Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

“TRAUMA KEPALA”

A. KONSEP MEDIS TRAUMA KEPALA


1. Anatomi system persyarafan
a. Susunan saraf manusia:
1) Susunan saraf pusat
 Otak besar atau serebum
 Otak kecil atau serebelum
 Batang otak
2) Susunan saraf perifer
 Susunan saraf somatik
 Susunan syaraf otonom
 Susunan saraf simpatis
 Susunan saraf parasimpatis
b. Selaput otak meningen
Selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang yang
berfungsi melindungi struktur saraf yang halus, membawa darah dan cairan sekresi
serebrospinalis serta memperkecil benturan atau getaran pada otak dan sumsum
tulang belakang.
1) Durameter :
adalah lapisan paling luar menutup otak dan medulla spinalis. Bersifat liat, tebal,
tidak elastic, berupa serabut dan berwarna abu-abu.
2) Arakhnoidea :
adalah membran bagian tengah bersifat tipis dan lembut menyerupai laba-laba.
Membran ini berwarna putih karena tidak dialiri darah.
3) Piameter :
adalah membrane yang paling dalam berupa dinding yang tipis, transparan, yang
menutupi otak dan meluas kesetiap lapisan daerah otak.
c. Otak
Otak adalah suatu alat yang sangat penting karena merupakan pusat
computer dari semua alat tubuh.
1) Otak besar (serebrum)

1
Terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus, substansia grisea terdapat
pada bagian luar dinding serebrum dan substansia alba menutupi dinding
serebrum bagian dalam. Substansia grasea terbentuk dari badan-badan sel saraf
dan memenuhi korteks serebri,nucleus dan basal ganglia. Substansi alba terdiri
dari sel-sel saraf yang menghubungkan bagian-nagian otak dengan bagian yang
lain.
Keempat lobus serebrum adalah : frontal, pariental, temporal dan
oksipital.
2) Diensefalon
Diensefalon berisi thalamus, hipotalamus dan kelenjar hipofisis.
Thalamus berada berada pada salah satu sisi pada sepertuga ventrikel dan aktifitas
primernya sebagai pusat penyambung sensasi bau yang diterima semua implus
memori, sensasi dan nyeri melalui bagian ini.
3) Batang otak
Terletak pada fossa anterior, bagian-bagiannya meliputi : otak tengah,
pons, dan medulla oblongata. Otak tengah menghubungkan pons dan serebelum
dengan hemisfer serebrum. Bagian ini berisi jalur sensorik dan motorik dan
sebagai pusat reflex pendengaran dan penglihatan.
Pons terletak didepan serebelum antara otak tengah dan medulla serta
merupakan jembatan antara dua bagian serebelum.
4) Serebelum
Serebelum terletak pada fosaa posterior dan terpisah dari hemister
serebral, lipatan dura meter tentorium serebelum. Berfungsi mengotrol gerakan
dan keseimbangan.
d. Medulla spinalis
Medulla spinalis dan batang otak membentuk struktur kontinu yang keluar
dari hemisfer serebral sebagai penghubung otak dan saraf perifer. Medulla spinalis
panjangnya 45cm memanjang dari foramen magnum didasar tengkorak sampai
bagian atas lumbal kedua tulang belakang. Medulla spinalis tersusun dari 33 segmen
yaitu 7 segmen servikal, 12 thorakal, 5 lumbal, 5 sakral dan 5 segmen koksigius.
e. Sistem saraf  perifer
Merupakan seperangkat saluran biasa yang terletak diluar system saraf
pusat. Saraf perifer merupakan saraf tunggal yaitu saraf motorik, sensorik, dan
campuran. Saraf perifer terdiri dari 12 pasang saraf cranial yang membawa implus

2
dari dan ke otak, 3 spinalis.1 pasang saraf spinal, yang membawa implus ke dan dari
medulla. Tiap saraf memberi pengindraan bagian-bagian disebut dermatotomis. Saraf
perifer yang menyalurkan informasi ke saraf pusat ialah aferen dan sensorik, saraf
perifer yang mengirim informasi dari pusat saraf disebut eferen atau motorik.
f. Sistem saraf autonom
Kotraksi otot yang tidak dibawa control kesadaran, seperti otot jantung,
sekresi semua digesti dan kelnjar keringat serta aktifitas organ endokrin dikotrol oleh
system saraf autonom. Hipotalamus dalam pengawasan system saraf autonom.
g. System saraf simpatis dan parasimpatis
Sebagai mediator pada stimulus simpatis adalah noreepinefrin. Mediator
implus parasimpatis adalah asetilkolin. Pada system saraf simpatis : siap siaga untuk
membantu proses kegawatdaruratan. Tubuh mempersiapkan untuk respon “fight or
fight” jika ada ancaman. System saraf parasimpatis sebagai pengontrol dominan,
untuk efektor visceral atau organ yang ada didalam tubuh dari dalam.

3
2. Pengertian Trauma Kepala
Trauma atau cedera kepala atau cedera otak adalah gangguan fungsi
normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun tajam (Batticaca, 2010).
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala,
tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung
maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2011).
Trauma atau cedera kepala adalah di kenal sebagai cedera otak gangguan
fungsi normal otak karena trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam.
Defisit neurologis terjadi karena robeknya substansia alba, iskemia, dan pengaruh
masa karena hemoragik, serta edema serebral di sekitar jaringan otak. (Batticaca
Fransisca, 2010).
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan
kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas.(Arif mansjoer, dkk).
Cedera Kepala dapat bersifat terbuka (menembus melalui Durameter) atau
tertutup (trauma tumpul, tanpa penetrasi melalui dura. (Elizabeth. j. corwin)
Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa (trauma) yang
menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau
gangguan fungsional jaringan otak (Sastrodiningrat, 2012).
Menurut Brain Injury Association of America, cedera kepala adalah suatu
kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan
oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah
kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik
(Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2011)
3. Karakteristik Penderita Trauma Kepala
a. Jenis Kelamin
Pada populasi secara keseluruhan, laki-laki dua kali ganda lebih banyak
mengalami trauma kepala dari perempuan. Namun, pada usia lebih tua perbandingan
hampir sama. Hal ini dapat terjadi pada usia yang lebih tua disebabkan karena
terjatuh. Mortalitas laki-laki dan perempuan terhadap trauma kepala adalah 3,4:1
(Jagger, Levine, Jane et al., 2011).
Menurut Brain Injury Association of America, laki-laki cenderung mengalami
trauma kepala 1,5 kali lebih banyak daripada perempuan (CDC, 2013).

4
b. Umur
Resiko trauma kepala adalah dari umur 15-30 tahun, hal ini disebabkan
karena pada kelompok umur ini banyak terpengaruh dengan alkohol, narkoba dan
kehidupan sosial yang tidak bertanggungjawab (Jagger, Levine, Jane et al., 2010).
Menurut Brain Injury Association of America, dua kelompok umur mengalami risiko
yang tertinggi adalah dari umur 0 sampai 4 tahun dan 15 sampai 19 tahun (CDC,
2012).
4. Jenis Trauma
Luka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area) dimana terjadi
trauma (Sastrodiningrat, 2012). Cedera yang tampak pada kepala bagian luar terdiri dari
dua, yaitu secara garis besar adalah trauma kepala tertutup dan terbuka.
Trauma kepala tertutup merupakan fragmen-fragmen tengkorak yang masih
intak atau utuh pada kepala setelah luka. The Brain and Spinal Cord Organization 2010,
mengatakan trauma kepala tertutup adalah apabila suatu pukulan yang kuat pada kepala
secara tiba-tiba sehingga menyebabkan jaringan otak menekan tengkorak.
Trauma kepala terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah menembus sampai
kepada dura mater. (Anderson, Heitger, and Macleod, 2013). Kemungkinan kecederaan
atau trauma adalah seperti berikut :
a. Fraktur
Menurut American Accreditation Health Care Commission, terdapat 4 jenis
fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture, depressed fracture,
compound fracture. Pengertian dari setiap fraktur adalah sebagai berikut:
1) Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit
2) Linear or hairline : retak pada kranial yang berbentuk garis halus tanpa depresi,
distorsi dan ‘splintering’.
3) Depressed : retak pada kranial dengan depresi ke arah otak.
4) Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada tengkorak. Selain
retak terdapat juga hematoma subdural (Duldner, 2010).
Terdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya retak
atau kelainan pada bagian kranium :
1) Fraktur basis kranii retak pada basis kranium. Hal ini memerlukan gaya yang
lebih kuat dari fraktur linear pada kranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan
hanya pada 4% pasien yang mengalami trauma kepala berat (Graham and
Gennareli, 2010; Orlando Regional Healthcare, 2014). Terdapat tanda-tanda yang

5
menunjukkan fraktur basis kranii yaitu rhinorrhea (cairan serobrospinal keluar
dari rongga hidung) dan gejala raccoon’s eye (penumpukan darah pada orbital
mata). Tulang pada foramen magnum bisa retak sehingga menyebabkan kerusakan
saraf dan pembuluh darah. Fraktur basis kranii bisa terjadi pada fossa anterior,
media dan posterior (Garg, 2014).
2) Fraktur maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang maxilofasial yang
merupakan tulang yang kedua terbesar setelah tulang mandibula. Fraktur pada
bagian ini boleh menyebabkan kelainan pada sinus maxilari (Garg, 2004).
b. Luka memar (kontosio)
Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana
pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya, kulit
tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna merah kebiruan. Luka memar pada otak
terjadi apabila otak menekan tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung otak seperti
pada frontal, temporal dan oksipital. Kontusio yang besar dapat terlihat di CT-
Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) seperti luka besar. Pada kontusio
dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang di sebut edema.
Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat kesadaran (Corrigan,
2012).
Umumnya, individu yang mengalami cidera luas mengalami fungsi motorik
abnormal, gerakan mata abnormal, dan peningkatan TIK yang merupakan prognosis
buruk.
c. Cedera kepala ringan (Komosio)
Setelah cidera kepala ringan, akan terjadi kehilangan fungsi neurologis
sementara dan tanpa kerusakan struktur. Komosio (commotio) umumnya meliputi
suatu periode tidak sadar yang berakir selama beberapa detik sampai beberapa menit.
Kedaaan komosio ditunjukan dengan gejala pusing atau berkunang-kunang. Dan
terjadi kehilangan kesadaran penuh sesaat. Jika jaringan otak dilobus frontal terkena
klien akan berperilaku sedikit aneh, sementara jika lobus temporal yang terkena
maka akan menimbulkan amnesia dan disoreintasi.
Penatalaksanaan meliputi kegiatan :
1) Mengobservasi klien terhadap adanya sakit kepala,pusing,peningkatan kepekaan
terhadap rangsang dan cemas.
2) Memberikan informasi,penjelasan,dan dukungan terhadap klien tentang dampak
paskacomosio

6
3) Melakukan perawatan 24 jam sebelum klien dipulangkan klien dipulangkan
4) Memberitahukan klien / keluarga untuk segera membawa klien kerumah sakit jika
ditemukan tanda-tanda sukar bangun, konvulsi (kejang), sakit kepala berat,
muntah, dan kelemahan pada salah satu sis tubuh
5) Mengajurkan klien untuk melakukan untuk melakukan kegiatan normal perlahan
dan bertahap.
d. Laserasi (luka robek atau koyak)
Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul atau
runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh benda bermata tajam
dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah apabila terjadi
kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. Luka ini biasanya terjadi pada
kulit yang ada tulang dibawahnya pada proses penyembuhan dan biasanya pada
penyembuhan dapat menimbulkan jaringan parut.
e. Abrasi
Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial. Luka ini
bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada jaringan
subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak ujung-ujung saraf yang rusak.
f. Avulsi
Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,tetapi
sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial. Dengan kata lain intak kulit
pada kranial terlepas setelah kecederaan (Mansjoer, 2010).
5. Perdarahan Intrakranial
a. Perdarahan Epidural (Hematoma Epidural)
Setelah cedera kepala ringan, darah terkumpul diruang epidural
(ekstradural) diantara tengkorak dan durameter. Keadaan ini sering diakibatkan
karena terjadinya fraktur tulang tengkorank yang menyebabkan arteri meningeal
tengah putus atau rusak (laserasi) dimana arteri ini berada diantara dura meter dan
tengkorak menuju bagian tipis tulang temporal-dan terjadi hemoragik sehingga
terjadi penekanan pada otot.
Penatalaksanaan untuk hematoma epidural dipertimbangkan sebagai
keadaan darurat yang ekstrem, dimana deficit neurologis atau berhentinya pernafasan
dapat terjadi dalam beberapa menit. Tindakan yang dilakukan terdiri atas membuat
lubang pada tulang tengkorak (burr), mengangkat bekuan dan mengontrol titik
pendarahan.

7
b. Perdarahan Subdural
Perdarahan subdural adalah pengumpulan darah pada ruang diantara dura
meter dan dasar otak,yang pada keadaan normal diisi oleh cairan. Hematoma
subdural paling dering disebabkan karena trauma,tetapi dapat juga terjadi akibat
kecenderungan pendarahan yang serius dan aneurisma. Hematoma subdural lebih
sering terjadi pada venadan merupakan akibat dari putusnya pembuluh darah
kecilyang menjebatani ruang subdural. Hematoma subdural bisa terjadi akut,
subakut, dan kronis tergantung pada ukuran pembuluh darah yang terkena dan
jumlah pendarahan yang terjadi.
1) Perdarahan subdural akut
Hematoma subdural akut dihubungkan dengan cedera kepala mayor yang
meliputi kontusio atau lasierasi. Biasanya klien dalam keadaan koma atau
mempunyai keadaan klinis yang sama dengan hematoma epidural tekanan darah
meningkat dan frekuensi nadi lambat dan pernafasan cepat sesuai dengan
peningkatan hematoma yang cepat.
a) Gejala klinis berupa sakit kepala, perasaan mengantuk, dan kebingungan,
respon yang lambat, serta gelisah.
b) Keadaan kritis terlihat dengan adanya perlambatan reaksi ipsilateral pupil.
2) Perdarahan subdural subakut
Hematoma subdural subakut adakah sekuel dari kontusio sedikit berat
dan dicurigai pada klien dengan kegagalan untuk meningkatkan kesadaran setelah
trauma kepala.
Tanda-tanda dan gejalanya hampir sama pada hematoma subdural akut
yaitu:
a) Nyeri kepala
b) Bingung
c) Mengantuk
d) Menarik diri
e) Berfikir lambat
f) Kejang
g) Oedema pupil
3) Perdarahan subdural kronis
Hematoma subdural kronis menyerupai kondisi lain yang mungkin
dianggap sebagai stroke. Pendarahan sedikit menyebar dan mungkin dapai

8
kompresi pada intracranial. Darah dalam otak mengalami perubahan karakter
dalam 2-4 hari,menjadi kental dan lebih gelap. Dalam beberapa minggu bekuan
mengalami warna serta konsistensi seperti minyak mobil. Otak beradaptasi pada
invasi benda asing ini,tanda serta gejala klinis klien berfluktuasi seperti terdapat
sering sakit kepala hebat,kejang fokal.
Tindakan terhadap hematoma subdural kronis terdiri atas bedah
pengangkatan bekuan dengan dengan menggunakan penghisap dan pengirigasian
area tersebut. Proses ini dapat dilakukan melalui pembuatan lubang (burr) ganda
atau kraniotomi yang dilakukan untuk lesi massa subdural yang cukup besar yang
dapat dilakukan melalui pembuatan lubang (burr).
c. Perdarahan Subaraknoid
Perdarahan subaraknoid adalah perdarahan antara rongga otak dan lapisan
otak yaitu yang dikenal sebagai ruang subaraknoid (Ausiello, 2010).
d. Perdarahan Intraventrikular
Perdarahan intraventrikular merupakan penumpukan darah pada ventrikel
otak. Perdarahan intraventrikular selalu timbul apabila terjadi perdarahan
intraserebral.
e. Perdarahan Intraserebral
Perdarahan intraserebral merupakan penumpukan darah pada jaringan otak.
Di mana terjadi penumpukan darah pada sebelah otak yang sejajar dengan hentaman,
ini dikenali sebagai counter coup phenomenon. (Hallevi, Albright, Aronowski,
Barreto, 2010).
6. Trauma Murni atau Multipel
Menurut Barell, Heruti, Abargel dan Ziv (2010), sebanyak 1465 korban
mengalami trauma kepala, sedangkan 1795 korban mengalami trauma yang multipel
dalam penelitian di Israel. Kecederaan multipel berkaitan dengan keparahan dan ia
adalah asas dalam mendiagnosa gambaran keseluruhan kecederaan. Dengan merekam
seluruh kecederaan yang dialami oleh korban, ia dapat membantu dalam
mengidentifikasi kecederaan yang sering mengikut penyebab trauma pada korban.
a. Trauma Murni
Trauma Murni adalah apabila korban didiagnosa dengan satu kecederaan
pada salah satu regio atau bagian anatomis yang maiyor (Barell, Heruti, Abargel dan
Ziv, 2010).

9
b. Trauma Multipel
Trauma multipel atau politrauma adalah apabila terdapat 2 atau lebih
kecederaan secara fisikal pada regio atau organ tertentu, dimana salah satunya bisa
menyebabkan kematian dan memberi impak pada fisikal, kognitif, psikologik atau
kelainan psikososial dan disabilitas fungsional. Trauma kepala paling banyak dicatat
pada pasien politrauma dengan kombinasi dari kondisi yang cacat seperti amputasi,
kelainan pendengaran dan penglihatan, post-traumatic stress syndrome dan kondisi
kelainan jiwa yang lain (Veterans Health Administration Transmittal Sheet).
1) Trauma servikal, batang otak dan tulang belakang
Trauma yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas, jatuh dari tempat yang
tinggi serta pada aktivitas olahraga yang berbahaya boleh menyebabkan cedera
pada beberapa bagian ini. Antara kemungkinan kecederaan yang bisa timbul
adalah seperti berikut :
a) Kerusakan pada tulang servikal C1-C7; cedera pada C3 bisa menyebabkan
pasien apnu. Cedera dari C4-C6 bisa menyebabkan pasien kuadriplegi,
paralisis hipotonus tungkai atas dan bawah serta syok batang otak.
b) Fraktur Hangman terjadi apabila terdapat fraktur hiperekstensi yang bilateral
pada tapak tulang servikal C2.
c) Tulang belakang torak dan lumbar bisa diakibatkan oleh cedera kompresi dan
cedera dislokasi.
d) Spondilosis servikal juga dapat terjadi.
e) Cedera ekstensi yaitu cedera ‘Whiplash’ terjadi apabila berlaku ekstensi pada
tulang servikal.
2) Trauma toraks
Trauma toraks bisa terbagi kepada dua yaitu cedera dinding toraks dan
cedera paru.
a) Cedera dinding torak seperti berikut:
 Patah tulang rusuk.
 Cedera pada sternum atau ‘steering wheel’.
 Flail chest.
 Open ‘sucking’ pneumothorax.
b) Cedera pada paru adalah seperti berikut:
 Pneumotoraks.

10
 hematorak.
 Subcutaneous (SQ) dan mediastinal emphysema.
 Kontusio pulmonal.
 Hematom pulmonal.
 Emboli paru.
3) Trauma abdominal
Trauma abdominal terjadi apabila berlaku cedera pada bagian organ
dalam dan bagian luar abdominal yaitu seperti berikut:
a) Kecederaan yang bisa berlaku pada kuadran kanan abdomen adalah seperti
cedera pada organ hati, pundi empedu, traktus biliar, duodenum dan ginjal
kanan.
b) Kecederaan yang bisa berlaku pada kuadran kiri abdomen adalah seperti cedera
pada organ limpa, lambung dan ginjal kiri.
c) Kecederaan pada kuadran bawah abdomen adalah cedera pada salur ureter,
salur uretral anterior dan posterior, kolon dan rektum.
d) Kecederaan juga bisa terjadi pada organ genital yang terbagi dua yaitu cedera
penis dan skrotum.
4) Tungkai atas
Trauma tungkai atas adalah apabila berlaku benturan hingga
menyebabkan cedera dan putus ekstrimitas. Cedera bisa terjadi dari tulang bahu,
lengan atas, siku, lengan bawah, pergelangan tangan, jari-jari tangan serta ibu jari.
5) Tungkai bawah
Kecederaan yang paling sering adalah fraktur tulang pelvik. Cedera pada
bagian lain ekstrimitas bawah seperti patah tulang femur, lutut atau patella, ke
arah distal lagi yaitu fraktur tibia, fraktur fibula, tumit dan telapak kaki (James,
Corry dan Perry, 20110).
7. Tingkat Keparahan Trauma Kepala dengan Skor Koma
Skala koma Glasgow adalah nilai (skor) yang diberikan pada pasien trauma
kapitis, gangguan kesadaran dinilai secara kwantitatif pada setiap tingkat kesadaran.
Bagian-bagian yang dinilai adalah ;
a. Proses membuka mata (Eye Opening)
b. Reaksi gerak motorik ekstrimitas (Best Motor Response)
c. Reaksi bicara (Best Verbal Response)

11
Pemeriksaan Tingkat Keparahan Trauma kepala disimpulkan dalam suatu tabel
Skala Koma Glasgow (Glasgow Coma Scale).
Table 2.1 Skala Koma Glasgow
RESPON MATA ≥ 1 TAHUN 0-1 TAHUN
4 Mata terbuka dengan spontan Membuka mata spontan
Mata membuka setelah Membuka mata oleh teriakan
3
diperintah
Mata membuka setelah diberi Membuka mata oleh nyeri
2
rangsang nyeri
1 Tidak membuka mata Tidak membuka mata
Best Motor Response
RESPON MOTORIK ≥ 1 TAHUN 0-1 TAHUN
6 Menurut perintah Belum dapat dinilai
5 Dapat melokalisir nyeri Melokalisasi nyeri
4 Menghindari nyeri Menghindari nyeri
3 Fleksi (dekortikasi) Fleksi abnormal (decortikasi)
2 Ekstensi (decerebrasi) Eksternal abnormal
1 Tidak ada gerakan Tidak ada respon
Best Verbal Response
RESPON VERBAL >5  TAHUN 2-5 TAHUN 0-2 TAHUN
Orientasi baik dan
mampu Menyebutkan kata-
5 berkomunikasi kata yang sesuai Menangis kuat
Disorientasi tapi Menyebutkan kata-
mampu kata yangtidak
4 berkomunikasi sesuai Menangis lemah
Menyebutkan
kata-kata yang
3
tidak sesuai Menangis dan Kadang-kadang
(kasar, jorok) menjerit menagis / menjerit
Mengeluarkan Mengeluarkan suara Mengeluarkan suara
2
suara lemah lemah
1 Tidak ada respon Tidak ada respon Tidak ada respon

Berdasarkan Skala Koma Glasgow, berat ringan trauma kapitis dibagi atas;
 Trauma kapitis Ringan, Skor Skala Koma Glasgow 14 – 15
 Trauma kapitis Sedang, Skor Skala Koma Glasgow 9 – 13
 Trauma kapitis Berat, Skor Skala Koma Glasgow 3 – 8
a. Trauma Kepala Ringan
Dengan Skala Koma Glasgow >12, tidak ada kelainan dalam CTscan, tiada
lesi operatif dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit (Torner, Choi, Barnes, 1999).
Trauma kepala ringan atau cedera kepala ringan adalah hilangnya fungsi neurologi
atau menurunnya kesadaran tanpa menyebabkan kerusakan lainnya (Smeltzer, 2001).

12
Cedera kepala ringan adalah trauma kepala dengan GCS: 15 (sadar penuh) tidak
kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala, hematoma, laserasi dan
abrasi (Mansjoer, 2000). Cedera kepala ringan adalah cedara otak karena tekanan
atau terkena benda tumpul (Bedong, 2001). Cedera kepala ringan adalah cedera
kepala tertutup yang ditandai dengan hilangnya kesadaran sementara (Corwin, 2000).
Pada penelitian ini didapat kadar laktat rata-rata pada penderita cedera kepala ringan
1,59 mmol/L (Parenrengi, 2014).
b. Trauma Kepala Sedang
Dengan Skala Koma Glasgow 9 - 12, lesi operatif dan abnormalitas dalam
CT-scan dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit (Torner, Choi, Barnes, 1999).
Pasien mungkin bingung atau somnolen namun tetap mampu untuk mengikuti
perintah sederhana (SKG 9-13). Pada suatu penelitian penderita cedera kepala sedang
mencatat bahwa kadar asam laktat rata-rata 3,15 mmol/L (Parenrengi, 2014).
c. Trauma Kepala Berat
Dengan Skala Koma Glasgow < 9 dalam 48 jam rawat inap di Rumah Sakit
(Torner C, Choi S, Barnes Y, 1999). Hampir 100% cedera kepala berat dan 66%
cedera kepala sedang menyebabkan cacat yang permanen. Pada cedera kepala berat
terjadinya cedera otak primer seringkali disertai cedera otak sekunder apabila proses
patofisiologi sekunder yang menyertai tidak segera dicegah dan dihentikan
(Parenrengi, 2014). Penelitian pada penderita cedera kepala secara klinis dan
eksperimental menunjukkan bahwa pada cedera kepala berat dapat disertai dengan
peningkatan titer asam laktat dalam jaringan otak dan cairan serebrospinalis (CSS) ini
mencerminkan kondisi asidosis otak (DeSalles et al., 1986). Penderita cedera kepala
berat, penelitian menunjukkan kadar rata-rata asam laktat 3,25 mmol/L (Parenrengi,
2014).
8. Gejala Klinis Trauma Kepala
Menurut Reissner (2013), gejala klinis trauma kepala adalah seperti berikut:
a. Tanda-tanda klinis yang dapat membantu mendiagnosa adalah :
1) Battle sign (warna biru atau ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid)
2) Hemotipanum (perdarahan di daerah meMbran timpani telinga)
3) Periorbital ecchymosis (mata warna hitam tanpa trauma langsung)
4) Rhinorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari hidung)
5) Otorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari telinga)

13
b. Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala ringan ;
1) Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat kemudian
sembuh.
2) Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan.
3) Mual atau dan muntah.
4) Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun.
5) Perubahan keperibadian diri.
6) Letargik.
c. Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala berat ;
1) Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan di otak
menurun atau meningkat.
2) Perubahan ukuran pupil (anisokoria).
3) Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi pernafasan).
4) Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan atau posisi
abnormal ekstrimitas.
9. Penyebab Trauma Kepala
a. Mekanisme Terjadinya Kecederaan
Beberapa mekanisme yang timbul terjadi trauma kepala adalah seperti
translasi yang terdiri dari akselerasi dan deselerasi. Akselerasi apabila kepala
bergerak ke suatu arah atau tidak bergerak dengan tiba-tiba suatu gaya yang kuat
searah dengan gerakan kepala, maka kepala akan mendapat percepatan (akselerasi)
pada arah tersebut.
Deselerasi apabila kepala bergerak dengan cepat ke suatu arah secara tiba-
tiba dan dihentikan oleh suatu benda misalnya kepala menabrak tembok maka kepala
tiba-tiba terhenti gerakannya.
Rotasi adalah apabila tengkorak tiba-tiba mendapat gaya mendadak
sehingga membentuk sudut terhadap gerak kepala. Kecederaan di bagian muka
dikatakan fraktur maksilofasial (Sastrodiningrat, 2011).
b. Penyebab Trauma Kepala
Menurut Brain Injury Association of America, penyebab utama trauma
kepala adalah karena terjatuh sebanyak 28%, kecelakaan lalu lintas sebanyak 20%,
karena disebabkan kecelakaan secara umum sebanyak 19% dan kekerasan sebanyak
11% dan akibat ledakan di medan perang merupakan penyebab utama trauma kepala
(Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2011).

14
Kecelakaan lalu lintas dan terjatuh merupakan penyebab rawat inap pasien
trauma kepala yaitu sebanyak 32,1 dan 29,8 per100.000 populasi. Kekerasan adalah
penyebab ketiga rawat inap pasien trauma kepala mencatat sebanyak 7,1 per100.000
populasi di Amerika Serikat (Coronado, Thomas, 2010). Penyebab utama terjadinya
trauma kepala adalah seperti berikut:
1) Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan bermotor
bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain sehingga menyebabkan
kerusakan atau kecederaan kepada pengguna jalan raya (IRTAD, 2010).
2) Jatuh
Menurut KBBI, jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau
meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika masih di
gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah.
3) Kekerasan
Menurut KBBI, kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal atau
perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang
lain, atau menyebabkan kerusakan fisik pada barang atau orang lain (secara
paksaan).
10. Indikasi CT –Scan pada Trauma Kepala
CT-Scan adalah suatu alat foto yang membuat foto suatu objek dalam sudut
360 derajat melalui bidang datar dalam jumlah yang tidak terbatas. Bayangan foto akan
direkonstruksi oleh komputer sehingga objek foto akan tampak secara menyeluruh (luar
dan dalam). Foto CT-Scan akan tampak sebagai penampang-penampang melintang dari
objeknya. Dengan CT-Scan isi kepala secara anatomis akan tampak dengan jelas. Pada
trauma kapitis, fraktur, perdarahan dan edema akan tampak dengan jelas baik bentuk
maupun ukurannya (Sastrodiningrat, 2012).
Indikasi pemeriksaan CT-scan pada kasus trauma kepala adalah seperti berikut:
a. Bila secara klinis (penilaian GCS) didapatkan klasifikasi trauma kepala sedang dan
berat.
b. Trauma kepala ringan yang disertai fraktur tengkorak.
c. Adanya kecurigaan dan tanda terjadinya fraktur basis kranii.
d. Adanya defisit neurologi, seperti kejang dan penurunan gangguan kesadaran.
e. Sakit kepala yang hebat.
f. Adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial atau herniasi jaringan otak.

15
g. Kesulitan dalam mengeliminasi kemungkinan perdarahan intraserebral (Irwan,
2009).
Perdarahan subaraknoid terbukti sebanyak 98% yang mengalami trauma kepala
jika dilakukan CT-Scan dalam waktu 48 jam paska trauma. Indikasi untuk melakukan
CT-Scan adalah jika pasien mengeluh sakit kepala akut yang diikuti dengan kelainan
neurologis seperti mual, muntah atau dengan SKG (Skor Koma Glasgow) <14 (Haydel,
Preston, Mills, et al., 2000).
11. Patofisologi Keperawatan Cedera Kepala
Trauma kepala dapat terjadi pada ekstrakranial, tulang kranial, dan intrakranial,
trauma yang terjadi pada ekstrakranial akan mengakibatkan terputusnya kontinuitas
jaringan kulit, otot dan vaskuler sehingga berkibat terjadinya perdarahan, hematoma,
gangguan suplai darah, resiko infeksi dan timbulnya nyeri serta kerusakan integritas
kulit. Perdarahan dan hematoma akan mempengaruhi perubahan sirkulasi cairan
serebrospinal yang mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan intracranial. Pada
keadaan ini akan mengakibatkan girus medialis lobus temporalis tergeser melalui tepi
bawah tentorium serebri.
Kompresi pada korteks serebri batang otak mengakibatkangangguan kesadaran,
dan hilangnya reflek batuk. Karena terjadi gangguan kesadaran maka klien megalami
penumpukan sekret akibat sekret yang statik, hal ini menyebabkan terjadinya bersihan
jalan nafas inefektif.
Trauma kepala yang terjadi pada tulang kranial akan menyebabkan terputusnya
kontinuitas jaringan tulang dan hal ini akan merangsang timbulnya rasa nyeri,
sedangkan trauma kepala yang terjadi pada intrakranial, akan merusak jaringan otak
atau sering disebut kontusio, atau terjadi laserasi pada jaringan otak, keadaan tersebut
menyebabkan terjadinya perubahan outoregulasi, dan suplai O2 ke otak terganggu,
maka terjadi edema serebral, sehingga terjadi gangguan perfusi jaringan. 
Kerusakan yang terjadi juga menyebabkan rangsang simpatis meningkat,
sehingga tahanan vasikuler, TD, tekanan hidrostatik meningkat. Sehingga terjadi
kebocoran pada pembuluh kapiler, dan menyebabkan edema paru yang menyebabkan
penurunan curah jantung dan difusi O2 di alveoli terhambat dan menyebabkan tidak
efektifnya pola nafas. Cidera kepala juga dapat menimbulkan stres bagi klien. Hal ini
direspon juga oleh saraf otonom untuk meningkatkan sekresi hormon. seperti
katekolamin yang menyebabkan asam lambung meningkat dan membuat mual, muntah,
dan anoreksia. Hal ini menyebabkan resiko pemenuhan nutrisi tidak sesuai kebutuhan.

16
12. Komplikasi Cedera Kepala
a. Kebocoran cairan spinal : disebabkan oleh rusaknya leptomeningen dan biasanya
terjadi pada pasien dengan cedera kepala tertutup.
b. Fistel karotis-karvenosus yang ditandai oleh trias gejala eksotalmus kemosis dan
bruit orbita, dapat timbul segera atau beberapa hari setelah cedera.
c. Kejang pasca trauma.(Smeltzer & Bare, 2012)
13. Pemeriksaan/Diagnostik
a. CT Scan ( Computerized Tomograhy Scanner )Mengidentifikasi luasnya lesi,
perdarahan, determinan, ventrikuler dan perubahan jaringan otak. 
b. MRI ( Magnetic Resonance Imaging ) : Digunakan sama dengan CT Scan
dengan/tanpa kontras radio aktif
c. Serebral Angiography : Menunjukkan anomali sirkulasi serebral seperti perubahan
jaringan otak sekunder menjadi edema, perdarahan, dan trauma.
d. EEG ( Electroencephalograph ) : Untuk memperlihatkan keadaan atau
berkembangnya gelombang patologis
e. Sinar-X : Mendeteksi perubuhan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis
(perdarahan/edema), fragmen tulang.
f. BAER ( Brainstem Auditory Evoked Response ) : Mengoreksi batas fungsi korteks
dan otak kecil.
g. PET ( Positron Emission Tomography ): Mendeteksi perubahan aktivitas
metabolisme otak.
h. CSS ( Cairan Serebro Spinal ) : Lumbal pungsi dapat dilakukan jika diduga terjadi
perdarahan subarakhnoid.
i. Elektrolit darah : Mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam
meningkatkan TIK
j. Toksikologi : Mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab penurunan
kesadaran
k. Rontgen thorax dua arah (PA/AP dan lateral) : Rontgen thorax menyatakan
akumulasi udara atau cairan pada area pleural
l. Thoraxsentesis menyatakan darah atau cairan
m. Analisa Gas Darah (AGD) : Analias Gas Darah (AGD) adalah salah satu test
diagnostik untuk menentukan status respirasi. Status respirasi yang dapat
diigambarkan melalui pemerksaan AGD ini adalah status oksigenasi dan status asam
basah.(Muttaqin, 2011)

17
14. Penatalaksanaan 
a. Riwayaat kesehatan .
1) Tinggikan kepala 300.
2) Istirahatkan klien (tirah baring).
b. Penatalaksanaan medis :
1) Memepertahankan A,B,C (Airway, Breathing, Cirkulation).
2) Menilai status neurologis (Disability dan exposure).
c. Penatalaksanaan konservatif  meliputi :
1) Bedrest total.
2) Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran).
3) Pemberian obat-obatan:
a) Dexametason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis
sesuai dengan berat ringanya trauma.
b) Therapi hiperventilasi (trauma kepala berat) untuk mengurangi vasodilatasi.
c) Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu: manitol 20%, atau
glukosa 40%, atau gliserol 10%.
d) Antibiotika yang mengandung barier darah otak (Penisilin) atau untuk infeksi
anaerob diberikan metronidazol.
d. Makanan atau cairan. Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan
apa-apa hanya cairan infus dextrose 5%, Aminofusin, Aminofel (18 jam pertama dari
terjadinya kecelakaan).
e. Pada trauma berat. Karena hari-hari pertama didapatkan klien mengalami penurunan
kesadarandan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit.
f. Observasi status neurologis. (Smeltzer & Bare, 2002 : 2214-2216).
15. Penatalaksanaan trauma kepala yang memerlukan tindakan bedah saraf :
Penatalaksanaan trauma kepala yang memerlukan tindakan bedah saraf,
merupakan proses yang terdiri dari serangkaian tahapan yang saling berkaitan satu sama
lain dalam mengambil keputusan dalam melakukan tindakan pembedahan antara lain
adalah sebagai berkut :
a. Tahap I :
1) Penilaian awal pertolongan pertama, dengan memprioritaskan penilaian yaitu :
a) Airway  : Jalan Nafas
 Membebaskan jalan dari sumbatan lendir, muntahan, benda asing
 Bila perlu dipasang endotrakeal

18
b) Breathing  :  Pernafasan
 Bila pola pernafasan terganggu dilakukan nafas buatan atau ventilasi dengan
respirator.
c) Cirkulation : Peredaran darah
 Mengalami hipovolemik syok
 Infus dengan cairan kristaloid
 Ringer lactat, Nacl 0,9%, D5% ,),45 salin
d) Periksa adanya kemungkinan adanya perdarahan
e) Tentukan hal berikut : lamanya tak sadar, lamanya amnesia post trauma, sebab
cedera, nyeri kepala, muntah.
f) Pemeriksaan fisik umum dan neurologist.
g) Monitor EKG.
2)  Diagnosis dari pemeriksaan laborat dan foto penunjang telah dijelaskan didepan.
3) Indikasi konsul bedah saraf :
a) Coma berlangsung > 6 jam.
b) Penurunan kesadaran ( gg neurologos progresif)
c) Adanya tanda-tanda neurologist fokal, sudah ada sejak terjadi cedera kepala.
d) Kejang lokal atau umum post trauma.
e) Perdarahan intra cranial.
b. Tahap II : Observasi perjalanan klinis dan perawatan suportif.
c. Tahap III :
1) Indikasi pembedahan
a) Perlukaan pada kulit kepala.
b) Fraktur tulang kepala
c) Hematoma intracranial.
d) Kontusio jaringan otak yang mempunyai diameter > 1 cm dan atau laserasi
otak
e) Subdural higroma
f) Kebocoran cairan serebrospinal.
2) Kontra indikasi
a) Adanya tanda renjatan / shock, bukan karena trauma tapi karena sebab lain
missal : rupture alat viscera ( rupture hepar, lien, ginjal), fraktur berat pada
ekstremitas.

19
b) Trauma kepala dengan pupil sudah dilatasi maksimal dan reaksi cahaya
negative, denyut nadi dan respirasi irregular.
3) Tujuan pembedahan
a) Mengeluarkan bekuan darah dan jaringan otak yang nekrose
b) Mengangkat tulang  yang menekan jaringan otak
c) Mengurangi tekanan intracranial
d) Mengontrol perdarahan
e) Menutup / memperbaiki durameter yang rusak
f) Menutup defek pada kulit kepala untuk mencegah infeksi atau kepentingan
kosmetik.
4) Pesiapan pembedahan
a) Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas
b) Pasang infuse
c) Observasi tanda-tanda vital
d) Pemeriksaan laboratorium
e) Pemberian antibiotic profilaksi
f) Pasang NGT, DC
g) Therapy untuk menurunkan TIK, dan anti konvulsan
d. Tahap IV :
1) Pembedahan spesifik
a) Debridemen
b) Kraniotomi yang cukup luas
 EDH bila CT Scan menunjukkan lesi yang jelas, bila < 1,5 – 1 cm belum
perlu operasi
 SDH akut diperlukan craniotomy luas.
 Hematom intra serebral dan kontusio serebri dengan efek massa yang jelas.
  Intra ventrikuler hematoma 9 kraniotomi – aspirasi hematoma, bila timbul
tanda-tanda hidrosepalus dilakukan vpshunt)
 Pada laserasi otak
 Pada fraktur kepala terbuka dan fraktur yang menekan tertutup
2) Evaluasi komplikasi yang perlu diperhatikan
 Perdarahan ulang
 Kebocoran cairan otak

20
 Infekso pada luka atau sepsis
 Timbulnya edea cerebri
 Timbulnya edema pulmonum neurogenik, akibat peningkatan TIK
 Nyeri kepala setelah penderita sadar
 Konvulsi

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA KEPALA


1. Pengkajian 
a. Identitas klien
b. Umum
Pada keadaan cedera kepala biasanya mengalami penurunan kesadaran
(cedera kepala ringan,GCS: 13-15; cedera kepala sedang GCS: 9-12; cedera kepala
berat GCS: kurang atau sama dengan 8) dan terjadi juga perubahan tanda-tanda vital.
1) Airway
a) Pertahankan kepatenan jalan nafas
b) Atur posisi :  posisi kepala flat dan tidak miring ke satu sisi untuk mencegah
penekanan / bendungan pada vena jugularis
c) Cek adanya pengeluaran cairan dari hidung, telinga atau mulut.
2) Breathing
a) Kaji pola nafas, frekuensi, irama nafas, kedalaman
b) Monitoring ventilasi : pemeriksaan analisa gas darah, saturasi oksigen
3) Circulation
a) Kaji keadaan perfusi jaringan perifes (akral, nadi capillary rafill, sianosis pada
kuku, bibir)
b) Monitor tingkat kesadaran, GCS, periksa pupil, ukuran, reflek terhadap cahaya
c) Monitoring tanda- tanda vital 
d) Pemberian cairan dan elektrolit
e) Monitoring intake dan output
4) Riwayat kesehatan
5) Riwayat tidak sadar atau anamnesis setelah cedera kepala menunjukan derajat
kerusakan yang berarti,dimana perubahan selanjutnya dapat menunjukan
pemulihan atau terjadinya kerusakan otak sekunder.
6) Komplikasi

21
a) Edema serebral dan herniasi
b) Deficit neurologis
c) Infeksi sistemik (pneumonia,ISK,septikemia)
d) Infeksi bedah neuro (infeksi luka, osteomeilitis, meningitis, ventrikulitis, abses
otak)
e) Osifikasi heterotrofik ( nyeri tulang pada sendi-sendi yang menunjang berat
badan)
c. Khusus
1) Konservatif : Dengan pemberian manitol/gliserin, furosemid, pemberian steroid  
2) Operatif : Tindakan kraniotomi, pemasangan drain, shuting prosedur
3) Monitoring tekanan intrakranial : yang ditandai dengan sakit kepala hebat, muntah
proyektil dan papil edema
4) Pemberian diet/nutrisi
5) Rehabilitasi, fisioterapi
d. Pemeriksaan fisik:
1) Breathing (B1)
Perubahan system persyarafan tergantung gradasi dari perubahan serebral
akibat trauma kepala.
a) Inspeksi : klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, penggunaan
otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi nafas. Terdapat retraksi
klafikula/dada, pengembangan paru tidak simetris. Ekspansi dada tidak penuh
dan tidak simetris.
b) Palpasi: fremitus menurun disbanding dengan sisi yang lain akan didapatkan
jika melibatkan trauma pada rongga otak.
c) Perkusi: adanya suara redup sampai pekak pada keadaan melibatkan trauma
pada thorak/hematoraks.
d) Auskultasi: bunyi nafas tambahan,stridor,ronchi pada klien yang dengan
peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk menurun terutama pada
status kesadaran koma.
2) Blood (B2)
a) Sering ditemukan syok hipovelemik pada cedera kepala sedang dan berat.
Tekanan darah normal atau berubah, nadi bradikardi, takikardi  dan aritmia.
Frekuansi nadi cepat dan lemah Karen homeostatis tubuh untuk
menyeimbangkan kebutuhan oksigen perifer.

22
b) Nadi bradikardi sebagai tanda perubahan perfusi jaringan otak
c) Kulit pucat karena penurunan kadar hemoglobin dalam darah
d) Hipotensi menandakan adanya perubahan perfusi jaringan dan tanda-tanda
awal dari syok
e) Terjadi retensi atau pengeluaran garam dan air oleh tubulus sehingga elektrolit
meningkat.
3) Brain (B3)
a) Pengkajian tingkat kesadaran : letargi,stupor,semikomatosa sampai Koma
b) Pengkajian fungsi serebral
c) Pengkajian saraf cranial
4) Bladder (B4)
a) Kajji keadaan urine meliputi warna,jumlah, dan karakteristik urine termasuk
berat jenis urine
b) Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi akibat
menurunnya perfudsi pada ginjal
c) Setelah cedera kepala,klien terjadi inkotinensia urine
5) Bowel (B5)
a) Terjadi kesulitan menelan,nafsu makan menurun,mual dan muntah pada fase
akut. Defekai terjadi kontipasi akibat penurunan peristaltic usus
b) Pemeriksaan rongga mulut terdapat mulut dan dehidrasi
c) Bising usus menurun atau hilang. Motiitas usus menurun
6) Bone (B6)
Disfungsi motorik yaitu : kelemahan pada seluruh ekstrimitas. Kaji warna kulit,
suhu kelembabpan dan turgor kulit,warna kebiruan. Pucat pada wajah dan
membrane mukosa karena rendahnya kadar hemoglobin atau syok. 

e. Aktivitas/istirahat
Gejala  : Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan.
Tanda  : Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, cara berjalan tak tegap
masalah dalam keseimbangan, kehilangan tonus otot.
f. Sirkulasi
Gejala : Perubahan tekanan darah/normal, perubahan frekuensi jantung
(bradikardi, takikardi, distritmia).

23
g. Integritas ego
Gejala  : Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang/dramatis)
Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan
impulsif.
h. Eliminasi
Gejala  : Inkontenensia kandung kemih/usus atau mengalami gangguan fungsi.
i. Makanan/cairan
Gejala  : Mual, muntah dan mengalami perubahan selera
Tanda : Muntah (mungkin proyektil), gangguan menelan (batuk, air liru keluar,
disfagia).
j. Neurosensori
Gejala  : Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian. Vertigo,
synkop, tinitus, kehilangan pendengaran, baal pada ekstremitas.
Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajaman, gangguan pengecapan
dan juga penciuman.
Tanda  : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental
(disorientasi, konsentrasi, memori). Perubahan pupil, wajah tidak
simetris, genggaman lemah, tidak seimbang, reflek tendon tidak ada atau
lemah, kesulitan dalam menentukan posisi tubuh.
k. Gangguan pengecapan dan juga penciuman.
Tanda : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental
(orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah,
pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). Perubahan pupil (respon
terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata, ketidakmampuan
mengikuti. Kehilangan pengindraan, seperti: pengecapan, penciuman dan
pendengaran.Wajah tidak simetris, genggaman lemah, tidak seimbang,
reflek tendon dalam tidak ada atau lemah, apraksia, hemiparese,
quadreplegia, postur (dekortikasi,deserebrasi), kejang. Sangat sensitive
terhadap sentuhan dan gerakan, kehilangan sensasi sebagian tubuh,
kesulitan dalam menentukan posisi tubuh
l. Nyeri/kenyamanan
Gejala  : Sakit kepala, atau pusing.
Tanda  : Wajah menyeringai, respon menarik rangsangan nyeri yang hebat,
gelisah, tidak bisa beristirahat, merintih.

24
m. Pernafasan
Tanda : Perubahan pola nafas, nafas berbunyi, stridor, tersedak, ronki, mengi
positif (kemungkinan karena aspirasi).
n. Keamanan
Gejala  : Trauma baru/trauma karena kecelakaan.
Tanda  : Fraktur/dislokasi, gangguan penglihatan, kulit laserasi, agrafi, perubahan
warna, tanda trauma di sekitar hidung, gangguan rentang gerak, tonus
otot hilang, kekuatan secara umum mengalami paralysis, demam,
gangguan dalam regulasi suhu tubuh.
o. Kulit:
laserasi, abrasi, perubahan warna, spt “raccoon eye”, tanda battle disekitartelinga
(merupakan tanda adanya trauma). Adanya aliran cairan (drainase) dari
telinga/hidung (CSS).
p. Gangguan kognitif
gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, kekuatan secara umum mengalami
paralysis. Demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh.
q. Interaksi sosial
Tanda : Afasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang,
disatria.
r. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala  : Penggunaan alkohol/obat lain.
Pertimbangan  :  DRG menunjukkan rata-rata lama di rawat 12 hari.
Rencana pemulangan : Membutuhkan bantuan perawatan diri, ambulasi,
transportasi, menyiapkan makanan, belanja, perawatan,
pengobatan, tugas-tugas rumah tangga, dan lain-lain
2. Prioritas Keperawatan
a. Memaksimalkan perfusi/fungsi serebral
b. Mencegah/meminimalkan komplikasi
c. Mengoptimalkan fungsi otak/mengembalikan pada keadaan sebelum trauma
d. Meningkatkan koping individu dan keluarga
e. Memberikan informasi
3. Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan perfusi jaringan (spesifik serebral) b.d aliran arteri dan atauvena
terputus,

25
b. Nyeri akut b.d dengan agen injuri fisik,
c. Defisit self care b.d dengan kelelahan, nyeri
4. Intervensi Keperawatan
N Diagnosa NOC (Tujuan &
NIC (Intervensi)
o Keperawatan Kriteria Hasil)
1 Ketidakefektifan Status sirkulasi Perfusi 1. Monitor Tekanan Intra Kranial :
perfusi jaringan serebral Setelah a. Catat perubahan respon klien terhadap
jaringan (spesifi dilakukan tindakan stimulus / rangsangan
k serebral ) b.d keperawatan selama b. Monitor TIK klien dan respon
aliran arteri dan ….x 24 jam, klien neurologis terhadap aktivitas
atau vena mampu mencapai : c. Monitor intake dan output
terputus. 1. Status sirkulasi d. Pasang restrain, jika perlu
dengan indikator : e. Monitor suhu dan angka leukosit
a. Tekanan darah sis- f. Kaji adanya kaku kuduk 
tolik dan diastolic 7. Kelola pemberian antibiotic
dalam rentang g. Berikan posisi dengan kepala elevasi
yang diharapkan. 30-40 dengan leher dalam posisi
b. Tidak ada netral
ortostatik h. Minimalkan stimulus dari lingkungan
hipotensi i. Beri jarak antar tindakan keperawatan
c. Tidak ada tanda untuk meminimalkan peningkatan
tanda PTIK TIK
2. Perfusi jaringan j. Kelola obat obat untuk
serebral, dengan mempertahankan TIK dalam batas
indicator : spesifik
a. Klien mampu 2. Monitoring Neurologis (2620)
berkomunikasi a. Monitor ukuran, kesimetrisan, reaksi
dengan jelas dan dan bentuk pupil
sesuai kemampuan b. Monitor tingkat kesadaran klien
b. Klien c. Monitor tanda-tanda vital
menunjukkan d. Monitor
perhatian, keluhan nyeri kepala, mual,dan
konsentrasi, dan muntah
orientasi e. Monitor respon klien terhadap
c. Klien mampu pengobatan
memproses f. Hindari aktivitas jika TIK meningkat 
informasi g. Observasi kondisi fisik klien
d. Klien mampu 3. Terapi Oksigen (3320)
membuat a. Bersihkan jalan nafas dari secret
keputusan dengan b. Pertahankan jalan nafas tetap efektif 
benar 3. Berikan oksigen sesuai instruksi
e. Tingkat kesadaran c. Monitor aliran oksigen, kanul oksigen,
klien membaik dan humidifier
d. Beri penjelasan kepada klien tentang
pentingnya pemberian oksigen
e. Observasi tanda-tanda hipoventilasi
f. Monitor respon klien terhadap
pemberian oksigen
g. Anjurkan klien untuk tetap memakai

26
2 Nyeri akut b.d oksigen selama aktivitas dan tidur
dengan agen Setelah dilakukan
injuri fisik. asuhan 1. Manajemen nyeri (1400)
keperawatanselama …. a. Kaji keluhan nyeri, lokasi,
x 24 jam, karakteristik, onset/durasi, frekuensi,
klien dapat : kualitas, dan beratnya nyeri.
1. Mengontrol nyeri, denga b. Observasi respon ketidaknyamanan
n indicator : secara verbal dan non verbal.
a. Mengenal faktor-faktor c. Pastikan klien menerima perawatanan
penyebab algetik dengan tepat.
b. Mengenal onset nyeri d. Gunakan strategi komunikasi yang
c. Tindakan pertolongan efektif untuk mengetahui respon
non farmakologi penerimaan klien terhadap nyeri.
d. Menggunakan e. Evaluasi keefektifan penggunaan
analgetik kontrol nyeri
e. Melaporkan gejala- f. Monitoring perubahan nyeri baik
gejala nyeri kepada actual maupun potensial. Sediakan
tim kesehatan. lingkungan yang nyaman.
f. Nyeri terkontrol g. Kurangi factor - faktor yang dapat
2. Menunjukkan tingkat  menambah ungkapan nyeri. 
nyeri, dengan indicator : h. Ajarkan penggunaan tehnik relaksasi
a. Melaporkan nyeri sebelum atau sesudah nyeri
b. Frekuensi nyeri berlangsung.
c. Lamanya i. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
episode nyeri untuk memilih tindakan selain obat
d. Ekspresi nyeri; wajah untuk meringankan nyeri.
e. Perubahan respirasi j. Tingkatkan istirahat yang adekuat
rate untuk meringankan nyeri.
f. Perubahan tekanan 2. Manajemen pengobatan (2380)
darah a. Tentukan obat yang dibutuhkan klien
g. Kehilangan nafsu dan cara mengelola sesuai dengan
makan anjuran/ dosis.
3. Tingkat kenyamanan, b. Monitor efek teraupetik dari
dengan indicator : pengobatan.
a. Klien melaporkan c. Monitor tanda, gejala dan efek
kebutuhan tidur dan samping obat.
istirahat tercukupi d. Monitor interaksi obat. 
e. 5.Ajarkan pada klien / keluarga cara
mengatasi efek samping pengobatan. 
f. Jelaskan manfaat pengobatan yg dapat 
mempengaruhi gaya hidup klien.
3. Pengelolaan analgetik (2210)
a. Periksa perintah medis tentang obat,
dosis & frekuensi obat analgetik.
b. Periksa riwayat alergi klien.
c. Pilih obat berdasarkan tipe
danberatnya nyeri.
d. Pilih cara pemberian IV atau IM untuk
pengobatan, jika mungkin.
e. Monitor vital sign sebelum dan

27
sesudah pemberian analgetik.
f. Kelola jadwal pemberian analgetik
yang sesuai.
g. Evaluasi efektifitas dosis
analgetik,observasi tanda dan gejala
efek samping, misal depresi
pernafasan, mual dan muntah, mulut
kering, & konstipasi.
h. Kolaborasi dengan dokter untuk obat,
dosis & cara pemberian yang di
indikasikan.
i. Tentukan lokasi nyeri, karakteristik,
kualitas, dan keparahan sebelum
pengobatan. 
j. Berikan obat dengan prinsip 5 benar.
Dokumentasikan respon dari analgetik
dan efek yang tidak diinginkan
3 Defisit self care 
b.d kelelahan,
nyeri. 1. Membantu perawatan diri klien
Mandi dan toiletting, Aktifitas:
perawatan diri : (mandi, a. Tempatkan alat-alat mandi di tempat
Makan Toiletting, yang mudah dikenali dan mudah
berpakaian)  dijangkau klien. 
Setelah diberi motivasi b. Libatkan klien dan damping.
perawatan c. Berikan bantuan selama klien masih
selama ….x24 jam, pasi mampu mengerjakan sendiri
en 2. ADL Berpakaian, Aktifitas:
mengerti carame menuhi a. Informasikan pada klien dalam
ADL secara bertahap memilih pakaian selama perawatan 
sesuai kemampuan, b. Sediakan pakaian di tempat yang
dengan kriteria :  mudah dijangkau
          Mengerti secara c. Bantu berpakaian yang sesuaiJaga
sederhana cara mandi, privcy klien
makan, toileting, dan d. Berikan pakaian pribadi yg digemari
berpakaian serta mau dan sesuai
mencoba secara aman 3. ADL Makan
tanpa cemas  a. Anjurkan duduk dan berdo’a bersama
          Klien mau b. Teman 
berpartisipasi dengan c. Dampingi saat makan 
senang hati tanpa d. Bantu jika klien belum mampu dan
keluhan dalam bericontoh 
memenuhi ADL e. Beri rasa nyaman saat makan

28
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansjoer. (2013). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculpius : Jakarta

Ditjen PP & PL Depkes RI. 2012. Laporan Triwulan Situasi Perkembangan cidera kepala di
Indonesia Sampai Dengan 30 Juni 2012.

Gennerelli TA and Meany DF. (2011). Mechanism of Primary Head Injury. Wilkins RH and
Renfgachery SS Neurosurgery, New York\

NICE clinical guideline. (2012). Head injury: triage, assessment, investigation and early
management of head injury in infants, children and adults.

Scottish Intercollegiate Guidelines Network. (2011). Early management of patients with a


head injury.

Smeltzer, Suzanna C. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal

Bedah. Brunner dan Suddart., Edisi 8. Jakarta: EGC

Tarwoto, et. al. (2011). Keperawatan Medikal Bedah, Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta :
Sagung Seto

Wahjoepramono, Eka. (2015). Cedera Kepala. Lippokarawaci: Universitas Pelita Harapan

Weisberg et al. (2012). Essential of Clinical Neurology: Head Trauma.

Wilkinson, J. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan Kriteria
Hasil NOC. Edisi 7. Jakarta : EGC.

Brunner dan Suddarth. 2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.  Volume II. Edisi 8.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Carpenito, L.J. 2011. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan dan Masalah


Kolaborasi. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Doenges, M.E. 2012. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.

Hudak dan Gallo. 2010. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Volume II. Edisi 6. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Marion Johnson, dkk. 2010. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. Mosby.

Mc. Closkey dan Buleccheck. 2010. Nursing Interventions Classification (NIC) Second


Edition. Mosby.

29
NANDA. 2012. Nursing Diagnosis: Definition and Classification. Philadelphia: North
American Nursing Diagnosis Association.

30