Anda di halaman 1dari 36

DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling

yang diampu oleh:

Dadang Sudrajat, M.Pd

Disusun Oleh :

Pendidikan Biologi B 2018

Kelompok 8

Humayra Nur Insani Sapariputri 1804867

Ihdina Milga Shari 1804232

Jati Kuncoro 1801573

Marika Ridha Fahrudiana 1804988

Mutia Fakhriani Husain 1805296

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa,
karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR” sehingga kami dapat membuat
makalah ini. Pada makalah ini kami menguraikan konsep dasar diagnostik
kesulitan belajar

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu
kami dalam menyelesaikan laporan ini, diantaranya:

1. Bapak Dadang Sudrajat selaku dosen mata kuliah bimbingan dan


konseling Universitas Pendidikan Indonesia

2. Semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini.

Namun, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan


maupun pembahasan materi dalam makalah ini sehingga belum begitu sempurna.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut. Akhir kata, semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandung, 28 Februari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

A. Latar Belakang Permasalahan.......................................................................1

B. Rumusan dan Pertanyaan..............................................................................2

C. Tujuan dan Manfaat Pembahasan.................................................................2

D. Metode Pembahasan.....................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................4

A. Definisi Diagnostik.......................................................................................4

B. Latar Belakang Perlunya Diagnostik Kesulitan Belajar bagi Guru Mata


Pelajaran.......................................................................................................4

C. Makna dan Tujuan Bimbingan Belajar.........................................................5

1. Tujuan Bimbingan Belajar di Lembaga Bimbingan Tes...........................6

2. Tujuan Bimbingan Belajar menurut Bimbingan Konseling......................7

D. Konsep Dasar Pembelajaran Diagnostik.......................................................8

1. Langkah-Langkah atau Prosedur Pembelajaran Diagnostik.....................9

2. Strategi dan Teknik Pembelajaran Diagnostik........................................15

E. Cara Menilai Pembelajaran Diagnostik......................................................16

BAB III PENUTUP...............................................................................................32

A. Kesimpulan.................................................................................................32

B. B. Rekomendasi..........................................................................................32

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................33

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan


Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Setiap siswa mencapai kesuksesan belajarnya dengan cara yang
berbeda-beda. Ada siswa yang dapat mencapainya tanpa kesulitan, akan
tetapi banyak pula siswa mengalami kesulitan sehingga menimbulkan
masalah bagi pribadinya. Dalam menghadapi masalahnya tidak semua
siswa mampu memecahkannya sendiri. Siswa cenderung tidak tahu apa
sebenarnya masalah yang dihadapinya. Ada pula seseorang yang tampak
seolah tidak mempunyai masalah, padahal masalah yang dihadapinya
cukup berat. Atas kenyataan itu, semestinya sekolah harus turut berperan
dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi siswa.
Meskipun informasi tentang kelemahan dan kesulitan belajar siswa
telah diperoleh melalui tes formatif dan pekerjaan rumah (PR), namun
informasi tersebut belum cukup rinci memperlihatkan sebab-sebab
mendasar yang menyebabkan timbulnya kesulitan belajar siswa tersebut.
Di beberapa sekolah, masih saja terdapat proses pembelajaran yang
dilaksanakan secara tradisional, yaitu proses pembelajaran secara klasikal,
dengan anggapan yang menyamaratakan, baik minat dan kemampuan para
siswa.
Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini akan dipaparkan
mengenai pentingnya diagnostik kesulitan belajar, konsep dasar, langkah-
langkah, strategi dan teknik pembelajaran diagnostik, serta cara menilai
pembelajaran diagnostik agar kita semakin paham mengenai konsep
pembelajaran diagnostik dalam upaya mengidentifikasi kesulitan belajar
siswa.

1
2

B. Rumusan dan Pertanyaan


Dengan latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan
pertanyaan yang akan dibahas pada penulisan ini, yaitu:
1. Bagaimana urgensi perlunya diagnostik kesulitan belajar oleh guru
mata pelajaran?
2. Apakah perbedaan makna dan tujuan bimbingan belajar di lembaga
bimbingan tes dengan bimbingan belajar menurut bimbingan
konseling?
3. Bagaimana konsep dasar pembelajaran diagnostik?
4. Bagaimana langkah-langkah atau prosedur pembelajaran diagnostik?
5. Bagaimana strategi dan teknik pembelajaran diagnostik?
6. Begaimana cara menilai pembelajaran diagnostik?
7. Bagaimana ciri-ciri orang yang mengalami kesulitan?
8. Bagaimana cara mengidentifikasi masalah?
9. Apa perbedaan tujuan layanan diagnostik dan prognostik?
10. Bagaimana cara-cara menangani kesulitan belajar?
11. Bagaimana cara membuat rekomendasi pembelajaran diagnostik?

C. Tujuan dan Manfaat Pembahasan


Adapun tujuan dan manfaat dibuatnya tulisan ini adalah untuk:
1. Menjelaskan latar belakang perlunya diagnostik kesulitan belajar
2. Membedakan makna dan tujuan bimbingan belajar di lembaga
bimbingan tes dan bimbingan belajar menurut bimbingan konseling
3. Menjelaskan konsep dasar pembelajaran diagnostik
4. Menjelaskan langkah-langkah atau prosedur pembelajaran diagnostik
5. Menjelaskan strategi dan teknik pembelajaran diagnostik
6. Menjelaskan cara penilaian pembelajaran diagnostic
7. Menjelaskan ciri-ciri orang yang mengalami kesulitan
8. Menjelaskan cara mengidentifikasi masalah
9. Mengetahui perbedaan tujuan layanan diagnostik dan prognostik
10. Menjelaskan cara-cara menangani kesulitan belajar
11. Menjelaskan cara membuat rekomendasi pembelajaran diagnostic.
3

D. Metode Pembahasan
Pembahasan dilakukan secara deskriptif, yakni dengan
memaparkan setiap materinya secara rinci dalam bentuk paragraf serta
menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Diagnostik
Diagnosa atau diagnosis berasal dari kata Yunani atau Greek “dia”
(“apart”) dan gignoskein yang berarti mengetahui. Gnosis berarti
pengetahuan/pengenalan/ilmu. Jadi, diagnosis berarti kefasihan dalam
membedakan penyakit yang satu dengan yang lain atau penentuan
penyakit dengan menggunakan ilmu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diagnosis
/di·ag·no·sis/ adalah penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti
(memeriksa) gejala-gejalanya. Menurut Harriman dalam bukunya
Handbook of Psychological Term (1959), diagnostik adalah suatu analisis
terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi
diagnostik merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang
dipandang tidak beres atau bermasalah. Maka dapat disimpulkan bahwa
diagnosik adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti
latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala
yang tampak.

B. Latar Belakang Perlunya Diagnostik Kesulitan Belajar bagi Guru


Mata Pelajaran
Dalam proses pembelajaran di sekolah, aktivitas belajar tidak
selamanya dapat berjalan dengan lancar. Masalah kesulitan belajar ini
sudah merupakan masalah umum yang terjadi dalam proses pembelajaran.
Definisi kesulitan belajar (lerarning disability) yang dikemukakan
oleh The United States Office of Education (USEO) pada tahun 1977,
sebagaimana yang dikutip oleh Hallahan, Kauffman, dan I.Loyd yatu
sebagai berikut:
Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau
lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan
penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin

4
5

menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir,


berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau menghitung. Batasan tersebut
mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perseptual, gangguan pada
otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup
anak-anak yang memiliki problem belajar yang penyebab utamanya
berasal dari adanya hembatan dalam penglihatan, pendengaran, atau
motorik, hambatan karena tuna grahita, karena gangguan emosional, atau
karena kemiskinan, lingkungan, budaya, dan ekonomi.
Karena itu, peran guru dalam rangka memberikan suatu pelayanan
bimbingan menghadapi kesulitan belajar siswa di sekolah, perlu
diperhatikan terlebih apa yang menjadi faktor atau kendala yang dihadapi
siswa dalam aktivitas belajarnya, sehingga siswa tersebut mengalami
kesulitan dalam belajar melalui pelaksanaan tes diagnostik belajar. Guru
harus mampu menganalisis hasil tes diagnostik belajar dengan
mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perbaikan dan menyusun
program remedial (remedial teaching), kemudian melaksanakan program
perbaikan.

C. Makna dan Tujuan Bimbingan Belajar


Kegiatan bimbingan di sekolah merupakan bagian integral dari
keseluruhan program kegiatan sekolah, terutama pada bimbingan belajar
sehingga dapat diartikan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah
merupakan tujuan yang ingin dicapai bimbingan. Yang membedakan
diantara keduanya ialah jenis kegiatannya, pendidikan terletak pada proses
belajar mengajar yang penekanannya pada usaha-usaha kognitif, afektif
dan psikomorik, sedangkan bimbingan terletak pada membina siswa dalam
perkembangan pribadi, sosial psikologi, yang didasarkan pada kenyataan
yang dihadapi siswa sehingga memerlukan bantuan tenaga profesional
kependidikan dalam hal ini adalah guru pembimbing.
Bimbingan belajar merupakan salah satu bidang bimbingan.
Perngertian bimbingan menurut Crow & Crow (Prayitno, 2004:94) adalah
bantuan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki kepribadian yang
6

memadai dan terlatih dengan baik kepada individu-individu setiap usia


untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri,
mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan
sendiri, dan menanggung bebannya sendiri. Menurut Crow & Crow
tersebut layanan bimbingan yang diberikan pada individu atau sekumpulan
individu berguna untuk menghindari dan mengatasi masalah dalam
kehidupannya secara mandiri.
Sementara menurut Bimo Walgito (2004: 5) bimbingan adalah
bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan
individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam
kehidupannya, agar individu atau sekumpulan individu itu dapat mencapai
kesejahteraan hidupnya.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
bimbingan adalah salah satu bentuk proses pemberian bantuan kepada
individu atau sekumpulan individu dalam memecahkan masalahnya,
sehingga masing-masing individu akan mampu untuk mengoptimalkan
potensi dan keterampilan dalam mengatasi setiap permasalahan, serta
mencapai penyesuaian diri dalam kehidupannya.
Setelah memahami pengertian bimbingan, kajian selanjutnya yang
dipaparkan adalah salah satu bidang dari bimbingan yaitu bimbingan
belajar. Bimbingan belajar menurut Oemar Hamalik (2004: 195) adalah
bimbingan yang ditujukkan kepada siswa untuk mendapat pendidikan
yang sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, kemampuannya dan
membantu siswa untuk menentukan cara-cara yang efektif dan efisien
dalam mengatasi masalah belajar yang dialami oleh siswa. Sedangkan Tim
Jurusan Psikologi Pendidikan (Mulyadi, 2010: 107) mengatakan bahwa
bimbingan belajar adalah proses pemberian bantuan kepada murid dalam
memecahkan kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah
belajar.

1. Tujuan Bimbingan Belajar di Lembaga Bimbingan Tes


Tujuan bimbingan belajar dalam Lembaga Bimbingan Tes
lebih mengutamakan unsur kuantitatifnya, seperti diantaranya:
7

a. Agar siswa dapat menambah dan memperdalam materi


pembelajaran yang dirasa kurang di sekolah
b. Meningkatkan nilai-nilai yang telah di dapat oleh siswa tersebut
sebelumnya
c. Meningkatkan prestasi belajar siswa

2. Tujuan Bimbingan Belajar menurut Bimbingan Konseling


Menurut Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan (2005: 15) tujuan
bimbingan belajar sendiri adalah:
a. Mempunyai sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti
kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, dan perhatian
terhadap semua pelajaran, serta aktif mengikuti semua kegiatan
belajar yang diprogramkan
b. Mempunyai motif yang tinggi untuk belajar
c. Mempunyai keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti
keterampilan membaca buku, mencatat pelajaran, dan
mempersiapkan diri menghadapi ujian
d. Mempunyai keterampilan untuk menetapkan tujuan dan
perencanaan pendidikan, contohnya membuat jadwal belajar,
mengerjakan tugas-tugas sekolah, memantapkan diri dalam
memperdalam pelajaran tertentu,dan berusaha memperoleh
informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan
wawasan yang lebih luas
e. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi
ujian
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan
bimbingan belajar secara umum yaitu membantu murid-murid agar
mendapatkan penyesuaian yang baik di dalam situasi belajar, sehingga
setiap murid dapat belajar dengan efisien sesuai dengan kemampuan
yang dimilikinya, dan mencapai perkembangan yang optimal. Tujuan
ini lebih memfokuskan pada aspek kualitatif individu seperti kesiapan
moral dan mental.
8

D. Konsep Dasar Pembelajaran Diagnostik


Diagnosa atau diagnosis berasal dari kata Yunani atau Greek “dia”
(“apart”) dan gignoskein yang berarti mengetahui. Gnosis berarti
pengetahuan/pengenalan/ilmu. Jadi, diagnosis berarti kefasihan dalam
membedakan penyakit yang satu dengan yang lain atau penentuan
penyakit dengan menggunakan ilmu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diagnosis
/di·ag·no·sis/ adalah penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti
(memeriksa) gejala-gejalanya. Menurut Harriman dalam bukunya
Handbook of Psychological Term, diagnostik adalah suatu analisis
terhadap kelainan atau salah penyesuaian dari pola gejala-gejalanya. Jadi
diagnostik merupakan proses pemeriksaan terhadap hal-hal yang
dipandang tidak beres atau bermasalah. Maka dapat disimpulkan bahwa
diagnosik adalah penentuan jenis masalah atau kelainan dengan meneliti
latar belakang penyebabnya atau dengan cara menganalisis gejala-gejala
yang tampak.
Tes diagnostik belajar dimaksudkan untuk menemukan kesulitan
belajar yang dialami oleh siswa sedini mungkin, terutama kesulitan yang
terjadi dalam proses belajar, sehingga dari hasil tes tersebut dapat
ditelusuri proses mental siswa dalam belajar; karena hasil tes yang bagus
tidak selalu mencerminkan prestasi seorang siswa, ada kemungkinan
bahwa hasil yang bagus tersebut hanyalah suatu kebetulan dan
keberuntungan semata. Dengan demikian, adanya tes diagnostik belajar ini
memungkinkan seorang guru mengetahui mengapa siswa dapat menjawab
pertanyaan seperti itu, dan apabila ada jawaban yang salah, maka hal inilah
justru yang menjadi pusat perhatian bagi guru, dan kemudian dicarikan
faktor penyebab mengapa siswa tersebut menjawab salah.
Tes diagnostik untuk menemukan kesulitan belajar yang dialami
siswa ini dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Apabila
hasil evaluasi formatif yang telah dilakukan menunjukkan banyak siswa
yang gagal dalam menjawab soal yang sama, maka tes diagnostik dapat
diberikan secara berkelompok. Namun, apabila hanya siswa tertentu yang
9

gagal dalam menajwab soal yang diberikan, maka tes diagnostik dapat
dilakukan secara individual.
Untuk mengatasi kesulitan belajar dapat dilakukan dengan
melaksanakan program perbaikan (remedial). Dalam hal ini, perlu ada
beberapa hal yang harus selalu diingat oleh seorang guru dalam
pelaksanaannya:
a. Kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa disebabkan
oleh faktor-faktor yang beraneka ragam
b. Kesulitan belajar yang terjadi pada seorang siswa disebabkan
oleh faktor-faktor yang sangat kompleks, sehingga akan sulit
untuk memahaminya secara sempurna
c. Suatu usaha untuk membantu memecahkan permasalahan
kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, mungkin berhasil
dengan baik untuk seorang siswa, tetapi belum tentu berhasil
pula bila digunakan untuk memberikan bantuan kepada siswa
yang lain.
Jadi, usaha untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami
oleh siswa ini harus dilakukan dengan mengadakan diagnosis dan
program remedial, yaitu proses pemeriksaan terhadap gejala
kesulitan belajar yang terjadi pada siswa dan diakhiri dnegan
mengadakan perbaikan sehingga masalah kesulitan belajar siswa
dapat diatasi.

1. Langkah-Langkah atau Prosedur Pembelajaran Diagnostik


Sebelum pengajaran remedial diberikan, seorang guru terlebih
dahulu harus melakukan kegiatan diagnostik kesulitan belajar, yaitu
upaya untuk meneliti dan memeriksa secara cermat, mengumpulkan
fakta-fakta untuk menentukan jenis dan penyebab kesulitan belajar
yang dialami oleh siswa, serta mencari alternatif strategi pengajaran
remedial yang efektif dan efisien.
10

Secara umum, ada lima langkah diagnosis kesulitan belajar ini,


sebagaimana yang dikemukakan oleh Ross dan Stanley yang dikutip
Program Akta Mengajar V-B, yaitu:
a. Identifikasi kasus, yaitu menentukan siapa-siapa siswa yang
mengalami gangguan dalam belajar
b. Lokalisasi jenis dan sifat kesulitan, yaitu menentukan di
manakah kelemahan-kelemahan itu dapat dilokasikan
c. Menetapkan faktor-faktor penyebab kesulitan belajar untuk
mengetahui mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi
d. Mengadakan pragnosis, yaitu melakukan estimasi terhadap
kesulitan belajar yang dialami oleh siswa untuk menentukan
penyembuhan-penyembuhan apakah disarankan
e. Mengadakan terapi, yaitu untuk menemukan berbagai
kemungkinan tentang bagiamana kelemahan itu dapat
dicegah/diatasi
Prayitno dalam Buku Bahan Pelatihan Bimbingan dan Konseling
(Dari “Pola Tidak Jelas ke Pola Tujuh Belas”) Materi Layanan
Pembelajaran, Depdikbud (1996) mengatakan bahwa secara skematik
langkah-langkah diagnostik dan remedial kesulitan belajar untuk kegiatan
bimbingan belajar, sebagai berikut:

Gambar 1. Skematik langkah-langkah diagnostik dan remedial


11

Berikut ini, penjelasan skema di atas tentang langkah-langkah


diagnostik dan remedial kesulitan belajar, sebagai berikut :
1) Identifikasi Kasus
Pada langkah ini, menentukan siswa mana yang diduga mengalami
kesulitan belajar.
Cara-cara yang ditempuh dalam langkah ini, sebagai berikut:
a. Menandai siswa dalam satu kelas untuk kelompok yang
diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
b. Caranya, ialah dengan membandingkan posisi atau kedudukan
prestasi siswa dengan prestasi kelompok atau dengan kriteria
tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan.
c. Teknik yang ditempuh dapat bermacam-macam, antara lain:
1. Meneliti nilai hasil ujian semester yang tercantum dalam
laporan hasil belajar dan kemudian membandingkan dengan
nilai rata-rata kelompok atau dengan kriteria yang telah
ditentukan.
2. Mengobservasi kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar,
siswa yang berperilaku menyimpang dalam proses belajar
mengajar diperkirakan akan mengalami kesulitan belajar.
2) Identifikasi Masalah
Setelah menentukan dan memprioritaskan siswa mana yang diduga
mengalami kesulitan belajar, maka langkah berikutnya adalah menentukan
atau melokalisasikan pada bidang studi apa dan pada aspek mana siswa
tersebut mengalami kesulitan. Antara bidang studi tentu saja ada bedanya,
karena itu guru bedang studi lebih mengetahuinya. Pada tahap ini
kerjasama antara petugas bimbingan dan konseling, wali kelas, guru
bidang studi akan sangat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan
belajarnya. Cara dan alat yang dapat digunakan, antara lain:
a. Cara yang langsung dapat digunakan oleh guru, misalnya:
1. Tes diagnostik yang dibuat oleh guru untuk bidang studi
masing-masing, seperti untuk bidang studi Matematika, IPA,
12

IPS, Bahasa dan yang lainnya. Dengan tes diagnostik ini dapat
diketemukan karakteristik dan sifat kesulitan belajar yang
dialami siswa.
2. Bila tes diagnostik belum tersedia, guru bisa menggunakan
hasil ujian siswa sebagai bahan untuk dianalisis. Apabila tes
yang digunakan dalam ujian tersebut memiliki taraf validitas
yang tinggi, tentu akan mengandung unsur diagnosis yang
tinggi. Sehingga dengan tes prestasi hasil belajar pun,
seandainya valid dalam batas-batas tertentu akan dapat
mengdiagnosis kesulitan belajar siswa.
3. Memeriksa buku catatan atau pekerjaan siswa. Hasil analisis
dalam aspek ini pun akan membantu dalam mendiagnosis
kesulitan belajar siswa.
Mungkin pula untuk melengkapi data di atas, bisa bekerjasama
dengan orang tua atau pihak lain yang erat kaitannya dengan lembaga
sekolah. Caranya, antara lain:
a. Menggunakan tes diagnostik yang sudah standar
b. Wawancara khusus oleh ahli yang berwewenang dalam bidang ini.
c. Mengadakan observasi yang intensif, baik di dalam lingkungan
rumah maupun di luar rumah.
d. Wawancara dengan guru pembimbing dan wali kelas, dengan orang
tua atau dengan teman-teman di sekolah.
3) Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor penyebab kesulitan belajar dapat dikategorikan menjadi
dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa itu
sendiri. Hal ini antara lain, disebabkan oleh:
1. Kelemahan fisik, pancaindera, syaraf, cacat karena sakit, dan
sebagainya
2. Kelemahan mental: faktor kecerdasan, seperti inteligensi dan bakat
yang dapat diketahui dengan tes psikologis
3. Gangguan-gangguan yang bersifat emosional
13

4. Sikap kebiasaan yang salah dalam mempelajari materi pelajaran


5. Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang
dibutuhkan untuk memahami materi pelajaran lebih lanjut
b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, sebagai
penyebab kesulitan belajar, antara lain:
1. Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa
untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkan siswa untuk belajar
secara aktif “student active learning”)
2. Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
3. Beban studi yang terlampau berat
4. Metode mengajar yang kurang menarik
5. Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
6. Situasi rumah yang kurang kondusif untuk belajar
Untuk memperoleh berbagai informasi di atas, dapat menggunakan
berbagai cara dan bekerjasama dengan berbagai pihak yang berhubungan
dengan kegiatan ini. Misalnya, untuk mendapatkan informasi tentang
keadaan fisik siswa, perlu bekerjasama dengan dokter atau klinik sekolah,
untuk memperoleh data tentang kemampuan potensial siswa dapat
bekerjasama dengan petugas bimbingan dan konseling (konselor) atau
dengan psikolog, untuk mengetahui sikap dan kebiasaan belajar siswa
dapat mengamatinya secara langsung di kelas, menggunakan skala sikap
dan kebiasaan belajar, wawancara dengan wali kelas, dengan orang tua,
dengan siswa itu sendiri, atau dengan teman-temannya, dan masih banyak
cara yang dapat ditempuh.
4) Prognosis/Perkiraan Kemungkinan Bantuan
Setelah mengetahui letak kesulitan belajar yang dialami siswa,
jenis dan sifat kesulitan dengan faktor-faktor penyebabnya, maka akan
dapat memperkirakan kemungkinan bantuan atau tindakan yang tepat
untuk membantu kesulitan belajar siswa. Pada langkah ini, dapat
menyimpulkan tentang:
a. Apakah siswa masih dapat ditolong untuk dapat mengatasi
kesulitan belajarnya atau tidak?
14

b. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang


dialami siswa tersebut?
c. Kapan dan di mana pertolongan itu dapat diberikan?
d. Siapa yang dapat memberikan pertolongan?
e. Bagaimana caranya agar siswa dapat ditolong secara efektif?
f. Siapa sajakah yang perlu dilibatkan atau disertakan dalam
membantu siswa tersebut, dan apakah peranan atau sumbangan
yang dapat diberikan masing-masing pihak dalam menolong siswa
tersebut ?
5) Rekomendasi atau Refeal
Pada langkah ini, menyusun suatu rencana atau alternatif bantuan
yang akan dilaksanakan. Rencana ini hendaknya mencakup:
a. Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan belajar
yang dialami siswa yang bersangkutan.
b. Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai terulang lagi.
Dalam membuat rencana kegiatan untuk pelaksanaan sebagai alternatif
bantuan sebaiknya, didiskusikan dan dikomunikasikan dengan pihak-
pihak yang dipandang berkepentingan, yang diperkirakan kelak terlibat
dalam proses pemberian bantuan.
Prosedur dan langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar di atas,
tampaknya lebih cenderung bersifat kuratif, dalam arti upaya mendeteksi
siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar setelah kegiatan belajar
selesai dilaksanakan atau setelah diketahui prestasi belajar/hasil belajar
siswa. Namun, dapat juga mengembangkan suatu prosedur diagnostik yang
tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga dapat bersifat preventive
developmental. Misalnya, sebelum pelajaran dimulai dapat memberikan
test entering behavior atau pretest. Data yang diperoleh dengan tes
tersebut dapat dijadikan dasar untuk memprediksi taraf kesiapan untuk
mengikuti pelajaran.
Dari data yang diperoleh siswa dapat dikelompokkan ke dalam
beberapa kelompok yang lebih homogen, sehingga memudahkan untuk
memperlakukannya dalam mengajar. Cara ini merupakan tidakan atau
15

upaya pencegahan (preventive). Contoh lain, selama proses belajar


mengajar berlangsung, guru dapat mengamati kegiatan dan pekerjaan
siswa dengan begitu guru dapat mengetahui kekeliruankekeliruan yang
dibuat oleh siswa dan dengan segera dan langsung memberikan upaya
bantuan. Dalam kegiatan ini adalah merupakan upaya diagnostik yang
lebih bersifat pengembangan (developmental) karena dengan upaya itu
siswa pada setiap saat dapat memperbaiki kekeliruannya sehingga sangat
diharapkan dapat memperoleh kemajuan belajar secara kontinyu.
Kemajuan belajar siswa dilihat sebagai suatu indikasi adanya perubahan
kearah kemajuan yang ditunjukkan dengan prestasi belajar yang diperoleh
siswa.
Dalam melaksanakan pengajaran remedial, bahwa boleh jadi akan
terjadi pengulangan (repetition), pengayaan (enrichment), pengukuhan
(reinforcement), dan percepatan (acceleration). Karena itu, meyangkut
segala kegiatan dan pelaksanaannya hendaknya dicermati dengan
sungguh-sungguh agar hasilnya memuaskan dan optimal keberhasilannya.
Remedial yang dilakukan oleh guru, untuk mengetahui ada tidaknya
perubahan pada diri siswa, perlu dilakukan evaluasi kembali.

2. Strategi dan Teknik Pembelajaran Diagnostik


Untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor penyebab
kesulitan belajar secara seksama, Burton (Makmun, 2002:310) melakukan
diagnostik kesulitan belajar berdasarkan pada teknik dan instrumen yang
digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut:
a. Diagnosis Umum
Pada tahap ini biasa digunakan tes baku, seperti yang digunakan untuk
evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Tujuannya
untuk menemukan siapakah yang diduga mengalami kelemahan
tertentu
b. Diagnosis Analitik
Pada tahap ini biasanya digunakan tes diagnostik. Tujuannya untuk
mengetahui dimana letak kelemahan tersebut
16

c. Diagnosis Psikologis
Pada tahap ini teknik, pendekatan, dan instrumen yang digunakan
antara lain sebagai berikut (1) Observasi; (2) Analisis karya tulis; (3)
Analisis proses dan respon lisan; (4) Analisis berbagai catatan
objektif; (5) Wawancara; (6) Pendekatan laboratoris dan klinis; (7)
Studi kasus.
Sasaran kegiatan diagnostik pada langkah ini pada dasarnya
ditujukan untuk memahami karateristik dan faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya kesulitan.
Perbedaan pokok dengan prosedur dan teknik bimbingan belajar
yang bersifat umum seperti yang telah kita pelajari ialah bahwa hasil akhir
(output) layanan bimbingan itu berupa perubahan pada diri siswa setelah
menjalani tindakan penyembuhan. Sedangkan hasil akhir dari layanan
diagnostik kesulitan belajar baru sampai pada rekomendasi tentang
kemungkinan alternatif tindakan penyembuhan.

E. Cara Menilai Pembelajaran Diagnostik


Untuk menilai atau menandai siswa yang diduga mengalami kesulitan
belajar yaitu dengan menghimpun dan menganalisis hasil catatan-catatan
hasil belajarnya serta menafsirkan dengan cara tertentu, kita akan
menemukan kasus termaksud. Dalam menfsirkan data hasil belajar itu
dapat dipergunakan citerion-referenced atau norm-referenced (PAP atau
PAN).
Kalau kita sampai mempergunakna citerion-referenced (PAP) dengan
berasusmsi bahwa instrumen evaluasi atau soal yang kita pergunakan telah
dikembangkan dengan memenuhi syarat caranya dapat kita tempuh dengan
langkah-langkah sebagai berikut.
(1) Tetapkan angka nilai kualifikasi minimal yang dapat diterima
(misalnya 5,5; 6 atau 7 dan sebagainya) sebagai batas lulus (passing
grade) atau jumlah kesalahan minimal yang masih dapat dimaafkan.
(2) Kemudian bandingkan angka nilai (prestasi) dari setiap siswa dengan
angka nilai batas lulus tersebut. Catatlah siswa-siswa mana yan nilai
17

prestasinya berada dibawah nilai batas lulus tersebut. Secara teoritis


mereka yang memiliki nilai dibawah angka batas lulus adalah yang
diduga mengalami masalah belajar.
(3) Himpunlan semua siswa yang angka nilai prestasinya berada dibawah
nilai batas lulus tersebut. Kesemuanya mungkin akan sebagian besar,
seimbang, atau sebagian kecil dari jumlah populasi di kelas atau
kelompok.
(4) Kalau ingin mengadakan prioritas layanan kepada mereka yang diduga
paling berat kesulitannya atau paling banyak membuat salah, kita
dapat membuat ranking, dengan langkah-langkah sebagai berikut.
(a) Pertama, selisihkan angka nilai prestasi setiap siswa (kasus)
dengan nilai passing grade sehingga diperoleh angka selisih.
(b) Susunlah daftar kasus tersebut mulai dengan sisswa yang angka
selisihnya paling besar.
Dengan cara tersebut maka kita dapat menandai :
(a) Kelas atau kelompok siswa sebagai kasus, jika diteliti ternyata
mayoritas dari populasi kelas atau kelompok tersebut nilai
prestasinya dibawah batas lulus.
(b) Individu-individu siswa sebagai kasus, jika ternyata hanya
sebagian kecil dari populasi yang memperoleh angka dibawah
batas lulus, bahkan lebih lanjut sudah ditandai pula siswa mana
yang diprioritaskan perlu dibantu.
Alternatif kedua kita menggunakan norm references dimana nilai
prestasi rata-rata yang dijadikan ukuran pembanding bagi setiap nilai
prestasi siswa secara individual.
Langkah-langkahnya sebagai berikut.
(1) Cari atau hitunglah nilai rata-rata kelas tau kelompok.
(2) Kemudian tandailah siswa-siswa yang angka nilai prestasinya
berada dibawah rata-rata prestasi kelasnya.
(3) Kalau ingin diadakan prioritas layanan bimbingan, buatlah
ranking seperti sebelumnya.
18

Dengan jalan demikian, maka kita akan mendapatkan sejumlah siswa


kasus yang diduga mengalami kesulitan belajar karena jauh berbeda
dibanding rata-rata kelasnya. Kalau ingin mendapat gambaran tentang
kualifikasi kelas yang bersangkutan secara keseluruhan, kita dapat
membandingkan nilai rata-rata prestasi kelas yang satu dengan kelas yang
lain.
Alternatif kedua diatas hanya dapat menunjukan kasus-kasus yang
diduga mengalami kesulitan belajar di banding prestasi kelompoknya.
Sedangkan tingkat penyampaian penguasaan dari pelajaran sukar diketahui
karena mungkin saja dalam situasi tertentu nilai prestasi seluruh siswa
kelompok yang bersangkutan berada dibawah angka batas lulus. Apalagi
jika kelas pembanding tidak ada. Maka jika berorientasi pada mutu
pelajaran, mungkin akan lebih cocok menggunakan alternatif yang
pertama.
Kasus kesulitan belajar dapat pula dideteksi dari catatan observasi atau
laporan proses kegiatan belajar mengajar. Diantara catatan proses belajar,
yaitu :
(1) Penggunaan Catatan Waktu Belajar Efektif
Dalam lembaga pendidikan, guru, atau mata pelajaran tertentu
mulai diadakan pencatatan waktu efektif digunakan oleh siswa dalam
memecahkan soal atau mengerjakan tugas tertentu. Dalam konteks
kelas, lazimnya waktu dialokasikan untuk tiap bidang studi tiap jam
pelajaran tersebut 40-50 menit. Dalam kontekas tugas individual
ditetapka berdasarkan hitungan hari atau minggu tertentu dengan
ditetapkan batas waktu pengumpulan.
Dengan membandingkan (berapa lama keterlambatannya) dan
frekuensi siswa secara kelompok dengan membuat ranking, mulai dari
mereka yang paling sering terlambat dalam penyelesaian soal-soal atau
tugas-tugas, kita akan mudah menemukan kasus-kasus yang diduga
mengalami kesulitan belajar.
(2) Pengunaan Catatan Kehadiran (Presensi) dan Ketidakhadiran
(Absensi)
19

Pada umumnya guru sangat memperhatikan pencatatan


ketidakhadiran siswa-siswanya. Frekuensi ketidakhadiran ini pun
merupakan indikator berharga untuk menandai siswa-siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar.
Dengan membuat ranking dari yang paling banyak angka
ketidakhadirannya, kita mudah menemukan siapa-siapa siswa yang
dapat dijadikan kasus.

(3) Penggunaan Catatan atau Bagan Partisipasi


Dalam bidang studi tertentu (IPS, PKN, dan sebagainya) dimana
sangat diutamakan penguasaaan keterampilan komunikasi dan interaksi
sosial dalam menyumbangkan pikiran, menyanggah, dan menjawab
dengan argumentasi tertentu, maka catatan bagan partisipasi sangat
berharga. Dengan menghitung frekuensi pembicara dengan segala
kualifikasinya, kita akan memperoleh gambaran berapa banyak aktivitas
atau kontribusi serta pastisipasi siswa dalam kelompoknya (kelas).
dengan memperhatikan frekuensi tersebut maka akan dapat kita tandai
siswa mana yang aktif, kontributif, akomodatif, atau pasif saja.
(4) Pengunaan Catatan dan Bagan Sosiometrik
Dalam bidang studi tertentu juga siswa terkadang dituntut untuk
bekerja sama dalam kelompoknya. Salah satu kondisi yang perlu ada
untu bekerja sama adalah, salling menerima, saling percaya, dan saling
menyenangi diantara sesama anggotanya dan juga pemimpinya. Oleh
karena itu gambaran catatan dan bagan sosiometrik ini sangat penting,
dimana siswa yang satu memilih atau dilih atau tidak memilih dan atau
tidak dilih oleh siswa yang lain. Dari daftar frekuensi pilihan atau
sosiogramnya kita dapat mengetahu siswa mana yang dipilih disenangi
dan mana pula yang paling teisolasi (tidak ada yang memilih).
7. Ciri-ciri orang yang mengalami kesulitan
Ciri-ciri kesulitan belajar dan gejalanya :
1) Gangguan Persepsi Visual
20

a. Melihat huruf/angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis,


sehingga seringkali terbalik dalam menuliskannya kembali.
b. Sering tertinggal huruf dalam menulis.
c. Menuliskan kata dengan urutan yang salah misalnya: ibu ditulis ubi.
d. Kacau (sulit memahami) antara kanan dan kiri.
e. Bingung membedakan antara obyek utama dan latar belakang.
f. Sulit mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan
(tangan, kaki dan lain-lain).

2) Gangguan Persepsi Auditori


a. Sulit membedakan bunyi; menangkap secara berbeda apa yang
didengarnya.
b. Sulit memahami perintah, terutama beberapa perintah sekaligus.

c. Bingung/kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru (sulit


menyaring) sehingga susah mengikuti diskusi, karena sementara
mencoba memahami apa yang sedang didengar, sudah datang suara
(masalah) lain.

3) Gangguan Belajar Bahasa


a. Sulit memahami/menangkap apa yang dikatakan orang kepadanya.
b. Sulit mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan.

4) Gangguan Perseptual-Motorik

a. Kesulitan motoric halus

b. Memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang


mengakibatkan canggung dan kaku dalam gerakannya.

5) Hiperaktivitas

a. Sukar mengontrol aktifitas motorik dan selalu bergerak

b. Berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas lainnya tanpa


menyelesaikannya
21

6) Kacau (Distractability)

a. Tidak dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting

b. Tidak teratur, karena tidak memiliki urutan-urutan dalam proses


pemikiran.

c. Perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan

7) Cara mengidentifikasi masalah

Pertanyaan esensial yang harus terjawab dalam langkah identifikasi kasus


adalah siapa individu atau sejumlah individu yang dapat ditandai atau patut diduga
bermasalah atau memerlukan layanan bantun.

Idealnya individu yang mengalami masalah secara sukarela datang atau


meminta/bertanya kepada konselor (guru/pembimbing) untuk memperoleh
bantuan dalam rangka memecahkan masalah/kesulitan yang dirasakan atau
dialaminya. Namun pada umumnya, masih banyak yang merasa enggan untuk
secara sukarela meminta bantuan layanan bimbingan. Berbagai alasan yang
mungkin mendasarinya, antara lain: perasaan malu kalau masalah pribadinya
diketahui orang lain, tidak atau kurang percaya/yakin kepada konselor bahwa
memang mampu menjaga kerahasiaan (kompidensial) masalah pribadinya, atau
kasus yang bersangkutan tidak atau mampu menyadari bahwa dirinya itu sedang
menghadapi masalah atau kasus tersebut mencoba melakukan mekanisme
pertahanan diri meskipun sadar akan masalah yang dihadapinya tetapi ia berusaha
melupakannya (repression) yang pada hakekatnya merupakan penipuan pada diri
sendiri (self the ception) karena cara tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah
yang dihadapinya secara realistik

Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik


yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. Pada tahap ini,
dilakukan identifikasi terhadap apa yang akan dijadikan subjek studi kasus. Dalam
langkah ini dapat digunakan berbagai teknik pengumpulan data, seperti analisis
raport, analisis dokumentasi, wawancara dengan konselor, sosiometri atau
innstrumen lain yang tersedia dan dibutuhkan.
22

Data dari setiap instrument yang digunakan dianalisis secara kolektif guna
menentukan skor pencapaian dalam kelompok. Berdasarkan hasil analisis data
dari berbagai instrument tersebut, dapat dikenali mana yang menunjukan problem
spesifik yang memenuhi kriteria untuk dijadikan subjek studi kasus.

Pada tahap awal identifikasi kasus, di sarankan agar dapat mencatat 4-5
yang menunjukan problem serius. Selanjutnya mengkaji problem tersebut dan
kemudian menentukan 1 atau 2 yang menarik untuk dijadikan subjek kasus. 

Untuk mengidentifikasi kasus peserta didik, Prayitno dkk. telah


mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik, dengan
apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu
untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta
didik, seputar aspek :

a) Jasmani dan kesehatan

b) Diri pribadi

c) Hubungan sosial

d) Ekonomi dan keuangan

e) Karier dan pekerjaan

f) Pendidikan dan pelajaran

g) Agama, nilai, dan moral

h) Hubungan muda-mudi

i) Keadaan dan hubungan keluarga saat waktu senggang.

Robinson menyarankan berbagai cara untuk memotivasi kasus agar datang


kekonselor meminta bantuan, antara lain:
23

 Call them in approach

Panggil saja atau lakukan wawancara dengan semua kasus scara bergiliran.
Dari hasil komunikasi (wawancara) itulah akan di peroleh informasi kasus mana
yang sebenarnya perlu dibantu. Cara ini juga sangat tepat untuk mengurangi rasa
malu, kurang percaya, dan sebagainya karena pada dasarnya semua kasus
memperoleh perlakuan yang serupa.

 Maintain good relation atau open-door policy

Diciptakan berbagai cara secara tidak langsung untuk memperkenalkan


berbagai jenis bantuan dan kesedian guru/konselor untuk membantu kasusnya
yang tidak terbatas dengan kegiatan belajar mengajar dikelasmya. Disarankan
pada guru selain bertugas mengajar juga diserahai tugas-tugas mengkoordinasikan
atau menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan kasus dan
guru/konselor kedalam situasi informal, seperti rekreasi bersama, pertunjukan
(social evening), mengadakan ceramah tentang cara belajar yang baik termaksud
bagaimana memanfaatkan orang-orang sumber. Dengan cara demikian, jurang
pemisah hubungan kasus dan guru konselor itu di perkecil sehingga akrab dengan
terciptanya keakraban dan saling pengertian ini. Kasus setiap saat mengalami
masalah/kesulitan akan secara terbuka meminta bantuan guru atau konselor.

 Developing a desire for counseling

Jika pada cara kedua di atas masih menunggu kasus merasakan atau
memahami adanya masalah yang di alami, maka dalam cara ini, sengaja
diciptakan situasi sehingga secara segera dan langsung kasus dibawah ke arah
penyadaran akan masalah yang mungkin sedang atau akan (secara potensial) di
alaminya. Hal ini di tempuh dengan jalan:

Mengadministrasikan tes intelegensi, bakat, minat, prates atau pascates;


berdasarkan hasil tes tersebut secara  konfidensial dibicarakan dan ditunjukkan
kepada yang bersangkutan, baik segi kebaikan maupun kelemahannya;
selanjutnya bagaimana kemungkinan jalan keluarnya.
24

Mengadakan orientasi studi yang membicarakan dengan memperkenalkan


karakteristik perbedaan individual, perbedaan karakteristik berbagai program
bidang studi serta implikasinya bagi cara belajar mengajarnya termaksud kesulitan
yang mungkin timbul sehingga dapat dieksplorasi kemungkinan jalan keluarnya;

Mengadakan diskusi mengenai sesuatu masalah, misalnya beberapa kesulitan


dalam mempelajari bahasa asing, sehingga dalam diskusi tersebut diharapkan
secara spontan kasus yang mengalami hal-hal yang sama dapat mendiskusikannya
yang akhirnya akan sampai pada perlunya bantuan guru/konselor.

 Lakukan analisis presentasi belajar kasus

Analisis presentasi belajar atau catatan harian guru mengenai beberapa kasus
(anecdotal records) yang menunjukkan kelainan-kelainan tertentu (repit learners,
slow learner, troble makers, dan sebagainya). Secara fair, mungkin dapat
dibandingkan prestasi belajar kasus dengan presentasi kelompoknya (norm
referenced), kasus tertentu secara konfidensial tunjukkan posisinya dalam tataran
kelompoknya.

 Lakukan analisis sosiometri

Penyelenggaraan pilihan teman terdekat diantara sesama kasus (siapa yang


paling disenangi atau tidak disenangi dengan alasannya). Dengan jalan demikian,
dengan mudah ditemukan kasus mana yang diduga mengalami kesulitan
penyesuaian sosial yang memerlukan bimbingan.

Masalah merupakan suatu kendala atau persoalan yang harus diselesaikan,


dengan kata lain masalah adalah suatu kesenjangan antara kenyataan (realita)
dengan suatu yang diharapkan dengan baik (ideal), agar tercapai tujuan dengan
hasil yang maksimal. Untuk itu, sebelum dapat menyelesaikan sebuah masalah
atau persoalan tersebut maka terlebih dahulu kita harus melakukan
suatu  Identifikasi Masalah.

Identifikasi Masalah adalah suatu tahapan proses merumuskan masalah


untuk mengenali masalah yang ingin diselesaikan. Salah salah satu cara untuk
memudahkan seseorang mengungkapkan atau menyatakan identifikasi masalah
25

dengan baik adalah dengan mengetahui secara jelas masalah yang dihadapi. Ada
beberapa cara identifikasi masalah yaitu dengan mengetahui jenis masalah yang
dihadapi. Jenis-jenis masalah yang biasanya kita temui tersebut bisa disebabkan
oleh manusia sendiri, masalah yang disebabkan oleh cara, teknik atau struktur
kerja yang kurang baik maupun masalah yang disebabkan oleh fenomena yang
terjadi. Adapun supaya masalah penelitian yang kita pilih benar-benar tepat, kita
dapat mengetahuinya dengan mengenali  beberapa karakteristik atau ciri-ciri yang
biasanya menunjukan bahwa sesuatu hal itu termasuk sebuah masalah yaitu
misalnya bersifat menarik, sesuatu hal yang baru, dan merupakan sesuatu hal yang
penting.

Berkaitan dengan perencanaan khususnya perencanaan wilayah


dan kota, kenyataan bahwa tiap wilayah atau daerah memiliki potensi yang
berbeda baik ditinjau dari sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia
dan lain sebagainya, maka sebelum perencanaan terhadap sebuah wilayah
atau daerah dilakukan, diperlukan pendekatan wilayah yang berbeda-beda
bagi tiap daerah. Oleh karena itu tahapIdentifikasi Masalah sangat
berperan penting dalam proses perencanaan sebelum melakukan rangkaian
tindakan atau kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan
disepakati bersama dalam rangka penyelesaian masalah tersebut.

8. Mengetahui perbedaan tujuan layanan diagnostik dan


prognostik

Setiap kegiatan yang dilakukan mempunyai tujuan yang baik yang


ingin dicapai, dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung,
begitu pula dengan kegiatan ini. Pelaksanaan kegiatan Diagnosis Kesulitan
Belajar melibatkan guru dan siswa, maka tujuan yang ingin dicapai juga
berbeda antara guru dan siswa.

a. Siswa

Tujuan yang hendak dicapai setelah pelaksanaan kegiatan diagnosis kesulitan


belajar bagi siswa adalah:
26

1) Siswa memahami dan mengetahui kekeliruannya

2) Siswa memperbaiki kesalahannya

3) Siswa dapat memiliki cara atau metode untuk memperbaiki kesalahannya

4) Siswa dapat menguasai pelajaran dengan baik

5) Siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya

b. Guru

Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan diagnosis kesulitan belajar bagi


guru adalah :

1) Guru mengetahui kelemahan dalam proses belajar-mengajar

2) Guru dapat memperbaiki kelemahannya tersebut.

3) Guru dapat memberikan layanan yang optimal kepada siswa sesuai


dengan keadaan diri siswa perkembangannya siswa dapat terlaksana dengan
baik

Prognosis adalah yang digunakan dalam menyampaikan suatu tindakan


untuk memprediksi perjalanan penyakit yang didasarkan pada informasi diagnosis
yang tersedia. istilah medis ini yang menunjukkan prediksi dokter tentang
bagaimana pasien akan berkembang, dan apakah ada kemungkinan pemulihan.
Istilah ini juga sering digunakan dalam laporan medis dari pandangan dokter pada
suatu kasus, seperti prognosis penyakit kanker, patah kaki dan lain – lain.

Tujuan dari prognosis adalah untuk mengkomunikasikan prediksi dari


kondisi pasien di masa datang, dengan penyakit yang telah dideritanya.

Fungsi dari prognosis ini adalah menentukan rencana terapi selanjutnya,


sabagai bahan pertimbangan perawatan dan rehabilitasi

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat prognosa,


seperti Sifat atau ciri – ciri gangguan yang dialami pasien, Fungsi apa yang paling
27

tinggi tingkat aktivitasnya dan yang masih bisa berfungsi dengan baik dan
Masalah umum, misalnya jika terjadi pada usia awal. Biasanya pronosisnya lebih
buruk, terutama untuk perkembangan selanjutnya. Sehingga kita harus
memperhatikan adanya Dukungan sosial yang mungkin akan diterima pasien dari
lingkungan untuk membuatnya lebih baik dan Bentuk tindakan yang efektif serta
tindakan yang pernah gagal dilakukan, penting untuk diperhatikan.

Sebuah prognosis tidak selalu berakibat fatal, tetapi hanya


mengungkapkan apa yang paling mungkin terjadi di masa depan berdasarkan apa
yang diketahui pada saat dilakukan pemeriksaan. Untuk membuat prognosis yang
akurat ,sangat sulit. Terkadang diagnosis tidak akurat, terjadi baik karena hasil tes
tidak akurat, atau karena salah tafsir informasi. Terkadang diagnosis yang tepat,
tetapi prognosis tidak akurat. Kadang-kadang kedua diagnosis dan prognosis yang
akurat.

Penilaian atau prediksi dilakukan dengan sangat hati – hati sehingga bisa
mencapai prognosis yang akurat, berdasarkan diagnosis yang ada. Hal Ini
merupakan upaya untuk mengantisipasi adanya konsekuensi yang lebih berat lagi
pada saat pemulihan atau penyembuhan suatu penyakit. Untuk mewujudkan
penyembuhan yang efektif dibutuhkan  prognosis yang efektif pula.

Faktor penyebab adalah hal-hal yang menjadi penyebab seseorang


mengalami sesuatu. Dalam hal ini faktor penyebab kesulitan belajar siswa adalah
hal-hal yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar. Kesulitan belajar
yang dihadapi oleh siswa di sekolah akan bersumber dari beberapa hal yang
menjadi penyebabnya atau latar belakangnya. Untuk itu dalam usaha membantu
siswa tersebut perlu digali hal yang melatarbelakanginya adanya kesulitan belajar
siswa.

Kesulitan belajar siswa yang dihadapi oleh siswa bisa disebabkan oleh
beberapa faktor, baik faktor yang terdapat dalam dirinya (intern) maupun yang
terdapat di luar dirinya. Adapun kedua faktor yang bisa menghambat proses
belajar siswa menurut Mohammad Surya (1992: 87) adalah sebagai berikut:
28

a. Faktor yang terdapat dalam diri siswa (intern):


1) Kurangnya kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa
2) Kurangnya bakat khusus untuk situasi belajar tertentu
3) Kurangnya motivasi atau dorongan untuk belajar
4) Situasi pribadi terutama emosional yang dihadapi siswa-siswa tertentu
5) Faktor jasmaniah
6) Faktor bawaan seperti buta warna, dan sebagainya
b. Faktor yang terdapat di luar diri siswa (eksternal):

1) Faktor lingkungan sekolah yang kurang memadai

2) Situasi dalam keluarga yang kurang mendukung

3) Situasi lingkungan sosial yang mengganggu keadaan anak

Senada dengan pendapat di atas, M. Surya (1982: 67) menyimpulkan tentang


beberapa faktor penyebab kesulitan belajar yaitu sebagai berikut:

a. Faktor yang terletak pada dirinya (faktor intern) antara lain:

Kurangnya kemampuan dasar yang dimiliki oleh murid. Kemampuan


dasar (intelegensi) merupakan wadah bagi kemungkinan tercapainya hasil
belajar. Jika kemampuan ini rendah maka hasil yang akan dicapai pun akan
rendah pula, dan ini akan menimbulkan kesulitan belajar.

Kurangnya bakat khusus suatu situasi belajar tertentu. Seperti halnya


dengan intelegensi, bakat merupakan untuk mencapai hasil belajar tertentu.
Murid yang kurang atau tidak memiliki bakat dalam suatu kegiatan belajar
tertentu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan dalam belajar hanya
ditentukan oleh minat ini, sehingga anak yang kurang berminat dalam suatu
pelajaran tertentu akan lebih banyak mengalami kesulitan belajar.

Kurang motivasi atau dorongan untuk belajar. Tanpa motif yang besar
anak akan banyak mengalami kesulitan belajar, karena motif ini merupakan
faktor pendorong
29

Situasi pribadi terutama emosional yang dihadapi murid-murid


tertentu. Misalnya pertentangan yang dialami dalam dirinya, situasi
kekecewaan (frustasi), dalam kesedihan, dan sebagainya dapat menimbulkan
kesulitan dalam belajar.

Faktor-faktor jasmaniah, seperti cacat tubuh, gangguan kesehatan


gangguan penglihatan, pendengaran, kelainan jasmani dan sebagainya.
Misalnya anak yang terganggu pendengarannya akan lebih banyak
mengalami kesulitan dalam belajar.

Faktor-faktor bawaan, seperti buta warna, kidal cacat tubuh dn


sebagainya.

b. Faktor yang terletak di luar dirinya 

Faktor lingkungan sekolah yang kurang memadai bagi situasi belajar


anak seperti: cara mengajar, sikap guru, kurikulum atau materi yang
dipelajari, perlengkapan belajar yang kurang, cara evaluasi yang kurang tepat,
ruang belajar yang kurang memadai. Sistem administrasi, waktu belajar yang
kurang tepat, situasi sosial di sekolah, dan sebagainya.

Situasi dalam keluarga yang kurang mendukung situasi belajar seperti:


kekacauan rumah tangga (broken home). Kurang perhatian orang tua,
kurangnya perlengkapan belajar, kurangnya kemampuan orang tua, dan
sebagainya.

Situasi lingkungan sosial yang mengganggu keadaan anak seperti


pengaruh negatif dari pergaulan, situasi masyarakat yang kurang memadai,
gangguan kebudayaan seperti film, bacaan-bacaan, dan sebagainya.

Dari uraian diatas, kiranya dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa


pada dasarnya ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar
siswa, yakni faktor yang terdapat dalam diri siswa itu sendiri (faktor intern)
dan faktor yang ada di luar diri siswa (faktor ekstern) baik lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar. Dengan
mengetahui latar belakang kesulitan siswa, akan memberikan kemudahan
30

bagi guru dalam membantu mengatasi kesulitan belajar siswa tersebut, serta
akan memberikan suatu pemahaman bahwa meskipun siswa itu memiliki
kesulitan yang relatif sama, akan memiliki latar belakang yang berbeda.
Dengan demikian bantuan yang diberikanpun akan cenderung berbeda pula.

8) Cara-cara menangani kesulitan belajar

1. Strategi pembelajaran untuk anak dengan masalah perhatian :

a. Ubahlah cara mengajar dan jumlah materi baru yang akan


diajarkan

b. Adakanlah pertemuan dengan siswa

c. Bimbing siswa lebih dekat ke proses pengajaran

d. Berikan dorongan secara langsung dan berulang-ulang

e. Utamakan ketekunan perhatian daripada kecepatan menyelesaikan


tugas.

f. Ajarkan self monitoring of attention

2. Strategi pengajaran untuk anak dengan masalah daya ingat atau


memori

a. Ajarkan menggunakan high lighting untuk membantu memancing


ingatan

b. Perbolehkan menggunakan alat bantu memori

c. Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk


mengambil tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran

d. Ajarkan siswa yang bermasalah dengan daya ingat untuk berlatih


mengulang dan mengingat

3. Strategi pembelajaran untuk anak dengan masalah kognisi:

a. Berikan materi yang dipelajari dalam konteks “high meaning”


31

b. Menunda ujian akhir dan penilaian

c. Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang “tidak pernah


gagal”.

4. Strategi pembelajaran untuk anak dengan masalah social dan


emosional:

a. Buatlah system penghargaan kelas yang dapat diterima dan dapat


diakses

b. Membentuk kesadaran tentang diri dan orang lain

c. Mengajarkan sikap positif

Minta bantuan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Diagnostik kesulitan belajar sangat diperlukan karena kesulitan belajar
merupakan masalah umum dalam proses pembelajaran.
2. Makna dan tujuan belajar di lembaga bimbingan tes hanya bersifat
kuantitatif yaitu hanya berorientasi pada peningkatan nilai dan prestasi.
Sedangkan makna dan tujuan belajar menurut bimbingan dan konseling
selain kuatitatif juga bersifat kualitatif seperti meningkatkan motivasi
belajar, membentuk sifat dan kebiasaaan belajar yang positif, dan
lainnya.
3. Diagnostik kesulitan belajar adalah mengidentifikasi masalah belajar
pada siswa dengan meniliti latar belakangnya atau dengan cara
menganalisis gejala-gejala yang nampak.
4. Prosedur pembelajaran diagnostik yaitu mengidentifikasi kasus, kedua
menentukan letak kelemahan, menetapkan faktor penyebabnya,
keempat diadakan pragnosis, yang terakhir diadakan terapi.
5. Terdapat 6 Strategi dan teknik pembelajaran diagnostik yaitu
pembelajaran kontekstual, bermain peran, belajar tuntas, pembelajaran
partisipatif, pembelajaran dengan modul, pembelajaran inkuiri.
6. Untuk menilai pembelajaran diagnostik yaitu dengan teknik dan
instrumen berikut Diagnostik umum, diagnostik analitik, diagnostik
psikologis.

B. B. Rekomendasi
Diharapkan para pembaca dapat mengetahui bagaimana
urgensi, konsep, prosedur, teknik, cara penilaian diagnostik kesulitan
belajar agar semakin paham dan tau tentang kesulitan belajar pada siswa,
serta dapat memberikan penganan yang tepat apabila terdapat siswa yang
diduga mengalami kesulitan belajar.

32
DAFTAR PUSTAKA

Busono, Mardiati. (1988). Diagnosis dalam Pendidikan. Jakarta: Depdikbud

Crow & Crow. (1984). Psikologi Pendidikan (Terjemahan Kasijaniz). Surabaya;


Bina Ilmu

Hamalik, Oemar. (2004). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung; Sinar Baru
Algensindo

Harriman L., Phillip.(1953),Hansbook of Psychological.Tidak diketahui kota


terbit; Littlefield, Adams

Herliani, Elly & Heryati, Euis. (2012). Kesulitan Belajar dan Identifikasi
Kesulitan Belajar. [Online]. Diakses dari
https://www.slideshare.net/tohirhaliwaza/kesulitan-belajar-dan-
identifikasi-kesulitan-belajar pada 24 Februari 2019

Mulyadi. (2010). Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar. Jakarta; Erlangga

Sri, Ketut. dkk. (2009). Tujuan Bimbingan Belajar. [Online]. Diakses dari
http://bkbelajar.weebly.com/tujuan-bimbingan-belajar.html Pada 24
Februari

Ismail. (2016). Diagnosis Kesulitan Belajar Siswa dalam Pembelajaran Aktif di


Sekolah.

Sekolah Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Juntika, Achmad. (2006). Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Reftika Aditama

Mukhtar & Rusmini. (2001). Pengajaran Remedil Teori dan Penerapannya


dalam Pembelajaran. Jakarta: Fifa Mulia Sejahtera

Sanjaya, Wina. (2010). Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:


Prenada Media Group

Sugiyanto. Tanpa Tahun. Diagnostik Kesulitan Belajar. Yogyakarta: Universitas


Negeri Yogyakarta

Yusuf, Syamsu & Juntika Nurihsan. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling.
Bandung; OT. Remaja Rosda Karya

33