Anda di halaman 1dari 10

TUGAS SISTEM KESEHATAN

ARTIKEL BLOK 10
“Asuransi Kesehatan Sosial Negeri Matahari Terbit”

Nama : Fitrasha Niken Larasati

No.BP : 1811413001

Dosen Pembimbing : drg. Hidayati. MKM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
2020
A. PENDAHULUAN
Asuransi merupakan sebuah sistem yang banyak diterapkan di Negara-
negara maju saat ini. Dengan membayarkan uang jaminan (premi) secara rutin
pada waktu tertentu diharapkan dapat membantu peserta atau anggota asuransi
untuk meringankan kerugian yang mungkin dialaminya dimasa mendatang.
Tidak sedikit pula Negara-negara berkembang yang juga mulai menerapkan
sistem asuransi ini. Hampir setiap Negara-negara di dunia menganggap bahwa
asuransi adalah sistem yang dapat dimanfaatkan untuk membawa
kesejahteraan terhadap rakyatnya apabila diberlakukan secara nasional. Hal
ini penting karena dengan adanya asuransi, perekonomian dalam suatu Negara
dapat ditopang tanpa merugikan maupun mengandalkan satu pihak saja.
Salah satu Negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia yakni
Jepang, berdasarkan WHO pada tahun 2011. Kemudian berdasarkan survei
yang dilakukan OECD pada tahun 2011, Jepang menempati urutan kedua
tingkat harapan hidup per kelahiran dengan rata-rata umur adalah 82,2 tahun.
Dalam hal ini, kita berpikir bahwa Jepang memiliki teknologi kesehatan yang
dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakatnya. Namun, perkembangan
teknologi serta kemampuan yang semakin tinggi tentunya akan memicu
pengeluaran yang besar. Maka dari itulah, sistem asuransi diterapkan dalam
prosedur kesehatan untuk menopang terbentuknya pelayanan kesehatan yang
maksimal di Jepang. Salah satu cara Jepang mengatasi permasalahan ini
adalah dengan menerapkan system asuransi kesehatan kepada seluruh
penduduknya.
Sebagai salah satu Negara dengan sistem asuransi kesehatan yang
terpadu, Jepang tentunya memiliki konsep tersendiri mengenai penerapan
sistem yang sesuai dengan masyarakatnya. Berdasarkan hal itu artikel ini
bertujuan untuk membahas seputar asuransi kesehatan di Jepang dan
memberikan gambaran bagaimanakah sistem asuransi di Jepang dapat
dilaksanakan.
B. PEMBAHASAN
Jepang merupakan Negara yang menerapkan sistem asuransi soaial
dan telah mencapai cakupan semesta sejak tahun 1961. Karena bentuk
asuransi yang diterapkan adalah asuransi sosial maka kepersetaannya bersifat
wajib bagi seluruh warga Negara Jepang dan warga Negara asing yang tinggal
di Jepang secara legal dalam waktu lebih dari tiga bulan.
1. Sejarah Asuransi Kesehatan Publik di Jepang
Sebagian besar pelayanan kesehatan disediakan melalui sistem
asuransi kesehatan publik yang mencakup seluruh populasi di Jepang.
Asuransi kesehatan publik di Jepang pertama kali dikenalkan untuk para
pekerja pada sektor swasta dengan dasar hukum yaitu The Health
Insurance Law tahun 1922. The health Insurance Law berlaku untuk
perlindungan kepada para pekerja, namun cakupannya hanya sebagian dan
manfaatnya tidak komprehensif.
Setelah perang dunia kedua, Jepang memperkenalkan dan
meningkatkan sistem jaminan sosial termasuk di dalamnya asuransi
kesehatan. Pada tahun 1954, pemerintah nasional menetapkan secara
sepihak sebesar satu milyar yen untuk subsidi pemerintah pertama kali
dalam mengatur asuransi kesehatan. Tujuan dari cakupan universal
asuransi kesehatan public tercapai pada tahun 1961. Sejarah asuransi
kesehatan publik ini dijelaskan dalam tabel oleh Fukawa pada tahun 2002
seperti dibawah ini.
TAHUN URAIAN
1922 The Health Insurance Law yang diimplementasikan pada tahun
1927

1934 Revisi The Health Insurance Law: Perluasan untuk mencakup


perusahaan-perusahaan yang memiliki lima atau lebih pekerja

1938 Pembentukan Kementrian Kesehatan dan kesejahteraan. National


Health Insurance Law and region-based National Health
Insurance

1958 Revisi the National Health Insurance Law: 50% penyediaan


manfaat bagi yang diasuransikan

1961 Universal Coverage

1972 Revisi dari the Welfare Law for the Elderly yang
diimplementasikan tahun 1973: Pelayanan medis gratis bagi
penduduk usia lanjut

1973 Revisi the Health Insurance Law dikenal dengan tahun pertama
kesejahteraan nasional: Peningkatan tingkat manfaat bagi
keluarga yang terasuransi dari 50% menjadi 70%, Perkenalan
batas atas cost sharing pasien, subsidi nasional sebesar 10%
pengeluaran kesehatan bagi pemerintah pengatur asuransi
kesehatan.

1982 Law of Health and Medical Services bagi penduduk usia lanjut
yang diimplementasikan tahun 1983

1984 Revisi the Health Insurance Law: 10% cost sharing bagi
terasuransi, pengenduran regulasi atas teknologi tinggi
pemeliharaan kesehatan, perkenalan program pemeliharaan
kesehatan bagi para pensiunan

1985 Revisi the Medical Service Law: Rencana medis oleh prefecture

1989 Strategi 10 Tahun bagi Promosi Kesehatan dan Kesejahteraan


untuk Penduduk Lanjut Usia yang disebut Gold Plan

1991 Revisi the Law of Health and Medical Services bagi penduduk
usia lanjut: Visiting nurse care service untuk penduduk usia
lanjut, peningkatan pendanaan publik untuk nursing care dari 30
menjadi 50%

1992 Revisi the Medical Service Law: Klasifikasi rumah sakit


berdasarkan fungsinya; rumah sakit berteknologi tinggi,
perawatan inap jangka panjang

1994 New Gold Plan

1997 Revisi the Health Insurance Law: 20% cost sharing oleh
terasuransi, perkenalan pembebanan pasien atas biaya farmasi
untuk pelayanan rawat jalan.
2. Sistem Asuransi Kesehatan Publik di Jepang
Tidak hanya di Indonesia yang memiliki jaminan kesehatan secara
universal, yang dinamakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Jepang
juga memiliki jaminan kesehatan dari oemerintahnya yang dinamakan
Kokuho, Kokumin Kenko Hoken alias kartu kesehatan. Hoken telah ada
sejak tahun 1922. Hoken tersebut dapat digunakan untuk penyelenggaraan
asuransi kesehatan bagi pekerja mandiri (self-employed), pensiunan
swasta, dan pegawai negri beserta anggota keluarganya. Berbagai macam
asuransi yang ada di jepang, yaitu:
 National Health Insurance, dikelola oleh pemerintah, yang mana
asuransi ini ditujukan untuk masyarakat yang sudah pension, orang
usia lanjut < 75 tahun, masyarakat yang tidak mampu, serta
masyarakat yang menganggur.
 Japan Health Insurance, dikelola oleh pemerintah yang ditujukan
untuk karyawan yang bekerja disebuah perusahaan yang kecil < 7000
orang karyawan
 Association/Union Administered Health Insurance, dikelola oleh
swasta yang ditujukan untuk karyawan yang bekerja di perusahaan
besar > 7000 orang karyawan
 Mutual Aid Insurance, dikelola oleh pemerintah yang ditujukan untuk
pegawai negri
 Advanced Elderly Medical Service System, dikelola oleh pemerintah
yang ditujukan untuk masyarakat lansia > 75 tahun.
Kepersetaan asuransi sosial di Jepang bersifat wajib untuk seluruh
warga. Setiap orang dibawah umur 75 tahun yang tinggal di Jepang
diwajibkan memilih jenis asuransi yang sesuai dengan pekerjaan mereka.
Sistem asuransi di Jepang dibiayai dari kontribusi individu, kontribusi
pemberi kerja, dan subsidi dari pemerintah. Pemerintah jepang memiliki
tiga kategori dari asuransi kesehatan yaitu:
 Employer-Based Insurance
Kategori ini meliputi asuransi kesehatan yang diatur oleh
lembaga (society-managed health insurance), asuransi kesehatan yang
diatur oleh pemerintah (government-managed health insurance), dan
mutual aid association. Pada asuransi yang diatur oleh lembaga, dana
diperoleh dari pembagian antara pemberi kerja dan pekerja. Asuransi
kesehatan yang diatur oleh pemerintah mencakupi para pekerja sector
swasta yang tidak tertanggung pada asuransi kesehatan yang diatur
oleh lembaga, dan preminya persentase tetap dari daftar gaji dibagi
setara antara pemberi kerja dan pekerja. Perbedaan kedua system yang
telah dijelaskan sebelumnya yaitu pada asuransi yang diatur oleh
lembaga ditawarkan sebagai manfaat, sedangkan yang pemerintah
tawarkan hanya untuk satu paket perawatan. Terakhir, mutual aid
association mencakup pekerja pada sektor publik.
 National Health Insurance
Asuransi berdasarkan masyarakat yang mencakup orang-orang
yang tidak layak untuk employer-based insurance, seperti pekerja di
bidang agrikultur, wiraswasta, dan pensiunan dan juga tanggungannya.
Pelayanan kesehatan yang tercakup sama secara umum dengan
employer-based insurance, namun cost sharingnya lebih tinggi dan
manfaat tunai biasanya lebih terbatas. Kontribusi beragam dari satu
masyarakat dengan lainnya dan berdasarkan atas penghasilan individu
dan aset.
 Health Insurance for Elderly atau Long life Medical Care System
Sistem untuk menyebarkan beban dalam penyediaan perawatan
kesehatan untuk penduduk usia lanjut. Kepersetaannya adalah untuk
penduduk usia 70 tahun lebih dan juga penyandang cacat usia 65-69
tahun.
3. Pembiayaan Asuransi Kesehatan Publik di Jepang
 Employer-Based Insurance (Shakai Kenkou Hoken)
Kategori ini menetapkan premi berdasrkan pendapatan. Pada
perusahaan besar yang menerapkan society-managed health insurance,
pekerja membayar lebih dari separuh premi, sehingga pekerja hanya
membayar 3-10% dari pendapatan mereka tergantung dari tingkat
pendapatan. Sedangkan pada perusahaan kecil dan menengah yang
menerapkan government-managed health insurance premi didtetapkan
berdasarkan pengeluaran daerah terhadap kesehatan, struktur
demografis, dan tingkat pendapatan daerah, sehingga kisaran premi
yang dibayarkan pekerja adalah 9-10% dari pendapatan. Pada mutual
aid association pekerja di biayai oleh pemerintah melalui kerjasama
langsung dengan tenaga kesehatan
 National Health Insurance (Kokumin kenkou Hoken)
Pada kategori ini premi ditetapkan berdasarkan kalkulasi per
kapita, per rumah tangga, per pendapatan, dan per asset berkaitan yang
dimiliki. Oleh karena itu, premi yang dibayarkan tertanggung berbeda-
beda disetiap daerah. National Health Insurance juga mendapatkan
subsidi dari pemerintah untuk biaya kesehatan sebesar 43%
 Health Insurance for Elderly atau Long Life Medical Care System
Premi yang dibayarkan terdiri dari dua komponen utama yaitu
(1) jumlah tetap yang harus dibayarkan tertanggung
(2) kemampuan membayar tertanggung berdasarkan pendapatannya.

Total premi yang dikumpulkan pada kategori ini mampu


membiayai 10% total biaya kesehatan pada kelompok usia 75 tahun
ketas, sedangkan 90% sisanya mendapatkan subsidi dari pemerintah
sebesar 50% dan subsidi silang. Ketentuan sharing cost untuk asuransi
saat ini adalah:

1. Umur 75 tahun atau lebih


Peserta membayar 10% dari biaya tetapi bila dia memiliki
penghasilan sebesar income yang diperoleh oleh angkatan kerja
maka dia wajib membayar 30%
2. Umur 70 sampai 75 tahun
Peserta membayar 20% dari biaya tetapi bila dia memiliki
penghasilan sebesar income yang diperoleh oleh angkatan kerja
maka dia wajib membayar 30%
3. Mulai wajib belajar sampai umur 70 tahun
Peserta membayar 30% dari biaya
4. Anak belum sekolah
Peserta membayar 30% dari biaya

Keseluruhan pendanaan mencakup cakupan yang luas dari


pelayanan medis termasuk rumah sakit dan perawatan dokter,
perawatan gigi, dan obat-obatan, dan juga beberapa sarana
transportasi. Pendanaan yang diatur lembaga secara umum membayar
manfaat tunai yang lebih besar dibanding dengan National Health
Insurance. Pengusaha besar menyediakan beberapa pelayanan
preventif, tapi health insurance hanya mencakup sedikit pelayanan
preventif secara umum dan hanya menyediakan pembayaran tunai
untuk kehamilan normal karena di Jepang kehamilan tidak tergolong
dalam suatu penyakit.
C. KESIMPULAN
Sistem pembiayaan yang diterapkan dalam skema asuransi di Jepang
merupakan kontribusi dari individu, pekerja, dan subsidi pemerintah.
Meskipun pembiayaan pelayanan kesehatan menerapkan sistem fee for
services, tetapi Jepang merupakan Negara yang sangat ketat mengatur sistem
pembiayaan kesehatannya.
Asuransi sosial di Jepang dibagi ke dalam tiga kategori yaitu
employer-based insurance, national health insurance, dan health insurance
for elderly. Penduduk Jepang wajib terdaftar di salah satu kategori asuransi
tersebut yang disesuaikan dengan status pekerjaan dan umur mereka. Pada
prinsipnya, paket manfaat yang diterima oleh setiap kategori adalah sama
yaitu pelayanan yang komprehensif meliputi kuratif, preventif, dan promotif.
Ada persamaan jaminan kesehatan di Jepang dengan Indonesia yaitu
beban biaya perawatan penduduk lanjut usia cenderung tinggi. Hal tersebut
terkait pola penyakit degeneratif dan jumlah proporsi penduduk lansia di
Jepang yang tinggi. Namun yang berbeda adalah jaminan kesehatan di Jepang
tidak mengenal sistem rujukan, penduduk bebas memilih layanan kesehatan di
dokter atau klinik tingkat pertama, ataupun langsung ke rumah sakit. Namun
jaminan kesehatan di Jepang tidak mencakup persalinan normal, sedangkan di
Indonesia mencakup semua persalinan baik normal maupun operasi dengan
indikasi medis.
DAFTAR PUSTAKA

Broida, Joel H, Maeda, et all. 2014. Japan’s High Cost Illness Insurance Program: A
Study of It’s First Three Years. Public Health Reports. Association of Schools
of Public Health. Vol 93 No. 2
Fukawa, Tetsuo. 2002. Public Health Insurance in Japan. Washington: World
Bank Institute.
Ikegami, Naoki, et all. 1997. Japan’s Health Care System: Containing Costs and
Attempting Reform. Michigan: University of Michigan Press.
Jones, Randall S. Controlling Costs, Improving Quality and Ensuring Equity. OECD
Economics Department Working Papers, No. 739, OECD Publishing.
Kobayashi, Yasuki. 2009. Five Decades of Universal Health Insurance Coverage in
Japan: Lesson and Future Challenge. Japanese Society of Public Health, Vol.
52, No. 4. Japanese Association of Medical Science.
Legislative Counsil Secretariat. 2010. Health Care Financing in Japan. Hongkong:
Legislative Counsil Secretariat.
Margomgom, Praitno. 2014. Asuransi kesehatan Sosial di Jepang. Depok: Universitas
Indonesia, UI Press.
Pernando, Anggara. 2015. Ini Beda Jaminan Kesehatan Nasional RI dan Jepang.
Ampshare Article.
Putri, Ayu Aprilia Paramitha Krisnayana. 2010. Analisis Perencanaan Sistem
Program Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM). Depok: Universitas
Indonesia, UI Press.
Putri, Ririn Noviyanti. 2019. Perbandingan Sistem Kesehatan di Negara Berkembang
dan Negara Maju. Jambi: Universitas Batanghari. Vol 19 No. 1
Widodo, Teguh. 2014. Penerapan Sistem Asuransi Kesehatan Nasional pada Seluruh
Penduduk Jepang. Tesis FIB. Depok: Universitas Indonesia, UI Press.
World Health Organization (WHO). 2005. Social Health Insurance- Selected Case
Studies from Asia and The Pasific. New Delhi: SEARO Regional Publication.