Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PERLINDUNGAN DAN PENEGAKAN HUKUM


Diajukan untuk memenuhi Tugas US PKn

DISUSUN OLEH :

Nama : Lisna Pitriani


Kelas : XII IPS 2

SMAN 1 SURADE
Alamat :Jln. Raya Cikaso KM 1 Kec. Surade Kab. Sukabumi - Jawa Barat
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan taufik dan hidayah-
Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan judul “Perlindungan dan Penegakan
Hukum”.
Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita yakni Nabi Muhammad
saw. yang telah membawa ajaran yang benar semoga kita diberi syafa'at di yaumil akhir nanti.
Penyusun berusaha semaksimal mungkin agar penyajian makalah ini dapat bermanfaat
mengenai pengetahuan tentang perlindungan dan penegakan hukum dalam menjamin dan
keadilan baik bagi penyusun sendiri maupun bagi para pembaca.
Di dalam makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran
yang bersifat perbaikan dari guru pembimbing dan teman-teman sekalian akan kami terima
dengan senang hati.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menjalankan hukum di kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.

Surade, 07 Februari 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................i
DAFTAR ISI .......................................................................................................................ii

BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................................1
C. Tujuan..............................................................................................................1

BAB II: PEMBAHASAN


A. Makna Perlindungan dan Penegakan Hukum dalam Kehidupan
Bermasyarakat................................................................................................2
B. Praktik Perlindungan dan Penegakan Hukum dalam Kehidupan
Bermasyarakat................................................................................................9

BAB III: PENUTUP


A. Kesimpulan...................................................................................................12
B. Saran.............................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menerangkan dalam pasal 1 ayat (3) UUD
1945 perubahan ketiga yang berbunyi “Negara Indonesia adalah Negara hukum”. Artinya,
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechtsstaat),
tidak berdasar atas kekuasaan (machstaat), dan pemerintah berdasarkan sistem konsitusi
(hukum dasar), bukan absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Dan perwujudan hukum
tersebut terdapat dalam UUD 1945 serta peraturan perundangan di bawahnya. Tetapi kenapa
sistem hukum di negeri ini selalu menjadi topik yang tak bosan-bosannya diperbincangkan
dan selalu membuat masalah. Apakah sistem yang berlaku tidak sesuai dengan karakter
bangsa Indonesia? Apakah para pelaku hukum yang tidak mengetahui ganjaran setiap
tindakan penyelewengan yang mereka lakukan? Atau apakah ganjaran dari sistem hukum
tersebut yang kurang tegas untuk mengatasi berbagai macam permasalahan tindak pidana?
Dalam negara hukum, segala permasalahan diselesaikan sesuai hukum yang berlaku.
Akan tetapi, praktik perlindungan dan penegakan hukum terkadang berbeda dengan
prosedur yang ditetapkan. Oleh karena itu, perlindungan dan penegakan hukum di Indonesia
untuk menjamin keadilan dan kebenaran dalam kehidupan bermasyarakat harus segera
dibenahi agar tidak terjadi penyelewengan hukum yang dilakukan oleh oknum-oknum yang
tidak bertanggung jawab. Seorang yang melanggar hukum harus ditindak sesuai aturan
hukum yang berlaku. Perlindungan dan penegakan hukum harus memenuhi rasa keadilan
masyarakat.
Hukum Negara ialah aturan bagi Negara itu sendiri, bagaimana suatu Negara
menciptakan keadaan yang relevan, keadaan yang menentramkan kehidupan sosial
masyarakatnya, menghindarkan dari segala bentuk tindak pidana maupun perdata. Namun
tidak di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, pemberitaan di media masa sungguh
tragis.
Dengan landasan pemikiran ini, penulis akan mencoba memaparkan mengenai
hukum, perlindungannya, penegakannya, aspek-aspek yang menjadi subjek dan objeknya,
serta penerapannya di tengah masyarakat yang tidak puas dengan keadaan penegakan hukum
di Indonesia sekarang ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa makna perlindungan dan penegakan hukum dalam kehidupan bermasyarakat?
2. Bagaimana praktik perlindungan dan penegakan hukum dalam kehidupan masyarakat?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sistem perlindungan dan penegakan hukum di Indonesia.
2. Menganalisis praktik perlindungan dan penegakan hukum dalam masyarakat untuk
menjamin keadilan dan kedamaian.
3. Menyaji hasil analisis praktik perlindungan dan penegakan hukum untuk menjamin
keadilan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
BAB II
1
PEMBAHASAN

A. Makna Perlindungan dan Penegakan Hukum dalam Kehidupan Bermasyarakat


Perlindungan hukum merupakan hak setiap warga negara Indonesia, artinya seluruh
warga negara Indonesia tanpa membedakan berdasarkan golongan tertentu, berhak
mendapatkan perlindungan hukum dari sesuatu yang mengancam dirinya. Penegakan hukum
merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan, kepastian hukum, dan
kemanfaatan sosial menjadi kenyataan.
1. Makna Perlindungan Hukum
Indonesia sebagai negara hukum, segala sesuatunya harus berdasarkan pada hukum
(asas legalitas). Perlindungan hukum diberlakukan bagi setiap orang sebagai bentuk
perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia terhadap ketentuan hukum yang mungkin
saja melanggar hak-hak individu. Setiap orang memiliki hak dan diperlakukan sama di
hadapan hukum. Semua masyarakat Indonesia mendapat perlindungan hukum karena
negara hukum melindungi segenap warga negara tanpa membeda-bedakannya.
Hukum dapat diartikan sebagai himpunan peraturan-peraturan (perintah dan
larangan) yang dibuat oleh penguasa negara atau pemerintah untuk mengatur tingkah laku
manusia dalam bermasyarakat, bersifat memaksa, dan memiliki sanksi yang harus
dipatuhi oleh masyarakat. Sedangkan perlindungan adalah suatu proses cara perbuatan
untuk melindungi seseorang. Jadi perlindungan hukum adalah jaminan perlindungan
pemerintah dan atau masyarakat kepada warga negara dalam melaksanakan fungsi, hak,
kewajiban, dan peranannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Perlindungan hukum juga dapat diartikan sebbagai upaya melindungi secara hukum
terhadap jiwa raga, harta benda seseorang, dan Hak Asasi Manusia (HAM), yang terdiri
atas hak untuk hidup, hak kemerdekaan, hak beragama, dan sebagainya. Dengan
demikian, pelanggaran hukum apapun yang dilakukan terhadap hal-hal tersebut di atas
akan dikenakan sanksi.
2. Makna Penegakan Hukum
Penegakan hukum adalah proses dilakukan upaya tegaknya atau berfungsinya
norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam lalu lintas atau
hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Menurut Satjipto Rahardjo, penegakan hukum merupakan proses perwujudan ide-
ide (ide keadilan, ide kepastian hukum, dan ide kemanfaatan sosial) yang bersifat abstrak
menjadi kenyataan. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam penegakan hukum
sebagai berikut.
a. Kepastian hukum
Kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap tindakan
sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu
yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat mengharap adanya kepastian
hukum masyarakat akan lebih tertib.

b. Kemanfaatan

2
Hukum adalah untuk manusia, maka hukum atau penegak hukum harus
memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat, jangan sampai timbul keresahan di
salam masyarakat karena pelaksanaan atau penegak hukum.
c. Keadilan
Hukum itu tidak identik dengan keadilan. Hukum itu bersifat umum, mengikat
setiap orang, bersifat menyamaratakan. Sebaliknya keadilan bersifat subjektif,
individualistis, dan tidak menyamaratakan.

3. Aparat Penegak dan Lembaga Peradilan Hukum


Penegakan hukum di Indonesia tidak terlepas dari peran para aparat penegak
hukum. Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak
hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. Menurut Pasal 1 Bab 1 Kitab Undang-
undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang dimaksud aparat penegak hukum oleh
undang-undang ini sebagai berikut.
a. Penyelidik ialah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu yang diberikan wewenang khusus oleh undang-undang untuk
melakukan penyelidikan. (Pasal 6 KUHAP)
Wewenang (Pasal 7 ayat [1] KUHAP) :
1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana;
2. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;
3. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri
tersangka;
4. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;
5. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
6. Mengambil sidik jari dan memotret seorang;
7. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
8. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan
pemeriksaan perkara;
9. Mengadakan penghentian penyidikan;
10. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
b. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak
sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah
memperoleh hukum tetap. (UU No 8 tahun 1981 tentang KUHP)
Tugas Jaksa:
1. Sebagai penuntut umum
2. Pelaksana putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
(eksekutor)
c. Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk
bertindak seagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah
memperoleh hukum tetap.
Berdasarkan Pasal 14 KUHAP Penuntut Umum mempunyai wewenang :
a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik pembantu;
b. Mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan dengan
memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan (4), dengan memberikan
petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik;
c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan
lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan
oleh penyidik;
3
d. Membuat surat dakwaan;
e. Melimpahkan perkara ke pengadilan;
f. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan hari dan
waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa
maupun kepada saksi untuk datang pada sidang yang telah ditentukan;
g. Melakukan penuntutan;
h. Menutup perkara demi kepentingan hukum;
i. Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai
penuntut umum menurut ketentuan undang-undang;
j. Melaksanakan penetapan hakim.
d. Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi kewenangan oleh undang-
undang untuk mengadili.
Tugas dan wewenang hakim:
 Dalam Bidang Manajemen Peradilan
 Membantu pimpinan pengadilan dalam membuat program kerja jangka
pendek dan jangka panjang, pelaksanaannya serta pengorganisasiannya.
 Melakukan pengawasan yang ditugaskan ketua untuk mengamati apakah
pelaksanaan tugas, umpamanya mengenai penyelenggaraan administrasi
perkara perdata dan pidana serta pelaksanaan eksekusi, dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan melaporkannya kepada Ketua
Pengadilan.
 Melakukan pengawasan dan pengamatan (KIMWASMAT) terhadap
pelaksanaan putusan pidana di Lembaga pemasyarakatan dan
melaporkannya kepada MA.
 Melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan
peradilan di Pengadilan Negeri yang ditugaskan kepadanya serta
rneneruskannya kepada kepustakaan hukum.
 Dalam Bidang Perdata
 Menetapkan hari sidang.
 Membuat catatan pinggir pada berita acara dan putusan Pengadilan Negeri
mengenai hukum yang dianggap penting.
 Bertanggungjawab atas pembuatan dan kebenaran berita acara persidangan
dan menandatanganinya sebelum hari sidang berikutnya.
 Dalam hal Pengadilan Tinggi melakukan pemeriksaan tambahan untuk
mendengar sendiri para pihak dan saksi, maka Hakim bertanggungjawab
atas pembuatan dan kebenaran berita acara persidangan serta
menandatanganinya.
 Mengemukakan pendapat dalam musyawarah.
 Menyiapkan dan memaraf naskah putusan lengkap untuk dibacakan.
 Menandatangani putusan yang sudah diucapkan dalam persidangan.
 Melaksanakan pembinaan dan mengawasi bidang hukum perdata yang
ditugaskan kepadanya.
 Melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan
peradilan di Pengadilan Negeri yang ditugaskan kepadanya.
 Dalam Bidang Pidana
 Menetapkan hari sidang untuk perkara dengan acara biasa.
 Menetapkan terdakwa ditahan, dikeluarkan dari tahanan atau dirubah jenis
penahanannya.
4
 Bertanggungjawab atas pembuatan dan kebenaran berita acara persidangan
dan menandatanganinya sebelum sidang berikutnya.
 Mengemukakan pendapat dalam musyawarah.
 Menyiapkan dan memaraf naskah putusan lengkap untuk dibacakan.
 Hakim wajib menandatangani putusan yang sudah diucapkan dalam
persidangan.
 Menghubungi BAPAS agar menghadiri persidangan dalam hal terdakwanya
masih dibawah umur.
 Memproses permohonan grasi.
 Melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap keadaan dan perilaku
narapidana yang berada di lembaga pemasyarakatan serta melaporkannya
kepada Mahkamah Agung.
 Melakukan pengawasan yang ditugaskan ketua untuk mengamati apakah
pelaksanaan tugas mengenai penyelenggaraan administrasi perkara pidana/
bidang pidana dan eksekusi serta melaporkannya kepada Pimpinan
Pengadilan.
 Mempelajari dan mendiskusikan secara berkala kepustakaan hukum yang
diterima dari Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung.
e. Penasehat hukum adalah seseorang yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh
undang-undang untuk memberikan bantuan hukum.
Wewenang penasehat hukum:
Mengajukan fakta dan pertimbangan yang ada sangkut pautnya dengan klien yang
sedang dibelanya dalam perkara tersebut, sehingga akan terjadi keseimbangan
dalam persidangan yang akan berpengaruh pada keputusan Hakim yang adil.
Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan
dengan tugas atau perannya, yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan,
penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pembuktian, penjatuhan vonis dan pemberian
sanksi, serta upaya pemasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana.
Aparat penegak hukum akan memutuskan perkara hukum di peradilan hukum.
Lembaga-lembaga peradilan hukum sebagai berikut.
a. Peradilan Umum
Peradilan umum adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung yang
menjalankan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya.
Adapun kekuasaan kehakiman di lingkungan peradilan umum dilaksanakan oleh
Pengadilan Tinggi merupakan pengadilan tingkat banding yang berkedudukan di
ibu kota provinsi, dengan daerah hukum meliputi wilayah provinsi dan Pengadilan
Negeri adalah suatu pengadilan yang sehari-hari memeriksa dan memutuskan
perkara tingkat pertama dari segala perkara perdata dan pidana untuk semua
golongan yang berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota, dengan daerah hukum
meliputi wilayah kabupaten/kota.
b. Peradilan Agama
Peradilan Agama adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung bagi
rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu
yang diatur dalam undang-undang. Dalam lingkungan Peradilan Agama, kekuasaan
kehakiman dilaksanakan oleh Pengadilan Tinggi Agama merupakan sebuah
lembaga peradilan di lingkungan Peradilan Agama sebagai pengadilan tingkat
banding yang berkedudukan di ibu kota Provinsi dan Pengadilan Negeri Agama

5
atau yang biasa disebut Pengadilan Agama merupakan sebuah lembaga peradilan di
lingkungan Peradilan Agama yang berkedudukan di ibu kota kabupaten atau kota.
c. Peradilan Militer
Peradilan Militer adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung yang
melaksanakan kekuasaan kehakiman mengenai kejahatan-kejahatan yang
berkaitan dengan tindak pidana militer. Pengadilan dalam lingkungan militer
terdiri atas Pengadilan Militer Utama, Pengadilan Militer Tinggi, Pengadilan
Militer, dan Pengadilan Militer Pertempuran.
d. Peradilan Tata Usaha Negara
Peradilan Tata Usaha Negara adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah
Agung yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan
terhadap sengketa Tata Usaha Negara. Kekuasaan Kehakiman pada Peradilan Tata
Usaha Negara dilaksanakan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara dan
Pengadilan Tata Usaha Negara.
4. Lembaga Perlindungan dan Penegakan Hukum
Lembaga perlindungan dan penegakan hukum di Indonesia, antara lain Mahkamah
Konstitusi (MK), Mahkamah Agung (MA), Kepolisian Republik Indonesia (Polri),
Kejaksaan, Komisi Yudisial, dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
1. Mahkamah Konstitusi (MK)
Dalam pasal 24 ayat (1) dan (2) UUD 1945 dijelaskan bahwa Mahkamah
Konstitusi merupakan salah satu pelaku Kekuasaan Kehakiman. Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menegaskan bahwa kedaulatan berada
di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Dan pula
ditegaskan bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum.
Dalam penjelasan umum Undang-Undang RI Nomor 24 tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi dijelaskan bahwa sejalan dengan prinsip ketatanegaraan di
atas, maka salah satu substansi penting perubahan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia tahun 1945 adalah keberadaan Mahkamah Konstitusi sebagai
lembaga negara yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan,
dalam rangka menjaga konstitusi agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai
dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi. Keberadaan Mahkamah Konstitusi
sekaligus untuk menjaga terselenggaranya pemerintahan negara yang stabil, dan juga
merupakan koreksi terhadap pengalaman kehidupan ketatanegaraan di masa lalu
yang ditimbulkan oleh tafsir ganda terhadap konstitusi.
Berdasarkan pasal 24 C ayat (1) dan (2) Undang-Undang Dasar Negara R.I.
tahun 1945, Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan untuk :
 Menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara R.I tahun
1945.
 Memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenanganya diberikan
oleh Undang-Undang Dasar Negara R.I. tahun 1945.
 Memutus pembubaran partai politik.
 Memutus perselisihan hasil pemilihan umum, dan
 Memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil
Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan
terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau
perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau

6
Wakil Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
R.I. tahun 1945.
Indepedensi Mahkamah Konstitusi disebutkan dalam pasal 2 Undang-Undang
R.I. Nomor 24 tahun 2003 sebagai berikut :
“Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga negara yang melakukan
kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna
menegakkan hukum dan keadilan“.
2. Mahkamah Agung (MA)
Dalam Pasal 1 UU RI Nomor 5 tahun 2004 yang kemudian telah diubah dan
ditambah dengan UU RI Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 14
tahun 1985 tentang Mahkamah Agung disebutkan bahwa Mahkamah Agung adalah
salah satu pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Selanjutnya dalam Pasal 24 A ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara R.I.
disebutkan bahwa Mahkamah Agung berwenang untuk :
 Mengadili pada tingkat kasasi,
 Menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang- undang terhadap
undang-undang,
 Kewenangan lainnya yang diberikan oleh undang-undang.
Selanjutnya dalam pasal 2 UU Nomor 14 tahun 1985 sebagaimana telah diubah
dan ditambah dengan Undang-Undang Negara R.I. Nomor 5 tahun 2004 dan terakhir
telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2009 tentang
Perubahan Kedua atas UU Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung telah
diatur tentang independensi Mahkamah Agung yang selengkapnya berbunyi sebagai
berikut :
“Mahkamah Agung adalah Lembaga Tinggi Negara dari semua Lingkungan
Peradilan, yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan
pengaruh-pengaruh lain.”
3. Kejaksaan
Kejaksaan Republik Indonesia atau Kejaksaan adalah lembaga
pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta
kewenangan lain berdasarkan undang-undang sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2
ayat (1) UU RI Nomor 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
Selanjutnya dalam Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 tahun 2004
tersebut disebutkan bahwa “Kekuasaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan secara merdeka”.
Dalam penjelasan umum angka 1 UU RI Nomor 16 Tahun 2004 tersebut
dijelaskan bahwa Kejaksaan sebagai lembaga pemerintahan yang melaksanakan
kekuasaan Negara di bidang penuntutan ditegaskan kekuasaan Negara tersebut
dilaksanakan secara merdeka. Oleh karena itu, Kejaksaan dalam melaksanakan
fungsi, tugas, dan wewenangnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan
kekuasaan lainnya. Selanjutnya ditentukan Jaksa Agung bertanggung jawab atas
penuntutan yang dilaksanakan secara independen demi keadilan berdasarkan hukum
dan hati nurani. Dengan demikian Jaksa Agung selaku pimpinan Kejaksaan dapat

7
sepenuhnya merumuskan dan mengendalikan arah dan kebijakan penanganan
perkara untuk keberhasilan penuntutan.
4. Kepolisian
Dalam Pasal 1 angka (1) UU RI Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia disebutkan bahwa Kepolisian adalah segala hal-ihwal
yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang
– undangan. Sedangkan dalam Pasal 8 ayat (1) UU RI Nomor 2 tahun 2002 tersebut
disebutkan bahwa kedudukan Kepolisian Negara Republik Indonesia berada di
bawah Presiden.
Pada awal era reformasi, salah satu tuntutan yang mencuat dan segera direspon
oleh Pemerintah adalah pemisahan Polri dan ABRI. Melalui Inpres Nomor: 02/1999
telah diambil langkah-langkah kebijakan pemisahan Polri dari ABRI dan
penempatannya untuk sementara pada Dephankam, yang ditandai oleh suatu upacara
bersejarah pada tanggal 1 April 1999 di Mabes ABRI Cilangkap. Langkah tersebut
telah ditindak lanjuti dengan berbagai kebijakan Menhankam/Panglima TNI yang
menyerahkan wewenang pembinaan dan operasional Polri dari Pangab kepada
Menhankam dan Kapolri.
Secara universal, tugas pokok lembaga kepolisian mencakup dua hal, yaitu
pemeliharaan keamanan dan ketertiban (peace and order maintenance) dan
penegakan hukum (law enforcement).10 Dalam perkembangannya, tanggung jawab
“pemeliharaan” dipandang pasif, sehingga tidak mampu menanggulangi kejahatan.
Polisi kemudian dituntut untuk secara proaktif melakukan “pembinaan”, sehingga
tidak hanya “menjaga” agar kamtib terpelihara, tetapi juga menumbuhkan kesadaran
masyarakat, menggugah dan mengajak peran serta masyarakat dalam upaya
pemeliharaan keamanan dan ketertiban, dan bahkan ikut memecahkan masalah-
masalah sosial yang menjadi sumber kejahatan. Tugas-tugas ini dipersembahkan oleh
polisi untuk membantu (to support) masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya akan
rasa aman, sehingga memungkinkan tercapainya kesejahteraan.
5. Komisi Yudisial
Dalam ketentuan Pasal 1 angka (1) UU R.I. Nomor 22 tahun 2004 yang
kemudian telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 18 Tahun 2011 tentang
Komisi Yudisial disebutkan bahwa Komisi Yudisial adalah lembaga Negara
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut
Undang-Undang Dasar. Ditegaskan pula bahwa Negara Indonesia adalah negara
hukum.
Sejalan dengan prinsip ketatanegaraan di atas, salah satu substansi penting
perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 adalah
adanya Komisi Yudisial. Komisi Yudisial tersebut merupakan lembaga Negara yang
bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan
mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,
keluhuran martabat, serta perilaku hakim.
Pasal 24 B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
memberikan landasan hukum yang kuat bagi reformasi bidang hukum, yakni dengan

8
memberikan kewenangan kepada Komisi Yudisial untuk mewujudkan checks and
balances, walaupun Komisi Yudisial bukan pelaku kekuasaan kehakiman namun
fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman.
6. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ( Komnas HAM )
Dalam Pasal 1 angka (7) UU R.I. Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia disebutkan bahwa Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang selanjutnya
disebut Komnas HAM adalah lembaga mandiri yang berkedudukan setingkat dalam
negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyaluran,
pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia. Dalam pasal 75 Undang-Undang R.I.
Nomor 39 tahun 1999 disebutkan bahwa Komnas HAM bertujuan :
 Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia
sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Perserikatan
Bangsa-Bangsa, serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia; dan
 Meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna
berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya dalam
berbagai bidang kehidupan.

B. Praktik Perlindungan dan Penegakan Hukum dalam Kehidupan Masyarakat


Hukum bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam kemasyarakatan hukum.
Dalam masyarakat hukum itu harus pula bersendi pada keadilan, yaitu asas-asas keadilan
dalam masyarakat.
1. Perlindungan dan penegakan hukum untuk menjamin keadilan dan kedamaian
Setiap warga negara berhak untuk mendapat perlindungan hukum. Negara
berkewajiban memberikan perlindungan hukum kepada warga negaranya. Perlindungan
hukum difungsikan untuk menghindari segala bentuk perilaku sewenang wenang,
penindasan, perampasan hak, dan lain-lain yang dapat merugikan dan bahkan
menyengsarakan seseorang atau masyarakat. Perlindungan hukum juga didasari oleh faktor
bahwa manusia pada hakikatnya adalah sama, yaitu sebagai mahluk Tuhan yang Maha Esa.
Oleh karena itu, siapapun yang bersalah ataupun melakukan pelanggaran hukum harus
mendapatkan sanksi huku. Sebaliknya , bagi siapa yang tidak bersalah harus terhindar dari
sanksi hukum. Semua orang harus diperlakukan sama di dalam hukum.
Keadilan adalah sesuatu yang dirasakan seimbang, pantas sehingga semua orang
atau sebagian besar orang yang mengalami merasa pantas, nyaman, dan adil. Salah satu ciri
keadilan yang penting adakah adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Memperoleh keadilan adalah hak asasi bagi setiap manusia. Tegaknya keadilan dan
kebenaran dalam masyarakat akan dapat mewujudkan masyarakat yang damai, sejahtera,
aman, tentram, dan saling percaya. Baik antara sesama masyarakat, maupun terhadap
pemerintah.
Kedamaian dapat diartikan bahwa di satu pihak terdapat ketertiban antar pribadi
yang bersifat ekstern dan di lain pihak terdapat ketentraman pribadi intern. Demi
tercapainya suatu ketertiban dan kedamaian maka hukum berfungsi untuk memberi
jaminan bagi seseorang agar kepentingannya diperhatikan oleh orang lain. Jika
kepentingan itu terganggu, maka hukum harus melindunginya, serta setiap ada pelanggaran
hukum. Oleh karenanya, hukum itu harus dilaksanakan dan ditegakkan tanpa membeda-
bedakan atau tidak memberlakukan hukum secara diskriminatif.

9
2. Akibat Tidak Adanya Perlindungan dan Penegakan Hukum
Akibat-akibat yang ditimbulkan dari masalah penyelewengan hukum sebagai berikut.
a. Ketidakpercayaan masyarakat pada hukum
Masyarakat berpendapat hukum banyak merugikan mereka, terlebih lagi soal
materi sehingga mereka berusaha untuk menghindarinya. Karena mereka percaya
bahwa uanglah yang berbicara, dan dapat meringankan hukuman mereka, fakta-fakta
yang ada diputarbalikkan dengan materi yang siap diberikan untuk penegak hukum.
Kasus-kasus korupsi di Indonesia tidak terselesaikan secara tuntas karena para
petinggi negara yang terlibat di dalamnya mempermainkan hukum dengan menyuap
sana sini agar kasus ini tidak terungkap, akibatnya kepercayaan masyarakat pun pudar.
b. Penyelesaian konflik dengan kekerasan
Penyelesaian konflik dengan kekerasan contohnya ialah pencuri ayam yang
dipukuli warga, pencuri sandal yang dihakimi warga. Konflik yang terjadi di
sekelompok masyarakat di Indonesia banyak yang diselesaikan dengan kekerasan,
seperti kasus tawuran antarpelajar, tawuran antarsuku yang memperebutkan wilayah,
atau ada salah satu suku yang tersakiti sehingga dibalas dengan kekerasan. Mereka
tidak mengindahkan peraturan-peraturan kepemerintahan, dengan masalah secara
geografis. Ini membuktikan masyarakat Indonesia yang tidak tertib hukum, seharusnya
masalah seperti maling sandal atau ayam dapat ditangani oleh pihak yang berwajib,
bukan dihakimi secara seenaknya, bahkan dapat menghilangkan nyawa seseorang.
c. Pemanfaatan inkonsistensi penegakan hukum untuk kepentingan pribadi
Melihat beberapa kasus di Indonesia, banyak warga negara Indonesia yang
memanfaatkan inkonsistensi penegakan hukum untuk kepentingan pribadi. Contohnya:
pengacara yang menyuap polisi ataupun hakim untuk meringankan terdakwa,
sedangkan polisi dan hakim yang seharusnya bisa menjadi penengah bagi kedua belah
pihak yang sedang terlibat kasus hukum bisa jadi lebih condong pada banyaknya
masteri yang diberikan oleh salah satu pihak yang sedang terlibat dalam kasus hukum
tersebut.
d. Penggunaan tekanan asing dalam proses peradilan
Dalam hal ini kita dapat mengambil contoh pengrusakan lingkungan yang
diakibatkan oleh suatu perusahaan asing yang membuka usahanya di Indonesia,
mereka akan minta bantuan dari negaranya untuk melakukan upaya pendekatan
kepada Indonesia, agar mereka tidak mendapatkan hukuman yang berat, atau dicabut
izin memproduksinya di Indonesia.
3. Upaya-Upaya Penegakan Hukum untuk Menjamin Keadilan dan Kedamaian
Penegakan hukum merupakan pondasi utama dalam kehidupan Bernegara, guna
terciptanya ketertiban dan ketentraman sehingga tidak heran jika banyak Negara di dunia
menjadikan penegakan hukum sebagai prioritas kebijakan dan pembaharuan, termasuk
Indonesia yang ditandai dengan mulai berbenah dan dilengkapinya segala bentuk
infrastruktur lembaga-lembaga baik itu dalam lingkup kekuasaan eksekutif, yudikatif,
maupun lembaga-lemabaga pengawas independen yang bertugas melakukan pengawalan
terhadap terealisasinya jaminan penegak hukum.
Berbagai macam cara untuk mengatasi masalah penegakan hukum di Indonesia
sebagai berikut.

10
a. Penegak hukum seharusnya berjalan tidak semata melihat fakta, tetapi menimbang
serta melihat latar belakang peristiwa, alasan terjadinya kejadian, unsur kemanusaian
dan juga menimbang rasa keadilan dalam memberikan keputusan.
b. Hukum seharusnya tidak di tegakan dalam bentuk yang paling kaku, arogan, dan hitam
putih. Tapi, harus berdasarkan rasa keadilan yang tinggi, tidak hanya mengikuti hukum
dalam konteks perundang-undangan hitam putih semata. Karena hukum yang
ditegakan yang hanya berdasarkan konteks hitam putih belaka hanya akan
menghasilkan keputusan-keputusan yang kontroversial dan tidak memenuhi rasa
keadilan yang sebenarnya.
c. Hakim sebagai pemberi keputusan seharusnya tidak menjadi corong undang-undang
yang hanya mengikuti peraturan perundang-undangan semata tanpa mempedulikan
rasa keadailan. Hakim seharusnya mengikuti perundang-undangan dengan
mementingkan rasa keadilan seadil-adilnya sehingga keputusannya dapat memenuhi
rasa keadilan yang sebenarnya.
d. Memberikan Pendidikan dan penyuluhan hukum baik formal maupun informal secara
berkesinambungan kepada masyarakat tentang pentingnya penegakan hukum di
Indonesia sehingga masyarakat sadar hukum dan menaati peraturan yang berlaku.
e. Menyediakan bantuan hukum bagi si miskin dan buta hukum. Melaksanakan asas
proses yang tepat, cepat dan biaya ringan semua tingkat peradilan.
f. Pemberian saksi yang tegas kepada aparat penegak hukum yang tidak menjalankan
tugas dengan semestinya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sosialisasi politik adalah suatu proses untuk memasyarakatkan nilai-nilai atau budaya
politik ke dalam suatu masyakat, sehingga masyarakat menjadi mengerti tentang politik
tersebut. Ada beberapa metode sosialisasi politik diantaranya yaitu; metode imitasi
(peniruan), instruksi (perintah) dan motivasi (dorongan). Adapun sarana-sarana untuk

11
mensosialisasikan politik kepada masyarakat yaitu melalui; keluarga, sekolah, kelompok
pergaulan, tempat kerja, media massa dan kontak-kontak politik secara langsung.

B. Saran
Dalam makalah ini, penulis menyarankan agar kita dapat mensosialisasikan politik
kepada masyarakat dengan sosialisasi yang benar dan tepat sehingga masyarakat dengan
mudah menerimanya. Oleh karena itu, untuk politikus disarankan agar dapat menjalankan
politik itu sesuai dengan ketentuan Undang-undang yang berlaku dan tidak menjadikan
politik untuk kepentingan pribadi.

DAFTAR PUSTAKA

Tim redaksi. 2014. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.


http://www.slideshare.net/fadhlisyar/makalah-pkn?related=1#
http://www.bimbingan.org/contoh-rumusan-masalah.htm
http://www.slideshare.net/iBeDaSilva/perlindungan-hukum
http://www.slideshare.net/ek0hidayat/penegakan-hukum-di-indonesia-21692948

12
http://sururudin.wordpress.com/2011/03/11/tugas-dan-wewenang-jaksa-dalam-proses-perkara-
pidana/
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt51a4a954b6d2d/soal-penyidik,-penyelidik,-
penyidikan,-dan-penyelidikan
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20140316110618AASEcZu
http://kakpanda.blogspot.com/2013/01/tugas-dan-wewenang-hakim.html

13