Anda di halaman 1dari 25

Makalah Etika Bisnis

HUBUNGAN KARYAWAN – PERUSAHAAN DAN TANGGUNG


JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi yang diampuh

Oleh Bpk. Amir Lukum, S.Pd., MSA)

Oleh:

Kelompok III

KHOFIFA PAPEO (921417047)

SRI FINGKI TOMAYAHU (921417048)


PUPUT PAKAYA (921417170)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2020
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, penulis panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, telah melimpahkan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah berjudul
“Hubungan Karyawan-Perusahaan dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan”. Penulis
dalam penyusunan makalah ini sudah berusaha menyusunnya secara maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan banyak
terima kasih kepada seluruh pihak yang terkait dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari hal tersebut, kami menyadari bahwa masih ada kekurangan dari
makalah ini baik dari susunan kalimat maupun penulisannya. Oleh karena itu kami
menerima dengan ikhlas segala kritik maupun saran dari pembaca sehingga kami
dapat memperbaiki makalah ini.
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Apabila ada
kesalahan kami mohon maaf sebesar-besarnya dan apabila ada kelebihan itu semata-
mata datanya dari Allah SWT. Sekian dan terima kasih.

Gorontalo, Maret 2020


Penulis

Kelompok III
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.........................................................................................................i

KATA PENGANTAR..........................................................................................................ii

DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................3

2.1 Kewajiban Karyawan Terhadap Perusahaan....................................................3


2.2 Kewajiban Perusahaan Terhadap Karyawan....................................................4
2.3 Kasus Tentang Kewajiban Karyawan dan Perusahaan.....................................7
2.4 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.................................................................8
2.5 Kasus Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan........................................10
2.6 Bisnis, Lingkungan Hidup dan Etika................................................................11
2.7 Lingkungan Hidup dan Ekonomi......................................................................12
2.8 Hubungan Manusia Dengan Alam....................................................................13
2.9 Mencari Dasar Etika untuk Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup....14
2.10 Implementasi Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup........................16
2.11Beberapa Kasus Lingkungan Hidup.................................................................18

BAB III PENUTUP..............................................................................................................20

3.1 Kesimpulan.......................................................................................................20
3.2 Saran.................................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................22
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembang industri di era global ini memunculkan banyak dampak
baik itu positif ataupun negatif. Dampak positif dari adanya program
pembangunan industri dalam suatu wilayah adalah terserapnya para sumber
daya manusia yang ada di wilayah tersebut. Sedangkan dampak negatifnya
adalah terjadi eksternalitas yang dihasilkan oleh perusahaan terhadap
lingkungan masyarakat sekitar. Diantaranya adalah terciptanya dampak negatif
yang dapat membuat masyarakat sengsara akibat dari program pembangunan
yang dilakukan perusahaan.
Menyikapi permasalah ini maka dirasa perlu adanya tanggung jawab
sosial perusahan terhadap masyarakat yang perlu diberikan oleh perusahaan
sebagai hasil dari imbal jasa yang perusahaan dapatkan atas eksplorasi dari
wilayah tersebut. Namun, dalam realisasinya tidak semudah yang
dibayangkan, di mana, dalam persaingan industri global, perusahaan berupaya
untuk mengalokasikan biaya serendah mungkin guna mendapatkan
keuntungan semaksimalkan mungkin agar mampu bertahan dalam ketatnya
persaingan global. Oleh karenanya, pemberian tanggung jawab sosial dirasa
kurang cocok bagi perusahaan karena dapat menambah biaya produksi yang
berdampak pada sedikitnya keuntungan yang perusahaan dapatkan.
Meskipun demikian, terdapat berbagai desakan dari para organisasi
dan serikat yang menuntut adanya tanggung jawab sosial perusahaan sebagai
bentuk hasil dari kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat.
Tuntutan ini bukanlah sebuah tututan sederhana begitu saja, sebab perusahaan
atau organisasi memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan yang
dampaknya dirasakan oleh masyarakat. Selanjutnya, tanggung jawab sosial
perusahaan yang diterapkan dapat berdampak pada keberlanjutan perusahaan.
Artinya, terdapat inovasi yang dilakukan oleh perusahaan guna menciptakan
produk yang sekaligus memiliki aspek tanggung jawab sosial perusahaan
seperti penggunaan teknologi dan bahan yang ramah lingkungan dan lain
sebagainya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apa saja yang menjadi kewajiban karyawan terhadap
perusahaan?
2. Apa saja yang menjadi kewajiban perusahaan terhadap
karyawan?
3. Perusahaan apa saja yang menerapkan tentang kewajiban
karyawan dan perusahaan?
4. Bagaimanakah bentuk tanggung jawab social perusahaan?
5. Perusahaan apa saja yang telah menerapkan tanggung jawab
sosialnya?
6. Apa yang menyebabkan terjadinya krisis lingkungan hidup?
7. Bagaimanakah hubungan antara lingkungan hidup dan
ekonomi?
8. Bagaimana hubungan manusia dan alam?
9. Apa saja yang menjadi dasar etika untuk tanggung jawab
terhadap lingkungan hidup?
10. Bagaimanakah implementasi tanggung jawab terhadap
lingkungan hidup?
11. Perusahaan apa saja yang telah menerapkan kepedulian
terhadap lingkungan hidup?
1.3Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan
penulisan dalam makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui kewajiban karyawan terhadap perusahaan
2. Untuk mengetahui kewajiban perusahaan terhadap karyawan
3. Untuk mengetahui perusahaan yang menerapkan tentang
kewajiban karyawan dan perusahaan
4. Untuk memahami bentuk tanggung jawab social perusahaan
5. Untuk mengetahu perusahaan yang telah menerapkan tanggung
jawab sosialnya
6. Untuk mengetahui penyebab terjadinya krisis lingkungan hidup
7. Untuk mengetahui hubungan antara lingkungan hidup dan
ekonomi
8. Untuk memahami hubungan antara manusia dan alam
9. Untuk memahami dasar etika untuk tanggung jawab terhadap
lingkungan hidup
10. Untuk memahami implementasi tanggung jawab terhadap
lingkungan hidup
11. Untuk mengetahui perusahaan yang telah menerapkan
kepedulian terhadap lingkungan hidup
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kewajiban Karyawan terhadap Perusahaan


2.1.1 Tiga kewajiban karyawan yang penting
a. Kewajiban Ketaatan
Bagi orang yang memiliki ikatan kerja dengan perusahaan,
salah satu implikasi dari statusnya sebagai karyawan adalah bahwa ia
harus mematuhi perintah dan petunjuk dari atasannya. Tetapi,
karyawan tidak perlu dan malah tidak boleh mematuhi perintah yang
menyuruh dia melakukan sesuatu yang tidak bermoral.
b. Kewajiban konfidensialitas
Merupakan kewajiban untuk menyimpan informasi yang
bersifat konfidensial atau rahasia. Dalam konteks perusahaan
konfidensialitas memegang peranan penting. Karena seseorang bekerja
pada suatu perusahaan, bisa saja ia mempunyai akses kepada informasi
rahasia. Sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa karyawan
harus menyimpan rahasia perusahaan karena alasan etika mendasari
kewajiban ini yaitu bahwa perusahaan menjadi pemilik informasi
rahasia itu.
c. Kewajiban loyalitas
Dengan mulai bekerja di suatu perusahaan, karyawan harus
mendukung tujuan-tujuan perusahaan, karena sebagai karyawan ia
melibatkan diri untuk turut merealisasikan tujuan-tujuan tersebut, dan
karena itu pula ia harus menghindari segala sesuatu yang bertentangan
dengannya. Dengan kata lain, ia harus menghindari apa yang bisa
merugikan kepentingan perusahaan.
Selain memiliki kewajiban karyawan pun memiliki hak. Hak
itu dicantumkan dalam kontrak kerja, dimana pasti ada ketentuan
bahwa karyawan wajib memberitahaukan satu, dua, tiga bulan
sebelumnya (tergantung posisinya dan kesulitan mencari pengganti),
jika ia ingin meninggalkan perusahaan.
2.1.2 Melaporkan kesalahan perusahaan
Whistle blowing mendapat arti khusus yaitu menarik perhatian dunia
luar dengan melaporkan kesalahan yang dilakukan oleh sebuah organisasi.
Dalam ranah bisnis, whistle blowing dibagi menjadi whistle blowing internal
dan whistle blowing eksternal. Whistle blowing internal merupakan pelaporan
kesalahan di dalam perusahaan sendiri dengan melalui atasan langsung.
Sedangkan whistle blowing eksternal adalah pelaporan kesalahan perusahaan
kepada instansi di luar perusahaan, entah kepada instansi pemerintah atau
kepada masyarakat melalui media komunikasi.
Dari sudut pandang etika, whistle blowing jelas bertentangan dengan
kewajiban loyalitas. Kalau memang diperbolehkan whistle blowing dapat
dipandang sebagai pengecualian dalam bidang kewajiban loyalitas. Dasarnya
adalah kewajiban lain yang lebih mendesak. Jadi, kadang-kadang mungkin ada
kewajiban untuk melaporkan suatu kesalahan demi kepentingan orang banyak.
Meskipun sulit sekali untuk memastikan kapan situasi seperti itu secara
obyektif terealisasi. Pada kenyataannya hati nurani si pelapor harus
memutuskan hal itu, setelah mempertimbangkan semua faktor terkait.
Pelaporan bisa dibenarkan secara moral, bila memenuhi syarat berikut:
1. Kesalahan perussahaan harus besar
2. Pelaporan harus didukung oleh fakta yang jelas dan benar
3. Pelaporan harus dilakukan semata-mata untuk mencegah
terjadinya kerugian bagi pihak ketiga, bukan karena motif lain.
4. Penyelesdaiaan masalah secara internal harus dilakukan dulu,
sebelum kesalahan perusahaan dibawa keluar.
5. Harus ada kemungkinan real bahwa pelaporan kesalahan akan
mencatat sukses.
Adanya whistle blowing selalu menunjukan bahwa perusahaan gagal
dalam menjalankan kegiatannya sesuai dengan tuntutan etika. Asalkan
perusahaan mempunyai kebijakan etika yang konsisten dan konsekuen, semua
kesulitan sekitar pelaporan kesalahan tidak perlu terjadi.
2.2 Kewajiban Perusahaan terhadap Karyawan
2.2.1 Perusahaan tidak boleh mempraktekan diskriminasi
a. Diskriminasi dalam konteks perusahaan
Diskriminasi dimaksudkan membedakan antara berbagai karyawan
karena alasan tidak relevan yang berakar dari prasangka. Deskriminasi terjadi
karena 2 alasan, yang pertama adalah alasan relevan seperti dalam hal
imbalan, bisa terjadi bahwa suatu karyawan mendapat bonus akhir tahun
karena lebih berprestasi daripada karyawan lainnya. Kemudian alasan tidak
relevan, yakni bila beberapa karyawan diperlakukan dengan cara yang
berbeda, karena alasan yang berakar atas suatu pandangan stereotip terhdap
ras, agama atau jenis kelamin bersangkutan.
b. Argumentasi etika melawan diskriminasi
 Dari pihak utilitarisme.
Dikemukakan argumen bahwa diskriminasi merugikan
perusahaan itu sendiri.Jika perusahaan memperhatikan faktor-faktor
lain selain kualitas karyawan ia bisa ketinggalan dalam kompetisi
dengan perusahaan lain. Karena itu perusahaan harus menghindari
diskriminasi demi kepentingannya sendiri.
 Deontologi menyediakan argumentasi lain.
Berpendapat bahwa diskriminasi melecehkan martabat dari
orang yang didikriminasi.Berarti tidak menghormati martabat manusia
yang merupakan suatu pelanggaran etika yang berat.
 Teori keadilan
Berpendapat bahwa praktek diskriminasi bertentangan dengan
keadilan, khususnya keadilan distributif yang menuntut bahwa kita
memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, selama tidak ada
alasan khusus untuk memperlakukan mereka dengan cara yang
berbeda.
c. Beberapa masalah terkait
Masalah yang berkaitan dengan diskriminasi tapi harus
dibedakan dengannya adalah favoritisme. Dalam konteks perusahaan,
favoritisme dimaksudkan kecenderungan untuk mengistimewakan
orang tertentu (biasanya sanak saudara) dalam menyeleksi karyawan,
menyediakan promosi, bonus, fasilitas khusus dll. Seperti diskriminasi,
favoritisme pun memperlukan orang dengan cara tidak sama, tapi
berbeda dengan diskriminasi, favoritisme tidak terjadi karena
prasangka buruk, melainkan justru prefensi dan bersifat positif
(mengutamakan orang-orang tertentu). Favoritisme terjadi, bila
perusahaan mengutamakan karyawan yang berhubungan famili,
berasal dari daerah yang sama, memeluk agama yang sama, dll.
2.2.2 Perusahaan harus menjamin kesehatan dan keselamatan kerja
a. Beberapa aspek keselamatan kerja
Di Indonesia masalah keselamatan dan kesehatan kerja dikenal sebagai
K3 dan banyak perusahaan mempunyai Panitia Pembina Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (P2K3). Sedangkan di Amerika Serikat  didirikan
Occupational Safety and Health Administration (OSHA) untuk mengawaasi
pelaksanaan UU yang bertujuan untuk to assure as far as possible every
working man and woman in the nation safe and healthful working conditions.
b. Pertimbangan etika
Tiga pendasaran segi etika dari masalah perlindungan kaum pekerja.
 The right of survival (hak untuk hidup)
 Manusia selalu diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya dan tidak
pernah sebagai sarana belaka.
 Kewajiban etis harus sejalan dengan cost benefit analysis. Masyarakat
sendiri dan terutama ekonomi negara akan mengalami kerugian besar
jika proses produksi tidak berlangsung dalam kondisi aman dan sehat.
c. Dua masalah khusus
Si pekerja sendiri harus mengambil keputusan, setelah diberi informasi
tentang risiko bagi pekerja. Mereka sendiri harus mempertimbangkan
kesejahteraan ekonomis mereka (gaji yang lebih tinggi) dan resiko bagi
keturunannya. Jika tidak sanggup bisa mengajukan permohonan untuk
dipindahkan ke bagian produksi lain dengan konsekuensi gaji yang lebih
rendah. Begitupun dengan kebijakan yang diterapkan suatu perusahaan,
terkadang secara tidak langsung terlihat memaksakan kepada para pekerja jika
didukung juga oleh suasana resesi ekonomi saat mencari pekerjaan lain
menjadi sulit. Sehingga membuat para pekerja tidak memiliki alternatif lain
dan akhirnya bertahan dengan resiko yang tidak kecil.
2.2.3 Kewajiban memberi gaji yang adil
a. Menurut keadilan distributive
Bahwa dalam menentukan gaji yang adil, baik prestasi maupun
kebutuhan harus berperan. Gaji semua karyawan memang tidak perlu sama,
tetapi perbedaan juga tidak boleh terlalu besar. Jelas pemerataan pendapatan
adalah tuntutan etis yang berkaitan dengan prinsip ini. Prinsip-prinsip hak,
usaha dan kontribusi kepada masyarakat ikut pula menentukan gaji yang adil.
b. Enam faktor khusus
Berikut adalah usulan dari Thomas Garrett dan Richard Klonoski
supaya gaji / upah itu adil / fair:
 Peraturan Hukum
 Upah yang lazim dalam sektor industri tertentu / daerah tertentu
 Kemampuan perusahaan
 Sifat khusus pekerjaan tertentu
 Perbandingan dengan upah / gaji lain dalam perusahaan
 Perundingan upah / gaji yang fair
c. Senioritas dan imbalan rahasia
Senioritas sebagai kriteria untuk menentukan gaji karena dilihat dari
pengalamannya bekerja dengan waktu yang begitu lama dan kesetiaannya
pada perusahaan, zaman sekarang sudah tidak diperhitungkan lagi. Zaman
modern sekarang lebih memperhatikan prestasi dan hak. Pembayaran sama
untuk pekerjaan yang sama memang dilatarbelakangi suasana modern itu dan
karenanya dapat di mengerti jika tekanan pada senioritas akan berkurang.

2.2.4 Perusahaan tidak boleh memberhentikan karyawan dengan semena-


mena
Menurut Garret dan Klonoski, dengan lebih konkret lewajiban majikan
(perusahaan) dalam memberhentikan perusahaan dapat dijabarkan ke dalam 3
poin sebagai berikut:
 Majikan hanya boleh memberhentikan karena alasan yang tepat
 Majikan harus berpegang pada prosedur yang semestinya.
 Majikan harus membatasi akibat negatif bagi karyawan samapai
seminimal mungkin.
2.3 Kasus Tentang Kewajiban Karyawan dan Perusahaan
Berikut adalah beberapa kasus yang terkait dengan Kewajiban Karyawan
dan Perusahaan:
 Donald Wohlgemuth dan Goodrich
 Pertamina vs Ny. Kartika Thahir c.s
 Golden Key Group dan Bapindo. Dll.
2.4 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
2.4.1 Tanggung Jawab Legal dan Tanggung Jawab Moral Perusahaan
Perusahaan memiliki tanggung jawab legal karena sebagai badan
hukum ia memiliki status legal. Karena berbadan hukum, perusahaan memiliki
banyak hak dan kewajiban legal yang dimiliki juga oleh manusia perorangan
dewasa seperti menuntut di pengadilan, dituntut di pengadilan, memiliki milik,
mengadakan kontrak dll. Perusahaan pun harus mentaati peraturan hukum dan
harus memenuhi hukumannya bila terjadi pelanggaran. Singkatnya ia memiliki
tanggung jawab legal.
Lebih lanjut, perusahaan juga merupakan suatu pelaku moral / tidak
memiliki argumen yang pro dan kontra. Di satu pihak harus diakui bahwa
hanya individu / manusia perorangan memiliki kebebasan untuk mengambil
keputusan dan akibatnya hanya individu dapat memikul tanggung jawab. Di
lain pihak sulit juga untuk menerima pandangan bahwa perusahaan hanyalah
semacam benda mati yang dikemudikan oleh manajer. Banyak pertanda yang
menunjukan bahwa perusahaan mempunyai kepribadian tersendiri.
Di antara para ahli etika bisnis terutama Peter French dengan gigih
membela status moral perusahaan. Argumennya, pertama, ada keputusan yang
diambil oleh korporasi yang hanya bisa dihubungkan dengan korporasi itu
sendiri dan tidak beberapa orang yang bekerja untuk korporasi tersebut.
Kedua, korporasi melakukan perbuatan seperti itu dengan maksud (intention)
yang hanya bisa dihubungkan dengan korporasi itu sendiri dan tidak dengan
beberapa orang yang bekerja di korporasi tersebut. Sehingga tidak ada
konsekuensi untuk praktek bisnis sebab seandainya perusahaan sendiri terlepas
dari orang-orang yang bekerja di dalamnya tidak merupakan pelaku moral dan
karena itu tidak bisa memikul tanggung jawab moral, namun pimpinan
perusahaan tetap merupakan pelaku moral dan akibatnya memikul tanggung
jawab moral atas keputusan yang mereka ambil.
2.4.2 Pandangan Milton Friedman tentang Tanggung Jawab
Yang dimaksud disini adalah tanggung jawab moral perusahaan
terhadap masyarakat. Tanggung jawab moral perusahaan bisa diarahkan
kepada banyak hal: kepada diri sendiri, kepada para karyawan, kepada
perusahaan lain, dan sebagainya.  Namun yang paling disoroti adalah
tanggung jawab moral terhadap masyarakat dalam kegiatan perusahaan
tersebut.
Tanggung jawab perusahaan adalah meningkatkan keuntungan menjadi
sebanyak mungkin.  Tanggung jawab ini diletakkan dalam tangan manajer.
Pelaksanaanya tentu harus sesuai dengan aturan-aturan main yang berlaku di
masyarakat, baik dari segi hukum, maupun dari segi kebiasaan etis.
Menurut Friedman maksud dari perusahaan adalah perusahaan publik
dimana kepemilkan terpisah dari manajemen. Para manajer hanya menjalakan
tugas yang dipercayakan kepada mereka oleh para pemegang saham. Sehingga
tanggung jawab social boleh dijalankan oleh para manajer secara pribadi,
seperti juga oleh orang lain, akan tetapi sebagai manajer mereka mereka
mewakili pemegang saham dan tanggung jwab mereka adlah mengutamakan
kepentingan mereka, yakni memperoleh keuntungan sebanyak mungkin.
Friedman menyimpulkan bahwa doktrin tanggung jawab social dari
bisnis merusak system ekomoni pasar bebas. Terdapat satu dan hanya satu
tanggung jawab social untuk bisnis, yakni memanfaatkan sumber dayanya dan
melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang bertujuan meningkatkan
keuntungan, selama masih dalam batas aturan main, artinya melibatkan diri
dalam kompetisi yang terbuka dan bebas tanpa penipuan atau kecurangan.
2.4.3 Tanggung Jawab Ekonomis dan Tanggung Jawab Sosial
Masalah tanggung jawab social perusahaan dapat menjadi lebih jelas,
jika kita membedakan dari tanggung jawab lain. Bisnis selalu mempunya dua
tanggung jawab, yakni tanggung jawab ekonomis dan tanggung jawab social.
Jika Milton Friedman menyebutkan peningkatan keuntungan
perusahaan sebagai tanggung jawab sosialnya, sebenarnya hal ini justru
membicarakan tanggung jawab ekonomi saja, bukan tanggung jawab social.
Kinerja setiap perusahaan menyumbangkan kepada kinereja ekonomi nasioal
sebuah Negara.
Tanggung jawab social perusahaan adalah tanggung jawab terhadap
masyarakat di luar tanggung jawab ekonomis. Secara positif perusahaan bisa
melakukan kegiatan yang tidak membawa keuntungan ekonomis dan semata-
mata dilangsungkan demi kesejahteraan masyarakat atau salah satu kelompok
di dalamnya.  Secara negative perusahaan bisa menahan diri untuk  tidak
melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang sbenarnya menguntungkan dari
segi bisnis, tetapi akan merugikan masyarakat atau sebagian masyarakat.
Dalam mengambil keputusan, perusahaan tentu tidak boleh menutup
mata terhadap akibat-akibat sosialnya., tetapi jika sudah diusahakan perbaikan
ekononomis dan tidak berhasil mereka tidak wajib menerima kerugian
ekonomis itu demi suatu tujuan di luar bisnis.
2.4.4 Kinerja Sosial Perusahaan
Jika kita menyimak sejarah industri, memang ada pengusaha-
pengusaha besar yang memperoleh nama harum bukan saja karena
keberhasilan dibidang bisnis, tetapi juga sebagai filantrop.
Ada beberpa alasan mengapa bisnis menyalurkan sebagian labanya
kepada karya amal melalui yayasan independent. Alasan pertama berkaitan
dengan perusahaan-perusahaan itu berstatus public. Rapat umum pemegang
saham dapat menyetujui bahwa sebagian laba tahunan disisihkan untuk karya
amal sebuah yayasan khusus. Disamping alasan financial seperti pajak,alasan
lain lagi adalah bahwa pemimpin perusahaan tidak bisa ikut campur dalam
urusan suatu yayasan independent, dan dengan demikian bantuan mereka
lebuh tulus, bukan demi kepentingan perusahaan saja.
Upaya kinerja sosial perusahaan sebaiknya tidak dikategorikan sebagai
pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Walaupun  secara langsung
tidak dikejar keuntungan, namun usaha-usaha kinerja social perusahaan ini
tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab ekonomis perusahaan.
Konsepsi kinerja sosial perusahaan ini memang tidak asing terhadap
tanggung jawab ekonomis perusahaan, tetapi konsepsi ini sangat cocok juga
dengan paham stakeholders management.
2.5 Kasus Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
1. Susu formula Nestle
Hanya sebagian kecil ibu-ibu muda tidak dapat menyusui anaknya
sendiri. Maka, untuk membantu mereka pada abad ke-19 dikembangkan susu
formula sebagai pengganti Air Susu Ibu (ASI). Nestle mengkampanyekan
promosi besar-besaran yang akhirnya menurut banyak pengamat melanggar
etika. Beberapa LSM mengadakan aksi melawan Nestle, hingga jutaan orang
dari puluhan negara memboikot semua produk Nestle dan berlangsung selama
enam setengah tahun.Pada Mei 1981,WHO dan UNICEF
menyelenggarakan World Health Assembly, sehingga diterimanya kode etik
pemasaran susu formula. Kode etik yang melarang pemasaran setiap kegiatan
pemasran yang tidak mengakui dengan jelas keunggulan ASI diatas susu
formula. Lama kelamaan Nestle menerima semua ketentuan hingga boikot di
hentikan.
2. Musibah pabrik Union Carbide di Bhopal
Pada 3 desember 1984 terjadi kecelakaan besar dalam pabrik pestisida
milk Union Carbide di kota Bhopal, India. Timbul pertanyaan siapa yang
bertanggung jawab atsa kejadian tragis ini. Kecelakaan yang disebabkan oleh
beberapa faktor berbeda yang memainkan peran skaligus. Sebagai pemilik
mayoritas saham, Union Carbide Amerika mempunyai tanggung jawab
khusus. Pada saat itu ditemukannya kekurangan pada tangki-tangki MIC,
sehingga hal ini diperbaiki saat kecelakaan. Terdapat lima system pengaman
tangki yang bisa mencegah kecelakaan.
3. Pabrik Multi Bintang Surabaya
Membangun fasilitas pengolahan limbah di Surabaya pada 1984,
sehingga tidak akan ada pengaduan dan protes masyarakat terhadap limbah.
2.6 Bisnis, Lingkungan Hidup, Dan Etika
2.6.1 Krisis Lingkungan Hidup
Masalah sekitar lingkungan hidup baru mulai disadari sepenuhnya
pada tahun 1960-an. Sekaligus disadari pula bahwa masalah itu secara
langsung / tidak langsung disebabkan oleh bisnis modern, khususnya oleh cara
berproduksi dalam industri yang berlandaskan ilmu dan teknologi maju.
Industri mengakibatkan timbulnya kota-kota yang suram dan kotor. Sekarang
polusi yang disebabkan oleh bisnis modern mencapai suatu tahap global dan
tidak terbatas pada beberapa daerah industri saja. Kita sungguh-sungguh
mengalami krisis lingkungan hidup akibat pencemaran dan perusakan
lingkungan, kelanjutan hidup sendiri terancam di bumi kita, termasuk hidup
manusia. Terutama ada 6 problem yang dengan jelas menunjukan dimensi
global masalah lingkungan hidup. Antara lain:
a. Akumulasi bahan beracun
b. Efek rumah kaca
c. Perusakan lapisan ozon
d. Hujan asam
e. Deforestasi dan penggurunan
f. Keanekaragaman hayati
2.7 Lingkungan Hidup dan Ekonomi
2.7.1 Lingkungan hidup sebagai “the commons”
The commons adalah ladang umum yang dulu dapat ditemukan dalam
banyak daerah pedesaan di Eropa dan dimanfaatkan secara bersama-sama oleh
semua penduduknya.  Sering kali diartikan padang rumput yang dipakai oleh
semua penduduk kampung sebagai tempat pengangonan bagi ternaknya.lam
zaman modern, seiring bertambahnya penduduk sistem itu tidak bisa
dipertahankan lagi dan ladang umum itu diprivatisasi dengan menjualnya
kepada penduduk perorangan. Kejadian itu merupakan suatu perubahan sosial-
ekonomi yang besar antara lain karena menjadi awal mula pemilikan tanah
dalam kuantitas besar oleh orang kaya (the landlords).
Menurut Hardin, masalah lingkungan hidup dan masalah
kependudukan dapat dibandingkan dengan proses menghilangnya the
commons. Solusi teknis hanya bersifat sementara dan tidak menangani
masalahnya pada akarnya. Jalan keluar yang efektif terletak di bidang moral,
yakni dengan membatasi kebebasan. Solusi itu memang bersifat moral karena
pembatasan kebebasan harus dilaksanakan dengan adil. Membiarkan
kebebasan dari semua orang justru akan mengakibatkan kehancuran bagi
semua orang.
The tragedy of commons dapat dipandang sebagai kebalikannya dari
the invisible hand menurut Adam Smith . Smith berpendapat bahwa
kemakmuran umum dengan sendirinya akan terwujud, jika semua orang
mengejar kepentingan diri di pasar bebas. Tetapi jika semua orang mengejar
kepentingan diri masing-masing dalam konteks lingkungan hidup, tidak akan
dihasilkan kemakmuran umum, melainkan kehancuran bersama.
2.7.2 Lingkungan Hidup tidak lagi eksternalis
Sumber daya alam pun ditandai dengan kelangkaan. Akibatnya, faktor
lingkungan hidup pun termasuk urusan ekonomi, karena ekonomi adalah
usaha untuk memanfaatkan barang yang langka dengan cara paling efisien,
sehingga bisa dinikmati semua peminat. Kini environmental economics
diterima sebagai suatu cabang penting dari ilmu ekonomi.
Karena sumber daya alam pun barang langka dan harus diberi suatu
harga ekonomis, komponen-komponen lingkungan hidup itu tidak lagi
merupakan eksternalities. Maksudnya adalah faktor-faktor yang sebenarnya
bersifat ekonomis, tapi tetap tinggal di luar perhitungan ekonomis.
Eksternalitas seperti itu mengakibatkan pasar menjadi tidak sempurna.
Sekarang lebih mudah disetujui bahwa efek atas lingkungan hidup itu
tidak lagi boleh diperlakukan sebagai eksternalitas ekonomis. Bukan saja dari
sudut moral, tetapi dai sudut ekonomis pun hal itu tidak sehat. Namun
demikian belum disetujui bagaimana sebaiknya faktor lingkungan
diperhitungkan secara ekonomis.
2.7.3 Pembangunan berkelanjutan
Ekonomi selalu menekankan perlunya pertumbuhan. Ekonomi yang
sehat merupakan ekonomi yang tumbuh. Makin besar pertumbuhan, semakin
sehat pula kondisi ekonomi tersebut. Kapasitas alam untuk menampung
tekanan dari polusi udara, air, degradasi tanah dsb, tidak dapat diimbangi
dengan teknologi baru. Ekonomi harus memikirkan kemungkinan “zero
growth” atau tidak pertumbuhan sama sekali.
Sebuah langkah penting dalam refleksi tentang konsekuensi masalah
lingkungan hidup untuk ekonomi adalah laporan dari World Commision on
Environment and Development (WCED) yang diberi judul Our Common
Future (Masa Depan kita bersama) tahun 1987. Disebut juga The Brundtland
Report yang mempopulerkan pengertian sustainable development
(pembangunan yang berkelanjutan). Sedangkan WCED mendefinisikan
pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dari generasi sekarang, tanpa membahayakan
kesanggupan generasi-generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan mereka sendiri.
2.8 Hubungan Manusia dengan Alam
Pada dasarnya manusia adalah sebagian alam. Pandangan modern tentang
alam yang dibutuhkan adalah antroposentris karena menempatkan manusia dalam
pusatnya. Aliran dalm filsafat lingkungan yang dengan paling radikal mengemukakan
pandangan ini adalah deep ecology. Gagasan itu pertama kali dikemukakan oleh filsuf
Norwegia, Arne Naess. Deep ecologysangat menekankan kesatuan alam. Semua
makhluk hidup termasuk manusia tercantum dalam alam menurut relasi-relasi
tertentu.
Deep ecology harus dibedakan dari shallow ecology, ekologi dangkal. Ekologi
dangkal itu tidak pernah sampai pada akar masalah-masalah lingkungan hidup dan
hanya mengakui nilai instrumental dari alam. Berikut adalah 8 prinsip sebagai
pandangan yang rata-rata dianut oleh pendukung ekologi dalam :
1. Kesejahteraan dan keadaan baik dari kehidupan manusiawi maupun bukan
manusiawi di bumi memiliki nilai intrinsik.
2. Kekayaan dan keanekaan bentuk-bentuk hidup menyumbangkan kepada
terwujudnya nilai-nilai ini dan merupakan nilai-nilai sendiri.
3. Manusia tidak berhak mengurangi kekayaan dan keanekaan ini, kecuali untuk
memenuhi kebutuhan vitalnya.
4. Keadaan baik dari kehidupan dfan kebudayaan manusia dapat dicocokan
dengan dikuranginya secara substansial jumlah penduduk.
5. Campur tangan manusia dengan dunia bukan manusiawi kini terlalu besar dan
situasi memburuk dengan pesat.
6. Kebijakan umum harus berubah yang harus menyangkut struktur-struktur
dasar di bidang ekonomi, teknologis dan ideologis.
7. Perubahan ideologis adalah terutama menghargai kualitas kehidupan.
8. Berkewajiban secara langsung dan tidak langsung untuk berusaha mengadakan
perubahan yang diperlukan.
Pandangan ekosentris adalah benar sejauh manusia tidak mungkin dilepaskan
dari alam. Perlu diakui alam memiliki nilai intrinsik yang tidak tergantung kepada
manfaatnya untuk manusia. Maka tidak boleh jatuh dalam ekstrim lain yakni
ekofasisme di mana manusia sebagai individu dikorbankan kepada alam sebagai
keseluruhan. Namun demikian, dengan mengenakan martabat istimewa kepada
pribadi manusia, martabat alam tidak dikurangi sedikitpun tetapi justru ditingkatkan. 
Karenas itu manusia adalah makhluk yang memiliki tanggung jawab moral. Melalui
manusia, alam bertanggung jawab atas nasibnya sendiri.
2.9 Mencari Dasar Etika untuk Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup
Dasar etika untuk tanggung jawab manusia itu sendiri disajikan oleh beberapa
pendekatan berbeda, anatara lain :
1. Hak dan deontology
Manusia berhak atas lingungan yang berkualitas karena ia mempunyai
hak moral atas segala sesuatu yang perlu untuk hidup dengan pantas sebagai
manusia, artinya yang memungkinkan dia memenuhi kesanggupan sebagai
makhluk yang rasional dan bebas.
2. Utilitarisme
Teori ini bisa menunjukan jalan keluar bagi beberapa kesulitan yang
dalam hal ini ditimbulkan oleh pandangan hak. Menurut teori ini suatu
perbuatan dipandang baik kalau membawa kesenangan paling besar untuk
jumlah orang paling besar / dengan kata lain kalau memaksimalkan manfaat.
Jelas, pelestarian lingkungan hidup membawa keadaan paling menguntungkan
untuk seluruh umat manusia, termasuk juga generasi-generasi yang akan
datang. Sehingga lingkungan hidup tidak boleh lagi diperlakukan sebagai
suatu eksternalitas ekonomis.
3. Keadilan
Keadilan di sini harus dipahami sebgai keadilan distributif, artinya
keadilan yang mewajibkan untuk membagi dengan adil. Lingkungan hidup
pun menyangkut soal kelangkaan dan karena itu harus dibagi dengan adil. Hal
itu dapat dijelaskan dengan 3 cara untuk mengaitkan keadilan dengan masalah
lingkungan hidup:
a. Persamaan.
Lingkungan hidup harus dilestarikan karena hanya dengan cara
memakai sumber daya alam itulah memajukan persamaan (equality)
sedangkan cara memanfaatkan alam yang merusak lingkungan
mengakibatkan ketidaksamaan karena membawa penderitaan
tambahan khusunya untuk orang kurang mampu.
b. Prinsip penghematan adil
John Rawls merumuskan the just savings principle yang artinya kita
harus menghemat dalam memakai sumber daya alam, sehingga masih
tersisa bagi generasi-generasi yang akan datang. Karena itu dalam
posisi asali, semua generasi akan menerima prinsip penghematan adil
sebagai cara yang adil untuk membagi.
c. Keadilan social
Kini sudah tampak beberapa gejala yang menunjukan bagaimana
lingkungan hidup memang mulai disadari sebagai masalah keadilan
sosial yang berdimensi global. Meskipun para individu masing-masing
tidak berdaya, itu tidak berarti bahwa manusia perorangan sebaiknya
diam saja. Tetap aktual seperti semboyan yang dilontarkan Rene
Dubos: think globally but act locally. Sehingga jika dipraktekan
bersama-sama berdasarkan kesadaran umum pada skala besar, pasti
dapat dicapai kemajuan besar dalam memperbaiki dan melestarikan
lingkungan hidup.
2.10 Implementasi Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Hidup
Tanggung jawab moral untuk melindungi lingkungan harus dipertimbangkan
terhadap faktor-faktor lain, khususnya kegiatan-kegiatan ekonomis seperti berikut ini :
1. Siapa harus membayar ?
Dalam konteks bisnis setiap tindakan untuk melindungi atau
memperbaiki lingkungan mempunyai konsekuensi finansial juga.
Pertanyaannya kepada siapa finansial tersebut harus dibebankan. Pertama, the
polluter pays (si pencemar membayar). Orang atau perusahaan yang
mengakibatkan pencemaran harus juga menanggung biaya untuk
membersihkannya. Namun dalam prakteknya sangat sulit diterapkan karena
kuantitas disini mengakibatkan perubahan kualitas. Kedua yaitu those who
will  benefit from environment improvement should pay the costs, yang ingin
menikmati lingkungan bersih harus menanggung juga biayanya. Namun pada
kenyataannya  prinsip ini tidak menghiraukan tanggung jawab.
Kesimpulannya jawaban yang tepat adalah yang pertama dengan
tekanan lebih besar. Lingkungan yang bersih dan sehat memang menjadi
tanggung jawab kita semua tapi terutama yang mengakibatkan polusi.
2. Bagaimana beban dibagi ?
Beban finansial dapat dibagi dengan fair jika dilakukan oleh
pemerintah dengan bekerja sama dengan bisnis.Bisa juga dengan
memanfaatkan instrumen ekonomis seperti mekanisme pasar. Terutama 3 cara
telah diusahakan yang masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan.
a. Pengaturan
Kekuatan pengaturan kelebihannya adalah pelaksanaanya bisa
dipaksakan secara hukum. Bagi yang melanggar ada sanksinya. Tetapi
kelemahannya:
 Pelaksanaan kontrol terhadap peraturan-peraturan macam itu
menuntut tersedianya teknologi tinggi serta personel berkualitas
sehingga mahal.
 Pengontrolan efektif menjadi suatu kesulitan ekstra untuk
negara-negara berkembang.
 Meskipun bisa diterapkan dengan cara egalitarian untuk semua
industri dan karena itu harus dianggap fair tetapi dilain pihak
situasi semua industri dan lokasi tidak sama sehingga
penerapan norma-norma yang sama kadang-kadang menjadi
tidak efektif.
 Pengaturan di bidang polusi industri dapat menimbulkan suatu
sikap minimalistis pada bisnis.
 Pengaturan ketat bisa menimbulkan efek negatif untuk
ekonomi.
b. Insentif
Cara menangani biaya perbaikan lingkungan yang menemui
lebih banyak simpati pada bisnis adalah emmberikan insentif kepada
industri yang bersedia mengambil tindakan khusus untuk melindungi
lingkungan / insentif berupa penghargaan bagi perusahaan yang
mempunyai jasa khusus dalam memperbaiki lingkungan. Kekuatannya
adalah peranan pemerintah dapat dikurangi dan inisiatif bebas dari
bisnis dimajukan sehingga penutupan perusahaan / perpindahan pabrik
ke tempat lain dapat dihindari. Tetapi kelemahannya :
 Metodenya berjalan dengan perlahan-lahan.
 Menguntungkan para pencemar.
c. Mekanisme harga
Mereka yang mementingkan ekonomi pasar bebas cenderung
memasang harga pada polusi yang disebabkan industri. Sehingga cara
berproduksi yang paling bersih menjadi juga cara berproduksi yang
paling murah. Mekanisme harga itu memungkinkan lagi beberapa
variasi sesuai dengan situasi. Keuntungannya, yang harus membayar
adalah si pencemar namun kelemahannya berarti secara implisit tetap
mengizinkan polusi dan perusakan lingkungan. Dengan demikian
hanya toleransi ekonomis dari masyarakat dipertimbangkan bukan
toleransi alam / kemampuan alam untuk membersihkan diri.
Sehingga dapat disimpulkan dari 3 metode untuk membiayai
perusakan lingkungan tadi tidak ada yang memuaskan 100 % karena
terdapat kelemahan dan kelebihannya masing-masing.
3. Etika dan hukum lingkungan hidup
Apa yang berlaku tentang etika bisnis pada umumnya berlaku pula
mengenai masalah lingkungan hidup.Pebisnis belum tentu memenuhi norma
etika berpegang pada aturan-aturan hukum.Memang benar sebagian besar
hukum mempertegas norma-norma etika tetapi hal itu tidak berarti bahwa
hukum menampung semua nilai dan norma etika. Etika secara logis
mendahului hukum dan refleksi etis selalu mendampingi dan menilai hukum.
Lingkungan hidup hanya bisa dilindungi dengan baik jika tercipta peraturan
hukum yang efektif dan lengkap demi tujuan itu. Mestinya bisnis membantu
dalam membuat sistem peraturan hukum lingkungan yang baik. Tetapi jika
bisnis memiliki tanggung jawab moral dalam arti kewajiban positif untuk
memajukan kepentingan lingkungan hidup, hal itu tidak berarti bahwa seluruh
tanggung jawab harus dipikul oleh produsen saja. Produsen dan konsumen
bersama-sama memikul tanggung jawab itu.Sangat diharapkan kesadaran
lingkungan pada konsumen akan bertambah besar. Jumlah produsen dalam
masyarakat sangat terbatas sedangkan jumlah konsumen luas sekali sehingga
pengaruhnya besar pula.
2.11 Beberapa Kasus Lingkungan Hidup
1. Musibah reaktor nuklir di Chernobyl Pada 26 april 1986 dini hari terjadi
kecelakaan dahsyat dengan reaktor no. 4 di kompleks Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklir di Chernobyl, Ukraina, suatu republik dari Uni Soviet.
Kecelakaan terjadi dalam rangka menguji run down system-nya, yang
dikombinasikan dengan pemeliharaan dan pengisian beberapa elemen.
2. PT. Inti Indorayon Utama dan Danau Toba Pada 19 Maret 1999 Presiden B.J.
Habibie memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan operasional
industri bubur kertas (pupl) yang berlokasi di Sosor Ladang, Kecamatan
Porsea, Kabupaten Toba Samosir.  Penutupan pabrik PT. IIU diperintahkan
sebagai percobaan meredakan keresahan masyarakat, karena menjadi
penyebab utama kerusakan lingkungan sekitar Danau Toba, yang permukaan
airnya menurun drastis.
3. Kecelakaan kapal tangki Exxon Valders Kecelakaan paling besar dalam
sejarah Amerika Serikat terjadi pada malam 23-24 Maret 1989, ketika kapal
tangki raksasa Exxon Valders, milik perusahaan minyak Oxxon, kandas pada
Bligh Reef dalam selat Prince William Sound, Alaska. Kira-kira 41 juta liter
minyak bumi, hanya 27 persen muatan mengalir kelaut dan mencemari
kawasan ekologis yang sangat berharga itu.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka kesimpulan dari makalah ini adalah :
1. Kewajiban karyawan terhadap perusahaan terdiri dari kewajiban
ketaatan, konfidensialitas, dan loyalitas. Melaporkan kesalahan
perusahaan pun menjadi kewajiban dari karyawan tersebut.
2. Sedangkan kewajiban perusahaan terhadap karyawan yaitu perusahaan
tidak boleh mempraktekan deskriminasi, perusahaan harus menjamin
kesehatan dan keselamatan kerja, kewajiban member gaji yang adil,
dan perusahaan tidak boleh memberhentikan karyawan dengan
semena-mena.
3. Perusahaan yang telah menerapkan kewajiban karyawan dan
perusahaan salah satunya adalah Donald Wohlgemuth dan Godrich.
4. Tanggung jawab social perusahaan terdiri dari tanggung jawab legal
dan tanggung jawab moral perusahaan. Adapun pandangan Milton
tentang tanggung jawab social ialah moral perusahaan terhadap
masyarakat. Tanggung jawab ekonomis dan tanggung jawab social
serta kinerja perusahaan merupakan bagian dari bentuk tanggung
jawab social suatu perusahaan.
5. Perusahaan yang telah menerapkan tanggung jawab social
perusahaannya salah satunya yaitu susu formula produksi Nestle.
6. Krisis lingkungan hidup baru mulai disadari pada tahun 1960-an
dimana hal itu disebabkan oleh bisnis modern, khususnya oleh cara
berproduksi dalam industri yang berlandaskan ilmu dan teknologi maju
7. Hubungan antara lingkungan hidup dan ekonomi yaitu bahwa
lingkungan hidup sebagai the commons, lingkungan hidup tidak lagi
eksternalis dan pembangunan yang berkelanjutan.
8. Hubungan manusia dengan alam adalah pada dasarnya manusia adalah
sebagian alam yang dimana pandangan modern tentang alam yang
dibutuhkan adalag antroposentris karena menempatkan manusia pada
pusatnya.
9. Dasar etika untuk tanggung jawab manusia itu sendiri terdiri dari
beberapa pendekatan diantaranya yaitu hak dan dentology serta
keadilan.
10. Implementasi tanggung jawab terhadap lingkungan harus
dipertimbangkan terhadap factor-faktor lain khususnya kegiatan
ekonomis.
11. Perusahaan yang terkait dengan lingkungan hidup salah satunya yaitu
musibah reactor nuklir di chearnobyl pada tahuh 1986.
3.2 Saran
Saran dari penulis semoga untuk pembuatan makalah selanjutnya dapat
menggunakan tambahan referensi lain baik dari buku, jurnal maupun browsing
internet lainnya sehingga dapat menambah pengetahuan tentang hubungan
karyawan-perusahaan dan tanggung jawab social perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.jatikom.com/contoh-kata-pengantar-makalah-terlengkap/
https://rumahsalmon.blogspot.com/2018/11/makalah-etika-bisnis-dan-
tanggung-jawab.html
https://www.coursehero.com/file/26614795/Resume-Hubungan-
Karyawan-Perusahaan-dan-Tanggung-Jawab-Sosial-Perusahaandocx/
https://www.academia.edu/28859416/HUBUNGAN_KARYAWAN_PERU
SAHAAN_DAN_TANGGUNG_JAWAB_SOSIAL_PERUSAHAAN