Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lansia merupakan proses penuaan dengan bertambahnya usia individu yang
ditandai dengan penurunan fungsi organ tubuh seperti otak, jantung, hati dan ginjal
serta peningkatan kehilangan jaringan aktif tubuh berupa otot-otot tubuh.
Penurunan fungsi organ tubuh pada lansia akibat dari berkurangnya jumlah dan
kemampuan sel tubuh, sehingga kemampuan jaringan tubuh untuk
mempertahankan fungsi secara normal menghilang, sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Fatmah, 2010).
Penyakit asam urat atau biasa dikenal sebagai gout arthritis merupakan suatu
penyakit yang diakibatkan karena penimbunan kristal monosodium urat di dalam
tubuh. Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari purin yaitu salah satu
komponen asam nukleat yang terdapat dalam inti sel tubuh. Peningkatan kadar
asam urat dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh manusia seperti perasaan
nyeri di daerah persendian dan sering disertai timbulnya rasa nyeri yang teramat
sangat bagi penderitanya. Penyebab penumpukan kristal di daerah tersebut
diakibatkan tingginya kadar asam urat dalam darah. Bahan pangan yang tinggi
kandungan purinnya dapat meningkatkan kadar urat dalam darah antara 0,5 – 0,75
g/ml purin yang dikonsumsi. Konsumsi lemak atau minyak tinggi seperti makanan
yang digoreng, santan, margarin atau mentega dan buah-buahan yang mengandung
lemak tinggi seperti durian dan alpukat juga berpengaruh terhadap pengeluaran
asam urat (Krisnatuti, 2007).
Kebiasaan makan-makanan yang mengandung purin dapat meningkatkan asam
urat dalam darah sehingga dapat menimbulkan gout arthritis. Terlalu banyak
mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan nukleotida purinnya seperti sarden,
kangkung, jeroan, dan bayam akan meningkatkan produksi asam urat. Sebaliknya,
mengurangi konsumsi makanan dengan kandungan nukleotida purin tinggi dan
memperbanyak konsumsi makanan dengan kandungan nukleotida purin rendah
akan dapat mengurangi risiko hiperurisemia atau gout arthritis. Salah satu upaya
untuk mengurangi penumpukan protein adalah terapi diet asam urat yang baik
dan
benar (Krisnatuti, 2006). Kejadian gout arthritis dapat mengakibatkan kesulitan
atau gangguan dalam bergerak maupun beraktifitas.

Populasi lansia berusia ≥ 60 tahun sebanyak 10% dan diperkirakan akan


meningkat pada tahun 2050 di dunia. sedangkan lansia berusia ≥ 85 tahun
meningkat 0,25 % (Holdsworth, 2014).

Lansia adalah sekelompok orang yang mengalami suatu proses perubahan


secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Jumlah lansia di dunia, termasuk
negara Indonesia bertambah tiap tahunnya. Pada tahun 2012 persentase penduduk
usia 60 tahun keatas adalah 7,58%, sedangkan pada tahun 2013 meningkat
menjadi 8 %, pada tahun 2014 meningkat menjadi 8,2% dan tahun 2015
meningkat menjadi 8,5% ( BPS 2015). Sedangkan jumlah lansia pada panti
wredha Jambangan pada tahun 2019 sebanyak 154 orang dengan jumlah laki-laki
sebanyak 57 orang dan jumlah perempuan 97 orang

Peningkatan taraf hidup dan Umur Harapan Hidup (UHH)/Angka Harapan


Hidup (AHH) merupakan rata-rata tahun hidup yang dijalani seseorang yang telah
mencapai usia tertentu dan pada tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang
berlaku di lingkungan masyarakat. Peningkatan UHH mengakibatkan terjadinya
transisi epidemiologi dalam bidang kesehatan yang merupakan akibat dari
peningkatan jumlah angka kesakitan penyakit degeneratif (Kemenkes RI, 2013)

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana asuhan keperawatan pada kelompok lansia gout dengan masalah
hambatan mobilitas fisik di panti Wredha Jambangan Surabaya?

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan keperawatan pada kelompok lansia gout dengan
masalah hambatan mobilitas fisik di panti Wredha Jambangan Surabaya.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengidentifikasi pengkajian keperawatan pada kelompok lansia gout
dengan masalah hambatan mobilitas fisik di panti Wredha Jambangan Surabaya.
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada kelompok lansia gout dengan
masalah hambatan mobilitas fisik di panti Wredha Jambangan Surabaya.
c. Mampu membuat rencana keperawatan pada kelompok lansia gout dengan
masalah hambatan mobilitas fisik di panti Wredha Jambangan Surabaya

2
d. Mampu melakukan tindakan keperawatan pada kelompok lansia gout dengan
masalah hambatan mobilitas fisik di panti Wredha Jambangan Surabaya
e. Mempu membuat evaluasi keperawatan pada kelompok lansia gout dengan
masalah hambatan mobilitas fisik di panti Wredha Jambangan Surabaya

1.4 Manfaat
1. Bagi Peneliti
Sebagai bahan refrensi untuk penelitian selanjutnya tetang asuhan
keperawatan pada kelompok lansia gout dengan masalah hambatan mobilitas fisik
di panti Wredha Jambangan Surabaya
2. Bagi Tempat Peneliti
Sebagai kajian ilmu pengetahuan bagi petugas pelayanan kesehatan khususnya
dibidang keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada kelompok
lansia gout dengan masalah hambatan mobilitas fisik di panti Wredha Jambangan
Surabaya. Penulis berharap pihak panti jompo memberikan pelayanan melalui
tindakan keperawatan dan pendidikan kesehatan yang tepat dalam mengatasi dan
meminimalisir terjadinya gout.
3. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Kajian ilmiah dan intervensi keperawatan jiwa pada kelompok lansia gout
dengan masalah hambatan mobilitas fisik yang telah dilaporkan dapat menjadi
sumber pengetahuan atau referensi laporan untuk meningkatkan kualitas ilmu dan
praktek keperawatan gerontik khususnya pada pasien kelompok lansia gout dengan
masalah hambatan mobilitas fisik serta memberikan masukan bagi pengembangan
kurikulum pendidikan D3 Keperawatan pada lingkup pembelajaran kelas
keperawatan gerontik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KONSEP LANSIA
2.1.1 Definisi
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi didalam
kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak
hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan.

3
Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga
tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik
secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami
kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang
mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,
pengelihatan semakin memburuk, gerakan lambat dan figur tubuh yang tidak
proporsional (Nugroho, 2006).
Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan
fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang
berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan
lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi
dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides 1994). Proses menua
merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai sejak
lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho Wahyudi, 2000)
Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur
55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-
hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000).

2.1.2 Batasan Lansia


a. WHO (1999) menggolongkan lanjut usia berdasarkan usia kronologis/ biologis
menjadi 4 kelompok yaitu :
1) usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59
2) lanjut usia (elderly) berusia antara 60 dan 74 tahun
3) lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun
4) usia sangat tua (Very old) di atas 90 tahun.

4
b. Sedangkan Nugroho (2000) menyimpulkan pembagian umur berdasarkan
pendapat beberapa ahli, bahwa yang disebut lanjut usia adalah orang yang
telah berumur 65 tahun ke atas.
c. Menurut Prof. Dr. Koesmanto Setyonegoro, lanjut usia dikelompokkan
menjadi:
1. usia dewasa muda (elderly adulthood), atau 29 – 25 tahun,
2. usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, 25 – 60 tahun atau 65
tahun,
3. lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 tahun atau 70 tahun yang dibagi lagi
dengan:
a) 70 – 75 tahun (young old), 75 – 80 tahun (old)
b) lebih dari 80 (very old).
d. Menurut Undang-Undang No. 4 Tahun 1965 Pasal 1 seseorang dapat
dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah bersangkutan
mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah
sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang
lain. Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia bahwa
lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas
e. Penggolongan lansia menurut Depkes RI dikutip dari Azis (1994) menjadi tiga
kelompok yakni :
1) Kelompok lansia dini (55 – 64 tahun), merupakan kelompok yang baru
memasuki lansia.
2) Kelompok lansia (65 tahun ke atas).
3) Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.
2.1.3 Fisiologi Lansia
Proses penuaan adalah normal, berlangsung secara terus menerus secara
alamiah. Dimulai sejak manusia lahir bahkan sebelumnya dan umunya dialami
seluruh makhluk hidup. Menua merupakan proses penurunan fungsi struktural
tubuh yang diikuti penurunan daya tahan tubuh. Setiap orang akan mengalami
masa tua, akan tetapi penuaan pada tiap seseorang berbeda-beda tergantung pada
berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor
herediter, nutrisi, stress, status kesehatan dan lain-lain (Stanley, 2006).
2.1.4 Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan

5
masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun
psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemuduran secara fisik maupun
psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih,
penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai
fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.
Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak
harus menimbulkan penyakit oleh karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal
ini diartikan:
a. Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial,
b. Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari,
c. Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo,
1996)
Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang
menuntut dirinya untuk menyesuakan diri secara terus-menerus. Apabila proses
penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai
masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh MunandarAshar Sunyoto (1994)
menyebutkan masalah – masalah yang menyertai lansia yaitu:
a) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain
b) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola
hidupnya
c) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggalatau
pindah
d) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak
e) Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan dengan
perubahan fisk, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar
adalah perubahan gerak.
Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa
perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap
perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap
yang ditunjukkan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari
pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan ynag
diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah
peningkatan kesehatan, ekonomi/pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992)

6
Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri-ciri
penyesuaian yang tidak baik dari lansia (Hurlock, 1979 dalam Munandar, 1994)
adalah:
a. Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya.
b. Penarikan diri ke dalam dunia fantasi
c. Selalu mengingat kembali masa lalu
d. Selalu khawatir karena pengangguran,
e. Kurang ada motivasi,
f. Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik, dan
g. Tempat tinggal yang tidak diinginkan.
Di lain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah: minat
yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati
kerja dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilkukan saat ini dan memiliki
kekhawatiran minimla trehadap diri dan orang lain.

2.1.5 Patofisologi

Proses menua : Akibat :


a. Penurunan/kehilangan indra a. Anorexia
pengecap dan penciuman b. Kesulitan makan
b. Penyakit periodental dan c. Mengganggu
kehilangan gigi penyerapanCa, Fe,
c. Penurunan sekresi asam lambung Protein, lemak, dan
dan enzim pencernaan Vitamin
d. Gangguan kemampuan motorik d. Susah BAB, wasir
e. Tulang kehilangan densitasnyadan e. Nafsu kaman menurun
Rapuh f. Kerusakan kartilago dan
f. Tendon mengkerut dan atropi tulang
serabut otot g. Inflamasi sendi sinovial
g. Penurunan mobilitas saluran
pencernaanl/peristaltik melemah
Penyakit infeksi
Keganasan
Mekanisme Inflamasi

Asupan makan kurang, Osteoporosis,

7
Subluksasi/dislokai

Diagnosa Keperawatan :
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
b. Resiko tinggi infeksi
c. Kerusakan mobilitas fisik
d. Nyeri
e. Resiko cedera

2.1.6 Karakteristik Lansia


Beberapa karakteristik lansia yang perlu diketahui untuk mengetahui
keberadaan masalah kesehatan lansia adalah:
a. Jenis kelamin: Lansia lebih banyak pada wanita. Terdapat perbedaan kebutuhan
dan masalah kesehatan yang berbeda antara lansia laki-laki dan perempuan.
Misalnya lansia laki-laki sibuk dengan hipertropi prostat, maka perempuan
mungkin menghadapi osteoporosis.
b. Status perkawinan: Status masih pasangan lengkap atau sudah hidup janda atau
duda akan mempengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun
psikologis.
c. Living arrangement: misalnya keadaan pasangan, tinggal sendiri atau bersama
instri, anak atau kekuarga lainnya.
1) Tanggungan keluarga: masih menangung anak atau anggota keluarga.
2) Tempat tinggal: rumah sendiri, tinggal bersama anak.
Dengan ini kebanyakan lansia masih hidup sebagai bagian keluarganya,
baik lansia sebagai kepala keluarga atau bagian dari keluarga anaknya. Namun
akan cenderung bahwa lansia akan di tinggalkan oleh keturunannya dalam
rumah yang berbeda. Menurut Darmawan mengungkapkan ada 5 tipe
kepribadian lansia yang perlu kita ketahui, yaitu: tipe konstruktif (constructive
person-ality), tipe mandiri (independent personality), tipe tergantung (hostilty
personality) dan tipe kritik diri (self hate personality).
d. Kondisi kesehatan

8
1) Kondisi umum: Kemampuan umum untuk tidak tergantung kepada orang lain
dalam kegiatan sehari-hari seperti mandi, buang air besar dan kecil.
2) Frekuensi sakit: Frekuensi sakit yang tinggi menyebabkan menjadi tidak
produktif lagi bahkan mulai tergantung kepada orang lain.
e. Keadaan ekonomi
1. Sumber pendapatan resmi: Pensiunan ditambah sumber pendapatan lain
kalau masih bisa aktif.
2. Sumber pendapatan keluarga: Ada bahkan tidaknya bantuan keuangan dari
anak atau keluarga lainnya atau bahkan masih ada anggota keluarga yang
tergantung padanya.
3. kemampuan pendapatan: Lansia memerlukan biaya yang lebih tinggi,
sementara pendapatan semakin menurun. Status ekonomi sangat terancam,
sehinga cukup beralasan untuk melakukann berbagai perubahan besar dalam
kehidupan, menentukan kondisi hidup yang dengan perubahan status
ekonomi dan kondisi fisik

2.1.7 Teori Proses Menua


a. Teori – teori biologi
1) Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies –
spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang
diprogram oleh molekul – molekul / DNA dan setiap sel pada saatnya akan
mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel – sel
kelamin (terjadi penurunan kemampuan fungsional sel)
2) Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel – sel tubuh lelah (rusak)
3) Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat
khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat tersebut
sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
4) Teori “immunology slow virvus” (immunology slow virus theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya
virus kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ tubuh.
5) Teori stress
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh.
Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan
internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah
terpakai.
6) Teori radikal bebas

9
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal
bebas (kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan
organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat
menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
7) Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang
kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis,
kekacauan dan hilangnya fungsi.

8) Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah
setelah sel-sel tersebut mati.
b. Teori kejiwaan sosial
1) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
a. Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara
langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah
mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
b. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut
usia.
c. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap
stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.
2) Kepribadian berlanjut (continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori
ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi
oleh tipe personality yang dimiliki.
3) Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang
secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya.
Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik
secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan
ganda (triple loss), yakni :
a) kehilangan peran
b) hambatan kontak sosial
c) berkurangnya kontak komitmen

10
Sedangkan Teori penuaan secara umum menurut Lilik Ma’rifatul
(2011) dapat dibedakan menjadi dua yaitu teori biologi dan teori penuaan
psikososial
a. Teori Biologi
1) Teori seluler
Kemampuan sel hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu
dan kebanyakan sel–sel tubuh “diprogram” untuk membelah 50 kali.
Jika sel pada lansia dari tubuh dan dibiakkan di laboratrium, lalu
diobrservasi, jumlah sel–sel yang akan membelah, jumlah sel yang
akan membelah akan terlihat sedikit. Pada beberapa sistem, seperti
sistem saraf, sistem musculoskeletal dan jantung, sel pada jaringan
dan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut
dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu, sistem tersebut
beresiko akan mengalami proses penuaan dan mempunyai
kemampuan yang sedikit atau tidak sama sekali untuk tumbuh dan
memperbaiki diri (Azizah, 2011)
2) Sintesis Protein (Kolagen dan Elastis)
Jaringan seperti kulit dan kartilago kehilangan elastisitasnya
pada lansia. Proses kehilangan elastiaitas ini dihubungkan dengan
adanya perubahan kimia pada komponen protein dalam jaringan
tertentu. Pada lansia beberapa protein (kolagen dan kartilago, dan
elastin pada kulit) dibuat oleh tubuh dengan bentuk dan struktur yang
berbeda dari protein yang lebih muda. Contohnya banyak kolagen
pada kartilago dan elastin pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya
serta menjadi lebih tebal, seiring dengan bertambahnya usia (Tortora
dan Anagnostakos, 1990). Hal ini dapat lebih mudah dihubungkan
dengan perubahan permukaan kulit yang kehilangan elastisitanya dan
cenderung berkerut, juga terjadinya penurunan mobilitas dan
kecepatan pada system musculoskeletal (Azizah, 2011).
3) Keracunan Oksigen
Teori tentang adanya sejumlah penurunan kemampuan sel di
dalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang
mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi, tanpa mekanisme
pertahan diri tertentu. Ketidakmampuan mempertahankan diri dari
toksink tersebut membuat struktur membran sel mengalami perubahan

11
dari rigid, serta terjadi kesalahan genetik (Tortora dan Anaggnostakos,
1990). Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitas sel
dalam berkomunikasi dengan lingkungannya yang juga mengontrol
proses pengambilan nutrisi dengan proses ekskresi zat toksik di dalam
tubuh. Fungsi komponen protein pada membran sel yang sangat
penting bagi proses di atas, dipengaruhi oleh rigiditas membran
tersebut. Konsekuensi dari kesalahan genetik adalah adanya penurunan
reproduksi sel oleh mitosis yang mengakibatkan jumlah sel anak di
semua jaringan dan organ berkurang. Hal ini akan menyebabkan
peningkatan kerusakan sistem tubuh (Azizah, 2011).
4) Sistem Imun
Kemampuan sistem imun mengalami kemunduran pada masa
penuaan. Walaupun demikian, kemunduran kemampuan sistem yang
terdiri dari sistem limfatik dan khususnya sel darah putih, juga
merupakan faktor yang berkontribusi dalam proses penuaan. Mutasi
yang berulang atau perubahan protein pasca tranlasi, dapat
menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali
dirinya sendiri. Jika mutasi isomatik menyebabkan terjadinya kelainan
pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan dapat menyebabkan
sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan
tersebut sebagai selasing dan menghancurkannya. Perubahan inilah
yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun. Disisi lain sistem
imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada
proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun,
sehingga sel kanker leluasa membelah-belah (Azizah, 2011).
5) Teori Menua Akibat Metabolisme
Menurut MC Kay et all., (1935) yang dikutip Darmojo dan
Martono (2004), pengurangan “intake” kalori pada rodentia muda
akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur.
Perpanjangan umur karena jumlah kalori tersebut antara lain
disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses
metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang
merangsang pruferasi sel misalnya insulin dan hormon pertumbuhan.

12
b. Teori Psikologis
1) Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus memelihara
keaktifannya setelah menua.Sense of integrity yang dibangun dimasa
mudanya tetap terpelihara sampai tua. Teori ini menyatakan bahwa
pada lanjut usia yang sukses adalah meraka yang aktif dan ikut
banyak dalam kegiatan sosial (Azizah, 2011).
2) Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut
usia. Identity pada lansia yang sudah mantap memudahkan dalam
memelihara hubungan dengan masyarakat, melibatkan diri dengan
masalah di masyarakat, kelurga dan hubungan interpersonal (Azizah,
2011).
3) Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia,
seseorang secara pelan tetapi pasti mulai melepaskan diri dari
kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya
(Azizah, 2011).

2.1.8 Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia


Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan
lanjut usia, antara lain: (Setiabudhi,1999)
a. Permasalahan umum
1) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.
2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang
berusia lanjut kurang diperhatikan , dihargai dan dihormati.
3) Lahirnya kelompok masyarakat industri.
4) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut
usia.
5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan
lansia.
b. Permasalahan khusus :
1. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik,
mental maupun sosial.
2. Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.

13
3. Rendahnya produktifitas kerja lansia.
4. Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.
5. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat
individualistik.
6. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu
kesehatan fisik lansia.
2.1.9 Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Penuaan
a. Hereditas atau ketuaan genetik
b. Nutrisi atau makanan
c. Status kesehatan
d. Pengalaman hidup
e. Lingkungan
f. Stres

2.1.10 Perubahan – perubahan Yang Terjadi Pada Lansia


Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara
degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri
manusia, tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga kognitif, perasaan, sosial dan
sexual (Azizah, 2011).
a. Perubahan Fisik
1) Sistem Indra
Sistem pendengaran; Prebiakusis (gangguan pada pendengaran)
oleh karena hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga
dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi,
suara yang tidak jelas, sulit dimengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia
diatas 60 tahun.
2) Sistem Intergumen
Pada lansia kulit mengalami atropi, kendur, tidak elastis kering
dan berkerut. Kulit akan kekurangan cairan sehingga menjadi tipis dan
berbercak. Kekeringan kulit disebabkan atropi glandula sebasea dan
glandula sudoritera, timbul pigmen berwarna coklat pada kulit dikenal
dengan liver spot.

3) Sistem Muskuloskeletal
Perubahan sistem muskuloskeletal pada lansia antara lain
sebagai berikut: Jaringan penghubung (kolagen dan elastin). Kolagen

14
sebagai pendukung utama kulit, tendon, tulang, kartilago dan jaringan
pengikat mengalami perubahan menjadi bentangan yang tidak teratur.
a. Kartilago
Jaringan kartilago pada persendian lunak dan mengalami
granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata, kemudian
kemampuan kartilago untuk regenerasi berkurang dan degenerasi
yang terjadi cenderung kearah progresif, konsekuensinya kartilago
pada persendiaan menjadi rentan terhadap gesekan.
b. Tulang
Berkurangnya kepadatan tualng setelah di obserfasi adalah
bagian dari penuaan fisiologi akan mengakibatkan osteoporosis
lebih lanjut mengakibatkan nyeri, deformitas dan fraktur
c. Otot
Perubahan struktur otot pada penuaan sangat berfariasi,
penurunan jumlah dan ukuran serabut otot, peningkatan jaringan
penghubung dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan efek
negatif.
d. Sendi
Pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon,
ligament dan fasia mengalami penuaan elastisitas.
4) Sistem kardiovaskuler
Massa jantung bertambah, vertikel kiri mengalami hipertropi
dan kemampuan peregangan jantung berkurang karena perubahan pada
jaringan ikat dan penumpukan lipofusin dan klasifikasi Sa nude dan
jaringan konduksi berubah menjadi jaringan ikat.
5) Sistem respirasi
Pada penuaan terjadi perubahan jaringan ikat paru, kapasitas
total paru tetap, tetapi volume cadangan paru bertambah untuk
mengompensasi kenaikan ruang rugi paru, udara yang mengalir ke
paru berkurang. Perubahan pada otot, kartilago dan sendi torak
mengakibatkan gerakan pernapasan terganggu dan kemampuan
peregangan toraks berkurang.
6) Pencernaan dan Metabolisme
Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan, seperti penurunan
produksi sebagai kemunduran fungsi yang nyata :
a. Kehilangan gigi,
b. Indra pengecap menurun,
c. Rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun),

15
d. Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan,
berkurangnya aliran darah.
7) Sistem perkemihan
Pada sistem perkemihan terjadi perubahan yang signifikan.
Banyak fungsi yang mengalami kemunduran, contohnya laju filtrasi,
ekskresi, dan reabsorpsi oleh ginjal.
8) Sistem saraf
Sistem susunan saraf mengalami perubahan anatomi dan atropi
yang progresif pada serabut saraf lansia. Lansia mengalami penurunan
koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
9) Sistem reproduksi
Perubahan sistem reproduksi lansia ditandai dengan
menciutnya ovary dan uterus. Terjadi atropi payudara. Pada laki-laki
testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya
penurunan secara berangsur-angsur.
b. Perubahan Kognitif
1. Memory (Daya ingat, Ingatan)
2. IQ (Intellegent Quocient)
3. Kemampuan Belajar (Learning)
4. Kemampuan Pemahaman (Comprehension)
5. Pemecahan Masalah (Problem Solving)
6. Pengambilan Keputusan (Decission Making)
7. Kebijaksanaan (Wisdom)
8. Kinerja (Performance)
9. Motivasi

c. Perubahan mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental :
1) Pertama-tama perubahan fisik, khsusnya organ perasa.
2) Kesehatan umum
3) Tingkat pendidikan
4) Keturunan (hereditas)
5) Lingkungan
6) Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian.
7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan kehilangan jabatan.
8) Rangkaian dari kehilangan , yaitu kehilangan hubungan dengan teman
dan famili.
9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran
diri, perubahan konsep diri.
d. Perubahan spiritual

16
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya
(Maslow, 1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya, hal
ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan
Zentner, 1970)
e. Kesehatan Psikososial
1) Kesepian
Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat meninggal
terutama jika lansia mengalami penurunan kesehatan, seperti menderita
penyakit fisik berat, gangguan mobilitas atau gangguan sensorik
terutama pendengaran.
2) Duka cita (Bereavement)
Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau bahkan hewan
kesayangan dapat meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh pada
lansia. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan
kesehatan.
3) Depresi
Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong,
lalu diikuti dengan keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi
suatu episode depresi. Depresi juga dapat disebabkan karena stres
lingkungan dan menurunnya kemampuan adaptasi.
4) Gangguan cemas
Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik, gangguan cemas
umum, gangguan stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif,
gangguan-gangguan tersebut merupakan kelanjutan dari dewasa muda
dan berhubungan dengan sekunder akibat penyakit medis, depresi, efek
samping obat, atau gejala penghentian mendadak dari suatu obat.
5) Parafrenia
Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan waham
(curiga), lansia sering merasa tetangganya mencuri barang-barangnya
atau berniat membunuhnya. Biasanya terjadi pada lansia yang
terisolasi/diisolasi atau menarik diri dari kegiatan sosial.
6) Sindroma Diogenes
Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku
sangat mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia
bermain-main dengan feses dan urin nya, sering menumpuk barang
dengan tidak teratur. Walaupun telah dibersihkan, keadaan tersebut dapat
terulang kembali.

17
2.2 KONSEP GOUT
2.2.1 Definisi
Gout adalah penyakit yang diakibatkan gangguan metabolism purin
yangditandai dengan hiperurikemi dan serangan sinovitis akut berulang-ulang.
(Chairuddin) penyakit ini paling sering menyerang pria usia pertengahan sampai usia
lanjut dan wanita pasca menopause. (Fauci, Braunwald)

2.2.2 Etiologi
Gangguan metabolic dengan meningkatnya konsentrasi asam urat ini
ditimbulkan dari penimbunan Kristal di sendi oleh monosodium urat (MSU, gout)
dan kalsium pirofosfat dihidrat (CPPD, pseudogout), dan pada tahap yang lebih
lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi.
Klasifikasi gout dibagi menjadi 2 yaitu: (Chairuddin, 2003)
1. Gout Primer : dipengaruhi oleh faktor genetic. Terdapat produksi/
sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya.
2. Gout Sekunder :
a. Pembentukan asam urat yang berlebihan.
1) Kelainan mieloproliferatif (polisitemia, leukemia, myeloma
retikularis)

18
2) Sindrom Lech-Nyhan yaitu suatu kelainan akibat defisiensi
hipoxantin guanine fosforibosil transferase yangterjadi pada anak-
anak dan pada sebagaian orang dewasa
3) Gangguan penyimpanan glikogen
4) Pada pengobatan anemia pernisiosa oleh karena maturasi sel
megaloblastik menstimulusasi pengeluaran asam urat.
b. Sekresi asam urat yang berkurang misalnya pada:
1) Kegagalan ginjal kronik
2) Pemaikan obat salisilat, tiazid, beberapa macam diuretik dan
sulfonamide
3) Keadaan-keadaan alkoholik, asidosis lakti, hiperparatiroidisme dan
sulfonamide.

Faktor prediposisi terjadiya penyakit gout yaitu, umur, jenis kelamin, lebih
sering terjadi pada pria, iklim, herediter, dan keadaan-keadaanyang menyebabkan
timbulnya hiperurikemia.

2.2.3 Manifestasi Klinis


Terdapat empat stadium perjalanan klinis gout yang tidak diobati: (Silvia A.price)
1. Stadium pertama adalah hiperurisemia asimtomatik. Pada stadium ini asam urat
serum laki-laki meningkat dan tanpa gejala selain dari peningkatan asam urat
serum
2. Stadium kedua arthritis gout akut terjadi awitan mendadak pembengkakan dan
nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan sendi metatarso
falangeal
3. Stadium ketiga setelah serangan gout akut adalah tahap interkritis. Tidak terdapat
gejala-gejala pada tahap ini, yang dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai
tahun. Kebanyakan orang mengalami serangan gout berulang dalam waktu kurang
dari 1 tahun jika tidak diobati.
4. Stadium keempat adalah tahap gout kronik, dengan timbunan asam urat yang terus
mluas selama beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai. Peradang kronik
akibat Kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri,sakit,kaku juga pembesaran
dan penonjolan sendi bengkak .
2.2.4 Pemeriksaan Penunjang
1. Kadar asam urat serum meningkat
2. Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat
3. Kadar asam urin dapat normal atau meninbgkat
4. Analisis cairan sinovial dari sendi rterinflamasi / tofi menunjukan Kristal urat
monososdium yang membuat diagnosis

19
5. Sinar x sendi menunjukan masa tofaseus dan destruksi tulang dan perubahan
sendi

2.2.5 Penatalaksanaan

Penanganan gout biasanya dibagi menjadi penanganan sarangan akut dan


penanganan hiperurisemia pada pasien atritis kronik .

Ada 3 tahapan dalam terapai penyakit ini

1. Mengatasi serangan kulit

2. Mengurangi kadar asam urat untuk mencegah penimbunan Kristal urat pada
jaringan ,terutama persendian
3. Terapi pencegahan menggunakan terapi hipourisemik
Terapi non farmakologi
Terapi non farmakologi merukpakan setrategi esensial dalam penanganan gout
.Intervensi seperti istirahat yang cukup ,penggunaan kompres dingin ,modifikasi
diet ,mengurangi asupan alcohol dan mengurangi berat badan pada pasien yang
kelebihan berat badan terbyukti efektif
Terapi farmakologi
a. Gout Akut
1. Istirahat dan terapi dengan pemberian NSAID ,misalnya indometasin 200mg
/hari atau diklofenat 150mg/hari, merupakan terapi lini peratama dalam
menangani akut gout ,asalkan tidak ada kontra indikasi terhadap NSAID.
Aspirin harus di hinfdari karena ekskresi aspirin berkompetisi dengan asam urat
dan dapat memperparah serangan akut gout .Keputusan memilih NSAID atau
kolkisin tergantung pada keadaan pasien ,misalnya adanya penyakit penyerta
lain /komarbid ,obat lain yang jugta diberikan pada pasien pada saat yang
sama ,dan fungsi ginjal .Kolkisin merupakan obat pilihan jika pasien juga
menderita penyakit kardiovaskuler ,termasuk hipertensi ,pasoen yang mendapat
geuritik untuk gagal jantung dan pasien yang mengalami toksisitas
gastrointestinal ,kecenderungan atau gangguan fungsi ginjal .

Obat yang menurunkan kadar asam urat (Allupurinol dan obat urikosurik
seperti probenesid dan fungsi sulfinpirazon )tidak boleh di gunakan pada
serangan akut .

20
Penggunaan NSAID ,Inhibitor cyclooxygenase -2 (COX-2),kolkasin dan
kortikosteroid untuk serangan akut dibicarakan berikut ini :

NSAID;NSAID merupakanterapi lini pertama yang efektif untuk pasien


yang mengalami serangan gout akut. Hal terpenting yang menentukan
keberhasilan terapi bukanlah pada NSAID yang dipilih melainkan pada
seberapa cepat terapi NSAID mulai diberikan .NSAID harus diberikan dengan
dosis sepenuhnya (full dosis ) pada 24-48 jam pertama atau rasa nyeri hilang
.indometasin banyak diresepkan untuk serangan akut atritis gout, dengan dosis
awal 75-100 mg/hari .Dosis ini kemudian diturunkan setelah 5 hal bersamaan
dengan meredahnya gejala serangan akut .Efek samping indometasin antara lain
pusing dan gangguan saluran cerna . Efek ini akan sembuh pada saat dosis obat
diturunkan .NSAID lain yang umum digunakan untuk mengatasi episode gout
akut adalah :
a. Neproxen –awal 750 mg ,kemudian 250mg 3 kali/hari
b. Piroxicam –awal 40 mg ,kemudian 10-20 mg/hari
c. Diclovenac –awal 100 mg ,kemudian 50 mg 3 kali/hari selama 48 jam
,kemudian 50 mg dua kali/hari selama 8 hari .
2. COX-2 inhibitor ;etorixocib merupakan satu satunya COX-2 inhibitor Yng
dilisensikan untuk mengatasi serangan akut gout .Obat ini efektif tapi cukup
mahal ,dan bermanfaat terutama untuk pasien yang tidak tahan terhadap efek
gastrointestinal NSAID non –selektif COX -2 inhibitor mempunyai resiko efek
samping gastrointestinal bagaian tas yang lebih rendah dibandingkan NSAID non –
selektif .
3. Colchicine ;colchicine merupakan terapi spesifik dan efektif untuk serangan gout
akut .Namun dibandingkan NSAID kurang popular karena mula kerjanya (onset)
lebih lambat dan efek samping lebih sering dijumpai .
4. Steroid ;steroid merupakan alternative selain NSAID dan kolkisin adalah
ppemberian steroid intra-artikular .Cara ini dapat meredakan serangan dengan
cepat ketika hanya 1 atau 2 sendi yang terkena .Namun harus dipertimbangkan
dengan cermat diferensial diagnosis antara arthritis sepsis dan gout akut karena
pemberian steroid intra –artikular akan memperburuk infeksi .
Penatalaksanaan gout kronik
Kontrol jangka panjang hiperurisemia merupakan faktor penting untuk
mencegah terjadinya serangan akut gout ,gout tophaceus kronik keterlibatan ginjal
dan pembentukan batu asam urat .Kapan mulai diberikan obat penurunan kadar asam
urat masih kontrefensi .

21
Penggunaan allopurinol ,urikourik dan feboxostat (sedang dalam
pengembangan )untuk terapi gout kronik dijelaskan berikut ini .
1. Allopurinol ;obat hipourisemik pilihan untuk gout kronik adalah allopurinol selain
mengontrol gejala obat ini juga melindungi fungsi ginjal .Allopurinol menurunkan
produksi asam urat dengan cara menghambat enxim xantin oksidase. Dosis pada
pasien dengan fungsi ginjal normal dosis awal allopurinol tidak boleh melebihi 300
mg /24 jam .Respon terhadap allopurinol dapat dilihat sebagai penurunn kadar urat
dalam serum pada 2 hari setelah 7-10 hari .Kadar urat dalam serum harus dicek
setalah 2 sampai 2 minggu penggunaan allopurinol untuk meyakinkan turunnya
kadar urat .
2. Obat urikosurik ;kebanyakan pasien dengan hiperurisme yang sedikit
mengeksreksikan asam urat dapat diterapi dengan obat urikosurik .Urikosurik
seperti probenesid (500 mg -1g 2 kali / hari )dan sulfin pirazon (100 mg3-4 kali
/hari merupakan alternative allopurinol terutama untuk pasien yang tidak tahan
terhadap allopurinol .Urikosurik harus dihindari pada psien dengan nefropati urat
yang memproduksi asam urat berlebihan .Obat ini tidak efektif pada pasien
dengan fungsi ginjal yang buruk (klirens kreatinin <20-30 ml/menit )Sekitar
5%pasien yang menggunakan probenesid jangka lama mengalami munal ,nyeri
ulu hati ,kembung atau konstipasi .

2.2.6 Masalah yang lazim muncul

1. Nyeri berhubungan dengan cidera biologis pmbengkakan sendi ,melaporkan


nyeri secara verbal pada area sendi )
2. Hambatan mobilitas fisikn b.d nyeri persendian (kaku sendi )
3. Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d perubahan kadar elektrolit pada
ginjal
4. Hipertermia b.d proses penyakit (peradangan sendi )
5. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan terkait penyakit (nyeri pada
sendi )
6. Gangguan pola tidur b.d nyeri pada pembengkakan
7. Kwrusakan integritas kulit b.d kelebihan cairan (peradangan kronik akibat
adanya Kristal urat )

2.2.7 Pathway

22
23
2.2.7 Disaharge planning

1. Mengoistirahatkan sendi yang nyeri


2. Pemberian obat anti inflamasi
3. Menghindarkan faktor pencetus
4. Minum 2-3 liter cairan setiap hari dan meningkatkan masukan makanan
pembuatan alkalis . Serta menghindari makanan yang mengandung purin tinggi .
5. Hindari minum beralkohol karena dapat menimbulkan produksi asam urat .

2.3 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA GOUT


2.3.1 PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan.
Untuk itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menangani masalah klien
sehingga dapat memberi arah terhadap:
1. Anamnesis
Anamnesis dilakukan untuk mengetahui:
a. Identitas: meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang
digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah,
nomor register, tanggal masuk dan diagnosis medis.
b. Pada umumnya keluhan utama adalah nyeri pada daerah sendi yang mengalami
masalah. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang nyeri klien,
perawat dapat menggunakan metode PQRST.
1) Provokating incident: hal yang menjadi faktor prepitasi nyeri adalah
peradangan.
2) Quality of pain: nyeri yang dirasakan atau yang digambarkan klien bersifat
menusuk.

24
3) Region, Radition, Relief: nyeri dapat menjalar atau menyebar, dan nyeri
terjadi di sendi yang mengalami masalah.
4) Severity (scale) of pain: nyeri yang dirasakan ada diantara 1-3 pada rentang
skala pengukuran 0-4.
5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada
malam hari atau siang hari.
c. Riwayat penyakit sekarang
Pengumpulan data dilakukan sejak muncul keluhan dan secara umum
mencakup awitan gejala dan bagaimana gejala tersebut berkembang, penting
ditanyakan berapa lama pemakaian obat analgesic, allopurinol.

d. Riwayat penyakit dahulu


Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan penyebab yang mendukung
terjadinya gout. Masalah lain yang perlu ditanyakan adalah adakah klien pernah
dirawat dengan masalah yang sama. Kaji adanya pemakaian alkohol yang
berlebihan dalam penggunaan obat deuritic.
e. Riwayat penyakit keluarga
Kaji adakah keluarga dari generasi terdahulu mempunyai keluhan yang
sama dengan klien karena penyakit gout berhubungan dengan genetik. Ada
produksi/sekresi asam urat yang berlebihan yang tidak diketahui penyebabnya.
f. Riwayat psikososial
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan penyakit
klien dapat keluarga dan masyarakat. Respon yang didapat meliputi adanya
kecemasan individu dengan rentang variasi tingkat kecemasan yang berbeda dan
berhubungan erat denganadanya sensasi nyeri, hambatan mobilitas fisik akibat
respon nyeri, dan ketidaktahuan akan program pengobatan dan prognosis
penyakit dan peningkatan asam urat terhadap sirkulasi. Adanya perubahan peran
dalam keluarga akibat adanya nyeri dan hambatan mobilitas fisik memberikan
respon terhadap konsep diri yang maladaptif.
2. Pengkajian berdasarkan pola
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
1) Keluhan utama nyeri pada sendi
2) Pencegahan penyerangan dan bagaimana cara mengatasi atau mengurangi
serangan.
3) Riwayat penyakit gout pada keluarga
4) Obat untuk mengatasi adanya gejala
b. Pola nutrisi dan metabolic
1) Peningkatan berat badan
2) Peningkatan suhu tubuh
3) Diet

25
c. Pola aktivitas dan latihan
1) Respon sentuhan pada sendi dan menjaga sendi yang terkena.
d. Pola persepsi dan konsep diri
1) Rasa cemas dan takut untuk melakukan pergerakan
2) Persepsi diri dalam melakukan mobilisasi
3. Pemeriksaan fisik
a. B1 (breathing):
Inspeksi : bila tidak melibatkan sistem pernapasan, biasanya ditemukan
kesimetrisan rongga dada, klien tidak sesak napas, tidak ada
penggunaan alat bantu pernapasan.
Palpasi : taktil fremitus seimbang kiri dan kanan
Perkusi : suara resonan pada seluruh lapang dada/paru
Auskultasi:suara napas menghilang/melemah pada sisi yang sakit, biasanya
didapat suara ronci atau mengi.
b. B2 (blood): pengisian kapiler kurang dari 2 detik, sering ditemukan keringat
dingin, dan pusing karena nyeri.
c. B3 (brain): kesadaran komposmentis
1) Kepala dan wajah: ada sianosis
2) Mata: seklera biasanya tidak ikterik
3) Leher: biasanya JVP dalam batas normal
d. B4 (bladder): produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan
pada sistem perkemihan, kecuali penyakit gout sudah mengalmi komplikasi ke
ginjal berupa pielonefritis, batu asam urat, dan GGK yang akan menimbulkan
perubahan fungsi pada sistem ini.
e. B5 (bowel): kebutuhan eliminasi pada kasus gout tidak ada gangguan, tetapi
perlu dikaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses. Selain itu perlu dikaji
frekuensi, konsistensi, warna, serta bau urine. Klien biasanya mual, mengalami
nyeri lambung, dan tidak ada nafsu makan, terutama klien yang memakai obat
analgesik dan anti hiperuresemia.
f. B6 (bone): pada pengkajian ini ditemukan:
1) Look: keluhan nyeri sendiyang merupakan keluhan utama yang mendorong
klien mencari pertolongan (meskipun sebelumnya sendi sudah kaku dan
berubah bentuknya). Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit
berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang menimbulkan
nyeri yang lebih dibandingkan dengan gerakan yang lain. Deformitas sendi
(temuan tofus) terjadi dengan temuan salah satu pergelangan sendi secara
perlahan membesar.
2) Feel: ada nyeri tekan pada sendi yang membengkak
3) Move: hambatan gerakan sendi biasanya semakin memberat.

2.3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Hambatan Mobilitas Fisik b.d Gejala Terkait Penyakit (Nyeri Pada Sendi)

26
2. Gangguan Rasa Nyaman b.d Nyeri Persendian (Kaku Sendi)
3. Defisit Perawatan Diri b.d Adanya Gangguan Muskuloskeletal
2.2.8 Intervensi Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik b.d gejala terkait penyakit (nyeri pada sendi)
NOC
a. Joint Movement: Active
b. Mobility Level
c. Self care: ADLs
d. Transfer performance
Kriteria Hasil:
a. Klien meningkat dalam aktifitas fisik
b. Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
c. Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan
berpindah
d. Memperagakan penggunaan alat
e. Bantu untuk mobilisasi (walker)
NIC
Exercise therapy: ambulation
a. Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat
latihan
b. Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan
kebutuhan
c. Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap
cedera
d. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi
e. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
f. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai
kemampuan
g. Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs
h. Berikan alat bantu jika klien memerlukan

2. Gangguan rasa nyaman b.d nyeri persendian (kaku sendi)


NOC
a. Ansiety
b. Fear Leavel
c. Sleep Deprivation
d. Comfort, Readines for Enchanced
Kriteria Hasil:
a. Mampu mengontrol kecemasan
b. Status lingkungan yang nyaman
c. Mengontrol nyeri
d. Kualitas tidur dan istirahat adekuat
e. Agresi pengendalian diri
f. Respon terhadap pengobatan
g. Control gejala
h. Status kenyamanan meningkat
i. Dapat mengontrol ketakutan
j. Support sosial

27
k. Keinginan untuk hidup
NIC
Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
a. Gunakan pendekatan yang menenangkan
b. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku pasien
c. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
d. Pahami prespektif pasien terhadap situasi stres
e. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
f. Dorong keluarga untuk menemani
g. Lakukan back/neck rub
h. Dengarkan dengan penuh perhatian
i. Identifikasi tingkat kecemasan
j. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
k. Dorong pasien untuk mengungkapakan perasaan, ketakutan, persepsi
l. Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
m. Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
Environment Management Confort Pain Management
3. Defisit perawatan diri b.d adanya gangguan muskuloskeletal
a. Defisit perawatan diri berpakaian
NOC
1) Self Care Status
2) Self care: Dressing
3) Activity Tolerance
4) Fatigue level
Kriteria Hasil:
1) Mampu melakukan tugas fisik yang paling mendasar dan aktivitas
perawatan pribadi secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu
2) Mampu untuk mengenakan pakaian dan berhias sendiri secara mandiri atau
tanpa alat bantu
3) Mampu mempertahankan kebersihan pribadi dan penampilan yang rapi
secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu
4) Mengungkapkan kepuasan dalam berpakaian dan menata rambut
5) Menggunakan alat bantu untuk memudahkan dalam berpakaian
6) Dapat memilih pakaian dan mengambilnya dari lemari atau laci baju
7) Mempu meritsleting dan mengancing pakaian
8) Menggunakan pakaian secara rapi dan bersih
9) Mampu melepas pakaian, kaos kaki, dan sepatu
10) Menunjukkan rambut yang rapi dan bersih
11) Menggunakan tata rias
NIC
Self Care Assistance: Dressing / Grooming
1) Pantau tingkat kekuatan dan toleransi aktivitas
2) Pantau peningkatan dan penurunan kemampuan untuk berpakaian dan
melakukan perawatan rambut.
3) Pertimbangkan budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas perawatan
diri
4) Pertimbangkan usia pasien ketika mempromosikan perawatan diri
5) Bantu pasien memilih pakaian yang mudah dipakai dan dilepas

28
6) Sediakan pakaian pasien pada tempat yang mudah dijangkau (disamping
tempat tidur)
7) Fasilitasi pasien untuk menyisir rambut, bila memungkinkan
8) Dukung kemandirian dalam berpakaian, berhias, bantu pasien jika
diperlukan
9) Pertahankan privasi saat pasien berpakaian
10) Bantu pasien untuk menaikkan, mengancingkan, dan merisleting pakaian
jika diperlukan
11) Gunakan alat natu tambahan (misal sendok, pengait kancing dan penarik
risleting) untuk menarik pakaian jika diperlukan
12) Beri pujian atas usaha untuk berpakaian sendiri
13) Gunakan terapi fisik dan okupasi sebagai sumber dalam perencanaan
tindakan pasien dalam perawatan pasien dalam perawatan pasien dengan
alat bantu
b. Defisit perawatan diri eliminasi
NOC
1) Activity Intolerance
2) Mobility: physical impaired
3) Fatique level
4) Anxiety self control
5) Ambulation
6) Self Care Deficit Toileting
7) Self Care Deficit Hygiene
8) Urinary incontinence: functional
Kriteria Hasil:
1) Pengetahuan perawatan Ostomy: tingkat pemahaman yang ditunjukkan
tentang pemeliharaan ostomi untuk eliminasi
2) Perawatan diri: ostonomi: tindakan pribadi untuk mempertahankan
ostonomi untuk eliminasi
3) Perawatan diri: aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) mampu untuk
melakukan aktivitas perawatan fisik dan pribadi secara mandiri atau
dengan alat bantu
4) Perawatan diri higiene: mampu untuk mempertahankan kebersihan dan
penampilan yang rapi secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu
5) Perawatan diri eliminasi: mampu untuk melakukan aktivitas eliminasi
secara mandiri atau tanpa alat bantu
6) Mampu duduk dan turun dari kloset
7) Membersihkan diri setelah eliminasi
8) Mengenali dan mengetahui
NIC
Self Care Assistance: Toileting
1) Pertimbangkan budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas perawatan
diri
2) Pertimbangkan usia pasien ketika mempromosikan aktivitas perawatan diri

29
3) Lepaskan pakaian yang penting untuk memungkinkan penghapusan
4) Mambantu pasien ke toilet/commode/bedpan/fraktur pan/urinoir pada
selang waktu tertentu
5) Pertimbangkan respon pasien terhadap kurangnya privasi
6) Menyediakan privasi selama eliminasi
7) Memfasilitasi kebersihan toilet setelah selesai eliminasi
8) Ganti pakaian pasien setelah eliminasi
9) Menyiram toilet/membersihkan penghapusan alat(commade, pispot)
10) Memulai jadwal ke toilet, sesuai
11) Memulai pasien/tempat lain dalam toilet rutin
12) Memulai mengelilingi kamar mandi, sesuai dan dibutuhkan
13) Menyediakan alat bantu (misalnya, kateter eksternal atau urinal), sesuai
14) Memantau integritas kulir pasien
c. Defisit perawatan diri makan
NOC
1) Activity Intolerance
2) Mobility: physical impaired
3) Self Care Deficit Hygiene
4) Self Care Deficit Feeding
Kriteria Hasil:
1) Status nutrisi: ketersediaan zat gizi untuk memenuhi kebutuhan matabolik
2) Status nutrisi: asuapan makanan, dan
3) Cairan: kuantitas makanan dan cairan yang di asup ke dalam tubuh selama
periode 24 jam
4) Perawatan diri: aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) mampu untuk
melakukan aktivitas perawatan fisik dan pribadi secara mandiri atau
dengan alat bantu
5) Perawatan diri: makan: kemampuan untuk menyiapakan dan memamkana
makanan makanan dan cairan secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu
6) Status menelan: perjalanan makanan padat atau cairan secara aman dari
mulut ke lambung
7) Mampu makan secara mandiri
8) Mengungkapkan kepuasan makan dan terhadap kemampuan untuk makan
sendiri
9) Menerima asupan dari pemberi asuhan

NIC
Self Care Assintanse: Feeding
1) Memonitor kemampuan pasien untuk menelan
2) Identifikasi diet yang diresepkan
3) Mengatur nampan makanan dan meja menarik
4) Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan (misalnya,
pispot, urinal, dan alat penyedotan dikeluarkan dari pandangan)
5) Pastikan posisi pasien yang tepat untuk memfasilitasi mengunyah dan
menelan
6) Memberikan bantuan fisik, sesuai kebutuhan

30
7) Menyediakan untuk menghilangkan rasa sakit yang memadai sebelum
makan, sesuai
8) Menyediakan kesehatan mulut sebelum makan
9) Perbaiki makanan di nampan, yang diperlukan, seperti memotong daging
atau mengupas telur
10) Buka makanan kemasan
11) Hindari menempatkan makanan di sisi seseorang yang buta
12) Jelaskan lokasi makanan di atas nampan untuk orang dengan gangguan
penglihatan
13) Tempatkan pasien dalam posisi nyaman makan
14) Lindungi dengan bib/kain alas dada, sesuai
15) Menyediakan sedotan, sesuai kebutuhan ataua yang diinginknan
16) Menyediakan makanan pada suhu yang paling selera
17) Menyediakan makanan dan minuman yang disukai, sesuai
18) Memantau berat badan pasien, yang sesuai
19) Memonitor status hidrasi pasien, sesuai
20) Dorong pasien untuk makan di ruang makan, jika tersedia
21) Menyediakan interaksi sosial yang sesuai
22) Menyediakan perangkay adaptif untuk memfasilitasi diri makan pasien
(misalnya, panjang menangani, menangani dengan lingkar yang besar, atau
tali kecil pada peralatan), sesuai kebutuhan
23) Menggunakaan cangkir dengan pegangan yang besar, jika perlu
24) Gunakan piring yang berbahan tidak mudah pecah
25) Memberikan isyarat sering dan pengawasan yang ketat
d. Defisit perawatan diri mandi
NOC
1) Activity Intolerance
2) Mobility: physical impaired
3) Self Care Defisit Hygiene
4) Sensory perseption, Auditory disturbed
Kriteria Hasil:
1) Perawatan diri ostonomi: tindakan pribadi mempertahankan ostonomi
untuk eliminasi
2) Perawatan diri: aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) mampu untuk
melakukan aktivitas perawatan fisikdan pribadi secara mandiri dengan
atau tanpa alat bantu
3) Perawatan diri mandi: mampu untuk membersihakan tubuh sendiri
secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu
4) Perawatan diri Hygiene: mampu untuk mempertahankan kebersihan
dan penampilan yang rapi secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu
5) Perawatan diri Hygiene Oral: mampu untuk merawat mulut dan gigi
secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu
6) Mampu mempertahankan mobilitas yang dipelukan untuk ke kamar
mandi dana menyediakan perlengkapan mandi

31
7) Membersihkan dan mengeringkan tubuh
8) Mengungkapkan secara verbal kepuasan tentang kebersihan tubuh dan
hygiene oral

NIC
Self Care Assintance: Bathing/Hygiene
1) Pertimbangkan budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas
perawatan diri
2) Pertimbangakan usia pasien ketika mempromosikan aktivitas
perawatan diri
3) Menentukan jumlah dan jenis bantuan yang dibutuhkan
4) Tempat handuk, sabun, diodoran, alat pencukur, dan aksesoris lainnya
yang dibutuhkan disamping tempat tidur atau di kamar mandi
5) Menyediakan artikel pribadi yang diinginkan (misalnya, deodoran,
sikat gigi, sabun mandi, sampo, lotion dan produk aromaterapi)
6) Menyediakan lingkungan yang terapeutik dengan memastikan hangat,
santai, pengalaman pribadi dan personal
7) Memfasilitasi sikat gigi utnuk pasien, sesuai
8) Memfasilitasi alat mandi pasien, sesuai
9) Memantau pembersihan kuku, menurut kemampuan perawatan diri
pasien
10) Memantau integritas kulit pasien
11) Menjaga kebersihan ritual
12) Memfasilitasi pemeliharaan rutin yang biasa pasien tiduri, isyarat
sebelum tidur/alat peraga, dan benda-benda asing (misalnya, untuk
anak-anak, cerita selimut/mainan, goyang, dot, atau faforit, untuk
orang dewasa sebuah buku untuk mebaca atau bantal dari rumah
13) Mendorong orang tua/keluarga untuk berpartisipasi dalam kebiasaan
tidur biasanya
14) Memberikan bantuan sampai pasien sepenuhnya dapat mengasumsikan
perawatan diri

32
BAB III
HASIL LAPORAN

f. PENGKAJIAN
3.1.1 Profil UPTD Griya Wredha Jambangan

A. Identitas UPTD Griya Wredha Jambangan


Alamat panti : Jl. Ketintang Madya VI No.15a, Jambangan, Kota SBY, Jawa Timur
60232.
UPTD Griya Wreda merupakan unit pelayanan yang berasal dari Dinas Sosial Kota
Surabaya yang terbentuk sebagai konsekuensi implementasi UU No. 22 Tahun 1999
tentang Pemerintah Daerah. Salah satu bidang yang menjadi fokus penyelenggaraan
otonomi daerah seperti yang diamanatkan UU tersebut adalah bidang sosial, khususnya
pembangunan manusia dan lingkungan sosialnya dengan segala kompleksitas dan
implikasinya demi perwujudan suatu kesejahteraan sosial yang adil dan merata.
UPTD Griya Wreda sendiri merupakan unit pelayanan yang bertugas untuk
menampung dan memberikan hunian bagi para lansia (lanjut usia) yang terlantar di
Surabaya. Dengan memberikan fasilitas bagi para penghuninya berupa kebutuhan
makan tiga kali sehari plus snack, perawat, dokter, dan satu unit mobil ambulan.
Prioritas utama UPTD ini yakni lansia diatas 60 tahun, dikatagorikan miskin,
terlantar, dan tidak punya keluarga.
Lansia merupakan seseorang yang membutuhkan penanganan sendiri dan harus
dianggap memenuhi syarat kelayakan. Dengan adanya UPTD Griya Wreda ini,

33
diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia yang lebih baik, sebab keberadaan
mereka tidak seharusnya menjadi beban bagi masyarakat.

B. Sejarah Pendirian UPTD Griya Wredha Jambangan


Meningkatnya usia harapan hidup menjadikan jumlah lansia di kota Surabaya
semakin meningkat pula, hal tersebut merupakan indicator dari semakin baiknya tingkat
kesejahteraan masyarakat. Penurunan fungsi faal tubuh dan perubahan fungsi sosial
seseorang saat memasuki usia lanjut menjadikan berbagai permasalahan sosial yang
tidak mungkin diatasi sendiri oleh para lansia sehingga peran masyarakat dan
pemerintah diperlukan dalam mengatasi hal tersebut.
Pembentukan UPTD Griya Wreda yang dituangkan dalam Peraturan Walikota
Surabaya Nomor 4 Tahun 2013 tentang Organisasi Unit Pelaksana Teknis Dinas Griya
Wreda Pada Dinas Sosial Kota Surabaya sebagai wujud upaya dari pemerintah kota
Surabaya dalam menangani permasalahan sosial lanjut usia khususnya lanjut usia
terlantar yang merupakan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
Sebagai pedoman dalam pelaksanaan pelayanan kesejahteraan sosial diperlukan
Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dapat memberikan arah strategi kebijakan,
rencana dan pola pelayanan.

C. Dasar Hukum
1. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi
Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2008 Nomor 8
Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 8) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 12 Tahun 2009 (Lembaran
Daerah Kota Surabaya Tahun 2009 Nomor 12 Tambahan Lembaran Daerah Kota
Surabaya Nomor 12);
2. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan
Kesejahteraan Sosial (Lembaran Daerah Kota Surabaya Tahun 2012 Nomor 2
Tambahan Lembaran Daerah Kota Surabaya Nomor 1)
3. Peraturan Walikota Surabaya Nomor 4 Tahun 2013 tentang Organisasi
UnitPelaksana Teknis UPTD Griya Wreda Pada Dinas Sosial Kota Surabaya.

D. Standar Pelayanan
Pemberianpelayanan rehabilitasi sosial dalam bentuk :
1. Pelayanan Kesehatan (Jasmani dan Rohani)

34
2. Pemberian kebutuhan dasar (Makan,pakaian,tempat tinggal)
3. Pembinaan Mental spiritual

E. Program UPTD Griya Wredha Jambangan


1. Jasmani dan Rohani
Pelayanan yang diberikan dalam bentuk pemeriksaan Kesehatan secara rutin
berkerjasama dengan instansi terkait ( Puskesmas Kebonsari,Rumah
Sakit,Universitas)

35
Yang dilakukan Pelayanan Kesehatan Jasmani :
a. Cek Gula Darah,Tekanan Darah Tinggi dan Kolesterol
b. Rawat Luka
c. Pemberian Obat-obatan
d. Menolong kegiatan lansia parsial dan bedrest (Memandikan,Menyuapi,memotong
Kuku dll)
e. Mengajar senam
Yang Dilakukan Pelayanan Kesehatan Rohani :
pemberian ketrampilan, ceramah agama/Pengajian oleh Mahasiswa.
2. Pelayanan Pemberian kebutuhan dasar (Makan,pakaian,tempat tinggal)
a. Pemberian permakanan dilakukan 3 Kali sehari setiap hari (Pagi,siang dan sore)
b. Untuk malam hari diberikan extra Fooding
a. Pemberian pakaian sesuai dengan kebutuhan
b. Untuk tempat tinggal berupa kamar (Tempat tidur,Lemari ruang ber AC).

F. Jumlah Pegawai
Jumlah Pejabat Struktural terdiri atas dua orang, yaitu :
1. Kepala UPTD
2. Kasub Bag TU UPTD
Sedangkan, untuk jumlah karyawan terinci sebagai berikut :
1. Administrasi : 5 orang (3 PNS 2 OS)
2. Medis : 1 orang (diperbantukan)
3. Paramedis : 35 orang (35 OS)
4. Keamanan : 7 orang (7 OS)
5. Kebersihan : 9 orang (9 OS)
6. Juru Masak : 4 orang (4 OS)
7. Pembina mental : 2 orang (2 OS)

G. Saran dan Prasarana


Luas tanah, yang terdiri dari : Kantor, Aula, Kamar Lansia, Musholla, Ruang
Dapur, Ruang Makan, Kamar Mandi, Sarana Penunjang : Mobil Operasional.

36
H. Pengawasan Interna
Pengawasan internal terhadap proses pelayanan dipantau oleh Kasubag TU
secara berkala untuk kemudian dilaporkan kepada UPTD Griya Wredha. Secara periodik
minimal 2 (dua) kali dalam setahun mengadakan pengkajian ulang terhadap proses
pelayanan.

I. Pelayanan Pengaduan
1. Apabila Pelayanan Rehabilitasi Sosial dalam bentuk Pantin Asrama yang
diterima tidak sesuai dengan standar pelayanan, maka dapat menyampaikan
pengaduan dengan cara :
a. Mengadukan Langsung dikantor UPTD Griya Werdha melalui
PetugasAdministrasi Pelayanan.
b. Mengirimkan suratpengaduan kepada KepalaUPTD Griya Werdha.
2. Petugas Administrasi Pelayanan mengagendakan setiap pengaduan yang masuk
dan melaporkan kepada Kepala UPTD Griya Werdha
3. Kepala UPTD Griya Werdha menjawab semua pengaduan.

J. Sistem Mekanisme Dan Prosedur


1. Petugas UPTD Griya Werdha yang menerima penyerahan Lansia, membuatkan
Berita Acara Serah Terima yang ditandatangani dengan Tim /Petugas Pengirim
2. Setelah menerima penyerahan Lansia Miskin dan terlantar, petugas UPTD Griya
Werdha terlebih dahulu melakukan observasi untuk menentukan apakah yang
bersangkutan memenuhi syarat untuk dibina di UPTD Griya Werdha. Apabila
hasil observasi ternyata yang bersangkutan tidak memenuhi persyaratan, maka
yang bersangkutan akan dirujuk ke instansi/lembaga/pihak lain yang sesuai
dengan kebutuhannya.
3. Lansia Miskin dan terlantar yang diserahkan warga saat penyerahan
melampirkan persyaratan administrasi sebagai berikut :
a) Surat Pengantar dari Kelurahan
b) Surat Keterangan dari Puskesmas/Rumah sakit bahwa yang bersangkutan
tidak mengidap penyakit Menular dan Penyakit Gangguan Jiwa
c) Surat Keterangan Miskin dari Lurah setempat
d) Surat Pernyataan persetujuan untuk dirawat di UPTD Griya Werdha

37
e) Fotokopi Kartu Keluarga
f) Fotokopi KTP dan Biodata Bekas penderita kusta
g) Fotokopi KTP Penanggung Jawab
Petugas UPTD Griya Werdha melaksanakan registrasi terhadap Lansia Miskin
terlantar yang belum masuk database dalam bentuk pencatatan data diri yang memuat
antara lain :
a. Nama lengkap/nomor registrasi
c. Jenis kelamin
d. Tempat dan tanggallahir (usia)
e. Orangtua
f. Agama
g. Pendidikan terakhir
h. Pekerjaan
i. Alamat
f. Petugas UPTD Griya Werdha melakukan identifikasi secara tertulis untuk
mengetahui berbagai informasi serta latar belakangpermasalahannya
g. Secara berkala petugas UPTD Liponsos Kusta Babat Jerawat memberikan
pembinaan terhadap bekas penderita kusta melalui bimbingan mental spiritual,
bimbingan ketrampilan, dan bimbingan sosial.
h. Bekas penderita kusta yang ditemukan dan/atau diterima kembali oleh
keluarganya akan dilakukan pemulangan melalui pemerintah daerah setempat.

K. Biaya
Selama mendapatkan pelayanan di UPTD Griya Werdha, Lansia Miskin dan
terlantar tidak dipungut biaya apapun.

L. Evaluasi Kinerja Pelaksana


Kepala Sub Bagian TU membuat analisa hasil pengawasan dan pemantauan
proses pelayanan. Hasil analisa disampaikan dan di diskusikan dalam rapat evaluasi
kinerja dan pelayanan. Pengkajian ulang oleh Pejabat yang berwenang.

38
2. Data Demografi Klien
A. Distribusi Umur
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

Umur Lansia Jumlah


<60 tahun 0
61 – 70 tahun 5
71 – 80 tahun 8
>80 tahun 1

B. Distribusi Jenis Kelamin


Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

Jenis Kelamin Jumlah


Perempuan 9
Laki – laki 5

C. Distribusi Agama

39
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

Agama Jumlah
Islam 14
Kristen 0
Hindu 0
Budha 0

D. Distribusi Pendidikan Terakhir


Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

Pendidikan Terakhir Jumlah


Tidak Sekolah 1
SD 11
SMP 1
SMA 1

E. Distribusi Pekerjaan
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

40
Pekerjaan Jumlah
Tidak bekerja 0
Pedagang 4
Catering 1
Ibu Rumah Tangga 2
Guru 1
Wirausaha 1
Petani 1
Pembantu Rumah Tangga 1
Mekanik 1
Swasta 2

41
F. Distribusi Alamat (sesuai wisma)
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

Alamat Jumlah
Surabaya (Warga) 12
Luar Surabaya 2

3. Masalah Kesehatan Klien Umum


A. Distribusi masalah fisik
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

Masalah Fisik Jumlah


Gangguan Muskuloskeletal 10
Gangguan Persepsi Sensori 8
Gangguan Integumen 2

42
Data 14 Lansia :
No. Nama Lansia Masalah Fisik
1. Mbah Supriyanto Gangguan Sistem Muskuloskeletal
2 Mbah Abd. Zaelani Gangguan Sistem Muskuloskeletal, Persepsi Sensori
3 Mbah (dwifat) Gangguan Sistem
4 Mbah (nufus) Gangguan Sistem
5 Mbah (haqi) Gangguan Sistem
6 Mbah (kiki) Gangguan Sistem
7 Mbah (Ika) Gangguan Sistem
8 Mbah ( Gangguan Sistem
9 Mbah Gangguan Sistem
10 Mbah Gangguan Sistem
11 Mbah Gangguan Sistem
12 Mbah Gangguan Sistem
13 Mbah Gangguan Sistem
14 Mbah Gangguan Sistem

B. Distribusi masalah psikologis


Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

Aspek Psikologis Jumlah


Bermasalah 5
Tidak tampak Masalah 9

43
C. Distribusi masalah sosial
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

Masalah Sosial Jumlah


Bermasalah 6
Tidak tampak Masalah 8

D. Distribusi masalah spiritual


Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan – Surabaya,
didapatkan hasil sebagai berikut :

N: 14 Lansia

Masalah Spiritual Jumlah


Bermasalah 10
Tidak tampak Masalah 4

44
1. Masalah Spesifik Lansia
A. Distribusi Gangguan Kognitif
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan –
Surabaya, didapatkan hasil sebagai berikut :

Sebanyak 12 Lansia tidak mengalami gangguan pada kognitifnya, tidak ada lansia
beresiko mengalami gangguan pada kognitifnya dan dan juga ada 2 lansia yang
mengalami gangguan kognitif. Sebagian besar kasus yang kami temui, hampir semua
mbah mengatakan tidak mengenal waktu terutama pada tanggal, bulan, tahun saat ini
serta tempat berada saat ini.

B. Distribusi Ganggcuan Depresi

Berdasarkan pengkajian yang kami lakukan, sebanyak 14 mbah tidak mempunyai


gangguan depresi.

45
C. Distribusi Gangguan ADL

Sebanyak 4 Lansia tidak mengalami gangguan pada ADL. 7 lansia sebagian


mengalami gangguan pada ADL dan 3 lansia ADLnya tergantung. Sebagian besar
gangguan ADL tersebut disebabkan oleh penurunan fungsi muskuloskeletal dan fungsi
penglihatan pada lansia.

2. Pola Kebiasaan Klien


A. Pola makan teratur 3x/hari
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan –
Surabaya, didapatkan hasil sebagai berikut :

Dari 14 lansia, sebagian besar makan teratur 3 x sehari. Dan sebagian kecil
lansia, makannya tidak teratur dikarenakan tergantung lauknya juga nafsu makannya
menurun

B. Pola istirahat cukup

46
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan –
Surabaya, didapatkan hasil sebagai berikut :

Dari 14 lansia, sebagian besar menerapkan pola istirahat selama 4-6 jam
sehari, dan sebagian kecil lainnya menerapkan pola tidur 6-8 jam sehari.

C. Kebiasaan merokok
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan –
Surabaya, didapatkan hasil sebagai berikut :

Dari
14 lansia
yang telah
kami kaji,
ke semuanya tidak ada yang merokok.

47
D. Kebiasaan konsumsi minum kopi
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan –
Surabaya,

didapatkan hasil sebagai berikut :

Dari 14 lansia yang telah kami kaji, ke semuanya tidak memiliki kebiasaan
minum kopi.

E. Kebiasaan olahraga rutin


Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan –
Surabaya, didapatkan hasil sebagai berikut :

48
Dari 14 lansia, sebagian besar tidak berolahraga rutin dan hanya sebagian kecil
yang pernah mengikuti kegiatan olahraga.

49
F. Pemeriksaan Kesehatan secara teratur
Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan –
Surabaya, didapatkan hasil sebagai berikut :

Dari 14 lansia didapatkan bahwa keseluruhan lansia rutin melakukan


pemeriksaan Tekanan Darah setiap hari senin di UPTD Griya Werdha

3. Pengetahuan Kesehatan Klien


Dari data yang dihimpun dari 14 lansia di UPTD Griya Wredha Jambangan –
Surabaya, didapatkan hasil sebagai berikut :

Dari 14 lansia didapatkan bahwa hampir semuanya mengetahui tentang


kesehatannya dan hanya sebagian kecil tidak mengetahuinya.

50
4. Penggunaan terapi

Dari 14 lansia, didapatkan data bahwa ke semuanya mendapatkan terapi medis dan
keperawatan dan tidak ada lansia yang mendapatkan terapi tradisional.

M. Kondisi Lingkungan Panti


Lingkungan panti sangat asri. Banyak ditumbuhi tanaman, pot gantung, serta
tanaman merambat. Air yang digunakan adalah air bersih dari PDAM. Terdapat selokan
untuk membuang air, namun sayangnya selokan tersebut tidak tertutup. Dan sering
tersumbat oleh daun, namun setiap hari dibersihkan oleh cleaning servis. Lantai disekitar
panti setiap hari dibersihkan. Setiap pagi, jendela kamar panti dibuka, agar sirkulasi udara
dapat masuk ke kamar. Dibentuk kepengurusan taman, dan setiap rumput taman panjang
selalu di potong.

N. Program Kesehatan di Panti


Jasmani dan Rohani
a. Pelayanan yang diberikan dalam bentuk pemeriksaan Kesehatan secara rutin
berkerjasama dengan instansi terkait ( Puskesmas Kebonsari,Rumah
Sakit,Universitas)

51
Yang dilakukan Pelayanan Kesehatan Jasmani :
1. Cek Gula Darah,Tekanan Darah Tinggi dan Kolesterol
2. Rawat Luka
3. Pemberian Obat-obatan
4. Menolong kegiatan lansia parsial dan bedrest
(Memandikan,Menyuapi,memotong Kuku dll)
5. Mengajar senam
Yang Dilakukan Pelayanan Kesehatan Rohani
pemberian ketrampilan, ceramah agama/Pengajian oleh Mahasiswa.

52
ANALISA DATA
NO DATA MASALAH KEPERAWATAN
1 DS: Hambatan mobilitas fisik
Mbah S mengatakan sulit berjalan dan bergerak berhubungan dengan Disuse, Kaku
karena kakinya terasa berat Sendi

DO:
Keadaan umum : Pasien tampak lemah
Pasien tampak diam di kasur
Pasien tidak bisa berjalan
TTV :
Tensi : 120/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 24 x/menit
Suhu : 36,7 C

DS :
2 Mbah S mengatakan tidak nyaman dengan Gangguan rasa nyaman
kondisi kakinya berhubungan dengan Keterbatasan
gerak
DO :
Keadaan umum : baik
GCS : 4-5-6 Komposmentis
Pasien terlihat senang saat diajak berjalan
bersama
Tanda-tanda vital
Tensi : 120/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 24 x/menit
Suhu : 36,7 C

3 DS :

53
Mbah S mengatakan cekot-cekot dibagian lutut, Gangguan rasa nyaman nyeri
sakit jika dibuat bergerak, seperti ditarik-tarik berhubungan dengan fungsi tulang
bagian kedua lutut kaki dengan skala nyeri 4,
nyeri hilang timbul

DO :
Keadaan Umum : Baik
Wajah klien tampak menahan nyeri saat lutut
dipegang
Tanda-tanda vital
Tensi : 120/60 mmHg
Nadi : 98 x/menit
Pernafasan : 18 x/menit
Suhu : 36,5 C
Skala nyeri 4

DS :
4. Mbah S mengatakan kaki sebelah kirinya nyeri Gangguan rasa nyaman nyeri akut
menjalar sampai ke punggung kiri, nyirinya berhubungan dengan proses
cekot-cekot (hilang timbul) saat digerakkan dan penyakit
mbah S mengatakan tidak bisa berdiri lama-lama

DO :
Keadaan umum : baik
GCU : 4-5-6 komposmentis
Tanda-tanda vital
Tensi : 90/60 mmHg
Nadi : 79 x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 36,5 C
Ekspresi wajah merintih
Mbah A tidak kuat berjalan jau

1.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

54
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Disuse, Kaku Sendi
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan Keterbatasan gerak

55