Anda di halaman 1dari 9

Fisika Dasar Drs.

Joko Sudomo, MA

DINAMIKA

A. Pendahuluan
Dinamika merupakan bagian dari fisika yang membahas tentang gaya-gaya yang
menyebabkan perubahan gerak, ukuran, dan bentuk suatu benda. Pada bagian ini kita hanya
akan membahas yang pertama saja, yaitu hubungan antara gaya yang bekerja pada suatu
benda dengan gerak yang dihasilkan. Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya anda sekurang-
kurangnya pernah atau bahkan sering melihat orang mendorong mobil yang mogok. Pada
kejadian itu orang memberikan gaya, yang disebut gaya otot, terhadap mobil. Contoh yang
lain, gerak elektron mengelilingi inti atom misalnya, disebabkan oleh adanya gaya listrik.
Gerak planet-planet mengelilingi matahari terjadi karena adanya gaya gravitasi. Gerak
yang disebutkan di atas merupakan hasil interaksi antara benda-benda yang berbeda.
Namun demikian perlu digaris bawahi bahwa pemberian gaya pada suatu benda tidak
selalu menghasilkan gerak. Sebagai contoh, jika anda mendorong tembok jelas ada interaksi
antara anda dengan tembok, yaitu adanya gaya. Tetapi ternyata tembok tersebut sama sekali
tidak bergerak. Pada kasus yang lain, interaksi antara dua benda dapat menyebabkan kedua
benda tersebut bergerak. Dapatkah anda memberikan contohnya?
Gaya dapat diartikan sebagai dorongan atau tarikan yang menyebabkan atau
cenderung menyebabkan gerak, menghentikan atau cenderung menghentikan gerak. Setelah
kita membahas pengertian gerak, barangkali pertanyaan yang muncul di benak kita adalah:
ada berapa macam gayakah? Gaya dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu:

1. Gaya gravitasi
Gaya gravitasi merupakan hasil interaksi antara 2 massa benda atau objek. Besar gaya
tersebut berbanding lurus dengan massa benda yang berinteraksi dan berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak antar kedua benda. Secara matematis gaya gravitasi dituliskan:
m1 . m2
F = G ----------
r2

Keterangan: m1: massa benda pertama


m2 : massa benda kedua
r : jarak antara kedua benda
G : tetapan/konstanta gravitasi: 6.67 x 10 -11 N-m2/kg2

1
Fisika Dasar Drs. Joko Sudomo, MA

2. Gaya elektromagnetik, yang terdiri dari:


a. gaya listrik; gaya listrik statis atau gaya Coulomb adalah hasil interaksi antara muatan-
muatan listrik dalam keadaan diam. Telah kita kenal dengan baik bahwa muatan sejenis
tolak-menolak, sedangkan muatan tak sejenis atau berlawanan tanda tarik menarik. Pada
benda bermuatan listrik, gaya listriknya (gaya Coulomb) jauh lebih besar dibandingkan
dengan gaya gravitasi. Sedangkan gaya listrik antara benda-benda bermassa besar,
misalnya antara bumi dengan bulan atau dengan planet-planet adalah nol karena benda-
benda tersebut netral. Gaya Coulomb dinyatakan secara matematis:
q 1 . q2
F = k ------------
r2

b. gaya magnet; jika muatan listrik bergerak maka dihasilkan gaya magnet. Ingat, jika
muatan listrik yang bergerak berarti ada arus listrik. Arus listrik menghasilkan medan
magnet, dan akhirnya dihasilkan gaya magnet.
c. gaya elastik
d. gaya pada ikatan kimia.
3. Gaya nuklir, disebut juga gaya interaksi kuat merupakan gaya tarik-menarik; kecuali jika
jarak antara netron dan proton sangat dekat ( ~ 10-16 m ), gayanya merupakan gaya tolak-
menolak..
4. Gaya lemah atau interaksi lemah merupakan gaya yang khas, misalnya pada peluruhan
radioaktif β. Gaya ini lebih kecil dari pada gaya listrik maupun gaya nuklir, tetapi lebih
besar dari pada gaya gravitasi.
Sebagai gambaran perbandingan besar ke-4 gaya tersebut di atas adalah sebagai
berikut. Jika gaya nuklir dinyatakan dengan angka 1; maka gaya listrik: 1/137 ( ~10-2 ), gaya
lemah: 10-13 dan gaya gravitasi: 10-39. Ke-4 gaya tersebut merupakan gaya-gaya yang
mengatur semesta ini.

B. Hukum-hukum Newton tentang gerak


1. Hukum I Newton
Pada era sebelum Galileo Galilei (1564-1642) terdapat anggapan bahwa agar suatu
benda bergerak dengan kecepatan konstan diperlukan gaya luar yang besarnya tetap bekerja
pada benda tersebut. Melalui percobaan yang sangat teliti, dengan benda maupun permukaan
yang sangat halus, Galileo menunjukkan bahwa untuk menjaga agar suatu benda bergerak
dengan kecepatan tetap tidak diperlukan gaya. Karena adanya gaya geseklah suatu benda

2
Fisika Dasar Drs. Joko Sudomo, MA

cenderung berhenti; semakin kecil gaya gesek antara suatu benda dengan permukaan tertentu
semakin jauh jarak yang ditempuh benda sebelum berhenti. Selanjutnya dapat dikatakan
bahwa jika gaya gesek dapat dibuat menjadi nol, maka benda yang bergerak akan selamanya
bergerak dengan kecepatan tetap (asal tidak ada gaya luar yang bekerja). Oleh Isaac Newton
(1642-1727), hal tersebut disusun menjadi hukum I dari 3 hukum tentang gerak yang ia
kemukakan. Hukum I Newton sering juga disebut hukum kelembaman (inersia), dapat
dituliskan sebagai berikut:
“Setiap benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan kecuali jika
ada gaya luar yang bekerja padanya untuk mengubah keadaan tersebut”

2. Hukum II Newton
Hukum II Newton menjelaskan tentang apa yang akan terjadi pada suatu benda jika
gaya luar yang bekerja padanya tidak sama dengan nol. Maksudnya, benda tersebut tidak
terisolasi melainkan berinteraksi dengan benda-benda lain di sekitarnya. Hukum tersebut
menyatakan bahwa:
“Laju perubahan momentum suatu benda berbanding lurus dengan gaya
yang bekerja pada benda tersebut dan arahnya sama dengan arah gaya
tersebut”

Secara matematis dapat dituliskan:

→ ∆ p→
F = ------- ; di mana p→ = m v→ merupakan momentum benda yang
∆t massanya m dan bergerak dengan kecepatan v→.

Jika massa benda yang bergerak konstan (karena kecepatannya jauh lebih rendah daripada
kecepatan cahaya), maka persamaan di atas dapat dituliskan dalam bentuk yang lebih
sederhana sebagai berikut:
→ ∆ p→ ∆ v→
F = ------- = ∆ (m v ) = m -------- = m a→

∆t ∆t

Akhirnya, hukum II Newton dapat dituliskan sebagai berikut:



F = m a→

Pada rumus tersebut, F merupakan gaya luar neto atau resultante gaya yang bekerja pada
benda, sehingga sering dituliskan sebagai:

3
Fisika Dasar Drs. Joko Sudomo, MA


∑ F = m a→
[ Gaya sama dengan massa dikalikan percepatan, asal massa benda konstan ]

Komponen-komponen dari gaya tersebut dapat dinyatakan:


→ → →
∑ Fx = m ax→ ∑ Fy = m ay→ ∑ Fz = m a z→

Untuk kasus khusus di mana benda bergerak lurus beraturan atau diam, yang berarti
percepatannya nol, maka hukum II Newton berlaku sebagai hukum I Newton atau dengan
perkataan lain: hukum I Newton merupakan kejadian khusus hukum II Newton.

3. Hukum III Newton


Hukum I Newton membahas tentang keadaan benda saat gaya luar total yang bekerja
pada benda tersebut nol; hukum II Newton berhubungan dengan gerak benda jika gaya luar
total yang bekerja pada benda ≠ nol. Hukum III Newton menyatakan hubungan antara gaya-
gaya yang dihasilkan oleh interaksi 2 benda atau lebih. Untuk mudahnya, kita perhatikan 2
buah benda A dan B yang terisolasi dari lingkungannya; sedangkan keduanya berinteraksi
satu sama lain. Maksudnya benda A melakukan gaya terhadap B, dan sebaliknya B
mengerjakan gaya terhadap A.
Menurut hukum III Newton, kedua gaya tersebut sama besar dan memiliki arah yang
berlawanan ( selanjutnya disebut Aksi = - Reaksi ). Hukum III Newton menyatakan:

“Pada setiap ada aksi selalu terdapat reaksi yang sama besarnya dan arahnya berlawanan;
yaitu, jika suatu benda mengerjakan gaya pada benda kedua maka benda kedua
mengerjakan gaya yang sama besar dengan arah berlawanan terhadap benda pertama”

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa gaya selalu muncul berpasangan. Kita


mungkin akan salah berpikir, karena gaya selalu muncul berpasangan maka gaya neto akan
selalu nol, yang berarti tidak pernah ada percepatan. Tetapi hal ini tidak benar. Alasannya
adalah karena pasangan aksi dan reaksi tidak bekerja pada benda yang sama, melainkan
pasangan gaya tersebut bekerja pada benda yang berbeda.

4
Fisika Dasar Drs. Joko Sudomo, MA

Contoh di bawah ini mungkin dapat membantu pemahaman kita tentang pasangan gaya aksi
dan reaksi.


T1 →
T1` Pasangan aksi-reaksi


T` Pasangan aksi-reaksi

T

m

W
→ →
W = - W` Pasangan aksi-reaksi

W`

Bumi

Gambar di atas menunjukkan sebuah benda bermassa m digantungkan dengan seutas tali.
Benda bermassa m tersebut ditarik oleh gaya tarik bumi sebesar W (merupakan berat benda,
W = m.g ) dan sebaliknya, benda tersebut menarik bumi dengan gaya sebesar W`. Oleh
karena itu gaya W dan W` membentuk pasangan gaya aksi-reaksi. Ingat ! kedua gaya itu
bekerja pada benda yang berbeda. Selanjutnya, tali menarik benda tersebut dengan gaya T
(disebut tegangan tali/tension), sedang-kan benda menarik tali dengan gaya T`. T dan T`
merupakan pasangan aksi-reaksi kedua setelah W dan W`. Pasangan gaya aksi-reaksi yang
lain adalah antara T1 dan T1`.
Gaya yang bekerja pada benda bermassa m adalah gaya berat benda dan tegangan tali.
Oleh karena itu dengan hukum II Newton, dapat dinyatakan:

→ → → → → → → →
T + W = m a ; karena benda diam, maka a = 0, sehingga T + W = 0 atau T = - W

Hal yang harus diingat adalah meskipun kedua gaya tersebut sama besar dan berlawanan arah,
tetapi keduanya bukanlah pasangan aksi-reaksi.

5
Fisika Dasar Drs. Joko Sudomo, MA

4. Contoh perhitungan dan latihan


4.1. Seutas benang yang cukup kuat (tidak bertambah panjang saat dibebani) dihubungkan
dengan dua beban m1 = 10 kg dan m2 = 5 kg melalui katrol licin seperti gambar.
Hitunglah:
a. percepatan kedua benda !
b. tegangan pada masing-masing benang !
Penyelesaian:
Karena benang tidak bertambah panjang
(inextensible), maka kedua benda memi-
liki percepatan sama. Selain itu karena
T
tidak ada gesekan pada katrol, maka te-

gangan tali pada kedua benang sama.
a
T Untuk benda pertama, berlaku:

∑ Fy = m1 a ===> m1g - T = m1 a (*)
a W1=m1g
Untuk benda kedua, berlaku:
W2=m2g T - m2g = m2 a (**)
Penjumlahan persamaan (*) dan (**)
menghasilkan :
m1g - m2 g = m1 a + m2 a ===> ( m1 - m2 ) g = (m1 + m2 ) a, sehingga :
( m1 - m2 )
a = ------------- g (***)
(m1 + m2 )

Selanjutnya, dengan mensubstitusikan a pada persamaan (***) ke dalam persamaan (*) atau
(**), menghasilkan:
2 m1 m2
T = ------------- g (**** )
m1 + m2

Dengan mengambil g = 9,8 m/s2 , diperoleh:


( 10 - 5 ) kg
a = ---------------- ( 9,8 m/s2 ) = 3,3 m/s2
( 10 + 5 ) kg

2 (10) (5) kg2


T = ---------------- ( 9,8 m/s2 ) = 65,3 N
(10 + 5 ) kg

6
Fisika Dasar Drs. Joko Sudomo, MA

4.2. Latihan
Seutas tali menghubungkan 2 benda bermassa m1 = 10 kg dan m2 = 5 kg melalui sebuah
katrol yang licin seperti terlihat pada gambar. Massa m1 bergerak pada permukaan tanpa
gesekan, sedangkan m2 bergerak vertikal.
Tentukan:
a. percepatan gerak sistem tersebut !
m1
(Jawaban: 3,27 m/s2 )
b. Tegangan tali ! (Jawaban: 32,7 N)
m2

5. Gaya gesek
Sampai pada pembicaraan dan contoh 4.1 maupun latihan 4.2 di atas kita menganggap
tidak ada gaya gesek atau belum memandang adanya gaya gesek. Padahal pada kenyataannya
gaya gesek hampir selalu muncul jika antara dua permukaan bersinggungan. Untuk itu kita
perlu meninjau konsep gaya gesek. Gaya gesek muncul sebagai hasil atau akibat adanya
kontak antara suatu benda dengan benda yang lain.
Perhatikan kejadian berikut ini. Sebuah balok dalam keadaan diam terletak di atas
meja. Menurut hukum II Newton, jika pada balok tersebut bekerja gaya luar (tidak pandang
berapa besarnya), maka balok tersebut akan bergerak. Tetapi hal itu tidak terjadi. Gaya
dengan harga minimum tertentu diperlukan untuk mengusahakan agar balok bergerak. Hal ini
berarti bahwa sebelum balok bergerak, pastilah ada gaya yang sama besar dan berlawanan
arah yang menahan balok untuk bergerak.Gaya tersebut dinamakan gaya gesek. Selanjutnya
perhatikan gambar berikut ini.

N
N

W F
v = 0, F = 0, fs = 0 fs
W
v = 0, F = fs < µs N

Gambar a. Gambar b.

7
Fisika Dasar Drs. Joko Sudomo, MA

N N

F F

fs W fs W
v = 0, F = fs = µs N v = konstan, F = fk = µk N

Gambar c. Gambar d.

Gambar (a) menunjukkan adanya gaya berat W dan gaya normal N. Karena pada balok tidak
ada gaya luar yang bekerja, maka gaya geseknya adalah nol. Pada gambar (b), gaya luar F
bekerja ke kanan tetapi balok tetap diam; hal itu menunjukkan adanya gaya gesek fs (di mana
fs < µs N ) ke kiri yang besarnya sama dengan F. Pada gambar (c), gaya luar F bekerja ke arah
kanan dan benda tepat akan bergerak; sehingga dapat dikatakan gaya F tersebut besarnya
sama dengan gaya gesek fs ( di mana fs = µs N ). Dengan demikian secara singkat dapat
dituliskan bahwa:

fs ≤ µs N

µs : Koefisien Gaya Gesek Statis

Sedangkan gambar (d) menunjukkan balok bergerak dengan kecepatan konstan karena
pengaruh gaya luar F. Dalam hal ini gaya geseknya dinamakan gaya gesek kinetis, yang dapat
dituliskan sebagai :
fk = µk N

µk : Koefisien gesekan kinetis


Tabel berikut menunjukkan sejumlah harga koefisien gaya statis dan kinetis untuk beberapa
jenis permukaan benda.
Material µs µk
Baja di atas baja 0,74 0,54
Aluminium di atas baja 0,61 0,47
Kaca di atas kaca 0,94 0,40
Tembaga di atas kaca 0,68 0,53
Teflon di atas baja 0,04 0,04
TABEL KOEFISIEN GESEKAN STATIS DAN KINETIS

8
Fisika Dasar Drs. Joko Sudomo, MA

6. Soal-soal
6.1. Sebuah balok bermassa m berada pada bidang miring yang dapat diatur sudut
kemiringannya. Pada saat sudut kemiringannya θ, ternyata balok tersebut tepat akan
bergerak. Tunjukkan bahwa koefisien gesekan statisnya dapat dinyatakan sebagai: µs =
tg θ !

6.2. Sebuah mobil dengan massa 1500 kg harus diberi percepatan sebesar 2 m/s2 di atas
permukaan kasar yang koefisien gesekannya 0,15. Hitunglah:
a. gaya yang diperlukan untuk mempercepat !
b. gaya yang diperlukan untuk agar mobil bergerak dengan kecepatan konstan !
Jika mesin mobil dimatikan saat kecepatannya 22 m/s, tentukan:
c. perlambatan geraknya !
d. berapa jarak yang ditempuh mobil hingga berhenti !

6.3. Sebuah balok bermassa 40 kg berada pada bidang miring dengan sudut kemiringan
θ = 370. Balok tersebut ditarik dengan gaya F = 400 N paralel dengan permukaan
bidang miring. Koefisien gesekan = 0,3. Hitunglah:
a. gaya yang dilakukan oleh permukaan bidang miring terhadap balok !
b. percepatan yang dialami oleh balok !
c. waktu yang diperlukan untuk menarik balok sejauh 10 m !

6.4. Gaya sebesar 100 N bekerja pada sebuah benda yang massanya 10 kg selama 5 detik.
Hitunglah:
a. percepatan gerak benda !
b. kecepatan akhir gerak benda !
c. jarak yang ditempuh selama selang waktu tersebut !

6.5. Berapakah berat sebuah benda di bulan, jika di bumi memiliki berat 100 N? Berapa
massanya? (Percepatan gravitasi bulan g = 1,62 m/s2).