Anda di halaman 1dari 4

TUGAS INDIVIDU PERILAKU KEKERASAN PADA ANAK

Disusun Oleh :

Jihan Purbadewi

20180320085

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2020
Kelakuan Setan Pasutri di Aceh, Sang Anak Dianiaya dan Dipaksa Mengemis

Uli Grafita dan Muhammad Ismail mengeksploitasi MS (9) menjadi mesin pencari uang
lewat mengemis. Perbuatan ibu kandung dan ayah tiri ini sudah berlangsung selama dua tahun.
Namun uang hasil mengemis sang anak malah untuk beli sabu dan main judi. Hasil tes urine
menyatakan ibu kandung korban positif memakai narkoba. Perlakuan yang didapat MS awalnya
masih berupa cubitan keras di bagian paha hingga memar jika tidak mau mengemis. Kala itu
korban masih berumur enam tahun.Tergiur dengan hasil mengemis anaknya, ibu kandung
korban mulai membuat patokan. MS tidak boleh membawa pulang uang kurang dari Rp100
ribu.

Grafita pernah melibas punggung anaknya dengan tali rem sepeda karena membawa
pulang hasil kurang dari target. Korban saat itu disuruh mengemis bersama kakaknya.MS juga
pernah dipukul di bagian kepala oleh ibunya dengan gelas kopi. Korban mengelap darah yang
mengalir di kepalanya dengan tisu hingga luka tersebut sembuh dengan sendirinya.

Awal 2019, korban enggan pulang ke rumah karena uang yang didapat tidak sampai
target. Dalam kebingungannya itu, ia berpapasan dengan Ismail. Setelah menampar korban
beberapa kali, Ismail menyeret korban ke rumah. Lalu mengikat MS dengan rantai besi selama
empat hari lamanya. Rantai yang mengikat kaki korban diinjak-injak oleh Ismail sehingga
korban merasakan sakit dan memar. Pada hari yang lain, para pelaku pernah memalu MS.

Korban sempat kabur dari dari rumah pada Senin pagi (16/9/2019). Malam itu MS
pulang dengan hasil kurang dari Rp60 ribu. Rumah saat itu dalam keadaan sepi karena Grafita
dan Ismail sedang tertidur lelap. Melihat itu, MS pun beristirahat sesaat karena kecapaian.Saat
sedang pulas, sekonyong-konyong MS terbangun. Ia takut membayangkan penyiksaan seperti
apa yang akan didapatnya jika kedua orang tuanya sadar bahwa uang yang didapatnya hari itu
kurang. "Korban berinisiatif untuk kabur dari rumah dan berjalan kaki menuju rumah kakek
kandung korban," jelas Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Indra Trinugraha
Herlambang, dalam keterangannya kepada Liputan6.com, Minggu siang (22/9/2019).

Jejak MS tercium juga oleh Ismail. Satu hari kemudian, korban dijemput paksa oleh
ayah tirinya saat sedang istirahat di rumah temannya sekitar pukul 06 pagi. "Ayo pulang
sekarang. Gara-gara kau aku ribut sama kawan aku," Ismail menghardik MS sembari
menamparnya sebanyak satu kali. Korban sempat dibawa mengitari kota untuk memungut
loakan sebelum dibelenggu dengan rantai besi dan digembok di rumah kontrakan mereka di
Desa Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.
Seorang tetangga korban melaporkan perbuatan Ismail dan Grafita ke Bintara Pembina
Desa (Babinsa) setempat. Keduanya pun digelandang ke kantor polisi sektor Banda Sakti pada
hari yang sama, Rabu (18/9/2019). Dari Polsek Banda Sakti, kedua pelaku ditangani Polres
Kota Lhokseumawe. Keduanya kukuh perbuatannya dilakukan karena MS tidak mau pergi
mengaji kendati hasil penyidikan berkata lain. "Setelah terbukti melakukan penganiayaan maka
dilakukan penahanan terhadap tersangka atas dasar perkara KDRT," jelas Indra. Grafita dan
Ismail diancam pidana penjara paling lama 10 tahun atau membayar denda paling banyak
Rp200 juta. Keduanya dipersangkakan dengan pasal yang ada di dalam aturan terkait. "Pasal
88 juncto pasal 76 huruf i UU 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak dan atau pasal 44 ayat 1 juncto pasal 45 ayat 1 UU 23 Tahun 2004
tentang P-KDRT juncto pasal 65 KUHP," sebut Indra.

A. Faktor Resiko
1. Faktor masyarakat/ sosial misalnya kemiskinan yang tinggi dan tingkat
pengangguran yang tinggi,budaya memberikan hukuman badan kepada anak,
2. Faktor orang tua atau situasi keluarga, yaitu riwayat orang tua dengan kekerasan
fisik, dukungan sosial rendah, kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, riwayat
penggunaan zat/ obatobatan terlarang (NAPZA) atau alkohol, kurangnya dukungan
sosial bagi keluarga, pola mendidik anak, nilai-nilai hidup yang dianut orangtua, dan
kurang pengertian mengenai perkembangan anak.

B. Penyebab
1. Faktor ekonomi dapat melatarbelakanginya, di mana kekerasan timbul karena
tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi
adalah faktor yang banyak terjadi yang menyebabkan kekerasan pada anak. Tapi
tidak serta merta orang yang ekonominya rendah tega melakukan kekerasan fisik
kepada anaknya apalagi memukulinya sampai luka-luka.
2. Penggunaan narkoba dan alkohol dapat mengarahkan perilaku kasar orang tua
kepada anak. Hal tesebut dikarenakan hilangnya kendali diri akibat mengkonsumsi
barang-barang haram tersebut .Faktanya, orang tua yang terlibat dalam
penyalahgunaan narkoba akan 3 kali cenderung menyalahgunakan anak-anak
mereka sendiri dan 4 kali cenderung mengabaikan mereka.
3. Anak angkat, anak angkat cenderung mendapatkan perlakuan kasar disebabkan
orangtua menganggap bahwa anak angkat bukanlah buah hati dari hasil perkawinan
sendiri, sehingga secara naluriah tidak ada hubungan emosional yang kuat antara
anak angkat dan orang tua.

C. Dampak pada anak


1. Dampak yang terjadi dapat secara langsung maupun tidak langsung atau dampak jangka
pendek dan dampak jangka panjang. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang
mengalami child abuse, pada umumnya lebih lambat dari pada anak yang normal yaitu,
2. Mengalami komplikasi serius seperi patah tulang, cacat menetap.
3. Terjadi kerusakan menetap pada susunan saraf yang dapat mengakibatkan retardasi
mental, masalah belajar/ kesulitan belajar, buta, tuli, masalah dalam perkembangan
motor/ pergerakan kasar dan halus, kejadian kejang, ataksia, ataupun hidrosefalus.
4. Pertumbuhan fisik anak pada umumnya kurang dari anak-anak sebayanya
5. Konsep diri, anak yang mendapat kejadian child abuse merasa dirinya jelek, tidak
dicintai, tidak dikehendaki, muram dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi
aktifitas dan melakukan percobaan bunuh diri.
6. perubahan tingkah laku, kurang percaya diri, sering menyakiti diri sendiri, dan sering
mencoba bunuh diri.

D. Masalah keperawatan yang muncul


1. Ketakutan berhubungan dengan respon yang dipelajari terhadap ancaman
2. Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan penyalahgunaan zat
3. Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan perbedaan gaya koping
antara individu pendukung dan klien.
4. Risiko sindrom pascatrauma berhubungan dengan mengalami kejadian traumatik