Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

PADA ANAK USIA SEKOLAH

Makalah disusun guna memenuhi tugas


mata kuliah Keperawatan Keluarga

Dosen Pengampu : Ns. Sang Ayu Made Adyani,M.Kep., Sp.Kep.Kom

Disusun oleh :

Valery Oktavia 1710711051


Kandia Dwi S 1710711052
Hemi Afifah 1710711054
Anastasya Nurcahyani 1710711055
Indah Burdah Sari 1710711072
Triyono 1710711086
Nurhidayah P 1710711113

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
2020
Kasus :
Perawat melakukan kunjungan ke RW 8 Kelurahan F merupakan pemukiman padat
penduduk. Terdapat 80 KK yang memiliki anak usia sekolah di RW 8 Kelurahan F.Jumlah
keseluruhan anak usia sekolah 6-12 tahun adalah 150 orang dengan jumlah anak perempuan
70 orang dan jumlah anak laki-laki sebanyak 80 orang. 100% dari anak usia sekolah belum
kawin. Pelayanan kesehatan di sekolah terdapat UKS untuk tempat istirahat dan pemeriksaan
bagi anak yang sakit. Mereka aktif mengikuti ekstakulikuler yang terdapat disekolah seperti
paskibra,pramuka,dan tari tradisional. . Anak-anak RW 8 berjalan kaki atau menggunakan
sepeda untuk sekolah.

Suku di Kelurahan F mayoritas adalah suku Jawa. Bahasa yang sering digunakan
yaitu bahasa indonesia dan jawa dan setiap keluarga memiliki telepon genggam dan
menggunakannya untuk komunikasi antar sesama. Penduduk di RW 8 Kelurahan F
seluruhnya beragama Islam. Sebagian besar mata pencaharian penduduk yaitu karyawan
swasta dan pedagang. Terdapat 1 Puskesmas di kelurahan F dan 3 Posyandu yang dapat
diakses dengan jarak 1 km. Tingkat pendidikan akhir warga RW 8 lulusan SMA sebanyak 70,
lulusan SMP 20% dan lulusan SD 10%. Transportasi di RW 8 Kelurahan F mayoritas
menggunakan kendaraan roda dua. Sebagian kecil penduduk juga ada yang menggunakan
kendaraan roda empat dalam melakukan mobilisasi, dan ada juga yang hanya berjalan kaki
dalam mengakses pelayanan kesehatan. Tempat rekreasi yang sering dimanfaatkan anak
bersama orang tuanya biasanya ke Kebun Binatang ,atau taman-taman kota.

Rumah-rumah penduduk berhimpitan dan hanya dipisahkan oleh gang-gang kecil.


Pemukiman tersebut dikelilingi oleh selokan yang keadaanya cukup kotor.Warga biasa
membuang sampah di belakang rumah. Jika sampah sudah menumpuk, maka warga akan
membakarnya. Sehingga tidak heran jika setiap hari pasti ada asap mengepul dari rumah
warga.Hasil wawancara dengan kader posyandu mengatakan, hampir 90% anak usia sekolah
di wilayahnya mengalami ISPA berulang. Kader mengatakan warganya belum pernah
mendapatkan penyuluhan tentang ISPA dari tenaga kesehatan/puskesmas. Hasil survey yang
dilakukan kepada anak usia sekolah didapatkan hasil : 78% anak mengatakan batuk pilek hal
yang biasa pada anak; 76% mengatakan sakit batuk pilek karena sering minum es dan
kehujanan; 81,2% anak mengatakan tidak menutup mulut dan hidungnya saat batuk; 77,1%
mengelap ingus dengan lengan bajunya. Hasil wawancara dengan beberapa anak mengatakan
batuk pilek sangat mengganggu aktivitas mereka; anak mengatakan sulit konsentrasi saat di
sekolah; bahkan sering ijin tidak masuk sekolah karena demam dan batuk.

Kader juga mengatakan anak-anak di wilayahnya masih suka bermain tanah. Kuku
mereka tampak Panjang dan kotor. Hasil survey didapatkan data : 76,5% anak senang
bermain tanah (dagang-dagangan, lompat tali, kelereng dll); 12,3% anak mencuci tangan
setelah bermain; 65,4% mencuci tangan dengan cara mencelupkan tangan ke ember; 69,3%
menggunting kuku jika ada sidak dari guru sekolah; 31,2% anak merapikan kuku dengan
menggigit kuku. Kader juga mengatakan banyak anak usia sekolah yang jajan tidak sehat,
hasil observasi juga diapatkan data sebanyak 80% menderita karies gigi. Anak mengatakan
menggosok gigi jika akan berangkat ke sekolah saja agar tidak dimarahi oleh guru mereka.

A. Pengkajian sesuai CAP


CAP menurut Hitchcock, Schubert dan Thomas, pada tahun 1999 adalah
panduan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai implementasi dalam
keperawatan komunitas yang terdiri dari tiga tingkatan pencegahan (primer, sekunder
dan tersier) serta program evaluasi.
Model CAP adalah gambaran tentang konsep CAP, Agregat individu atau
klien dalam model CAP menurut Stanhope dan Lancaster pada tahun 2004 meliputi
intersistem (kelompok yang karakteristiknya satu  atau lebih) dan ekstrasistem
meliputi delapan subsistem meliputi komunikasi, transportasi dan keselamatan,
ekonomi, pendidikan, politik dan pemerintahan, layanan kesehatan dan sosial,
lingkungan fisik dan rekreasi (Anderson & McFarlane, 2000).
Anderson dan McFarlane (2000) menyebutkan bahwa model CAP terdiri dari
dua komponen utama yaitu roda pengkajian komunitas dan proses keperawatan, Roda
pengkajian komunitas terdiri dari dua bagian utama yaitu inti dan delapan subsistem
yang mengelilingi inti dan merupakan bagian dari pengkajian keperawatan, proses
keperawatan terdiri dari beberapa tahap mulai dari pengkajian sampai dengan
evaluasi.
1. Data Inti
a. Demografi :
Terdapat 80 KK yang memiliki anak usia sekolah di RW 8
Kelurahan F . Jumlah keseluruhan anak usia sekolah di RW 8 Kelurahan
F 6-12 tahun adalah 150 orang dengan jumlah anak perempuan 70 orang
dan jumlah anak laki-laki sebanyak 80 orang. Suku di Kelurahan F
mayoritas adalah suku Jawa. 100% dari anak usia sekolah belum kawin.
b. Statistik Vital :
Berdasarkan hasil wawancara dengan kader posyandu mengatakan,
anak usia sekolah di wilayahnya mengalami ISPA berulang, hasil
observasi juga didapatkan data sebanyak 80% menderita karies gigi.
c. Karakteristik Penduduk
Penduduk di RW 8 Kelurahan F seluruhnya beragama Islam. Kader
mengatakan warganya belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang
ISPA dari tenaga kesehatan/puskesmas. Hasil survey yang dilakukan
kepada anak usia sekolah didapatkan hasil : 78% anak mengatakan batuk
pilek hal yang biasa pada anak; 76% mengatakan sakit batuk pilek
karena sering minum es dan kehujanan; 81,2% anak mengatakan tidak
menutup mulut dan hidungnya saat batuk; 77,1% mengelap ingus dengan
lengan bajunya. Hasil wawancara dengan beberapa anak mengatakan
batuk pilek sangat mengganggu aktivitas mereka; anak mengatakan sulit
konsentrasi saat di sekolah; bahkan sering ijin tidak masuk sekolah
karena demam dan batuk. Kader juga mengatakan anak-anak di
wilayahnya masih suka bermain tanah. Kuku mereka tampak Panjang
dan kotor. Hasil survey didapatkan data : 76,5% anak senang bermain
tanah (dagang-dagangan, lompat tali, kelereng dll); 12,3% anak mencuci
tangan setelah bermain; 65,4% mencuci tangan dengan cara
mencelupkan tangan ke ember; 69,3% menggunting kuku jika ada sidak
dari guru sekolah; 31,2% anak merapikan kuku dengan menggigit kuku.
Kader juga mengatakan banyak anak usia sekolah yang jajan tidak sehat,
Anak mengatakan menggosok gigi jika akan berangkat ke sekolah saja
agar tidak dimarahi oleh guru mereka.

2. Data Subsistem
Delapan subsystem yang dikaji sebagai berikut :
a. Lingkungan fisik
Rumah-rumah penduduk berhimpitan dan hanya dipisahkan oleh gang-
gang kecil. Pemukiman tersebut dikelilingi oleh selokan yang keadaanya
cukup kotor.Warga biasa membuang sampah di belakang rumah. Jika
sampah sudah menumpuk, maka warga akan membakarnya. Sehingga
tidak heran jika setiap hari pasti ada asap mengepul dari rumah warga.
b. Ekonomi
Sebagian besar mata pencaharian penduduk RW 08 yaitu karyawan
swasta dan pedagang.
c. Sistem kesehatan
Terdapat 1 Puskesmas di kelurahan F dan 3 Posyandu yang dapat
diakses dengan jarak 1 km. Pelayanan kesehatan di sekolah terdapat UKS
untuk tempat istirahat dan pemeriksaan bagi anak yang sakit
d. Keamanan dan Transportasi
Transportasi di RW 8 Kelurahan F mayoritas menggunakan kendaraan
roda dua. Sebagian kecil penduduk juga ada yang menggunakan
kendaraan roda empat dalam melakukan mobilisasi, dan ada juga yang
hanya berjalan kaki dalam mengakses pelayanan kesehatan. Anak-anak
RW 8 berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk sekolah.
e. Kebijakan dan Pemerintah
Keikut sertaan anak dalam organisasi sosial di sekolah Mereka aktif
mengikuti ekstakulikuler yang terdapat disekolah seperti
paskibra,pramuka,dan tari tradisional
f. Pendidikan
Jumlah keseluruhan anak usia sekolah di RW 8 Kelurahan F 6-12
tahun adalah 150 orang. Tingkat pendidikan akhir warga RW 8 lulusan
SMA sebanyak 70% lulusan SMP 20% dan lulusan SD 10%.
g. Rekreasi
Tempat rekreasi yang sering dimanfaatkan anak bersama orang tuanya
biasanya ke Kebun Binatang ,atau taman-taman kota.
h. Komunikasi
Bahasa yang sering digunakan yaitu bahasa indonesia dan jawa dan
setiap keluarga memiliki telepon genggam dan menggunakannya untuk
komunikasi antar sesama.

3. Persepsi
a. Persepsi masyarakat
Masyarakat masih banyak yang menganggap bahwa perilaku
membakar asap di lingkungan sekitar rumah dan menghasilkan asap
yang setiap harinya mengepul tidak terlalu berpengaruh pada kesehatan
termasuk salah satunya yaitu penyakit ISPA.
b. Persepsi perawat yang mengkaji
Berdasarkan hasil observasi, hampir 90% belum mengetahui
pentingnya PHBS. sebagai perawat bahwa kesadaran masyarakat di
RW 8 Kelurahan F tersebut masih kurang pengetahuan mengenai
perilaku hidup yang bersih dan sehat, serta mengenali penyakit ISPA
yang disebabkan karena kebiasaan yang buruk. dan kurangnya
kesadaran untuk mengedukasi anak-anaknya mengenai pentingnya cuci
tangan sebelum makan.Kemudian dilihat dari lingkungan fisik juga
kami beranggapan bahwa masyarakat setempat masih kurang dalam
menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumahnya.

B. Data Tambahan, Data Fokus, dan Analisa Data


1. Data Fokus

Data Primer Data Sekunder


1. Warga mengatakan biasa 1. RW 8 Kelurahan F
membuang sampah di merupakan pemukiman
belakang rumah penduduk
2. Warga akan membakar 2. Rumah-rumah penduduk
sampah jika sampah sudah berhimpitan dan hanya
menumpuk dipisahkan oleh gang-gang
3. Warga mengatakan tidak kecil
heran jika setiap hari ada 3. Pemukiman dikelilingi oleh
asap mengepul dari rumah selokan yang keadaannya
warga akibat pembakaran cukup kotor
sampah 4. Hasil survey yang dilakukan
4. Kader Posyandu kepada anak usia sekolah
mengatakan hampir 90% didapatkan hasil:
anak usia sekolah di wilayah  78% anak
RW 8 mengalami ISPA mengatakan batuk
berulang pilek hal yang biasa
5. Kader mengatakan pada anak
warganya belum pernah  76% mengatakan
penyuluhan tentang ISPA sakit batuk pilek
dari tenaga karena sering minum
kesehatan/puskesmas es dan kehujanan
6. Hasil wawancara dengan  81,2% anak
beberapa anak mengatakan mengatakan tidak
batuk pilek sangat menutup mulut dan
mengganggu aktivitas hidungnya saat batuk
mereka  77,1% mengelap
7. Anak mengatakan sulit ingus dengan lengan
konsentrasi saat di sekolah, bajunya
bahkan sering ijin tidak 5. Kuku anak-anak terlihat
masuk sekolah karena panjang dan kotor
demam dan batuk 6. Hasil survey didapatkan
8. Kader mengatakan anak- data:
anak di wilayahnya masih  76,5% anak senang
suka bermain tanah bermain tanah
9. Kader mengatakan banyak (dagang-dagangan,
anak usia sekolah yang jajan lompat tali, kelereng,
tidak sehat dll)
10. Anak mengatakan  12,3% anak mencuci
menggosok gigi jika akan tangan setelah
berangkat sekolah saja agar bermain
tidak dimarahi oleh guru  65,4% mencuci
mereka tangan dengan cara
mencelupkan tangan
ke ember
 69,3% menggunting
kuku jika ada sidak
dari guru sekolah
 31,2% anak
merapikan kuku
dengan menggigit
kuku
7. Hasil observasi didapatkan
anak banyak menderita
karies gigi

Data Tambahan:
1. Tingkat pendidikan akhir
warga RW 8 lulusan:
 SMA sebanyak 70%
 SMP sebanyak 20%
 SD sebanyak 10%

2. Analisa Data

Data Diagnosa
Data Primer: Defisien Kesehatan
1. Warga mengatakan biasa membuang Komunitas pada warga
sampah di belakang rumah RW 8 Kelurahan F
2. Warga akan membakar sampah jika mengenai Pengolahan
sampah sudah menumpuk sampah
3. Warga mengatakan tidak heran jika
setiap hari ada asap mengepul dari rumah
warga akibat pembakaran sampah
4. Kader Posyandu mengatakan hampir
90% anak usia sekolah di wilayah RW 8
mengalami ISPA berulang
5. Kader mengatakan warganya belum
pernah penyuluhan tentang ISPA dari
tenaga kesehatan/puskesmas
6. Hasil wawancara dengan beberapa anak
mengatakan batuk pilek sangat
mengganggu aktivitas mereka
7. Anak mengatakan sulit konsentrasi saat
di sekolah, bahkan sering ijin tidak
masuk sekolah karena demam dan batuk

Data Sekunder:
1. RW 8 Kelurahan F merupakan
pemukiman penduduk
2. Rumah-rumah penduduk berhimpitan
dan hanya dipisahkan oleh gang-gang
kecil
3. Hasil survey yang dilakukan kepada anak
usia sekolah didapatkan hasil:
 78% anak mengatakan batuk
pilek hal yang biasa pada anak
 81,2% anak mengatakan tidak
menutup mulut dan hidungnya
saat batuk

 Tingkat pendidikan akhir warga RW 8


lulusan:
1) SMA sebanyak 70%
2) SMP sebanyak 20%
3) SD sebanyak 10%

Data Primer: Ketidakefektifan


1. Kader Posyandu mengatakan hampir Bersihan Jalan Napas
90% anak usia sekolah di wilayah RW 8 pada anak usia sekolah
mengalami ISPA berulang di RW 8 Kelurahan F
2. Kader mengatakan warganya belum ditandai dengan ISPA
pernah penyuluhan tentang ISPA dari berulang
tenaga kesehatan/puskesmas
3. Hasil wawancara dengan beberapa anak
mengatakan batuk pilek sangat
mengganggu aktivitas mereka
4. Anak mengatakan sulit konsentrasi saat
di sekolah, bahkan sering ijin tidak
masuk sekolah karena demam dan batuk

Data Sekunder:
1. RW 8 Kelurahan F merupakan
pemukiman penduduk
2. Rumah-rumah penduduk berhimpitan
dan hanya dipisahkan oleh gang-gang
kecil
3. Hasil survey yang dilakukan kepada anak
usia sekolah didapatkan hasil:
 78% anak mengatakan batuk
pilek hal yang biasa pada anak
 81,2% anak mengatakan tidak
menutup mulut dan hidungnya
saat batuk
 77,1% mengelap ingus dengan
lengan bajunya

Data Primer: Ketidakefektifan


1. Kader mengatakan anak-anak di Pemeliharaan
wilayahnya masih suka bermain tanah Kesehatan pada anak
2. Kader mengatakan banyak anak usia usia sekolah RW 8
sekolah yang jajan tidak sehat Kelurahan F mengenai
3. Anak mengatakan menggosok gigi jika Perilaku mencuci
akan berangkat sekolah saja agar tidak tangan dan menggosok
dimarahi oleh guru mereka gigi

Data Sekunder:
1. Kuku anak-anak terlihat panjang dan
kotor
2. Hasil survey didapatkan data:
 76,5% anak senang bermain
tanah (dagang-dagangan, lompat
tali, kelereng, dll)
 12,3% anak mencuci tangan
setelah bermain
 65,4% mencuci tangan dengan
cara mencelupkan tangan ke
ember
 69,3% menggunting kuku jika
ada sidak dari guru sekolah
 31,2% anak merapikan kuku
dengan menggigit kuku
3. Hasil observasi didapatkan anak banyak
menderita karies gigi

3. Diagnosa Keperawatan

a. Defisien Kesehatan Komunitas pada warga RW 8 Kelurahan F mengenai


Pengolahan sampah

b. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas pada anak usia sekolah di RW 8


Kelurahan F ditandai dengan ISPA berulang

c. Ketidakefektifan Pemeliharaan Kesehatan pada anak usia sekolah RW 8


Kelurahan F mengenai Perilaku mencuci tangan dan menggosok gigi

C. Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN RENCANA KEGIATAN EVALUASI


KEPERAWATA
N KOMUNITAS STRATE KEGIATAN KRITER STANDAR EVALUAT
GI IA OR
1 Defisien Tujuan Umum:
Melakaukan Afektif - Peningkatkan
Kesehatan Setelah di lakukan penyuluhan pengetahuan warga
Komunitas penyuluhan kesehatan kesehatan terkait di RW 8 kelurahan
pada warga tentang pengolahan dampak dari F terkait dampak Mahasiswa
Kognitif
sampah yang baik dan pengolahan bagi kesehatan dari
RW 8 benar untuk warga di sampah yang pengolahan sampah
Kelurahan F RW 8 kelurahan F yang tidak baik yang tidak baik
dilakukan 4 kali selama dengan cara Psikomotor
mengenai
sebulan membakar Pembimbing
pengelolaan Pendidikan sampah untuk - Peningkatkan Mahasiswa
sampah Tujuan Khusus : Kesehatan warga di RW 8 pengetahuan warga
kelurahan F serta di RW 8 kelurahan
1. Melakukan melakukan F terkait
penyuluhan kepada Perberdaya penyuluhan dan pengolahan sampah
warga di RW 8 an pelatihan terkait yang baik dan
kelurahan F terkait pengolahan benar
dampak bagi sampah yang
kesehatan dari baik dan benar
pembakaran sampah Partner kemudian
dilakukan 1 kali ship mengimplementa - Peningkatan
selama sebulan sikannya di kesadaran warga di
lingkungan RW RW8 kelurahan F
2. Melakukan Proses 8 kelurahan F terkait pengolahan
penyuluhan dan kelompok sampah yang baik
pelatihan untuk warga dan benar
di RW 8 kelurahan F
terkait pengolahan
sampah yang baik - Dapat melakukan
dan benar dilakukan 1 demonstrasi yang
kali selama sebulan baik dalam
pengolahan sampah
3. Melakukan kegiatan yang baik dan
pengolahan sampah benar
yang baik dan benar
bersama warga di
RW 8 kelurahan F
dilakukan 4 kali
selama sebulan

2. Ketidakefektifa Tujuan Umum:


Penyuluhan - Kognitif
n bersihan jalan Setelah di lakukan kesehatan Peningkatkan
napas pada anak penyuluhan kesehatan kepada anak usia pengetahuan warga
usia sekolah di tentang penyakit ISPA sekolah dan - Afektif di RW 8 kelurahan
pada anak usia sekolah orang tua di RW F terkait tanda dan Mahasiswa
RW 8 dan orang tua di RW 8 8 Kelurahan F - gejala anak
Kelurahan F kelurahan F yang tentang penyakit Psikomoto densipgan ISPA
ditandai dengan dilakukan 4 kali selama Pendidikan ISPA serta r
sebulan Kesehatan memberikan
ISPA berulang pelatihan untuk - Peningkatkan Pembimbing
Tujuan Khusus : merawat anak pengetahuan orang Mahasiswa
Perberdaya dengan ISPA tua dan anak di
1. Melakukan an dilakukan selama RW 8 kelurahan F
penyuluhan kepada sebulan. terkait pencegahan
orang tua tentang penyakit ISPA
tanda dan gejala anak
dengan ISPA Partner
dilakukan 1 kali ship
selama sebulan - Peningkatan
kesadaran orang
2. Melakukan Proses tua di RW8
penyuluhan kesehatan kelompok kelurahan F terkait
cara pencegahan merawat anak
penyakit ISPA dengan ISPA
kepada anak usia
sekolah dan orang tua
di RW 8 kelurahan F - Dapat melakukan
dilakukan 1 kali demonstrasi yang
selama sebulan baik dalam
pemberian terapi
3. Melakukan sederhan untuk
penyuluhan dan anak dengan ISPA
pelatihan kesehatan
tentang perawatan
untuk anak dengan
ISPA serta terapi
sederhana untuk
penyakit ISPA
kepada orang tua di
RW 8 kelurahan F
dilakukan 1 kali
selama sebulan.

3. Ketidakefektifa Tujuan Umum: - Peningkatan


n pemeliharaan Pendidikan Penyuluhan - Kognitif Pengetahuan anak -Mahasiswa
Setelah di lakukan Kesehatan kepada anak usia usia sekolah dan
kesehatan pada sekolah dan Orang tua tentang
anak usia penyuluhan kesehatan
orang tua di RW - Afektif Bahaya jika anak
tentang penting nya
sekolah RW 8 Perberdaya 8 Kelurahan F tidak mencucui -
mencuci tangan
Kelurahan F an tentang cara - tangan dan Pembimbing
sebelum dan sesudah mencuci tangan Psikomoto menggosok gigi. Mahasiswa
mengenai makan serta dengan 6 r
perilaku menggosok gigi langkah serta
mencuci tangan sebelum tidur pada Partner cara menggosok - Peningkatan
dan menggosok anak usia sekolah dan ship gigi yang benar Pengetahuan anak
gigi orang tua di RW 8 dengan usia seolah dan
kelurahan F yang memraktekannya Orang tua cara
dilakukan 4 kali Proses menggunakan mencuci tangan
selama sebulan kelompok lagu dan pantom dan menggosok
agar mudah gigi yang benar.
diingat - Peningkatan
Tujuan Khusus : dilakukan Pengetahuan anak
selama sebulan. usia sekolah dan
4. Melakukan Orang tua untuk
penyuluhan kepada selalu menjaga
orang tua tentang kebersihan tangan
pentingnya mencuci dan gigi.
tangan dan
menggosok gigi
dilakukan 1 kali
selama sebulan - Dapat melakukan
demostrasi yang
5. Melakukan baik dalam
mempraktekkan
penyuluhan cara menyebrang
kesehatan resiko jalan yang baik
tidak mencuci kepada anak
tangan dan cara
mencuci tangan 6
langkah kepada
anak usia sekolah
dan orang tua di
RW 8 kelurahan F
dilakukan 1 kali
selama sebulan

6. Melakukan
penyuluhan
kesehatan resiko
tidak menggosok
gigi pada anak usia
sekolah kepada
orang tua di RW 8
kelurahan F
dilakukan 1 kali
selama sebulan.

D. Peran dan Fungsi Perawat


1. Peran Perawat
a. Care Giver
Perawat memberikan solusi dengan merencanakan intervensi untuk
mengatasi masalah yang terjadi di pemukiman RW 8 Kelurahan
b. Educator
Perawat melakukan penyuluhan kesehatan kepada anak sekolah tentang
cara cuici tangan yang benar dan momen-momen apa kita harus cuci
tangan.
c. Role Model
Perawat menjadi contoh yang baik terhadap anak- anak dan masyarakat
dalam melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat”.
d. Case manager
Perawat mengidentifikasi kebutuhan untuk manajemen kasus, mengkaji
kebutuhan klien,membuat perencanaan, implementasi, evaluasi dan
dokumentasi).
2. Fungsi Perawat
a. Fungsi Independen: Perawat menjalankan peran educator untuk
menambah pengetahuan anak sekolah mengenai pentingnya mencuci
tangan.
b. Fungsi Interdependen : Perawat bekerja sama dengan masyarakat sekitar
untuk melakukan perubahan terhadap lingkungan agar terciptanya
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat sekitar RW 8
Kelurahan F.

E. Program/Kebijakan Pemerintah terkait Kasus


1. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
a. Pengertian PHBS
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan
pendidikan yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil
pembelajaran, yang membuat seseorang, keluarga, kelompok atau
masyarakat mampu menolong diri sendiri (mandiri) di bidang kesehatan
dan bergerak aktif dalam menciptakan kesehatan masyarakat.

b. Manfaat PHBS Di Sekolah


PHBS di sekolah merupakan kegiatan memberdayakan siswa,guru dan
masyarakat lingkungan sekolah untuk mau melakukan pola hidup sehat
untuk menciptakan sekolah sehat. Manfaat PHBS di Sekolah mampu
menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, meningkatkan proses
belajarmengajar dan para siswa, guru hingga masyarakat lingkungan
sekolah menjadi sehat.

c. PHBS di Institusi Pendidikan (sekolah / pesantren)


Di institusi pendidikan, sasaran primer harus mempraktikan perilaku
yang dapat menciptakan Institusi Pendidikan Ber-PHBS, yang mencakup
antara lain mencuci tangan menggunakan sabun, mengonsumsi makanan
dan minuman sehat, menggunakan jamban sehat, membuang sampah di
tempat sampah, tidak merokok, tidak mengonsumsi narkoba, alcohol,
psikotropika dan zat adiktif (NAPZA), tidak meludah sembarangan,
memberantas jentik nyamuk.

2. Surveileans Sentinel Pneumonia


Surveilans Sentinel Pneumonia adalah surveilans yang melakukan
pengamatan pada populasi suatu wilayah dilakukan untuk memantau jumlah
orang yang terkena ISPA di masyarakat. Sejak tahun 2007, pemerimtah
membentuk Surveilans Sentinel Pneumonia di beberapa provinsi. Hingga pada
tahun 2014, terdapat 132 lokasi Surveilans Sentinel Pneumonia (66 RS dan 66
Puskemas).
Tujuan dibentuknya Surveilans Sentinel Pneumonia :
 Mengetahui gambaran kejadian pneumonia dalam distribusi
epidemiologi menurut waktu, tempat, dan orang di wilayah tersebut.
 Mengetahui jumlah kematian dan angka fatalitas kasus (CFR)
pneumonia pada anak usia sekolah
 Terpantaunya program pelaksanaan ISPA

3. Strategi Pengendalian ISPA di Indonesia (Kemenkes 2014)


a.Membangun komitmen dengan pengambil kebijakan di semua tingkat
dengan melaksanakan advokasi dan sosialisasi
b. Penguatan jejaring internal dan eksternal (profesi, perguruan tinggi,
LSM, ormas, lembaga internasional)
c.Penemuan kasus pneumonia
d. Peningkatan mutu pelayanan melalui ketersediaan tenaga kesehatan
dan logistic
e.Peningkatan peran masyarakat dalam rangka deteksi dini pneumonia pada
anak usia sekolah dan pencarian obat ke fasilitas pelayanan
f. Pelaksanaan Autopsi Verbal di masyarakat
g. Penguatan kesiapsiagaan respon terhadap ISPA melalui latihan
penguatan surveilans dan penyiapan sarana prasarana
h. Pencatatan dan pelaporan kasus
i. Monitoring penatalaksanaan ISPA
j. Evaluasi program secara berkala