Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


PADA KASUS DHF (DENGUE HEMORAGIC FEVER)

1.1. Definisi
Dengue Haemoragic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD)
merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan
melalui nyamuk Aedes Aegypti (Susilaningrum dkk, 2013).
Demam dengue / DF dan DBD atau DHF adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan
nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan
diathesis hemoragik (Sudoyo, 2010).
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue, sejenis virus yang
tergolong arbovirus dan masuk ke tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan Demam Berdarah
Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) atau lebih sering dikenal sebagai Demam
Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam,
manifestasi perdarahan, dan bertendensi mngakibatkan renjatan (syok) yang dapat
menyebabkan kematian (Mansjoer, 2000: 419).
DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh
karena virus dengue yang termasuk golongan abrovirus melalui gigitan nyamuk
Aedes Aegygti betina. Penyakit ini biasa disebut Demam Berdarah Dengue
(Hidayat, 2006: 123).
Dengue Shyok Syndrome (DSS) adalah sindrome syok yang terjadi pada
penderita dengue hemoragic fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD)
(Sumarmo dkk, 2008).

1.2. Etilologi
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dari kelompok arbovirus B,
yaitu arthropod-born envirus atau virus yang disebarkan oleh artropoda. Vector
utama penyakit DBD adalah nyamuk aedes aegypti (didaerah perkotaan) dan
aedes albopictus (didaerah pedesaan) (Widoyono, 2008).
Sifat nyamuk senang tinggal pada air yang jernih dan tergenang, telurnya
dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu 20-42 kelembaban terlalu rendah telur
ini akan menetas dalam waktu 4 hari, kemudian untuk menjadi nyamuk dewasa ini
memerlukan waktu 9 hari. Nyamuk dewasa yang sudah menghisap darah 3 hari
dapat bertelur 100 butir (Murwani, 2011).

1.3. Klasifikasi
Menurut WHO DHF dibagi dalam 4 derajat yaitu:
a. Derajat I : Demam disertai gejala klinik khas dan satu-satunya
manifestasi perdarahan dalam uji tourniquet positif, trombositopenia,
himokonsentrasi.
b. Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan spontan pada kulit atau
tempat lain.
c. Derajat III : Ditemukannya kegagalan sirkulasi, ditandai oleh nadi cepat
dan lemah, tekanan darah turun (20 mmHg) atau hipotensi disertai
dengan kulit dingin dan gelisah.
d. Derajat IV : Kegagalan sirkulasi, nadi tidak teraba dan tekanan darah
tidak terukur.
Klasifikasi DHF menuruut Pembagian Derajat dari (Soegijanto, 2006), antara
lain:
a. Derajat I : Demam dengan uji torniquet positif.
b. Derajat II : Demam dan perdarahan spontan, pada umumnya dikulit atau
perdarahan lain.
c. Derajat III : Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai
hepatomegali dan ditemukan gejala-gejala kegagalan sirkulasi meliputi
nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (<20mmHg)/ hipotensi
disertai ekstremitas dingin, dan anak gelisah.
d. Derajat IV : demam, perdarahan spontan disertai atau tidak disertai
hepatomegali dan ditemukan gejala-gejala renjatan hebat (nadi tak teraba
dan tekanan darah tak terukur).
1.4. Patofisiolosi
Manifestasi terjadi DHF ialah meningginya permeabilitas dinding pembuluh
darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan
diatesis hemoregic. Pada kasus berat, renjatan terjadi secara akut nilai hematokrit
meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding
pembuluh darah pada penderita dengan renjatan berat, volume plasma dapat
menurun sampai lebih 30%. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat
kehilangan plasma, bila tidak segera diatasi dapat mengakibatkan anoksia
jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Kelainan yang paling sering ditemukan
ialah perdarahan di kulit berupa ptekie, perdarahan di saluran pencernaan, paru,
dan jaringan periodrenal, hati membesar, terdapat perlemakan, yang disertai
perdarahan atau sarang nekrosis hemoregik (IKA-FKUI, 2005:610).
Patofisiologi merurut Sudoyo adalah sebagai berikut ini:
Virus dengue yang masuk ke dalam tubuh manusia akan menyebabkan klien
mengalami viremia. Beberapa tanda dan gejala yang muncul seperti demam, sakit
kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, timbulnya ruam dan kelainan yang
munkin terjadi pada system vaskuler.
Pada penderita DBD, terdapat kerusakan yang umum pada system vascular
yang mengakibatkan terjadinya peningkatan permeabilitas dinding pembuluh
darah. Plasma dapat menembus dinding vaskuler selama proses perjalanan
penyakit, dari mulai demam hingga klien mengalami renjatan berat. Volume
plasma dapat menurun hingga 30 %. Hal inilah yang dapat menyebabkan
seseurang mengalami kegagalan sirkulasi. Adanya kebocoran plasma ini jika tidak
segera ditangani dapat menyebabkan hipoksia jaringan, asidosis metabolic yang
pada akhirnya dapat berakibat fatal yaitu kematian.
Viremia juga menimbulkan agregasi trombosit dalam darah sehingga
menyebabkan trombositopeni yang berpangaruh pada proses pembekuan darah.
Perubahan fungsioner pembuluh darah akibat kebocoran plasma yang berakhir
pada perdarahan, baik pada jaringan kulit maupun saluran cerna biasanya
menimbulkan tanda seperti munculnya purpura, ptekie, hematemesis, ataupun
melena (Sudoyo, 2006: 1732).
1.5. Pathway
1.6. Manifestasi Klinis
Gejala klinis utama pada DBD adalah demam dan manifestasi perdarahan
baik yang timbul secara spontan maupun setelah uji torniquet.
a. Demam tinggi mendadak yang berlangsung selama 2-7 hari
b. Manifestasi perdarahan
1) Uji tourniquet positif
2) Perdarahan spontan berbentuk peteki, purpura, ekimosis, epitaksis,
perdarahan gusi, hematemesis, melena.
c. Hepatomegali (perbesaran pada hepar)
d. Renjatan, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (<20mmHg) atau nadi
tak teraba, kulit dingin, dan anak gelisah (Soegeng, 2006).
Menurut Aziz Alimul (2006:123) manifestasi Klinik DHF sangat bervariasi
yaitu:
1. Demam, penyakit ini didahului oleh demam yang tinggi atau panas mendadak
berlangsung 3-8 hari kemudian turun secara cepat.
2. Ruam biasannya 5-12 jam sebelum naiknya suhu pertama kali, dan
berlangsung selama 3-4 hari.
3. Pembesaran hati yang terjadi pada permulaan demam (sudah dapat diraba
sejak permulaan sakit).
4. Syok yang ditandai nadi lemah, cepat, disertai tekanan nadi yang menurun
(menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistolik
menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai kulit yang terasa dingin dan
lembab, terutama pada ujung hidung, jari dan kaki.
Manifestasi klinis menurut Susalaningrum, R (2013), antara lain sebagai
berikut:
a. Hb dan PCV meningkat (> 20%)
b. Trombositopenia < 100.000/mL
c. Leukopenia (mungkin normal atau lekositosis)
d. Ig D dengue positif
e. Urine dan pH darah mungkin meningkat
f. Asidosis metabolik pCO2 < 35-40 mmHg, HCO3 rendah
g. SGOT atau SGPT mungkin meningkat
1.7. Pemeriksaan Penunjang
Langkah - langkah diagnose medik pemeriksaan menurut (Murwani, 2011),
antara lain:
a. Pemeriksaan hematokrit (Ht) : ada kenaikan bisa sampai 20%, normal: pria
40-50%; wanita 35-47%
b. Uji torniquit: caranya diukur tekanan darah kemudian diklem antara
tekanan systole dan diastole selama 10 menit untuk dewasa dan 3-5 menit
untuk anak-anak. Positif ada butir-butir merah (petechie) kurang 20 pada
diameter 2,5 inchi.
c. Tes serologi (darah filter) : ini diambil sebanyak 3 kali dengan memakai
kertas saring (filter paper) yang pertama diambil pada waktu pasien masuk
rumah sakit, kedua diambil pada waktu akan pulang dan ketiga diambil 1-3
mg setelah pengambilan yang kedua. Kertas ini disimpan pada suhu kamar
sampai menunggu saat pengiriman.
d. Isolasi virus: bahan pemeriksaan adalah darah penderita atau jaringan-
jaringan untuk penderita yang hidup melalui biopsy sedang untuk
penderita yang meninggal melalui autopay. Hal ini jarang dikerjakan.
e. Pemeriksaan radiology
Foto thorax: Pada foto thorax mungkin dijumpai efusi pleura.
Pemeriksaan USG: Pada USG didapatkan hematomegali dan splenomegali.
f. Pemeriksaan Urine
Pada pemeriksaan urine dijumpai albumin ringan.
g. Pemeriksaan darah lengkap.

1.8. Diagnosa Banding


Diagnosa banding yang mungkin muncul pada pasien dengan diagnosa medis
DHF, antara lain:
a. Typus ( Demam Thypoid)
b. Demam Cikungunya
c. Anemia aplastik dan Leukimia
d. Idiopatic Thrombocytopenic Purpura (ITP)
1.9. Penatalaksanaan
Untuk penderita tersangka DF / DHF sebaiknya dirawat dikamar yang bebas
nyamuk (berkelambu) untuk membatasi penyebaran. Perawatan kita berikan
sesuai dengan masalah yang ada pada penderita sesuai dengan beratnya penyakit.
a. Derajat I: terdapat gangguan kebutuhan nutrisi dan keseimbangan elektrolit
karena adanya muntah, anorexsia. Gangguan rasa nyaman karena demam,
nyeri epigastrium, dan perputaran bola mata.
Perawat: istirahat baring, makanan lunak (bila belum ada nafsu makan
dianjurkan minum yang banyak 1500-2000cc/hari), diberi kompres dingin,
memantau keadaan umum, suhu, tensi, nadi dan perdarahan, diperiksakan
Hb, Ht, dan thrombosit, pemberian obat-obat antipiretik dan antibiotik bila
dikuatirkan akan terjadi infeksi sekunder
b. Derajat II: peningkatan kerja jantung adanya epitaxsis melena dan hemaesis.
Perawat: bila terjadi epitaxsis darah dibersihkan dan pasang tampon
sementara, bila penderita sadar boleh diberi makan dalam bentuk lemak
tetapi bila terjadi hematemesis harus dipuaskan dulu, mengatur posisi kepala
dimiringkan agar tidak terjadi aspirasi, bila perut kembung besar dipasang
maag slang, sedapat mungkin membatasi terjadi pendarahan, jangan sering
ditusuk, pengobatan diberikan sesuai dengan intruksi dokter, perhatikan
teknik-teknik pemasangan infus, jangan menambah pendarahan, tetap
diobservasi keadaan umum, suhu, nadi, tensi dan pendarahannya, semua
kejadian dicatat dalam catatan keperawatan, bila keadaan memburuk segera
lapor dokter.
c. Derajat III: terdapat gangguan kebutuhan O2 menurun, penderita mengalami
pre shock/ shock karena kerja jantung.
Perawatan: mengatur posisi tidur penderita, tidurkan dengan posisi
terlentang denan kepala extensi, membuka jalan nafas dengan cara pakaian
yang ketat dilonggarkan, bila ada lender dibersihkan dari mulut dan hidung,
beri oksigen, diawasi terus-meneris dan jangan ditinggal pergi, kalau
pendarahan banyak (Hb turun) mungkin berikan transfusi atas izin dokter,
bila penderita tidak sadar diatur selang selin perhatian kebersihan kulit juga
pakaian bersih dan kering.
1.10. Komplikasi
Adapun komplikasi dari DHF (Hadinegoro, 2006: 23) adalah:
1. Perdarahan
Disebabkan oleh perubahan vaskuler, penurunan jumlah trombosit dan
koagulopati, dan trombositopeni dihubungkan meningkatnya megakoriosit
muda dalam sel-sel tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendensi
perdarahan dapat dilihat pada uji torniquet positif, ptekie, ekimosis, dan
perdarahan saluran cerna, hematemesis, dan melena (Hadinegoro, 2006: 24).
2. Kegagalan sirkulasi
DSS (Dengue Syock Syndrom) terjadi pada hari ke 2-7 yang disebabkan oleh
peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi kebocoran plasma, efusi
cairan serosa ke ronnga pleura dan peritoneum, hiponatremia,
hemokonsentrasi, dan hipovolemi yang mngekaibatkan berkurangnya aliran
balik vena, penurunan volume sekuncup dan curah jantung sehingga terjadi
disfungsi atau penurunan perfusi organ. DSS juga disertai kegagalan
hemeostasis yang mengakibatkan aktivitas dan integritas sistem
kardiovaskular, perfusi miokard dan curah jantung menurun, sirkulasi darah
terganggu dan terjadi iskemi jaringan dan kerusakan fungsi sel secara
progresif dan irreversible, terjadi kerusakan sel dan organ sehingga pasien
akan meninggal dalam wakti 12-24 jam (Hadinegoro, 2006: 25).
3. Hepatomegali
Hati umumnya membesar dengan perlemakan yang dihubungkan dengan
nekrosis karena perdarahan yang terjadi pada lobulus hati dan sel-sel kapiler.
Terkadang tampak sel metrofil dan limphosit yang lebih besar dan lebih
banyak dikarenakan adanya reaksi atau komplek virus antibody (Hadinegoro,
2006:15).
4. Efusi Pleura
Terjadi karena kebocoran plasma yang mengakibatkan ekstrasi
cairanintravaskuler sel, hal tersebut dibuktikan dengan adanya cairan dalam
rongga pleura dan adanya dipsnea (Hadinegoro, 2006: 23).
5. Gagal Ginjal
6. Gagal Jantung
1.11. Proses Keperawatan
1.11.1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan,
verifikasi, komunikasi dan data tentang pasien. Pengkajian ini didapat dari
dua tipe yaitu data subyektif dan persepsi tentang masalah kesehatan mereka
dan data obyektif yaitu pengamatan/pengukuran yang dibuat oleh
pengumpulan data.
Berdasarkan klasifikasi NANDA (Herdman, 2018), fokus pengkajian
yang harus dikaji tergantung pada ukuran, lokasi, dan etiologi kalkulus:
a. Nutrisi dan Metabolik
Gejala : Penurunan nafsu makan, mual muntah, haus, sakit saat menelan.
Tanda : Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor, nyeri tekan pada
ulu hati.
b. Aktivitas/ Istirahat
Tanda: Dispnea, pola nafas tidak efektif, karena efusi pleura.
Gejala: keterbatasan aktivitas sehubungan dengan kondisi sebelumnya,
pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi.
c. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD, HR, nadi, kulit hangat dan kemerahan, Nadi cepat
dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin, dispnea, perdarahan nyata (kulit
epistaksis, melena hematuri), peningkatan hematokrit 20% atau lebih,
trombosit kurang dari 100.000/mm.
Gejala : Sakit kepala/ pusing, gelisah.
d. Eliminasi
Gejala: riwayat ISK, obstruksi sebelumnya, penurunan volume urin, rasa
terbakar.
Tanda: oliguria, hematuria, piouria, perubahan pola berkemih. Konstipasi,
penurunan berkemih, melena, hematuri, (tahap lanjut).
e. Pencernaan
Tanda: mual-mual, muntah.
f. Pola persepsi sensori dan kognitif
Gejala : Nyeri ulu hati, nyeri otot/ sendi, pegal-pegal seluruh tubuh.
Tanda : Cemas dan gelisah.
g. Keamanan
Gejala : Adanya penurunan imunitas tubuh, karena hipoproteinemia.
Tanda: Pasein resiko akibat lemas
h. Persepsi diri dan konsep diri
Tanda : Ansietas, ketakutan, gelisah.
i. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi :
 Keadaan umum pasien : lemah.
 Kesadaran : kompomentis, apatis, somnolen, soporocoma, koma
refleks, sensibilitas, nilai gasglow coma scale (GCS).
 Tanda-tanda vital : tekanan darah (hipotensi), suhu (meningkat), nadi
(takikardi), pernafasan (cepat).
 Keadaan : kepala (pusing), mata, telinga, hidung (epistaksis), mulut
(mukosa kering, lidah kotor, perdarahan gusi), leher, rektum, alat
kelamin, anggota gerak (dingin), kulit (ptekie).
 Sirkulasi : turgor (jelek).
 Keadaan abdomen :
Inspeksi : datar
Palpasi : teraba pembesaran pada hati
Perkusi : bunyi timpani
Auskultasi : peristaltik usus

1.11.2. Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien yeng
mengalami DHF adalah:
a. Defisiensi volume cairan berhubungan dengan hambatan
mengakses cairan dengan berpindahnya cairan intraseluler ke
ekstraseluler (kebocoran plasma).
b. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual muntah, anoreksia.
c. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
kurangnya suplai O2 dalam tubuh
d. Risiko Syok berhubungan dengan Hipovolemia hematemesis,
melena
e. Hipertermia berhubungan dengan dehidrasi
f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan oksigen

1.11.3. Perencanaan

NOC NIC
Tujuan: Managemen Cairan (4120)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Mengkaji keadaan umum pasien dan
selama 2 x 24 jam kebutuhan cairan tanda-tanda vital.
klien terpenuhi secara adekuat dan 2. Mengobservasi kemungkinan adanya
defisiensi volume cairan teratasi. tanda-tanda syok.
3. Memberikan cairan intravaskuler sesuai
Kriteria Hasil: program.
Keseimbangan Cairan (0601) 4. Memotivasi klien untuk banyak minum.
Kode Indikator S. S.T 5. Memonitor haluaran urine dan asupan
A cairan klien (balance cairan).
060116 Turgor kulit 5 6. Kaji nadi perifer, pengisian kapiler,
060119 Hematokrit 5
060112 Edema perifer 5 turgor kulit dan membran mukosa.
060113 Bola mata 7. Pantau masukan dan pengeluaran
cekung dan 5 cairan.
lembek 8. Pertahankan untuk memberikan cairan
Keterangan:
paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas
1= Sangat terganggu
yang dapat ditoleransi jantung
2= Banyak terganggu
9. Catat hal-hal seperti mual, muntah dan
3= Cukup terganggu
distensi lambung.
4= Sedikit terganggu
10. Berikan terapi cairan normal salin
5= Tidak terganggu
dengan atau tanpa dextrosa, pantau
Keparahan Kehilangan Darah (0413)
pemeriksaan laboratorium.
Kode Indikator S.A S.T Manajemen Hipovolemi:
04130 1. Berikan transfusi produk darah yang
Hematuria 5
2 dibutuhkan.
04130
Hemoptysis 5 2. Monitor adanya tanda reaksi dari
4
04130 transfusi darah.
Hematemesis 5
5 3. Monitor integritas kulit.
04131 4. Sediakan cairan oral.
Penurunan Hb 5
6 5. Anjurkan keluarga tetap mencatat
04131 Penurunan
5 intake dan output.
7 Hematokrit
Keterangan:
1= Berat
2= Cukup Berat
3= Sedang
4=Ringan
5=Tidak ada

Tujuan: Manajemen Nutrisi (1100)


Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Observasi keadaan umam pasien dan
selama 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi keluhan pasien.
klien terpenuhi secara adekuat dan 2. Kaji tingkat kekurangan nutrisi.
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari 3. Observasi penurunan tonus otot.
kebutuhan tubuh teratasi. 4. Tentukan program diet dan pola makan
pasien dan bandingkan dengan
Kriteria Hasil: makanan yang dapat dihabiskan oleh
Status Nutrisi (1004) pasien.
Kode Indikator S.A S.T 5. Timbang berat badan setiap hari atau
10040 Asupan 5 sesuai indikasi.
2 makanan 6. Identifikasi makanan yang disukai atau
10040 Asupan cairan 5
dikehendaki yang sesuai dengan
8
10041 Hidrasi 5 program diit.

1 7. Ajarkan pasien dan libatkan keluarga


10040 Energi 5 pasien pada perencanaan makan sesuai
3
indikasi.
Status Nutrisi: Pengukuran Biokimia 8. Kolaborasi dengan dokter untuk
(1005) pemberian obat anti mual.
Kode Indikator S.A S.T 9. Memberikan makanan sedikit tapi
10050 Serum albumin sering, usahakan dalam keadaan hangat.
5
1 10. Jika pemberian makanan per oral gagal,
10050 Hematokrit
5 kolaborasi pemebrian makanan
3
10050 Hemoglobin parenteral.
5
4 11. Kolaborasi pemberian antiemetic dan
Keterangan: antasisda.
1=Sangat menyimpang dari rentang
normal
Managemen Gangguan Makan (1030)
2= Banyak menyimpang dari rentang
normal 1. Monitor TTV secara berkala
3= Cukup menyimpang dari rentang 2. Monitor asupan nutrisi dengan tepat
normal
setiap harinya
4= Sedikit menyimpang dari rentang
normal 3. Monitor berat badan
5= Tidak menyimpang dari rentang 4. Batasi aktivitas fisik yang dilakuka
normal
pasiem
5. Observasi setiap pasien setelah
Status Nutrisi: Asupan Makanan dan
konsumsi makanan
cairan (1008)
Kode Indikator S.A S.T
10080 Asupan 5
makanan secara
1
oral
10080 Asupan cairan 5
secara oral
3
10080 Asupan cairan 5
intravena
4
10080 Asupan nutrisi 5
parenteral
5
Keterangan:
1= Tidak adekuat
2= Sedikit adekuat
3= Cukup adekuat
4= Sebagian besar adekuat
5= Sepenuhnya adekuat

Status Nutrisi: Asupan Nutrisi


(1009)
Kode Indikator S.A S.T
10090 Asupan kalori 5
1
10090 Asupan protein 5
2
Keterangan:
1= Sangat menyimpang dari rentang
normal
2= Banyak menyimpang dari rentang
normal
3= Cukup menyimpang dari rentang
normal
4= Sedikit menyimpang dari rentang
normal
5= Tidak menyimpang dari rentang
normal

Tujuan:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama 2 x 24 jam perfusi jaringan klien
terpenuhi secara adekuat dan
ketidakefektifan perfusi jaringan
teratasi.

Kriterian Hasil:
Perfusi Jaringan Perifer (0407)
Kode Indikator S.A S.T
04071 Suhu kulit ujung
tangan dan kaki 5
0
04072 Tekanan darah
sistolik 5
7
04072 Tekanan darah 5
8 diastolik
04071 Edema perifer
5
2
04074 Muka pucat
5
3
04074 Kelemahan otot
5
4
Keterangan:
1= Deviasi berat dari kisaran normal
2= Deviasi yang cukup besar dari
kisaran normal
3= Deviasi sedang dari kisaran normal
4= Deviasi ringan dari kisaran normal
5= tidak ada deviasi dari kisaran normal

Tujuan: Pencegahan Syok (4260)


Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Monitor keadaan umum pasien.
selama 2 x 24 jam risiko syok teratasi. 2. Monitor tanda perdarahan.
3. Observasi tanda-tanda vital tiap 2
Kriterian Hasil: sampai 3 jam.
Keparahan Syok: Hipovolemik 4. Cek haemoglobin, hematokrit,
(0419) trombosit.
Kode Indikator S.A S.T 5. Berikan transfusi sesuai program
04190 Penurunan 5 dokter.
tekanan nadi
1 6. Lapor dokter bila tampak syok
perifer
04190 Penurunan 5 hipovolemik.
tekanan darah
3 7. Monitor tanda penurunan trombosit
sistolik
04190 Penurunan 5 yang disertai gejala klinis.
tekanan darah
4 8. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat.
diastolik
04191 Pucat 5 9. Beri penjelasan untuk segera melapor
8 bila ada tanda perdarahan lebih lanjut.
04192 Penurunan 5
keluaran urine 10. Jelaskan obat yang diberikan dan
1
04192 Kelemahan 5 manfaatnya.

2 11. Kaji tanda-tanda syok hipovolemik.


04192 Asdosis 5 12. Monitor intake, out put cairan.
metabolik
6 13. Observasi kesadaran dan perubahan
Keterangan: tingkah laku.
1= Berat 14. Observasi daerah akral dan turgor kulit.
2= Cukup berat 15. Cek Hb, HT, trombosit.
3= Sedang 16. Kolaborasi pemberian cairan parenteral.
4= Ringan
5= Tidak ada
Tujuan: Perawatan Demam (3740)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Beri penjelasan tentang penyebab
selama 2 x 24 jam panas yang diderita demam/peningkatan suhu tubuh.
berkurang dengan hipertermia teratasi. 2. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi,
pernafasan) setiap 3 jam.
Kriterian Hasil: 3. Anjurkan untuk tidak memakai selimut
Termoregulasi (0800) dan pakaian yang tebal
4. Kaji saat timbulnya demam.
Kode Indikator S.A S.T
08000 Merasa 5. Berikan terapi cairan intravena dan
merinding saat 5 obat-obatan sesuai program dokter
9
dingin
08001 Berkeringat saat 6. Anjurkan pasien untuk banyak minum
panas 5
0 ± 1 – 2 liter/hari.
08001 Denyut nadi 7. Berikan kompres hangat
radial 5
1 8. Kajian saat tubuhnya demam.
08000 Peningkatan
suhu kulit 5 9. Observasi vital sign setiap 3 jam.
1
08000 Otot berkedut 10. Kolaborasi pemberian antipiretik.
5
8 11. Amankan lingkungan agar pasien bisa
08001 Dehidrasi beristirahat dengan baik.
5
4
08000 Sakit otot
5
4
Keterangan:
1= Sangat terganggu
2= Banyak terganggu
3= Cukup terganggu
4= Sedikit terganggu
5= Tidak terganggu

Tujuan: Terapi aktivitas


Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Kaji kemampuan pasien dalam
selama 2 x 24 jam, pasien mampu beraktivitas
beraktivitas seperti biasanya dengan 2. Monitor tanda-tanda vital
intoleransi aktivitas teratasi. 3. Berikan lingkungan yang tenang.
4. Prioritaskan asuhan keperawatan, untuk
Kriterian Hasil: meningkatkan istirahat.
Tingkat Ketidakberdayaan (2109) 5. Berikan bantuan dalam beraktivitas.
Terapi Latihan: Ambulasi
Kode Indikator S.A S.T 1. Konsultasikan pada ahli terapi fisik
21091 Tidak dapat 5 mengenai rencana ambulasi sesuai
4 beraktivitas kebutuhan
21091 Otot pegal 5
2. Instruksikan ketersediaan perangkat
7
21092 Kehilangan 5 pendukung , sesuaikan dengan keadaan
5 nafsu makan pasien
21092 Menggigil 5 3. Bantu pasien dengan ambulasi awal dan
6 jika diperlukan
21092 Mual 5
4. Bantu pasien untuk berdiri/ latihan
8
Keterangan: berdidi dengan jarak tertentu

1= Berat 5. Gunakan sabuk (untuk) berjalan (gait

2= Cukup Berat belt) untuk membantu perpindahan dan

3= Sedang ambulasi sesuai kebutuhan

4= Ringan 6. Bantu pasien untuk disisi tempat tidur

5= Tidak ada pasien untuk memfasilitasi penyesuaian


sikap tubuh
7. Gunakan alat bantu untuk bergerak
8. Kolaborasi dengan ahli terapi untuk
meningkatkan aktivitas pasien
DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, Sulistyo & Andoko, Sayudi J. 2013. Hubungan Pengetahuan Keluarga


Tentang Penyakit DHF dengan Sikap Keluarga dalam Pencegahan Penyakit
DHF. Jurnal Florence Vol. VI No. 2 Juli 2013.
Andriani, Ni Wayan E. 2014. Kajian Penatalaksanaan Terapi Pengobatan Demam
Berdarah Dengue (DBD) pada Penderita Anak yang Menjalani Perawatan dI
RSUP PROF. DR. R.D Kandou. Jurnal Ilmiah Farmasi –UNSRAT Vol. 3 No. 8
Desember 2019 ISSN 2302 – 2493.
Doenges, Marilynn E, dkk. (2000). Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan. EGC: Jakarta.
Effendy, Christantie. (1995). Perawatan Pasien DHF. Jakarta: EGC.
Hendarwanto. (1996). Ilmu Penyakit Dalam jilid I edisi ketiga FKUI. Jakarta.
Soedarto. 2012. Demam Berdarah Dengue/Dengue Haemorrhagic Fever.
Jakarta: Sagung Seto. Sunaryo. 2014. Surveilans Aedes aegypti di Daerah
Endemis Demam Berdarah Dengue. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Vol. 8, No. 8 Desember 2019.