Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pulp Cleaning

Pulp cleaning merupakan pemisahan padatan – padatan pada hydrocyclone

menggunakan gaya sentrifugal (Krotscheck, 2006). Selain proses penyaringan,

pemisahan impurities dari pulp juga dapat dilakukan melalui proses di screening

dan cleaning system. Prinsip pemisahan impurities dari pulp dilakukan

berdasarkan perbedaan ukuran partikel dan densitas antara pulp dan impurities.

Proses pulp cleaning menggunakan hydrocyclone yang memanfaatkan gaya

sentrifugal dalam memisahkan impurities dari pulp. Variabel yang mempengaruhi

proses cleaning meliputi karakteristik stok, desain cleaner, dan variabel proses.

Sistem screening di PD#3 menggunakan jenis NOSS Screening yang terdiri dari 2

alat, yaitu :

2.1.1. Radiscreen

Berfungsi untuk memisahkan impurities dari slush pulp berdasarkan

perbedaan ukuran partikel. Dalam proses pemisahan impurities, radiscreen

bekerja pada konsistensi 2,5% – 3%. Radiscreen memiliki lubang plat screen

dengan diameter 8 mm. Partikel dengan ukuran yang lebih besar dari diameter

ukuran dari diameter plat screen akan tertahan sebagai reject dan dibuang ke

3
sewer, sedangkan partikel yang lolos dari saringan sebagai accept akan

dipompakan ke radiclone atau disebut juga atau disebut juga hydrocyclone.

Gambar 2.1.1 Prinsip Kerja Radiscreen

2.1.2. Radiclone

Radiclone merupakan canister bertekanan yang berfungsi untuk memisahkan

impurities dari slush pulp berdasarkan perbedaan densitas. Konsistensi pada

radiclone ini dijaga dalam rentang 0,4% – 0,8%. Di dalam canister terdapat

hydrocyclone. Hydrocyclone ada 2 jenis, yaitu forward hydrocyclone dan

reverse hydrocyclone yang bekerja dengan prinsip gaya sentrifugal.

Gambar 2.1.2 Prinsip Kerja Hydrcyclone

4
1. Forward Hydrocyclone

Forward hydrocyclone berfungsi untuk mengilangkan impurities yang

densitasnya lebih besar daripada slush pulp. Contoh impurities berupa silika,

pitch, metal. Forward cleaner pada PD#3 terdapat 6 stage, yaitu : primary

forward, secondary forward, tertiary forward, quartenary forward, quintary

forward, dan sextary forward.

2. Reverse Hydrocyclone

Reverse Hydrocyclone berfungsi untuk mengilangkan impurities yang

densitasnya lebih kecil daripada slush pulp. Contoh impurities berupa talk

dan plastik. Reverse cleaner pada PD#3 terdapat 1 stage, yaitu primary

reverse. Berikut perbedaan prinsip kerja forward hydrocyclone dan reverse

hydrocyclone.

Accept Reject
Feed Feed

Accept
Reject

Forward Hydrocyclone Reverse Hydrocyclone

Gambar 2.1. Perbedaan Forward dan Reverse Hydrocyclone

5
2.1. Cara Kerja Cleaner

Slush dipompakan melalui bagian sudut atas (top angle) cleaner, dengan adanya

kecepatan tinggi di dalam cleaner maka akan tercipta gaya sentrifugal. Reject

akan bergerak ke lapisan fluida pada dinding cleaner. Karena desain cleaner yang

berbentuk kerucut, maka slush akan tertekan oleh reject. Pada ujung cone dengan

permukaan yang mengecil (luas permukaan semakin kecil), maka tekanan akan

semakin besar, sehingga slush (densitas kecil) terdorong ke atas dan reject

(densitas besar) mengalir ke bawah.

Dari radiscreen, slush pulp akan dipompakan menuju cone primary forward.

Accept dari primary forward akan diteruskan ke primary reverse hingga double

decker. Sedangkan reject forward akan diteruskan ke stage selanjutnya, yaitu

hingga sextary forward. Reject sextary forward akan dibuang ke sewer.

Sedangkan untuk accept forward akan diteruskan dari sextary forward hingga

primary forward

Kualitas pulp yang dihasilkan pada pulp dryer department, sangat bergantung

pada cleaner performance. Cleaner performance dapat diketahui dengan melihat

parameter berupa pressure differential, thickening factor dan efisiensi cleaner.

2.2. Pressure Differential

6
Pressure differential merupakan perbedaan tekanan antara tekanan feed dengan

tekanan accept. Formula pressure differential dapat dilihat pada persamaan 2.1.

Berdasarkan teori Sixta (2006), pressure differential sebaiknya berada pada range

1 bar – 2 bar (100 kPa – 200 kPa). Namun, perusahaan memiliki range yang lebih

spesifik untuk setiap stage, seperti pada tabel 2.1.

Pressure differential = Feed pressure – Accept pressure ............................ 2.1

Berikut ini tabel 2.1 yang berisi data target pressure differential pada PD#3 line 2

Tabel 2.1 Target pressure differential pada PD#3 line 2

Stage Pressure Differential Target (kPa)


1st forward 150 – 160
2nd forward 105 – 115
3rd forward 100 – 110
4th forward 70 – 80
5th forward 80 – 90
6th forward 185 – 195
1st reverse 185 – 195

Ada beberapa stage pada PD#3 Line 2. Setiap stage memiliki range DP tertentu.

Target tersebut ditetapkan berdasarkan observasi dan expericence agar produksi

optimum dan kualitas optimum. DP tertinggi ditargetkan untuk primary forward

dan primary reverse, karena kualitas pulp terkait kandungan silika dalam pulp

tergantung pada kinerja cone primary forward dan primary reverse.

Pressure differential cone sebaiknya sesuai range, agar DP optimum. Sehingga,

pemisahan slush pulp dan impurities juga optimum dan kualitas pulp semakin

baik. Jika, pressure differential belum sesuai range, maka dapat disebabkan oleh

kondisi cone yang tidak lagi sesuai standarnya. Sehingga aliran umpan tidak

7
smooth lagi. Akibatnya, gaya sentrifugal kurang optimum. Sehingga, pemisahan

slush pulp dan impurities juga tidak optimum. Untuk mengatasinya, cone perlu

diganti. Sehingga, DP dapat terjaga pada kondisi optimum.

2.3. Thickening Factor

Thickening factor merupakan perbandingan antara konsitensi reject terhadap

konsistensi feed.

reject consistency
Thickening factor = ............................................. 2.2
feed consistency

Berdasarkan teori Sixta (2006), range thickening factor adalah 1,5 – 3. Nilai

thickening factor yang kecil (<1,5), dapat disebabkan oleh pressure differential

yang kurang optimum maupun kondisi cone yang kurang layak. Kecilnya angka

TF menunjukkan bahwa sedikit reject yang dihasilkan. Di satu sisi, jika reject

sedikit, maka dapat menguntungkan, karena sedikit jumlah pulp yang terbuang,

sehingga produksi pulp dapat meningkat. Namun, secara kualitas, sedikitnya

jumlah reject dapat merugikan, karena jika reject sedikit, maka dapat dipahami

bahwa proses pemisahan impurities kurang maksimal, dan dikhawatirkan jumlah

impurities dalam accept masih banyak. Sehingga kualitas pulp kurang baik.

Begitu juga sebaliknya, jika nilai thickening factor lebih besar dari 3, maka akan

menguntungkan secara kualitas, namun merugikan secara kuantitas, karena

banyak pulp yang terbawa ke reject bersama impurities.

2.4. Efisiensi Cleaner

Efisiensi cleaner merupakan parameter yang dihitung berdasarkan jumlah

impurities. Impurities yang terdapat dalam pulp, dapat mempengaruhi kualitas

8
pulp dan dapat merusak alat, karena gesekannya. Efisiensi cleaner dapat dihitung

menggunakan persamaan 2.3 berikut ini :

Dirt count ( feed )−Dirt count (accept )


% efficiency= x 100 % ........................... 2.3
Dirt count( feed)

Dirt count (feed) merupakan jumlah pengotor yang terhitung pada umpan pulp,

sedangkan dirt count (accept) merupakan jumlah pengotor pada pulp yang

diterima (yang telah bersih). Persamaan di atas merupakan persamaan umum.

Namun, kini masalah yang ditemukan adalah ditemukan silika dalam pulp,

sehingga sering menjadi keluhan dari customer. Oleh karena itu, efisiensi cleaner

dihitung berdasarkan jumlah silika.

silica feed−silicaaccept
% efficiency= x 100 % ............................................ 2.4
silica feed

Perusahaan menetapkan target minimal efisiensi cleaner adalah 75% – 80%.

Untuk meningkatkan efisiensi cleaner, dapat dilakukan beberapa opsi berikut ini :

1. Perkecil konsistensi umpan

2. Perbesar gaya sentrifugal (pressure)

3. Perbesar waktu tinggal

4. Perkecil impurities

5. Perbesar laju pembuangan partikel