Anda di halaman 1dari 20

TUGAS KELOMPOK

MAKALAH KEPEMIMPINAN

Oleh Kelompok 5 :
1. Afdhal Syauqi (186110730)
2. Afifah Salsabila (186110731)
3. Athia Sry Meylanda (186110736)
4. Avriel Zanny Dilla (186110737)
5. Azimatul Amini (186110738)
6. Muhammad Taufik Akbar (186110752)
7. Natasya Putri Amanda (186110755)
8. Voni Novita (186110768)

Dosen pemimbing :
Yannurdin, SKM, M.Sc

POLTEKKES KEMENKES PADANG


JURUSAN S1 TERAPAN PROMOSI KESEHATAN
2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah rasa syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat beriring salam penulis sampaikan pula pada baginda Rasulullah
Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah kepada zaman
peradaban yang berilmu pengetahuan dan berakhlak mulia.
Makalah ini diajukan sebagai tugas perkuliahan pada mata kuliah Kepemimpinan
Program Studi Sarjana Terapan Promosi Kesehatan Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan Padang. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan
pembuatan makalah lain di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya.

Padang, Februari 2020

Kelompok 5
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................
1.1 Latar Belakang..............................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................................
1.3 Tujuan Masalah............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................
2.1 Perbedaan Manager dan Pemimpin..............................................................................
2.2 Konsep dan Struktur Kepemimpinan Organisasi.........................................................
2.3 Permasalahan Kepemimpinan Berbasis Data (Fakta dan Opini).................................
2.4 Gaya Kepemimpinan dalam Penyelesaian Masalah Organisasi...................................
2.5 Solusi Terhadap Permasalahan Internal dan Eksternal Organisasi .............................

BAB III PENUTUP................................................................................................................


A. Kesimpulan................................................................................................................
B. Saran...........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencapaian tujuan organisasi merupakan fokus utama dibentuknya organisasi, baik
organisasi publik maupun publik maupun organisasi bisnis. Suatu organisasi akan berhasil
dalam mencapai tujuan dan programprogramnya bila orang yang bekerja dalam organisasi
itu dapat melakukan tugasnya yang baik sesuai dengan bidangnya dan tanggung jawabnya
masing-masing. Agar orang-orang bekerja dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik, maka diperlukan seorang pemimpin yang dapat memberikan
pengaruhnya dan mengarahkan segala sumber daya yang ada ke arah pencapaian tujuan.
Suatu organisasi akan berhasil atau bahkan gagal sebagian besar ditentukan oleh
seorang pemimpin. Suatu ungkapan yang mulia mengatakan bahwa pemimpinlah yang
bertanggung jawab atas kegagalan pelaksanaan suatu pekerjaan, merupakan ungkapan yang
mendudukkan posisi pemimpin dalam suatu organisasi pada posisi yang terpenting.
Kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan dan
kelebihankelebihan tertentu pada manusia.
Kemampuan manusia berbeda-beda ada yang memiliki kelebihan dan ada yang terbatas
kemampuannya dalam memimpin. Di sini timbul kebutuhan akan pemimpin dan
kepemimpinan. Bass (1998) mengemukakan bahwa dalam situasi saat ini diperlukan para
pemimpin organisasi yang mampu menghadapi perubahan secara berkesinambungan.
Dengan demikian, organisasi dapat bersaing dalam situasi ekonomi yang berubah secara
cepat, kepemimpinan yang diperlukan saat ini adalah kepemimpinan yang dapat
meningkatkan kesadaran bawahan dengan memberikan dorongan cita-cita dan nilai moral
yang lebih tinggi serta pengembangan potensi dan kinerja bawahannya. Ackoff (1999) dan
Reddin mengemukakan bahwa selain pemimpin, karyawan juga menentukan keberhasilan
suatu perusahaan. Untuk itu dibutuhkan karyawan yang mempunyai sifat dan sikap aktif,
seperti daya tanggap yang tinggi, inisiatif dan kreatif serta kepekaan beradaptasi dengan
lingkungan. Kesemuanya ini akan dapat meningkatkan kinerja karyawan itu sendiri. Tanpa
adanya dukungan antara pemimpin ditandai oleh pengaruh pemimpin untuk mengubah
perilaku karyawannya menjadi seorang yang merasa mampu dan bermotivasi tinggi.
Pemimpin mengubah bawahannya sehingga tujuan organisasi dapat dicapai bersama.
Siagian (1998) juga memperkuat pendapat tersebut dengan menyatakan bahwa keberhasilan
atau kegagalan yang dialami sebagian besar organisasi ditentukan oleh kualitas
kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diserahi tugas memimpin organisasi
tersebut. Pfeffer dalam Herlina (1998) mengatakan bahwa pada sejumlah perusahaan untuk
mencapai keunggulan yang berkesinambungan, tidak lagi hanya bergantung pada teknologi,
hak paten, ataupun posisi strategis, tetapi lebih menekankan pada bagaimana persahaan
mengelola tenaga kerja (sumber daya manusia).
Sumber daya manusia di organisasi saat ini semakin diperhatikan disetiap kegiatan
terutama diarahkan untuk pencapaian tujuan. Robbins, (2006) mengatakan organisasi
merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang
reaktif dapat diidentifikasikan, bekerja secara terus menerus untuk mencapai tujuan.
Tindakan-tindakan dari setiap kegiatan dalam organisasi ditentukan oleh sumber daya
manusia yang menjadi bagian dalam organisasi. Setiap organisasi membutuhkan sumber
daya manusia yang berkualitas baik pemimpin maupun anggota atau bawahan dalam
mengerjakan tugas dan tanggung jawab untuk tercapainya tujuan.
Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan manusia,
walaupun kehidupan masyarakat kelihatan sangat damai dan rukun belum tentu masyarakat
itu tidak mempunyai konflik. Konflik sering terjadi karena terdapat beraneka ragam
karakter, sifat, perilaku yang dimiliki individu yang berbeda satu sama lain.
Konflik terjadi apabila dalam hubungan antara dua orang atau kelompok, perbuatan
yang satu berlawanan dengan perbuatan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling
terganggu. Perbuatan dapat mengganggu karena tidak didukung, tidak memudahkan
kegiatan yang sedang berlangsungf atau dapat merugikan sehingga dengan adanya suatu
konflik yang terjadi merusak suatu tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa perbedaan manager dan pemimpin?
2. Apa saja konsep dan struktur kepemimpinan?
3. Bagaimana masalah dalam berbasis data?
4. Apa saja gaya-gaya kepemimpinan?
5. Apa solusi terhadap masalah internal dan eksternal dalam organisasi
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui perbedaan manager dan pemimpin
2. Untuk mengetahui konsep dan struktur kepemimpinan
3. Bisa menjelaskan permasalah kepemimpinan dalam berbasis data
4. Mengetahui gaya-gaya kepemimpinan
5. Mengetahui solusi terhadap masalah internal dan eksternal dalam organisasi
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Perbedaan Manager dan Pemimpin
Pemimpin (leader) adalah seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat
kepemimpinan personality atau authority (berwibawa).  Ia disegani dan berwibawa
terhadap bawahan atau pengikutnya karena kecakapan dan kemampuan serta didukung
perilakunnya yang baik.  Pemimpin (leader) dapat memimpin organisasi formal maupun
informal, dan menjadi panutan bagi bawahan (pengikut)nya.  Biasanya tipe
kepemimpinannya adalah “partisipatif leader” dan falsafah kepemimpinannya adalah
“pimpinan untuk bawahan”.
Sedangkan manajer juga merupakan seorang pemimpin, yang dalam praktek
kepemimpinannya hanya berdasarkan “kekuasaan atau authority formalnya”
saja.  Bawahan atau karyawan atau staf menuruti perintah-perintahnya karena takut
dikenakan hukuman oleh manajer tersebut.  Manajer biasanya hanya dapat memimpin
organisasi formal saja dan tipe kepemimpinannya ialah “autocratis leader” dengan
falsafahnya ialah bahwa “bawahan adalah untuk pemimpin”.  

Perbedaan Manager dan Kepemimpinan


Manager Pemimpin
 Mengelola  Berinovasi
 Dapat di cetak  Tidak dapat di cetak
 Memelihara  Mengembangkan
 Memfokuskan pada sistem dan  Memfokuskan pada orang-orang
struktur (bawahan)
 Mengandalkan kontrol  Menumbuhkan kepercayaan
 Berorientasi jangka pendek  Memiliki perspektif jangka panjang
 Bertanya bagaimana dan kapan  Bertanya apa dan mengapa
 Berorientasi pada hasil  Berorientasi pada peluang-peluang masa
 Meniru depan
 Menerima status quo  Menciptakan
 Seperti tentara yang siap selalu  Menentang status quo
diperintah  Adalah dirinya sendiri
 Melakukan dengan benar  Melakukan hal yang benar
2.2 Konsep dan Struktur Kepemimpinan Organisasi
1. Pengertian Kepemimpinan
Organisasi dalam bentuk apapun tentunya membutuhkan posisi seseorang
untuk memimpin organisasi tersebut. Kepemimpinan sendiri merupakan
kemampuan atau kecerdasan seseorang untuk mendorong sejumlah orang agar
bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan
bersama.
Kepemimpinan (leadership) memiliki pengertian sebagai kemampuan yang
harus dimiliki seseorang pemimpin (leader) tentang bagaimana menjalankan
kepemimpinannya sehingga bawahan dapat bergerak sesuai dengan yang
diinginkan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya. bergeraknya
orang-orang ini harus mengikuti jalur tujuan organisasi yang hendak dicapai dan
bukan merupakan hal yang semu dari kepemimpinannya itu. Adapun
penggerakan dalam pencapaian tujuan adalah legitimasi dari sebuah kekuasaan
yang dimiliki oleh pemimpin, karena bukan merupakan simbol atau kedudukan
semata.
2. Fungsi-Fungsi Kepemimpinan
Di antara fungsi kepemimpinan antara lain:
 Fungsi Perencanaan
Fungsi Perencanaan, yaitu seorang pemimpin perlu membuat perencanaan
yang menyeluruh bagi organisasi dan bagi diri sendiri selaku penanggung
jawab tercapainya tujuan organisasi. Menurut Aynul (2009) diuraikan bahwa
manfaat-manfaat tersebut antara lain: (1) Perencanaan merupakan hasil
pemikiran dan analisa situasi dalam pekerjaan untuk memutuskan apa yang
akan dilakukan; (b) Perencanaan berarti pemikiran jauh ke depan disertai
keputusan-keputusan yang berdasarkan atas fakta-fakta yang diketahui; (c)
Perencanaan berarti proyeksi atau penempatan diri ke situasi pekerjaan yang
akan dilakukan dan tujuan atau target yang akan dicapai. Perencanaan meliputi
dua hal, yaitu : (1) Perencanaan tidak tertulis yang akan digunakan dalam
jangka pendek, pada keadaan darurat, dan kegiatan yang bersifat terus
menerus; (2) Perencanaan tertulis yang akan digunakan untuk menentukan
kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan atas dasar jangka panjang dan
menentukan prosedur-prosedur yang diperlukan.
 Fungsi Memandang ke Depan
Seorang pemimpin yang senantiasa memandang ke depan berarti akan mampu
mendorong apa yang akan terjadi serta selalu waspada terhadap kemungkinan.
Hal ini memberikan jaminan bahwa jalannya proses pekerjaan ke arah yang
dituju akan dapat berlangsung terus menerus tanpa mengalami hambatan dan
penyimpangan yang merugikan. Oleh sebab seorang pemimpin harus peka
terhadap perkembangan situasi baik di dalam maupun di luar organisasi
sehingga mampu mendeteksi hambatan-hambatan yang muncul, baik yang
kecil maupun yang besar.
 Fungsi Pengembangan Loyalitas
Pengembangan kesetiaan ini tidak saja di antara pengikut, tetapi juga untuk
para pemimpin tingkat rendah dan menengah dalam organisasi. Untuk
mencapai kesetiaan ini, seseorang pemimpin sendiri harus memberi teladan
baik dalam pemikiran, kata-kata, maupun tingkah laku sehari-hari yang
menunjukkan kepada anak buahnya pemimpin sendiri tidak pernah
mengingkari dan menyeleweng dari loyalitas segala sesuatu tidak akan dapat
berjalan sebagaimana mestinya.
 Fungsi Pengawasan
Fungsi pengawasan merupakan fungsi pemimpin untuk senantiasa meneliti
kemampuan pelaksanaan rencana. Dengan adanya pengawasan maka
hambatan-hambatan dapat segera diketemukan, untuk dipecahkan sehingga
semua kegiatan kembali berlangsung menurut rel yang telah ditetapkan dalam
rencana.
 Fungsi Mengambil Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan fungsi kepemimpinan yang tidak mudah
dilakukan. Oleh sebab itu banyak pemimpin yang menunda untuk melakukan
pengambilan keputusan. Bahkan ada pemimpin yang kurang berani mengambil
keputusan. Metode pengambilan keputusan dapat dilakukan secara individu,
kelompok tim atau panitia, dewan, komisi, referendum, mengajukan usul
tertulis dan lain sebagainya.
 Fungsi Memberi Motivasi
Seorang pemimpin perlu selalu bersikap penuh perhatian terhadap anak
buahnya. Pemimpin harus dapat memberi semangat, membesarkan hati,
mempengaruhi anak buahnya agar rajin bekerja dan menunjukkan prestasi
yang baik terhadap organisasi yang dipimpinnya. Pemberian anugerah yang
berupa ganjaran, hadiah, pujian atau ucapan terima kasih sangat diperlukan
oleh anak buah sebab mereka merasa bahwa hasil jerih payahnya diperhatikan
dan dihargai oleh pemimpinnya. Di lain pihak, seorang pemimpin harus berani
dan mampu mengambil tindakan terhadap anak buahnya yang menyeleweng,
yang malas dan yang telah berbuat salah sehingga merugikan organisasi,
dengan jalan memberi celaan, teguran, dan hukuman yang setimpal dengan
kesalahannya.
3. Prinsip Dasar Kepemimpinan
Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber utama sistem pendukung kehidupan
yang ditampilkan dengan 4 dimensi seperti; keselamatan, bimbingan, sikap yang
bijaksana, dan kekuatan. Berikut merupakan prinsip-prinsip kepemimpinan
menurut Cover (1997) sebagai berikut:
 Seorang yang Belajar Seumur Hidup
 Berorientasi pada Pelayanan
 Membawa Energi yang Positif
4. Unsur-Unsur Kepemimpinan
Berdasarkan uraian dari konsepsi kepemimpinan, maka dapat disimpulkan
bahwa kepemimpinan terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut menurut
Wahjosumdjo (1987):
 Adanya Kepemimpinan
Pemimpin itu sendiri adalah unsur utama kepemimpinan yang akan
menjadi pendorong dan atau mempengaruhi seseorang atau sekelompok
orang lain, sehingga tercipta hubungan kerja yang serasi dan
menguntungkan untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk
mencapai tujuan tertentu.
 Adanya Pengikut
Unsur kedua kepemimpinan adalah adanya pengikut, yakni seorang atau
sekelompok orang yang mendapat dorongan atau pengaruh sehingga
bersedia dan dapat melakukan berbagai aktivitas tertentu untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
 Adanya Sifat dan Ataupun Perilaku Tertentu Unsur
Kepemimpinan adalah adanya sifat ataupun perilaku tertentu yang
dimiliki oleh seorang pimpinan yang dapat dimanfaatkan untuk
mendorong dan ataupun mempengaruhi seorang atau sekelompok orang.
 Adanya Situasi dan Kondisi Tertentu Unsur
Adanya situasi dan kondisi tertentu yang memungkinkan terlaksananya
kepemimpinan. Situasi dan kondisi yang dimaksud dibedakan atas dua
macam. Pertama situasi dan kondisi internal organisasi, kedua situasi dan
kondisi eksternal organisasi yakni lingkungan secara keseluruhan.
5. Struktur Organisasi Kepemimpinan
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian baik
secara posisi maupun tugas yang ada pada perusahaaan dalam menjalin kegiatan
operasional untuk mencapai tujuan ,bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan,
dan dikoordinasikan secara formal.
Ada enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh para manajer ketika hendak
mendesain struktur, antara lain :
1. Spesialisasi pekerjaan, berisi tugas dalam organisasi
2. Departementalisasi, mengelompokkan pekerjaan, berupa proses.
3. Rantai komando, wewenang yang membentang dari puncak organisasi dan
menjelaskan tanggungjawab.
4. Rentang kendali , arahan manajer secara efisien dan efektif.
5. Sentralisasi dan Desentralisasi, tingkat pengambilan keputusan
terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi. Desentralisasi adalah
lawan dari sentralisasi.
6. Formalisasi, berisi sejauh mana pekerjaan dalam sebuah organisasi.

Struktur dalam sebuah organisasi mencerminkan kegiatan sebagai berikut, yakni:


1. Adanya pengorganisasian proses pekerjaan;
2. Adanya deskripsi berkenaan dengan wilayah atau lingkup kerja;
3. Adanya deskripsi tugas kerja;
4. Adanya identifikasi kompetensi;dan
5. Adanya Identifikasi kompetensi perorangan
2.3 Permasalahan Kepemimpinan Berbasis Data (Fakta dan Opini)
1. Kurangnya feedback
Sarah adalah sales yang berbakat, tapi ia memiliki kebiasaan buruk menjawab
telepon dengan cara yang tidak profesional. Boss nya memperhatikan hal ini, tapi ia
tidak memberitahukan hal ini pada Sarah. Boss nya menunggu saat review untuk
memberitahukan pada Sarah tentang kesalahannya dalam menjawab telepon.
Sayangnya, selama menunggu review dari bossnya, Sarah telah melakukan banyak
kesalahan dan menghilangkan kesempatan terhadap pelanggan yang berpotensi.
Berdasarkan survey 1.400 eksekutif oleh The Ken Blanchard Companies,
kegagalan untuk memberikan feedback dan saran adalah kesalahan umum yang
dilakukan oleh seorang pemimpin. Saat Anda tidak menyediakan masukan yang
membantu untuk bawahan Anda, Anda telah menjauhkan mereka dari kesempatan
untuk meningkatkan performa mereka. Untuk menghindari kesalahan ini, belajarlah
cara untuk memberikan masukan secara reguler kepada tim Anda.
2. Tidak menyediakan waktu untuk tim anda
Saat menjadi seorang pemimpin atau manager, akan sangat mudah untuk
tenggelam dalam kesibukan Anda sehingga Anda tidak memiliki waktu untuk tim
Anda.
Ya, tentu saja Anda memiliki sebuah proyek yang harus anda sampaikan kepada
mereka. Tapi akan sangat penting untuk tim Anda jika Anda bisa menyediakan waktu
untuk mereka saat mereka membutuhkannya. Tim Anda tidak akan tahu apa yang
harus mereka lakukan tanpa arahan dan suport dari Anda.
Hindarilah kesalahan ini dengan menyediakan satu waktu khusus dari seminggu
waktu kerja yang Anda miliki untuk mereka, dan dengan mempelajari cara
mendengarkan yang baik. Tingkatkanlah kecerdasan emosional Anda, sehingga Anda
bisa lebih sadar akan kebutuhan tim Anda. Anda juga dapat menggunakan cara me-
manage dengan berada di antara mereka. Hal ini akan sangat efektif untuk bisa terus
berhubungan dengan tim Anda.
Saat Anda berada dalam suatu kepemimpinan, tim Anda harus selalu menjadi
prioritas utama. Dalam hati mereka, itulah pemimpin yang mereka inginkan!
6. Bersikap terlalu lepas kendali
Salah satu dari tim Anda telah menyelesaikan proyek yang penting. Permasalahannya
sekarang adalah ia salah mengartikan spesifikasi dari proyek yang ia kerjakan, dan Anda
tidak berhubungan dengan dia saat ia mengerjakannya. Sekarang, ia telah
menyelesaikan proyeknya dengan hasil yang salah, dan Anda harus menghadapi klien
Anda yang marah akan hal ini.
Banyak pemimpin yang ingin menghindari Micro management. Tetapi, mereka justru
melakukannya dengan cara yang terlalu esktrim, dan melepaskan seluruhnya kepada
bawahan mereka. Hal ini tidak baik, dan Anda seharusnya bisa menyeimbangkannya.
7. Bersikap terlalu ramah
Banyak dari kita yang ingin terlihat ramah dan bersahabat di dalam tim kita. Pada
kenyataanya, orang-orang memang lebih bahagia bekerja dengan pemimpin yang bisa
akrab dengan mereka. Namun, ada beberapa saat dimana Anda harus membuat
keputusan yang sulit mengenai orang dalam tim Anda, dan beberapa orang akan
mengambil keuntungan dengan kedekatan mereka bersama Anda.
Ini tidak berarti bahwa Anda tidak diijinkan untuk bersosialisasi dengan bawahan anda.
Tapi, Anda harus dapat menyeimbangkan antara menjadi seorang teman dan menjadi
seorang pemimpin.
Tentukanlah batasan yang jelas, sehingga tim Anda tidak akan mengambil keuntungan
dari kedekatan mereka dengan Anda.
2.1 Gaya Kepemimpinan dalam Penyelesaian Masalah Organisasi
1. Gaya Kepemimpinan Kharismatis
Gaya kepemimpinan kharismatis adalah gaya kepemimpinan yang mampu
menarik atensi banyak orang, karena berbagai faktor yang dimiliki oleh seorang
pemimpin yang merupakan anugerah dari Tuhan. Kepribadian dasar pemimpin
model ini adalah kuning. Kelebihan gaya kepemimpinan karismatis ini adalah
mampu menarik orang. Mereka terpesona dengan cara berbicaranya yang
membangkitkan semangat. Biasanya pemimpin dengan kepribadian kuning ini
visionaris. Mereka sangat menyenangi perubahan dan tantangan. Namun,
kelemahan terbesar tipe kepemimpinan model ini bisa saya analogikan dengan
peribahasa “ Tong Kosong Nyaring Bunyinya ”. Mereka mampu menarik orang
untuk datang kepada mereka. Setelah beberapa lama, orang – orang yang datang
ini akan kecewa karena ketidak-konsistenan pemimpin tersebut. Apa yang
diucapkan ternyata tidak dilakukan. Ketika diminta pertanggungjawabannya, si
pemimpin akan memberikan alasan, permintaan maaf dan janji. Gaya
kepemimpinan kharismatis bisa efektif jika : 1). Mereka belajar untuk
berkomitmen, sekalipun seringkali mereka akan gagal. 2). Mereka menempatkan
orang-orang untuk menutupi kelemahan mereka, dimana kepribadian ini
berantakan dan tidak sistematis.
2. Gaya Kepemimpinan Otoriter
Gaya kepemimpinan otoriter adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala
keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala
pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter
tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah
diberikan. Dalam gaya kepemimpinan otoriter, pemimpin mengendalikan semua
aspek kegiatan. Pemimpin memberitahukan sasaran apa saja yang ingin dicapai
dan cara untuk mencapai sasaran tersebut, baik itu sasaran utama maupun
sasaran minornya. Pemimpin yang menjalankan gaya kepemimpinan ini juga
berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya dan pemberi
jalan keluar bila anggota mengalami masalah. Dengan kata lain, anggota tidak
perlu pusing memikirkan apappun. Anggota cukup melaksanakan apa yang
diputuskan pemimpin. Kepribadian dasar pemimpin model ini adalah merah.
Kelebihan model kepemimpinan otoriter ini ada pada pencapaian prestasinya.
Tidak ada satupun tembok yang mampu menghalangi langkah pemimpin ini.
Ketika dia memutuskan suatu tujuan, itu adalah harga mati, tidak ada alasan,
yang ada adalah hasil. Langkah - langkahnya penuh perhitungan dan sistematis.
Dingin dan sedikit kejam adalah kelemahan pemimpin dengan kepribadian
merah ini. Mereka sangat mementingkan tujuan, sehingga tidak pernah peduli
dengan cara. Makan atau dimakan adalah prinsip hidupnya. Gaya kepemimpinan
ini menganggap bahwa semua orang adalah musuh, entah itu bawahannya atau
rekan kerjanya. Gaya kepemimpinan otoriter ini kadang kala menekankan
kepada bawahannya supaya tidak menjadi ancaman, dengan kedisiplinan yang
tidak masuk akal atau dengan target yang tak mungkin dicapai. Gaya
kepemimpinan otoriter ini bisa efektif bila ada keseimbangan antara disiplin
yang diberlakukan kepada bawahan serta ada kompromi terhadap bawahan.
3. Gaya Kepemimpinan Demokratis Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya
pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap
ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang
utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak
informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Kepribadian
dasar pemimpin model ini adalah putih. Pada gaya kepemimpinan demokrasi,
anggota memiliki peranan yang lebih besar. Pada kepemimpinan ini seorang
pemimpin hanya menunjukkan sasaran yang ingin dicapai saja, tentang cara
untuk mencapai sasaran tersebut, anggota yang menentukan. Selain itu, anggota
juga diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Kelebihan gaya kepemimpinan demokratis ini ada di penempatan perspektifnya.
Banyak orang seringkali melihat dari satu sisi, yaitu sisi keuntungan dirinya.
Sisanya, melihat dari sisi keuntungan lawannya. Hanya pemimpin dengan
kepribadian putih ini yang bisa melihat kedua sisi, dengan jelas. Apa yang
menguntungkan dirinya, dan juga menguntungkan lawannya. Dalam bahasa
sederhana, seorang pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan jenis ini
merupakan diplomator yang ulung, atau win-win solution. Kesabaran dan
kepasifan adalah kelemahan pemimpin dengan gaya demokratis ini. Umumnya,
mereka sangat sabar dan sanggup menerima tekanan. Namun kesabarannya ini
bisa sangat – sangat keterlaluan. Mereka bisa menerima perlakuan yang tidak
menyengangkan tersebut, tetapi pengikut-pengikutnya tidak. Dan seringkali hal
inilah yang membuat para pengikutnya meninggalkan si pemimpin. Gaya
kepemimpinan demokratis ini akan efektif bila : 1). Pemimpin mau berjuang
untuk berubah ke arah yang lebih 2). Punya semangat bahwa hidup ini tidak
selalu win-win solution, ada kalanya terjadi win-loss solution. Pemimpin harus
mengupayakan agar dia tidak selalu kalah, tetapi ada kalanya menjadi
pemenang.
4. Gaya Kepemimpinan Moralis
Gaya kepemimpinan moralis adalah gaya kepemimpinan yang paling
menghargai bawahannya. Kepribadian dasar pemimpin model ini adalah biru.
Biasanya seorang pemimpin bergaya moralis sifatnya hangat dan sopan kepada
semua orang. Pemimpin bergaya moralis pada dasarnya memiliki empati yang
tinggi terhadap permasalahan para bawahannya. Segala bentuk kebajikan ada
dalam diri pemimpin ini. Orang – orang datang karena kehangatannya akan
terlepas dari segala kekurangannya. Pemimpin bergaya moralis adalah sangat
emosinal. Dia sangat tidak stabil, kadang bisa tampak sedih dan mengerikan,
kadang pula bisa sangat menyenangkan dan bersahabat. Gaya kepemimpinan
moralis ini efektif bila : 1) Keberhasilan seorang pemimpin moralis dalam
mengatasi kelabilan emosionalnya seringkali menjadi perjuangan seumur
hidupnya. 2) Belajar mempercayai orang lain atau membiarkan melakukan
dengan cara mereka, bukan dengan cara anda.
2.2 Solusi Terhadap Permasalahan Internal dan Eksternal Organisasi
Lingkungan internal adalah lingkungan organisasi yang berada di dalam organisasi
tersebut dan secara normal memiliki implikasi yang langsung dan khusus pada
perusahaan. Analisis lingkungan internal perusahaan didefinisikan sebagai suatu proses
perencanaan strategi yang mengkaji bidang pemasaran, dan distribusi perusahaan,
penelitian dan pengembangan, produksi dan operasi, sumber daya dan karyawan
perusahaan, serta faktor keuangan dan akuntansi untuk menganalisa kekuatan dan
kelemahan dari masing-masing divisi tersebut sehingga perusahaan dapat memanfaatkan
peluang dengan cara yang paling efektif dan dapat menangani ancaman (Lawrence dan
Wiliam, 1998),

lingkungan eksternal perusahaan (external business environment) adalah berbagai


faktor yang berada di luar organisasi yang harus diperhitungkan oleh organisasi perusahaan
pada saat membuat keputusan. Lingkungan eksternal perusahaan adalah semua kejadian di
luar perusahaan yang memiliki potensi untuk mempengaruhi perusahaan (Chuck Williams,
2001:51). Pearce II dan Robinson (2013) mendefinisikan lingkungan eksternal merupakan
faktor-faktor diluar kendali yang mempengaruhi pilihan perusahaan mengenai arah dan
tindakan, yang pada akhirnya juga mempengaruhi struktur organisasi dan proses internalnya.

Permasalahan Etika Dalam Organisasi

Ini adalah  salah satu contoh yang terjadi dalam timbulnya permasalahan dalam organisasi itu
sendiri. Masalah etika selalu timbul dalam situasi yang melibatkan orang lain, tetapi
seringkali organisasi lebih banyak menyoroti masalah etika ini daripada pihak – pihak
lainnya. Pelanggaran terhadap etika yang telah diterima secara umum merupakan masalah
yang harus diwaspadai dalam organisasi. Charles Saxon, kartunis majalah The New Yorker,
menerbitkan serial kartun bisnis berjudul “ kejujuran adalah salah satu kebijakan yang lebih
baik”, yang menyinggung mengenai masalah etika dalam organisasi bisnis diperlukan, dan
mungkin bermanfaat bagi kita untuk mempelajari beberapa masalah etika dalam konteks
pembuatan keputusan mengenai pekerjaan dalam organisasi.

Masalah etika dalam organisasi dikelompokkan menjadi 2 bagian, seperti yang saya kutip
dari blog aaipoel.wordpress.com  :
 Mengenai praktik organisasi di tempat kerja

1. Rasa hormat, martabat, dan kebebasan perorangan. Masalah ini berhubungan dengan


cara organisasi memperlakukan anggotanya. Dari sudut pandang sebagian besar anggota
oraganisasi, kepentingan organisasi didahulukan dan kepentingan anggota dijadikan yang
paling akhir.
2. Kebijakan dan praktik personel. Masalah ini berkenaan dengan etika kepegawaian,
pemberian gaji, kenaikan pangkat, pendisiplinan, pemberhinetian dan masalah pension
anggota organisasi. Kewajiban umum organisasi adalah berlaku adil pada anggota organisasi
yang prospektif disetiap jenjang karirnya.
3. Keleluasaan (privacy) dan pengaruh terhadap keputusan pribadi. Perjanjian eksplisit
dan implisit antara pegawai dengan organisasi yang memperkerjakan mereka, memberi
peluang kepada organisasi untuk memperhatikan faktor – faktor yang secara jelas
mempengaruhi prestasi kerja pegawai. Namun masalah etika muncul bila organisasi menaruh
perhatian khusus pada masalah kehidupan pribadi anggotanya yang tidak secara langsung
mempengaruhi prestasi kerja mereka dalam organisasi, misalnya segala sesuatu yang terjadi
selama cuti yang mungkin mempengaruhi citra organisasi, keikutsertaan dalam masalah –
masalah publik seperti kegiatan masyarakat dan organisasi pelayanan, kontribusi pada badan
– badan amal, dan keterlibatan dalam kelompok kegiatan politik.

 Mengenai keputusan perseorangan

         Ini akan terjadi apabila seseorang baik dari tingkat atasan atau bagian terpenting dalam
suatu organisasi mengambil suatu keputusan yang sepihak tanpa mendiskusikannya terlebih
dahulu. Permasalahan yang akan timbul diantaranya ketidakpercayaan antar anggota didalam
organisasi sehingga menimbulkan perpecahan dalam organisasi.
Permasalahan Dalam Koordinasi Antar Organisasi Baik Internal Maupun
Eksternal

 Koordinasi dalam Program kerja

Permasalahan ini bahkan terkadang muncul pada sebuah organisasi yang sudah mapan
dan memiliki pengalaman. jika tidak ada koordinasi antar anggota organisasi maka sering kali
menyebabkan kesalahpahaman, yang tentunya dapat menyebabkan kacaunya terlaksanya
sebuah program.
Kekacauan tersebut dapat terjadi ketika antar penanggung jawab tidak mengetahui
batasan-batasan jobnya, yang seringkali hanya dapat diperoleh melalui koordinasi antar
penanggungjawab. Hal tersebut akan menimbulkan terjadinya ketidakseimbangan dalam
pelaksanaan tugas kerja karena disaat ada anggota yang mengerjakan tugas, yang lain
mengalami kekosongan pekerjaan. Hal tersebut tentunya yang tidak diinginkan terjadi dalam
sebuah organisasi, bahkan oleh yang sudah mapan sekalipun.
 · Koordinasi antar Pimpinan

Parahnya lagi, koordinasi yang buruk dapat mengarah pada komunikasi yang buruk pula.
Komunikasi yang buruk antar pimpinan tersebut dalam sebuah program dapat berakibat pada
program-program selanjutnya. Maka seringkali terjadi salah sangka dan salah paham.

 Peranan Konflik

Seperti yang saya kutip dari tulisan Juanita, SE, M.Kes. ada berbagai pandangan
mengenai konflik dalam organisasi. Pandangan tradisional mengatakan bahwa konflik
hanyalah merupakan gejala abnormal yang mempunyai akibat-akibat negatif sehingga perlu
dilenyapkan. Pendapat tradisional ini dapat diuraikan sebagai berikut :
- Konflik hanya merugikan organisasi, karena itu harus dihindarkan dan ditiadakan.
- Konflik ditimbulka karena perbedaan kepribadian dan karena kegagalan dalam
kepemimpinan.
- Konflik diselesaikan melalui pemisahan fisik atau dengan intervensi manajemen
tingkat yang lebih tinggi.

Sedangkan pandangan yang lebih maju menganggap bahwa konflik dapat berakibat baik
maupun buruk. Usaha penanganannya harus berupaya untuk menarik hal-hal yang baik dan
mengurangi hal-hal yang buruk. Pandangan ini dapat diuraikan sebagai berikut :
- Konflik adalah suatu akibat yang tidak dapat dihindarkan dari interaksi organisasional dan
dapat diatasi dengan mengenali sumber-sumber konflik.
- Konflik pada umumnya adalah hasil dari kemajemukan sistem organisasi
- Konflik diselesaikan dengan cara pengenalan sebab dan pemecahan masalah.
Konflik dapat merupakan kekuatan untuk pengubahan positif di dalam suatu
organisasi.

SOLUSI PENANGANAN KONFLIK DALAM ORGANISASI


Masih dari tulisan yang saya kutip dari Juanita, SE, M.Kes, berikut adalah solusi dalam
penanganan konflik maupun permasalahan dalam organisasi
 Introspeksi diri

 Mengevaluasi pihak yang terlibat

Sangat penting bagi kita untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat. Kita dapat
mengidentifikasi kepentingan apa saja yang mereka miliki, bagaimana nilai dan sikap mereka
atas konflik tersebut dan apa perasaan mereka atas terjadinya konflik. Kesempatan kita untuk
sukses dalam menangani konflik semakin besar jika kita meliha konflik yang terjadi dari
semua sudut pandang.
 Identifikasi sumber masalah

Sumber konflik sebaiknya dapat teridentifikasi sehingga sasaran penanganannya lebih terarah
kepada sebab konflik.
 Mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan memilih yang
tepat.
Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam penanganan
konflik :
A.    Berkompetisi
Tindakan ini dilakukan jika kita mencoba memaksakan kepentingan sendiri diatas
kepentingan pihak lain. Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi saat itu
membutuhkan keputusan yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih utama dan pilihan
kita sangat vital. Hanya perlu diperhatikan situasi menang – kalah (win-win solution) akan
terjadi disini. Pihak yang kalah akan merasa dirugikan dan dapat menjadi konflik yang
berkepanjangan. Tindakan ini bisa dilakukan dalam hubungan atasan-bawahan, dimana
atasan menempatkan kepentingannya (kepentingan organisasi) di atas kepentingan bawahan.
B.    Menghindari konflik
Tindakan ini dilakukan jika salah satu pihak menghindari dari situsasi tersebut secara fisik
ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah menunda konflik yang terjadi. Situasi menag
kalah terjadi lagi disini. Menghindari konflik bisa dilakukan jika masing-masing pihak
mencoba untuk mendinginkan suasana, mebekukan konflik untuk sementara. Dampak kurang
baik bisa terjadi jika pada saat yang kurang tepat konflik meletus kembali, ditambah lagi jika
salah satu pihak menjadi stres karena merasa masih memiliki hutang menyelesaikan
persoalan tersebut.
C.    Akomodasi
Yaitu jika kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan sendiri agar pihak lain
mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Disebut juga sebagai self sacrifying behaviour.
Hal ini dilakukan jika kita merasa bahwa kepentingan pihak lain lebih utama atau kita ingin
tetap menjaga hubungan baik dengan pihak tersebut. Pertimbangan antara kepentingan
pribadi dan hubungan baik menjadi hal yang utama di sini.
D.   Kompromi
Tindakan ini dapat dilakukan jika ke dua belah pihak merasa bahwa kedua hal tersebut sama
–sama penting dan hubungan baik menjadi yang utama. Masing-masing pihak akan
mengorbankan sebagian kepentingannya untuk mendapatkan situasi menang-menang (win-
win solution)
E.    Berkolaborasi
Menciptakan situasi menang-menag dengan saling bekerja sama
 
Cara pemecahan masalah itu sendiri tergantung seberapa kreatifkah kita menyikapi masalah,
dan bagaimana mengambil cara yang terbaik dalam memecahkan suatu masalah. Sayangnya,
pilihan pertama yang mereka ambil seringkali bukanlah solusi terbaik.  Secara tipikal, dalam
pemecahan masalah, kebanyakan orang menerapkan solusi yang kurang dapat diterima atau
kurang memuaskan, dibanding solusi yang optimal atau yang ideal (Whetten & Cameron,
2002). Pemecahan masalah yang tidak optimal ini, bukan tidak mungkin dapat memunculkan
masalah baru yang lebih rumit dibandingkan dengan masalah awal.
 
BAB III
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan, Malayu S.P, Drs, H., Manajemen: Dasar, Pengertian dan Masalah, Jakarta: Bumi
Aksara, Edisi Revisi, 2007.

James AF, Stoner, R. Edward Freeman, Daniel R. Gilbe JR. Management. Englewood Cliffs,


N.J: Prentice Hall, 1996.

Sukarno K.  Dasar-dasar Manajemen. Jakarta: CV Telaga Bening, 1968

Atmosudirjo, P. 1982. Administrasi dan Management Umum. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Nanus, B. alih bahasa oleh Frederick Ruma. 2001. Kepemimpinan Visioner. Jakarta :
Prenhallindo.

Dr. Asep Suryana., M.Pd. Modul Konsep Dasar Kepemimpinan

Kadarusman, D. 2012. Natural Intelligence Leadership: Cara Pandang Baru Terhadap


Kecerdasa dan Karakter Kepemimpinan. Jakarta: Raih Asa Sukses.

Krause, D. G. 2000. The Way of The Leader. Diterjemahkan oleh PT Gramedia Dengan
Judul Kiat Sang Pemimpin. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Jurnal Elektornik Rekaman (Riset Ekonomi Bidang Manajemen dan Akuntansi) Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Galileo Putu Rani Susanthi