Anda di halaman 1dari 57

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL

MSJH : TJU

PT. TIRTAMAS JAYA UTAMA

KP. KAUM PANDAK DS. KARADENAN

KAB. BOGOR

Tanggal Pengesahan :

Dibuat oleh : Ditinjau Oleh : Disetujui Oleh :

Auditor Halal Internal Koordinator Halal Internal : Direktur Utama :

Atikah Aunillah M, SE Johnny Setiadarma


MANUAL
SISTEM JAMINAN HALAL

DAFTAR ISI

No. Dok. Judul Revisi Tanggal Jumlah


Halaman

Daftar Isi I 29 /06/13 1

Distribusi dari Manual I 29 /06/13 1


Sistem Jaminan Halal

Daftar Revisi Dokumen I 29 /06/13 1

Informasi Dasar Perusahaan I 29 /06/13 2

Kebijakan Halal I 29 /06/13 1

Perencanaan Sitem Jaminan I 29 /06/13 10


Halal

Pelaksanaan Sistem I 29 /06/13 5


Jaminan Halal

Pemantauan dan Evaluasi I 29 /06/13 5


Sistem Jaminan Halal

Tindakan Perbaikan I 29 /06/13 1

Panduan Halal I 29 /06/13 6

SOP Halal I 29 /06/13 5

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


DAFTAR DISTRIBUSI

No.Copy Pihak Penerima Pemegang Tanda Tanggal


Tangan

01 Direktur Utama Direktur Utama

02 Plant Manager Plant Manager

03 Pembelian Manager Accounting


dan Finance

04 Produksi Kabag Produksi

05 Quality Control Kabag QC

06 Gudang/ Kabag Personalia


Personalia

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1


MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


DAFTAR REVISI DOKUMEN

Perubahan Dokumen yang Dokumen hasil Keterangan


direvisi revisi

No. Tanggal Rev Bab Hal Rev Bab Hal

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


INFORMASI DASAR PERUSAHAAN

PT. Tirtamas Jaya Utama berlokasi di Kampung Kaum Pandak desa Karadenan Kab.
Bogor. Dioperasikan mulai tahun 2004 yang bergerak dalam industry Air Minum Dalam
Kemasan atau yang disingkat AMDK, dimana saat ini khusus memproduksi kemasan
Gallon 19 liter.

Produk AMDK PT. Tirtamas Jaya Utama berasal dari air baku sumber yang diolah
dengan menggunakan peralatan produksi antara lain, penyaringan kasar dengan ukuran
10-50 mikron, carbon filter dan ultra filtrasi 0.01 mikron, serta proses desinfeksi
(menghilangkan kuman penyakit atau kuman pathogen) dengan menggunakan ozon
(O3). Proses pengisianya dilakukan dalam ruangan khusus yang dijaga dan dikontrol
kwalitasnya agar tidak mencemari produk.

Produk air minum dalam kemasan AMDK mengacu pada Sistem Manajemen Mutu SNI
01-3553- 2006.

PT. Tirtamas Jaya Utama sebagian besar produksinya bekerjasama dengan beberapa
pemilik merk dagang AMDK antara lain :

1. prim-a

2. Aquina

3. Cirill

4. Mekar

5. Imperial

6. Dll

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

KEBIJAKAN HALAL
PT. TIRTAMAS JAYA UTAMA BERKOMITMEN MEMPRODUKSI AIR MINUM
DALAM KEMASAN YANG HALAL MENURUT SYARIAH ISLAM . KEBIJAKAN
INI SEJALAN DENGAN MOTO PERUSAHAAN YAITU MEMPRODUKSI AIR
MINUM DALAM KEMASAN YANG AMAN, BERKUALITAS DAN DENGAN RASA
SEGAR AIR PEGUNUNGAN.

PIMPINAN DAN SELURUH KARYAWAN PT. TIRTAMAS JAYA UTAMA


SECARA KONSISTEN MENERAPKAN SISTEM JAMINAN HALAL MELALUI
PENGENDALIAN MUTU TERPADU DI SEMUA LINI PERUSAHAAN SESUAI
STANDAR YANG DITETAPKAN.

Bogor , 29 Juni 2013

Dibuat Oleh, Disetujui Oleh,

Aunillah M, SE Johnny Setiadarma

Koordinator KAHI Direktur Utama

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1


MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

PERENCANAAN SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

A.TUJUAN SISTEM JAMINAN HALAL

Tujuan penerapan Sistem Jaminan Halal (SJH) adalah untuk menjamin


kehalalan produk yang dihasilkan secara sinambung dan konsisten sesuai
dengan syariat Islam yang telah ditetapkan berdasarkan fatwa MUI

B. STRUKTUR MANAJEMEN HALAL

Manajemen halal merupakan organisasi internal perusahaan yang mengelola


seluruh fungsi dan aktivitas manajemen dalam menghasilkan produk halal.
Dalam mengelola fungsi dan aktivitas pihak perusahaan dapat melibatkan
seluruh departemen atau bagian yang terkait dengan berproduksi halal, mulai
dari tingkat pengambil kebijakan tertinggi sampai tingkat pelaksana teknis di
lapangan.

Struktur organisasi yang terlibat merupakan perwakilan dari manajemen puncak,


Quality Control, produksi,), purchasing dan pergudangan. Sistem manajemen
halal dipimpin oleh seorang kordinator auditor halal internal yang melakukan
koordinasi dalam menjaga kehalalan produk.

Dalam tata kerjanya auditor halal internal harus berkomunikasi dengan LP POM
MUI sebagai lembaga sertifikasi halal.

Struktur manajemen halal pada prakteknya dilaksanakan oleh auditor halal


internal yang diketuai oleh seorang kordinator halal internal.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

Persyaratan, Tugas dan Tanggung Jawab

1. Persyaratan Auditor Halal Internal

Karyawan tetap perusahaan bersangkutan

a. Koordinator Tim Auditor halal adalah seorang Muslim yang mengerti dan
menjalankan syariat Islam.

b. Berada dalam lingkup Manajemen Halal.

c. Berasal dari bagian yang terlibat dalam proses produksi secara umum
seperti bagian: QA/QC, Purchasing. Produksi dan Pergudangan.

d. Memahami titik kritis keharaman produk, ditinjau dari bahan maupun


proses produksi secara keseluruhan.

e. Diangkat melalui surat keputusan pimpinan perusahaan dan diberi


kewenangan penuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam
melaksanakan SJH termasuk tindakan perbaikan terhadap kesalahan
sampai pada penghentian produksi atau penolakan bahan baku, sesuai
dengan aturan yang ditetapkan LP POM MUI.

2. Tugas Tim Auditor Halal Internal secara umum.

a. Menyusun manual SJH perusahaan

b. Mengkoordinasikan pelaksanaan SJH

c. Membuat laporan pelaksanaan SJH

d. Melakukan komunikasi dengan pihak LPPOM MUI

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

3. Uraian tugas dan wewenang Auditor Halal Internal berdasarkan fungsi setiap
bagian yang terlihat dalam struktur manajemen halal:

a. Manajemen Puncak

1) Merumuskan kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan kehalalan


produk yang dihasilkan.

2) Memberikan dukungan penuh bagi pelaksanaan SJH di perusahaan.

3) Menyediakan fasilitas sarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan


SJH.

4) Memberikan wewenang koordinator auditor halal internal untuk


melakukan tindakan tertentu yang dianggap perlu yang berkaitan
dengan pelaksanaan SJH termasuk tindakan perbaikan terhadap
kesalahan sampai pada penghentian produksi atau penolakan bahan
baku, sesuai dengan aturan yang ditetapkan LPPOM MUI.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

b. Quality Control

1) Menyusun dan melaksanakan prosedur pemantauan dan


pengendalian untuk menjamin konsistensi produksi halal.

2) Melaksanakan pemonitoran sehari-hari terhadap setiap bahan yang


masuk sesuai dengan sertifikat halal, spesifikasi dan produsennya.

3) Melakukan komunikasi dengan auditor halal internal setiap


ditemukannya kejanggalan dan ketidakcocokan bahan dengan
dokumen kehalalan.

c. Purchasing

1) Menyusun sistem pembelian yang dapat menjamin konsistensi bahan


baku sesuai dengan spesifikasi, sertifikat halal dan suppliernya.

2) Melaksanakan pembelian bahan sesuai yang sesuai dengan daftar


bahan yang telah disetujui auditor halal internal dan disahkan oleh
LPPOM MUI.

3) Melakukan komunikasi dengan koordinator halal internal dalam


pembelian bahan baku baru dan atau supplier baru.

d. Produksi

1) Menyusun sistem produksi yang dapat menjamin terhindar dari bahan


haram dan najis.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

2) Melakukan monitoring sistem produksi yang bersih dan bebas dari


bahan haram dan najis.

3) Menjalankan kegiatan produksi sesuai dengan matrik formulasi bahan


yang telah disetujui oleh auditor halal internal dan disahkan oleh
LP.POM MUI.

4) Melakukan komunikasi dengan auditor halal internal dalam hal proses


produksi halal.

e. Pergudangan

1) Menyusun sistem administrasi pergudangan yang dapat menjamin


kemurnian produk dan bahan yang disimpan serta menghindari
terjadinya kontaminasi dari segala sesuatu yang haram dan najis.

2) Melaksanakan penyimpanan produk dan bahan yang sesuai dengan


daftar dan produk yang telah disetujui oleh auditor halal internal dan
disahkan oleh LP POM MUI.

3) Melakukan komunikasi dengan auditor halal internal dalam sistem


keluar masuknya bahan dari dan kedalam gudang.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1


MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAA SISTEM JAMINAN HALAL

DIREKTUR UTAMA
Jhonny Setiadarma

LP POM MUI
Koordinator Auditor Halal Internal
Aunillah Muhammad

Auditor Halal Internal


Atikah

QC Produksi Gudang Bahan Baku


Purchasing

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

C. PANDUAN HALAL DALAM SISTEM JAMINAN HALAL PERUSAHAAN

Panduan halal adalah pedoman perusahaan dalam melaksanakan kegiatan untuk menjamin
produksi halal. Panduan halal yang disusun perusahaan mencakup:

1. Pengertian halal dan haram (lampiran 1)

2. Dasar Alqur’an / Hadist dan fatwa MUI (lampiran 1)

3. Pedoman halal-haram bahan yang digunakan dan proses produksi yang dijalankan
(lampiran 2)

D. STANDARD OPERATING PROCEDURE

Standard Operating Procedure (SOP) adalah suatu perangkat produksi yang dilakukan untuk
menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu. SOP dibuat agar perusahaan mempunyai
prosedur baku untuk mencapai tujuan penerapan SJH yang mengacu pada kebijakan halal
perusahaan. SOP dibuat untuk seluruh kegiatan kunci pada proses produksi halal. Adanya
perbedaan teknologi proses maupun tingkat kompleksitas di tiap perusahaan maka SOP di setiap
perusahaan bersifat unik.

E. ACUAN TEKNIS PELAKSANAAN SJH

Pelaksanaan SJH dilakukan oleh bidang-bidang yang terkait dalam struktur manajemen halal.
Dalam pelaksanaanya perlu dibuat acuan teknis yang berfungsi sebagai dokumen untuk
membantu pekerjaan bidang-bidang terkait dalam melaksanakan fungsi kerjanya.

1. Acuan Teknis untuk Bagian Pembelian

a. Daftar bahan meliputi nama bahan, dan produsen yang telah disetujui auditor halal
internal dan diketahui oleh LP POM MUI.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

PERENCANAAN SISTEM JAMINAN HALAL


b. Daftar lembaga sertifikasi halal yang telah diakui LP POM MUI.

c. Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan produk (sertifikasi
per pengiriman, wilayah berlakunya sertifikat halal, masa berlaku sertifikat halal, logo halal
pada kemasan dan lainya).

d. SOP penambahan pemasok baru (lampiran 3)

2. Acuan Teknis untuk Bagian Produksi

a. Daftar bahan meliputi nama bahan, dan produsen yang telah disetujui auditor halal
internal dan diketahui oleh LP POM MUI.

b. Formula produk sesuai dengan matrik bahan.

c. SOP produksi halal (lampiran 3)

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAA SISTEM JAMINAN HALAL

3. Acuan Teknis untuk Bagian QC/QA

a. Daftar bahan meliputi nama bahan, dan produsen yang telah disetujui auditor halal
internal dan diketahui oleh LP POM MUI.

b. Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan produk (sertifikasi
per pengiriman, wilayah berlakunya sertifikat halal, masa berlaku sertifikat halal, logo halal
pada kemasan dan lainya).

c. SOP pemeriksaan bahan (lampiran 3)

4. Acuan Teknis untuk Bagian Pergudangan

a. Daftar bahan meliputi nama bahan, dan produsen yang telah disetujui auditor halal
internal dan diketahui oleh LP POM MUI.

b. Tanda pada kemasan(logo, lot number, nama dan alamat/lokasi produksi) yang harus
disesuaikan dengan dokumen kehalalan.

c. Prosedur penyimpanan bahan / produk yang menjamin terhindarnya bahan / produk dari
kontaminasi oleh barang haram dan najis.

F. Sistem Administrasi

Perusahaan harus membuat sistem administrasi yang dapat ditelusur serta accountable. Sistem
administrasi yang disusun harus dapat menelusuri penggunaan bahan untuk setiap jenis produk
(per jenis, per pemasok).

G. Sistem Dokumentasi

Pelaksanaan SJH di perusahaan harus didukung dokumen yang bersifat informatif dan mudah
diakses oleh semua pihak yang terlibat dalam produksi halal termasuk LP POM MUI sebagai
lembaga sertifikasi halal.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PERENCANAA SISTEM JAMINAN HALAL

Sistem dokumentasi yang harus dimiliki perusahaan mencakup:

1. Sub-Sistem Dokumentasi Pembelian

2. Sub-Sistem Dokumentasi Penggunaan bahan

3. Sub-Sistem Dokumentasi Produksi

4. Sub-Sistem Dokumentasi Pergudangan

5. Sub-Sistem Dokumentasi Evaluasi dan Monitoring (laporan berkala)

6. Sub-Sistem Dokumentasi Tindakan Perbaikan (jika ada)

DOKUMENTASI

Dokumen yang diperlukan dalam perencanaan SJH adalah:

1. Panduan halal yang dikeluarkan oleh LP POM MUI

2. Pedoman penetapan titik kritis.

3. SOP Pembelian bahan

4. SOP pemeriksaan dan penerimaan bahan.

5. SOP penggantian dan penambahan pemasok baru.

6. SOP Produksi

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

PELAKSANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

Tahapan teknis dalam pelaksanaan Sistem Jaminan Halal adalah sebagai berikut:
A. Fungsionalisasi Struktur Organisasi Manajemen Halal

Setiap bagian dalam struktur organisasi manajemen halal harus berfungsi sesuai dengan tugas dan
wewenangnya (seperti yang disebut rincian dalam MSJH/02/SS KPB AMDK: (Perencanaan Sistem
Jaminan Halal). Pemantauan fungsi organisasi manajemen halal dilakukan dalam bentuk audit internal.
Hasil audit halal internal harus dipantau dan ditindaklanjuti oleh pihak manajemen perusahaan apabila
ternyata terdapat bagian yang tidak berfungsi sesuai dengan tugas dan wewenangnya.

B. Penetapan dan Pelaksanaan Standard Operating Procedure (SOP)

Standard Operating Procedure (SOP) yang ada dalam setiap bagian ditetapkan sebagai panduan
pelaksanaan halal. Pemantauan SOP dilakukan melalui audit halal internal.

C. Sosialisasi Sistem Jaminan Halal (SJH)

SJH yang telah dibuat dan diimplementasikan oleh perusahaan harus disosialisasikan ke seluruh
pemangku kepentingan (Stakeholder) perusahaan termasuk kepada pihak ketiga (pemasok, makloon).
Tujuan kegiatan ini adalah agar seluruh pemangku kepentingan memiliki kepedulian (awareness)
terhadap kebijakan halal, sehingga timbul kesadaran menerapkanya di tingkat operasional. Metode
sosialisasi yang dilakukan dapat berbentuk poster, leaflet, ceramah umum, bulletin internal, audit
supplier atau memo internal perusahaan.

D. Pelaksanaan Pelatihan Sistem Jaminan Halal

Perusahaan perlu melakukan pelatihan bagi seluruh jajaran pelaksana SJH. Untuk itu perusahaan
harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dalam periode waktu tertentu.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

PELAKSANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

Pelatihan harus melibatkan semua personel yang pekerjaanya mempengaruhi status kehalalan produk.

Pekerjaan yang mempengaruhi kehalalan produk harus diserahkan kepada personel yang kompeten
sesuai dengan pendidikan, pelatihan dan pengalaman.

Tujuan dari pelatihan adalah:

1. Meningkatkan pemahaman karyawan tentang pengertian halal haram, pentingnya kehalalan suatu
produk, titik kritis bahan dan proses produksi.

2. Memahami SJH

E. Komunikasi Internal dan Eksternal

Perusahaan dalam melaksanakan SJH perlu melakukan komunikasi dengan berbagai pihak yang
terkait baik secara internal maupun eksternal. Untuk itu perusahaan harus membuat dan melaksanakan
prosedur untuk :

1. Melakukan komunikasi internal antara berbagai tingkatan dan fungsi organisasi.

2. Menerima, mengdokumentasi, dan menaggapi komunikasi dari pihak luar termasuk dengan LPOM
MUI.

F. Audit Internal

Pemantauan dan evaluasi SJH pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk audit internal.

A, Tujuan Audit Internal

1. Menentukan kesesuaian SJH perusahaan dengan standar yang telah ditetapkan oleh LP POM
MUI.

2. Menentukan kesesuaian pelaksanaan SJH perusahaan dengan perencanaannya.

3. Mendeteksi penyimpangan yang terjadi serta menentukan tidakan perbaikan dan pencegahan.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

PELAKSANAAN SISTEM JAMINAN HALAL


1. Memastikan bahwa permasalahan yang ditemukan pada audit sebelumnya telah diperbaiki sesuai
dengan kerangka waktu yang telah ditetapkan.

2. Menyediakan informasi tentang pelaksanaan SJH kepada manajeman dan LP POM MUI.

B. Ruang Lingkup Audit Internal

1. Dokumentasi SJH

Pemeriksaan kelengkapan dan kesesuaian dokumen-dokumen pendukung kehalalan produk yang


menyangkut bahan, proses maupun produksi di setiap bagian yang terkait, seperti: daftar bahan,
spesifikasi, sertifikat halal, dokumen pembelian bahan, dokumen penggudangan bahan dsb. Hal-hal
yang harus diperhatikan adalah:

 Kelengkapan dokumen Sistem Jaminan Halal.

 Kelengkapan spesefikasi bahan.

 Kelengkapan, keabsahan dan masa berlaku sertifikat halal bahan.

 Kecocokan dokumen pembelian bahan dengan daftar bahan halal.

 Kelengkapan dan kecocokan dokumen produksi dengan daftar bahan dan formula halal.

 Kelengkapan dan kecocokan dokumen penggudangan dengan daftar bahan dan daftar produk
halal.

 Uji mampu telusur (traceability) setiap bahan.

2. Pelaksanaan Sistem Jaminan Halal

Audit pelaksanaan Sistem Jaminan Halal dilakukan pada setiap bagian yang terkait mulai dari
pembelian bahan, penyimpanan bahan, proses produksi, penyimpanan produk jadi, transportasi dan
pengembangan produk baru.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

PELAKSANAAN SISTEM JAMINAN HALAL


C. Pelaksanaan Audit Internal

1. Waktu Pelaksanaan

Audit Halal Internal dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali setiap enam bulan atau pada saat
terjadi perubahan-perubahan yang mungkin mempengaruhi status kehalalan produk seperti :
perubahan manajemen, kebijakan, formulasi, bahan, proses maupun keluhan dari konsumen.

2. Metode Pelaksanaan

Audit Halal Internal dilaksanakan secara bersamaan dengan audit sistem yang lain, akan tetapi
borang audit halal internal ( lampiran 4 ) dan pelaporanya harus dibuat terpisah dari audit sistem
yang lain. Audit dapat dilakukan dengan metode:

 Wawancara

 Pengujian Dokumen

 Observasi lapang dan fisik.

3. Pelaksana ( Auditor)

Audit Halal internal dilakukan oleh Tim Auditor Internal yang telah diterapkan secara resmi oleh
pihak manajemen perusahaan.

4. Pihak yang di Audit (Auditee)

Pihak Auditee adalah seluruh bagian yang terkait dalam proses produksi halal seperti:

 Bagian Pembelian (purchasing)

 Bagian pengawasan mutu

 Bagian penggudangan

 Bagian transportasi

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL


PELAKSANAAN SISTEM JAMINAN HALAL

D. Pelaporan

Hasil audit dituangkan dalam bentuk laporan yang disampaikan kepada pihak manajemen perusahaan.
Hasil temuan audit ditindaklanjuti dalam kerangka waktu tertentu terganatung bobot permasalahan.
Resume hasil audit dilaporkan kepada LP POM MUI setiap enam bulan sekali terhitung dari tanggal
terbitnya sertifikat.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

TINDAKAN PERBAIKAN
A. Tindakan Perbaikan atas Pelaksanaan Sistem Jaminan Halal
Tindakan perbaikan atas pelaksanaan Sistem Jaminan Halal dilakukan pada saat audit halal
internal ditemukan ketidaksesuaian pelaksanaanya. Tindakan perbaikan harus dilakukan
sesegera mungkin, jika temuan yang didapatkan berdampak langsung terhadap status
kehalalan. Semua bentuk tindakan perbaikan dilkakuan oleh perusahaan dengan dibuatkan
berita acara serta laporanya (lampiran 6) dan didokumentasikan secara baik.

B. Kaji Ulang Manajemen atas Sistem Jaminan Halal

Kaji ulang secara menyeluruh harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Kaji ulang
dilakukan karena antara lain:

1. Perubahan sistem manajemen perusahaan yang mempengaruhi peran sistem jaminan


halal secara menyeluruh atau sebagian.

2. Ketidaksesuaian yang sering ditemukan selama pelaksanaannya.

Kaji ulang manajemen dapat dilakukan dengan melibatkan seluruh bagian yang terlibat dalam
sistem jaminan halal termasuk manajemen puncak. Pertemuan kaji ulang dilaporkan dan
dibuatkan rekamanya.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 1

PANDUAN HALAL
A. Pengantar
Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi pangan, status bahan baku yang dulu di
fatwakan halal, setelah ditemukan hal-hal meragukan maka bisa menjdi berubah fatwanya.
Oleh karena itu dalam bab ini disampaikan kedudukan ketetapan hukum dalam Islam agar
dapat diterima mengapa hal tersebut dapat terjadi. untuk memberikan pemahaman tentang
pengertian halal haram, dalam bab ini disampaikan pula dasar hokum dari Alqur’an serta fatwa
MUI terbaru tentang status bahan.

Kedudukan ketetapan hukum dalam Islam:

1. Alqur’an : hukumnya bersifat tetap, dan sebagianya masih bersifat umum,


sehingga memerlukan penjelasan lebih lanjut.

2. Al-Hadist : merupakan penjabaran aplikatif dari kaidah-kaidah Qur’aniyyah yang


bersifat tetap, sekaligus penjelasan lebih lanjut terhadap kaidah-kaidah yang bersifat
umum.

3. Ijma Shahabat : merupakan kesepakatan para shahabat nabi SAW dan ulama
atas permasalahan yang terjadi, karena meluasnya wilayah da’wah serta
perkembangan kehidupan social, dan tidak ada ketentuanya secara khusus didalam
Alqur’an maupun Al-Hadist. namun keputusan Ijma itu tentu didasarkan pada
pemahaman mereka atas Alqur’an maupun Al-Hadist.

4. Qiyas : merupakan metode penentuan hukum secara analogi, yang diambil


berdasarkan pada kaidah-kaidah pengambilan dan penentuan hokum, seperti dengan
metode qiyas atau ijma’.

5. Fatwa : adalah keputusan hukum agama yang dibuat dengan ijtihad (ulama),
atas hal-hal yang tidak terdapat di dalam Al’quran

maupun Al Hadist, berdasarkan pada kaidah-kaidah pengambilan dan penentuan hukum,


seperti dengan metode qiyas atau ijma’

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 1

PANDUAN HALAL
B. Pengertian Halal dan Haram

1. Halal adalah boleh. Pada kasus makanan, kebanyakan makanan termasuk halal kecuali
secara khusus disebutkan dalam Alqur’an atau Al-Hadist.

2. Haram adalah sesuatu yang Allah SWT larang untuk dilakukan dengan larangan yang
tegas. Setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan Allah di
akhirat. Bahkan terkadang juga terancam sanksi syariah di dunia ini.

C. Prinsip- Prinsip Tentang Hukum Halal dan Haram

1. Pada dasarnya segala sesuatu halal hukumnya.

2. Penghalalan dan pengharaman hanyalah wewenang Allah SWT semata.

3. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram termasuk perilaku syirik
terhadap Allah SWT.

4. Sesuatu yang diharamkan karena ia buruk dan berbahaya.


5. Pada sesuatu yang halal sudah terdapat sesuatu yang denganya tidak lagi membutuhkan
yang haram.
6. Sesuatu yang mengantarkan kepada yang haram maka haram pula hukumnya.
7. Menyiasati yang haram, haram hukumnya.
8. Niat baik tidak menghapuskan hukum haram.
9. Hati-hati terhadap yang syubhat agar tidak jatuh kedalam yang haram.
10. Sesuatu yang haram adalah haram untuk semua.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 1

PANDUAN HALAL
D. Halal dan haram berdasarkan Alqur’an

1. Al-Baqarah 168: ‘Hai sekalian umat manusia makanlah apa yang ada dibumi ini secara
halal dan baik. Dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syetan. Sesunggunya ia adalah
musuh yang nyata bagian kalian.

2. Al-Baqarah 172-173: ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-
baik yang kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah pada Allah, jika benar-benar
kepadan-Nya kalian menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian
bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang
siapa dalam keadaan terpaksa, sedangkan dia tidak berkehendak dan tidak melampui
batas, maka tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Pengasih.

3. Al-Anam 145: “Katakanlah, saya tidak mendapat pada apa yang diwahyukan kepadaku
sesuatu yang diharamkan bagi yang memakannya, kecuali bangkai, darah yang tercurah,
daging babi karena ia kotor atau binatang yang disembelih dengan atas nama selain Allah.
Barang siapa dalam keadaan terpaksa sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak
melampui batas, maka tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi
Maha Pengasih.

4. Al-Maidah 3: Diharamkan bagi kalian, darah, daging babi, hewan yang disembelih
selain atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan
yang diterkam binatang buas kecuali yang kalian sempat menyembelihnya. Dan
diharamkan pula bagi kalian binatang yang disembelih disisi berhala.”

5. Al-Maidah 90-91:”Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum khamar,


berjudi, berkorban untuk berhala mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan syetan.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 1

PANDUAN HALAL
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.
Sesungguhnya syetan itu hendak menimbulkan permusuhan dan perbencian diantara
kalian lantaran meminum khamar dan menghalangi kalian lantaran meminum khamar dan
berjudi dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka apakah kalian
berhenti dari pekerjaan itu”.

6. Al-Maidah 96: “Dihalalkan kalian binatang buruan laut dan makananya.”

7. Al-Araf 157 : “Dia menghalalkan kepada mereka segala yang baik dan
mengaharamkan kepada mereka segala yang kotor.

E. Fatwa MUI untuk bahan dan proses produksi.

1. Khamr

a. Segala sesuatu yang memabukkan dikategorikan sebagai Khamr.

b. Minuman yang mengandung minimal 1 % ethanol, dikategorikan sebagai Khamr.

c. Minuman yang dikategorikan khamr adalah najis.

d. Minuman yang diproduksi dari proses fermentasi yang mengandung kurang dari 1 %
ethanol, tidk dikategorikan khamr tapi haram untuk dikonsumsi.

2. Ethanol

a. Ethanol yang diproduksi dari industry bukan khamr hukumnya tidak najis atau suci.

b. Penggunaan ethanol yang merupakan senyawa murni yang bukan berasal dari
industry khamr untuk proses produksi pangan hukumnya:

1) Mubah: apabila dalam hasil produk akhirnya tidak terdeteksi.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 1

PANDUAN HALAL
2) Haram: Apabila dalam hasil produk akhirnya masih terdeteksi.
3) Penggunaan ethanol yang merupakan senyawa murni yang berasal dari industri khamr
untuk proses produksi industry hukumnya haram.

3. Hasil sampling industri Khamr

a. Fusel oil yang berasal dari hasil sampling industry khamr adalah haram dan najis.

b. Fusel oil yang bukan dari khamr adalah halal dan suci.

c. Komponen yang dipisahkan secara fisik dari fusel oil yang berasal dari khamr
hukumnya haram.

d. Komponen yang dipisahkan secara fisik dari fusel oil yang berasal dari khamr dan
direaksikan secara kimiawi sehingga berubah menjadi senyawa baru hukumnya halal
dan suci.

e. Cuka yang berasal dari khamr baik terjadi dengan sendirinya maupun melalui
rekayasa, hukumnya halal dan suci.

f. Ragi yang dipisahkan dari proses pembuatan khamr setelah dicuci sehingga hilang
rasa, baud an warna khamr-nya hukumnya halal dan suci.

4. Flavor yang menyerupai produk haram.

Flavor yang menggunakan nama dan mempunyai profil sensori produk haram contohnya
flavor rum, flavor babi dan lain-lain tidak bisa disertifikasi halal serta tidak boleh
dikonsumsi walaupun ingredient yang digunakan adalah halal.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 1

PANDUAN HALAL
5. Produk Mikrobial

a. Mikroba yang tumbuh dan berasal dari media pertumbuhan yang suci dan halal adalah
halal, dan mikroba yang tumbuh dan berasal dari media pertumbuhan yang najis dan
haram adalah haram.

b. Produk microbial yang langsung dikonsumsi yang menggunakan bahan-bahan yang


haram dan najis dalam media pertumbuhanya, baik pada sekala penyegaran, skala
pilot plant, dan tahap produksi, hukumnya haram.

c. Produk microbial yang digunakan untuk membantu proses produksi produk lain yang
langsung dikonsumsi dan menggunakan bahan-bahan haram dan najis dalam media
pertumbuhannya, hukumnya haram.

d. Produk konsumsi yang menggunakan produk microbial harus ditelusuri kehalalannya


sampai pada tahap proses penyegaran mikroba.

6. Penggunaan Alat Bersama

a. Alat bekas dipakai babi/anjing harus dicuci dengan cara disertu (dicuci dengan air 7 X
yang salah satunya dengan tanah/debu atau penggantinya yang memiliki daya
pembersih yang sama).

b. Suatu peralatan tidak boleh digunakan bergantian antara produk babi dan non babi
meskipun sudah melalui proses pencuncian.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 2

PENETEPAN TITIK KRITIS

A. Identifikasi Titik Kritis Bahan


1. Identifikasi Titik Kritis Bahan Hewani

Bahan Hewani

Susu, Telur,Ikan Daging dan hasil samping (Lemak,


Tulang,Kulit dll)

Ada Pengolahan Apakah daging dan hasil samping


berasal dari hewan halal?

Ya Bahan Tidak Ya
Tambahan
Apakah hewan disembeli
TK Non sesuai dengan syariat Islam
TK dan memiliki SH MUI

Tidak Ya

Tidak boleh digunakan TK

Ya tidak

Catatan TK Non TK

TK : Titik Kritis

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 2

PENETEPAN TITIK KRITIS

B. Identifikasi Titik Kritis Produk Mikrobial


2. Identifikasi Titik Kritis Bahan

Produk
Mikrobiological

TK

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 2

PENETEPAN TITIK KRITIS

C. Identifikasi Titik Kritis Bahan


3. Identifikasi Titik Kritis Bahan Lain-Lain

Bahan Lain-lain

Bahan Sintetik Campuran


Tambang

TK
Non TK

Organik Non
Organik

TK Apakah Mengandung
Bahan Penolong

Tidak Ya

Non TK TK

Catatan

TK : Titik Kritis Non TK : Tidak Kritis

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 2

PENETEPAN TITIK KRITIS

D. Identifikasi Titik Kritis Bahan


4. Identifikasi Titik Kritis Penyimpanan dan Lini Produksi
Apakah semua Produk disertifikasi Halal

Ya Tidak

Apakah ada peluang terkontaminasi Apakah produk sejenis non sertifikasi


bahan haram / najis menggunakan merk yang sama

Ya Tidak Ya Tidak

TK1 Non TK Tidak dapat Apkah Bahan untuk produk non


disertifikasi sertifikas mengandung babi atau
hasil sampingnya

Tidak Ya

Apakah ada pemisahan produk Tidak dapat


sertifikasi dengan non sertifikasi disertifikasi

Tidak Ya

apakah prosedur sanitasi dapat menghilangkan


Non TK lemak, bau,warna & rasa

Tidak Ya

Apakah ada peluang bahan-


Tidak dapat terkonntaminasi bahan najis
disertifikasi

Ya Tidak

TK 2 Non TK

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1


MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 2

PENETEPAN TITIK KRITIS


Catatan:

1. LP POM MUI merekomendasikan agar perusahaan yang mengajukan sertifikat halal


mensertifikat produknya pada semua pabrik dan lini produksi yang dimilikinya.

2. Perusahaan harus menjaga agar produk yang disertifikasi tidak tercemar dengan barang
haram dan najis.

3. Jika perusahaan hanya mensertifikasi sebagian produknya, maka produk yang tidak
disertifikasi tidak boleh menggunakan merk yang sama dengan produk yang disertifikasi, tidak
mengandung babi atau bahan turunan dari babi.

4. Lini produksi tempat penyimpanan bahan atau produk yang disertifikasi dan tidak disertifikasi
harus terpisah secara nyata.

5. TK 1 adalah kontaminasi dari lingkungan (hewan piaraan, burung, cicak dan lain-lain) dan
karyawan (catering, makanan, minuman)

6. Untuk TK 1 perlu dilakukan pencegahan dengan cara:

a) Penutupan tempat-tempat terbuka yang memungkinkan terjadinya kontaminasi.

b) Karyawan dilarang untuk membawa makanan dan minuman ke ruang produksi.

7. TK 2 adalah kontaminasi silang dari bahan-bahan yang tidak disertifikasi (bahan-bahan haram
atau najis selain babi)

8. Untuk TK 2 perlu dillakukan pencegahan melalui pemisahan secara fisik dan administrasi
antara bahan untuk produk yang disertifikasi halal dan yang tidak.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 2

PENETEPAN TITIK KRITIS

E. Identifikasi Titik Kritis Distribusi


Apakah semua produk yang didistribusikan bersertifikat Halal?
Tidak Ya

Apakah alat Non TK


distribusi berbeda

Ya Tidak

Apakah produk non sertifikasi halal mengandung


babi dan hasil sampingnya

Ya Tidak

Tidak Disertifikasi Ada Kemasan

Ya tidak

Apakah kemasan dapat TK 1


mencegah kontaminasi
silang

Ya Tidak

Non TK TK2
Ya

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 2

PENETEPAN TITIK KRITIS


F. Identifikasi Titik Kritis Pemajangan (Display)
Apakah semua produk yang dipajang bersertifikat Halal?

Ya Tidak

Non TK Apakah pemajangan terpisah


secara nyata

Ya Tidak

Apakah produk non sertifikasi halal mengandung


babi

Ya Tidak

TK 1 Ada Kemasan

Ya tidak

Non TK 2
TK

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 2

PENETEPAN TITIK KRITIS


PROSEDUR PENETAPAN STATUS BAHAN
Apakah bahan merupakan produk import

Ya Tidak

Apakah memiliki SH MUI atau


lembaga luar negeri yang di Non TK
akui MUI
Tidak Ya
Tidak Ya

Apakah ada kemungkinan mengandung bahan yang


diragukan

Tidak Ya Sertifikat halal

Kajian LP POM MUI Tidak Halal

Bermasalah Tidak Bermasalah

Bahan tidak dapat


digunakan Bahan dapat digunakan

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 3

SOP PEMBELIAN BAHAN

PT. Tirtamas jaya Utmama hanya membeli produk bahan penunjang seperti bahan kimia ,
carbon active dan bahan pencuci gallon.

1) Bahan kemasan yaitu gallon, tutup gallon , seal dan tissue dibeli oleh pemaklon.

2) Bahan yang dibeli harus mengacu pada daftar bahan yang telah diketahui oleh LP POM
MUI.

3) Pembelian harus dapat menjamin bahwa bahan yang akan dibeli sesuai dengan data yang
tertera pada sertifikat halal atau dokumen halal (nama dan kode bahan, nama
perusahaan, nama dan lokasi pabrik).

4) Dokumen pembelian harus terdokumentasi dengan baik dan lengkap.

1) SOP Pemeriksaan dan Penerimaan Bahan

1) Nama bahan, kode bahan, produsen, nama dan lokasi pabrik diperiksa kesesuaianya
dengan daftar bahan yang telah diketahui oleh LP POM MUI.

2) Bila sertifikat menghendaki logo khusus, logo tersebut harus dipastikan ada pada
kemasan bahan.

3) Untuk bahan yang sertifikat halalnya diterbitkan per pengapalan, perlu dipastikan bahwa
lot number, kuantitas, tanggal produksi dan tanggal kadaluwarsa sesuai dengan yang
tercantum pada dokumen halal.

4) Bahan yang telah diperiksa dan sesuai dengan kriteria maka diberi halal pass.

5) Bahan yang disimpan di gudang adalah bahan yang sesuai dengan daftar bahan yang
telah diketahui oleh LP POM MUI. Apabila ada bahan di luar daftar tersebut maka
penempatanya harus dipisah dan dipastikan tidak terjadi kontaminasi silang.

6) Bahan yang disimpan di gudang harus terbebas dari najis dan bahan haram.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 3

SOP PEMBELIAN BAHAN

7) Setiap mutasi (pemasukan dan pengeluaran) bahan dari gudang harus dicatat serta
dilengakpi dengan karto stok, nota permintaan barang dan bukti penerimaan barang.
2) SOP Penggantian dan Penambahan Pemasok Baru.

1) Jika bahan termasuk kategori kritis, maka diperiksa apakah pemasok baru telah memiliki
sertifikat halal dari MUI atau dari lembaga yang diakui oleh LPPOM MUI.

2) Bila pemasok tidak memiliki sertifikat halal maka disarankan untuk mencari pemasok lain
yang telah memiliki sertifikat halal dari MUI atau dari lembaga yang telah diketahui oleh
LPPOM MUI.

3) Bila tidak ditemukan alternatif pemasok baru yang telah memiliki sertifikat halal maka perlu
dilakukan pemeriksaan spesifikasi teknis yang menjelaskan asal usul bahan dan diagram
alir proses pembuatan bahan tersebut serta dikonsultasikan kepada LPPOM MUI melalui
internal auditor.

4) Harus ada jaminan bahwa bahan yang akan dibeli sesuai dengan data yang tertera pada
sertifikat halal atau dokumen halal ( nama dan kode bahan, nama perusahaan, nama dan
lokasi pabrik)

5) Pemasok diperiksa apakah merupakan produsen langsung atau penyalur. Bila pemasok
adalah penyalur, maka harus dibuat perjanjian tertulis dengan pihak pemasok yang
menyatakan bahwa pemasok hanya memasok bahan dari produsen yang tertera pada
dokumen halal.

6) Rencana penggunaan penggantian pemasok dilaporkan kepada LPPOM MUI melalui


internal auditor.

7) Bahan dari pemasok baru dapat digunakan setelah mendapat persetujuan oleh LP POM
MUI.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 3

SOP PEMBELIAN BAHAN

8) Data pemasok yang aktif yang aktif maupun tidak harus didokumentasikan dengan baik.
3) SOP Penggunaan Bahan Baru

1) Bahanbaru diperiksa apakah bahan termasuk kategori kritis dan telah memiliki sertifikat
halal dari MUI atau dari lembaga yang diketahui oleh LP POM MUI.

2) Bila bahan tidak memiliki sertifikat halal, disarankan untuk mencari bahan alternatif yang
sama atau sejenis yang telah memiliki sertifikat halal dari MUI atau dari lembaga yang
telah diketahui oleh LPPOM MUI.

3) Bila bahan alternative yang sama tidak didapatkan, maka perlu pemeriksaan spesifikasi
teknis yang menjelaskan asal usul bahan dan diagram alir proses pembuatan bahan
tersebut serrta dikonsultasikan kepada LP POM MUI melalui internal auditor.

4) Rencana penggunaan bahan baru dilaporkan kepada LP POM MUI melalui internal
auditor.

5) Bahan baru dapat digunakan setelah mendapat persetujuan oleh LP POM MUI.

4) SOP Produksi Halal

1) Pembuatan kertas kerja produksi (work sheet) harus mengacu pada formula dan matrik
bahan yang telah diketahui oleh LP POM MUI.

2) Bahan yang dapat digunakan dalam produksi halal hanya yang terdapat dalam daftar
bahan yang telah diketahui oleh LP POM MUI, dan telah mendapatkan halal pass.

3) Bahan dipastikan terbebas dari kontaminasi najis dan bahan yang haram.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 3

SOP PEMBELIAN BAHAN

4) Lini produksi dipastikan hanya digunakan untuk bahan yang halal.


5) Apabila lini produksi juga digunakan untuk bahan yang belum disertifikasi halal, maka
prosedur pembersihan dipastikan dapat menghilangkan / menghindari produk dari
kontaminasi silang.
6) Bila ada produk yang tidak disertifikasi mengandung turunan babi, alat dan lini produksi
dipastikan benar-benar terpisah.
7) Harus dipastikan bahwa di area produksi tidak boleh ada bahan-bahan / barang-barang
yang tidak digunakan untuk produksi.
8) Catatan produksi didokumentasikan dengan baik dan lengkap.
5) SOP Pengendalian Produk yang tidak sesuai
Prosedur ini ditetapkan untuk mengendalikan atau mencegah produk yang tidak
sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan,agar produk yang tidak sesuai
dipakai dengan tidak sengaja dengan melakukan identifikasi dokumentasi, evaluasi,
pemisahan, dan pemberitahuan kepada bagian yang terkait.

Produk yang tidak sesuai persyaratan halal dipisahkan , diberi identitas dan segera
dimusnahkan

6) SOP Penyimpanan Produk dan Kemasan Halal

1) Kepala Bagian Produksi & Kepala Bagian QC bertanggung jawab untuk mengidentifikasi
bahan baku/penolong yang diterima, produk selama proses dan produk jadi.

2) Kabag Pembelian bertanggung jawab untuk mengidentifikasi bahan penolong yang telah
diterima dari pelanggan dan untuk digunakan dalam produksi.

3) Kabag. Gudang bertanggung jawab penyimpanan bahan baku dan produk dari bahan
yang tidak halal dan najis.

6) SOP Transportasi Produk

1) Transporter PT. Tirtamas Jaya Utama wajib memenuhi persyaratan sebagai transporter AMDK
hala yaitu :

 Truck tidak diperkenankan mengangkut barang yang tidak halal


 Truck harus selalu dijaga dari cemaran najis

2) Transporter wajib membuat surat pernyataan bahwa tidak akan dipakai untuk membawa
barang lain yang tidak halal dan najis.
Memamastikan agar truck selalu bersih dari najis.

6) SOP Perubahan Formula dan Pengembangan Produk Baru


1) Prinsip perubahan formula pengembangan produk baru adalah mengutamakan pada
daftar bahan yang telah diketahui LP POM MUI.
2) Perubahan formula yang telah menghasilkan produk baru harus diajukan dalam proses
sertifikasi halal baru.
3) Perubahan formula yang tidak menghaasilkan produk baru tetapi menggunakan bahan
baru (reformulasi komposisi) tidak perlu dilaporkan kepada LP POM MUI.
4) Perubahan formula yang tidak menghasilkan produk baru tetapi menggunakan bahan baru
(penggunaan bahan alternatif) harus mengacu kepada SOP penggunaan bahan baru.
5) Rencana pembuatan formula baru yang tidak menghasilkan produk baru dilaporkan
kepada LP POM MUI melalui internal auditor.
6) Formula baru dapat digunakan setelah selesai mendapat persetujuan dari LP POM MUI.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL Lampiran 3

SOP PEMBELIAN BAHAN

7) Apabila formula baru tidak mendapatkan persetujuan maka formula baru tidak dapat
digunakan.
29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

BORANG AUDIT HALAL INTERNAL PADA BAGIAN QC

PERTANYAAN Hasil Audit


KETERANGAN

Apakah bagian QC memiliki daftar bahan yang telah diketahui


oleh LP POM MUI?  

Apakah setiap bahan datang selalu diberi tanda status


kehalalannya ( halal pass ) ?

Apakah halal pass bahan / produk diberikan oleh QC setelah


mendapatkan persetujuan dari auditor halal internal ?

Sebelum mencantumkan halal pass, apakah QC memeriksa


nama produsen, merek, jenis / kode barang, logo halal, lot
number dan kuantitas yang tercantum pada label kemasan
sesuai dengan dokumen pengadaan dan / atau sertifikat halal ?  

Apakah jawaban no. 4 dapat dibuktikan dengan laporan /


rekaman hasil pemeriksaan bahan?  

Apakah halal pass hanya diberikan pada bahan / produk yang


sertifikat halalnya masih berlaku ?

Apakah bagian QC menolak bahan yang tidak memperoleh


halals pass?

Apakah pemberian halal pass dikontrol dengan baik dan tercatat


secara sistematis ?

Apakah QC selalu berkomunikasi dengan AHI berkaitan dengan


bahan yang tidak bisa mendapatkan halal pass karena alasan
tertentu (sertifikat halal kadaluarsa, dll)?  

Apakah ada teguran tertulis dan/ atau tindakan pencegahan dari


QC jika didapati praktek yang tidak memenuhi SOP halal?  

Catatan Khusus Auditor :

Menyetujui Yang Membuat


Auditee Bagian QC Auditor Halal Internal

aksanaan

BORANG AUDIT HALAL INTERNAL PADA BAGIAN PRODUKSI

Hasil Audit
PERTANYAAN
TIDAK KETERANGAN

Apakah bagian produksi hanya memproduksi produk


yang disertifikasi halal oleh MUI ?  

Apakah ada konsistensi penggunaan bahan baku,  


bahan tambahan dan bahan penolong ?
Apakah bahan -bahan tersebut tercantum pada
daftar bahan halal yang telah diketahui oleh LP POM
MUI?  

Bila ada produk yang belum jelas status


kehalalannya (tidak disertifikasi halal) apakah alat
produksi yang digunakan berbeda dengan alat
produksi untuk produk yang disertifikasi halal oleh
MUI?

Apakah bahan pada produk yang tidak disertifikasi


halal mungkin mengandung babi atau turunannya?

Bila produk yang tidak disertifikasi halal MUI tidak


mengandung babi atau turunanannya, apakah
prosedur sanitasi peralatan produksi sesuai dengan
ketentuan MUI dan diawasi oleh AHI ?

Bila alat produksi antara produk yang tidak


disertifikasi halal dan produk halal terpisah, apakah
tempat penyiapan bahan dan tempat bahan work in
process juga terpisah ?

Apakah dilingkungan produksi tidak ditemukan bahan


haram walaupun itu milik bagian lain ataupun milik
pribadi?  

Apakah penyelenggaraan proses produksi didukung


oleh sistem administrasi yang baik ?  

Apakah semua bahan baku, tambahan dan penolong


tercatat secara sistematis serta mudah untuk
ditelusuri ?  

Apakah proses pengolahan dilakukan sedemikian


rupa sehingga dapat menghindari terkontaminasinya
produk dari bahan haram dan / atau najis ?  

Apakah bagian produksi mempunyai instruksi kerja


untuk setiap tahapan proses ?  

Catatan Khusus Auditor  


 

Yang Membuat
Auditee Bag. Produksi Auditor Halal Internal

aksanaan : BORANG AUDIT HALAL INTERNAL PADA BAGIAN GUDANG

Hasil Audit
PERTANYAAN
TIDAK KETERANGAN

Apakah Bagian Gudang didukung dengan sistem


administrasi yang mudah ditelusuri ?    

Apakah Bagian Gudang memegang daftar bahan yang


telah diketahui oleh LP POM MUI ?    

Apakah semua bahan di gudang merupakan bahan


yang sesuai dengan daftar bahan yang telah diketahui
oleh LP POM MUI?    

Jika jawaban no.3 tidak, apakah bahan halal dan non


halal disimpan secara terpisah?    

Apakah pemisahan ( pertanyaan no.4 ) dengan cara    


menggunakan ruangan yang berbeda ?

Jika jawaban pertanyaan no. 5 tidak, apakah


pemisahan dilakukan dengan pemberian sekat yang
jelas ?    

Jika jawaban no.6 tidak, apakah pemisahan dilakukan


dengan cara menggunakan rak yang berbeda dengan
diberikan tanda-tanda yang jelas ?

Jika jawaban no . 7 tidak, apakah pemisahannya


dilakukan dengan cara pemisahan dalam palet-palet
yang berbeda tetapi menggunakan rak yang sama
dengan memberikan tanda - tanda yang jelas ?

Apakah bahan- bahan untuk produksi, bahan kemasan


dan non produksi seperti bahan sanitasi, sampel R & D,
produk jadi dan lain-lain dipisahkan ?  

Apakah pemisahan ( pertanyaan no 9 ) dengan cara


menggunakan ruangan yang berbeda ?  

Jika jawaban pertanyaan no.10 tidak, apakah


pemisahan dilakukan dengan pemberian sekat yang
jelas ?

Jika jawaban no.11 tidak, apakah pemisahan dilakukan


dengan cara menggunakan rak yang berbeda dengan
diberikan tanda-tanda yang jelas ?

Jika jawaban no. 12 tidak, apakah pemisahannya


dilakukan dengan cara pemisahan dalam palet-palet
yang berbeda tetapi menggunakan rak yang sama
dengan memberikan tanda - tanda yang jelas ?

Apakah setiap penggunaan bahan dan produk untuk


keperluan produksi, R & D, penjualan atau pengeluaran
dari gudang untuk keperluan lain tercatat jenis dan
jumlah serta peruntukkannya ?

Apakah setiap pengeluaran bahan untuk produksi halal


memperhatikan tanda halal pass ?

Apakah semua bahan di gudang berlabel dengan


jelas ?

Adakah produk yang tidak disertifikasi halal oleh MUI ?


Jika jawaban no.17 ya, apakah produk yang tidak
disertifikasi halal disimpan secara terpisah dengan
produk yang disertifikasi halal ?

Jika jawaban no. 18 ya, apakah pemisahan dilakukan


dengan cara menggunakan ruangan yang berbeda ?

Jika jawaban pertanyaan no. 19 tidak, apakah


pemisahan dilakukan dengan pemberian sekat yang
jelas ?

Jika jawaban no.20 tidak, apakah pemisahan


dilakukan degan cara menggunakan rak yang
berbeda dengan diberikan tanda - tanda yang jelas ?

Jika jawaban no. 21 tidak, apakah pemisahannnya


dilakukan dengan cara pemisahan dalam palet-palet
yang berbeda tetapi menggunakan rak yang sama
dengan memberikan tanda-tanda yang jelas ?

Catatan Khusus Auditor  

Menyetujui
Yang membuat

Auditee Bagian Gudang Auditor Halal Internal


MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

FORMAT LAPORAN BERKALA

1. Resume Lapopran Audit Halal Internal yang terdiri dari:

a. Waktu pelaksanaan

b. Auditor

c. Auditee

d. Temuan

e. Tindakan koreksi

2. Resume perubahan-perubahan yang terjadi selama 6 bulan terakhir yang mencakup:

a. Perubahan manajemen perusahaan yang mempengaruhi kebijakan halal.

b. Perubahan sistem Jaminan Halal (SOP, Dokumen, personil, dsb).

c. Perubahan lokasi pabrik.

d. Perubahan bahan (produsen/pemasok jenis bahan).

e. Perubahan formula dan pengembangan produk baru.

3. Berita acara tindakan koreksi atas temuan pada audit halal internal.

4. Daftar bahan terakhir beserta dokumen terbaru.


29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL

FORMAT LAPORAN BERKALA

NO. URAIAN KETERANGAN

1 Temuan Ketidaksesuian Pembuat / Pelapor  

    Sifat Ketidaksesuaian  

    Tanggal Kejadian  

    Lokasi  

2 Analisis Penyebab Proses Kejadian  

    Penyebab  

    Pembuat  

    Disetujui  

3 Tindakan Langsung Isi Tindakan  

    Tanggal Pelaksanaan  

    Dibuat  

    Disetujui  

4 Tindakan Perbaikan Isi Tindakan  

    Tanggal Pencapaian  

    Tanggal Pelaksanaan  

    Dibuat  

    Disetujui  

5 Tindakan Pencegahan Isi Tindakan  

    Dibuat  

    Disetujui
29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

NOTULEN PERTEMUAN TINDAKAN MANAJEMEN

No. Topik Rincian Kesimpulan Tanggal


Tindak Tanggal
Diskusi Lanjut Pencapaian Nyata

             

             

             

             

             

             

             

             

             

             

             

             

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1


MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

DAFTAR PROSES PRODUKSI, TITIK KRITIS DAN TINDAKAN PENCEGAHAN

PT. TIRTAMAS JAYA UTAMA

JENIS
BAHA TITIK
NO. N KRITIS INFORMASI KUNCI TINDAKAN KOREKSI VERIFIKASI DOKUMENTASI

             
Asal-usul
1 Air bahan Indentitas bahan harus Hentikan penggunaan bahan yang Cek catatan produksi dan Tindakan koreksi

      sesuai dengan tidak ada dalam matriks. Bersihkan cek SOP yang relevan verifikasi

      matriks bahan yang peralatan yang terkontaminasi. (Pembelian, penerimaan  

      telah diketahui oleh Karantina produk yang terlanjur bahan, QC dan produksi)  

      LPPOM-MUI ditambahkan bahan yang tidak    


sesuai matriks

           
Carbon Asal-usul
2 Active bahan Indentitas bahan harus Hentikan penggunaan bahan yang Cek catatan produksi dan Tindakan koreksi

      sesuai dengan tidak ada dalam matriks. Bersihkan cek SOP yang relevan verifikasi

      matriks bahan yang peralatan yang terkontaminasi. (Pembelian, penerimaan  

      telah diketahui oleh Karantina produk yang terlanjur bahan, QC dan produksi)  

      LPPOM-MUI ditambahkan bahan yang tidak    


sesuai matriks

         
Hentikan penggunaan bahan yang
Identitas bahan harus
tidak ada dalam matriks. Bersihkan Cek catatan produksi dan
sesuai dengan matriks
Bag Asal usul peralatan yang terkontaminasi . SOP yg relevan Tindakan Koreksi
3 bahan yang telah
Filter bahan Karantina produk yang terlanjur (Pembelian , penerimaan , verivikasi
diketahui oleh
ditambahkan bahan yang tidak sesuai QC dan produksi )
LPPOM-MUI
matriks
29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

DAFTAR BAHAN BAKU DAN BAHAN PENOLONG, TITIK KRITIS DAN TINDAKAN PENCEGAHANNYA
PT. Tirtamas jaya Utama

JENIS NAMA TITIK


NO. BAHAN BAHAN APLIKASI BAHAN KRITIS INFORMASI TINDAKAN KOREKSI VERIFIKASI DOKUMENTASI

      1 2 3 4 5   KUNCI    

Air Tolak bahan jika


1 Air Pegunungan √ √ √ √ √ Proses Sertifikasi informasi Peringatan ∙ Tindakan perbaikan
dikemasan tidak
                pengolahan Halal sesuai pemasok ∙ Verifikasi

                    dengan sertifikasi halal    

                         

Carbon Tolak bahan jika


2 Batok Kelapa Active √ √ √ √ √ Proses Sertifikasi informasi Peringatan ∙ Tindakan perbaikan
dikemasan tidak
                pengolahan Halal sesuai pemasok ∙ Verifikasi

                    dengan sertifikasi halal    

                         

Keterangan Jenis Produk :

1. Gallon 19 L
29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

TABEL SISTEM ADMINISTRASI

NO
. DEPARTEMEN DOKUMEN

     

1 Pembelian 1. Purchase Order

    2. Kualifikasi dan Evaluasi Supplier

     

2 Quality Control 1. Laporan Incoming Material

    2. Released QC ( Halal Pass )

     

3 Gudang ( Warehouse ) 1. Bukti Penerimaan Barang

    2. Kartu Stock

    3. Bukti Permintaan / Penyerahan Barang

    4. Bukti Retur Barang

     

4 Produksi 1. Laporan Cleaning & Sanitasi

     

     
     

     

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

TABEL RENCANA PELATIHAN

PERIODE PESERTA TEMA PELATIHAN

     

     
Note. Rencana pelatihan dibuat oleh masing-masing pabrikan.

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

MANUAL

SISTEM JAMINAN HALAL

TABEL PERENCANAAN PELATIHAN

DEPARTEMEN DOKUMEN PENANGGUNG LOKASI

    JAWAB  

     

     

     

     

  .    
 

29 Juni 2013 No. Revisi : 0 Hal : 1 /1

Anda mungkin juga menyukai