Anda di halaman 1dari 77

Daftar Modul HSE

01. Isolasi Energi Berbahaya


02. Memasuki Ruang Tertutup
03. Klasifikasi Area Berbahaya
04. Penanganan Bahan Berbahaya
05. Identifikasi Bahaya
06. Keselamatan Kerja Radiasi
07. Keselamatan Kerja H2S
08. Pengujian & Deteksi Gas
09. Pengendalian Pekerjaan Berbahaya
Dengan Dokumentasi
010. Tabung Gas Bertekanan
011. Aspek Kebakaran
012. Scaffolding
013. Alat Pelindung Diri
014. Surat Ijin Kerja
015. Keselamatan Penggalian
016. Operasi Pengangkatan
017. Accident Incident Investigation
018. Bahaya Terhadap Kesehatan Kerja
019. Tanggap Darurat
020. Keselamatan Operasi Gas Purging
021. Pengamatan Keselamatan Kerja
022. Bekerja di Ketinggian
023. Lingkungan Kerja Aman

Modul Sertifikasi SI, GSI & AT


PT. PERTAMINA PERSERO
HSE Corporate
Operasi dan Keselamatan
Pengangkatan

Tujuan Modul 2

1. Konsep Dasar Pengangkatan 3

2. Pesawat Angkat “Crane” 11

3. Alat Bantu Angkat 23

4. Prosedur dan Cara Pengangkatan 47

5. Studi Kasus 67

Daftar Pustaka 72

Lampiran : Matriks Kompetensi SIKA 75


2 Tujuan Modul

Tujuan Modul
• Memahami bahaya-bahaya yang mungkin
terjadi pada operasi pengangkatan.
• Memahami prinsip-prinsip Keselamatan Kerja
pada operasi pengangkatan
• Memahami prinsip kerja pengangkatan.
• Memahami perhitungan berat beban yang
akan diangkat.
• Melakukan perencanaan pengangkatan
sebuah beban.
• Memahami fungsi, jenis dan penggerak
pesawat angkat.
• Memahami alat bantu angkat dan kriteria
inspeksi.
• Dapat melakukan inspeksi dan pemeliharaan
alat bantu angkat.
• Dapat melakukan pengikatan beban secara
benar.
• Dapat melakukan komunikasi pada operasi
pengangkatan
3

1
Konsep Dasar
Pengangkatan
4 Konsep Dasar Pengangkatan

O
perasi pengangkatan merupakan suatu proses
pengangkatan barang atau beban melalui
bantuan peralatan mekanis, yang berupa angkat dan
sistem tali-temali. Mekanisme pengangkatan yang
aman memerlukan pengetahuan dan pengalaman
yang cukup bagi pekerja yang melaksanakannya.

1.1. Perencanaan Operasi Pengangkatan

Suatu perencanaan operasi pengangkatan harus


dibuat sebelum pengangkatan dimulai. Hal tersebut
harus mencakup pemilihan dan penentuan pesawat
angkat serta alat bantu yang akan digunakan,
pengetahuan beban yang akan diangkat, perkiraan
berat dan titik berat beban yang akan diangkat, dari
mana dan dimana/kemana beban akan dipindahkan,
dan sebagainya.

1.1.1. P
emilihan Peralatan dan
Perlengkapan

Peralatan dan perlengkapan pengangkatan yang


diperlukan meliputi:

• Pesawat angkat untuk mengangkat, memindahkan


dan meletakkan beban / barang.
Konsep Dasar Pengangkatan 5

• Dongkrak untuk meratakan dan mengangkat


beban.

• Kayu / besi untuk mengganjal, menahan dan


menopang beban.

• Perlengkapan / aksesoris pengangkatan untuk


mengikat, menghubungkan, mengencangkan dan
meratakan beban.

1.1.2. P
enentuan dan Perhitungan Berat
Beban

Sebelum pengangkatan suatu beban, yang harus


diketahui terlebih dahulu adalah berat beban yang
akan diangkat tersebut. Informasi berat beban
biasanya dapat diperoleh dari:

• Surat pengiriman barang (cargo manifest).

• Pemilik barang.

• Label dan simbol pada kemasan atau barang.

Apabila berat beban tidak dapat diketahui dari


informasi di atas, maka perhitungan perkiraan berat
beban harus dilakukan dengan cara mengetahui:

• Bentuk dan ukuran barang atau kemasan


6 Konsep Dasar Pengangkatan

• Jenis bahan atau material dan isi barang (jika


memungkinkan)

• Tempat pengangkatan.

Selanjutnya perhitungan volume dan berat beban


dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus
perhitungan yang sesuai.

Rule of Thumb
Penambahan 10% (US standard) atau 25% (UK
standard) terhadap perkiraan perhitungan berat beban
harus diberikan sebagai faktor keselamatan (safety
factor).

Perkiraan (estimasi) kasar satuan berat bahan materi


dalam menghitung berat beban dapat dihitung
berdasarkan berat jenisnya:
Konsep Dasar Pengangkatan 7

Tabel 1.1 Massa Jenis (density) dari masing-masing bahan

Materi Berat (kg/m3)


Air 1,000 kg/m3
Minyak 800 kg/m3
Semen (Concrete) 2,400 kg/m3
Batu 2,560 kg/m3
Pasir basah 1,920 kg/m3
Pasir kering 1,760 kg/m3
Plastik 1,600 kg/m3
Batu bara 880 kg/m3
Batu kerikil 1,760 kg/m3
Besi baja 7,540 kg/m3
Tanah liat 2,160 kg/m3
Kayu keras 880 kg/m3
Kayu lunak 640 kg/m3

Tabel 1.2 Berat dari berbagai bentuk besi / baja sesuai ukurannya

Plat per kaki2


Pipa baja per kaki Besi tuang perkaki
(ft2)

Berat Berat Berat


Tebal Diameter Diameter
(lbs) (lbs) (lbs)

¼“ 10 1“ 2 4“ 16
3
/8“ 15 2“ 5 5“ 22
½“ 20 3“ 8 6“ 30
¾“ 30 4“ 10 8“ 44
1“ 40 5“ 12 9“ 52
8 Konsep Dasar Pengangkatan

1.2. Titik Berat dan Keseimbangan Beban


Pada operasi pengangkatan, pemindahan dan
peletakan berbagai beban, penting untuk diketahui
bagaimana cara menentukan titik berat suatu beban
untuk menjaga keseimbangan beban saat diangkat,
dipindahkan dan diletakkan.
Keseimbangan pada suatu operasi pengangkatan,
dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
• Penggunaan pesawat angkat lebih dari satu dengan
kapasitas yang berbeda untuk mengangkat suatu
beban, dalam hal ini perlu diperhatikan distribusi
beban pada masing-masing pesawat angkat.
• Kemampuan masing-masing tali yang terpasang
pada sebuah pancing (hook) blok untuk mencegah
kelebihan beban pada tali.
• Penempatan pengikatan (lifting point) pada suatu
beban agar distribusi beban merata pada semua
titik, sehingga kerusakan beban dapat dicegah.
Salah satu cara untuk menentukan titik berat suatu
beban adalah dengan menggunakan model, yaitu:
• Buat model beban sesuai dengan yang
sesungguhnya.
Konsep Dasar Pengangkatan 9

• Buat lubang pada setiap sudut model.

• Gantung model melalui salah satu lubang yang


tersedia.

• Tarik garis lurus kebawah dari lubang gantungan


tersebut, dan lakukan hal yang sama untuk lubang
yang lain.
10 Konsep Dasar Pengangkatan

• Titik pertemuan setiap garis lurus, merupakan titik


berat beban.

Rule of Thumb
Pada operasi pengangkatan, titik berat harus berada
tepat di bawah hook dari crane jika ditarik secara
garis lurus ke bawah.
11

2
Pesawat
Angkat
”Crane”
12 Pesawat Angkat “Crane”

2.1. Pengenalan ”Crane”


Pada dasarnya suatu pesawat angkat (crane) adalah
suatu alat yang digunakan untuk mengangkat dan
menurunkan suatu beban secara tegak lurus dan
memindahkannya secara mendatar.

Jenis-jenis pesawat angkat terdiri dari:

• Darat (onshore): crane mobil, menara, overhead,


portal, lokomotif dan kontainer.

• Lepas pantai (offshore): crane pedestal, apung


dan derek.

Beberapa contoh pesawat angkat Crane yang sering


digunakan:

Gambar 2.1 Crane Mobil (Truk)


Pesawat Angkat “Crane” 13

Gambar 2.2 Crane Mobil –


Gambar 2.3 Crane Pedestal
Crawler Boom Kisi (Lattice/Strut
Boom Kisi (Lattice/Strut Boom)
Boom)

Gambar 2.4 Overhead Crane

Gambar 2.5 Tower Crane


14 Pesawat Angkat “Crane”

Bagian-bagian dari Crane:

Gambar 2.6 Bagian-Bagian Crane - Pedestal

Gambar 2.7 Bagian-Bagian Crane Mobil


Pesawat Angkat “Crane” 15

Pedestal Crane Pedestal Crane


Tipe A Tipe B

Gambar 2.8.a Crane Pedestal Tipe A Gambar 2.8.b Crane Pedestal Tipe B

Pedestal Crane Pedestal Crane


Tipe C Tipe D

Gambar 2.8.c Crane Pedestal Tipe C Gambar 2.8.d Crane Pedestal Tipe D

Pedestal Crane
Tipe E

Gambar 2.8.e Crane Pedestal Tipe E


16 Pesawat Angkat “Crane”

Tabel 2.1 Keterangan untuk gambar 2.8.(a) – (e).

Tipe Pedestal Crane


No. Komponen
A B C D E
1 Boom Chord - - V V V

2 Boom Extension V - - -

3 Boom Foot Pin V V V V V


4 Boom Hoist Mechanism V V V V V
5 Boom Hoist Wire Rope atau Boom Line - - V V V
6 Boom Lacing - - V V V
7 Boom Lift Cylinder V V - - -
8 Boom Point Sheave Assembly atau Boom Head V V V V V
9 Boom Section, Insert - - V V V
10 Boom Section, Lower, Base atau Butt V V V V V
11 Boom Section, Upper, Point atau Tip V V V V V
12 Boom Splice V - V V V
13 Boom Stop - - V V V
14 Boom Tip Extension atau Jib V V V V V
15 Cab - V V V V
16 Counterweight - - - V -
17 Floating Harness atau Bridle - - - V V

18 Gantry, Mast atau A-Frame V V V

19 Hook Block V V V V V
20 King Post atau Center Post - - - - V
21 Main Hoist Drum V V - - -
22 Main Hoist Rope atau Load Line V V V V V
23 Overhaull Ball V V V V V
24 Pedestal atau Base V V V V V
25 Pendant Line - - - V V
26 Swing Circle Assembly V V V V -
27 Whip Line atau Aux Hoist Drum V V - - V
28 Whip Line atau Aux Hoist Rope V V V V V
Pesawat Angkat “Crane” 17

2.2. Sistem Keselamatan Crane


Beberapa sistem keselamatan pada Crane yang harus
menjadi perhatian adalah:
• Penyeimbang “Counterweight” (no. 16 pada
table 2.1 di atas), sebagaimana yang di-
spesifikasikan oleh manufaktur crane mobil.
• Indikator sudut Boom. (Boom angle indicator).

Gambar 2.9 Boom Angle Indicator

• Suatu perangkat yang menentukan bahwa crane


berdiri lurus (tidak miring) untuk crane mobil di
daratan (onshore crane mobile).
• Perangkat tanda klakson/bel.
• Stopper and Break: Boom stopper, Swing Brake,
rem untuk parkir.
• Perangkat “Anti-two blocking” atau sebuah
indikator seperti tanda pita yang dipasang
di atas balok hook (hook block, lihat no. 19)
yang dapat terlihat oleh operator crane untuk
18 Pesawat Angkat “Crane”

mencegah keadaan “two block” yakni kedaan


dimana balok tersebut melewati kepala Boom
atau Boom Tip. “Anti Two Block” terdiri dari
“switch” dan alarm yang menghentikan kerekan
(hoist) dan mengaktifkan rem untuk mencegah
keadaan tersebut.

Anti Two Block System

Gambar 2.10 Anti Two Block System

• Hook Crane mempunyai “Safety Latch”.


• Crane mobil harus dilengkapi dengan alarm yang
berbunyi ketika mundur.

2.3. Gerakan pada Crane


Ada lima gerakan pada sebuah crane yaitu:

1. Gerakan boom (derreck): gerakan naik (boom-


up) dan turun (boom – down).

2. Gerakan tali angkat beban (hoist): naik (hoisting)


dan turun (lowering).

3. Gerakan putar (swing): ke kiri (left) dan ke


kanan (right).
Pesawat Angkat “Crane” 19

4. Gerakan teleskop (telescoping) – untuk crane


dengan boom telescoping: memanjang (extend)
dan memendek (retract).

5. Gerakan berpindah (travelling) – untuk crane


mobil: maju (foreward) dan mundur (reverse).

2.4. Kapasitas Pesawat Angkat


”Crane”
Pemilihan pesawat angkat untuk suatu operasi
pengangkatan ditentukan oleh kapasitas dan
kelayakan pesawat angkat tersebut. Kapasitas angkat
sesungguhnya dapat diketahui dari daftar beban
yang tertera di pesawat angkat.

Kapasitas pengangkatan oleh pesawat angkat juga


dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

• Letak pengangkatan awal. Penambahan radius


kerja karena adanya kelengkungan boom
menjadikan kapasitas pesawat angkat menjadi
lebih kecil.

• Radius pengangkatan. Semakin jauh radius


pengangkatan, maka kapasitasnya menjadi lebih
kecil. Demikian juga sebaliknya.
20 Pesawat Angkat “Crane”

• Panjang boom. Semakin panjang boom, maka


kapasitasnya menjadi lebih kecil. Demikian juga
sebaliknya.

• Untuk radius pengangkatan dan panjang boom,


perhatikan ”Crane Load Chart” yang berlaku untuk
Crane yang sedang digunakan. ”Crane Load
Chart” adalah tabel dan grafik yang menunjukkan
kapasitas beban yang dapat diangkat oleh suatu
Crane pada sudut, panjang boom, dan radius
pengangkatan tertentu.

• Perhitungan beban.

Kapasitas bersih = kapasitas kotor – kapasitas


pengurang

Kapasitas kotor : SWL pada daftar beban

Kapasitas pengurang : tali, hoist, hook, dsb

Kapasitas bersih harus sama atau lebih besar dari


beban yang diangkat.
Pesawat Angkat “Crane” 21

• Gerakan-gerakan mendadak. Gerakan ini akan


mempengaruhi kapasitas sesaat pesawat angkat
dan perlengkapannya.

• Kecepatan angin. Dapat mempengaruhi


keseimbangan beban dan berat beban itu sendiri.

• Jumlah fase tali terpasang. Semakin banyak jumlah


fase tali yang terpasang, semakin besar kapasitas
pesawat angkat.

Gambar 2.11 Contoh Crane load chart


22 Pesawat Angkat “Crane”

Catatan:

Gambar ini hanya contoh untuk suatu merek crane,


pastikan menggunakan load chart dari pabrik pembuat
crane yang digunakan dan dilengkapi dengan tabel
yang menunjukkan kapasitas pada masing-masing
sudut, panjang boom, radius.
23

3
Alat Bantu
Angkat
24 Alat Bantu Angkat

3.1. Tali Penyandang


Ada dua jenis tali penyandang (sling) yang
umumnya digunakan untuk operasi pengangkatan
menggunakan pesawat angkat, yaitu:

a. Tali Kawat Baja (Wire Rope Sling)

b. Tali pita sintetis (Synthetic Webbing Sling).

3.1.1. Tali Kawat Baja (Wire Rope Sling)

Gambar 3.1 Konstruksi Tali Kawat Baja

Tali kawat baja ini menggunakan “independent wire


rope core” yang terbuat dari Improved Plow Steel
(IPS), Extra Improved Plow Steel (XIP) atau Extra-Extra
Improved Plow Steel (XXIP).
Center Wire

Wire Strand

Wire Rope
Core

Gambar 3.2 Susunan Tali Kawat Baja


Alat Bantu Angkat 25

Tali kawat baja tersebut dibuat dalam berbagai bentuk


dan ukuran tergantung pada fungsi dan kapasitasnya.

Tali penyandang kawat baja tunggal


terdiri dari tali kawat tunggal yang membentuk
tali penyandang yang biasanya digunakan untuk
melakukan pengangkatan beban ringan yang
sederhana dan mudah.

Tali penyandang kawat baja majemuk


merupakan jalinan beberapa tali kawat baja yang
membentuk tali penyandang dan dilengkapi dengan
kaitan di kedua ujungnya. Kelebihan dari tali
penyandang ini adalah memberikan daya gesek
dan cengkraman yang lebih baik bagi beban yang
berbentuk bulat atau rol, serta dapat mengurangi
efek melintir/membelit bagi beban yang tergantung
dengan bebas.
26 Alat Bantu Angkat

Macam-macam inti kawat baja:

1. Inti kawat baja “fiber”, terbuat dari fiber atau


polypropylene dan memberikan elastisitas yang
lebih dari pada “independent wire rope”.

2. Inti kawat baja “Independent”

Intinya biasanya terbuat dari 7x7


kawat baja terpisah yang dirancang
sebagai IWRC (Independent Wire
Rope Core). Inti baja meningkatkan
kekuatan sekitar 7% dan dapat menambah berat
sekitar 10%.

3. Inti kawat baja “Armoured”

Inti Armoured
Armoured Core

4. Inti kawat baja “Untaian” (Steel Strand Core)

Inti Untaian Baja


Alat Bantu Angkat 27

Kekuatan Putus Tali (BS)


Beban Kerja Aman (SWL) = -----------------------------------------
Faktor Keselamatan (SF)

Faktor Keselamatan (SF) – Rule of Thumb


• Tali Diam (Standing Rope) => 3
• Tali Berjalan (Running Rope) => 3.5
• Tali Bantu Angkat (Sling) => 5

Manfaat Faktor Keselamatan (SF):

• Untuk mengakomodasikan kekuatan putus tali

• Karena penggunaan yang kurang tepat

• Karena perkiraan berat barang yang tidak tepat

• Dan lain-lain.

SWL = 8 x D2
SWL (ton) =Safe Work Limit = Batas aman penggunaan
sling kawat baja
D (inch) = Diameter

Catatan: Faktor Keselamatan (SF) pada formula ini


adalah lima (5), artinya kekuatan putus tali adalah
5 x SWL

Kekuatan putus tali (Breaking Strength/BS) diperoleh


dari data pabrik pembuat tali pengangkat.
28 Alat Bantu Angkat

Ujung tali penyandang dapat dibuat sedemikian rupa


tergantung pada fungsi tali penyandang itu sendiri.
Pada umumnya ada dua cara pembentukan ujung tali
penyandang, yaitu:

• Penyambatan dengan tangan (hand spliced),


yaitu menyelipkan kembali ujung-ujung tali kawat
baja ke dalam serat tali penyandang dengan
memanfaatkan ketegangan tali kawat baja.

Gambar 3.3 Hand Spliced

• Penyambatan mekanis (mechanical spliced)


menggunakan logam yang membungkus dan
mengikat ujung tambatan.

Gambar 3.4 Flemish Eye Mechanical Splice


Alat Bantu Angkat 29

Gambar 3.5 Berbagai Jenis Penyambatan Secara Mekanik

Perawatan tali penyandang kawat baja:

1. Pastikan semua tali baja telah memiliki sertifikat


laik pakai.

2. Identitas tali harus jelas (panjang, diameter,


jenis, konstruksi, jenis inti, arah untaian, dan lain
sebagainya).

3. Lakukan pemeriksaan secara berkala, sesuai


standard yang berlaku, baik dalam kondisi
tidak dipergunakan maupun pada waktu akan
dipergunakan.

4. Lakukan pelumasan secara berkala sesuai prosedur


yang berlaku.

5. Simpan pada landasan yang kering dan letakan


di atas ganjal, dan jauhkan dari bahan kimia,
serta panas yang berlebihan.
30 Alat Bantu Angkat

6. Jangan menggulung tali dengan membuat angka


8, namun lakukan sesuai dengan prosedur atau
gulung pada gulungan tali yang tersedia.

7. Mengurai tali dari gulungan dilakukan pada


landasan yang kering dan bersih serta jangan
ditarik atau diseret secara paksa.

8. Hindari beban kejut (shock load) pada saat tali


dipergunakan.

9. Penggunaan tali sesuai dengan identitas Batas


Kerja Aman ”Safe Working Limit” (SWL).

3.1.2. Tali Pita Sintetis

Tali pita sintetis (synthetic webbing sling) digunakan


untuk mengikat dan mengangkat beban yang
mempunyai permukaan halus, licin atau beban
lembut yang jika menggunakan tali kawat baja akan
mengurangi daya cengkram tali atau bahkan merusak
beban tersebut.

Keuntungan dari tali penyandang pita sintetis ini


adalah:

- Fleksibel

- Tahan terhadap korosi


Alat Bantu Angkat 31

- Tidak dapat menimbulkan percikan api

- Mengurangi kemungkinan melintir / melilit

Gambar 3.6 Berbagai macam synthetic webbing sling

Ujung dari tali pita sintetis biasanya dibuat dengan


menekuk ujung tali dan menyatukannya kembali
dengan cara dijahit. Pada ujung tali yang dijahit, juga
dapat dilengkapi dengan sambungan / kaitan logam
yang umumnya berbentuk segitiga dan perangkat
penjepit.

Gambar 3.7 Sambungan Pita Sintetis


32 Alat Bantu Angkat

Beberapa bentuk bantalan perata (wear pad)


digunakan pada operasi pengangkatan untuk
menjaga pita sintetis ini dari tergores, terpotong
ataupun bahaya bahan kimia.

Gambar 3.8 “Wear Pad”

3.2. Pengait/Pancing
Berbagai bentuk dan ukuran pengait (hook)
tersedia sesuai dengan ukuran tali penyandang dan
penggunaannya. Pastikan pengait yang digunakan
untuk operasi pengangkatan sesuai dengan ukuran,
kapasitas serta cocok dengan aktifitas pengangkatan
yang sedang dilakukan. Pastikan pula kapasitas
angkat dan pabrik pembuatnya tertera pada pengait.
Pastikan terdapat palang pengaman (safety latch)
pada pengait / pancing (hook) yang digunakan.
Alat Bantu Angkat 33

Hook Attachment

Leher Hook
“Safety Latch”

“Cup of Hook”

Gambar 3.9 Pengait / Hook

3.3. Belenggu
Belenggu merupakan alat bantu angkat yang paling
sering digunakan dengan tali penyandang (sling).
Ada beberapa jenis belenggu yang umum digunakan
pada operasi pengangkatan, yaitu “round pin with
cotter”, “bolt with nut and cotter”, dan yang paling
popular adalah “screw pin anchor”.

Gambar 3.10 Jenis-jenis Shackle


34 Alat Bantu Angkat

Shackle merupakan alat bantu angkat yang paling


aman digunakan untuk mengaitkan tali penyandang
dengan beban yang akan diangkat. Pastikan Shackle
yang digunakan untuk operasi pengangkatan sesuai
dengan ukuran, kapasitas serta cocok dengan aktifitas
pengangkatan yang sedang dilakukan. Pastikan pula
kapasitas angkat dan pabrik pembuatnya tertera
pada Shackle.

3.4. Pengekang Kaki Majemuk


Pada saat mengangkat beban, jika tali penyandang
tunggal tidak memadai dan beban akan berbahaya
jika berputar, maka digunakan pengekang kaki
majemuk (Multi Leg Bridle). Pengekang dengan 2,
3 atau 4 kaki menjadikan beban lebih stabil. Alat
ini biasanya dikaitkan langsung dengan cincin
utama (master ring) untuk memudahkan pada saat
mengaitkan ke pengait di pesawat angkat.

Pengekang dengan 2 kaki Pengekang dengan 3 kaki Pengekang dengan 4 kaki

Gambar 3.11 Multi Leg Bridle


Alat Bantu Angkat 35

3.5. Tali Penyandang Tak Berujung


Tali penyandang tidak berujung (Endless Sling) ini
dibuat sedemikian rupa sehingga ujung satu dengan
yang lainnya saling bersambungan. Tali penyandang
ini sangat fleksibel tetapi cenderung untuk lebih
mudah aus.

Gambar 3.12 Jenis-jenis Endless Sling


36 Alat Bantu Angkat

3.6. Batang Sebar / Angkat


Batang angkat (Spreader Bar) digunakan untuk
mengangkat beban yang sangat panjang. Alat ini
membantu mengurangi terbentur dan tergelincirnya
beban panjang yang diangkat, serta mencegah
menyempitnya sudut tali penyandang dan mencegah
kecenderungan tali penyandang menyentuh beban.

Lifting Beam Spreader Beam

Gambar 3.13 Jenis-jenis Spreader


Alat Bantu Angkat 37

3.7. Klem Plat


Klem Plat Horisontal (Horizontal Clamps): dipakai
untuk pemindahan horizontal dan pengangkatan
materi/barang yang tidak mudah melentur atau
melengkung. Klem ini harus dipakai berpasangan.

Klem Tegak Lurus (Vertical Clamps): digunakan


untuk memutar, mengangkat, atau memindahkan
lempengan, lembaran, plat dari horizontal ke vertikal
sesuai keperluan. Engsel mata kerekan (eye hoist) dari
klem vertikal memungkinkannya untuk menempatkan
dan mengangkat beban dari segala arah.

Klem Mendatar Klem Vertikal

Gambar 3.14 Jenis-jenis Clamps


38 Alat Bantu Angkat

3.8. Inspeksi Alat Bantu Angkat


Inspeksi menyeluruh terhadap semua alat bantu angkat
harus dilakukan secara periodik untuk mengetahui
kapan dan bagaimana suatu alat bantu angkat yang
rusak atau aus tidak boleh digunakan lagi.

Beberapa standard industri dan peraturan pemerintah


seperti ANSI, API, LOLER SI 1998 No 2307, MIGAS,
dsb mengharuskan inspeksi untuk setiap alat bantu
angkat. Setiap perusahaan pemilik dan pengguna
alat bantu angkat dapat menentukan periode inspeksi.

Periode inspeksi tersebut ditentukan berdasarkan


kriteria berikut:

• Seberapa sering alat bantu angkat tersebut


digunakan.

• Kondisi dimana alat bantu angkat tersebut


digunakan.

• Bentuk dan jenis/tipe pengangkatan yang


dilakukan.

• Pengalaman berdasarkan umur pakai alat bantu


angkat yang sama yang digunakan ditempat lain
.
Alat Bantu Angkat 39

Secara umum inspeksi alat bantu angkat ini terdiri


dari:

• Initial / Awal : dilakukan oleh inspektor yang


memenuhi syarat pada saat alat bantu angkat
tersebut dibeli, dipindahkan ke tempat lain dan
setelah dilakukan perbaikan.

• Pre-use / Sebelum Digunakan : dilakukan oleh


Operator/Rigger yang memenuhi syarat untuk
setiap kali sebelum alat bantu angkat tersebut
akan digunakan.

• Monthly / Bulanan: dilakukan oleh Operator/


Rigger yang memenuhi syarat untuk setiap alat
bantu angkat yang masuk kategori penggunaan
”sering atau berat”.

• Quarterly / Setiap Tiga Bulan: dilakukan oleh


inspektor yang memenuhi syarat untuk setiap alat
bantu angkat yang masuk kategori penggunaan
”sedang atau berat”.

• Annual / Tahunan: dilakukan oleh inspektor yang


memenuhi syarat untuk setiap alat bantu angkat.

Tanggal dan waktu inspeksi serta nama dan inisial


yang melakukan inspeksi untuk setiap jenis alat bantu
40 Alat Bantu Angkat

angkat, harus dimasukkan ke dalam suatu catatan


inspeksi.

Informasi atau label penting yang harus ada pada


setiap alat bantu angkat adalah nama perusahaan
pembuat dan kapasitas angkat (load limit) nya.

Pada tali penyandang (sling), informasi


ini biasanya berbentuk ”metal tag atau
stamp” yang juga berisikan informasi
tentang tipe, grade, jenis, konstruksi,
panjang, diameter, nomor sertifikat dan
tanggal pengetesan.

Pada belenggu dan pengait (shackle dan hook),


informasi tersebut akan dicap atau ditempa. Paling
tidak akan berisikan kapasitas (load limit) dan nama
atau logo perusahaan pembuatnya. Beberapa
perusahaan juga mencantumkan kode yang
menunjukkan informasi tentang tahun, pabrik dan
material.

Sedangkan pada tali penyandang pita sintetis


(Synthetic Web Sling), informasi tentang nama
perusahaan pembuat, nomor khusus,

kapasitas untuk tiga fungsi angkatan (vertikal,


Alat Bantu Angkat 41

keranjang dan ikatan/jepitan), jenis material dan


ukuran, yang umumnya dijahitkan pada pita tersebut.

Dan pada rantai, umumnya tercantum ukuran rantai,


jangkauan, tipe, kapasitas pada sudut angkat tertentu
dan beberapa nomer identifikasi yang di tautkan
dengan ”metal tag”.

Gambar 3.15 Tampilan informasi pada alat bantu angkat

Inspeksi alat bantu angkat harus dilakukan dengan


sistematis. Penting sekali bahwa semua alat bantu
angkat dan bagian-bagiannya dapat terlihat dengan
jelas dan terjangkau. Bersihkan grease atau kotoran
yang menghalangi bagian-bagian yang akan
diinspeksi.

Inspeksi tali penyandang kawat baja dilakukan


dengan cara:

• Telusuri secara menyeluruh dan amati dengan teliti


sepanjang tali penyandang. Perhatikan dengan
42 Alat Bantu Angkat

baik terutama bagian-bagian yang menunjukkan


keausan.

• Perhatikan pula sambungan dan daerah


disekitarnya serta bagian-bagian ujung yang ada
kaitannya.

• Ketika ditemukan bagian yang rusak atau berubah


dari yang seharusnya, lakukan evaluasi terhadap
bagian ini. Pengukuran diameter tali dan penelitian
lebih lanjut harus dilakukan.

Pengukuran yang benar Pengukuran yang Salah

Gambar 3.16 Prosedur Pengukuran Diameter Sling

Tali penyandang kawat baja tidak boleh digunakan


lagi jika:

a. Ada 10 serat/kawat baja putus secara acak


pada seutas tali penyandang kawat baja.

b. Ada 5 serat/kawat baja putus pada satu


untaian/lilitan pada seutas tali penyandang
Alat Bantu Angkat 43

kawat baja.

Gambar 3.17 Kerusakan pada Sling

c. Terjadi perubahan/distorsi struktur tali. Yang


utama adalah terjadinya perubahan dudukan
serat dari untaian/lilitan kawat baja atau
untaian/lilitan kawat dari talinya. Lekukan
halus pada tali dimana serat atau lilitannya
masih tetap pada posisi semestinya, biasanya
tidak dianggap perubahan struktur. Akan tetapi
penilaian yang lebih tepat tentunya harus
digunakan.
44 Alat Bantu Angkat

d. Ada tanda kerusakan panas. Hal ini biasanya


ditandai dengan adanya perubahan warna
(memudar) atau kehilangan pelumasan bagian
dalam yang disebabkan oleh paparan panas.

e. Terjadi kerusakan, retak atau bengkok pada


ujung sambungan yang disebabkan oleh
penyalah-gunaan, aus atau kecelakaan.

f. Pengait yang tersambung di ujung tali


penyandang, bengkok (lebih dari 15% ukuran
mulut pengait) atau melintir (lebih dari 10
derajat).

g. Terjadi korosi logam pada tali atau bagian


kaitan ujung tali yang dapat menyebabkan
keropos atau menyelimuti tali.

h. Terjadi ”Bird Cage” pada sling.

Gambar 3.18 Kerusakan ”Bird Cage” pada sling

i. Terjadi keausan di lebih dari 1/3 dari diameter


Alat Bantu Angkat 45

kawat sebelah luar.

j. Diameter sling mengecil atau berubah

k. Tanda kerusakan lain pada sling seperti


terpelintir atau terbelit (kink rope), berkarat,
memanjang, dan perubahan bentuk lain.

Pada tali penyandang pita sintetis apabila terlihat ada


bagian yang leleh, terikat kusut, hangus, berlubang,
aus, robek, terpotong, putus jahitannya/benang,
lecet/tergores, maka tali penyandang tersebut tidak
boleh digunakan lagi.

Terikat kusut Berlubang

Hangus/leleh/terbakar

Gambar 3.19 Kerusakan pada Pita Sintetis


46 Alat Bantu Angkat

Sedangkan pada alat bantu lain seperti pengait/


hoon, shackle, penjepit dan sebagainya, jika
ditemukan adanya keausan atau kerusakan seperti
retak, goresan, serta tidak berfungsi, hilang atau tidak
dipasang dengan tepat pada suatu bagian (misalnya
latches, swivel, bearing, lock) dari alat tersebut, maka
alat tersebut tidak boleh digunakan lagi.
47

4
Prosedur dan
Tata Cara
Pengangkatan
48 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

4.1. K
eselamatan Kerja
Pengangkatan
Secara umum, kecelakaan yang mungkin terjadi dari
suatu operasi pengangkatan beban adalah:

• Jatuhnya beban yang terlepas dari kaitan (hook)


atau pengikatan oleh juru ikat yang tidak kompeten.

• Alat bantu angkat jatuh dari ketinggian.

• Kegagalan peralatan atau alat bantu angkat


karena kurangnya perawatan, inspeksi dan salah
dalam penggunaan.

• Landasan yang tidak memadai untuk crane di


permukaan yang dapat menyebabkan crane
terguling.

• Kecelakaan lain yang disebabkan oleh tingkah laku


orang lain seperti tidak menggunakan tag line.

Untuk menghindari terjadinya kecelakaan tersebut,


maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 49

4.1.1. Kompetensi Personal

Pelatihan merupakan salah satu faktor penting


untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Pelatihan
ini meliputi pelatihan dasar yang harus dimiliki
oleh setiap personal yang terlibat, serta pelatihan
khusus yang merupakan peningkatan pengetahuan
dan keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan-
pekerjaan tertentu.

4.1.2. Persiapan Pengangkatan

• Lakukan penilaian dan pengamanan daerah kerja


termasuk, dimana dan ke arah mana beban akan
diangkat.

• Ketahui berat dan jenis barang/beban yang


akan diangkat, serta tentukan titik berat barang/
beban tersebut. Beban yang tidak sesuai dapat
menyebabkan crane jatuh atau terguling.
50 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

Gambar 4.1 Kecelakaan Crane

• Tentukan peralatan bantu angkat yang sesuai.


Pergunakan alat bantu angkat dengan kapasitas
yang lebih tinggi bilamana berat beban tidak
diketahui, dimungkinkan adanya beban kejut,
kondisi cuaca/sekitar yang tidak normal atau jika
dimungkinkan adanya bahaya terhadap orang
lain yang berada disekitar pengangkatan.

• Lakukan inspeksi dan pengecekan terhadap


pesawat angkat dan alat bantu angkat yang akan
digunakan. Gunakan peralatan yang sesuai dan
memenuhi syarat.

• Tentukan letak dan jenis pengikatan barang yang


akan diangkat.

• Kencangkan semua peralatan pengikat dan


penguat.
Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 51

• Perkirakan faktor-faktor apa saja yang akan


mempengaruhi pengangkatan.

• Lakukan pengangkatan dan pemindahan beban


dengan perlahan-lahan.
52 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

4.1.3. Saat Pengangkatan

• Jangan melakukan pekerjaan pengangkatan


apabila kondisi cuaca tidak menunjang seperti
berkabut, berdebu, kecepatan angin, petir, dan
lain sebagainya’.

• Pastikan penerangan yang cukup untuk


pengangkatan. Menurut OSHA 1926.56,
penerangan yang cukup untuk pengangkatan
adalah 10 ft candles (=107 lux).

• Awasi dan pastikan titik berat (center of gravity)


berada di bawah garis pengait (hook).

• Pastikan tidak ada orang yang melintas di bawah


lintasan beban angkat.

Gambar 4.2 Salah satu contoh kesalahan kerja operasi pengangkatan


Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 53

• Hindari perpindahan ”swing” yang terlalu cepat


sehingga menyebabkan beban berayun.

• Hindari gerakan kejut pada saat mengangkat


beban agar sling tidak kelebihan beban. Beban
kejut dapat menyebabkan beban dinamis yang
menaikkan beban hingga 5 kali beban yang ada.

• Lindungi sling pada tepi beban yang menyudut.


• Hindari tekukan yang terjadi mata sling pada saat
digunakan.

Mata Sling

Gambar 4.3 Mata Sling

• Jangan melilitkan sling pada pancing blok dan


hindari sling terpelintir.

• Hindari sudut kaki sling yang terlalu besar


(maksimum 90o)

• Perhatikan papan alas sebelum barang diletakan


pada landasan.

• Pastikan Hook terpasang dengan baik dan aman.


54 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

• Hindari pengangkatan secara menyamping.

Pengangkatan
Menyamping

Gambar 4.4 Pengangkatan Menyamping

• Komando operasi pengangkatan hanya dilakukan


oleh satu orang yang disebut ”Signal Man”.

• Operator bantu operasi pengangkatan (rigger)


selalu menggunakan tag line dalam mengarahkan
beban angkat.

Gambar 4.5 Penggunaan Tag Line


Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 55

• Pastikan pandangan Operator Crane


tidak terhalang terhadap beban. Jika tidak
memungkinkan, dapat menggunakan arahan dari
Signal Man dan telah melalui penilaian risiko (risk
assessment).

4.2. Pengikatan Beban


Faktor-faktor yang mempengaruhi pengikatan suatu
tali penyandang adalah:
• Bentuk mata tali penyandang
• Jumlah kaki tali penyandang
• Berat beban yang ditanggung oleh setiap kaki tali
penyandang
• Kapasitas tali penyandang yang hilang akibat
tekukan pada tepi barang/beban.
Berikut cara dan perhitungan effisiensi pengikatan:
1. Pengaruh sudut kaki sling terhadap SWL pada
mata sling yang mengikat pada kaki sling

SWL Sling = 1.5 x berat beban


56 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

2. Tekukan kaki sling pada sisi beban yang tajam.

SWL Sling = 2 x berat beban

3. Menghitung efisiensi pengikatan dapat dihitung


dengan formula:
Berat beban
SWL = ------------------------------------------ x faktor (f)
Jumlah kaki sling

Faktor (f): faktor perkalian sudut kaki sling.

Tabel 4.1 Faktor Perkalian pada Sudut Kaki Sling

Sudut kaki sling Faktor perkalian (f)


0o 1.01
30 o 1.03
60 o 1.15
90 o 1.4
120 o 2.0
Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 57

4. Pengikatan langsung (Bridle Hitches):

Kaki satu atau tunggal:

2t
SWL Sling = ----- x 1 = 2 t
1

2t
SWL Sling = ----------- x 1.15 = 1.15 t
2

5. Pengikatan banyak kaki (Multiple Legs).

Pada saat mengangkat beban yang lentur /


fleksibel, beban akan dirasakan oleh semua kaki
sling secara merata.

Pada saat mengangkat beban yang kaku (rigid),


beban dirasakan hanya dua kaki sling saja.
2t
SWL Sling = ------- x 1.4 = 1.4 t
2
58 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

6. Pengikatan Jerat (Chocker Hitches).


Kaki satu beban bundar Kaki satu beban segi empat

2t 2t
SWL Sling = ------- x 1.5 = 3 t SWL Sling = ------- x 2 = 4 t
1 1

7. Pengikatan Keranjang (Basket Hitches).


Kaki satu beban bundar Kaki satu beban segi empat

2t 2t
SWL Sling = ------ x 1 = 1 t SWL Sling = ------ x 2 = 2 t
2 2
Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 59

4.3. Komunikasi
Fungsi aba-aba pada operasi pengangkatan adalah
suatu alat komunikasi antara operator pesawat
angkat dan personal yang terlibat dalam operasi
pengangkatan. Fungsi aba-aba ini sebagai pengganti
informasi lisan karena jarak mereka yang berjauhan
atau adanya kebisingan disekitar lokasi kerja.

Jenis aba-aba terdiri dari:

• Aba-aba tangan (hand signal)


• Aba-aba suara dan peluit (sound signal)
• Aba-aba cahaya (light signal)

Penggunaan aba-aba harus:

• Sesuai dengan standar yang berlaku.

• Aba-aba lokal dapat dipergunakan selama


operator pesawat angkat dan pemberi aba-aba
saling mengetahui.
60 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

• Aba-aba yang tidak dimengerti, harus didiskusikan


terlebih dahulu.
• Operator pesawat angkat tidak boleh menggerakkan
pesawat angkat, jika aba-aba tidak jelas.
• Hanya satu pemberi aba-aba (disebut Signal
Man) yang harus diikuti oleh operator pesawat
angkat, baik untuk pengangkatan tunggal maupun
majemuk.
• Menggunakan pemberi aba-aba beruntun /
berantai jika beban tidak terlihat secara langsung
oleh operator pesawat angkat.
• Operator pesawat angkat harus memberikan tanda
kepada pemberi aba-aba apabila sudah siap
beroperasi atau sebaliknya.

Standar aba-aba yang ada di industri adalah standar


ANSI, BSS, API dan JIS.

4.4. Cara Kerja Aman pada Operasi


Pengangkatan.
• Ketahui dengan pasti beban kerja aman setiap
peralatan bantu angkat yang akan dipergunakan.
Jangan melebihi batas beban yang telah
ditetapkan.
Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 61

• Tentukan berat beban dengan pasti sebelum diikat.

• Periksa kelaikan semua peralatan bantu angkat


sebelum digunakan, bila ada yang tidak laik
agar dipisahkan dan dihancurkan karena dapat
membahayakan bila dipergunakan oleh orang
lain.

• Jangan lakukan operasi pengangkatan jika kondisi


lingkungan tidak memungkinkan, seperti hujan
lebat, angin kencang, petir, dan sebagainya.

Gambar 4.6 Bahaya Alam Saat Operasi Pengangkatan

• Perhatikan jarak kerja dengan jaringan listrik


tegangan tinggi. Jangan sampai pesawat dan
peralatan bantu angkat bersentuhan dengan
listrik.
62 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

Gambar 4.7 Bahaya Listrik Terhadap Crane

• Beban kerja aman (SWL) semua peralatan bantu


angkat harus sesuai dengan beban yang akan
diangkat. Perhatikan faktor-faktor yang akan
mempengaruhi beban kerja aman.

• Beban kerja aman (SWL) harus dihitung


berdasarkan beban statis dan faktor keamanan
(beban dinamis dan peralatan bantu angkat yang
digunakan).

• Beban kerja aman yang tertera pada identitas


tali penyandang adalah beban kerja aman
untuk pengangkatan vertikal. Bila digunakan
pada pengangkatan berbentuk sudut, maka
kapasitasnya akan berkurang.

• Pemutaran cepat (rapid swing) pada beban


yang tergantung akan menambah tekanan pada
peralatan bantu angkat.
Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 63

• Jangan menggunakan tali penyandang kawat baja


yang terpelintir atau rusak. Periksa dan peliharalah
peralatan bantu angkat secara berkala.

• Tali penyandang harus dijauhkan dari sudut


yang tajam, tergencet dan sebagainya. Mata tali
penyandang hendaknya untuk mencegah keausan
dan kerusakan. Pada sudut yang tajam hendaknya
diberi ganjal agar tali penyandang tidak rusak.

• Semua alat bantu angkat harus mempunyai


identitas. Jangan menggunakan peralatan yang
tidak jelas identitasnya.

• Semua beban harus diikat dengan baik dan kuat


agar beban tidak terlepas. Beban yang tergantung
harus disandang dengan baik dan benar serta
seimbang.

• Beban yang diangkat harus selalu diperhatikan /


diawasi.

• Beban harus diletakkan dengan aman dan diganjal


dengan cukup untuk mencegah kerusakan tali,
sebelum tali angkat dilepas.

• Tali angkat tidak boleh dililitkan ke beban sebagai


pengganti tali penyandang.
64 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan

• Perhatikan tali angkat di pesawat angkat yang


menggunakan kawat baja majemuk tali banyak
agar tidak terpelintir.

• Tali angkat harus tepat segaris dengan titik berat


beban sebelum beban diangkat.

• Tali angkat tidak boleh kendur, karena bisa terlepas


dari dudukannya pada drum dan puli.

• Jauhkan tangan dari tali yang kendur untuk


menghindari terjepit.

• Pergunakan sarung tangan selama melakukan


operasi pengangkatan.

• Yakinkan semua personal berada di luar daerah


pengangkatan, sebelum pengangkatan dimulai.

• Sesaat sebelum pengangkatan, periksa kembali


pengikatan beban, jangan sampai ada pengikatan
yang longgar atau tidak pada tempatnya.

• Hindari beban kejut yang disebabkan oleh


gerakan yang cepat sewaktu mengangkat atau
menurunkan beban.

• Tidak dibenarkan dalam


keadaan apapun ada orang
Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan 65

yang ikut naik diatas beban saat diangkat.

• Jangan mengangkat atau memutar beban diatas


orang.

• Jangan meninggalkan pesawat angkat dengan


beban masih tergantung.

• Jangan melakukan perbaikan pada tali


penyandang yang sedang menyandang beban.

• Jangan menggunakan satu atau dua kaki tali


penyandang dengan kaki majemuk, sebelum kaki
lainnya diamankan.

• Yakinkan bahwa beban bebas dan semua kaki


tali penyandang berfungsi dengan baik sebelum
beban diangkat.

• Jika menggunakan dua buah atau lebih tali


penyandang, yakinkan bahwa semua tali
penyandang dibuat dari bahan dan jenis yang
sama.
66 Prosedur dan Tata Cara Pengangkatan
67

5
Studi Kasus
68 Studi Kasus

S
elama aktifitas pengangkatan dan pemindahan
struktur baja yang men-suport conveyor di Alegria
8/9 ke lokasi baru, crane kehilangan stabilitas. Crane
terguling ke sisi sampingnya menimpa sebuah galeri
conveyor yang sedang dirakit dekat dengan lokasi
crane. Karena terguling, cabin crane dengan operator
di dalamnya terjepit oleh struktur galeri menyebabkan
korban jiwa operator.

Perhatikan apa yang penyebab langsung


kecelakaan ini!

Panjang Boom – 26.6 m


Radius – 4 m.
Max Kapasitas Angkat – 20 t.
Berat Beban
Studi Kasus 69

Beban diangkat dengan


Radius 4 m.

Angkatan diputar dari sisi


crane ke belakang crane
70 Studi Kasus

Beban terus diputar ke


sisi lain dari crane

Panjang Boom – 26.6


Radius – 10.3 m
Berat Beban – 14.2 t
Studi Kasus 71

Panjang Boom – 26.6


Radius – 16.5 m
Kapasitas max – 5 t
Berat Beban – 14.2 t

Crane jatuh ke sisi tersebut dengan


kepala boom menyentuh tanah,
bagian tengah boom bersandar pada
galeri dan ruang kabinet crane
bertabrakan dengan galeri
72 Daftar Pustaka

Daftar Pustaka
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

2. PP No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja


pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas
Bumi.

3. Permenaker No. PER. 05/MEN/1985 tentang


Pesawat Angkat dan Angkut.

4. Permenaker No. PER 09/MEN/VII/2010 tentang


Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut.

5. Keputusan Dirjen Minyak dan Gas Bumi No.


84.K/38/DJM/1998 tentang Pedoman dan
Tata Cara Pemeriksaan Keselamatan Kerja Atas
Instalasi, Peralatan dan Teknik yang Dipergunakan
dalam Usaha Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi dan Pengusahaan Panas Bumi.

6. OSHA 29 CFR 1910 Subpart N tentang


Penanganan Material dan Penyimpanan,

a. 1910. 179 Penganan Material dengan


menggunakan Overhead dan Gantry Crane
Daftar Pustaka 73

b. 1910. 180 Penanganan Material dengan


menggunakan Crawler Locomotive dan Truck
Crane

7. OSHA 29 CFR 1926 Subpart N tentang Cranes,


derricks, hoists, elevators, and conveyors.

8. ASME B30.9-2006, Slings

9. ANSI B30.3 – 2009 tentang Tower Crane

10. ANSI B30.4 – 2010 tentang Portal dan Pedestal


Crane

11. ANSI B30.5 – 2007 tentang Kereta dan Truk


Crane

12. ANSI B30.9 – 2006 tentang Kawat Baja (Sling)

13. ANSI B30.10 – 2009 tentang Pengait (Hooks)

14. “Pelatihan Rigging Dasar untuk Pesawat Angkat”,


Lembaga Pembinaan Ketrampilan Kerja “Alkon”.

15. “Crane and Sling”, Al-Mahaba Oil Services.

16. 3“Crane Accident”, Transfering Expert Knowledge,


Migas Indonesia.

17. “Fatal Crane Incident”, 2007, Germano


Construction Site, Brazil.
74 Daftar Pustaka

18. “Managing Mobile Crane Hazard”, eLCOSH


(Electronic Library of Construction Occupational
Safety and Health,.

19. Offshore Sparrow ”Offshore Crane Operator and


Banksman/Slinger, Integrated Safe Operating
Procedure” Doc No. SI01_R03A4 .
Lampiran 75

Lampiran. Matriks Kompetensi SIKA

GAS SAFETY INSPECTOR

SAFETY INSPECTOR

PENGAWAS JAGA
SUBJECT OF

CONTRACTOR
No

AHLI TEKNIK
TRAINING

GAS TESTER
Frequency

Standard
Duration

PEKERJA
Provider
TRAINING MATRIX

I Pengetahuan Dasar

1 Identifikasi Bahaya Y Y Y Y Y Y Y

2 Alat Pelindung Diri Y Y Y Y Y Y Y

Pengendalian Pekerjaan Berbahaya


3 Y Y Y Y Y
dengan Dokumentasi

4 Surat Ijin Kerja Y Y Y Y Y Y Y

5 Pengamatan Keselamatan Kerja Y Y Y Y Y Y Y

6 Aspek Kebakaran Y Y Y Y Y AR AR

II Manajemen K3 Praktis

1 Accident Incident Investigation Y AR AR Y

2 Isolasi Energi Berbahaya Y AR Y Y

3 Lingkungan Kerja Aman Y AR Y Y Y AR AR

4 Tanggap Darurat

III Keselamatan Khusus

1 Penanganan Bahan Berbahaya Y AR AR Y AR AR AR

2 Keselamatan Kerja Radiasi Y AR AR Y AR AR AR

3 Keselamatan Kerja H2S Y AR Y Y Y AR AR

4 Memasuki Ruang Tertutup Y AR Y Y Y AR AR

5 Keselamatan Penggalian Y AR Y Y Y AR AR

6 Bekerja di Ketinggian Y AR Y Y Y AR AR

7 Scaffolding Y AR AR Y AR AR AR

8 Pengujian dan Deteksi Gas Y AR Y Y AR AR

9 Operasi Pengangkatan Y AR Y Y AR AR

10 Keselamatan Operasi Gas Purging Y AR AR Y AR

11 Bahaya terhadap Kesehatan Kerja Y AR Y Y Y AR AR

12 Tabung Gas Bertekanan Y AR Y Y Y AR AR

13 Klasifikasi Area Berbahaya Y AR Y Y Y

Y : Modul Wajib

: As Required
AR
(Sesuai kebutuhan)

: Modul Tidak Wajib