Anda di halaman 1dari 52

PEDOMAN

PERENCANAAN KEBUTUHAN
KEPALA SEKOLAH

DIREKTORAT PEMBINAAN TENAGA KEPENDIDIKAN


DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2019
KATA PENGANTAR

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2018 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah
memberikan arah perubahan secara organisatoris dalam berbagai hal. Salah satu di
antaranya adalah penegasan dalam perencanaan kebutuhan dan mutasi tenaga
kependidikan yang telah melahirkan Subdirektorat baru di lingkungan Direktorat
Pembinaan Tenaga Kependidikan, yaitu Subdirektorat Perencanaan Kebutuhan dan
Pemindahan. Subdirektorat tersebut mempunyai tugas melaksanakan penyiapan
bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria,
bimbingan teknis, dan supervisi di bidang perencanaan dan fasilitasi pengendalian
kebutuhan, dan mutasi lintas daerah provinsi tenaga kependidikan pada pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan khusus. Dalam penyelenggaraan
pendidikan di sekolah, selain guru, maka tenaga kependidikan merupakan
komponen yang sangat menentukan dalam keberhasilan penyelenggaraan
pendidikan.

Tenaga kependidikan, yang terdiri dari pengawas sekolah, kepala sekolah, tenaga
laboratorium sekolah, tenaga perpustakaan sekolah, dan tenaga administrasi
sekolah, merupakan bagian integral dalam sistem pendidikan nasional. Oleh karena
itu tenaga kependidikan harus terpenuhi baik secara kuantitas maupun kualitas di
setiap satuan pendidikan di Indonesia.

Berkaitan dengan hal tersebut, Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Ditjen


Guru dan Tenaga Kependidikan menyusun Perencanaan Kebutuhan Tenaga
Kependidikan. Pedoman ini disusun sebagai acuan dalam menyusun dan
mengembangkan program perencanaan kebutuhan kepala sekolah.

Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam


penyusunan buku ini.

Jakarta, Mei 2019


Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan,

Dr. Santi Ambarukmi, M.Ed


NIP. 196508101989022001

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah i


DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................................. 1
B. Dasar Hukum..................................................................................................... 2
C. Tujuan ................................................................................................................ 4
D. Sasaran............................................................................................................... 4
E. Manfaat .............................................................................................................. 5
F. Ruang Lingkup Pedoman ................................................................................. 5
BAB II PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH .......................................... 6
A. Pengertian ......................................................................................................... 6
B. Tujuan ................................................................................................................ 7
C. Prinsip................................................................................................................ 7
D. Manfaat .............................................................................................................. 8
E. Ruang Lingkup Perencanaan ........................................................................... 8
BAB III PROSEDUR PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH .................... 9
A. Analisis Jabatan dan Beban Kerja .................................................................... 9
B. Faktor Penentu Kebutuhan ............................................................................ 10
C. Cara Menghitung Kebutuhan Kepala Sekolah .............................................. 12
D. Penyajian Data Dasar Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah ....................... 20
E. Pemetaan Kebutuhan Kepala Sekolah .......................................................... 24
F. Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah ............................................................ 24
BAB IV ORGANISASI PELAKSANA PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA
SEKOLAH ......................................................................................................... 26
A. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan .................................................. 26
B. Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota .............................................. 26
C. Badan Kepegawaian Daerah/Badan Kepegawaian, Pendidikan dan
Pelatihan .......................................................................................................... 28
BAB V PENJAMINAN MUTU PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH .... 29
A. Perencanaan Penjaminan Mutu ..................................................................... 29
B. Pelaksanaan Penjaminan Mutu ..................................................................... 30

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah ii


C. Pendampingan ................................................................................................ 33
BAB VI PENUTUP ......................................................................................................... 34
Lampiran 1. Daftar Isian Analisis Jabatan Kepala Sekolah .................................... 35
Lampiran 2. Format Penghitungan Beban Kerja .................................................... 44
Lampiran 3. Contoh Simulasi ................................................................................... 45

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah iii


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu majunya suatu bangsa.


Tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan peserta didik agar mereka
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Fungsi Pendidikan Nasional
berdasar pada Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Dengan demikian, pendidikan yang baik akan menghasilkan
sumber daya manusia yang berkemampuan bersaing dengan bangsa-bangsa
yang lain. Sumber daya utama yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan
pendidikan yang berkualitas adalah guru dan tenaga kependidikan.

Keberadaan tenaga kependidikan, yang terdiri dari pengawas sekolah, kepala


sekolah, tenaga laboratorium sekolah, tenaga perpustakaan sekolah, dan tenaga
administrasi sekolah, merupakan bagian integral dalam sistem pendidikan
nasional. Tenaga kependidikan sangat menunjang pencapaian tujuan
pendidikan nasional. Oleh karena itu tenaga kependidikan harus terpenuhi baik
secara kuantitas maupun kualitas di setiap satuan pendidikan di Indonesia.

Pemenuhan kebutuhan tenaga kependidikan untuk saat ini dan periode


tertentu ke depan memerlukan perencanaan yang baik dengan
mempertimbangkan berbagai aspek. Perencanaan kebutuhan tenaga
kependidikan tidak hanya berkaitan dengan kuantitas, tetapi juga terkait
dengan kualitas yang dibutuhkan. Hasil analisis kebutuhan dan beban kerja
memegang peranan yang penting untuk pengadaan tenaga kependidikan yang
berkualitas dengan tepat, misalnya perekrutan, pendistribusian, dan mutasi
sesuai dengan kebutuhan. Jika perencanaan kebutuhan tidak dilakukan dengan
baik dan benar, maka pemenuhan kebutuhan tenaga kependidikan tidak dapat
terealisasi dengan baik. Hal ini tampak dari fakta ditemukannya distribusi
tenaga kependidikan yang kurang merata atau terjadi penumpukan di daerah
tertentu, sementara di daerah lain masih sangat kekurangan. Apabila kondisi

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 1


seperti ini tidak segera diatasi akan berdampak pada terjadinya penurunan
kualitas pendidikan secara nasional.

Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan


Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyusun
Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah sebagai arah dalam
penyusunan dan pengembangan program perencanaan dan mutasi kepala
sekolah ke depan untuk mengatasi berbagai masalah pemenuhan kepala
sekolah sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan.

B. Dasar Hukum

Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah dikembangkan dengan


memperhatikan beberapa peraturan sebagai berikut:

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional;
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara;
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi Pegawai
Negeri Sipil;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang
Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil;
8. Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 13 Tahun 2003
tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 9
Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan
Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil;

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 2


9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang
Standar Kepala Sekolah/Madrasah;
10. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang
Standar Pengelolaan Pendidikan Dasar dan Menengah;
11. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya;
12. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 13 Tahun 2019 tentang Pengusulan, Penetapan, dan
Pembinaan Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil;
13. Peraturan Kepala BKN Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pedoman
Pelaksanaan Analisis Jabatan;
14. Peraturan Kepala BKN Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman
Pelaksanaan Evaluasi Jabatan PNS;
15. Peraturan Kepala BKN Nomor 37 Tahun 2011 tentang Pedoman Penataan
Pegawai Negeri Sipil;
16. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2018
tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah;
17. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2018
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan;
18. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 Tahun 2018
tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas
Sekolah;
19. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2019
tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah;
20. Peraturan Kepala BKN Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pedoman
Pelaksanaan Analisis Jabatan;
21. Peraturan Kepala BKN Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum
Penyusunan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil;
22. Peraturan Kepala BKN Nomor 21 Tahun 2011 tentang Pedoman
Pelaksanaan Evaluasi Jabatan PNS;
23. Peraturan Kepala BKN Nomor 37 Tahun 2011 tentang Pedoman Penataan
Pegawai Negeri Sipil;

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 3


24. Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 5 Tahun 2019 tentang Tata
Cara Pelaksanaan Mutasi;dan
25. Peraturan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 26017/B.B1.3/HK/2018 tentang
Petunjuk Teknis Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah.

C. Tujuan

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah disusun dengan tujuan


sebagai:
1. acuan bagi pejabat pembina kepegawaian pusat dan daerah, Badan
Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), kepala
Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bidang pendidikan di provinsi/
kabupaten/kota, dan pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya dalam
perencanaan kebutuhan kepala sekolah; dan
2. pedoman untuk menyamakan persepsi bagi pejabat pembina kepegawaian
pusat dan daerah, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bidang
Pendidikan di provinsi/kabupaten/kota, dan pemangku kepentingan lainnya
(stakeholder) dalam perencanaan kebutuhan kepala sekolah.

D. Sasaran

Pedoman ini dibuat untuk memberikan informasi tentang perencanaan


kebutuhan kepala sekolah kepada:

1. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


khususnya Subdirektorat Perencanaan Kebutuhan dan Pemindahan Tenaga
Kependidikan.
2. Pemerintah daerah, khususnya pembina kepegawaian, Badan Kepegawaian
dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), kepala Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) bidang pendidikan di provinsi/kabupaten/kota,
dan pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya.
3. Satuan pendidikan di provinsi/kabupaten/kota yang akan melakukan
perencanaan kebutuhan kepala sekolah.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 4


E. Manfaat

Pedoman ini disusun untuk memberikan informasi dan rambu-rambu bagi para
pemangku kepentingan dalam menyelenggarakan perencanaan kebutuhan
kepala sekolah.

F. Ruang Lingkup Pedoman

Ruang lingkup Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah meliputi:


pengertian, tujuan, prinsip, manfaat, mekanisme, organisasi pelaksana, dan
penjaminan mutu perencanaan kebutuhan kepala sekolah.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 5


BAB II
PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH

A. Pengertian

1. Kepala Sekolah adalah guru yang diberi tugas untuk memimpin dan
mengelola satuan pendidikan yang meliputi taman kanak-kanak (TK),
taman kanak-kanak luar biasa (TKLB), sekolah dasar (SD), sekolah dasar
luar biasa (SDLB), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah
pertama luar biasa (SMPLB), sekolah menengah atas (SMA), sekolah
menengah kejuruan (SMK), sekolah menengah atas luar biasa (SMALB),
sekolah menengah kejuruan luar biasa (SMKLB), atau Sekolah Indonesia di
Luar Negeri (SILN).
2. Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah adalah proses yang
merumuskan program, kegiatan, strategi mewujudkan tujuan dan
mengembangkan aktifitas kerja organisasi.
3. Mekanisme Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah adalah cara atau
prosedur/tahapan dalam menyusun kebutuhan kepala sekolah yang
mencakup analisis jabatan, analisis beban kerja, dan faktor penentu dengan
mempertimbangkan formulasi penghitungan dan pemetaannya pada
daerah tertentu.
4. Penghitungan dan Pemetaan Kebutuhan Kepala Sekolah adalah proses
menghitung, memotret kebutuhan dan mendapatkan data untuk pemetaan
kepala sekolah pada wilayah atau daerah tertentu dan/atau seluruh
wilayah Indonesia.
5. Analisis Jabatan adalah proses pengumpulan, pencatatan, pengolahan dan
penyusunan data jabatan menjadi informasi jabatan.
6. Analisis Beban Kerja adalah suatu proses yang dilakukan secara
sistematis untuk mengetahui jumlah orang yang diperlukan berdasarkan
sejumlah target pekerjaan atau target hasil yang harus dicapai dalam satu
satuan waktu tertentu.
7. Pemetaan Kebutuhan Kepala Sekolah merupakan kegiatan merumuskan
rincian kebutuhan kepala sekolah berdasarkan hasil perhitungan yang
dihubungkan dengan jumlah sekolah yang ada.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 6


B. Tujuan

Perencanaan kebutuhan kepala sekolah disusun untuk:

1. menghitung jumlah kebutuhan kepala sekolah dalam periode lima (5)


tahun dengan rincian kebutuhan setiap tahunnya,
2. memetakan kebutuhan kepala sekolah pada setiap jenjang pendidikan di
kabupaten/kota dan provinsi, dan seluruh wilayah Indonesia.

C. Prinsip

Prinsip yang digunakan dalam Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah adalah


sebagai berikut.
1. Teliti: tidak ada kesalahan dalam menghitung kebutuhan kepala sekolah.
2. Objektif: sesuai data yang ada di daerah (tidak ada data yang ditambah
dan/atau dikurangi).
3. Dilaksanakan secara objektif, yaitu peningkatan kompetensi mengacu
kepada proses peningkatan mutu guru yang impartial, tidak diskriminatif,
dan memenuhi standar pendidikan nasional.
4. Transparan, yaitu mengacu kepada proses perencanaan yang memberikan
peluang kepada para pemangku kepentingan pendidikan untuk
memperoleh akses informasi tentang proses dan hasil perencanaan
kebutuhan kepala sekolah.
5. Akuntabel, merupakan proses perencanaan kebutuhan kepala sekolah
yang dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan pendidikan
secara administratif, finansial, dan akademik.
6. Legalitas, proses perencanaan kebutuhan kepala sekolah dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
7. Sistematis (terencana, terjadwal, terukur), perencanaan kebutuhan
kepala sekolah harus berkontribusi untuk mewujudkan tujuan pendidikan
nasional. Oleh karena itu, kegiatan perencanaan kebutuhan kepala sekolah
harus menjadi bagian terintegrasi dari rencana pengembangan sekolah
dan/atau provinsi/kabupaten/kota dalam melaksanakan peningkatan
mutu pendidikan nasional.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 7


D. Manfaat

Perencanaan kebutuhan kepala sekolah bermanfaat bagi:


1. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(PAN dan RB), serta Badan Kepegawaian Negara (BKN), memperoleh data
sebagai bahan untuk menetapkan formasi kebutuhan kepala sekolah,
2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Direktorat Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan, memperoleh data kebutuhan kepala
sekolah skala nasional dan daerah berdasarkan karakteristik individu dan
satuan pendidikan,
3. Badan Kepegawaian Daerah tingkat provinsi/kabupaten/kota memperoleh
data kebutuhan kepala sekolah yang sesuai karakteristik individu dan
satuan pendidikan pada setiap jenjang sebagai dasar pengajuan formasi
kepala sekolah ke Kementerian PAN dan RB, dan
4. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bidang Pendidikan
provinsi/kabupaten/kota, memperoleh data kebutuhan kepala sekolah
yang sesuai dengan karakteristik individu dan satuan pendidikan pada
setiap jenjang sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

E. Ruang Lingkup Perencanaan

Perencanaan kebutuhan kepala sekolah meliputi analisis jabatan dan analisis


beban kerja, identifikasi faktor penentu, cara menghitung kebutuhan kepala
sekolah, pemetaan kebutuhan kepala sekolah, dan proyeksi kebutuhan kepala
sekolah.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 8


BAB III
PROSEDUR PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH

Perencanaan kebutuhan kepala sekolah menggunakan metode perencanaan


terintegrasi yaitu perencanaan yang mempertimbangkan berbagai aspek penting
untuk mencapai tujuan pendidikan nasional berdasarkan standar nasional
pendidikan. Berdasarkan ruang lingkup perencanaan kebutuhan kepala sekolah,
maka prosedur perencanaan kebutuhan kepala sekolah ditunjukkan pada gambar
berikut ini.

F.
Identifikasi Cara
Analisis Jabatan dan Faktor Menghitung
Analisis Beban Kerja Penentu Kebutuhan
KS

Proyeksi Pemetaan
Kebutuhan KS Kebutuhan KS

Gambar 3.1. Prosedur Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah

A. Analisis Jabatan dan Beban Kerja


Pasal 56 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
mengamanatkan bahwa 1) setiap instansi pemerintah wajib menyusun
kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS berdasarkan analisis jabatan dan
analisis beban kerja; 2) penyusunan kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PNS
dilakukan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang diperinci per 1 (satu) tahun
berdasarkan perioritas kebutuhan. Analisis jabatan yang dimaksudkan
merupakan kegiatan pengumpulan, penilaian dan penyusunan berbagai
informasi secara sistematis yang berkaitan dengan jabatan. Analisis jabatan
bertujuan untuk mempelajari dan menyimpulkan keterangan-keterangan
ataupun fakta-fakta yang berkaitan dengan jabatan secara sistematis dan
teratur.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 9


Sejalan dengan penjelasan di atas, maka analisis jabatan kepala sekolah
merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan, penilaian dan penyusunan
informasi terkait posisi kepala sekolah sebagai manajer dan supervisor
terhadap pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah. Hasil analisis
ini sebagai bahan masukan dalam menyusun perencanaan kebutuhan kepala
sekolah 5 (lima) tahun ke depan di wilayah tertentu. Analisis jabatan kepala
sekolah dilakukan dengan menggunakan Format Daftar Isian Analisis Jabatan
Kepala Sekolah (lampiran 1).
Analisis beban kerja adalah proses untuk menetapkan jumlah jam kerja orang
yang digunakan atau dibutuhkan untuk merampungkan beban kerja dalam
waktu tertentu. Analisis beban kerja kepala sekolah adalah suatu proses yang
dilakukan secara sistematis untuk mengetahui jumlah jam kerja kepala sekolah
yang diperlukan berdasarkan sejumlah target pekerjaan atau hasil yang harus
dicapai dalam satu satuan waktu tertentu. Target capaian beban kerja dilakukan
untuk mengoptimalkan pencapaian standar nasional pendidikan terutama
pembinaan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di
sekolahnya. Analisis beban kerja kepala sekolah dilakukan dengan
menggunakan format terlampir (lampiran 2).

B. Faktor Penentu Kebutuhan


Kebutuhan kepala sekolah dapat dihitung berdasarkan jumlah sekolah setiap
jenjang dan jenis sekolah. Hal ini sesuai dengan ketentuan Lampiran Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar
Pengelolaan Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyatakan bahwa Setiap
sekolah/madrasah dipimpin oleh seorang kepala sekolah/madrasah.
Proyeksi kebutuhan Sekolah dilakukan untuk 5 (lima) tahun ke depan yang
diperinci per 1 (satu) tahun. Hal ini sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan
Guru Sebagai Kepala Sekolah. Hasil proyeksi kebutuhan kepala sekolah
menggambarkan tingkat ketersediaan calon kepala sekolah untuk masa 5 (lima)
tahun yang akan datang yang diperinci per 1 (satu) tahun.
Proyeksi kebutuhan kepala sekolah harus berdasarkan faktor-faktor penentu
sebagai berikut:
a. Jumlah sekolah berdasarkan jenis atau jenjang sekolah
b. Penambahan dan pengurangan jumlah sekolah
c. Pemberhentian kepala sekolah dengan alasan berikut:

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 10


1) mengundurkan diri (X1),
2) mencapai batas usia pensiun (X2),
3) diangkat pada jabatan lain (X3),
4) tidak mampu secara jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat
menjalankan kewajibannya (X4),
5) dikenakan sanksi hukum berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memiliki kekuatan hukum tetap (X5),
6) hasil penilaian prestasi kerja tidak memperoleh hasil dengan sebutan
paling rendah "baik" (X6),
7) tugas belajar (X7),
8) menjadi anggota partai politik (X8),
9) menduduki jabatan negara (X9),
10) meninggal dunia (X10), dan
11) periodisasi penugasan kepala sekolah (X11).
Faktor-faktor di atas mempengaruhi kebutuhan kepala sekolah untuk masa 5
(lima) tahun ke depan. Perolehan hasil masing-masing faktor dapat
digambarkan sebagai berikut.

Keterangan
A = Jumlah sekolah berdasarkan jenis atau jenjang sekolah
B = Penambahan dan pengurangan jumlah sekolah
C = Pemberhentian kepala sekolah
Y = Proyeksi kebutuhan Kepala Sekolah
Gambar 3.2. Identifikasi Faktor Penentu Perencanaan Kebutuhan Kepala
Sekolah

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 11


C. Cara Menghitung Kebutuhan Kepala Sekolah
Kebutuhan kepala sekolah dapat dihitung dengan formula Jumlah Satuan
Pendidikan = Jumlah Kepala Sekolah. Untuk menghitung proyeksi kebutuhan
tersebut, diperlukan pemilahan antara sekolah yang memiliki satu Nomor
Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan beberapa sekolah dengan satu NPSN.
Sehingga rumus untuk menghitung proyeksi kebutuhan kepala sekolah
menggunakan rumus:

5 11

𝑃𝐾𝐾𝑆 = ∑ 𝑆𝑏𝑖 + ∑ 𝑋𝑖
𝑖=1 𝑖=1
Keterangan:
PKKS = Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah
5

∑ 𝑆𝑏𝑖 = Jumlah sekolah baru pada tahun (n + 1) s/d (n + 5)


𝑖=1

11

∑ 𝑋𝑖 = Faktor pengurang jumlah kepala sekolah yang ada


𝑖=1
11

∑ 𝑋𝑖 = X1 + X2 + X3 + X4 + X5 + X6 + X7 + X8 + X9 + X10 + X11
𝑖=1

n = Tahun berjalan

Rumus di atas digunakan dengan terlebih dahulu mengisi tabel berikut ini.

1. Jumlah Sekolah Berdasarkan Jenis atau Jenjang Sekolah

Tabel 3.1
JUMLAH SEKOLAH BERDASARKAN JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........

No Jenjang Sekolah Jumlah


1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 12


No Jenjang Sekolah Jumlah
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

2. Penambahan dan Pengurangan Sekolah

Tabel 3.2
JUMLAH PENAMBAHAN DAN PENGURANGAN SEKOLAH
MENURUT JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........

No Jenjang Sekolah Jumlah (∑ 𝑛1 𝑠. 𝑑. 𝑛5)


1. TK
2. TKLB
3. SD
4. SDLB
5. SMP
6. SMPLB
7. SMA
8. SMALB
9. SMK
10. SMKLB
Total

3. Pemberhentian Kepala Sekolah


a. Mengundurkan Diri (X1)
Tabel 3.2.1
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG MENGUNDURKAN DIRI
MENURUT JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARAN PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Σ Kepala Sekolah yang Mengundurkan Diri 5
No Jenjang Sekolah Asumsi (1%)
Tahun Terakhir
1 TK

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 13


Σ Kepala Sekolah yang Mengundurkan Diri 5
No Jenjang Sekolah Asumsi (1%)
Tahun Terakhir
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

b. Mencapai Batas Usia Pensiun (X2)


Tabel 3.2.2
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG AKAN MEMASUKI BATAS USIA
PENSIUN
NAMA PENYELENGGARAN PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Usia Kepala Sekolah (th)
No Kepala Sekolah TOTAL
55 56 57 58 59
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Jumlah

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 14


c. Diangkat pada Jabatan Lain (X3)
Tabel 3.2.3
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG DIANGKAT PADA JABATAN LAIN
MENURUT JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARAN PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Σ Kepala Sekolah yang Diangkat Pada Jabatan Lain 5 Tahun
No Jenjang Sekolah
Terakhir
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

d. Tidak Mampu Secara Jasmani dan/atau Rohani Sehingga Tidak Dapat


Menjalankan Kewajibannya (X4)
Tabel 3.2.4
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG TIDAK MAMPU SECARA JASMANI DAN/ATAU
ROHANI SEHINGGA TIDAK DAPAT MENJALANKAN KEWAJIBANNYA
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Jenjang Σ Kepala Sekolah yang Tidak Mampu Secara Jasmani Asumsi
No dan/atau Rohani 5 Tahun Terakhir (1%)
Sekolah

1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 15


Jenjang Σ Kepala Sekolah yang Tidak Mampu Secara Jasmani Asumsi
No dan/atau Rohani 5 Tahun Terakhir (1%)
Sekolah

7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

e. Dikenakan Sanksi Hukum Berdasarkan Putusan Pengadilan yang Telah


Memiliki Kekuatan Hukum Tetap (X5)
Tabel 3.2.5
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG DIKENAKAN SANKSI HUKUM BERDASARKAN
PUTUSAN PENGADILAN YANG TELAH MEMILIKI KEKUATAN HUKUM TETAP
MENURUT JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Σ Kepala Sekolah yang Dikenakan Sanksi Hukum Asumsi
Jenjang Berdasarkan Putusan Pengadilan Yang Telah
No (1%)
Sekolah Memiliki Kekuatan Hukum Tetap 5 Tahun
Terakhir
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

f. Hasil Penilaian Prestasi Kerja Tidak Mencapai dengan Sebutan Paling


Rendah "Baik" (X6)

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 16


Tabel 3.2.6
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG HASIL PENILAIAN PRESTASI KERJA TIDAK
MENCAPAI DENGAN SEBUTAN PALING RENDAH "BAIK" MENURUT JENIS ATAU
JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Σ Kepala Sekolah yang Hasil Penilaian Prestasi Kerja Tidak Asumsi
Jenjang
No Mencapai dengan Sebutan Paling Rendah "Baik" 5 Tahun
Sekolah (1%)
Terakhir
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

g. Tugas Belajar (X7)

Tabel 3.2.7
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG TUGAS BELAJAR MENURUTJENIS ATAU
JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Jenjang Σ Kepala Sekolah yang Tugas Belajar 5
No Asumsi (1%)
Sekolah Tahun Terakhir
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 17


Jenjang Σ Kepala Sekolah yang Tugas Belajar 5
No Asumsi (1%)
Sekolah Tahun Terakhir
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

h. Menjadi Anggota Partai Politik (X8)


Tabel 3.2.8
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG BERHENTI KARENA MENJADI ANGGOTA
PARTAI POLITIK MENURUT JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Σ Kepala Sekolah yang Berhenti Karena Menjadi Anggota
No Jenjang Sekolah Partai Politik 5 Tahun Terakhir

1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 18


i.
Menduduki Jabatan Negara (X9)
Tabel 3.2.9
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG BERHENTI KARENA MENDUDUKI JABATAN
NEGARA MENURUT JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Σ Kepala Sekolah yang Berhenti Karena Menduduki
No Jenjang Sekolah
Jabatan Negara 5 Tahun Terakhir
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total

j. Meninggal Dunia (X10)

Tabel 3.2.10
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG BERHENTI KARENA MENINGGAL DUNIA
MENURUT JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Jenjang Σ Kepala Sekolah yang Berhenti Karena
No Asumsi (1%)
Sekolah Meninggal Dunia 5 Tahun Terakhir
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 19


Jenjang Σ Kepala Sekolah yang Berhenti Karena
No Asumsi (1%)
Sekolah Meninggal Dunia 5 Tahun Terakhir
9 SMK
10 SMKLB
Total

k. Periodisasi Penugasan Kepala Sekolah (X11)


Tabel 3.2.11
JUMLAH KEPALA SEKOLAH YANG TIDAK BISA DIPERPANJANG MASA TUGASNYA
BERDASARKAN PERIODISASI PENUGASAN KEPALA SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Akhir Masa Tugas (n)
Periode 3 Periode 4 Total
No Kepala Sekolah
(Pbl 1+Pbl 2)
Jumlah 1 2% Pbl 1 Jumlah 2 80% Pbl 2
1 TKLB
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Jumlah
Keterangan:
*) Ganti sesuai dengan nama penyelenggara pendidikan oleh pemerintah atau masyarakat

D. Penyajian Data Dasar Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah


Penyajian data yang diperlukan untuk menghitung proyeksi kebutuhan Kepala
Sekolah dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jumlah Sekolah Menurut Jenis atau Jenjang Sekolah
Jumlah sekolah berdasarkan jenis atau jenjang sekolah di provinsi/
kabupaten/kota tertentu pada tahun n dituangkan pada tabel 3.3 di
bawah ini.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 20


Tabel 3.3
JUMLAH SEKOLAH MENURUT JENIS ATAU JENJANG SEKOLAH
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
No Jenjang Sekolah Jumlah
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total
Keterangan:
*) Ganti sesuai dengan nama penyelenggara pendidikan oleh pemerintah atau masyarakat

2. Penambahan dan Pengurangan Sekolah


Jumlah sekolah yang dibangun tahun berjalan dan yang akan dibangun
selama 5 (lima) tahun yang akan datang (n+l) s/d (n+5) dan
kemungkinan adanya sekolah yang digabung (merger) atau berhenti
beroperasi menurut jenis atau jenjangnya pada tahun n dan 5 (lima)
tahun yang akan datang dituangkan pada tabel 3.4 di bawah ini.

Tabel 3.4
JUMLAH PENAMBAHAN DAN PENGURANGAN SEKOLAH
MENURUT JENIS ATAU JENJANG
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
Jenis/ Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
Jml
No Jenjang (n+l) (n+2) (n+3) ('1+4) (n+5)
Sekolah + - Jml + - Jml + - Jml + - Jml + - Jml
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 21


Jenis/ Tahun Tahun Tahun Tahun Tahun
Jml
No Jenjang (n+l) (n+2) (n+3) ('1+4) (n+5)
Sekolah + - Jml + - Jml + - Jml + - Jml + - Jml
3 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total
Keterangan: n+1 = satu tahun setelah tahun
n n+2 = dua tahun setelah tahun n, dst..
*) Ganti sesuai dengan nama penyelenggara pendidikan oleh pemerintah atau .masyarakat

3. Data Dasar Proyeksi Pemberhentian Kepala Sekolah


Dasar proyeksi pemberhentian Kepala Sekolah adalah jumlah Kepala
Sekolah dengan kondisi sebagai berikut.
a. Mengundurkan diri (Tabel 3.2.1);
b. Mencapai batas usia pensiun (Tabel 3.2.2);
c. Diangkat pada jabatan lain (Tabel 3.2.3);
d. Tidak mampu secara jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat
menjalankan kewajibannya (Tabel 3.2.4);
e. Dikenakan sanksi hukum berdasarkan putusan pengadilan yang
telah memiliki kekuatan hukum tetap (Tabel 3.2.5);
f. Hasil penilaian prestasi kerja tidak mencapai dengan sebutan
paling rendah "Baik" (Tabel 3.2.6);
g. Tugas belajar enam bulan berturut-turut atau lebih (Tabel 3.2.7);
h. Menjadi anggota partai politik (Tabel 3.2.8);
i. Menduduki jabatan negara (Tabel 3.2.9);
j. Meninggal dunia dan/atau (Tabel 3.2. 10);
k. Periodisasi penugasan Kepala Sekolah (Tabel 3.2.11).

4. Menghitung Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah


Menghitung kebutuhan Kepala Sekolah menurut jenis atau jenjang
sekolah untuk lima tahun ke depan berdasarkan formula yang telah
dikemukakan di atas. (Lihat Tabel 3.5)

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 22


Tabel 3.5
PROYEKSI KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH TAHUN (n+1) sd (n+5)
NAMA PENYELENGGARA PENDIDIKAN *)
TAHUN ..........
𝑆𝑏
Xi (i = 1, 2, 3, ..,11) Jumlah
(i=1-5)
Kepala
No X11
Sekolah
Prd Prd
n+3 n+4
1 TK
2 TKLB
3 SD
4 SDLB
5 SMP
6 SMPLB
7 SMA
8 SMALB
9 SMK
10 SMKLB
Total
Keterangan:
*) Ganti sesuai dengan nama penyelenggara pendidikan oleh pemerintah atau masyarakat

Mengacu pada Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan


Guru Sebagai Kepala Sekolah Bab III Pasal 4 ayat (1), penyusunan
proyeksi kebutuhan Kepala Sekolah diperinci per 1 (satu) tahun.
Berdasarkan hasil penghitungan rekap pada Tabel 3.5 kemudian dicari
proyeksi kebutuhan Kepala Sekolah per tahun dengan rumus sebagai
berikut.
Pengurangan selain BUP (PBUP) = ∑ 𝑇𝑎𝑏𝑒𝑙 3. 𝑐 − ∑ 𝑋2

Keterangan :
Pengurang selain BUP (PBUP) = faktor pengurang proyeksi kebutuhan Kepala
Sekolah selain Batas Usia Pensiun (BI-JP);
∑ 𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 3. 𝑑 = Jumlah total tabel 3.c;
∑ 𝑋2 = Jumlah Kepala Sekolah BUP
Untuk mencari pengurang selain BUP per tahun dengan rumus:
PPBU / th = PBUP / 5

PBPU/ th = Pengurang selain BUP per tahun

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 23


Untuk mencari proyeksi kebutuhan Kepala Sekolah per tahun dengan
rumus:
PKKS n1 = X2n1 / th

PKKS n = Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah tahun n


X2 n = Jumlah BUP tahun n

Contoh/simulasi penggunaan rumus di atas dapat dilihat pada lampiran 3

E. Pemetaan Kebutuhan Kepala Sekolah


Pemetaan kebutuhan kepala sekolah dilakukan setelah perhitungan kebutuhan
kepala sekolah menggunakan formulasi di atas. Hasil perhitungan kebutuhan
kepala sekolah di setiap wilayah dipetakan dalam bentuk data peta kebutuhan
kepala sekolah yang dapat dijadikan bahan penyusunan perencanan untuk 5
(lima) tahun mendatang dengan rincian kebutuhan setiap tahunnya.
Penyebaran kebutuhan pada setiap jenjang dan setiap tahun untuk 5 (lima)
tahun ke depan dapat menggunakan Tabel 3.6 berikut.
Tabel 3.6
PEMETAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH
Provinsi : …………………..
Kab./Kota : …………………..
Tahun : …………………..

Jenjang Perkiraan Jumlah Hasil Jumlah


Kebutuhan Tersedia Pengurangan
TK
TKLB
SD
SDLB
SMP
SMPLB
SMA
SMALB
SMK
SMKLB
F. Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah
Rencana kebutuhan kepala sekolah merupakan hasil pengurangan dari hasil
perhitungan angka kebutuhan kepala sekolah (AKKS) dengan jumlah kepala

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 24


sekolah yang ada pada tahun berjalan (Rencana Kebutuhan = angka
kebutuhan – jumlah kepsek tahun berjalan). Sedangkan proyeksi kebutuhan
kepala sekolah dapat dihitung dengan formula di atas dengan
mempertimbangkan jumlah kepala sekolah yang berhenti karena faktor
tertentu pada tahun proyeksi.
Rencana kebutuhan kepala sekolah berisikan proyeksi kebutuhan 5 (lima)
tahun yang dijabarkan kebutuhan setiap tahun dengan mengisi tabel di bawah
ini.
Tabel 3.7
RENCANA KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH
Provinsi : …………………..
Kab./Kota : …………………..
Tahun : …………………..

Kebutuhan Kekurangan/
Tersedia
Kelebihan
Jenjang
Tahun ke Tahun ke Tahun ke
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
TK
TKLB
SD
SDLB
SMP
SMPLB
SMA
SMALB
SMK
SMKLB

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 25


BAB IV
ORGANISASI PELAKSANA PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH

Sebagai upaya untuk menjamin kualitas pelaksanaan perencanaan kebutuhan


kepala sekolah, maka sesuai dengan semangat otonomi pendidikan dan
akuntabilitas publik perlu ditetapkan tugas dan tanggung jawab setiap institusi
yang terkait. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab tersebut adalah sebagai
berikut ini.

A. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai institusi tingkat pusat
memiliki tugas dan tanggung-jawab dalam pelaksanaan perencanaan
kebutuhan kepala sekolah sebagai berikut:

1. Menetapkan Norma Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK) perencanaan


kebutuhan kepala sekolah setiap satuan pendidikan, pada jenjang dan jenis
pendidikan secara nasional;
2. Melakukan koordinasi dengan Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan
Men PAN RB;
3. Meminta laporan hasil perhitungan kebutuhan dan data kepala sekolah dari
semua provinsi/kabupaten/kota, selanjutnya melakukan analisis terhadap
laporan tersebut, dan hasilnya berupa agregat perhitungan dan pemetaan
kepala sekolah sebagai rencana kebutuhan kepala sekolah tingkat nasional;
4. Menyampaikan rencana kebutuhan kepala sekolah tingkat nasional ke
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi;
5. Menerima usulan calon Kepala Sekolah dari Dinas Pendidikan
Provinsi/Kabupaten/Kota;
6. Mengendalikan guru calon kepala sekolah melalui SIM Tendik;
7. Menyediakan data calon kepala sekolah yang telah memenuhi syarat; dan
8. Merekomendasikan skala prioritas pengangkatan dan penempatan calon
kepala sekolah.

B. Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota


Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota sebagai institusi pelaksana
perencanaan kebutuhan kepala sekolah di daerah memiliki tanggungjawab
sebagai berikut.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 26


1. Mengkaji sekolah secara keseluruhan dan kesesuaian dengan jabatan
kepala sekolah.
2. Mengumpulkan data tentang karakteristik jabatan kepala sekolah,
perilaku yang disyaratkan, dan karakteristik yang perlu dimiliki oleh
jabatan kepala sekolah.
3. Melakukan analisis jabatan kepala sekolah dengan menggunakan
instrumen analisis jabatan kepala sekolah yang meliputi: nama jabatan,
kode jabatan, unit kerja, ikhtisar jabatan, uraian tugas/beban kerja, bahan
kerja, perangkat/alat kerja, hasil kerja, tanggung jawab, wewenang, nama
jabatan yang berada berada di bawah jabatan kepala sekolah, korelasi
jabatan, kondisi lingkungaan kerja, resiko bahaya, syarat jabatan,
kualifikasi pegawaai, prestasi kerja yang diharapkan, dan informasi
lainnya. (Instrumen analisis jabatan Kepala Sekolah terlampir).
4. Menentukan bagaimana informasi analisis jabatan kepala sekolah akan
digunakan, atau menentukan tujuan spesifik analisis jabatan kepala
sekolah.
5. Menghitung kebutuhan kepala sekolah dengan formula jumlah satuan
pendidikan = jumlah kepala sekolah, dengan memperhatikan NPSN
sekolah.
6. Melakukan pemetaan setelah melakukan perhitungan kebutuhan kepala
sekolah yang selanjutnya dijadikan bahan penyusunan perencanaan 5
(lima) tahun mendatang dengan perincian kebutuhan kepala sekolah
setiap tahunnya.
7. Menghitung proyeksi kebutuhan kepala sekolah untuk 5 tahun ke depan,
dengan memperhitungkan faktor-faktor penentu, seperti: jumlah NPSN
yang ada di setiap kabupaten, jumlah kepala sekolah yang sudah memiliki
STTPP namun belum diangkat, jumlah kepala sekolah pensiun tiap tahun
setiap jenjang, rencana penambahan USB dan Pengurangan sekolah 5
tahun, jumlah kepala sekolah berada pada akhir periode1-4, jumlah
kepala sekolah yang diangkat pada jabatan lain, jumlah kepala sekolah
yang dinilai berkinerja kurang, jumlah kepala sekolah yang dikenakan
hukuman disiplin, jumlah kepala sekolah yang berhalangan tetap, jumlah
kepala sekolah yang melakukan tugas belajar, jumlah kepala sekolah yang
meninggal dunia.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 27


8. Mengajukan usulan perencanaan kebutuhan kepala sekolah ke
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan
Tenaga Kependidikan.

C. Badan Kepegawaian Daerah/Badan Kepegawaian, Pendidikan dan


Pelatihan
1. Melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan provinsi/kabupaten/ kota
terkait dengan perencanaan kebutuhan kepala sekolah.
2. Menerima usulan perencanaan kebutuhan kepala sekolah dari dinas
pendidikan provinsi/kabupaten/kota.
3. Menggunakan laman (website) untuk melihat jumlah kebutuhan kepala
sekolah pada wilayahnya.
Alamat: https://sim.tendik.kemdikbud.go.id/perencanaan

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 28


BAB V
PENJAMINAN MUTU PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH

Penjaminan mutu dalam perencanaan kebutuhan kepala sekolah merupakan


aktivitas yang dilakukan pemerintah dan pemerintah daerah yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pendampingan tentang analisis jabatan,
analisis beban kerja, penghitungan kebutuhan, verifikasi dan validasi serta proyeksi
kebutuhan.

Penjaminan Mutu

Analisis Jabatan Identifikasi Cara


dan Analisis Faktor Menghitu
Beban Kerja Penentu ng
Kebutuha
n KS

Proyeksi Pemetaan
Kebutuhan KS Kebutuhan KS

Gambar 4.1 Penjaminan Mutu Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah


A. Perencanaan

Perencanaan kebutuhan kepala sekolah merupakan upaya untuk memastikan


seluruh unsur dan jumlah kepala sekolah yang dibutuhkan pada tingkat satuan
pendidikan, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi telah direncanakan
dengan baik sebagaimana standar kepala sekolah yang telah ditetapkan.
Prosedur pada kegiatan perencanaan kebutuhan kepala sekolah merupakan
langkah strategis yang perlu dilakukan oleh satuan pendidikan, pemerintah
kabupaten/kota, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk
memastikan semua unsur kepala sekolah yang dibutuhkan pada semua
tingkatan telah terencana dengan baik.
Prosedur untuk kegiatan perencanaan kebutuhan kepala sekolah bertujuan
untuk: (1) mengidentifikasi permasalahan dalam proses perencanaan, (2)
tingkat keberhasilan perencanaan, dan (3) menginventarisasi temuan-temuan

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 29


dan tindak lanjut. Ruang lingkup prosedur kegiatan perencanaan kebutuhan
kepala sekolah meliputi:
a. Penyelenggaraan kegiatan seperti penyiapan pedoman/panduan kerja
perencanaan, kebutuhan administrasi, sarana prasarana, konsultan dan
narasumber, panitia maupun perencananya sendiri.
b. Proses perencanaan kebutuhan kepala sekolah.
c. Pengolahan data dan informasi dalam berbagai dokumen dan pemberian
umpan balik.
d. Penyusunan laporan hasil penjaminan mutu.

B. Pelaksanaan
Prosedur perencanaan kebutuhan kepala sekolah perlu diuraikan tugas
sebagai berikut:
1. Melakukan pengamatan dan pemeriksaan terhadap penyiapan
pedoman/panduan kerja perencanaan, kebutuhan administrasi, sarana
prasarana, konsultan dan narasumber, panitia dan perencana
menggunakan instrumen prosedur yang ditetapkan.
2. Melakukan pengamatan terhadap proses perencanaan kebutuhan kepala
sekolah untuk memastikan pelaksanaan perencanaan kebutuhan kepala
sekolah sesuai standar yang ditetapkan. Pengamatan menggunakan
instrumen prosedur yang ditetapkan.
3. Melakukan refleksi terhadap proses perencanaan dan memberi umpan
balik.
4. Melakukan pelaporan dan tindak lanjut hasil perencanaan kebutuhan
kepala sekolah.
Tenaga pelaksana perencanaan disiapkan oleh pihak Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan melalui pembekalan dan penugasan. Ketentuan yang
mencakup penetapan personil, tugas dan tanggungjawab, perangkat dan
instrumen, pelaksanaan, pengolahan data, pembiayaan, pelaporan, dan tindak
lanjut diatur dalam petunjuk teknis.

C. Pemantauan dan Evaluasi


1. Pemantauan
a. Ruang Lingkup
Pemantauan kegiatan perencanaan kebutuhan kepala sekolah bertujuan
untuk: (1) menginventarisasi faktor pendukung dan penghambat

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 30


pelaksanaan perencanaan, (2) perubahan rencana dan solusi yang
ditemukan. Ruang lingkup pemantauan kegiatan perencanaan
kebutuhan kepala sekolah meliputi:
1) Faktor pendukung dan penghambat kegiatan perencanaan;
2) Perubahan-perubahan yang terjadi dan solusi yang ditemukan.
b. Tugas Pemantauan
1) Melakukan pemantauan faktor-faktor yang mendukung dan
menghambat pelaksanaan perencanaan kebutuhan kepala sekolah
misalnya ketersediaan kebutuhan kerja, ketersediaan sumber daya
manusia.
2) Melakukan pemantauan terhadap proses perencanaan kebutuhan
kepala sekolah yang berlangsung.
3) Mempelajari dokumen hasil perencanaan.
4) Melakukan pelaporan pemantauan kegiatan perencanaan kebutuhan
kepala sekolah.
c. Tenaga Pemantau
Tenaga pemantau disiapkan oleh pihak Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melalui pembekalan dan penugasan. Untuk keperluan
pelaksanaan pemantauan disusun petunjuk teknis yang mencakup
penetapan personil, tugas dan tanggung jawab, perangkat dan
instrumen pemantauan, pelaksanaan pemantauan, pengolahan data,
pembiayaan, pelaporan, dan tindak lanjut.

2. Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan terhadap kegiatan perencanaan kebutuhan kepala
sekolah diarahkan pada pengumpulan informasi tentang keterlaksanaan dan
ketercapaian tujuan perencanaan kebutuhan kepala sekolah secara
menyeluruh.
Laporan evaluasi kegiatan perencanaan merupakan bahan masukan bagi
pihak yang berkepentingan dengan perencanaan kebutuhan kepala sekolah.
Hasil evaluasi digunakan sebagai bahan rekomendasi kebijakan, perbaikan,
dan pengembangan selanjutnya.

a. Ruang Lingkup

Ruang lingkup evaluasi kegiatan perencanaan kebutuhan kepala sekolah


adalah seluruh aspek terkait perencanaan kebutuhan tenaga

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 31


kependidikan seperti perencanaan, pelaksanaan, ketercapaian tujuan,
dan hasil evaluasi. Kegiatan perencanaan kebutuhan tenaga
kependidikan bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat keberhasilan
proses pelaksanaan perencanaan kebutuhan tenaga kependidikan; dan
(2) hasil perencanaan kebutuhan kepala sekolah. Ruang lingkup evaluasi
kegiatan perencanaan kebutuhan kepala sekolah meliputi:

a. Persiapan, pelaksanaan, hambatan/kendala pelaksanaan, dan hasil


perencanaan kebutuhan kepala sekolah.
b. Penyiapan dan pengembangan instrumen evaluasi.
c. Penyiapan tenaga evaluasi.
d. Pengumpulan data.
e. Pengolahan dan analisis data.
f. Penyusunan laporan.

b. Sasaran Evaluasi

Sasaran evaluasi meliputi; (1) satuan pendidikan, 2) pemerintah


kabupaten/kota, 3) pemerintah provinsi dan 4) pemerintah pusat yang
melaksanakan perencanaan kebutuhan kepala sekolah.

c. Mekanisme Evaluasi
1) Pelaksana evaluasi adalah pihak Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan dengan menugaskan petugas evaluasi yang telah
diberikan pembekalan.
2) Pelaksanaan evaluasi kegiatan perencanaan kebutuhan dilakukan
minimal 1 (satu) kali selama pelaksanaan kegiatan.
3) Jumlah responden untuk evaluasi satuan pendidikan, pemerintah
kabupaten/kota, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat
disesuaikan kebutuhan dengan prinsip keterwakilan (representasi).

d. Pendanaan Evaluasi

Sumber dana evaluasi dibebankan pada DIPA Kementerian Pendidikan


dan Kebudayaan.

e. Ketentuan Lain

Ketentuan lain yang mencakup penetapan, peran dan fungsi petugas,

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 32


perangkat dan instrumen evaluasi, pelaksanaan, pengolahan data,
pembiayaan, pelaporan, dan tindak lanjut diatur dalam petunjuk teknis.

C. Pendampingan
Pendampingan perencanaan kebutuhan kepala sekolah secara umum
dilaksanakan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Secara teknis
dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota dan provinsi serta
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Prosedur pada kegiatan perencanaan kebutuhan kepala sekolah merupakan
langkah strategis yang perlu dilakukan oleh satuan pendidikan, pemerintah
kabupaten/kota, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat untuk
memastikan semua kepala sekolah yang dibutuhkan pada semua tingkatan
dan jenjang telah terencana dengan baik.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 33


BAB VI
PENUTUP

Pemerintah secara terus-menerus mengusahakan dan menyelenggarakan satu


sistem pendidikan nasional yang berkualitas. Usaha ini dimaksudkan untuk
menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi
dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan
tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan
pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Sesuai
dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2019
tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan mempunyai tugas
menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan
guru, pendidik lainnya, dan tenaga kependidikan. Dalam melaksanakan tugas
tersebut, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menyelenggarakan
salah satu fungsinya, yaitu perumusan kebijakan di bidang pembinaan guru,
pendidik lainnya, dan tenaga kependidikan. Salah satu kegiatan yang diprogramkan
Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan
Kemendikbud adalah penyusunan Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala
Sekolah.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 34


Lampiran 1. Daftar Isian Analisis Jabatan Kepala Sekolah

DAFTAR ISIAN ANALISIS JABATAN KEPALA SEKOLAH


(Isilah daftar ini menurut kenyataan yang sebenarnya)

1. NAMA JABATAN : …………………………………………………………………


2. KODE JABATAN : …………………………………………………………………
3. UNIT KERJA : ………………………………………………………………….
4. IKHTISAR JABATAN

5. URAIAN TUGAS/BEBAN KERJA

No Uraian Tugas Beban SKR (standar WPT (Waktu WPT*


Kerja kemampuan rata- Pelaksanaan Tugas) (konversi)
rata)
5.1 Tugas Pokok
1
2
dst
5.2 Tugas Penunjang
1
2
dst
5.3 Tugas Tambahan
1
dst
Jumlah WPT
Konversi ke jam

*Jumlah WPT Konversi ke jam jumlah pegawai yang dibutuhkan.

6. BAHAN KERJA

NO BAHAN KERJA PENGGUNAAN DALAM TUGAS

7. PERANGKAT/ ALAT KERJA

NO PERANGKAT/ ALAT KERJA DIGUNAKAN UNTUK TUGAS

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 35


8. HASIL KERJA

NO HASIL KERJA

9. TANGGUNG JAWAB

10. WEWENANG

-
-
-
-

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 36


11. KORELASI JABATAN

NO. JABATAN UNIT HUBUNGAN


KERJA/INSTANSI DALAM TUGAS
1
2
3

12. KONDISI LINGKUNGAN KERJA

NO ASPEK FAKTOR
1. Tempat kerja
2. Sirkulasi udara
3. Sinar/ cahaya
4. Kebersihan
5. Suara
6. Ruangan

13. RESIKO BAHAYA

NO NAMA PENYAKIT/ JENIS PENYEBAB


KECELAKAAN FISIK

14. SYARAT JABATAN KEPALA SEKOLAH


a. Pangkat / Golongan Ruang : ……………………………………
b. Pendidikan : ……………………………………
c. Kursus/Diklat
1) Penjenjangan : ……………………………………
2) Teknis : ……………………………………
d. Pengalaman kerja : ……………………………………
e. Keahlian : ……………………………………
f. Keterampilan : ……………………………………
g. Upaya Jasmani : ……………………………………
h. Syarat Kondisi Fisik : ……………………………………
i. Bakat yang perlu dimiliki : ……………………………………
j. Temperamen Kerja yang perlu dimiliki : ……………………………………
k. Minat Kerja yang perlu dimiliki : ……………………………………
l. Fungsi Pekerja : ……………………………………

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 37


15. KUALIFIKASI JABATAN KEPALA SEKOLAH
a. Nama pegawai : ……………………………………
b. Tanggal lahir : ……………………………………
c. Tahun pengangkatan menjadi CPNS : ……………………………………
d. Tahun pensiun : ……………………………………
e. Pendidikan terakhir : ……………………………………
f. Diklat yang pernah diikuti : ……………………………………
g. Pengalaman dalam jabatan sebelumnya : ……………………………………
h. Keahlian yang dimiliki saat ini : ……………………………………
i. Ketrampilan yang dimiliki saat ini : ……………………………………

16. PRESTASI KERJA YANG DIHARAPKAN

NO HASIL KERJA JUMLAH WAKTU YANG DIPERLUKAN


SATUAN
1.
2.
3.

17. BUTIR INFORMASI LAIN :

……………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………………….

.............., ........................

Mengetahui Atasan Langsung Yang membuat,

(............................................) (......................................)

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 38


PETUNJUK PENGISIAN

NO. ELEMEN JABATAN URAIAN


1. NAMA JABATAN Kepala Sekolah

2. KODE JABATAN Tidak perlu diisi


3. UNIT ORGANISASI Tulislah unit kerja tempat saudara bekerja

4. IKHTISAR JABATAN Uraian jabatan adalah uraian jabatan dalam bentuk ringkas yang
memberikan gambaran secara umum tentang ruang lingkup atau
kompleksitas jabatan.
Digambarkan dalam satu kalimat yang mencerminkan :
- WHAT  Apa yang dikerjakan
- HOW  Bagaimana cara mengerjakannya
- WHY  Mengapa/ untuk tujun apa pekerjaan dilakukan

5. URAIAN TUGAS Tugas pokok adalah tugas yang melekat pada jabatan itu
Tugas penunjang adalah tugas yang menunjang tugas pokok.
Tugas tambahan adalah tugas yang sama sekali tidak ada
kaitannya dengan tugas pokok.
Tulislah uraian tugas Saudara dengan awalan me-
mengkoordinasikan, menyusun, konsep, membina, mengarahkan,
menyelenggarakan, mengevaluasi, melaporkan, dan lain-lain.
Urian tugas tersebut harus dapat menggambarkan apa yang
dikerjakan (what), bagaimana mengerjakan (how) dan mengapa
harus dikerjakan (why)

6. BAHAN KERJA Bahan kerja merupakan masukan atau sesuatu yang diolah atau
sesuatu yang diproses dalam pelaksanaan tugas-tugas jabatan,
untuk memperoleh hasil kerja. Sesuatu yang diolah atau diproses
tersebut dapat berupa data atau benda.

7. ALAT KERJA Peralatan kerja adalah alat yang di pergunakan dalam


melaksanaan tugas.
Misalnya:
 mesin ketik/komputer untuk mengetik surat
 buku agenda dan pulpen untuk mencatat surat masuk

8. HASIL KERJA Hasil kerja adalah konkrit. Tulislah hasil kerja yang saudara
peroleh dalam melaksanakan tugas, baik hasil yang bersifat
managerial maupun non-managerial.
Hasil manajerial misalnya: Petunjuk kerja, Distribusi kerja, dan
Koordinasi kerja.
Hasil Non-manajerial adalah yang diperoleh dalam melaksanakan
tugas teknis atau tugas lain yang tidak berhubungan dengan
bawahan.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 39


NO. ELEMEN JABATAN URAIAN
9 TANGGUNG JAWAB Sebutkan, apa tanggung jawab saudara atas bahan yang saudara
olah, alat yang digunakan,hasil kerja yang diperoleh, lingkungan
kerja, dan tanggung jawab kepada orang lain

10 WEWENANG Wewenang adalah hak pemegang jabatan untuk memilih atau


mengambil sikap atau tindakan tertentu. Sebutkan apa wewenang
yang saudara miliki sehubungan dengan tugas yang diberikan
kepada saudara.

11. NAMA JABATAN Sebutkan nama jabatan yang berada dibawah saudara menurut
YANG BERADA struktur organisasi
DIBAWAH JABATAN
INI

12. KORELASI JABATAN Dengan jabatan apa atau unit kerja atau instansi mana saudara
berhubungan, baik timbal balik maupun searah, baik vertikal,
horizontal maupun diagonal dan sebutkan untuk tugas apa
saudara berhubungan.

13. KONDISI Kondisi lingkungan kerja merupakan informasi situasional


LINGKUNGAN lingkungan baik fisik maupun sosial pelaksanaan tugas untuk
KERJA mengolah bahan dengan perangkat kerja menjadi hasil kerja.
Misalnya dapat dirumuskan dengan: tempat kerja, udara, sinar,
getaran, lingkungan sosial, dll.

14 RESIKO BAHAYA Sebutkan penyebab atau kecelakaan fisik yang dapat timbul
sebagai akibat melaksanakan tugas. Faktor kemungkinan resiko
bahaya:
- Kehilangan nyawa
- Kelainan jiwa: linglung, mudah tersinggung, garang, dll
- Kehilangan anggota badan: Kehilangan tangan, kaki, jari, dll
- Luka dan kelainan atau kerusakan pada: Tangan, Kaki, Jari,
muka, dll
- Pendengaran
- Mata
- Pembauan
- Kondisi punggung (misal: bungkuk)
- Kondisi leher
- Kondisi organ bagian dalam: Usus dan perut besar, paru-paru,
jantung, organ mulut, hati, dll.

15. SYARAT JABATAN Syarat jabatan merupakan informasi jabatan turunan, artinya
informasi ini diturunkan atau dirumuskan melalui informasi yang
bersifat material jabatan.
1. Pangkat/ Golongan ruang minimum untuk menduduki jabatan
tersebut
2. Pendidikan  Bidang dan jenjang pendidikan minimum yang
dapat menduduki jabatan ini.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 40


NO. ELEMEN JABATAN URAIAN
3. Kursus/ Diklat  Kursus / diklat apa yang diperlukan untuk
dapat menduduki jabatan ini, atau kursus/ diklat apa yang
dapat menunjang untuk dapat menduduki jabatan ini.
4. Pengalaman Kerja: Untuk dapat menduduki jabatan ini harus
berpengalaman dalam jabatan atau dibidang apa dan berapa
lamanya.
5. Keahlian:
6. Keterampilan:
7. Upaya Jasmani: Sebutkan upaya jasani yang banyak saudara
gunakan dalam melaksanakan tugas. Contoh: Berdiri, Duduk,
Jongkok, Berjalan, Mengangkat, Meraba, dll
8. Syarat kondisi fisik: Menurut saudara sebutkan syarat kondisi
fisik untuk dapat menduduki jabatan ini. Misal : Pria/Wanita,
Tinggi badan, Suara merdu, Kesehatan Jantung baik, Kondisi
paru-paru baik, dll
9. Bakat yang perlu dimiliki : Menurut saudara sebutkan bakat
apa yang perlu dimiliki untuk menduduki jabatan ini :
G  Integritas : Kemampuan belajar secara umum
V  Bakat Verbal : Kemampuan untuk memahami arti kata
– kata dan penggunaannya secara tepat dan efektif
N Numerik : Kemampuan untuk melakukan operasi
aritmatik secara tepat dan akurat
S Pandang Ruang : Kemampuan untuk berpikir secara
visual mengenai bentuk bentuk geometris, untuk memahami
gambar-gambar dari benda-benda tiga dimensi.
P  Penerapan Bentuk : Kemampuan menyerap perincian-
perincian yang berkaitan dalam obyek atau dalam gambar
atau dalam bahan grafik
Q Ketelitian : Kemampuan menyerap perincian yang
berkaitan dalam bahan verbal atau dalam tabel
K Kondisi Motor : Kemampuan mengkoordinir mata dan
tangan dan jari secara cepat dan cermat dalam membuat
gerakan yang cepat
F Kecelakaan Jari : Kemampuan untuk menggerakkan
tangan dengan mudah dan penuh ketrampilan.
E Kondisi Mata, Tangan, dan Kaki : Kemampuan
menggerakkan tangan dan kaki secara koordinatif satu sama
lain sesuai rangsangan penglihatan.
C  Membedakan Warna : Kemampuan untuk memadukan
atau membedakan berbagai warna yang asli, yang gemerlapan.
M  Kecekatan Tangan : Kemampuan untuk menggerakkan
tangan dengan mudah dan penuh ketrampilan

10. Temperamen yang perlu dimiliki untuk menduduki jabatan


ini, menurut saudara.
D  Kemampuan menyesuaikan diri menerima tanggung
jawab untuk kegiatan memimpin, mengendalikan atau
merencanakan.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 41


NO. ELEMEN JABATAN URAIAN
F  Kemampuan menyesuaikan diri dengan kegiatan yang
mengandung penafsiran perasaan, gagasan atau fakta
dari sudut pandangan pribadi.
I  Kemampuan menyesuaikan diri untuk pekerjaan-
pekerjaan mempengaruhi orang lain dalam pendapat,
sikap, atau pertimbangan mengenai gagasan.
J  Kemampuan menyesuaikan diri pada kegiatan
perbuatan kesimpulan penilaian, atau pembuatan
keputusan berdasarkan kriteria rangsangan indera atau
atas dasar pertimbangan pribadi.
M Kemampuan menyesuaikan diri dengan kegiatan
pengambilan keputusan, pembuatan pertimbangan,
atau pembuatan keputusan berdasarkan kriteria yang
diukur atau dapat diuji
P  Kemampuan menyesuaikan diri dalam berhubungan
dengan orang lain lebih dari hanya penerimaan dan
perbuatan instruksi.
R Kemampuan menyesuaikan diri dalam kegiatan-kegiatan
yang berulang, atau secara terus menerus melakukan
kegiatan yang sama, sesuai dengan perangkat prosedur,
urutan atau kecepatan tertentu.
S  Kemampuan menyesuaikan diri untuk bekerja dengan
ketegangan jiwa jika berhadapan dengan keadaan
darurat, kritis, tidak biasa atau bahaya atau bekerja
dengan kecepatan kerja dan perhatian terus menerus
merupakan keseluruhan atau sebagian aspek pekerjaan.
T  Kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi yang
menghendaki pencapaian dengan tepat menurut
perangkap batas, toleransi atau standar-standar
tertentu.
V  Kemampuan menyesuaikan diri untuk melaksanakan
berbagai tugas, sering berganti dari tugas yang satu ke
tugas yang lainnya yang berbeda sifatnya, tanpa
kehilangan efisiensi dan ketenangan diri.

11. Minat kerja yang perlu dimiliki untuk menduduki jabatan ini,
Minat adalah kecenderungan untuk terserap dalam suatu
pengalaman dan mengembangkannya, sedangkan keengganan
adalah kecenderungan untuk menghindari sesuatu.
Macam minat kerja: (kode, faktor).
1.a. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan benda-benda dan obyek-obyek
b. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan komunikasi data
2.a. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan orang dalam niaga
b. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmiah
dan teknik.
3.a. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan rutin, konkrit dan
teratur.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 42


NO. ELEMEN JABATAN URAIAN
b. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat
abstrak dan kreatif.
4.a. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang dianggap baik
oleh masyarakat
b. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan proses, mesin dan teknik.
5.a. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang menghasilkan
prestise atau penghargaan dari pihak orang lain.
b. Pilihan melakukan kegiatan-kegiatan yang menghasilkan
kepuasan nyata dan produktif.
Contoh : Kode : 3 b., Faktor : Pilihan melakukan kegiatan-
kegiatan yang bersifat abstrak dan kreatif.

12. Fungsi Pekerja :


D = Data
O = Orang
B = Barang

a. Tulislah nama saudara


b. Tulislah tanggal lahir saudara
c. Tulislah TMT CPNS Saudara
d. Tulislah tahun pensiun saudara
e. Tulislah pendidikan terakhir saudara
f. Tulislah jenis diklat pernah saudara ikuti
g. Tulislah berapa lama saudara bekerja pada unit kerja tempat
saudara bekerja saat ini
h. Tulislah keahlian yang saudara miliki saat ini
i. Tulislah ketrampilan yang saudara miliki saat ini
17 PRESTASI KERJA Sebutkan hasil kerja saudara berapa jumlahnya (sesuai satuan
YANG DIHARAPKAN hasil kerja) dan berapa waktu yang saudara perlukan untuk
menyelesaikan bahan kerja menjadi hasil kerja (dalam menit/
jam/hari/ minggu/ bulan/ tahun)

18 BUTIR INFORMASI Isilah informasi yang menurut saudara masih perlu untuk
LAIN melengkapi data analisis jabatan.

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 43


Lampiran 2. Format Penghitungan Beban Kerja

FORMAT PENGHITUNGAN BEBAN KERJA


NAMA JABATAN : Kepala Sekolah ……………
UNIT KERJA : Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota ……………

SKR (Standar WPT (Waktu WPT


No Uraian Tugas Beban Kerja
Kemampuan Rata-rata) Pelaksanaan Tugas) Konversi

1 2 3 4 5 6
1

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 44


Lampiran 3. Contoh Simulasi
CONTOH SIMULASI
PENGHITUNGAN PERENCANAAN KEBUTUHAN KEPALA SEKOLAH
MENENGAH PERTAMA (SMPN) KABUPATEN BANTUL TAHUN 2019

TABEL 3.1.
DATA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA TAHUN 201

No Jenjang Sekolah Jumlah Sekolah

Jenjang sekolah SMP

Jumlah sekolah 47

Kabupaten Bantul

Provinsi DIY

Untuk menentukan PKKS nya menggunakan rumus berikut:


5 11

𝑃𝐾𝐾𝑆 = ∑ 𝑆𝑏𝑖 + ∑ 𝑋𝑖
𝑖=1 𝑖=1

Keterangan:
PKKS = Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah
5 = Jumlah Penambahan dan Pengurangan sekolah pada
∑ 𝑆𝑏𝑖
tahun (n+1) s/d (n+5)
𝑖=1
10
= Faktor pengurang jumlah kepala sekolah yang ada
∑ 𝑋𝑖
𝑖=1
10
= X1+X2+ X3+X4+ X5+X6+ X7+X8+ X9+X10+X11
∑ 𝑋𝑖
𝑖=1

n = Tahun berjalan

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 45


CARA PENGHITUNGAN

TABEL 3.2.
FAKTOR PEMBERHENTIAN KEPALA SEKOLAH

PROVINSI : DIY
KAB./KOTA : Bantul
TAHUN : 2019
JENJANG : SMP

Kepala Sekolah 5 Asumsi


NO FAKTOR PENENTU ∑ (1%)
Tahun Terakhir

1 Mencapai batas usia pensiun, 1 0,01

2 Diangkat pada jabatan lain, 1 0,01

3 Mengundurkan diri, 1 0,01


Tidak mampu secara jasmani
4 dan/atau rohani sehingga tidak dapat 1 0,01
menjalankan kewajibannya,

Dikenakan sanksi hukum berdasarkan


5 putusan pengadilan yang telah 1 0,01
memiliki kekuatan hukum tetap,

Penilaian prestasi kerja tidak


6 memperoleh hasil dengan sebutan 1 0,01
paling rendah "baik",

7 Tugas belajar, 1 0,01

8 Menjadi anggota partai politik, 1 0,01

9 Meninggal dunia, dan 1 0,01

10 Periodisasi penugasan kepala sekolah. 1 0,01

Total 10 0,1

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 46


TABEL 3.3.
REKAPITULASI JUMLAH KEPALA SEKOLAH
YANG AKAN MEMASUKI BATAS USIA PENSIUN

PROVINSI : DIY
KAB./KOTA : Bantul
TAHUN : 2019

DATA USIA JUMLAH/


ORANG
Jumlah Sekolah 47
Jumlah Kepala Sekolah 47
- Usia < 55 tahun 25
- Usia 55 tahun 10
- Usia 56 tahun 5
- Usia 57 Tahun 4
- Usia 58 Tahun 1
- Usia 59 Tahun 2

TABEL 3.4
REKPITUALSI JUMLAH KEPALA SEKOLAH
YANG TIDAK DAPAT DIPERPANJANG MASA TUGASNYA BERDASARKAN
PERIODISASI PENUGASAN KEPALA SEKOLAH

PROVINSI : DIY
KAB./KOTA : Bantul
SEKOLAH : SMP
TAHUN : 2019

AKHIR MASA TUGAS n


TOTAL
Periode 3 Periode 4
(Pbl 1+Pbl 2)
Jumlah 2% Pbl 1 Jumlah 2 80 % Pbl 2
1
5 1 1 4 3,2 3 4

Keterangan:
Pbl = pembulatan

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 47


Berdasarkan data pada tabel di atas, maka perhitungan PKKS sebagai berikut:
5 10

𝑃𝐾𝐾𝑆 = ∑ 𝑆𝑏𝑖 + ∑ 𝑋𝑖
𝑖=1 𝑖=1

PKKS = 1 + (9+22+4)
= 36
Jadi Proyeksi Kebutuhan Kepala Sekolah (PKKS) Jenjang SMP di Kabupaten Bantul
selama lima tahun kedepan sebanyak 36 calon kepala sekolah

Pedoman Perencanaan Kebutuhan Kepala Sekolah 48