Anda di halaman 1dari 17

1.

DEFINISI
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali
atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair (Suriadi dan Rita Yuliani, 2010).
Menurut Soegijanto (2002:73), diare dikatakan sebagai keluarnya tinja berbentuk cair sebanyak tiga kali
o
atau lebih dalam dua puluh jam pertama, dengan temperatur rectal diatas 38 C dan muntah.
Sedangkan menurut Widoyono (2008), diare adalah berak-berak yang lebih sering dari biasanya (3 x
atau lebih dalam sehari) dan berbentuk encer, bahkan dapat berupa seperti air saja, kadang-kadang juga
disertai dengan muntah, panas dan lain-lain.
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya
(normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengah padat, dapat disertai frekuensi yang
meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari.
Diare didefinisikan sebagai buang air besar lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) (Depkes RI Ditjen PPM dan PLP,
2002). Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya , yaitu diare akut dan kronis (Mansjoer,A.1999,501).
Berdasarkan dari pendapat para ahli maka dapat disimpulkan Diare adalah buang air besar (BAB)
yang tidak normal, berbentuk tinja cair disertai lendir atau darah atau lendir saja, frekuensi lebih tiga kali
sehari.
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali, dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja (Suharyono,
1988: 51).
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada
anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir saja
(Ngastiyah, 2005: 223).
Diare adalah keluarnya tinja air dan elektrolit yang hebat, pada bayi volume tinja > 159/kg/24 jam
pada umur 3 tahun, volume tinjanya sudah sama dengan volume orang dewasa, volume lebih dari 200 g/24
jam (Behrman, 1999: 1354).
Diare adalah kehilangan cairan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu
kali/lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer dan cair (Suriadi, 1987: 83).
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal
100-200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula
disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, 2000: 470).
Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 kali sehari (WHO, 1980).

2. TANDA DAN GEJALA


1) Cengeng
2) Anus dan daerah sekitar lecet
3) BB menurun
4) Turgor berkurang
5) Mata dan ubun-ubun besar dan menjadi cekung (pada bayi)
6) Selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering
7) Nadi cupat dan kecil
8) Denyut jantung jadi cepat
9) TD menurun
10) Kesadaran menurun
11) Pucat, nafas cepat
12) Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah
13) Suhu tubuh meninggi/demam
14) Feces encer, berlendir atau berdarah
15) Warna feces kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu
16) Muntah sebelum dan sesudah diare
17) Anoreksia
18) Gangguan gizi akibat intake makanan kurang
19) Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, yaitu penurunan berat badan, turgor kulit berkurang, mata
dan ubun-ubun besar cekung, membran mukosa kering.
20) Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
21) Keram abdominal
22) Mual dan muntah
23) Menurun atau tidak ada pengeluaran urine
Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau
tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja
makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya timbul
lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai ak ibat makin banyak asam laktat
yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum
dan sesudah diare, dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam basa dan elektrolit. Akan terjadi dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor
berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit
tampak kering.
Manifestasi klinis yang terjadi pada klien diare berdasarkan dehidrasi:
a. Diare dengan dehidrasi ringan
- Kehilangan cairan 5% dari berat badan
- Kesadaran baik (samnolen)
- Mata agak cekung
- Turgor kulit kurang dan kekenyalan kulit normal
- Berak cair 1-2 kali per hari
- Lemah dan haus
- Ubun-ubun besar agak cekung

b. Diare dengan dehidrasi sedang


- Kehilangan cairan lebih dari 5-10% dari berat badan
- Keadaan umum gelisah
- Rasa haus
- Denyut nadi cepat dan pernafasan agak cepat
- Mata cekung
- Turgor dan tonus otot agak berkurang
- Ubun-ubun besar cekung
- Kekenyalan kulit sedikit berkurang dan elastisitas kembali sekitar 1-2 detik

c. Diare dengan dehidrasi berat


- Kehilangan cairan lebih dari 10% dari berat badan
- Keadaan umum dan kesadarna umum koma (apatis)
- Denyut nadi cepat nsekali
- Pernafasan kusmaul (cepat sekali)
- Ubun-ubun besar cekung sekali
- Mata cekung sekali
- Turgor/tonus kurang sekali
- Selaput lendir kurang/asidosis

3. ETIOLOGI
a. Faktor Infeksi
 Infeksi enteral: infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak.
Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:
Infeksi virus: enterovirus (virus ECHO, coxsaxide, poliomyelitis), adeno-virus, rotavirus,
astrovirus.
 Infeksi parasit: cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongyloides); protozoa (entamoeba histolytica,
giardia lamblia, tri chomonas nominis); jamur (candida albicans).
Infeksi parenteral ialah inf eksi di luar alat pencernaan makanan seperti: otitis media akut
(OMA), transilitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan
ini terutama pada bayi dan anak berumur 2 tahun.
b. Faktor Malabsorbsi
 Malabsorbsi karbohidrat: terganggunya sistem pencernaan yang berpengaruh pada penyerapan
karbohidrat dalam tubuh.
 Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa)
 Monosakarida (intoleransi glukosa, fraktosa, galaktosa).
Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering (intoleransi laktosa).
 Malabsorbsi lemak terganggunya penyerapan lemak dalam tubuh
 Malabsorbsi protein yaitu terganggunya penyerapan protein dalam tubuh.
c. Faktor makanan (makanan basi, beracun, alergi, terhadap makanan)
d. Faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang tapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar.
e. Faktor imunodefisiensi
f. Faktor obat-obatan, antibiotik
g. Faktor penyakit usus, colitis ulcerative, croho disease, enterocilitis.

A. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
I. Gangguan osmotic : Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke
dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare.
II. Gangguan sekresi : Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena
peningkatan isi lumen usus.
III. Gangguan motilitas usus : Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.
IV. Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah
berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak,
kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya
akan menimbulkan diare.

4. KLASIFIKASI
Menurut Depkes RI (2000) dalam Umiati (2010), jenis diare dibagi menjadi empat yaitu :
a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari).
Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama
kematian bagi penderita diare
b. Disentri, yatu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia,
penurunan berat badan dengan cepat, kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa.
c. Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat
diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.
d. Diare dengan masalah lain, yaitu anak yang menderta diare (diare akut dan diare persisten),
mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit
lainnya.
Menurut Ellis dan Mitchell dalam Suharyono (2008), membagi diare berdasarkan lamanya diare
atas:
a. Diare akut atau diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak. Diare karena infeksi usus
dapat terjadi pada setiap umur.
b. Diare kronik yang umumnya bersifat menahun; diantara diare akut dan kronik disebut diare
subakut.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pemeriksaan Tinja
1. Makroskopis : Bentuk tinja dan jumlah tinja dalam sehari kurang lebih 250 mg.
2. Mikroskopis : Na dalam tinja ( normal : 56-105 mEq/l ) Chloride dalam tinja ( normal : 55-95
mEq/l ), kalium dalam tinja ( normal : 25-26 mEq/l ), HCO3, dalam tinja ( normal : 14-31
mEq/l).
 PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan label klining test bisa diduga terjadi
intoleransi gula.
1. PH normal kurang dari 6
2. Gula tinja, normalnya tidak terjadi gula dalam tinja.
 Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, lebih cepat dilakukan dengan
pemeriksaan analisa gas darah. Dalam pemeriksaan gas darah nilai jika terjadi alkaliosis
metabolic/asidosis respiratorikmaka nilai CO2 lebih tinggi dari nilai O2, sedangkan jiaka terjadi
asidosis metabolik alkalosis respiratori maka nilai CO2 lebih rendah dari O2.
 Pemeriksaan kadar urin dan kreatinin untuk mengetahui fool ginjal
1. Urin normal 20-40 mg/dl. Jika terjadi peningkatan menunjukan adanya dehidrasi
2. Kreatinin normal 0,5-1,5 mg/dl. Jika terjadi peningkatan menunjukan adanya penurunan fungsi
ginjal.
 Pemeriksaan darah lengkap : Darah lengkap meliputi elektroda serum, kreatinin, menunjukan adanya
dehidrasi. Nilai normal hemoglobin adalah 13-16 g/dl, hematokrit 40-48 vol%. Hemoglobin dan
hematokrit biasanya mengalami penurunan diare akut.
 Duodeual Intubation : Gunanya untuk mengetahui kuman secara kuantitatif terutama pada diare kronik.
Penyebab yang ditemukan tidak ada yang berupa mikroba tunggal baik itu Shigela, Crypto Sporodium
dan E. Colienteroagregatif. Hasil pemeriksaan duodeual intubation berupa +++ ( positif 3 ) menunjukan
adanya 3 kuman bakteri yang menjadi penyebab diare.

6. KOMPLIKASI
Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
1) Kehilangan air (dehidrasi) : Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari
pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik/hipertonik). Dehidrasi ( ringan, sedang, berat,
hipotonik, isotonik/hipertonik ). Terjadi karena kehilangan cairan dan elektrolit yang banyak dalam
waktu yang singkat.
a. Berdasarkan kehilangan cairan dan elektrolit atau tonisitas dalam tubuh
 Dehidrasi tonik : Tidak ada perubahan konsistensi elektrolit darah, tonus dan osmolality cairan
ekstra sel yang sisa sama dengan vontanela normal, frekuensi jantung normal kadar natrium
dalam serumant 130-150 mEq/l
 Dehidrasi hipotonik : Tonus dan tugor mau buruk selaput lender tidak kering( lembab).
Pemeriksaan laboratorium kadar ion natrium dalam serum, 131 mEq/l.
 Dehidrasi hipertonik: Caiaran yang keluar lebih banyak mengandung air dari pada garam,
terjadi karena cairan peroral sangat kurang excessive evaporative losses misalnya, panas
tinggi, hiperventilasi, misalnya bronkopenemonia, pemeriksaan laboratorium kadar ion
natrium dalam serum > 150 mEq/l
b. Berdeasarkan derajatnya
 Dehidrasi ringan : Berat badan< 5 %, haus meningkat, membran mukosa sedikit kering,
tekanan jadi normal, hanya ada ekstremitas perfusi, mata sedikit cekung, fontanela normal,
tugor masih baik, status mental normal.
 Dehidrasi sedang: Berat badan turun 5-10%, keadaan umum gelisah, haus meningkat, tugor
turun, frekuensi janting meningkat, membran mukosa kering, merah, kadang sianosis, mata
cekung, tekanan nadi mengecil, dan frekuesi keluar urin mengurang, kembalinya kapiler
lambat,setatus mental normal sampai lesu.
 Dehidrasi berat : Berat badan turun 5-10%, keadaan umum gelisah sampai apatis,bibir kering,
merah, kadang sianosis, tugor kulit jelek, mata dan fontanela cekung, tekanan nadi mengecil,
dan frekuesi keluar urin tidak ada, nafas frekuesi tachikardi, ekstremitas dingin, haus
meningkat

2) Gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis) : Hal ini terjadi karena kehilangan Na-
bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam
tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme
yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan
terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler. Asidosis
Metabolic Ditandai dengan bertambahnya asam/hilangnya basa cairan ekstra seluler. Sebagai
kompensasi terjadi asidosis respirasi , yang diatandai dengan pernafasan cepat dan dalam.

3) Hipoglikemia :Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak
yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan
penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa. Gejala
hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50%
pada anak-anak.
4) Gangguan gizi. Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
- Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat.
- Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini
diberikan terlalu lama.
- Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya
hiperperistaltik.
5) Gangguan sirkulasi : Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya
perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan
perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.
6) Hipernatremia
Sering terjadi pada bayi baru lahir sampai usia 1 tahun ( khususnya bayi berumur <6 bulan ).
Biasanya terjadi pada diare yang disertai mutah dengan intake cairan atau makanan kurang / cairan
yang diminum terlalu banyak mengandung Na, pada bayi juga dapat terjadi jika setelah diare sembuh
diberi oralit dalam jumlah berlebihan. Terjadi pada penderita diare yang minum sedikit cairan / tidak
mengandung Na. Penderita gizi buruk mempunyai kecenderungan mengalami hyponatremia
7) Demam
Demam sering terjdi pada infeksi Shigella disertai dan rota virus. Pada demam umumnya akan
timbul jika penyebab diare mengadakan infasi kedalam epitel usus. Demam juga dapat juga terjadi
karena dehidrasi. Demam yang terjadi akibat dehidrasi umumnya tidak tinggidan akan turun setelah
mengalami hidrasi yang cukup. Demam yang tinggi mungkin diikuti kejang demam.
8) Hipokalemia ( sereum K,3,0 mMol/L)
Penggantian K sealama dehidrasi yang tidak cukup, maka akan terjadi kekurangan K yang ditandai
dengan kelemahan pada tungkai, ileus, kerusakan ginjal, dan aritmia jantung
9) Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktase
10) Intoleransi laktosa
laktosa dicerna menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim yang dinamakan laktase, agar dapat
diserap tubuh dan digunakan sebagai sumber energi. Orang dengan intoleransi laktosa tidak
menghasilkan laktase yang cukup, sehingga laktosa yang tidak tercerna masuk ke usus besar lalu
terfermentasi oleh bakteri, dan menimbulkan berbagai gejala. Pada penderita intoleransi laktosa,
pemberian susu formula pada penderita diare dapat menimbulkan volume tinja bertambah, BB tidak
bertambah, tanda dan gejala dehidarasi memburuk dan tinja terdapat reduksi dalam jumlah cukup
banyak.
11) Kejang, terjadi karena :
a. Hipoglikemia, kalau anak dipuasakan terlalu lama
b. Kejang demam
c. Hipernatremia dan hiponatremia
d. Penyakit pada SSP yang tidak ada hubunganya dengan diare seperti meningitis,
ensefalitis/epilepsi.
12) Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik)
13) Cardiac dysrhythmias akibat hipokalsemi dan hipokalsemi.
14) Mutah
Dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus karena infeksi ileus yang menyebabkan gangguan
fungsi usus yang ber hubungan dengan infeksi sistemik. Mutah dapat disebabkan karena pemberian
cairan oral terlalu cepat.

7. PENATALAKSANAAN
1) Pemberian cairan : Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat
dehidrasinya dan keadaan umum.
a) Cairan per oral
Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan per oral berupa cairan yang
berisikan NaCl dan NaHCO3, KCl dan glukosa. Untuk diare akut pada anak di atas umur 6 bulan kadar
natrium 90 mEq/ L. Untuk anak di bawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan/ sedang kadar
Natrium 50-60 mEq/ L. Formula lengkap sering disebut oralit. Cairan sederhana yang dapat dibuat
sendiri (formula tidak lengkap) hanya mengandung garam dan gula (NaCl dan sukrosa), atau air tajin
yang diberi garam dan gula, untuk pengobatan sementara di rumah sebelum dibawa berobat ke rumah
sakit/ pelayanan kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.
b) Cairan parenteral
Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pasien misalnya untuk
pasien yang MEP. Tetapi kesemuanya itu bergantung tersedianya cairan setempat. Pada umumnya cairan
Ringer Laktat (RL) selalu tersedia di fasilitas kesehatan di mana saja. Mengenai pemberian cairan
seberapa banyak yang diberikan bergantung dari berat/ ringannya dehidrasi, yang diperhitungkan dengan
kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.
Jadwal pemberian cairan
a)    Belum ada dehidrasi
 Oral: 1 gelas setiap kali anak buang air besar
 Parenteral dibagi rata dalam 24 jam
b)    Dehidrasi ringan
 1 jam pertama: 25-50 ml/kgBB peroral atau intragastrik
 Selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari
c)     Dehidrasi sedang
 1 jam pertama: 50-100ml/kgBB peroral atau intragastrik
 Selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari
d)    Dehidrasi berat
Jadwal pemberian cairan didasarkan pada umur dan BB anak

c) Pemberian cairan pasie MEP tipe marasmik


Kwashiorkor dengan diare dehidrasi berat, misalnya dengan berat 3-10 kg, umur 1 bulan- 2 tahun,
jumlah cairan 200 ml/ kg BB/ 24 jam. Kecepatan tetesan 4 jam pertama idem pada pasien MEP. Jenis
cairan DG 20 jam berikutnya: 150 ml/ kg BB/ 20 jam atau 7 ml/ kg BB/ jam atau 13/4 tetes/ kg BB/
menit (1 ml = 15 menit) atau 21/2 tetes/ kg BB/ menit (1 ml = 20 tetes). Selain pemberian cairan pada
pasien-pasien yang telah disebutkan masih ada ketentuan pemberian cairan pada kelainan jantung
bawaan, yang memerlukan jenis cairan yang berbeda dan kecepatan pemberiannya berlainan pula. Bila
kebetulan menjumpai pasien-pasien tersebut sebelum memasang infus hendaknya menanyakan dahulu
kepada dokter.

2. Pengobatan dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg jenis
makanan:
a) Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh),
misalnya LLM, Almiron, atau sejenis lainnya.
b) Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim), bila anak tidak mau minum susu
karena dirumah tidak biasa minum susu
c) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak
mengandung laktosa atau asam lemak yang berantai sedang atau tidak jenuh.
Cara memberikannya: Hari ke-1, setelah rehidrasi segera diberikan makanan per oral. Bila diberi ASI/
susu formula tetapi diare masih sering, supaya diberikan oralit selang-seling dengan ASI, misalnya 2 kali
ASI/ susu khusus, 1 kali oralit. Hari ke-2 sampai ke-4, ASI/ susu formula rendah laktosa penuh. Hari ke-
5, bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. Kembali susu atau makanan biasa disesuaikan dengan
umur bayi dan berat badannya.

3. Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah,
dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung
beras dan sebagainya”)

 Obat anti sekresi.


 Obat anti spasmolitik.
 Obat pengeras tinja.
 Obat antibiotik.
Pencegahan diare bisa dilakukan dengan mengusahakan lingkungan yang bersih dan sehat :
1. Usahakan untuk selalu mencuci tangan sebelum menyentuh makanan.
2. Usahakan pula menjaga kebersihan alat-alat makan.
3. Sebaiknya air yang diminum memenuhi kebutuhan sanitasi standar di lingkungan tempst tinggal. Air
dimasak benar-benar mendidih, bersih, tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.
4. Tutup makanan dan minuman yang disediakan di meja.
5. Setiap kali habis pergi usahakan selalu mencuci tangan, kaki, dan muka.
6. Biasakan anak untuk makan di rumah dan tidak jajan di sembarangan tempat. Kalau bisa membawa
makanan sendiri saat ke sekolah.
7. Buatlah sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan tempat tinggal, seperti air bersih dan jamban/WC
yang memadai.
8. Pembuatan jamban harus sesuai persyaratan sanitasi standar. Misalnya, jarak antara jamban (juga jamban
tetangga) dengan sumur atau sumber air sedikitnya 10 meter agar air tidak terkontaminasi. Dengan
demikian, warga bisa menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari, untuk memasak, mandi, dan
sebagainya.

Pencegahan Diare

Menurut Depkes RI (2011: 5) pencegahan diare yang benar dan efektif, antara lain:

a. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai 2 tahun.

b. Memberikan makanan pendamping ASI sesuai umur.

c. Penggunaan air bersih yang cukup.


d. Kebiasaan cuci tangan dengan air sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar.

e. Penggunaan jamban yang benar.

f. Pembuangan kotoran yang tepat termasuk tinja anak-anak dan bayi yang benar. g. Memberikan

imunisasi campak.
9. ASKEP
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh.
NOC : Fluid balance
NIC : Fluid manajement
1. Timbang pokok/pembalut jika diperlukan
2. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
3. Monitor status hidrasi (kelemahan membran mukosa, nadi adekuat)
4. Monitor vital sign
5. Monitor cairan/makanan dan hitung intake kalon harian
6. Kolaborasikan pemberian cairan IV
7. Masukkan oral
8. Keluarga untuk membantu pasien maka
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan
absorbsi.
NOC : Nutritional status food and fluid intake
KH :
1. Adanya peningkatan BB sesuai tujuan (BB dan TB ideal)
2. BB ideal sesuai dengan tinggi badan
3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi (pasien mengerti jadwal makanan dan
jenis makanan)
4. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi (tanda-tanda malnutrisi dan jenis makanan bibir
pecah-pecah kulit, rambut rontok, BB menurun dan rambut kemerahan)
5. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan menelan (pasien mau makan, porsi
makan habis)
6. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti (BB normal)
NIC : Nutrition management
Intervensi : - Kolaborasi dengan gahli gizi untuk menentukan nurisi yang dibutuhkan
pasien.
- Berikan makanan yang terpilih udah dikonsultasikan dengan ahli gizi.
- Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kolaborasi.
- Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
NIC : Nutrition monitoring
Intervensi : - BB pasien dalam batas normal
- Monitor adanya penurunan BB pasien.
- Monitor interaksi anak/orang tua selama makan.
- Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
- Monitor turgor kulit
- Monitor makanan kesukaan
- Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jangan konjungtiva.
3. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan rasa nyeri berkurang
NOC : Control nyeri
KH : - Mengenal faktor penyebab (makanan dan frekuensi BAB)
- Menggunakan metode pencegahan non analget (ditraksi, relaksasi)
- Mengenali gejala-gejala nyeri (mules, cengeng, gelisah, eksprewi wajah
merintih, memegangi perut)
NIC : Pain management
Intervensi : 1. Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik dan
durasi frekuensi, kualitas/ beratnya nyeri.
2. Observasi, isyarat-isyarat non verbal dari ketidak-nyamanan, khususnya dalam
ketidakmampuan, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara
efektif.
3. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri.
4. Evaluasi tentang keefektifan dan tindakan mengontrol nyeri yang telah
digunakan.
5. Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan.
6. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup.
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
integritas kulit kembali normal.
NOC : Tissue integrty: skind and mucous membranes.
KH : - Integritas kulit yang baik, bisa dipertahankan/kulit elastis, tidak.
- Tidak ada luka (lesi pada kulit pada kemerahan, kulit tidak kering).
- Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembahan kulit dan perawat
alami (pemberian baby oil/lotioon, tidak diberikan bedak)
Keterangan : - Tidak pernah menunjukkan
- Jarang menunjukkan
- Kadang menunjukkan
- Sering menunjukkan
- Selalu menunjukkan
NIC : Pressure management
Intervensi : - Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang normal
- Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
- Monitor kulit akan adanya kemerahan
- Oleskan lotion/minyak/baby oil pada daerah yang tertekan
- Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
5. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindak akun keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5o C)
NOC : Thermoregulation
KH : - Suhu tumbuh dalam rentang normal (36,5o C)
- Nadi dan RR dalam rentan normal (nadi: 80-100 x/mnt, R: 15 – 20 x/mnt).
- Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing.
NIC : Fever treatment
Intervensi : - Monitor suhu sesering mungkin
- Monitor IWL
- Beri cairan intravena (infus RL 20 tetes/mm)
- Beri anti piretik
- Beri kompres pada lipat paha dan aksila
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses keperawatan diharapkan
pengetahuan pasien betambah.
NOC : Knowledge: disease proces
KH : - Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi,
prognosis, program pengobatan.
- Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara
benar.
- Pasien dan keluarga ampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat/tim kesehatan lainnya.
NIC : Teaching: disease process
Intervensi : - Jelaskan patofisiologi, dan penyakit.
- Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cari
yang benar.
- Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat.
- Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara yang tepat.
- Diskusikan perubahan gaya hidup yang
10. IRK
Tentang Pola Makan Sehat

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu
dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah
seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan
warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan
kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin
anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan
pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah : 233)

Dalam ayat tersebut dibahas mengenai perintah memberikan ASI Eksklusif yang akan memberikan banyak
manfaat untuk bayi.

Manfaat yang bisa diperoleh dari pemberian ASI Eksklusif berdasarkan beberapa hasil penelitian
diantaranya:

a)    Mencegah terjadinya diare, pneumonia dan meningitis yang disebabkan oleh ganguan atau infeksi
saluran pencernaan yang belum siap untuk mencerna makanan luar seperti susu, pisang, sereal dan
sebagainya.

b)   Memberikan sistem imun (imunitas) pada bayi sehingga bayi tidak mudah untuk terserang penyakit.

c)    Mencegah bayi mengalami gizi buruk yang dilihat dari berat badan, tinggi badan, lingkaran kepala

d)   Mengandung zat-zat nutrisi yang penting dan lengkap untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh bayi
seperti: Karbohidrat, Protein, Lemak, Vitamin, Mineral.

e)   Meningkatkan hubungan kasih sayang antara anak dengan ibu

f)     Membuat ibu lebih sehat karena ASI yang diproduksi dikeluarkan, tidak ditahan

g)    Memberikan ketahanan pada tubuh bayi.

ASI hampirmengandung 200 zat gizi dan memberikan kekebalan buat bayi hingga 20 kali lipat, maka ASI
sangat diperlukan dalam pembentukan kualitas generasi penerus cerdas.

"Makan dan minumlah kalian, namun jangan berlebih-lebihan (boros) karena Allah tidak mencintai
orang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-A'raf:31).

"Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah
melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa
ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia." (Thoha: 81)

Para peneliti dari Finlandia menemukan bahwa makan makanan yang bergizi dapat meningkatkan umur
seseorang 20 persen, selama mereka makan makanan gizi tersebut dan tidak berlebihan sesuai dengan
kebutuhan nutrisinya.  Hal ini karena pola makan yang sehat akan memberikan kontribusi dalam mengurangi
resiko meningkatnya kolesterol tubuh dan menurunkan tekanan darah, yang mana kedua hal tersebut
penyebab utama kematian mendadak.