Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah sekelompok

penyakit paru menahun yang berlangsung lama dan disertai dengan

peningkatan resistensi terhadap aliran udara (Padila, 2012 dalam

Handono Dkk, 2016), yang penyebab utamanya adalah emfisema,

bronkhitis kronis dan perokok berat (Tabrani R, 2010).

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dianggap sebagai

penyakit yang berhubungan dengan interaksi genetik dengan

lingkungan. Merokok, polusi udara dan paparan di tempat kerja

(terhadap batu bara, kapas dan padi-padian) merupakan faktor risiko

penting yang menunjang terjadinya penyakit ini. Prosesnya dapat terjadi

dalam rentang lebih dari dari 20-30 tahun (Muttaqin A, 2008)

Menurut WHO Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK)

merupakan salah satu penyebab utama kematian utama di dunia dan

akan menempati urutan ke tiga setelah penyakit kardio vaskuler dan

kanker (WHO, 2008 dalam Saminan, 2014). WHO memeperkirakan

pada tahun 2020 prevalensi PPOK akan terus meningkat dari urutan 6

menjadi peringkat ke 3 di dunia dan dari peringkat ke 6 menjadi

peringkat ke 3 penyebab kematian tersering (WHO, Ikawati Z, 2011).

1
Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDES) 2013 menunjukan

bahwa prevalensi PPOK di Indonesia sebanyak 3,7 % (Ikawati Z, 2011).

Kematian akibat PPOK di Indonesia pada tahun 2007 menempati urutan

ke 6 dari 10 penyebab kematian di Indonesia dan tingginya angka

kejadian PPOK di Indonesia diprediksi akan menempati urutan ke 3

penyebab kematian di Indonesia pada tahun 2030 (Kemenkes RI, 2013

dalam Kholifah N dkk, 2018).

Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun

2016, PPOK menempati urutan ke 9 dari 10 besar penyakit di Sulawesi

Tenggara pada tahun 2016 (Dinkes Sulawesi Tenggara, 2016 dalam

Kholifah N, dkk, 2018). Data yang diperoleh dari rekam medik RSUD

Bahteramas menunjukan bahwa pada tahun 2016 terdapat 107 kasus

PPOK, Pada tahun 2017 terdapat 72 Kasus PPOK dan pada tahun

2018 terdapat 93 kasus PPOK (Rekam medik, 2019).

Sesak napas dan pola sesak napas yang tidak selaras akan

meneyebabkan pasien PPOK sering menjadi panik, cemas dan

akhirnya frustasi. Gejala ini merupakan penyebab utama pasien PPOK

mengurangi aktivitas fisiknya untuk menghindari sesak napasnya

(dalam Oemiati R, 2013). Sehingga pemenuhan kebutuhan aktivitas

sehari-hari pasien juga terganggu, dalam pemberian asuhan

keperawatan secara komprehensif hendaknya perawat memandirikan

pasien dalam melakukan perawatan pada dirinya sendiri (dalam Wijaya,

I, 2017).

2
Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) merupakan penyakit yang

sangat mungkin dicegah. Pendidikan kesehatan merupakan dimensi

penting peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan untuk

pasien PPOK. Berfokus pada peningkatan pengetahuan pasien (Chang

E, dkk, 2009). Untuk menangani keluhan dari PPOK tidak hanya

dilakukan oleh tenaga kesehatan saja tetapi juga dapat dilakukan oleh

pasien dengan cara melakukan perawatan pada dirinya sendiri (self

care).

Self care (perawatan diri) merupakan aktivitas dan inisiatif dari

individu yang dilaksanakan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi

serta mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejateraannya

(dalam Nurchayati dan Darwin, 2016). Self care dalam asuhan

keperawatan pada penderita PPOK yaitu pasien memperhatikan

kesehatan dirinya, dengan cara segera istirahat dan menenagkan diri

apabila merasa sesak, yang diajarkan oleh perawat atau tenaga

kesehatan lainnya baik penanganan secara farmakologis dan non

farmakologis. Salah satu penanganan non farmakologi yang dapat

diberikan pada pasien dengan PPOK yang mengalami keadaan

tersebut adalah latihan pernafasan dengan teknik pursed lip breathing.

(Singh, 2012 dalam Wijaya, I. 2017).

3
Pursed lip breathing (PLB) merupakan latihan pernapasan yang

menekankan pada proses ekspirasi yang dilakukan secara tenang

dengan tujuan untuk mempermudah proses pengeluaran udara yang

terjebak oleh saluran napas (Nerini, Dkk dalam Permadi A.W, 2017).

Secara fisiologis, pursed lip breathing akan menstimulasi sistem saraf

parasimpatik sehingga meningkatkan produksi endoprin, menurunkan

heart rate, meningkatkan ekspansi paru sehingga dapat berkembang

maksimal, dan otot-otot menjadi rileks. Pursed lip Breathing membuat

tubuh kita mendaptakan input oksigen yang adekuat dimana oksigen

memegang peranan penting dalam sistem respirasi dan sirkulasi tubuh.

Saat kita melakukan breathing exercise oksigen mengalir kedalam

pembuluh darah dan seluruh jaringan tubuh, membuang racun dan sisa

metabolisme yang tidak terpakai, meningkatkan metabolisme dan

memproduksi energi. Pursed lip breathing akan memaksimalkan jumlah

oksigen yang masuk dan disuplay keseluruh jaringan sehingga tubuh

dapat memproduksi energi dan menurunkan level fatigue (dalam

Septiwi C, 2013). Pursed lip breathing dilakukan dengan cara tarik

napas melalui hidung, buang napas lebih lambat melalui bibir

mengerucut seperti bersiul (Petty et al al.,2005 dalam Suryantoro

E,Dkk 2017).

4
Menurut penelitian Wijaya I, dkk yang dilakukan di Balai Basar

Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Makassar yang menggunakan

desain Quasi-Eksperimen dengan kelompok intervensi dan kelompok

kontrol, dengan jumlah sampel 20 responden pasien PPOK yang

melakukan six minut walking test. menunjukan bahwa terdapat

pengaruh pemberian self care education dan pursed lip breathing

exercise terhadap toleransi fisik (dalam Wijaya I, dkk, 2017).

Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan di Rumah Sakit

Umum Bahteramas Prov. Sultra didapatkan bahwa jumlah pasien bulan

januari 2019 sebanyak 17 pasien ppok. dari wawancara 5 pasien ppok

didapatkan keseluruhan mengeluhkan terkait sesak, selain itu secara

keseluruhan mereka kurang mengetahui tentang pentalaksanaan

penyakitnya disebabkan belum pernah di ajarkan terapi non

farmakologi yakni bagaimana perawatan diri (self care) dan terapi

pursed lip breathing atau sikap seseorang bernafas dengan mulut

mengkerucut yang dapat meringankan sesak nafas.

Berdasarkan uraian permasalahan diatas penulis tertarik untuk

melakukan penelitian tentang Pengaruh Pendidikan Self Care Dan

Pursed Lip Breathing Terhadap Pengetahuan Penatalaksanaan

Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) Di Rumah

Sakit Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

5
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengetahuan penatalaksanaan ppok sebelum dilakukan

pendidikan self care dan pursed lip breathing pada pasien penyakit

paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum Bahteramas

Provinsi Sulawesi Tenggara ?

2. Bagaimana pengetahuan penatalaksanaan ppok setelah dilakukan

pendidikan self care dan pursed lip breathing pada pasien penyakit

paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum Bahteramas

Provinsi Sulawesi Tenggara ?

3. Apakah ada pengaruh pendidikan self care dan pursed lip breathing

terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada pasien penyakit paru

obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum Bahteramas Provinsi

Sulawesi Tenggara ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh pendidikan self care dan pursed

lip breathing terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada pasien

penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

2. Tujuan Khusus

a) Untuk mengetahui pengetahuan penatalaksanaan ppok sebelum

dilakukan pendidikan self care dan pursed lip breathing pada

6
pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit

Umum Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

b) Untuk mengetahui pengetahuan penatalaksanaan ppok setelah

dilakukan pendidikan self care dan pursed lip breathing pada

pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di RSUD

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

c) Untuk mengetahui pengaruh pendidikan self care dan pursed lip

breathing terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada pasien

penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) di Rumah Sakit Umum

Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

a. Bagi perkembangan ilmu keperawatan, sebagai bahan kajian atau

literatur dan informasi tambahan bagi perkembangan pendidikan

keperawatan tentang manfaat pendidikan self care dan pursed lip

breathing terhadap pengetahuan penatalaksanaan pada penderita

penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).

b. Bagi institusi kesehatan Mandala Waluya, sebagai bahan literatur

pada perpustakaan Stikes Mandala Waluya Kendari.

7
2. Manfaat Praktis

a. Bagi penderita penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), Hasil

penelitian ini di harapkan dapat memberikan informasi tentang

manfaat pendidikan self care dan pursed lip breathing dalam

meningkatkan pengetahuan penatalaksanaan ppok.

b. Bagi Rumah Sakit, Hasil penelitian ini di harapkan dapat di

gunakan sebagai masukan bagi lahan penelitian/Rumah sakit

secara keseluruhan tentang manfaat pendidikan self care dan

pursed lip breathing bagi penderita penyaki paru obstruki kronis

(PPOK).

c. Bagi peneliti, Suatu pengalaman berharga dalam mengaplikasikan

ilmu yang telah diperoleh dan menambah wawasan ilmu

pengetahuan.

E. Keaslian Penelitian

N Peneliti Judul Desain Hasil Kesamaan Perbedaan


O Penelitian
1 Wijaya Pengaru Quasi- Terdapat Variabel Desain
I, dkk h Self Eksperim pengaru independe penelitian:
2017 Care en h n:
Educatio pemberi Pengaruh Penelitian
n dan an self self care sebelumnya
Pursed care education :
Lip educatio pursed lip Quasi-
Breathin n dan breathing Eksperimen
g pursed
Exercise lip Penelitian
terhadap breathin yang akan
Toleransi g dilakukan:
Fisik exercise Pre
Pada terhadap eksperimen
Pasien toleransi
Penyakit fisik. Variabel
Paru dependen:

8
Obstruks
i Penelitian
Kronis(P sebelumnya
POK) :
toleransi
fisik pada
pasien ppok

Penelitian
yang akan
dilakukan:
pengetahua
n
penangana
n sesak
pasien ppok
2 Septiwi Pengaru Quasi Terdapat Variabel Desain
C, 2013 h Experime Perbeda independe penelitian:
Breathin n an lefel n:
g fatigue Breathing Penelitian
Exercise sebelum exercise sebelumnya
Terhada dan :
p Level sesudah Quasi-
Fatigue breathin Eksperimen
Pasien g
Hemodia exercise Penelitian
lisis Di yang akan
RSPAD dilakukan:
Gatot Pre
Subroto eksperimen
Jakarta Variabel
dependen:

Penelitian
sebelumnya
:
level fatigue
pasien
hemodialisi
s

Penelitian
yang akan
dilakukan:
pengetahua
n
penangana
n sesak
pasien ppok

9
3 Permad Pengaru True Ada Variabel Desain
i A.w & h Pursed Experime pengaruh independe penelitian:
Wahyu Lip n Pursed n:
di A.T, Breathin Lip Pursed lip Penelitian
2017 g Dan Breathin breathing sebelumnya
Sustaine g Dan :
d Sustaine True
Maximal d Experimen
Inspiratio Maximal
n Inspiratio Penelitian
Terhada n yang akan
p Terhadap dilakukan:
peningka peningkat Pre
tan an eksperimen
Kekuata Kekuatan
n Otot Otot Variabel
Pernapa Pernapas dependen:
san an Untuk
Untuk Mengura Penelitian
Mengura ngi sebelumnya
ngi Keluhan :
Keluhan Sesak peningkatan
Sesak Napas Kekuatan
Napas Pada Otot
Pada Kasusu Pernapasan
Kasusu Kardio Untuk
Kardio Respirasi Mengurangi
Respirasi . Keluhan
Sesak
Napas
Pada
Kasusu
Kardio
Respirasi

penelitian
yang akan
dilakukan:
pengetahua
n
penangana
n sesak
pasien ppok

4 Handon Pengaru Case Adanya Variabel Desain


o N. P, h Sinar study pengaruh dependen: penelitian:
Dkk, Matahari research sinar Pasien
2016 Untuk matahari ppok Penelitian
Meningk terhadap sebelumnya

10
atkan bersihan :
Efektifita jalan Case study
s napas research
Bersihan pasien
Jalan ppok Penelitian
Nafas yang aka
Pada dilakukan:
pasien Pre
PPOK Di eksperimen
Puskesm
as Variabel
Selogiri independen
:
Penelitian
sebelumnya
:
Sinar
matahari
untuk
meningkatk
an
efektivitas
bersihan
jalan napas

Penelitian
yang akan
dilakukan:
pendidikan
Self care
dan pursed
lip
breathing
5 Mertha Pengaru Quasi Terdapat Variabel Desain
I, dkk, h experimen pengaruh dependen: penelitian:
2018 pemberia yang Pasien
n deep signifikan ppok Penelitian
breathin pemberia sebelumnya
g n deep :
exercise breathing Quasi
terhadap exercise experimen
saturasi dalam
oksigen meningka Penelitian
pada tkan yang akan
pasien saturasi dilakukan:
ppok oksigen Pre
experimen

Variabel
independen

11
:
Penelitian
sebelumnya
:
Pemberian
deep
breathing
exercise

Penelitian
yang akan
dilakukan:
Pendidikan
Self care
dan pursed
lip
breathing
6 Budihar Pengaru Quasi Terdapat Variabel Desain
to, dkk, h eksperime peningkat dependen: penelitian:
2008 breathin n an nilai Pasien
g fungsi ppok Penelitian
retrainin ventilasip sebelumnya
g aru :
terhadap Quasi
peningka experimen
tan
fungsi Penelitian
ventilasi yang akan
paru dilakukan:
pada Pre
asuhan experimen
keperaw
atan Variabel
pasien independen
ppok :

Penelitian
sebelumnya
:
breathing
retraining

penelitian
yang akan
dilakukan:
pendidikan
self care
dan pursed
lip
breathing

12
8 Suryant Perbeda Quasi Pursed Variabel Desain
oro E, an Experime lip independe penelitian:
dkk, Efektivita n breathing n:
2017 s Pursed lebih Pursed lip Penelitian
Lips mampu breathing sebelumnya
Breathin meningka :
g tkan nilai Quasi
Exercise FEV1 experimen
Dengan daripada
Six six Penelitian
Minutes minutes yang akan
Walk walk test dilakukan:
Test Pre
Terhada experimen
p Forced
Expirator Variabel
y dependen:

Penelitian
sebelumnya
:
Forced
expiratory

Penelitian
yang akan
dilakukan:
Pengetahua
n
penangana
n sesak
pasien ppok
9 Kholifa Analisis Analitik tingkat Variabel Desain
h N, Faktor Obsevasi keperc dependen: penelitian:
2018 Risiko onal ayaan Pasien
Kejadian 95% ppok Penelitian
Penyakit menunju sebelumnya
Paru kan :
Obstruks faktor Analitik
i risiko observasion
Kronis(P tinggi al
POK) kejadian
Pada PPOK Penelitian
Pasien yang akan
RSUD dilakukan:
Bahtera Pre
mas experimen
Provinsi
Sulawesi Variabel
Tenggar independen

13
a Tahun :
2017
Penelitian
sebelumny
a:
Faktor
risiko

Penelitian
yang akan
dilakukan:
Pendidikan
Self care
dan pursed
lip
breathing

1 Hartono Peningka True Pernap Variabel Desain


0 , tan Experime asan independe penelitian:
2015 Kapisitas n Pursed n:
Vital Lips Pursed lip Penelitian
Paru efektif sebelumnya
Pada terhad :
pasien ap True
PPOK teningk experimen
Menggun atan
akan kapasit Penelitian
Metode as vital yang akan
Pernapa Paru dilakukan:
san Pre
Pursed experimen
Lips
Variabel
dependen:

Penelitian
sebelumnya
:
Peneingkat
an
kapasitas
vital paru

Penelitian
yang akan
dilakukan:
Pengetahua
n
penangana
n sesak

14
pasien ppok

15