Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO: PERAWATAN GIGI DENGAN FRAKTUR MAHKOTA

Blok 15: Perawatan Penyakit dan Kelainan Jaringan Keras Gigi

KELOMPOK TUTORIAL C

TUTOR : drg. Raditya Nugroho, Sp.KG

Ketua : Nurmay Farah L. (171610101024)

Scriber : Lutfi Lailia S. (171610101022)

Anggota : Salsabilla Milatul M.(171610101021)

Fithrie Rasdiana M. (171610101023)

Ahmad Andreyanto (171610101025)

Firda Dwi Ayu N. (171610101026)

Risya Azkia (171610101027)

Inneke Dwi Lestari (171610101028)

Malihatul Rosidah (171610101029)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan laporan tutorial blok 15: Perawatan Penyakit dan Kelainan Jaringan Keras
Gigi. Laporan ini disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok C pada skenario
pertama tentang ‘Perawatan Gigi dengan Fraktur Mahkota’.

Penulisan laporan ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu
penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. drg. Raditya Nugroho, Sp.KG. selaku tutor yang telah membimbing jalannya diskusi tutorial
kelompok C Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan yang telah memberi masukan
yang membantu, bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan–perbaikan di
masa mendatang. Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 16 September 2019

Penulis
STEP 1

IDENTIFIKASI KATA SULIT

1. Apeksogenesis
 Suatu perawatan pulpa pada gigi yang masih vital yang bagian akarnya masih
terbuka. Tujuan untuk memberi kesempatan pada akar untuk melanjutkan
perumbuhan dan menutup apeksnya. Terjadi pada gigi permanen muda. Hampir
sama dengan pulpotomi vital pada gigi sulung.
 Pembentukan akar yang apeksnya masih dapat bertumbuh dengan normal, berlaku
bagi gigi yang masih immatur dimana pulpa koronal mengalami karies atau
trauma, tetapi secara klinis dapat ditentukan bahwa bagian apikal tengah pulpa
masih cukup layak dilakukan penutupan akar. Seringkali saat terpapar ditutup
dengan kalsiun hidroksida atau MTA. Bahan bisa ditempatkan di tungkai pulpa
(pulpotomi) atau sebagai pulp capping.
 Menyingkirkan bagian bagian rusak yang reversibel, supaya pertumbuhan akar
dapat berlanjut sampai menutup.

STEP 2

RUMUSAN MASALAH

1. Mengapa pada skenario direncanakan perawatan apeksogenesis?


2. Bagaimana perbedaan apeksifikasi dan apeksogenesis?
3. Apa saja indikasi dan kontraindikasi perawatan apeksogenesis?
4. Bagaimana prosedur perawatan, mekanisme bahan, alat, dan bahan apeksogenesis?
5. Bagaimana kriteria perawatan berhasil dan gagal?

STEP 3

MENJAWAB RUMUSAN MASALAH

1. Apeksogenesis diindikasikan pada pulpa yang masih vital yang memungkinkan apical
contriction pada gigi immature. Salahsatu mekanisme dari apeksogenesis bisa dilakukan
pulp capping atau pulpotomi. Dilakukan perawatan apeksogenesis didasarkan pada hasil
pemeriksaan objektif (tes vitalitas, tes tekan, tes perkusi).
Dilakukan perawatan pulpotomi dangkal untuk melihat berhasil atau gagal sebelum
dilakukan apeksogenesis.
2. Apeksifikasi merupakan perawatan untuk merangsang pertumbuhan lebih lanjut pada
apeks gigi permanen yang terbuka pada gigi nonvital. Merupakan perawatan pendahuluan
sebelum dilakukan pengisian pada perawatan endointrakanal. Tujuan untuk membentuk
calcyfic barrier pada 1/3 apikal yang lebar.
Apeksogenesis : Suatu perawatan pulpa pada gigi yang masih vital yang bagian apeks
akarnya masih terbuka. Tujuan untuk memberi kesempatan pada akar untuk melanjutkan
perumbuhan dan menutup apeksnya.
3. Indikasi :
 Gigi permanen muda vital dengan foramen apikal belum tumbuh sempurna
 Peradangan ringan
 Tidak ada peradangan periapikal
 Pulpa terbuka sebelum 72 jam (sesegera mungkin)
 Kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa radikular dalam keadaan sehat
 Mahkota cukup utuh untuk dapat direstorasi

Kontraindikasi :

 Pada gigi yang sudah goyang


 Pada gigi yang mengalami fraktur mahkota dan akar yang berat yang memerlukan
restorasi dengan retensi intraradikular
 Gigi dengan fraktur horizontal yang berada dekat gingival margin
 Gigi karies yang tidak bisa ditumpat lagi
 Pembengkakan akibat peradangan
 Perdarahan berlebih
 Nekrosis pulpa

Indikasi Apeksifikasi :

 Gigi permanen muda nonvital dengan foramen apikal belum tumbuh sempurna
Kontraindikasi apeksifikasi :

 Fraktur vertikal akar


 Ankilosis
 Akar gigi yang pendek
4. Prosedur perawatan
a. Dilakukan anestesi dan isolasi daerah kerja
b. Dentin yang terbuka diirigasi dengan saline atau larutan anestesi
c. Jaringan granulasi diangkat dengan ekskavator
d. Pengambilan jaringan pulpa dengan diamond bur high speed
e. Irigasi pulpa dengan saline untuk menekan perdarahan sampai terjadi pembekuan
darah
f. Pengaplikasian kalsium hidroksida, ZOE, dilakukan tumpatan
g. Evaluasi

Teknik Perawatan Apeksogenesis

1. Evaluasi dan persiapan, terdiri dari anamnesis, pemeriksaan vitalitas, pemeriksaan


radiografi, anestesi, dan isolasi daerah kerja.
2. Akses pulpa. Dianjurkan pada gigi immature dan terlepas dari pemeriksaan klinis
 Pulpa vital dan sehat, dan terdapat indikasi pendarahan minimal dilakukan
pulp capping
 Pada perdarahan berat, indikasi pulpotomi
 Tidak ada bukti pulpa vital, atau terdapat nanah, indikasi apeksifikasi
3. Perawatan pasca operasi. Dilakukan kontrol untk melihat progres apeksogenesis
4. Pemulihan.

Bahan Perawatan Apeksogenesis

1. Kalsium Hidroksida
Garam dasar putih yang berkristal,mudah larut yang terpisah menjadi ion
kalsium dan ion hidroksil dalam larutan, dan kandungan alkali yang tinggi
(pH11). Memiliki sifar antimikroba dan memiliki sifat merangsang pertumbuhan
jaringan keras.
Salah satu teori sifat merangsang jaringan keras pada kalsium hidroksida,
kandungan alkali tinggi yang menghasilkan lingkungan menguntungkan untuk
pengaktifan alkalin fosfatase (enzim yang terlibat dalam mineralisasi). Sifat
antimikroba adanya ion hidroksil akan menghancurkan fosfolipid sehingga
membran sel dihancurkan. Adanya kadar alkali yang tinggi akan merusak ikatan
ion sehingga protein bakteri dirubah. Ion hidroksil bereaksi dengan DNA bakteri
sehingga akan menghambat replikasinya.
2. MTA
5. Berhasil :
 Tidak adanya periodontitis
 Gigi tetap vital
 Tidak ada resorbsi akar
 Pertumbuhan akar berlanjut
 Pembentukan dentin
 Terlihan bridge of calcyfication dibawah CaOH2
 Dapat terjadi sementosis

Kegagalan :

 Adanya kelainan apeks dan resorbsi interna


 Berhentinya pertumbuhan akar
 Sensitif terhadap tekanan
 Hilangnya bahan tumpatan seperti CaOH2
 Adanya kontaminasi bakteri
 Tanda kelainan sinus, bengkak
 Kerusakan periodontal
 Radiolusensi di periapikal
STEP 4

MAPPING

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN


SUBJEKTIF OBJEKTIF PENUNJANG

DIAGNOSA

Indikasi dan
------------------------
Kontraindikasi
RENCANA
PERAWATAN

Macam Teknik Perawatan


---------------- Apeksogenesis

PROSEDUR PERAWATAN,
ALAT DAN BAHAN,
PROSEDUR KIE

STEP 5

LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa mampu mengkaji, memahami, menjelaskan tentang perawatan apeksogenesis


2. Mahasiswa mampu mengkaji, memahami, menjelaskan tentang indikasi dan
kontraindkasi apeksogenesis
3. Mahasiswa mampu mengkaji, memahami, menjelaskan tentang macam macam teknik
apeksogenesis
4. Mahasiswa mampu mengkaji, memahami, menjelaskan tentang prosedur perawatan, alat,
bahan, KIE apeksogenesis
STEP 7

PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa mampu mengkaji, memahami, menjelaskan tentang perawatan


apeksogenesis
Suatu prosedur perawatan pulpa yang terinflamasi dan vital yang
perkembangannya belum sempurna (gigi permanen muda dengan apeks belum
sempurna). Tujuan untuk memberi kesempatan apeks gigi menutup dengan sempurna.
Pembentukan akar dengan apeks yang berlanjut tumbuh dengan normal dan
dikatakan bahwa apeksogenesis bukan benar benar suatu prosedur perawatan. Jadi
apeksogenesis merupakan istilah untuk gigi yang mengalami karies atau trauma tetapi
secara klinis pulpa pada apikal masih layak untuk berlanjutnya pertumbuhan akar.
Apeksogenenis merupakan prosedur terapi pada pulpa yang masih vital dan
mendukung perkembangan fisiologis dan pembentukan ujung akar. Tujuan dari prosedur
ini adalah untuk merangsang perkembangan akar dan penutupan apikal. Jaringan pulpa
dalam kamar pulpa dibuang sebagai jalan masuk ke saluran akar. Jaringan pulpa vital
yang tersisa kemudian di-dressing. Dressing ini bertujuan untuk mempertahankan
vitalitas sebagian besar sisa jaringan pulpa dan memungkinkan untuk penyelesaian
pembentukan akar dan penutupan apikal. Evaluasi radiografi secara periodik diperlukan
untuk memantau perkembangan akar.
Pulpa vital pada korona gigi yang belum terbentuk sempurna bisa terbuka sedikit
akibat trauma dan dalam keadaan seperti ini pembentukan dentin akarnya akan terus
berlanjut secara normal dengan melakukan perawatan pulpotomi dangkal. Sebagian besar
gigi yang belum terbentuk sempurna yang mahkotanya fraktur dan pulpanya terbuka,
pulpanya tetap vital dan inflamasinya terbatas pada permukaan pulpa. Perawatan yang
memungkinkan tidak terganggunya perkembangan akar bisa juga diindikasikan pada gigi
yang belum terbentuk sempurna yang pulpanya terbuka sedikit akibat karies.
Keberhasilan perawatan ini bergantung pada luasnya kerusakan pulpa serta kemampuan
gigi untuk memulihkan dirinya. Terbukanya pulpa yang lebih lebar baik karena karies
maupun trauma memerlukan pulpotomi vital sampai ketinggian konstriksi servikal agar
vitalitas pulpa akarnya bisa dipertahankan.
2. Mahasiswa mampu mengkaji, memahami, menjelaskan tentang indikasi dan
kontraindkasi apeksogenesis
Indikasi :
 Gigi dengan apeks terbuka dan akar belum terbentuk sempurna dalam masa
pertumbuhan
 Mahkota cukup utuh untuk dilakukan restorasi
 Kerusakan pulpa koronal sedangkan pulpa radikular sehat

Kontraindikasi :

 Gigi mengalami avulsi dan replantasi


 Gigi dengan fraktur akar horizontal dekat margin gingiva
 Gigi karies yang tidak dapat direstorasi kembali
 Nekrosis pulpa
 Fraktur mahkota berat yang memerlukan retensi intraradikular
 Mobilitas tinggi gigi

3. Mahasiswa mampu mengkaji, memahami, menjelaskan tentang macam macam


teknik apeksogenesis
Apeksogenesis adalah perawatan pada gigi permanen muda dengan
mempertahankan pulpa yang vital dan/atau menyingkirkan pulpa yang terinflamasi
ireversibel yang bertujuan agar pembentukan akar dan pematangan apeks dapat
dilanjutkan. Berikut tindakan-tindakan yang termasuk di dalam apeksogenesis :
A. Pulpotomi, untuk perdarahan berat
 Pulpotomi Dangkal, mengambil 2-3 mm
 Pulpotomi Parsial, 1-2 mm
 Partial pulpotomy carious exposure
Indikasi: pada gigi permanen muda dengan karies pulpa terbuka dimana
perdarahan pulpa dikontrol dalam beberapa menit. Gigi harus vital dengan
diagnosis pulpa normal atau pulpitis reversibel. Tujuan: pulpa yang tertinggal
diharapkan tetap vital setelah pulpotomi parsial. Seharusnya tidak ada tanda
klinis yang merugikan atau keluhan seperti : sensitiv, sakit, atau
pembengkakan. Tidak ada perubahan radiografis berupa resorpsi interna atau
eksterna, radiolusensi periapikal, kalsifikasi yang abnormal, atau perubahan
patologis lainnya. Gigi dengan akar yang belum sempurna akan melanjutkan
perkembangan akarnya dan apeksogenesis.
 Partial pulpotomy traumatic exposure
Indikasi: pada gigi permanen muda terutama dengan pembentukan akar yang
belum sempurna dengan keadaan pulpa terbuka karena trauma. Perdarahan
pulpa setelah penyingkiran jaringan pulpa yang terinflamasi harus dikontrol.
Tujuan: pulpa yang tertinggal diharapkan tetap vital setelah pulpotomi
parsial. Seharusnya tidak ada tanda klinis yang merugikan atau keluhan
seperti: sensitiv, sakit, atau pembengkakan. Tidak ada perubahan radiografis
berupa resorpsi interna atau eksterna, radiolusensi periapikal, kalsifikasi yang
abnormal, atau perubahan patologis lainnya. Gigi dengan akar yang belum
sempurna akan melanjutkan perkembangan akarnya dan apeksogenesis.
 Pulpotomi konvensional, sulit diterapkan pada insisive yang belum sempurna. 2-
3 mm
a. Anestesi lokal
b. Isolasi daerah kerja
c. Pembukaan kavita sdengan bur high speed
d. Pengambilan jaringan nekrosis dengan ekskavator
e. Pendarahan pulpa dihentikan dengan larutan saline
f. Diberi pasta CaOH2
g. Selapis ZOE diatas CaOH2
h. Tumpat permanen
B. Pulp capping direct
Indikasi: pada gigi dengan lesi karies kecil atau terpapar karena tindakan mekanis
dengan pulpa yang normal. Tujuan: vitalitas gigi dipertahankan. Terbukti tidak
dijumpai perubahan klinis atau keluhan seperti : sensitiv, sakit, atau pembengkakan
paska perawatan. Penyembuhan pulpa dan pembentukan dentin reparatif terjadi.
Terbukti juga tidak ada perubahan radiografis berupa resorpsi interna atau eksterna,
radiolusensi periapikal, kalsifikasi yang abnormal, atau perubahan patologis lainnya.
Gigi dengan akar yang belum sempurna akan melanjutkan perkembangan akarnya
dan apeksogenesis.
C. Protective liner
Indikasi pada gigi dengan pulpa normal, ketika karies disingkirkan dan akan
dilakukan pemasangan restorasi. Bahan protective liner diletakkan pada daerah
terdalam preparasi untuk meminimalkan injuri pulpa mendukung penyembuhan
jaringan dan meminimalkan sensitifitas setelah perawatan. Tujuan untuk menjaga
vitalitas gigi dan memfasilitasi pembentukan dentin tersier.
D. Indirect pulp treatment
Indikasi: pada gigi permanen dengan diagnosa pulpa normal atau pulpitis tanpa
keluhan atau dengan diagnosa pulpitis reversibel. Penegakan diagnosa dengan
pemeriksaan radiografi dan pemeriksaan klinis dan prognosis gigi dapat sembuh dari
gangguan karies. Tujuan: restorasi akhir dapat harus dapat menjaga bagian interna
gigi termasuk dentin dari kontaminasi lingkungan oral. Kevitalan gigi harus
dipertahankan. Tidak ada gambaran resorpsi interna atau eksterna atau perubahan
patologis lainnya. Gigi dengan akar yang belum sempurna akan melanjutkan
perkembangan akarnya dan apeksogenesis.

4. Mahasiswa mampu mengkaji, memahami, menjelaskan tentang prosedur


perawatan, alat, bahan, KIE apeksogenesis
Prosedur
Pulpotomi konvensional pada gigi anterior dengan fraktur mahkota mengenai pulpa
lebih dari 24 jam dan dalam keadaan apeks terbuka, dapat digolongkan ke dalam indikasi
apeksogenesis. Sebelum melakukan perawatan apeksogenesis, terlebih dahulu harus
dilakukan pemeriksaan radiografi untuk memastikan keadaan gigi baik secara fisiologis
dan patologis sehingga dapat dilakukan perawatan.
Untuk gigi yang akan dilakukan perawatan apeksogenesis harus dilakukan anestesi
lokal terlebih dahulu karena keadaan pulpa yang masih vital, lalu lakukan pemasangan
isolator karet dan desinfektan pada area kerja dengan antiseptik. Buat arah masuk ke
kamar pulpa dengan bur steril dengan pendingin air secara terus menerus, dimana semua
atap pulpa dibuang tidak boleh ada dentin yang menggantung ataupun tanduk pulpa yang
tertinggal.
Bagian koronal pulpa di ambil dengan ekskavator yang besar, tajam, dan steril atau
bisa juga dengan menggunakan kuret periodontal. Pengangkatan jaringan dilakukan pada
jaringan pulpa yang lunak. Untuk gigi anterior dengan morfologi kamar pulpa yang kecil
dan saluran akar yang tidak jelas, diperlukan suatu bur untuk mengangkat jaringan pulpa
bagian mahkota. Dan sepertiga dari servikal harus diambil, usahakan sebanyak mungkin
jaringan yang tertinggal dalam saluran akar untuk memungkinkan maturasi seluruh pulpa.
Setelah selesai pengangkatan jaringan pulpa, lakukan irigasi secara perlahan dengan
air steril untuk membersihkan sisa dentin yang tertinggal, pendarahan yang terjadi dapat
dikendalikan dengan meletakan kapas basah steril diatas potongan pulpa. Ketika
pendarahan berhenti, kamar pulpa disterilkan.
Sediakan kalsium hidroksida dalam bentuk pasta yang dibuat dengan air atau pasta
komersial yang terdiri dari kalsium hidroksida dan methyl cellulose (pulpdent) kemudian
aplikasikan pada pulpa yang telah di amputasi. Padatkan dan tekan pada pulpa dengan
menggunakan gulungan kapas steril. Dapat juga menggunakan kalsium hidroksida yang
dalam bentuk pasta cepat mengeras (dycal).
Pengisian dengan kalsium hidroksida pada pulpa paling tidak 1 sampai 2 mm, lalu
aplikasikan suatu bahan dasar semen (seng-oksida-eugenol atau seng fosfat), lalu tutup
dengan restorasi sementara atau restorasi akhir bisa dengan bahan resin komposit atau
GIC.
Terdapat 4 bagian dari prosedur perawatan apeksogenesis, yaitu :
1. Evaluasi dan persiapan
Anemnesis seputar rekam medis. Isolasi, pemeriksaan subjektif, objektif,
penunjang.
2. Akses pulpa. Dianjurkan pada gigi immature dan terlepas dari pemeriksaan klinis
 Pulpa vital dan sehat, dan terdapat indikasi pendarahan minimal dilakukan
pulp capping
 Pada perdarahan berat, indikasi pulpotomi
 Tidak ada bukti pulpa vital, atau terdapat nanah, indikasi apeksifikasi
3. Perawatan pasca operasi. Dilakukan kontrol untuk melihat progres apeksogenesis.
 Situasi 1 : Pasien mengalami gejala tidak baik dari pulpa. Klinis dan
radiografi. Proses apeksogenesis kemungkinan gagal, evaluasi lagi. Bisa
ditemukan nekrosis atau cairan berbau.
 Situasi 2 : favorable. Tindak lanjut dalam 3 bulan. Gejala dan radiografi
normal. Pasien diminta kontrol pada kunjungan selanjutnya. 6 bulan tanpa
gejala, jadwalkan lagi untuk tindak lanjut 6 bulan lagi. 1 tahun pasca
perawatan tanpa gejala bisa berhasil, juga bisa tidak berhasil dan vitalitas
pulpa diragukan.
 Situasi 3 : potentially unfavorable.
4. Pemulihan.
KIE seputar OH, memerlukan sikap kooperatif pasien. Edukasi pasien. Recall 3-6
bulan. Selesai 3-4 tahun.

Alat

 Bur
 Ekskavator
 Spatula semen
 MTA gun
 Rubber dam
 Pinset
 Kaca mulut
 PFI

Bahan

 MTA
MTA adalah bubuk hidrofilik yang dikembangkan oleh Torabinejad di
Universitas Loma Linda dan merupakan material yang paling terbaru dan belakangan
ini dipakai untuk terapi pulpa. MTA terdiri atas bubuk trikalsium silikat, dikalsium
silikat aluminat, trikalsium, kalsium sulfat dehidrasi, dan bismut oxide.
Dalam prosedur manipulasinya, bubuk MTA dicampur dengan air steril dalam
rasio bubuk / cairan adalah 3:1 dan disarankan agar kapas pelet lembab untuk
sementara ditempatkan dan berkontak langsung dengan material dan dibiarkan
sampai kunjungan berikutnya. Pada saat hidrasi, MTA akan membentuk gel koloid
yang membeku menjadi struktur keras kira-kira 3-4 jam, ditambah dengan adanya
kelembaban dari jaringan sekitarnya akan membantu proses reaksi setting. Produk
MTA yang terhidrasi memiliki pH awal 10.2, yang kemudian naik menjadi 12,5 tiga
jam setelah pencampuran. Proses setting nya digambarkan sebagai reaksi hidrasi
trikalsium silikat (3CaO · SiO2) dan dikalsium silikat (2CaO · SiO2), yang kemudian
dapat dikatakan bertanggung jawab terhadap kekuatan bahan. Meskipun lebih lemah
dibandingkan bahan lainnya digunakan untuk tujuan yang sama, tetapi compressive
strength MTA dilaporkan akan terus meningkat dengan adanya kelembaban sampai
21 hari.
Seperti halnya Ca(OH)2, MTA juga memiliki pH yang tinggi yang dapat
mengakibatkan denaturasi pada sel-sel yang berdekatan, protein jaringan, dan
bakteri-bakteri yang terdapat di daerah luka. Penelitian yang dilakukan oleh
Torabinejad dkk menunjukkan bahwa MTA mencegah terjadinya microleakage dan
merupakan bahan yang biokompatibel dan mampu meregenerasikan jaringan ketika
ditempatkan pada dental pulp dan jaringan periradikuler. Dalam penelitian yang
dilakukan terhadap hewan, MTA merupakan satu-satunya bahan yang
memungkinkan pertumbuhan sementum. Dalam study in vitro dari osteoblas manusia
menunjukkan bahwa MTA merangsang pelepasan sitokin dan merangsang
pembentukan interleukin. Selain itu, darah dan saliva tidak mengganggu proses
setting MTA itu sendiri. Bahkan Torabinejad merekomendasikan untuk menutup
MTA dengan menggunakan kapas pelet basah agar didapatkan setting yang lebih
baik lagi.
MTA memiliki kemampuan untuk merangsang pembentukan jaringan keras pada
jaringan pulpa dan memningkatkan laju pertumbuhan in vitro. Evaluasi histologik
jaringan pulpa pada hewan dan manusia menunjukkan MTA menghasilkan jembatan
dentin yang lebih tebal, sedikit inflamasi, sedikit hiperemi dan sedikit nekrosis pulpa.
MTA juga menunjukkan perangsangan pembentukan dentin lebih cepat
dibandingkan bahan lainnya. Menurut Hollan dkk, trikalsium oksida pada MTA
bereaksi dengan cairan jaringan membentuk kalsium hidroksida, menghasilkan
pembentukan jaringan keras dengan cara yang sama seperti pada kalsium hidroksida.
MTA juga merupakan bahan yang biokompatibel dan telah diuji cobakan dengan
diimplantasikan pada babi, anjing dan monyet. Bahkan MTA lebih biokompatibel
dibandingkan amalgam, Super-EBA, dan IRM. MTA juga tidak bersifat mutagenik
dan lebih sedikit bersifat sitotoksik dibandingkan Super-EBA dan IRM.
 CaOH2
Kalsium hidroksida adalah garam dasar putih, berkristal, mudah larut yang
terpisah menjadi ion kalsium dan ion hidroksil dalam larutan dan kandungan alkali
yang tinggi (pH 11). Bahan ini digunakan dalam bentuk setting dan nonsetting pada
kedokteran gigi. Codman ialah yang pertama menggunakan kalsium hidroksida
karena sifat antimikrobanya dan kemampuannya merangsang pembentukan jaringan
keras.
Terdapat beberapa teori bagaimana kalsium hidroksida merangsang pembentukan
jaringan keras. Termasuk kandungan alkali yang tinggi (pH 11), yang menghasilkan
lingkungan menguntungkan untuk pengaktifan alkalin fosfatase, suatu enzim yang
terlibat dalam mineralisasi. Ion kalsium mengurangi permeabilitas bentuk kapiler
baru dalam jaringan yang diperbaiki, menurunkan jumlah cairan intersel dan
meningkatkan konsentrasi ion kalsium yang diperoleh dari pasokan darah di awal
mineralisasi. Hal ini dapat memiliki dua efek pada mineralisasi, dapat memberi kan
sumber ion kalsium untuk mineralisasi, dan dapat merangsang aktivitas kalsium
pyrophosphatase, yang mengurangi tingkat ion pyrophosphatase penghambat
mineralisasi dalam jaringan.
Penelitian telah menunjukkan bahwa kalsium hidroksida membentuk jembatan
dentin ketika ditempatkan berkontak dengan jaringan pulpa. Kalsium hidroksida
harus berkontak dengan jaringan untuk terjadinya mineralisasi. Permulaannya, zona
nekrotik dibentuk berbatasan dengan bahan, dan tergantung pada pH bahan kalsium
hidroksida, jembatan dentin langsung dibentuk berlawanan dengan zona nekrotik
atau zona nekrotik diresorbsi dan diganti dengan jembatan dentin. Pembatas ini tidak
selalu sempurna. Ion kalsium dalam kalsium hidroksida tidak menjadi tergabung
dalam bentuk jaringan keras.
Perawatan kalsium hidroksi juga telah menunjukkan penurunan efek bakteri
dihubungkan dengan lipopolisakarida (LPS). Hal ini dapat menghidrolisis lipid dari
bakteri LPS dan dapat mengeliminasi kemampuan LPS menstimulasi produksi
nekrosis tumor faktor alpha pada monosit darah perifer. Aksi ini menurunkan
kemampuan bakteri merusak jaringan. Kemampuan untuk mencegah penetrasi
bakteri kedalam pulpa mempengaruhi pertahanan pulpa secara signifikan.
Untuk efek antimikroba dari kalsium hidroksida berhubungan dengan kemampuan
bahan membunuh bakteri yang ada dan mencegah bakteri masuk lagi dari rongga
mulut kedalam pulpa. Sifat antimikroba dari kalsium hidroksida berasal dari
beberapa faktor. pH yang tinggi menghasilkan lingkungan yang tidak baik untuk
pertumbuhan bakteri. Ada tiga mekanisme kalsium hidroksida merangsang lisis
bakteri, ion hidroksil menghancurkan phospholipids sehingga membran sel
dihancurkan, adanya kadar alkali yang tinggi merusak ikatan ion sehingga protein
bakteri dirubah, dan ion hidroksil bereaksi dengan DNA bakteri, menghambat
replikasi.
 Saline
 Obat anestesi lokal
 Komposit
DAFTAR PUSTAKA

Barrington C. Apexogenesis in an Incompletely Developed Permanent Tooth with Pulpal


Exposure. 2012

Berg, J. H. 2013. Pediatric Dentistry, An Issue of Dental Clinics. USA: Elsevier.


Cahyono, Eddy. 2007. Pembentukan Dentin Bridge pada Perawatan Pulpotomi Parsial Gigi
Permanen Insisivus Pasca Trauma Anak Usia 10 Tahun dengan Campuran Kalsium
Hidroksida dan Propylene Glycol. Laporan Kasus Karya Tulis Ilmiah PPDGS-I FKG
UGM.
ElMiligi OAS, Avery DR. Pediatric Dentistry : Comprison of MTA and Calcium Hydroxide as
Pulpotomy Agent in Young Permanent Teeth Apexogenesis; Vol 28 Issue 5. Hal: 1-7.
November 2006.

Goldstein S, Zandi AS, Greenberg M, Friedman S. New York State Dental Journal :
Apexification & Apexogenesis. Vol 65 Issue 5. Hal : 23-24. Mei 1999.

Grossman LI. Grossman's Endodontic Practice. 12th ed. Chandra SB, Krishna VG, editors. New
Delhi: Wolters Kluwer Health; 2010.
Hegde R, Battepati PM. IJPD: Clinical Applications of MTA : Report of Four Cases; Vol 3
Issue 1. Hal: 43-50. Januari-April 2010.

Ingle, Bakland, Baumgartner. Ingle Endodontics 7th edition (50 years Anniversary Special).
India : BC Decker, 2019.

Naik S, Hedge AH. J Indian Soc Ped Prev Dent : MTA as a Pulpotomy Agent in Primary Molars:
An in vivo Study. Hal: 13-15. Maret 2005.

Paulindraraj S, Venkatesan R, Suprakasam S, Christopher A. Apexification-Then and Now: A


Review. Int J Dent Med Res 2015.

Rafter M. Apexification: a review. Dent Traumatol 2005; 21: 1–8. Blackwell Munksgaard,
2015.

Walton RE, Torabinejad M, eds Sumawiranata N, Juwono L. Prinsip dan Praktik Ilmu
Endodonsia. Edisi 3. Jakarta: EGC, 2009.