Anda di halaman 1dari 14

PEMERIKSAAN RADIOLOGI :: LUMBAL PUNKSI,

CT SCAN, MRI, dan EEG

PENDAHULUAN

Prosedur dan pemeriksaan khusus dalam keperawatan merupakan bagian dari tindakan
untuk mengatasi masalah kesehatan yang dilaksanakan secara tim, perawat melakukan fungsi
kolaboratif dalam memberikan tindakan. Hasil suatu pemeriksaan laboratorium sangat
penting dalam membantu diagnosa,memantau perjalanan penyakit serta menentukan
prognosa.
Karena itu perlu diketahui faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan
laboratorium. Terdapat 3 faktor utama yang  dapat mengakibatkan kesalahan hasil
laboratorium yaitu :
1.    Faktor Pra instrumentasi : sebelum dilakukan pemeriksaan.
2.    Faktor Instrumentasi : saat pemeriksaan ( analisa ) sample
3.    Faktor Pasca instrumentasi : saat penulisan hasil pemeriksaan           
 Pada tahap prainstrumentasi sangat penting diperlukan kerjasama antara
petugas,pasien dan dokter. Karena tanpa kerja sama yang baik akan mengganggu
/mempengaruhi hasi lpemeriksaan laboratorium. Yang termasuk dalam tahapan pra
instrumentasi meliputi :
1.    Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium.
2.    Persiapan penderita.
3.    Persiapan alat yang akan dipakai.
4.     Cara pengambilan sample.
5.    Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) & transportasi.

A.    Pemeriksaan Lumbal Funksi


1.      Pengertian
Lumbar puncture adalah uapaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan
memasukan jarum kedalam ruang subarakhnoid. Test ini dilakukan untuk pemeriksaan
cairan serebrospinali,mengukur dan mengurangi tekanan cairan serebrospinal,menentukan
ada tidaknya darah pada cairan serebrospinal, untuk mendeteksi adanya blok
subarakhnoid spinal,dan untuk memberikan antibiotic intrathekal ke dalam kanalis
spinalterutama kasus infeksi. (Brunner and Suddarth’s, 1999, p 1630)
2.      Indikasi
1. Mengambil bahan pemeriksaan CSF untuk diagnostic dan persiapan pemeriksaan
pasien yang dicurigasi mengalami meningitis, encepahilitis atau tumor malignan.
2. Untuk mengidentifikasi adanya darah dalam CSF akibat trauma atau dicurigai adanya
perdarahan subarachnoid.
3. Untuk memasukan cairan opaq ke dalam ruang subarakhnoid.
4. Untukmengidentifikasiadanyatekananintrakarnial/intraspinl
intrakarnial/intraspinal,untuk memasukan obat intratekal seperti terapi antibiotik atau
obat sitotoksik.
3.      Kontraindikasi
1.      Infeksi dekat tempat penusukan. Kontaminasi dari infeksi akan menyebabkan
meningitis.
2.      Pasien dengan peningkatan tekanan intra cranial. Herniasi serebral atau herniasi
serebral
3.      Pasien yang mengalami penyakit sendi-sendi vertebra degeneratif. Hal ini akan sulit
untuk penusukan jarum ke ruang interspinal.
4.      Persiapan alat
1.      Troleey
2.      Kassa steril
3.      Kapas steril
4.      Sarung tangan steril
5.      Baju steril
6.      Jarum punksi ukuran 19, 20, 22,23 G.
7.      Manometer spinal
8.      Masker dan pelindung mata
9.      Alcohol dalam lauran antiseptic untuk membersihkan kulit.
10.    Spuit dan jarum untuk memberikan obat anestesi local
11.    Obat anestesi loka (lidokian 1% 2 x ml), tanpa epinefrin.
12.    Tempat penampung csf steril x 3 (untuk bakteriologi, sitologi dan biokimia).
13.    Plester
14.    Depper
15.    Jam yang ada penunjuk detiknya
16.    Tempat sampah.
5.      Persiapan pasien
1.      Pasien diposisikan tidur lateral pada ujung tempat tidur dengan lutut ditarik ke
abdomen. Catatan : bila pasiennya obesitas, bisa mengambil posisi duduk di atas
kursi, dengan kursi dibalikan dan kepala disandarkan pada tempat sandarannya.
2.      Jelaskan prosedur pemeriksaan pada klien.
6.      Prosedur
1. Preinteraksi
1) Kaji catatan medis dan catatan keperawatan klien
2) Kesiapan perawat melakukan tindakan
3) Jelaskan tujuan tindakan
4) Persiapkan dan kumpulkan alat-alat
5) Cuci tangan.
2. Interaksi
1)      Paparkan daerah lumbal.
2)      Pasien diposisikan di ujung saping tempat tidur atau meja pemeriksaan dengan
bokong menghadap ke dokter,paha dan tungkai difleksikan semaksimal mungkin
meningkatkan rongga antara prosesus spina vertebra, untuk  mempercepat
masuknya jarum ke ruang subarakhnoid.
3)      bantal kecil ditempatkan di bawah kepala pasien untuk mempertahankan spina
dalamposisi lurus; mungkin juga bantal kecil ditempatkan diantara tungkai untuk
mencegah tungkai atas berputar ke depan.
4)      Perawat membantu pasien mempertahankan kepala pasien untuk menghindari
pergerakan yang tiba-tiba, karena akan menyebabkan trauma.
5)      Pasien dianjurkan untuk relaks dan diinstruksikan bernafas secara
normal,karenahiperventilasi akan menurunkan meningginya tekanan.
6)      Perawat menggambarkan prosedur step demi step kepada pasien selama proses
berlangsung.
7)      Dokter membersihkan tempat penusukan dengan larutan antiseptic.
8)      Anestesi local disuntikan ke tempat tempat penusukan dan jarum spinal
dimasukan keruang subarakhnoid melalui interspace lumbal ketiga dan keempat
atau kelima.
9)      Spesimen CSF dikeluarkan dan biasanya ditampung dalam tiga ples, diberi label.
Jarum dicabut.
10)   Kassa ditempelkanpada tempat penusukan.
11)   Ples-ples CSF dikirim ke laboratorium dengan segera.
3. Terminasi
1)      Anjurkan pasien berbaring terlentang selama 2 – 3 jam untuk memisahkan
kelurusan bekas jarum puncture dural dan arakhnoid di lapisan otak, untuk
mengurangi kebocoran CSF.
2)      Monitor pasien untuk komplikasi lumbar puncture. Memberi tahu dokter bila
terjadi komplikasi.
3)      Anjurkan meningkatktan intake cairan untuk mengurangi risiko headache post-
prosedur.(Brunner and Suddarth’h. 1999 p 1631)
4)      Rapikan alat-alat
5)      Cuci tangan
6)      dokumentasi
7.      Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Posisi yang tepat merupakan fungsi menuju sukses
2.      Tindakan dapat dilakukan dengan pasien duduk dan membungkuk ke depan di atas
bantal yang di tempatkan di atas sandaran di samping tempat tidur
3.      Jika berhasil pada tindakan pertama maka jarum di tarik kembali dari kulit dan di
coba lagi pada sudut yang sedikit berbeda
4.      Jika pasien sebelimnya pernah mengalami pembedahan spinal atau pernah mengalami
suatu proses infeksi pada radio lumbal,maka diperlukan suatu konsultasi bedah syaraf
untuk memperoleh cairan dari kanalis spinalis servikal
5.      Jika terdapat dugaan kuat adanya meningitis bakterialis maka antibiotik dapat
diberikan sebelum pungsi lumbal

8.      Diagnosa yang mungkin muncul


1.      Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan di tandai dengan pasien sering
bertanya-tanya tentang prosedur yang dilakukan
2.      Gangguan nyaman nyeri berhubungan dengan infeksi pada luka bekas lumbal pungsi
ditandai dengan klien mengatakan dia sakit dan wajah klien tampak pucat.
3.      Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan luka pada bekas penusukan
lumbal pungsi ditandai dengan klien nampak lemas,konjungtiva pucat dan klien
sering terbangun pada malam hari.

B.     Pemerisaan CT SCAN
1.      Pengertian
CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari
berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak
2.      Indikasi
1)        Menemukan patologi otak dan medulla spinalis dengan teknik scanning/pemeriksaan tanpa
radioisotop
2)        Menilai kondisi pembuluh darah misalnya pada penyakit jantung koroner, emboli paru,
aneurisma (pembesaran pembuluh darah) aorta dan berbagai kelainan pembuluh darah
lainnya.
3)        Menilai tumor atau kanker misalnya metastase (penyebaran kanker), letak kanker, dan jenis
kanker.
4)        Kasus trauma/cidera misalnya trauma kepala, trauma tulang belakang dan trauma lainnya
pada kecelakaan. Biasanya harusdilakukan bila timbul penurunan kesadaran, muntah, pingsan
,atau timbulnya gejala gangguan saraf lainnya.
5)        Menilai organ dalam, misalnya pada stroke, gangguan organ pencernaan dll.
6)        Membantu proses biopsy jaringan atau proses drainase/pengeluaran cairan yang menumpuk
di tubuh. Disini CT scan berperan sebagai “mata” dokter untuk melihat lokasi yang tepat
untuk melakukan tindakan.
7)        Alat bantu pemeriksaan bila hasil yang dicapai dengan pemeriksaan radiologi lainnya kurang
memuaskan atau ada kondisi yang tidak memungkinkan anda melakukan pemeriksaan selain
CT scan.
3.      Kontraindikasi
1.      Pasien dengan berat badan kurang dari145 kg.
2.      Pasien tidak mempunyai kesanggupan untuk diam tanpa mengadakan perubahan selama 20-
25 menit.
3.      Pasien dengan alergi iodine
4.      Persiapan alat
Persiapan alat dan bahanAlat dan bahan yang digunakan untukpemeriksaan kepala dibedakan menjadi
dua, yaitu :
a)      Peralatan sterill meliputi:
1.      Alat-alat suntik
2.      Spuit.
3.      Kassa dan kapas 
4.      Alkohol
b)      Peralatan non-steril meliputi:
1.      Pesawat CT-Scan
2.      Media kontras 
3.      Tabung oksigen
 Persiapan Media kontras dan obat-obatan dalam pemeriksaan CT-scan kepala pediatrik di butuhkan
media kontras nonionik, karena untuk menekan reaksi terhadap media kontras seperti pusing, mual dan
muntah serta obat anastesi jika diperlukan. Media kontras digunakan agar struktur-struktur anatomi tubuh
seperti pembuluh darah dan orga-organ tubuh lainnya dapat dibedakan dengan jelas. Selain itu dengan
penggunaan media kontras maka dapat menampakan adanya kelainan-kelainan dalam tubuh seperti adanya
tumor.Teknik injeksi secara Intra Vena ( Seeram, 2001 ).
1.   Jenis media kontras : omnipaque, visipaque
2.   Volume pemakaian : 2 – 3 mm/kg, maksimal 150 m
3.   Injeksi rate : 1 – 3 mm/sec.
5.      Persiapan pasien
a.         CT scan otak :
1)        Klien dan keluarga klien sebaiknya di berikan informasi mengenai pemeriksaan yang akan
dilakukan
2)        Inform concent
3)        Jelaskan prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan serta resiko-resiko yang timbul akibat
pemeriksaan tersebut, khususnya akibat pemakaian bahan kontras.
4)        Pasien di anjurkan untuk puasa .Pasien sebaiknya puasa minimal 6 – 8 jam sebelum
pemeriksaan. Hal ini bertujuan agar pasien pada saat pemeriksaan tidak mual sebagai akibat
penyuntikan bahan kontras secara intra vena.
5)        injeksi dengan 50 cc bolus injeksi dan dengan 100 cc drip infus melalui kontras intravena.
tumor. Teknik injeksi secara Intra Vena ( Seeram, 2001 )
Jenis media kontras : omnipaque, visipaque
Volume pemakaian : 2 – 3 mm/kg, maksimal 150 m
Injeksi rate : 1 – 3 mm/sec
b.        CT scan thorax :
1)        Klien dan keluarga klien sebaiknya di berikan informasi mengenai pemeriksaan yang akan
dilakukan
2)        Inform concent
3)        Jelaskan tujuan tindakan kepada klien dan keluarga
4)        Pasien di anjurkan untuk puasa .Pasien sebaiknya puasa minimal 6 – 8 jam sebelum
pemeriksaan. Hal ini bertujuan agar pasien pada saat pemeriksaan tidak mual sebagai akibat
penyuntikan bahan kontras secara intra vena.
5)        injeksi dengan 50 cc bolus injeksi dan dengan 100 cc drip infus melalui kontras intravena.
tumor. Teknik injeksi secara Intra Vena ( Seeram, 2001 ).
c.         CT Scan abdomen
1)        Klien dan keluarga klien sebaiknya di berikan informasi mengenai pemeriksaan yang akan
dilakukan
2)         inform consent
3)        Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan kepada klien
4)        Pasien meminum kontras :
      Pasien minum kontras 300 cc 2 jam sebelum pemeriksaan.
      Satu jam sebelum pemeriksaan pasien minum 200 cc yang kedua.
      Ketika akan dilakukan pemeriksaan pasien minum bahan kontras ke tiga sebanyak 200 cc,
dimasukkan bahan kontras per anal sebanyak 500 cc.
6.      Prosedur
1.      Preinteraksi
1.      Lihat catatan keperawatan dan catatan medis
2.      Jelaskan tujuan dilakukan pemeriksaan kepada klien
2.      Interaksi
1.      Cuci tangan
2.      Memakai handscone
3.      Posisi terlentang dengan tangan terkendali.
4.      Meja elektronik masuk ke dalam alat scanner.
5.      Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari beberapa sudut yang
dicurigai adanya kelainan.
6.      Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 20-45 menit.
7.      Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan komputer.
8.      Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar dengan memakai
protektif lead approan.
9.      Cuci tangan
3.      Terminasi
1.      Sesudah pengambilan gambar pasien dirapihkan.
2.      Evaluasi
3.      Dokumentasi
7.      Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Observasi keadaan alergi terhadap zat kontras yang disuntikan. Bila terjadi alergi dapat
diberikan deladryl 50 mg.
2.      Mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin kelelahan selama prosedur berlangsung.
3.      Ukur intake dan out put. Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat kontras yang
eliminasinya selama 24 jam. Oliguri merupakan gejala gangguan fungsi ginjal, memerlukan
koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter
8.      Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1.      Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap prosedur pemeriksaan ditandai
dengan klien tampak pucat,tekanan darah meningkat dan klien sering menanyakan dampak
dari prosedur pemeriksaan.
2.      Kurangnya pengetahuan terhadap prosedur pemeriksaan berhubungan dengan kurangnya
mendapat penyuluhan tentang prosedur pemeriksaan ditandai dengan klien terlihat bingung
dan sering bertanya-tanya tentang pemeriksaan.

C.    Pemeriksaan MRI
1.      Pengertian
1.         Pemeriksaan MRI merupakan salah satu bentuk pemeriksaan radiologi yang menggunakan
prinsip magnetisasi. Medan magnet digunakan untuk proses magnetisasi komponen ion
hidrogen dari kandungan air di tubuh. MRI dapat menggambarkan dengan sangat jelas dan
kontras berbagai bagian organ tubuh
2.         Magnetic Resonance Imaging ( MRI ) adalah suatu alat diagnostik muthakhir untuk
memeriksa dan mendeteksi tubuh dengan menggunakan medan magnet yang besar dan
gelombang frekuensi radio, tanpa operasi, penggunaan sinar X, ataupun bahan radioaktif,
yang menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh / organ manusia dengan
menggunakan medan magnet berkekuatan antara 0,064 – 1,5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dan
resonansi getaran terhadap inti atom hydrogen (Satya Negara, dkk,2010).
3.        Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu teknik penggambaran penampang tubuh
berdasarkan prinsip resonansi magnetik inti atom hydrogen (Eko Bastiansyah 2008)
2.      Tujuan
1.      MRI dapat mengidentifikasikan zat kimia yang terdapat pada area yang membedakan tumor
otak dan abses otak
2.      Perfusi MRI dapat di gunakan untuk mengestiminasi aliran darah
3.      Difusi MRI dapat digunakan untuk mendeteksi akumulasi cariran (edema) secara tiba-tiba.
3.      Indikasi
1.   Neoplasma
2.   Infection
3.   Infarction
4.   Di bidang saraf: stroke, tumor otak, kelainan mielinisasi otak, gangguan aliran cairan
otak/hidrocephalus, beberapa bentuk infeksi otak, gangguan pembuluh darah otak, dsb.
5.   Di bidang muskuloskeletal: tumor jaringan tulang atau otot, kelainan saraf tulang belakang,
tumor spinal, jeputan akar saraf tulang belakang, dsb.
6.   Di bidang kardiologi: pembuluh darah besar, pemeriksaan MRA (Magnetic Resonance
Angiografi) carotis, dsb.
4.      Kontraindikasi
1.        Relatif :
a.       Anemia hemolitika
b.      Riwayat alergi dengan bahan yodida
2.        Mutlak :
a.       Kehamilan dan menyusui
b.      Gagal ginjal
3.        Untuk pasien yang menggunakan alat pacu jantung (pace marker),
4.         Pasien dengan alat bantu dengar
5.         pasien dengan alat/klip/protesa berupa logam, yang di pasang pada bagian tubuhnya, antara
lain dapat berupa klippadaoperasi aniurisma, facemarker pada jantung, alat bantu dengar, gigi
palsu dan sebagainya
6.        Pasien yang sedang menjalani kemoterapi, pasien dengan pompa insulin di mohon untuk
melaporkan pada dokter. Pada kasus- kasus di atas, MRI dapat di batalkan dengan alas an
trakut melukaipasien.

5.      Persiapan alat
1.      Meja MRI
2.      Bel
6.      Persiapan klien
1.      Pasien diharap tidak mengenakan aksesoris tubuh yang berasal dari bahan logam secara
berlebih. Hal ini penting karena MRI menggunakan prinsip magnetisasi.
2.      Pasien akan diminta diam untuk beberapa saat sampai prose magnetisasi selesai.
3.      Memberikan kesempatan pada pasien melihat dulu alat MRI beberapa saat sebelum
prosedur untuk menghindari ketakutan terhadap ruang sempit(klustrofobia
4.      Memberikan inform cocent
5.      Berikan medikasi sebelum tes
6.      Kaji kemungkinan reaksi iodin
7.      Prosedur
1.      Preinteraksi
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan tujua dilakukan pemeriksaan pada klien
2.      Interaksi
1.    Pasien berbaring terlentang dengan posisi kedua tangan disamping badan
2.    Meja MRI akan bergerak maju kedalam posisi medan magnet yang tepat
3.    Pasien akan mendengar suara dari gelombang radio frekuensi,seperti suara ketukan selama
jalannya pemeriksan
4.    Selama pemeriksaan MRI,pasien akan selalu dibawah pengawasan petugas,dan dapat
langsung berkomunikasi dengan petugas MRI
5.    Pasien akan diberi bel ditangan dan dapat ditekan untuk memanggil petugas MRI,atau
mengalami kondisi yang kurang nyaman
6.    Pada umumnya pemeriksaan ini membutuhkan waktu sekitar 40 menit
7.    Setelah pemeriksan MRI selesai pasien dapat melakukan aktifitas normal seperti biasa
8.    Cuci tangan
3.      Terminasi
1.Evaluasi
2.Dokumentasi
8.      Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.        Pada pemeriksaan MRI ini tidak boleh dilakukan pada wanita yang hamil muda(trisemester
1)
2.        Pasien memberikan informasi kepada petugas sebelum dilakukan pemeriksaan
9.      Diagnosa yang mungkin muncul
1.      Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap prosedur pemeriksaan ditandai
dengan klien nampak bingung dan tekanan darah klien meningkat.
2.      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan tingkat pendidikan yang rendah ditandai
dengan klien tidak memahami prosedur pemeriksaan.

D.    Pemeriksaan EEG
1.      Pengertian
1.      Elektro Ensefalografi adalah suatu prosedur pemeriksaan menggunakan alat elektromedik
yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik otak, melalui tengkorak yang
utuh.juga  merupakan pemeriksaan syaraf otak dengan mereka gelombanggelombang otak.
2.      EEG adalah pemeriksaan penunjang yang sangat diperlukan di bagian syaraf untuk
menentukan adanya kelainan gelombanggelombang di otak secara fungsional(Jan Nissl,
2006)
2.      Indikasi
EEG dilakukan untuk (Jan Nissl, 2006)
1.       Mendiagnosa dan mengklasifikasikan Epilepsi
2.       Mendiagnosa dan lokalisasi tumor otak, Infeksi otak, perdarahan otak,parkinson
3.      Mendiagnosa Lesi desak ruang lain
4.       Mendiagnosa Cedera kepala
5.       Periode keadaan pingsan atau dementia.
6.       Narcolepsy.
7.       Memonitor aktivitas otak saat seseorang sedang menerima anesthesia umum selama
perawatan.
8.       Mengetahui kelainan metabolik dan elektrolit
3.      Kontraindikasi
1.   Kejang
2.   Tumor otak
3.   Cedera kepala
4.   pendarahan intrakranial
5.   abses otak
6.   ensefalitis
7.   mati batang otak
4.      Persiapan alat
1.      Mesin eeg
2.      Pasta ten 20
3.      Bantal bayi
4.      Abrasive gel
5.      Cotton bud

5.      Persiapan klien
1.      Pasien tidak dalam keadaan Batuk, Pilek atau Demam.
2.      Berhenti meminum obat tertentu ( Obat Penenang).
3.      Hindari makanan yang mengandung Kafein ( seperti Kopi, Teh, Cola, Coklat) sedikitnya 8
jam se belum test.
4.      Hindari Puasa malam sebelum prosedur, Makanlah dalam porsi kecil sebelum test, sebab
gula darah rendah dapat mempengaruhi hasil EEG.
5.      Rambut Harus Bersih, bebas dari minyak rambut. hair spray, gel, conditioner atau cairan
yang mengandung obat kulit (atau sebaiknya keramas terlebih dahulu).
6.      Tidur malam yang cukup.
7.      Tidak perlu persiapan puasa
8.      Jelaskan prosedur tindakan pada klien
9.      Inform concent
6.      Prosedur
1.      Preinteraksi
1.    Jelaskan tujuan pemeriksaan pada klien
2.      Interaksi
1.      Tutup sampira
2.      Cuci tangan
3.      Memakai hanscone
4.      Pastikan pasien sudah keramas sebelum pemeriksaan EEG
5.      Sebelum pemeriksaan jangan menggunakan minyak rambut,dan make up
6.      Untuk pemasangan elektroda yang benar,ukur kepala dengan tekhnik 10-20 sistem
7.      Setelah diukur berikan tanda dengan pensil khusus EEG disetiap titik pelekatan elektroda
8.      Bersihkan tiap titik pelekatan elektroda dengan abrasive gel,
9.      Letakan abrasive gel ke cutton bud kemudian gosok perlahan-lahan di titik yang akan
diletakan elektrodanya.
10.  Elektroda pertama yang dipasang sebaiknya elektroda Ref (diletakan di antara CZ dan
FCZ),dan Ground(diletakan di FPZ)
11.  Rekatkan elektroda ke kepala dengan pasta ten 20.
12.  Perhatikan setelah pemasangan elektroda akan muncul nilai ipedansi di layar monitor
13.  Bila angka dibawah 5 kohm(mesin EEG berwarna hijau dan berwarna merah jika lebih dari
5),berarti pemasangan sudah baik.
14.  Pada saat perekaman, biasanya pasien dalam kondisi terentang, ganjal kepala pasien dengan
bantal, pergunakan bantal yang nyaman tapi tidak mengganggu elektroda yang terpasang.
Penulis menyarankan gunakan bantal guling kecil (bantal bayi).
15.  Tanyakan ke pasien apakah posisi kepalanya sudah nyaman dan tidak tegang. Beritahukan
juga ke pasien agak tidak terlalu sering berkedip dan bergerak.Renggangkan rahang pasien,
maksudnya antara gigi atas dan gigi bawah jangan menempel. Semua ini dimaksudkan agar
mengurangi artefact yang timbul dari pasien sendiri.
16.  Setelah semua prosedur diatas dilakukan, lihatlah ke monitor, apakah gelombang EEG sudah
baik (tidak banyak artefact), Bila sudah lakukanlah perekaman.
17.  Dalam awal perekaman perintahkanlah ke pasien agar membuka dan menutup mata,
lakukanlah beberapa kali. Jangan lupa memberikan marker pada saat melakukan setiap
perintah yang kita minta. Biasanya pada mesin EEG sudah terdapat tamplate marker seperti
Eye Open, Eye Close dll. Operator tinggal mengklik saja.
18.  Aktivitas pasien harus selalu dipantau, misalkan saat pasien bergerak atau batuk, berikanlah
marker. Ini memudahkan dokter dalam membaca hasil rekaman. Saat ini teknologi EEG
sudah berkembang, selain menggunakan marker untuk menandai setiap aktivitas pasien ada
juga EEG dengan fasilitas Video recording, jadi saat hasil EEG dibaca, dokter pembaca dapat
melihat langsung aktivitas pasien selama perekaman bersamaan dengan gelombang EEG.
19.  Untuk jenis mesin EEG lama, operator harus merubah montage tiap beberapa menit,
Biasanya 2 sampai 3 menit perekaman operator harus merubah montage , dari montage I
sampai VIII
20.  Di mesin EEG terbaru operator sudah tidak perlu lagi merubah montage, dikarenakan pada
saat merekam semua montage sudah direkam oleh mesin EEG. Penulis menyarankan pada
saat rekaman gunakanlah montage Referential, contoh : FP1-Ref, FP2-Ref, F4-Ref dst.
Kenapa penulis menyarankan menggunakan montage Referential? Karena dengan montage
referential pada saat ada elektroda yang lepas atau bed connect dapat langsung terlihat posisi
elektroda mana yang bermasalah, jadi operator dengan mudah dan cepat untuk
memperbaikinya.
3.      Terminasi
1.      Cuci tangan
2.      Dokumentasi
7.      Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Prosedur ini sangat aman. Namun, lampu berkedip atau bernafas cepat (hiperventilasi) yang
diperlukan selama pengujian dapat memicu kejang pada mereka dengan gangguan kejang.

8.      Diagnosa yang mungkin muncul


1.      Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur EEG ditandai dengan
klien nampak memikirkan kondisi fisiknya saat dilakukan pemeriksaan

PROSEDUR PERSIAPAN PASIEN UNTUK PEMERIKSAAN


CT SCAN

Persiapan pemeriksaan CT Scan

Persiapan pasien Rawat Jalan untuk dewasa


         Dibuat perjanjian dengan radiologi untuk menentukan hari pemeriksaan
         Menandatangani surat pernyataan izin tindakan oleh pasien/keluarga pasien.
         Puasa 4 jam sebelum pemeriksaan
         Pasien boleh melanjutkan pengobatan/minum obat yang diberikan oleh dokter pengirimnya.
         Melampirkan hasil pemeriksaan laboratorium (Ureum,Creatine) yang terakhir diperiksa, jika tidak ada
maka harus ada pernyataan dari dokter pengirim yang menyatakan fungsi ginjal pasien baik.
         Pada hari pemeriksaan, harap membawa film x-ray, USG, MRI sesuai dengan jenis pemeriksaan
(bila ada)

Persiapan Khusus
CT Abdomen
         Bagian radiologi akan memberikan kontras oral sebanyak 20 CC yang kemudian dilarutkan dalam air
matang menjadi 900 cc kemudian dibagi menjadi 3 gelas, yang masing-masing diminum pada :1 jam
sebelum pemeriksaan untuk minum  pertama, ½ jam berikutnya untuk minum kedua, dan minum
ketiga di ruang radiologi saat akan dilakukan pemeriksaan

CT Abdomen-Pelvis atau Pelvis


         Minum kontras pertama : 2 jam sebelum pemeriksaan, minum kontras kedua : 1 jam sebelum
pemeriksaan, minum kontras ketiga : sebelum pemeriksaan akan dimulai. Jangan buang air kecil
setelah minum kontras kedua sampai pemeriksaan selesai.
         Untuk pasien yang memakai dauer kateter diklem setelah minum kontras kedua oleh perawat
ruangan
         Pasien akan diberikan kontras enema (di ruang CT Scan) bila diperlukan.
         Bagi pasien wanita (yang sudah menikah) akan dipasang tampon intravagina (di ruang CT Scan)

Persiapan pemeriksaan CT Scan untuk anak (5 – 8 tahun)


Persiapan sebelum pemeriksaan
         Surat persetujuan pemeriksaan dari orang tua / wali pasien
  Informasikan kepada bagian radiologi jika ada riwayat alergi / asma

Persiapan pasien rawat jalan untuk Bayi dan Anak


         Dibuat perjanjian dengan radiologi untuk menentukan hari pemeriksaan
         Surat persetujuan pemeriksaan dari orang tua/keluarga
         Radiolog akan menentukan berapa banyak kontras IV yang akan diberikan, Os tidak perlu puasa.
         Radiolog akan memberikan obat penenang atau dilakukan oleh dokter anestesi (bila diperlukan) agar
pemeriksaan berlangsung dengan lancar
         Pastikan IV Canular terpasang dengan tepat sebelum dimasukkan kontras
         Setelah pemeriksaan selesai maka perawat radiologi harus memperhatikan keadaan umum pasien
         Untuk pemeriksaan yang menggunakan anestesi maka pasien tersebut di bawah pengawasan dokter
anestesi
         Pasien dapat pulang setelah dipastikan tidak ada keluhan

Persiapan Pasien Rawat Inap dan UGD


         Dibuat perjanjian dengan radiologi untuk menentukan hari pemeriksaan
         Surat pernyataan izin tindakan sudah disiapkan oleh perawat ruangan dan perawat UGD
         Puasa 4 jam kecuali cito
         Di ruangan / UGD sudah terpasang IV canular, dan diberi penenang untuk bayi/anak bila diperlukan.
         Status/file pasien dan hasil pemeriksaan foto X-ray, USG,harus dibawa.
         Perawat ruangan / UGD memberitahukan kepada perawat radiologi mengenai keadaan umum
pasien.
         Perawat ruangan mendampingi pasien jika keadaan umum lemah.

Persiapan Khusus
CT Abdomen
         Bagian radiologi akan memberikan kontras oral sebanyak 20 CC kepada perawat ruangan dan UGD
yang kemudian dilarutkan dalam air matang menjadi 900 cc kemudian dibagi menjadi 3 gelas, yang
masing-masing diminum di ruangan dan UGD pada :1 jam sebelum pemeriksaan untuk minum 
pertama, ½ jam berikutnya untuk minum kedua di ruangan dan UGD, dan minum ketiga di ruang
radiologi saat akan dilakukan pemeriksaan

CT Abdomen-Pelvis atau Pelvis


         Minum kontras oral pertama di rungan dan UGD: 2 jam sebelum pemeriksaan, minum kontras kedua
di ruangan dan UGD: 1 jam sebelum pemeriksaan, minum kontras ketiga di radiologi : sebelum
pemeriksaan akan dimulai. Jangan buang air kecil setelah minum kontras kedua sampai pemeriksaan
selesai.
         Untuk pasien yang memakai dauer kateter diklem setelah minum kontras kedua oleh perawat
ruangan
         Pasien akan diberikan kontras enema (di ruang CT Scan) bila diperlukan.
         Bagi pasien wanita (yang sudah menikah) akan dipasang tampon intravagina (di ruang CT Scan)