Anda di halaman 1dari 77

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah sekelompok

penyakit paru menahun yang berlangsung lama dan disertai dengan

peningkatan resistensi terhadap aliran udara (Padila, 2012 dalam

Handono Dkk, 2016), yang penyebab utamanya adalah emfisema,

bronkhitis kronis dan perokok berat (Tabrani R, 2010).

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dianggap sebagai

penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetik dengan

lingkungan. Merokok, polusi udara dan paparan di tempat kerja

(terhadap batu bara, kapas dan padi-padian) merupakan faktor risiko

penting yang menunjang terjadinya penyakit ini. Prosesnya dapat terjadi

dalam rentang lebih dari dari 20-30 tahun (Muttaqin A, 2008)

Menurut WHO Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)

merupakan salah satu penyebab utama kematian utama di dunia dan

akan menempati urutan ke tiga setelah penyakit kardio vaskuler dan

kanker (WHO, 2008 dalam Saminan, 2014). WHO memeperkirakan

pada tahun 2020 prevalensi PPOK akan terus meningkat dari urutan 6

menjadi peringkat ke 3 di dunia dan dari peringkat ke 6 menjadi

peringkat ke 3 penyebab kematian tersering (WHO, Ikawati Z, 2011).

1
Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDES) 2013 menunjukan

bahwa prevalensi PPOK di Indonesia sebanyak 3,7 % (Ikawati Z, 2011).

Kematian akibat PPOK di Indonesia pada tahun 2007 menempati urutan

ke 6 dari 10 penyebab kematian di Indonesia dan tingginya angka

kejadian PPOK di Indonesia diprediksi akan menempati urutan ke 3

penyebab kematian di Indonesia pada tahun 2030 (Kemenkes RI, 2013

dalam Kholifah N dkk, 2018).

Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun

2016, PPOK menempati urutan ke 9 dari 10 besar penyakit di Sulawesi

Tenggara pada tahun 2016 (Dinkes Sulawesi Tenggara, 2016 dalam

Kholifah N, dkk, 2018). Data yang diperoleh dari rekam medik RSUD

Bahteramas menunjukan bahwa pada tahun 2016 terdapat 107 kasus

PPOK, Pada tahun 2017 terdapat 72 Kasus PPOK dan pada tahun

2018 terdapat 93 kasus PPOK (Rekam medik, 2019).

Sesak napas dan pola sesak napas yang tidak selaras akan

meneyebabkan pasien PPOK sering menjadi panik, cemas dan

akhirnya frustasi. Gejala ini merupakan penyebab utama pasien PPOK

mengurangi aktivitas fisiknya untuk menghindari sesak napasnya

(dalam Oemiati R, 2013). Sehingga pemenuhan kebutuhan aktivitas

sehari-hari pasien juga terganggu, dalam pemberian asuhan

keperawatan secara komprehensif hendaknya perawat memandirikan

pasien dalam melakukan perawatan pada dirinya sendiri (dalam Wijaya,

I, 2017).

2
Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) merupakan penyakit yang

sangat mungkin dicegah. Pendidikan kesehatan merupakan dimensi

penting peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan untuk

pasien PPOK. Berfokus pada peningkatan pengetahuan pasien (Chang

E, dkk, 2009). Untuk menangani keluhan dari PPOK tidak hanya

dilakukan oleh tenaga kesehatan saja tetapi juga dapat dilakukan oleh

pasien dengan cara melakukan perawatan pada dirinya sendiri (self

care).

Self care (perawatan diri) merupakan aktivitas dan inisiatif dari

individu yang dilaksanakan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi

serta mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejateraannya

(dalam Nurchayati dan Darwin, 2016). Self care dalam asuhan

keperawatan pada penderita PPOK yaitu pasien memperhatikan

kesehatan dirinya, dengan cara segera istirahat dan menenagkan diri

apabila merasa sesak, yang diajarkan oleh perawat atau tenaga

kesehatan lainnya baik penanganan secara farmakologis dan non

farmakologis. Salah satu penanganan non farmakologi yang dapat

diberikan pada pasien dengan PPOK yang mengalami keadaan

tersebut adalah latihan pernafasan dengan teknik pursed lip breathing.

(Singh, 2012 dalam Wijaya, I. 2017).

3
Pursed lip breathing (PLB) merupakan latihan pernapasan yang

menekankan pada proses ekspirasi yang dilakukan secara tenang

dengan tujuan untuk mempermudah proses pengeluaran udara yang

terjebak oleh saluran napas (Nerini, Dkk dalam Permadi A.W, 2017).

Secara fisiologis, pursed lip breathing akan menstimulasi sistem saraf

parasimpatik sehingga meningkatkan produksi endoprin, menurunkan

heart rate, meningkatkan ekspansi paru sehingga dapat berkembang

maksimal, dan otot-otot menjadi rileks. Pursed lip Breathing membuat

tubuh kita mendaptakan input oksigen yang adekuat dimana oksigen

memegang peranan penting dalam sistem respirasi dan sirkulasi tubuh.

Saat kita melakukan breathing exercise oksigen mengalir kedalam

pembuluh darah dan seluruh jaringan tubuh, membuang racun dan sisa

metabolisme yang tidak terpakai, meningkatkan metabolisme dan

memproduksi energi. Pursed lip breathing akan memaksimalkan jumlah

oksigen yang masuk dan disuplay keseluruh jaringan sehingga tubuh

dapat memproduksi energi dan menurunkan level fatigue (dalam

Septiwi C, 2013). Pursed lip breathing dilakukan dengan cara tarik

napas melalui hidung, buang napas lebih lambat melalui bibir

mengerucut seperti bersiul (Petty et al al.,2005 dalam Suryantoro

E,Dkk 2017).

4
Menurut penelitian Wijaya I, dkk yang dilakukan di Balai Basar

Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Makassar yang menggunakan

desain Quasi-Eksperimen dengan kelompok intervensi dan kelompok

kontrol, dengan jumlah sampel 20 responden pasien PPOK yang

melakukan six minut walking test. menunjukan bahwa terdapat

pengaruh pemberian self care education dan pursed lip breathing

exercise terhadap toleransi fisik (dalam Wijaya I, dkk, 2017).

Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan di Rumah Sakit

Umum Bahteramas Prov. Sultra didapatkan bahwa jumlah pasien bulan

januari 2019 sebanyak 17 pasien ppok. dari wawancara 5 pasien ppok

didapatkan keseluruhan mengeluhkan terkait sesak, selain itu secara

keseluruhan mereka kurang mengetahui tentang pentalaksanaan

penyakitnya disebabkan belum pernah di ajarkan terapi non

farmakologi yakni bagaimana perawatan diri (self care) dan terapi

pursed lip breathing atau sikap seseorang bernafas dengan mulut

mengkerucut yang dapat meringankan sesak nafas.

Berdasarkan uraian permasalahan diatas penulis tertarik untuk

melakukan penelitian tentang Pengaruh Pendidikan Self Care Dan

Pursed Lip Breathing Terhadap Pengetahuan Penatalaksanaan

Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) Di Rumah

Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

5
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengetahuan penatalaksanaan ppok sebelum dilakukan

pendidikan self care dan pursed lip breathing pada pasien penyakit

paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum Bahteramas

Provinsi Sulawesi Tenggara ?

2. Bagaimana pengetahuan penatalaksanaan ppok setelah dilakukan

pendidikan self care dan pursed lip breathing pada pasien penyakit

paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum Bahteramas

Provinsi Sulawesi Tenggara ?

3. Apakah ada pengaruh pendidikan self care dan pursed lip breathing

terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada pasien penyakit paru

obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh pendidikan self care dan pursed

lip breathing terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada pasien

penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

2. Tujuan Khusus

a) Untuk mengetahui pengetahuan penatalaksanaan ppok sebelum

dilakukan pendidikan self care dan pursed lip breathing pada

6
pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit

Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

b) Untuk mengetahui pengetahuan penatalaksanaan ppok setelah

dilakukan pendidikan self care dan pursed lip breathing pada

pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di RSUD

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

c) Untuk mengetahui pengaruh pendidikan self care dan pursed lip

breathing terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada pasien

penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

a. Bagi perkembangan ilmu keperawatan, sebagai bahan kajian atau

literatur dan informasi tambahan bagi perkembangan pendidikan

keperawatan tentang manfaat pendidikan self care dan pursed lip

breathing terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada penderita

penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).

b. Bagi institusi kesehatan Mandala Waluya, sebagai bahan literatur

pada perpustakaan Stikes Mandala Waluya Kendari.

7
2. Manfaat Praktis

a. Bagi penderita penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), Hasil

penelitian ini di harapkan dapat memberikan informasi tentang

manfaat pendidikan self care dan pursed lip breathing dalam

meningkatkan pengetahuan penatalaksanaan ppok.

b. Bagi Rumah Sakit, Hasil penelitian ini di harapkan dapat di

gunakan sebagai masukan bagi lahan penelitian/Rumah sakit

secara keseluruhan tentang manfaat pendidikan self care dan

pursed lip breathing bagi penderita penyaki paru obstruki kronis

(PPOK).

c. Bagi peneliti, Suatu pengalaman berharga dalam mengaplikasikan

ilmu yang telah diperoleh dan menambah wawasan ilmu

pengetahuan.

E. Keaslian Penelitian

N Peneliti Judul Desain Hasil Kesamaan Perbedaan


O Penelitian
1 Wijaya Pengaru Quasi- Terdapat Variabel Desain
I, dkk h Self Eksperim pengaru independe penelitian:
2017 Care en h n:
Educatio pemberi Pengaruh Penelitian
n dan an self self care sebelumnya
Pursed care education :
Lip educatio pursed lip Quasi-
Breathin n dan breathing Eksperimen
g pursed
Exercise lip Penelitian
terhadap breathin yang akan
Toleransi g dilakukan:
Fisik exercise Pre
Pada terhadap eksperimen
Pasien toleransi
Penyakit fisik. Variabel
Paru dependen:

8
Obstruks
i Penelitian
Kronis(P sebelumnya
POK) :
toleransi
fisik pada
pasien ppok

Penelitian
yang akan
dilakukan:
pengetahua
n
penangana
n sesak
pasien ppok
2 Septiwi Pengaru Quasi Terdapat Variabel Desain
C, 2013 h Experime Perbeda independe penelitian:
Breathin n an lefel n:
g fatigue Breathing Penelitian
Exercise sebelum exercise sebelumnya
Terhada dan :
p Level sesudah Quasi-
Fatigue breathin Eksperimen
Pasien g
Hemodia exercise Penelitian
lisis Di yang akan
RSPAD dilakukan:
Gatot Pre
Subroto eksperimen
Jakarta Variabel
dependen:

Penelitian
sebelumnya
:
level fatigue
pasien
hemodialisi
s

Penelitian
yang akan
dilakukan:
pengetahua
n
penangana
n sesak
pasien ppok

9
3 Permad Pengaru True Ada Variabel Desain
i A.w & h Pursed Experime pengaruh independe penelitian:
Wahyu Lip n Pursed n:
di A.T, Breathin Lip Pursed lip Penelitian
2017 g Dan Breathin breathing sebelumnya
Sustaine g Dan :
d Sustaine True
Maximal d Experimen
Inspiratio Maximal
n Inspiratio Penelitian
Terhada n yang akan
p Terhadap dilakukan:
peningka peningkat Pre
tan an eksperimen
Kekuata Kekuatan
n Otot Otot Variabel
Pernapa Pernapas dependen:
san an Untuk
Untuk Mengura Penelitian
Mengura ngi sebelumnya
ngi Keluhan :
Keluhan Sesak peningkatan
Sesak Napas Kekuatan
Napas Pada Otot
Pada Kasusu Pernapasan
Kasusu Kardio Untuk
Kardio Respirasi Mengurangi
Respirasi . Keluhan
Sesak
Napas
Pada
Kasusu
Kardio
Respirasi

penelitian
yang akan
dilakukan:
pengetahua
n
penangana
n sesak
pasien ppok

4 Handon Pengaru Case Adanya Variabel Desain


o N. P, h Sinar study pengaruh dependen: penelitian:
Dkk, Matahari research sinar Pasien
2016 Untuk matahari ppok Penelitian
Meningk terhadap sebelumnya

10
atkan bersihan :
Efektifita jalan Case study
s napas research
Bersihan pasien
Jalan ppok Penelitian
Nafas yang aka
Pada dilakukan:
pasien Pre
PPOK Di eksperimen
Puskesm
as Variabel
Selogiri independen
:
Penelitian
sebelumnya
:
Sinar
matahari
untuk
meningkatk
an
efektivitas
bersihan
jalan napas

Penelitian
yang akan
dilakukan:
pendidikan
Self care
dan pursed
lip
breathing
5 Mertha Pengaru Quasi Terdapat Variabel Desain
I, dkk, h experimen pengaruh dependen: penelitian:
2018 pemberia yang Pasien
n deep signifikan ppok Penelitian
breathin pemberia sebelumnya
g n deep :
exercise breathing Quasi
terhadap exercise experimen
saturasi dalam
oksigen meningka Penelitian
pada tkan yang akan
pasien saturasi dilakukan:
ppok oksigen Pre
experimen

Variabel
independen

11
:
Penelitian
sebelumnya
:
Pemberian
deep
breathing
exercise

Penelitian
yang akan
dilakukan:
Pendidikan
Self care
dan pursed
lip
breathing
6 Budihar Pengaru Quasi Terdapat Variabel Desain
to, dkk, h eksperime peningkat dependen: penelitian:
2008 breathin n an nilai Pasien
g fungsi ppok Penelitian
retrainin ventilasip sebelumnya
g aru :
terhadap Quasi
peningka experimen
tan
fungsi Penelitian
ventilasi yang akan
paru dilakukan:
pada Pre
asuhan experimen
keperaw
atan Variabel
pasien independen
ppok :

Penelitian
sebelumnya
:
breathing
retraining

penelitian
yang akan
dilakukan:
pendidikan
self care
dan pursed
lip
breathing

12
8 Suryant Perbeda Quasi Pursed Variabel Desain
oro E, an Experime lip independe penelitian:
dkk, Efektivita n breathing n:
2017 s Pursed lebih Pursed lip Penelitian
Lips mampu breathing sebelumnya
Breathin meningka :
g tkan nilai Quasi
Exercise FEV1 experimen
Dengan daripada
Six six Penelitian
Minutes minutes yang akan
Walk walk test dilakukan:
Test Pre
Terhada experimen
p Forced
Expirator Variabel
y dependen:

Penelitian
sebelumnya
:
Forced
expiratory

Penelitian
yang akan
dilakukan:
Pengetahua
n
penangana
n sesak
pasien ppok
9 Kholifa Analisis Analitik tingkat Variabel Desain
h N, Faktor Obsevasi keperc dependen: penelitian:
2018 Risiko onal ayaan Pasien
Kejadian 95% ppok Penelitian
Penyakit menunju sebelumnya
Paru kan :
Obstruks faktor Analitik
i risiko observasion
Kronis(P tinggi al
POK) kejadian
Pada PPOK Penelitian
Pasien yang akan
RSUD dilakukan:
Bahtera Pre
mas experimen
Provinsi
Sulawesi Variabel
Tenggar independen

13
a Tahun :
2017
Penelitian
sebelumny
a:
Faktor
risiko

Penelitian
yang akan
dilakukan:
Pendidikan
Self care
dan pursed
lip
breathing

1 Hartono Peningka True Pernap Variabel Desain


0 , tan Experime asan independe penelitian:
2015 Kapisitas n Pursed n:
Vital Lips Pursed lip Penelitian
Paru efektif sebelumnya
Pada terhad :
pasien ap True
PPOK teningk experimen
Menggun atan
akan kapasit Penelitian
Metode as vital yang akan
Pernapa Paru dilakukan:
san Pre
Pursed experimen
Lips
Variabel
dependen:

Penelitian
sebelumnya
:
Peneingkat
an
kapasitas
vital paru

Penelitian
yang akan
dilakukan:
Pengetahua
n
penangana
n sesak

14
pasien ppok

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit

1. Pengertian Rumah Sakit

Menurut WHO (World Health Organization), rumah sakit

adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan

dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif),

penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif)

kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan

bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik.

Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang

rumah sakit, yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi

pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat

inap, rawat jalan dan rawat gawat darurat. Rumah sakit adalah

sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan

pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat

pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian (Depkes RI, 1994 dalam

Akbar M. A).

2. Jenis-jenis Rumah Sakit

15
Azwar (1996) meyatakan bahwa rumah sakit di Indonesia jika ditinjau

dari kemampuan yang dimiliki dibedakan menjadi lima macam (Azrul

Azwar, 1996 dalam Akbar M. A, 2017) yaitu :

a. Rumah Sakit Tipe A

Rumah sakit kelas A adalah rumah sakit yang mampu

memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis

secara luas. Rumah sakit kelas A ditetapkanm sebagai tempat

pelayanan rumah sakit rujukan tertinggi (top referral hospital) atau

rumah sakit pusat.

b. Rumah Sakit Tipe B

Rumah sakit kel;as B adalah rumah sakit yang mampu

memberikan pelayanan kedokteran spesialis luas subspesialis

terbatas. Rumah sakit kelas B didirikan di setiap ibukota propinsi

(propincial hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari

rumah sakit kabupaten. Rumah sakit pendidikan yang tidak

termasuk kelas A juga diklasifikasikan sebagai rumah sakit B.

c. Rumah Sakit Tipe C

Rumah sakit kelas C adalah rumah sakit yang mampu

memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas, yaitu

pelayanan penyakit dalam, pelayanan bedah, pelayanan

kesehatan anak dan pelayanan kebidanan dan kandungan.

Rumah sakit klelas C akan didirikan di setiap ibukota kabupaten

16
(regency hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari

puskesmas.

d. Rumah Sakit Tipe D

Rumah sakit tipe D adalah rumah sakit yang bersifat transisi

karena pada suatu saat akan ditingkatkan menjadi rumah sakit

kelas C. Kemampuan rumah sakit kelas D hanya memberikan

pelayanan kedokteran umum dan kedokteran gigi.

e. Rumah Sakit Tipe E

Rumah sakit tipe E adalah rumah sakit khusus (spesial

hospital) yang menyelenggarakan satu macam pelayanan

kedokteran saja, misalnya rumah sakit kusta, rumah sakit paru,

rumah sakit jantung, rumah sakit ibu dan anak, rumah sakit gigi

dan mulut dan lain sebagainya.

3. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Rumah sakit umum mempunyai misi memberikan pelayanan

kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam

rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tugas rumah

sakit umum adalah melaksanakan upaya pelayanan kesehatan

secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan

penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasidan

17
terpadu dengan peningkatan dan pencegahan serta pelaksanaan

upaya rujukan.

Dalam keputusan menteri kesehatan republik Indonesia

Nomor. 983/Menkes/SK/XI/1992, tentang pedoman organisasi rumah

sakit umum yang menyebutkan bahwa tugas rumah sakit

mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang

dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan

dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan (Charles, 2004

dalam Musdalifah).

Dimana untuk menyelenggarakan fungsinya, maka rumah

sakit umum menyelenggarakan kegiatan :

a. Pelayanan medis

b. Pelayanan dan asuhan keperawatan

c. Pelayanan penunjang medis dan nonmedis

d. Pelayanan kesehatan kemasyarakatan dan rujukan

e. Pendidikan, penelitian dan pengembangan

f. Administrasi umum dan keuangan

Sedangkan menurut undang-undang No. 44 tahun 2009

tentang rumah sakit adalah :

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan

kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit

18
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui

pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga

sesuai kebutuhan medis.

c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia

dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian

pelayanan kesehatan

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan

teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan

kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang

kesehatan.

B. Tinjauan Teori Tentang Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)

1. Defenisi Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)

Penyakit paru obstruksi kronik yang biasa disebut sebagai

PPOK merupakan penyakit kronik yang ditandai oleh peningkatan

resistensi terhadap aliran udara (Price dan Wilson, 2005). Penyakit

Paru Obstruksi Kronis (PPOK) didefenisikan sebagai suatu penyakit

yang bisa dicegah dan diatasi, yang dikarakteristik dengan

keterbatasan aliran udara yang menetap, yang biasanya bersifat

progersif, dan terkait dengan adanya respon inflamasi kronis saluran

nafas dan paru-paru terhadap gas atau partikel berbahaya (Ikawati

Z, 2011)

2. Etiologi

19
Terdapat berbagai faktor risiko terjadinya PPOK yakni rokok,

pekerjaan, polusi udara, infeksi, usia, jenis kelamin, adanya

gangguan fungsi paru yang sudah terjadi dan predisposisi genetik

(Ikawati Z, 2011).

3. Patofisiologi

Pada bronchitis kronik maupun emfisema terjadi

penyempitan saluran nafas. Penyempitan ini dapat mengakibatkan

obstruksi jalan nafas dan menimbulkan sesak. Pada bronchitis

kronik, saluran pernafasan kecil yang berdiameter kurang dari 2 mm

menjadi lebih sempit, berkelok-kelok dan berobliterasi. Penyempitan

ini terjadi juga oleh metaplasia sel goblet, saluran nafas besar juga

menyempit karena hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus. Pada

emfisema paru penyempitan saluran nafas disebabkan oleh

berkurangnya elastisitas paru-paru (Mansjoer dkk, 2001).

4. Manifestasi Klinis

PPOK meliputi gejala sistemik berupa demam, peningkatan

rasa letih, dan gejala pernapasan, seperti peningkatan dispnea,

perburukan batuk, mangi yang mengindikasikan bronkospasme, dan

peningkatan produksi sputum atau purulem (Snow, V Dkk, 2001).

20
Pada PPOK akan dijumpai gejala-gejala dari ke dua penyakit,

emfisema dan bronkitis kronis (Corwin E. J, 2009).

5. Diagnostik

Menurut Spirometri merupakan pemeriksaan yang sederhana,

tidak mahal, non invasif dapat digunakan untuk mendiagnosis,

menentukan keparahan penyakit dan monitoring Progresi PPOK.

Spirometri merupakan gold standard diagnosis PPOK (Wibisono M.

Jusuf, 2010). Menurut corwin E.J (2009) perangkat diagnostik

Penyakit paru obstruks kronis (PPOK) yaitu :

a. Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik

b. Sinar-X dada.

6. Komplikasi

Menurut Somantri I (2012) komplikasi COPD/PPOK yaitu :

a. Hipoksemia

b. Asidosis Respiratori

c. Infeksi Respiratori

d. Gagal Jantung

e. Kardiak Distritmia

f. Status Asmatikus.

7. Penatalaksanaan PPOK

PPOK adalah penyakit paru-paru kronis yang bersifat

progresif dan irreversible. Penatalaksanaan PPOK dibedakan

21
berdasarkan pada keadaan stabil dan eksaserbasi akut.

Penatalaksanaan PPOK berdasarkan PDPI (2016):

a. Tujuan penatalaksanaan berdasarkan GOLD (2006) dan dan

PDPI (2016):

1) Meminimalkan gejala

2) Pencegahan terjadinya eksaserbasi

3) Pencegahan terjadinya penurunan fungsi paru

4) Peningkatan kualitas hidup

b. Penatalaksanaan umum PPOK terdiri dari:

1) Edukasi

Penatalaksanaan edukasi sangat penting pada PPOK

keadaan stabil yang dapat dilakukan dalam jangka panjang

karena PPOK merupakan penyakit kronis yang progresif dan

irreversible. Intervensi edukasi untuk menyesuaikan

keterbatasan aktifitas fisik dan pencegahan kecepatan

penurunan fungsi paru.Edukasi dilakukan menggunakan

bahasa yang singkat, mudah dimengerti dan langsung pada inti

permasalahan yang dialami pasien.Pelaksanaan edukasi

seharusnya dilakukan berulang dengan materi edukasi yang

sederhana dan singkat dalam satu kali pertemuan.

Tujuan edukasi pada pasien PPOK :

a) Mengetahui proses penyakit

b) Melakukan pengobatan yang optimal

22
c) Mencapai aktifitas yang maksimal

d) Mencapai peningkatan kualitas hidup

Materi edukasi yang dapat diberikan yaitu:

a) Dasar- dasar penyakit PPOK

b) Manfaat dan efek samping obat-obatan

c) Mencegah penyakit tidak semakin memburuk

d) Menjauhi faktor penyebab (seperti merokok)

e) Menyesuaikan aktifitas fisik

Materi edukasi menurut prioritas yaitu:

a) Penyampaian berhenti merokok dilakukan pada saat

pertama kali penegakan diagnosis PPOK.

b) Penggunaan dari macam-macam dan jenis obat yang

meliputi: cara penggunaan, waktu penggunaan dan dosis

yang benar serta efek samping penggunaan obat.

c) Waktu dan dosis penggunaan oksigen. Mengenal efek

samping kelebihan dosis penggunaan oksigen dan cara

mengatasi efek samping penggunaan oksigen tersebut.

d) Mengetahui gejala eksaserbasi akut dan penatalaksanannya

seprti adanya sesak dan batuk, peningkatan sputum,

perubahan warna sputum, dan menjauhi penyebab

eksaserbasi.

e) Penyesuaian aktifitas hidup dengan berbagai keterbatasan

aktifitasnya.

23
2) Terapi obat yaitu: bronkodilator, antibiotic, anti peradangan, anti

oksidan, mukolitik dan antitusif.

3) Terapi oksigen Pasien PPOK mengalami hipoksemia yang

progresif dan berkepanjangan sehingga menyebabkan

kerusakan sel dan jaringan. Pemberian terapi oksigen

merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan

oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik di otot

maupun organ-organ lainnya.

4) Ventilasi mekanis Ventilasi mekanis pada PPOK diberikan pada

eksaserbasi dengan adanya gagal nafas yang akut, gagal nafas

akut pada gagal nafas kronis atau PPOK derajat berat dengan

gagal nafas kronis. Ventilasi mekanis dapat dilakukan di rumah

sakit (ICU) dan di rumah.

5) Nutrisi Pasien PPOK sering mengalami malnutrisi yang

disebabkan meningkatnya kebutuhan energi sebagai dampak

dari peningkatan otot pernafasan karena mengalami

hipoksemia kronis dan hiperkapni sehingga terjadi

hipermetabolisme. Malnutrisi akan meningkatkan angka

kematian pada pasien PPOK karena berkaitan dengan

penurunan fungsi paru dan perubahan analisa gas darah. 6)

Rehabilitasi Rehabilitasi ini bertujuan meningkatkan kualitas

hidup dan toleransi pasien PPOK terhadap katifitas fisik yaitu:

24
menyesuaikan aktifitas, latihan batuk efektif dan latihan

pernafasan.

c. Latihan pernafasan dengan pursed lips breathing (PLB):

1) Pengertian

Pursed lips breathing adalah latihan pernafasan dengan

menghirup udara melalui hidung dan mengeluarkan udara

dengan cara bibir lebih dirapatkan atau dimonyongkan dengan

waktu ekshalasi lebih di perpanjang. Terapi rehabilitasi paru-

paru dengan cara latihan ini adalah cara yang sangat mudah

dilakukan, tanpa memerlukan alat bantu apapun, dan juga

tanpa efek negatif seperti pemakaian obat-obatan (Smeltzer et

al, 2013).

Pursed lips breathing (PLB) adalah latihan nafas dengan

penekanan pada saat ekspirasi bertujuan dalam meudahkan

pengeluaran udara air trapping atau udara yang terjebak oleh

saluran nafas.PLB dapat menghambat udara keluar dengan

menggunakan kedua bibir sehingga menyebabkan tekanan

dalam rongga mulut menjadi lebih positif. Keberhasilan PLB

yaitu melakukan latihan dengn keadaan santai (Nurbasuki,

2008).

2) Tujuan dari PLB

Membantu klien memperbaiki transport oksigen,

menginduksi pola nafas lambat dan dalam, membantu pasien

25
untuk mengontrol pernafasan, mencegah kolaps dan melatih

otot ekspirasi dalam memperpanjang ekshalasi, peningkatan

tekanan jalan nafas selama ekspirasi dan mengurangi

terjebaknya udara dalam saluran nafas (Smeltzer et al., 2013).

PLB dapat membantu mengurangi sesak nafas sehingga

pasien mampu mentoleransi aktifitas fisik dan peningkatan

kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.PLB

yang dilakukan secara dengan rutin dan benar mampu

meningkatkan fungsi mekanis paru-paru, pembatasan

peningkatan volume akhir ekspirasi paru dan pencegahan

dampak hiperinflasi (Sheadan, 2006).

3) Langkah-langkah atau cara melakukan pursed lips breathing

Menurut Smeltzer et al, (2013) latihan nafas ini dengan cara

menghirup nafas melalui hidung sambil menghitung sampai 3

seperti saat menghirup wangi bunga mawar. Menghembuskan

nafas secara pelan dan merata menggunakan bibir yang

dirapatkan sambil mengencangkan otot-otot perut, (bibir yang

rapat dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra trakea,

menghembuskan melalui mulut menyebabkan tahanan udara

yang dihembuskan lebih sedikit). Menghitung sampai 7 sambil

memperpanjang ekspirasi dengan merapatkan bibir seolah-olah

sedang meniup sebuah lilin.Latihan PLB dalam posisi duduk

dikursi dilakukan dengan melipat tangan diatas perut,

26
menghirup nafas melalui hidung dengan menghitung sampai 3.

Setelah itu badan membungkuk ke depan sambil

menghembuskan nafas secara pelan melalui bibir yang

dirapatkan dan menghitungnya sampai 7 (Smeltzer et al, 2013).

C. Tinjauan Teori Tentang Pengetahuan

1. Defenisi

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melelui panca indra manusia diperoleh dari

mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain

yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Karena

itu dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari

oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak

didasar oleh pengetahuan (Natoatmojo, 2005 dalam Agustini N, N,

M, dkk).

2. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif

mempunyai enam tingkatan (Natoatmodjo S, 2012) :

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali sesuatu yangh spesifik dan seluruh

bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh

27
sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling

rendah.

2. Memahami

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan

dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang

yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan,

dan sebagainya terhadap objek yang. Misalnya dapat menjelaskan

mengapa harus makan-makanan yang bergizi.

3. Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real

(sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau

penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan

sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat

menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil

penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan

masalah didalam pemecahan masalah kesehatan dan kasus yang

diberikan.

4. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi

28
masih didalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya

satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari

menggunakan kata kerja, seperti dapat menggambarkan

(membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan,

dan sebagainya.

5. Sintesis

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk

meletakan atau menghubungkan bagian-bagian dalam didalam

suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis

adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari

formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat

merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan

sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang

telahj ada.

6. Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

3. Cara Memperoleh Pengetahuan

29
Cara memperoleh pengetahuan yang dikutip dari Natoatmodjo

(2003) adalah sebagai berikut (Wawan & Dewi, 2011 dalam Marliana,

2018) :

a. Cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan

1) Cara coba salah (Trial and Eror)

Cara ini telah dipakai oleh orang sebelum kebudayaan,

bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah

ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan itu tidak

berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah

tersebut sampai terpecahkan.

2) Cara kekuasaan atau otoritas

Sumber pengetahuan ini dapat berupa pemimpin-

pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama,

pemegang pemerintah dan berbagai prinsip orang lain yang

menerima mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu

atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta

empiris maupun penalaran sendiri.

3) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai

memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang pengalaman

yang pernah diperoleh memecahkan permasalahan yang

dihadapi masa lalu.

4) Cara modern

30
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih

populer disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula

dikembangkan oleh Fmcis Bacon (1561-1626). Kemudian

dikembangkan oleh Deobold Van Deven. Akhirnya lahir suatu

cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal

dengan penelitian ilmiah.

4. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

a. Faktor internal

1) Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang

terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita

tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi

kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagian.

Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya

hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga meningkatkan

kualitas hidup.

2) Pekerjaan

Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih

banyak merupakan mencari nafkah yang membosankan,

31
berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja umumnya

merupakan pekerjaan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu

akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.

3) Umur

Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih

dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaanya.

Hal ini akan sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa.

b. Faktor eksternal

1) Faktor Lingkungan

Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada

disekitar manusia dan pengaruhnya mempengaruhi

perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

2) Sosial Budaya

Sistem sosial budaya yang ada masyarakat dapat

mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.

D. Tinjauan Teori Tentang Pendidikan Kesehatan

1. Pengertian Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep

pendidikan didalam bidang kesehatan atau merupakan suatu

kegiatan untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam

32
meningkatkan kemampuan atau perilakunya, untuk mencapai

kesehatan optimal. Pengetahuan kesehatan yang lebih baik

diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku

sasaran (Marmi, 2013).

Pendidikan kesehatan adalah suatu bentuk intervensi atau

upaya yang ditunjukan kepada perilaku, agar perilaku tersebut

kondusif untuk kesehatan. Pendidikan kesehatan mengupayakan

agar perilaku individu, kelompok atau masyarakat mempunyai

pengaruh positif terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

Agar intervensi atau upaya tersebut efektif, maka sebelum dilakukan

intervensi perlu dilakukan diagnosis atau analisis terhadap masalah

perilaku tersebut (Notoatmodjo, 2012)

2. Tujuan Pendidikan Kesehatan

Secara garis besar tujuan dari pendidikan kesehatan

mengubah perilaku belum sehat menjadi perilaku sehat, namun

perilaku tersebut, ternyata mencakup hal yang luas, sehingga perlu

perilaku tersebut, ternyata mencakup hal yang luas, sehingga perlu

perilaku tersebut dikategorikan secara mendasar. Azwar (1983:18)

membagi perilaku kesehatan menjadi 3 macam:

a. Perilaku yang menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai

di masyarakat.

b. Secara mandiri mampu menciptakan perilaku sehat bagi dirinya

sendiri maupun menciptakan perilaku sehat di dalam kelompok.

33
c. Mendorong berkembangnya dan penggunaan sarana pelayanan

kesehatan yang ada secara tepat. Ada kalanya masyarakat

memanfaatkan sarana kesehatan yang ada secara berlebihan.

3. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan

Ruang lingkup kesehatan dapat dilhat dari berbagi dimensi,

antara lain dimensi sasaran, dimensi tempat pelaksanaan, dan

dimensi tingkat pelayanan, (Marmi, 2013) :

a. Berdasarkan dimensi sasaran pendidikannya, ruang lingkup

pendidikan kesehatan terbagi atas :

1) Pendidikan kesehatan individual, dengan sasaran individu.

2) Pendidikan kesehatan kelompok, dengan sasaran kelompok.

3) Pendidikan kesehatan masyarakat, dengan sasaran

masyarakat.

b. Berdasarkan dimensi tempat pelaksanaannya, ruang lingkup

pendidikan kesehatan terdiri atas :

1) Pendidikan kesehatan di sekolah, dillakukan di sekolah dengar

sasaran murid.

2) Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dengan sasaran pasien

dan keluarga pasien, di puskesmas dan sebagainya.

3) Pendidikan kesehatan di tempat kerja, dengan sasaran buruh

dan karyawan ditempat kerja bersangkutan.

c. Berdasarkan dimensi tingkat pelayannya, ruangkan lingkup

pendidikan kesehatan terdiri atas :

34
1) Promosi kesehatan

2) Perlindungan khusus

3) Diagnose dan pengobatan dini

4) Pembatasan kecatatan

5) Rehabilitas.

4. Media Pendidikan Kesehatan

Media pendidikan kesehatan adalah alat bantu untuk

menyampaikan informasi kesehatan dan mempermudah penerimaan

pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat dan klien. Media

pendidikan dapat diberikan melalui media elektronik dan media cetak

(Notoatmodjo, 2012).

E. Tinjauan Teori Tentang Self Care

1. Pengertian Self Care

Self care (perawatan diri) merupakan aktivitas dan inisiatif dari

individu yang dilaksanakan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi

serta mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan

nya. Jika dilakukan secara efektif, upaya self care (perawatan diri)

dapat memberi kontribusi bagi integritas struktural fungsi dan

perkembangan manusia. Normalnya, orang dewasa akan peduli dan

mau merawat dirinya sendiri dengan sukarela, sedangkan bayi,

lansia dan orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi

aktivitas self care-nya (Orem, 1995 dalam Nurchayati dan Darwin,

2016)

35
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self Care

Ada beberapa faktor kondisi dasar yang sangat berpengaruh

terhadap kebutuhan dan kemampuan seseorang untuk melakukan

perawatan diri. Faktor kondisi dasar ini adalah faktor yang

mempengaruhi semua orang. Faktor-faktor dasar tersebut adalah

sebagai berikut:

a. Usia

b. Jenis kelamin

c. Kondisi perkembangan

Kondisi perkembangan yang dimaksud mencakup kondisi

seseorang baik secara fisik,fungsional, kognitif maupun kondisi

tingkat psikososialnya.

d. Kondisi kesehatan

Hal ini mencakup kondisi kesehatan seseorang pada saat

ini dan masa lalu serta persepsi mereka tentang kesehatan nya

secara pribadi.

e. Orientasi sosial budaya

Hal ini meliputi sistem yang saling terkait dari lingkungan

sosial seseorang, keyakinan spiritual, hubungan sosial dan fungsi

kesatuan keluarga.

f. Sistem perawatan kesehatan

36
Hal ini mencakup sumber daya dimana perawatan

kesehatan dapat diakses dan tersedia untuk seseorang sebagai

modalitas diagnostik dan pengobatan.

g. Faktor sistem keluarga

Hal ini mencakup peran ataupun hubungan antar anggota

keluarga dan orang lain yang cukup berpengaruh, dan peran

masing-masing orang dalam keluarganya.

h. Pola hidup

Hal ini mencakup kegiatan yang biasa dilakukan seseorang

dalam kehidupannya sehari-hari.

i. Faktor lingkungan

Hal ini meliputi pengaturan tempat seseorang biasanya

melakukan perawatan diri, dan lingkungan rumah yang

ditempatinya.

j. Sumber daya yang tersedia

Hal yang dimaksud mencakup termasuk kondisi ekonomi,

tenaga, badan atau lembaga serta waktu yang tersedia (Orem,

1995).

3. Manfaat Self Care

a. Memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk meningkatkan

kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan.

37
b. Mempertahankan kualitas kehidupan, kesehatan dan

kesejahteraan baik dalam keadaan sehat ataupun sakit.

c. Membantu individu dan keluarga dalam mempertahankan self

care yang mencakup integritas struktural, fungsi dan

perkembangan.

4. Self Care Pada PPOK

Penerapan teori self care dalam asuhan keperawatan

penderita PPOK untuk membangun kesadaran dan kepedulian

melakukan perawatan terhadap dirinya sendiri secara mandiri baik

dengan terapi medis maupun non medis khususnya keperawatan

(Alligood,2014) (Jacobs, 1990).

Self care dalam asuhan keperawatan pada penderita PPOK

yaitu pasien memperhatikan kesehatan dirinya, dengan cara segera

istirahat dan menenangkan diri apabila merasa sesak, memahami

penyebab peningkatan keluhan sesak, batuk atau cepat lelah.

segera memeriksakan diri dipelayanan kesehatan, apabila masih

merasa sesak saat di Puskesmas maupun di Rumah Sakit penderita

minta menggunakan oksigen selama merasakan sesak atau

pengobatan dengan segera, minum obat secara teratur dan tepat

waktu, melakukan aktivitas sesuai kemampuan dan berhenti

beraktivitas apabila merasa lelah dan sesak. Untuk pencegahan

munculnya keluhan pada penderita PPOK, yaitu dengan cara segera

berhenti merokok, apabila penderita adalah seorang pekerja di

38
lingkungan yang berpolusi penderita PPOK senantiasa

menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut saat bekerja

(dalam Wijaya I. dkk, 2017).

Tujuan dari tindakan perawatan diri menurut (Black &

Hawks, 2014; GOLD, 2017), yaitu :

a. Menghindari zat-zat yang mengiritasi bronkus.

b. Mencegah dan mengatasi infeki.

c. Meringankan Bronkospasme.

d. Mencegah dan memperlambat hipertensi pulmonal dan

korpulmonal.

e. Meningkatkan keefektifan pernafasan.

f. Meningkatkan toleransi kerja fisik.

g. Meningkatkan proteaseanti protease,

h. Meningkatkan elastisitasrekoil paru, serta menurunkan

kematian .

F. Tinjauan Teori Tentang Pursed Lip Breathing (PLB)

1. Pengertian Pursed Lip Breathing (PLB)

Pursed lip breathing adalah salah satu tindakan rehabilitasi

paru yang digunakan untuk meringankan pasien yang mengalami

sesak nafas. Teknik ini adalah sikap seseorang yang bernapas

dengan mulut mengerucut dan ekspirasi bernapas seperti bersiul.

(Singh, 2012).

2. Tujuan Pursed Lip Brathing

39
Latihan pernapasan yang menekankan pada proses ekspirasi

yang bertujuan untuk mempermudah proses pengeluaran udara

yang terjebak oleh saluran napas (Nerini, dkk dalam Permadi A.W

dan Wahyudi A.T, 2017). Melalui teknik ini, maka udara yang keluar

akan akan dihambat oleh kedua bibir, yang menyebabkan tekanan

dalam rongga mulut lebih positif. Tekanan positif ini akan menjalar ke

dalam saluran napas yang menyempit dan bermanfaat untuk untuk

mempertahankan salauran napas untuk tetap terbuka. Dengan

terbukanya saluran napas, maka udara dapat keluar dengan mudah

melalui saluran napas yang menyempit serta dengan mudah

berpangaruh pada kekuatan otot pernapasan untuk mengurangi

sesak napas (Alsagaf dalam Permadi A.W dan Wahyudi A.T, 2017).

3. Siklus Pernapasan Pada Latihan Pursed Lip Breathing

Melalui teknik ini, maka udara yang keluar akan dihambat

oleh kedua bibir, yang m,enyebabkan tekanan dalam rongga mulut

lebih positif. Tekanan positif ini akan menjalar kedalams aluran

napas yang menyempit dan bermanfaat untuk mempertahankan

saluran napas untuk tetap terbuka, maka udara dapat keluar dengan

mudah melalui saluran napas yang menyempit serta dengan mudah

berpengaruh pada kekuatan otot pernapasan untuk mengurangi

sesak napas( Alsagaf, 2012)

4. Langkah-Langkah Tindakan Pursed Lip Breathing

40
Langkah-langkah atau teknik pursed lip breathing diantaranya

meliputi: mengatur posisi pasien dengan duduk ditempat tidur atau

kursi, meletakan satu tangan pasien di abdomen (tepat dibawah

proc.sipodeus) dan tangan lainnya ditengah dada dan abdomen saat

bernafas, kemudian menarik nafas dalam melalui hidung selama 4

detik sampai dada dan abdomen terasa terangkat maksimal lalu jaga

mulut tetap tertutup selama ispirasi dan tahan nafas selama 2 detik,

dan hembuskan nafas melalui bibir yang dirapatkan serta sedikit

terbuka sambil mengkontrasikan otot-otot abdomen selama 4 detik

dalam sehari dilakukan 1 kali dengan 5 kali pengulangan (Smaltzer,

2008 dalam Lestari D, 2016).

D. Kajian Empiris

1. Wijaya I , Dkk, 2017

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh Self Care

education dan Pursed Lip Breathing exercise terhadap toleransi fisik

pada pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK). Penelitian ini

menggunakan desain Quasi-Eksperimen dengan pendekatan two

group-pre test and post test design. Studi Quasi-eksperimental

dengan kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan jumlah

sampel 20 responden pasien PPOK yang dilakukan pengukuran six

minut walking test. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan

yang signifikan secara statistik hasil pengukuran six minut walking

test pre dan post pada kelompok intervensi (p<0,05) dan tidak

41
terdapat perbedaan yang signifikan hasil pengukuran six minut

walking test post setelah 14 hari pada kelompok intervensi dan

kelompok control (p>0,05) perbedaan yang signifikan secara klinis

pada selisih hasil pengukuran post test pada kelompok

intervensi dan kelompok kontrol six minut walking test >10.

2. Septiwi, C. 2013

Hemodialisis yang membutuhkan waktu selama 5 jam dan

jika status nutrisi buruk dapat menyebabkan malaise dan fatigue.

Breathing exercise adalah teknik penyembuhan alami terhadap

fatigue. Penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan pendekatan

pre-post test design yang dilaksanakan di RSPAD Gatot Subroto

Jakarta. Data diuji dengan uji t berpasangan. Hasil uji T berpasangan

didapatkan nilai p 0,000(p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa

terdapat perbedaan yang signifikan antara level fatigue sebelum dan

sesudah breathing exercise. Rata-rata level fatigue responden sebelum

dilakukan brathing exercise adalah 5,70, sesudah breathing exercise

adalah 3,80.

3. Ritianingsih, N. 2017

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan

antara lama sakit PPOK dengan kualitas hidup pasien. Hipotesis

penelitian ini adalah terdapat hubungan antara lama sakit dengan

kualitas hidup pasien PPOK. Responden penelitian ini berjumlah 60

orang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan

42
metoda cross sectional. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value

0,031 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan

antara lama sakit dengan kualitas hidup pasien PPOK. Perawat

agar lebih memperhatikan lama sakit dalam melaksanakan asuhan

keperawatan sehingga kualitas hidup pasien PPOK dapat

ditingkatkan.

4. Permadi A.W dan Wahyudi A.T, 2017

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan

pemberian suistained maximal inspiration (SMI) dan pursed lip

breathing (PLB) terhadap peningkatan kekuatan otot pernapasan

pada pasien dengan keluhan sesak napas. Penelitian ini

menggunakan penelitian true eksperimen dengan rancangan

penelitian pre-test dan post-test design. Dalam penelitian ini

kelompok diberikan perlakuan sebanyak 1 kali seminggu dan

dilakukan selama 24 minggu. Hasil yang diharapkan diharapkan dari

penelitian ini adalah untuk mengurangi keluhan sesak napas tanpa

menggunakan obat-obatan dari dokter pada kasus kardio respirasi.

5. Pangestuti, S. 2015

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

diaphragmatic breathing exercise terhadap fungsi pernapasan (RR

dan APE) pada lansia. Penelitian ini adalah penelitian pre

eksperimental dengan desain one group pretest and postest. Teknik

pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling

43
dengan jumlah sampel 14 lansia yang diberikan intervensi

diaphragmatic breathing exercise sekali dalam sehari selama 14

hari. Pengumpulan data melalui teknik observasi yakni pengukuran

nilai RR dan APE setiap sebelum dan sesudah melakukan

diaphragmatic breathing exercise. Analisis data menggunakan uji t

dependen dengan α = 5%. Hasil penghitungan uji statistik

didapatkan p value 0,000 (p < 0,05) baik pada nilai RR maupun

APE. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa

diaphragmatic breathing exercise memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap fungsi pernapasan (RR dan APE) pada lansia. Saran dari

penelitian ini adalah diaphragmatic breathing exercise dapat

dilakukan oleh semua lansia secara teratur untuk memperlambat

proses penurunan serta meningkatkan fungsi pernapasan lansia.

6. Asterina, Dkk, 2016

Tujuan dari metode token economy ini adalah untuk

meningkatkan perilaku individu yang diinginkan. Penelitian ini

menggunakan rancangan pre- eksperimen dengan pendekatan one

group pretest-posttest pada pasien defisit perawatan diri di ruang

Melati Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Sa’anin Padang, sebanyak 15

orang pada 19 November – 9 Desember 2015 untuk mengetahui

pengaruh metode token conomy terhadap aktifitas perawatan diri.

Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling.

Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur aktifitas perawatan

44
diri responden sebelum dan setelah perlakuan dengan

menggunakan lembar observasi. Analisa data dilakukan dengan uji

Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh metode token

economy terhadap peningkatan aktifitas perawatan diri dengan

hasil uji statistic p < 0,05.

7. Kholifah N, Dkk, 2018

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis seberapa

besar faktor risiko paparan asap rokok, paparan asap obat nyamuk

bakar, dan konsumsi ringan terhadap kejadian penyakit paru

obstruksi kronis (PPOK) pada pasien Poli Paru RSUD Bahteramas

Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2017. Jenis penelitian yang

digunakan adalah analitik observasional menggunakan rancangan

case kontrol study dengan pendekatan fixed disease. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh pasien Poli Paru RSUD Bahteramas

sejak bulan januari sampai dengan oktober tahun 2017, sampel

dalam penelitian ini berjumlah 105 sampel yakni 35 kasus dan 70

kontrol, pengambilan sampel menggunakan teknik purposive

sampling. Hasil penelitian pada tingkat kepercayaan 95%

menunjukkan faktor risiko tinggi kejadian PPOK yakni paparan asap

rokok diperoleh nilai OR = 3,188 dengan Lower limit = 1,273 dan

Upper limit = 7,980; dan paparan asap obat nyamuk bakar diperoleh

nilai OR = 2,411 dengan Lower limit = 1,039 dan Upper limit =

5,599, sedangkan yang bukan merupakan faktor risiko PPOK yakni

45
konsumsi minuman ringan diperoleh nilai OR = 2,016 dengan Lower

limit = 0,278 dan Upper limit = 15,281. Bagi masyarakat diharapkan

agar selalu menjaga kesehatan dengan melakukan perilaku hidup

bersih dan sehat, serta menghindari paparan asap rokok dan asap

obat nyamuk bakar, dan menjaga pola makan dengan menerapkan

gizi seimbang.

8. Mertha I, dkk, 2018

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

pemberian deep breathing exercise terhadap saturasi oksigen pada

pasien PPOK di IGD RSUD Sanjiwani Gianyar tahun 2018. Desain

penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan

rancangan pre and post test with control group menggunakan

metode purposive sampling kepada 20 responden dan dibagi

menjadi dua kelompok, 10 responden kelompok perlakuan dan 10

responden kontrol. Hasi uji statistik Paired T-test pada kelompok

perlakuan didapatkan selisih rata-rata sebesar 5,1% dengan ρ

value 0,001, pada kelompok kontrol didapatkan selisih rata-rata

sebesar 0,5% dengan ρ value 0,052.

9. Kristiawan A. A, dkk, 2016

Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui adanya

pengaruh sinar matahari pada pasien PPOK. Penelitian ini

merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan case study

research (studi kasus). Dalam penelitian ini peneliti mengambil 3

46
sampel yaitu pasien yang mengalami PPOK. Hasil uji observasi

dengan melakukan terapai sinar matahari dengan cara berjemur

menunjukan pada Responden 1 Sebelum pasien diberikan terapi

sinar matahari pasien masih mengalami sesak nafas. Dan setelah

diberikan terapi sinar matahari pasien mengatakan sesak nafas

berkurang dan pasien tampak lebih nyaman dan rileks. Pada

Responden 2 Sebelum pasien diberikan terapi sinar matahari

pasien hanya bernafas dangkal dan berujung mengalami sesak

nafas. Dan setelah diberikan terapi sinar matahari pasien

mengatakan sesak nafas berkurang dan tampak nyaman serta

rileks.

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran

Penyakit paru obstruksi kronis yang biasa disebut PPOK

merupakan penyakit kronik yang berkembang secara perlahan-lahan

dan gejala sering meburuk dari waktu ke waktu ditandai dengan mudah

lelah dan sesak .Penyakit PPOK memerlukan pencegahan dan

diringankan baik dengan pengobatan maupun dengan program latihan.

Pencegahan dan upaya untuk menangani keluhan dari PPOK yaitu

dengan pemberian pendidikan kesehatan tentang self care dan pursed

lip breathing.

47
Pendidikan kesehatan tentang self care dan pursed lip breathing

dalam penatalaksanaan pada pasien PPOK yaitu mengajarkan tentang

defenisi, pengenalan tanda dan gejala serta penyampaian tentang

pentingnya kesadaran, dan kepedulian melakukan perawatan terhadap

dirinya sendiri secara mandiri baik dengan terapi medis maupun non

medis seperti tujuan, manfaat serta proses pelaksanaanya dari

pendidikan yang diberikan. Pendidikan self care dan pursed lip

breathing yang akan diberikan yaitu melalui metode ceramah dan

demonstrasi.

B. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pendidikan Self Care Pengetahuan


dan Pursed Lip Penatalaksanaan
Breathing PPOK

Keterangan :

= Variabel bebas

= Hubungan antar variabel yang diteliti

48
, = Variabel terikat

Gambar 1 Bagan Kerangka Konsep Penelitian

C. Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah self care dan

pursed lip breathing.

2. Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pengetahuan

penatalaksanaan PPOK

D. Defenisi Operasional dan Kriteria Obyektif

1. Defenisi Operasional Pengetahuan Penaganan Sesak

Pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

pengetahuan penatalaksanaan ppok tentang perawatan diri (self

care) dan pursed lip breathing. Peningkatan pengetahuan diukur

menggunakan kriteria lembar kuesioner. Kriteria penilaian

didasarkan pada 15 pertanyaan yang disediakan pada kuesioner

yang diberi skor atau bobot dengan menggunakan skala Guttman

yaitu bila jawaban benar akan diberi nilai 1 dan bila jawaban salah

akan diberi nilai 0. Panduan penilaian dan pemberian skoring pada

pengetahuan menggunakan skala Gutman :

49
Skor tertinggi 15 x 1 = 15 (100%)

Skor terendah 15 x 0 = 0 (0 %)

Kemudian diukur dengan rumus sugiono (2016)

R
Dimana I =
K

I = interval kelas

R = range (kisaran nilai tertinggi dan terendah)

= (100% - 0%) = 100%

K = jumlah kategori = 2 (cukup dan kurang)

R 100 %
Jadi untuk I = = 50%
K 2

Kriteria objektif :

Cukup : Bila jawaban responden memperoleh nilai ≥ 50 dari

total skor maksimal.

Kurang : Bila jawaban responden memperoleh nilai ¿ 50 dari

total skor maksimal

2. Defenisi Operasional Pendidikan Self Care

Pendidikan Perawatan diri (Self Care) yang dimaksud disini

adalah pemberian pendidikan kesehatan kepada pasien PPOK

mengenai perawatan diri (self care) yang akan diberikan dengan

menggunakan media ceramah. Pendidikan kesehatan ini akan

diberikan dalam waktu 10 menit pada pasien PPOK dengan

50
pembahasan tentang perawatan diri (self care). Mulai dari

pembahasan tentang pengertian perawatan diri, faktor yang

mempengaruhi perawatan diri dan manfaat perawatan diri.

3. Defenisi Operasional Pendidikan Pursed Lip Breathing

Pendidikan pursed lip breathing yang dimaksud disini adalah

pemberian pendidikan kesehatan kepada pasien PPOK mengenai

pursed lip breathing yaitu pernapasan dengan bibir mencucu seperti

bersiul yang akan diberikan dengan menggunakan media ceramah

dan demonstrasi. Pendidikan kesehatan ini akan diberikan dalam

waktu 10 menit dengan media ceramah dan demonstrasi pada

pasien PPOK dengan pembahasan tentang konsep dan teknik terapi

pursed lip breathing, dengan cara memberikan edukasi konsep

umum pursed lip breathing dan mengajarkan teknik pursed lip

breathing yaitu mengatur posisi duduk ditempat tidur atau kursi,

meletakan satu tangan di abdomen (tepat dibawah proc.sipodeus)

dan tangan lainnya ditengah dada dan abdomen saat bernafas,

kemudian menarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik

sampai dada dan abdomen terasa terangkat maksimal lalu jaga

mulut tetap tertutup selama ispirasi dan tahan nafas selama 2 detik,

dan hembuskan nafas melalui bibir yang dirapatkan serta sedikit

terbuka sambil mengkontrasikan otot-otot abdomen selama 4 detik

dalam sehari dilakukan 1 kali dengan 5 kali pengulangan.

E. Hipotesis Penelitian

51
1. Pendidikan Self Care dan Pursed Lip breathing

H0 : Tidak ada pengaruh pendidikan self care dan pursed lip

breathing terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada

pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit

Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara.

Ha : Ada pengaruh pendidikan self care dan pursed lip breathing

terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada pasien penyakit

paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Sulawesi Tenggara.

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu penelitian pre eksperimen

dengan melakukan pendekatan secara “One Group Pre and Post-Test

Design”. Dimana dalam rancangan ini tidak ada kelompok pembading

tetapi dilakukan observasi pertama (pre-test) yang memungkinkan

peneliti dapat menguji perubahan yang terjadi setelah perlakuan.

Adapun rancangan penelitian ini sebagai berikut :

Pretest Perlakuan Posttest

01 (X) 02

52
Gambar 2. Desain penelitian eksperimen

Keterangan :

01 : Dilakukan sebelum adanya perlakuan (Pret test)

x : Dilakukan perlakuan berupa Pendidikan self care dan pursed lip

breathing

02 : Dilakukan pengukuran setelah adanya perlakuan (Post Test)

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu

Penelitian ini telah dilakukan pada bulan 17 Mei sampai 13

Juni 2019.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas : obyek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

53
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya (Sugiyono, 2017). Populasi dalam penelitian ini

adalah pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) dan sedang

dalam masa perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Bahteramas.

Jumlah populasi ppok pada bulan januari 2019 berjumlah 17 orang.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Jika

subyek kurang dari 100, lebih baik diambil semuasehingga

penelitiannya merupakan penelitian populasi, dan jika subyek besar

dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Arikunto,

2010).

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total

populasi. Metode ini diperbolehkan karena jumlah populasi yang

terbatas atau sedikit, yaitu 17 penderita ppok, sehingga dari jumlah

tersebut dijadikan sampel dalam penelitian. Penggunaan total

populasi akan lebih mewakili fakta yang ada (Natoatmodjo, 2010).

Sampel dalam penelitian ini adalah 17 responden.

D. Sumber Data Dan Cara Pengumpulan Data

1. Sumber Data

Data primer dalam penelitian ini adalah tentang pengetahuan

penatalaksanaan ppok, adapun cara pengumpulan data primernya

sebagai berikut :

54
a. Pre test dilakukan sebelum diberikan intervensi pertama untuk

mengukur tingkat pengetahuan penatalaksanaan ppok dengan

menggunakan kuesioner

b. Selanjutnya dilakukan intervensi pendidikan self care dan pursed

lip breathing yaitu mengajarkan cara perawatan diri dengan

memberi pengetahuan tentang konsep umum self are mulai dari

pengertian, faktor yang mempengaruhi serta manfaat self care

pada pasien ppok dan mengajarkan teknik pursed lip breathing

yaitu pernapasan dengan bibir mencucu atau seperti bersiul,

dengan cara melakukan inspirasi selama 3 detik dan

memperpanjang ekspirasi 7 detik dengan mulut yang hampir

tertutup (seperti bersiul), dan intervensi dilakukan oleh peneliti.

c. Post test akan dilakukan setelah diberikan intervensi.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah menggunakan

kuesioner.

a. Uji validitas

Sugiyono dalam Muhammad Sultan (2017) bahwa perlu

dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan

instrumen penelitian dengan instrumen penelitian yang valid dan

reliabel. Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara

data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi

pada objek yang diteliti.

55
Uji validitasi dilakukan untuk mengetahui apakah kuisioner

yang digunakan teresebut mampu mengukur apa yang

seharusnya diukur atau layak digunakan, maka perlu diuji korelasi

antara skor (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skor total

kuisioner tersebut. Perhitungan validitasi dari sebuah instrumen

dapat digunakan rumus korelasi product moment atau dikenal juga

dengan korelasi pearson. Adapun rumusnya adalah sebagai

berikut :

r hitung =n ¿ ¿

Keterangan :

r = koefisien korelasi

n = jumlah responden uji coba

X = skor setiap item

Y = skor sebelum item responden ujui coba

Apabila instrumen valid,maka indeks korelasi (r) adalah

sebagai berikut :

0.800 - 1,000 sangat kuat

0,600 - 0,799 kuat

0,004 - 00,599 sedang

0,002 - 0,399 lemah

0,00 - 0,199 sangat lemah (tidak valid)

b. Hasil Uji Validitas

Tabel 1. Hasil Uji Validitas Instrumen


Variabel jumlah Butir Jumlah No. Jumlah

56
Pertanyaan Butir Butir Butir
Gugur Gugur Valid
Pengetahuan 15 0 0 15
Penatalaksanaan
PPOK
Jumlah 15 0 0 15
Tabel 1 menunjukkan bahwa semua butir pertanyaan

dalam kuisioner yang diuji adalah valid. Hal ini berarti bahwa

semua butir pertanyaan dalam kuisioner yang telah diuji

validitasnya layak untuk digunakan dalam penelitian.

c. Reabilitas instrumen

1) Uji Reabilitas

Setelah mengukur validitas, maka perlu dilakukan uji

reabilitas data, apakah alat ukur dapat digunakan atau tidak,

adapun rumus reabilitas yang digunakan adalah rumus

Spearman Brown sebagai berikut :

2.rb
r 11 =
1+rb

Keterangan :

r 11 = koefisien reablitas internal sluruh item

rb = korelasi product moment antara belahan apabila

instrumen valid maka :

koefisien korelasi = 0,344, harga r11 = 0,510, harga, Tabel =

0,707 : tidak valid.

2) Hasil Uji Reabilitas

Tabel 2. Hasil Realibitas Instrumen


Variabel Koefisien Alfa Keterangan

57
Reabilitas
Pengetahuan 0,532 Cukup kuat
Penatalaksanaan
ppok

Tabel 2 merupakan bahwa variabel pengetahuan

penatalaksanaan ppok cukup kuat realibitasnya. Hal ini berarti

bahwa variabel dalm kuisioner ini dapat diandalkan untuk

digunakan dalam penelitian.

3. Cara Pengumpulan Data

a. Penjelasan tujuan penelitian kepada responden

b. Permintaan ketersediaan menjadi responden

c. Tanda tangan informed consent

d. Pengisian kuesioner oleh responden

E. Pengolahan dan Analisa Data

1. Teknik pengolahan data

Pengolahan data pada dasarnya merupakan salah satu

proses untuk memperoleh data atau ringkasan berdasarkan suatu

kelompok data mentah dengan menggunakan rumus tententu

sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan (Notoatmodjo,

2012). Pengelolaan data dilakukan dengan cara :

a. Editing

Editing adalah menyeleksi data yang telah didapat dari

hasil wawancara untuk mendapatkan data yang akurat.

b. Koding

58
Koding adalah melakukan pengkodean data agar tidak

terjadi kekeliruan dalam melakukan tabulasi data.

c. Skoring

Skoring adalah proses penjumlahan untuk memperoleh

total skor dari butir pertanyaan.

d. Tabulasi

Tabulasi data adalah penyusunan data sedemikian rupa

sehingga memudahkan dalam penjumlahan data dan disajikan

dalam bentuk table.

e. Entri

Entri data yaitu mamasukan data ke komputer untuk

dianalisis.

2. Penyajian Data

Data disajikan dalam bentuk tabel digunakan untuk

mendeskripsikan variabel yang diteliti dan dijabarkan dalam bentuk

tabel dan distribusi serta menarasikan hasil dari percobaan.

3. Analisa Data

Analisa data dilakukan setelah semua data terkumpul yang

dimulai dari beberapa tahap ditandai dengan editing untuk

memeriksa kelengkapan identitas responden, kemudian data diberi

cording untuk memudahkan penelitian dalam melakukan analisa

59
data. Selanjutnya, entery data dalam komputer dan dilakukan

pengelolaan data dengan menggunakan komputer serta Program

SPSS.

a. Analisis Univariat

Analisa univariat digunakan untuk menganalisis dan

menyajikan data kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui

gambaran karakteristik sampel penelitian dalam bentuk nilai rata-

rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum

(Ghozali, 2013).

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan untuk

melihat pengaruh antara variabel independent dan variabel

dependent dengan skala data numerik, yaitu pengaruh self care

education pursed lip breathing terhadap pengetahuan

penanganan sesak pada pasien ppok. Jika distribusi data normal

(p-value¿ ∝ (0,05), maka uji statistik yang digunakan adalah yaitu

Paired Sampel t-Test dengan rumus sampai berikut :

d
t hitung =
s /√ n
Keterangan :

d = selisih nilai rata-rata sampel

60
s = simpang baku

n = besarnya sampel

pengambilan kesimpulan dari pengujian hipotesis dari tingkat

kepercayaan atau Convidence Interval (CI) 95% adalah sebagai

berikut:

- Jika nilai thitung¿ttabel atau p-value ≤ ∝ (0,05) maka H0 ditolak dan

Ha diterima.

- Jika nilai thitung ¿ttabel atau p-value ≥ ∝(0,05) maka H0 diterima dan

Ha ditolak.

Namun, jika data tidak ditolak berdistribusi normal, maka uji

statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon Sing Rank Test

(Ghozali, 2013).

F. Etika Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian, peniliti mendapat izin dari

instansi Rumah Sakit Umum Bahteramas untuk melakukan penelitian.

Setelah mendapat izin barulah melakukan penelitian dengan

menekankan masalah etika yang meliputi:

1. Lembar persetujuan (informend consent)

Lembar persetujuan ini diberikan dan dijelaskan kepada

responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan

disertai judul penelitian dan manfaat penelitian dengan tujuan

responden dapat mengerti maksud dan tujuan penelitian. Bila

61
responden menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap

menghormati hak-hak responden.

2. Tanpa nama (anonymity)

Peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada

lembar pengumpulan data yang diisi responden, tetapi hanya

diberikan kode tententu, demi menjaga kerahasiaan identitas

responden.

3. Kerahasiaan (confidentiality)

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, hanya

kelompok data tertentu yang dilaporkan sebagai hasil penelitian.

4. Hak asasi manusia (dignity)

Semua data yang dikumpulkan selama penelitian disimpan

dan dijaga kerahasiaanya, dan hanya digunakan untuk kepentingan

penelitian. Identitas responden berupa nama diganti dengan inisial.

5. Keadilan (justice)

Responden berhak mendapatkan perlakuan yang adil

sebelum, selama, dan setelah berpartisipasi dalam penelitian, tanpa

adanya diskriminasi.

62
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Letak Geografis

Sejak tanggal 21 November 2012 RSU Prov Sultra pindah

lokasi dari di jalan Dr.Ratulangi No. 151 Kelurahan Kemaraya

Kecamatan Mandonga ke Jalan Kapt.Pierre Tendean No. 40 Baruga,

dan bernama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas

Prov. Sultra. Di lokasi yang baru ini mudah dijangkau dengan

kendaraan umum, dengan batas wilayah sebagai berikut :

 Sebelah Utara : Kantor Pengadilan Agama

 Sebekah Timur : Balai Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara

 Sebelah Selatan : Perumahan Penduduk

63
 Sebelah Barat : Kantor Polsek Baruga

2. Lingkungan Fisik

RSUD Bahteramas berdiri di atas lahan seluas 17,5 Ha. Luas

seluruh bangunan adalah 53,269 m2, luas bangunan yang terealisasi

sampai dengan akhir tahun 2017 adalah 35,410 m2. Bangunan yang

ada mempunyai tingkat aktivitas yang sangat tinggi. Pengelompokan

ruangan berdasarkan fungsinya sehingga menjadi empat kelompok,

yaitu kelompok kegiatan pelayanan rumah sakit, kelompok kegiatan

penunjang medis, kelompok kegiatan penunjang non medis, dan

kelompok kegiatan administrasi.

3. Tugas Pokok dan Fungsi Rumah Sakit

Tugas pokok dan fungsi RSUD Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara berdasarkan pada Perda No. 5 Tahun 2008

Tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah

RSU Provinsi Sulawesi Tenggara dan Pola Tata Kelola RSU Prov.

Sultra adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna

dan berhasilguna dengan menutamakan penyembuhan, pemulihan

yan dilaksanakan secara serasi, terpadu dengan upaya peningkatan

serta pencegahan dan melaksanakan upaya rujukan.

Untuk melaksanakan tugas pokok sebagaimana tersebut di

atas, RSUD Bahtermas Provinsi Sulawesi Tenggara mempunyai

fungsi yaitu:

a. Menyelenggarakan pelayanan medik.

64
b. Menyelenggarakan pelayanan penunjang medic.

c. Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan.

d. Menyelenggarakan pelayanan rujukan.

e. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan.

f. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan.

g. Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.

h. Menyelenggarakan upaya promotif dan preventif.

B. Hasil Penelitian

Penelitian ini menjelaskan Pengaruh Pendidikan Self Care Dan

Pursed Lip Breathing Terhadap Pengetahuan Penatalaksanaan Pada

Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) Di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara yang dilaksanakan pada

tanggal 17 Mei sampai 13 Juni 2019.

1. Karekteristik Responden

Karakteristik responden meliputi umur, pendidikan dan

pekerjaan. Setiap karakteristik dibuat dalam tabel dengan tahapan

pembuatan tabel sebagai berikut :

a. Umur responden

Distribusi responden berdasarkan umur seperti terlihat

pada tabel di bawah :

65
Tabel 1: Distribusi Berdasarkan Kelompok Umur di Rumah

Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara

N Umur N %
o
1 40-49 Tahun 3 17,6
2 50-59 Tahun 8 47,1
3 60-69 Tahun 6 35,3
Jumlah 17 100
Sumber : Data Primer Tahun 2019

Tabel 1 menunjukan bahwa kelompok umur terbanyak

yaitu berada pada umur 50-59 tahun dengan jumlah responden 8

orang (47,1%) dan paling sedikit berada pada kelompok 40-49

tahun dengan jumlah responden 3 orang (17,6%).

b. Pendidikan Responden

Distribusi responden berdasarkan pendidikan seperti

terlihat pada tabel di bawah :

Tabel 2 : Distribusi Berdasarkan Kelompok Pendidikan di

Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara

No Pendidikan N %
1 SD 3 17,6
2 SMP 1 5,9
3 SMA 10 58,8
4 SARJANA 3 17,6
Jumlah 17 100
Sumber : Data Primer Tahun 2019

66
Tabel 2 menunjukan bahwa pendidikan terbanyak adalah

SMA sebanyak 10 (58,8%) responden dan terendah adalah SMP

sebanyak 1 (5,9%) responden.

c. Pekerjaan Responden

Distribusi responden berdasarkan pekerjaan seperti terlihat

pada tabel di bawah :

Tabel 3 : Distribusi Berdasarkan Kelompok Pekerjaan di

Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara

No Pekerjaan N %
1 PNS 3 17,6
2 WIRASWASTA 3 17,6
3 PETANI 5 29,4
4 IRT 6 35,3
Jumlah 17 100
Sumber : Data Primer tahun 2019

Tabel 3 menunjukan bahwa pekerjaan terbanyak adalah

IRT sebanyak 6 (35,3%) responden dan terendah adalah PNS

sebanyak 3 (17,6%) responden.

2. Analisa Univariat

a. Tingkat pengetahuan penatalaksanaan ppok sebelum dilakukan

pendidikan kesehatan tentang self care dan pursed lip breathing

Tabel 4 : Distribusi responden berdasarkan tingkat

pengetahuan pe natalaksanaan ppok sebelum

dilakukan pendidikan kesehatan tentang self

67
care dan pursed lip breathing pada pasien

PPOK :

N Tingkat pengetahuan N %
O
1 Kurang 10 58,8
2 Baik 7 41,2
Total 17 100
Sumber : Data Primer 2019

Tabel 4 menunjukan bahwa tingkat pengetahuan sebelum

dilakukan pendidikan kesehatan kelompok sebelum (pre test)

sebanyak 10 (58,8%) responden dengan tingkat pengetahuan

kurang dan 7 (41,2%) dengan tingkat pengetahuan Baik.

b. Tingkat pengetahuan penatalaksanaan ppok setelah dilakukan

pendidikan kesehatan tentang self care dan pursed lip breathing

pada pasien PPOK.

Tabel 5 Distribusi responden berdasarkan tingkat

pengetahuan penatalaksanaan ppok setelah

dilakukan pendidikan kesehatan tentang self care

dan pursed lip breathing pada pasien PPOK:

N Tingkat Pengetahuan n %
O
1 Kurung 3 17,6
2 Cukup 14 82,2
Total 17 100
Sumber : Data Primer, 2019

Tabel 5 menunjukan bahwa tingkat pengetahuan setelah

dilakukan pendidikan kesehatan kelompok setelah (pre test)

sebanyak 3 (17,6%) responden dengan tingkat pengetahuan

68
kurang dan 14 (82,2%) responden dengan tingkat pengetahuan

baik.

3. Analisa Bivariat

Tabel 6 : Distribusi responden berdasarakan tingkat

pengetahuian penatalaksanaan ppok sebelum

dan sesudah diberikan pendidikan self care dan

pursed lip breathing pada pasien ppok :

Tingkat Pengetahuan Pre Test Post Test


Kurang 10 3
Baik 7 4
Sumber :Data primer Juli 2019

Tabel 6 menunjukan bahwa tingkat pengetahuan sebelum

dilakukan pendidikan kesehatan kelompok sebelum (pre test)

sebanyak 10 (58,8%) responden dengan tingkat pengetahuan

kurang dan 7 (41,2%) dengan tingkat pengetahuan cukup.

Sedangkan tingkat pengetahuan setelah dilakukan pendidikan

kesehatan kelompok setelah (pre test) sebanyak 3 (17,6%)

responden dengan tingkat pengetahuan kurang dan 14 (82,2%)

responden dengan tingkat pengetahuan cukup.

Uji Normalitas

Tabel 7:Uji statistik normalitas data pengaruh pendidikan

kesehatan terhadap tingkat pengetahuan

penatalaksanaan ppok tentang self care dan pursed

lip breathing pada pasien PPOK:

69
Pendidikan P-value α Kesimpulan
kesehatan
Pree 0,00 0,05 Tidak Normal
Post 0,34 0,06 Normal
Sumber : Data diolah juli 2019

Berdasarkan hasil uji normalitas data pengetahuan

menggunakan Uji Statistic Kolmogrov-Smirnov Test dengan taraf

signifikan yang ditetapkan adalah P-Value < 0,05 sehingga diperoleh

hasil perubahan peningkatan pengetahuan sebelum dilakukan

pendidikan kesehatan adalah 0,00 dan hasil perubahan peningkatan

pengetahuan setelah dilakukan pendidikan kesehatan adalah 0,34.

Oleh karena itu, uji normalitas data setelah diberikan pendidikan

pengetahuan adalah P-Value > 0,05 maka diambil kesimpulan

bahwa distribusi kelompok data adalah tidak normal sehingga uji

yang digunakan adalah uji statistik non parametrik yaitu Wilcoxon.

Peningkatan P-Value α Kesimpulan


Pengeteahuan
Pre Test – Post 0,02 0,05 H 0 ditolak
Test

Setelah dilakukan uji statistik Wilcoxon dengan taraf signifikan

yang ditetapkan adalah P-Value < 0,05 pada peningkatan

pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan

diperoleh P-Value = 0.02, dari data tersebut P-Value < 0,05 maka H a

70
diterima dan H 0 ditolak, Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh

pendidikan self care dan pursed lip breathing terhadap pengetahuan

penatalaksanaan pada pasien PPOK di Rumah Sakit umum

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2019.

C. Pembahasan

Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep

pendidikan didalam bidang kesehatan atau merupakan suatu kegiatan

untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam

meningkatkan kemampuan atau perilakunya, untuk mencapai

kesehatan optimal. Pengetahuan kesehatan yang lebih baik dapat

membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran (Marmi, 2013).

Pendidikan kesehatan berupaya untuk menyadarkan individu tentang

bagaimana menghindari atau mencegah hal-hal yang merugikan

kesehatan mereka dan orang lain (Natoatmodjo, 2012).

Pendidikan kesehatan adalah suatu bentuk intervensi atau

upaya yang ditujukan kepada perilaku, agar perilaku tersebut kondusif

untuk kesehatan. Pendidikan kesehatan mengupayakan agar perilaku

individu, kelompok atau masyarakat mempunyai pengaruh positif

terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Agar intervensi

atau upaya tersebut efektif, maka sebelum dilakukan intervensi erlu

dilakukan diagnosisi atau analisis terhadap masalah peril;aku tersebut

(Natoatmodjo, 2012).

71
Tabel 4 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan

penatalaksanaan ppok sebelum (pre test) pendidikan self care dan

pursed lip breathing, sebanyak 10 (58,8%) responden dengan tingkat

pengetahuan kurang dan 7 (41,2%) responden dengan tingkat

pengetahuan baik. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan pasien

tentang self care dan pursed lip breathing masi kurang disebabkan

karena pasien masih memiliki tingkat pengetahuan kurang akan

penatalaksanaan ppok.

Tabel 5 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan

penatalaksanaan ppok setelah (post test) pendidikan self care dan

pursed lip breathing, sebanyak 3 (17,6%) responden dengan tingkat

pengetahuan kurang dan 14 (82,2%) responden dengan tingkat

pengetahuan baik. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan pasien

tentang self care dan pursed lip breathing mengalami peningkatan.

Hal ini dapat dibuktikan dengan pengetahuan pre dan post test

mengalami perbedaan yang signifikan. Dapat dilihat dari presentase

penelitian dimana dari 17 responden dengan kategori pengetahuan

baik meningkat dari 7 (41,2%) responden menjadi 14 (82,2%)

responden. Hal tersebut membuktikan bahwa pengetahuan yang

didapatkan pada saat pendidikan kesehatan mempengaruhi tingkat

pengetahuan responden.

Selain itu, juga dibuktikan dengan nilai rata-rata skor dari soal

pernyataan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan

72
penatalaksanaan ppok mengalami peningkatan. Hal ini dapat

dibuktikan dari nilai rata-rata pre test dan post test mengalami

peningkatan signifikan. Dapat dilihat dari rata-rata skor dimana dari

total 15 soal nilai rata-rata nya meningkat dari 8,35 menjadi 12, 12.

Hal tersebut membuktikan bahwa pengetahuan pasien pada saat

pendidikan kesehatan mempengaruhi tingkat pengetahuan

responden.

Menurut peneliti bahwa peningkatan ini terjadi karena pada

saat menerima informasi pada saat pendidikan kesehatan yang

diberikan peneliti responden menerima materi dengan baik dan

memperhatikan penjelasan yang diberikan dengan serius. Hal ini

menunjukan minat dari responden dalam menerima informasi dalam

penyerapan informasi yang diberikan.

Salah satu permasalahan dalam keefektifan pendidikan

kesehatan dalam penelitian ini masih terdapat responden yang masih

memeiliki tingkat pengetahuan dengan kategori kurang yaitu 3

(17,6%) responden. Berdasarkan hasil pengamatan disebabkan

karena sikap responden yang kurang berminat dan kurangnya

perhatian responden dalam menerima informasi yang disampaikan

oleh peneliti pada saat proses pendidikan kesehatan. Hal ini sesuai

dengan teori Natoatmodjo yang mengemukakan sikap terdiri dari

beberapa tingkatan yaitu menerima, merespon, menghargai, dan

73
bertanggung jawab (Notosiswoyo, 2014). Hal tersebut dapat

disimpulkan bahwa sikap responden dalam menerima informasi

mempengaruhi peningkatan pengetahuan pada responden itu sendiri.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukan

bahwa hasil uji wilcoxon signed di peroleh nilai P-Value (0.02) < α

(0,05) sehing ga H0 di tolak dan Ha diterima. Oleh karena itu, penelitian

ini menunjukan bahwa ada pengaruh pendidikan self care dan pursed

lip breathing terhadap peningkatan pengetahuan penatalaksanaan

pada pasien PPOK di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara.

Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh

Arta Winangsit pada tahun 2017 bahwa hasil uji dengan Wilcoxon

Signed Rank Test diiperoleh dari Z score=-3,017 dengan p- value

0,003. Berdasarkan hasil tersebut keputusan yanmg diambil adalah H 0

ditolak. Artinya terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap

pengetahuan kesehatan dan sikap keluarga dalam memberikan

perawatan pada penderita asma pada kelompok eksperimen di Desa

Sruni, Musuk, Boyolali tahun 2017. Hal ini sesuai dengan teori WHO

yang dikutip dalam Notoatmodjo bahwa salah satu strategi untuk

meningkatkan pengetahuan adalah dengan pemberian informasi yang

dapat dilakukan dengan cara pendidikan kesehatan.

Penggunaan metode ceramah dan demostrasi bermanfaat

dalam mempermudah penyampaian materi atau informasi peneliti

74
dan mempermudah penerimaan materi oleh responden. Dari

penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Aprilia, dkk (2017)

menunjukan bahwa penggunaan pendidikan menggunakan metode

ceramah dan demonstrasi berpengaruh terhadap peningkatan

pengetahuan. Dari beberapa penelitian tersebut menunjukan hasil

bahwa penggunaan metode ceramah dan demonstrasi sebagai media

komunikasi baik dalam kegiatan pendidikan kesehatan cukup efektif.

Keefektifan penggunaan metode ceramah dan demonstrasi

dikarenakan metode tesebut mudah sederhana dan bisa mengulang

kembali jika ada materi yang kurang jelas ditangkap oleh responden

dari pada proses membaca sendiri. Metode ini melibatkan indra

penglihatan dan pendengaran sehingga minat, konsentrasi dan

perhatian lebih terfokus memperhatikan sehingga tujuan dari

pendidikan kesehatan dapat tercapai.

Berdasarkan hasil analisis data dan teori yang telah disebutkan

diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan self care dan

pursed lip breathing berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan

penatalaksanaan pada pasien ppok, dengan demikian pasien atau

responden penting untuk meningkatkan pengetahuannya terhadap

penyakitnya agar meminimalisir tingkat keparahan dari penyakit yang

dideritanya.

75
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini maka disimpulkan bahwa : Ada

pengaruh pendidikan self care dan pursed lip breathing terhadap

pengetahuan penatalaksanaan pada pasien penderita penyakit paru

obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara.

B. Saran

76
Dengan memperhatikan hasil penelitian dengan segala

keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti maka peneliti mengajukan

beberapa saran:

1. Bagi penderita PPOK diharapakan pendidikan self care dan pursed

lip breathing dapat dijadikan alternativ dalam meningkatkan

pengetahuan penatalksanaan PPOK dengan cara dilakuan dengan

rutin.

2. Bagi petugas kesehatan agar dijadikan sebagai bahan masukan

dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien PPOK

bahwa pendidikan self care dan pursed lip breathing merupakan

salah satu alternatif dalam meningkatkan pengetahuan

penatalksanaan pada pasien PPOK.

3. Bagi institusi STIKES Mandala Waluya agar dapat dijadikan sebagai

bahan tambahan kepustakaan dan bahan informasi mengenai

pengaruh pendidikan self care dan pursed lip breathing terhadap

pengetahuan penatalaksanaan pada pasien penyakit paru obstruksi

kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi

Tenggara.

4. Bagi peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut

dengan menambah frekuensi penelitian agar memperoleh hasil yang

maksimal.

77