Anda di halaman 1dari 20

Laporan Praktikum

Elektronika 1

Modul Praktikum
Karakteristik dan Rangkaian-rangkaian Transistor

Nama : Early Radovan


NPM : 1806136416
Rekan Kerja : Fakhriyah Nada
Kelompok :3
Hari : Rabu
Tanggal : 18 September 2019
Modul ke :3

Laboratorium Elektronika Deprtemen Fisika


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia
2019
MODUL 3
KARAKTERISTIK DAN RANGKAIAN-RANGKAIAN TRANSISTOR
A. Tujuan
1. Menentukan nilai β, membuat garis beban, dan menentukan titik Q
2. Mengnalisis rangkaian AC dan DC
B. Teori
Transistor merupakan suatu piranti semikonduktor yang memiliki sifat khusus.
Secara ekuivalensi transistor dapat dibandingkan dengan dua diode yang dihubungkan
dengan suatu konfigurasi. Walaupun sifat-sifat transistor tersebut tidak sama dengan
diode tersebut. Transistor ada yang UNIPOLAR (misal : FET) ada yang BIPOLAR
(PNP dan NPN). Pada dasarnya transistor bekerja berdasarkan prinsip pengendalian
arus kolektor dengan menggunakan arus basis.
Dengan kata lain arus basis mengalami penguatan hingga menjadi sebesar arus
kolektor. Penguatan ini bergantung dari faktor penguatan dari masing-masing
transistor (α dan β). Konfigurasi dasar dari rangkaian. Transistor sebagai penguat
adalah Common Base, Common Emitor, dan Common Collector. Sifat dari transistor
yang akan saturasi pada nilai tegangan tertentu antra basis dan emitor menjadikan
transistor dapet berfungsi sebagai saklar elektronik. Nilai penguatan arus dari
Transistor dapat dinaikan dengan menggunakan konfigurasi Darlington.
Teori tambahan
Transistor NPN adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan
tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang
lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
Transistor PNP adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan
tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang
lebih besar dari Emitor ke Kolektor

Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menghambat atau


membatasi aliran listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian elektronika. Sebagaimana
fungsi resistor yang sesuai namanya bersifat resestif dan termasuk salah satu komponen
elektronika dalam kategori komponen pasif. Satuan atau nilai resistansi suatu resistor di sebut
Ohm dan dilambangkan dengan simbol Omega (Ω).
Dioda (Diode) adalah Komponen Elektronika Aktif yang terbuat dari bahan
semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi
menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering dipergunakan
sebagai penyearah dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya mempunyai 2
Elektroda (terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki prinsip kerja yang
berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu dapat mengalirkan arus dari sisi
tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda) tetapi tidak dapat mengalirkan arus ke arah
sebaliknya.

Osiloskop adalah alat ukur Elektronik yang dapat memetakan atau memproyeksikan
sinyal listrik dan frekuensi menjadi gambar grafik agar dapat dibaca dan mudah dipelajari.
Dengan menggunakan Osiloskop, kita dapat mengamati dan menganalisa bentuk gelombang
dari sinyal listrik atau frekuensi dalam suatu rangkaian Elektronika. Pada umumnya osiloskop
dapat menampilkan grafik Dua Dimensi (2D) dengan waktu pada sumbu X dan tegangan
pada sumbu Y.
Sinyal Generator atau Function Generator adalah alat ukur elektronik yang
menghasilkan, atau membangkitkan gelombang berbentuk sinus, segitiga, ramp, segi empat,
dan bentuk gelombang pulsa. Function generator terdiri dari generator utama dan generator
modulasi.

C. Komponen
1. Transistor BC 108 1
2. Resistor 3,6 kΩ 1
3 kΩ 1
2,2 kΩ 1
1 kΩ 1
600 Ω 1
300 Ω 1
10 k Ω 2
3. Potensiometer 1kΩ 1

4. Kapasitor 0,1 μF 2
1 μF 1
D. Prosedur Percobaan
1. Menentukan nilai β
a. Menyusun rangkaian seperti pada gambar 4.1
b. Mengatur R var agar Vi bervariasi dari 0-12 Volt dengan interval kenaikan
sebesar 1 volt
c. Mencatat Vi, VBE dan VCE
VCC VCC
12V
12V
R5
10kΩ R5
10kΩ
R4
1kΩ 83 % R6 Q2
Key=A BC108BP
100kΩ
R6 Q2
BC108BP
100kΩ

Gambar 4.1 Gambar 4.2


Rangkaian Transistor Sederhana Rangkaian Menentukan Titik Beban

2. Menentukan beban dan titik gris Q


a. Menyusun rangkaian seperti gambar 4.2
b. Mengukur tegangan VCE
3. Analisis rangkaian DC
a. Dari gambar 4.3, menyusun rangkaian ekuivalen DC
b. Mengukur tegangan VA, VBE, VC dan VE
4. Analisis rangkaian AC
a. Dari gambar 4.3, menyusun rangkaian ekuivalen AC
b. Memberikan input SG sebesar 10 mVPP
c. Dengan menggunakan osiloskop, mengukur dan menggambarkan bentuk
tegangan VA, VBE, VC dan VE
VCC
12V

R6
R2
3.3kΩ
10kΩ C3

C1 0.1µF
R1 Q1
BC108BP
560Ω 0.1µF
V1
1Vpk R4
1kHz R5 R3 C2
10kΩ
0° 2.2kΩ 1kΩ 1µF

Gambar 4.3.
Rangkaian Common Emitor
E. Tugas Pendahuluan
1. Perhatikan Gambar 4.1. dengan mengacu β BC108 dari datasheet, lengkapilah
tabel berikut ini! Sertakan pula penurunannya!
2. Buatlah kurva hubungan antara IC dan VCE dari data pada no.1. Tentukan terlebih
dahulu titik saturasi dan cut off
3. Perhatikan gambar 4.2. Tentukan titik Q dari rangkaian tersebut! Plot dalam kurva
pada soal no.2!
4. Gambarkan rangkaian ekivalen DC dari rangkaian pada gambar 4.3
5. Perhatikan gambar 4.3. Dengan menggunakan analisis DC tentukan nilai VA, VBE,
VC dan VE
6. Bila rangkaian pada gambar 4.3 diberikan sinyal input AC dengan tegangan 10
mVpp, berapakah nilai dan fase tegangan VA, VBE, VC dan VE?

Simulasi Percobaan
Vi Vbe Vc
8,3 0,663 0,016
16,6 0,661 0,017
24,9 0,659 0,019
33,2 0,658 0,022
41,5 0,656 0,025
49,8 0,654 0,028
58,1 0,652 0,033
66,4 0,65 0,04
74,7 0,648 0,051
83 0,646 0,07
91,3 0,641 1,304
100 1,501µ 11,988

VCC VCC
12V 12V

R2 R5
10kΩ U1 10kΩ U3
+ - + -
0.016 V 0.017 V

R1 R4
1kΩ 8.3 % R3 DC 10MOhm
Q1 1kΩ 16.6 % R6 DC 10MOhm
Q2
Key=A BC108BP Key=A BC108BP
100kΩ 100kΩ
U2 U4
+ - + -
0.663 V 0.661 V

DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC VCC
12V 12V

R8 R11
10kΩ U5 10kΩ U7
+ - + -
0.019 V 0.022 V

R7 R10
1kΩ 24.9 % R9 DC 10MOhm
Q3 1kΩ 33.2 % R12 DC 10MOhm
Q4
Key=A BC108BP Key=A BC108BP
100kΩ 100kΩ
U6 U8
+ - + -
0.659 V 0.658 V

DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC VCC
12V 12V

R2 R5
10kΩ U1 10kΩ U3
+ - + -
0.025 V 0.028 V
R1 R4
1kΩ 41.5 % R3 DC 10MOhm
Q1 1kΩ 49.8 % R6 DC 10MOhm
Q2
Key=A BC108BP Key=A BC108BP
100kΩ 100kΩ
U2 U4
+ - + -
0.656 V 0.654 V

DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC VCC
12V 12V

R8 R11
10kΩ U5 10kΩ U7
+ - + -
0.033 V 0.04 V
R7 R10
1kΩ 58.1 % R9 DC 10MOhm
Q3 1kΩ 66.4 % R12 DC 10MOhm
Q4
Key=A BC108BP Key=A BC108BP
100kΩ 100kΩ
U6 U8
+ - + -
0.652 V 0.65 V

DC 10MOhm DC 10MOhm
VCC VCC
12V 12V

R2 R5
10kΩ U1 10kΩ U3
+ - + -
0.051 V 0.07 V
R1 R4
1kΩ 74.7 % R3 DC 10MOhm
Q1 1kΩ 83 % R6 DC 10MOhm
Q2
Key=A BC108BP Key=A BC108BP
100kΩ 100kΩ
U2 U4
+ - + -
0.648 V 0.646 V

DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC VCC
12V 12V

R8 R11
10kΩ U5 10kΩ U7
+ - + -
1.304 V 11.988 V

R7 R10
1kΩ 91.3 % R9 DC 10MOhm
Q3 1kΩ 100 % R12 DC 10MOhm
Q4
Key=A BC108BP Key=A BC108BP
100kΩ 100kΩ
U6 U8
+ - + -
0.641 V 1.501u V

DC 10MOhm DC 10MOhm

Percobaan 2
Vcc Vce
12 Volt 0,014 V
VCC
12V

R5
10kΩ

R6 Q2 + U1
BC108BP 0.014 V DC 10MOhm
100kΩ -

Percobaan 3
Vcc Va Vbe Vc Ve
12 Volt 2,154 V 0,648 V 7,046 V 1,506 V
VCC
12V
U3
+ -
R6 7.046 V
R2 3.3kΩ
10kΩ DC 10MOhm
C3

C1 0.1µF
R1 Q1
BC108BP
560Ω 0.1µF U2
+ -
0.648 V
U4
+ -
DC 10MOhm
1.506 V
U1
R4
R5 + - R3 DC 10MOhm C2
2.154 V 10kΩ
2.2kΩ 1kΩ 1µF
DC 10MOhm

Percobaan 4
SG 10 Vpp Hasil

Va 311,201 mV
Vbe 1,320 mV

Vc 9,146 V

Ve 398,769 mV
XSC3
VCC
12V Ext Trig
+
_
A B
R6 + _ + _

R2 3.3kΩ
10kΩ C3

C1 0.1µF
R1 Q1
BC108BP
560Ω 0.1µF XSC2

Ext Trig
V1 + XSC4
_
5Vpk A B
1kHz + _ + _
Ext Trig R4
0° R5 R3 + C2
_ 10kΩ
2.2kΩ 1kΩ A B
1µF
XSC1 + _ + _

Ext Trig
+
_
A B
+ _ + _

RANGKAIAN-RANGKAIAN TRANSISTOR
A. Tujuan
1. Mengetahui cara kerja rangkaian darlington
2. Mengetahui cara kerja rangkaian amplifer
3. Rangkaian regulator
B. Teori
Darlington
Pada gambar 5.1 ditunjukkan suatu rangkaian penguat Darlington. Penguat
Darlington ini adalah penguat yang didesain agar menghasilkan harga β yang jauh
lebih besar. Kolektor kedua transistor dihubungkan, emitter pada transistor pertama
mendrive basis transistor kedua. Karena itu β keseluruhan dari penguat Darlington
dirumuskan :
β = β 1 . β2
Keuntungan dari penguat Darlington adalah memiliki Zin (impedansi input)
yang tinggi.
Diferensial Amplifier
Rangkaian dasar penguat diferensial tampak seperti gambar 5.2, yang terdiri
atas dua transistor utama dengan 2 input dan 2 output. Rangkaian tersebut simetris,
transistor Q1 dan Q2 mempunyai karakteristik yang sama. Tahanan beban di kolektor
juga sama. Besarnya tegangan output secara umum dapt dinyatakan dengan
persamaan:
Vout = A (V1 - V2)
Dengan A adalah penguatan masing-masing transistor yang besarnya sama, tegangan
keluarannya akan nol jika kedua tegangan input memiliki besar yang sama.

Regulator
Cara yang sederhana untuk menyempurnakan pengaturan tegangan adalah
dengan regulator zener, seperti pada gambar 5.3. Kelebihan rangkaian tersebut
dibandingkan dengan tanpa rangkaian common emiter adalah arus yang dihasilkan
lebih besar.
Tegangan beban akan tetap sama dengan tegangan zener (dikurangi dengan
tegangan yang jatuh pada transistor V BE ), kecilnya arus pada dioda zener dapat
diatasi oleh penguatan arus transistor (β).
Oleh karena itu regulator tersebut dapat digunakan untuk menggerakkan beban
yang membutuhkan arus besar.
C. Komponen
1. Transistor
2. Resistor
3. Potensiometer
4. Kapasitor
5. Dioda Zener
D. Prosedur Percobaan
1. Rangkaian Darlington
a. Menyusun rangkaian seperti pada gambar
b. Mengatur potensio hingga VA 0 volt, mencatat nilai VB, VC, VD, VE, dan VF
c. Menaikkan nilai VA dengan interval 0.5 volt hingga 5 volt, dan mencatat setiap
perubahan nilai VB, VC, VE, dan VF
VCC
12V

R1
R2 Q1 R4
1kΩ 50 %
BC108BP 10kΩ
Key=A
100kΩ

R3 Q2
BC108BP
100kΩ

R5
22Ω

Gambar 5.1
Rangkaian Darlington
XSC3 VCC XSC2
12V
XSC1
Ext Trig R1 R2 Ext Trig
+ +
_ 12kΩ 12kΩ _
B Ext Trig B
A A
+
+ _ + _ + _ + _
_
A B
+ _ + _
Q1 Q2
XFG2 BC108BP BC108BP XFG1

COM R7 COM

5kΩ 50 %
Key=A

VCC
12V

R6 R5
6.8kΩ 2.2kΩ

Q3
BC108BP

R3 R4
2.2kΩ 2.2kΩ

VCC

12V

Gambar 5.2
Rangkaian Diferensial Amplifier
2. Differensial Amplifier
a. Menyusun rangkaian seperti gambar 5.2
b. Mengukur dan mencatat nilai VA dan VB (sebelum mendapatkan perlakuan)
c. Mengatur potensio 5K sehingga nilai VA = VB
d. Memberi sinyal sinus:
 Vin 1 = 40 mVpp Vin 2 = 40 mVpp
 Vin 1 = 40 mVpp Vin 2 = ground
 Vin 1 = ground Vin 2 = 40 mVpp
 Vin 1 = 40 mVpp Vin 2 = 20 mVpp
 Vin 1 = 20 mVpp Vin 2 = 40 mVpp

Perhatikan bentuk gelombang output untuk koneksi A terhadap 0, B terhadap


0, dan A terhadap B (A kaki + dan B kaki -)

3. Regulator
4. Dari gambar 5.3, menyusun rangkaian tersebut
5. Putar potensio RV sehingga Iout mulai jatuh (drop), (pada Imax, sebelum mulai
turun) pada saat inilah R sama dengan Rmaks dan mencatat nilai Rv.
VCC
12V
U1
+ -
0.387m A

DC 1e-009Ohm R2
R1 50kΩ 0%
3.3kΩ Key=A

Q1

D1
4.7V
R3
10KΩ

Gambar 5.3
Rangkaian Regulator
E. Tugas Pendahuluan
1. Perhatikan gambar 5.1. Dengan menggunakan teori rangkaian penguat Darlington
(harga β untuk BC108 dapat dilihat di data sheet), turunkan persamaan yang
menghubungkan antara input dan output! Kemudian lengkapilah tabel di bawah
ini!
2. Perhatikan gambar 5.2. Dengan menggunakan teori rangkaian persamaan
deferensial, turunkan persamaan yang menghubungkan antara input dan output!
Kemudian lengkapilah tabel berikut ini!
3. Perhatikan gambar 5.2. Dengan menggunakan teori regulator zener, tentukan
besar tegangan beban!

Simulasi Percobaan 1
VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 0.05m V
+ -
R1 R3 4.995 V
1kΩ 0% DC 10MOhm
100kΩ DC 10MOhm
Key=A Q2
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.11n V
+ - + - + -
0.5u V 0.99u V 0.05m V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 0.031 V
+ -
R1 R3 4.995 V
DC 10MOhm
1kΩ 10 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.11n V
+ - + - + -
0.5 V 0.495 V 0.031 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm
VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 0.457 V
+ -
R1 R3 4.995 V
DC 10MOhm
1kΩ 20 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.103u V
+ - + - + -
1 V 0.99 V 0.457 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 0.773 V
+ -
R1 R3 0.092 V
DC 10MOhm
1kΩ 30 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.011 V
+ - + - + -
1.5 V 1.456 V 0.77 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 0.84 V
+ -
R1 R3 0.05 V
DC 10MOhm
1kΩ 40 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.02 V
+ - + - + -
1.999 V 1.59 V 0.8 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 0.904 V
+ -
R1 R3 0.054 V
DC 10MOhm
1kΩ 50 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.029 V
+ - + - + -
2.498 V 1.672 V 0.822 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm
VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 0.965 V
+ -
R1 R3 0.061 V
DC 10MOhm
1kΩ 60 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.038 V
+ - + - + -
2.997 V 1.745 V 0.84 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 1.025 V
+ -
R1 R3 0.069 V
DC 10MOhm
1kΩ 70 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.048 V
+ - + - + -
3.496 V 1.812 V 0.856 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 1.084 V
+ -
R1 R3 0.078 V
DC 10MOhm
1kΩ 80 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.058 V
+ - + - + -
3.997 V 1.877 V 0.871 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm

VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 1.142 V
+ -
R1 R3 0.088 V
DC 10MOhm
1kΩ 90 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.067 V
+ - + - + -
4.498 V 1.94 V 0.886 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm
VCC
5.0V

R2
U3 10kΩ
+ - U4
Q1 1.2 V
+ -
R1 R3 0.097 V
DC 10MOhm
1kΩ 100 % 100kΩ
Key=A Q2 DC 10MOhm
R4

100Ω
U6
U1 U2 U5 + -
R5 0.077 V
+ - + - + -
5 V 2.002 V 0.899 V 22Ω
DC 10MOhm
DC 10MOhm DC 10MOhm DC 10MOhm

Simulasi Percobaan 2
XSC3 VCC XSC2
12V
XSC1
Ext Trig R1 R2 Ext Trig
+ +
_ 12kΩ 12kΩ _
B Ext Trig B
A A
+
+ _ + _ + _ + _
_
A B
+ _ + _
Q1 Q2
XFG2 BC108BP BC108BP XFG1

COM R7 COM

5kΩ 50 %
Key=A

VCC
12V

R6 R5
6.8kΩ 2.2kΩ

Q3
BC108BP

R3 R4
2.2kΩ 2.2kΩ

VCC

12V

Vin 1 Vin 2 Va Vb Vab


40 40
mVpp mVpp

40 groun
mVpp d

groun 40
d mVpp

40 20
mVpp mVpp

20 40
mVpp mVpp

Percobaan 3
VCC
12V
U1
+ -
0.387m A

DC 1e-009Ohm R2
R1 50kΩ 0%
3.3kΩ Key=A

Q1

D1
4.7V
R3 + U2
10KΩ 3.906 V DC 10MOhm
-

Referensi
 Modul Penuntun Praktikum Elektronika I
 Pengertian Transistor
https://teknikelektronika.com/pengertian-transistor-jenis-jenis-transistor/
(Diakses 17 september 2019)
 Fungsi Dioda dan Cara Mengukurnya
https://teknikelektronika.com/fungsi-dioda-cara-mengukur-dioda/
(Diakses 17 september 2019)
 Pengertian Osiloskop
https://teknikelektronika.com/pengertian-osiloskop-spesifikasi-penentu-kinerjanya/
(Diakses 17 september 2019)