Anda di halaman 1dari 9

PEREMAJAAN PERPUSTAKAAN DI ERA MILENIAL

ARTIKEL OPINI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Pendidikan Bahasa Indonesia
yang dibina oleh Ibu Aptia Ardiasri, M.Pd.

oleh

Novita Dwiyanti Budi Astuti


180213506003

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
PRODI DIII-PERPUSTAKAAN
NOVEMBER 2019
Peremajaan Perpustakaan di Era Milenial

Pendahuluan
S.R. Raganathan pernah mengungkapkan bahwa “The library is growing
organism”, artinya perpustakaan itu adalah suatu organisme yang selalu
berkembang. Perkembangan ini dipicu oleh beberapa sebab perubahan selera
masyarakat, kemajuan teknologi, tren penggunaan informasi, dan hal lain yang
memiliki kontribusi terhadap perubahan situasi di perpustakaan. Dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perpustakaan harus mampu
bersaing dengan lembaga-lembaga informasi yang lain. Ketersediaan sarana
prasarana dan infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi hendaknya
ditambah dan dilengkapi guna meningkatkan akses informasinya.
Paradigma perpustakaan telah bergeser ke arah generasi milenial, di mana
milenial sendiri yaitu sebuah generasi dimana pemustaka berperilaku sebagai
seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan (Fatmawati, 2012). Paradigma
perpustakaan generasi milenial ini dicirikan adanya masyarakat pembelajar yang
selalu berinteraksi dengan internet di manapun dan kapanpun mereka
membutuhkan informasi. Adanya kemajuan IPTEK, membuat perpustakaan harus
selalu mencari jalan dengan pemanfaatan inovasi teknologi informasi terbaru agar
kualitas layanan menjadi semakin terus meningkat. Perkembangan teknologi
komunikasi dan informasi yang begitu cepat jelas berdampak secara signifikan
pada eksistensi perpustakaan.
Sebuah perpustakaan harus tanggap mengenai tren TIK (Teknologi
Informatika dan Komunikasi). Tuntutan kemudahan akses informasi yang serba
instan, tepat, dan adanya ketersediaan fasilitas yang diaplikasikan akan
merepresentasikan sistem layanan informasi yang dilayankan perpustakaan untuk
merubah paradigma dalam wajah baru perpustakaan era milenial (Khadijah,
2018). Salah satu contoh perpustakaan milenial yaitu West End Library yang
memiliki desain perpustakaan modern serta memiliki fasilitas modern juga seperti
mesin peminjaman mandiri, hotspot area, pencetak 3 dimensi, dan katalog online.
Bentuk fasilitas perpustakaan West End Library dapat diterapkan di perpustakaan
Indonesia untuk dapat mengubah atmosfer perpustakaan menjadi pusat belajar
bagi masyarakatnya.
Isi
Berdasarkan fakta yang telah dikemukakan, terdapat 5 permasalahan, 5
permasalahan tersebut, yaitu: populasi masyarakat suka membaca buku turun
drastis; beberapa perpustakaan tidak memiliki fasilitas pendukung; adanya
internet membuat perpustakaan sepi pengunjung; minimnya anggaran yang
dialokasikan oleh pemerintah di bidang perpustakaan; kurangnya keterlibatan
profesional informasi dalam sistem manajemen perpustakaan.
Pertama, populasi masyarakat yang suka membaca buku turun drastis
pada generasi milenial, dapat dilihat pada kondisi perpustakaan Nasional rata-rata
hanya dikunjungi 403.000 orang per tahun jauh di bawah negara Singapura,
sebagian besar dari mereka berkunjung ke perpustakaan hanya menikmati fasilitas
yang ada seperti jaringan internet untuk mengakses ilmu pengetahuan dan lainnya
(Kompas, 16 September 2015). Bagi generasi ini, tulisan dinilai memusingkan
dan membosankan. Generasi milenial bisa di bilang lebih menyukai melihat
gambar, apalagi jika menarik dan berwarna. Walaupun begitu, milenial yang
gemar membaca buku masih tetap ada. Namun, mereka sudah tidak membaca
buku di perpustakaan lagi. Mereka lebih memilih membaca buku online (e-book)
sebagai salah satu solusi yang mempermudah generasi ini, untuk tidak perlu repot
membawa buku. Sekarang ini, sudah banyak penerbit yang menyediakan format
e-book untuk dijual, agar pembaca dapat membaca dalam ponsel pintarnya, hal ini
sejalan dengan perkembangan internet.
Dalam diskusi garda bangsa DKW Sulawesi Selatan dengan tema
Generasi Milenial M. Nawir. SS. mengatakan saat ini internet sudah sampai ke
desa-desa. Dapat dilihat dari data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet
Indonesia di tahun 2010 saja, sudah memiliki 45 juta pengguna internet bahkan
dalam delapan tahun sudah menjadi 171,17 juta (Annur, 2019). Dari jumlah
penduduk Indonesia saat ini berjumlah 262 juta dan Indonesia berada di urutan ke
6 negara pengguna internet di bawah Cina, Amerika Serikat, India, Brazil, dan
Jepang (Kekominfo, 2015)
Kedua, kondisi perpustakaan saat ini menunjukkan bahwa inovasi layanan
perpustakaan mulai berkembang secara refleksif terhadap lahirnya generasi
milenial. Lalu apakah dengan hadirnya internet membuat perpustakaan sepi
pengunjung? Apalagi saat ini, mau mencari informasi apapun sudah langsung
menggunakan google. Sekali ketik dan klik di google seketika itu juga muncul
ribuan informasi yang ditemukan. Agar perpustakaan tidak ditinggal lari
pemustaka dan pengunjung tidak semakin berkurang, maka perpustakaan harus
tanggap dalam menyambut perubahan ini. Lalu apa bedanya perpustakaan dengan
internet ?. Menurut saya perbedaannya terletak pada kandungan informasinya.
Internet terkadang menyediakan informasi yang tidak lengkap, sedangkan di
perpustakaan informasi yang didapatkan bisa secara lengkap melalui dokumen-
dokumen fisiknya.
Ketiga, menurut data Badan Penelitian dan Pengembangan Perpustakaan
Nasional, dari 64 ribu desa di Indonesia hanya 22% yang memiliki perpustakaan,
itupun ditambah fakta bahwa perpustakaan yang ada juga tidak memiliki fasilitas
pendukung seperti sistem pencari buku (Islam Indonesia, 8 Mei 2015). Koleksi
buku yang terdapat di perpustakaan tingkat sekolah misalnya, juga tidak lengkap.
Menjadikan perpustakaan hanya nampak dengan paradigma lama yang terkesan
kaku dan feodal dengan fasilitas gedung, perabot, rak, meja, ataupun kursi, serta
buku-buku terbitan lama. Akibatnya, angka pengunjung perpustakaan di Indonesia
masih kecil yaitu hanya 2 ribu orang per hari.
Keempat, aspek kelembagaan yang lemah akan membawa dampak berupa
minimnya anggaran yang dialokasikan oleh pemerintah di bidang perpustakaan.
Bahkan tidak sedikit perpustakaan yang didukung dengan anggaran nol rupiah.
Meskipun Undang-Undang Perpustakaan sudah mewajibkan setiap sekolah untuk
mengalokasikan minimal lima persen dari APBS untuk perpustakaan, realitas di
lapangan hampir tidak ada perubahan. (Saputro, 2019)
Kelima, kurangnya keterlibatan profesional informasi dalam sistem
manajemen perpustakaan adalah kenyataan bahwa sistem manajemen yang
dibentuk hampir selalu digerakkan oleh sebuah tim perencanaan strategis yang
beranggotakan anggota-anggota senior, sementara pustakawan tidak dilibatkan
karena kedudukan mereka dianggap tidak langsung behubungan dengan strategi
organisasi. Ini adalah masalah yang banyak dihadapi oleh perpustakaan perguruan
tinggi. Akibatnya adalah kurang sejalannya penentuan visi dan misi terkait
dengan manajemen pengelolaan yang inovatif di lapangan.
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan, terdapat 5 solusi, 5
solusi tersebut yaitu :
Pertama, Sudah menjadi tantangan pustakawan di setiap perpustakaan
bagaimana mengatasi menurunnya literasi dan minat baca pada generasi milenial,
bukan berarti mereka tidak memerlukan sumber informasi, tetapi lebih
memudahkan untuk mengakses informasi. Ketika buku nantinya akan
ditinggalkan oleh pengguna bagaimana dengan sebuah motivasi-motivasi
perpustakaan seperti buku adalah jendela dunia yang akan berganti menjadi
google adalah jendela dunia.
Dengan memahami secara utuh potret generasi milenial di Indonesia maka
kita memiliki gambaran pandangan, aspirasi dan sudut pandang terhadap segala
aspek di dalam kehidupan mereka, sehingga pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya bisa tepat sasaran, karena pada ujungnya nanti kepada generasi milenial
inilah nasib dan masa depan bangsa dan negara ditentukan. Dengan adanya
perkembangan ini, diharapkan berbagai sektor yang terkait dengan edukasi
dituntut untuk bisa beradaptasi dan eksis, salah satunya perpustakaan.
Perpustakaan jika ingin tetap eksis dalam perputaran informasi perlu memahami
karakteristik generasi milenial karena hasil data Biro Pusat Statistik mengatakan
bahwa 34% penduduk Indonesia adalah generasi milenial, di perkirakan pada
tahun 2025 yang mengisi seluruh instansi baik pemerintahan maupun yang non-
pemerintahan akan dikuasai oleh generasi milenial (Ali & Purwandi, 2016:14).
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang begitu cepat jelas
berdampak secara signifikan terhadap eksistensi perpustakaan. Sebuah
perpustakaan harus tanggap mengenai trend teknologi. Tuntutan kemudahan akses
informasi yang serba instan, tepat, dan adanya ketersediaan fasilitas yang
diaplikasikan akan merepresentasikan sistem layanan informasi yang dilayankan
perpustakaan. Perpustakaan harus menyediakan wifi area atau hotspot area,
perpustakaan digital, sehingga memungkinkan pemustaka mudah untuk
berselancar mencari informasi melalui internet.
Kedua, perpustakaan selain menyediakan buku tercetak juga menyediakan
buku digital yang mudah diakses baik melalui komputer/laptop dan,
smartphone/tablet dan platform membaca online lainnya, buku-buku digital
disesuaikan dengan kebutuhan yang diperlukan oleh milenial. Di era milenial ini
perpustakaan harus terus mengembangkan inovasi teknologi informasi terbaru,
baik meliputi infrastuktur dan fasilitasnya. Perpustakaan harus membangun link
dan jejaring dengan perpustakaan lainnya, serta memperbanyak melanggan e-
journal dan e-books.
Ketiga, perpustakaan sebaiknya tidak hanya nampak dengan paradigma
lama yang terkesan kaku dan feodal dengan fasilitas gedung, perabot, rak, meja,
ataupun kursi, serta buku-buku terbitan lama seperti Perpustakaan Sekolah di
Desa Klungkung, Kecamatan Nusa Penida. Tetapi, alangkah baiknya jika dibuat
corner-corner khusus yang mengedepankan nilai seni/artistik desain interiornya.
Bentuk rak yang unik dipadu dengan furnitur serta perpaduan cat warna ruangan
yang mengandung nilai seni akan membuat pemustaka merasa nyaman berada di
dalam corner tersebut. Karpet, sofa, meja pendek, maupun lesehan bisa sangat
mengesankan bahwa berada di ruang perpustakaan sangat menyenangkan seperi
layaknya berada di rumah.
Perpustakaan seharusya juga menyediakan fasilitas cafe atau kantin. Pasti
pemustaka akan merasa senang dan betah, karena jika lapar sementara posisi
sedang browsing informasi di perpustakaan, maka tidak perlu repot keluar dari
area perpustakaan. Syukur perpustakaan juga menyediakan air minum gratis untuk
pemustaka. Seharusnya sudah tidak ada lagi sistem aturan perpustakaan yang
terlalu birokratis, misalnya prosedur foto kopi, prosedur jadi anggota, prosedur
membuat kartu, dan prosedur lainnya yang banyak persyaratan dan berbelit-belit.
Aturan sistem perpustakaan yang sederhana akan memudahkan pemustaka dan
bisa mempersuasif orang lain untuk akses ke perpustakaan. Selain itu, di era
milenial ini perpustakaan harus terus mengembangkan inovasi teknologi informasi
terbaru, baik meliputi infrastuktur dan fasilitasnya. Perpustakaan harus
membangun link dan jejaring dengan perpustakaan lainnya, serta memperbanyak
melanggan e-journal dan e-books.
Keempat, untuk mewujudkan perpustakaan ideal diperlukan ”political
will” dari pemerintah dengan mewujudkan struktur kelembagaan perpustakaan
yang kuat dan terhormat (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, 2018).
Kelembagaan perpustakaan harus mandiri, berdiri sendiri, dan terpisah dari
lembaga lain. Sehingga perpustakaan dapat berdiri sendiri baik dari segi anggaran
maupun dalam manajemen. Pemerintah juga harus memberikan anggaran yang
signifikan untuk setiap perpustakaan, baik dari tingkat pusat sampai desa. Tanpa
hal ini perpustakaan ideal hanyalah ilusi belaka.
Kelima, perpustakaan sebagai lembaga non-profit yang berbasis layanan
perlu menerapkan model manajemen yang dinamis dan inovatif. Jika perangkat
dan sistem manajemen semakin modern tanpa didahului dengan modernisasi
SDM yang menggerakan perangkat dan system yang sesuai dengan karakter
budaya manusia dan teknologinya. Maka akan terjadi ketimpangan proses yang
berakibat pada mundurnya sistem layanan dan sirkulasi.
Adanya perkembangan teknologi informasi (TI) membawa dampak
tersendiri bagi perpustakaan. Perpustakaan saat ini secara tidak sadar telah
mengembangkan sebuah konsep perpustakaan yang memadukan antara
perpustakaan tradisional dan perpustakaan digital.
Perpustakaan menempatkan SDM sebagai senjata andalan bagi sistem
manajemennya. SDM adalah Thing tank-nya. Pada institusi perpustakaan dengan
model organisasi profit oriented, sistem manajemennya haruslah berdasarkan pada
paradigma manajemen inovatif. Setiap komponen pengelolaan perpustakaan dan
komunitas pustakawan ditempatkan sebagai aset berharga yang memerlukan
optimalisasi dan distribusi potensi yang dimiliki, sehingga menjadi sekumpulan
pasukan inovator dalam suatu sistem bernama perpustakaan.
Jika paradigma manajemen inovatif menjadi karakter dari sebuah
organisasi maka suatu institusi seakan dipenuhi dengan budaya inovator, sehingga
suasana kerja yang tercipta adalah tim kerja yang bergerak dengan cepat.
Merespon setiap perubahan dan perkembangan dengan gagasan yang menelurkan
progress demi progress, tanpa membuang waktu untuk debat kusir dan kerumitan
birokrasi. Pada titik inilah manajemen mengambil perannya. Menjadi mediasi dan
motivasi bagi jajaran inovator di dalamnya. Hanya manajemen yang inovatif yang
mempunyai keberanian untuk memimpin para inovator.
Penutup
Dari hasil permasalahan dan solusi yang telah dikemukan, perpustakaan
harus adaptable with change, friendly dengan pemustakanya, mampu “jemput
bola” dengan mengetahui apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pemustaka
saat ini. Menjadi tugas berat bagi para pustakawan, karena untuk melayani
pemustaka di era generasi milenial ini dibutuhkan suatu kompetensi dan
keprofesionalan dalam menguasai teknologi informasi. Agar tidak terjadi
kesenjangan antara pustakawan dan pemustaka, maka pustakawan tidak boleh
‘gaptek’. Pustakawan harus mampu menerapkan kompetensinya, yang meliputi
pengetahuan ketrampilan dan sikap dalam melayani pemustakanya. Karena
bagaimanapun ujung tombak perpustakaan di generasi milenial ini adalah di
bagian layanan perpustakaannya.
Generasi milenial dalam kajian informasi menjadi sesuatu yang sangat
menarik bagi pelaku kebijakan untuk mengubah paradigma lama dari
perpustakaan. Era generasi milenial saat ini berprinsip bahwa mengakses
informasi bisa dilakukan dengan mudah dengan berselancar internet kapan dan
dimana saja, tidak harus ke perpustakaan. Jadi, agar perpustakaan tidak ditinggal
pemustakanya, maka perpustakaan harus berbenah dalam penyediaan berbagai
sarana prasarana, fasilitas, infrastruktur, dan aspek kebijakan organisasi
perpustakaan yang mendukung generasi milenial. Selain itu, yang tidak
ketinggalan pengelola perpustakaan dan pustakawannya juga harus information
literate terhadap adanya pergeseran perubahan generasi milenial dalam kajian
informasi saat ini.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Hassanudin & Lilik Purwandi. 2016. Indonesia 2020: The Urban Middle-
Class Millennials. Jakarta: Alvara Strategi Indonesia.
Annur, Cindy Mutia. 2019. Penetrasi Pengguna Internet di Indonesia Capai
64,8%. https://katadata.co.id. (Online). Diakses pada tanggal 6 November
2019.
Erianto, Dwi. 16 September 2015. Popularitas Perpustakaan Semakin Pudar
Dilibas Digital. Kompas. Dari https://edukasi.kompas.com. (Online).
Fatmawati, Endang. 2010. Pergeseran Paradigma Perpustakaan Generasi
Millenial. Bandung: Perpustakaan Universitas Deponegoro. Dari
http://digilib.undip.ac.id.
Islam Indonesia. 2015. Opini: Anggaran Besar Pendidikan di Tengah Minat Baca
yang Cekak. Dari https://islamindonesia.id. (Online).
Khadijah, Catur Dedek. 2018. Transformasi Perpustakaan Untuk Generasi
Millenial Menuju Revolusi Industri 4.0. Jurnal Iqra’, 12(2), hlm. 60.
Kominfo. 2006. Kemkominfo: Pengguna Internet Indonesia Nomor Enam Dunia.
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.
http://kominfo.go.id. (Online). Diakses pada tanggal 6 November 2019.
Saputro, Romi Febriyanto. Tanpa Tahun. Menuju Perpustakaan Ideal
Berdasarkan Undang-Undang Dan Peraturan. Jakarta: Badan
Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan Perpustakaan.
http://www.bpkp.go.id. (Online). Diakses pada tanggal 6 November 2019.
Tren Perpustakaan di Era Milenial. 2018. Surabaya: Universitas Katolik Widya
Mandala