Anda di halaman 1dari 15

KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.

KES

TEKNIK ANALISIS OBAT SECARA KUALITATIF

PENDAHULUAN
Topik ini menguraikan tentang teknik analisis obat secara kualitatif (identifikasi
obat) menggunakan pereaksi-pereaksi kimia, dengan memperhatikan reaksi warna yang
terjadi dari hasil-hasil uji tersebut. Oleh karena ilmu farmasi merupakan bidang yang
terkait dengan kajian berbagai aspek obat, sehingga kemampuan dalam mengidentifikasi
dan menganalisis senyawa obat sangat penting dimiliki oleh seorang ahli farmasi
(pharmacyst).
Analisis kualitatif obat diarahkan pada pengenalan senyawa obat, meliputi
semua pengetahuan tentang analisis yang hingga kini telah dikenal. Dalam melakukan
analisis kita mempergunakan sifat-sifat zat atau bahan, baik sifat-sifat fisik maupun sifat-
sifat kimianya.
Teknik analisis obat secara kualitatif didasarkan pada golongan obat menurut
jenis senyawanya secara kimia, dan bukan berdasarkan efek farmakologinya. Hal ini
disebabkan karena kadang-kadang suatu obat dengan struktur kimia yang sama,
mempunyai efek farmakologi/daya terapeutis yang jauh berbeda. Misalnya asam
hidroksi benzoat dan turunannya sebagai berikut :
 asam salisilat (asam orto-hidroksi benzoat) digunakan sebagai obat luar
(keratolitikum)
 asetosal (asam asetil salisilat) digunakan sebagai obat analgetikum dan antipiretikum
 nipagin (metil-p-hidroksibenzoat) digunakan sebagai zat pengawet.

(a (b
(c)

Gambar 1.9. Asam salisilat (a), Asetosal (b), Nipagin (c)

Dalam bidang farmasi, analisis kualitatif/identifikasi bahan baku yang digunakan


sebagai bahan obat atau bahan baku pembantu/bahan tambahan, diperlukan untuk
memastikan jenis bahan obat atau bahan tambahan tersebut. Dalam dunia
kedokteran dewasa ini digunakan sekitar 1000 macam senyawa obat. Tidaklah
praktis melakukan identifikasi sedemikian banyak senyawa, karena itu materi analisis
kualitatif ini diarahkan kepada beberapa golongan obat yang khusus saja.
Dalam analisis kualitatif/identifikasi senyawa-senyawa anorganik dan senyawa-
senyawa organik, terdapat perbedaan-perbedaan yang penting. Sebagian besar
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

senyawa- senyawa anorganik merupakan senyawa-senyawa ionik yang dapat ditentukan


dengan suatu
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

bagan tertentu dalam identifikasinya secara konvensional (secara kimiawi).


Senyawa- senyawa organik pada umumnya terikat melalui ikatan kovalen, dan belum
ada suatu skema yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasinya secara
konvensional. Mengingat umumnya senyawa obat adalah senyawa organik, maka hal ini
juga menjadi kendala dalam analisis senyawa obat tersebut.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, maka teknik analisis kualitatif
senyawa organik juga semakin berkembang. Identifikasi pemastian jenis senyawa
dilakukan secara modern menggunakan instrumen-instrumen seperti spektrofotometri
UV–Vis, spektrofotometri IR, spektrofotometri Massa, kromatografi cair kinerja tinggi
(KCKT) atau High Performance Liquid Chromatography (HPLC), kromatografi gas
(KG) atau Gas Chromatography (GC) yang dapat memberikan hasil yang valid.
Mengingat instrumen- instrumen tersebut tidak dimiliki oleh seluruh daerah tempat
mahasiswa berada, sehingga metode analisis konvensional masih menjadi pilihan agar
analisis obat tersebut dapat dilakukan di manapun dengan peralatan yang sederhana.
Oleh karena itu untuk memberikan pengetahuan dasar kepada mahasiswa, maka
diperlukan materi pembelajaran tentang teknik pengujian secara konvensional yang
didasarkan pada sifat fisika dan kimia senyawa obat tersebut.
Dalam melakukan identifikasi obat secara konvensional, kita mempergunakan sifat-
sifat bahan baik sifat fisik maupun sifat kimianya. Misalnya ada suatu sampel cairan
dalam gelas kimia. Bila kita ingin tahu nama dan jenis sampel cair tersebut, maka kita
harus melakukan analisis kualitatif terhadap sampel cairan itu. Langkah pertama
adalah menentukan sifat fisik sampel tersebut, seperti warna, bau, indeks bias, titik
didih, massa jenis, dan kelarutannya. Begitu pula jika sampel yang kita jumpai
berbentuk padatan, kita tentukan sifat fisiknya meliputi warna, bau, warna nyala, titik
leleh, bentuk kristal, dan kelarutannya. Harus disadari bahwa untuk melalukan analisis
kualitatif yang cepat dan tepat diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai sifat fisik
bahan-bahan yang dianalisa. Pengetahuan ini sangat diperlukan dalam menarik
kesimpulan yang tepat. Data tentang sifat- sifat fisik ini dapat ditemukan dalam
Farmakope Indonesia, Merck Indeks, dan beberapa literatur lainnya.
Metode identifikasi obat secara konvensional dapat dilakukan melalui tiga tahap
yaitu:
I. Uji Pendahuluan, meliputi :
a. Penyandraan/penginderaan (organoleptik) yaitu mengidentifikasi sifat fisik
obat menggunakan indera untuk menentukan bentuk, warna, bau, dan
rasa obat
b. Penentuan sifat-sifat fisika, seperti kelarutan, penentuan titik lebur, dan
titik didih,
c. Pengujian derajat keasaman obat menggunakan tes keasaman
d. Penentuan unsur-unsur obat
II. Penentuan gugusan fungsional yang khas (uji golongan)
III. Penentuan jenis zat berdasarkan reaksi-reaksinya dengan pereaksi tertentu dan
pengamatan bentuk kristal menggunakan mikroskop.
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

A. TAHAP IDENTIFIKASI OBAT SECARA KONVENSIONAL

1. Uji Pendahuluan
a. Penginderaan/penyandraan (organoleptik) adalah uji identifikasi sifat fisik
obat meliputi bentuk, warna, bau, dan rasa obat menggunakan indera.
Uji organoleptik merupakan pengamatan sifat fisik obat secara langsung dan
hasil pengamatannya merupakan informasi awal yang berguna untuk analisis
selanjutnya. Pada umumnya bahan baku obat tidak berwarna atau berwarna putih,
oleh karena itu adanya pewarnaan lain dari bahan dapat menjadi titik awal untuk
identifikasi lanjutan. Berikut ini warna spesifik beberapa bahan obat :
Dipiridamol : kuning
Etakridin : kuning
Etaverin : kuning terang
Menadion : kuning
terang Niklosamida : kuning
pucat Nitrazepam : kuning
muda
Riboflavin : kuning sampai kuning-
jingga Tetrasiklin : kuning
b. Tes kelarutan
Kelarutan zat dalam pelarut tertentu merupakan sifat kimia fisik yang dapat
digunakan untuk identifikasi obat. Zat mempunyai kelarutan yang berbeda-beda terhadap
beberapa pelarut (air, alkohol, atau pelarut lainnya). Tes kelarutan dilakukan dengan
memasukan sedikit zat ke dalam tabung reaksi kemudian di dalamnya ditambahkan
pelarut kemudian digoyang-goyang dan diamati apakah zat tersebut dapat larut.
Apabila tidak ditentukan lain untuk menyatakan kelarutan zat, istilah kelarutan
dalam pengertian umum kadang-kadang perlu digunakan tanpa mengindahkan
perubahan- perubahan kimia yang mungkin terjadi pada pelarutan tersebut. Pernyataan
kelarutan zat dalam bagian tertentu menunjukkan bahwa satu bagian bobot zat larut
dalam volume tertentu pelarut. Kelarutannya dapat ditunjukkan dengan istilah
kelarutan berikut :

Tabel 1… Istilah kelarutan pada uji pendahuluan identifikasi obat secara konvensional

Jumlah bagian pelarut yang dibutuhkan untuk


Istilah Kelarutan
melarutkan satu bagian zat yang dilarutkan
Sangat mudah larut Kurang dari 1
Mudah larut 1 sampai 10
Larut 10 sampai 30
Agak sukar larut 30 sampai 100
Sukar larut 100 sampai 1000
Sangat sukar larut 1000 sampai 10.000
Praktis tidak larut Lebih dari 10.000
(..............., ............)
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

c. Uji keasaman
Pada saat menguji kelarutan obat, perlu diuji pula keasaman larutan atau pH
larutan obat/zat. Uji keasaman larutan obat/zat secara sederhana dilakukan
menggunakan kertas lakmus merah atau biru. Larutan yang bersifat asam akan
mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah dan larutan yang bersifat basa
akan mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru.
Hasil uji keasaman ini dapat digunakan pula untuk mengetahui jenis senyawa
yang dianalisis. Larutan senyawa-senyawa golongan asam, misalnya asam benzoat,
asam sitrat, asam askorbat, dan lain-lain, didalam air sudah pasti mengubah lakmus biru
menjadi merah. Hasil uji ini dapat pula membedakan antara alkaloid basa dan alkaloid
asam (garamnya). Alkaloid basa, misalnya efedrin, akan mengubah lakmus merah jadi
biru , tetapi karena sifat kebasaannya yang sangat lemah maka perubahan lakmus merah
menjadi biru hampir tidak jelas. Sedangkan alkaloid asam, misalnya efedrin HCl, akan
mengubah lakmus biru menjadi merah dan perubahannya sangat jelas.

d. Penentuan unsur-unsur
Penentuan unsur dalam identifikasi senyawa obat adalah tahap untuk
menentukan keberadaan/kehadiran unsur selain karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen
(O) pada obat yang diidentifikasi. Unsur-unsur lain yang diperiksa tersebut adalah
nitrogen (N), sulfur (S), fosfor (P), dan halogen (Cl, Br, dan I). Keberadaan unsur-unsur
tersebut sangat berpengaruh terhadap langkah pengujian senyawa obat tersebut.
Untuk melakukan pengujian unsur, maka zat uji sebelumnya
didestruksi/dipijarkan bersama dengan logam natrium. Kemudian sisa destruksi/residu
dilarutkan dalam air untuk selanjutnya dilakukan pengujian unsur. Keberadaan unsur
N, S, P, dan halogen dapat disesuaikan dengan unsur-unsur penyusun senyawa obat
yang dapat dilihat pada rumus kimia obat yang tertera pada monografi masing-masing
dalam Farmakope Indonesia. Adanya unsur-unsur tersebut dapat digunakan sebagai
pengarah pada langkah uji selanjutnya, sebagai contoh yaitu :
 jika hasil pengujian penentuan unsur diperoleh adanya keberadaan/kehadiran
unsur N, maka pengujian selanjutnya diarahkan kepada senyawa yang
mengandung unsur N pada rumus kimianya, seperti benzokain
(C9H11NO2), parasetamol (C8H9NO2), salisilamid (C7H7NO2), dan lain-lain;
 jika hasil pengujian penentuan unsur diperoleh adanya keberadaan/kehadiran
unsur N dan Cl, maka pengujian selanjutnya diarahkan kepada senyawa yang
mengandung unsur N dan CL dalam rumus kimianya, seperti efedrin
hidroklorida (C10H16NOCl), difenhidramin hidroklorida (C 17H22NOCl),
kloramfenikol (C11H12Cl2N2O5), dan lain-lain;
 Jika hasil pengujian penentuan unsur diperoleh adanya keberadaan/kehadiran
unsur N dan Br, maka pengujian selanjutnya diarahkan kepada senyawa yang
mengandung unsur N dan Br dalam rumus kimianya, seperti bromheksin
(C14H20Br2N2), bromisoval (C6H11BrN2O2), skopolamin-N-butilbromida
(C21H30NO4Br), dan lain-lain;
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

 jika hasil pengujian penentuan unsur diperoleh adanya keberadaan/kehadiran


unsur N dan S, maka pengujian selanjutnya diarahkan kepada senyawa
yang mengandung unsur N dan S dalam rumus kimianya, seperti metionin
(C5H11NO2S), sulfametoksazol (C10H11N3O3S), tolbutamid (C12H18N2O3S), dan lain-
lain;
 jika hasil pengujian penentuan unsur diperoleh adanya keberadaan/kehadiran
unsur N,S dan Cl, maka pengujian selanjutnya diarahkan kepada senyawa
yang mengandung unsur N, S, dan CL dalam rumus kimianya, seperti
hidroklorotiazid (C7H8ClN3O4S2), promazin hidroklorida (C17H21N2SCl),
tiamin hidroklorida (C12H18N4OSCl2), dan lain-lain;
 jika hasil pengujian penentuan unsur diperoleh adanya keberadaan/kehadiran
unsur N dan P, maka pengujian selanjutnya diarahkan kepada senyawa
yang mengandung unsur N dan P dalam rumus kimianya, seperti kodein
fosfat (C18H24NO7P), dan lain-lain.

Sebaliknya, jika hasil pengujian tidak ditemukan kehadiran unsur N, S, P,


maupun halogen, maka pengujian diarahkan kepada senyawa yang dalam rumus
kimianya tidak terdapat unsur-unsur tersebut. Misalnya asam askorbat (C 6H8O6),
menadion (C11H8O2), golongan karbohidrat (glukosa, laktosa, dan karbohidrat
lainnya), dan lain-lain.
Jika hasil pengujian unsur ditemukan kehadiran unsur N, maka dapat dilakukan
pengujian khas terhadap senyawa yang mengandung unsur nitrogen tersebut,
seperti:

a. Pemeriksaan senyawa nitro aromatik


Contoh senyawa yang memiliki gugus nitro aromatik adalah kloramfenikol.

Gambar 1.10. Struktur molekul Kloramfenikol

Gugus nitro aromatik terlebih dahulu direduksi menjadi gugus amin dengan melarutkan
zat uji dalam etanol, kemudian diasamkan dengan HCl encer dan ditambah serbuk Zn.
Campuran dipanaskan di atas penangas air selama 10 menit kemudian disaring.
Filtrat diuji sebagai gugus amin aromatik primer menggunakan pereaksi Diazo (lihat
pemeriksaan senyawa amin aromatik primer).

b. Pemeriksaan senyawa basa amin


Senyawa basa amin merupakan senyawa dari kelompok alkaloid, pemeriksaan senyawa
basa amin dapat dilihat pada uji golongan alkaloid menggunakan pereaksi
Mayer.
c. Pemeriksaan amin aromatik primer
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

Contoh senyawa yang memiliki gugus amin aromatik adalah senyawa-senyawa


sulfonamide, contoh: sulfametoksazol.
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

Gambar 1.11. Struktur molekul Sulfametoksazol

Pemeriksaan dilakukan dengan cara melarutkan zat uji dalam HCl encer, kemudian
direaksikan dengan pereaksi Diazo. Adanya senyawa dengan gugus amin aromatis
primer ditandai dengan terbentuknya warna merah jingga atau endapan.

2. Uji Penentuan Gugus Fungsional (Uji Golongan)


a. Pemeriksaan golongan senyawa karbohidrat
Pemeriksaan golongan senyawa karbohidrat dilakukan dengan pereaksi
Molisch (larutan α-naftol 3% dalam etanol dan asam sulfat pekat). Pemeriksaan
dilakukan dengan cara memasukkan ± 5 mg zat uji kedalam tabung reaksi dan
melarutkannya dengan 1 mL air suling. Untuk mempersingkat waktu, dapat juga
digunakan larutan hasil uji kelarutan zat uji dalam air. Kemudian ditambahkan 5 tetes
pereaksi α-naftol kedalam larutan uji dan dikocok. Kemudian ditambahkan 1 mL asam
sulfat pekat secara hati-hati yang dialirkan melalui dinding tabung. Langkah ini
dilakukan dalam lemari asam. Jika larutan uji mengandung senyawa karbohdirat,
maka diantara kedua lapisan akan terbentuk cincin berwarna ungu. Senyawa yang
termasuk dalam golongan karbohidrat antara lain glukosa, fruktosa, laktosa, sukrosa,
amilum, karboksi metil sellulosa (CMC), dan lain-lain.
Dalam pemeriksaan golongan karbohidrat ini, uji pendahuluan pendukung adalah
rasa manis pada zat uji, kecuali amilum yang hampir tidak berasa. Hasil uji kelarutan
amilum dalam air, yaitu tidak larut dalam air dingin, tetapi dengan pemanasan akan
terbentuk larutan kental.

b. Pemeriksaan golongan senyawa asam organik


Pemeriksaan golongan senyawa asam organik dilakukan dengan menguji larutan
zat dalam air menggunakan kertas lakmus biru. Larutan zat uji akan mengubah
lakmus biru menjadi merah. Senyawa yang termasuk dalam golongan asam antara lain
asam sitrat, asam benzoat, asam salisilat, asetosal, asam askorbat, dan lain-lain.
Pengujian lain yang dapat digunakan terhadap golongan asam, khususnya asam-asam
yang memiliki gugus karboksilat/ gugus -COOH, adalah dengan pembentukan senyawa
ester. Pengujian terhadap golongan asam melalui pembentukan senyawa ester
dilakukan dengan mereaksikan larutan uji menggunakan alkohol, misalnya
metanol/etanol, dan katalisator asam sulfat pekat disertai dengan
pemanasan/penggunaan kalor. Terbentuknya senyawa ester tersebut dapat diamati
dengan mencium bau ester yang terbentuk secara spesifik.
Dalam pemeriksaan golongan asam ini, uji pendahuluan pendukung adalah rasanya
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

yang sangat asam. Beberapa senyawa lain yang merubah lakmus biru menjadi merah
adalah
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

garam hidroklorida dari golongan senyawa alkaloid, misalnya efedrin hidroklorida,


tiamin hidroklorida, dan lain-lain. Uji pendahuluan garam hidroklorida dari golongan
senyawa alkaloid ini memiliki rasa yang pahit dan tidak asam.

c. Pemeriksaan golongan senyawa fenol


Pemeriksaan golongan senyawa fenol dilakukan dengan menguji larutan zat dalam
air/etanol dengan 2 tetes larutan besi (III) klorida 1%. Larutan zat uji akan membentuk
warna merah sampai ungu. Senyawa yang termasuk dalam golongan fenol antara lain
parasetamol, asam p-aminosalisilat, asam salisilat, salisilamida, dan lain-lain.
Asam salisilat juga memberi hasil positif fenol, karena asam salisilat disamping
memiliki gugus karboksilat sebagai asam, juga memiliki gugus fungsi fenol (-OH) yang
terikat pada inti benzen pada posisi orto terhadap gugus karboksilat. Tetapi karena
rasanya yang asam dan mengubah lakmus biru jadi merah, maka asam salisilat
dimasukkan dalam golongan asam.

d. Pemeriksaan golongan senyawa alkaloid


Pemeriksaan senyawa alkaloid dilakukan dengan menguji larutan zat dalam
asam klorida encer dengan pereaksi Mayer (Larutan HgCl 2 direaksikan dengan KI
berlebih) dan pereaksi Bouchardat (larutan iodium). Larutan zat uji akan membentuk
endapan kuning dengan pereaksi Mayer, dan diperoleh endapan coklat dengan
pereaksi Bouchardat.
Dalam pemeriksaan golongan alkaloid ini uji pendahulun pendukung adalah hasil uji
unsur positif mengandung unsur N dan pada umumnya alkaloid terasa pahit. Senyawa
yang termasuk dalam golongan alkaloid antara lain adalah kofein, kodein, papaverin,
efedrin, dan lain-lain.

e. Pemeriksaan senyawa sulfonamida


Pemeriksaan senyawa sulfonamida dilakukan dengan menguji larutan zat dalam
asam klorida dengan batang korek api. Keberadaan senyawa sulfonamida dalam asam
klorida akan mengubah batang korek api menjadi berwarna jingga.
ini uji pendahuluan pendukung dalam pemeriksaan golongan sulfonamida adalah
hasil uji unsur positif mengandung unsur N sebagai amin aromatis primer dan S, serta
rasa agak pahit. Senyawa yang termasuk dalam golongan sulfonamida adalah
sulfametoksazol, sulfanilamid, sulfaguanidin, dan lain-lain.

f. Pemeriksaan golongan senyawa barbiturat


Pemeriksaan senyawa barbiturat dilakukan dengan menguji larutan zat dalam
etanol dengan pereaksi Zwikker (campuran Zwikker I(Co(NO3)2] 1% dalam etanol dan
Zwikker II (piridin 10% dalam etanol). Keberadaan senyawa barbiturat yang
direaksikan dengan pereaksi Zwikker akan mengubah larutan zat uji menjadi
berwarna ungu.
Dalam pemeriksaan golongan barbiturat ini uji pendahuluan pendukung adalah hasil
uji unsur positif mengandung unsur N, kelarutannya dalam air yaitu bentuk asam sangat
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

sukar larut sampai praktis tidak larut, garamnya (garam natrium) sangat mudah larut,
rasa agak
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

pahit. Senyawa yang termasuk dalam golongan senyawa barbiturat antara lain adalah
fenobarbital, heksobarbital, dan lain-lain.

3. Uji Penentuan Jenis Zat (Uji Penegasan) dan Pengamatan Bentuk Kristal
Penentuan jenis zat/uji penegasan merupakan pengujian untuk memastikan
senyawa yang diidentifikasi/diperiksa. Penentuan jenis zat ini dilakukan secara
konvensional menggunakan pereaksi-pereaksi tertentu dan pengamatan bentuk kristal
zat yang diperiksa menggunakan mikroskop. Uji penegasan ini dilakukan untuk
membedakan antara satu senyawa dengan senyawa lainnya yang segolongan.

a. Pengamatan hasil reaksi dengan pereaksi tertentu


Untuk melakukan pengujian menggunakan pereaksi tertentu, pereaksi-pereaksi
yang dapat digunakan dapat dilihat pada masing monografi zat uji yang tertera dalam
Farmakope Indonesia edisi III maupun edisi IV. Pengamatan hasil uji yang diamati
berupa warna, endapan, dan bau yang terjadi disesuaikan dengan hasil reaksi
identifikasi dalam monografi zat uji tersebut. Sebagai tambahan untuk uji identifikasi ini
dapat dilihat pada buku identifikasi obat (Auterhoff dan Kovar). Uji ini dikenal sebagai
reaksi warna.
Sebagai contoh berdasarkan hasil uji pendahuluan diketahui bahwa senyawa yang
dianalisis merupakan golongan senyawa alkaloid, hasil uji unsur menunjukkan bahwa
selain mengandung unsur N, senyawa tersebut mengandung unsur halogen (klorida).
Uji penegasan senyawa ini dapat diarahkan pada pengujian garam hidroklorida dari
alkaloid, misalnya efedrin HCl, papaverin HCl, dan piridoksin HCl. Lakukan pengujian
penegasan dengan melihat uji identifikasi yang tertera pada monografi masing-
masing zat uji dalam Farmakope, dan amati hasil reaksinya.
Reaksi identifikasi konvensional (reaksi warna) beberapa senyawa menurut
Farmakope Indonesia edisi III adalah :
1. Efedrin HCl, prosedur atau langkah-langkah kerjanya adalah:
 Larutkan 10 mg dalam 1 ml air, tambahkan 0,1 ml larutan tembaga
(II) sulfat p dan 2 ml larutan natrium hidroksida p; terjadi warna violet,
tambahkan 1 ml eter p, kocok; lapisan eter berwarna violet
kemerahan, lapisan air berwarna biru.
 Larutkan 50 mg dalam 1 ml air, tambahkan 4 ml natrium hidroksida
0,1 N dan 3 ml karbontetraklorida p, kocok selama beberapa detik,
dan biarkan selama 2 menit. Pisahkan lapisan organik, tambahkan
sedikit tembaga P, kocok; terjadi kekeruhan segera dan setelah 1 atau
2 menit terbentuk endapan
 Menunjukkan reaksi klorida (larutan zat dengan pereaksi perak nitrat
memberi endapan putih)

2. Papaverin HCl, prosedur atau langkah-langkah kerjanya adalah:


 Larutkan 10 mg dalam 1 ml asam sulfat p, panaskan hingga suhu
160ºC; terjadi warna violet.
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

 Larutkan lebih kurang 20 mg dalam 9 mL air yang telah ditambah


ammonia encer p; biarkan; terbentuk endapan, saring, cuci endapan
dengan air; suhu lebur endapan lebih kurang 146ºC.
 Menunjukkan reaksi klorida
3. Piridoksin HCl, prosedur atau langkah-langkah kerjanya adalah:
 Masukkan ke dalam 2 tabung kimia masing-masing 1 mL larutan
yang mengandung 1µg dan 2 mL larutan natrium asetat P 20% b/v. pada
tabung pertama tambahkan 1 mL larutan asam borat 4% b/v, campur.
Dinginkan kedua tabung hingga suhu 20º. Pada masing-masing tabung
tambahkan dengan cepat 1 mL larutan diklorokinonklorimida p 0,5 %
b/v dalam etanol (95%) p,. dalam tabung pertama terjadi warna biru,
yang segera memucat dan setelah beberapa menit berubah menjadi
merah; dalam tabung kedua tidak terjadi warna biru.
 Pada 2 mL 0,5% b/v tambahkan 0,5 mL larutan asam fosfowolframat
P, terbentuk endapan putih.
 Menunjukkan reaksi klorida
b. Pengamatan Bentuk Kistal (Uji sublimasi mikro)
Informasi tentang bentuk kristal suatu zat padat sangat penting dalam analisis
kualitatif zat, karena bentuk kristal suatu zat adalah khas. Alat yang digunakan untuk
melihat bentuk kristal adalah mikroskop.
Sublimasi mikro merupakan salah satu cara analisa fisika digunakan untuk
mengidentifikasi beberapa obat dan bahan farmasi. Dasarnya ialah ada zat padat bila
dipanasi, sebelum mencair, bisa langsung berubah menjadi fasa gas, dan pada
pendinginan berubah lagi menjadi fasa padat dengan bentuk khas. Dalam proses
sublimasi ini, beberapa zat padat pada pendinginan mungkin dari fasa gas itu melalui
fasa cair dulu, kemudian menghablur dan ada zat yang langsung dari fasa gas
berubah, menjadi fasa padat. Hasil sublimat inilah yang nantinya akan diamati dibawah
mikroskop. Masing-masing senyawa obat akan menampakkan bentuk kristal yang
spesifik.
Contoh hasil pengamatan bentuk kristal dari senyawa garam alkaloid, antara
lain efedrin HCl, papaverin HCl, dan piridoksin HCl ditampilkan pada Tabel 1.3.
berikut.
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

Tabel 1.3. Hasil pengamatan mikroskopik Efedrin HCl, Papaverin HCl, dan Piridoksin
HCl

Keterangan
No. Senyawa Obat Hasil Pengamatan
(bentuk kristal)

Kristal berbentuk
1. Efedrin HCl bulat dengan lingkaran di
bagian tengahnya

Kristal berbentuk batang


2. Papaverin HCl yang
Menyerupai serat kayu

Kristal berbentuk jarum,


3. Piridoksin HCl ada yang panjang dan ada
yang pendek

Ringkasan

Kadang-kadang suatu obat dengan struktur kimia yang sama, mempunyai efek
farmakologis yang jauh berbeda. Oleh karena itu, analisis kualitatif obat didasarkan
pada golongan obat menurut jenis senyawanya secara kimia (bukan berdasarkan
efek farmakologinya). Berbeda dengan analisis kuantitatif, untuk memudahkan
mahasiswa mempelajari bagaimana menentukan kadar obat dengan efek farmakologis
yang sama, maka beberapa literatur mengelompokkan analisis kuantitatif/kadar
berdasarkan efek farmakologis tersebut.
KIMIA FARMASI KUALITATIF DEWI MARLINA, S.F., APT., M.KES

Identifikasi obat secara sederhana (konvensional) didasarkan pada sifat-


sifat bahan baik sifat fisik maupun sifat kimianya. Metode identifikasi obat
secara konvensional dapat dilakukan melalui beberapa tahap yaitu 1) Uji
Pendahuluan : rasa, kelarutan, keasaman, dan uji unsur; 2) uji golongan; dan
3) uji penegasan.
Untuk memudahkan dan mengarahkan uji identifikasi obat, maka lakukan
ke 3 langkah tersebut secara bertahap. Hasil uji pendahuluan digunakan sebagai
pengarah dalam langkah uji selanjutnya, misalnya rasa pahit, mudah larut
dalam air, pH asam, uji unsur positif mengandung unsur N. Maka pengujian
selanjutnya dapat diarahkan pada garam-garam hidroklorida alkaloid
(dilakukan uji golongan alkaloid). Kemudian dilakukan uji penegasan dengan
melihat identifikasi masing-masing senyawa obat pada monografinya dalam
Farmakope Indonesia.