Anda di halaman 1dari 17

JIHAN 

1. Definisi Kejang Demam

Menurut International League Against Epilepsy (ILAE) (1993, dalam Pellock, 2014) kejang demam
merupakan gangguan neurologis akut yang paling umum terjadi pada bayi dan anak-anak disebabkan tanpa
adanya infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam terjadi pada umur 3 bulan sampai 5 tahun dan jarang sekali
terjadi untuk pertama kalinya pada usia <6 bulan atau >3 tahun. Kejang demam dapat terjadi bila suhu tubuh
diatas 38oC dan suhu yang tinggi dapat menimbulkan serangan kejang. Menurut Maria (2011), setiap anak
dengan kejang demam memiliki ambang kejang yang berbeda dimana anak dengan ambang kejang yang
rendah terjadi apabila suhu tubuh 38 derajat Celsius tetapi pada anak yang memiliki ambang kejang yang
tinggi terjadi pada suhu 40 derajat Celsius bahkan bisa lebih dari itu. Demam dapat terjadi setiap saat dan
bisa terjadi pada saat setelah kejang serta anak dengan kejang demam memiliki suhu lebih tinggi
dibandingkan dengan penyakit demam kontrol (Newton, 2015).

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu aksilar
lebih dari 37,5⁰C, suhu rektal lebih dari 38⁰C) akibat suatu proses ekstrakranium, tanpa adanya infeksi pada
sistem saraf pusat, gangguan elektrolit, atau metabolik lain.Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur
6 bulan – 5 tahun.Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali
tidak termasuk dalam kejang demam.Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak
termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan
terjadi bersama demam. 1,17

2. Etiologi

Penyebab kejang demam adalah demam yang terjadi secara mendadak. Demam dapat disebabkan

infeksi bakteri, virus, maupun parasit, misalnya infeksi saluran napas atas. Tidak diketahui secara pasti

mengapa demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada anak lainnya, namun diduga ada

faktor genetik yang berperan. Setiap anak juga memiliki suhu ambang kejang yang berbeda, ada yang kejang

pada suhu 38⁰C, ada pula yang baru mengalami kejang pada suhu 40⁰C.7

Tasmin (2013), menjelaskan bahwa penyebab kejang demam hingga saat ini belum diketahui dengan
pasti. Kejang demam tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi dikarenakan pada suhu yang tidak terlalu
tinggi juga dapat menyebabkan kejang. Kondisi yang dapat menyebabkan kejang demam diantaranya adalah
infeksi yang mengenai jaringan ekstrakranial seperti otitis media akut, bronkitis dan tonsilitis (Riyadi, 2013).
Sedangkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (2013), menjelaskan bahwa penyebab terjadinya kejang
demam antara lain obat-obatan, ketidak seimbangan kimiawi seperti hiperkalemia, hipoglikemia, asidosis,
demam, patologis otak dan eklamsia (ibu yang mengalami hipertensi prenatal, toksimea gravidarum). Selain
penyebab kejang demam menurut data profil kesehatan Indonesia (2012) yaitu didapatkan 10 penyakit yang
JIHAN 

sering rawat inap di Rumah Sakit diantaranya adalah diare dan penyakit gastroenteritis oleh penyebab
infeksi tertentu, demam berdarah dengue, demam tifoid dan paratifoid, penyulit kehamilan, dispepsia,
hipertensi esensial, cidera intrakranial, indeksi saluran pernafasan atas dan pneumonia.

Kejang pada neonatus dan anak bukanlah suatu penyakit, namun merupakan suatu gejala penting
akan adanya penyakit lain sebagai penyebab kejang atau adanya kelainan susunan saraf pusat. Penyebab
utama kejang adalah kelainan bawaan di otak sedangkan penyebab sekundernya adalah gangguan metabolik
atau penyakit lain seperti penyakit infeksi. Negara berkembang, kejang pada neonatus dan anak sering
disebabkan oleh tetanus neonatus, sepsis, meningitis, ensefalitis, perdarahan otak dan cacat bawaan.
Penyebab kejang pada neontaus, baik primer maupun sekunder umumnya berkaitan erat dengan kondisi bayi
didalam kandungan dan saat proses persalinan serta masamasa bayi baru lahir. Menurut penelitian yang
dilakukan diIran, penyebab kejang demam dikarena infeksi virus dan bakteri (Dewi, 2014).

3. Klasifikasi Kejang Demam

Menurut American Academy of Pediatrics (2011), kejang demam dibagi menjadi dua jenis
diantaranya adalah simple febrile seizureatau kejang demam sederhana dan complex febrile seizure atau
kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang general yang berlangsung singkat
(kurang dari 15 menit), bentuk kejang umum (tonik dan atau klonik) serta tidak berulang dalam waktu 24
jam dan hanya terjadi satu kali dalam periode 24 jam dari demam pada anak yang secara neorologis normal,
Kejang berbentuk umum, tonik, dan atau klonik, tanpa gerakan fokal, anak dapat terlihat mengantuk setelah
kejang. Kejang demam sederhana merupakan 80% yang sering terjadi di masyarakat dan sebagian besar
berlangsung kurang dari 5 menit dan dapat berhenti sendiri. Sedangkan kejang demam kompleks memiliki
ciri berlangsung selama lebih dari 15 menit, kejang fokal atau parsial dan disebut juga kejang umum
didahului kejang parsial dan berulang atau lebih dari satu kali dalam waktu 24 jam. Menurut Chung (2014),
pada kejang demam sederhana umumnya terdiri dari tonik umum dan tanpa adanya komponen fokus dan
juga tidak dapat merusak otak anak, tidak menyebabkan gangguan perkembangan, bukan merupakan faktor
terjadinya epilepsi dan kejang demam kompleks umumnya memerlukan pengamatan lebih lanjut dengan
rawat inap 24 jam, Ada kelainan neurologis sebelum atau sesudah kejang,dapat bersifat fokal, multipel, atau
parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial,

4. Manifestasi Klinis Kejang Demam

Ngastiyah (2014), menyebutkan bahwa kejang pada anak dapat terjadi bangkitan kejang dengan suhu
tubuh mengalami peningkatan yang cepat dan disebabkan karena infeksi di luar susunan saraf pusat seperti
otitis media akut, bronkitis, tonsilitis dan furunkulosis. Kejang demam biasanya juga terjadi dalam waktu 24
jam pertama pada saat demam dan berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik,
klonik, tonik dan fokal atau akinetik. Pada umumnya kejang demam dapat berhenti sendiri dan pada saat
JIHAN 

berhenti, anak tidak dapat memberikan reaksi apapun untuk sejenak tetapi setelah beberapa detik atau
bahkan menit kemudian anak akan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf.

Djamaludin (2010), menjelaskan bahwa tanda pada anak yang mengalami kejang adalah sebagai
berikut : (1) suhu badan mencapai 39 derajat Celcius; (2) saat kejang anak kehilangan kesadaran, kadang-
kadang napas dapat terhenti beberapa saat; (3) tubuh termasuk tangan dan kaki jadi kaku, kepala terkulai ke
belakang disusul munculnya gejala kejut yang kuat; (4) warna kulit berubah pucat bahkan kebiruan dan bola
mata naik ke atas; (5) gigi terkatup dan terkadang disertai muntah; (6) napas dapat berhenti selama beberapa
saat; (7) anak tidak dapat mengontrol untuk buang air besar atau kecil

5. Patofisiologi Kejang Demam

Ngastiyah (2014), menjelaskan bahwa untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ
otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak terpenting
adalah glukosa. Sifat proses ini adalah oksidasi dengan perantara fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak
melalui kardiovaskular. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa yang
melalui proses oksidasi dipercah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari
permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neoron
dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium dan elektrolit lainnya
kecuali ion klorida. Akibatnya konsentrasi kalium dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi natrium rendah,
sedangkan di luar sel terdapat keadaan sebaliknya. Pada keadaan demam kenaikan suhu 1 derajat Celcius
akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basar 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan
orang dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium
melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian
besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan
yang disebut neurotransmitter dan terjadi kejang.

Faktor genetik merupakan peran utama dalam ketentanan kejang dan dipengaruhi oleh usia dan
metoritas otak. Kejang demam yang berlangsung lebih dari 15 menit biasanya disertai apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan akhirnya terjadi hipoksemia., hiperkapnia, asidodosis laktat disebabkan oleh
matabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin
meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme
otot meningkat. Hal ini mengakibatkan terjadinya kerusakan pada neuron dan terdapat gangguan perederan
darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggalkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak.
Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapatkan serangan kejang sedang berlangsung
JIHAN 

lama di kemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Karena itu kejang demam yang
berlansung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsi (Nurindah , 2014).
JIHAN 

Patofisiologi

Tujuan dari pengaturan suhu adalah mempertahankan suhu inti tubuh sebenarnya pada set level

sekitar 36,5 – 37,5⁰C. Berbeda dengan hipertermia pasif, set level meningkat ketika demam. Demam

terutama terjadi pada infeksi sebagai reaksi fase akut dan terdapat hubungannya untuk mengatasi infeksi

tersebut.9 Demam dapat disebabkan infeksi bakteri, virus, maupun parasit, misalnya infeksi saluran napas

atas. Tidak diketahui secara pasti mengapa demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak

pada anak lainnya, namun diduga ada faktor genetik yang berperan. Setiap anak juga memiliki suhu ambang

kejang yang berbeda, ada yang kejang pada suhu 38⁰C, ada pula yang baru mengalami kejang pada suhu

40⁰C.7

Perubahan kenaikan temperatur tubuh berpengaruh terhadap nilai ambang kejang dan eksitabilitas

neural, karena kenaikan suhu tubuh berpengaruh pada kanal ion dan metabolisme seluler serta produksi

ATP. Setiap kenaikan suhu tubuh satu derajat Celsius akan meningkatkan metabolisme karbohidrat 10%-

15%, sehingga dengan adanya peningkatan suhu akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan glukosa dan

oksigen.Demam tinggi dapat mengakibatkan hipoksia jaringan termasuk jaringan otak.9


JIHAN 

Pada keadaan metabolisme di siklus kreb normal, satu molekul glukosa akan menghasilkan 38 ATP.

Sedangkan pada keadaan hipoksia jaringan metabolisme berjalan anaerob, satu molekul glukosa hanya akan

menghasilkan 2 ATP. Pada keadaan hipoksia akan terjadi kekurangan energi dan mengganggu fungsi normal

pompa Na+ serta reuptake asam glutamat oleh sel g1ia. Kedua hal tersebut mengakibatkan masuknya Na + ke

dalam sel meningkat dan timbunan asam glutamat ekstrasel. Timbunan asam glutamat ekstrasel akan

mengakibatkan peningkatan permeabilitas membran sel terhadap ion Na+ sehingga semakin meningkatkan

ion Na+ masuk ke dalam sel. Ion Na+ ke dalam sel dipermudah pada keadaan demam, sebab demam akan

meningkatkan mobilitas dan benturan ion terhadap membran sel. Perubahan konsentrasi ion Na+ intrasel dan

ekstrasel tersebut akan mengakibatkan perubahan potensial membran sel neuron sehingga membran sel

dalam keadaan depolarisasi. Disamping itu demam dapat merusak neuron GABA-ergik sehingga fungsi

inhibisi terganggu. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa demam tinggi dapat

mempengaruhi perubahan konsentrasi ion natrium intraselular akibat Na+ influx sehingga menimbulkan

keadaan depolarisasi, disamping itu demam tinggi dapat menurunkan kemampuan inhibisi akibat kerusakan

neuron GABA-nergik. 10,13

Pada keadaan otak belum matang, reseptor untuk asam glutamat merupakan reseptor eksitator padat

dan aktif, sebaliknya reseptor GABA sebagai inhibitor kurang aktif, sehingga pada otak yang belum matang

eksitasi lebih dominan dibanding inhibisi.14 Corticotropin releasing hormon (CRH) yang merupakan salah

satu eksitator neuropeptid, berpotensi sebagai prokonvulsan. Pada otak belum matang kadar CRH di

hipokampus tinggi, sehingga berpotensi untuk terjadi bangkitan kejang apabila terpicu oleh demam.13

Mekanisme homeostasis pada otak belum matang masih lemah, akan berubah sejalan dengan perkembangan

otak dan pertambahan umur, oleh karena pada otak belum matang neural Na+/K+ATP ase masih kurang.

Pada otak yang belum matang regulasi ion Na+, K+, dan Ca++ belum sempurna,sehingga mengakibatkan

gangguan repolarisasi pasca depolarisasi dan meningkatkan eksitabilitas neuron. Eksitator lebih dominan

dibanding inhibitor, sehingga tidak ada keseimbangan antara eksitator dan inhibitor.Oleh karena itu, pada

masa otak belum matang mempunyai eksitabilitas neural lebih tinggi dibandingkan otak yang sudah matang.

Pada masa ini disebut sebagai developmental window sehingga rentan terhadap bangkitan kejang.6,13
JIHAN 

Riwayat keluarga dengan kejang demam adalah salah satu faktor risiko yang dilaporkan untuk terjadi

bangkitan kejang demam.Keluarga dengan riwayat pernah menderita kejang demam sebagai faktor risiko

untuk terjadi kejang demam pertama adalah kedua orang tua ataupun saudara kandung (first degree

relative). Belum dapat dipastikan cara pewarisan sifat genetik terkait dengan kejang demam, apakah

autosomal resesif atau autosomal dominan. Penetrasi autosomal dominan diperkirakan sekitar 60%-

80%.Bila kedua orangnya tidak mempunyai riwayat pernah menderita kejang demam, maka risiko terjadi

kejang demam hanya 9%.Apabila salah satu orang tua penderita dengan riwayat pernah menderita kejang

demam mempunyai risiko untuk terjadi bangkitan kejang demam 20%-22%.Apabila ke dua orang tua

penderita tersebut mempunyai riwayat pernah menderita kejang demam maka risiko untuk terjadi bangkitan

kejang demam meningkat menjadi 59%-64%. Kejang demam diwariskan lebih banyak oleh ibu

dibandingkan ayah, 27% berbanding 7%.6,16

Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 interaksi faktor sebagai penyebab kejang

demam, yaitu: 1) imaturitas otak dan termoregulator, 2) demam, dimana kebutuhan oksigen dan

metabolisme meningkat, 3) predisposisi genetik.17

6. Pemeriksaan Penunjang Kejang Demam

Dinas Kesehatan Jawa Barat tahun 2012 menjelaskan bahwa pemeriksaan penunjang merupakan
penelitian perubahan yang timbul pada penyakit dan perubahan ini bisa sebab atau akibat serta merupakan
ilmu terapan yang berguna membantu petugas kesehatan dalam mendiagnosis dan mengobati pasien.
Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk menyingkirkan diagnosis yang serius atau setidaknya data
laboratoris yang menunjang kecurigaan klinis (Ginsberg, 2008). Pemeriksaan penunjang pada anak yang
mengalami kejang demam adalah sebagai berikut:

1. Pemeriksaan laboratorium pada anak yang mengalami kejang demam yang bertujuan untuk
mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai
demam dan pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan darah lengkap, elektrolit serum (terutama
pada anak yang mengalami dehidrasi, kadar gula darah, serum kalsium, fosfor, magnesium, kadar Bloof
Urea Nitrogen (BUN) dan urinalisis. Pemeriksaan lain yang mungkin dapat membantu adalah kadar
antikonvulsan dalam darah pada anak yang mendapat pengobatan untuk gangguan kejang serta pemeriksaan
kadar gula darah bila terdapat penurunan kesadaran berkepanjangan setelah kejang (Arief, 2015).
JIHAN 

2. Pungsi lumbal

Pada anak kejang demam sederhana yang berusia <18 bulan sangat disarankan untuk dilakukan observasi
dan pemeriksaan lebih lanjut seperti pungsi lumbal karena merupakan pemeriksaan cairan serebrospinal
yang dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis serta pada anak yang
memiliki kejang demam kompleks (karena lebih banyak berhubungan dengan meningitis) dapat dilakukan
pemeriksaan pungsi lumbal dan dilakukan pada anak usia 12 bulan karena tanda dan gejala klinis
kemungkinan meningitis pada usia ini minimal bahkan dapat tidak adanya gejala. Pada bayi dan anak
dengan kejang demam yang telah mendapat terapi antibiotik, pungsi lumbal merupakan indikasi penting
karena pengobatan antibiotik sebelumnya dapat menutupi gajala meningitis (Ikatan Dokter Anak Indonesia,
2016).

7. Faktor Resiko Kejang Demam

Faktor resiko merupakan penyebab langsung atau suatu pertanda terhadap hal yang merugikan dan
memudahkan terjadinya suatu penyakit serta mempunyai hubungan yang spesifik dengan akibat yang
dihasilkan (Nurwijaya, 2010). Anak yang mengalami kejang demam kemungkinan besar akan menjadi
penderita epilepsi jika adanya kelainan neurologis sebelum kejang demam pertama dan kejang demam
bersifat kompleks (Susilowati, 2011). Kejang demam pada anak memiliki beberapa faktor resiko
diantaranya adalah sebagai berikut :

1) Resiko kekambuhan kejang demam merupakan kejang demam yang terjadi kedua kalinya sebanyak
setengah dari pasien tersebut. Usia pada saat kejang demam pertama merupakan faktor resiko yang
paling penting dalam kekambuhan ini, karena semakin muda usia pada saat kejang demam pertama,
semakin tinggi resiko keambuhan terjadi dan sebagai perbandingan, sebanyak 20% yang memiliki
kekambuhan kejang demam pertama adalah usia tua lebih dari 3 tahun (Gupta, 2016).
2) Resiko epilepsi merupakan resiko mengembangnya kejang setelah terjadi kejang demam dan
berdampak pada keterlambatan perkembangan atau pemeriksaan neurologis yang abnormal sebelum
terjadi kejang demam, riwayat kejang demam kompleks dan terjadi kejang demam berkepanjangan
serta menjadi resiko epilepsi. Resiko epilepsi ini merupakan faktor bawaan yang sudah ada
sebelumnya seperti perinatal, genetik atau keturunan (Panteliadis, 2013).
3) Resiko perkembangan, kecacatan perilaku dan akademik pada anak kejang demam adalah tidak lebih
besar dari pada populasi umum dan anak dengan kejang demam berkepanjangan dapat
mengembangkan konsekuensi neurologis jangka panjang (Bagiella, 2011).
4) Status demam epileptikus adalah kejang demam yaang memiliki durasi lebih dari 30 menit dan
merupakan bentuk paling parah dan berpotensi mengancam nyawa dengan konsekuensi jangka
panjang dan bersifat gawat darurat. Anak dengan kejang demam pertama memiliki potensi status
JIHAN 

demam epileptikus dimana dikaitkan dengan usia yang lebih muda dan suhu tubuh lebih rendah serta
durasi yang lebih lama (Gupta, 2016).
5) Faktor genetik atau keturunan misalnya pada orang tua dengan riwayat kejang demam (pada masa
kanak-kanak), saudara kandung dengan riwayat kejang demam dan orang tua dengan riwayat
epilepsi tanpa demam (Handy, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa anak yang mempunyai riwayat
kejang dalam keluarga terdekat mempunyai resiko untuk bangkitan kejang demam 4,5 kali lebih
besar dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat dan faktor riwayat kejang pada ibu, ayah
dan saudara kandung menunjukkan hubungan yang bermakna karena mempunyai sel yang kosong
(Wijayahadi, 2010).
6) Konsekuensi kejang demam, anak yang mengalami kejang demam sederhana memiliki resiko yang
sangat rendah dibandingkan dengan kejang demam kompleks karena pada kejang demam kompleks
memiliki durasi selama lebih dari 15-20 menit dan berulang dalam penyakit yang sama (Camfield,
2015).
7) Faktor statistik yaitu faktor resiko kejang demam yang berhubungan dengan pendidikan orang tua,
ibu merokok pada saat sebelum melahirkan atau menggunakan minuman beralkohol, tingkat demam
dan memiliki penyakit gastroenteritis. Faktor resiko yang paling penting untuk kejang demam adalah
usia, karena semakin muda usia pada saat kejang demam pertama semakin tinggi resiko kekambuhan
(Salam, et al. 2012).

Vivit Erdina Yunita,1 Afdal,2 Iskandar Syarif3 Jurnal Kesehatan Andalas. 2016; 5(3)
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kejang demam berulang didapatkan dari kepustakaan
meliputi usia pasien ketika mengalami kejang demam pertama, jenis kelamin pasien, riwayat kejang demam
dalam keluarga pasien, riwayat epilepsi dalam keluarga pasien, tipe kejang demam pertama pada pasien,
durasi demam sebelum bangkitan kejang demam pertama dan suhu tubuh pasien pada bangkitan kejang
demam pertama. Durasi demam sebelum bangkitan kejang demam pertama dan suhu tubuh pada kejang
demam pertama tidak tercantum dalam berkas rekam medis pasien maka pada penelitian ini kedua hal
tersebut tidak dimasukkan.
Kejang demam pertama pada usia 11 – 20 bulan ditemukan pada hampir separuh dari sampel yang
diteliti. Hasil ini sama dengan penelitian sebelumnya yang juga dilakukan di RS dr. M. DJamil Padang yang
menemukan bahwa angka kejadian kejang demam berulang ditemukan lebih tinggi pada kelompok usia yang
lebih muda yaitu ≤12 bulan.6 Hal ini dikaitkan dengan dengan perkembangan otak anak. Anak di bawah usia
satu tahun rentan terkena kejang demam karena pada usia ini otak anak sangat rentan terhadap peningkatan
suhu tubuh yang mendadak. Pada usia 5 tahun, sebagian besar anak telah dapat mengatasi kerentanannya
terhadap kejang demam.7 7. Gilbert P. Penyakit yang lazim pada anak-anak: Arcan; 1995.
JIHAN 

Pada penelitian ini ditemukan lebih dari separuh pasien berjenis kelamin perempuan. Hasil ini tidak
sama dengan penelitian sebelumnya yang mendapatkan bahwa kejang demam berulang lebih banyak terjadi
pada pasien dengan jenis kelamin lakilaki.6 Pertumbuhan dan perkembangan anak perempuan sedikit lebih
cepat dibandingkan anak lakilaki.8 Jika dihubungkan dengan hal ini maka seharusnya kejang demam
berulang lebih sedikit terjadi pada anak perempuan karena kerentanannya terhadap kenaikan suhu lebih
rendah dibandingkan anak laki-laki. Penulis menduga perbedaan ini diakibatkan oleh disain penelitian cross
sectional yang digunakan, karena tidak mempertimbangkan adanya kemungkinan kasus di luar waktu
penelitian yang ditetapkan. Berkemungkinan pada tahun yang peneliti anggarkan pada penelitian ini, pasien
yang masuk cenderung lebih banyak pasien perempuan.
Ditemukan lebih dari separuh pasien kejang demam berulang yang memiliki riwayat kejang demam
dalam keluarga (73,2%). Hal ini dikaitkan dengan kepustakaan bahwa faktor genetik turut berperan dalam
timbulnya kejang demam pada anak. Kejang demam diturunkan secara dominan autosomal sederhana
sehingga banyak pasien kejang demam berasal dari orangtua yang pernah menderita kejang demam.2,9
Pada penelitian ini hanya ditemukan satu pasien kejang demam berulang (2,4%) yang memiliki
riwayat epilepsi dalam keluarga. Hasil ini hampir sama dengan penelitian sebelumnya yang justru
tidak menemukan riwayat epilepsi pada seluruh kasus kejang demam berulang yang diteliti. 6 Hal ini
dihubungkan dengan kepustakaan bahwa epilepsi bukanlah faktor prediktif kejang demam berulang,
sebaliknya kejang demam dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak untuk menderita epilepsi di masa
depan.2,4
Terdapat 23 temuan pasien (56%) kejang demam berulang yang mengalami kejang demam sederhana
pada bangkitan kejang demam pertama. Hasil ini sama dengan penelitian sebelumnya yang juga
mendapatkan kasus kejang demam berulang lebih tinggi pada pasien yang mengalami kejang demam
sederhana pada kejang demam pertama.10 Jika dilihat dari manifestasinya, kejang demam kompleks
berlangsung lebih lama daripada kejang demam sederhana dan berulang dalam satu periode demam maka
trauma yang dialami neuron juga lebih berat sehingga kemungkinan untuk mengalami hal yang sama pada
periode demam selanjutnya juga lebih tinggi. Perbedaan ini berkemungkinan disebabkan oleh disain
penelitian yang digunakan. Di sini disain yang digunakan adalah cross sectional di mana peneliti tidak
mempertimbangkan keadaan di luar waktu penelitian. Peneliti menduga pada waktu penelitian ini kasus
yang banyak ditangani adalah pasien yang mengalami kejang demam sederhana pada bangkitan kejang
demam pertama.

8. Pencegahan Kejang Demam


Pencegahan kejang demam adalah tindakan menghilangkan penyebab ketidaksesuaian yang potensial
atau situasi yang tidak dikehendaki (Hadi, 2007). Pencegahan yang harus dilakukan pada anak yang
mengalami kejang demam adalah sebagai berikut :
JIHAN 

1) Imunisasi adalah dengan sengaja memasukkan vaksin yang berisi mikroba hidup yang sudah
dilemahkan pada balita yang bertujuan untuk mencegah dari berbagain macam penyakit. Imunisasi
akan memberikan perlindungan seumur hidup pada balita terhadap serangan penyakit tertentu.
Apabila kondisi balita kurang sehat bisa diberikan imunisasi karena suhu badannya akan meningkat
sangat tinggi dan berisiko mengalami kejang demam. Berbagai jenis vaksinasi atau imunisasi yang
saat ini dikenal dan diberikan kepada balita dan anak adalah vaksin poliomyelitis, vaksin DPT
(difteria, pertusis dan tetanus), vaksin BCG (Bacillus Calmette Guedrin), vaksin campak (Widjaja,
2009).
2) Orang tua harus mengupayakan diri setenang mungkin dalam mengamati anak dengan cara jangan
meletakkan benda apapun dalam mulut si anak karena benda tersebut justru dapat menyumbat jalan
napas, anak harus dibaringkan ditempat yang datar dengan posisi menyamping bukan terlentang
untuk menghindari bahaya tersedak, jangan memegangi anak untuk melawan, jika kejang terus
berlanjut selama 10 menit anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat dan setelah
kejang berakhir jika <10 menit anak perlu dibawa ke dokter untuk meneliti sumber demam terutama
jika ada kekakuan leher, muntah-muntah yang berat dan anak terus tampak lemas (Lissauer, 2013).

9. Penatalaksanaan Kejang Demam

Ngastiyah (2014), menjelaskan bahwa terdapat 4 faktor untuk menangani kejang demam diantaranya adalah
pemberantasan kejang secepat mungkin, pengobatan penunjang, memberikan pengobatan rumat serta
mencari dan mengobati penyebab.

1) Memberantas kejang secepat mungkin


Pada saat pasien datang dalam keadaan kejang lebih dari 30 menit maka diberikan obat diazepam
secara intravena karena obat ini memiliki keampuhan sekitar 80-90% untuk mengatasi kejang
demam. Efek terapeutinya sangat cepat yaitu kira-kira 30 detik dampai 5 menit. Jika kejang tidak
berhenti makan diberikan dengan dosis fenobarbital. Efek samping obat diazepam ini adalah
mengantuk, hipotensi, penekanan pusat pernapasan, laringospasme dan henti jantung (Newton,
2013).
2) Pengobatan penunjang yaitu dengan melepas pakaian ketat yang digunakan pasien, kepala pasien
sebaiknya dimiringkan untuk mencegah aspirasi isi lambung, usahakan agar jalan napas bebas untuk
menjamin kebutuhan oksigen dan bila perlu dilakukan inkubasi atau trakeostomi serta penghisapan
lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen. Fungsi vital seperti kesadaran, suhu,
tekanan darah, pernapasan dan fungsi jantung diawasi secara ketat. Berikut tindakan pada saat kejang
: (1) baringkan pasien ditempat yang rata, kepala dimiringkan dan pasangkan sudip lidih yang telah
dibungkus kasa atau bila ada guedel lebih baik; (2) singkirkan benda-benda yang ada di sekitar
pasien dan lepaskan pakaian yang mengganggu pernapasan seperti ikat pinggang dan gurita; (3) bila
JIHAN 

suhu tinggi berikan kompres secara intensif;(4)setelah pasien bangun dan sadar berikan minum
hangat; (5)isap lendir sampai bersih, berikan oksigen boleh sampai 4L/menit dan jika pasien upnea
lakukan tindakan pertolongan; (Ngastiyah, 2014).
3) Pengobatan rumat, pada saat kejang demam telah diobati kemudian diberikan pengobatan rumat.
Mekanisme kerja diazepam sangat singkat, yaitu berkisar antara 45-60 menit sesudah di suntik. Oleh
karena itu harus diberikan obat antiepileptik dengan daya kerja lebih lama misalnya fenobarbital atau
defenilhidantoin. Fenobarbital diberikan langsung setalh kejang berhenti dengan diazepam. Lanjutan
pengobatan rumat tergantung dari pada keadaan pasien. Pengobatan ini dibagi menjadi dua bagiam
yaitu profilaksis intermiten dan profilaksis jangka panjang (Natsume, 2016).
4) Mencari dan mengobati penyebab. Etiologi dari kejang demam sederhana maupun epilepsi biasanya
disebabkan oleh infeksi pernapasan bagian atas serta otitis media akut. Cara untuk penanganan
penyakit ini adalah dengan pemberian obat antibiotik dan pada pasien kejang demam yang baru
datang untuk pertama kalinya dilakukan pengambilan pungsi lumbal yang bertujuan untuk
menyingkirkan kemungkinan terdapat infeksi didalam otak seperti penyakit miningitis (Arief, 2015).
5) Patel (2015), menjelaskan bahwa orang tua harus di ajari bagaimana cara menolong pada saat anak
kejang dan tidak boleh panik serta yang penting adalah mencegah jangan sampai timbul kejang serta
memberitahukan orang tua tentang apa yang harus dilakukan jika kejang demam berlanjut dan terjadi
di rumah dengan tersedianya obat penurun panas yang didapat atas resep dokter yang telah
mengandung antikonvulsan, anak segera diberikan obat antipiretik bila orang tua mengetahui anak
mulai demam dan jangan menunggu suhu meningkat serta pemberian obat diteruskan sampai suhu
sudah turun selama 24 jam berikutnya (Ghassabian, et al. 2012). Jika terjadi kejang, anak harus
dibaringkan ditempat yang rata dan kepalanya dimiringkan serta buka baju anak dan setelah kejang
berhenti, pasien bangun kembali suruh minum obat dan apabila suhu pada waktu kejang tersebut
tinggi sekali supaya dikompres serta beritahukan kepada orang tua pada saat anak mendapatkan
imunisasi agar segera beritahukan dokter atau petugas imunisasi bahwa anak tersebut menderita
kejang demam agar tidak diberikan pertusis (Patil, et al. 2012).

10. Komplikasi

Kebanyakan kejang demam tidak menghasilkan efek yang berkelanjutan. Kejang demam sederhana
tidak menyebabkan kerusakan pada otak, penurunan kecerdasan maupun kesulitan belajar. Kejang
demam juga tidak mengindikasikan kondisi serius medis lainnya.Kejang demam adalah suatu kejang
yang dipicu, dan tidak menandakan anak menderita epilepsi. Epilepsi merupakan kejang berulang yang
terjadi tanpa dipicu, melainkan karena adanya sinyal listrik yang abnormal dalam otak.Komplikasi yang
paling umum terjadi adalah kejang demam berulang, dan anak berisiko lebih tinggi mengalaminya
apabila:
JIHAN 

 Kejang demam pertama terjadi pada demam suhu rendah.


 Periode antara permulaan demam dan kejang demam pendek (kurang dari 1 jam jaraknya).
 Ada anggota keluarga dekat yang menderita kejang demam atau mempunyai riwayat epilepsi.
 Usia kurang dari 18 bulan ketika pertama kali mengalami kejang demam.
 Anak pernah menderita kejang demam kompleks sebelumnya.
 Anak dititipkan di day care, yang berisiko lebih tinggi terhadap penularan infeksi flu atau cacar.

PENATALAKSANAAN

1. Penatalaksana Medis
Menurut Livingston (2001) penatalaksanaan medis ada:
a) Menghentikan kejang secepat mungkin Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih
kejang.
b) Pemberian oksigen
c) Penghisapan lendir kalau perlu
d) Mencari dan mengobati penyebab
Pengobatan rumah profilaksis intermitten. Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat
campuran anti konvulsan dan antipiretika.
2. Penatalaksanaan keperawatan
a) Semua pakaian ketat dibuka
JIHAN 

b) Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung


c) Usahakan agar jalan nafas bebas untuk
menjamin kebutuhan oksigen
d) Monitor suhu tubuh,
Cara paling akurat adalah dengan suhu
rektal
e) Obat untuk penurun panas, pengobatan ini dapat mengurangi ketidaknyamanan anak dan
menurunkan suhu 1 sampai 1,5 ºC.
f) Berikan Kompres Hangat Mengompres dilakukan dengan handuk atau washcloth (washlap atau lap
khusus badan) yang dibasahi dengan dibasahi air hangat (30ºC) kemudian dilapkan seluruh badan.
Penurunan suhu tubuh terjadi saat air menguap dari permukaan kulit. Oleh karena itu,anak
jangan “dibungkus” dengan lap atau handuk basah atau didiamkan dalam air karena penguapan
akan terhambat. Tambah kehangatan airny bila demamnya semakin tinggi. Sebenarmya mengompres
kurang efektif dibandingkan obat penurun demam.Karena itu sebaiknya digabungkan dengan
pemberian obat penurun demam, kecuali anak alergi terhadap obat tersebut.
g) Menaikkan Asupan Cairan Anak Anak dengan demam dapat merasa tidak lapar dan sebaiknya tidak
memaksa anak untuk makan. Akan tetapi cairan seperti susu (ASI atau atau susu formula) dan air
harus tetap diberikan atau bahkan lebih

h) memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali, pemberian obat untuk mencegah
rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping. Beberapa hal yang harus
dikerjakan bila kembali kejang: 1,6

1. Tetap tenang dan tidak panik

2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher

3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di

mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam

mulut.

4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.

5. Tetap bersama anak selama kejang

6. Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.

7. Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.
JIHAN 

11. KOMPLIKASI Prognosis kejang demam umumnya baik, namun demam tinggi yang dapat

memicu bangkitan kejang demam masih dapat menimbulkan morbiditas dan dampak buruk pada

anak.6 Berbagai morbiditas dan dampaknya adalah.1

1) Kemungkinan berulangnya kejang demam. Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian

kasus. Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah riwayat kejang demam dalam keluarga, usia

kurang dari 12 bulan, temperatur yang rendah saat kejang, dan cepatnya kejang setelah demam. Bila

seluruh faktor tersebut ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%, sedangkan bila

tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya 10%-

15%.Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar adalah pada tahun pertama.

2) Faktor risiko terjadinya epilepsi. Faktor risiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor

risiko menjadi epilepsi adalah: kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang

demam pertama, kejang demam kompleks, dan riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kand-

ung. Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4%-6%,

kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10%-

49%.Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada kejang

demam.

3) Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis. Kejadian kecacatan sebagai komplikasi

kejang demam tidak pernah dilaporkan.Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal

pada pasien yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neu-

rologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama

atau kejang berulang baik umum atau fokal.

12.Dalil-dalil tentang adanya penyakit ain

‫اسُتغْ ِسلْتُ ْم‬ َ َ‫صلَّى اللَّهُ َعلَْي ِه َو َسلَّ َم ق‬


ْ ‫ال ال َْع ْي ُن َح ٌّق َول َْو َكا َن َش ْيءٌ َسابَ َق الْ َق َد َر َسَب َق ْتهُ ال َْع ْي ُن َوإِذَا‬
ٍ
َ ‫َع ْن ابْ ِن َعبَّاس َع ْن النَّبِ ِّي‬
‫فَا ْغ ِسلُوا‬
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu, Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Ain (mata jahat) itu benar-
benar adanya, jika seandainya ada sesuatu yang mendahului qodar,maka akan didahului oleh ain.Apabila
kamu diminta untuk mandi maka mandilah. (hadist riwayat Muslim)
JIHAN 

‫استَ ِعي ُذوا بِاللَّ ِه فَِإ َّن ال َْع ْي َن َح ٌّق‬ ِ


ْ ‫صلَّى اللَّهُ َعلَْيه َو َسلَّ َم‬
ِ ُ ‫ال رس‬
َ ‫ول اللَّه‬
ِ
ُ َ َ ‫َع ْن َعائ َشةَ قَال َْت َق‬
Dari Aisyah rodhiyallohu anha,Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :Mintalah kalian
perlindungan kepada Alloh dari ain (mata jahat) karena sesungguhnya ain itu haq (benar) (HR ibnu Majah)

Apakah penyakit ain itu?

Penyakit ‘Ain adalah penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk pandangan mata,yaitu pandangan
mata yang disertai rasa takjub atau bahkan iri dan dengki terhadap apa yang dilihatnya.

Dari Amir bin Robi’ah rodhiyallohu anhu :

‫َخ ِيه أ َْو ِم ْن َن ْف ِس ِه أ َْو ِم ْن َمالِ ِه َما ُي ْع ِجبُهُ َفلْيَُب ِّر ْكهُ فَِإ َّن ال َْع ْي َن َح ٌّق‬
ِ ‫ول اللَّ ِه صلَّى اللَّه علَي ِه وسلَّم إِذَا رأَى أَح ُد ُكم ِمن أ‬
ْ ْ َ َ َ ََ َْ ُ َ ُ ‫ال َر ُس‬
َ َ‫ق‬
Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang
menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya,
karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).

‘Ain dapat terjadi meskipun tanpa kesengajaan pelakunya

Ibnu Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa terkadang seseorang bisa mengarahkan ‘ain kepada dirinya
sendiri. Pelakunya termasuk jenis manusia yang paling jahat. Sahabat-sahabat kami dari kalangan ahli fiqh
menyatakan, :Sesungguhnya bila diketahui ada orang yang melakukan hal itu, maka penguasa kaum
muslimin harus memenjarakannya, lalu dipenuhi seluruh kebutuhannya hingga akhir hayat.”

Namun terkadang pengaruh buruk ain terjadi tanpa kesengajaan dari orang yang memandang takjub terhadap
sesuatu yang dilihatnya. Lebih dari itu pengaruh buruk ini juga bisa terjadi dari orang yang hatinya bersih atau orang-
orang yang sholih sekalipun mereka tidak bermaksud menimpakan ain kepada apa yang dilihatnya. Hal ini pernah
terjadi diantara para sahabat Nabi shollallohu alaihi wa sallam, padahal hati mereka terkenal bersih,tidak ada rasa iri
atau dengki terhadap sesamanya. Akan tetapi dengan izin Alloh dan takdirnya, pengaruh buruk ain ini dapat terjadi
diantara mereka.

‫ت َكالَْي ْوِم َواَل ِج ْل َد ُم ْخبَأ ٍَة‬ ُ ْ‫ال َما َرأَي‬ َ ‫ف َي ْغتَ ِس ُل َف َق‬ٍ ‫ف أَنَّهُ قَالَرأَى َع ِامر بْن ربِ َيعةَ س ْهل بْن ُحَن ْي‬
َ َ َ َُ ُ َ
ٍ ‫َع ْن أَبِي أ َُم َامةَ بْ ِن س ْه ِل بْ ِن ُحَن ْي‬
َ
ُ‫ت ا ْغتَ ِس ْل لَه‬َ ‫َح ُد ُك ْم أَ َخاهُ أَاَّل َب َّر ْك‬ َ َ‫ظ َعلَْي ِه َوق‬
َ ‫ال َعاَل َم َي ْقتُ ُل أ‬ َ َّ‫صلَّى اللَّهُ َعلَْي ِه َو َسلَّ َم َع ِام ًرا َفَتغَي‬ ِ ُ ‫ط س ْهل فَأُتِي رس‬
َ ‫ول اللَّه‬ ُ َ َ ٌ َ َ ِ‫َفلُب‬
ِ ‫اح َم َع الن‬ ِ َّ ‫اخلَةَ إِ َزا ِر ِه فِي قَ َد ٍح ثُ َّم ص‬ ِ ‫اف ِرجلَي ِه و َد‬ ِ ِ ِ ِ ِ
‫َّاس‬ َ ‫ب َعلَْيه َف َر‬ ُ َ ْ ْ َ ‫َفغَ َس َل َعام ٌر َو ْج َههُ َويَ َديْه َوم ْر َف َق ْيه َو ُر ْكبََت ْيه َوأَط َْر‬
Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, dia berkata bahwa Amir bin Robi’ah melihat Sahl bin Hunaif sedang
mandi, lalu berkatalah Amir : ‘Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah
kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini” Maka terpelantinglah Sahl. Kemudian Rosululloh shollallohu alaihi
wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata :”Atas dasar apa kalian mau membunuh
saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah
untuknya!Maka Amir mandi dengan menggunakan suatu wadah air, dia mencuci wajahnya,dua
tangan,kedua siku,kedua lutut,ujung-ujung kakinya,dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas
mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia. (HR Malik dalam
Al-Muwaththo 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. Sanadnya shohih,para
perawinya terpercaya,lihad Zadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al-Arnauth dan Abdul Qodir al-Arnauth 4/150
cetakan tahun 1424 H)

Jenis-jenis ‘Ain

Ibnu Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa penyakit ‘ain ada dua jenis :’ain insi (‘ain berunsur manusia)
dan ‘ain jinni (‘ain berunsur jin).

Diriwayatkan dengan shahih dari Ummu Salamah bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah melihat
seorang budak wanita di rumahnya yang wajahnya terlihat kusam. Beliau berkata,”Ruqyah wanita ini, ia
JIHAN 

terkena ‘ain. (Dikeluarkan oleh Al-Bukhori dan Muslim,Al-Hakim,Abu Nu’aim dan Al-Isma’ili dalam
Mustakhroj-nya serta Ath-Thobroni)

Al-Husain bin Mas’ud Al-Farro berkata :Adapun sabda beliau “sa’fatun(kusam) bermakna “Nadzrotun”
(terkena ‘ain dari unsur jin).

Tanda-tanda Anak/bayi terkena ‘ain

Bayi yang baru lahir dan anak-anak sangat rentan terkena penyakit ‘ain. Apalagi kalau bayi/anak itu
mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki bayi/anak yang lain, seperti kelucuannya,rupanya yang manis
,kesehatannya, dan lain-lain yang mengundang perhatian siapa saja yang melihatnya.

Adapun diantara tanda-tanda anak yang terkena pengaruh buruk ‘ain adalah :

1.Tangisan yang tidak wajar yang tidak kunjung henti,kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau
menyusu kepada ibunya tanpa sebab yang jelas.

ِ ِ َ ‫ت صبِي يب ِكي َف َق‬ ِ ِ


ْ ‫صبِيِّ ُك ْم َه َذا َي ْبكي َف َهاَّل‬
ُ‫اسَت ْر َق ْيتُ ْم لَه‬ َ ‫ال َما ل‬ َ ‫صلَّى اللَّهُ َعلَْيه َو َسلَّ َم فَ َس ِم َع‬
ْ َ ٍّ َ َ ‫ص ْو‬ َ ‫َع ْن َعائ َشةَ قَالَْت َد َخ َل النَّبِ ُّي‬
‫ِم ْن ال َْع ْي ِن‬
Aisyah rodhiyallohu anha berkata : “Suatu ketika Nabi masuk (rumahnya) kemudian mendengar bayi
sedang menangis.Beliau berkata,”Mengapa bayi kalian menangis?Mengapa tidak kalian bacakan ruqyah-
ruqyah (supaya sembuh) dari penyakit ‘ain?) (Shahihul jami’ 988 n0.5662)

2. Kondisi tubuh yang sangat kurus kering

‫س َما لِي أ ََرى‬ ِ ‫َسماء بِْن‬


ٍ ‫ت عُ َم ْي‬ ‫َعن جابِر بن َعب ِد اللَّ ِهرخَّص النَّبِ ُّي صلَّى اللَّهُ َعلَي ِه وسلَّم آِل ِل ح ْزٍم فِي رقْي ِة الْحيَّ ِة وقَ َ أِل‬
َ َ ْ ‫ال‬ َ َ َُ َ َ ََ ْ َ َ َ ْ َْ َ َ ْ
‫ال ْارقِي ِه ْم‬ ِ ‫َت اَل ول‬
َ َ‫َك ْن ال َْع ْي ُن تُ ْس ِرعُ إِل َْي ِه ْم ق‬ ِ ِ ‫أَجسام بنِي أ‬
َ ْ ‫اجةُ قَال‬ َ ‫ضا ِر َعةً تُص ُيب ُه ْم ال‬
َ ‫ْح‬ َ ‫َخي‬ َََْ
Dari Jabir rodhiyallohu anhu bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memberi rukhshoh
(keringanan) bagi anak-anak Ja’far memakai bacaan ruqyah dari sengatan ular. Beliau berkata kepada
Asma’ binti Umais,”Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka
kelaparan?” Asma’ menjawab : “tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘Ain.” Kata beliau,”Kalau begitu
bacakan ruqyah bagi mereka! (HR Muslim, Ahmad dan Baihaqi)