Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH FARMASI FISIK

TEGANGAN ANTARMUKA
(EMULSI)

DISUSUN OLEH :

TUTIK SISWANTI
(2019132125)

POLTEKKES PERMATA INDONESIA


2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena dengan rahmatnya,
Karunia, dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun makalah ini sehingga selesai pada
waktunya.
Makalah yang berjudul “Sediaan Emulsi” ini disusun dan dibuat berdasarkan materi
yang telah dirangkum dari sumber yang tepercaya. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah
Farmasetika I, pembuatan makalah ini bertujuan agar dapat menambah pengetahuan bagi
para pembaca. Penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk
kita semua.
Ucapan terima kasih tak lupa penulis sampaikan kepada yang telah membantu kami
dalam penyusunan makalah ini. Akhir kata, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Ucapan maaf dari
penulis sendiri apabila terjadi kesalahan pengetikan kata dan isi dalam makalah ini. Oleh
karena itu, diharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.

                                                                    penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam
kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat
digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan
bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.Salah satu sistem koloid yang ada dalam
kehidupan sehari – hari dan dalam industri adalah jenis emulsi.
Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil, sehinggkan  dibutuhkan zat
pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkannya sehingga antara zat yang terdispersi
dengan pendispersinnya tidak akan pecah atau keduannya tidak akan terpisah. Ditinjau dari
segi kepolaran, emulsi merupakan campuran cairan polar dan cairan non polar.Salah satu
emulsi yang kita kenal sehari-hari adalah susu, di mana lemak terdispersi dalam air. Dalam
susu terkandung kasein suatu protein yang berfungsi sebagai zat pengemulsi. Bebera contoh
emulsi yang lain adalah pembuatan es krim, sabun, deterjen, yang menggunakan pengemulsi
gelatin.
Dari hal tersebut diatas maka sangatlah penting untuk mempelajari sistem emulsi
karena dengan tahu banyak tentang sistem emulsi ini maka akan lebih mudah juga untuk
mengetahui zat – zat pengemulsi apa saja yang cocok untuk menstabilkan emulsi selain itu
juga dapat diketahui faktor – faktor yang menentukan stabilnya emulsi tersebut karena selain
faktor zat pengemulsi tersebut juga dipengaruhi gaya sebagai penstabil emulsi.
 Sistem emulsi termasuk jenis koloid dengan fase terdispersinya berupa zat cairnamun
dalam makalah ini kita hanya akan membahas mengenai sistem emulsi saja diantaranya dari
defenisi emulsi, mekanisme secara kimia dan fisika, teori dan persamaannya dan serta
penerapannya dalam kehidupan sehari – hari dan industri. 
B.   RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana defenisi sediaan emulsi?
2.    Bagaimanakah tipe-tipe sediaan emulsi?
3.    Apakah komponen-komponen sediaan emulsi?
C.   MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dari makalah ini yaitu selain sebagai salah satu syarat penilaian
dari mata kuliah Faramasetika I.Tetapi juga untuk menambah pengetahuan mahasiswa
mengenai sediaan emulsi.Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca dapat lebih
memahami lagi mengenai sediaan emulsi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.   PENGERTIAN EMULSI
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,terdispersi
dalam cairan pembawa,distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok
(Depkes,1979).
Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi kedalam kedalam
cairan lain dalam benuk tetesan kecil (Depkes,1995).
Emulsi adalah suatusediaan yang engandung dua zat cair yang tidak mau
campur,biasanya air dan minyak dimana cairan satu terdispersi menjadi butir-butir kecil
dalam cairan yang lain.Dispersi ini tidak stabil,butir-butir ini akan bergabung (koalesen) dan
membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah.Flavor dan pengawet yang berada
dalam fase air yang mungkin larut dalam minyak harus dalam kadar yang cukup untuk
memenuhi yang diinginkan.Emulgator merupakan komponen yang penting untuk
memperoleh emulsi yang stabil (Anief,1993)
Emulsi adalah sediaan berupa campuran terdiri dari dua fase cairan dalam sistem
dispersi,fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan
lainya,umumnya dimantapkan oleh zat pengemulsi ,fase cairan terdispersi disebut fase
dalam,sedangkan fase cairan pembayanya disebut fase luar.Jika fase dalam berupa minyak
atau larutan dalam minyak dan fase luarnya air atau larutan,maka emulsi disebut emulsi
minyak-air,sedangkan sebaliknya emulsi disebut air-minyak (Depkes,1978).
Emulsi adalah suatu disperse dimana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil
zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur.Dalam batasan
emulsi,fase terdispers dianggap sebagai fase dalam dan medium disperse sebagai fase luar
atau fase kontinu.Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi
minyak dalam air tapi sebaliknya emulsi yang memiliki fase dalam air dan fase luar adalah
minyak disebut emulsi air dalam minyak(Ansel,1985).
Emulsi atau emulsions adalah sistem disperse kasar yang solid termodinamik tidak
stabil,terdiri dari minimal dua atau lebih cairan yang tidak bercampur satu sama lain.Dimana
cairan  yang satu terdispersi didalam cairan yang lain dan untuk memantapkannya diperlukan
penambahan emulgator(voight,1994)       
Oleh karena itu,dari cairan yang tidak dapat bercampur satu sama lain.Yang satu
terdistribusi kedalam yang lain dipertahankan untuk melayang.Maka garis tengah tetesan
cairan yang terdistribusi sangat penting untuk mengkarakterisasikan sebuah emulsi.
(Voight,1994)
Semua emulgator bekerja dengan membentuk film ( lapisan) disekeliling butir-butir
tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinnya koalesen dan
terpisahnya cairan dispers sebgai fase terpisah (Anief,1997)
Emulsi adalah sistem heterogen, terdiri dari kurang lebih satu cairan yang tidak
tercampurkan yang terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk tetesan-tetesan di mana
diameternya kira-kira 0,1 mm atau dapat diartikan sebagai dua fase yang terdiri dari satu
cairan yang terdispersi dalam cairan lainnya yang tidak tercampurkan.(Martin,1971)
Emulsi yang digunakan dalam farmasi adalah sediaan yang mengandung 2 cairan
yang tidak bercampur, satu diantaranya terdispersi secara seragam sebagai globul.
(Jenkins,1957)
B.   TIPE EMULSI
Ada dua macam tipe emulsi yang terbentuk yaitu tipe M/A dimana tetes minyak
terdispersi kedalam fase air,dan tipe A/M dimana fase intern adalah air dan fase ekstern
adalah minyak.Fase intern disebut pula fase dispers atau fase kontinu (Anief,1993).
     Emulsi yang memliki fase dalam minyak dan  fase luar air disebut emulsi minyak
dalam air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi “M/A”.Sebaliknya emulsi yang
mempunya fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air dalam minyak dan dikenal
sebaga emulsi “A/M”.Karena fase luar dari suatu emulsi bersifat kontinu,suatu emulsi
minyak dalam air bias diencerkan atau ditambah dengan air atau suatu preparat dalam air
(Ansel,1985).
Emulsi terdiri dari dua fase yang tidak dapat bercampur satu sama lainya,dimana yang
satu menunjukkan karakter hidrofil,yang lain lipofil.Hidrofil (lipofod) umumnya adalah air
atau suatu cairan yang dapat tercampur dengan air.Sedangkan sebagai fase lipofil (hidrofod)
adalah lemak mineral atau minyak tumbuhan atau lemak (minyak lemak,paraffin,lilin,lemak
coklat,malam bulu domba) atau juga bahan pelarut lipofil kloroform,benzene dan sebagainya
(Voight,1994)
Dengan demikian ada dua kemungkinan yang dapat terjadi,apakah fase hidrofil yang
terdispersi kedalam fase hidrofod,ataukah fase hidrofod kedalam fase hidrofil.dengan
demikian dapat dhasilkan dua macam emulsi yang berbeda.Yaitu yang dinyatakan sebagai
emulsi ar dalam minyak ‘’A/M’’ atau emulsi minyak dalam air “M/A’’.(Voight,1994)
Jenis emulsi M/A dan A/M adalah sistem emulsi sederhana.Sistem emulsi ganda akan
diperoleh apabila didalam bola-bola emulsi yang terbentuk terdapat lagi bola-bola dari fase
lainya.Sistem semacam ini dikatakan sebagai emulsi A/M/A atau emulsi M/A/M.Komponen-
komponen yang terdistribusi didalam sebuah emulsi,dikatakan sebagai fase terdispersi atau
fase dalam atau fase terbuka.Komponen-komponen yang mengandung cairan
terdispersi,dinyatakan sebagai bahan pendispersi atau fase luar atau fase tertutup.
(Voight,1994)
Untuk emulsi yang diberika secara oral,tipe emulsi yang diberikan adalah minyak
dalam air memungkinkan pemberian obat yang harus dimakan tersebut mempunyai rasa yag
lebih enak walaupun sebenarnya diberikan minyak yang tidak enak rasanya,dengan
menambahkan pemanis dan pemberi rasa pada pembawa airnya,sehingga mudah dimakan
atau ditelan sampai ke lambung.Ukuran partikel yang diperkecil dari bola-bola minyak dapat
mempertahankan minyak tersebut agar lebih cepat dicerna dn lebih mudah diabsorpsi,atau jka
bukan dimaksudkan untuk itu,tugasnya juga akan lebih efektif,msalnya meningkatkan efikasi
minyak mineral sebagai katartik bila diberikan dalam bentuk emulsi.(Ansel,1985)
Emulsi yang dipakai pada kulit atau sebagai obat luar bias dibuat sebagai emulsi A/M
atau emulsi M/A,tergantung pada berbagai factor seperti sifat zat terapeutik yang akan
dimasukkan ke dalam emulsi,keinginan untuk mendapatkan efek amolien atau pelembut
jaringan dari preparat tersebut,dan keadaan kulit.Zat obat yang mengiritasi kulit umumnya
kurang mengiritasi jika ada dalam fase luar yang mengalami kontak langsung dengan
kulit.Tentu saja dapat bercampurnya dan kelarutan dalam air dan dalam minyak dari zat obat
yang digunakan dalam preparat yang diemulsikan menentukan banyaknya pelarut yang harus
ada sifatnya yang meramalkan fase emulsi yang dihasilkan.Pada kulit yang tidak luka,suatu
emulsi air dalam minyak biasanya dapat digunakan lebih rata karena kulit diselaputi oleh
suatu lapisan tipis dari sabun dan permukaan ini mudah dibasahi oleh minyak dari pada oleh
air.Suatu emulsi air dalam minyak juga lebih lembut ke kulit,karena ia mencegah
mengeringnya kulit dan tidak mudah hilang bila kena air.Sealiknya apabila diinginkan
preparat yang mudah di hilangkan dari kulit dengan air,digunakan suatu emulsi minyak
dalam air(Ansel,1985).
Jika tetesan-tetesan minyak didispersikan dalam fase air, fase kontinu, maka emulsi
disebut minyak dalam air (M/A). Jika minyak merupakan fase kontinu, emulsi merupakan
tipe air dalam minyak (A/M). Telah diamati bahwa emulsi M/A kadang-kadang berubah
menjadi emulsi A/M atau sebaliknya (inversi).Dua tipe emulsi tambahan yang digolongkan
sebagai emulsi ganda, tampaknya diterima oleh para ahli kimia. Secara keseluruhan
memungkinkan untuk membuat emulsi ganda dengan karakteristik minyak dalam air dalam
minyak (M/A/M) atau air dalam minyak dalam air (A/M/A) (Lachman,1994)
Ketika air terdispersikan atau menjadi fase internal (fase dalam) emulsi disebut air
dalam minyak (W/o) emulsi. Dalam minyak ketika medium dispersi atau fase
eksternal.Sistem yang mengandung sedikit dari 25% air umumnya emulsi w/o. kadang-
kadang, lebih kecil dari 10% air akan dipastikan emulsi w/o.Ukuran partikel dari fase dispersi
umumnya 0,05 µ atau lebih kecil.(Martin,1971)
C. KOMPONEN EMULSI
Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu
1.    Komponen Dasar
Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat dalam emulsi. Terdiri atas:
 a. Fase dispers/ fase internal / fase discontinue
Yaitu zat cair yang terbagi-bagi atau butiran kecil kedalam zat cair lain.
b. Fase continue / fase external / fase luar
Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari
emulsi tersebut.
c. Emulgator
Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi
Menurut scovilles halaman 318 emulgator terbagi menjadi:
1.     Emulgator alam
Emulgator dapat dibagi menjadi beberapa kelompok :
a.     Berasal dari tumbuhan
Karbohidrat,Gum dan bahan-bahan mucilago cocok untuk digunakan dalam emulsi
farmasetik. Mereka mempunyai kemampuan mengemulsi banyak substansi secara murni
dan menghasilkan emulsi yang Bisaanya bekerja baik jika dilindungi dari fermentasi
dengan pengawet. Namun demikian, alkali, sodium borat, caitan alkohol dan garam
metalik harus ditambahkan ke dalam gum sangat kationik dan encer, mencegah
pemecahan karbohidrat yang banyak digunakan adalah akasia, tragakan, agar, chondrus,
dextrum, malt ekstrak dan pektin membentuk minyak dalam air
b.      Berasal dari hewan
 Protein
  Gelatin mengemulsi cairan petrolatum dengan lebih mudah dibanding minyak lain
dan membuat suatu sediaan yang sangat putih dan lembut serta rasa yang enak.
Protein juga membentuk emulsi yang jika digunakan dalam konsentrasi
rendah.Kerugian : Emulsi gelatin sulit dijaga dari kerusakan
yang membatasi  nilainya
 Kuning telur Keuntungan  Emulsi yang dibuat dengan kuning telur, stabil dengan
asam dan garam. Jika kuning telur cukup segar, dapat membentuk emulsi yang
creaming yang menunjukkan sedikit kecenderungan untuk memisah.Kerugian Jika
digunakan kuning telur, emulsi dapat membentuk koalesens dan dapat terwarnai lebih
dalam
  Albumin atau putih telur Keuntungan Serbuk putih telur lebih efektif dari pada putih
telur segar karena lebih kental. Kerugian Diendapakan oleh banyak bahan.
  Kasein Protein dan susu telah digunakan sebagai bahan pengemulsi tapi tidak
memiliki keuntungan di bandingkan akasia dan kurang stabil daripada akasia, tidak
digunakan untuk tujuan berarti 
c.    Lain – lain
 Sabun dan Basa Keuntungan Sering digunakan dalam dermatologi untuk penggunaan
luar. Sabun adalah emulgator yang lebih kuat khususnya sabun lembut sebagai  bahan
yang mengurangi tegangan permukaan dari air Kerugian  Menghasilkan sediaan yang
tidak bercampur  dengan asam dengan berbagai tipe.
  Alkohol
1.    Padatan yang terbagi merata, Bagian emulgator ini membentuk lapisan khusus
disekelilin tetesan terdispersi dan menghasilkan emulsi  yang meskipun berbutr  kasar,
mempunyai stabilitas pisik. Hal ini dapat menyebabkan padatan dapat bekerja sebagai
emulgator  dari efek yang ditimbulkan dari pewarna dan serbuk halus
2.    Emulgator sintetik
 Anionik pada sub bagian ini ialah sulfaktan bermuatan (-) Contoh : Na, K  dan
garam-garam ammonium dari asam oleat dan laurat yang larut dalam air dan
baik sebagai bahan pengemulsi tipe o/w. Bahan pengemulsi ini rasanya tidak
menyenangkan dan mengiritasi saluran pencernaan
 Kationik. Aktivitas permukaan pada kelompok ini bermuatan (+).  Komponen
ini bertindak sebagai bakterisid dan juga menghasilkan emulsi antiinfeksi
seperti ini pada lotion kulit dan krem
 Non ionic. Merupakan surfaktan tidak berpisah ditempat tersebar luas
digunakan sebagai bahan pengemulsi ketika kerja keseimbangan molekul antara
hidrofik dan lipofilik.
2.    Komponen Tambahan
Menurut buku scovile’s zat tambahan pada emulsi terdiri dari:
1.      Pengawet,Beberapa pengawet dibutuhkan dalam emulsi yang disimpan untuk mencegah
proses pembusukan protein dan proses fermentasi pada gum dan struktur sekalian agar
efektif, pengawet harus larut dalam fase air emulsi dimana ia dapat menggunakan aksi
perlindungannya alkohol dari konsertrasi 7 sampai 12 persen sering digunakan untuk
tujuan ini. Asam benzoat 0,2%. Kadang-kadang digunakan tapi kurang efektif. Gusein
juga digunakan parahidroksi berzoat dalam konsentasi 0,1 – 0,2 persen telah digunakan
tapi penggunaannya dapat dibahasi oleh karena kekuatannya dalam air besar. komponen
amonium kuarter dari konsentrasi 0,05 – 0,1 persen telah memberikan komponennya
sebagai pengawet untuk buatan gelatin dan sukrosa. Minyak menguap digunakan sebagai
pengaroma yang cenderung bekerja sebagai penjawab. Tidak sedikit emulsi yang khusus
positif untuk berubah atau dijaga untuk beberapa waktu. Akasia mengandung enzim
oksidatif yang cenderung untuk merusak vitamin A dalam emulsi minyak hati ikan.
Namun demikian, enzim dapat siap diinaktifkan dengan pemanasan akasia mucilogo
untuk beberapa menit noda rat 100oc.   
2.  Pengaroma, dibutuhkan untuk membuat emulsi enak dengan pertimbangan dibutuhkan
dalam penggunanya. Formulasion natural, memberikan sejumlah campuran asumotik
yang digunakan dengan efek yang baik. aroma dan rasa tajam tidak menyebar pada
minyak sebab pengaruhnya lebih lembut. Untuk minyak hati ikan, ekstrat kering atau
ekstrak glicynzhea yang diperoleh dari cengkeh atau mint yang mempunyai rasa dan
penyebaran yang paling efektif.  Dalam beberapa fomulasi, kedua fase diaromai,
Bisaanya 0,1 – 0,5 persen minyak menguap cukup untuk mengaroma emulsi.    Semua
pengaroma membutuhkan bahan pertonis untuk membuatnya lebih berasa enak sirup,
gula, sakarin dapat digunakan untuk tujuan ini, dan alirerin juga mempunyai sifat sebagai
pemanis. Namun demikian bahan-bahan harus digunakan dengan pertimbangan agar
sediaan lebih baik dan tidak menutupi rasa dan beberapa komponen lain. kombinasi di
beberapa bahan ini tidak.
3.  pewarna,Sebagian besar emulsi berwarna putih atau kuning dan gelap. Ini dikarenakan
oleh perbedaan refleksi cahaya yang diberikan oleh minyak dan air, juga karena larutan
gelap atau suspensi dari emulagator yang juga berwarna gelap. Jika larutan dari bahan-
bahan jernih dan minyak dan air dapat menerangi pada refleksi yang sama, emulsi dari
minyak hati ikan dengan penambahan gula yang cukup untuk menyebabkan refleksi.
Gliserin memiliki efek yang sama terhadap minyak emulsi yang transparan dimana
pertimbangannya mengandung jumlah minyak
Menurut fornas edisi II zat tambahan pada emulsi terdiri dari:
1.    zat pengawet,dapat digunakan metil paraben,propel paraben,campuran metal paraben dan
propil paraben,asam sorbet,atau zat pengawet lain yang cocok.
2.    zat antioksidan,dapat digunakan butilhidroksanisol,butilhidrositoluen,propel galat,asam
sitrat atau antioksidan lain yang cocok.
BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur,
biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir
kecil dalam cairan yang lain.Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu emulsi vera
(emulsi alam) dan emulsi spuria (emulsi buatan). Emulsi vera dibuat dari biji atau buah,
dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat
seperti putih telur.
Ada dua macam tipe emulsi yang terbentuk yaitu tipe M/A dimana tetes minyak
terdispersi kedalam fase air,dan tipe A/M dimana fase intern adalah air dan fase ekstern
adalah minyak.Fase intern disebut pula fase dispers atau fase kontinu.Komponen emulsi ada
dua yaitu komponen dasar yang terdiri dari fase dispers,fase kotinue,dan emulgator,dan
kompnen tambahan terdiri dari pengawet,pewarna,pengaroma,dan antioksidan.
B.   SARAN
Sebagai mahasiswa farmasi sebaiknya memahami lebih dalam lagi mengenai defenisi
emulsi,tipe-tipe emulsi,serta komponen emulsi agar dapat di aplikasikan pada saat bekerja
baik di rumah sakit,puskesmas maupun di apotek.
DAFTAR PUSTAKA

Anief,Moh.1993.Farmasetika.Universitas Gajah Mada:Yogyakarta


Anief,Moh.1997.Ilmu Meracik Obat.Universitas Gajah Mada:Yogyakarta
Ansel,c howard.1985.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.Universitas Indonesia:Jakarta
Depkes.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.Departemen kesehatan RI:Jakarta
Depkes,1995.Farmakope Indonesia Edisi IV.Departemen Kesehatan Ri:Jakarta
Depkes.1978.Formularium Nasional Edisi II.Departemen Kesehatan RI:Jakarta
Jenkins,Glenn L.1957.Scoville’s the Art of Compounding Nineth edition.The  McGraw-Hill
Book Company : USA
Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi III. Universitas Indonesia:
Jakarta
Martin,W.1971.Dispending of Medication 7th edition.Marck Publishing Company: USA
Voight,R.1994.Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Edisi V.Universitas Gajah
Mada:Yogyakarta