Anda di halaman 1dari 15

MANFAAT MENARIK INVESTASI ASING DI INDONESIA

I. Pendahuluan

Satu pertanyaan yang selalu datang adalah apakah kehadiran investasi asing,
khususnya investasi langsung, pada umumnya dapat disebut sebagai
Penanaman Modal Asing (PMA), disuatu Negara yang menguntungkan
Negara tersebut?, Khususnya dalam hal pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi tidak perlu dipertanyakan lagi. Banyak bukti empiris seperti di
Korea Selatan, Malaysia, Thailand, China dan banyak Negara lainnya yang
menunjukkan bahwa kehadiran PMA memberi banyak hal positif terhadap
perekonomian dari Negara tuan rumah. Untuk kasus Indonesia, bukti paling
nyata adalah semasa pemerintahan Orde baru. Tidak mungkin ekonomi
Indonesia bisa bangkit kembali dari kehancuran yang dibuat oleh
pemerintah Orde Lama dan bisa mengalami pertumbuhan ekonomi rata-
trata 7% per tahun selama periode 1980-an kalau tidak ada PMA. Tentu
banyak faktor lain yang juga berperan sebagai sumber pendorong
pertumbuhan tersebut seperti bantuan atau utang luar negeri dan keseriusan
pemerintah
Orde Baru untuk membangun ekonomi nsional saat itu yang tercerminkan
oleh adanya Repelita dan stabilitas politik dan sosial. Literature teori juga
memberi argumen yang kuat bahwa ada suatu korelasi positif antara PMA
dan pertumbuhan ekonomi di Negara penerima.
Sekarang pertanyaannya, dalam era globalisasi ekonomi dunia dan
persaingan yang semakin ketat tidak hanya dalam perdagangan namun juga
dalam investasi international saat ini, apakah Indonesia masih menarik bagi
1
investasi asing? Atau apa daya tarik Indonesia relative dibandingkan
Negara-negara lain untuk menarik investasi asing?.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas, dengan
memfokuskan pada PMA dengan membahas :
I. Pendahuluan
II. Membahas mengenai relasi positif kehadiran dan pertumbuhan PMA.
III. Peran PMA selama masa Orde Baru.
IV. Penyerapan PMA dan daya saing dalam menarik PMA dunia.
V. Beberapa kendala Investasi.
VI. Efektif kah, UU baru Penanaman Modal No. 25 tahun 2007, yang merupakan
upaya pemerintah meningkatkan arus masuk PMA.

II. Membahas mengenai relasi positif kehadiran dan pertumbuhan PMA.

Secara teori, PMA berpengaruh positif terhadap pembangunan ekonomi


atau pertumbuhan ekonomi pada khususnya di Negara tuan rumah lewat
beberapa jalur. Pertama, lewat pembangunan pabrik-pabrik baru yang
berarti juga penambahan output atau produk domestik bruto, total ekspor
dan kesempatan kerja. Ini adalah suatu dampak langsung. Pertumbuhan X
berarti penambahan cadangan devisa yang selanjutnya peningkatan
kemampuan dari Negara pemerima untuk membayar utang luar negeri dan
impor. Kedua, masih dari sisi suplai, namun sifatnya tidak langsung, adalah
sebagai berikut: adanya pembangunan pabrik baru berarti ada penambahan
permintaan di dalam negeri terhadap barang modal, barang setengah jadi,
bahan baku, dan input-input lainnya. Jika permintaan ini sepenuhnya
dipenuhi oleh sector lain di dalam negeri (tidak ada impor), maka sendirinya
2
efek positif dari keberadaan atau kegiatan produksi di pabrik baru tersebut
sepenuhnya dinikmati oleh sektor domestick lainnya, jadi output sektor
lainnya tersebut mengalami pertumbuhan. Ini berarti telah terjadi efek
penggandaan dari keberadaan PMA terhadap output agregat di Negara
penerima. Dalam kata lain , semakin besar komponen “MODAl” dari
sebuah proyek PMA, atau semakin besar keterkaitan produksi antara PMA
dengan ekonomi domestik, semakin kecil efek penggandaan tersebut.
Ketiga, peningkatan kesempatan kerja akibat adanya paberik-paberik baru
tersebut berdampak positif terhadap ekomoni domestik liwat sisi
permintaan, peningkatan kesempatan kerja ,menambah kemampuan belanja
masyarakat dan selanjutnya meningkatkan permintaan di pasar dalam
negeri. Sama seperti kasus sebelumnya, jika permintaan konsumen tidak
serta merta menambah impor, maka efek positifnya terhadap pertumbuhan
output di sector domestik sepenuhnya terserap. Sebaliknya, jika ekstra
permintaan konsumsi tersebut dalam bentuk peningkatan impor, maka
efeknya nihil. Bahkan jika pertumbuhan impor lebih pesat daripada
pertumbuhan ekspor yang disebabkan oleh adanya PMA, maka terjadi
deficit neraca perdagangan. Ini berarti kehadiran PMA memberi lebih
banyak dampak negative daripada dampak positif terhadap Negara tuan
rumah. Keempat, peran PMA sebagai sumber penting peralihan teknologi
dan knowledge lainnya. Peran ini bisa liwat dua jalur utama. Pertama, lewat
pekerja-pekerja lokal yang bekerja di perusahan-perusahan PMA. Saat
pekerja tersebut pindah keperusahan domestik, maka mereka membawa
pengetahuan atau keahlian baru dari perusahaan PMA ke perusahaan
domestik. Kedua, lewat keterkaitan produksi atau subcontracting antar PMA
dan perusahaan local, termasuk kecil dan menengah, seperti kasus PT Astra
International dengan banyak subkontraktor skala kecil dan menengah.
3
III. Peran PMA selama masa Orde Baru.

Peran penting dari PMA sebagai salah satu sumber penggerak pembangunan
ekonomi yang pesat selama era Orde Baru tidak bisa disangkal. Selama
periode tersebut, pertumbuhan arus masuk PMA ke Indonesia memang
sangat pesat, terutama pada periode 80-an dan bahkan mengalami akselerasi
sejak tahun 1994. Juga tidak bisa dipungkiri bahwa pertumbuhan investasi
dan PMA pada khususnya di Indonesia selama era Soeharto tersebut
didorng oleh stabilitas politik dan sosial, kapastian hukum, dan kebijakan
ekonomi yang sangat kondusif terhadap kegiatan bisnis di dalam negeri,
yang semua ini sejak krisis ekonomi 1997 hingga saat ini sulit sekali
tercapai sepenuhnya.
Dilihat pada tingkat dunia, Indonesia juga termasuk Negara penting tujuan
PMA selama era pra-krisis 1977. Bahkan periode 1990-1997, yang dapat
dikatakan sebagai masa saat perkembangan ekonomi Orde Baru mencapai
titik klimaksnya, peringkat Indonesia masuk dalam 20 besar Negara-negara
penerima PMA yang diukur dalam nilai juta dollar AS. Posisi Indonesia
dengan nilai arus masuk PMA-nya mencapai hampir 23,7 miliar dollar AS
hanya selisih lebih rendah dari Singapura dan Malaysia di dalam kelompok
ASEAN. Namun akibat krisis 1997 dan jatuhnya pemerintahan Soeharto
yang sejak itu hingga saat ini pemerintah pasca krisis belum mampu
sepenuhnya menciptakan iklim berusaha/investasi yang kondusif, Indonesia
menjadi Negara paling buruk di dalam kelompok ASEAN dalam
perkembangan PMA.

4
Salah satu dampak positif dari sangat nyata kehadiran PMA di Indonesia
selam Orde Baru adalah pertumbuhan PDB yang pesat, yakni rata-rata 7% -
8% yang membuat Indonesia termasuk Negara ASEAN dengan
pertumbuhan yang tinggi. Dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi
tersebut, rata-rata pendapatan nasional per kapita di Indonesia naik pesat
setiap tahun, yang pada tahun 1993 dalam dollar AS sudah melewati angka
800. Pada tahun 1968 pendapatan nasional Indonesia per kapita masih
sangat rendah, masih sedikit dibawah 60 dollar AS. Tingkat ini jauh lebih
rendah dibandingkan pendapatan di Negara-negara berkembang lainnya saat
itu, seperti misalnya India, Sri Langka dan Pakistan. Tetapi, akibat krisis,
pendapatan nasional per kapita menurun drastic ke 640 dollar pada tahun
1998 dan 580 dollar AS tahun 1999.
Pesatnya arus masuk PMA ke Indonesia selama periode pra-krisis 1997
tersebut tidak lepas dari strategi atau kebijakan pembangunan sektor
pertanian yang diterapkan oleh Soeharto waktu itu, yang berfokus pada
industrialisasi selain juga pada pembangunan sektor pertanian.
Untuk pembangunan industri, pemerintah Orde Baru menerapkan kebijakan
substitusi impor dengan proteksi yang besar terhadap industri domestik.
Dengan luas pasar domestik yang sangat besar karena penduduk Indonesia
yang sangat banyak, tentu kebijakan proteksi tersebut merangsang
kehadiran PMA. Dan memang PMA yang masuk ke Indonesia terpusat di
sektor industri manukfatur. Baru pada awal decade 80-an, kebijakan
substitusi impor dirubah bertahap ke kebijakan promosi ekspor.
Oleh karena itu, perkembangan sektor industri manufaktur yang pesat yang
mendorong terjadinya perubahan ekonomi secara struktural dari sebuah
ekonomi berbasis pertanian ke sebuah ekonomi berbasis industri selam era
Orde Baru tidak lepas dari peran PMA. Pada tahun 1988, misalnya, pangsa
5
sektor industri terhadap pembentukan PDB tercatat sekitar 37%, namun
sejak 1997 telah melewati 40 %. PMA juga berperan dalam perkembangan
ekspor non-migas, khususnya barang-barang manufaktur. Pada awal decade
80-an, sumbangan dari industr manufaktur terhadap total ekspor non-migas
baru sekitar 20%, namun menjelang krisis 1997, sahamnya naik menjadi
70%
Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah bahwa investasi memang sangat
tinggi sebagai motor utama perkembangan dan pertumbuhan ekonomi
jangka panjang. Walaupun pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan
pengeluaran pemerintah juga penting, tetapi tanpa investasi pertumbuhan
ekonomi jangka panjang tidak bisa tercapai. Namun demikian, harus diakui
bahwa PMA, khususnya dari negara-negara maju, tetapi lebih penting
daripada PMDN, terutama untuk Negara berkembang seoperti Indonesia
karena tiga alasan utama.
Pertama, PMA membawa teknologi baru dan pengetahuan lainnya yang
berguna bagi pembangunan di dalam negeri. Kedua pada umumnya PMA
mempunyai jaringan kuat dengan lembaga-lembaga keuangan global,
sehingga tidak tergantung dari perbankan di Indonesia. Ketiga, bagi
perusahaan-peruisahaan asing di Indonesia yang beroreantasi ekspor,
biasanya mereka sudah memiliki jaringan pasar global yang kuat, sehingga
tidak ada kesuluitan dalam ekspor.

IV. Penyerapan PMA selama masa Orde Baru.

6
Sejak krisis 1997 hingga pertumbuhan arus masuk PMA ke Indonesia masih
relative lambat jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang juga
terkena krisis yang sama seperti Thailand, Korea Selatan, dan Filipina.
Bahkan hingga tahun 2001 arus masuk net PMA ke Indonesia negative
dalam jumlah dollar yang tidak kecil, dan setelah itu kembali positif
terkecuali tahun 2003. Arus masuk net negative itu disebabkan banyak
PMA yang menarik diri atau pindah kelokasi ke Negara-negara tetangga.
Bahkan Indonesia sampai sekarang tidak termasuk lokasi tujuan penting
bagi MNCs (atau TNCs). Laporan dari UNCTAD tahun 2006 menunjukkan
bahwa dari Asia Tenggara, hanya Singapore, China (termasuk Hong Kong),
Taiwan, Jepang dan Korea Selatan yang masuk di dalam daftar tujuan
penting bagi TNCs terbesar di dunia. Juga untuk TNCs terbesar dari
kelompok negara-negara berkembang, Negara-negara Asia tenggara dan
Timur ini termasuk lokasi penting. Lebih parah lagi, menyurut laporan yang
sama, Indonesia termasuk Negara dengan kinerja dan potensi PMA yang
rendah.

V. Beberapa kendala Investasi.

Hasil survey tahunan terhadap perusahaan- perusahaan di 131 negara dari


World Economic Forum (2007), yang berpusat di Geneve (Swiss) untuk
The Global Compettiveness Report 2007-2008, memperlihatkan
permasalahan-permasalahan utama yang dihadapi pengusaha-pengusaha di
Indonesia. Seperti yang dapat dlihat pada bidang infrastuktur yang buruk
( dalam arti kuantitas dan kualitas buruk) tetap pada peringkat pertama, dan
birokrasi pemerintah yang tidak efisien pada peringkat kedua. Jika dalam
7
survey tahun lalu keterbatasan akses keuangan tidak merupakan suatu
problem serius, hasil survey tahun ini masalah itu berada pada peringkat
ketiga. Memang opini pribadi para pengusaha Indonesia yang masuk di
dalam sampel survey mengenai buruknya infrastrultur di dalam negeri
selama ini sejalan dengan kenyataan bahwa Indonesia selalu berada di
peringkat rendah, bukan terendah di dalam kelompok ASEAN. Seperti
diketahui Indonesia berada di posisi 102, satu poin lebih rendah daripada
Filipina. Jika dalam survey WEF selama beberapa tahun berturut-turut
belakangan ini menempatkan Indonesia pada posisi sangat buruk untuk
infrasruktur, ini berarti memang kondisi infrastruktur di dalam negeri sangat
memprihatinkan. Padahal, salah satu penentu utama keberhasilan suatu
Negara untuk bersaing di dalam era globalisasi dan perdagangan bebas saat
ini dan di masa depan adalah jumlah dan kualitas infrastruktur yang
mencukupi. Buruknya infrastruktur dengan sendirinya meningkatkan biaya
produksi yang pada akhirnya menurunkan daya saing harga dengan
konsekuensi ekspor menurun. Konsekuensi lainnya adalah menurunnya niat
investor asing (atau PMA) untuk membuka usaha di dalam negeri, dan ini
pasti akan berdampak negative terhadap produksi dan ekspor di dalam
negeri.
Birokrasi tetap menjadi salah satu problem terbesar yang dihadapi bukan
hanya Indonesia tetapi juga banyak negara lain di Asia, termasuk di negara-
negara terkena krisis ekonomi 1997-1998, meskipun reformasi dalam skala
lumayan telah berlangsung di Negara-negara tersebut. Sebagai suatu
ilustrasi, dari sejumlah Negara yang diteliti oleh lembaga think-thank,
Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hong
Kong, Indonesia termasuk terburuk dan tak mengalami perbaikan yang
berarti sejak 1999, meskipun masih lebih baik dibanding Cina, Vietnam dan
8
India. Pada tahun 2000, misalnya, Indonesia memperoleh skore 8,0 atau tak
bergerak dari skor 1999, dari kiasaran skor yang dimungkinkan, yakni nol
untuk terbaik dan 10 yang terburuk. Tahun 1998, PERC juga menempatkan
Indonesia sebagai negara nomor satu paling korup di Asia. Sementera
Transparancy International (TI) tahun 1998 mendudukkan Indonesia di
posisi keenam Negara paling korup sedunia, setelah, setelah tahun 1995
peringkat pertama (Kompas, Senin, 13 Maret 2000).
Masih menurut Kompas yang sama, skor 8,0 atau jauh dibawah rata-rata ini
didasarkan pada pertimbangan masih banyak pejabat tinggi pemerintah
yang menfaatkan posisi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan orang-
orang dekat mereka. “ dalam kasus Indonesia, masalahnya adalah pada
mahalnya persetujuan atau lisensi. Banyak pejabat senior pemerintah terjun
ke bisnis atau menggunakan posisi mereka untuk melindungi dan
mengangkat kepentingan bisnis pribadinya”; demikian disebutkan oleh
PERC yang dikutip dari harian Kompas yang sama.

VI. Efektif kah, UU baru Penanaman Modal No. 25 tahun 2007, yang

merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan arus masuk PMA.

UU. PMA NO. 25, 2007 sudah keluar, tetapi pertanyaan sekarang apakah
dengan lahirnya UU PMA yang baru ini, segala persoalan sekitar investasi
di Indonesia sudah terpecahkan? Apakah UU PMA tersebut sudah sempurna
dalam arti tidak ada lagi permasalahan dalam perijinan penanaman modal di
Indonesia? Atau, apakah UU PMA NO 25,2007, sudah menjamin bahwa
pertumbuhan arus masuk PMA atau volume investasi pada umumnya di
Indonesia akan mengalami akselerasi?
9
VII. 1. Beberapa hal yang penting.

UU PMA No.25 tahun 2007 dapat dikatakan sudah mencakup semua


aspek penting (termasuk soal pelayanan, koordinasi, fasilitas, hak dan
kewajiban investor, ketenakerjaan, dan sektor-sektor yang bisa dimasuki
oleh investor yang terkait erat dengan upaya peningkatan investasi dari
sisi pemerintah dan kepastian berinvestasi dari sisi pengusaha/investor.
Dua diantara aspek-aspek tersebut yang selama ini merupakan dua
masalah serius yang dihadapi pengusaha, dan oleh karena itu akan sangat
berpengaruh positif terhadap kegiatan penanaman modal di Indonesia
jika dilaksanakan dengan baik sesuai dengan ketentuan di UU PMA
tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, Bab I Pasal 1, butir 10,
mengenai ketentuan umum : pelayanan terpadu satu pintu adalah
kegiatan penyelengaraan suatu perizinan dan nonperizinan yang
mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembag atau
instansi yang memiliki kewenangan perizinan dan non perizinan yang
proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan
tahap terbitnya dokumen yang dilakukan dalam satu tempat. Sistem
pelayanan satu atap ini diharapkan dapat mengakomodasi keinginan
investor/pengusaha untuk memperoleh pelayanan yang lebih efisien,
mudah, dan cepat. Memang membangun system pelayanan satu atap
tidak mudah, karena sangat memerlukan visi yang sama dan koordinasi
yang baik antara lembaga-lembaga pemerintah yang berkepentingan
dalam pananaman modal.
Dapat dipastikan apabila ketentuan ini benar-benar dilakukan, dengan
asumsi faktor-faktor lain ( seperti kepastian hukum, stabilitas, pasar
buruh yang fleksibel, kebijakan ekonomi makro, termasuk rejim
10
perdagangan yang kondusif dan ketersediaan infrastruktur) mendukung,
pertumbuhan investasi di dalam negeri akan mengalami akselaerasi. Bagi
seorang pemgusha manca Negara yang ingin berinvestasi di sebuah
wilayah di Indonesia, adanya pelayanan satu atap melegakan karena ia
tidak lagi perlu menunggu dengan waktu lama untuk memperoleh izin
usahanya di Indonesia. Bahkan ia tidak perlu lagi mengeluarkan biaya
pajak maupun pungutan lainnya yang dapat membengkak dari tariff
resmi akibat panjangnya jalur birokrasi yang harus ditempuh untuk
memperoleh izin usaha tersebut sebelum adanya pelayanan satu atap.
Sebenarnya hal ini sudah diupayakan sebelumnya lewat Keppres NO.29
tahun 2004, mengenai penyelenggaraan penanaman modal, baik asing
(PMA) maupun dalam negeri (PMDN) melalui system pelayanan satu
atap semasa era Presiden Megawati Soekarno Putri. Dalam Keppres
tersebut dinyatakan bahwa penyelenggaraan penanaman modal
khususnya yang berkaitan dengan pelayanan persetujuan, perizinan dan
fasilitas penanaman modal dilaksnakan oleh BKPM. Pelayanan satu atap
ini meliputi penanaman modal yang dilakukan baik ditingkat propinsi,
kabupaten, maupun kotamadya berdasarkan kewenangan yang
dilimpahkan oleh Gubernur/Bupati/Walikota kepada BKPM. Jadi,
BKPM bertugas melakukan koordinasi antara seluruh departemen atau
instansi pemerintah lainnya, termasuk dengan pemerintah kabupaten,
kota, serta propinsi yang membina bidang usaha penanam modal.

2. Kebijakan Penanaman Modal.


Bab II, Pasal 4 ayat 2b, mengenai kebijakan dasar penanaman modal:
menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan
berusaha bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan
11
sampai dengan berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kepastian hukum yang tidak ada di Indonesia sejak berlakunya era Orde
baru sering dikatakan sebagai salah satu penghambat investasi,
khususnya PMA. Hasil studi yang dilakukan oleh LPEM-FEUI (2001),
menunjukkan bahwa masalah-masalah yang dihadapi pengusaha dalam
melakukan investasi di Indonesia selain persoalan birokrasi, ketidak
pastian biaya investasi yang harus dikeluarkan serta perubahan peraturan
pemerintah/daerah yang tidak jelas atau muncul secara tiba-tiba, juga
kondisi keaamanan, sosial dan politik di Indonesia.

3. Kendala Perijinan Investasi Selama Ini.


Dalam membahas atau mengindentifikasi kendala perijinan penanaman
modal di Indonesia, ada tiga hal yang perlu dipahami. Pertama, ijin
investasi tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi
menjadi satu paket dengan ijin-ijin lain yang secara langsung maupun
tidak langsung mempengaruhi kegiatan usaha atau menentukan untung
ruginya suatu usaha, Sejumlah UU dan perturan menteri yang sangat
berpengaruh terhadap kelancaran proses mulai dari awal investasi hingga
menjadi suatu perusahaaan yang siap beroperasi dan menghasilkan
keuntungan. Jika UU dan peraturan menteri itu bertentangan atau
berbenturan denagn UU PMA No 25, tahun 2007, sangat kecil harapan
bahwa kehadiran UU PMA yang baru ini akan memberi hasil optimal.
Misalnya kontradiksi selama ini antara upaya pemerintah meningkatkan
investasi lewat salah satunya mempermudah pengurusan izin penanaman
modal dengan UU Migas No 22, tahun 2001, yang menyatakan bahwa
investasi di sektor migas harus melalui tiga pintu, yaitu izin dari Dirjen
12
Migas pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Kepala
Badan Pelaksana Kegiatan Usaha (BP) Migas dan Ditjen Bea Cukai
(Depkeu). Juga seorang pengusaha asing kemungkinan besar akan tetap
membatalkan niatnya berinvestasi di Indonesia walaupun proses
pengurusan izin investasi menjadi lebih lancar dan lebih murah setelah
dilaksanakannya UU PMA NO.25 tahun 2007, tersebut. Jika UU
mengenai kepabeanan dirasa tidak menguntungkan karena pengusaha
tersebut akan banyak melakukan impor, atau pasar tenaga kerja di
Indonesia dirasa tidak fleksibel akibat akibat berlakunya UU no.13 tahun
2003 mengenai ketenagakerjaan.
Disektor perhotelan, misalnya, jumlah ijin yang diperlukan mencapai 37
buah, karena setiap bagian dari hotel harus memilik ijin khusus dari
departemen terkait. Misalnya untuk membangun restoran di dalam hotel
perlu ijin dari Departemen Kesehatan karena menyangkut makanan yang
sehat dan aman bagi konsumen, sedangkan untuk membangun kolam
renang, harus ada ijin dari Departemen Olah Raga, dan untuk pemakaian
tenaga kerja harus ada ijin dari Departemen tenaga kerja dan jelas harus
mengikuti peraturan yang tercantum di UU Ketenagakerjaan yang
berlaku, dan seterusnya. Dapat dibayangkan, jika izin penanaman modal
sudah keluar, tetapi seorang investor yang akan membangun sebuah
hotel di Jakarta akan tetap skeptic apabila beberapa atau semua izin-izin
lainnya itu tidak jelas atau prosedurenya sangat bertele-tele.
Jadi masalah serius disini adalah koordinasi yang tidak baik antar
lembaga pemerintah yang sebenarnya sudah merupakan salah satu
persoalan klasik di negeri ini. Dalam kasus perhotelan tersebut jelas
diperlukan suatu kerjasama yang baik antara BKPM, Departemen
Ketenaga Kerjaan, Departemen kesehatan, Departemen Olah raga,
13
Pemda dan banyak lagi instansi pemerintah lainnya yang terkait dan
terlibat. Sering kali egoisme sektoral atau departemen membuat suatu
kebijakan ekonomi yang sebenarnya sangat baik dilihat dari isinya
namun akhirnya menjadi tidak efektif karena adanya benturan dengan
kebijakan-kebijakan lainnya. Kondisi seperti ini sering kali membuat
para calon investor kebingungan yang pada akhirnya membatalkan niat
mereka menanamkan modal di Indonesia.

KESIMPULAN.

Dengan uraian diatas tadi, dapat kita simpulkan, bahwa memang benar Indonesia
sangat membutuhkan bantuan modal yang bisa didapatkan dari investasi dari
luar. Tidak ada satu negarapun yang bisa maju tanpa bantuan investasi luar.
Tetapi kendala untuk mendapatkan investasi dari luar untuk Indonesia, masih
cukup banyak, yang harus diperhatikan oleh Pemerintah bila memang
mengharapkan adanya arus investasi yang masuk ke Indonesia.
Pertama Pemerintah harus segera berbenah diri dalam menyambut kedatangan
investor baru, UU PMA NO. 25, tahun 2007, harus dimengerti isi dan maknanya
oleh seluruh aparatur pemerintahan, baik Pusat, termasuk seluruh Departemen
Pemerintah dan Kementerian dari kabinet, Pemerintah daerah termasuk apart-
aparat dibawahnya, Gubernur, Bupati, camat, Walikota, untuk juga memahami
makna dari UU PMA tersebut. Dengan dimengertinya dan mengegtahui makna
nya kita harapkan perkembangan usaha PMA di Indonesia akan maju. Amin.

14
Kepustakaan:

Satjipto Rahardjo, Permasalahan hukum di Indonesia, (Bandung: Alumni, 1983)


Antonius Sujata, Reformasi dalam Penegakan Hukum, (Jakarta: Djambatan,
2000)
Mulyana W. Kusumah, Tegaknya Supremasi Hukum, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2001)
Seminar Bank Indonesia, Rabu 19 Desember 2007.

***UBHARA JAYA***

15