peradangan pada nervus ischiadicus atau ramus terminalisnya (Snell,
2014).
B. Anatomi Vertebra
1. Tulang Vertebra
Tulang vertebra adalah susunan tulang yang dalam columna
vertebralis berfungsi untuk menjaga tubuh pada saat posisi berdiri.
Tulang-tulang vertebra diperkuat oleh ligamen dan otot-otot untuk
menahan berat badan dan sekaligus mengatur keseimbangan
gerakannya. Columna vertebralis tersusun oleh tulang vertebra yang
terdiri dari 7 tulang vertebrae cervical, 12 tulang vertebrae thoracic, 5
tulang vertebrae lumbal, tulang sacrum dan coccyx. Tulang sacrum
merupakan susunan dari 5 tulang vertebrae sacrales, dan coccyx
terdiri dari 4 tulang vertebrae coccyeae. Dengan demikian punggung
di susun oleh 33 tulang vertebra. (Rawls & Fisher, 2010).

Gambar 2.1 Tulang Belakang (Dorlan, 2011)

2. Discus Intervertebralis
Discus intervertebralis adalah struktur penghubung antara
vetrebrae yang cukup besar, yang memberikan bantalan dan
memungkinkan untuk gerakan antara vertrebrae. Lapisan yang
disebut anulus fibrosus dan pusat gel seperti nukleus pulposus.
Setiap diskus intervertebral terdiri dari dua bagian. Anulus fibrosus
adalah lapisan luar yang kuat anulus (cincin/lingkaran)
mengelilingi nucleus pulposus. Nucleus pulposus, terdiri dari
bahan yang lebih lembut, seperti gel. Nucleus pulposus mempunyai
kandungan cairan yang sangat tinggi sehingga dapat menahan
beban kompresi serta berfungsi untuk mentransmisikan beberapa
gaya ke annulus & sebagai shock absorber (Moore & Dalley,
2013).
Gambar 2.2 Discus Intervertebralis (College, 2013)

3. Facet
Ruas tulang belakang memiliki gerakan (artikulasi)
tambahan yang di sebut facet di mana tulang rusuk terpasang.
Facet joint dan diskus memberikan sekitar 80% kemampuan spine
untuk menambah gaya rotasi, torsion dan shear. Facet join juga
menopang sekitar 30% beban kompresi pada spine terutama pada
saat spine hiperekstensi. Apabila diskus intervertebralis dalam
keadaan baik, maka facet joint akan menyanga beban axial
sebanyak 20% sampai dengan 25%, tetapi ini dapat mencapai 70%
apabila diskus intervertebralis mengalami degenerasi (Yanuar,
2002).
4. Sistem Saraf
Medula Spinal melepaskan saraf spinal (nerve Spinalis)
yang berjumlah 31 pasang. Pada permukaan ventral dan dorsal
medula spinal akan keluar beberapa anak akar saraf, dan bertaut
untuk membentuk akar venteral (radix anterior) dan akar dorsal
(radix posterior). Dalam radix postrior terdapat serabut aferen atau
sensoris dari kulit, jaringan subkutan dan profunda, dan seringkali
dari visera radix antrior terdri dari serabut eferen atau motoris untk
otot kerangka. Terdapat 8 pasang nerve cervicalis, 12 pasang nerve
thoracius, 5 pasang nerve lumbalis, 5 pasang nerve sacralis, dan 1
pasang nerve coccygeus merupakan pembagian dari nerve spinalis
(Guntara, 2016).
5. Ligament

Gambar 2.3 Ligament Vertebrae (Putz R & Pabst R, 2006)

Tabel 2.1 Ligamen-ligamen lumbal (Bridwell, 2017)

No Ligamen Perletakan Fungsinya


Ligament longitudinal Axis-sacrum Extension &
anterior memperkuat
1.
depan annulus
fibrosis
Ligament longitudinal Axis-sacrum Extension &
posterior memperkuat
2.
depan annulus
fibrosis
Ligament Lumbal Lateral fleksi
3.
intertransverse
4. Ligament flavum Axis-sacrum Fleksi
5. Ligament interspinosus Lumbal Fleksi
Ligament supraspinosus Thoracic & Fleksi lumbal.
6.
lumbal

6. Muscle Vertebrae
7.

Gambar 2.4 Muscle Vertebrae (Britanica, 2008)

Tabel 2.2 Otot-Otot Punggung dan Perut (More and Daley, 2013)

No Otot Origo Insersio Fungsi


1. Iliocostalis Processus Superior Ekstensi
thoracis Pars medial angulus costae Vertebrae.
lumbal facies 1-6
lumbal kacies
superior
angulus
costae.
2. Longisimus Processus Ujung Ekstensi
thoracis transversus processus Vertebrae.
vertebrae transversus
lumbal dan vertebrae
tacia. thoracalis
3. Semispinali Processus Processus Ekstensi
s thoracis spinosus dan vertebrae 5-7. Vertebrae.
vertebrae
thoracalis 11-
12.
4. Multifidus Processus Processus Ekstensi
transversus spinosus ke 2 dan
dan vertebrae dan vertebrae Lateral
thoracalis. lumbalis 5. rotasi.
5. Psosas Processus Leser Fleksi dan
mayor vertebrae throcanter of rotasi hip.
lumbal 1-5 femur
dan vertebrae
thoracolis.
6. Obliqus Antero inferior Crista iliaca fleksi
intermus costae 5- 12. inguinalligame trunk dan
abdominis n t dan linea lateral
alba fleksi.
7. Obliqus Crista iliaca Margin Fleksi
extermus anterior, inferior costae trunk dan
abdominis fascia thoraco 7-12 linea lateral
lumbalis dan alba. fleksi
inguinal Processus colum
ligament. xiphoideus vertebrae
lateral
rotasi.
8. Quadratus Crista iliaca Costae 12 dan Hiperekst
lumborum dan ligament processus ensi
iliolumbalis. transversus lumbal,
L1-4. lateral
fleksi
trunk,
ipsilateral
elevasi
hip.
9. Rectus Symphisis Costa Fleksi
abdominis pubis dan cartilago 5-7 vertebrae.
crista iliaca. dan processus
xiphoideus.
10. Iliocostalis Sacrum dan Costae inferior Ekstensi
lumborum crista iliaca 6-7. vertebrae.
processus
spinosus
vertebrae
thoracalis 11-
12.
11. Longisimus Processus Ujung Ekstensi
thoracis transversus rocessus vertebrae.
vertebrae transversus
lumbalis dan vertebrae
facia thoracalis dan
didekatnya. costae 7-12.
12. Rotatores Processus Processusspin Ekstensi
longus dan transversus os us segment vertebrae
brevis satu segment kedua dan
vertebrae. vertebrae rotasi.
(longus) dan
processus
spinosus
seluruh
ligament
vertebrae
(brevis).
C. Patofisiologi
Menurut Sidharta (1999) dalam Sanjaya (2014), vertebra manusia
terdiri dari cervikal, thorakal, lumbal, sakral, dan koksigis. Nervus
ischiadicus adalah berkas saraf yang meninggalkan pleksus lumbosakralis
dan menuju foramen infrapiriformis dan keluar pada permukaan tungkai di
pertengahan lipatan pantat. Pada apeks spasium poplitea nervus
ischiadicus bercabang menjadi dua yaitu nervus perineus komunis dan
nervus tibialis. Ischialgia timbul akibat perangsangan serabut-serabut
sensorik yang berasal dari radiks posterior lumbal 4 sampai sakral 3, dan
ini dapat terjadi pada setiap bagian nervus ischiadicus sebelum sampai
pada permukaan belakang tungkai.

D. Etiologi
Menurut Sidharta (1979) dalam Sanjaya (2014), ischialgia dibagi
menjadi tiga yaitu:
1. Ischialgia sebagai perwujudan neuritis ischiadicus primer
Ischialgia akibat neuritis ischiadicus primer adalah ketika nervus
ischiadicus terkena proses radang. Tanda dan gejala utama neuritis
ischiadicus primer adalah nyeri yang dirasakan bertolak dari daerah
sakrum dan sendi panggul, tepatnya di foramen infra piriformis atau
incisura ischiadica dan menjalar sepanjang perjalanan nervus
ischiadicus dan lanjutannya pada nervus peroneus dan tibialis. Nyeri
tekan ditemukan pada incisura ischiadica dan sepanjang spasium
poplitea pada tahap akut, juga tendon archiles dan otot tibialis anterior
dan peroneus longus terasa nyeri pada penekanan. Kelemahan otot
tidak seberat nyeri sepanjang tungkai. Karena nyeri itu maka tungkai
di fleksikan, apabila diluruskan nyeri bertambah hebat. Tanda-tanda
skoliosis kompensatorik sering dijumpai pada ischialgia jenis ini.

2. Ischialgia sebagai perwujudan entrapment radikulitis atau radikulopati


Pada ischialgia radikulopati merupakan akibat dari jebakan oleh
tumor, nukleus pulposus yang menjebol ke dalam kanalis vertebralis
maupun osteofit atau peradangan (rematois spondilitis angkilopoetika,
herpes zoster, tuberkulosa) yang bersifat menjerat dan terjadi
radikulopati. Pola umum ischialgia adalah nyeri seperti sakit gigi atau
nyeri hebat yang dirasakan bertolak dari vertebra lumbosakralis dan
menjalar menurut perjalanan nervus ischiadicus dan lanjutannya pada
nervus peroneus atau nervus tibialis. Makin jauh ke tepi nyeri makin
tidak begitu hebat, namun parestesia atau hipoastesia sering dirasakan.

3. Ischialgia sebagai perwujudan entrapment neuritis


Unsur-unsur nervus ischiadicus yang dibawakan oleh nervus L4,
L5, S1, S2 dan S3 menyusun pleksus lumbosakralis yang berada di
fasies pelvina os sakri. Di situ pleksus melintasi garis sendi
sakroiliaka dan sedikit lebih distal membentuk nervus ischiadicus
yang merupakan saraf perifer terbesar. Selanjutnya dalam
perjalanannya ke tepi nervus ischiadicus dapat terjebak dalam
bangunan-bangunan yang dilewatinya. Pada pleksus lumbosacral
dapat diinfiltrasi oleh sel-sel karsinoma ovarii, karsinoma uteri atau
sarcoma retroperineal. Sanjaya, A. 2014. Penatalaksanaan Fisioterapi
Pada Ischialgia Sinistra Post Fraktur Kompresi Vl 4 – Vl 5 Di RSUD
Sukoharjo. Surakarta : Program Studi Diploma III Fisioterapi Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

E. Tanda dan Gejala Klinis


Pada kasus ischialgia akibat spasme otot vertebra, m. Piriformis,
m. Hamstring dan m. Gastrocnemius, nyeri berasal dari daerah pantat dan
menjalar menurut perjalanan n. Ischiadicus dan selanjutnya pada n.tibialis
dan n. Peroneus communis. Adanya nyeri tersebut membuat pasien enggan
menggerakkan badannya sehingga lama kelamaan akan menimbulkan
keterbatasan gerak dan kelemahan otot. Spasme otot sudah pasti terjadi
pada daerah m. Piriformis karena pada kasus ini penyebabnya adalah
spasme m. Piriformis. Namun akibatnya juga bisa menimbulkan spasme
pada otot lain. Pada m. Hamstring dan m. Gastrocnemius juga kadang
lebih tegang dari yang lain. Pada kasus ischialgia ini gangguan aktivitas
terjadi karena pada tungkai yang sakit mengalami penurunan kekuatan otot
akibat nyeri sehingga kaki yang sehat menjadi tumpuannya.
BAB III

STATUS KLINIS

I. KETERANGAN UMUM PENDERITA


Nama : Ny. Sutatik
Umur : 65 Th
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Alamat : Pasar Lawang
II. DATA-DATA MEDIS RUMAH SAKIT
A. DIAGNOSIS MEDIS
Sciatica, Lumbar Region
B. CATATAN KLINIS
Terdapat hasil lab berupa foto rotgen, tetapi tidak memiliki keterangan
kesimpulan
C. RUJUKAN DARI DOKTER
Dokter spesialis rehab medik
III. SEGI FISIOTERAPI
A. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF
B. ANAMNESIS (AUTO/HETERO)
1. KELUHAN UTAMA
Pasien mengeluhkan nyeri pada area punggung bawah sampai pada
paha kanan belakang, nyeri semakin terasa saat pasien posisi
membungkuk, duduk lama dan ber jalan dalam waktu yang lama.
2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
(Sejarah keluarga dan genetic, kehamilan, kelahiran dan perinatal, tahap perkembangan, gambaran
perkembangan, dll)

Keluhan mulai dirasakan pasien sejak tahun 2018, nyeri tiba-tiba terasa
pada saat pasien sedang beraktifitas, awalnya hanya terasa pada
punggung bawah, kemudian menjalar sampai ke paha kanan belakang.
Setelah itu pasien memeriksaan diri ke dokter dan mendapatkan
rujukan ke poli fisioterapi.
3. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu.
4. RIWAYAT PENYAKIT PENYERTA
Hipertensi
5. RIWAYAT PENGOBATAN
Terapi medika mentosa
6. ANAMNESIS SISTEM
a. Kepala dan Leher
Tidak terdapat gangguan
b. Kardiovaskular
Hipertensi
c. Respirasi
Tidak terdapat gangguan
d. Gastrointestinal
Tidak terdapat gangguan
e. Urogenital
Tidak terdapat gangguan
f. Musculoskeleta
Spasme : m. Paravertebra lumbal, m. Hamstring (d), m. Gluteus
maximus (d), m. Quadratus lumborum (d)
Nyeri : Terasa dari punggung bawah sampai paha kanan belakang.
g. Nervorum
Nyeri menjalar dari punggung bawah sampai paha kanan belakang.
C. PEMERIKSAAN
1. PEMERIKSAAN FISIK
a) TANDA-TANDA VITAL
Tekanan Darah : 133/80 mmHg
Denyut nadi : 86 x/menit
Pernapasan : 22 x/menit
Temperatur : 36,5 ºC
Tinggi badan : 150 cm
Berat badan : 65 kg
b) INSPEKSI (STATIS & DINAMIS)
(Posture, Fungsi motorik, tonus, reflek, gait, dll)

Statis :
Postur pasien nampak forward head dan hiper lordosis lumbal.
Pelvic tampak asimetris
Dinamis :
Pasien nampak kesulitan dari posisi tengkurap ke terlentang, dan
nampak pola jalan pasien tidak terdapat heel strike.
c) PALPASI
(Nyeri, Spasme, Suhu lokal, tonus, bengkak, dll)

Spasme pada m. Paravertebra lumbal, m. Gluteus maximus (d), m.


Hamstring (d), dan m. Quadratus lumborum (d).
Tidak ada perbedaan suhu antara area yang sakit dan sehat.
d) PERKUSI
Tidak dilakukan pemeriksaan perkusi
e) AUSKULTASI
Tidak dilakukan pemeriksaan auskultasi
f) GERAK DASAR
Gerak Aktif :

Bidang Gerak Range of Motion Nyeri


Fleksi Tidak full ROM +
Ekstensi Tidak full ROM -
Lateral Fleksi (d) Tidak full ROM +
Lateral Fleksi (s) Tidak full ROM +
Rotasi (d) Tidak full ROM -
Rotasi (s) Tidak full ROM -
Gerak Pasif :
Tidak dilakukan pemeriksaan gerak dasar pasif
Isometrik :
Mampu (+),
Bidang Gerak Nyeri
Tidak mampu (-)
Fleksi + -
Ekstensi + -
Lateral fleksi (d) + -
Lateral fleksi (s) + -
Rotasi (d) + -
Rotasi (s) + -

g) KOGNITIF, INTRA-PERSONAL, INTER-PERSONAL


Kognitif : Pasien mampu menceritakan riwayat penyakitnya.
Intrapersonal : Pasien mempunyai kemauan untuk sembuh.
Interpersonal : Pasien kooperatif dengan terapis.
h) KEMAMPUAN FUNGSIONAL DASAR, AKTIVITAS
FUNGSIONAL, & LINGKUNGAN AKTIVITAS
Menggunakan Oswestry Disability Index
2. PEMERIKSAAN SPESIFIK
(Nyeri, MMT, LGS, Antropometri, Sensibilitas, Tes Khusus, dll)

1. Nyeri menggunakan NRS

Pada pasien low back pain et causa ischialgia setelah dilakukan


pemeriksaan nyeri maka didapatkan hasil sebagai berikut :
Diam :3
Tekan :0
Gerak : 6 (fleksi lumbal)
2. ROM Lumbal
Aktif

AROM PROM
S = 20º - 0º - 60º S = 30º - 0º - 70º
F = 30º - 0º - 30º F = 40º - 0º - 30º
T = 60º - 0º - 70º T = 70º - 0º - 70º

3. MMT

Gerakan Nilai
Fleksi 3
Ekstensi 4
Rotasi (d) (s) 4

4. Tes spesifif

Tes Nyeri (+), Tidak nyeri (-)


Lasegue’s test +
Bragard’s test +
Patrick test -
D. UNDERLYING PROCCESS

PENURUNAN LGS PENURUNAN KEKUATAN OTOT

TENS
MCKENZIE EXERCISE CORE EXERCISE
SWD

 PENURUNAN NYERI
 LGS MENINGKAT
 PENURUNAN SPASME
 PENINGKATAN KEKUATAN OTOT

AKTIFITAS FUNGSIONAL PASIEN MENINGKAT


E. DIAGNOSIS FISIOTERAPI
(International Clatification of Functonal and disability)

Impairment
1. Spasme pada M. Paravertebra lumbal, M. Hamstring (d), M.
Gluteus maximus (d), M. Quadratus lumborum (d).
2. Nyeri pada punggung bawah hingga paha kanan belakang .
3. Penurunan LGS lower trunk.
4. Penurunan kekuatan otot abdomen.
Functional Limitation
Penurunan kemampuan fungsional seperti menunduk ketika sholat,
menunduk mengambil benda di bawah, berdiri dalam waktu yang lama
dan berjalan dalam waktu yang lama.
Disability
-
F. PROGNOSIS
Qua at Vitam : Bonam
Qua at Sanam : Dubia et bonam
Qua at Fungsionam : Bonam
Qua at cosmeticam : Bonam
G. PROGRAM/RENCANA FISIOTERAPI
1. Tujuan treatment
a) Jangka Pendek
Menurunkan nyeri
Menurunkan spasme
Meningkatkan LGS trunk
Meningkatkan kekuatan otot.
b) Jangka Panjang
Mengoptimalkan kemampuan fungsional pasien
2. Rencana tindakan
a) Teknologi Fisioterapi
1. TENS
Teknologi fisioterapi berupa elektroterapi yang
menggunakan arus listrik yang dapat mengaktivasi serabut
saraf yang akan menyampaikan berbagai informasi sensoris
ke sistem saraf pusat sehingga dapat mengurangi nyeri.
2. SWD
Teknologi fisioterapi yang memanfaatkan efek panas dalam
jaringan local menggunakan arus bolak balik dengan
frekwensi tinggi hingga dapat merileksasi otot, mengurangi
nyeri dan meningkatkan metabolisme sel-sel.
3. MC KENZIE EXERCISE
Merupakan tehknik latihan dengan menggunakan gerakan
badan terutama ke arah ekstensi, biasanya digunakan untuk
penguatan otot-otot ekstensor dan fleksor.
4. CORE EXERCISE
Adalah latihan untuk otot pada bagian pelvis, lower back,
pangkal paha, dan perut. Agar bekerja dengan baik,
meningkatkan stabilitas dan kekuatan otot.
H. PELAKSANAAN FISIOTERAPI
PERSIAPAN TERAPIS
Cuci tangan menggunakan handwash/handrub sebelum dan sesudah
kontak langsung dengan pasien.
1. TENS
PERSIAPAN ALAT
Pastikan alat dalam keadaan on.
Pastikan pad elektroda dalam keadaan baik.
Pastikan intensitas dalam keadaan nol.
PERSIAPAN PASIEN
Jelaskan pada pasien tentang treatment yang akan diberikan.
Pastikan pasien tidak memiliki gangguan sensibilitas.
Bersihkan area pain dan spasme menggunakan alcohol.
PELAKSANAAN TERAPI
Letakkan pad elektroda pada bagian medial dan lateral knee D/S
Atur alat sesuai toleransi pasien
F : 100 MHZ
I : Tolersansi pasien 40 mA
T : 16 menit
T : Premodulated
2. SWD
PERSIAPAN ALAT
Pastikan alat dalam keadaan on.
Cek kelengkapan alat
Pastikan intensitas dalam keadaan nol.
Cek fungsional alat dalam keadaan baik
PERSIAPAN PASIEN
Jelaskan pada pasien tentang treatment yang akan diberikan.
Posisikan pasien senyaman mungkin.
Selimuti area pain dan spasme dengan handuk.
PELAKSANAAN TERAPI
Posisikan elektroda secara coplanar.
Atur alat
F : 30 MHz
I : Toleransi pasien 6 W
T : 16 menit
T : Continoes
3. MC KENZIE EXERCISE
PERSIAPAN PASIEN
Jelaskan pada pasien tentang treatment yang akan diberikan.
Posisikan pasien senyaman mungkin.
PELAKSANAAN TERAPI
Instruksikan pasien untuk melakukan gerakan yang telah dijelaskan.
4. CORE EXERCISE
PERSIAPAN PASIEN
Jelaskan pada pasien tentang treatment yang akan diberikan.
Posisikan pasien senyaman mungkin.
PELAKSANAAN TERAPI
Instruksikan pasien untuk melakukan gerakan yang telah dijelaskan.

I. HASIL EVALUASI TERAKHIR

T0 T1 T2 T3
Diam 3 3 3 2
Nyeri
Tekan 0 0 0 0
Lumbal
Gerak 5 5 5 4
Fleksi 4 4 4 4
MMT Ekstens
4 4 4 4
Trunk i
Rotasi 4 4 4 4
S 20° - 0° - 60° 20° - 0° - 70° 20° - 0° - 70° 20° - 0° - 90°
LGS
F 30° - 0° - 30° 40° - 0° - 40° 40° - 0° - 40° 50° - 0° - 50°
Trunk
T 20° - 0° - 20° 20° - 0° - 20° 20° - 0° - 20° 20° - 0° - 20°
Spasme ++ ++ ++ ++
Oswestry
Disability Index

J. EDUKASI DAN KOMUNIKASI


Disarankan Pasien untuk membatasi aktivitas membungkuk yang
berlebihan, mengankat beban berat, dan jalan jauh. Kemudian pasien
juga dianjurkan untuk melakukan Mc Kenzie Exercise dan Core
Exercise seperti bridging di rumah semampu pasien. Latihan yang
dilakukan di rumah bisa dibantu oleh keluarga pasien.
BAB IV

KESIMPULAN

Low back pain ischialgia adalah kondisi dimana ada rasa sakit pada
punggung bawah dan rasa lemah, rasa panas, dan kesemutan di sepanjang kaki
bagian belakang (sepanjang persyarafan Ischiadicus) yang disebabkan oleh
kompresi atau kecelakaan. Ischialgia memiliki banyak istilah seperti Lumbosacral
Radiculer Syndrome, nyeri pada akar syaraf, dan penjepitan akar syaraf. Ischialgia
biasanya terkait dengan faktor usia dan riwayat trauma. kondisi ini terdapat
adanya keluhan nyeri, keterbatasan LGS, dan penurunan kekuatan otot. Low back
pain (LBP) yang dikarenakan adanya penekanan saraf ischiadicus atau yang biasa
disebut ischialgia ini akan menyebabkan pasien mengeluh nyeri menjalar dari
pinggang bawah sampai pada jari-jari kaki, sesuai dengan persyarafan saraf
ischiadicus.

Penatalaksanaan pada kasus lowback pain ischialgia ini seperti


farmakologi biasanya dilakukan pasien dengan tujuan untuk mengurangi nyeri.
akan tetapi fisioterapi juga bisa berperan untuk meminimalisir keluhan pasien
dengan cara pemberian terapi menggunakan modalitas TENS, SWD, serta latihan
Mc Kenzie Exercise dan Core Exercise yang bisa menurunkan intensitas nyeri,
spasme juga meningkatkan lingkup gerak sendi pasien low back pain ischialgia.

Anda mungkin juga menyukai