Anda di halaman 1dari 7

TUGAS RUTIN 4

Konsep Dasar Pendidikan Masyarakat

DOSEN PENGAMPU: Dr. Nurlaila, S.pd,M.pd

Nama: Kristika Mondang Matondang


NIM: 1193151035
Kelas: BK REGULER D 2019

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019

Kebutuhan Belajar Masyarakat


Latar Belakang
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar terlebih dahulu akan ditanyakan
kenapa manusia itu melakukan proses pembelajaran? Hal ini berkaitan dengan
tujuan dari orang atau manusia itu dalam mengikuti proses pembelajaran. Adapun
dengan kata lain tujuan disini adalah sebuah kebutuhan manusia yang secara
lahiriah maupun batiniah itu harus tercapai.
Kebutuhan manusia memang tidak ada batasnya, akan tetapi tidak semua
kebutuhan manusia itu selalu tercapai, hal ini terkait dengan kemampuan manusia
itu sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Di atas telah dikemukakan bahwa
manusia mengikuti pendidikan adalah karena manusia itu memiliki tujuan dalam
hidupnya dan bentuk dari tujuan itu adalah kebutuhan yang merupakan tuntutan
manusia untuk mempertahankan hidupnya, sedangkan dalam proses pembelajaran
itu sendiri juga memiliki kebutuhan agar dalam proses pembelajaran berjalan engan
baik dan sesuai dengan rencana.
Didalam penyusunan perencanaan sistem pembelajaran tidak dapat dipisahkan
dengan masalah, karena perencanaan sistem pembelajaran adalah bahan
pemecahan masalah belajar, sedangkan masalah belajar adala sisi balik dari
kebutuhan belajar. Akan menjadi lebih baik kalau dalam memenuhi kebutuhan
belajar itu menggunakan sistem yang terarah agar tujuan pembelajaran yang
dilakukan dapat terlihat dengan jelas dan pelaksanaannyapun akan menjadi lebih
teratur.
Melalui makalah ini, kami akan mencoba mengemukakan tentang kebutuhan belajar
dengan lebih spesifiknya lagi, kami akan menganalisis kebutuhan dan masalah
belajar.

Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan dapat ditemukan permasalah yang hal
inimerupkan sebuah bahan untuk menjadi pambahasan makalah kami yakni :
“Bagaimana upaya pemecahan masalah dalam mengatasi kebutuhan belajar yang
belum terpenuhi melalui sebuah analisi kebutuhan serta analisis masalah dalam
belajar”

Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dari penyusunan makalah ini yakni :
Sebagai sarana untuk mengaplikasikan bentuk dari kebutuhan belajar dan masalah
belajar dan pengertiannya dilihat dari perencanaan sistem pembelajaran;
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perencanaan Pembelajaran
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
Pendidikan Indonesia.

Pengertian Kebutuhan dan Masalah Belajar


Kebutuhan adalah kesenjangan (Gap/Discrepancy) antara apa/kondisi yang ada dan
apa/kondisi yang seharusnya ada. Kebutuhan belajar (learning needs) atau
kebutuhan pendidikan (education need) adalah kesenjangan yang dapat diukur
antara hasil belajar atau kemampuan yang ada sekarang dan hasil belajar atau
kemampuan yang diinginkan/dipersyararatkan. Menurut prof. Djuju Sudjana
kebutuhan belajar dapat diartikan sebagai suatu jarak antara tingkat pengetahuan,
keterampilan, dan/atau sikap yang dimiliki pada suatu saat dengan tingkat
pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang ingin diperoleh sesorang,
kelompok, lembaga, dan/atau masyarakat yang hanya dapat dicapai melalui
kegiatan belajar. Kaufman, menyebutkan bahwa masalah adalah selected gap. Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan belajar merupakan sebuah
gap antara keadaan yang sesungguhnya dengan keadaan yang diharapkan dan itu
harus terpenuhi dengan jalan belajar.
Sebagai misal, seorang pemuda yang menyatakan keinginannya untuk belajar
sosiologi dalam rangka memperluas pengetahuannya tentang kehidupan sosial
masyarakat di Indonesia bahkan dunia. Dengan demikian, keinginan yang dirasakan
dan dinyatakan, baik secara lisan maupun tulisan, yang harus dipenuhi melalui
kegiatan belajar disebut kebutuhan belajar.
Kebutuhan belajar itu beragam hingga setiap orang cenderung memiliki kebutuhan
belajar yang berbeda. Dalam satu kelompok yang meiliki sepuluh orang anggota
mungkin akan terdapat lebih dari sepuluh macam kebutuhan belajar setiap
anggotanya anggotanya. Kebutuhan yang dirasakan oleh seseorangpun mungkin
akan berbeda apabila ruang dan waktu itupun berbeda. Kebutuhan belajar yang
dirasakan oleh seseorang yang berada didaerah pedesaan mungkin akan berbeda
dengan kebutuhan belajar yang dirasakan apabila orang tersebut tinggal dikota.
Kebutuhan belajar yang dirasakan tahun lalu mungkin akan berbeda pula dengan
kebutuhan belajar yang akan dirasakan pada tahun mendatang. Apabila suatu
kebutuhan belajar telah terpenuhi, akan muncul kebutuhan belajar lainnya yang
harus dipenuhi melalui kegiatan belajar.
Kebutuhan belajar perlu diidentifikasi melalui pendekatan perorangan. Identifikasi ini
dilakukan dengan menggunakan instrumen yang cocok sehingga dapat
mengungkap informasi yang dinyatakan oleh setiap individu yang merasakan
kebutuhan belajar. Instrumen itu antara lain adalah wawancara, angket, dan kartu
SKBM (Sumber dan Kebutuhan Belajar Masyarakat).
Kebutuhan belajar yang dirasakan sama oleh setiap individu dalam suatu kelompok
disebut kebutuhan belajar kelompok. Kebutuhan belajar kelompok ini pada
umumnya daat dipenuhi melalui kegiatan belajar bersama atau kegiatan belajar
kelompok. Wadah kegiatan belajar bersama dalam suatu kelompo itu disebut
kelompok belajar. Kelompok belajar bertujuan untuk terjadinya proses belajar yang
didasarkan atas kebutuhan belajar yang telah diidentifikasi sebelumnya. Dengan
kata lain bahwa hasil identifikasi kebutuhan bahan belajar itu dijadikan bahan
masukan dalam penyusunan kurikulum atau program belajar. Kurikulum ini dapat
meliputi antara lainpengetahuan keterampilan, dan/atau sikap yang akan dipelajari
dalam kelompok belajar.
Kebutuhan belajar dapat disusun kedalam berbagai golongan. Beberapa pakar
pendidikn dan peneliti kebutuhan belajar yang dikemukakan dibawah ini dibuat oleh
Johnstone dan rivera (1965) dalam buku “Volunteers of Learning” yakni :
a. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan tugas pekerjaan;
b. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan kegemaran dan rekreasi;
c. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan keagamaan;
d. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan penguasaan bahasa dan
pengetahuan umum;
e. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan kerumahtanggaan;
f. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan penampilan diri;
g. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan pengetahuan peristiwabaru;
h. kebutuhan belajar yang berhubungan dengan usaha dibidang pertanian;
i. kebutuhan belajar yang berkaitan dengan pelayanan jasa.
Penggolongan kebutuhan belajar sebagaimana dikemukakan diatas dapat diperluas
sesuai dengan berkembangnya kebutuhan dan perubahan yang terjadi
dimasyarakat.penggolongan tersebut dapat memberikan gambaran tentang betapa
luasnya kebutuhan belajar yang dapat dijadikan bahan masukan dalam menentukan
program belajar dalam pendidikan luar sekolah. Luasnya kebutuhan belajar dapat
memberi arah pada pendidikan luar sekolah untuk mengembangkan program belajar
yang bervriasi, memerlukan waktu berlanjut dan berkesinambungan.

Macam-Macam Kebutuhan
Klasifikasi kebutuhan banyakdipengaruhi oleh segi pandangannya, seperti ahli
psikologi memandang bahwa kebutuhan terdiri dari primary needs dan secondary
needs. Dalam bidang pendidikan kebutuhan lebih bersifat kebutuhan sosial (social
needs)
Menurut Bradshaw (Briggs, 1977 : 22) membedakan adanya 5 macam kebutuhan,
yaitu :
a. Kebutuhan normatif adalah kebutuhan yang ada setelah dibandingkan dengan
norma tertentu kebutuhan normatif juga bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang
timbul apabila seseorang atau suatu kelompok berada dalam keadaan dibawah
suatu ukuran (standard) yang telah ditetapkan. Sebagai contoh, seseorangdapat
disebut menderita kekurangan gizi apabila ia senantiasamemakan makanan yang
nilai gizinya dibawah ukuran yang telah ditetapkan oleh instansi yang bergerak
dibidang kesehatan. Dalam bidang pendidikan, kebutuhan normatif muncul pula
apabila penampilan seseorang siswa pada suatu lembaga pendidikan berada
dibawah rata-rata penampilan siswa yang telah ditetapkan oleh lembaga tersebut.
Walaupun demikian tidak mudah untuk mengetahui dengan pasti mengenai tingkat
perbedaan keadaan seseorang atau kelompok dengan ukuran yang telah ditetapkan
itu. Hal ini disebabkan karena suatu keadaan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
seperti oleh keadaan iklim, prestasi kerja, kondisi badan, keadaan keluarga,
perbedaan ukuran yang digunakan, dan perbedaan lain yang dimiliki oleh setiap
orang.
b. Kebutuhan terasa (feels needs)atau dapat pila disebut sebagai keinginan (want).
Kebutuhan jenis ini biasanya disampaikan seseorang kalau kepadanya kita tanyakan
apa yang diperlukan atau diinginkan yang dirasakan pada saat itu. Kebutuhan terasa
dianggap sama dengan keinginan atau kehendak. Tipe kebutuhan ini dapat
diidentifikasi dengan mudah melalui wawancara dengan seseorang atau sekelompok
orang mengenai apa yang mereka inginkan. Kendatipun cara mengidentifikasi ini
menunjukkan pendekatan demokratis, namun cara tersebut tidak lepas dari
kelemahan kelemahannya antara lain adalah bahwa keinginan seseorang atau
kelompok akan dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap kemungkina untuk
mencapainya, persepsi masyarakat tentang keinginan itu, tingkat upaya dalam
mencapai keinginan, dan daya dukung untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan
tersebut.
c. Expressed Needs atau Demand yaitu kebutuhan yang ditampakkan oleh orang-
orang yang membutuhkannya, seperti orang membutuhkan bahan bakar dengan
mengekspresikan mereka mengantri ditempat penjualan bahan bakar. Kebutuhan
yang dinyatakan dapat pula diidentifikasi melalui wawancara atau kuesioner dengan
seseorang atau kelompok orang.
d. Kebutuhan komparatif (Comparated Needs) adalah kebutuhan yang muncul kalu
kita membandingkan dua kondisi atau lebih yang berbeda.
e. Kebutuhan masa datang (Antisipated/Future Needs). Jenis ini merupakan
proyeksi atau antisipasi kebutuhan yang akan terjadi dimasa mendatang. Sebagai
misal apabila suatu badan perencana pembangunan kota merencanakan
pembangunan jalan baruyang akan mulai dibangun sepuluh tahun yang akan datang
maka pada dasarnya badan tersebut merancang untuk memnuhi kebutuhan masa
yang akan datang. Kekurangan upaya dalam mempertimbangkan kebutuhan masa
yang akan datang dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas pada saat tertentudi
masa depan. Demikian pula dengan kemandekan atau kelambanan perkembangan
suatu program pembangunan disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap
perhatian yang mungkin timbul pada masa yang akan datang. Dalam penddikan luar
sekolah, identifikasi kebutuhan yang diantisipasi ini akan membantu dalam
mempersiapkan peserta didik agar mampu memantau lingkungan dan memahami
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dimasa depan. Kebutuhan ini
diperlukan pula oleh para perencana pendidikan dan pembangunan untuk
menghindari “future shock” dalam perkembangan dan hasil pendidikan dimasa
depan.
Kadangkala kita menghadapi banyak kebutuhan yang diharapkan oleh sesorang,
sehingga pada akhirnya kita perlu mengadakan Needs Assesment Atau Discrepancy
Analysis

Prosedur Pengukuran Kebutuhan Belajar


Pengukuran kebutuhan belajar sangat penting untuk dilakukan, karena hal ini akan
berpengaruh pada beberapa hal, yakni :
a) pegukuran tersebut dapat memusatkan perhatian perencanaan program pada
masalah-masalah yang menonjol. Dengan data hasil pengukuran dapat dijamin
alokasi pemakaian waktu serta sumber-sumber personil. Hal ini mengacu pada
program yang sistematis dan berfungsi secara menyeluruh serta merata, dengan
menggunakan pengukuran data kebutuhan efektifitas waktu serta program dapat
direncanakan dengan seksama dan dengan lebih terarah.
b) Needs Assesment dapat memusatkan perhatian satu kebutuhan dan bukan
kebutuhan yang lain. Sebab needs assesment adalah sebuah pengidentifikasian
kebutuhan dengan melihat kebutuhan masyarakat atau warga belajar itu sendiri agar
apa yang diberikan dalam proses pembelajaran itu sesuai dengan kebutuhan warga
belajar serta dapat lebih bermanfaat bagi warga belajar itu sendiri.
c) Dapat memberikan informasi penting bagi pengukuran perkembangan atau
performance siswa berikutnya.
Pengukuran kebutuhan atau analisis kesenjangan ini memiliki 3 (tiga) karakteristik
(koufman, 1972 :29), yaitu :
Data yang terkumpul harus menggambarkan keadaan calon siswa atau orang
lainyang mempunyai kondisi yang sama.
Setiap pernyataan kebutuhan sifatnya tentative.
sebaiknya kesenjangan diidentifikasi dari sudut tingkah laku aktual, tidak dari segi
proses pencapaian. Maksudnya, untuk mengidentifikasi kebutuhan dalam belajar itu
dilihat dari kebutuhan yang terakhir atau yang paling penting.
Untuk mengadakan assesment needs (menelusuri kebutuhan) ini kita perlu
melibatkan tiga usur berikut ini :
Calon siswa (calon warga belajar / calon peserta didik)
Orang tua, dan anggota masyarakat
Para pendidik, atau pelaksana proses pendidikan.

Model Pengukuran Kebutuhan


Koufman (1972) membedakan tiga jenis model pengukuran kebutuhan, yaitu :
1. Model Induktif (tipe I), dengan langkah-langkah :
· Mulai dari pengukuran tingkah laku siswa pada saat sekarang;
· Kemudian mengelaompokkan dalam kawasan program dari sudut tujuan (umum)
yang diharapkan;
· Harapan-harapan tersebut dibandingkan dengan tujuan yang besar yang ada pada
kurikulum, baru lahirlah kesenjangan;
· Untuk menyediakan program, maka disusun tujuan secara terperinci dalam
program yang tepat, dilaksanakan, dievaluasi, dan diravisi.
2. Model deduktif (tipe D), dengan langkah-langkah :
· Dimulai dari tujuan umum berupa pernyataan hasil belajar yang diharapkan;
· Kembangkan ukuran / kriteria untuk mengukur tingkah laku tertentu;
· Kumpulkan data untuk mengetahui adanya kesenjangan;
· Atas dasar kesenjangan – kesenjangan tersebut disusun tujuan khusus secara
detail;
· Program dikembangkan, dilaksanakan, dan dievaluasi.
3. Model Klasikal / Classical (Type C), dengan langkah-langkah :
Banyak tergantung pada guru yang akan menyampaikan bahan belajar, tidak
didasarkan kepada kebutuhan belajar siswa;
Penyusunan tujuan umum;
Pengembangan program, dan pelaksanaan;
Penilaian dan revisi.
Klein (Burton, Merril), mengemukakan terdapat empat fase antara lain :
a. Pengidentifikasian sebanyak mungkin tujuan-tujuan yang mungkin tercapai;
b. Susun / urutkan tujuan – tujuan tersebut atas dasar penting atau tidaknya;
c. Identifikasi kesenjangan antara performance yang ada dan yang diharapkan;
d. Susun prioritas untuk melakukan kegiatan.

Hubungan Antara Pengukuran Kebutuhan Belajar Dengan Sistem Perencanaan


Pembelajaran
Dalam pengukuran kebutuhan belajar itu dilakukan dengan 3 langkah yakni yang
telah dijelaskan diatas :
e. pegukuran tersebut dapat memusatkan perhatian perencanaan program pada
masalah-masalah yang menonjol. Dengan data hasil pengukuran dapat dijamin
alokasi pemakaian waktu serta sumber-sumber personil
f. Needs Assesment dapat memusatkan perhatian satu kebutuhan dan bukan
kebutuhan yang lain
g. Dapat memberikan informasi penting bagi pengukuran perkembangan atau
performance siswa berikutnya.
Dari ketiga faktor diatas kit dapat mengetahui bahwa hal yang paling berpegaruh
dalam pengukuran kebutuhan atau yang dijadikan sebagai pusat kebutuhan adalah
needs assesment dan ini sangat penting untuk dijadikan sebagai bahan ukur untuk
mengetahi kebutuhan belajar warga belajar / masyarakat. Dengan demikian, ada
suatu keterkaitan yang saling mempengauhi antara needs assesment dengan sistem
perencanaan pembelajaran. Karena dengan mengetahui apa yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan dalam belajar, otomatis hal ini akan terkait dengan sebuah
sistem perencanaan pembelajaran sebab sistem perencanaan pembelajaran ini
adalah langkah awal untuk mencapai atau meraih apa yang dibutuhkan dalam
belajar dengan kata lain sistem ini adalah sebuah pemecah masalah dalam belajar
atau pemecah masalah dalam sebuah kebutuhan yang harus terpenuhi dalam
pandangan pembelajaran.

KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah dikemukakan, kami dapat menyimpulkan bahwa upaya
pemecahan masalah dalam mengatasi kebutuhan belajar yang belum terpenuhi
melalui sebuah analisis kebutuhan serta analisis masalah dalam belajar yaitu kita
harus tahu indikator apa sebenarnya yang menjadi pengaruh. Adapun indikator ini
yakni macam-macam kebutuhan, prosedur pengukuran kebutuhan belajar, model
pengukuran kebutuhan dari tiga indikator inilah kita dapat menemukan sebuah
pemecahan masalah baik itu dalam kebutuhan belajar atau masalah belajar yang
nantinya akan melahirkan perencanaan sistem pembelajaran yang merupakan
sebuah lankah awal untuk membentuk proses pembelajaran yang efektif dan
sebagai rencana untuk mengetahui apa yang harus dilakukan setelah tahu akan
kebutuhan terhadap belajar.